Let Her Go [Super Junior Ver]

 

  1. Judul : Let Her Go (Super Junior Ver)
  2. Main Cast : Choi Ha Na [ OC ], Choi Si Won [ Siwon Super Junior ]

Support Cast : Kim Junsu [ JYJ ] as Danielle, Chow Zhou Mi [ Zhou Mi Super Junior M ], Lee Dong Hae [ Donghae Super Junior ]

  1. Genre : AU, romance, sad, fantasy
  2. Length : Oneshoot [ 5.060 words ]
  3. Note : Inspirasi cerita didapat dari drama Korea ( Arang And The Magistrate ) yang benar-benar berkesan sekali buatku, tapi jalur cerita dijamin berbeda.

Aku berharap, semoga setelah membaca fanfic ini, bisa menginspirasi pembaca agar rela melepaskan apa yang memang seharusnya dilepaskan. Seberapa besarpun rasa sayang dan cinta kita, kita tidak boleh terus menahan apa yang seharusnya sudah pergi.

Versi awal dari cerita ini sebenarnya castnya itu para personil EXO, tetapi demi beberapa permintaan, saya ubah.

Jangan lupa juga untuk follow @almighty_rina ya!!! Sebagai bagian dari finalis XOXO Party BIG30, saya mengucapkan selamat membaca!!!

Juga akan dipost di http://kloversfamilies.wordpress.com

 

 

Ada yang mengatakan, jika kau mendapatkan sebuah ciuman dari hantu, maka keesokan harinya, akan timbul lebam di tempat di mana hantu itu menciummu. Tapi, bukankah hal itu hanya sebuah mitos?

*********

Sama seperti 89 hari yang lalu, pipi sebelah kanan Si Won tampak lebam. Lebam itu tidak terasa menyakitkan. Si Won hanya mendapatkannya begitu saja, setelah ia bangun tidur.

Orang tuanya sempat mengira  bahwa Si Won adalah seorang berandalan di kehidupan malamnya, tapi setelah lebam itu tak kunjung sembuh, muncul pertanyaan lain. Bahkan Si Won pernah dipaksa untuk menemui beberapa dokter spesialis karena lebam itu. Tapi, hasilnya nihil.

“Hai tampan.” sapa salah satu pengunjung yang saat ini duduk di hadapannya dengan tatapan menggoda. Pakaian minim dengan warna mencolok yang digunakan gadis itu juga cukup menggoda.

“Hai, mau pesan apa?” balas Si Won dengan datar. Ia tidak terlalu suka digoda para pengunjung.

Raut wajah gadis itu langsung berubah begitu mendengar jawaban Si Won. Gadis itu pikir, seorang bartender di sebuah club malam, akan mudah digoda dengan penampilan fisiknya, tapi ternyata semua itu salah. Si Won sama sekali tidak tertarik.

Zhou Mi, rekan kerjanya, dapat menyadari perubahan wajah pelanggan itu. Ia langsung mengalihkan perhatiannya dari seorang pelanggan mabuk yang sedang menggodanya, kepada gadis di hadapan Si Won. Bahkan, Zhou Mi langsung mengambil alih, menanyakan pesanan gadis itu. Tapi yang Zhou Mi dapat, malah gadis itu pergi meninggalkannya sambil sedikit mengumpat.

Satu pelanggan lagi hilang karena Si Won, selalu karena Si Won!

“Berhentilah menjadi brengsek dan layani mereka dengan baik,” ucap Zhou Mi sambil berjalan melewati Si Won yang menyibukkan dirinya, mengatur botol-botol minuman keras di rak.

Si Won segera berbalik mendengar Zhou Mi mengatakan hal itu kepadanya. Sungguh keterlaluan, batin Si Won. Bagaimana bisa sahabatnya sejak kecil mengatakan hal seperti itu kepadanya berhari-hari? Zhou Mi seakan orang asing yang tidak mengetahui apa penyebabnya bersikap dingin seperti ini.

Si Won menahan bahu Zhou Mi. Memaksa Zhou Mi untuk tidak kembali kepada pelanggan yang sempat ditinggalkan sebelumnya.

“Apa lagi, sekarang?” tanya Zhou Mi, ketus.

“Berhenti menjadi brengsek, katamu! Apa kau ini orang asing! Bisa-bisanya kau berbicara seperti itu kepadaku!” Si Won meninju pelan bahu Zhou Mi sementara ia hanya mendapat balasan berupa tatapan bosan dari Zhou Mi.

“Ya, kenyataannya aku bisa. Berhentilah menjadi seorang brengsek, Choi Si Won! Kau akan membuat kita bangkrut!” gertak Zhou Mi sambil menepis tangan Si Won yang berganti, mencengkram bahunya kuat.

Sadar bahwa Zhou Mi sudah tidak bisa diajak bicara lagi, membuat Si Won tidak punya pilihan lain. Lagipula, emosinya saat ini sudah benar-benar melampaui batas, hingga dengan mudahnya, Si Won melayangkan tinjunya ke wajah Zhou Mi.

Zhou Mi jatuh tersungkur ke atas lantai bar yang dingin dan Si Won melewatinya begitu saja, tanpa penyesalan sedikitpun. Pikirannya saat ini terlalu gelap untuk memikirkan mana yang benar dan mana yang salah.

Tak ada yang menyadari peristiwa pemukulan itu di club malam. Suara musik terlalu keras, dan hanya sekumpulan orang yang cukup depresi dan mabuk yang akan berada di sana. Lagipula, kalaupun ada yang melihat, peristiwa pemukulan di sebuah club malam sama sekali bukanlah hal yang terbilang aneh.

Jadi, beginilah akhirnya. Si Won duduk termenung di tangga bagian belakang club malam yang sepi. Biasanya, para pegawai club kemari, hanya untuk membuang sampah. Atau, pelanggan kemari untuk berkelahi.

Si Won menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Perasaan bersalah muncul tapi di sisi lain, ia juga kesal dengan ucapan Zhou Mi. Sungguh, Zhou Mi terlalu keterlaluan untuk mengucapkan hal itu kepadanya.

Sejujurnya, Si Won bukanlah orang brengsek. Ia hanya tidak bisa melupakan kekasihnya yang sudah meninggal setahun yang lalu. Ia tidak bisa melepasnya pergi, tak cukup kuat untuk itu. Mungkin wajahnya terlihat kuat, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya selalu bergetar dan sakit.

Tiba-tiba, seseorang memaksa mendorong pintu dari dalam. Menyadarkan Si Won dari keterpurukannya. Ia segera bangkit berdiri karena tadi ia menghalangi pintu.

“Zhou Mi? Untuk apa kau kemari?” tanya Si Won, berusaha menutupi kecanggungannya. Apalagi, setelah melihat sedikit darah di ujung bibir Zhou Mi. Darah itu bahkan belum kering dan sahabatnya itu sudah mengejarnya kemari.

“Maaf soal tadi. Aku hanya terbawa emosi,” ucap Zhou Mi lebih dulu.

“Aku juga minta maaf.” Lalu Si Won menghampiri Zhou Mi dan memeluknya. “Aku sungguh-sungguh minta maaf karena membuat wajahmu seperti wajahku.” sambung Si Won.

Lalu mereka berhenti berpelukan dan Zhou Mi langsung menggapai wajah Si Won. Sedikit menggerakkannya ke arah kiri, ingin meneliti pipi Si Won. Masih lebam, batin Zhou Mi.

“Ada apa? Apa sudah hilang?”

“Belum. Kau sudah mencoba berobat? Mungkin bukan sekedar lebam.” Si Won hanya menggeleng pelan.

Ia menekan-nekan daerah lebam itu. Memastikan apakah sakit atau tidak. Tapi rasanya masih sama. Tidak ada benjolan juga, berarti bukan apa-apa.

“Kurasa, pelanggan tadi segera pergi karena melihat lebam itu. Kau seperti monster, kau tahu?” Si Won melayangkan tinjunya sekali lagi ke bahu Zhou Mi, mendengar hal itu. Tapi pelan, hanya mendorong Zhou Mi sedikit.

“Jadi hilangkan itu atau pelanggan kita akan berlari ketakutan karena wajah monstermu itu.”

“Berhenti mengejekku sebelum aku memukulmu lagi.” ancam Si Won, nada bicaranya santai.

“Ayo kembali! Aku tidak mau digoda para gadis genit itu seorang diri.”

Si Won hanya tersenyum sebagai jawaban. Cukup meyakinkan Zhou Mi bahwa setidaknya, hubungan persahabatan mereka masih dapat dipertahankan.

Drt…Drt…Drt…

“Kau masuk saja duluan dan obati lukamu. Aku akan menerima ini dulu.”

Zhou Mi mengangguk mengerti lalu berlari kecil, kembali ke dalam club malam miliknya dan Si Won.

“Ada apa, Dong Hae?” tanya Si Won, langsung begitu ia menerima panggilan itu.

“Ha Na, Choi Ha Na. Aku melihatnya.” jawab Dong Hae. Terselip nada panik di sana.

“Choi Ha Na? Siapa itu?” Si Won bingung. Siapa Choi Ha Na yang Dong Hae maksud di sini?

“Ha Na…gadis yang meninggal setahun yang lalu. Aku melihatnya melewatiku, baru saja.”

Lidah Si Won terasa kelu seketika. Memang sulit untuk mempercayai hal ini. Tapi tetap saja, Si Won terpengaruh. Membuatnya bisu seribu bahasa.

“Kau masih di sana?” Menyadarkan Si Won.

“Ya, aku masih di sini. Mungkin kau hanya melihat orang yang mirip dengannya. Tidak mungkin Ha Na lewat di hadapanmu. Ia sudah meninggal.”

“Aku mengenalinya. Gaun putih polos selututnya. Gaun yang sama yang dipakainya saat di dalam peti, aku ingat.” balas Dong Hae tak mau kalah.

“Tak mungkin, aku tutup dulu ya.”

Tanpa menunggu jawaban Dong Hae, Si Won segera memutus panggilan itu. Memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya lalu kembali masuk ke dalam.

Si Won kembali ke posisinya, di belakang meja bar. Berdiri seperti seorang tak bernyawa. Pandangan kedua matanya lurus ke depan, tapi kosong. Membiarkan para pelanggan memanggilnya tanpa mengindahkannya.

“Si Won! Si Won! Si Won!” panggil Zhou Mi sambil menggoyangkan bahu Si Won. Mencoba menarik pemuda itu, kembali ke kesadarannya.

Si Won menoleh ke sampingnya. Menemukan Zhou Mi sedang mencengkram bahunya kuat. Lalu ia tersenyum. Hanya seulas senyum hampa.

“Pulanglah. Tenangkan dirimu. Kau hanya akan semakin kacau di sini.”

“Ha Na…Dia…”

“Dia sudah meninggal.” sela Zhou Mi. “Dia sudah pergi setahun yang lalu.”

Si Won tak begitu suka menerima ucapan Zhou Mi yang seakan membuyarkan harapannya. Tapi begitulah kenyataannya. Ha Na, gadis itu memang sudah tiada. Hanya abunya yang tersisa di ruang penyimpanan, tak lebih.

“Sekarang pulanglah. Tenangkan dirimu, kau tidak akan bisa bekerja hari ini.” Zhou Mi meninggalkan Si Won yang masih membisu. Kembali ke pelanggannya yang sudah menumpuk karena Si Won.

Apa yang dikatakan Zhou Mi benar, batin Si Won. Lebih baik ia pulang sekarang dan menenangkan diri. Besok semua akan jadi lebih baik, mungkin.

Pada akhirnya, Si Won memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Merenungi nasib sambil berendam air hangat di dalam bak mandi. Aroma terapi yang menemaninya akan cukup menenangkannya saat ini.

‘Aku mengenalinya. Gaun putih polos selututnya. Gaun yang sama yang dipakainya sebelum meninggal dulu, aku ingat.’

Percakapannya bersama Dong Hae tadi, kembali terngiang di dalam pikirannya. Mungkinkah, gadis yang dilihat Dong Hae memang benar Ha Na? Tapi bagaimana bisa?

“Tidak, tak mungkin. Gadis itu hanya sebuah kebetulan. Ya, hanya kebetulan saja.” gumam Si Won.

Tapi ia tidak bisa tenang. Bahkan setelah ia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya yang sangat empuk.

Tidak bisa, Si Won tidak bisa melepaskan perkara itu begitu saja. Ia penasaran dan terlalu dipenuhi harapan.

Si Won menyalakan lampu kamarnya dan melirik ke arah jam dinding berbentuk burung hantu yang bertengger di atas pintu kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. Itu berarti, sudah 3 jam berlalu semenjak Si Won meninggalkan pekerjaannya dan berniat menenangkan diri.

Tapi kenyataan malah berkata sebaliknya. Si Won malah tidak tenang dan memutuskan untuk menghubungi Dong Hae. Membangunkannya dari tidur lelapnya.

“Ada apa?” tanya Dong Hae dengan suara serak. Ia benar-benar baru bangun tidur, sepertinya.

“Apa kau yakin gadis itu adalah Ha Na?” Terdengar Dong Hae mendecak kesal di seberang sana. Dong Hae pasti berpikir Si Won sangat keterlaluan, menghubunginya untuk sesuatu yang tidak penting.

“Ya, aku yakin.” Lalu Dong Hae langsung memutus hubungan sebelum Si Won melanjutkan pembicaraan dan membuatnya tidak tidur sama sekali.

Baiklah, jawaban itu sudah cukup bagi Si Won. Sepertinya, Si Won harus menemukan gadis itu. Memastikan apakah Dong Hae berkhayal atau justru Tuhan memang mengirimkan gadisnya kembali.

Alhasil, Si Won terjaga hingga pagi harinya. Duduk di hadapan televisi, tanpa memperhatikan acaranya sedikitpun. Ia sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.

Tiba-tiba, bel apartemennya berbunyi. Ada seseorang yang mengunjunginya.

Sebelum membuka pintu, Si Won memeriksa kalender di ponselnya terlebih dahulu. Ia menemukan bahwa Sabtu ini bukanlah hari kunjungan orang tuanya. Itu berarti yang mengunjunginya adalah orang lain dan ia tak perlu repot-repot membereskan apartemennya.

“Sebentar!” teriak Si Won sambil berjalan menghampiri pintu apartemennya.

Tanpa mencaritahu terlebih dahulu, siapa yang menekan bel apartemennya, Si Won begitu saja membukakan pintu untuk orang itu. Membukanya hanya untuk menemukan seorang gadis yang sangat mirip dengan Ha Na, memberikannya senyuman manis tapi bersemangat. Tergambar jelas dari pancaran kedua matanya yang bersinar.

“Ha Na?” tanya Si Won tak percaya. Tapi gadis itu tetap hanya tersenyum.

“Apa kau benar-benar Ha Na?”

Hening, gadis itu tetap hanya tersenyum. Seakan enggan untuk menjawab pertanyaan Si Won, atau mungkin tidak mengerti.

“Ha Na.” Si Won langsung menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Menyisakan ekspresi terkejut sekaligus bingung di wajahnya. “Jangan pergi lagi, aku mencintaimu…sangat.”

“Ya?” balas gadis itu, bingung.

Si Won melepaskan gadis itu perlahan dan menatap wajahnya lekat-lekat. Meneliti tiap inci wajahnya dan tidak menemukan perbedaan apapun. Sungguh, demi apapun, wajah gadis ini sama persis dengan wajah Ha Na, batin Si Won.

Tapi, gadis itu sepertinya benar-benar tidak mengenal Si Won. Ia seperti orang asing, bukan Ha Na yang pernah mengisi hati dan pikiran Si Won dulu.

“Hai, kudengar kau bisa membantuku, Paman. Jadi, aku mohon bantuannya.” Gadis itu membungkukkan tubuhnya dengan sopan kepada Si Won. Si Won hanya menganga dibuatnya.

Dalam hati, Si Won merasa sangat kesal dengan panggilan gadis itu kepadanya. Paman! Hei, tidakkah kau lihat wajah tampanku ini masih terlihat sangat muda! omel Si Won dalam hati.

“Paman?” Gadis itu melambai-lambaikan kedua tangannya di hadapan Si Won. Berusaha mendapatkan perhatian Si Won yang memang dari sejak dulu, hanya untuknya.

“Bisakah kau tidak memanggilku Paman.” balas Si Won dengan nada sepelan mungkin. Takut membuat gadis yang sangat mirip dengan Ha Na itu, ketakutan dibuatnya.

Gadis itu hanya menggangguk sambil tersenyum. Senyumnya sangat manis, benar-benar senyum yang Si Won rindukan.

“Namaku Illu, tolong bantu aku, tuan…kumohon.”

“Illu? Namamu bukan Ha Na? Choi Ha Na?” Gadis itu menggeleng.

Sudahlah Si Won, Ha Na sudah meninggal! Kau tahu itu! jerit pikiran rasionalnya. Tapi, hatinya tidak siap menerima kenyataan itu. Gelengan itu masih sulit direspon.

“Aku…” Si Won berpikir sejenak. “Apa yang bisa kulakukan untukmu, Ill-Illu?” Si Won terbata-bata memanggil nama gadis di hadapannya.

“Aku tak tahu, Danielle hanya menyuruhku untuk mengatakan hal ini kepadamu.”

“Danielle? Siapa itu?”

“Itu aku!” teriak seseorang yang baru saja keluar dari lift, suaranya lembut.

Si Won menoleh ke arah kirinya dan pandangannya langsung menangkap sesosok pemuda berwajah rupawan dengan pakaian setelan jas lengkap berwarna hitam. Pemuda itu berjalan ke arah Si Won dan Illu sambil tersenyum. Wajahnya terlihat imut, dengan senyum itu.

“Aku Danielle. Senang bertemu denganmu, Choi Si Won.” Lalu pemuda itu membungkukkan tubuhnya, memberi salam kepada Si Won.

“Bisa kita bicara?” tanya Danielle, postur tubuhnya benar-benar tegap, layaknya seorang tentara. Si Won hanya mengangguk sekilas dengan memperlihatkan wajah bingung.

“Illu, pergilah ke bawah dulu. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya,” ucap Danielle tanpa menengok kepada Illu.

Awalnya, Illu akan langsung pergi begitu saja, tapi tiba-tiba Si Won mencengkram pergelangan tangannya. Mencegahnya pergi.

Si Won takut kehilangan, jadi ia menyuruh Illu menunggu di dalam apartemennya. Setelah mendapat persetujuan dari Danielle, Illu baru mau masuk ke dalam apartemen Si Won.

“Jadi, dari mana kau mengenalku? Siapa gadis itu? Apa ia Ha Na? Apa ini hanya mimpi? Apa…”

“Cukup.” sela Danielle. “Kau terlalu banyak bertanya, lalu kapan aku akan menjawab?”

“Maaf.” balas Si Won. Jujur, ia sangat penasaran.

“Bantulah Illu untuk pergi.”

“Apa? Pergi?” tanya Si Won tak mengerti. Ada sedikit nada tak rela terselip di dalam kalimat yang baru saja dilontarkannya.

“Ya. Terkadang, membiarkan seseorang pergi, lebih baik daripada menahannya.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?”

“Kau harus mengerti. Hanya kau yang bisa mengerti. Aku pergi.” Danielle segera berbalik, hendak pergi. Tapi Si Won menahan bahu Danielle. Memaksa Danielle untuk tidak pergi sebelum ia mengerti apa yang dimaksudnya.

“Waktumu tidak banyak. Ingat itu,” ucap Danielle, dingin. Ia bahkan tak mau melihat Si Won saat mengatakannya.

Danielle menepis tangan Si Won, pelan, dari bahunya. Lalu kembali berjalan ke arah lift.

Sampai pintu lift menutup kembali, Si Won hanya bisa diam mematung di tempatnya, tanpa mendapat apapun. Jawaban, maupun keinginan untuk mengejar Danielle dan meminta penjelasan lebih banyak.

“Permisi, tuan?”

Si Won segera berbalik. Ia menemukan Illu berdiri di belakangnya, memasang wajah bingung.

“Panggil saja aku Si Won. Si Won lebih baik.” Lalu Si Won tersenyum. Ia berbalik sebentar untuk menutup pintu.

“Jadi, Si Won…apa kau akan membantuku?” tanya Illu antusias dan hanya dijawab anggukan singkat oleh Si Won, disertai senyuman memukaunya.

“Kau duduklah dulu di sana.” Si Won menunjuk sofa empuknya yang berhadapan langsung dengan televisi. “Aku akan ke kamarku sebentar.” sambung Si Won lagi.

“Oh, baiklah. Aku akan duduk di sana.”

Setelah memastikan Illu duduk di sofa yang diminta Si Won, Si Won bergegas masuk ke dalam kamarnya. Mengambil ponselnya dan menghubungi Dong Hae. Hanya untuk berterima kasih lalu kembali memutus panggilan itu. Dong Hae bahkan tak tahu apa yang dimaksud Si Won, yang penting, ia bisa kembali tidur lebih cepat.

Si Won keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri Illu. Duduk di sebelah Illu yang menatap lurus ke arah televisi. Illu bahkan tidak menyadari Si Won sudah berada di sampingnya. Ia seperti membeku dalam kebisuannya. Tapi terlihat sangat cantik di mata Si Won. Kecantikannya seperti candu.

Perlahan, tangan Si Won bergerak ke arah rambut Illu. Ia ingin mengusap rambut sebahu Illu yang dibiarkan terurai itu. Ia ingin merasakan kelembutannya, sekali lagi. Hanya sekali saja.

Tapi belum sempat, Illu tiba-tiba menengok ke arahnya dengan wajah datar. Si Won hanya bisa menarik tangannya kembali dengan canggung. Lalu mengusap tengkuknya sambil tersenyum kecil.

“Apa Danielle memberitahumu, apa yang bisa kau bantu untukku?”

“Ya, ia memberitahuku.”

Wajah Illu tiba-tiba langsung berbinar dan tiba-tiba saja, Illu menarik kedua tangan Si Won. Menggenggam telapak tangan yang besar itu dengan telapak tangannya yang mungil.

“Bagus. Kapan kau akan membantuku, kalau begitu?”

“Secepatnya, Illu…secepatnya.” Lalu, sekali lagi Illu kembali membuat Si Won terkejut. Tanpa rasa canggung sedikitpun, Illu memeluk Si Won dengan erat. Menunjukkan rasa terima kasihnya.

Jantung Si Won berdetak lebih cepat. Ia seperti merasakan aliran listrik ringan mengalir di dalam dirinya. Akhirnya, Si Won bisa merasakan lagi pelukan Ha Na. Pelukan hangat yang diberikan gadis itu lebih dulu, yang sebenarnya tabu bagi Ha Na.

Illu mendorong Si Won perlahan. Ia menatap Si Won dengan antusias. Seperti seekor anak anjing yang akan diberi makanan kesukaannya.

“Ayo kita pergi keluar. Jalan-jalan seperti dulu,” ucap Si Won setelah melihat wajah Illu yang sangat antusias.

“Keluar? Untuk membantuku?”

“Ya.” jawab Si Won, asal. Sejujurnya, hingga detik inipun, Si Won belum mengerti bantuan seperti apa yang Illu butuhkan. Saat ini, keegoisannya untuk menganggap Illu sebagai pengganti Ha Na, lebih penting ketimbang memikirkan bantuan apa yang dibutuhkan Illu.

Si Won mengajak Illu keluar dengan mengendarai mobil sportnya. Sepanjang perjalanan, Illu tidak bisa berhenti untuk terkagum-kagum dengan pemandangan gedung pencakar langit yang disuguhkan pertama kali untuknya, setelah mengenal Si Won. Gedung-gedung itu terlihat benar-benar cantik di mata Illu.

Si Won mengajak Illu menuju sebuah butik yang biasa dikunjunginya bersama mendiang kekasihnya. Si Won sengaja membawa Illu kemari karena ia tidak begitu suka melihat gaun yang dikenakan Illu. Hanya mengingatkannya pada kenangan pahit. Lagipula, Illu tidak mengenakan alas kaki sama sekali, jadi Si Won setidaknya, harus membelikan sepasang untuknya.

“Cobalah yang ini. Kau pasti suka.” Si Won menyodorkan sepasang sepatu bertumit tinggi berwarna merah muda kepada Illu. Tapi Illu langsung menolaknya. Ia lebih memilih sepatu berwarna biru muda beralas datar yang tidak dipilih Si Won untuknya.

“Kau suka yang ini?” Illu mengangguk setuju saat Si Won menunjuk sepatu itu. Dari sejak pertama masuk ke butik, sepatu itu sudah menarik perhatian Illu.

“Kalau begitu, cobalah.”

Si Won menyuruh Illu duduk lalu ia berlutut di hadapannya. Memasangkan sepatu yang diinginkan Illu dengan perlahan. Seakan takut sepatu itu akan melukai kaki Illu yang sangat lembut.

“Bagaimana, kau suka?” Illu hanya menggangguk sambil memamerkan wajah antusiasnya kembali. “Kalau begitu kita beli yang ini.”

Selesai membayar untuk sepasang sepatu yang langsung dikenakan Illu, mereka berpindah ke butik lain yang letaknya tidak begitu jauh. Tapi, Illu menolak masuk ke butik itu karena melihat etalasenya yang hanya memamerkan beberapa gaun yang dikenakan masing-masing manekin. Illu tidak suka gaun, terlalu feminim.

Sama seperti Ha Na, batin Si Won. Ia bahkan tersenyum sendiri mengetahui Illu tidak begitu menyukai gaun.

“Baiklah, kita ke butik yang lain saja.”

Si Won menarik tangan Illu untuk mengikutinya, tapi Illu tidak mau mengikutinya. Si Won terpaksa berbalik, melihat Illu yang menggeleng pelan kepadanya sambil tersenyum. Sangat mirip, batin Si Won.

“Aku ingin ke taman bermain.”

“Ta-taman bermain?” tanya Si Won terkejut.

“Ya, aku ingin ke sana.” jawab Illu dengan jujur.

Mungkinkah gadis ini mempermainkannya? Mengatakan nama yang berbeda di hadapannya ketika sesungguhnya ia adalah Ha Na?

Si Won yakin sekali, waktu itu pertengkaran terakhir yang terjadi di antara mereka adalah masalah pergi ke taman bermain. Dulu, Si Won terlambat menjemput Ha Na hingga mereka terpaksa membatalkan pergi ke Everland. Padahal, Ha Na sangat ingin pergi ke sana dan sehari setelah pertengkaran itu, Si Won mendapat kabar meninggalnya Ha Na. Ia meninggal karena sebuah peristiwa tabrak lari.

“Kau yakin tidak mengenalku?” tanya Si Won, berusaha menjawab pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya. Tapi Illu hanya menggeleng, raut wajahnya terlihat polos dan bingung.

“Lalu, bagaimana bisa kau tiba-tiba ingin pergi ke taman bermain?”

“Oh, itu. Danielle sering mengatakan padaku saat ia melakukan tugasnya. Ia menceritakan bahwa taman bermain adalah tempat yang terlalu menyenangkan untuk membawa seseorang pergi.” jelas Illu dengan antusias.

“Pergi? Apa maksudmu?”

“Ya, pergi. Ke tempat di mana aku berada. Kami satu keluarga besar di sana, tapi aku paling dekat dengan Danielle. Aku langsung mengenalnya begitu aku membuka mataku.”

Si Won berpikir sejenak. Pada akhirnya, Si Won setuju untuk membawa Illu pergi ke taman bermain. Lagipula, membawa Illu pergi ke sana, sama seperti menepati janji kepada Ha Na yang tidak pernah bisa ditepatinya.

Illu sangat antusias untuk mencoba seluruh wahana yang ditawarkan Everland. Si Won bahkan sampai kewalahan untuk menemaninya. Pikiran Illu seakan bercabang karena ia ingin mencoba 2 wahana di waktu yang bersamaan. Tapi setiap kali hal itu terjadi, maka Si Won dengan sabarnya akan memilihkan wahana yang lebih cocok untuk seorang gadis, seperti Illu.

Hari sudah mulai gelap, mereka berdua menghabiskan waktu terlalu lama untuk mencoba semua wahana. Si Won merasa cukup lelah sementara Illu tetap tersenyum. Tak ada guratan kelelahan sedikitpun di wajahnya.

Kini, mereka hanya duduk di sebuah kursi besi panjang. Illu menatap langit, sementara Si Won memperhatikannya.

Si Won benar-benar merindukan wajah gadisnya. Ekspresinya yang polos seakan ia seorang bayi yang baru lahir. Si Won rindu semua itu dan entah ada mukjizat apa, hari ini, kerinduannya itu terbayar sudah. Kehadiran Illu di sampingnya adalah sebuah berkah. Ia bahkan sampai lupa untuk memikirkan perkataan Danielle mengenai bantuan yang bisa diberikannya untuk Illu.

“Saranghaeyo,” ucap Si Won tiba-tiba. Baru kali ini, ia bisa mengucapkan kata itu lagi kepada seseorang. Meskipun nama mereka berbeda, tapi di mata Si Won keduanya sama secara fisik.

Illu hanya menatap bingung ke arahnya. Ia terlalu polos untuk mengerti kata cinta yang baru saja diucapkan Si Won untuknya.

“Tunggu di sini, aku segera kembali.” Si Won langsung pergi meninggalkan Illu. Ia berniat untuk membelikan es krim yang dulu sangat disukai mendiang kekasihnya.

Illu duduk sendirian sambil menatap langit. Menunggu bukanlah hal yang disukainya saat masih hidup dulu, tapi sekarang, ia seakan tak peduli dengan hal seperti itu. Bahkan jikalau Si Won meninggalkannya di taman bermain saat ini, ia tidak akan menangis. Ia hanya akan tetap diam di tempat karena ia terlalu polos untuk mengerti.

“Bocah bodoh itu tak tahu tentangmu.”

Illu menoleh ke samping kanannya, tempat di mana Si Won duduk sebelumnya, dan ia menemukan Danielle yang sekarang menempati posisi itu. Pakaiannya masih sama dan selalu sama, sepanjang Illu bersama dengannya.

“Danielle? Apa yang kau lakukan di sini? Ingin bertemu Si Won?”

Danielle menggeleng lemah. Lalu ia mengeluarkan sebuah jam saku dari balik jas hitamnya.

“Apa yang kau lihat?” Illu tiba-tiba saja sudah berada di jarak yang sangat dekat dengan Danielle. Ia ingin tahu, apa yang sedang dilakukan Danielle. Padahal, Danielle hanya memperhatikan detik demi detik jamnya berlalu. Menandakan waktu yang semakin sempit.

“Aku hanya ingin kau tahu, bahwa apapun yang terjadi nantinya, tolong jangan salahkan siapapun.” Illu hanya mengangguk, menanggapi perkataan Danielle. Perkataan yang sesungguhnya meminta dengan ikhlas kepada Illu yang sebenarnya adalah Ha Na yang telah meninggal untuk menetap di bumi dalam damai. Tidak menjadi hantu pendendam yang terus menghantui orang-orang yang disayanginya. Karena jika sampai esok pagi, Si Won belum mampu untuk membantu Illu, maka Illu akan menjadi roh penasaran.

“Sekarang aku harus pergi, Si Won sebentar lagi kemari.”

“Ya, hati-hati.”

Danielle segera bangkit berdiri lalu berjalan menembus kerumunan orang. Menghilang, entah ke mana.

Tak lama kemudian, Si Won kembali dengan 2 bungkus es krim di tangannya.

“Ini.” Si Won menyodorkan es krim rasa strawberry kepada Illu. Tapi Illu tidak langsung menerimanya. Ia bingung, apa yang diberikan Si Won untuknya.

“Ambil dulu, nanti aku jelaskan.”

Si Won kembali duduk di sebelah Illu setelah Illu menerima es krim itu. Sejujurnya, Si Won lumayan bingung dengan sikap Illu. Ia seakan bukan manusia sehingga tidak tahu apa-apa.

“Pertama kau buka bungkusnya seperti ini.” Si Won merobek bungkus es krimnya lalu Illu menurutinya. Kesusahan memang, tapi berhasil.

“Lalu, kau masukkan ke dalam mulut.” Si Won memasukkan es krim rasa cokelat itu ke dalam mulutnya lalu mengeluarkannya kembali. Masih sama, Illu mengikutinya. “Kau bisa menggigit es krim ini atau menghisapnya. Terserah padamu.”

Si Won kembali melahap es krimnya sementara Illu memperhatikannya. Es krimnya ia biarkan meleleh begitu saja.

“Masukkan ke mulutmu. Makan saja, ini kesukaanmu,” ucap Si Won seakan ia berbicara dengan Ha Na. Tapi Illu tetap menurutinya dan menghisap perlahan-lahan es krimnya hingga habis. Padahal, rasanya hambar di mulut Illu. Sama sekali tidak terasa kelezatannya.

Illu memperhatikan Si Won yang masih sibuk dengan es krimnya. Pemuda itu terlalu lama hanya untuk menghabiskan sebatang es krim saja.

“Di mulutmu.” Tanpa aba-aba, Illu membersihkan sisa lelehan es krim di bibir Si Won dengan ibu jarinya. Benar-benar mengingatkan Si Won akan Ha Na. Terlalu mirip, kelakuannya sama persis.

“Sudah bersih?” tanya Si Won, mencoba untuk tidak canggung.

Illu mengangguk sambil menarik tangannya. Tak ada sedikitpun perasaan canggung, menyelimuti Illu. Ia hanya merasa apa yang dilakukannya wajar.

“Ayo kita pulang.” ajak Si Won.

Si Won bangkit berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Illu berdiri. Illu menyambut tangan Si Won dengan gembira. Ia merasa, Si Won adalah orang yang sangat baik.

Selama di perjalanan pulang, Si Won tidak bisa berhenti memikirkan Illu yang berada di sebelahnya. Ia sungguh penasaran dengan kemiripan Illu dengan Ha Na. Mengapa gadis itu begitu asing dengan dunia manusia dan mengapa tangan gadis itu terasa begitu dingin saat ia menggenggamnya.

“Ngomong-ngomong, apa yang Danielle katakan?”

“Soal apa?” Si Won sedikit tidak konsentrasi karena ia sibuk melihat jalan.

“Soal bantuan itu. Apa yang Danielle minta untuk kau lakukan?”

Pertanyaan Illu sukses membuat Si Won sadar bahwa ia belum menemukan jawaban atas ucapan ambigu tadi pagi dengan Danielle. Ia masih bingung dengan apa yang dikatakan Danielle perihal membiarkan pergi. Apakah yang dimaksudnya adalah membiarkan Illu pergi, begitu? Tapi Si Won tidak akan sanggup. Jika Illu memang manusia yang sungguh-sungguh memiliki fisik yang sama persis dengan Ha Na, maka ia tidak akan membiarkannya pergi. Cukup Ha Na yang tidak bisa dijaganya.

“Aku bingung akan permintaan Danielle.”

“Memangnya ia meminta apa?”

Si Won tidak menjawab lagi. Ia membiarkan sisa perjalanan menuju apartemennya dalam keheningan. Bahkan tanpa sadar, Illu sudah tak sadarkan diri di sampingnya saat mobilnya berhenti di basement gedung apartemennya. Tapi tak apa, Si Won cukup kuat untuk menggendong Illu hingga ke apartemennya. Merebahkan gadis manis itu di atas tempat tidur empuknya.

Si Won duduk di atas lantai, di samping tempat tidurnya. Sibuk memperhatikan Illu yang seakan begitu menikmati mimpinya. Wajahnya begitu polos dan damai. Dunia ini seakan bukan untuknya. Ia lebih cocok hidup di dunia para malaikat.

Si Won tak bosan-bosannya memperhatikan Illu hingga rasa kantuk menguasainya. Memaksanya masuk ke dalam dunia mimpi.

Si Won mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Tempat di mana ia berada saat ini terlalu mengerikan. Sebuah ruang yang gelap dan lembab. Bahkan suara tetesan air di dalam sini, terasa seperti suara dentingan pedang yang saling menyerang. Terlalu berisik, memaksa Si Won menutup kedua telinganya dan berjalan tak menentu arah, berusaha mencari jalan keluar.

Di mana aku? tanya Si Won dalam hati. Ia melihat ke arah kiri dan kanannya, masih sama, gelap. Terlalu mencekam, memacu jantung Si Won untuk berdetak lebih kencang di setiap langkahnya.

“Oppa…”

Itu suara Ha Na, batin Si Won. Tapi ia tidak tahu darimana suara itu berasal, terlalu gelap, Si Won berusaha mencari.

“Oppa…”

Si Won menghentikan langkahnya. Menengok ke sekelilingnya dan menemukan bahwa dirinya berada di tempat hampa. Tak ada apapun, sepertinya.

“Aku akan selalu menunggumu, Ha Na. Aku akan selalu menunggumu.”

Itu ucapan Si Won sendiri, ucapannya saat mengunjungi ruang penyimpanan abu beberapa hari yang lalu. Udara terasa semakin panas setelah Si Won mendengar suara itu. Seakan ia mendekati kobaran api.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Ha Na. Aku bersumpah, tidak akan.”

Suaraku lagi, batin Si Won. Sungguh, saat ini ia bingung dan tidak bisa bergerak. Kedua kakinya kaku dan keringat dingin mulai mengucur, membasahi kaus tipis yang dikenakannya sebelum dan sesudah berada di alam mimpi.

“Oppa…Oppa…Oppa…” Suara itu semakin mendekat, berasal dari arah kanan.

Si Won menengok ke sana, menunggu apa yang akan keluar dari sana. Apakah Ha Na, atau mahkluk lain. Suasana terasa semakin mencekam, disertai hawa dingin yang hampir membuat Si Won membeku.

“Oppa!”

Si Won terkejut di tempatnya berdiri dari tadi. Ha Na tiba-tiba berada di hadapannya dengan wajah sangat pucat. Ada seringai sadis, menghiasi wajahnya yang terasa lebih kejam dari biasanya. Belum lagi gaun yang dikenakannya serba hitam dan bibirnya yang dipoles lipstick yang sangat merah. Ini bukan Ha Na yang dikenal Si Won selama ini. Lebih mirip iblis, bukan malaikat yang pernah mengisi hidup Si Won.

“Oppa? Kenapa kau ketakutan seperti itu? Tidakkah kau rindu denganku?” Si Won tak bisa menjawab sama sekali. Lidahnya kelu dan bibirnya terkunci rapat.

Tiba-tiba, Ha Na mencengkram wajahnya sambil memamerkan wajah dinginnya. Mencengkram dengan begitu kencang. Kuku-kukunya memanjang, menusuk wajah Si Won, mengalirkan darah segar di antara jari-jari lentiknya.

“Kenapa kau diam, Oppa? Apa kau tidak rindu denganku, Ha Na-mu?”

Tidak…dia bukan Ha Na-ku. Dia bukan Ha Na-ku. Si Won berusaha menggerakkan kepalanya, menghalau cengkraman iblis dalam wujud Ha Na. Tapi tidak bisa, iblis itu terlalu kuat.

“Kau tidak akan melepaskanku, bukan begitu, Oppa?”

Ha Na menggerakkan tangannya yang lain ke arah perut Si Won. Menghujam perut Si Won dengan kuku-kuku tajamnya. Si Won hanya bisa mengerang kesakitan. Rasanya benar-benar sakit, seakan kuku-kuku itu benar-benar nyata.

“Si Won!Si Won!Si Won!”

Wajah dingin iblis itu langsung berubah menjadi cemas. Kuku-kukunya berhenti mengoyak kulit perut Si Won dan cengkramannya pun melonggar. Si Won seakan tertarik, menjauh dari sang iblis yang hanya bisa diam terpaku.

“Si Won!”

Si Won membuka kedua matanya dan menemukan dirinya sudah berada di dalam kamarnya kembali. Rasa sakit di wajah dan perutnya, memang nyata. Darahnya juga nyata.

Si Won melihat ke atas tempat tidurnya, tubuh Illu bergetar hebat di sana dan Danielle berdiri di seberang Si Won. Menatap cemas ke arah Illu.

“Apa yang terjadi?” tanya Si Won sambil berusaha untuk bangkit berdiri. Meski sulit karena rasa sakit yang dirasanya, tapi akhirnya ia berhasil berdiri.

“Illu, Ha Na-mu, akan diadili di neraka, sekarang. Selamat, tuan Wu.” balas Danielle dengan nada sangat sinis.

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” ucap Si Won, menghampiri Danielle dan berdiri di sebelahnya. Menatap iba kepada Illu yang tak berhenti bergetar dalam keadaan tak sadar.

“Lakukan sesuatu, Danielle!” teriak Si Won. Ia berlutut di sebelah Illu dan memegangi tangannya. Berharap tubuh Illu akan berhenti bergetar.

“Aku tidak bisa melakukan apapun. Ha Na yang kau lihat di dalam mimpimu barusan, adalah iblis yang akan membawanya ke neraka.” Danielle berhenti sejenak, memaksa Si Won memberikan tatapan memelas kepadanya. “Sekali lagi terima kasih atas keegoisanmu.”

BRAK!!!

Jendela di kamar Si Won tiba-tiba terbuka lebar. Udara dingin masuk begitu saja sementara tubuh Illu seakan memudar seiring dengan getarannya yang semakin hebat. Si Won menggenggam tangan Illu semakin kencang. Ia benar-benar cemas dan terkejut. Apalagi, sekarang ia tahu pasti bahwa Illu ternyata adalah Ha Na. Pantas, ia seperti mahkluk dari dunia lain.

“Lakukan sesuatu!” teriak Si Won, panik. Ia benar-benar takut kehilangan Illu yang seakan memudar terbawa angin yang menerobos masuk ke dalam kamarnya.

“Hanya kau yang bisa! Ini belum terlambat!” balas Danielle. Suara gemuruh angin semakin kencang. Illu semakin memudar.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Lepaskan Ha Na! Biarkan ia pergi!”

Si Won tidak bisa. Ia tidak sanggup sepasrah itu dan membiarkan Illu pergi. Bagaimanapun juga, Illu dan Ha Na itu sama. Setidaknya, keegoisan Si Won mendorongnya untuk memiliki salah satunya.

“Lepaskan dia, Si Won…Sekarang!”

Si Won bingung, sangat bingung. Kenyataannya, ia hanya akan membuat Ha Na menderita jika ia sampai dibawa ke neraka, tapi Si Won tidak rela.

Waktu semakin mendesak. Si Won akhirnya melepaskan cengkramannya, membiarkan Illu melebur bersamaan dengan perkataannya,”Aku membiarkanmu pergi.”

Tubuh Illu menghilang seiring dengan perkataan Si Won barusan.  Terbawa bersama dengan hembusan angin yang berubah menjadi tenang. Jendela kembali menutup dan kamar Si Won kembali tenang seakan tak pernah terjadi apapun.

“Terima kasih, terima kasih karena sudah melepaskannya.” Danielle mencengkram pelan bahu Si Won yang masih berlutut di sebelah tempat tidurnya. Masih syok dengan keadaan yang baru saja terjadi, yang hampir saja membuat pujaan hatinya terjerumus ke dalam kobaran api neraka.

Danielle memaksa menarik tubuh Si Won agar berdiri. Menghadapnya dengan tatapan kosong, seakan sangat kehilangan.

“Tugasku sudah selesai, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa.” Danielle berbalik, hendak pergi, tapi Si Won segera menahannya. Tiba-tiba, ada yang ingin ditanyakannya.

“Kenapa kau mengirim Illu kemari, jika hanya ingin membuatku melepaskan Ha Na?”

Danielle kembali membalikkan tubuhnya. Memasang raut wajah antusias akan pertanyaan Si Won.

“Ha Na yang meminta untuk dikirim kembali kemari. Lagipula, aku sudah jenuh melihatnya selama 89 malam terakhir mendatangimu diam-diam, hanya untuk memberikanmu sebuah kecupan, kau tahu bahwa itu melanggar aturan akhirat.” omel Danielle.

“Kecupan? Apa maksudmu?”

Danielle mengusap pipi sebelah kanannya sambil tersenyum. Memberikan sebuah pengertian yang tersirat dibalik tindakannya.

Awalnya Si Won bingung, tapi kemudian ia mengerti. Lebam itu, tanda kecupan dari roh Ha Na. Berarti, mitos itu benar. Sebuah kecupan dari sesosok mahkluk halus, akan memberikan lebam pada kulitmu. Zhou Mi memang benar sekali untuk urusan mitos itu.

“Huh…ternyata tak hanya kau yang tidak mau melepaskan. Gadis bodoh itu juga tidak mau, menunggu di akhirat terlalu lama. Sungguh merepotkan.” Danielle kembali berbalik tapi sekali lagi, Si Won menahannya, hanya untuk mengucapkan terima kasih.

“Tak perlu sungkan, tuan Wu. Suatu hari nanti, aku akan kembali, menjemputmu.” Lalu Danielle menghilang begitu saja, bersamaan dengan suara tawanya.

Hari yang sungguh menyenangkan sekaligus melelahkan. Mengejutkan tapi memberikan begitu banyak pelajaran berharga hanya dalam 1 hari. Kini, hanya tersisa sepasang sepatu berwarna biru muda di atas tempat tidur Si Won. Saksi bisu akan keikhlasan Si Won, melepaskan Ha Na, sekaligus kenangan manis yang hanya sebatas pengenang, bukan pengikat.

 

The End

5 Comments (+add yours?)

  1. kyunam
    Aug 20, 2014 @ 10:07:19

    kereeeeeeeeeeeeeeeeeen. baru kali ini suka baca cerita fantasy. biasanya suka males kalo baca genre genre fantasy gini. tapi ini kereeeen (y)

    Reply

  2. Lia9287
    Aug 20, 2014 @ 12:38:28

    Agak serem pas mimpi’y Siwon

    Reply

  3. novanofriani
    Aug 20, 2014 @ 16:30:27

    Oh seharusnya yg jd siwon kris ya ? Typo kris nya masih ada. But its okay. Gk pernah baca yg jalam crta nya begini. Authornya kreatif. Imajinasinya tinggi pasti

    Reply

  4. Shoffie monicca
    Aug 21, 2014 @ 09:39:19

    Seru thor….tpi ada seremnya jg…

    Reply

  5. i'm2IP
    May 21, 2016 @ 23:03:53

    Asliiii… ini termasuk ff yang beda dari ya lain. Kreatif! Good ff :).. terus berkarya ya thor! Hwaiting

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: