{Snakes On The Plane’s Side Story} Unexpected

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Don’t Go {Side Story: Saki POV}

19

Sakura

Tindakanku benar kan, Hitoshi?

Setelah berbicara dengannya, aku sedikit lega. Ya, hanya sedikit. Masih ada yang mengganjal, sebenarnya.

Tapi…

“ Sakura,”

Ini bukan waktunya memikirkan hal lain.

“ Semoga berhasil,”

Ada yang lebih penting saat ini.

“ Persiapan selesai. Sistem akan dinyalakan dalam sepuluh detik. 10…9…8…”

Aku harus konsentrasi dalam simulasi ini.

“ 5…4…3…”

Aku siap.

“ 1,”

* * *

Meskipun sudah berkali-kali aku masuk kedalam simulasi, tetap saja ini terasa nyata. Tanah, udara, semuanya terasa nyata. Tapi ada yang lebih nyata.

Target yang harus ku hadapi saat ini.

Simulasi fisik yang pertama bertujuan menguji sejauh mana kemampuan kita bertahan dan mengendalikan diri terutama emosi ketika melawan orang yang paling tidak ingin kita lawan. Dalam pertarungan sebenarnya, melawan kawan sendiri merupakan hal tersulit dan emosi yang muncul sangat menganggu. Untuk itulah, kami harus melatih diri menghadapi kemungkinan itu.

Nah, siapa lawanku hari ini? Saki atau Seiryuu?

Melawan Saki lebih mudah dari Seiryuu. Setidaknya untuk pertarungan tangan kosong. Tapi jika harus memakai senjata, lebih baik aku melawan Saki.

Ugh, apa yang ku pikirkan? Aku tak ingin melawan saudara kembarku sendiri hari ini. Tapi aku juga tak mau kalau sampai Tomomi atau Kanna yang muncul.

Hei…ini aneh.

Kenapa lawanku tak muncul?

TREK

Suara pistol?

Aku segera berbalik, seseorang yang tak terduga muncul. Orang yang tak pernah ku harapkan untuk berada disini.

“ Kau?!”

DOR

* * *

Ah!

A-aku…dimana ini?

“ Akhirnya kau bangun juga,”

Aku menoleh ke sebelah kanan, Kanna tengah duduk di  atas meja yang penuh dengan gelas. Seperti biasa, jaket seragam Divisi Assassin dilepas dan ia hanya mengenakan seragam lapangan (tanktop biru dan celana pendek kuning). Aku mencoba bangun, tiba-tiba rasa sakit menghantam ulu hatiku.

“ Kau menakuti kami. Simulasi baru berjalan sekitar setengah menit, tapi kau mendadak terbangun dan batuk darah,”

Be-benarkah?

Aku mengingat-ingat apa yang terjadi di dalam simulasi. Rasanya aku cuma berjalan sebentar, lalu—

“ Astaga,”

“ Kenapa?”

Aku mengusap wajah seraya menggeleng, “ Ti-tidak apa-apa,”

Kanna mengulurkan segelas air dingin. Sekilas aku melihat tulisan ‘LT’ terukir di lengannya.

“ Kanna,”

“ Hm,”

“ Tulisan apa yang ada di lenganmu?”

Kanna tak langsung menjawab. Ia memainkan kepang rambutnya, bibirnya ia gigit sementara bola matanya bergerak ke kiri dan kanan. Pipinya pun merona.

Haha. Ketahuan.

“ LT….jangan-jangan pria yang sering bersamamu itu ya?”

Kanna melempar bantal sofa, wajahnya semakin merah. Reaksinya membuatku ingin menggodanya.

“ Jadi, sudah berapa lama kalian berhubungan?”

Kanna memainkan kepangnya lagi, “ Sebulan, mungkin,”

Tanpa bisa ku cegah, aku terbahak setelah mendengar pengakuannya. Selama di Training Academy, Kanna satu-satunya orang di grup kami yang tidak dekat dengan laki-laki. Ia bahkan tidak berusaha membuat dirinya terlihat cantik di hadapan orang lain.

Leeteuk adalah laki-laki pertama yang berhasil menaklukkannya. Aku harus angkat topi untuknya.

“ Cukup basa-basinya. Katakan, apa yang terjadi di dalam simulasi?”

Kanna mengangkat kaki kanannya, menaruhnya diatas kaki kirinya sementara tangannya ia lipat di depan dada. Aku menarik napas. Tak yakin harus menjawab apa.

“ Jadi?”

Aku menarik napas lagi, “ Ada orang disana,”

“ Bukankah memang selalu ada di dalam setiap simulasi?”

“ Ini berbeda, Kanna. Yang muncul bukan Saki ataupun Seiryuu,”

Kanna menyandarkan diri ke sofa, “ Aku?”

“ Bukan. Bukan pula Tomomi dan Hoshi,”

“ Lalu?”

Ku gigit kuku jempolku, dalam hati aku berharap tadi hanya mimpi. Orang yang paling tak ku harapkan, orang yang tak pernah terbesit dalam pikiranku akan menjadi lawanku, dan orang yang paling ku hindari.

“ Donghae,”

* * *

“ Pada dasarnya, simulasi ini akan memunculkan orang yang paling kau hindari sebagai rival dalam hidupmu,”

Itu yang aku pahami selama ini, Kanna.

“ Orang itu bisa jadi adalah keluargamu, orang yang paling kau cintai atau yang kau anggap paling berharga,”

Dalam hal itu, aku hanya bisa memikirkan Seiryuu, Saki dan Hoshi karena mereka adalah keluargaku.

“ Atau teman terdekatmu,”

Aku memikirkan kau dan Tomomi dalam kemungkinan itu.

“ Tapi, jika sampai kau bertemu orang yang paling tak kau pikirkan, bisa jadi kau secara tak sadar memikirkan orang itu dan menghindar dari kemungkinan melawannya,”

Mustahil.

“Kau tak ingin melawannya, kau bahkan tak ingin melihat wajahnya. Sistem membaca alam bawah sadarmu, sehingga orang itu muncul dalam simulasi,”

Aku memang tak ingin melihat Donghae. Kadang ia menggangguku, tapi aku tak ingin melawannya. Aku hanya ingin menghindarinya. Itu saja.

Tapi memikirkan ia bisa sampai muncul dalam simulasi—

“ Jadi ini yang namanya Napolitan,”

Aku nyaris tersedak mendengar suara itu. Se-sejak kapan ia ada disini?!

Donghae duduk tepat di depan, dengan santai ia menyantap pasta Napolitan. Ia melirikku, melambaikan tangannya.

“ Hai,”

Dan dengan bodohnya aku malah membalas, “ Hai,”

“ Oh, tak ku sangka kau akan membalas. Ku pikir aku akan mendapat semacam pukulan,”

Sekarang aku benar-benar tersedak. Orang ini sungguhan ingin dihajar rupanya. Sayang, kami berada di tempat umum. Aku bisa dihukum jika sembarangan memakai kekuatanku.

Buru-buru ku habiskan makananku. Aku tak ingin berlama-lama disini.

Tanpa melihat ke belakang, aku pergi keluar dan meninggalkan Donghae sendirian. Ternyata, aku memang tak sanggup menatap wajahnya…

* * *

Cop Squad pada jam-jam seperti ini selalu sepi. Berbeda sekali dengan Zodiac. Disana semua orang berkumpul di kantin dan membicarakan hal-hal remeh.

Langkahku terhenti di depan jendela yang menghubungkan dengan simulasi Roboguard.

Ah…aku melewatkan simulasi hari ini. Pantas saja sepi. Semua orang sibuk dengan persiapan simulasi.

Hm? Sayuri juga ada disini?

Akhirnya ia berubah pikiran.

Melihatnya berada di tengah kru, mengingatkanku ketika ia baru saja diangkat menjadi Kapten. Ia tetap terlihat keren dengan seragamnya. Wibawanya tak luntur sedikit pun. Ia memang pantas menjadi Kapten.

Oh, Jenderal Shin juga ada disini.

Sepertinya ia ada perlu dengan Sayuri. Kira-kira mereka mau kemana ya?

Sayuri dan Jenderal Shin keluar dari ruang simulasi. Beruntung mereka tak melihat ke arahku.

Ku ikuti mereka dari jauh, sebisa mungkin jangan sampai ada yang tahu.

Setidaknya, itu yang ku pikirkan sampai—

“ Menguntit itu tidak baik, lho,”

Sampai orang itu memergokiku.

Donghae melipat tangannya, senyum lebar tertera di wajahnya. Entah kenapa, aku justru ingin menghajarnya. Orang ini benar-benar penganggu.

“ Tak ku sangka kau ini suka menguntit orang lain,”

Ku tahan diriku untuk tak menghajarnya. Aku mencoba memaksakan bibirku bergerak, “ Kau juga suka menguntit orang lain,”

Donghae bersandar di dinding, “ Aku cuma memastikan semua berada di tempatnya,”

Berbicara hanya akan menambah emosi. Lebih baik aku pergi dari sini. Namun belum sempat aku berjalan jauh, Donghae menahanku. Ia menahanku tepat di bahuku.

“ Apa benar kau akan ditempatkan di pasukan garis depan?”

Aku tak menjawab. Pasti ada yang memberitahunya rahasia itu. Seingatku Jenderal Shin hanya memberitahuku dan kedua saudara kembarku.

“ Aku tak masalah jika kau tak mau menjawab, tapi—“ Donghae melepas cengkeramannya, “ Maukah kau mendengar permintaanku?”

Aku memalingkan wajah, “ Aku tak yakin soal itu,”

Donghae meremas bahuku, “ Tolong jangan bertindak bodoh,”

Ia orang kesekian yang mengucapkan itu padaku. Semua meremehkanku. Seolah aku akan melemparkan granat tepat di depan wajah mereka.

Ku tepis tangannya. Aku tak ingin berada di satu tempat yang sama dengannya lebih lama.

“ Sakura,”

“ Lepaskan,”

“ Tidak sampai kau mau bersumpah di hadapanku,”

Aku tertawa, “ Untuk apa?”

Raut wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. Aku sering melihatnya bercanda dengan Eunhyuk. Aku tak menyangka ia bisa serius seperti ini.

“ Jangan berbuat bodoh. Ku mohon,”

Wajah kami berdekatan. Tato Aries ku berdenyut keras. Tidak, tidak, jangan terpesona, Sakura. Ia hanya akan memanfaatkanmu. Sama halnya dengan laki-laki itu.

“ Apa yang kau inginkan?”

Aku sudah tak sanggup menahan diri. Pemuda ini sungguh-sungguh menyebalkan. Ia mencengkeram lenganku lebih erat. Rasa sakit mulai merayapiku.

“ Aku tak ingin kau berada disana,”

Sedetik kemudian, aku sudah terperangkap dalam pelukannya. Suaranya terdengar lirih.

“ Aku tak ingin kau tewas, seperti anggota Zodiac lainnya,”

Tubuhku menegang. Tanganku terkulai di samping. Sedikit pun tak ada niat untuk membalas pelukannya. Tapi kenapa hatiku terasa perih?

“ Aku ingin kau bersama kami. Kau jauh lebih aman disini daripada kau bergabung dengan pasukan tempur,”

Pelukannya semakin erat. Aku merasa tulang rusukku akan patah saat ini juga.

“ Andai kau bukan Aries…”

Sebilah pisau menghantamku, tepat di ulu hatiku. Kalimat tadi persis seperti yang diucapkan pemuda itu.

Andai saja kau bukan Aries, mungkin segalanya akan terasa lebih mudah

Kali ini perasaan bersalah menghampiriku. Mungkin ini sebabnya ia muncul dalam simulasiku. Perlahan ku genggam lengannya, mencoba meredam rasa perih yang muncul.

“ Aku Aries. Dan itu tak bisa ku cegah, Donghae,”

Donghae melepaskan pelukannya, air mata menggenangi kedua bola matanya. Barulah aku sadar betapa jernih matanya. Seluruh perasaannya tertera jelas disana.

“ Apa tak ada yang bisa ku lakukan?”

Yang bisa ia lakukan….

Sebuah ide gila muncul dalam benakku. Aku belum pernah melakukannya, tapi hanya itu yang bisa. Mungkin aku bisa mempercayainya.

* * *

Hitoshi pernah mengatakan, atap adalah tempat terbaik untuk kabur. Disana kau bisa merasakan angin yang berhembus melalui helai rambutmu dan melihat langit yang begitu luas sampai-sampai kau lupa dimana kau berada. Dan ia benar.

Seluruh markas terlihat jelas dari sini. Beberapa lampu mulai dimatikan. Aku yakin itu lampu asrama murid-murid Cop Squad Training Academy.

Ngomong-ngomong, aku bawa benda itu tidak ya?

“ Hei, kenapa kita kesini?”

Aku tak membalasnya. Aku terlalu sibuk mencari—ah, ini dia! Sebilah pisau saku yang selalu ku simpan di balik jaketku. Ini senjata terbaik yang bisa ku gunakan jika ada pria hidung belang.

“ Sakura,”

“ Diam,”

Ku iris jari telunjukku dengan pisau itu. Donghae terkesiap. Ia berusaha menghentikanku, namun aku lebih cepat. Darahku mengalir deras dari balik goresan pisau itu. Ku tempelkan jariku ke bibir hingga darah menutupinya.

“ Sakura, apa yang—“

“ Diam,”

Aku gemetar saat menariknya hingga wajah kami berdekatan. Ku pegang pipinya dan bibir kami pun bertemu. Perasaan aneh memenuhiku ketika aku menciumnya. Ada rasa ingin menahannya lebih lama.

“ Kenapa?” tanyanya ketika aku melepaskannya. Aku diam, memperhatikan simbol Aries bersinari di lehernya.

“ A-apa ini?”

Ku usap tato Aries itu. Seharusnya ini cukup.

“ Sekarang kita sudah terhubung. Jika ada sesuatu yang terjadi padaku, tanda ini akan mengeluarkan darah. Dan kau juga bisa bertelepati denganku,”

Donghae terperanjat. Wajahnya merona. Mungkinkah ia marah?

“ Apa maksudmu memasang tanda ini? Apa gunanya jika aku tak berada disampingmu?”

Ia benar-benar tak paham. Ini cara yang biasa dilakukan Seiryuu jika ia menghadapi misi yang berbahaya. Seiryuu justru lebih gila. Ia melakukannya seperti vampir. Ia mengatakan akan terasa aneh jika ia harus mencium bibir saudara kembarnya sendiri. Dan ia benar.

“ Aku, Saki dan Seiryuu biasa melakukan ritual ini jika kami terpisah. Tanda ini hanya akan bertahan selama tiga hari, jadi seharusnya tak masalah,”

Donghae mencengkeram lenganku lagi, kali ini lebih erat dan menyakitkan.

“ Tak masalah? Kau ini benar-benar tak paham ya? Aku ingin berada disampingmu saat kau bertempur. Aku tak ingin menunggu sampai kau terluka!”

“ Dengarkan aku, Donghae! Aku disana tak sendirian! Saki, Seiryuu dan Sayuri akan menemaniku, jadi kau tak perlu khawatir,”

“ Tapi—“

“ Ku mohon, Donghae,”

Aku tak tahu kenapa aku menangis. Namun itu tak berlangsung lama. Tangan besar nan hangat menghapus air mataku. Pemilik tangan itu pun berjuang keras menahan diri untuk tidak menangis.

“ Baiklah. Aku mengerti. Tapi berjanjilah,”

Tangannya menyibak rambutku. Aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dibawah cahaya rembulan, ia terlihat seperti malaikat.

“ Jangan gegabah,”

Dan untuk pertama kalinya, aku terhanyut dalam rasa perih dan takut. Namun sentuhannya membuatku yakin. Aku tak perlu merasakan takut.

Aku….jatuh cinta padanya.

6 Comments (+add yours?)

  1. Shoffie monicca
    Aug 31, 2014 @ 21:12:26

    Sru chingu..lnjut donk ditunggu klnjutanya…

    Reply

  2. MiKyu
    Sep 04, 2014 @ 10:50:38

    Next ditunggu

    Reply

  3. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Betrayal | Superjunior Fanfiction 2010
  4. Trackback: Snakes On The Plane {21/25} | Superjunior Fanfiction 2010
  5. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Father’s Feeling | Superjunior Fanfiction 2010
  6. Trackback: Snakes On The Plane {22/25} | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: