Snakes On The Plane {20/25}

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Don’t Go {Side Story: Saki POV}

19

Unexpected {Side Story: Sakura POV}

Two bottle of water, please,”

Dengan sigap pramugari itu mengambil dua botol air mineral dan memberikannya pada penumpang tersebut.

“ Oh, thank you,” Penumpang itu membuka satu botol dan meneguknya perlahan. Matanya terpaku pada layar laptop yang kini menampilkan e-mail masuk. Ia buka e-mail itu, alisnya terangkat sebelah ketika ia membaca nama pengirimnya.

Ia menggerutu sambil mengetikkan balasan.

“ Kau selalu saja terlambat memberitahuku, Shin-sama,”

Tangannya terhenti ketika sebuah e-mail lain masuk. Wajahnya memucat setelah ia membuka e-mail itu.

“ Mei Lin?”

Buru-buru ia mengirim balasan. Dalam hati ia bersyukur melihat foto Mei Lin yang dikirim kepadanya. Sekuat tenaga ia menahan haru yang kini memenuhinya.

“ Kau masih hidup, sayangku…. Kau masih hidup,”

* * *

Jenderal Shin menyeringai, tangannya bergerak dengan cepat diatas keyboard laptopnya. Sesekali ia melirik sesosok anak perempuan yang tertidur di sofa ruangannya. Ia berhenti sebentar, mendesah lega sambil memandangi anak itu.

“ Permisi,”

Yun Hee melongokkan kepalanya, mengamati sekitarnya. Jenderal Shin melambaikan tangannya. Akhir-akhir ini ia jauh lebih santai, terutama setelah Yun Hee mengetahui rahasia dirinya dan keluarganya.

“ Anda memanggil?”

Jenderal Shin menunjuk Mei Lin dengan jempolnya, “ Aku yakin dia lebih suka jika kau yang menggendongnya,”

Yun Hee mengangkat Mei Lin perlahan, berusaha tidak membangunkannya. Wajah Mei Lin terlihat damai seolah tak ada peristiwa berbahaya yang terjadi dalam hidupnya. Yun Hee menggigit bibir bawahnya. Ia harus tegar demi Mei Lin.

“ Oh ya, apa kau sudah bertemu dengan Tomomi?” tanya Jenderal Shin melanjutkan mengetik e-mail. Yun Hee menggeleng, “ Anda ingin saya mencarinya?”

Jenderal Shin menekan ‘send’ seraya berpikir sejenak.

“ Tidak perlu. Aku hanya ingin memastikan ia sudah kembali atau belum,”

Yun Hee menatap Jenderal Shin sesaat. Ada rasa canggung yang menyusup di antara mereka sejak Yun Hee tahu Jenderal Shin adalah ayahnya. Ia belum sanggup memanggilnya ‘otoosan’. Pada akhirnya ia hanya bisa berbicara dalam bahasa formal di hadapannya. Bertahun-tahun ia memanggil Jenderal Shin dengan sebutan ‘ahjussi’ dan ‘ojiisan’. Kini, ia harus mengubahnya. Namun memanggilnya ‘otoosan’ tak semudah membalikkan telapak tangan.

“ Nanti aku ingin mengadakan rapat dengan kalian setelah Tomomi kembali. Tolong sampaikan itu pada yang lain,”

Yun Hee membalikkan badan. Ia tak ingin memandang Jenderal Shin terlalu lama.

“ Roger,”

* * *

Yun Hee

Fuh. Akhirnya aku bisa bebas darinya. Aku tak bisa berada dalam ruang yang sama dengannya saat ini. Terlalu aneh jika tiba-tiba aku memanggilnya ‘otousan’.

Setelah aku memutuskan kembali, Jenderal Shin memberiku kunci kamar asrama Cop Squad. Ia mengizinkan aku sekamar dengan Mei Lin. Syukurlah, aku bisa menjaga anak ini tanpa ada halangan.

Bentuk bangunan asrama Cop Squad hampir mirip dengan asrama Zodiac Training Academy. Cat putih menutupi gedung ini, menimbulkan kesan dingin dan tertutup. Aku diberikan kamar di lantai dua, tiga kamar dari kamar Seiryuu. Malam pertama aku dikejutkan dengan suara pintu dibanting. Sepertinya markas ini membuat orang lebih stres. Mendadak aku merindukan markas Zodiac.

Ku perhatikan Mei Lin yang tengah terlelap. Aku baru sadar betapa miripnya ia dengan Shin Pei. Rambut panjang yang hitam, hidungnya yang tajam, mata yang kecil serta kulit putih kekuningan. Entah kenapa, aku teringat seseorang yang memiliki kemiripan seperti ini. Tapi siapa?

BRAK!

Suara yang sama seperti kemarin. Buru-buru aku keluar dari kamar, memeriksa siapa pelakunya. Seseorang yang tak terduga berada di depan mataku.

“ Ryuu, ada apa?” tanyaku. Aku sebenarnya takut berhadapan dengan Seiryuu disaat ia berubah menjadi beruang liar, tapi aku tak bisa menahan rasa penasaranku. Rambutnya basah karena keringat dan terurai menutupi mata kirinya, namun aku masih bisa melihat mata kirinya merah.

“ Ti-tidak…um..”

Ia menarik napas sesaat. Tubuhku merinding ketika matanya melirik dari balik helai rambutnya.

“ Kau…apa kau melihat orang lain disini?”

Aku menggeleng. Aku sungguh-sungguh tak tahu. Seingatku, hanya ada aku, Seiryuu dan satu personil Medis disini.

“ Apa ada sesuatu?”

Kali ini Seiryuu yang menggeleng.

“ Tidak. Bukan hal yang penting,”

* * *

Dulu, aku mudah sekali terlelap. Setelah sesi pemotretan, rasanya aku siap merebahkan diriku dan memejamkan mata. Tanpa ku sadari, cahaya matahari telah masuk melalui celah tirai jendela kamarku.

Disini sungguh berbeda. Situasi saat ini membuat semua orang siaga 24 jam. Tubuhku pun spontan mengikutinya. Aku harus siap jika sewaktu-waktu Jenderal Shin memanggil.

Tapi aku harus tidur.

Setidaknya agar mata ini tak semakin hitam. Aku seperti mayat hidup ketika memeriksa bayangan diriku di cermin. Benar-benar mengerikan.

Tik tok tik tok.

Aku tak tahu berapa lama aku terjaga, tapi aku tahu sudah ada empat-lima suara langkah kaki terdengar. Jam malam sudah tak berlaku disini.

BUK!

Dan kali ini suara benturan di dinding. Oh, ada suara langkah kaki juga. Situasi ini benar-benar mengacaukan pikiran orang-orang. Bagai wabah, satu persatu mereka dilanda depresi hebat. Dewan Pimpinan Markas disini butuh psikiater.

Hening.

Bulu kudukku mendadak berdiri. Aku baru menyadari lebih nyaman mendengar suara langkah kaki berkeliaran. Setidaknya, aku tahu aku tak sendirian.

Dan aku memang tak sendirian.

Mei Lin terlelap sambil memegangi kausku. Genggamannya sangat kuat, hingga rasanya kaus ini akan robek jika aku memaksa melepaskan diri darinya.

Tik tok tik tok.

Oke, aku harus mencoba memejamkan mata lagi.

Jarum jam menunjukkan pukul satu pagi. Empat jam lagi para personil akan bangun untuk latihan pagi. Jenderal Shin bilang aku boleh tak ikut latihan itu. Baguslah, aku akan disini dan memikirkan strategi. Atau mungkin aku akan menunggu Tomomi.

“ Papa…”

Mei Lin bergerak gelisah, genggamannya semakin kuat.

Ah, benar juga. Saat peristiwa itu terjadi, Mei Lin hanya bersama Shin Pei. Dimana ayah anak ini?

Tunggu….siapa suami Shin Pei?

Kenapa aku mendadak lupa?

 

Drrt....drrt....

 

Siapa malam-malam begini mengirim pesan?

Ku buka ponselku, sebuah nama tertera di layar.

 

Shin-ahjussi

Aku diam sejenak. Haruskah aku mengganti nama ini?

Jemariku gemetar ketika menekan layar ponsel. Isinya sungguh aneh untuk ukuran Jenderal Shin.

 

Kau ingin mendengar kabar bagus atau kabar buruk?

Seketika jantungku berdetak cepat. Firasatku mengatakan telah terjadi sesuatu.

 

Kabar apa?
Katakan saja

Aku rasa keduanya kabar buruk. Ponselku bergetar lagi, menandakan pesanku telah dibalas.

 

Kabar baiknya, Tomomi sudah pulang. 
Dan kabar buruknya, ia sudah menemukan jasad Shin Pei. 
Tepat dibawah jurang.

 

Astaga.

Belum sempat ku balas, pesan lain sudah masuk.

 

Temui aku jam 8 pagi

 

Aku melirik kearah Mei Lin. Entah apa yang harus katakan padanya tentang Shin Pei. Atau sebaiknya ia tak perlu tahu?

 

Drrt..drrt
Penyerangan akan dimulai besok lusa.
Bersiaplah.

* * *

Berusaha tegar merupakan pilihan terburuk terutama saat melihat sahabatmu sendiri terbaring tanpa nyawa di hadapanmu. Sebisa mungkin kau harus menahan air matamu, jeritanmu, rasa sakit dan perih yang berkecamuk dalam dirimu. Dan sebisa mungkin kau harus bisa menahan beban tubuhmu tetap berada di satu tempat.

Tiga tahun berlalu dan ia tak berubah sedikit pun. Kecuali rambut panjangnya yang ia potong. Tubuhnya dipenuhi luka tembak dan memar. Ia berjuang keras menyelamatkan putri kecilnya hingga ia kehilangan nyawa.

“ Yun Hee,”

Aku tak perlu menoleh untuk melihat siapa yang memanggilku. Ia menepuk bahuku sambil berbisik, “ Jenderal Shin memanggilmu,”

Aku hanya mengangguk sebagai balasan, namun mataku masih terpaku padanya. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya.

“ Yun Hee,”

Ku paksakan kakiku melangkah. Hanya beberapa langkah dan aku berhenti. Aku menatapnya sebelum mereka menutupinya dengan kain.

Sampai jumpa di akhirat, Shin Pei

* * *

“ Hai,”

Sungguh sapaan yang tak biasa keluar dari mulut seorang Tomomi. Dulu ia biasa melihatku dengan pandangan buas seolah ingin menerkam dan mencabikku. Ia terkenal kasar dan sangat benci laki-laki. Entah apa yang membuatnya berubah selama tiga tahun ini.

Perubahan itu mengerikan.

“ Siap?” tanyanya. Tangannya mengibaskan lembaran kertas. Aku yakin itu hasil penyelidikannya. Aku tak tahu apakah aku siap mendengarnya atau tidak.

Semua anggota tim sudah berkumpul. Wajah mereka diliputi ketegangan, kecuali Seiryuu. Dan Hankyung. Atmosfer di antara mereka terasa tak enak.

“ Kita langsung saja pada intinya. Apa yang kau temukan disana, Hashimoto-sshi?”

Tomomi membaca sekilas kertas di tangannya, menarik napas sejenak sebelum menjelaskan isinya,

“ Kalian tak akan percaya ini. Bangunan yang dilihat Sayuri, maksudku Yun Hee, adalah sebuah markas. Bukan hanya itu, ada beberapa rumah petak tak jauh dari markas dan satu diantaranya ada bekas penyerangan. Kami rasa itu tempat terjadinya penyerangan terhadap Shin Pei dan putrinya,”

Tomomi berhenti sejenak, melirikku dan bibirnya ditarik keatas membentuk senyuman jahil. Aku tak masalah jika ia memanggilku dengan nama Sayuri, toh itu nama asliku. Mungkin ia hanya berusaha mencairkan suasana. Tak kusangka Tomomi orang yang baik.

“ Salah satu anggota kami berhasil menyusup masuk dan menemukan kandang ular serta sebuah ruangan tempat produksi massal Eve,”

Jadi gosip itu benar. Snakes Army merupakan satu dari tiga perusahaan penghasil robot penghancur itu.

“ Dan satu lagi, ada yang menarik dari Eve yang mereka buat,” Tomomi memainkan kertasnya sambil mendengus pelan. Jenderal Shin tak terpengaruh dengan hal itu dan bertanya, “ Apa itu?”

Tomomi melirikku lagi, “ Tidak ada pilot didalamnya,”

Seluruh anggota tercengang, termasuk Jenderal Shin. Tidak ada pilot? Jadi, selama ini kami bertarung dengan siapa?

“ Kami tidak berhasil menemukan bagaimana cara mereka mengendalikan Eve tanpa pilot, tapi kami menemukan ada pintu yang selalu tertutup di dekat ruang komunikasi,”

“ Darimana kau tahu itu selalu tertutup?” tanya Ryeowook dengan polosnya.

Tomomi menyandarkan diri ke dinding, “ Anggota kami berusaha membukanya dengan segala cara namun gagal,”

Pintu yang selalu tertutup… Apa mungkin ada yang mereka sembunyikan disana?

“ Apa mereka dikendalikan dengan otak buatan?”

Pertanyaan Eunhyuk mengejutkan semua orang yang berada dalam ruangan. Ia pun ikut terkejut melihat reaksi kami.

“ Di film-film sering ada kan tentang otak buatan untuk robot dan sejenisnya? Bisa jadi mereka menggunakan itu. Iya kan?”

Eunhyuk nyengir, tak tahu harus berkata apa lagi. Namun Jenderal Shin menanggapinya dengan serius.

“ Kemungkinan itu ada. Ku dengar, di Snakes Army ada ilmuwan jenius dan masih muda. Tapi aku tak tahu apa ia benar-benar bisa membuat otak buatan kecuali—“

“ Kecuali dia Alchemist,”

Kali ini giliran Hankyung yang bicara. Perasaanku saja atau ia sejak tadi menatap kearah Seiryuu, terutama saat ia mengucapkan kata ‘Alchemist’?

Jangan-jangan ia tahu soal itu?

“ Jika benar…aku rasa aku harus menyerahkan urusan itu pada Seiryuu,”

Seiryuu tak merespon. Ia seperti menghindari sesuatu. Sejak tadi ia berusaha memusatkan matanya ke depan, meskipun ada orang lain yang berbicara di bagian belakang ruangan.

“ Baiklah. Seiryuu, kau yang menyusup ke dalam markas terlebih dahulu. Jika situasi sudah aman terkendali, Yun Hee, Saki dan Sakura menyusul dan lakukan serangan. Sementara yang lain, kalian akan berangkat setelah ada perintah dariku,”

Jenderal Shin menunduk, kedua tangannya ia tangkupkan di atas meja.

“ Dan selalu waspada ketika di lapangan. Ini bukan simulasi. Kalian akan bertarung dengan Eve yang sebenarnya dan juga para personil Snakes Army,”

Jenderal Shin mengeratkan kedua tangannya. Helaan napasnya terdengar berat.

“ Aku tak bisa jamin rencana ini berhasil seratus persen. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi disana,”

Hitoshi juga pernah mengatakan hal yang sama. Kita bisa saja menyiapkan seribu rencana, tapi kita tak akan pernah berhasil memprediksi bagaimana situasi di lapangan yang sebenarnya. Tapi, rencana harus tetap ada sebagai persiapan.

“ Tetap waspada dan jangan gegabah,”

Seluruh anggota memasang sikap siaga. Ini seperti tiga tahun lalu. Tapi kali ini, tak ada Hitoshi, Shin Pei, Fellix, Takeyama dan Olivia.

“ Laksanakan!”

“ Siap!”

* * *

Dalam hitungan jam, aku akan berada di dalam kokpit Roboguard. Tanganku belum terbiasa memegang kendalinya. Tiga tahun membuat tanganku mati rasa. Tapi setidaknya aku bisa melakukan satu-dua serangan.

Aku sudah siap rubuh di atas kasur, namun Mei Lin mengejutkanku. Ku pikir ia sudah tidur. Ia duduk di depan jendela, dan ketika ia melihatku, ia bergegas menghampiriku.

Aku hampir jatuh ketika ia menabrakku, memeluk kedua kakiku. Beruntung aku sempat berpegangan pada dinding kamar. Sesaat kemudian, isak tangis mulai terdengar.

“ Apa benar besok kau akan pergi?”

Aku tak menjawab. Awalnya aku tak ingin memberitahunya agar aku bisa menitipkannya pada Hoshi. Tapi berita itu menyebar lebih cepat dari yang ku perkirakan.

“ Jangan pergi,”

Pelukannya semakin erat. Kali ini aku berpegangan pada pintu. Semoga tak ada siapapun yang lewat.

“ Ku mohon, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku,”

Apa yang harus ku katakan? Seribu kalimat rasanya tak akan bisa menenangkan anak ini. Ia memeluk kakiku sangat erat, mengunci gerakanku sepenuhnya.

“ Jangan pergi. Jangan pergi,”

Ia terus mengucapkannya berulang kali. Isak tangisnya sungguh memilukan.

“ Ku mohon,”

Ku pejamkan mataku, ku biarkan isak tangisnya memenuhi kepalaku. Mungkin, ini terakhir kalinya aku bisa mendengarnya. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa melihat sosok mungilnya.

Mungkin.

Dan mungkin.

* * *

“ Yun Hee,”

Seseorang mengguncang-guncangkan bahuku. Sudah berapa lama aku tertidur? Aku hanya ingat Mei Lin memeluk kakiku dengan sangat erat hingga aku nyaris terjatuh.

“ Bangun. Jangan tidur disini,”

Hm?

Ku buka mataku, seseorang muncul tepat di depan wajahku. Sontak aku terbangun dan mendadak punggungku sakit.

“ Kenapa kau tidur dengan posisi begitu?”

Posisi begitu?

Aku mendapati setengah tubuhku berada di luar kamar dengan pintu terbuka, sementara setengah lainnya berada di dalam dan Mei Lin tertidur tepat di atas kakiku. Kedua tangan mungilnya masih memeluk kakiku namun tak seerat tadi.

Siwon mengamati bagian dalam kamar, raut wajahnya tampak lega ketika melihat Mei Lin.

“ Ya ampun, kalian ini,”

Ini—ini memalukan!!! Ia melihatku tertidur dengan posisi memalukan seperti ini. Bagaimana jika ada orang lain yang juga melihat??

“Anak ini ternyata merepotkan, ya,” ujarnya dengan nada bercanda. Ku tatap matanya sementara tanganku mengusap tato Gemini ku.

Dasar ibu dan anak

Aku ikut tertawa mendengar isi pikirannya. Setelah itu, suasana kembali hening. Kecanggungan memenuhi kamar ini.

Siwon berdeham keras.

“ Jadi,” Ia tak menatap kearahku, “ Besok, ya,”

Aku mengangguk, “ Ya,”

Ia pun mengangguk, tangannya bertautan satu sama lain. Ia menghela napas berkali-kali. Dan terdengar sangat berat, seperti Jenderal Shin.

“ Aku tak akan mencoba menahanmu, Yun Hee,” katanya sambil meremas jemarinya. Mata kami bertemu. Aku berusaha keras menahan detakan jantungku yang mendadak kencang.

“ Tapi aku ingin kau berjanji satu hal,”

Ia menghampiriku, berjongkok di hadapanku. Ku gigit bibir bawahku, berharap ia tak mendengar suara detak jantungku yang semakin keras.

Mei Lin membutuhkanmu, Yun Hee

Aku terkejut mendengarnya. Seolah ia sengaja memikirkan itu. Dan aku tahu aku benar.

Jenderal Shin membutuhkanmu

Siwon berdiri, melewatiku tanpa berbicara sedikit pun. Tidak, ia tidak perlu berbicara. Aku bisa mendengar suaranya dengan jelas.

Bisakah kau berjanji? Tetaplah hidup, Yun Hee.

Siwon….

Demi ayahmu, putri sahabatmu dan—

Siwon berhenti berbicara dalam kepalaku. Aku menoleh kearahnya dan disaat bersamaan, ia juga menoleh kearahku.

Dan demi diriku

 

T.B.C

7 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Sep 06, 2014 @ 21:52:44

    Siwon jth cinta ama yun hee? Semoga aja yunhee ngga jadi pergi dan bisa jadian ama siwon…..

    Reply

  2. Shoffie monicca
    Sep 07, 2014 @ 20:04:38

    Ksian siwon mau ditngglin sm yun hee

    Reply

  3. MiKyu
    Sep 10, 2014 @ 17:42:10

    Ah, KyuHaeWon
    penasaran..
    Next thor, mind
    ff nya keren

    Reply

  4. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Betrayal | Superjunior Fanfiction 2010
  5. Trackback: Snakes On The Plane {21/25} | Superjunior Fanfiction 2010
  6. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Father’s Feeling | Superjunior Fanfiction 2010
  7. Trackback: Snakes On The Plane {22/25} | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: