{Snakes On The Plane’s Side Story} Betrayal

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Don’t Go {Side Story: Saki’s POV}

19

Unexpected {Side Story: Sakura’s POV}

20

Seiryuu

Dimana? Dimana? Dimana????!!!!

Aku yakin aku menaruhnya disini. Kenapa sekarang hilang?

Tenang, Ryuu, tenang. Tadi aku menaruhnya disini. Dibalik buku catatan penelitian. Dan aku yakin tak ada seorang pun yang masuk.

Sialan. Itu satu-satunya bukti penting untuk memojokkan kakek Hayate. Kalau benda itu hilang—

“ Ryuu,”

Saki melongok kedalam ruangan.

“ Kenapa kau lama sekali?” tanyanya heran. Awalnya aku ingin mengatakan aku mencari kertas silsilah keluarga Hiragawa, tapi itu sama saja merusak rencanaku. Ku putuskan untuk berbohong.

“ Tidak, aku lupa dimana aku menaruh jaketku tadi,”

Aku harus segera menemukan kertas itu.

Tapi bagaimana jika itu berada di tangan yang salah?

* * *


Sial. Bagaimana bisa kertas itu hilang? Siapa yang memasuki ruang pribadiku?

Semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing, jadi mustahil ada yang sempat mencurigai tindakanku kemarin. Lebih tepatnya lagi, mustahil ada yang melihat. Kecuali—

“ Ryuu!”

Eh?

“ Huwaa!!!”

Aku nyaris terkena sabetan senjata Eve. Imajinasi kakek benar-benar buruk. Aku belum pernah melihat Eve menggunakan kapak. Ini seperti melawan Saki.

“ Ryuu, konsentrasi!”

Aku mengangkat tangan kiriku sebagai isyarat maaf. Gawat, perhatianku teralihkan.

Entah berapa lama simulasi ini telah berjalan, namun perkembangannya tak terlalu bagus. Sayuri masih belum terbiasa mengendalikan Roboguard. Tangannya sudah tak terlatih. Sementara Saki kesulitan menyerang bagian atas robot sialan itu.

Aku tak tahu siapa yang pertama kali melakukannya, tapi menyerang kepala atau leher robot Eve dapat menghentikan gerakan robot tersebut sehingga kami bisa menghancurkannya.

Apa yang ada didalam sana? Benarkah tak ada pilot yang mengendalikannya?

“ Ryuu!!”

BUK!

* * *

Hiragawa Seiryuu tak akan membuat kesalahan.

Setidaknya itu yang dikatakan kakek di hadapan seluruh Dewan Pimpinan Zodiac ketika aku direkrut sebagai tim peneliti disana. Sebagai anggota termuda, tentu mereka tak percaya dengan kemampuanku. Dan mereka benar.

“ Apa yang ada dalam kepalamu hari ini?”

Saki menyodorkan soda, raut wajahnya tampak khawatir. Aku mengambil kaleng soda itu tanpa membalas ucapannya.

“ Kemarin Sakura, hari ini kau. Ada apa sih?”

Kepribadian kami seperti tertukar. Saki menjadi diriku, Sakura menjadi Saki dan aku menjadi Sakura.

“ Tak ada apa-apa,”

Bohong. Kepalaku sakit memikirkan keberadaan kertas itu. Sial, sial, sial! Seharusnya aku tak menyimpannya di buku itu. Aku merutuki diriku sendiri sebelum akhirnya Saki memanggilku lagi.

“ Aku dan Kyuhyun berencana melakukan simulasi fisik sekali lagi. Kau mau ikut?”

Aku menggeleng dan melambaikan tangan kananku sebagai isyarat penolakan. Aku mendengar gumaman Saki ketika ia melangkah pergi. Ia paling kesal dengan orang yang menggunakan bahasa tubuh sebagai respon. Ia pernah bilang, “ Kalau kau bukan orang bisu, gunakan mulutmu!”

Sayangnya, hanya aku dan Sakura yang pernah melihat Saki semarah itu. Aku ingin tahu bagaimana cara Kyuhyun mengendalikan Saki yang tengah emosi. Pasti menyenangkan.

Aku bergegas kembali ke kamar. Bisa saja kertas itu ada disana. Mungkin aku lupa meletakkannya di atas meja.

Sesampainya di kamar, kekecewaan kembali menderaku. Aku sudah mencarinya di laci meja, lemari, bagian bawah ranjang namun tetap saja tak ada.

Sialan. Kenapa bisa begini?

“ Sial!!”

BRAK!

 * * *

“ Tidak. Bukan hal yang penting,”

Bohong. Lagi-lagi aku berbohong. Beruntung Sayuri hanya menghela napas lega dan bergegas kembali ke dalam kamar.

Ku lirik pintu kamarku yang sedikit retak karena pukulanku. Aku hanya dua kali melakukannya dan sekarang sudah retak. Bangunan ini sungguh rapuh.

“ Maaf,”

Konyol, kenapa aku berbicara dengan pintu?

Aku bergegas memasuki kamar, meskipun aku tahu aku tak akan menemukan apapun di dalam. Ku coba ingat kembali kapan terakhir kali aku melihat kertas itu.

Sebelum bertemu Jenderal Shin, aku menaruhnya di balik buku catatan. Lalu, buku itu ku taruh di atas meja. Itu berarti sudah berlalu sekitar dua-tiga hari. Setelah itu, aku tak memeriksanya lagi.

Gawat.

Apa yang harus ku lakukan?

Jika isi buku dan kertas itu saling berhubungan, akan menjadi bukti kuat dalam kasus ini. Hanya saja, sudah lima yang tewas. Menurut silsilah yang ada dalam kertas itu, ada satu orang yang menjadi kunci. Sayangnya, ia juga tewas.

Tunggu dulu.

Kalau tak salah, ia memiliki keturunan.

Apa ia sempat mewariskannya?

Tapi aku juga tak tahu wujud kunci yang dimaksud.

Sial! Andai benda itu ada…

“ Kau belum tidur?”

Aku terlonjak mendengar suara Hankyung dari balik pintu. Wow, aku bahkan sampai lupa mengunci pintu.

“ Belum. A-aku masih sibuk,”

Ku alihkan pandanganku darinya. Akhir-akhir ini aku tak berani memandangnya. Seolah saat aku memandangnya, jantungku akan meledak.

“ Oh, apakah—“

Hankyung merogoh saku jaketnya.

“ Apakah ini milikmu?”

Hankyung memegang selembar kertas yang terlipat rapi. Aku menyambarnya, namun ia lebih cepat dariku.

Kertas itu!

Bagaimana bisa—

“ Kenapa kau menyembunyikan ini?”

Aku melompat, berusaha menggapai kertas itu. Namun aku sadar ia lebih tinggi dariku. Ia sengaja mengangkat tangannya agar aku tak bisa mengambilnya.

Ia berjalan mundur, keluar dari kamarku. Tangannya meremas kertas itu.

Jangan, jangan itu. Kumohon!!

“ Jawab aku, Ryuu,”

“ Itu bukan urusanmu!!”

Hankyung meninju dinding di belakangku, “ Bukan urusanku?! Apa kau ingin bertindak sendirian?! Kau melupakan apa yang sudah kita sepakati?!!!”

“ Ini urusan keluargaku, bukan kau!”

“ Jangan bodoh! Kau dan aku sudah berjanji tidak akan saling menutupi sama lain. Kenapa kau justru melakukan ini padaku?!”

“ Kau tidak akan mengerti! Kau bukan pemilik kekuatan Zodiac, jadi jangan ikut campur!”

Kami berhenti berteriak. Ia menarik napas, tatapannya terasa menusuk.

“ Begitu ya,” Hankyung mundur selangkah dariku, “ Jika itu yang kau pikirkan,” Ia mundur lagi,

“ Lebih baik kita akhiri saja semua ini,”

* * *

“ Kecuali dia Alchemist,”

Ia sengaja. Ia sengaja mengucapkannya sambil menatapku. Ia tahu kekuatanku yang sebenarnya.

Aku memalingkan wajah. Aku tak ingin melihatnya, terutama setelah peristiwa kemarin.

“ Jika benar…aku rasa aku harus menyerahkan urusan itu pada Seiryuu,”

Ucapan Jenderal Shin terasa jauh, namun aku bisa merasakan getir didalam kata-katanya. Aku belum pernah diturunkan ke dalam misi berbahaya. Anehnya, aku tak merasakan takut.

“ Baiklah. Seiryuu, kau yang menyusup ke dalam markas terlebih dahulu. Jika situasi sudah aman terkendali, Yun Hee, Saki dan Sakura menyusul dan lakukan serangan. Sementara yang lain, kalian akan berangkat setelah ada perintah dariku,”

Hankyung pucat pasi.

Aku menyunggingkan senyuman ke arahnya.

Kau telah menyiapkan peti mati untukku.

Kau juga telah menyiapkan ratusan bunga untuk mengiringiku.

Kau sungguh orang yang baik.

Terimakasih, Hankyung.

* * *

Hankyung menahanku di depan kokpit. Genggamannya terasa menyakitkan, namun tak sebanding dengan apa yang ia lakukan padaku.

“ Ku mohon….”

Aku tak bergeming. Ini keputusanmu. Kaca yang sudah retak tak akan bisa disatukan lagi.

“ Aku tidak bermaksud mengatakan itu, Ryuu. Aku—“

“ Hentikan,”

Ku balikkan badanku. Bola matanya telah dipenuhi air mata dan siap mengalir. Melihatnya seperti itu membuatku sesak.

“ Kau sendiri yang bilang lebih baik kita akhiri saja semua ini. Jadi, jangan menahanku,”

Ku lepaskan genggamannya, dan bersamaan dengan itu, air matanya mulai menetes satu persatu.

“ Selamat tinggal,”

6 Comments (+add yours?)

  1. Shoffie monicca
    Sep 25, 2014 @ 06:42:19

    Lnujt thor bgus crtanya…

    Reply

  2. MiKyu
    Sep 25, 2014 @ 14:31:44

    Huaa, kependekan.. Next thor!! 😀

    Reply

  3. XiaoLi
    Oct 14, 2014 @ 12:38:55

    hai authooorrrrr!! aku reader barruu,, aku udah baca Dari part1. Dan ceritanya daebakk(y) lanjutnya cepet ya thor😁

    Reply

  4. Trackback: Snakes On The Plane {21/25} | Superjunior Fanfiction 2010
  5. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Father’s Feeling | Superjunior Fanfiction 2010
  6. Trackback: Snakes On The Plane {22/25} | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: