[Leave This Town Project] Every Time You Turn Around

Name    : Ceemout

Tittle : [Leave This Town Project] Every Time You Turn Around

Tag (tokoh) : Kangin (Kim Young Woon) | Amy (Kim Yoon)

Genre : Romance.

Length : oneshot

***

I’ve been me, I been followin’ my dreams

Tryin’ to find the scene where you believed me

I been true, I been waiting here for you

I been patient, understanding and believing

 

(Every time you turn around)

 

I know you’re standing there

Waiting for me to take it on back down the other road, baby

But I won’t let ya down

 

I know you’re standing there

Waiting for me to take it on back down the other road, baby

But I won’t let ya down every time you turn around

 

I’ve been good, I been doin’ what I should

Workin’ hard to make a world that we can live in

I been strong, I been holding out so long

And I don’t want you to forget that you’re forgiven

All the reasons you believe what you believe

Never seeing that the truth is a part of me

When all I wanna do is show you what it really means to love

What it really means to love

                                                (Every Time You Turn Around_Daughtry)

 

Dua cangkir kopi di meja yangterletak di ujung ruangan café itu tak nampak mengeluarkan kabut putih lagi. Tak ayal, karena kedua pemiliknya hanya terdiam membisu untuk sekian waktu lamanya. Masing-masing sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Pria itu –kangin, masih saja merasakan kelu di lidahnya. Meski nyatanya, sesaat yang lalu beribu-ribu pertanyaan ingin ia lontarkan pada gadis itu. Gadis yang siang tadi –saat ia sedang menikmati tidur siangnya yang langka, tiba-tiba muncul di depan pintu dormnya. Dengan sebuah senyuman ramah seperti yang ia ingat di tiap-tiap bunga tidurnya kala kantuk membawa terbang angannya ke mimpi-mimpi indah bersama gadis itu. Gadis yang sudah setahun lebih tidak pernah ia temui.

Bukan. Bukannya kangin mengabaikannya. Tidak. Ia bahkan ingin sekali berjumpa dengan senyum mempesona itu setiap hari. Bahkan setiap detik hidupnya. Ia hanya, hanya tidak bisa.

“ Apakah kembalinya kau korea adalah pertanda bahwa kau sudah menyerah?” bisu itu berganti dengan keheningan yang canggung. Gadis itu –Amy masih saja tepekur memandang kearah cangkir kopinya. Melihatnya dengan begitu tekun seakan itu sebuah fosil yang ia temukan setelah tiga bulan ia mengais-ngais pasir di tengah gurun sahara. Mengabaikan pertanyaan yang terlontar dari bibir tipis pria dihadapannya.

Sedangkan kangin, tidak berusaha mendesak gadis itu untuk menjawab pertanyaannya. Meski  sebenarnya benaknya sudah tak sabar mengetahui perihal kedatangan gadis itu. Tapi kangin harus selalu sabar menghadapi gadis dihadapannya. Seperti yang ia lakukan sekarang. Memandangi wajah mempesona dihadapannya lamat-lamat. Mengamati sejengkal demi sejengkal wajah tirus itu. Seinchi demi seinchi emosi yang tertera disana. Berusaha mencari jawabnya sendiri disana.

Namun yang ia temukan ia malah semakin terperosok ke dalam lubang kekaguman yang semakin dalam. Perasaan ingin merengkuh dan menawan wanita cantik itu disisinya selamanya.

“ Aku hanya datang ke seoul untuk memperpanjang visaku. Ahra yang biasa ku mintai tolong sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Jadi tidak ada pilihan lain selain kuurus sendiri. “ Amy menemukan keberaniannya untuk menatap wajah yang diam-diam sangat ia rindukan .

“ Dan soal kedatanganku ke dorm mu, aku hanya tidak punya teman untuk menghabiskan waktu sore ini. Makanya aku kesana. Apa kau ada schedule setelah ini?” dihadapkannya tatapan polos pada pria itu. Berusaha menutupi rasa kecewa yang menelusup perlahan di kepalanya.

“ Apa kau ada kencan dengan wanita lain setelah ini?”

Kangin benar-benar muak dengan sifat wanitanya yang seperti ini. Tanpa sadar bibirnya berdecak kesal lalu menghela nafas keras-keras sebagai tanda keengganannya.

“ Kau tahu itu tidak mungkin terjadi Amy. “ Sorot mata pria itu tajam. Penuh akan keseriusan yang memancar tanpa sedikit pun keraguan di dalamnya.

“ Mungkin saja. Bukankah kita sudah satu tahun tidak bertemu? Kau mungkin saja sudah memiliki pendamping serupa Cinderella disini. Who knows.” Acuh amy sambil mengangkat bahu. Meski nyatanya ia ingin menangis keras-keras dan memaki pria ini jika apa yang ada di khayalannya benar-benar terjadi.

“ Kau yang membuat kita tak bisa bertemu. Kau selalu melarangku untuk menemuimu.”

“ Jadi sekarang aku yang salah? Kalau kau selingkuh dengan wanita lain aku yang salah? Baik kalau itu maumu. Aku memang bersalah.” Nadanya tiba-tiba meninggi terdorong oleh emosi yang entah sejak kapan mendidih seperti air yang dipanaskan diatas tungku yang apinya berkobar-kobar.

“ Lalu siapa yang tidak pernah menghubungiku selama lima bulan ini?! Siapa yang tak pernah memberi kabar selama itu hah?! Aku mengirimu email hampir setiap jam! Bahkan aku sudah mencoba menelepon nomormu jutaan kali tapi tak ada yang tersambung! Selama ini kau berada dimana hah?! Kau tak tahu betapa khawatirnya aku tentangmu Kim Yoon!” dipukulnya meja itu kuat-kuat untuk sekedar menyalurkan emosinya. Tanpa dipikirkannya bahwa seantero café mendadak menghentikan kegiatan mereka. Memandang dengan pandangan bermacam-macam kearah penghuni meja sumber keributan.

Selanjutnya sunyi senyap. Keduanya hanya sanggup saling pandang untuk beberapa saat. Mata keduanya berkaca-kaca. Siap meluncurkan air mata dari letupan emosi masing-masing.

“ Kau tahu aku baik-baik saja. Aku tidak mengirim pesan, itu tandanya aku baik-baik saja. Kau tahu itu kangin ah.” Suaranya bergetar. Getaran halus senada dengan terkoyaknya hati kecilnya karena keegoisannya sendiri menggetarkan pita suaranya.

Amy sadar, segurat kekhawatiran berbalut rasa cinta yang begitu mendalam di mata itu membuat hatinya teriris. Ia tahu pria itu pasti mengkhawatirkannya setengah mati. Tapi ia sudah memperingatkan pria itu sejak awal. Bahwa hubungan ini tidak akan berhasil. Ia yang menyukai kebebasan. Ia yang mencintai perjalanan tanpa kawan di negeri orang.

Tapi nyatanya mereka bisa bertahan sampai saat ini. Empat tahun. Sejak pertama kali takdir mempertemukan benang merah dikelingking mereka berdua di Milan. Yang mengikatkan mereka satu sama lain dalam ikatan bernama cinta.

Setetes cairan bening turun di pipi pria berbadan kokoh itu. Ia benar-benar tidak sanggup menahan gejolak emosi yang melanda hatinya sekarang. Ditatapnya lekat-lekat wanita tercintanya itu dengan tatapan yang sama saat mereka harus berpisah di bandara Los Angeles setahun lalu. Terakhir kali mereka berjumpa sebelum akhirnya jarak kembali memisahkan mereka begitu saja. Membuat keduanya terkungkung dalam ruang rindu yang menyesakkan. Hanya lewat foto kerinduan itu tertawarkan. Meski hanya sejengkal.

“ Aku merindukanmu young woon a.” masih dengan tetesan-tetesan yang enggan untuk berhenti bibir gadis itu berucap. Wanita itu benar-benar mengutuk bibirnya. Seharusnya kalimat itu yang pertama kali terlontar saat ia mendapati sebingkai wajah yang begitu ia rindukan hadir secara nyata dihadapannya. Bukannya menampakkan senyum bodoh seperti yang ia lakukan tadi di depan pintunya.

“ Kau tahu aku lebih dari merindukanmu Yoon.” Tatapan penuh luka bekas rindu yang menyiksanya setahun belakangan begitu terlihat di wajah kangin. Lagi-lagi amy merasa begitu bodoh dengan sikap keterlaluannya selama ini.

“ Jangan pergi lagi. ” Hal ini yang dimaksud kangin sejak tadi. Sejak dulu. Sejak mereka selalu terpisah oleh jarak beribu-ribu mil jauhnya.

“ Aku tidak kemana-kemana. Aku selalu ada disini.” Ditunjuknya pada dada kiri pria kesayangannya itu.

“ Kau tau apa yang kumaksud Yoon.”

“ Kau lebih paham apa yang kumaksud kangin ah. Belum sekarang. Lagipula masih banyak yang harus kau gapai sebelum segalanya benar-benar berakhir. Kau sendiri yang mengatakannya.” Senyum simpul terukir di bibir ranum milik Amy. Gadis itu tiba-tiba terkenang saat mereka saling bercerita tentang mimpi masing-masing. Malam yang indah di kaki menara Eiffel.

“ Aku bisa menggapainya meski kita bersama.” Kangin tetap kukuh akan keinginannya. Keinginannya mengikat wanita itu disisinya.

“ Tapi aku tidak bisa. Kau tahu sendiri. Bukankah kita sudah sepakat untuk menunggu hingga saat kita benar-benar siap? ”

“ Dan aku benar-benar siap bahkan sejak pertama kali bertemu denganmu di Milan. ”

“ Maafkan aku.” Kepala gadis itu seketika menunduk. Tidak sanggup menatap wajah tersayangnya atau ia benar-benar akan luluh detik ini juga.

Seharusnya pria itu tahu ia juga sangat menginginkan hal itu. Tetapi janjinya pada dirinya sendiri tidak bisa ia ingkari begitu saja. Ia bukan pengecut yang akan berjalan memutar di tengah jalan. Ia harus menyusuri jalan itu hingga ujungnya benar-benar berada dibawah kakinya.

“ Berapa lama? Berapa lama lagi waktu yang kau butuhkan Yoon? ” tanyanya lirih. Kepalanya terkulai ke bawah. Seakan kata maaf yang beberapa saat lalu terucap oleh wanita itu tak ubahnya sebuah senjata api yang menembus dadanya.

Kangin tidak menyalahkan gadis itu. Tidak. Meskipun iya, ia tidak akan pernah benar-benar menyerah akannya. Ia terlalu bergantung pada wanitanya. Hatinya telah tertaut erat seperti mata kail. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain pasrah. Bersabar dan menanti dengan tenang akhir bahagia seperti yang ada dalam angan.

“ Tidak lama lagi. Kita hanya harus menunggu beberapa saat lagi.” Diusapnya jemari prianya dengan lembut.

“ Aku…takut kau meninggalkanku.”

“ Seharusnya aku yang bilang begitu. Begitu banyak gadis di sekitarmu yang lebih dariku dan mungkin saja hatimu beralih. Kita takkan pernah tahu.” Pahit jika Amy membayangkan hal itu benar terjadi. Entah apa yang akan terjadi padanya jika itu menjadi nyata.

“ Namun jika itu yang akhirnya terjadi, aku usahakan aku akan melepasmu dengan lapang Young woon ah.” Sebuah senyuman ia paksakan untuk menyembunyikan bayang-bayang mengerikan yang membuatnya menggigil.

“ Tapi aku tidak yakin aku bisa melepasmu begitu mudah. Perasaanku tidak sedangkal pemikiranmu itu Yoon. “ Ditenggelamkannya fokusnya dalam dua samudera milik gadis bertubuh semampai itu.

“ Bagaimana jika takdir berkata lain? “

“ Itu takkan pernah terjadi. Kau akan selalu mendapatiku berdiri di titik awalku. Menunggumu. Sampai waktu yang kau inginkan, Kim Yoon. Selalu.”

 

End-

2 Comments (+add yours?)

  1. nuy
    Oct 04, 2014 @ 21:16:00

    nice.. tapi aku sedikit bongung dengan kenapa mereka berpisah jauh
    keep writing

    Reply

  2. Mikki
    Nov 18, 2014 @ 07:33:29

    Acciieee.. kangin oppa romantis bangetttt…
    Sippp.. jempol deh buat author..
    Ceritanya bagus thor..
    Keep writing ye.. 😀 😉

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: