Story About Origami, Love and Us

Nama : Betty Dwinastiti
Judul Cerita : Story About Origami, Love and Us
Tag (tokoh/cast) :
Park Jung Soo (SJ), Kim Na Yoon (OC)

Genre : Sad Romance, Angst, AU,


Rating :  PG -15
Length : OneshotCatatan Author (bila perlu): FF ini sudah pernah dipublish di wp pribadi author di
www.shinrhaehoonstalkerchokyuhyun.wordpress.com,

happy reading!!!

 

 

“Biarkan rindu tetap menjadi alasan aku memikirkanmu. Biarlah hati ini selalu menghangat saat mengingatmu, meski akhirnya kehangatan itu hanya akan menyisakan jejak basah di pelupuk mata ini. Kubiarkan rasa ini bertabrakan dengan nyata dunia yang menertawakanku karena terlalu merindu, untukmu … aku rela.”

***

Na-Yoon tidak tahu harus bersikap seperti apa. Tangannya kebas, bahkan untuk sekedar meraih gelas latte-nya. Gadis berambut panjang itu tersenyum kaku. Ia tidak tahu bahwa bertemu dengan adik sepupu Jung Soo saja sudah membuatnya berkeringat dingin, lalu bagaimana jika takdir  mengharuskannya berada di tempat yang sama dengan pria itu? m

Masihkah ia bisa bernapas dengan benar jika hal itu terjadi?

Eonni,” Rhae- Hoon tersenyum hangat, setengah jam lalu gadis itu secara tidak sengaja menemukan Na Yoon tengah duduk sendirian di kafe ini. Ia memberanikan diri menemui Na-Yoon, sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Rhae-Hoon tidak ingat berapa lama, yang jelas itu sudah bertahun-tahun.

“Ah, maaf Rhae. Aku hanya sedikit terkejut bertemu lagi denganmu,” Na-Yoon tersenyum hambar. Gadis itu menggerak-gerakkan matanya.

“Kau sudah tumbuh dewasa. Aku hampir tak mengenalimu,” tambahnya.

Rhae-Hoon tertawa, “Saat itu aku masih sekolah menengah. Heum, usiaku sekarang sudah dua puluh satu tahun.”

“Ya, sudah sangat lama.”

Na-Yoon menunduk, berarti sudah tujuh tahun sejak ia kehilangan cinta pertamanya – Park Jung-Soo.

“Apa yang Eonni lakukan saat ini? Maksudku, profesi Eonni sekarang?” tanya Rhae-Hoon berapi-api. Sesungguhnya gadis itu begitu merindukan Na-Yoon, ingin memeluknya. Namun sikap dingin gadis yang usianya lebih tua itu begitu dingin seperti salju di kutub selatan, entahlah.

Na Yoon menyesap latte-nya sebentar, “Aku menjadi guru sejarah di Sekolah Global, dekat balai kota.”

Mata Rhae-Hoon membola, “Benarkah?”

“Ya, sudah tiga bulan sejak aku kembali ke sini. Pihak yayasan yang menaungi sekolah itu – yang berada di Busan memindahkan aku kemari, karena Sekolah Global baru dibuka maka memerlukan staf pengajar yang lumayan banyak,” jelas gadis itu. Rhae-Hoon mengangguk mengerti.

Hening, terdengar suara riuh beberapa remaja yang baru saja memasuki kafe. Na-Yoon jadi mengingat dirinya, dulu ia sering menghabiskan waktu di sini bersama Jung- Soo. Tertawa dan saling mengejek di sebuah bangku yang kini diduduki para remaja itu, mata bulat gadis itu memanas seketika. Ia merindu, sungguh. Ia masih ingat wajah tampan tak tahu diri yang selalu memenuhi dinding hatinya, setiap hari – setiap waktu – sampai terkadang gadis itu merasakan kepalanya hampir pecah karena menahan rindu pada seseorang yang sama sekali tak pernah muncul lagi di hadapannya

“Ah, Kyu-Hyun. Apa? Kau di dekat halte? Mobilmu mogok? Baiklah aku tahu, aku akan berjalan ke tempatmu, jangan kemana-mana. Heum?”

Lamunan Na-Yoon menguap di udara. Ia memerhatikan Rhae-Hoon yang baru saja selesai berbincang dengan seseorang di telepon, gadis itu memasukkan ponselnya di dalam tas kemudian. Lalu ia tersenyum, “Pacarku, mobilnya mogok. Kasihan sekali dia, maaf aku harus pergi Eonni. Nanti aku akan meneleponmu.”

Gadis berkemeja putih itu beranjak dan memegang pundak Na-Yoon sebentar.

“Ah, kau bahkan sudah punya pacar. Eonni jadi iri,” gurau Na Yoon.

“Hahahaha… Eonni harus tahu bahwa Kyu-Hyun itu pria paling aneh sedunia. Heum, lain kali kita bertemu lagi dan aku akan mengenalkannya padamu. Ah, sebenarnya aku masih ingin ngobrol banyak,” sesal Rhae Hoon.

“Ya sudah. Cepat sana temui pacarmu sebelum dia frustasi dan maki bertambah aneh.”

Rhae-Hoon mengangguk, lalu berjalan menjauh sambil sesekali menoleh padanya. Na Yoon menghela napas saat gadis itu sudah menghilang di balik pintu. Ia masih bisa melihat gadis itu berjalan menyeberangi jalanan ramai, menyusuri pertokoan yang padat di kawasan Myeongdong. Na-Yoon memang sengaja kemari untuk membeli beberapa baju dan entah takdir apa yang membuatnya bertemu Rhae-Hoon.

Ia tidak tahu, bagaimana bentuk hatinya jika suatu saat akan bertemu dengan Rhae-Hoon lagi dan mungkin saja ia akan menemkan sosok Jung-Soo di dekat gadis itu.

Na-Yoon menggigil, bersamaan tangannya yang menggigil mendekap gelas latte-nya.

***

 

“Ya Tuhan, sepertinya gosip bahwa CEO kita adalah malaikat tanpa sayap adalah hal yang benar,” gumam seorang pria berusia tiga puluh lima tahun. Di sampingnya, seorang pria berambut keriting tengah bercermin, ia mengangguk kemudian. Keduanya adalah karyawan di Golden Mall, pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Bagaimana mereka tidak memuji Sang CEO jika gaji keduanya – dan semua pekerja di tempat itu – dinaikkan 50%?

“Aku tidak sabar cepat pulang dan memberitahu istriku,” ucap si rambut keriting lalu tertawa. Keduanya tidak tahu, jika di salah satu bilik toilet seseorag tersenyum penuh arti. Ia menunggu sampai keadaan sunyi baru keluar dari tempat kecil itu.

Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, ia adalah Park Jung-Soo. Sang CEO yang baru saja dibicarakan karyawannya, pria berusia tiga puluh tahun yang memiliki tatapan lembut dan wajah yang tampan. Sangat rupawan, melengkapi julukannya sebagai malaikat tanpa sayap karena begitu banyak kebaikan yang telah ia lakukan selama dua tahun belakangan.

***

Kyu-Hyun memerhatikan kekasihnya yang sedang makan es krim cokelat favoritnya. Pria itu tertawa setelahnya, bagaimana bisa ia bisa jatuh cinta berulang kali pada gadis yang bahkan melupakan keberadaannya saat tengah asyik dengan makanan dingin itu?

“Oh, Hyun-ie. Kenapa tertawa sampai matamu menyipit?”

“Tidak. Aku sedang teringat kucing temanku yang makan dengan lahap sampai tak ingat bahwa pemiliknya hampir mati bosan karena diacuhkan,” ucapnya cepat.

“Oh,” Rhae-Hoon kembali sibuk dengan satu cup es krim cokelatnya, sampai beberapa detik kemudian ia mengerjap. Sepertinya ia menyadari sesuatu, “Ya! Kau sedang menyindirku?”

Gadis itu memajukan bibir dan bersedekap di depan dada, membuat Kyu-Hyun kembali tertawa lepas.

“Tidak, sama sekali tidak. Ah, bukankah tadi kau bilang baru bertemu dengan mantan kekasih Jung-Soo Hyung? Bagaimana, kapan kau akan mempertemukan mereka lagi?”

Rhae-Hoon mengerjap, Kyu-Hyun benar. Kenapa gara-agar es krim ia jadi lupa pada obrolan mereka sejam yang lalu?

“Secepatnya, kau lihat saja bagaimana aku akan menyatukan mereka kembali,” Rhae-Hoon tersenyum manis, lalu menatap jendela.

Kyu-Hyun tertawa, “Sejak kapan kekasihku yang manis ini beralih profesi menjadi mak comblang?”

Dan Rhae-Hoonpun hanya menjulurkan lidahnya.

***

 

“Tidak melihatmu dalam nyataku, tidak menemukanmu pada ruang hidupku. Nyatanya membuatku kehilangan pegangan hidup, aku memang bodoh karena tak bisa menahanmu untuk selamanya di sisiku. Berharap kau kembali, masih bolehkah aku melakukannya dengan retakan hatiku yang menyedihkan ini?”

 

Yang diingat Jung-Soo terakhir kali adalah dirinya yang terperangkap di dalam mobil dengan keadaan mengenaskan. Dua detik setelahnya, ia merasa tubuhnya ringan. Pandangan pria itu mengabur bersamaan tetesan darah yang turun dari keningnya. Semuanya menjadi gelap, dan ia menutup matanya sedetik kemudian setelah seberkas wajah ayu membuatnya tak rela hati jika buku kehidupannya harus ditutup hari ini.

Beberapa orang yang menyaksikan bagaimana mobil putih itu menabrak pembatas jalan hanya bisa berteriak heboh saat bagian  depan mobil itu tak berbentuk lagi. Mereka berlari dan menjumpai seorang pria yang tak sadarkan diri di balik kemudi.

“Ya Tuhan, ayo bantu pria ini keluar dari mobil,” ucap seorang pria tua yang panik. Bersamaan dengan beberapa orang yang menggotong tubuh Jung-Soo keluar, sebuah benda menjerit di saku celananya.

“Hei, angkatlah telepon orang ini,” perintah si pria tua pada pemuda di sampingnya.

“Ah, iya,” pria muda itu mengikuti perintah, mengambil ponsel Jung-Soo yang masih menjerit dan menekan tombol hijau, “ Ha.. hallo?”

Oppa? Benarkah ini Oppa? Kenapa suaramu berubah?” tanya sebuah suara wanita di ujung sana.

“Maaf, Nona. Oppa-mu mengalami kecelakaan. Cepatlah datang kemari.”

“Apa?”

“Cepatlah, dia tak sadarkan diri. Kita harus segera mebawanya ke rumah sakit!”

***

 

Na-Yoon lupa kapan terakhir kali minum soda. Dan malam ini, bersamaan kerlip bintang di angkasa gadis itu memberanikan diri meminum jenis minuman manis itu. Ia tersenyum sendirian saat tenggorokannya sudah basah. Rasanya masih sama, masih akan mengingatkannya dengan Park Jung-Soo.

“Kau tahu? Kalau minum soda aku akan merasa bahagia.”

                “Kenapa begitu?”

                “Karena pada saat kecil, aku tidak diperbolehkan minum soda. Ibuku bilang badanku akan gatal setelah meminumnya, aku tidak terlalu ingat dengan jelas bagaimana bisa aku mengalami alergi seperti itu. Lalu saat usiaku tujuh belas, aku memberanikan diri minum soda lagi. Hahaha, ajaibnya aku sudah tidak gatal-gatal.”

Na-Yoon tertawa, kapan Jung-Soo menceritakan hal itu padanya? Ia tidak ingat, bahkan bentuk wajah pria itu saja sudah samar di benak Na-Yoon. Namun, ia masih ingat wangi musk pria itu, senyum malaikatnya, pelukan hangatnya …

Na-Yoon merindu, entah untuk berapa ribu kali di dalam hidupnya. Ia menginjak usia dua puluh sembilan tahun ini, namun entah mengapa ia selalu menolak tiap lelaki yang menyatakan cinta padanya. Ia juga tak mampu menjabarkan hal apa yang membuatnya seperti itu. Hanya saja, satu hal yang ia tahu pasti ; ia tak bisa menemukan sosok sebaik dan sehangat cinta pertamanya – Park Jung-Soo.

Gadis itu menatap langit, ia tengah duduk sendirian di depan rumah kecilnya. Menikmati angin musim gugur yang menerpa wajahnya ditemani sekaleng minuman bersoda. Sembilan puluh hari yang ia habiskan di kota ini, seolah membuatnya bernostalgia tatkala ia berkunjung ke setiap sudut kota yang menyisakan kenangannya bersama pria itu.

***

Ya! Park Jung-Soo! Bagaimana bisa kau mengakhiri hubungan kita? Apa tadi kau bilang? Karena orang tuamu?”

                “Maafkan aku, Na-Yoon. Aku tidak punya pilihan.”

                Gadis itu menangis, jejak air mata di pipinya begitu membuat ulu hati pria itu sakit.

                “Kau punya pilihan, Jung-Soo. Kau bisa memilih mempertahanku. Tapi kau tak memilihnya!”

                Gadis itu kembali terisak dan ia menolak saat Jung-Soo hendak memeluknya. Ia berlari menjauh tanpa berkata apa-apa lagi. Ia menyisakan kepedihan di hati Jung-Soo, sampai bayangannya tidak terlihat dan semakin samar, ia menghilang tanpa menyisakan senyuman untuk dikenang.

 

Alat pacu jantung itu membuat dada telanjang Jung-Soo  melonjak ke atas. Beberapa kali hingga tekanannya dinaikkan beberapa volt. Tim dokter sudah pasrah, sepertinya nyawa pria itu sudah tidak bisa tertolong. Semua orang yang berada di luar UGD pucat pasi menunggu tim dokter menyelamatkan Jung-Soo.

“Ya! Park Jung-Soo, aku akan selalu mencintaimu.”

                “Benarkah?”

                “Ya. Tentu saja, meski hal terburuk terjadi, misalnya kau akan meninggalkanku aku. Ingatlah bahwa aku akan selalu menyayangimu.”

                “Ugh, bodoh. Mana mungkin aku akan meninggalkanmu. Itu tidak akan terjadi meski dunia     akan runtuh, Kim Na-Yoon.”

***

 

Kyu -Hyun sibuk menenangkan Rhae-Hoon, sesekali ia menepuk bahu gadis itu yang lunglai di dadanya. Hal yang sama juga terjadi pada ibu Jung-Soo, wanita paruh baya itu bersandar di dada Park Jung-Ah, kakak perempuan Jung-Soo. Mereka menikmati perih yang meraja di jiwa. Terlebih Rhae-Hoon, ia yang pertama kali melihat kondisi Jung-Soo di tempat kejadian. Gadis itu menggigil saat mengingat bau darah di sekujur tubuh kakak sepupunya itu.

“Kyu-Hyun?” panggilnya, masih menggigil.

“Ya, Sayang?”

Oppa akan baik-baik saja bukan?”

Pemuda itu tersenyum, “Tentu. Kau bisa memercayaiku.”

Jung-Ah menoleh pada Kyu-Hyun dan hatinya serasa diremas, ia begitu takut adik lelakinya itu tidak dapat tertolong. Dua detik selanjutnya, pintu itu terbuka dan seorang dokter yang terlihat paling senior berjalan dengan langkah berat.

“Dokter, bagaimana? Anakku selamat bukan? Dia tidak apa-apa bukan?”ibu Jung-Soo menangis dan menatap dokter lelaki itu dengan air mata yang sudah membentuk sungai di pipi tirusnya.

“Maafkan kami, Nyonya,” desah dokter itu.

Rasanya sesak, tersengal dan gelap saat sang dokter menjelaskan bahwa jantung Jung-Soo sudah tidak berdetak lagi. Nyonya Park limbung ke belakang dan ia hampir terjatuh jika saja Kyu-Hyun tidak segera menangkapnya.

“Anakku, Jung-Soo. Ya Tuhan.”

Oppa!” Rhae- Hoon memeluk Jung-Ah dan ibu Jung-Soo. Apakah ini mimpi? Jika memang ini hanya bunga tidur, mereka ingin segera terbangun dan menemukan wajah berseri Jung-Soo seperti biasanya.

 

Park Jung-Soo sudah pergi, jantungnya berhenti berdetak…

                Dia sudah kembali pada Pemangku Kehidupan…

 

“Dokter Han, pasien kembali hidup! Jantungnya kembali berdetak!”

Seorang dokter yang masih nampak muda menghambur ke luar dan tersenyum senang. Oh, Tuhan … terima kasih sudah membangunkan mereka dari mimpi buruk itu.

***

 

Golden Mall masih seriuh dan seramai biasanya, tempat itu masih menawarkan begitu banyak keindahan di segala sudutnya. Hanya saja, ada yang berbeda selama dua puluh tujuh hari ini. Para pekerjanya tidak seceria biasanya, suasana di tempat itupun tak segembira semestinya. Bagaimana tidak, jika sang pemilik tengah koma di rumah sakit. Tanpa bisa membuka mata dan menatap dunia.

Semua orang berduka, dokter bilang hanya keajaiban yang bisa membuat pria itu masih bernapas hingga detik ini. Kecelakaan tunggal yang terjadi pada Jung-Soo sudah membuat kepalanya mengalami gegar otak, entah kapan pria itu akan terbangun. Tidak ada yang tahu, hanya saja dokter percaya bahwa pria itu mencoba bertahan hidup.

Rhae-Hoon menemani Jung-Ah berkeliling, kedua gadis itu menggantikan tugas Jung-Soo menyapa para karyawan. Pria itu terlalu baik, meski sibuk ia selalu menyempatkan diri bercengkrama dengan para pegawainya setiap hari. Dan sejak ia dirawat, entah sudah berapa banyak air mata yang terjatuh di kamarnya saat orang-orang hilir mudik menjenguknya.

Mereka kehilangan sosok malaikat tanpa sayap itu.

“Menurutmu, apa yang membuat Jung-Soo bertahan?” Jung-Ah menghentikan langkah dan menatap lantai bawah dengan tatapan meredup.

Rhae-Hoon mengerjap, “Entahlah. Eonni, aku tidak yakin… tapi apa kau merasa bahwa Oppa sedang menunggu seseorang?”

Jung-Ah menoleh dan mengernyit, “Maksudmu?” ia tidak mengerti apa yang sedang Rhae-Hoon katakan padanya.

“Jika seseorang yang sedang tidak sadarkan diri seperti itu, hanya harapanlah yang bisa membuatnya tetap mencoba hidup. Cinta, seseorang yang ia inginkan untuk di sisinya.”

Benarkah? Jung-Ah terdiam, namun dalam hening ia merasa apa yang dikatakan gadis itu benar. Bukankah Jung-Soo memiliki segalanya? Cinta dan kasih sayang semua orang untuknya.

“Menurutmu siapa yang Jung-Soo tunggu selama ini?” tanya Jung-Ah akhirnya.

Hela napas tercipta, Rhae-Hoon menunduk dalam. Ia masih ingat betul seribu origami yang ia temukan di kamar Jung-Soo. Burung kecil dari kertas itu adalah perwujudan rasa rindu Jung-Soo pada seseorang yang telah lenyap darinya, Kim Na-Yoon. Gadis itu juga sering menemukan kakak sepupunya memandangi wajah Na-Yoon yang ia sembunyikan di dalam dompet hitamnya.

Rhae-Hoon tahu, meski tidak semuanya. Ia memang tinggal di rumah keluarga Park sejak kedua orang tuanya meninggal. Ia yatim piatu, dan Jung-Soo adalah pria yang menjadi tumpuan hidup keluarga Park  sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu.

“Apa kau percaya jika aku bilang Oppa masih mencintai Na-Yoon Eonni?”

Mata Jung-Ah membulat sempurna, “Na-Yoon? Wanita itu? Bagaimana bisa?”

***

 

“Kau sedang apa?”

Na-Yoon mendekati muridnya yang sedang sibuk dengan seberkas kertas di telapak tangan. Gadis itu sedang berada di sekolah sekarang, ia penasaran pada seorang siswi yang sering ia temukan berdiam diri di bawah pohon dekat ruang guru.

“Oh, Seongsangnim,” ucap si gadis gugup.

Na-Yoon tersenyum lalu mengambil kertas merah muda di tangan Hae-In – muridnya. Ia tersenyum kemudian, “Kau sedang membuat origami?”

“Ya, Seongsangnim. Orang bilang origami adalah wujud harapan pada sesuatu. Aku merindukan kakakku yang sedang menjalani wajib militer. Setiap hari, aku membuat satu origami dan menggantungnya di teras rumah kami. Nanti, setelah dua tahun berlalu aku ingin Oppa melihat betapa adiknya ini selalu merindukannya. Menggantungkan harapan supaya ia selalu sehat dan diberi kelancaran dalam mengemban kewajiban negara,” ucap Hae-In lancar. Gadis berusia enam belas tahun itu tersenyum dan memandang wajah Na-Yoon yang memerah.

“Wah, kau baik sekali, Hae-In.” Napas Na-Yoon tercekat, genggaman tangannya di kertas merah muda milik Hae-In mengeras. Tiba-tiba mata gadis itu memanas.

Seongsangnim,  Anda tidak apa-apa? Wajah Anda memerah dan mata Anda berkaca-kaca, apa ada sesuatu yang salah?”

“Aku tidak apa-apa, Hae-In. Teruslah membuat origami sampai jumlahnya seribu, mengerti?”

***

 

“Kau sedang membuat apa?”

                “Origami.

                “Kenapa melakukan hal-hal tidak berguna seperti itu? Kau hanya membuang-buang kertas, Kim Na-Yoon.”

                “Aish, Jung-Soo. Tahu apa kau tentang origami? Tiap burung kertas ini adalah sebentuk harapanku tentang hubungan kita.”

                “Oh ya?”

                “Ya, orang Jepang percaya bahwa jika kau bisa membuat seribu origami maka keinginanmu akan terwujud.”

                “Oh, benarkah? Kalau begitu apa harapanmu?”

                “Saat origami ini mencapai seribu buah, aku akan membuat satu permohonan – supaya bisa bersamamu selamanya, Park Jung-Soo.”

 

Park Jung-Soo menangis. Sudut matanya meninggalkan jejak air mata meski pemiliknya masih terbujur tak berdaya di atas ranjang putih kusam itu.  Bukan hanya sekali, namun sudah belasan kali Rhae-Hoon melihatnya. Gadis itu semakin memantapkan hatinya untuk menemui Na-Yoon secepat mungkin. Meski Jung-Soo tak pernah menyebut nama Na-Yoon di depannya, meski Jung-Soo selalu tersenyum dan terlihat baik-baik saja di muka publik selama tujuh tahun terakhir. Rhae-Hoon tahu dengan benar keadaan hati kakaknya itu.

Pasti memar dan terluka begitu banyak di tiap sudutnya.

Oppa, jangan menangis. Aku pasti akan membawanya kemari. Percayalah.” Gadis itu berjalan menjauh, keluar dari ruang rawat Jung-Soo saat matanya semakin basah. Ia tidak membawa tisu, jadi Rhae-Hoon berniat keluar untuk membeli benda itu di kafetaria rumah sakit. Gadis itu menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah berat, kening gadis itu berlipat saat ia menemukan sosok wanita berjalan cepat seolah tidak mau kehadirannya diketahui oleh siapapun.

Rambutnya, gaya berbusananya, ah … terasa sangat familiar.

“Nona, tunggu!” pekik Rhae-Hoon namun tak diindahkan oleh orang yang ia kejar. Sampai beberapa menit hingga akhirnya ia berhasil menarik bahu gadis itu.

“Aku memang tidak salah, kau memang Na-Yoon Eonni.”

***

 

“Jadi Eonni sudah tahu bahwa Jung-Soo Oppa dirawat di sini sejak empat minggu lalu?”

Gadis itu menunduk dalam, ia ingat hampir tak mampu menemukan oksigen saat melihat berita kecelakaan Jung-Soo di televisi. Rasanya seperti lumpuh, saat ia harus bersembunyi jauh di balik dinding rumah sakit dan mendengar bahwa jantung Jung-Soo berhenti berdetak. Namun, kemudian ia bersyukur saat seorang dokter berlari dari ruang UGD dan membawa kabar baik. Gadis itu melihat semuanya, dari kejauhan ia merekam segalanya dengan sangat baik. Seperti orang gila, ia terjaga sepanjang malam tanpa ada keberanian menemui Jung-Soo maupun keluarganya. Baginya, mengawasi pria itu dari jauh sudah cukup. Untuknya, bisa menghirup udara yang sama di tempat yang sama dengan Jung-Soo sudah membuatnya cukup puas.

Eonni tahu namun tidak sekalipun mencoba menemuinya?’ kembali terdengar suara Rhae-Hoon menggema.

“Aku selalu datang setiap hari, Hoon-ie.”

“Melihatnya dari jauh seperti pengecut?” mata Rhae Hoon memerah.

“Aku takut, Rhae. Bagaimana jika  Nyonya Park melihatku? Sudah cukup hinaan yang selama ini aku tanggung sendirian, sudah cukup. Sungguh.”

Semesta menjadi saksi saat Na-Yoon menjatuhkan diri di lorong rumah sakit yang sepi. Kepedihan menguasai hatinya, ia menggeleng perlahan sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Tidak boleh terus seperti ini, Rhae-Hoon ikut bersimpuh di sisi Na-Yoon dan memegangi kedua bahu gadis itu.

Eonni, temuilah Jung-Soo Oppa. Dia membutuhkanmu, kumohon. Orang yang membuatnya bertahan sampai detik ini adalah dirimu. Tolong jangan menyiksa diri lebih lama lagi.”

“Dia …menungguku? Benarkah?” Na-Yoon menyeka air matanya. Mengapa begitu menyenangkan saat Rhae-Hoon berkata bahwa ia selalu dinantikan oleh Jung-Soo?

“Origami di kamarnya yang membuat aku yakin, kumohon. Temuilah dia sekali ini saja.”

***

 

“Ini aku, Jung-Soo.”

Gadis itu memegang tangan kiri Park Jung-Soo, air mata perlahan turun di kedua pipinya. Tubuh Na-Yoon bergetar hebat, sudah berapa lama ia tak melihat wajah Jung-Soo sedekat ini? Menatap lama pada wajah putih yang kini pucat pasi. Seolah tanpa nyawa, seperti tak ada aliran darah yang mengalir di bawah permukaan kulitnya.

Sudah sejak sepuluh menit, dan denting waktu terasa begitu lamban. Na-Yoon menggigit bibirnya, mata indah Jung-Soo belum juga terbuka dan ia benci harus mengakui jika ia sangat merindukan pria ini. Bagaimana bisa ia menyimpan cinta begitu banyak pada pria yang sudah membuang dirinya? Na-Yoon masih begitu ingat perpisahan menyesakkan itu. Masih membekas perihnya di dinding hati dan menjadi luka yang tak kunjung sembuh.

Na-Yoon adalah anak yatim piatu yang  pendidikannya dibiayai keluarga Park. Ayah dan ibu Jung-Soo memiliki beberapa anak asuh dan Na-Yoon adalah salah satunya. Mereka menyekolahkan Na-Yoon di tempat yang bagus dan berkelas, ia dan Jung-Soo tumbuh bersama sejak berusia delapan tahun.

Rasa saling membutuhkan satu sama lain, akhirnya membuat Jung-Soo sadar ada perasaan aneh yang tumbuh di hati keduanya. Na-Yoon tak pernah menghapus memori musim gugur belasan tahun lalu, saat Jung-Soo mengajaknya berkuda dan menyatakan perasaannya di ladang bunga. Gadis itu mencintai Jung-Soo seperti bunga Matahari yang tak pernah lelah mengikuti gerak Sang Surya. Baginya, lelaki bernama Park Jung-Soo itu adalah sumber kebahagiaanya. Bahkan sampai pria itu akhirnya memutuskan hubungan mereka setelah kedua orang tua pria itu menentang keras hubungan percintaan putranya. Tentu saja, mana bisa anak yatim piatu tak berharga mendampingi putra keluarga Park yang kaya raya dan nyaris sempurna?

Na-Yoon menangis kuat-kuat, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Jung-Soo dan saat itulah ia bisa menghirup wangi tubuh yang ia rindukan selama ini. Air matanya luruh bersamaan dengan sebuah kecupan yang ia berikan di pipi kanan pria itu.

“Jung-Soo, bangunlah. Bukankah kau menungguku datang? Apa kau mengingat janji kita untuk selalu bersama makanya kau bertahan?”

Tidak ada jawaban, mata Jung-Soo masih tidak bergerak. Namun, saat Na-Yoon menaikkan tangannya ke udara dan merambat menuju pipi pria itu, ia menyadari sesuatu. Pria itu menyisakan buliran bening di kedua sudut matanya.

“Kau mendengarku, uh? Lalu kenapa kau tidak bangun? Apa kau tidak mau minta maaf padaku? Jung-Soo, aku merindukanmu seperti orang gila dan hari ini – saat kita bertemu lagi – kau hanya tertidur seperti ini? Bangunlah, dan kita membuat seribu origami seperti dulu. Bercengkrama di kafe, makan es krim bersama, bertengkar,  dan tertawa bersama.”

***

Nyonya Park dan Jung-Ah hanya bisa menatap apa yang terjadi di dalam kamar Jung-Soo dengan tatapan nanar. Ada sebuah penyesalan yang mengendap di hati ibu Jung-Soo, jika saja dulu ia dan sang suami tak menghalangi hubungan cinta itu mungkin Jung-Soo dan Na-Yoon sudah menikah dan memiliki anak-anak yang manis. Penolakan demi penolakan yang Jung-Soo lakukan selama ini menjawab semuanya, ia selalu menarik diri dari para wanita yang sang ibu siapkan untuk menjadi pendamping hidupnya.

Nyatanya, Park Jung-Soo hanya mencintai Kim Na-Yoon. Ia tak mampu menjadi pria jahat yang menyingkirkan segala kenangan indah yang menjadi tuan di hatinya.

***

 

Pukul dua dini hari, Na-Yoon membuka kedua matanya. Ia terjaga dari tidurnya dan segera beranjak dari ranjang rumah sakit. Tunggu dulu? Bagaimana bisa ia tidur di tempat tidur Jung-Soo? Gadis itu segera beranjak dan menyibak selimut yang menghalau rasa dingin, ia mengerjap dan menatap ke segala arah.

Di mana Park Jung-Soo? Apa pria itu kondisinya kritis dan dipindahkan ke ruangan yang lain? Atau mungkinkah pria itu dibawa ke rumah sakit lain agar Na-Yoon tak bisa melihatnya? Na-Yoon menggeleng, menghapus pemikiran bodoh yang menghinggapi kepalanya. Namun, dimana Jung-Soo? Kenapa dia enyah dari jarak pandang gadis itu?

“Na-Yoon?”

Suara berat itu membuat Na-Yoon menatap seseorang yang duduk di bangku kecil dekat ranjang. Gadis itu menemukan dirinya membatu, napasnya menjadi tersendat dan wajahnya memanas saat fokusnya tertuju pada wajah tampan di hadapannya.

Pria itu sudah membuka matanya, lagi. Sejak enam puluh menit yang lalu, dan kini ia tersenyum dengan tubuh kurus dibalut piyama rumah sakit yang membuatnya kian pucat pasi. Jung-Soo menangis, ia tidak bisa melakukan pergerakan apapun. Tubuhnya kaku, suaranya serak, dan hatinya … terlalu sulit menggambarkan perasaannya saat ini.

“Jung-Soo?”

Anyeong, Yoon-ah. Apa aku sedang bermimpi?”

Na-Yoon menggeleng lemah, “Tidak, Park Jung-Soo. Ini semua nyata, kau sudah siuman?”

“Ya.”

Dua pasang mata itu masih haus untuk memanjakan diri, menguapkan begitu banyak rasa rindu yang memenuhi pelupuk mata selama ribuan hari yang mereka lewati dengan melodi kepedihan. Na-Yoon dan Jung-Soo membatu untuk beberapa saat, tak dapat merasai udara, tak mampu bernapas dengan benar, namun satu hal yang mereka yakini saat ini ; kebahagiaaan yang menyergap di dinding hati dan akan selamanya bersemayam di sana.

***

 

“Jika boleh memilih, aku ingin dilahirkan menjadi sebatang pohon yang tak perlu merasakan kesedihan,” pungkas Na-Yoon. Gadis itu sudah selesai menggantung origami terakhir yang ia buat pada sebuah pohon di halaman rumahnya. Ia tersenyum bahagia, saat punggungnya terasa hangat.

Pria itu memeluknya dari belakang, bernapas di bahunya dan membiarkan debaran jantungnya terdengar bak melodi indah di telinga Na-Yoon.

“Mana boleh, kau hanya perlu menjadi Kim Na-Yoon yang selamanya mencintai Park Jung-Soo,” bisik pria itu, ia semakin mengeratkan pelukannya.

“Mencintaimu itu menyakitkan, Jung-Soo.”

“Maaf.”

Na-Yoon tertawa, lalu membalikkan badan, kini ia bebas memandangi wajah tampan yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali tanpa batasan waktu. Rambut gadis itu berterbangan bersama deraan angin musim gugur, ia tersenyum. Betapa ia bahagia bisa menjumpai Jung-Soo dalam jarak pandangnya lagi, betapa ia bersyukur karena kini ibu pria tua itu memintanya kembali menjadi kekasih Jung-Soo, dan betapa ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena telah dilamar pria berjulukan malaikat tanpa sayap ini – dua minggu yang lalu.

“Aku sudah lupa berapa lama berpikir bahwa mencintaimu itu menyakitkan. Jadi boleh kutukar segala penderitaan itu dengan banyak hari yang akan kita lalui bersama nanti, Park Jung-Soo?”

Pria itu tersenyum, rasanya seperti hidup kembali saat kedua matanya selalu bisa menangkap segala gerak gadis yang selalu menjadi tumpuan mimpi-mimpinya.

“Tentu, kau berhak berbahagia – bersamaku. Menua bersama sampai rambut kita memutih dan ingatan kita menurun, saat itu terjadi … tak apa aku mulai pikun dan melupakan semuanya, asal aku bisa mengingatmu sebagai pendampingku maka aku akan merasa tak memerlukan apa-apa lagi di dunia ini.”

 

***

“Biarkan rindu menjadi penguasa di tanah hati ini, menguapkan ribuan cinta yang tak pernah lelah menghantui. Untukmu, aku menanti dalam lelah tak berujung bersamaan dengan gelap yang merona dalam senja. Untukmu, aku rela.”

 

                fin

 

 

 

6 Comments (+add yours?)

  1. lov5yanna
    Oct 12, 2014 @ 17:02:23

    kkkk judul ffnya rada mirip kayak punyaku “about me ,you and origami ” tapi Isinya bedaaaaaaaa…yang ini konfliknya rada rada ringan..

    Reply

  2. Christine
    Oct 12, 2014 @ 19:57:06

    kerasa bgt feelnya… keep writing kak!!

    Reply

  3. Monika sbr
    Oct 13, 2014 @ 12:52:58

    Aku sampe nangis terharu ama kisah cinta mereka, tapi akhirnya mereka bisa bersatu kembali setelah bertahun2 terpisah…..

    Walaupun sebenarnya aku udah pernah baca dibloq pribadinya author, tapi aku gak pernah bosan….

    Reply

  4. fiaasfiafia
    Oct 14, 2014 @ 19:11:20

    Ffnya bikin aku terharu…
    Bingung mau coment apa soalnya ffnya udah perfect…

    Keep writing aja buat author…

    Reply

  5. ichafr
    Oct 20, 2014 @ 19:47:08

    nyesek bacanya 😥
    ffnya daebbak!!!

    Reply

  6. ichafr
    Oct 21, 2014 @ 10:33:55

    ffnya bikin mewek euy 😥
    konfliknya gak berat, jd enak dibacanya 🙂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: