MATCHMAKING [2/?]

match making deal

 

MATCHMAKING [Part 2]

Author: Shin Hyeonmi

Park Jungsoo | Baek Su Min (OC) | Lauren Hanna Park | Yoon Dujun

Chapter | PG-17 | Romance

Rating: General

Tag: Park Jungsoo, Leeteuk

 

Note: I just hope readers will like this. Thanks for reading it (: And, I’ve published this before on my personal blog ( http://eunhaewife.wordpress.com/ ) Visit me if you have times^^ Happy reading^^

 

Su Min berjalan lemas mengikuti Jungsoo yang berada di depannya sambil menyeret koper besar berisikan barang-barang miliknya, yang rencananya barang-barang itu akan dia gunakan selama berada di Belanda. Sesaat gadis itu memperhatikan sekeliling dimana dia berada saat ini, Sangji Ritzville lantai lima, sebuah apartemen yang cukup elit yang ada di kawasan Cheongdam-dong, Gangnam.

Pria itu menghentikan langkahnya kemudian setelah sampai di sebuah pintu dengan nomor 502 tersebut. Untuk sesaat Jungsoo tampak memasukkan beberapa pasword rumahnya sebelum kemudian membukakan pintu tersebut untuk Su Min agar masuk terlebih dahulu ke dalam.

Gadis itu melangkahkan kakinya memasuki rumah milik Park Jungsoo. Pandangannya berputar kemudian memperhatikan sekeliling isi rumah tersebut. Ruang tamunya yang berhadapan langsung dengan dinding kaca yang dimana dari tempat tersebut dapat terlihat pemandangan luar.

Tak terlalu banyak memang peralatan rumah tangga yang ada di dalamnya, sepertinya sesuai dengan statusnya yang juga merupakan seorang single parent.

“Appa.” Suara teriakan seorang anak kecil itu membuat Su Min seketika menoleh.

Seorang gadis kecil yang memakai baju berwarna biru gelap dengan poninya yang diikat dengan sebuah pita berwarna serupa itu berlari menuju ke arah Park Jungsoo. Sedangkan pria yang dipanggilnya tadi dengan cepat menaruh koper milik Su Min dan mengangkat tubuh gadis kecil itu dalam gendongannya.

“Bibi Han, terima kasih, kau bisa pulang sekarang.” Kata Jungsoo pada seorang baby sitter yang sebelumnya tadi menemani anak gadisnya saat Jungsoo pergi.

“Appa, siapa itu?” bisik Lauren pada ayahnya setelah melihat Su Min yang berdiri di rumah mereka.

Jungsoo sesaat menurunkan Lauren dari atas gendongannya, dan berlutut menatap Lauren, mensejajarkan dirinya dengan gadis kecil tersebut, “Dia akan tinggal bersama kita beberapa hari, kau bisa memanggilnya imo, Su Min imo.” Kata pria itu pada Lauren.

“Imo?” ucap Su Min. Namun baru saja gadis itu berencana untuk memprotes, kembali di urungkannya niatannya kemudian. Sepertinya panggilan ‘imo’ sedikit lebih baik daripada ‘ahjumma’ untuk itulah gadis itu membatalkan protesnya tadi.

Lauren menatap Su Min kemudian dan memberikan senyumannya pada gadis itu. Tapi gadis kecil itu segera memalingkan wajahnya kembali setelah melihat respon datar yang diperlihatkan oleh Su Min padanya. Bukannya membalas senyuman yang di berikan oleh Lauren, justru Su Min memalingkan wajahnya menatap sekeliling rumah itu lagi.

“Kau bisa memakai kamar tamu yang ada di sebelah kiri itu.” Kata Jungsoo sambil menunjuk salah satu pintu kamar yang ia maksud saat menyadari suasana canggung yang di tunjukkan oleh Su Min dan juga Lauren.

Gadis itu segera meraih menarik tas koper miliknya dan membawanya masuk ke dalam kamar yang sebelumnya ditunjukkan Jungsoo padanya tanpa mengucapkan terima kasih atau menatap balik sosok Lauren yang berada di samping Jungsoo.

Jungsoo menarik nafasnya berat kemudian setelah memastikan Su Min masuk ke kamar tersebut dan menutup pintunya. Benar-benar gadis yang berbeda gadis umumnya, sesungguhnya ia pun kini seakan ragu pada dirinya sendiri, benarkah ia harus meluluhkan gadis yang sangat keras kepala itu?

“Appa, aku lapar.”

Jungsoo menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, dan sedikit terkejut saat mengetahui saat ini bahkan sudah hampir saja sore. Tentu saja putrinya saat ini sudah lapar karena saat ini sudah terlambat satu jam dari jadwal seharusnya mereka makan siang.

“Cah, kita pergi makan sekarang.” Ajak pria itu kemudian segera berdiri, bersiap untuk keluar lagi mencari restoran terdekat untuk makan siang bersama putrinya. Namun sesaat langkahnya terhenti saat pandangannya terhenti pada pintu kamar yang saat ini di tempati oleh Su Min. Pria itu berbalik dan melangkah mendekat pada kamar tersebut dan mulai mengetuk pelan pintu kamar Su Min, “Ayo kita makan siang bersama,” ajaknya kemudian.

“Aku tidak lapar, aku hanya ingin beristirahat.” Jawab Su Min dari dalam.

Jungsoo mengangguk mengerti, mungkin benar saat ini gadis itu sedang lelah, atau bisa saja ia sedang kecewa berat pada orang tuanya yang ia tahu kemarin mengajak gadis itu pergi ke Belanda bersama. Di balikkannya tubuhnya kemudian dan berjalan menjauh dari kamar Su Min, namun beberapa langkah kemudian ia berhenti dan berbalik lagi mengetuk pintu itu untuk kesekian kalinya.

“Apa kau ingin sesuatu untuk dimakan? Aku akan membawakannya nanti saat kembali.” Kata pria itu lagi.

Tak ada jawaban dari Su Min, membuat pria itu kemudian memutuskan untuk segera berangkat dan meninggalkan Su Min seorang diri disana.

**

Su Min mengusapkan kedua telapak tangannya beberapa kali di matanya, mencoba untuk membuka matanya lebih lebar lagi. Diraihnya kemudian ponsel yang ia letakkan tak begitu jauh dari bantal yang ia gunakan dan melihat jam saat ini. Sudah empat jam lebih ia tertidur di ruangan yang seharusnya selama satu minggu ke depan menjadi kamarnya ini.

Hening kembali menyelimutinya, bahkan suara angin saat ini seolah dapat ia dengarkan. Sepertinya Jungsoo dan putri kecilnya belum kembali karena saat ini Su Min bahkan tak merasakan sedikitpun tanda-tanda bahwa mereka berdua sudah berada di dalam rumah ini.

Kriiuk..

“Sepertinya perutku sudah mulai lapar.” Ucapnya.

Tangannya mulai bergerak mengelus perutnya beberapa kali. Tentu saja saat ini ia lapar, karena sejak pagi tak ada makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya. Hanya selembar roti tanpa selai, ya hanya itu pantas saja jika saat ini perutnya mulai meronta meminta makanan.

Segera gadis itu bangkit dari posisinya berbaring dan mulai berjalan keluar dari kamarnya. Benar, Jungsoo dan putrinya belum kembali ke rumah. Apakah pria itu lupa bahwa ada seseorang di dalam rumahnya? Bukankah tadi pria itu bahkan bertanya apa yang ia inginkan jika kembali? Omong kosong, untung saja tadi ia tak terlalu berharap agar di bawakan makanan oleh pria itu. Daripada harus berakhir dengan kecewa karena menunggu pria itu tak kunjung pulang.

Lagi gadis itu berjalan menuju ke arah dapur, mencari-cari apapun yang dapat ia makan disana. Dibukanya isi lemari es, dan menemukan beberapa potong buah melon segar dari dalam. Di makannya kemudian melon tersebut hingga tak tersisa, namun rasa lapar itu belum juga hilang.

Kembali ia menoleh ke sekeliling mencari makanan lain, tapi tidak ada makanan apapun disana. Hanya beberapa cup ramyun dan selain itu tidak ada lagi yang lain. Sejujurnya ia heran, apakah pria ini dan keluarganya tidak pernah menyimpan makanan atau mungkin mereka tidak pernah merasakan lapar yang menyerang secara tiba-tiba?

Samar-samar ia mendengar suara pintu yang terbuka, sepertinya pasangan ayah dan anak itu sudah kembali. Segera ia berjalan keluar dari dapur dan melihat sosok yang datang.

“Ah, kau sudah bangun?” tanya Jungsoo padanya setelah menutup pintu rumah, “Apa kau lapar? Aku membeli makanan untuk makan malam hari ini.” Kata pria itu.

“Jinja? Syukurlah, ku pikir aku akan mati kelaparan disini.” Jawab gadis itu.

“Benarkah? Mianhae, membuatmu menunggu.” Kata pria itu sembari berjalan menuju ke dapur, “Tadi setelah makan siang Lauren ingin pergi berjalan-jalan, jadi aku menemaninya,” lanjut pria itu.

Su Min segera duduk menempatkan dirinya di salah satu kursi meja makan, sambil menunggu Jungsoo yang sedang mempersiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Di hadapannya, Lauren, putri kecil Jungsoo mengikutinya duduk menghadap ke arah meja makan.

Su Min diam, berusaha tak memperdulikan tingkah gadis kecil itu. Sejak awal dia memang tak begitu menyukai anak kecil, jadi ketika melihat gadis kecil ini ia tak begitu mempedulikannya. Ini lebih baik, dengan diam tak memperdulikan tingkah bocah itu daripada Su Min harus mengomelinya seperti yang biasa ia lakukan selama ini pada anak kecil yang ia temui.

Lauren duduk tepat di kursi yang ada di hadapan Su Min, cukup lama gadis kecil itu memandang sosok yang ada di depannya. Cantik, mirip seperti barbie yang menjadi favoritnya, tapi sayang sifatnya berbeda, sama sekali tidak ramah seperti tokoh barbie kesukaannya. Lagi, gadis kecil itu menatap Su Min, melihat make up tipis yang digunakannya. Ia ingin suatu hari nanti bisa menggunakan make up cantik seperti yang digunakan wanita di hadapannya itu.

Merasa di perhatikan, Su Min balik menatap Lauren dan tepat ketika pandangan mereka bertemu ia mendapatkan sebuah kejutan dari bocah kecil itu. Gadis itu menjulurkan sedikit lidahnya, mengejeknya saat pandangan mata mereka saling bertemu. Tak terima, Su Min bersiap untuk mengomeli gadis kecil itu, tapi baru saja ia membuka mulutnya, Jungsoo datang menghampiri mereka di meja makan dengan membawa sebuah piring besar menu makanan mereka malam ini.

“Seafood?” tanya Su Min setelah memastikan jenis makanan tersebut. “Aku tidak mau makan ini.” Tolaknya kemudian.

Gadis itu segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Jungsoo dan Lauren, menuju dapur. Di bukanya kembali buffet berisikan beberapa cup ramyun yang ia temukan tadi saat mencari makanan di sana. Dengan cepat ia membuka salah satu cup ramyun tersebut dan menuangkan air panas ke dalamnya.

“Su Min-ah”

Jungsoo mengikuti Su Min ke dalam dapur dan mencoba menghentikan gadis itu dan mengajaknya kembali ke ruang makan untuk makan bersama. Tapi ketika ia mencoba menghentikan gadis itu dengan memegang tangannya, justru dengan cepat Su Min menangkisnya.

“Tidak bisakah kau menghargai orang lain?” tanya pria itu mulai emosi.

Sudah cukup semua usaha yang ia lakukan hari ini untuk menahan emosinya. Sejak pagi, ketika masih berada di bandara ia bahkan sudah mencoba untuk tidak memperdulikan penolakan gadis itu, kemudian ketika sampai di rumahnya ia bahkan membiarkan ketika Lauren tak mendapatkan respon sama sekali darinya, dan kini ketika ia sudah membelikannya makan malam untuk mereka makan bersama, sama sekali tidak ada niatan baik dari gadis itu untuk menghargai sedikit saja semua yang ia lakukan.

Dengan cepat pria itu berbalik arah dan berjalan meninggalkan gadis itu ke meja makan, bukankah lebih baik saat ini ia menemani putrinya untuk makan malam, daripada harus memperdulikan seorang gadis yang tidak bisa menghargainya sama sekali ini.

Gadis itu diam dan mencoba mengartikan apa yang baru saja dilakukan Jungsoo padanya, apakah pria itu marah? Sepertinya begitu, ia bahkan membentak Su Min saat itu juga. Berani sekali pria itu, umpatnya dalam hati. Bahkan selama ini hanya ayahnya yang berani berkata dengan intonasi tinggi seperti itu padanya. Eomma, Haelmoni, Haraboji, dan keuarganya yang lain bahkan tak pernah ada yang berani berkata kasar padanya. Sedangkan pria itu, pria yang bahkan baru ditemuinya tiga hari yang lalu berani memperlakukannya seperti ini.

Diraihnya kemudian cup ramyun yang baru saja ia seduh dengan emosi yang saat ini mulai memenuhinya. Dengan kasar gadis itu berjalan keluar dari dapur, melewati ruang makan dimana Jungsoo dan Lauren saat ini berada, dan segera menuju ke kamar tempatnya beristirahat. Di bantingnya dengan keras pintu kamarnya hingga tertutup seketika itu juga.

Dengan gontai ia melangkah mendekat pada salah satu sisi ranjang. Diangkatnya kepalanya menatap langit-langit kamar dengan cat berwarna putih bersih itu, mencoba menahan air matanya yang sesaat lagi akan segera jatuh membasahi pipinya. Tidak, ia tidak boleh menangis disini, ia tidak boleh menunjukkan kelemahannya di rumah orang asing ini

Su Min duduk sambil mendekap kedua lutut kakinya yang ia tekuk. Di sandarkannya punggungnya kemudian pada sisi pinggir ranjang, dan mulai menangis tersedu. Sungguh hari ini adalah hari yang sangat berat ketika ia harus tinggal di rumah seseorang yang tidak memiliki hubungan darah apapun dengannya.

Ini bahkan belum genap dua puluh empat jam ia berada di rumah tersebut, tapi suasana seperti neraka telah ia dapatkan. Lalu bagaimana nanti jika kedua orang tuanya benar-benar melakukan perjodohan dengan pria itu, membayangkannya saja rasanya ia ingin bunuh diri saat ini.

Gadis itu mulai tersedak dalam tangisnya sambil menatap cup ramyun yang ada di hadapannya. Perutnya yang lapar itu benar-benar tak bisa menerima makanan seperti ini. Seharusnya ramyun akan lebih baik daripada ia memakan seafood yang disiapkan oleh Jungsoo beberapa saat yang lalu.

**

“Appa, aku sudah selesai.”

Lauren meletakkan sendok dan garpunya dan segera meraih gelas minuman miliknya. Malam ini gadis itu hanya makan beberapa suap lauk saja, berbeda dari biasanya. Atmosfer di sekelilingnya saat ini tidak begitu baik, terlebih lagi untuk pertama kalinya malam ini ia mendengarkan suara sang ayah dengan nada tinggi.

Memang saat itu ayahnya tidak berkata kasar padanya, melainkan kalimat tersebut ditujukan pada wanita yang saat ini tinggal bersama mereka. Tetapi tetap saja, sebagai seorang anak kecil berumur enam tahun seperti yang lain, ia merasakan sedikit takut. Saat ini mungkin emosi ayahnya tidak begitu baik, dan bisa saja amarahnya meledak kembali lagi beberapa saat lagi. Dan yang lebih ia takutkan adalah apabila secara tiba-tiba nanti ayahnya juga akan ikut membentakkan, meskipun selama ini ia belum pernah merasakan hal itu.

“Kau yakin?” tanya Jungsoo.

Gadis itu mengangguk dan segera turun dari kursinya. “Aku lelah, aku ingin tidur.” Jawabnya kemudian dan segera beranjak dari tempatnya menuju kamar tidurnya.

“Kau ingin appa membacakan dongeng untukmu?” tanya Jungsoo lagi.

“Tidak perlu,” jawab gadis itu sebelum memasuki kamarnya.

Jungsoo dapat merasakan bahwa saat ini Lauren seperti ketakutan, hal yang sangat berbeda yang selama ini tidak pernah ditunjukkan gadis itu padanya. Mungkin gadis kecil itu terkejut karena ia sempat mengatakan beberapa kata dengan intonasi yang tinggi tadi.

Perlahan pria itu mulai menghenbuskan nafasnya pelan, dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Selama ini ia selalu berhasil mengatur emosinya ketika berada di rumah, tetapi tidak untuk malam ini. Pria itu tak memungkiri bahwa selama ini ia juga pernah membentak keras beberapa karyawannya di kantor, tapi itu hanya ketika ia berada di lingkungan kantor, selebihnya ketika berada di luar ia tahu batasannya, bahkan ia stak pernah membawa stress pekerjaannya itu ketika telah sampai di rumah.

Setidaknya ia sadar bahwa anak gadisnya hanya memiliki satu orang tua tunggal, jika Lauren merasakan takut kepada ayahnya sendiri lalu dimanakah gadis itu nanti dapat bersandar?

Drrt.. drrrt…

Pria itu segera menegakkan tubuhnya kembali, dan sedikit melirik pada layar ponselnya yang menyala. Panggilan dari ayah Su Min.

Yoboseyo? Kata suara seorang wanita di seberangnya yang disadari Jungsoo bahwa itu adalah ibu Su Min.

“Ne, anyyeonghaseo eomonim. Apa kalian sudah sampai?”

Ani. Kami baru saja transit. Ahh, apa kami merepotkanmu Jungsoo-ssi karena menitipkan Su Min?

“Ani, ani. Aku tidak merasa di repotkan sama sekali.” Tolak Jungsoo. Pria terpaksa berbohong pada ibu Su Min untuk menjaga perasaannya.

Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Apa kalian sudah makan malam?

“Kami baru saja selesai makan malam, eomonim.” Katanya.

Benarkah? Pasti susah ya menyesuaikan apa yang diinginkan Su Min?

Bukan hanya susah, ia bahkan cukup dibuat emosi oleh gadis itu, batin Jungsoo.

Ahh, aku lupa memberitahumu Jungsoo-ssi bahwa Su Min memiliki alergi terhadap makanan laut, jadi kalau bisa tolong jangan mengajaknya untuk memakan seafood.

“Benarkah? Ahh, ne eomonim. Araseumnida.”

Baiklah hanya itu yang ingin ku sampaikan padamu, dan sampaikan salamku untuk Su Min, sepertinya dia masih marah pada kami berdua karena sejak tadi dia tidak mau mengangkat telepon kami.

“Ne, akan ku sampaikan. Sampaikan salam saya pada Tuan Baek juga.”

Jungsoo menutup teleponnya dan mulai merasakan bersalah pada Su Min. Seharusnya gadis itu mengatakan yang sejujurnya jika ia memiliki alergi pada makanan jenis ini, bukannya justru meninggalkan meja makan dan mencari jenis makanan lain di dapur. Tapi terlepas dari semua itu, dia memang bersalah karena telah memaksa Su Min malam ini untuk memakan makanan yang mungkin saja di bencinya.

Saat ini ia harus meminta maaf pada gadis itu. Segera pria itu berdiri kemudian dan berjalan menuju dapurnya, mencari makanan lain yang mungkin bisa ia berikan pada Su Min. Tadi ia sempat mampir sejenak di mini market dekat apartemennya karena persediaan sandwichnya untuk besok pagi sudah habis.

Dibukanya kemudian satu bungkus sandwich tersebut untuk ia hidangkan diatas sebuah piring untuk ia berikan pada Su Min. Meskipun tadi ia sempat melihat gadis itu membawa satu cup ramyun ke dalam kamarnya, sesungguhnya ia tidak yakin kalau ramyun tersebut bisa mengenyangkannya. Karena selama ini ia hanya memakan ramyun seperti sebuah camilan, bukan untuk menu makannya.

 

Pelan pria itu mengetuk pintu kamar Su Min, namun tak ada respon apapun dari seseorang yang berada di dalam. Bahkan samar-samar Jungsoo dapat mendengarkan suara isakan tangis. Apakah ini karena perbuatannya tadi?

Jika memang benar, bukankah saat ini ia adalah sosok yang sangat buruk karena telah membuat seorang wanita menangis? Entah seperti apa perasaannya yang sesungguhnya pada gadis itu, tetapi saat ini ia benar-benar merasa buruk.

Tangannya mulai bergerak pada gagang pintu tersebut, dan ia sedikit terhenyak saat mendapati bahwa Su Min tidak mengunci pintunya. Dibukanya perlahan pintu tersebut dan mulai melangkahkan kakinya ke dalam. Mengintip sosok yang ada di dalamnya.

Gadis itu duduk di lantai dan memeluk kedua lututnya, matanya sembab dan masih ada sedikit aliran air mata di kedua sisi pipinya. Ia sedikit ragu untuk masuk lebih ke dalam menemui Su Min, tapi jika berbalik maka semua masalah ini takkan selesa. Maka ia kembali melangkahkan kakinya dan mendekat pada gadis itu.

Di tempatkannya tubuhnya duduk di samping kiri gadis itu kemudian, dan mulai meletakkan piring berisikan sandwich yang ia bawa ke hadapan gadis itu, tepat di samping cup ramyun yang belum termakan oleh Su Min.

“Mianhae” katanya, “Aku tidak tahu kalau kau memiliki alergi pada makanan laut.” Lanjutnya.

Su Min tak menjawab, justru tangisnya kembali pecah setelah Jungsoo mengucapkan maaf untuknya. Diraihnya kemudian tubuh Su Min dan di dekapnya erat gadis itu dan membiarkannya menangis dalam pelukannya.

Jika seorang wanita tersenyum untuk tidakkah kau akan bahagia? Tapi jika seorang wanita menangis karenamu, maka tidakkah itu berarti kau begitu buruk?

Itu pula yang dirasakan Jungsoo saat ini. “Mianhae, untuk ucapan kasarku malam ini.” Katanya. Di usapkannya telapak tangannya kemudian pada punggung Su Min, mencoba menenangkan gadis itu yang tengah menangis sesengukan, “Maafkan aku, jika selama dua hari terakhir ini kau merasakan sangat buruk setelah mengenalku.” Lanjutnya.

Pria itu sadar, mungkin dia benar-benar telah membuat Su Min merasakan seperti dalam sebuah mimpi buruk. Wajar jika gadis itu menolaknya, bukankah dia memang masih terlalu muda untuk memikirkan tentang perjodohan? Belum lagi, untuk seorang gadis seumurannya mungkin masih terlalu banyak mimpi yang ingin ia capai, termasuk cinta.

Sedangkan dia, usianya yang telah memasuki kepala tiga ditambah statusnya yang merupakan seorang duda dengan satu anak, bukankah itu terasa sangat menuntut jika ia mengikuti permintaan orang tua Su Min?

Gadis itu melepaskan pelukan Jungsoo di tubuhnya dan menatap pria itu baik-baik, “Apakah kau seperti orang tuaku? Mengharapkan perjodohan ini?” tanyanya, masih dengan isakannya beberapa kali.

Jungsoo menggelengkan kepalanya, kemudian mengusap pelan rambut gadis itu dan tersenyum padanya.

“Lalu apa kau mau membatalkan perjodohan ini?”

Pria itu memalingkan pandangannya dan menatap dinding yang berada di hadapannya, “Aku tidak bisa berjanji, hanya saja aku akan berusaha jika kau memang benar-benar tidak menginginkan ini.” Katanya yang kemudian kembali memandang wajah Su Min dan tersenyum pada gadis itu.

Su Min tersenyum membalas pria itu, seketika itu juga membuat Jungsoo terkejut. Selama dua hari ini ketika ia mulai mengenali gadis itu, sepertinya ini pertama kalinya gadis itu tersenyum padanya. Bukan sebuah senyuman hormat seperti ketika ia memperkenalkan diri di restoran kemarin, bukan juga sebuah ekspresi cuek seperti biasanya yang selalu dilakukan oleh Su Min.

“Ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum.” Su Min seketika memandang Jungsoo, sedikit terkejut pada apa yang dikatakan pria itu.

Gadis itu menyadari bahwa ia bukanlah tipe orang yang akan tersenyu secara cuma-cuma pada setiap orang kecuali orang-orang yang memang dekat dengannya seperti keluarga dan juga teman-temannya. Hanya saja gadis itu tak menyangka jika pria ini akan mengatakan hal itu secara terus terang seperti ini.

“Makanlah, kau pasti lapar.” Kata Jungsoo lagi.

Su Min segera mengambil sandwich yang diantarkan Jungsoo tadi untuknya, dan melahapnya saat itu juga. Untung saja tadi ia belum mencoba sedikitpun ramyun yang ia seduh, karena ia bahkan tak dapat membayangkan akan seperti apa jadinya nanti perutnya jika memakan makanan instan itu. Selama ini ia tak pernah sama sekali memakan junkfood dan jika ia memakan itu tadi, bisa jadi saat ini ia sudah dilarikan ke rumah sakit.

“Bolehkah aku meminta satu hal padamu?” kata Jungsoo ketika Su Min mulai sibuk mengunyah sandwichnya, awalnya pria itu masih ragu untuk melanjutkan kalimatnya, namun sepertinya semuanya akan impas jika Su Min mau menuruti permintaannya, “Berlakulah baik pada Lauren, karena pertengkaran kita tadi sudah membuatnya takut.”

**

Next Day

 

Su Min masih memegangi ponselnya dan mengarahkan kamera tersebut untuk mengambil potret dirinya. Berbagai ekspresi wajah sudah ia gunakan kala itu, namun sepertinya semuanya belum juga membuat gadis itu puas untuk mengabadikan dirinya dalam sebuah self camera.

Dilihatnya beberapa kali hasil gambar yang baru saja ia ambil dan kemudian ia kembali menutup galeri fotonya dan mulai membuka kameranya lagi. Diambilnya kembali gambar dirinya yang sedang duduk bersandar pada dinding kaca yang ada di ruang tamu apartemen milik Jungsoo.

Apartemen ini adalah salah satu apartemen terbaik yang berada di Cheongdam-dong. Sangji Ritzville, jika kalian adalah seorang fangril terlebih lagi mengidolakan girl grup seperti Girls Generation, maka nama apartemen ini pasti takkan asing di telinga kalian. Dua membernya, yakni Jessica dan juga Yuri memiliki investasi di tempat ini, begitupula BoA yang juga satu manajemen dengan mereka.

Gadis itu kembali menghentikan kegiatan selcanya, dan memutarkan pandangan menatap Lauren yang sedang memperhatikannya dengan tatapan aneh. Gadis kecil itu tadi asik sendiri menonton acara kartun favoritnya, Pororo dan tak memperdulikan Su Min, sehingga ia pada akhirnya memilih untuk memulai kegiatan narsisnya karena bosan tak memiliki kegiatan apapun.

Tapi sekarang, saat ia sudah memiliki kesibukan yakni mengambil foto dirinya beberapa kali, justru Lauren menatap heran padanya, seolah dia adalah makhluk paling aneh yang ada di dunia ini yang pernah ia temui.

Satu jam yang lalu, Jungsoo meninggalkannya di apartemen dan menitipkan Lauren padanya karena tiba-tiba saja ia ada pekerjaan di kantor. Padahal ini adalah hari minggu, tetapi pria itu tidak bisa menolak pekerjaannya.

“Apa kau bosan?” tanya Su Min pada gadis kecil yang masih menatapnya.

Lauren mengangguk dan meraih remote televisinya, mematikan acara yang tadi ia tonton dan berjalan mendekat pada Su Min. Untuk bebrapa sat ia ikut memperhatikan foto yang barusaja diambil Su Min di ponselnya.

Su Min ingat janji yang ia ucapkan pada Jungsoo semalam untuk bertingkah lebih baik pada Lauren, dan saat ini gadis itu sedang berusaha untuk melakukan hal tersebut. Semuanya akan impas ia yakin itu, dimana satu sisi Jungsoo sedang berusaha untuk membatalkan perjodohan mereka, dan ia akan berusaha bertingkah lebih baik pada anak Jungsoo.

Harus diakui, ketika ia mulai membuang sedikit egonya untuk Lauren, ia sadar bahwa sebenarnya gadis kecil ini sedikit berbeda kebanyakan anak kecil lainnya yang ia benci. Memang dia sedikit manja, tapi sifat manja yang dimiliki gadis ini masih dalam batasan sewajarnya anak kecil. Dan lagi, ternyata Lauren juga tidak terlalu menyebalkan seperti yang ia lihat kemarin ketika gadis kecil itu menjulurkan lidah padanya.

“Kau tidak ingin pergi berjalan-jalan?” tanya gadis kecil itu masih sambil memperhatikan foto-foto Su Min.

Su Min diam dan berpikir sejenak. Sesungguhnya ia juga bosan berdiam diri di dalam rumah seperti ini. Tapi karena kartu kreditnya sedang tidak bisa di gunakan seperti biasanya, tentu saja saat ini ia terpaksa mendekam di dalam rumah seperti ini.

“Aku ingin pergi berjalan-jalan ke taman.” Kata Lauren lagi.

Taman? Sepertinya itu tidak akan memakan cukup banyak biaya. Hanya saja, tidakkah jika ia dan Lauren pergi berdua seperti ini akan terasa aneh? Tidakkah ini akan terlihat seperti ia benar-benar siap menjadi pengasuh gadis itu, atau bisa diartikan lagi ia siap menjadi sosok ibu bagi Lauren?

Ahh, molla. Untuk hari ini saja, lupakan pemikiran itu.

“Kajja.” Jawab Su Min segera bangkit dari duduknya, “Kita ganti pakaian dan segera berangkat. Arra?” tanya gadis itu.

“Arraseo.”

**

Su Min menyapukan bedak di kedua bagian pipinya, kemudian ia meraih lip balm dari dalam tas make-up dan mulai mengoleskan benda tersebut di bibirnya ketika Lauren mulai memasuki kamarnya.

Untuk beberapa saat gadis kecil itu dibuat kagum saat melihat Su Min berdandan mempercantik penampilannya di depan cermin. Mungkin ini pertama kalinya untuk Lauren melihat hal semacam ini, karena selama ini ia memang hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang tentu saja tak pernah melakukan kegiatan ini.

Ia takjub saat melihat Su Min yang hanya menyapukan make up di wajahnya itu dengan tipis, tetapi hasilnya sangat berbeda. Seperti barbie, benar seperti barbie dengan make-up yang tidak terlalu mencolok tetapi membuatnya semakin terlihat cantik.

“Waeyo?” tanya Su Min saat menyadari gadis kecil itu kini tengah menatapnya layaknya seseorang yang penuh rasa heran.

“Aku tidak pernah meihat seseorang berdandan seperti ini.” Jawab gadis itu, “Kau hebat, bisa membuat wajahmu semakin terlihat cantik.” Lanjutnya.

Su Min tersenyum dan kembali memperhatikan pantulan dirinya pada kaca cermin. Ucapan seorang gadis kecil seperti ini memang terdengar tulus, sehingga membuatnya sedikit tersipu.

“Kau mau mengajariku berdandan?” tanya Lauren kemudian.

Ayahnya adalah seorang pria normal yang tentu saja tidak mengerti bagaimana cara mendandani Lauren. Hanya baby sitternya yang mengasuh Lauren setiap hari senin sampai jumat ketika ayahnya berada di kantor yang mendandani Lauren, tapi itupun hanya sebatas mengikat rambutnya dan memasangkan pita pada rambut gadis itu. Untung saja ayahnya adalah orang kaya yang mampu membelikan gadis kecil itu pakaian-pakaian bermerek dengan aksesoriis-aksesoris lucu lainnya, sehingga meskipun ia tidak mendapatkan dandanan dari seorang ibu seperti teman-temannya yang lain di sekolah, gadis itu masih terlihat tak kalah cantik dari mereka.

Su Min diam sejenak, memperhatikan satu kotak alat make-up miliknya. Kemudian dia kembali berbalik menatap Lauren. Gadis itu mendekat pada Lauren dan berjongkok, mensejajarnya tinggi tubuhnya dengan tubuh kecil Lauren, “Mianhae, aku tidak yakin alat make-up yang ku miliki itu boleh di gunakan pada pada anak kecil sepertimu atau tidak.” jawabnya, “Bagaimana kalau besok kita pergi ke salon, akan ku tanyakan pada mereka apakah jenis bahan yang terkandung dalam  alat make-up ku cocok untuk kulitmu.” Lanjut gadis itu.

“Yaksok?” Lauren menunjukkan jari kelingkingnya pada Su Min, membuat gadis itu untuk melakukan sebuah janji padanya.

“Geurom.” Kata Su Min sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada Lauren, menyetujui janji yang mereka buat bersama.

“Kau terlihat lebih cantik saat tertawa.” Ucap gadis kecil itu lagi yang membuat Su Min kembali memperlihatkan semburat senyum di wajahnya. Benar, Lauren memang benar-benar berbeda dari anak kecil lainnya, entah perbedaan itu memang karena sifat yang ia miliki, atau karena caranya memperlakukan gadis kecil itu yang berbeda dari kemarin daat mereka pertama kali bertemu.

Su Min memandangi Lauren yang juga tengah tersenyum padanya. Manis, dan ekspresi natural seorang anak kecil yang sedang bahagia. Mungkin dulu ketika ia masih Lauren, ia juga seperti ini, tersenyum dan tertawa senatural ini.

Gadis itu sedikit mengalihkan pandangannya, menatap rambut panjang Lauren yang tergurai ke bawah tanpa ikatan rambut sedikitpun. Sesaat di pegangnya beberapa helai rambut tersebut dan sedikit berpikir untuk mengucir rambut gadis ini agar terlihat lebih cantik. Tapi saat ia mulai merasakan betapa lembutnya rambut gadis kecil ini, di urungkan lagi niatnya.

Mengucir rambut terlalu sering akan membuat rambut sedikit rusak. Untuk itu ia kemudian segera berdiri dan mengambil sisirnya yang berukuran lebih kecil dan mengambil sebuah bando yang dihiasi sebuah pita di sisi sebelah kirinya. Disisirnya pelan rambut gadis itu dan mulai memasangkan bandonya di rambut Lauren.

“Cahh, kajja kita berangkat.” Ajaknya kemudian setelah selesai menasangkan bando pada rambut Lauren.

Su Min meraih sebuah jaket berbulu lembut yang sudah ia siapkan dan melapiskan jaket tersebut pada dalaman tanktop yang ia kenakan. Tak lpa gadis itu juga memasangkan sebuah kacamata besar dengan frame berwarna hitam untuk melindungi matanya. Saat ini musim semi sudah hampir berakhir dan musim panas sudah mulai mendekat, itu artinya akan lebih banyak angin musim panas yang berhembus dengan membawa sedikit debu sehingga ia harus melindungi kedua matanya yang sedikit sensitif itu.

“Kita ke taman Yongsan kan?” tanya Lauren sebelum mereka berangkat.

“Yongsan? Bukankah ada taman yang lebih dekat di daerah sini, kita bisa ke Dosan Park?”

Dosan Park adalah salah satu tama yang ada di Gangnam, letaknya cukup dekat dengan Cheongdam-dong, dimana saat ini mereka berada, dan juga cukup dekat dengan Apgujong, rumah Su Min. Sedangkan Yongsan Park, terletak di utara Sungai Han, lebih tepatnya di daerah Itaewon.

Bukan masalah jika mereka kesana, hanya saja posisinya saat ini mereka akan berjalan kaki. Mobil milik Su Min sedang di tahan oleh kedua orang tuanya, lalu naik apa mereka ke Yongsan? Taksi? Tidak mungkin, uang yang dimiliki Su Min saat ini di dompetnya benar-benar tipis, gadis itu bahkan tak sempat menyisihkan uangnya saat di Bandara kemarin sebelum kartu kreditnya di tarik oleh ayahnya.

“Kita bisa naik subway,” usul Lauren kemudian, “Aku dan bibi pengasuh sering naik subway kesana.”

“Subway?” Su Min terkejut ketika gadis kecil itu mengusulkan padanya untuk menggunakan subway. Bukannya dia ragu pada keamanan bekendara dengan transportasi umum, hanya saja selama ini ia tidak pernah menggunakan kendaraan seperti itu. Tapi, jika ini memang alasan mereka untuk menghilangkan kebosanan, bukankah ia patut untuk mencobanya?

Baiklah, anggap saja hari ini kau akan berpetualang, Su Min-ah. Kata gadis itu dalam hati.

Gadis itu kemudian membuka koneksi intrenet di ponselnya dan mulai mencari di jalur jalur subway yang ia butuhkan. Setidaknya ia harus berpindah jalur sebanyak dua kali yaitu di Chongshin dan juga Inchon sebelum kemudian ia sampai di Yongsan.

**

Su Min berjalan mengandeng Lauren di sampingnya. Saat ini mereka berada area Hongik University, yang tidak lain adalah merupakan kampus dimana Su Min saat ini terdaftar menjadi mahasiswa program Industrial Design disana.

Tadi mereka memang memutuskan untuk pergi ke taman Yongsan, dan beberapa saat yang lalu mereka memang berada di taman tersebut. Tapi ada satu hal yang baru diketahui Su Min, fakta mengapa Lauren tadi mengusulkan padanya untuk pergi ke Yongsan Park.

Menurut gadis itu, setiap sore menjelang malam seperti ini setiap hari ada seorang pria yang sering mengadakan sebuah konser kecil di tengah taman. Dan pria itulah yang ingin ditemui Lauren hari ini ketika mereka pergi ke Yongsan.

Tetapi nihil, ketika mereka sampai disana, orang yang dicari tersebut ternyata tidak melakukan konser hari ini. Sehingga kemudian pada akhirnya Su Min mengajak gadis kecil itu untuk pergi ke darah Hongdae.

Di Hongdae ini, setiap hari Jumat di bulan terakhir akan ada beberapa komunitas band indie yang ada di Korea mengadakan live music di jalanan kawasan perbelanjaan Hongdae. Selain itu, seingatnya beberapa mahasiswa satu universitas dengannya sering pula mengadakan live konser di dalam kampus saat hari minggu seperti ini.

Maklum saja, universitasnya, Hongik University memang terkenal sebagai universitas yang memiliki keunggulan di bidang seni dan juga desainnya, jadi untuk acara-acara musik seperti itu akan sangat mudah di temui disana.

“Waaah,, kau belajar di tempat ini?” kata gadis itu saat mereka mulai memasuki salah satu taman yang seringkali dijadikan tempat konser,ini termasuk tempat yang juga sering digunakan oleh teman-temannya penggila musik, seperti Junhyung, Gikwang, dan juga Minah ketika mereka ingin melakukan mini konser band mereka disini.

Su Min menatap ke sekeliling, melihat siapa saja pada hari ini yang akan melakukan live music di tempat itu tapi sepertinya dari semua orang yang ada di sini, ia tak menemukan teman-temannya, padahal mereka tak pernah melewatkan acara ini setiap minggu.

“Oh, igo, CHANYEOL-OPPA!!” teriak Lauren kemudian saat ia menemukan sosok yang tak asing lagi untuknya.

Lauren melepaskan tangan Su Min yang menggandengnya saat itu dan segera berlari menuju sosok yang ia panggil tadi. Sementara Su Min hanya diam ketika ikatan tangannya dengan Lauren terlepas. Pandangan matanya saat itu juga seolah kosong ketika melihat sosok lain yang berada cukup jauh darinya.

Pandangannya tertuju pada seorang pria yang hanya sempat ia lihat bagian punggungnya dan potongan rambut bagian belakangnya itu. Tapi tidak, gadis itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tidak mungkin itu Dujun, kekasihnya. Terlebih lagi saat ini, pria yang ia lihat itu sedang berjalan menggandeng mesra seorang wanita yang sepertinya tidak ia kenali.

 

*TBC*

 

 

2 Comments (+add yours?)

  1. ziajung
    Oct 14, 2014 @ 21:56:52

    gengsi sumin bikin gregetan X|

    Reply

  2. amoy
    Oct 07, 2016 @ 21:20:36

    Hmmmm…sepertinya ada aroma2 perselingkuhan nih.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: