MATCHMAKING [3/?]

MATCHMAKING [Part 3]

Author: Shin Hyeonmi

Park Jungsoo | Baek Su Min (OC) | Lauren Hanna Park | Yoon Dujun

Chapter | PG-17 | Romance

Rating: General

Tag: Park Jungsoo, Leeteuk

 

Note: I just hope readers will like this. Thanks for reading it (: And, I’ve published this before on my personal blog ( http://eunhaewife.wordpress.com/ ) Visit me if you have times^^ Happy reading^^

 

 

 

 

Jungsoo membuka pintu kamar Su Min, dan masih belum menemukan dimana sosok Su Min dan juga Lauren saat ini berada. Ia sudah mencari Lauren ke kamarnya, dan nihil, dan baru saja ia mencari mereka berdua ke kamar Su Min dan hasilnya sama.

Kemana dua orang itu pergi?

Tidak mungkin mereka pergi keluar bersama, karena karena ia yakin Su Min bukanlah sosok yang bisa dengan cepat bergaul dengan anak kecil seperti Lauren. Tapi kalau mereka tidak pergi bersama tentunya salah satu dari mereka pasti sudah berada disini.

Pria itu memutarkan pandangannya, mencari ke beberapa sudut rumahnya. Namun saat itu juga pandangannya terhenti pada selembar kertas yang berada di atas meja ruang tamunya. Segera ia berjalan mendekat pada kertas tersebut untuk meraihnya.

Seperti sebuah surat.

Diambilnya kemudian kertas tersebut membacanya, dari Su Min?

 

Aku pergi sebentar, kalau kau mencariku, hubungi aku di nomor ini.

 

Seketika itu ia teringat bahwa selama dua hari mengenal Su Min, mereka memang belum bertukar nomor ponsel masing-masing, jadi wajar jika saat ini gadis itu meninggalkan sebuah pesan dalam surat seperti ini.

Segera ia mengambil ponselnya dari dalam saku dan mulai mengetikkan nomor yang di tuliskan Su Min pada pesannya.

Yoboseyo. Jawab gadis itu di telepon.

“Ini aku Jungsoo, apa kau pergi bersama Lauren?”

Ahh, kau Jungsoo-ssi. Ne, aku bersama Lauren sekarang.

“Dimana kalian? Ini sudah hampir malam.” Kata pria itu setelah melihat jarum jam yang telah menunjukkan pukul lima sore.

Aku di kampusku. Kami menonton live musik disini. Kalau kau tidak keberatan, bisakah kau menjemput kami, sepertinya itu akan lebih baik daripada kami naik subway lagi.

“Baiklah, aku akan kesana.”

Pria itu menutup teleponnya dan segera menyambar kunci mobilnya dan berjalan keluar lagi dari rumahnya untuk menjemput Lauren dan juga Su Min. Dalam hati sebenarnya ia masih cukup terkejut dan tak menyangka jika mereka berdua benar-benar pergi bersama.

Bukankah Su Min itu cukup keras? Dan lagi semalam, secara terang-terangan padanya ia mengaku bahwa tak begitu menyukai anak kecil. Atau mungkin dia melakukannya agar semuanya impas, dalam artian ini adalah sebagai bentuk balasan yang dilakukan Su Min jika ia benar-benar membatalkan usaha perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka.

Baiklah, jika memang itu yang diinginkan oleh Su Min, ia akan benar-benar melakukannya, lagi pula untuk apa ia harus menikahi seseorang yang tidak mencintainya? Bukankah dulu ia juga pernah menjalani sebuah pernikahan yang di dasarkan pada cinta satu sama lain, tapi hasilnya adalah sebuah rasa sakit. Lalu apa jadinya jika kali ini ia menjalani pernikahan tanpa rasa cinta, bukankah itu akan lebih mengerikan?

Pria itu segera masuk dan menyalakan mesin mobilnya, menjalankan mobil tersebut untuk membelah jalanan Gangnam, menuju universitas Su Min yang berada di Hongdae. Dalam perjalanan ia kembali teringat, ketika pertama kali melihat sosok Su Min dalam acara makan malam tersebut.

Sosok gadis yang ia pikir terlalu idealis dan juga sangat apathis. Tapi sejak kemarin ia bisa melihat sisi lain yang tak terlihat, yang di miliki Su Min. Ketika gadis itu menangis, ia pikir keindivualisan yang dimiliki oleh Su Min akan membuatnya berusaha menyembunyikan tangisnya agar tak diketahui orang lain, tetapi tidak untuk semalam.

Dan lagi, fakta yang baru saja ini, ketika gadis itu benar-benar memenuhi permintaannya untuk berbuat sedikit lebih baik pada Lauren, ternyata ia juga melakukannya.

**

Su Min memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dan segera melihat ke sekelilingnya lagi, mencari sosok pria yang ia lihat mirip seperti Dujun tadi. Tapi terlambat sepertinya sosok itu sudah pergi meninggalkan tempat ini, dan Su Min tak sempat mengikuti kemana perginya karena baru saja konsentrasinya sedikit terhalang karena telepon dari Jungsoo.

Jungsoo?

Ahh, benar, bukankah baru saja pria itu menanyakan Lauren?

Gadis itu segera menatap jari-jari tangannya dan baru menyadari bahwa genggaman tangannya pada Lauren telah terlepas. Ia kembali menatap ke sekeliling dan mencoba mencari kemana gadis kecil itu berlari.

Dilangkahkannya kakinya mencari gadis itu, dan seketika itu juga perasaan panik mulai menyelimutinya. Bagaimana jika gadis kecil itu hilang? Bukankah ia yang membawa Lauren ke tempat ini, jadi sudah barang pasti saat ini ia membawa tanggung jawab atas Lauren.

Selain itu apa yang harus ia katakan pada Jungsoo jika ia benar-benar kehilangan Lauren?

Tapi kepanikannya segera terhenti ketika mendapati sosok gadis kecil tersebut sedang berada di sebelah panggung kecil yang di tempatkan di tengah-tengah taman. Dengan cepat ia kembali melangkahkan kakinya mendekat ke tempat dimana Lauren saat itu berada.

“Aku mencarimu ke taman Yongsan tadi.”

Pelan Su Min dapat mendengarkan suara Lauren yang tengah mengobrol dengan seorang pria kurus, tinggi, dan berkacamata itu.

Dilihatnya baik-baik sosok tersebut, sepertinya tidak cukup asing untuknya. Sepertinya pria itu mahasiswa di kampus ini juga, lagipula saat ini pria itu sedang membawa sebuah gitar di tangannya dan sepetinya sedang bersiap untuk tampil di acara ini.

Tapi bagaimana ia bisa mengenal pria itu? Tidak mungkin pria ini adalah mahasiswa satu jurusan dengannya. Karena di jurusannya hanya ada sedikit mahasiswa pria, tentu saja itu karena jurusan yang ia ambil adalah desain, dimana kebanyakan mahasiswa berjenis kelamin perempuanlah yang mengambil ini.

“Imo… Ternyata kalian kuliah di tempat yang sama.” Kata Lauren padanya seakan tak menyadari bahwa baru saja gadis kecil itu telah membuat Su Min khawatir karena takut kehilangannya.

“Oh, Su Min-ssi.”

Su Min menoleh pada lelaki tersebut yang tengah sedikit membungkukkan badannya, memberikan salam hormat pada gadis itu.

“Kau mengenalku?”

Pria itu tak langsung menjawabnya, dan sedikit tersenyum pada Su Min,  “Tentu saja, kau tidak ingat aku? Semester ini kau mengambil mata kuliah umum di kelasku.” Jawabnya.

Gadis itu berpikir sejenak, pada semester ini ia hanya mengambil satu mata kuliah umum, “Kau mahasiswa Post Modern Music?” tanyanya kemudian.

“Ne, Park Chanyeol imnida.” Jawab pria itu memperkenalkan diri.  Su Min ikut membungkukkan badannya sesaat, membalas Chanyeol.

Seketika gadis itu berpikir, mengapa ia harus melakukan hal ini? Bukankah biasanya ia hanya menanggapi setiap orang itu dengan cuek. Ah molla.

“Bagaimana bisa kau datang bersama dengan Lauren?” tanya pria itu kemudian membuatnya sedikit bingung harus menjawab seperti apa.

Faktanya ia datang kesini karena sejak kemarin ia menumpang tinggal di rumah Lauren. Alasannya bisa tinggal di rumah tersebut adalah karena rencana perjodohan yang dilakukan orang tuanya padanya dan juga Jungsoo, ayah Lauren. Tapi tidak mungkin bukan ia menjawab demikian, karena jika pria ini tau mengenai hal itu maka mungkin saja berita ini akan menyebar dan berimbas pada hubungannya dengan Dujun.

Dujun?

Seketika itu juga ia kembali teringat pada seseorang yang ia lihat tadi. Seseorang yang sekilas nampak mirip sekali dengan kekasihnya itu. Tapi tidak mungkin, gadis itu masih menolak keras bahwa sosok yang ia lihat tadi adalah Dujun.

“Dia saudaraku.” Kata gadis itu kemudian menjawab pertanyaan Chanyeol.

“Saudara?” pria itu tampak sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Chanyeol, tapi ketika ia baru saja mau melanjutkan pertanyaannya, seseorang di belakang panggung sudah memanggilnya. Sepertinya itu adalah salah satu panitia yang mengurusi persiapan konser. “Ahh, mian, aku harus segera tampil.” Kata pria itu kemudian meninggalkan Su Min dan juga Lauren untuk bersiap-siap.

Su Min kembali menggandeng tangan Lauren dan membawa gadis kecil itu menuju salah satu kursi penonton yang berada di deretan paling depan. Sempat gadis itu merasakan risih ketika beberapa pasang mata yang datang pada acara tersebut memperhatikannya yang sedang membawa seorang anak kecil.

“Apa dia orang yang kau cari di taman Yongsan tadi?” tanya Su Min pada Lauren ketika mereka telah sampai di kursi penonton yang di tuju.

Lauren mengangguk dan kemudian tersenyum padanya, “Biasanya Chanyeol-oppa bermain gitar di taman Yongsan.” Jawab gadis itu. “Chanyeol-oppa sangat hebat bermain gitar.” Lanjutnya kemudian.

“Benarkah? Baiklah kita lihat sebentar lagi sehebat apa kemampuannya.” Jawabnya kemudian.

Untuk sesaat Su Min kembali memusatkan perhatiannya menatap Chanyeol yang saat ini sedang bersiap diatas panggung dengan membawa serta gitarnya. Seketika ia kembali teringat moment ketika dia sedang menonton penampilan Junhyung-oppa, Gikwang, dan juga Minah di panggung ini.

Hanya saja biasanya ia datang ke tempat ini bersama dengan Dujun, Jongin, dan juga Hyunah. Mereka berempat biasanya memberikan semangat pada ketiga temannya yang melakukan perfom di tempat tersebut, dan kali ini ia bersama Lauren memberikan semangat untuk Chanyeol.

Su Min seketika terdiam ketika Chanyeol mulai memetika senar gitarnya hingga menimbulkan suara melodi yang indah. Officially Missing You, salah satu lagu milik Tania yang sudah banyak dibuat versi covernya di Korea. Dan saat ini pria itu bersama grupnya membawakan lagu tersebut dengan diiringi gitar akustik.

Lagi gadis itu terhenyak saat menyaksikan penampilan pria itu yang mulai menambahkan beberapa rap di lagu tersebut. Benar-benar keren, sepertinya pria ini adalah campuran antara Gikwang dan juga Junhyung-oppa, katanya dalam hati. Minah adalah vokalis utama di band yang di bentuk oleh Junhyung, Gikwang bertugas memainkan gitar, dan Junhyung-oppa yang memainkan keyboard sekaligus rapper utamanya. Dan saat ini, dua posisi yang dilakukan oleh temannya itu dipegang sendiri oleh pria bernama Chanyeol ini.

**

“Oppa, kau hebat.”

Gadis kecil itu segera berlari kembali ke arah Chanyeol ketika pria bertubuh jangkung itu telah selesai melakukan penampilannya. Sementara Su Min hanya mengikuti Lauren dari belakang, memastikan bahwa gadis kecil itu masih aman dalam jangkauannya.

“Eih, gomawo Lauren-ah.” Pria itu berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Lauren, di cubitnya pelan pipi gadis kecil itu karena terlalu gemas pada senyuman manis khas anak kecil yang di tunjukkan Lauren. Tak lama setelahnya, ia memalingkan pandangannya sejenak dan menatap Su Min yang berada tak jauh dari mereka.

“Penampilanmu bagus.” Puji gadis itu kemudian.

Selama ini ia hanya menganggap bahwa teman-teman dekatnya adalah yang terbaik. Ia selalu menutup pergaulannya dan hanya memandang kelompoknya adalah yang paling sempurna dan tak mau sedikit melihat bahwa di luar ada banyak orang lain yang memiliki keahlian yang lebih dari mereka.

Dan saat ini ketika ia menyaksikan semua itu sendiri, akhirnya ia benar-benar sadar betapa buruknya dirinya selama ini, yang tak pernah sedikitpun berusaha untuk memandang orang lain itu dengan kelebihan mereka.

“Oh, HYUNG !!” Tiba-tiba saja pria bernama Chanyeol tersebut berteriak keras memanggil seseorang.

Lauren menoleh sesaat pada orang yang di panggil oleh Chanyeol tersebut, dan turut memanggilnya dengan keras, “APPA!!” panggilnya.

Su Min menolehkan pandangannya menatap sosok yang dipanggil oleh Chanyeo dan juga Lauren. Pria itu, Park Jungsoo berjalan menghampiri mereka dengan dandanan khas seorang CEO. Kancing-kancing kemeja di tubuhnya memang masih utuh, hanya bagian atasnya saja yang sudah terlepas. Dan juga rambutnya yang sengaja dibuat melayang ke atas karena efek gel yang ia gunakan seolah makin menambah poin plus pada pria itu.

Untuk sesaat, harus diakui bahwa pria itu benar-benar telah mencuri perhatian Su Min, tapi itu hanya beberapa saat. Tidak lebih, dan segera setelahnya gadis itu mengembalikan pikiran sadarnya bahwa pria ini tidak mungkin ia sukai.

Tunggu, gadis itu mengingat-ingat kembali apa tadi yang dikatakan Chanyeol saat memanggil Jungsoo tadi, Hyung? Gadis itu mencoba mengingat-ingat kembali nama lengkap yang disebutkan pria ini ketika mereka berkenalan tadi, Chanyeol? Park Chanyeol? Park?

Apakah pria ini memiliki hubungan dengan Jungsoo?

“Tunggu,” kata Su Min sambil menepuk lengan Chanyeol pelan, membuat pria itu sedikit bertanya, “Apa hubunganmu dengan Jungsoo dan juga Lauren?” tanya gadis itu.

“Ah, Chanyeol-ah, kau disini hari ini?” Belum sempat Vhanyeol menjawab pertanyaan Su Min, Jungsoo sudah terlebih dahulu menyapanya dengan senyuman di wajahnya yang memperlihatkan dimple di bagian pipinya.

“Dia Chanyeol, putra pamanku yang saat ini tinggal di menetap di Jepang.” Jungsoo memperkenalkan pria itu kembali pada Su Min.

Seketika itu juga Su Min seolah mendapatkan benturan yang keras tepat mengenai dadanya. Ige mwoya? Pria ini masih memiliki hubungan saudara dengan Jungsoo dan tadi ia sempat mengatakan sebuah kesalahan dengan memperkenalkan dirinya sebagai saudara dari Jungsoo.

“Ne, anyyeonghaseo.” Kata Chanyeol, “Hyungsoo-nim (kakak ipar)?” lanjutnya sambil melirik sesaat pada Jungsoo memastikan panggilan yang ia ucapkan pada Su Min dan kemudian tersenyum pada gadis itu.

“Mworago?”

Tidak ini tidak benar, kata gadis itu berulang-ulang dalam hati. Semalam ia dan Jungsoo telah membuat kesepakatan untuk  membatalkan perjodohan ini, dan jika saat ini Chanyeol mengira ia adalah calon istri dari Jungsoo bahkan sampai memanggilnya dengan sebutan itu, maka ia salah besar.

“Aniyo, Chanyeol-ah.” Melihat reaksi yang diperlihatkan Su Min tadi mau tidak mau membuat Jungsoo mendekat pada Chanyeol dan menepuk pundak pria itu pelan, sebelum membawa pria itu berjalan sedikit lebih jauh dari Lauren.

Ada sesuatu hal yang harus ia perjelas pada Chnayeol tentang pembatalan pertunangan yang telah ia sepakati dengan Su Min kemarin. Rencana perjodohan itu memang masih belum di batalkan sepenuhnya, tetapi yang perlu diingat perjodohan itu juga belum benar-benar dilaksanakan sampai sekarang. Dan lagi, ia hanya tidak ingin jika berita ini sampai terdengar oleh Lauren, anaknya. Karena semua kemungkinan bisa saja terjadi dan Jungsoo tidak ingin membuat putrinya itu nanti akan merasakan bahagia hanya saat ini dan nantinya ia akan merasakan putus asa karena pembatalan tersebut.

**

Next Day

 

Su Min berdiri menyandarkan punggungnya pada sebuah pintu di depan ruang kuliah. Gadis itu menunduk sambil menghentak-hentakkan pelan heels yang terpasang di kedua kakinya.

Hari ini masih cukup pagi untuk dimulainya mata kuliah pertama yang ia ikuti. Berbeda dengan biasanya ketika ia masuk kuliah, dimana ia lebih sering datang terlambat ketika dosen telah mulai menjelaskan tentang kuliah daripada menunggu terlalu pagi seperti ini. Ini semua karena tidak ada mobil yang biasa ia kendarai dan lagi karena ia menumpang tinggal di rumah Park Jungsoo sehingga ia harus mengikuti jadwal si pemilik rumah yang berangkat pagi mengantarkan Lauren ke sekolahnya dan juga berangkat pagi ke kantor.

Sebenarnya ia masih bisa sambil menunggu perkuliahan ini di studio milik Junhyung-oppa, tapi sekali lagi ia teringat atas insiden yang ia temui kemarin, Park Chanyeol. Su Min hanya perlu meyakinkan bahwa pria itu bukanlah termasuk pria bermulut besar yang akan menyebar luaskan berita yang ia dengar, termasuk berita perjodohan dirinya dengan Park Jungsoo.

Tidak, semoga saja tidak.

Jika sampai berita itu menyebar di kalangan kampus, bukankah hubungannya dengan Dujun juga akan ikut terancam?

Yoon Dujun?

Nama itu kembali ia ucapkan dalam hatinya, tapi mengapa sepertinya ada hal yang lain dan berbeda ketika ia meyebutkan nama itu kali ini. Tidak seperti biasanya ketika ia mengatakan nama itu, bahkan hatinya masih bergetar. Tapi mengapa kali ini tidak?

Apakah mungkin ini karena apa yang ia lihat kemarin? Tidak mungkin, itu hanya seseorang yang berpostur tubuh mirip dengan Dujun, sekali lagi ia mencoba meyakinkan hatinya.

Dujun tidak mungkin mengkhianatinya. Kalaupun dalam hubungan mereka ada sebuah pengkhiatan, maka bukankah itu lebih tepat diarahkan padanya, karena saat ini ia bahkan tengah berada dalam sebuah rencana perjodohan yang dibuat oleh orang tuanya.

Gadis itu tersenyum, mengingat berbagai kenangan yang ia lalui bersama Dujun. Mungkin ini sudah tahun keempat ia melewati hari-harinya bersama pria itu. Dujun, meskipun pria itu bukanlah yang pertama mengisi hatinya tapi setidaknya sampai saat ini ia merasakan perasaan yang nyaman bersama pria itu.

Jika orang melihat kebiasaan Dujun yang juga sering menghabiskan malam dengan clubbing maka mereka akan menganggap pria itu bukanlah pria yang baik apalagi bertanggung jawab. Tapi itu salah, dibandingkan mantan kekasihnya yang lain, Dujun adalah yang terbaik. Ia ingat bagaimana di awal hubungan mereka dulu, Dujun sempat melindunginya mati-matian dari Jinyoung, mantan kekasihnya yang hampir saja menyesatkan Su Min untuk mencoba obat-obatan terlarang.

“Hyungsoo-nim?”

Su Min tersadar dari lamunannya saat mendengar suara seorang pria memanggilnya. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menemukan wajah Chanyeol yang berdiri di ujung pintu tak jauh dari tempatnya.

“Ya, bisakah kau kecilkan suaramu?” kata gadis itu sambil memukul lengan Chanyeol sedikit keras, ditengokkannya wajahnya ke kiri-kanan kemudian memastikan bahwa saat ini tidak akan ada orang lain yang dapat mendengarkan mereka, “Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu.” Lanjutnya lagi.

Gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kelas, menuju sebuah kursi yang terletak paling pojok dimana tempat itu terlihat paling sepi diantara bagian ruang kelas yang lain.

“Jangan memanggilku dengan sebutan itu.” Kata gadis itu lagi setelah memperhatikan ke sekelilingnya aman dan tidak akan ada orang yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua, “Perjodohan itu akan segera di batalkan, dan kau pasti sudah tau bahwa aku memiliki kekasih.” Lanjutnya.

“Kau masih berhubungan dengan pria itu?” kata pria itu sedikit terkejut.

Su Min menangkap reaksi yang diperlihatkan Chanyeol dan merasakan aura yang sedikit berlebihan darinya. Pria itu? Iya pria itu memang Dujun yang dimaksud, dan sepertinya seluruh mahasiswa yang mengambil pendidikan di Hongik University ini sudah tau bahwa kekasih Dujun adalah dirinya.

Lalu apa salahnya? Mengapa pria bernama Park Chanyeol ini begitu terkejut ketika mengetahuinya masih berpacaran dengan Dujun? “Wae? Waeyo? Apa ada yang salah?” tanya gadis itu.

Hening seketika itu juga tercipta, bebrapa saat kemudian Chanyeol membuka mulutnya, berniat untuk mengatakan sesuatu hal yang lain, tetapi sekali lagi ia urungkan. Tentu saja melihat tingkah pria itu yang seperti ini membuat Su Min menjadi curiga. Tetapi kemudian gadis itu mencoba menghapuskan rasa curiganya.

**

“Dujun-ie !!” Junhyung menaikkan sedikit tempo suaranya ketika saat ini ia tengah berada dalam sebuah pembicaraan telepon dengan Dujun, “Kuperingatkan kau, jangan pernah mempermainkan Su Min.” Gertak pria itu kemudian.

Junhyung segera berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat pada sebuah jendela kecil yang menjadi salah satu bagian ventilasi udara di studionya. Tangannya mengepal, menandakan saat ini emosinya tengah beranjak naik, membuat Hyunah yang berada di tempat itu bersama dirinya segera berdiri mendekat padanya dan mulai mencoba menenangkan pria itu.

“YAK, YOON DU !!”

Tuuut…..

Belum sempat pria itu menyebutkan nama lengkap Dujun tetapi suara telepon di seberang telah di tutup terlebih dahulu, membuatnya semakin kesal pada apa yang baru saja mereka coba bicarakan.

“Oppa, cobalah berfikir dengan kepala dingin.” Bujuk Hyunah padanya. Tapi pria itu masih diam seakan tak mendengarkan apapun yang coba dikatakan Hyunah padanya.

Faktanya Hyunah adalah teman masa kecil Dujun, jadi apapun yang saat ini terjadi sudah barang pasti gadis itu akan lebih memihak pada Dujun. Sedangkan baginya, Su Min sudah seperti adiknya sendiri, dan kakak mana yang akan tinggal diam ketika merasakan sesuatu yang tidak beres akan terjadi pada adiknya.

Penyesalan itu telah datang. Sebuah rasa yang Junhyung harap tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya ketika  merelakan seseorang yang ia sayangi layaknya adik itu benar-benar mengatakan bahwa dirinya telah berkencan dengan sahabatnya, Dujun.

Ini yang ia takutkan sejak dulu, ketika sosok yang telah ia anggap sebagai adiknya itu berkencan dengan sahabatnya dan suatu saat hubungan mereka tengah mengalami suatu ujian. Dimana ia harus memihak? Pada adiknya kah? Atau pada sahabatnya? Dua-duanya adalah sosok yang penting untuknya, akan tetapi ia juga tidak bisa memihak salah satu bukan.

“Aku yakin, saat ini Dujun-oppa pasti juga sedang mencari jalan yang terbaik.” Ucap Hyuna lagi.

“Apa kau yakin?”

Pria itu mengerutkan keningnya sesaat menatap Hyunah yang mencoba untuk meyakinkannya. Tentu saja gadis itu akan lebih memihak pada sisi sebelah Dujun, karena latar belakang mereka yang cenderung sama. Su Min dan Hyunah mungkin adalah sosok yang sama dalam geng mereka, dimana Su Min adalah sosok yang sudah ia anggap sebagai adik dan Hyunah adalah sosok yang juga telah dianggap sebagai adik oleh Dujun.

“SURPRISE.” sempat Hyunah menjawab kembali pertanyaan Junhyung padanya, seseorang telah terlebih dahulu membuka pintu studio tersebut.

Hyuna membalikkan tubuhnya, dan terkejut menatap sosok yang baru saja datang tersebut, “Su..Su Min?” ucapnya terbata-bata.

Su Min? Baek Su Min? Tidak salahkan apa yang mereka berdua lihat saat ini, bahwa gadis itu berada di Korea. Jumat lalu dia mengatakan akan pergi ke Amsterdam bersama kedua orang tuanya, tapi saat ini gadis itu berada di kampus.

“Wae? Tentu saja ini aku Baek Su Min?” jawab gadis itu, “Aku tidak jadi ke Amsterdam.” Lanjutnya.

Terkejut? Mungkin tidak seharusnya mereka terkejut ketika mendapati teman mereka berada di sini, tapi faktanya yang terjadi saat ini berbeda. Seandainya saja saat ini mereka tidak menyembunyikan sesuatu dari gadis itu mungkin mereka takkan sepanik ini tapi semuanya berbeda.

Su Min maju beberapa langkah sambil memperhatrikan seisi ruangan, kemudian berbalik dengan cepat menatap Junhyung dan Hyuna yang masih terkejut dengan kehadirannya. Sesaat gadis itu tertawa karena berhasil membuat dua orang yang ada di hadapannya seperti ini,“Kenapa sepi sekali?” tanyanya, “Dimana Dujunku?” lanjutnya bertanya.

Dujunku? Mendengar kata itu, bagi Junhyung rasanya seperti sebuah pisau yang menggores permukaan tubuhnya. Perihnya begitu terasa, tapi saat ini ia hanya bisa memendam rasa perih itu jauh di dalam lubuk hatinya.

“Ah, mungkin dia sedang ada kelas?” jawab Hyunah asal.

Gadis itu tertawa saat mendengar jawaban Hyunah yang terkesan sangat mengada-ada tersebut, bahkan saat ini ia masih bisa merasakan bahwa Hyuna menjawab pertanyaanya seperti seseorang yang tengah ketakutan, “Gotjimal, hari ini dia tidak ada kelas.” kata Su Min sambil merebahkan dirinya pada sofa yang terpasang di salah satu sudut ruangan.

Empat tahun menjalin hubungan bersama dengan Dujun sudah cukup pasti membuat Su Min mengetahui segala jadwal yang dimiliki pria itu, termasuk jadwal kuliahnya. Dan hari ini, ia ingat betul bahwa pria itu tak memiliki jadwal apapun.

“Ah, jinja? Mianhae Su Min-ah, aku harus segera pergi.” Jawab Hyunah lagi dengan terburu-buru meninggalkan Su Min dan Junhyung di dalam.

Su Min memperhatikan tingkah aneh yang diperlihatkan Hyunah sejak tadi. Mungkinkah sesuatu tengah terjadi karena yang ia lihat tadi gadis itu sangat terkejut melihatnya. Sesaat kemudian gadis itu mendapatkan ide lain. Bukankah saat ini Dujun juga belum mengetahui tentang batalnya ia pergi ke Belanda? Sepertinya akan menarik jika ia membuat pria itu terkejut juga.

Segera diambilnya ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan pada Dujun,

 

Segeralah ke studio, aku menunggumu.

 

Send. Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap Junhyung yang saat ini telah berpindah tempat, duduk di sebuah kursi dimana di depannya saat ini sudah berjejer berbagai tombol-tombol yang digunakan untuk mengaransemen lagu.

Su Min mendekap pada Junhung dan memeluk pria itu dari belakang. Sepertinya seluruh bebannya telah pergi begitu saja ketika melakukan hal ini. Dieratkannya kembali kaitan tangannya di leher Junhyung dan semakin ia hirup kuat aroma parfum Junhyung yang dapat ia rasakan di punggungnya.

“Oppa, apa yang harus ku lakukan.” Gadis itu membuka suaranya.

Rasanya ia ingin mengatakan seluruh penat yang beberapa hari ini memenuhinya, tetapi ia tidak yakin mampukah Junhyung menerima dan mendengarkan seluruh masalahnya ini?

Tidak. Junhyung pasti akan mendengarkannya, kata gadis itu dalam hati. bukankah selama ini pria ini adalah kakak terbaiknya? Jadi tentu saja ia akan mendengarkan seluruh masalah yang Su Min katakan.

“Waeyo?” kata pria itu sambil perlahan melepaskan ikatan tangan Su Min padanya.

Junhyung berdiri dan menggandeng tangan Su Min, membawanya untuk duduk pada sebuah sofa panjang yang sering ia gunakan untuk bersantai dan mendengarkan curahan hati Su Min.

“Jangan menertawakanku, Yaksok?” gadis itu menunjukkan jari kelingkingnya pada Junhyung, meminta pria itu untuk melakukan sebuah janji padanya.

Junhyung menautkan jari kelingkingnya kemudian, mengiyakan permintaan Su Min untuk tidak menertawakan apa yang akan diceritakannya.

“Appa dan Eomma meninggalkanku di Korea sendiri dan menitipkanku di rumah seseorang yang mereka jodohkan untukku.”

“Mwo, perjodohan?”

Su Min mengangguk dan kemudian memandangi wajah Junhyung, menunggu respon pria itu selanjutnya yang mungkin saja akan menertawakannya. Tapi tidak, justru saat ini Junhyung terlihat bingung dan tak tau harus berkomentar apapun, “Kau tidak menertawakanku?” tanyanya kemudian.

Tidakkah ini lucu untuk kalangan anak muda seperti mereka. Zaman ini sudah cukup modern, terlebih bagi masyarakat kota yang tinggal di daerah elit semacam Gangnam sepertinya, tetapi apa yang dilakukan orang tuanya dengan melakukan sebuah perjodohan, tidakkah itu sangat kampungan?

Untuk itulah, gadis itu sangat berhati-hati sebelumnya ketika ingin menceritakan hal ini pada Junhyung, terlebih lagi pada teman-temannya. Ia hanya tidak ingin menjadi bahan ejekan karena tingkah kedua orangtuanya ini.

Junhyung menggelengkan kepalanya, kemudian menatap Su Min, “Bukankah kau bilang aku tidak boleh menertawakanmu?” jawabnya kemudian tersenyum dan mengacak-acak rambut gadis itu sebelum kemudian kembali ke kursinya sebelumnya dan mulai mengaransemen lagi.

Su Min masih membeku setelah memperhatikan seluruh tingkah laku Junhyung padanya. Seperti ada yang salah, mengapa pria itu hanya menuruti permintaannya yang tidak memperbolehkannya tertawa. Dan lagi, ia kembali teringat bagaimana tadi Junhyung dan Hyuna begitu terkejut saat melihatnya, seperti ada hal lain yang coba mereka sembunyikan.

Gadis itu tersadar beberapa saat kemudian saat merasakan ponselnya bergetar, dilihatnya layar ponsel itu yang seketika itu juga membuatnya tersenyum karena satu nama yang meneleponnya kala itu, Yoon Dujun.

“Yoboseyo?”

Yeobo, kau di Korea? Bukankah kemarin kau bilang akan pergi ke Amsterdam?

Su Min tertawa sebelum kemudian menjawab pertanyaan pria itu, mendengarnya begitu panik mengetahui bahwa ia sedang berada di Korea benar-benar membuatnya puas, “Ani, aku tidak jadi kesana.”

Wae?

“Tidak ada apa-apa. Kau dimana?”

Gadis itu dapat mendengar suara Dujun yang sedang bingung, Aku.. emm, aku sedang ada urusan di luar. Apa kau ingin aku menjemputmu sekarang?

Baru saja gadis itu akan membuka mulutnya, mengiyakan perkataan Dujun untuk menjemputnya, tetapi kemudian diurungkannya niatannya itu. Ia hanya ingin berjaga-jaga agar Dujun tak menawarkannya tumpangan mobil hari ini, mengingat pagi ini ia tidak membawa kendaraan pribadi ke kampus. “Tidak perlu, sepertinya kau sedikit sibuk. Lanjutkan saja pekerjaanmu sekarang.” Jawabnya kemudian.

Jika saja saat ini ia diberikan kunci rumah dan bisa pulang ke rumahnya, maka ia tidak akan membuang penawaran Dujun tadi. Faktanya saat ini ia begitu merindukan pria itu, ia ingin memeluk pria itu, mendapatkan kehangatan dari tubuh lelaki yang ia sayangi, hanya saja saat ini ia belum siap jika nantinya Dujun akan mengetahui fakta perjodohannya. “Emm, yeobo, apa kemarin sore kau pergi ke kampus?” tanyanya hati-hati.

Waeyo?

Gadis itu hanya ingin memastikan bahwa orang yang dilihatnya kemarin bukanlah Dujun kekasihnya. Dan itu memang tidak mungkin Dujun.

“Aniyo, sepertinya kemarin aku melihat seseorang yang mirip denganmu, tapi tidak mungkin itu kau, karena yang kulihat kemarin orang itu bersama dengan wanita lain.” Katanya, “Baiklah, kau lanjutkan saja dulu pekerjaanmu. Hubungi aku kalau sudah selesai. Saranghae.” Lanjut gadis itu sebelum menutup teleponnya.

Su Min memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan kembali mendongakkan wajahnya saat menyadari bayangan Junhyung yang saat ini berada di hadapannya. Pria itu berdiri tepat di depan Su Min dengan wajah yang tampak gusar, seperti ada hal yang ingin ia katakan, tetapi disisi lain bibirnya seolah tak bisa mengatakan hal itu.

“Waeyo oppa?”

Junhyung masih ragu dan segera berbalik ke kursinya, “Aniyo” selanya kemudian sambil membalikkan tubuhnya untuk kesekian kalinya menghadap Su Min, “Kau bilang kemarin melihat seseorang yang mirip dengan Dujun bersama dengan wanita lain?” tanyanya hati-hati.

“Ne, tapi itu tidak mungkin Dujunku bukan?” jawab Su Min santai, segera ia berdiri dan berniat untuk kembali, “Baiklah, aku harus segera kembali sekarang, apa kau sibuk?” tanyanya.

Pria itu menggeleng karena memang saat ini ia tidak terlalu sibuk, sedari pagi ia hanya menyibukkan dirinya dengan meng-compose musik tetapi sejauh ini ia belum menghasilkan satupun melodi yang tepat.

“Bisa antarkan aku pulang? Bukan di Apgujeong, tapi di Cheongdam.” Kata Su Min.

**

Hyunah membalikkan tubuhnya yang tadi sibuk menatap langit siang hari dari balik kaca jendela kamar apartemen Dujun. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dan menatap tajam ke arah pemilik kamar tersebut yang tengah terduduk lemas di pinggir ranjangnya.

“Benarkan kataku? Aku tidak berbohong.”

Dujun masih diam menggenggam ponsel di tangan kanannya, semantara tangan kirinya mulai bergerak naik memijat-mijat dahinya yang seperti akan segera pecah saat ini. Belum selesai ia meyakinkan sahabatnya, Junhyung, tetapi masalah lain saat ini sudah datang terlebih dahulu menyerangnya.

Beberapa menit yang lalu, setelah ia menutup telepon dari Junhyung, sebuah pesan singkat masuk ponselnya. Sebuah pesan dari seseorang yang sudah tiga tahun terakhir ini berstatuskan diri sebagai kekasihnya.

Menit berselang berikutnya, Hyunah datang dengan membawa kabar lain yang lebih mengejutkan baginya. Su Min tidak jadi terbang ke Amsterdam, gadis itu berada di Korea.

Entah apa yang ia rasakan saat ini, harusnya sebagai seorang kekasih ia merasakan senang karena saat ini ia dan wanitanya tidak dipisahkan oleh jarak negara. Tetapi faktanya sebuah hal yang selama ini telah ia sembunyikan dari gadis itu membuatnya benar-benar tak bisa merasakan senang dengan kehadiran gadis itu di Korea saat ini.

“Oppa?” panggil Hyunah lagi padanya.

Tapi pria itu masih diam dan berkutat dengan pemikirannya sendiri. Ia mencoba mencari penyelesaian lain tapi mengapa tak satupun penyelesaian itu terbesit dalam pikirannya.

“Oppa..”

“Diamlah, bisakah kau temani Gayoon berjalan-jalan? Berikan aku waktu untuk berpikir semua ini terlebih dahulu.”

Gadis itu tak menjawab, hanya saja segera ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Dujun dan menuruti apa yang dikatakan pria itu.

Saat ini memang yang paling dibutuhkan oleh Dujun adalah berpikir dalam suasana yang benar-benar tenang agar dia juga bisa dengan cepat menemukan jalan keluar dari semua masalah ini. Masalah yang apabila dibiarkan begini saja sedikit demi sedikit akan menghancurkan persahabatan mereka berenam.

**

Lauren dengan lemas berjalan keluar dari ruang kelasnya. Saat-saat seperti ini adalah moment yang paling ia benci sepanjang hidupnya. Pulang sekolah, ketika teman-temannya yang lain telah dijemput oleh orangtuanya masing-masing dan ia hanya dijemput oleh bibi pengasuhnya selama ini.

Terlebih hari ini adalah hari Senin dimana seluruh teman-temannya pasti akan di jemput oleh ibu mereka masing-masing, kecuali Lauren yang hanya memiliki satu orang tua yaitu Appa. Lagipula jika bukan hari Sabtu, maka ayahnya juga takkan pernah menjemputnya ke sekolah karena dia tau bahwa ayahnya sedang sibuk bekerja di kantor.

Selama enam tahun gadis itu hidup, ia tak pernah mengenal sosok Ibunya. Seperti apa wajahnya, seperti apa suaranya, semua itu tak pernah ada dalam bayangannya. Mungkin ia pernah tertidur dalam gendongan ibunya, mungkin ia juga pernah terlelap dalam nyanyian sang Ibu, tapi semua itu mungkin terjadi ketika ia masih berumur beberapa bulan yang mana untuk saat ini moment-moment seperti itu tak akan pernah membekas dalam ingatannya.

Sejenak gadis itu teringat pada apa yang diucapkan Chanyeol-oppa kemarin, ketika pria itu memanggil Su Min dengan sebutan Hyungsoo-nim. Tetapi sekali lagi ia menggelengkan kepalanya, tidak mungkin kan jika wanita itu akan menjadi ibunya, terlebih setelah itu ayahnya mengatakan bahwa semua itu tidak benar.

Sesungguhnya sampai saat ini gadis kecil itu masih ragu pada apa yang dia rasakan sesungguhnya pada Su Min. Wanita itu adalah wanita yang aneh menurutnya, ketika pertama kali mereka bertemu dia begitu keras dan sangat cuek padanya, tetapi di hari kedua dia justru bertingkah berbeda. Ia memakaikan sebuah bando di kepalanya dan juga ia bahkan mengajak Lauren berjalan-jalan ke Hongdae sampai bertemu dengan Chanyeol-oppa.

Satu sisi hatinya masih merasa ragu untuk menerima gadis itu, karena di malam pertama gadis itu tinggal di rumahnya, ia telah bertengkar dengan appanya hanya karena makanan. Tetapi jauh dalam lubuk hatinya yang lain mungkin ia merasakan senang jika Su Min benar-benar akan menjadi ibunya, bagaimana tidak gadis itu begitu cantik dan juga pandai berdandan, ia pikir suatu saat nanti jika Su Min benar-benar menjadi ibunya maka ia pasti tak akan ketinggalan dalam hal gaya dengan dengan teman-teman seumurannya yang lain.

“Lauren-ah !!” panggil seseorang padanya.

“Yak, siapa wanita cantik yang memanggilmu itu?” Tanya Donghoo, teman sekelasnya sambi menepukkan tanggannya pada bahu Lauren.

Lauren mengangkat kepalanya dan menatap sosok yang di maksud Donghoo. Su Min-imo berada di depan pagar sekolahnya, bersanding dengan ibu-ibu temannya yang lain yang juga menjemput anak-anak mereka. Sesaat sebuah ide melintas dalam angannya, dan dengan segera gadis itu melakukan idenya, “Oh, EOMMA !!” serunya keras sambil melambaikan tangannya pada Su Min.

Su Min yang sebelumnya melambaikan tangannya saat memanggil gadis kecil itu segera menurunkan tangannya, terkejut dengan panggilan yang di utarakan Lauren padanya. Bagaimana bisa gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan eomma?

“Dia eomma-mu?” tanya Donghoo.

“Ne, sebentar lagi aku juga akan memiliki ibu seperti kalian.”

Dengan segera gadis kecil itu berlari dan memeluk sosok yang menjemputnya kala itu. Sementara Su Min masih diam terpaku karena terkejut pada panggilan Lauren sebelumnya. Di tolehkannya pandangannya perlahan menatap ke sekeliling, seluruh ibu-ibu yang berada di sana sedang menatapnya dengan tatapan tanya, seperti ingin tau pula kebenaran nama panggilan baru yang di sematkan Lauren padanya tadi.

Sesaat gadis itu berjongkok, menempelkan lututnya pada alas tanah yang dipijaknya hingga tinggi tubuhnya kini setara dengan Lauren. Dipandanginya gadis kecil itu dan kemudian berbisik pelan padanya, “Apa yang kau katakan?”

“Seluruh teman-temanku selalu di jemput oleh eommanya, dan kau tahu..”

“Ahh, geurae, bagaimana sekolahmu hari ini?”

Belum sempat gadis kecil itu meneruskan kalimatnya, namun Su Min telah terlebih dahulu memotongnya. Ia tahu apa yang terjadi dengan Lauren, dimana saat ini gadis itu memang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, dan itu membuatnya paham bahwa mungkin saja gadis itu memang sangat menginginkan kondisi seperti teman-temannya yang lain, dimana mereka semua di jemput oleh ibunya ketika pulang sekolah.

 

*TBC*

 

4 Comments (+add yours?)

  1. Rinie moet
    Oct 16, 2014 @ 14:45:43

    Aq kira new’s post’y d’blog pribadi ternyata d’sini…
    Oooooch nama cwe’y Gayoon… Ckckck kau jahat ea Dujun #tabok napa sech mereka ber2 gak jujur ma Su min soal Duju selingkuh biar Su min mau nerima perjodohan’y #maksa.. Ciee yg udh kash poin bwt ahjussi ganteng #lirikLeeteuk…
    Woooow Su min gak marah euy d’panggil eomma Lauren #kemajuan…

    Reply

  2. Monika sbr
    Oct 16, 2014 @ 18:22:59

    Ahhh… Manis banget deh saat2 su min dan lauren.
    Aku blm sempat baca dibloq, tapi udah nemunya di sini.

    Reply

  3. Kwan Menzel
    Oct 17, 2014 @ 07:27:40

    aku nunggunya di WP 1 lgi tpi Updatenya dsni keke aneh ya ..

    Dujun itu slingkuh sm sp?? ksian Sumin

    Reply

  4. ziajung
    Oct 17, 2014 @ 17:09:51

    yang manggil eomma itu loooh hahaha polos banget

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: