Awake in Sleep

 awake in sleep

 

Tittle   : Awake in Sleep

Cast    : Park Jungsoo (Leeteuk)

            Lee  Donghae

Author : Cherry Hee

Blog    : http://cherryelf.wordpress.com/

Genre : Brothership

Rating : G

Lenght : Ficlet

Summary :

“Kau tidak bisa tidur bukan berarti kau bisa seenaknya mengganggu tidur orang lain. Kau merusak mimpi orang, tahu?!”

Jam menunjuk angka dua. Seperti manusia kebanyakan, Leeteuk sudah terlelap menyentuh mimpi. Dia bermimpi indah. Indah sekali. Lebih indah dari mendengar teriakan gadis-gadis, “Oppa! Kau tampan!.” Juga lebih indah dari makan es krim bersama kekasih. Dan lebih indah lagi dari mendapat penghargaan nomor satu di acara musik paling bergengsi. Lebih indah dari itu semua karena di dalam mimpinya, ia bertemu dengan orang yang paling ia rindu saat itu. Ayah, kakek, dan neneknya.

Mimpi itu akan berlanjut dengan adegan pelukan dan tangis haru. Nyaris­—sebelum suara dering ponselnya yang ia lupa matikan malam itu berbunyi nyaring. Bergetar mengusik mimpinya.

Sambil menggeram dan mengutuk siapapun yang menelponnya di pagi buta, tangannya meraba meja di sisi tempat tidur sampai ia menemukan ponsel itu. Dari balik mata seperempat terbuka, Leeteuk membaca nama yang berpendar di layar ponsel.

“Anak ini,” desahnya setelah mengenali nama itu.

Leeteuk mengambil napas panjang sebelum meluncurkan kekesalannya tanpa jeda. “Yah! Apa-apaan kau Donghae? Kau tahu ini jam berapa, huh? Ini waktunya orang tidur.”

Hyung, aku tidak bisa tidur,” rengek suara di seberang sana. Terdengar tidak mempedulikan nada tinggi penuh sebal yang barusan Leeteuk luncurkan.

“Siapa peduli!” balas Leeteuk tanpa belas kasih. Siapa peduli anak itu tidak bisa tidur jika tulang-tulangnya sendiri serasa remuk. Ia butuh tidur. Dan malam ini adalah malam terlangka yang pernah ia dapat. Tidur di jam yang harusnya memang untuk tidur. Bukan bekerja seperti yang sering ia lakukan di tiap pagi sampai pagi esoknya lagi.

“Ah kumohon, temani aku Hyung.”

“Kau tidak bisa tidur bukan berarti kau bisa seenaknya mengganggu tidur orang lain. Kau merusak mimpi orang, tahu?!” Leeteuk nyaris menangis saja. Ia ingat apa yang ada dimimpinya tadi. Ia bertemu dengan orang-orang yang baru meninggalkannya sembilan bulan lalu. Rasanya ada luapan kelegaan. Seperti meneguk air di tengah gersang padang pasir. Tuhan seakan mencoba mengobati rindunya dengan mempertemukan mereka lewat mimpi.

Andai saja jika anak itu tidak menelponnya, Leeteuk pasti berkesempatan untuk menanyai kabar mereka. Ia tak peduli jika itu mimpi atau mereka tak menjawab dan hanya balas tersenyum. Hanya dengan melihat wajah ketiganya Leeteuk sudah bahagia setengah mati.

Hyung.. kau tidak apa-apa?”

Leeteuk mengerjap. Ia baru sadar matanya telah berair. Napasnya tersendat ketika suaranya menjawab dengan serak. “Ya, aku tidak apa-apa.”

Hening sesaat. Leeteuk berusaha mengatur suaranya. Tangannya pun mengusap air matanya yang kini merembes turun ke pipi. Donghae masih diam juga. Mungkin anak itu tengah berpikir karena merasa bersalah.

Leeteuk merasa tak enak hati, cepat-cepat ia berucap. “Aku tidak apa-apa Donghae-ya. Kembalilah tidur.”

“Mau mengobrol?” balas suara di seberang sana tiba-tiba.

“Apa?”

“Ayo mengobrol denganku Hyung. Akan aku buatkan teh dan kita mengobrol sampai pagi.”

“Kau…. Ah Donghae, tutup telponnya dan kembalilah tidur.” Leeteuk berusaha untuk tidak meneriaki anak itu. Karena jika ia benar-benar melakukannya, Donghae akan menangis sesenggukan dan tidak akan pernah lagi mau menelponnya. Terdengar bagus, tapi Leeteuk tidak sampai hati.

“Oke, tidak sampai pagi. Bagaimana kalau sampai Hyung tidak bisa bertahan lagi dan mengantuk.”

“Sekarang juga aku sudah mengantuk Lee Donghae,” jelasnya penuh penekanan. Tapi sepertinya anak di seberang sana tak juga memahami situasi. Bahwa ini pagi buta dan tidak ada siapapun yang sudi diajak mengobrol di tengah serangan kantuk hebat.

“Ayolah Hyung. Aku ingin mendengar ceritamu.”

“Tidak ada cerita apapun kecuali aku mengantuk sekarang.”

Hyung.”

“Tidak.”

Hyung pleaseee.”

“Donghae.. tidur.”

“Jungsoo Hyungpleaseee.” Anak itu semakin merengek dan Leeteuk tidak bisa untuk tidak menerimanya.

“Aku akan menemanimu sampai jam tiga saja.”

Anak di seberang sana berseru. “Yay!” Lalu terdengar bising seperti orang yang sedang meloncat-loncat di atas tempat tidur.

“Lee Donghae, hentikan. Sekarang bangun dan buatkan aku teh hangat.”

“Baik-baik.”

Sepuluh menit kemudian mereka sudah duduk bersisian di depan meja makan. Di bawah temaram lampu ruang makan, satu-satunya penerangan yang menyala di apartemen itu. Ditemani dua cangkir putih masing-masing bergambar wajah mereka dalam bentuk chibi, pemberian dari penggemar.

Hyung minggu depan mau pulang ya?” Donghae membuka perbincangan.

“Hm, jika manajer Hyung tidak mengubah jadwalnya. Kenapa?”

“Boleh aku ikut?”

Leeteuk menatap wajah di sampingnya dengan alis tertaut. Tanpa suara raut Leeteuk sudah jelas bertanya, “Untuk apa kau ikut?”

“Aku ingin menemanimu ke makam. Boleh ya Hyung. Aku juga tidak punya jadwal minggu depan.”

Kerutan di dahi Leeteuk menghilang. Bibirnya melengkung kecil. Perlahan ia seduh teh miliknya dengan pikiran berkeliaran. Menyadari begitu cepat waktu yang terlewati bersama anak itu. Tahun-tahun yang melintas begitu saja, Leeteuk merasa anak itu masihlah sama seperti yang dulu pertama ia kenal.

Leeteuk teringat hari pertama ia bertemu anak itu. Tiga belas tahun yang lalu di sudut ruang latihan. Saat itu dia dan anak-anak trainee lain baru saja menyelesaikan latihan panjang dan pelatih mengijinkan mereka makan bersama di sana. Namun setelahnya, tidak ada yang mau turun tangan untuk membersihkan sisa sampah mereka. Tapi anak itu, Lee Donghae, memilih bertahan di sana. Memunguti kardus-kardus sampah satu persatu.

Dengan heran sekaligus penasaran, Leeteuk akhirnya mendekat dan bertanya. “Kenapa kau mau melakukan itu?”

Anak itu mendongak beberapa saat sambil mengulas senyum ramah. “Ayahku yang mengajarkannya.”

Sejak saat itu Leeteuk memandangnya istimewa. Memperlakukan Donghae sebagai adik yang perlu ia lindungi.

Leeteuk mengerjap beberapa kali, mengembalikan kenangannya yang melambung jauh. “Iya, boleh. Kalau ada sisa waktu banyak, kita juga bisa ke makam ayahmu,” kata Leeteuk lembut dan anak lelaki itu membalas dengan anggukan senang.

Satu jam lebih tidak terasa telah berlalu. Sampai matahari terang di sisi timur. Dan sampai embun menitik di ujung ranting pepohonan, Leeteuk tidak menyesal ada di sana. Duduk di samping adik yang sudah tiga belas tahun ia kenal. Menjadi pendengar yang baik sekaligus menemukan teman pendengar yang jauh lebih baik.

Ia bersyukur mengenal seorang anak bernama Lee Donghae.

 

4 Comments (+add yours?)

  1. elfishysme
    Nov 04, 2014 @ 11:44:04

    suka banget deh ff bromancenya teuk sm hae ky gni. keren

    Reply

  2. kim min soo
    Nov 10, 2014 @ 18:37:03

    aish… Akhirnya lebih dr jam tiga kan oppa ? #plak

    Reply

  3. chintya
    Oct 06, 2015 @ 12:27:09

    yahhhhhhhh.. pendek bener cerita na huhuhuhuhu sedih aku… masi ada gak ya crita teuklie oppa??

    Reply

  4. Imyneohins
    Oct 06, 2015 @ 14:46:07

    Waahh biar filet, tapi ini bagus>< kan aslinya teukhae sekamar, pas awal mereka nelpon yg ada dibayangan ku, merek ada dikamar yg sama lol XD itu yg pertemuan pertama mereka yg diceritain teuk di onefineday ya? Kkk ffnya bagus thooor fighting!

    Reply

Leave a Reply to chintya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: