I Will Let You Go, Oppa! [1/?]

 [FF] I Will Let You Go, Oppa! (Part 1)

 

I Will Let You Go, Oppa! (1/?)

Author : Heechulliee

Rating: PG-13

Genre : Angst

Length : Chaptered

Cast : Kim Hee Chul (Super Junior), Lee Hyuk Jae (Super Junior), Baek Eun Na (OC), Shin Yong Mi (OC), Park Jung Soo/Leeteuk (Super Junior)

Disclaimer : BASED ON TRUE STORY! NO PLAGIAT!

 

Author POV

Seorang gadis tampak sedang berjalan mengitari sungai Han sendirian. Sungai itu selalu tampak sangat indah ketika malam hari dengan pantulan cahaya dari lampu-lampu bangunan sekitarnya yang membuat sungai itu lebih berwarna.

Tapi keindahan sungai itu tetap tidak bisa membuat kedua sudut bibir gadis itu tertarik untuk membentuk sebuah senyuman. Kedua matanya menatap riak air sungai Han dengan tatapan kosong.

 

 “Na-ya, kenalkan ini temanku. Namanya Shin Yongmi. Kami bertemu saat kami mengikuti sebuah rapat di Gangnam.”

“Wah, annyeonghaseyo. Baek Eun Na imnida. Eonni bisa memanggilku Eun Na.”

“Ah ne, annyeonghaseyo Eun Na-ssi. Aku Shin Yongmi. Heechul-ssi sering sekali menceritakan tentangmu.”

“Benarkah? Hya, Oppa, apa saja yang sudah kau ceritakan pada Yongmi Eonni?”

“Hahaha, apa saja yang bisa kuceritakan tentang gadisku yang cantik ini.”

 

Gadis itu, Eun Na, berhenti di salah satu kursi panjang yang ada di sekitar sungai Han dan mendudukinya. Tatapan matanya tetap tak terlepas dari sungai yang ada di depannya. Perasaanya sangat kacau saat ini.

Malam semakin larut, tapi Eun Na tidak bergeming sama sekali dari tempatnya duduk. Ia masih tetap bertahan dengan posisinya, tak peduli dengan angin dingin yang berhembus menusuk tubuhnya yang hanya terbalut cardigan tipis.

 

“Oppa, jeongmal mianhae. Aku janji tidak akan melakukannya lagi.”

“Sudah lupakan saja. Aku tidak ada minat untuk membahasnya.”

“…….Oppa sedang apa?”

“Membalas pesan dari Yongmi.”

“Apa Oppa senang berkomunikasi dengan Yongmi Eonni?”

“Biasa saja.”

 

Eun Na semakin larut dengan lamunannya. Tatapan orang-orang yang memperhatikannya pun ia abaikan. Saat ini, di salah satu sudut hatinya sedang merasakan sakit yang luar biasa. Eun Na mengalihkan pandangannya pada tangannya yang tanpa sadar meremas ujung blus-nya dengan kuat sehingga buku-buku jarinya memutih.

Eun Na melepaskan remasan tangannya yang terasa kaku dan kembali mengangkat kepalanya, memandang hamparan sungai Han yang tenang. Ia menggigit bibir bawahnya karena sesak yang terasa di dadanya.

 

“Na-ya, kau tahu? Ternyata Yongmi itu sangat penurut. Kemarin aku sempat mengingatkannya untuk membawa jaket ke kantor karena ia sedang sakit. Dan saat bertemu di kantor ia benar-benar membawanya dan menunjukkannya padaku.”

“Eh? Benarkah Oppa?”

“Eum, aku tidak menyangka ia akan menuruti kata-kataku.”

“Ah, begitu……”

 

Butiran air terbendung di sudut matanya. Ia bahkan tidak menyadari jika air matanya mengalir melewati kedua pipinya. Lagi, ia menangis dalam diam. Menangisi apa yang selama ini tidak bisa ia tangisi. Entah sudah seberapa lama hatinya merasakan sakit. Sakit yang terus meluas di permukaan hatinya.

Eun Na menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ingin rasanya ia berteriak sekuat ia mampu. Tindakan yang seolah bisa membuat hatinya lega, meskipun pada kenyataannya tidak.

 

“Eo, Na-ya? Sedang apa kau disini?”

“Ah, Eunhyuk Oppa! Aku mau membawakan makanan untuk Heechul Oppa. Hehehe.”

“Heechul hyung? Kau masih bersama Heechul hyung?”

“Apa maksudmu eh? Tentu saja aku masih bersama Heechul Oppa. Ck.”

“Ani, kukira kau sudah tidak bersama Heechul hyung, karena akhir-akhir ini Heechul hyung lebih sering menghabiskan waktu dengan Yongmi.”

 

Potongan-potongan memori berputar di kepalanya seperti sebuah film. Memori yang membuat hatinya merasa sakit untuk kesekian kali. Aliran air yang mengalir dari kedua matanya membuat semua rasa sakit yang ia rasakan begitu nyata. Eun Na menurunkan tangannya dan menghapus jejak air matanya. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit malam dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.

 

“Eun Na-ssi?”

“Eo, Yongmi Eonni annyeong! Sudah lama kita tidak bertemu, Eonni.”

“Eum. Bagaimana kabarmu? Pasti mau mengantarkan bekal untuk Heechul.”

“Hehehe. Ne Eonni. Aku mampir sekalian berangkat ke kampus.”

“Wah, enaknya. Oh iya, ku dengar beberapa hari yang lalu Heechul belajar memasak kan?”

“Eh? Bagaimana Eonni tahu?”

“Kemarin Heechul menceritakannya padaku. Dia bilang, ia ingin membuatkan makanan untuk ku. Katanya makanan buatannya lebih enak daripada buatanku. Hahaha.”

“Apa?”

 

Eun Na kembali menatap sungai Han. Tiba-tiba isakan tangis lolos dari bibirnya. Ia meremas dadanya kuat-kuat dan semakin terisak. Eun Na tidak bisa lagi menahan air matanya agar tidak mengalir dari kedua matanya.

Cukup lama membuat isakannya mereda. Salah satu tangan Eun Na bergerak untuk menghapus jejak air matanya yang masih belum mengering. Ia tegakkan kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan. Perlahan tangan kanannya bergerak ke arah dada kirinya dan meremas blus yang dikenakannya. Selalu terasa sakit disitu.

Tatapan Eun Na kembali kosong. Pandangannya menerawang menembus hamparan sungai Han dihadapannya. Eun Na begitu ‘menikmati’ apa yang ia lakukan saat ini. Merasakan hembusan angin malam dengan pandangan yang terpaku pada air yang bergerak mengikuti hembusan angin.

“Eun Na?”

Sebuah suara yang berat menginterupsi aktivitas yang Eun Na lakukan. Eun Na tersentak dan menoleh ke arah sumber suara yang membuyarkan lamunannya. Ia mendapatkan seorang pria tengah berdiri di sampingnya dan menatapnya heran.

“Eunhyuk Oppa?”

Suara serak dan pelan bahkan nyaris tidak terdengar yang dikeluarkan Eun Na membuat Eunhyuk mengerenyitkan alisnya. Eunhyuk memperhatikan wajah Eun Na yang sedikit pucat dan mata yang sembab. Meskipun penerangan di sekitar tidak begitu terang, tetapi keadaan Eun Na tetap terlihat jelas di mata Eunhyuk.

“Apa yang kau lakukan disini dan tengah malam seperti ini?” Tanya Eunhyuk sambil tetap menatap Eun Na. Eunhyuk yang kebetulan berjalan melewati sungai Han terkejut menemukan Eun Na sendirian di tepi sungai Han tengah malam.

Eunhyuk adalah sahabat baik Heechul, kekasihnya. Eunhyuk dan Heechul berada di jurusan yang sama. Saat Eunhyuk dan Heechul berada di tahun ketiga, Eun Na masuk sebagai mahasiswa baru di kampusnya. Heechul dan Eun Na pertama kali bertemu di sebuah kelompok belajar. Seringnya bertemu membuat Heechul dan Eun Na dekat dan menjalin hubungan. Dimanapun Heechul berada, Eunhyuk selalu didekatnya. Hal itu juga yang membuat Eunhyuk dan Eun Na saling mengenal dan berteman baik. Bagi Eun Na, Eunhyuk merupakan seorang teman yang menyenangkan. Selang satu tahun Eun Na menjalani kehidupan kuliahnya, Heechul dan Eunhyuk telah menyelesaikan masa perkuliahannya. Heechul dan Eun Na tetap menjalin hubungan hingga akhirnya Heechul dan Eunhyuk mulai bekerja di perusahaan yang sama. Tetapi kebahagiaan Eun Na tidak bertahan begitu lama. Saat ditugaskan di daerah Gangnam, Heechul bertemu dengan seorang gadis bernama Shin Yongmi. Awalnya hanya pertemanan biasa, tetapi semakin lama Heechul dan Yongmi menjadi lebih dekat. Heechul dan Eun Na lebih sering bertengkar karena hal kecil. Dan sekarang, kedekatan Heechul dan Yongmi meninggalkan luka yang besar di hati Eun Na.

Eun Na kembali mengalihkan pandangannya menuju sungai Han. “Aniyo Oppa. Aku…..hanya sedang mencari udara segar.” Eunhyuk mengerenyit dan menatap Eun Na dengan tatapan bingung.

“Mencari udara segar? Tengah malam seperti ini? Yang benar saja. Kau sedang membodohiku, huh?” balas Eunhyuk sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Kau sendiri sedang apa disini Oppa?” Tanya Eun Na berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Aku? Ah, tadi aku dari supermarket. Persediaan susu strawberry-ku sudah habis jadi aku….Eiy, kau sengaja mengalihkan pembicaraan huh?” protes Eunhyuk kemudian. Eun Na mengangkat kepalanya menatap Eunhyuk yang masih berdiri di sampingnya dengan tatapan polos.

“Ani, aku tidak mengalihkan pembicaraan.”

“Lalu sedang apa kau disini tengah malam begini?” Eunhyuk kembali menatap Eun Na lekat.

“Bukankah tadi sudah ku beri tahu? Aku benar-benar sedang mencari udara segar.” Eun Na kemudian membuang wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan Eunhyuk. Kebiasaan yang selalu dilakukan Eun Na jika sedang berbohong. Eunhyuk kemudian duduk di sampingnya dan kembali menatapnya.

“Bisakah kau mencari alasan yang lebih masuk akal Baek Eun Na-ssi? Hei, aku ini bukan baru mengenalmu sehari dua hari Eun Na-ya, kau kira aku akan percaya begitu saja? Ck.”

Eun Na mendengus pelan. Ia tahu pria disampingnya ini tidak akan mudah menelan alasan darinya bulat-bulat. Eun Na merubah posisi duduknya sedikit menyamping dan membalas tatapan Eunhyuk.

“Apa kau ini cenayang? Aku heran, kenapa kau tidak jadi seorang cenayang saja? Kemampuanmu membaca pikiran seseorang sangat baik.”

“Nah, itu artinya aku benar kan? Berarti kau sedang dalam keadaan yang tidak baik.”

“Kapan aku bilang jika aku sedang tidak baik? Aku baik-baik saja.”

“Ya, kau kira kau bisa membohongiku? Kenapa susah sekali sih membuatmu memberikan alasan yang sebenarnya.”

“Heish, arasseo! Kau ini cerewet sekali!” umpat Eun Na pelan.

Eunhyuk tersenyum puas penuh kemenangan. Melihatnya membuat Eun Na menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan. Keberadaan Eunhyuk di sampingnya saat ini membuat perasaannya sedikit membaik. Eun Na merubah posisi duduknya menjadi sedikit bersandar dan menghembuskan nafasnya.

“Aku hanya sedang……bertengkar dengan Heechul Oppa.”

Eun Na menundukkan kepalanya sambil memainkan ujung kakinya. Berusaha mencari pengalihan agar air matanya tidak kembali mengalir.

“Kau tahu Oppa? Apa yang pernah kau katakan dulu ternyata benar. Heechul Oppa begitu dekat dan sering menghabiskan waktunya bersama Yongmi Eonni. Aku tidak menyangka jika pertemuannya dengan Yongmi Eonni akan berdampak seperti ini. Ku kira semuanya akan baik-baik saja, tetapi ternyata tidak. Setiap pulang kerja, Heechul Oppa akan dengan semangat menceritakan Yongmi Eonni di depanku. Bahkan tanpa ia sadari ia seperti sedang membandingkanku dengan Yongmi Eonni.”

Eun Na tersenyum kecut setelah menyelasaikan kalimat terakhirnya. Butiran air mata mulai menghiasi kedua matanya.

Suasana tiba-tiba menjadi hening. Eunhyuk masih diam menatap Eun Na. Ia tidak tahu jika apa yang pernah ia pikirkan tentang Heechul dan Yongmi benar-benar terjadi. Eunhyuk selalu berharap jika kedekatan Heechul dengan Yongmi tidak berdampak buruk untuk hubungan Heechul dan Eun Na. Dan sekarang Eunhyuk merasa sedikit menyesal telah memaksa gadis di sampingnya ini untuk menceritakan masalahnya.

“Hei Oppa, kenapa kau malah diam? Sudah tidak perlu kau pikirkan, aku baik-baik saja.” Ujar Eun Na dan berusaha tersenyum.

Eunhyuk tertegun menatap senyuman yang Eun Na berikan. Senyuman yang menunjukkan ketidak berdayaannya menghadapi masalah yang ia alami. Eunhyuk dan Heechul memang dekat, tapi ia tidak akan pernah ikut campur untuk hubungan Heechul dan Eun Na.

“Aku pulang.” Ucap Eun Na tiba-tiba sambil berdiri.

Eunhyuk tersentak dari lamunannya dan segera menahan sebelah tangan Eun Na sebelum gadis itu melangkahkan kakinya.

“Aku antar pulang.”

.

.

.

.

Eun Na POV

Aku menggeliat pelan dalam selimut yang membalut tubuhku. Ku buka mataku perlahan untuk menyesuaikan cahaya lampu di kamarku. Aku bangun dan terduduk, kepalaku sakit karena tidurku yang tidak nyenyak. Sudah berapa kali aku tidak bisa tidur dengan tenang dan sering terbangun tiba-tiba seperti ini sejak masalah Heechul Oppa dengan Yongmi Eonni.

Kulirik jam di dinding kamarku yang masih menunjukkan pukul 6 pagi. Hari ini jadwal kuliah ku siang, paling tidak aku masih punya banyak waktu. Ku gerakkan tanganku untuk meraih ponselku yang tergeletak di meja yang berada di samping ranjang. Ku tekan beberapa kombinasi nomor yang sudah aku hafal lalu menekan tombol hijau dan menempelkannya di telingaku.

“Yeobseyo…”

“Oppaaaaaa, palli ireona! Sudah jam 6 pagi!”

“Mm, nuguseyo? Eun Na-ya?”

“Ne, ini aku. Kau tidak kerja hari ini?”

“Hoaaammm….kerja, sebentar lagi aku bangun.”

“Eiy, palli ireonaaaa! Nanti kau telat! Bukannya kau akan selalu mengeluh kalau telat?”

 “Heish, ara, aku bangun sekarang. Kau ini pagi-pagi berisik sekali.”

“Kau mau datang terlambat kemudian upah kerjamu di potong? Kau ini aku suruh bangun susah sekali sih.”

“Arasseo Baek Eun Na, aku benar-benar bangun. Puas kau?”

“Eum, sangat puas.”

“Ck. Kau tidak kuliah?”

“Hari ini jadwal kuliahku siang, jadi aku masih bisa bermalas-malasan. Hahaha. Ya sudah sana mandi, kau bau! Dan jangan lupa sarapan.”

“Ne, nona cerewet.”

“Ya! Apa kau bilang?! Yeobseyo? Heish, seenaknya saja memutuskan telepon.”

Kuletakkan ponselku di sampingku dan kurebahkan kembali tubuhku di ranjang sambil menggerutu pelan. Dia ini susah sekali untuk bangun. Kalau dia terlambat pasti seharian penuh akan menggerutu tidak jelas. Dasar labil.

Kutatap langit-langit kamarku yang terang akibat paparan lampu. Tatapan mataku tiba-tiba menerawang. Saat masih kuliah dulu setiap pagi aku akan selalu datang ke rumah Heechul Oppa untuk membangunkannya. Kemudian sarapan bersama dengan Eommonim lalu berangkat ke kampus bersama.

Eommonim….

Ah benar juga, aku sudah lama tidak bertemu dengan Eommonim. Sejak masuk pertengahan semester 3 aku jadi jarang mengunjungi Eommonim karena tugas kuliah yang menumpuk dan seringnya kuliah siang. Apa aku datang saja ke rumah Heechul Oppa sebelum ke kampus?

Segera kuraih ponselku dan mengetik sebuah pesan.

 

To: Almighty Kim Heenim ^^

Oppa, nanti siang sebelum aku berangkat kuliah aku datang ke rumah ya? Aku sudah lama tidak bertemu Eommonim.

 

Kuletakkan kembali ponselku di sampingku. Selang beberapa menit kurasakan getaran dari ponselku.

 

From: Almighty Kim Heenim ^^

Datang saja Na-ya. Aku rasa Eomma akan senang kalau kau datang. Saat istirahat siang aku usahakan juga untuk pulang.

 

To: Almighty Kim Heenim ^^

Oke. Tapi kalau tidak bisa tidak usah di paksakan untuk pulang Oppa. Aku juga hanya mampir sebentar sebelum pergi kuliah.

 

From: Almighty Kim Heenim ^^

Arasseo, nona cerewet. Nanti aku hubungi lagi.

 

“Mwoya? Orang ini senang sekali memanggilku cerewet. Bukankah dirinya sendiri juga seperti itu?”

Kuletakkan ponselku di atas meja kecil di samping ranjang kemudian beranjak menuju lemari dan mengambil sebuah kaus dan celana santai lalu bergegas ke kamar mandi.

Setelah mandi aku berjalan menuju dapur dan membuat susu coklat hangat. Kemudian ku langkahkan kakiku menuju sofa besar di ruang tengah dan mendudukinya. Sebelah tanganku meraih remote TV di meja kaca dan menyalakannya. Sesaat aku berpikir, apa yang harus aku bawa untuk Eommonim? Makanan ttau buah? Lebih baik buah saja, Eommonim sangat senang makan buah.

.

.

Ku lirik jam yang ada di dinding samping dapur, pukul 11.40 AM.

“Astaga, sudah jam segini? Aish, aku terlalu asik menonton TV!”

Aku terlonjak dari dudukku dan berlari menuju kamarku. Ku buka lemari dan mengambil blus lengan pendek dan celana jeans panjang berwarna hitam. Setelah mengganti pakaian, ku ambil tas selempangku dan memasukkan beberapa buku, dompet dan ponselku. Kemudian aku berdiri di depan cermin merapihkan rambutku. Setelah memastikan penampilanku tidak berantakan aku segera beranjak dari kamar.

Aku bergegas keluar apartemen dan berlari menuju halte bus dekat apartemenku dan menaiki bus yang berhenti di depanku. Kira-kira 10 menit kemudian bus yang aku tumpangi berhenti di sebuah halte dan aku segera turun. Ku langkahkan kakiku menuju sebuah supermarket dekat tempat aku berdiri untuk membeli beberapa buah.

.

Saat ini aku sedang berdiri di depan sebuah rumah bergaya minimalis dengan pagar tinggi berwarna hitam. Ku buka pagar itu pelan dan masuk. Alisku mengerenyit saat melihat sebuah mobil sedan berwarna putih terpakir di halaman rumah. Heechul Oppa sudah pulang?

Aku melangkahkan kakiku menuju pintu rumah. Keluarga Heechul Oppa sangat baik padaku. Mereka bahkan sudah menganggapku bagian dari keluarganya. Aku masih ingat bagaimana Eommonim selalu memarahiku karena aku selalu menekan bel saat datang. Eommonim pasti akan menyuruhku langsung masuk tanpa harus mengetuk ataupun menekan bel. Ah, aku merindukan Eommonim.

Saat baru saja aku ingin membuka pintu, samar-samar aku mendengar percakapan dari dalam rumah.

“Heechul-ah, gadis yang kemarin kau bawa kesini, nuguya?”

“Oh, namanya Yongmi. Dia teman kerjaku Eomma. Waeyo?”

“Ani, dia sangat cantik dan sopan.”

“Ne Eomma. Dia memang orang yang sangat sopan.”

“Kenapa tidak kau jadikan yeojachingu-mu saja Chul-ah?”

“Eish, Eomma. Apa yang kau bicarakan? Kau lupa dengan Eun Na huh?”

“Ani, Eomma tidak lupa. Eun Na kan bisa kau jadikan dongsaeng saja.”

 

A–apa?

Seluruh tubuhku membeku. Tangan dan kakiku melemas seketika. Plastik berisi buah yang berada digenggaman tanganku terlepas begitu saja. Apa yang baru saja aku dengar?

Eommonim…jadi ia sudah bertemu dengan Yongmi Eonni? Dan ia menyukainya?

Dadaku sesak. Seakan ada bongkahan batu yang menghimpit dadaku dengan kuat. Heechul Oppa pernah membawa Yongmi Eonni untuk bertemu dengan Eommonim?

Ya Tuhan, kepalaku pusing. Dada kiriku seperti di remas dengan kuat. Sakit. Aku ingin pergi dari sini, tetapi kedua kakiku tidak sanggup bergerak. Seluruh tubuhku seakan mati rasa. Aku berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk mengembalikan kesadaranku.

“Eo, Na-ya?”

Aku tersentak saat suara Heechul Oppa masuk melalu telingaku. Sejak kapan ia berdiri di depanku? Dan sejak kapan pintunya terbuka?

“Kau kenapa? Dan kenapa semua buah berserakan di bawah begini?”

Aku seakan tersadar dan berusaha merubah ekspresiku. Dengan terburu-buru aku segera membungkukkan tubuhku dan memungut semua buah yang tersebar di sekitar kakiku.

“A–ani Oppa, tadi aku tidak sengaja terpeleset dan menjatuhkan semua buahnya. Mianhae Oppa.”

“Heish, dasar kau ini. Apakah menjaga keseimbangan tubuh adalah hal yang paling sulit untukmu? Ck. Ya sudah, masuklah. Eomma sudah menunggumu di dalam.”

“N–ne Oppa.”

Setelah memungut semua buah aku bergegas masuk. Dapat kulihat Eommonim sedang berada di dapur dengan posisi membelakangiku. Jantungku berdegup sangat cepat. Percakapan yang ku dengar barusan membuatku tidak fokus. Ku ubah ekspresi wajahku setenang mungkin.

“Eommonim, annyeonghaseyo.”

Eommonim berhenti dari kegiatannya memotong sayuran kemudian menoleh ke arahku. Setelah melihatku Eommonim tersenyum ramah dan menghampiriku.

“Eun Na sayang, kau datang. Sudah lama sekali kau tidak ke sini.”

Eommonim mendekatiku kemudian langsung memelukku. Tepat saat Eommonim memelukku, dadaku terasa sangat nyeri. Oksigen di sekitarku seolah tersedot habis dan membuat nafasku sesak. Ku gerakkan tanganku untuk membalas pelukan Eommonim. Eommonim melepaskan pelukannya dan kembali tersenyum padaku. Eommonim kemudian membawaku menuju meja makan dan menyuruhku duduk.

“Eun Na-ya, Heechul bilang setelah ini kau ada kuliah. Sebelum pergi kau makan dulu disini ya?”

Aku masih berusaha tersenyum dengan mengalihkan luka di hatiku yang semakin lebar.

“Ah, tidak usah Eommonim. Aku hanya sebentar, aku harus segera berangkat ke kampus. Sebentar lagi kuliahku di mulai.”

Kulihat raut wajah Eommonim tampak kecewa. “Ah, begitu. Ya sudah, kapan-kapan kau harus ke sini lagi dan makan bersama kami. Arasseo?” ku anggukkan kepalaku dengan sedikit kaku mendengar ucapan Eommonim.

“Kalau begitu aku pergi dulu Eommonim. Nanti aku akan datang lagi.”

Aku berdiri dan membungkukkan tubuhku. Eommonim ikut berdiri dan mengangguk pelan. Aku segera beranjak menuju pintu rumah dengan terburu-buru. Bukan karena kuliahku yang sebentar lagi akan dimulai, tapi karena air mataku yang sudah mendesak ingin keluar. Aku ingin cepat pergi dari sini. Saat aku akan memutar knop pintu, Heechul Oppa datang menghampiriku.

“Na-ya, kau sudah mau berangkat?”

Langkahku terhenti lalu ku balikkan tubuhku menghadap Heechul Oppa dan mengatur ekspresiku yang mungkin sudah sangat pucat. Mati-matian ku tahan air mataku yang sudah ingin mengalir dari sudut mataku.

“Ne Oppa. Aku sudah hampir terlambat. Aku pergi, Oppa.” Balasku singkat.

Baru saja aku membalikkan tubuhku untuk membuka pintu, Heechul Oppa menahan tanganku.

“Biar aku antar kau ke kampus, sekalian aku kembali ke kantor.” Ucapnya sambil mengenakan jas hitam kemudian membuka pintu dan mendahuluiku. Aku masih terpaku menatap punggung Heechul Oppa di depanku. Aku bahkan tidak yakin untuk mengikuti kuliah hari ini. Perasaanku tidak tenang.

“Ya, Na-ya, kau bilang kau sudah hampir terlambat tapi kenapa masih diam di situ?” teriaknya.

Aku tersadar dari lamunanku. Pikiranku benar-benar tidak fokus. Ku langkahkan kakiku dengan ragu menuju mobil Heechul Oppa. Ku hirup udara sekitarku dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, kemudian ku buka pintu mobil dan masuk.

Selama di mobil aku hanya diam. Pikiranku mendadak buntu. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan. Ku kepalkan tanganku kuat-kuat sebagai pengalihan agar air mataku tidak seenaknya mengalir.

“Ya! Baek Eun Na, kau mendengarkanku tidak sih?” Aku terkejut dan menoleh seketika pada Heechul Oppa sambil mengerjapkan mataku.

“Eh? Apa?”

“Apa yang kau pikirkan dari tadi?” tanyanya dengan nada tinggi.

“Ah, aniyo Oppa. Aku tidak memikirkan apa-apa.” Jawabku berbohong dan membuang tatapanku ke arah lain. Aku belum sepenuhnya sadar dari lamunanku.

“Ya sudah, turun kalau begitu.” Ucapnya kemudian.

“Apa? Turun?”

“Heish, kau tidak mau kuliah? Lihat sekitarmu Baek Eun Na. Ini sudah di depan kampusmu.”

Aku langsung menoleh ke arah sekitarku dan kemudian tersadar, sejak kapan jarak antara rumah Heechul Oppa dengan kampusku begitu dekat? Bukankah aku baru saja pergi dari rumahnya?

“Ah, mianhae Oppa. Ya sudah, aku pergi dulu Oppa. Annyeong.” Ucapku sambil melepaskan seat belt yang tersampir di bahuku dan membuka pintu mobil untuk segera turun.

Setelah aku menutup pintu, mobil Heechul Oppa bergerak dan meninggalkanku yang masih tidak bergeming dari posisiku. Ku tatap sejenak kampusku yang sudah berada didepanku. Dengan pikiran yang tak karuan kulangkahkan kakiku. Aku melewati gerbang kampusku dan pergi. Aku ingin pulang.

Eun Na POV END

.

.

Author POV

Eun Na memasuki apartemennya dengan lemas. Pikirannya sangat kalut saat ini. Dengan langkah gontai ia bergerak menuju kamarnya. Ia menjatuhkan tubuhnya di lantai dan bersandar pada ranjangnya. Tatapannya kembali kosong mengingat kejadian yang baru saja menimpanya hari ini.

 

”Na-ya, ayo ikut ke rumahku. Aku ingin mengenalkanmu dengan Appa dan Eomma.”

“Eh? Ke rumahmu? Bertemu dengan Orang tua-mu?”

“Ne. Waeyo?”

“Apa tidak terlalu cepat Oppa?”

“Hei, kau tidak mau jika aku ingin lebih serius dengan hubungan kita?”

“Ani, bukan begitu maksudku. Aku…..belum siap. Aku takut mereka tidak suka padaku.”

“Jangan berpikiran seperti itu. Kau tahu, kau adalah yeoja pertama yang akan aku bawa ke rumah untuk menemui Orang tua-ku. Bagiku, jika aku membawa seorang yeoja ke rumahku untuk bertemu dengan keluargaku itu artinya yeoja itu sangat berarti untukku.”

“Mm, arasseo Oppa.”

 

Perlahan butiran air di sudut matanya yang semenjak tadi ditahannya mengalir melewati kedua pipinya. Lagi, Eun Na menangis tanpa ia sadari. Isakan tangis dari bibirnya perlahan terdengar dan semakin lama semakin besar. Tangisan pilu terdengar memenuhi sudut kamarnya. Hari ini saja Eun Na menyerah dengan sakit hatinya. Hari ini saja ia menyerah membatasi kesabarannya. Untuk saat ini Eun Na hanya ingin jujur dengan perasaannya.

.

Eun Na membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Sudah tidak ada lagi isakan dari bibirnya. Sekarang ia hanya ingin menikmati sisa air matanya yang masih belum mengering.

Tiba-tiba ponsel yang berada dalam tas selempangnya berbunyi. Eun Na mengangkat kepalanya dan diam sejenak. Di raihnya tas selempang miliknya dan mengeluarkan ponselnya.

 

Eommaaaaa ♥♥♥ calling…

 

Eun Na kembali bersandar pada ranjang kemudian menghapus sisa air mata yang mengalir dari matanya dan mengatur suaranya setenang mungkin. Ia tidak ingin membuat Orang tuanya khawatir. Di tekannya tombol berwarna hijau dan menempelkan ponselnya di telinganya.

“Yeobseyo?”

“Eun Na-ya, kau sedang apa? Sekarang kau ada dimana?”

“Aku di apartemen, Eomma. Waeyo?”

“Aniyo. Bisakah besok kau pulang sebentar ke Chungnam sayang?”

“Waegeureyo Eomma?”

“Bibimu yang ada di Nonsan mengalami kecelakaan kecil dan dirawat di Rumah Sakit. Bisakah kau ikut Eomma menjenguknya? Appa dan Eonni-mu sedang banyak pekerjaan, jadi tidak bisa menemani Eomma.”

“Arasseo Eomma. Kebetulan jadwal kuliahku sedang tidak begitu padat jadi aku bisa menemani Eomma.”

“Ah, gomawo Eun Na sayang. Besok Eomma tunggu. Annyeong.”

“Ne Eomma. Annyeong.”

Eun Na meletakkan ponselnya di sampingnya. Perasaannya masih belum stabil, pikirannya masih melayang entah kemana. Eun Na kemudian bangkit dan berjalan menuju lemari. Dikeluarkannya tas jinjing ukuran sedang dari dalam lemari dan meletakannya di atas ranjang. Eun Na memasukkan beberapa pakaian ke dalam tasnya. Eun Na berpikir untuk pulang ke Chungnam beberapa hari. Setidaknya ia harus menenangkan hatinya bukan?

Eun Na meraih ponselnya lagi dan mengetik sebuah pesan.

 

To: Almighty Kim Heenim ^^

Oppa, besok aku akan pulang ke Chungnam. Tadi Eomma menghubungiku dan memintaku untuk menemaninya ke Nonsan. Bibiku yang tinggal disana mengalami kecelakaan. Karena Appa dan Eonni sedang sibuk jadi aku yang menemaninya.

 

Ditekannya tombol sent kemudian ia meletakkan ponselnya di atas meja belajar. Eun Na kembali membuka lemari dan mengambil kaus dan celana pendek lalu beranjak ke kamar mandi. Setelah mengganti pakaian, ponsel yang ia letakkan di atas meja belajar bergetar.

 

From: Almighty Kim Heenim ^^

Oke. Apa mau aku antar ke stasiun?

 

To: Almighty Kim Heenim ^^

Tidak usah Oppa. Aku bisa ke stasiun sendiri. Lagipula bukannya kau kerja? Aku sendiri saja.

 

From: Almighty Kim Heenim ^^

Arasseo.

 

Eun Na memandangi balasan pesan dari Heechul. Hatinya masih sakit jika mengingat peristiwa tadi siang tetapi ia tetap tidak bisa menghilangkan kebiasaannya yang selalu memberikan kabar pada Heechul tentang apa yang ingin dan akan ia lakukan. Cairan bening di sudut matanya segera dihapusnya sebelum kembali mengalir.

Eun Na merebahkan tubuhnya di ranjang dan menarik selimut sampai kepalanya. Kepalanya sakit dan hatinya juga sakit. ia memejamkan matanya rapat-rapat dan berusaha untuk tidur lebih cepat, meskipun pada akhirnya ia tidak akan bisa tidur dengan tenang.

.

Train Station, 05.15 AM KST

Sebuah taksi berhenti didepan stasiun kereta di pusat kota Seoul. Seorang gadis dengan mengenakan blazer berwarna peach dengan kaus warna senada dan celana jeans putih panjang serta kacamata turun dari taksi tersebut sambil membawa tas jinjing ukuran sedang dan sebuah tas selempang yang tersampir di bahunya.

Eun Na memasuki stasiun menuju petugas tiket dan menyerahkan tiketnya yang sebelumnya sudah ia beli untuk di periksa. Kemudian Eun Na berjalan menuju line kereta yang ditunjukkan oleh petugas tiket.

Setelah berada di line kereta yang sesuai, Eun Na melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi panjang dan mendudukinya. Eun Na mengeluarkan ponselnya dari dalam saku blazernya kemudian ia menggerakkan jarinya untuk mengetik pesan.

 

To: Almighty Kim Heenim ^^

Oppa, sekarang aku sudah di stasiun. Mungkin sebentar lagi kereta-nya datang. Kau sudah bangun?

 

Ditekannya tombol sent pada layar ponselnya. Kemudian Eun Na masukkan lagi ponselnya ke dalam saku blazernya dan menyandarkan bahunya. Cukup lama Eun Na menunggu tetapi tidak ada balasan pesan dari Heechul.

Terdengar suara dari pengeras suara di stasiun dan mengatakan jika kereta menuju Chungnam akan segera tiba. Eun Na membenarkan letak kacamata-nya dan bersiap. Setelah kereta-nya tiba dan berhenti di depannya, Eun Na langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kereta.

Eun Na menduduki kursi sesuai dengan urutan yang ada di tiketnya kemudian ia mengeluarkan sebuah iPod putih dari dalam tasnya dan memasang  headset pada telinganya. Eun Na ingin memanfaatkan lamanya perjalanan dengan tidur, mengingat waktu tidurnya benar-benar sangat tidak teratur.

Eun Na mengeluarkan ponselnya dari saku blazer dan memandangi layarnya. Seharusnya saat ini ia menghubungi Heechul untuk membangunkannya seperti biasanya, tetapi Eun Na tidak memiliki keberanian untuk mendengar suara Heechul setelah kejadian kemarin. Eun Na memejamkan matanya dan menggenggam ponselnya erat.

.

.

Sudah 3 hari Eun Na berada di Chungnam dan siang ini Eun Na akan kembali ke Seoul. Sebenarnya Eun Na masih enggan kembali ke Seoul, ia masih ingin menenangkan hatinya disini meskipun keadaannya jauh lebih baik dibandingkan hari itu. Tapi kewajibannya sebagai mahasiswa harus tetap dijalaninya ditambah sebentar lagi akan diadakan ujian tengah semester.

Selama 3 hari di Chungnam, Heechul sedikit jarang menghubunginya. Heechul hanya akan membalas pesan yang dikirimkan Eun Na seadanya. Dan hal itu terus menyisakan sedikit rasa kecewa dalam hati Eun Na.

Eun Na sudah tiba di stasiun kota Seoul lalu memberhentikan sebuah taksi dan menaikinya, Eun Na akan kembali ke apartemennya. Hari ini Eun Na akan bertemu dengan Heechul, dan hal itu sangat dinantikan oleh Eun Na. Ia akui jika ia merindukan Heechul.

Saat dalam perjalanan menuju apartemennya, Eun Na melintasi sebuah café yang biasa ia datangi dengan Heechul. Suasana café terlihat sangat ramai. Tampak sepasang gadis tengah berjalan beriringan dengan seorang pria sambil tertawa dan bergandengan tangan. Seketika kedua mata Eun Na membulat sempurna. Matanya menatap nanar pasangan itu.

Heechul dan………….Yongmi?

 

-TBC-

Hallooo~~ kenalkan saya author baru hehehe. Sebelum mulai cuap-cuap, author mau memberitahu sebelumnya author bernama ‘Heechulliee’ dan sekarang ganti nama jadi ‘HeeEunNa’ hehe. Ini FF ketiga author. FF yang sebelumnya ada yang berjudul ‘Saranghaeyo, My Coordi!’, ‘This Love Is Hurt!’ dan ‘Promise Me And I’ll Be Back’ #promosi.

FF ini sebenarnya berdasarkan pengalaman pribadi, dan akhirnya dikembangkan jadi sebuah FF haha. FF ini hampir sama seperti FF author sebelumnya yang berjudul ‘This Love is Hurt’, tapi ini adalah versi lengkapnya. Jadi semuanya author ungkapin disini. Hiks.

Oke deh, segini aja cuap-cuapnya. Selamat membacaaa~~ ditunggu komen, krtitik dan sarannya. Annyeong ^^

 

9 Comments (+add yours?)

  1. yanda
    Nov 07, 2014 @ 22:34:14

    menguras emosi, gak sabar kelanjutannya. cepet di post ya thor kkk

    Reply

  2. Kim Wonderland
    Nov 08, 2014 @ 00:17:25

    OmG .. if you said this is based true story..
    Im totally believe it…
    Eun Na like me (different situation)

    Cant wait for next part ^^

    Reply

  3. lieyabunda
    Nov 08, 2014 @ 07:48:32

    heechul itu sayang gak sii sama eun na???
    lanjut

    Reply

  4. inggarkichulsung
    Nov 08, 2014 @ 08:06:10

    Menyebalkan sekali Heechul oppa, kasihan Eun Ah yg sll sabar dan berpura2 tdk tersakiti dgn semua keadaan yg saat ini terjadi, apalagi yg nama nya Yongmi cukup disukai oleh keluarga Heechul oppa

    Reply

  5. wiwiex lee
    Nov 08, 2014 @ 20:46:00

    hmm……susah klo dah ky gini….. udah ga ada yg
    ndukung Eun Na n Heechul lg…… pasti sakit bgt ya klo digituin….

    Reply

  6. tabiyan
    Nov 09, 2014 @ 17:15:15

    Oh sumpah jleb bgt ini, klo itu aku, aku akan nangis2 bombay kli th!

    Reply

  7. Lia9287
    Nov 09, 2014 @ 17:22:11

    Kok Heechul tega bgt sih??
    Kasian Eun Na,kalo udah kayak gini bakalan susah kayak’y

    Reply

  8. shellychibi
    Feb 22, 2015 @ 16:37:28

    Wew..
    bner2 si heenim..
    dy slingkuh!

    Reply

  9. shenaa29
    Oct 07, 2015 @ 19:17:50

    Astaga panas gue baca nyaaaaa !! Kesel sm heechul, sm yongmii, kenapa gak putusin ajaaaaaaaa, eunhyukkkk juga dimanaaa diaaa

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: