Bid Farewell to Happiness [1/3]

Bid Farewell to Happiness [1/3]

 

Kadangkala orang yang paling mencintaimu adalah…

Orang yang tak pernah mengatakan cintanya padamu.

Karena orang itu takut kau berpaling dan menjauhinya,

Dan bila dia suatu masa hilang dari pandanganmu,

Kau akan menyadari dia adalah cinta yang tak pernah kau sadari.

― Khalil Gibran ―

.

.

Capricornus

Romance, Sad Story

Lee Sungmin, Cho Sunghae (OC), Choi Ji Eun (OC)

PG-15

.

.

 

Sunghae POV

 

Menunggu seseorang yang bahkan tak mau mengerti, butakah aku selama ini? Tidak! Aku tidak buta, aku hanya terlalu mencintainya, dan kini, apa aku sudah tidak mencintainya hingga memutuskan untuk meninggalkannya? Tidak! Aku masih mencintainya, aku hanya… mengalah. Tak ingin aku memaksakan hatiku terlalu keras pada sebuah perasaan yang hanya akan menyakiti dan menggerogoti hatiku.

 

Create New Message

 

Sungmin oppa, maafkan aku. Sepertinya besok aku tak bisa menemanimu untuk pergi. Sekali lagi, maafkan aku.

Sunghae.

 

Send

 

Aku melemparkan ponselku ke tempat tidurku, membuatnya berguling-guling beberapa kali, hingga akhirnya berhenti karena menabrak gulingku.

 

“Hhhhh”, aku menghembuskan napas panjang.

 

Sudah kuputuskan. Aku akan mulai menjauhinya. Menjauhi seseorang yang telah lama menjadi sosok penyemangat dalam hidupku. Aku bertanya-tanya kapan tepatnya aku akan meledak, karena emosi yang tak kunjung padam dalam hatiku dan tak bisa ku keluarkan.

 

Drrt. Drrt.

 

1 New Message

 

Ada apa? Kau baik-baik saja? Yasudah, tidak apa-apa. Aku akan menelponmu jam 10 nanti. Jangan tidur dulu.

 

Aku tersenyum kecut. Bagi seorang wanita, mendapat perhatian seperti ini, setiap malam kau selalu rutin di teleponnya, selalu di jemputnya, selalu di berikan perhatiannya, menjadi sesuatu yang sangat indah.

 

Ya, indah. Satu kata yang seharusnya aku rasakan. Akan aku rasakan, seandainya dia bukan oppa-ku. Seandainya sedari dulu ia hadir bukan sebagai seorang oppa bagiku. Semua tidak akan sesakit ini.

 

Perhatianku teralih saat melihat Pablo―kucingku―berlari di atas meja belajarku.

 

“Pablo! Awas!”, tanganku segera terulur berusaha menyelamatkan barang-barangku yang jatuh dari atas meja karena tersenggol oleh Pablo.

 

Praang!

 

Bingkai fotoku terjatuh ke lantai kamarku membuat pecahan kaca berserakan dimana-mana. Segera aku berlutut untuk mengambil bingkai foto tersebut, dan membaliknya untuk melihat keadaan foto didalamnya, dan segera menyernyit.

 

Ini adalah fotoku dan Sungmin oppa 2 tahun lalu, saat tahun baru di Hokkaido, Jepang. Saat itu kami memutuskan untuk berlibur disana sekaligus merayakan hari ulang tahun kami yang memang jatuh di tanggal yang sama, yaitu tepat pada tanggal 1 Januari.

 

Tanganku perlahan menyentuh foto tersebut, “Oppa…”, bisikku.

 

“Sunghae? Ada apa di atas? Eomma mendengar ada sesuatu yang pecah”, panggilan eomma-ku mengejutkanku.

 

“Ah, ani eomma, Pablo menyenggol bingkai fotoku, aku akan segera membereskannya”, ujarku.
Aku segera berlutut untuk mengumpulkan sisa-sisa pecahan kaca di sekitarku dengan kedua tanganku.

 

“Ah!”, aku meringis, dan mendapati ujung jari telunjukku berdarah terkena sisi tajam kaca yang akan aku ambil.

 

Deg!

 

Seketika darah berdesir dari ujung kepala ke ujung kakiku, membuatku bergidik. Ada apa ini? Perasaanku tidak enak. Aku menempelkan tangan kiriku ke dadaku. Bergemuruh. Aku ini kenapa?

 

*************

 

Author POV

 

“Aku senang, kau bisa menemaniku”, ujar Sungmin menatap sejenak gadis yang duduk di sebelahnya.

 

“Ne, tentu saja. Aku juga senang bisa menemanimu. Tapi, aku terkejut mengapa tiba-tiba Sunghae membatalkan pergi dengan kita hari ini. Apa dia baik-baik saja?”, tanya Ji Eun.

 

“Ya, tadi malam aku meneleponnya, dia bilang dia sedang tidak enak badan, dasar memang gadis kecil itu”, Sungmin tertawa kecil, membuat gadis di sebelahnya ikut tertawa.

 

“Apa kau selalu meneleponnya?”, tanyanya lagi.

 

“Iya, sudah sejak lama sekali,” Sungmin mengalihkan pandangannya dari kaca depan ke dasbornya, saat melihat Ji Eun merendahkan kepalanya untuk melihat sesuatu yang terpasang disana.

 

“Itu foto kami 2 tahun lalu di Hokkaido, Jepang, saat kami sedang liburan”, jelasnya.

 

“Apa kalian sedekat itu?”, Ji Eun menatap Sungmin.

 

“Ne, dia sudah bagaikan adik kecil bagiku. Aku sering dibuat gila olehnya hanya karena beberapa ide gilanya soal petualangan, dia sangat gila petualangan. Sulit sekali melindungi si kecil itu dari hal-hal konyol yang bisa membuatnya terluka”, lagi-lagi ia tertawa.

 

“Beruntung sekali Sunghae…”, ujar Ji Eun tanpa sadar, membuat getaran jantung pria di sebelahnya memacu cepat, bagai mobil balap.

 

*************

 

2 days ago…

 

“Sungmin oppa, cepatlah! Bagaimana kau ini? Kau sendiri yang bilang ingin lihat sunrise. Kita harus cepat sampai atas bukit sebelum mataharinya muncul, bagaimana kau ini?”, gerutu Sunghae saat melihat Sungmin menghentikan langkahnya dengan napas yang memburu.

 

“Sebentar Sunghae, aku lelah. Istirahat sebentar ya?”, pintanya lemas.

 

“Tidak! Ini tinggal 15 menit lagi, ayolah oppa!”, Sunghae mendorong bahu Sungmin membuatnya mau tak mau melangkah juga.

 

“Ah ne”, ia mengiyakan.

 

***

 

“S..Sunrise”, ujar Sungmin saat melihat matahari menyembul keluar perlahan-lahan dari ujung khatulistiwa. Matanya tak lepas menatap indahnya pemandangan itu. Yang tanpa ia sadari, tatapan seorang gadis menatapnya tanpa lepas, sama seperti ia menatap mentari tersebut.

 

“Bagus kan?”, tanya Sunghae.

 

Sungmin menatapnya dan dengan cepat mengangguk, membuat Sunghae tertawa, “Tapi, kenapa tiba-tiba ingin lihat sunrise? Biasanya kau selalu tidak menyukai pendakian seperti ini?” tanyanya lagi.

 

“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan…”, ujarnya.

 

Sunghae menyernyit, “Apa?”.

 

“Aku… aku sedang menyukai seorang gadis”, ia menatap Sunghae.

 

“B..Benarkah?”, tanya Sunghae, yang dibalas anggukan Sungmin.

 

“Siapa?”, Sunghae maju selangkah.

 

“Park Ji Eun”, jawabnya.

 

“Ji Eun eonni? Kau menyukainya?”, Sunghae mulai merasa bahwa seperti ada yang mengaduk-aduk perutnya, membuatnya mual.

 

“Iya, ah maksudku, kami saling suka. Aku sudah resmi berpacaran dengannya”, Sungmin tersipu mendengar penjelasannya sendiri.

 

“Kalian.. pacaran?”, kata terakhir yang Sunghae lontarkan, sukses membuatnya tercekat.

 

Sungmin mengangguk sekilas. Dapat Sunghae lihat dengan jelas betapa bahagia oppa-nya tersebut. Sunghae menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Sunghae merasa kepalanya pusing, dia berusaha menarik napas untuk meredakan peningnya.

 

“Maafkan oppa-mu ini Sunghae, aku baru bilang hari ini padamu, sebenarnya aku memang sudah menyukainya sejak lama, dan.. dan aku tak tahu bagaimana harus menceritakan hal semacam ini padamu, tapi kau tidak marah padaku kan?”, Sungmin merendahkan kepalanya sejajar dengan kepala Sunghae.

 

Sunghae menggelengkan kepalanya lambat-lambat, membuat pria di hadapannya tersenyum lebar.

 

“Kalau begitu, ayo kita makan! Aku akan mentraktirmu kali ini sampai kau kenyang! Anggap saja ini adalah sarana tebus dosaku, hahaha”, Sungmin merangkul Sunghae dan menariknya dengan lembut menuruni bukit.

 

*************

 

2 minggu kemudian…

 

“Sunghae, kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat belakangan ini, kau sakit ya?” Sungmin menempelkan punggung tangannya pada dahi Sunghae, Sunghae memalingkan wajahnya, berusaha menolak.

 

“Dan.. kau juga berubah belakangan ini, kau jadi lebih banyak diam, apa kau marah padaku?” Sungmin menatapnya.

 

“Tidak, aku baik-baik saja, dan aku tidak marah padamu”, ujarnya datar.

 

“Benarkah? Baiklah kalau begitu”, dia mengangguk, “Sunghae, kau mau menemaniku tidak besok malam?” tanyanya lagi.

 

“Apa yang ingin kau lakukan?”, Sunghae mengangkat sebelah alisnya.

 

“Bantu aku untuk mencari cincin pertunangan untuk Ji Eun”, jawabnya.

 

“A..Apa?”, jawaban tadi berhasil membuat tenggorokannya tercekat.

 

“Aku.. aku ingin segera melamarnya, Sunghae. Tidak ada gadis lain yang aku lihat selain dirinya. Untuk apa aku membuang waktuku. Toh tidak ada bedanya sekarang atau nanti, aku akan tetap menikahinya,” ujarnya sembari menatap Sunghae.

 

“S..Sungmin oppa…”, Sunghae menunduk, membuat Sungmin mengulurkan tangannya, dan dengan jari telunjuknya, dia mengangkat lembut dagu Sunghae agar menatapnya.

 

“Waeyo?”, tanyanya dengan tatapan yang mampu menembus hati Sunghae dengan mudah.

 

“Ani oppa”, Sunghae menggeleng sembari berusaha tersenyum, ia mencoba menghiraukan rasa sesak dalam dadanya, tiap kali mendengar oppa-nya membicarakan soal Ji Eun.

 

“Hhhhh”, Sunghae menghembuskan napas dengan suara keras, berusaha meredakan rasa ngilu dalam hatinya.

 

“Kenapa kau menghela napas seperti itu? Kau sakit ya, Sunghae? Lebih baik kau istirahat saja, aku tak ingin melihatmu sakit, arra?”, ujarnya sembari mengacak lembut rambut Sunghae.

 

*************

 

Sunghae POV

 

“Sunghae!”, aku menghentikan langkahku dengan spontan saat mendengar seseorang memanggil namaku. Sebenarnya tanpa menengok pun aku tahu siapa dia. Dengan mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku, aku membalik badan.

 

“Wae?”, tanyaku datar.

 

Seketika dia menyernyit saat mendengar pertanyaanku, “Kau ini kenapa? Kau marah padaku?”, tanyanya dengan sebelah alis terangkat.

 

“Tidak, maaf aku sibuk. Permisi”, ujarku tanpa menatapnya.

 

“Tidak! Sunghae, tunggu! Kau ini kenapa sih? Ada suatu hal penting yang ingin aku bicarakan”, dia menarik lenganku memaksaku menatapnya.

 

“Kau.. lepaskan aku!”, aku menghentak keras, membuat pegangannya terlepas dari pergelangan tanganku.

 

“Sunghae, ada apa sebenarnya? Tidak!”, tolaknya cepat saat melihatku membuka mulutku, “Aku tahu kau pasti ingin bilang bahwa kau baik-baik saja kan? Tapi tidak Sunghae, semua tidak baik-baik saja, kau mau tahu mengapa aku bisa berbicara seperti itu? Karena kau begitu menghindariku Sunghae, sekarang kumohon jawab jujur padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?”, dia memaksaku menatapnya dengan memegang kedua lenganku dengan kuat.

 

Aku mencoba tenang dan menahan sesuatu yang ada di dalam diriku yang sepertinya akan keluar untuk tetap didalam saja. Aku cukup tau diri, dia sudah terlalu baik padaku, memangnya aku siapa? Beraninya menilai pilihan hatinya? Aku berusaha untuk membalas tatapannya, lalu mencoba tersenyum, “Aku baik-baik saja, sungguh”, aku mengangkat tanganku saat melihatnya ingin mengucapkan sesuatu, “Aku sedang sibuk kuliah saat ini, kukira kau sudah tahu hal itu, maafkan aku, Oppa. Aku telah membuatmu merasa seperti ini, tapi kumohon mengertilah”, aku menyentuh tangannya yang berada di lenganku dan melepas pegangannya perlahan, “Aku sedang ada tes sekarang, aku pergi dulu, sekali lagi maafkan aku”, ujarku perlahan.

 

Aku membalik badan dan dengan cepat melangkah menuju kelasku. Butir-butir airmataku jatuh satu-persatu pada tiap tapak langkah yang aku lalui.

 

*************

 

Author POV

 

“Sunghae? Nak? Apa kau baik-baik saja?”, ibu Sunghae berdiri di ambang pintu kamar anaknya.
Sunghae menoleh dan menggelengkan kepalanya sekilas.

 

Ibu Sunghae segera masuk kedalam kamar dan duduk disebelah Sunghae sembari mengelus dengan sayang kepala Sunghae.

 

“Kau yakin? Akhir-akhir ini, eomma sudah tidak pernah lagi melihat Ming datang kemari, apa kalian bertengkar?”, pertanyaan ibunya tersebut membuat Sunghae menunduk berusaha mengubur rasa perih dalam dadanya. Namun hal tersebut hanya berhasil selama beberapa saat.

 

“Eomma…”, tangis Sunghae meledak. Ia terisak sembari memeluk ibunya.

 

***

 

Beberapa bulan kemudian…

 

“Yeoboseyo?”, Sungmin dengan keadaan setengah sadar mengangkat teleponnya, tanpa ia lihat terlebih dahulu siapa peneleponnya.

 

“Yeoboseyo, Ming? Ini benar Ming kan?”, suara wanita diseberang telepon terdengar berusaha meyakinkan. Saat mendengar suara siapa itu, Sungmin dengan spontan bangkit dari tidurnya.

 

“Eomma? Ada apa telepon? Iya, ini aku”, jawabnya. Betapa terkejutnya ia, pagi-pagi begini dikejutkan oleh datangnya telepon dari ahjumma jauhnya, yang biasa ia panggil ‘eomma’, yang tak lain dan tak bukan adalah ibu Sunghae.

 

“Apa eomma mengganggumu? Begini, eomma ingin minta tolong, kalau kau sedang tidak sibuk, bisakah mampir sebentar?”, suara ahjumma yang biasanya terdengar berwibawa dan tenang, kini terdengar lebih panik. Kata demi kata saling berkejaran. Membuat Sungmin menyernyitkan keningnya.

 

“Tidak, eomma tidak menggangguku kok. Ah tentu saja aku akan main kesana, memangnya eomma ingin minta tolong apa?”, tanyanya.

 

“Mmm… Sunghae…”, jawabnya ragu.

 

Sungmin menegakkan tubuhnya. Sudah lama ia tidak bertemu Sunghae. Ia benar-benar merindukan gadis itu. Biasanya walaupun tidak bertemu, Sungmin akan menelepon Sunghae. Tapi kini, Sunghae bahkan tak lagi mau mengangkat teleponnya. Apa keadaan gadis itu baik-baik saja? batinnya.

 

“Ada apa eomma?”, tanyanya dengan wajah serius.

 

“Nanti saja kalau kau sudah disini. Ngomong-ngomong, kau akan datang jam berapa?”, suara ibu Sunghae terdengar berusaha membuatnya tenang. Namun entah mengapa, hal tersebut justru membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

 

“Segera”, jawabnya tegas.

 

“Ne, gomawo-yo Ming. Annyeong”.

 

“Annyeonghaseyo, eomma”, dengan segera ia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah cepat menuju kamar mandi.

 

***

 

Sungmin memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Satu-satunya hal yang ia inginkan, hanya melihat gadis kecilnya, Sunghae. Ia bahkan membatalkan janji dengan Ji Eun. Padahal hari ini mereka seharusnya pergi ke butik untuk mengambil baju pernikahan yang mereka pesan. Tapi tak apalah.

 

TING! TONG! TING! TONG!

 

Sungmin menunggu beberapa lama, namun rumah tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan pemiliknya. Saat Sungmin sudah ingin melangkah pergi, tiba-tiba ada yang membuka pintu rumah tersebut. Namun yang membuka bukanlah eomma atau Sunghae. Melainkan pelayan rumah tersebut. Dia tampak terkejut melihat Sungmin berdiri didepan pintu.

 

“Loh Tuan Muda? Apa yang Tuan lakukan disini? Tuan tidak bersama dengan Nyonya di rumah sakit?”

 

Sungmin menyernyitkan keningnya, “Memangnya siapa yang sakit?”, tanyanya.

 

“Tuan Muda tidak tahu? Tadi pagi kanker Nona Sunghae kambuh”, terangnya.

 

“K..Kanker?”

 

*************

 

(to be continued…)

 

4 Comments (+add yours?)

  1. Rin
    Nov 09, 2014 @ 16:10:20

    yah sad ending sepihak ini jadinya T..T

    Reply

  2. irma cho
    Nov 09, 2014 @ 20:31:14

    kasihan sunghee nahan sakit hati……pengen menitikan air mata……betapa sakitnya hati sunghee

    Reply

  3. minra
    Nov 09, 2014 @ 23:40:20

    Waah waahh…feelingnya sad ending nih, hikks

    Reply

  4. Lia9287
    Nov 10, 2014 @ 00:21:22

    Kayak’y bakalan sad ending nih 😥

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: