Bid Farewell to Happiness [3/3]

Bid Farewell to Happiness [3/3]

 

Kadangkala orang yang paling mencintaimu adalah…

Orang yang tak pernah mengatakan cintanya padamu.

Karena orang itu takut kau berpaling dan menjauhinya,

Dan bila dia suatu masa hilang dari pandanganmu,

Kau akan menyadari dia adalah cinta yang tak pernah kau sadari.

― Khalil Gibran ―

.

.

Capricornus

Romance, Sad Story

Lee Sungmin, Cho Sunghae (OC), Choi Ji Eun (OC)

PG-15

.

.

 

Cerita sebelumnya…

 

Ji Eun POV

 

Dalam perjalanan menuju butik, aku tak henti-hentinya memanjatkan doaku untuk Sunghae. Jebal. Aku ingin dia sembuh. Berikan ia kesempatan, tidak–berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tak ingin seperti ini. Aku tak ingin Sunghae pergi dengan cara seperti ini.

 

Aku sama sekali tidak fokus mengemudi, pikiranku terus melayang memikirkan perbincanganku dengan Sunghae waktu itu. Seandainya aku tidak datang ke acara reunian waktu itu, aku tidak akan bertemu lagi dengan Sungmin. Mungkin mereka akan bahagia kini, mungkin Sunghae akan tetap sehat karena tidak ada beban yang ia pikirkan. Beban. Ya, aku adalah beban mereka. Semua terjadi karena kedatanganku.

 

TIN! TIN! TIN!

 

Setiap kali aku membuka mata di pagi hari, hanya satu yang aku inginkan. Membuka ponselku karena disana pasti terdapat voicemail darinya yang mengucapkan selamat pagi dengan kata-kata sayang. Aku menyukainya setiap kali ia menatapku dalam, karena saat itulah aku merasa berharga. Aku menyukainya setiap kali aku membuka pintu dan kudapati ia berdiri di depan rumahku membawakan seikat bunga mawar yang harum. Aku menyukainya saat ia berkata padaku bahwa ia mencintaiku sembari tersenyum dan membelai lembut rambutku. Aku menyukai semua yang ia lakukan padaku dan… tanpa kusadari, itulah kesalahanku. Aku terlalu mencintai dirinya.

 

“BERHENTI! ADA KERETA!”

 

Aku mencintainya. Sangat mencintainya.

 

“AHH!”

 

BRAK!

 

*************

 

Author POV

 

Drrt… Drrt…

 

Ponsel milik Sungmin bergetar tanda ada yang menghubunginya, tak kunjung mendapat respon dari sang empunya. Sungmin sibuk mondar-mandir didepan ruangan gawat darurat tempat dimana Sunghae ditangani. Beberapa saat yang lalu, keadaan Sunghae memburuk, tubuhnya tak lagi mau menerima obat yang disuntikkan. Tubuh Sunghae menolak menyerap obat tersebut. Membuat Sunghae sempat mengalami kejang-kejang. Hal tersebut membuat ibu Sunghae panik dan Sungmin berusaha keras untuk menyembunyikan kesedihannya. Demi tuhan! Sungmin sungguh ingin menangis, namun ia tak sanggup. Ia tak ingin membuat keadaan menjadi lebih buruk.

 

Kejadian ini cukup membuatnya tertekan. Ditambah lusa adalah hari pernikahannya dengan Ji Eun. Tapi bagaimana ia bisa menikah, jika sang pendamping sedang kritis?

 

*************

 

“Seseorang tolong panggil ambulans!”, teriakan panik terdengar di sekeliling tempat kejadian. Terlihat seorang wanita muda yang cantik, tak sadarkan diri, serta ditubuhnya penuh dengan lumuran darah. Sedangkan mobilnya ringsek, karena tertabrak kepala kereta api yang sedang melaju. Mobilnya terseret sejauh 100 meter dan terlempar menabrak pohon besar di samping rel kereta api.

 

“Bagaimana keadaannya? Apa dia masih hidup?”, tanya seseorang.

 

“Demi tuhan, dia masih hidup!”, ujar yang lain.

 

“Antarkan dia ke rumah sakit terdekat dari sini. Jeolchin hospital.”

 

*************

 

“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?”, Ibu Sunghae mencengkeram ujung bajunya yang sudah kusut.

 

“Keadaannya masih sama Bu, saya tidak bisa menjanjikan banyak, tapi saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa, morfin sedang bekerja di tubuhnya saat ini, kita berharap yang terbaik”, ujar Dokter itu.

 

***

 

“Ya Tuhan, Sunghae kumohon kembalilah sehat, aku membutuhkanmu…”, Sungmin berbisik pelan saat keluar dari ruang rawat inap Sunghae.

 

“Hati-hati! Cepat bawa dia ke ruang ICU!”, suara ramai orang di belakang Sungmin membuatnya menoleh dan saat itulah dia melihat…

 

Gadis itu… terbaring lemah di atas tempat tidur beroda dengan tubuh penuh dengan lumuran darah. Sungmin menajamkan pandangannya, terlihat pendar keemasan di jari manis gadis itu, berbentuk hati bertahtakan berlian. Sungmin ingat, ia pernah lihat benda itu…

 

FLASHBACK

 

“Jadi, yang mana cincin yang kalian pilih?”, tanya Ahjussi penjual aksesoris itu.

 

“Bagaimana jika yang ini? Aku suka, bentuknya hati”, ujar gadis itu pada pria tampan di sebelahnya.

 

“Kau menyukainya? Oh baiklah. Pak, tolong yang ini”, pria itu menunjuk salah satu cincin di dalam box kaca tersebut.

 

“Baik, jadi siapa nama kalian yang harus saya ukir di cincin ini?”, pria penjual aksesoris itu meraih kacamata tua di atas meja dan memakainya, lalu meraih bolpoin dan secarik kertas.

 

“Sungmin, Lee Sungmin dan Choi Ji Eun”, jawab pria itu.

 

JI EUN!

 

“Ji Eun!”, Sungmin berlari untuk memastikan menuju tempat tidur beroda itu dan benar, itu Ji Eun! Kemarahannya benar-benar tak mampu terbendung.

 

“APA YANG TERJADI?!”, Sungmin meraup dengan kasar kerah baju salah satu pria yang ikut mendorong tempat tidur Ji Eun.

 

“A..Aku tidak tahu… Mereka hanya menyetop mobilku lalu memasukkan gadis ini ke dalam mobilku dan menyuruhku dengan segera membawanya ke rumah sakit”, jawabnya terbata-bata.

 

Sungmin melepaskan genggamannya lalu menarik baju salah satu pria yang lain, “APA YANG TERJADI PADA CALON ISTRIKU?!”

 

“Dia..Dia tertabrak kereta, mobilnya ringsek. Kami sudah memeringatkan tapi sepertinya dia tidak mendengarnya”, pria itu terlihat takut-takut saat mencoba melepaskan genggaman Sungmin di bajunya.

 

“Bagaimana dengan palang keretanya? Ji Eun tidak mungkin menerobos palang kereta..”

 

“Memang tidak. Palang kereta di wilayah sana memang sedang dalam tahap perbaikan, jadi tidak ada tanda jika ada kereta yang akan melintas”, jawab pria itu lagi.

 

Genggaman Sungmin perlahan melemah hingga akhirnya terlepas, “Tidak mungkin… Tidak… Ji Eun …”, Sungmin baru saja akan melangkah mengikuti Ji Eun ke ruang ICU saat suara itu memanggilnya…

 

“Sungmin oppa…”, membuat Sungmin menoleh, Sunghae?

 

“Oppa…”, kali ini tanpa suara Sunghae memanggil Sungmin. Hanya gerakan bibirnya saja yang mampu menandakan bahwa gadis itu memanggilnya, Sunghae menatapnya dan mengulurkan sebelah tangannya pada Sungmin.

 

Sunghae terlihat lebih pucat dengan selang di hidungnya. Sunghae dibaringkan diatas tempat tidur beroda menuju ruang ICU, sedangkan para perawat, dokter, dan ibu Sunghae mengikuti di belakang dengan tergopoh-gopoh.

 

Apa? Aku… Sunghae dan Ji Eun, “Aaaaarghh!”, Sungmin terjatuh pada lututnya.

 

*************

 

Tuut… Tuut… Tuuuuuut…

 

Dokter berusia setengah baya itu menggelengkan kepalanya. Menengok sekilas pada beberapa perawat yang menemaninya.

 

“Kita kehilangan dia…”, ujarnya.

 

Selalu rasanya sama, setiap kali ia merasa gagal mengembalikan kesehatan pasiennya. Namun, pengalaman selama puluhan tahun telah membuatnya mampu bersikap tegar tanpa menunjukkan ekspresi wajah yang terluka.

 

Dia melepas sarung tangannya yang penuh darah dan mengangkat selimut menutupi tubuh wanita yang kini telah menjadi jasad tersebut.

 

***

 

“Maaf, nona Junghee telah meninggalkan kita”, perawat itu menatap satu-satunya pengunjung rumah sakit yang setia menunggu di depan ruang operasi.

 

Detik sebelumnya, pria itu masih menatapnya seolah tak percaya, namun detik berikutnya matanya seolah kosong. Pria itu berdiri tegak, lalu perlahan jatuh pada lututnya. Pria itu menunduk.

 

Tak tahu apa yang harus dilakukan, perawat itu melangkah mendekati pria itu dan meraih bahunya, “Anda harus tegar”, ujarnya sembari berusaha mengangkat tubuh pria itu dan membantunya duduk di bangku rumah sakit. Setelahnya, ia memutuskan untuk meninggalkan pria itu.

 

“TIDAAAAAAAAAKKK!!!!”

 

Suara jeritan memilukan itu terdengar hingga lorong-lorong kecil rumah sakit. Pria itu mulai berusaha mendobrak masuk ke ruang ICU, membuat beberapa petugas keamanan bertindak. Saat sedang ditarik paksa ke pintu lift, ia melihat seorang wanita paruh baya keluar dari pintu ICU yang lain. Saat mata mereka bertemu, pria itu tahu ada berita buruk yang lain.

 

Wanita setengah baya itu berlari menghampirinya dan memeluknya erat. Pria itu sungguh tak ingin mendengar apapun. Tapi terlambat, wanita setengah baya itu membisikkan sesuatu yang membuatnya seolah ingin mati.

 

“Sunghae sudah pergi…”, bisik wanita setengah baya tersebut.

 

Saat itulah pria itu mulai melihat ada pendar kabur di depan matanya. Lututnya mulai terasa goyah, keadaan sekitar mulai gelap hingga tak terlihat apapun lagi. Yang bisa ia rasakan hanyalah dinginnya lantai porselen rumah sakit menempel pada lututnya, lalu telapak tangannya, hingga akhirnya terasa pada sisi wajahnya.

 

*************

 

Di dalam ruang berukuran 10 x 15m itulah terlihat seorang pria tampan mengenakan pakaian setelan putih-putih duduk diatas ranjang warna senada. Pria itu menatap kosong ke dinding putih di hadapannya. Jika dilihat sekeliling ruangan serba putih itu, tak ada apapun selain ranjang kecil, lemari dan sebuah meja kecil di samping ranjang tersebut. Jendela kecil berjeruji itupun seolah melindungi seseorang yang mungkin sedang berada diluar dari sesuatu yang berada di dalam ruangan tersebut.

 

KREKKK

 

Bunyi deret pintu besi itu seolah tak membuat pria itu terusik, seolah tak ingin melewatkan sesuatu yang mungkin muncul pada dinding yang ia tatap itu.

 

“Bagaimana keadaannya, Suster?”, tanya seorang Bapak berperawakan kecil tersebut. Terlihat semburat kekhawatiran di sekitar wajahnya yang mulai penuh dengan garis-garis halus melengkung seperti aprikot kering.

 

“Keadaannya masih sama, Pak. Tuan masih tidak mau makan, dan akan tiba-tiba menyerang siapapun yang berusaha mendekatinya. Dokter masih secara berkala memberikan obat penenang untuknya.”

 

Bapak itu menatap pria itu penuh rasa sesal, seolah menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada anak laki-lakinya saat ini.

 

“Tolong jangan mendekat, Pak,” tahan suster tersebut saat melihat bapak itu seolah ingin mendekati pria muda itu.

 

“Tapi, dia anak saya Suster. Nak, ini Appa….”, ujarnya sambil melepaskan genggaman suster itu dan berjalan mendekat.

 

“AAAAAARRRGGHHHH!!! Pergiiii!!! PERGIIII!!!”, pria itu seolah tanpa kendali menatap kedua orang tersebut dan meneriakkan kata-katanya dengan kasar lalu berusaha menyerang mereka. Suster dengan sigap menarik bapak itu dan membawanya keluar lalu mengunci pintu ruangan tersebut.

 

“Maaf, Pak. Tapi ini yang bisa saya lakukan”, ujar suster itu.

 

Menatap sebentar suster itu lalu berpaling pada celah-celah kecil di pintu ruangan itu, “Anakku, maafkan Appa…”, bisiknya, terlihat bulir-bulir airmata jatuh dari kedua mata yang mulai keriput itu, lalu ia pun pergi dengan gontai meninggalkan tempat itu.

 

Selepas kepergiannya, pria itu terlihat duduk kembali di atas ranjangnya dan menatap dinding yang sama seperti sebelumnya. Saat itulah, terlihat wajahnya yang kosong, berubah pilu dan tiba-tiba ia menangis sejadi-jadinya.

 

“TIDAAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!!”, teriaknya, pria itu mulai menarik-narik rambutnya sendiri dan mengacak-acak ruangan tersebut.

 

Suster yang melihat hal itu dibalik pintu, langsung bertindak memanggil dokter.

 

Saat dokter tiba, dengan sigap dokter itu langsung mengikat kedua tangan pria itu dan meminta suster untuk membantunya, dan langsung menyuntikkan cairan berwarna bening ke pergelangan kanan pria tersebut. Beberapa saat kemudian, pria itu mulai tenang hingga akhirnya tertidur di atas ranjangnya.

 

“Biarkan dia istirahat,” ujar dokter itu.

 

“Baik”, suster itu dengan sigap merapihkan kamar inap tersebut. Saat suster itu meraih selimut yang tersampir di kaki ranjang, terlihatlah sebuah papan bertuliskan :

 

RUMAH SAKIT JIWA SEOUL

Nama Pasien        : Lee Sungmin

Usia                : 28 Tahun

Tanggal Masuk      : 11 Desember 2014

 

 

*************END*************

 

Note  : Aku buat cerita ini udah lama sebenernya, sekitar satu setengah tahun yang lalu, jauh dari sebelum berita Sungmin akan menikah yang sebenarnya keluar. Sebagai seorang fans dari SJ khususnya Sungmin, jujur antara seneng, bingung, sedih, takut. Aku gak pernah nyangka Sungmin akan memilih jalan menikah secepat ini. Bahkan sampai mikir kenapa aku harus bikin nama si cewek punya “eun” dibelakangnya. Seperti “eun” calon yang asli, dan “eun” calon buatanku. Aku yakin ini kebetulan tapi bahkan aku gabisa berenti nangis karena mikirin ini. Aku cuma fans. Kita cuma fans. Aku bener-bener pengin bilang supaya dia bahagia, tapi bahkan aku terlalu takut membayangkan menyukai dia sebagai suami orang. Lucu. Aku hanya berharap yang terbaik. Karena sesungguhnya, ini hanyalah siklus kehidupan. Dimana seseorang dilahirkan, menjadi anak-anak, remaja, kemudian dewasa, punya karir, lalu menikah, punya anak, menjadi orang tua yang melihat anak-anaknya tumbuh remaja, dewasa, punya karir, hingga sang anak menikah dan punya anak. Begitu seterusnya. Karena dari awal kita memilih sebagai seorang fans, maka kita sadar kalau ini hanya cinta sebelah tangan, tak akan pernah berbalas. Karena kita Ever Lasting Friends, bukan Ever Lasting Girlfriends. Begitu kata salah satu temanku. Apapun yang terjadi, kita hanya harus mendukung mereka, kan? Karena aku ingat salah satu semboyan ELF, “If someday, World betrays Super Junior. ELF will betray The World”. Terdengar berlebihan, tapi kurasa saat inilah saat dimana kita harus lakukan itu. So Lee Sungmin, be happy.

4 Comments (+add yours?)

  1. yanda
    Nov 16, 2014 @ 12:25:41

    jadi jieun sunghae meninggal, sungminnya jadi gila? ya ampun tragis banget 😦

    Reply

  2. Lia9287
    Nov 16, 2014 @ 14:32:44

    Jadi mereka berdua meninggal 😥
    Kasian Sungmin

    Reply

  3. Monika sbr
    Nov 16, 2014 @ 15:06:10

    Tragis banget sih!!
    Kirain sungmin bakalan jadian ama salah satu dari kedua gadis tersebut, tapi ternyata keduanya malah meninggal.

    Reply

  4. adhana_jung
    Nov 16, 2014 @ 21:33:14

    Tanggalny 11 desember -_-

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: