Wedding Contract [9/?]

wedding-contract-by-princess-pink

 

Nama: Stiva Yulianti Azhar

Judul : Wedding Contract

Genre: Romance, Comedy, Family

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Note: Maklum yah kalau ceritanya gaje plus banyak typonya. Hihihi visit http://allrisepink.wordpress.com

I want to send my feelings to you
When the wind brushes againts my cheek
I suddenly think of you
I want to be a large tree that
stay by your side
To watch over you under the skies
Please believe in me

(Lovely Day – Super Junior)

-Princess Pink Storyline-

Eunhyuk’s pov

Aku merasakan jantungku berdentum dengan hebatnya ketika menatap mata Jisoon dengan jarak sedekat ini. Seperti samudera yang membuatku tenggelam di dalamnya. Tangannya terus mendorong dadaku agar menjauh darinya. Tapi yang ada aku terus memajukan tubuhku, membuatnya semakin terhimpit.

“Aku akan menelpon polisi kalau kau sampai berbuat macam-macam,”  ancamnya sambil tetap berusaha mendorongku. Berkali-kali tangannya memukul dadaku, tapi itu tidak mempan bagiku.

Ternyata mengerjai gadis ini cukup menyenangkan juga.

“Mana ada polisi yang memenjarakan seorang suami yang ingin meniduri istrinya?” ledekku. Membuatnya semakin ketakutan.

Dia tak gentar dengan segala usahanya. Tangannya yang sebelah meraba-raba beberapa tempat untuk menemukan suatu benda. Untuk memukulku mungkin. Aku rasa permainan semakin menarik.

“Jadi dari mana kita mulai?”

Jisoon terkekeh, dia kali ini bisa mengendalikan dirinya untuk bisa lebih tenang walaupun aku bisa dengan jelas mendengar detakan jantungnya yang begitu menyenangkan.

“Kau ingin dengan cara yang bagaimana ? Aku lebih suka bermain kasar.”

“Kenapa kau tidak mulai dari luar kamar ini lalu aku mengunci pintunya dari dalam?”

“Berarti kau ingin dengan cara yang kasar. Baiklah,” ucapku final. Dengan cepat aku memajukan kepalaku untuk menggapai bibirnya. Gadis itu memejamkan matanya ketakutan. Kedua tangannya kini tertahan oleh tanganku. Sebelum beberapa saat mulutnya sempat bergerak memohon padaku.

“Aku akan membunuhmu kalau sampai kau melakukannya, Lee Hyuk Jae.”

“Terlambat…”

Tanganku berpindah mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Aku terdiam menatapnya yang masih memejamkan mata dengan eratnya karena ketakutan. Setelah hening beberapa saat, barulah dia membuka matanya.

“Kenapa kau berhenti?” tanyanya heran ketika melihatku memundurkan tubuhku menjauh darinya. Aku hanya mengerjainya. Aku sama sekali tidak berani menyentuhnya lebih jauh.

“Jadi kau menginginkannya ? Baiklah…”

Baru saja tanganku ingin mendorongnya lagi tapi dia sudah lebih menarik tanganku dan menggigitnya. Persis saat malam pertama kami, gadis ini hampir menelan mentah-mentah tanganku.

“AWWWHH! YAK! LEPASKAN TANGANKU PARK JISOON.”

“KAU MAU LAGI MENGGODAKU ? HAH ? RASAKAN INI!!!”

“AARRGGHH!”

***

Author’s pov

Jisoon menatap Eunhyuk dengan geramnya. Pria itu membiarkannya mengangkat sendiri koper bawaannya sampai ke rumah mereka. Suaminya itu melancarkan aksi marahnya sejak kejadian tadi malam.

Siapa suruh dia menggodaku ? dengus Jisoon kesal ketika melihat Eunhyuk sudah memasuki pintu rumah mereka dan duduk di sofa dengan santainya.

“Kalian sudah pulang!” seru Kyuhyun yang baru saja keluar dari dapur. Suatu keajaiban tersendiri seorang Cho Kyuhyun sedang berada di dapur. Sebelumnya pria itu jarang memasuki area wilayah khusus wanita itu kecuali ada sesuatu hal yang penting. Jisoon mencibir Kyuhyun yang tampak sumringah melihat kedatangan mereka.

“Bagaimana liburan kalian ? Apa pulau jeju masih baik-baik saja setelah kalian kunjungi?”

“Memangnya apa yang akan terjadi, Cho Kyuhyun?” Jisoon menggertakkan giginya ketika mendengar pertanyaan mengejek Kyuhyun yang mengatakan seolah pulau jeju akan hancur seketika jika dikunjungi oleh orang seperti Jisoon dan Eunhyuk.

Kyuhyun mengedikkan bahunya, pandangannya beralih pada Eunhyuk yang duduk di sofa sedang mereklasasikan otot-ototnya.

“Gempa dadakan mungkin.”

“Yak!”

Kyuhyun terkekeh geli lalu dia meredam tawanya dengan berdeham. Dia ingin menggoda suami gadis itu tapi tampaknya pria itu sedang kelelahan. Kyuhyun menyimpan bahan ejekannya untuk Eunhyuk sampai nanti malam.

“Siapkan suamimu air panas. Dia pasti lelah sekali,” Kyuhyun mengedikkan dagunya ke arah Eunhyuk.

“Ya… lalu aku akan menyiram air itu ke wajahnya.”

“Hei… kukira kalian berdamai disana… tapi sepertinya hubungan kalian tambah parah. Apa yang terjadi disana?”

“Jariku hampir putus digigit olehnya,” sahut Eunhyuk masih dengan mata yang terpejam.

“Salahmu sendiri… Kenapa kau menindihku?”

“Aku hanya bercanda…”

“Kenapa kau melakukannya?” Jisoon melemparkan bantal sofa ke wajah Eunhyuk. Saking kesalnya dia tidak menyadari Kyuhyun yang melongo kaget mendengarkan percakapan mereka. Tentu saja Kyuhyun salah paham mendengar dari apa yang keluar dari bibir Jisoon.

Menindih ? Astaga… mereka sudah melakukannya… Pikir Kyuhyun dalam hati.

“Tunggu dulu! Kalian sudah melakukannya?” Kyuhyun memotong percakapan mereka.

“Melakukan apa?”

“Melakukan apa maksudmu, Cho Kyuhyun?” tanya Jisoon dan Eunhyuk hampir bersamaan.

“Hubungan suami istri…”

“Tidak!”

“Tentu saja tidak!”

“Jangan membohongiku!” tuduh Kyuhyun. Dia menatap Jisoon dan Eunhyuk dengan curiga sambil mengulum senyumnya.

“Aniyoo… kenapa kau susah sekali percaya?” bantah Jisoon. Dia melirik ke arah Eunhyuk meminta bantuannya untuk membantah tuduhan Kyuhyun.

“Kalian tidak perlu menutupinya. Kalian ini kan pasangan suami istri. Itu sangat wajar,” ujar Kyuhyun semakin memojokkan pasangan suami istri itu.

“Wajar apanya ?” Jisoon sudah tidak bisa menahan lagi emosinya. Gadis itu benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Kyuhyun semakin tertantang untuk membuat Jisoon marah.

“Sudahlah… Kami memang melakukannya,” Eunhyuk akhirnya angkat bicara. Membuat Jisoon melotot mendengar jawaban tak terduga dari Eunhyuk. “Kenapa kau tidak iyakan saja agar dia segera menutup mulutnya?”

“Yak! Bicara apa kau?”

“Sudah kuduga… Kalian akhirnya melakukannya,” Kyuhyun meledakkan tawanya sambil memegangi perutnya yang sakit.

“Diam kau! Aku tidak melakukannya. Kami tidak melakukannya. Kenapa kau sulit sekali percaya, Cho Kyuhyun?”

“Sebaiknya kau persiapkan dirimu, Lee Jisoon. Besok lusa ada ujian akhir. Kemarin aku dari fakultasmu untuk melihat jadwal ujianmu.”

Jisoon menengok kearah kalender yang tertempel di dinding di sebelah dapur. Dia menyipitkan matanya untuk melihat tanggal yang tertera di kalender itu. Benar saja… Dia terlalu sibuk mengurusi kehidupan barunya setelah menikah sehingga dia lupa dengan kuliahnya. Dia bahkan tidak menyadari kalau ujian akhirnya sudah di depan mata.

“Atau kau mau berhenti kuliah seperti perkataanku tempo hari ? bukankah sudah kubilang, kuliah hanya sekedar formalitas untukmu.”

“Diam kau, Cho Kyuhyun!”

***

“Kalian tidak membawa sesuatu untuk kakek?” tanya Park Taewoo begitu memeluk Yoonhae yang baru saja tiba di Seoul. Yoonhae hanya tertawa pelan menanggapi pertanyaan kakeknya.

“Bagaimana liburan kalian?” tanya kakek lagi pada Yoonhae dan Kibum.

“Paris sangat indah. Yoonhae bahkan tidak ingin pulang dari sana,” jawab Kibum sambil merangkul Yoonhae.

“Jisoon dan Eunhyuk juga pergi liburan. Mereka ke Pulau Jeju. Sepertinya mereka juga sudah pulang. Mereka tidak mau kalah dari kalian.”

“Mwo? pulau jeju?”

Yoonhae sukses terkejut. Dia melirik ke arah Kibum dan menatap suaminya itu seolah bertanya bukankah kita yang mesti liburan di Pulau Jeju ? Mengerti maksud dari tatapan Yoonhae, Kibum hanya mengedikkan bahunya.

Kibum juga tidak tahu apa-apa mengenai tempat liburan mereka. Setelah acara pernikahannya, Eunhyuk tiba-tiba menelponnya dan memberinya hadiah liburan ke Paris. Kibum menggelengkan kepalanya, dia terlalu bingung menghadapi kedua orang itu. Siapa lagi kalau bukan Jisoon dan Eunhyuk.

“Ah iya… Kibum-ah, apa kau masih mengingat Dongwoon? Dia datang ke rumah ini beberapa hari yang lalu.”

“Dongwoon?” Kibum mengerutkan keningnya. Berusaha memikirkan siapa Dongwoon yang dimaksud oleh Park Taewoo.

Dongwoon… Dongwoon…

Kibum membulatkan matanya ketika tahu siapa orang itu. Dongwoon. Son Dongwoon. Orang itu…

Apa tujuannya muncul ditengah-tengah keluarga ini?

***

Eunhyuk’s pov

Song Qian tersenyum lalu membungkuk kearahku ketika aku sedang berjalan menuju ruanganku. Seperti biasa, dia sudah siap dengan beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani.

“Selamat pagi tuan. Sepertinya liburan anda menyenangkan,” sapa Song Qian. Aku hanya tersenyum menjawab sapaannya. Aku menunduk menatap tanganku. Aku mengingat ketika malam itu Jisoon menggigitnya. Sama seperti saat malam pertama pernikahan kami. Dia juga melakukan hal yang sama.

Tanganku memutar knop pintu ruanganku. Dan aku sukses terkejut ketika melihat tumpukan map di atas mejaku. Aku spontan menoleh ke sekretarisku yang terlihat bingung dan seolah bertanya ada apa ?

“Kau mengumpulkan dokumen itu di atas mejaku?” tanya Eunhyuk heran.

“Itu lebih baik. Daripada aku tiba-tiba memberikannya pada anda, Tuan.” balas Song Qian.

“Ah! Sama saja…”

Aku menghela nafasku dengan berat ketika memasuki ruanganku. Sepertinya hari ini aku harus lembur. Aku segera merogoh ponselku untuk menghubungi Jisoon. Aku harus memberitahunya kalau malam ini aku akan terlambat pulang.

Tunggu dulu… Kenapa aku harus memberitahunya ? Memangnya dia peduli aku pulang jam berapa ? kurasa tidak.

Ku masukkan kembali ponselku ke dalam saku jasku. Dan mulai mengerjakan tugasku.

Aku terus mengerjakan dokumen-dokumen yang telah ku tinggal selama empat hari itu. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Perutku lapar sekali.

Tiba-tiba Aku memikirkan istriku. Apa dia sudah makan siang? Bagaimana kalau hari ini aku mengajaknya makan siang ? Kurasa itu bukan ide yang buruk. Sekaligus aku memberitahunya kalau malam ini aku pulang terlambat.

***

Aku turun dari mobilku dan berjalan terus mencari Jisoon.

Dimana dia?

Ah! Lebih baik aku menelponnya dulu. Aku tidak mungkin bisa menemukan posisinya di seluruh penjuru Universitas Kyunghee yang sangat luas ini.

“Kau dimana?” tanyaku begitu sambungan telpon kami terhubung.

“Di planet mars.”

“Aku serius, Park Jisoon!” geramku. Gadis ini benar-benar tidak bisa diajak serius untuk sekali saja.

“Di kampusku. Memangnya ada apa?”

“Aku tahu. Lebih tepatnya dimana? Jangan bertele-tele!” ucapku mulai kesal.

“Di Perpustakaan. Ada denganmu? Hah?” bentaknya. Aku segera memutuskan sambungan telpon kami ketika sudah tahu dimana posisi gadis itu.

Tidak sulit untuk menemukan perpustakaan Universitas Kyunghee. Kita hanya perlu mengikuti palang penunjuk arah menuju perpustakaan. Begitu sampai di tempat yang dipenuhi oleh buku-buku itu, aku mengedarkan pandanganku mencari Jisoon. Aku menemukannya sedang menelengkupkan kepalanya di atas meja sambil mencoret-coret sesuatu di bukunya. Sementara Kyuhyun yang duduk di sampingnya fokus pada PSP di tangannya.

Aku menahan nafasku ketika melihat perubahan ekspresinya. Aku tidak tahu sejak kapan gadis itu membawa pengaruh besar pada kesehatan jantungku. Ekspresi kesalnya itu membuat lututku sedikit lemas. Dia menggembungkan pipinya lalu meniup-niup poninya. Mulutnya menggumamkan sesuatu yang aku yakin Kyuhyun tidak bisa mendengarnya. Karena pria itu sendiri serius bermain game.

Aku melangkahkan kakiku dengan pelan untuk menghampiri gadis itu. Dia tidak menyadari kedatanganku sampai aku mengusap rambutnya. Dia mendongak terkejut melihatku.

“Aku lapar. Temani Aku makan siang. Aku tidak mau mendengar penolakanmu.”

“Yak! Kau mengagetkanku, babo!”

***

Jisoon’s pov

“Di kampusku. Memangnya ada apa?” ucapku mulai kesal. Kenapa makhluk seperti Lee Hyuk Jae senang sekali menaik turunkan emosiku?

“Aku tahu. Lebih tepatnya dimana? Jangan bertele-tele!”

“Di Perpustakaan. Ada denganmu? Hah?” bentakku kesal. Pria ini benar-benar kurang ajar. Dia memutuskan sambungan telponnya secara sepihak. Dasar aneh!

Aku menelengkupkan kepalaku di atas meja. Pengunjung perpustakaan hari ini cukup ramai. Semua orang di perpustakaan tampaknya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang sedang mengobrol, ada yang sedang menulis, ada juga yang sedang membaca buku yang tebalnya bukan main. Hanya namja di sampingku ini yang sibuk dengan PSP kesayangannya.

Huh, mentang-mentang IQ-nya tinggi! Apa dia tidak butuh belajar?

Ingatanku kembali pada Eunhyuk. Ada apa pria itu menghubungiku? Dasar gila! Pria aneh! Kemarin saja dia mendiamiku gara-gara menggigit tangannya dan sekarang dia mencari dimana posisiku.

Apa dia berpikir sudah saatnya membunuhku?

Baiklah… Bunuh saja sekarang! Aku rasanya tidak bisa menghadapi berbagai masalah yang datang menyerangku.

Ujian akhir dadakan, masalah Kibum oppa dan Yoonhae… Ah! Kepalaku mau pecah rasanya memikirkan semua itu.

“Aish!!”

Aku merasakan sebuah tangan mengusap rambutku. Aku tertegun beberapa saat. Hangat… Tiba-tiba perasaanku menjadi tenang. Tapi tunggu dulu… Siapa yang melakukannya ? Tidak mungkin Kyuhyun. Dia pasti sudah gila kalau sampai melakukan itu.

Aku mengangkat kepalaku dan mendongak ke arah orang yang mengusap kepalaku. Lee Hyuk Jae ?

Pria itu membuatku hampir mati jantungan dengan kemunculannya yang seperti hantu. Mau apa dia kemari?

“Aku lapar. Temani Aku makan siang. Aku tidak mau mendengar penolakanmu.”

“Yak! Kau mengagetkanku, babo!”

Belum sempat aku melanjutkan protesku. Dia sudah menarik tanganku dan menyeretku keluar dari perpustakaan. Kyuhyun yang melihat kami hanya menaikkan kedua jempolnya dan tersenyum lebar. Kalau saja tanganku tidak sedang ditarik oleh Eunhyuk. Aku akan melemparkan sepatuku ke wajah Kyuhyun.

***

“Kau memesan susu strawberry?” tanyaku heran ketika Eunhyuk menyodorkan  buku menu pada pelayan yang akan mengorder pesanan kami.

“Memangnya kenapa?” tanyanya balik.

“Dasar pria aneh!”cibirku. Eunhyuk sendiri hanya cuek dan memainkan ponselnya. Dia mengarahkan ponselnya itu dan jepret. Kilatan blitz ponselnya mengenai wajahku.

“Yak! Kau mengambil gambarku?”

Eunhyuk terkekeh dan segera menyembunyikan ponselnya. Sepertinya dia membaca pikiranku yang ingin merebut ponselnya.

“Kau tidak tahu? Ekspresimu itu sangat lucu, Soonnie-ya.”

“Jangan memanggilku seperti itu!”

“Soonnie-ya… Soonnie-ya… Bukankah itu nama yang bagus?”

“Yak! Kau ini…” tanganku berusaha menggapai rambutnya. Tapi sayang, seorang pelayan menyela. Pelayan itu datang membawa pesananku dan Eunhyuk. Dua mangkuk jjajangmyeon, segelas susu cokelat, dan segelas susu strawberry. Pelayan itu salah menukar pesanan kami. Dia menyodorkan Eunhyuk susu cokelat sedangkan aku disodori susu strawberry.

Siapa saja memang bisa salah paham. Mana ada seorang pria berjas direktur seperti Eunhyuk meminum susu strawberry? Benar-benar aneh!

“Bagaimana ujianmu?” tanyanya sambil menyendokkan jjajangmyeon ke mulutnya.

“Aku harus membuat desain baju dalam satu minggu ini. Desain baju yang terbaik akan dimasukkan dalam fashion show tahunan fakultasku. Waktunya tinggal sebentar lagi. Belum lagi aku harus ujian teori. Aku bisa gila.”

Eunhyuk tertawa mendengar penuturanku.

“Tapi dokumen yang harus aku selesaikan masih lebih banyak daripada tugasmu.”

“Kau itu hanya menandatangani dokumen. Mendesain baju itu membutuhkan waktu yang lebih lama, Tuan Lee.”

“Baiklah… Kalau desainmu berhasil, aku akan membawamu liburan ke Paris. Kau mau ?”

“Aku mau!”

Eunhyuk tersenyum lalu kembali menyantap jjajangmyeonnya. Dadaku tiba-tiba bergemuruh ketika melihat senyumnya itu. Hanya dengan senyumnya yang seperti itu membuat fokusku hilang. Aku jadi tidak bersemangat melanjutkan makanku.

Akan tetapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Kenapa Eunhyuk tiba-tiba menjadi baik seperti ini padaku? Apa dia berbuat seperti itu sebelum akhirnya kita berpisah? Sebelum dia pergi bersama Park Hyerin?

***

Hyerin’s pov

Hari ini Tuan Kim menugaskanku untuk membeli bahan-bahan makanan di supermarket. Padahal ini tugas Hyun Mi. Aku menenteng tas belanjaanku. Memikirkan sesuatu yang mungkin aku lupa membelinya.

Ketika tanganku sibuk memeriksa tas belanjaanku. Mataku tidak sengaja menangkap sesuatu di dalam sebuah restoran. Aku menghentikan aktivitas tanganku. Tas belanjaanku tiba-tiba terlepas dari genggaman tanganku.

Aku merasa dadaku sesak ketika melihat Eunhyuk di dalam sebuah restoran. Dia sedang tertawa lepas bersama seorang gadis. Park Jisoon. Gadis itu adalah istrinya. Sepertinya obrolan mereka terlalu menyenangkan sehingga tidak melihatku dari luar kaca jendela.

Jadi seperti ini… Ternyata selama ini Eunhyuk terlalu sibuk dengan istrinya. Aku jadi tahu sekarang kenapa pria itu tidak pernah menghubungiku.

Bodoh…

Mestinya dari awal aku sadar. Eunhyuk semestinya menolak pernikahannya kalau dia tidak mencintai gadis itu. Bukannya bertahan dan membuat beberapa pihak terluka. Salah satunya adalah diriku. Aku memegang dadaku. Aku tidak membayangkan kalau sakitnya akan separah ini.

***

Jisoon’s pov

Aku memfokuskan pikiranku pada gambar di hadapanku. Gambarku masih belum selesai padahal waktunya tinggal beberapa hari lagi. Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin. Dan harus menjadi desain yang terbaik agar bisa ikut dalam fashion show tahun ini.

Dan juga liburan ke Paris. Tokyo dan Paris adalah dua tempat yang sangat ingin ku datangi. Siapa yang akan menolak ketika ditawari liburan ke Paris?

Aku harus menyelesaikan rancanganku sesegera mungkin!

Aku melanjutkan gambarku dengan serius. Tapi itu tidak bertahan lama. Konsentrasiku menjadi pecah ketika mendengar suara alunan musik gitar. Siapa yang memainkan gitar malam-malam begini?

Aku pun memutuskan keluar dari kamarku. Kulihat Eunhyuk duduk di sofa ruang tengah sambil memainkan gitar. Sebelah tangannya memegang sebuah bolpoint. Sesekali dia menuliskan sesuatu di bukunya.

“Kau berisik sekali.”

Eunhyuk menoleh dan kembali berkonsentrasi pada gitarnya. Aku pun duduk di sampingnya dan memerhatikannya memainkan gitar.

“Kau sedang menulis lagu?” tanyaku lalu mengambil bukunya.

Buku itu berisi lagu-lagu ciptaannya. Ternyata sudah banyak lagu yang dia ciptakan. Aku sangat suka lagu yang dia nyanyikan waktu pernikahan Kibum Oppa dan Yoonhae.

“Nyanyikan satu lagumu untukku. Aku ingin mendengarnya.”

Eunhyuk mengangguk lalu memainkan gitarnya. Aku menatap wajahnya yang sedang serius. Dia mulai menyanyikan salah satu lagu ciptaannya.

그댈 만나러 가는 길에
(Geudael mannareo ganeun gire)
Aku bertemu denganmu di jalan

장미 한송일 내손에 들고 girl
(Jangmi hansongil nae sone deulgo girl)
Dengan memegang mawar ditanganku, gadis

날 보며 웃어주겠지만
(Nal bomyeo useojugetjiman)
Ketika kau melihatku kau hanya tersenyum

모든게 그댄 익숙하겠죠 (이젠 널)
(Modeunge geudaen iksukhagetjyo (ijen neol))
Tapi mungkin kau terbiasa dengan semua itu (sekarang kau)

너무 늦어서 또 미안해요
(Neomu neujeoseo tto mianhaeyo)
Maafkan aku saku sangat terlambat

이젠 난 말할게요
(Ijen nan malhalkeyo)
Sekarang aku akan mengatakannya

Baby everyday you make 내곁에 있어줄
(Baby everyday you make nae gyeothe isseojul)
Sayang, aku akan membuatmu disisiku setiap hari

세상 그무엇보다 소중한 선물
(Sesang gemueotboda sojunghan seonmul)
Kau adalah hadiah yang lebih berharga dari apapun di dunia ini

그대만의 사랑인걸 약속해요
(Geudaemanui sarangingeol yaksokhaeyo)
Aku berjanji hanya akan mencintaimu

Yes I do I can’ t stop loving you (loving you oh loving you)
Ya, aku lakukan, aku tak dapat berrhenti mencintaimu ( mencintaimu oh mencintaimu)

변했다고 말하겠지만
(Byeonhaetdago malhagetjiman)
Meskipun kau mengatakan aku berubah

그자리에서 늘 서있죠 (그곳에 항상 있죠)
(Geujarieseo neul seoitjyo (geugose hangsang itjyo))
Aku selalu berdiri ditempat itu (Selalu disana)

서툰 내모습을 감싸주는 따듯한 햇살 만 고마워요 oh girl
(Seothun nae moseubeul gamssajuneun Ttadeuthan haessal man gomawoyo oh girl)
Aku bersyukur untuk sinar matahari yang hangat yang melindungi wajah canggungku oh gadis

너무 늦어서 또 미안해요
(Neomu neujeoseo tto mianhaeyo)
Maafkan aku saku sangat terlambat

이젠 난 말할게요
(Ijen nan malhalkeyo)
Sekarang aku akan mengatakannya

Baby everyday you make 내곁에 있어줄
(Baby everyday you make nae gyeothe isseojul)
Sayang, aku akan membuatmu disisiku setiap hari

세상 그무엇보다 소중한 선물
(Sesang gemueotboda sojunghan seonmul)
Kau adalah hadiah yang lebih berharga dari apapun di dunia ini

그대만의 사랑인걸 약속해요
(Geudaemanui sarangingeol yaksokhaeyo)
Aku berjanji hanya akan mencintaimu

Yes I do I can’ t stop loving you
Ya, aku lakukan, aku tak dapat berrhenti mencintaimu

Baby everyday you make 내곁에 있어줄
(Baby everyday you make nae gyeothe isseojul)
Sayang, aku akan membuatmu disisiku setiap hari

세상 그무엇보다 내겐 너란걸
(Sesang geumueotboda naegen neorangeol)
Kau bagiku lebih berharga dari apapun di dunia ini 

이렇게 너와 단 둘이 이곳에서
(Ireohke neowa dan duri igoseseo)
Aku disini bersamamu seperti ini

Yes I do I can’ t stop loving you
Ya, aku lakukan, aku tak dapat berhenti mencintaimu

이젠 난 너에게 말할래요
(Ijen nan neoege malhallaeyo)
Aku akan mengatakannya padamu sekarang

영원히 사랑해요
(Yeongwonhi saranghaeyo)
Mencintaimu selamanya

Baby everyday you make 내곁에 있어줄
(Baby everyday you make nae gyeothe isseojul)
Sayang, aku akan membuatmu disisiku setiap hari

세상 그무엇보다 소중한 선물
(Sesang gemueotboda sojunghan seonmul)
Kau adalah hadiah yang lebih berharga dari apapun di dunia ini

그대만의 사랑인걸 약속해요
(Geudaemanui sarangingeol yaksokhaeyo)
Aku berjanji hanya akan mencintaimu

Yes I do I can’ t stop loving you
Ya, aku lakukan, aku tak dapat berrhenti mencintaimu

Baby everyday you make 내곁에 있어줄
(Baby everyday you make nae gyeothe isseojul)
Sayang, aku akan membuatmu disisiku setiap hari

세상 그무엇보다 내겐 너란걸
(Sesang geumueotboda naegen neorangeol)
Kau bagiku lebih berharga dari apapun di dunia ini 

이렇게 너와 단 둘이 이곳에서
(Ireohke neowa dan duri igoseseo)
Aku disini bersamamu seperti ini

Yes I do I can’ t stop loving you
Ya, aku lakukan, aku tak dapat berhenti mencintaimu

(Super Junior K.R.Y – Loving You)

Aku tertegun beberapa saat. Lagu yang dia ciptakan benar-benar indah dan begitu tenang. Lagu ini mungkin sedang mewakili perasaannya.

Aku merasa jantungku mulai tidak sehat berada di sekitar pria ini.

“Kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja?” tanyaku lalu menyodorkan kembali bukunya.

“Suaraku jelek,” jawabnya singkat.

Kuakui suaranya memang tidak terlalu bagus. Tapi tidak buruk sekali. Dia pasti sangat keren kalau menjadi member boyband. Member SHINee mungkin atau Infinite. Ah! Tidak… dia terlalu tua untuk menjadi member boyband seimut SHINee.

“Syukurlah kau menyadarinya.”

“Yak!” sungutnya tidak terima.

“Tapi aku yakin kau akan sukses menjadi seorang penulis lagu. Ciptaanmu ini benar-benar kalimat gombalan. Wanita manapun pasti terpesona mendengar lagumu.”

“Kecuali kau… Kau kan bukan seorang wanita.”

“Yak! Aku memujimu tapi kau justru mengejekku.”

“Aku ingin menjadi seorang komposer,” ujarnya mengalihkan pembicaraan. “Keinginan terbesarku adalah menuliskan lagu untuk penyanyi idolaku. BoA, Lee Jieun dan—“

“Kau menyukai Lee Jieun? Anak kecil itu?” potongku.

“Dia bukan anak kecil,” bantahnya tidak terima. “Dia akan menjadi penyanyi terkenal seperti BoA lalu dia akan menyanyikan lagu yang diciptakan oleh komposer terkenal sepertiku.”

“Mimpimu terlalu tinggi, Tuan Lee.”

“Terus saja tertawa… Nanti aku yang akan menertawaimu ketika laguku dinyanyikan oleh penyanyi terkenal itu.”

Aku bangkit berdiri dan berkacak pinggang dihadapannya. Aku tertantang mendengar semangatnya yang berkobar-kobar.

“Baiklah… Aku menantangmu. Siapa yang lebih sukses setelah kita berpisah? Aku atau kau? Aku pasti akan lebih dulu menggelar fashion show daripada lagumu yang dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi itu.”

“Baiklah… Aku terima tantanganmu.”

Eunhyuk menyalami tanganku tanda setuju. Aku merasa bersemangat untuk mewujudkan mimpiku. Aku ingin menunjukkan pada Lee Hyuk Jae kalau aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuan kakek. Aku juga ingin menunjukkan pada Kyuhyun kalau aku kuliah bukan sekedar formalitas saja seperti apa yang dikatakannya dulu.

***

Eunhyuk’s pov

Pagi ini Kyuhyun tidak ada di rumah. Pagi-pagi sekali dia harus ke kantor polisi untuk mewawancarai salah satu polisi disana untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Jadilah aku yang mengantar Jisoon ke kampusnya.

Gadis itu masih menggambar desain bajunya di dalam mobil. Tumben dia tidak melancarkan protesnya. Biasanya jika Kyuhyun tidak mengantarnya, dia akan mengomel sepanjang perjalanan.

Jisoon benar-benar fokus pada gambarnya sehingga dia tidak menyadari kalau kami sudah sampai di depan Kyunghee.

“Kau masih mau menggambar disitu atau—“”

“Aku deg-degkan, Lee Hyuk Jae!” potongnya. Tidak pernah aku melihat wajahnya segugup itu.

“Aku ujian teori hari ini. Kalau nilaiku jelek sudah pasti desainku tidak bisa diseleksi untuk diikutkan dalam fashion show tahunan. Ottokhe?”

“Kau barusan seperti ini… Turunlah… kau pasti bisa mengerjakan ujianmu.”

“Tapi… Ah! Baiklah, aku turun dulu.”

Jisoon pun turun dari mobilku. Aku memalingkan wajahku keluar jendela. Aku merasa kesal melihat kepercayaan diri gadis ini menciut di hadapanku.

“Ah! Chakkaman…”

Jisoon berbalik lagi dan mencondongkan tubuhnya ke dalam mobil. Dia menarik kerah bajuku, “Biar ku perbaiki dasimu.”

Aku menoleh terkejut ke arahnya. Kedua tangan gadis itu begitu lihai merapikan dasiku. Aku tidak mengedipkan mataku untuk beberapa detik. Perlakuan gadis itu sangat tiba-tiba dan sangat mengejutkan.

“Aku pergi dulu,” pamitnya lalu segera berjalan masuk ke dalam kampusnya. Aku masih terpaku dan tidak menyangkah apa yang dia lakukan. Untuk pertama kalinya dia merapikan dasiku seperti ini.

Seulas senyumku terkembang memerhatikan hasil pekerjaannya pada dasiku. Gadis itu…

“Yak!” teriakku yang sukses membuatnya membalikkan tubuhnya lagi.

“Fighting, Lee Jisoon!”

***

Aku sedang dalam perjalan menuju kantorku. Sedari tadi aku tersenyum sendiri memerhatikan dasiku dari kaca spion. Astaga… kenapa aku berlebihan seperti ini? Dia hanya merapikan dasiku. Bukan menciumku. Ada apa denganku ini?

Aku melirik cermin dan terkejut melihat wajahku yang memerah. Aku tidak tahu alasan apa yang harus aku ucapkan pada sekretarisku nanti.

Lamunanku menjadi buyar ketika ponselku berbunyi. Aku menjawabnya tanpa melihat caller id-nya.

“Yeoboseyo,” sapaku .

“Eunhyuk-ah, kau dimana?” Aku melepaskan ponselku sejenak dan melihat caller id-nya. Hyerin nuna. Sudah berapa lama aku tidak berhubungan dengan Hyerin nuna?

“Aku dalam perjalanan ke kantorku.”

“Bisakah… bisakah kau ke kafe sekarang? Aku membutuhkanmu.”

“Aku harus bekerja, nuna. Aku akan kesana saat jam makan siang.”

“Baiklah. Aku menunggumu.”

***

“Akhirnya kau datang juga,” ucap Hyerin yang melihatku baru saja turun dari mobil.

“Ada apa—“

Grep. Kedua tangan Hyerin nuna tiba-tiba melelukku dengan erat. Aku ingin melepaskan pelukannya karena tidak enak dilihat oleh pelanggan kafe yang datang. Tapi aku juga tidak enak padanya. Aku memutuskan untuk membiarkannya memelukku sebentar.

“Aku merindukanmu, Lee Hyuk Jae.”

Aku tertegun beberapa saat. Aku tidak bisa membalas ucapannya. Kenapa aku ini? Bukannya aku mencintai Hyerin nuna? Kenapa aku tidak merindukannya? Mestinya aku juga merindukannya. Tapi aku sama sekali tidak merasakannya.

Karena tidak ingin membuatnya terluka, aku membalas pelukannya. Aku mengusap punggungnya pelan. Walaupun tidak ada perasaan rindu sama sekali. Tapi aku juga tidak ingin melukai Hyerin nuna.

***

Jisoon’s pov

Astaga… ada apa denganku ini? Aku memegang kedua pipiku yang mungkin sudah memerah seperti tomat. Sedari tadi aku terus saja tersenyum seperti orang gila. Sampai-sampai pengawas ujianku menegurku.

Fighting, Lee Jisoon!

Kalimat Eunhyuk masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku merasa semangatku terpompa. Apalagi dia menyebutku dengan panggilan Lee Jisoon. Biasanya aku akan marah kalau Kyuhyun memanggilku seperti itu. Tapi kenapa kali ini aku serasa ingin terus dipanggil seperti itu?

Lee Jisoon. Oh astaga.

Aku terus berjalan tanpa melihat orang yang berada di hadapanku. Sampai aku tidak sengaja menabrak seseorang. Aku mendongakkan kepalaku ingin memarahi orang itu. Tapi ku urungkan niatku begitu melihat siapa orang yang ada di hadapanku.

“Yoonhae-ya.”

“Jisoon-ah… Lama tak berjumpa denganmu.”

Kebetulan sekali aku bertemu dengannya. Aku harus meluruskan semua masalahku dengannya.

“Apa kau punya waktu? Aku ingin bicara denganmu.”

“Kebetulan sekali, ada yang harus aku bicarakan denganmu juga.”

***

Disinilah kami sekarang. Di kafe Mouse and Rabbit. Yoonhae membawaku di kafe salah satu temannya untuk sekedar minum kopi. Aku harus meluruskan semua masalahku dengannya agar sedikit demi sedikit bebanku lepas.

“Bagaimana ujian akhirmu?” tanyaku pada Yoonhae untuk sekedar basa-basi. Padahal bukan hal itu yang ingin ku bahas.

“Aku tidak ikut. Aku tadi mengambil surat pengunduran diri. Aku ingin berhenti kuliah,” jawabnya.

“Kau berhenti?”

“Aku sudah menikah. Aku harus belajar dari sekarang untuk menjadi ibu rumah tangga.”

Astaga… pemikiran sepupuku ini benar-benar dewasa.

“Kalau aku ingin melanjutkan studiku di luar negeri. Aku ingin mewujudkan mimpiku.”

“Yah… bukannya kau tidak akan berhenti sebelum mendapat keinginanmu?”

Sepertinya Yoonhae menyindirku. Dia menyindirku yang ingin terus merebut Kibum Oppa. Tapi aku tidak memperdulikannya. Karena sekarang, entah kenapa… aku tidak terlalu ingin mengusik mereka lagi. Mereka sudah menikah. Aku tidak sepantasnya menghancurkan hubungan mereka. Yah, walaupun aku belum bisa melepas Kibum Oppa sepenuhnya.

Dan ini adalah saat yang tepat untuk meminta maaf pada Yoonhae.

“Ya… Kau benar. Ada yang ingin ku beritahu padamu. Aku ingin meminta maaf padamu. Atas semua kesalahanku. Semestinya hari itu aku tidak ke apartemen Kibum Oppa. Aku terkesan terlalu mendekatinya”

“Aku tahu… Aku yang sebenarnya salah. Aku semestinya tidak menyembunyikan hubungan kami dari awal. Aku minta maaf padamu, Jisoon-ah. Aku tahu kau menyukai Kibum Oppa dan terpaksa menikah dengan Eunhyuk Oppa—“

“Mengenai pernikahanku dengan Eunhyuk itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dengannya baik-baik saja,” potongku.

“Kau tidak perlu menutupinya. Aku pernah melihat Eunhyuk oppa bersama dengan salah satu pelayan disini. Aku mendengar percakapan mereka. Sepertinya mereka sepasang kekasih.”

Pelayan disini? Jangan-jangan yang dimaksud Yoonhae adalah Hyerin. Aku mengedarkan pandanganku di seluruh penjuru kafe. Waktu itu aku pernah melihat foto Hyerin di ponsel Eunhyuk. Mungkin saja aku bisa mengenali wajahnya disini.

Benar saja… Mataku berhenti pada satu objek yang menarik perhatianku. Aku merasa hatiku mencelos ketika melihat seorang pria memeluk seorang gadis di depan pintu kafe ini. Aku bisa melihat dengan jelas wajahnya kalau pria itu adalah  Eunhyuk. Dan mungkin gadis yang dipeluknya itu adalah Hyerin.

Aku meremas serbet di tanganku. Entah kenapa perasaanku mendadak tidak enak. Memangnya kenapa kalau Eunhyuk memeluk gadis itu? Ini bukan urusanku sama sekali. Bukankah memang dari awal Eunhyuk memiliki kekasih? Aku semestinya tidak marah seperti ini. Aku terlalu berlebihan.

Aku segera mengalihkan pandanganku sebelum Yoonhae mengikuti arah pandangku. Dan melihat apa yang sedang aku lihat. Sebisa mungkin aku harus menahan Yoonhae disini sampai kedua orang itu pergi.

“Tidak mungkin… Aku percaya dengan suamiku,” ucapku yakin. Membuat Yoonhae tersenyum.

“Syukurlah… Aku merasa tenang kalau kau bilang hubunganmu dengan Eunhyuk oppa bukan keterpaksaan. Aku takut kalau dugaanku selama ini benar.”

Yah… kau takut kalau aku akan terus mengejar suamimu, nona. Kau tenang saja, Yoonhae-ssi. Mulai saat ini, aku tidak bersemangat lagi menganggu kehidupan kalian. Cibirku dalam hati.

***

Saat aku baru saja pulang ke rumah. Aku melihat Eunhyuk sedang membaca sebuah buku di ruang tengah dengan headset di kedua telinganya. Sepertinya dia sedang mendengarkan sebuah lagu. Aku memutuskan untuk duduk di sampingnya. Melepaskan penatku.

Bayangan ketika Eunhyuk memeluk gadis itu masih bertengger di otakku. Aku menoleh kearah pria itu yang serius dengan bukunya. Sejak kapan dia suka membaca buku? Mungkin buku itu tentang perusahaan. Entahlah… Aku sama sekali tidak peduli.

“Sepertinya kau  baru saja bertemu dengan Hyerin? Kau pasti sangat merindukannya,” gumamku.

Dia pasti tidak mendengar ucapanku. Aku seperti orang gila saja berbicara sendiri.

“Bagaimana jika saat itu kau tidak menolongku? Bagaimana jika kita tidak menikah? Apakah kau akan menikahi Park Hyerin?”

“Karena dia adalah orang yang  kau suka. Kalau terjadi seperti itu, kau pasti sangat bahagia… Sepertinya aku menjadi penghalang antara kalian berdua. Aku merasa bersalah padanya. Aku berpikir diriku sangat buruk. Aku anehkan?”

Aku terus mencurahkan isi hatiku selagi dia tidak mendengarnya. Kulihat Eunhyuk menutup bukunya dan melepaskan headsetnya.

“Aku ke kamar mandi dulu,” dia pun bangkit meninggalkanku sendiri duduk di sofa.

Aku meraih iPodnya tadi dan melihat lagu apa yang didengarnya. Siapa tahu dia sempat merekam lagu-lagu ciptaannya. Tapi aku sukses terkejut ketika melihat playlistnya tidak berisi satu lagu pun. Aku mulai panik mencari lagu di dalam iPodnya. Jadi dia tadi tidak mendengar lagu apapun? Lalu dia mendengar semua apa yang ku katakan?

Ah! Tidak mungkin! Aishhh.. aku akan menjadi gila!

***

Sudah tiga hari ini aku menjaga jarak dari Eunhyuk. Semenjak dia mendengar curahan hatiku yang aneh. Kenapa malam itu aku bodoh sekali? Mestinya aku tidak mengatakannya.

Saat ini kami bertiga sedang sarapan di meja makan. Masing-masing larut dalam pikirannya. Kulihat Kyuhyun menatap kami secara bergantian. Dia pasti merasa ada yang salah dengan keheningan di antara Aku dan Eunhyuk. Biasanya setiap pagi, ada saja percakapan yang membuat rumah ini menjadi ramai.

“Bagaimana ujianmu?” tanya Eunhyuk memecahkan keheningan.

“Lancar,” jawabku singkat. Eunhyuk mengedikkan bahunya lalu kembali mengunyah sandwichnya.

Tentu saja aku menjaga jarak darinya. Aku sangat malu sejak kejadian tiga hari yang lalu… Aish! Mulutku ini benar-benar tidak bisa dikontrol.

Aku menggelengkan kepalaku sambil memukulnya pelan. Bodoh! Kenapa aku tidak berpikir kalau Eunhyuk bisa saja mendengarnya walaupun dia memakai headset.

“Yak! Kau kenapa?” tanya Kyuhyun yang melihat tingkahku yang aneh.

“Bukan urusanmu!”

“Aish… kau ini sedang datang bulan yah?”

“Tutup mulutmu, Cho Kyuhyun!”

“Diamlah Kyuhyun! Kau ini seperti tidak mengerti dia saja,” ujar Eunhyuk meleraiku dengan Kyuhyun.

“Apa kalian tidak bisa diam?”

***

Sepulang dari kuliah, aku mampir di toko buku depan kampusku. Aku mengerti kalau Kyuhyun sedang sibuk mengurus skripsinya jadi aku tidak menghubunginya untuk mengantarku pulang.

Aku masuk ke dalam toko buku yang sepi itu. Hanya ada beberapa pelanggan. Aku berjalan menuju ke rak buku mengenai buku desain dan tempat catalog-catalog rancangan baju desainer ternama.

Sampai sekarang aku masih mendiami Eunhyuk. Bukan karena aku marah padanya. Tapi aku malu padanya. Siapa yang tidak malu kalau kedapatan seperti itu? Dia pasti salah paham dengan ucapanku. Aish! Memikirkannya saja membuatku ingin mengubur diriku sendiri.

Aku kasihan melihat ekspresi Eunhyuk yang tampak kecewa karena tadi pagi dia menawarkan dirinya untuk mengantarku, tapi aku menolaknya dengan terang-terangan. Apa semestinya aku tidak berperilaku berlebihan seperti ini?

“Jisoon-ah.”

Aku menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namaku dan mendapati Kibum Oppa yang berdiri di hadapanku.

“Oppa…”

“Aku melihatmu masuk ke toko ini. Jadi aku mengikutimu dari belakang,” ujar Kibum Oppa. “Ada hal penting yang ingin ku sampaikan padamu.”

“Mengenai Yoonhae… Aku sudah bertemu dengannya kemarin dan membicarakan semuanya secara baik-baik.”

“Yoonhae sudah menceritakannya padaku. Aku ingin minta maaf padamu karena sudah menamparmu. Aku tidak bermaksud—“

“Lupakan saja, Oppa. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku juga minta maaf karena waktu itu… Dan semua kesalahanku. Aku minta maaf.”

Kibum Oppa memegang bahuku dan menatapku dengan senyumnya yang dulu membuat jantung berdebar-debar. Aneh… Kenapa sekarang aku tidak merasakannya lagi? Padahal dulu, aku merasa lututku lemas ketika melihat senyumnya itu.

“Aku hanya menganggapmu adikku.”

Aku memalingkan wajahku, walaupun pesonanya tidak memabukkan seperti dulu tapi tetap saja… hatiku sakit ketika mendengar kata-katanya itu.

“Aku tahu oppa. Aku mengerti. Kau tidak perlu mengatakannya berulang kali.”

“Mianhe…”

Aku tersenyum tipis ke arah Kibum Oppa, “Aku memang menyukaimu oppa. Tapi aku sadar, aku tidak boleh memilikimu. Aku tidak punya hak. Aku yakin suatu saat perasaan itu akan pudar perlahan-lahan.”

Kibum Oppa menarikku ke dalam pelukannya. Aku sempat terkejut. Tapi aku tetap membalas pelukannya. Aku tahu ini… Aku tahu kalau ini adalah sebuah bentuk pelukan antara oppa dan dongsaengnya. Bukan pelukan antara sepasang orang yang saling mencintai. Ada sesuatu yang membuatku bingung… Aku merasa tidak sehangat dan setenang saat berada dipelukan Eunhyuk.

“Aku harus pulang…” ujarku melepaskan pelukannya. Tangannya mengusap rambutku.

“Kau mau ku antar? Eh tunggu dulu… kau tidak menyiapkan sesuatu untuk ulang tahun suamimu?”

“Kapan?” tanyaku heran. Eunhyuk memang tidak pernah menceritakan kapan dia ulang tahun.

“Besok. Masa kau tidak tahu?”

***

Eunhyuk’s pov

Aku baru saja turun dari mobilku bersamaan dengan Jisoon yang turun dari mobil Kibum. Mau apa lagi orang itu mendekati Jisoon? Setelah dia menampar dan membuat gadis itu menangis?

“Jisoon-ah… kau darimana saja?” tanyaku kesal. Jisoon melirik tajam kearahku.

“Aku bertemu dengannya di toko buku jadi aku mengantarnya. Tidak mungkin aku membiarkan adik iparku pulang sendiri karena tidak dijemput oleh suaminya,” jawab Kibum.

“Kau tidak menghubungiku?” Aku melotot kearah Jisoon. Gadis itu bukannya takut, tapi justru dia balas melotot kearahku.

“Kalau begitu… aku pulang dulu,” Kibum pamit padaku dengan Jisoon.

“Mengenai rencana itu… kau bisa menghubungiku.”

“ne oppa… annyeong.”

Kibum pergi dari hadapan kami dan masuk ke dalam mobilnya. Rencana apa? Mereka merahasiakan sesuatu dariku?

Aku menarik tangan Jisoon masuk ke dalam rumah. Tapi langkahku kemudian terhenti ketika melihat seorang pria duduk di sofa rumah kami. Jisoon menoleh ke arahku. Aku hanya mengedikkan bahuku tidak mengenali orang itu.

“Lee Hyuk Jae, sudah lama tidak bertemu denganmu.”

Pria itu bangkit dari duduknya dan menghampiri kami. Aku bisa dengan jelas melihat wajah pria itu.

“Lee Hyuk Jae… Lama tak berjumpa.”

“Lee Donghae?”

***

“Kau tidur di sofa. Kalau kau menyentuh kasur, aku akan memenggal kepalamu.”

Jisoon memperingatiku ketika aku baru saja masuk ke dalam kamarnya. Malam ini aku harus tidur di kamar gadis itu karena Lee Donghae, temanku sewaktu SMA, menginap di rumah dan dia tidur di kamarku.

“Sewaktu di Jeju juga kita seranjang,” protesku.

“Aku bilang di sofa! Kau tidak boleh membantah. Ini kamarku!”

“Dasar gadis monster!” omelku

“Kau harus menyalahkan temanmu itu. Darimana pula dia tahu rumah ini? Siapa suruh kau mengizinkannya menginap disini?”

“Dia teman dekatku. Aku tidak mungkin mengusirnya.”

Jisoon tak membalas lagi ucapanku. Mungkin dia sudah tertidur. Aku pun memilih untuk memejamkan mataku. Sepertinya malam ini aku tidak bisa tertidur. Mataku tidak bisa terpejam. Ditambah posisi tidurku yang tidak nyaman.

“Hyuk, apa kau sudah tidur?” aku hampir saja tertidur, tiba-tiba Jisoon bertanya.

“hhmm…”

“Kau bisa tidur disini kalau kau mau,” kulihat Jisoon  menggeser posisinya dan menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.

“hm…”

“Yak! Aku sudah menawarkanmu tapi kau tidak mau.”

“Arasseo… arasseo… tapi setelah ini kau tidak boleh mengatakan apa-apa. Jangan menendangku tiba-tiba ketika aku tidur di sampingmu.”

Setelah kulihat Jisoon mengangguk, barulah aku menyeret kakiku dengan berat menuju ke ranjang tempatnya tidur. Aku begitu merasa gugup hanya karena menghampirinya. Padahal kita sudah beberapa kali seranjang.

“Selamat malam,” ucapku sebelum akhirnya aku mencoba untuk tidur. Keheningan berlangsung panjang tapi aku masih belum juga bisa tertidur. Jisoon yang di sampingku sudah tertidur. Tapi yang terlihat, tidurnya seperti tidak tenang. Keringat membasahi tubuhnya. Padahal pendingin ruangan mengeluarkan udara yang cukup dingin.

Setelah memerhatikannya, Jisoon ternyata gelisah dalam tidurnya. Dia terus menggerakkan tubuhnya. Tangannya seolah-olah ingin terangkat ke udara. Dia kelihatan sedang berusaha menggapai sesuatu.

“Jisoon-ah… gwenchana?” tanyaku sambil menepuk-nepuk bahunya untuk membangunkannya.

“Eenngghh…”

Jisoon semakin gelisah. Dia terbangun dan tiba-tiba menangis ketakutan. Dia sepertinya mengingat traumanya lagi.

***

Author’s pov

Jisoon merasa tidurnya tidak tenang. Dia sudah bisa terjun ke alam mimpinya lima belas menit yang lalu. Namun tiba-tiba saja bayangan itu kembali seperti muncul ke permukaan. Bayangan masa lalu yang mengganggu tidurnya.

Eunhyuk yang menyaksikan semuanya menjadi panik. Dia menarik Jisoon dalam rangkulannya dan berusaha menenangkan gadis itu. Tangannya tak berhenti menepuk-nepuk bahu gadis itu agar segera terbangun. Berteriak sekalipun akan dia lakukan asalkan istrinya terbangun dan mimpi buruknya segera menghilang.

“Mereka datang lagi,” gumam Jisoon ketika matanya sudah terbuka. Kalimat itu lagi. Kalimat yang sama persis diucapkannya sewaktu mereka di Pulau Jeju. Sepertinya ketakutan yang sama pada malam itu.

Eunhyuk tidak bisa berpikir rasional lagi. Yang di kepalanya hanya adalah bagaimana cara menenangkan Jisoon. Dia menarik gadis itu dalam pelukannya. Salah satu yang dia tahu cara untuk menenangkannya. Setidaknya itu sudah berhasil beberapa kali.

“Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada aku.”

Eunhyuk menenggelamkan kepala gadis itu dalam dadanya. Dia membuang jauh-jauh seluruh rasa gengsinya. Yang terpenting adalah membuat Jisoon tenang.

“Mereka mengejarku… Mereka menyekapku…”

Tubuh Jisoon semakin bergetar mengeluarkan seluruh tangisnya. Piyama Eunhyuk menjadi basah dibuat olehnya. Eunhyuk bersumpah akan menguliti kedua orang yang mengganggu Jisoon sewaktu di Jeju sehingga membuat gadis itu gelisah seperti ini.

Lama keheningan menyergapi mereka. Tangis Jisoon meredah. Ajaibnya dia merasa tenang seketika. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, biasanya dia tidak akan tidur sampai pagi.

“Mianhe,” Jisoon merasa posisinya dalam pelukan Eunhyuk salah. Dengan canggung dia melepas pelukan itu. Tapi sebenarnya dia masih membutuhkannya untuk meredakan getaran lain yang menyerangnya. Dia merasa udara menipis di sekitarnya. Begitu sesak, tapi menyenangkan.

“Gwenchana… Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?” Eunhyuk berdeham pelan. Matanya tak berhenti menatap gadis itu dengan khawatir.

Jisoon memilih terdiam. Dia tidak mau menceritakan masa lalunya ketika di Beijing. Masa lalunya yang sudah lama terpendam kini timbul kembali karena kejadian di Jeju waktu itu. Dan semenjak pulang dari sana, Jisoon tidak pernah tertidur dengan nyenyak.

“Baiklah kalau kau tidak mau cerita.”

“Aku hampir diperkosa,” potong Jisoon. “Sewaktu tinggal di Beijing Aku pernah mengalami pengalaman buruk. Tim basket sekolahku hampir memperkosaku. Saat itu aku dijebak, mereka menelponku seolah-olah seorang guru memanggilku ke sekolah sore hari. Aku pun tertipu dan datang ke sekolah sore harinya. Mereka tiba-tiba datang dan menyeretku ke ruang ganti. Mereka… mereka berusaha merobek—“

“Sudah… sudah… kau tidak usah melanjutkannya. Aku sudah mengerti,” potong Eunhyuk ketika melihat ekspresi Jisoon yang berubah pucat. Gadis itu begitu menyimpan banyak rahasia yang Eunhyuk tak pernah duga.

“Untung saja waktu itu Dongwoon oppa datang dan dia menolongku,” lanjut Jisoon. Eunhyuk berpikir dalam hatinya tentang alasan mengapa Jisoon dan Dongwoon dekat. Bukan hanya karena alasan mereka berkewarganegaraan yang sama tapi karena pria itu pernah menjadi pahlawan untuk Jisoon.

“Setelah kejadian itu, tim basket sekolahku dikeluarkan karena aku mengaduh pada Appaku. Semenjak itu pula aku menjaga jarak dari laki-laki manapun di sekolahku. Kecuali dengan Dongwoon oppa.”

Eunhyuk mengangguk mengerti.

“Kau mestinya pergi ke psikiater.”

“Aku tidak gila!”

“Kau justru bisa gila jika menahan semuanya. Ini akan menjadi penyakit buatmu. Ah! Kebetulan Donghae ada disini. Dia adalah seorang psikolog. Kau harus berkonsultasi padanya.”

“Tapi—“

“Ini demi kebaikanmu.”

Eunhyuk mengacak-acak rambut Jisoon pelan. Ia merapikan selimut gadis itu dan membalikkan tubuhnya untuk segera tidur.

“Tidurlah… Selamat malam.”

“Engh… Hyuk Jae…”

Jisoon menggigit bibirnya. Memikirkan permintaan gilanya yang akan dia lontarkan. Jisoon tak punya pilihan lain. Dia terlanjur merasa tenang tadi. Ketika berada di pelukan Eunhyuk. Dan gadis itu terlalu gengsi untuk memintanya lagi.

“Apa?”

“Aniyoo… lupakan.”

Jisoon memilih membalikkan tubuhnya membelakangi Eunhyuk. Gengsinya mengalahkan keinginannya. Dia mengingat isi kontrak mereka. Tidak ada kontak yang berlebihan. Dan menurut Jisoon, berpelukan itu sudah nyaris sangat berlebihan.

Grep.

Seolah-olah membaca pikirannya. Eunhyuk tiba-tiba membalikkan tubuh Jisoon dan menarik gadis itu lagi dalam pelukannya. Sekali lagi. Jisoon merasa seluruh udara di sekitarnya berubah menjadi karbon dioksida. Dia lupa cara menarik nafas dengan benar.

“Jangan salah paham. Aku hanya membantumu supaya bisa tertidur.”

“Hanya malam ini… hanya malam ini,” ucap Jisoon dalam hatinya berulang-ulang. Seperti membaca sebuah mantra. Jisoon mengeratkan pelukannya. Pikirannya tiba-tiba teringat pada Hyerin.

Apa gadis itu juga merasa sehangat ini?

***

Kyuhyun mengetuk pintu sebuah kamar dengan keras. Tapi pemilik kamar itu seolah tuli dengan dentuman yang dihasilkan oleh Kyuhyun dari ketukannya.

“Yak! Kalian berdua, bangunlah!”

Kyuhyun ingin sekali menginterogasi kedua makhluk yang masih terlelap di balik selimutnya. Dia ingin bertanya siapa pria tampan yang seperti pangeran dari komik yang muncul di meja makan mereka. Kyuhyun yang baru saja bangun pagi seperti dikagetkan oleh hantu.

Kyuhyun akan membiarkan pria tampan itu seandainya dia tidak berperilaku semena-mena. Pria itu menyuruh Kyuhyun membuatkannya sarapan. Padahal ketiga orang disini hanya sarapan dengan sandwich yang mereka buat sendiri. Apa pria tampan itu tidak tahu cara membuat sandwich?

Merasa tak jera, Kyuhyun terus mengetuk pintu kamar itu. Tapi kedua orang itu tidak terbangun juga. Apa mungkin semalaman mereka tidak tidur? Kyuhyun tiba-tiba terkekeh karena pikiran-pikiran kotor menyergapinya. Apalagi yang dilakukan kedua orang itu sehingga tidak tidur semalaman? Semua orang bisa menebaknya.

Kyuhyun yang tidak sabaran membuka pintu kamar itu. Ia sukses terkejut ketika melihat pemandangan di depannya. Mereka tidur berpelukan. Dugaannya tidak salah lagi.

Kemajuan pasangan ini sangat pesat. Terlampau pesat.

“Hei… kalian berdua sampai kapan tertidur seperti itu?” teriak Kyuhyun membangunkan kedua orang itu.

Jisoon yang mendengar teriakan Kyuhyun terbangun. Dia menggosok-gosok kedua matanya. Ia tidak menyadari kalau Kyuhyun tengah menatapnya takjub.

“Kau bisakan menunggu kami di meja makan.”

Kyuhyun yang tadinya ingin melancarkan protesnya mengenai pria tampan yang tiba-tiba muncul itu terpaksa dia batalkan. Sepertinya menggoda pasangan luar biasa itu jauh lebih menyenangkan.

“Moment ini sangat disayangkan kalau aku melewatkannya,” ujar Kyuhyun sambil melebarkan senyumnya yang membuat Jisoon menatapnya aneh.

“Moment apa—“ Jisoon tidak melanjutkan lagi ucapannya. Kyuhyun semakin melebarkan senyumnya membuat Jisoon mengerti apa yang sedang terjadi. Dia dan Eunhyuk terus berpelukan sampai pagi. Dan pria menyebalkan bernama Kyuhyun itu melihatnya.

“YAK! CHO KYUHYUN, SIAPA YANG MENYURUH MASUK KE KAMAR INI?”

***

Jisoon harus menghindari tatapan meledek Kyuhyun padanya. Sebisa mungkin dia tidak menatap mata pria itu. Kalau itu terjadi, bisa saja Kyuhyun langsung meledakkan tawanya di meja makan akibat dari menyaksikan moment paling langka di kamar Jisoon tadi.

Donghae yang ikut sarapan dengan mereka pagi itu tidak berani memulai pembicaraan. Sahabatnya Eunhyuk juga terdiam serius dengan sandwich di hadapannya itu.

“Ah aku lupa sesuatu… Perkenalkan dia adalah temanku dari New York. Namanya Lee Donghae. Dia adalah seorang psikolog,” ujar Eunhyuk membuka pembicaraan. Dia mengusap bahu sahabatnya itu.

Kyuhyun yang sedang mengunyah sandwichnya mengangguk mengerti. Ternyata pria tampan yang tiba-tiba muncul tadi pagi itu adalah seorang psikolog. Sementara Jisoon yang sudah tahu siapa Donghae itu hanya menunduk menghabiskan makanannya.

“Donghae-ya… kapan kau kembali ke New York?” tanya Eunhyuk pada Donghae.

“Besok. Aku hanya mengurus beberapa berkasku disini. Dan juga mengunjungimu. Kemarin aku pergi ke apartemen lamamu tapi mereka bilang kau sudah pindah. Aku sangat terkejut ketika tahu kau sudah menikah. Kau mendahuluiku, Hyukjae-ya.”

Eunhyuk tersenyum tipis. Donghae adalah temannya sewaktu masih sekolah dulu. Donghae termasuk orang yang setia kawan yang sampai sekarang masih berhubungan dengannya. Eunhyuk mengingat ketika dulu dia sering bersenang-senang dengan pria itu. Menghabiskan uang saku yang diberikan Park Taewoo. Tapi semenjak Donghae memutuskan untuk menjadi Psikolog, Eunhyuk akhirnya berhenti hidup berfoya-foya.

“Nanti sore Jisoon ingin konsultasi denganmu. Kau bisakan membantunya?” ujar Eunhyuk mengalihkan pembicaraan.

Jisoon langsung mendongak begitu Eunhyuk menyebut namanya. Dia masih tidak setuju dengan rencana Eunhyuk yang menyuruh konsultasi dengan Donghae.

“Aku rasa itu tidak perlu… Aku baik-baik saja,” Jisoon buru-buru menggelengkan kepalanya tidak setuju.

“Memangnya ada apa denganmu, Jisoon-ah?” tanya Kyuhyun yang tidak tahu apa-apa mengenai Jisoon.

“Dia seperti memiliki penyakit insomnia. Dia terlalu banyak memikirkan sesuatu,” ujar Eunhyuk menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Tapi aku merasa baik-baik saja. Jangan berlebihan!” bantah Jisoon.

“Kenapa kau keras kepala sekali?”

“Kenapa kau mengatur-aturku? Bukankah sudah ku bilang kalau aku tidak gila. Aku tidak perlu seorang psikolog atau pun ke psikiater.”

Kedua orang itu terus berdebat tanpa memedulikan dua orang lain yang menatap mereka heran. Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Ia mengira setelah melihat kejadian tadi, dia tidak akan mendengar lagi teriakan-teriakan dalam rumah itu. Tapi sepertinya kedua orang itu akan melancarkan aksi perdebatan sengit mereka.

“Maklum saja mereka memang seperti itu,” bisik Eunhyuk pada Donghae. “Mereka pengantin baru…”

Donghae mengangguk mengerti. Ada sesuatu yang mengganjal padanya ketika melihat Eunhyuk yang tengah berdebat dengan istrinya. Dia merasa ada yang berubah pada Eunhyuk. Apa gadis bernama Park Jisoon itu yang membuatnya seperti itu?

***

Jisoon terpaksa harus menunda janjinya bertemu dengan Kibum. Dia sedang berkonsultasi dengan Donghae setelah berhasil diancam oleh Eunhyuk. Pria itu mengancam akan memberitahu Kyuhyun tentang apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.

“Santai saja… Anggap saja aku sebagai sahabatmu yang selalu mendengar keluhanmu,” ujar Donghae sembari memperbaiki posisi duduknya di sofa kamar Jisoon.

“Eunhyuk memberitahuku tentang masalahmu tadi. Dia sangat berharap aku bisa menyelesaikan masalahmu. Dia sangat khawatir padamu.”

“Dia mungkin sangat kerepotan menghadapiku setiap malam. Jadi dia bertingkah berlebihan seperti itu dengan memaksaku berkonsultasi padamu.”

“Tidak… Aku mengenal Lee Hyuk Jae. Dia tidak seperti itu. Menurutku dia mengkhawatirkanmu. Hanya saja dia tidak pernah memperhatikan seorang gadis sejauh ini. Kecuali pada satu orang gadis. Tapi mungkin Hyukjae sudah tidak pernah menghubunginya lagi.”

“Hyerin,” ujar Jisoon pelan. Dia menundukkan kepalanya. Sejak kapan dia merasa sesesak ini memikirkan seorang gadis yang diberi perhatian lebih oleh Lee Hyuk Jae selain dirinya?

“Benar. Kau mengenalnya?” tanya Donghae yang dibalas anggukan kepala oleh Jisoon. “Sebelum kau menceritakan masalahmu. Aku ingin bertanya satu hal padamu. Kalian… Kenapa kalian bisa menikah?”

Jisoon tidak menjawab pertanyaan Donghae. Dia memilih terdiam. Alasan mengapa dia menikah dengan Eunhyuk adalah bukan konsumsi buat Donghae.

“Aku mengenal sifat Lee Hyuk Jae. Dia tidak pernah dekat dengan seorang gadis manapun kecuali Hyerin. Dia sering mengabaikan gadis yang berusaha mendekatinya. Dia memang dijuluki playboy tapi dia tidak pernah mengencani semua gadis-gadis itu.”

Donghae bangkit dari duduknya dan menghampiri Jisoon yang terduduk di ranjang sambil menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur. Dia duduk di pinggiran tempat tidur gadis itu.

“Aku kaget begitu tahu Lee Hyuk Jae menikah dengan seorang gadis yang bukan Park Hyerin. Melihat Eunhyuk yang dulu tak pernah melepaskan pandangannya dari gadis itu. Tapi sepertinya sekarang dia mulai mengalihkan pandangannya. Aku ingin tahu gadis seperti apa kau?”

Jisoon tertawa pelan mengusir perasaan salah tingkahnya. Wajahnya memerah. Dia tidak ingin terlalu cepat peka terhadap perilaku Eunhyuk. Bisa saja dia salah paham. Eunhyuk baik padanya karena ingin membuat kenangan indah sebelum mereka berpisah.

Dan kenapa Jisoon perlu merasa sedih kalau ternyata hal itu benar?

“Ahh… Donghae-ssi, sepertinya topik pembicaraan kita salah,” ujar Jisoon segera menyadarkan Donghae tentang arah pembicaraan mereka.

“Ah mianhe… aku hanya terlalu penasaran dengan kalian.”

***

“Oppa… apa aku terlambat?” Jisoon berlari menghampiri Kibum yang sudah berdiri di depan sebuah hotel. Gadis itu terlihat sangat buru-buru. Dia tidak menyangkah kalau konsultasinya dengan Donghae memakan waktu yang lama. Tapi Jisoon merasa hatinya sudah cukup tenang. Bebannya sedikit menguap. Donghae menyarankan padanya untuk tidak selalu memikirkan yang bukan-bukan dan segala hal-hal negatif yang dapat membuat traumanya muncul lagi.

“Ah tidak apa-apa… aku yang terlalu cepat. Bagaimana? Kau sudah mau masuk ke dalam? Ini masih sore.”

Jisoon mengangguk sambil mengatur nafasnya yang menderu setelah berlari tadi.

“Aku harus menyiapkan beberapa hal.”

“kkeurom… ayo kita masuk ke dalam.”

Kibum melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah hotel. Tangannya merangkul Jisoon dengan erat. Mereka masuk ke dalam hotel itu tanpa menyadari sepasang mata tengah mengawasi mereka.

***

Dongwoon baru saja turun dari mobilnya dan bersiap masuk ke dalam apartemennya. Tapi seperti mendapat durian runtuh, pria itu mendapat pemandangan menakjubkan di hadapannya. Dongwoon segera bersembunyi di sekitar mobilnya dan mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar.

Diarahkannya ponselnya ke arah kedua orang tengah berjalan masuk ke dalam hotel. Dongwoon menyunggingkan senyum liciknya saat mengambil beberapa foto Jisoon dan seorang pria. Pria itu adalah Kim Kibum.

Semua orang tentu saja akan salah paham melihat mereka. Dan tentu saja foto Eunhyuk saat di thailand dan foto Jisoon dengan Kibum akan menggemparkan PL Group.

***

Jisoon’s pov

Aku menghampiri Kibum oppa yang sedang mengatur sebuah meja makan. Baru saja aku selesai memasak makanan di dapur hotel kakek. Tinggal menunggu malam hari tiba dan semuanya akan siap.

“Bagaimana?” tanya Kibum oppa ketika melihatku menghampirinya.

“Aku sudah menyiapkan makanannya,” jawabku. Aku mengusap lenganku sendiri karena salah tingkah dan mungkin juga gugup. Aku tak yakin rencanaku dengan Kibum oppa akan berjalan lancar. “Oppa apa sebaiknya kita pulang saja?”

“Kita sudah menyiapkan semuanya… Kenapa kau mau pulang?”

Restoran hotel saat itu dibooking penuh oleh Kibum Oppa. Jadi tidak ada siapa-siapa orang yang bisa masuk.

“Mana ponselmu?”

Aku menyodorkan ponselku tanpa bertanya dulu. Kibum oppa tampak menghubungi seseorang dengan ponselku lalu menyodorkan kembali padaku.

“Kenapa?”

“Bicaralah… Aku sudah menghubungi Lee Hyuk Jae.”

“Oppa…”

“Cepat bicara!”

Aku menempelkan ponselku di telingaku dan menunggu sambungan telponku tersambung dengan Eunhyuk. Bagaimana caranya aku bicara dengannya?

“Lee Hyuk Jae… Kau dimana? Kau harus ke restoran hotel kakek sekarang. Ada sesuatu hal penting yang ingin ku beritahukan padamu.”

“Memangnya ada apa? Kau tidak bisa membicarakannya langsung?”

“Aku tidak menerima penolakan!”

Aku memutuskan sambungan telpon sesegera mungkin sebelum dia melancarkan protesnya. Dia pikir, dia saja yang bisa mengancamku? Aku juga bisa memaksanya seperti dia memaksaku makan siang bersamanya.

***

Eunhyuk’s pov

“Tuan… Baru saja aku mendapat kabar kalau Tuan Akimoto menarik sahamnya. Dia tidak ingin lagi bekerjasama dengan PL Group.”

Aku mendongakkan kepalaku ketika sekretarisku menjelaskan sebuah berita yang tidak terlalu penting menurutku. Memangnya kenapa kalau Tuan Akimoto menarik sahamnya? Itu tidak akan menjadi kerugian yang besar untuk PL Group. Kecuali kalau para pemegang saham yang lainnya ikut juga melakukan hal yang sama seperti Tuan Akimoto.

“Tapi tuan… dua orang pemegang saham yang lainnya juga ikut menarik sahamnya. Aku yakin Tuan Akimoto pasti sudah merundingkan tentang ini dengan pemegang saham yang lain.”

Kali ini benar-benar gawat… Kalau perusahaan ini kehilangan tiga orang pemegang saham maka perusahaan ini akan benar-benar rugi besar.

“Jadi kita harus bagaimana?”

“Kita harus memberitahu Tuan Park. Ini bukan masalah kecil, Tuan.”

“Jangan! Lebih baik kita berusaha menyelesaikannya dulu.”

Aku mencegah Song Qian menghubungi kakek. Kalau dia memberitahunya, kakek akan mengira aku tidak pernah serius mengurus perusahaan ini. Selama aku masih bisa menyelesaikannya. Sebisa mungkin berita ini tidak sampai di telinga kakek.

Suara deringan ponselku menyela percakapanku dengan Song Qian.

Park Jisoon.

Aku terdiam sesaat melihat caller ID-nya. Ada apa dia menelponku?

“Yeoboseyo…” ucapku ketika menjawab telponnya.

“Lee Hyuk Jae… Kau dimana? Kau harus ke restoran hotel kakek sekarang. Ada sesuatu hal penting yang ingin ku beritahukan padamu.”

“Memangnya ada apa? Kau tidak bisa membicarakannya langsung?”

“Aku tidak menerima penolakan!”

Aish! Aku menjauhkan ponselku ketika dia memutuskan sambungan telponnya secara sepihak. Apa lagi yang ingin dia bicarakan?

***

Aku Berjalan terburu-buru menuju tempat parkir setelah berhasil merayu sekretarisku agar membiarkanku pulang lebih awal. Aku tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Park Jisoon. Itu membuatku cukup penasaran dan tidak berkonsentrasi bekerja saat perusahaan sedang bermasalah.

Aku mengeluarkan mobilku dari pelataran parkir. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan yang cukup tinggi. Fokusku tiba-tiba pecah ketika suara deringan ponsel mengusikku.

“Hyuk Jae-ya… Bisakah kau kesini sekarang?” terdengar suara Hyerin nuna dari seberang sana. Bagaimana bisa aku ke tempatnya jika Jisoon juga ingin bertemu denganku?

“Mianhe nuna. Aku sudah janji dengan Jisoon akan menemuinya sekarang,” ucapku berusaha meminta pengertian Hyerin nuna. Sementara itu aku terus melajukan mobilku ke tempat Jisoon menunggu.

“Jadi sekarang kau sudah mulai perhatian pada istrimu, eo?”

“Bukan seperti itu. Tapi sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan.”

“Tapi kalian bisa membicarakannya di rumah. Kenapa harus—“

“Baiklah… Baiklah aku kesana sekarang.”

Aku memutuskan sambungan telponku segera dan mengerang frustasi. Aku membanting ponselku ke jok samping. Terpaksa aku menuruti kemauan Hyerin nuna setelah mendengar nada bicaranya yang terdengar kecewa itu.

“Aish! Michigetta.”

***

“Saengil Chukkae, Lee Hyuk Jae.”

Hyerin nuna menghampiriku ketika aku baru saja masuk ke kafe tempatnya bekerja. Kafe itu sudah sepi dari pengunjung. Hanya dia dan seorang kasir berada dalam ruangan itu. Sepertinya kafenya akan segera tutup.

Kue ulang tahun yang disodorkan Hyerin nuna membuatku sadar kalau hari ini adalah ulang tahunku. Aku terlalu sibuk sehingga tak mengingatnya sama sekali.

Aku memperbaiki ekspresi wajahku agar terlihat senang tapi sepertinya gagal. Raut wajah Hyerin nuna tampak kecewa. Aku mengkhawatirkan Jisoon yang mungkin masih menunggunya. Semestinya aku menyuruhnya pulang lebih dulu.

“Kau tidak suka?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng dan memegang bahunya. Aku merasa bersalah padanya. Tapi keinginanku untuk segera bertemu Jisoon jauh lebih besar dari rasa bersalahku padanya.

“Kau akhir ini terlihat sibuk. Sangat sibuk. Kau tidak pernah menghubungiku lagi,” Hyerin nuna menundukkan kepalanya. Membuatku semakin merasa terpojok. Aku menjadi serba salah begini. Aku seperti dihadapkan pada dua pilihan yang sama sekali aku tidak tahu efeknya jika aku memilih salah satu diantara mereka.

“Kau juga terlihat menikmati waktumu dengan gadis itu. Apa kau masih mencintaiku?”

***

Author’s pov

Yoonhae segera mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya ketika ponselnya berbunyi. Sebuah e-mail masuk ke dalam inbox ponselnya. Gadis itu membuka pesan itu dan sukses terkejut ketika melihatnya.

E-mail itu berisi foto suaminya dengan Jisoon yang berjalan masuk ke hotel kakeknya.

Yoonhae tertegun beberapa saat. Pikirannya tiba-tiba kacau balau. Tidak mungkin Kibum bermain-main di belakangnya. Dia menggelengkan kepalanya berusaha mengusir semua kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi. Kibum tak mungkin seperti itu padanya.

Sekali lagi ia memerhatikan foto itu. Dadanya menjadi sesak. Dia melirik jam di dinding. Kibum belum juga pulang. Kekhawatirannya semakin bertambah. Dia berusaha memberi sugesti dirinya sendiri bahwa ini hanya salah paham.

Yoonhae memberi batas waktu sampai jam sembilan malam. Kalau Kibum belum juga pulang, berarti sesuatu buruk sedang terjadi. Dan Yoonhae sama sekali tak berani menduga-duga kemungkinan buruk itu.

Tapi ada satu hal yang mengganjalnya. Siapa pengirim foto itu? Dan dari mana dia tahu alamat e-mailnya?

***

Dongwoon tertawa ketika e-mailnya berhasil terkirim pada seseorang. Tangan kanannya Yang Yoseob juga ikut tertawa tapi segera menghentikan tawanya ketika pria bernama Dongwoon itu bangkit dari duduknya.

“Ini sepertinya akan menarik. Permainannya mulai memanas,” gumam Dongwoon diikuti anggukan kepala oleh Yoseob. “Aku tidak menyangkah perguruan tinggi seperti Kyunghee tidak menjaga data mahasiswanya dengan aman. Kita bisa lebih mudah melacak kontak gadis lugu itu.”

“Tinggal menyebar foto-foto Eunhyuk dan semaunya akan…” Dongwoon tidak melanjutkan kalimatnya karena tertelan tawanya yang membahana memenuhi ruangan kerjanya.

“Tinggal beberapa langkah lagi. Park Jisoon dan PL Group akan menjadi milikku.”

***

Jisoon’s pov

Aku ada urusan sebentar dengan Hyerin nuna. Mungkin aku akan terlambat. Mianhe.

Aku menundukkan kepalaku ketika membaca pesan Lee Hyuk Jae. Tangisku ingin sekali pecah ketika menyadari kalau Hyerin, nuna kesayangannya, itu lebih penting. Mestinya dari awal rencana Kibum oppa ini tidak dilancarkan.

Kibum oppa mengusulkan untuk memberi Eunhyuk kejutan di hari ulang tahunnya. Menurutku itu terlalu berlebihan. Tapi Kibum oppa tetap ngotot dan memaksaku melakukannya. Aku juga berpikir, kalau aku menolaknya Kibum oppa akan curiga mengenai hubunganku yang sebenarnya dengan Eunhyuk.

Kibum oppa masih setia menemaniku menunggu sampai Eunhyuk datang. Mungkin Kibum oppa berusaha terlihat seperti seorang kakak yang baik pada adiknya. Aku menghargainya tapi kalau seperti ini…

Usaha Kibum oppa yang terlalu bersemangat akan sia-sia.

Aish! Aku merasa isi otakku menjadi berantakan.

“Aish!” Aku mendesah kencang membuat Kibum oppa menyadari apa yang terjadi padaku. Aku rasa sebentar lagi tangisku akan pecah.

“Ada apa?” tanya Kibum oppa sambil menghampiriku. Dia mengusap rambutku lembut.

Aku mengumpat dalam hatiku. Kenapa aku tidak merasakan efek apapun ketika perlakuannya seperti itu? Padahal dulu, tersenyum saja padaku membuatku hampir terkena serangan jantung. Tapi sekarang? Aku merasa hambar. Apa aku mulai tidak menyukainya? Tapi kenapa perasaanku terlalu cepat menguap?

“Sepertinya dia tidak datang… Sebaiknya kita pulang saja.”

Kibum oppa menarikku dalam pelukannya. Aku tahu kalau dia bersikap seolah ingin menjadi oppa yang baik untukku. Tidak lebih. Tapi  bukan itu yang kupikirkan. Aku memikirkan Lee Hyuk Jae.

Tangan Kibum oppa berhasil meraih ponselku yang hampir saja terjatuh dari tanganku. Aku tidak bisa mencegahnya, dia pasti sudah membaca pesan Eunhyuk dalam ponselku.

“Hyerin? Nugu?” tanya Kibum oppa tanpa melepaskan pelukannya.

“Dia cinta pertama Eunhyuk,” jawabku sambil menahan tangisku. Aku tidak peduli lagi jika Kibum oppa tahu bagaimana hubunganku yang sebenarnya dengan Lee Hyuk Jae.

“Kau cemburu?”

“Aniyooo… Mana mungkin aku cemburu.”

Kibum oppa terkekeh geli. Dia melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku dengan kedua jempolnya.

“Oh jadi ini yang ingin kau beritahu padaku?”

Aku dan Kibum oppa sontak menoleh ke asal suara itu. Eunhyuk sudah berdiri tak jauh dari kami sambil mengepalkan tangannya. Aku menunduk menghindari tatapannya yang tiba-tiba menakutkan itu. Tatapannya tidak meneduhkan seperti biasanya.

Eunhyuk menghampiri kami berdua dengan menahan emosinya. Dia menarik tanganku agar segera menjauh dari Kibum oppa. Dia mencengkram pergelangan tanganku dengan erat.

“Lee Hyuk Jae jangan salah paham… Aku hanya berusaha—“

“Berusaha mendekati istriku?” Eunhyuk tampak berusaha menjaga dirinya agar tetap tenang. Rahangnya seperti mengeras. Cengkramannya semakin erat di pergelangan tanganku. Dan itu pasti meninggalkan bekas.

“Asal kau tahu saja… Gadis ini sudah menjadi milik orang lain.”

Aku cukup tercengang dengan apa yang dikatakan Eunhyuk barusan. Rasanya mulutku menjadi kelu dan tidak bisa mengucapkan apapun. Aku terlalu terkejut dengan semua yang terjadi.

“Gadis ini adalah milikku.”

***

“Jadi kau ingin memamerkan hubunganmu dengan Kibum?”

Setelah kami sampai di rumah. Eunhyuk kembali melancarkan aksi emosinya. Aku meniup poniku kesal melihat tingkahnya yang sangat memalukan itu. Apa yang harus aku katakan pada Kibum Oppa nanti?

Dan apa tadi dia bilang? Aku adalah miliknya? Seenaknya saja dia bilang seperti itu tapi hatinya dimiliki orang lain. Apa dia pikir bisa mempermainkanku seperti ini?

“Iya… kau benar. Kau sudah melihatnya kan? Kau lihat kami tadi berpelukan? Baguslah… Rencanaku berhasil kalau begitu,” ucapku berbohong. Datar. Sama sekali tanpa emosi. Tapi jelas, aku merasa sakit di dadaku. Nama Hyerin kembali berputar-putar di hatiku.

“Bukankah sudah kubilang padamu untuk tidak mendekati Kibum lagi. Dia sudah menikah dengan sepupumu sendiri.”

“Memangnya kenapa? Aku tidak pernah melarangmu berpelukan dengan Hyerin. Kenapa kau mengatur—“

Ucapanku terpotong ketika Eunhyuk menarik wajahku. Bibirnya bergerak diatas bibirku dengan cepat. Sesuatu mulai bergerak di bagian belakang leherku. Menarik tengkukku mendekat ke arahnya. Kuatur napasku sebisanya. Aku ingin mendorong bahunya tapi aku justru menikmati ciumannya itu.

Aku memejamkan mataku seperti yang dilakukan gadis-gadis di dalam drama ketika mereka berciuman. Tak lama sapuan bibirnya berhenti.

Dia menjauhkan tubuhku sedikit dan menatapku intens.

“Aku tidak ingin melihat kau mendekati pria manapun selain aku.”

Bibirnya kembali menekan bibirku. Aku terlalu terbuai dengan perlakuannya sehingga tak sadar kalau dia berjalan membawaku ke kamarnya. Suara dentuman pintu kamarnya menyadarkanku. Mengingatkanku pada kontrak kami. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera menghentikannya.

-TO BE CONTINUED-

 

5 Comments (+add yours?)

  1. aLeeya
    Nov 20, 2014 @ 10:05:41

    bagus lee hyuk jae, lanjutkan!
    ehm, kl hyerin dihilangkn atau dongwoon dibalikn k beijing aj bisakah author-nim? kasian kakek kl djahatin….

    Reply

  2. adejuliyni
    Nov 20, 2014 @ 17:38:13

    makin gregetan sendiri baca ceritanya giliran udh mau baikan ada aja masalahnya

    Reply

  3. frila
    Nov 20, 2014 @ 22:26:58

    aaa sumpah kebawa bnget feelnya, kayak sinetron
    next thor

    Reply

  4. insan nurmala
    Nov 20, 2014 @ 22:57:00

    euhh giliran mu baikan aja masalah lain udah menunggu.
    Eummm kalau hyerin di bkin putus sma hyukjae bagus kali ya 😀 atau laptop sma hp nya dongwon ilang biar g bisa nyebarin fto hyukjae itu lbih bagus malah 😀

    Reply

  5. Ira
    Nov 22, 2014 @ 06:46:53

    Ahh.. Jisoon mah udah dibilang punya eunhyuk bukannya mmperbaiki suasana malah bilang kibum2.. -_-
    Ayoo thor buat jisoon berpotensi(?) Hamil anak eunhyuk.. Haha

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: