Snakes On The Plane {21/25}

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Don’t Go {Side Story: Saki’s POV}

19

Unexpected {Side Story: Sakura’s POV}

20

Betrayal {Side Story: Seiryuu’s POV}

Semua personil sudah bersiap di hanggar. Bahkan Seiryuu sudah masuk ke dalam kokpit. Saki tampak berbicara dengan Kyuhyun, sementara Sakura berdiri di depan Roboguardnya.

“ Siap?” tanya Sakura ketika aku berdiri di sebelahnya. Aku mengangguk, meski bahuku mendadak kaku. Aku seperti berada dalam mesin waktu.

“ Seperti tiga tahun lalu, ya,”

Ku perhatikan Sakura yang kini melipat kedua tangannya di depan dada dan matanya memandang Roboguard. Sesuatu telah merubahnya. Tapi aku tak tahu apa itu.

“ Tapi sekarang, hanya ada kita berempat,”

Tiga tahun lalu, dua puluh orang melawan empat Eve. Saat ini, empat orang melawan—entahlah, aku tak tahu apa yang ada disana. Terutama markas itu.

“ Hei, apa yang kalian lakukan? Cepat masuk kedalam kokpit!” Seiryuu berteriak dari dalam kokpitnya. Sakura mengedipkan sebelah matanya, bergegas masuk kedalam. Dan aku baru saja memegang tangga ketika Siwon menghampiriku.

Tatapannya membekukanku. Aku paham, ia ingin berbicara denganku namun bukan dengan mulut.

Berjanjilah

Aku mengangguk sebagai jawaban.

Semoga berhasil

Aku mengangguk lagi.

Entah berapa kali aku menghela napas sebelum akhirnya masuk kedalam kokpit. Aku hampir terkena serangan jantung ketika kabel penghubung terpasang di tubuhku. Dengan ini, setiap serangan yang diterima Roboguardku, akan diterima juga oleh tubuhku. Aku harus minta maaf pada manajerku setelah ini. Itu pun jika aku berhasil selamat.

Tidak, tidak. Aku harus selamat. Masih banyak yang ingin ku tanyakan pada Jenderal Shin. Aku ingin tahu kenapa aku memiliki kemampuan sebagai Seer? Bukankah setiap pemilik tanda Zodiac hanya memiliki satu jenis kekuatan? Atau ada hal yang belum ku ketahui?

Andai masih ada waktu. Ah, penyesalan selalu datang terlambat.

Pintu kokpit mulai menutup. Ku genggam tuas pengendali yang ada di kanan dan kiriku. Beberapa pasang mata mengamati kami berempat. Namun hanya sepasang mata yang membuatku semakin gugup.

Jaga Mei Lin untukku

Tanpa ku duga, Siwon mengangguk. Seolah ia bisa mendengarku. Kenapa?

Dalam kebingungan, pintu kokpit telah menutup sempurna.

* * *

Langit sangat cerah hari ini. Ini sangat menguntungkan kami saat menerbangkan Roboguard. Aku gugup membayangkan jika hujan mendadak turun. Sudah lama aku tak berada di medan tempur, aku jadi mudah gugup.

“ Berpencar,”

Ini dia. Kami berempat akan berpisah. Seiryuu tetap terbang lurus, Saki ke arah kiri dan Sakura ke arah kanan. Ku hentikan laju Roboguardku. Setelah memastikan semuanya sudah pergi ke pos masing-masing, aku turun perlahan.

Here we go,” kataku pada diriku sendiri.

Tenang.

Semua akan baik-baik saja.

Aku yakin semua akan baik-baik saja.

Tanganku mulai licin, jantungku berdebar-debar. Berkali-kali aku melirik ke sekeliling. Aku membayangkan Eve muncul hingga gesekan daun membuatku melompat.

Angin disini tak terlalu kencang, kemungkinan benda aneh terbang sangat kecil. Ya ampun, apa yang baru saja ku pikirkan? Aku tak boleh berpikir buruk. Ku gelengkan kepalaku, ku hembuskan napasku keras-keras.

Kedamaian itu tak berlangsung lama.

Suara langkah berat mulai terdengar. Tanahnya terasa retak dan sedikit amblas, kaki Roboguardku seperti dihisap lumpur. Aku tak perlu repot-repot menggunakan sensor pelacak untuk melihat makhluk apa yang memiliki suara langkah seperti itu.

Suara itu semakin lama semakin keras. Ia semakin dekat.

Ku gerakkan Roboguardku ke arah belakang. Disana, sosok yang paling tak ku inginkan berada di hadapanku.

Eve.

* * *

Saki

“ Hhhh. Hhhh,”

Seharusnya tadi itu berhasil mengalihkan perhatiannya dari Ryuu-chan. Terlambat satu detik Ryuu bisa saja mati. Dasar Eve brengsek.

“ Fuh. Sepertinya disini cukup,”

Krek

A-apa?! Robot sialan itu masih disini?

Aku tak boleh berlama-lama. Aku harus segera pergi. Seiryuu bilang aku tak boleh bertarung sampai ia memberi tanda.

Kupaksakan Roboguard ku berlari lagi. Sebenarnya aku sudah tak sanggup, tapi aku tak bisa terbang. Musuh akan tahu keberadaanku.

Ayolah, Ryuu. Percepat langkahmu. Tanganku kebas.

Aku terus berlari, pandanganku terpusat ke depan. Makhluk itu harus menjauh dari markas. Sejauh mungkin—

“ Akh!”

Aku terlalu sibuk melihat ke depan. Aku melupakan bagian bawah. Tubuh Roboguardku miring, terjun bebas tanpa sempat ku tahan.

Apa aku akan mati?

“ Kyu…”

* * *

Kyuhyun tertegun, tangannya yang tengah menyortir peralatan, mendadak berhenti. Gelang di pergelangan tangannya terkoyak sedikit. Seketika perasaan takut menggelayuti dirinya.

Anggap ini sebagai diriku

Saat ia meraba gelang itu, jantung seakan ditikam. Ucapan Saki malam itu memenuhi pikirannya.

“ Saki…”

* * *

Seiryuu

Seharusnya aku sudah terbiasa dengan ini. Saat kulit teriris, darah segar mengalir dari balik irisan itu serta membasahi jaketku. Entah kenapa, berapa kalipun aku mengalami ini, rasanya tetap tak menyenangkan.

Ku tutup mulutku agar tak menjerit. Ku abaikan pikiran salah satu adikku sekarat di luar sana. Aku harus terus maju.

Ku seret tubuhku diantara celah sempit ini. Beruntung sekali ada ventilasi disini. Mereka tak sadar telah membuat jalan masuk bagi musuh.

Dari balik celah ventilasi, aku bisa melihat orang-orang berjalan lalu lalang. Semuanya mengenakan jas putih. Ini artinya aku ada di atas laboratorium. Harusnya sebentar lagi aku mencapai ruang komunikasi.

Tunggu dulu, ada yang aneh.

Orang itu sedikit mencurigakan. Penampilannya terlalu eksentrik untuk seorang ilmuwan. Ia tampak lebih muda dari yang lain, rambutnya juga ditata sembarangan seolah ia hanya menggunakan gel rambut lalu dibiarkan begitu saja.

Apa ia kepala laboratoriumnya?

Cih. Tak ada waktu memikirkan orang itu.

Tapi…kenapa sepertinya ia familiar?

Sambil tetap menyeret diriku sendiri, aku terus memikirkan orang itu. Aku punya firasat ia yang berada dibalik semua ini. Auranya pun tak asing.

Siapa orang itu?

Semakin jauh aku bergerak, semakin gelap. Aneh. Apa aku sudah berada di ruang komunikasi?

Dari balik celah ventilasi, aku hanya bisa melihat semacam bilik tertutup. Ada 3 bilik di setiap baris. Tak ada lampu, hanya cahaya dari balik jendela kecil sebagai penerangan. Itupun tak cukup menerangi seluruh bilik.

Perlahan ku buka sekat ventilasi itu. Beruntung tubuhku lebih kurus, jadi aku bisa meliukkannya dengan mudah dan keluar dari lorong sempit itu.

Aku baru saja ingin menarik napas ketika bau busuk tiba-tiba saja menyeruak. Bulu kudukku berdiri, kaki ku gemetar. Bau busuk ini juga tak asing.

Ku hampiri pintu yang paling dekat. Tangan kiriku menggenggam pistol, sementara tangan kananku bersiap membuka pintu itu. Aku menahan napas, bersiap untuk menembak.

3, 2, 1!

Pintu terbuka, sebuah pemandangan menjijikkan terhampar di hadapanku.

“ I-ini!”

T.B.C

3 Comments (+add yours?)

  1. shoffie monicca
    Nov 21, 2014 @ 21:04:34

    sru min lnjut…

    Reply

  2. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Father’s Feeling | Superjunior Fanfiction 2010
  3. Trackback: Snakes On The Plane {22/25} | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: