My Story For You

my story for you

 

Author            : Nalin Lee

Tittle               : My Story For You

Genre             : Romance,  Friendship

Tags                : Lee Sung Min, Park Chan Mi (OC)

Length            : Oneshot

Rating             : All age

Note                : ff ini juga ada di mitwins.wordpress.com ^^

 

My Story For You

 

  • You Hold My Hand

Aku masih mengingat dengan jelas saat pertama kalinya kau menawarkan genggaman hangatmu padaku. Seingatku itu pertengahan musim panas.

Kau, pria manis yang memiliki senyuman secerah mentari. Mentari musim panas yang biasanya sebegitu menyebalkannya, saat itu kini berganti menjadi terpaan kehangatan yang berbeda seiring dengan kulitmu yang menyentuh kulitku.

Sensasi hangat menggelitik. Membuat hatiku tergelitik untuk membalas senyummu.

Yah aku masih mengingat jelas saat pertemuan pertama kita. Pertemuan di pertengahan musim panas. Pertemuan di kedai ice cream. Hangat dan manis.

**

  • When You Asked Me My Name

“siapa namamu?”

“ice cream rasa coklat dengan chocochip yang banyak”

Oh bodoh!

Percuma kau mendapat julukan siswa cerdas jika pertanyaan seperti itu saja kau menjawabnya dengan kekeliruan yang konyol Park Chan Mi.

“Ahh, maaf! Apa yang kau tanyakan tadi?”

Kau kembali tersenyum dipertemuan kedua kita. Ditempat yang sama. Disituasi yang sama. Dan keadaan yang semakin rumit untuk hatiku menjelaskannya.

“aku menanyakan namamu cantik”

Oh, dia bodoh atau tolol? Atau mungkin dia perayu ulung yang memuji setiap gadis dengan kata-kata manisnya? Sialan kau Lee Sung Min, tidak semudah itu kau memikat hatiku.

“kau memang cantik”

Poin yang selanjutnya yang ingin ku tanyakan, apa kau seorang peramal?

Oh baiklah, sebelum kau kembali berucap yang semakin membuat pipiku semerah ice cream strawberry mint-mu aku akan menjawabnya “Park Chan Mi imnida”

“dan aku Lee Sung Min”

Yeaah Mr. Lee..

Kau sudah menyebutkan namamu saat pertemuan pertama kita tanpa ku pinta.

**

  • Are You Paparazi?

Aku tak tau saat itu kau juga merangkap sebagai seorang paparazi amatiran. Saat aku mendapatimu yang selalu menatapku.

Oh ayolah Lee Sung Min. kau jangan membuat hati ini semakin berdebar. Apa kau melakukannya dengan sengaja eoh?

Tatapan sehangat musim panasmu kembali aku dapati di pertemuan ketiga kita.

Pertemuan yang tak sehangat pertemuan sebelumnya. Karena kau pun pasti mengingatnya bukan? Saat aku menangis seorang diri disudut coffee shop milikmu.

Kau memperhatikanku. Terlalu jelas hingga membuatku risih akan tatapanmu.

Aku tak suka tatapanmu, dan kau harus tau itu.

Terlebih saat kau menanyakan kabarku, aku semakin tak menyukaimu.

Hell ! karena kau selalu membuatku berdebar. Hati ini menyukaimu Lee Sung Min.

Kau harus tau itu.

**

  • You Are Tapped On The Shoulder

Kau menepuk pundakku. Menguapkan air mata yang terhenti seiring dengan coffee shop-mu yang semakin ramai.

Ada rasa hangat yang menjalar seiring dengan musim gugur yang terasa lebih dingin daripada tahun-tahun sebelumnya. Saat kau menghiraukan pelangganmu hanya untuk menghiburku.

“air matamu terlalu berharga cantik”

“aku bisa menjualnya kalau begitu”

Kau tertawa. Dan sekali lagi perlu ku tegaskan. Tawamu menular, kau harus tau itu!

**

(5) You Like Supehero

Dan untuk hari-hari selanjutnya kau tak melupakan janjimu.

Janjimu untuk selalu menjagaku.

Ada kilatan kepercayaan mendalam yang kudapat dari sorotmu.

Dan untuk kesekian kalinya, kau harus tau bahwa kau terlihat seperti tokoh super hero di mataku.

Tak membiarkan air mataku menetes untuk sesuatu yang tak berguna.

Aku bisa melihatmu dengan pedang zorro hasil imajinasiku.

“aku memang superhero. Dan aku punya pedang super panjang untuk menghalau segala masalahmu. Dan aku seperhero yang tampan tentu saja”

Yah terus saja membual Lee Sung Min. karena memang aku tak bisa membantahnya. Itu semua memang benar bukan?

**

(6) Eyes Stare Scares me

Apa sebelumnya aku sudah pernah mengatakan kau tampak menyeramkan jika kau tengah marah padaku?

Heoolll, kau mengingatkanku pada guru matematika terkiller sepanjang SMA-ku. Kau harus tau itu.

Saat matamu menyorot tajam dari balik lirikan matamu. Aku tau kau tak ingin menatapku saat kau marah padaku. Dan saat itu pula sejuta rindu akan tatapan sehangat mentari menghujaniku.

“aku tak semenyeramkan itu cantik. Aku marah padamu karena aku menyayangimu”

Dan untuk kesekian kalinya kau membuatku terbang sayangku..

**

(07) Pilot?

Ahh.

Kau selalu membuatku merasa terbang dalam imajinasi kebahagiaan yang kau ciptakan Lee Sung Min. Kau harus tau itu..

“aku ingin jadi pilot”

Jawabanmu membuatku tertawa. Jadi ini alasannya?

Saat awal musim dingin menyelimuti Seoul, dimana tumpukan salju semakin membuatku harus menumpuk mantelku menjadi berlapis-lapis disuhu minus derajat seperti ini.

Saat itu kau meminum cappuchino-mu, dan seperti biasa aku memakan chocochip ice cream-ku saat aku menanyakan cita-citamu, tentu saja setelah kau menyelesaikan omelanmu tentang betapa tidak baiknya makan ice cream disaat musim dingin.

Kau ingin jadi pilot?

Tanpa bersekolahpun kau sudah menjadi pilot, menerbangkan hatiku ke sebuah galaksi yang tak pernah ditemukan. Kau lebih hebat dari seorang pilot. Kau harus tau itu.

**

(08) Your Face Sucks

Dua minggu setelah aku mengatakan kau adalah pilot yang hebat, bisakah aku kembali menarik kata-kataku?

Kau pilot yang payah, kau pilot amatir yang bisa membahayakan penumpangmu Mr. Lee.

Dan aku tak membiarkanmu menjadi pilot sungguhan.

Karena kau pernah menjatuhkanku saat aku ikut dalam kendali ‘pesawatmu’

Saat itu di pertengahan musim dingin, kau memintaku membuatkan sup.

Aku kasihan akan demammu yang tak kunjung turun, jadi aku dengan sedikit keraguan dalam hati mencoba untuk memasakkanmu sesuatu yang hangat. Dan sup adalah pilihan yang tepat.

“kau tau kenapa restoran diujung sana tidak menerimamu sebagai koki, walau kau mempunyai lisensi dari tempat kursus ternama, cantik?”

“karena mereka sudah memiliki juru masak. Dan mereka tidak mungkin untuk memperkerjakanku juga”

“mereka berbohong”

“apa maksudmu?”

Aku heran tentu saja. Kau tengah sakit, dan masih sempatnya kau membahas penolakan kerja yang kuterima seminggu yang lalu.

“karena masakanmu errr.. aku rasa…”

“maksudmu masakanku tidak enak?”

Oh kau membuat moodku memburuk Lee Sung Min. Aku akan pulang, aku tak peduli dengan badai salju diluar sana, aku tak peduli dengan rayuanmu untuk menghiburku. Yang pasti aku akan pulang.

“apa aku pernah mengatakan masakanmu tidak enak?”

“kau mengatakannya Lee Sung Min”

“aku tidak pernah mengatakannya”

“Well, raut wajahmu mengatakannya sayang”

“Oh, memangnya raut wajahku seperti apa?”

Aku jengah dengan obrolan telepon di tengah salju seperti ini. Aku kedinginan, sedang kau disebrang sana terlalu santai untuk mengobrol ditempat hangatmu Lee Sung Min.

“wajahmu mengernyit seperti kau tidak menyukai masakanku”

“ekspresi wajah memiliki makna yang banyak cantik”

“aku tak peduli, dan aku menyimpulkan sepertinya kau tidak menyukai masakanku”

Kau terkekeh, dan aku semakin mengutuk salju dan juga dirimu sayang. Kau harus tau itu.

“aku menyukai masakanmu”

“terus saja melakukan pembelaan diri”

“aku tidak membela diri”

Suaramu kali ini terdengar serius, dan aku memilih untuk menghentikan langkahku saat beberapa meter lagi seharusnya aku segera masuk kedalam apartemen sebelum aku benar-benar mati membeku diluar.

“ada satu hal yang aku tak sukai darimu. Dan ini bukan karena masakanmu”

“kau tidak menyukaiku?”

Seolah ada gumpalan salju seberat satu ton yang menimpa kepalaku. Yah mungkin terdengar berlebihan, tapi rasanya memang seperti itu. Hatiku tertindih dinginnya salju. Dan hati ini akan membeku dengan cepat jika saja ia tak melanjutkan ucapannya.

“aku tak menyukaimu yang terlalu sempurna. Karena aku takut tak bisa memilikimu cantik”

“aku melongo “apa ini termasuk pernyataan cinta?”

“Tidak”

Oh, aku akan membunuhmu Lee Sung Min.

“bolehkah aku memintamu untuk menjadi istriku? Karena aku bisa makan enak setiap harinya sayang”

Kau tertawa. Dan tawamu  menjalari ribuan kehagatan di hatiku sayang.

Ayolah, berhentilah membual tentang cinta sayang.

**

(09) Let Us Make Our Own Story

“aku suka membaca novel”

“kau terlalu banyak berimajinasi sayang”

Kau terkekeh, seolah menertawakan hobi dan kegemaranku. Apa itu salah Mr. Lee?

“Lisensi cinta dalam kisah setiap novel terlalu konyol. Kau terlalu banyak berimajinasi dengan hal fiksi seperti itu sayang”

Kau menyebalkan.

Aku tau orang sepertimu terlalu berfikiran realistis seolah segala jenis bacaan fiksi hanya kepemilikan keponakanmu yang berumur 4 tahun itu.

“daripada kau seharian ini hanya berkutat dengan bacaan fiksimu, kenapa kau tidak ingin membuat kisahmu juga sayang?”

“apa maksudmu?”

Kau begitu pandai menarik perhatianku Mr. Lee. Novel yang kudapatkan dengan mengantri 1 jam ini seolah tak bisa menarik fokusku barang sejenak dari tatapan sehangat mentarimu.

“kita bisa menciptakan kisah lainnya, mengembangkannya bukan hanya sebagai sahabat bersamaku, dan aku akan menciptakan sejuta kisah yang lebih indah daripada yang pernah ada di dalam novelmu”

Menciptakan kisah?

Apa kau sedang memintaku untuk menemanimu menjadi aktris utama dalam kisah takdir kita Lee Sung Min?

**

(10) My Voice

“kau menyakiti telingaku sayang”

Oh kau benar-benar menyebalkan Mr. Lee. Aku baru menyanyikan beberapa bait lagu barumu dan kau mengatakan kau terganggu dengan suaraku? Oh, kau membuat moodku memburuk.

“kau menyukai lagu-lagu di album baruku eoh?”

“tidak, aku tidak menyukainya”

“kenapa kau menyanyikannya?”

“aku hanya mencobanya, dan itu tidak enak untuk dinyanyikan”

Aku menggerutu. Terlalu panjang hingga membuatmu terkekeh puas telah membuatku kesal. Apa sebegitu buruknya suaraku hingga membuatmu terganggu eoh?

“kau mau kemana?”

“aku ingin menyanyi dimana suaraku tidak terdengar olehmu”

Aku masih kesal tentu saja, dan hentakan kakiku aku harap bisa membuatmu mengerti dan segera meralat ucapanmu. Yah walaupun kau sedikit berbohong, setidaknya tidak ada salahnya untuk menyenangkanku kan Lee Sung Min?

“kenapa harus ketempat lain untuk menyanyi? Kau bisa menyanyi di hadapanku, dan aku tak akan mengganggumu”

“tapi kau yang terganggu dengan suaraku sayang”

“kapan aku mengatakannya?”

“Oh kau memang pelupa sayang, dan aku sedikit ragu apa kau masih mengingatku sebagai sahabatmu?”

“kau berlebihan”

Usapan jemari hangatmu di pucuk kepalaku setidaknya membuatku sedikit lebih lega, kau menguapkan emosiku dengan sentuhan lembutmu sayang.

“aku tak mengatakan suaramu buruk”

“tapi kau mengatakan suaraku menyakiti telingamu”

“kau salah paham sayang”

Kehangatan itu sepuluh kali lebih cepat menjalar di kedua pipiku, menciptakan ruam kemerahan yang mungkin saja membuatmu tertawa jika saja kau sedang tidak berkata serius untuk saat ini.

“aku hanya mengatakan lagumu menyakiti telingaku, dan menyakiti hatiku juga cantik”

“tapi lagu ‘Really Want To Say Goodbye’ menurutku lagu yang bagus”

Sentuhan ujung jemarimu kini beralih di kedua pipiku, mengusapnya seolah kau tak ingin membuat suatu kesalahan melalui setiap sapuan lembut jemarimu di kulitku.

“itu lagu yang bagus. Hanya saja makna lagu itu membuatku takut sayang”

“membuatmu takut? Apa maksudmu?”

Kau aneh.

Aku hanya menyanyikan lagu yang menurutku bagus, memangnya letak kesalahannya berada dimana? Kau terlalu banyak menonton film horror atau kau memang …

Oh ataga!

Aku keliru.

“aku tak ingin kesedihan lagu itu menular pada hubungan kita sayang”

Oh ternyata apakah ini yang kau takutkan sayang?

“dan sebaiknya kapanpun itu, jika kau ingin bernyanyi nyanyikanlah lagu cinta sayang”

Permintaanmu terkabul Lee Sung Min.

Aku akan menepati janjiku.

Aku hanya akan menyanyikan lagu cinta untukmu..

Untuk lelaki kesayanganku..

**

(11) Oh Your Krab

“kau membuatku takut”

Oh ini buruk.

Liburan musim semi ini memburuk seiring kau membawa kepiting yang menurutmu imut itu kehadapanku.

Aku benci hewan apapun itu. Seharusnya kau tau itu sayang.

“memangnya apa yang kau takutkan?”

“kepiting itu bisa menggigitku”

“aku juga bisa menggigit, kenapa kau tidak takut padaku juga?”

Oh dia benar.

Pria bergigi kelinci ini penggigit ulung.

Apa aku pernah bercerita sebelumnya kepada kalian?

Errr.. mungkin ini rahasia pribadiku, tapi setidaknya kalian harus tau bahwa dia benar-benar penggigit ulung. Bagaimana aku bisa mengatakan seperti itu?

Yah. ia selalu menggigit bibirku saat kami berciuman. Dan tentu saja itu menyebalkan.

“kenapa kau tidak takut pada gigitanku sayang?”

Oh haruskah ia menanyakan hal seperti itu saat ini?

Errr, haruskah aku mengatakannya juga?

“karena aku menyukai gigitanmu sayang. Gigitanmu terasa nyaman”

Oh, baiklah! Sepertinya aku harus segera beranjak dari sini sebelum ia benar-benar menggigitku saat ini juga.

**

(12) Wish

Bintang jatuh..

Permohonan..

Terkabul..

Yah aku suka mentapa langit, begitu juga denganmu.

Langit musim semi yang selalu bertabur jutaan bintang diatas sana. Ahh, mengenai hal ini kau selalu mendebatku bahwa jumlah bintang lebih banyak daripada sekedar jutaan.

“Lihat ada bintang jatuh. Cepat buat permohonan”

Saat itu aku hanya bisa tertawa.

Bagaimana bisa pria dewasa sepertinya menggantungkan harapan semu pada bintang jatuh?

Tapi melihatmu yang begitu yakin akan harapanmu seiring dengan permohonanmu yang dapat kulihat memenuhi balkon apartemenku, aku turut menangkupkan tanganku, mengikutimu. Memanjatkan sebuah harapan pada sang bintang jatuh untuk ia bawa bersamanya.

“bintang.. lelaki di sebelahku ini adalah lelaki yang lebih berharga daripada hidupku sendiri. Jika ia menyembunyikan kesedihan dan luka hatinya dariku, bisakah kau memberitahukannya padaku? Setidaknya aku belajar untuk bisa memahaminya bintang”

**

(13) Star

Untuk kesekian kalinya di penghujung musim gugur aku mendapatimu tengah menatap langit, menyembunyikan raut wajahmu yang terdongak keatas tak bisa kudapati ekspresimu disana.

“kenapa kau menyukai langit?”

“karena langit itu tinggi”

“dan aku juga sering mendapatimu menatap bintang. Memangnya apa yang kau sukai darinya?”

“karena ia bersinar”

Tinggi dan bersinar.

Persepsiku saat itu mungkin adalah hal biasa untuk sekedar alasan yang ia lontarkan padaku. Dia, lelaki kesayanganku menyukai sesuatu yang tinggi dan bersinar, bukankah tidak ada yang salah dengan perkataannya?

“oh lihat, pantas saja uri Lee Sung Min Super Junior menjadikan aktris itu sebagai tipe idealnya. Gadis itu memiliki lekuk tubuh proporsional, ah aku iri dengan badannya yang tinggi bak model itu”

Aku mencuri dengar obrolan kerumunan fans fanatikmu yang mengenakan kaos biru itu. Mereka membicarakan seorang gadis yang pernah kau berikan hatimu padanya.

Fansmu benar, ia gadis yang tinggi. berbeda denganku yang bahkan terlalu pendek untuk gadis seusiaku. Tinggiku bahkan tak melampaui bahumu.

“oh, jangan lupakan popularitas aktris itu. Popularitasnya semakin menanjak seiring dengan aktingnya yang hebat”

Mereka lagi-lagi benar tentang gadis itu. Ketenaran gadis itu terlalu tinggi untuk ukuran gadis biasa sepertiku. Aku hanya seorang mahasiswi semester akhir yang mati-matian menyelesaikan studi-ku. Di kampusku hanya segelintir orang yang mengenalku, tak ada yang berniat mengenalku lebih jauh selain dirimu sayang.

“kau tau, saat di panggung tadi gadis itu kelihatan lebih cantik dan bersinar daripada sekedar di layar”

Aku mengerti,

Lebih baik aku menghentikan sesi mengupingku sekarang juga.

Kau selalu mencubitku jika aku terlalu banyak mencuri dengar obrolan fans-fansmu itu bukan?

Dan yeahh, untuk kesekian kalinya aku setuju dengan pendapat mereka tentang lawan mainmu kali ini. Ia kelihatan cantik dan bersinar.

Mungkin kau mamang selalu memanggilku cantik. Entah itu sekedar bualan untuk menyenangkan hatiku atau bukan, tapi aku menyukainya, walau itu hanya bualan omong kosong untuk membuatku terbang Mr. Lee.

Dan ‘bersinar’?

Aku tak memilikinya. Entah sinar apa yang mereka maksud, tapi aku yakin aku tak memilikinya, seperti apa yang ada dalam diri lawan mainmu itu.

Apa kau menyukai gadis itu Lee Sung Min?

Bukankah kau menyukai sesuatu yang tinggi dan bersinar?

Aku tidak masuk dalam kriteriamu bukan? akankah aku harus melepas cintaku untukmu mendapatkannya?

Haruskah sayang?

**

(14) Your Hug

Oh baiklah, sepertinya ini bagian paragraf terakhir dari kisahku.

Saat kau memelukku dan mengatakan sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Saat itulah aku sadar aku harus melepasmu sayang. Melepas seluruh cinta dan harapanku tentangmu.

“Ia menerima lamaranku cantik”

Untuk pertama kalinya sentuhanmu terasa membeku dikulitku.

Membekukan seluruh sistem syaraf di seluruh tubuh tanpa terkecuali.

Ini pelukan terakhir darimu, dekapan terakhir sebelum aku merelakanmu bersamanya.

“Selamat, kau harus bahagia bersamanya sayang”

 

**

END

 

 

2 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Nov 22, 2014 @ 16:51:51

    Sedih juga pas dengerin si abang umin mau nikah, tapi gak apalah itu juga utk kebahagiaan dia….

    Reply

  2. Kwan Menzel
    Nov 24, 2014 @ 00:43:19

    endingnya sungmin gk sm chan mi bgtu??

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: