{Snakes On The Plane’s Side Story} Father’s Feeling

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Don’t Go {Side Story: Saki’s POV}

19

Unexpected {Side Story: Sakura’s POV}

20

Betrayal {Side Story: Seiryuu’s POV}

21

 

1990, Kyushu..

“ Naomi!”

Suara tembakan tadi benar-benar di luar dugaan. Aku tak mengira mereka akan berhasil menembus kekai milik Naomi.

Aku berlari menaiki tangga, melompati beberapa mayat—astaga, sebanyak inikah penyusup yang datang?

Naomi, kumohon tetap selamat.

“ Naomi!”

Pintu kamar Sayuri terbuka, darah tergenang tepat di depannya. Jantungku seolah diremas saat itu juga.

Tidak, jangan malaikat kecilku

“ Naomi!”

Di dalam, Naomi bersimpuh sambil memeluk tubuh Sayuri, sementara Hitoshi tergeletak di sampingnya. Aku menghampirinya, memeriksa keadaan Hitoshi. Jantungnya masih berdetak namun lambat.

“ Donghee…”

Naomi terisak saat memanggilku. Piyamanya berlumuran darah, tapi itu bukan darahnya. Sayuri terkulai lemas dalam pelukannya. Itu artinya—

“ Maafkan aku,”

Aku tak sanggup berkata apapun.

Sayuri, putri kecilku.

“ Tak ada pilihan lain,”

Usai berkata demikian, seberkas cahaya muncul di antara Naomi dan Sayuri. Aku tak perlu berpikir untuk mengingat cahaya apa itu, karena aku sudah pernah melihatnya beberapa kali.

“ Naomi, jangan!”

Naomi menahanku. Ia serius. Tangan kirinya memegang tangan kananku, air mata menggenangi pelupuk matanya.

“ Hanya ini satu-satunya cara, Donghee,”

“ Tapi…”

“ Dengarkan aku,” Naomi mengeratkan pegangannya, “ Jangan beritahu Sayuri ataupun Hitoshi. Dan bawa mereka pergi sejauh mungkin,”

Naomi menatapku, senyum manis terukir di wajahnya. Perlahan, aku mendengar suara tarikan napas. Aku bersiap untuk detik berikutnya.

“ Aku mencintaimu, Donghee,”

Kalimat terakhir yang terucap olehnya sebelum ia jatuh ke pelukanku. Wajahnya tampak bahagia.

Naomi….

“ Aku juga mencintaimu, Naomi,”

* * *

“ Shin,”

Mataku terasa berat. Sakit kepala menyerangku sejak semalam. Aku tak bisa tidur tenang, terutama memikirkan hari ini.

“ Shin,”

Sepertinya ada orang lain disini. Pandanganku buram. Siapa itu?

“ Jenderal Shin Donghee!!!”

Dinding kamarku digebrak, entah oleh siapa, dan itu membuatku terlonjak. Pandanganku mendadak jernih. Dan di hadapanku, Hayate-senpai tampak kesal.

“ Pagi, senpai,”

Hayate-senpai berdecak, “ Pagi? Ini sudah pukul 9! Sebentar lagi mereka akan berangkat!”

Sebentar lagi?

Mendengar itu, aku buru-buru mengenakan seragam. Aku harus melihatnya.

Setidaknya, untuk terakhir kalinya.

* * *

Hujan hari ini tak sederas biasanya. Beruntung, kami sempat memakamkannya sebelum hujan turun. Sebuah pigura foto diletakkan beserta bunga mawar putih kesukaannya.

Orang-orang berdatangan silih berganti, mengucapkan belasungkawa. Telingaku seolah tuli, suara-suara itu tak terdengar bahkan aku tak tahu siapa yang baru saja menyalamiku. Duniaku telah berhenti.

Senyum manisnya.

Canda tawanya.

Pelukan hangatnya.

Semuanya terekam jelas dalam ingatanku. Bahkan tanganku masih bisa merasakan tubuhnya berada dalam pelukanku.

“ Donghee,”

Seseorang merangkul bahuku.

“ Relakan dia,”

Aku tak bisa, hyung.

“ Sayuri dan Hitoshi membutuhkanmu,”

Nama kedua malaikat kecilku itu mengingatkanku pada pesan terakhir Naomi.

Bawa mereka pergi sejauh mungkin

“ Hyung,”

“ Ya?”

Aku menelan ludah, “ Aku ingin meminta tolong padamu,”

* * *

Fuh. Sepertinya aku tepat waktu.

“ Dalam waktu dua menit, mereka akan berangkat. Ada pesan terakhir?”

Hayate-senpai menghampiriku. Kumisnya yang mulai memutih tak menghilangkan kesan jahil padanya. Tapi kali ini ia bukan sedang meledekku.

“ A-aku rasa tidak perlu,”

Hayate-senpai bersandar di pembatas, “ Kau yakin?”

Aku tak tahu harus menjawab apa. Sayuri belum sepenuhnya menganggapku sebagai ayah. Canggung masih memenuhi ruang di antara kami. Aku tak yakin aku bisa bersikap seperti ayah di saat-saat terakhir.

Yang bisa ku lakukan sekarang hanya melihatnya dari jauh. Sayuri tampak berbicara dengan Sakura. Melihat mereka berdua berdiri bersama membuatku lega.

“ Sepertinya mereka sudah bisa menerima satu sama lain,” Rupanya Hayate-senpai juga melihat.

“ Dengan begini kita tidak perlu khawatir lagi. Semua akan baik-baik saja,” Ku paksakan diriku tersenyum. Namun nada datar yang keluar dari mulut Hayate-senpai membuatku gugup.

“ Ya, pasti baik-baik saja,”

* * *

“ Kau yakin?”

Ku kepalkan tanganku seraya menahan emosi. Ku paksakan diriku mengangguk, namun mataku tak sanggup menatap mereka.

“ Memisahkan adalah satu-satunya jalan,”

Lidahku pahit saat mengucapkan kalimat itu. Hati kecilku berteriak “ Jangan!” namun hanya itu cara terbaik yang bisa ku lakukan.

Hyung mencengkeram bahuku sambil berbisik, “ Sayuri aman bersama kami,”

“ Terimakasih, hyung,”

Noona yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara, “ Kami akan membesarkannya seperti anak kami sendiri,”

Ucapan noona membuatku ingin menangis. Andai saja Naomi masih hidup, mungkin—

“ Dan Hitoshi akan aman bersama keluarga Hiragawa,”

Suara itu menyentakku. Hayate-senpai berdiri di hadapan kami. Ia tak sendiri, Takeshi dan Midori ikut bersamanya.

“ A-apa maksudmu?”

Hayate-senpai menyilangkan tangannya, “ Dalam situasi seperti ini, kau tidak akan bisa membesarkan Hitoshi maupun Sayuri sendirian. Pilihan terbaiknya adalah membiarkan orang lain yang mengasuh mereka,”

Tidak….

Aku harus berpisah dengan Hitoshi juga?

“ Aku tidak bisa! Bukankah kau sendiri juga akan segera memiliki cucu, senpai? Kau seharusnya lebih mementingkan cucumu, bukan Hitoshi!”

Hayate-senpai berdecak, “ Empat orang tidak akan jadi masalah, ya kan Midori?”

Aku berpaling ke Midori, barulah aku menyadari perut Midori telah mengecil. Itu artinya—

“ Sudah, serahkan saja pada kami. Kau tinggal memikirkan strategi lain. Lagipula aku yakin Hitoshi akan senang punya adik perempuan,”

Aku tak berkutik ketika Hayate-senpai berbicara seperti itu. Ia benar. Aku harus segera mencari pemilik tanda Zodiac lainnya dan memastikan mereka semua aman.

Takeshi memelukku, berbisik di telingaku,

“ Hitoshi akan menjadi lelaki yang hebat sepertimu,”

Takeshi….

Air mataku tak dapat ku bendung. Seluruh kenangan membanjiri benakku.

Naomi….

* * *

“ Sudah dua puluh tahun, ternyata,”

Aku mengangguk. Helaan napas terdengar panjang dari balik punggungku.

“ Waktu berjalan sangat cepat,”

Aku mengangguk lagi. Tiba-tiba saja aku merasakan genggaman di bahuku.

“ Apa yang kau pikirkan, Donghee?”

Lidahku kelu. Otakku masih memroses kejadian tadi pagi/ Andai saja aku bisa menghentikannya. Andai saja aku menolaknya.

Aku benar-benar ayah yang bodoh.

“ Naomi pasti marah padaku,”

Sepasang tangan memaksa tubuhku untuk berbalik. Wajah Hayate-senpai berada di tepat di depanku.

“ Dengarkan aku,” Hayate-senpai terdengar marah, “ Berdiri di sini tidak akan membantumu. Kau harus kembali ke ruang kendali,”

“ Tapi, aku tidak bisa….”

“ Apa maksudmu tidak bisa?” Nada bicara Hayate-senpai berubah. Tak ada canda atau ejekan. Ia sungguhan marah.

“ Ketiga cucu kesayanganku juga ada disana, Donghee,”

Ah, itu….

“ Dan sekarang mereka sedang berjuang. Apa kau tidak ingin mendoakan keselamatannya?”

Tentu saja aku ingin. Tapi aku tak sanggup melihat Sayuri dari layar. Aku ingin menyusulnya, aku ingin melindunginya. Dengan tanganku sendiri.

“ Bukan hanya kau saja yang menderita dengan kematian Hitoshi. Kami juga merasakan hal yang sama,” Hayate-senpai tertunduk, “ Ia sudah ku anggap seperti cucuku sendiri,”

Mendengar nama Hitoshi membuatku sakit. Tiga tahun lalu, ia pergi tanpa tahu siapa ia sebenarnya. Ia pergi bersama Naomi. Haruskah saat ini aku kehilangan lagi?

“ Kau tahu kan keputusan kemarin membuat kita seperti orangtua yang tak berperasaan?”

“ Aku tahu, tapi—“

“ Karena itu, kita harus mengawasinya. Memastikan semuanya baik-baik saja,” Hayate-senpai menatapku, barulah aku sadar betapa tuanya ia. Dua puluh tahun aku tak menyadarinya karena ia selalu bersemangat seperti masih menjadi instruktur. Sepertinya umur tak menghambat semangatnya.

“ Setidaknya, kita harus mendoakannya,”

Aku mengangguk, “ Ya. Seperti layaknya seorang kakek dan ayah,”

Hayate-senpai terkekeh, “ Aku ini kakek yang jahat. Mengirimkan cucu tersayang ke medan tempur,”

“ Kalau begitu, aku ayah yang jahat,”

Kami berdua tertawa pahit. Seperti tiga tahun lalu, saat Hitoshi dimakamkan. Kami merasa seperti pembunuh.

Dan aku tak ingin peristiwa itu terulang. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin hidup bersama Sayuri.

“ Senpai,”

Nani?”

Aku memeluknya, seakan kami berdua masih murid di akademi militer.

Arigatou , Senpai,”

Hayate-senpai membalas pelukanku. Ia membisikkan sesuatu, namun aku tak yakin dengan telingaku.

Baka,

3 Comments (+add yours?)

  1. liena
    Nov 23, 2014 @ 22:20:52

    semakin bkin pnsaran ajaaa niiiih…
    wwwuuuuuuaaahhh…
    semangaat yaaa n keep writiiiiing…
    jgn lma2 yaaa nglanjutinnyaaa…
    🙂 😉 :-*

    Reply

  2. hanjire
    Nov 25, 2014 @ 16:52:30

    akhirnya post juga ni ff udah lama ditungguin……

    Reply

  3. Trackback: Snakes On The Plane {22/25} | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: