My Lil’ Bride [1/?]

wpid-collage_20140418100702644_20140418145004888

 

My Lil’ Bride Part 1

Author: Rana Kim

Cast:
-Kim Kibum as Kim Kibum
-Kim Jongwoon as Kim Jong Woon
-Lee Yo Won as Cho Yongeun

Side cast:
-Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun (Yong Eun’s Daddy)
-Kim Nam Gil as Kim Nam Gil (Kibum’s Daddy)
-Others

Genre: Romance, Family, Married life

Rating: PG-15

Well, enjoy the story!! Oh ya, NO BASH NO PLAGIAT NO COPAS W/O FULL CREDITS yah..

Also published on my wp: http://queensarap.wordpress.com/

 

—————————-

Cho Yong Eun terpaku menatap tetangga seberang rumahnya. Seorang namja bermata sipit berparas tampan dan bersuara luar biasa merdu–atau seperti itulah kesan namja itu di mata Yong Eun. Seperti biasa, namja itu menikmati senja merah jambu di beranda kamarnya sambil bersenandung kecil, dan Yong Eun mengintipnya dari balik gorden rumahnya.

Yong Eun tak tahu lagu apa yang sedang dinyanyikan namja itu. Tak tahu juga apakah itu lagu yg bagus atau tidak. Satu hal yang ia ketahui: karena suara namja itu begitu merdu, lagu apa pun yang dia nyanyikan jadi terdengar indah.

Nama namja itu Kim Jong Woon. Nama yang setampan dan seindah suara pemiliknya. Yong Eun belum pernah mengobrol banyak dengannya, ia terlalu malu untuk itu. Padahal mereka sudah cukup lama bertetangga, sekitar 5 tahun semenjak keluarganya menempati rumahnya sekarang. Tapi Yong Eun yakin Kim Jong Woon berkepribadian menarik. Entah darimana dia dapat keyakinan seperti itu.

” Yong Eun-ie… ” panggilan lembut terdengar dari balik punggungnya. Dia menoleh dan mendapati Ny. Cho, ibundanya tercinta, tersenyum kecil.

” Omona! Eomma mengagetkanku! ” serunya sambil mengelus dada.

” Makanlah dulu. Kau mau maag-mu kambuh gara-gara memandangi Jong Woon seharian? ” kata Ny. Cho sedikit menggoda, sukses memunculkan semburat merah di pipinya yang putih pucat.

” Eomma! ” rajuknya manja. Setengah tak rela, ia tutup gorden rumahnya dan mengikuti ibunya ke ruang makan.

—————–

Sunday morning

” Yong Eun! Cepat bangun! ”

Pagi-pagi benar Ny. Cho membangunkan putri tunggalnya. Diguncang-guncangnya tubuh putrinya agak kencang agar segera kembali dari alam mimpi. Yah, kalau tidak dengan heboh begitu, Yong Eun tidak akan bangun. Dia memang tidur seperti babi.

” Eomma. Ini ‘kan hari Minggu. Aku libur sekolah. ” racaunya sambil menggeliat dengan mata tertutup. Sang ibu menepuk-nepuk pipinya tidak sabar.

” Kau harus bangun dan membantu Eomma! Appa akan kedatangan tamu penting hari ini! Apa kau mau mempermalukan Appa? ” kejar ibunya cepat. Yong Eun pun bangkit dengan malas.

” Aish! Ne ne. Aku cuci muka dan sikat gigi dulu. ” katanya akhirnya.

Lima menit kemudian, Yong Eun terlihat sedang memberesi ruang tamu rumahnya. Sebenarnya rumahnya sudah bersih, tapi Ny. Cho menyuruhnya untuk membersihkan dan merapikannya lagi.

” Jangan ada debu yang tersisa! ”

Dia memberengut.

” Siapa sih, tamu Appa hari ini? Sampai-sampai Eomma jadi berlebihan begini. Uh dasar tamu sialan! Istirahatku jadi terganggu gara-gara dia! Huh! ” umpatnya.

Meski begitu, tetap saja dia kerjakan apa yang disuruh sang ibu, mengingat nama baik orang tuanya dipertaruhkan. Bisa-bisa keluarganya dicap keluarga jorok nanti.

Selesai dengan vacuum cleaner dan pel, Yong Eun beralih ke dapur. Didapatinya Ny. Cho sedang memasak berbagai macam makanan.

” Apa lagi yang perlu kukerjakan? Atau Eomma perlu kubantu menyiapkan masakannya? ” tanyanya.

” Sudah selesai semua? Kalau sudah, mandilah sana dan dandan yang cantik. Appa sedang menjemput tamunya dan mereka sudah dalam perjalanan kemari. ” suruh ibunya lagi. Yong Eun menurut saja. Percuma jika ia membantah, ibunya pasti tetap memaksanya. Lagipula ia lelah, beres-beres seluruh rumah menghabiskan tenaganya. Ibunya benar. Ia harus mandi. Dengan begitu tenaganya akan pulih kembali.

Dia berjalan ke kamarnya dan menyiapkan baju ganti. Kemudian dia mandi seperlunya. Cukup wangi dan bersih. Dia baru saja keluar dari kamar mandi di dalam kamarnya saat ibunya masuk. Beliau tampak menawan dengan riasan natural di wajahnya. Gaun panjang berwarna hijau zamrud menambah keanggunan dan kecantikannya.

” Ada apa lagi Eomma? Aku baru saja selesai mandi. ” katanya heran.

” Baju mana yang mau kaupakai nanti? ”

” Itu. ”

Tatapan ibunya beralih ke ranjang, di mana bajunya tergeletak. Setelan simpel yang terdiri dari blus lengan panjang warna hitam dan rok selutut sederhana dengan warna senada. Ibunya menggeleng.

” Kita mau menyambut tamu, bukan menghadiri pemakaman, Yong Eun-ah. ” tukasnya. Ny. Cho mengembalikan setelan itu ke lemari besar di sudut kamar, lalu membolak-balik semua pakaian Yong Eun yang tergantung rapi di sana. Tak lama berselang, Ny. Cho mengulurkan sebuah gaun berwarna merah pekat, sepasang loubs hitam, dan sebuah kotak make up yang sudah lama tersimpan di lemari itu tanpa pernah sekalipun digunakan. Yeah, Yong Eun bukan tipe gadis yang suka berdandan meski dia feminin.

” Pakailah ini. Dan jangan lupa make up nya. ” pesan Ny. Cho.

” Tapi aku tak bisa pakai make up Eomma! Eomma tahu aku belum pernah menyentuhnya sama sekali. ” Yong Eun memprotes.

” Oke biar nanti Eomma rias wajahmu. ” sahut ibunya cepat. ” Tamu kita klien penting perusahaan Appa, perwakilan dari Louis Vuitton Perancis. Kita harus menyambutnya sebaik mungkin. ”

Yong Eun memutar bola matanya jengah, bosan mendengar merk perusahaan-perusahaan fashion terkenal kesukaan ibunya. Ah, ibunya seorang fashionista memang.

Tanpa banyak bicara lagi, Yong Eun memakai gaun pilihan ibunya, lalu duduk di depan meja riasnya. Dengan cekatan, ibunya memoleskan foundation, bedak, lipstik, eyeliner, eyeshadow, juga blush on dan maskara ke wajahnya. Kemudian rambut hitamnya yang sedikit wavy digelung sedikit sembarangan, menyisakan poni yang menjuntai di sisi kiri wajahnya.

” Ah! Ini juga! ”

Hairspray disempotkan ke atas rambutnya.

” Eomma! Kenapa pakai hairspray juga? ” protes Yong Eun lagi. ” Eomma mau bumi kita tambah rusak dan penyakitan?! ”

” Hus! Kan tidak terlalu banyak. Lagipula tak setiap hari kau memakainya. Sudah! Sekarang pakai loubs mu dan kita siap menyambut kedatangan mereka. ” potong ibunya cepat.

Mereka berdua bergegas ke ruang tamu. Tepat pada saat itu, terdengarlah suara deru mobil memasuki halaman rumah. Ny. Cho membuka pintu dan memasang wajah penuh senyum sementara Yong Eun berdiri di sampingnya.

Appa Yong Eun–Cho Kyuhyun–keluar dan mempersilakan tiga orang tamunya masuk ke kawasan rumahnya. Seorang pria yang sepertinya berdarah Korea, wanita berambut pirang a la Marilyn Monroe, dan seorang pemuda berambut cepak berwajah Asia yang parasnya tampan luar biasa.

” Selamat datang di rumah kami. ” sambut Ny. Cho begitu tamu yang ditunggu keluar dari mobil. ” Mari masuk. ”

Di dalam, mereka berbincang ringan. Appa Yong Eun dan Tn. Kim Nam Gil, kliennya, serius membicarakan bisnis mereka. Sementara wanita tadi yang notabene adalah istri Tn. Kim asyik mengobrol dengan Ny. Cho tentang label-label fashion ternama favorit mereka. Pemuda tampan–putra Tn. Kim, Kim Kibum–hanya diam mendengarkan sambil sesekali mengutak-atik ponselnya. Yong Eun tak terlalu peduli meski tadi dia sempat terpana pada Kim Kibum. Dia hanya memperhatikan ibunya dan Ny. Kim yang mulai menggosip.

” Mom… ” Kibum memanggil ibunya pelan, lalu membisikkan beberapa kalimat yang membuat Ny. Kim tertawa kecil.

” Oh yeah tentu saja, Kid. Kau tak usah cemas; nanti Mommy yang atur. ”

” Ada apa, Helenna-ssi? ” tanya Ny. Cho penasaran. ” Oh ya, kami tadi menyiapkan sedikit hidangan. Bagaimana kalau kita lanjutkan obrolan di meja makan? ”

” Ide bagus, Sera-ya. ” Tn. Cho menyahut antusias. Mereka pun beralih lokasi.

Obrolan dilanjutkan seraya mereka makan siang.

” Ah, aku ingin bertanya padamu, Yong Eun-ah. ” kata Ny. Kim tiba-tiba dengan Bahasa Korea yang beraksen Eropa. Yong Eun menatap Ny. Kim serius.

” Apa kau sudah punya pacar? ”

” N-ne?! ”

” Begini, Sera-ssi. Aku sedang mencari calon menantu yang cocok untuk anakku. Dia hampir berkepala tiga tapi tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita ke rumah. Dia tak begitu tertarik dengan wanita selama ini hingga kukira dia homo. Tapi barusan, dia berkata, ” Mom, bisakah aku memiliki gadis ini? “ . Dan aku juga merasa Yong Eun cocok dengan Kibummie. ”

Yong Eun tersedak.

Apa? Pemuda ini tertarik padanya? Bagaimana bisa? Ini ‘kan kali pertama mereka bertemu. Dan apa-apaan wajahnya itu! Usianya hampir 30 tahun dan dia masih setampan itu dengan kulit sehalus itu?! pikir Yong Eun.

” Well, well… Betapa beruntungnya putriku bila bisa menjadi menantumu, Helenna-ssi. Nah, bagaimana menurutmu Yong Eun-ie? ”

Seketika mata Yong Eun membulat tak percaya.

” Mwo?! ”

” Bagaimana, Sayang? ” tanya Ny. Cho. Yong Eun kebingungan. Apa yang harus dia katakan? Kalau bilang ‘iya’, hatinya masih ragu dan tak percaya. Kalau bilang ‘tidak’, ugh, sungkan!

” Eum… Well, bagaimana ya? ”

” Aah, anak ini memang pemalu kalau sudah berurusan dengan hal seperti ini. Biarlah ia berpikir dulu barang beberapa hari. Tak perlu buru-buru, masih ada hari esok. Benar ‘kan, Kim Kibum, Nak? ” potong Ny. Cho, mengerti kegugupan anaknya. Kibum mengangguk sopan sambil tersenyum. Yong Eun terbelalak, ia tak sengaja melihat senyum Kibum.

Oh my God! jeritnya dalam hati.

Dia cepat-cepat menggeleng, mencoba menetralisir detak jantungnya yang marathon tiba-tiba.

——————–

Pagi harinya, Yong Eun berangkat sekolah seperti biasa. Kali ini ia memberanikan diri, bermaksud menyapa Jongwoon. Dia ingin Jongwoon menyadari keberadaannya. Mulai dari yang kecil-kecil dulu seperti ini, dia berharap nantinya bisa mengenal Jongwoon lebih jauh, lebih bagus lagi kalau Jongwoon jadi jatuh hati padanya.

Hei! hatinya mengingatkan. Bagaimana dengan Kim Kibum?

Aish! Pembicaraan kemarin tak seserius itu!
jawabnya pada diri sendiri.

Ia baru saja keluar dari gerbang rumahnya, baru saja hendak membuka mulut untuk sekedar mengucapkan ‘selamat pagi!’ pada Jongwoon yang ketika itu tengah menyiram tanaman hias di pagar rumahnya yang pendek. Namun sebuah Lamborghini putih tipe Aventador berhenti tepat di depan wajahnya, menghalangi pandangan matanya.

” Menyebalkan! ” gerutunya. ” Siapa sih datang pagi-pagi begini? Jadi batal deh menyapanya! ”

Kaca jendela terbuka, menampakkan wajah rupawan sempurna. Orang yang baru saja ia pikirkan. Kim Kibum.

Kenapa dia muncul di saat seperti ini? batinnya gelisah.

” Masuklah. ”

” Apa? ” tanya Yong Eun setengah tak percaya.

” Apa kau tak dengar? Kubilang ‘masuklah’ . Jadi tunggu apa lagi? ”

Yong Eun segera masuk ke kursi depan sebelum pria itu mengatakan sesuatu yang lebih pedas lagi. Haah, kenapa mulutnya tak semanis wajahnya?

————

” Kim Kibum-ssi! Apa yang kau lakukan?! ” Yong Eun panik. Kibum menatapnya datar.

” Apa? ”

” Kenapa malah balik bertanya? Apa yang kau lakukan? Bila mau mengantarku cukup sampai di depan gerbang, tak usah masuk ke halaman sekolah segala! ” pekiknya lagi. ” Kau mau ditangkap penjaga sekolah karena masuk tanpa ijin? ”

” Pertama-tama, Yong Eun-ah, aku bertanggung jawab terhadap keselamatanmu, jadi aku akan mengantarmu sampai ke dalam sekolah, bahkan kalau perlu menemanimu belajar di kelas. ”

Yong Eun otomatis melongo mendengar jawaban Kibum.

” Yang kedua, aku punya akses masuk ke sini. Tunggu–jangan berprasangka buruk aku menyuap atau semacamnya ke pihak sekolah. Akses ini kudapatkan karena mulai hari ini aku resmi jadi guru Matematika di sini, merangkap sebagai wali kelasmu. Jadi tak ada yang akan menangkapku seperti dugaanmu. ”

Mulut Yong Eun menganga makin lebar.

” Dan, jangan panggil aku ‘Kim Kibum-ssi’. Panggilan itu terlalu formal sementara kau adalah calon istriku. Panggil saja ‘Kibummie Oppa’. Terasa lebih nyaman di telingaku. ”

” Mworago?! ”

” Oh ya, soal yang ketiga tadi, aku tak menerima protes. Nah! Kita sampai sekarang. ”

Mobil berhenti di parkiran. Kibum keluar, lalu membukakan pintu untuk Yong Eun. Tanpa ba-bi-bu lagi tangan Kibum meraih pergelangan tangan Yong Eun dan menggandengnya. Bahkan dia tak melepaskan tautan tangannya meski sudah di dalam gedung sekolah. Yong Eun memprotes lagi dengan lirih, mulai risih dan malu dilihati begitu oleh warga sekolah yang lain.

” Ya Kim Kibum-ssi!! Apa tak bisa kau hentikan perilakumu yang berlebihan ini? ”

” Kau lupa poin ketiga tadi? ” Kibum menanggapi tak peduli. ” Dan, sudah kubilang aku akan mengantarmu sampai ke kelas. Oh ya, sudah kukatakan juga, aku tak menerima protes. Bukankah telingamu masih berfungsi? ”

” Mworago?! ”

—————-

Tepat seperti yang sudah dikhawatirkan Yong Eun. Di seantero sekolah, tersebar berita adanya skandal romantisme yang terjadi antara seorang siswi dan seorang guru yang baru masuk hari ini. Dan itu sukses membuat Yong Eun jadi seleb dadakan di SMA nya.

” Aish! Tak bisakah mereka mengatupkan rahang? ” gumamnya lirih saat berjalan ke kantin bersama Han Yoora, sahabatnya.

” Well, ini hal yang biasa, Yongie. Acuhkan saja. Atau kalau perlu, lambaikan tanganmu. Anggap saja kau artis dan mereka adalah fansmu. ” tukas Yoora santai. Yong Eun memerucutkan bibirnya tak setuju.

” Bisa-bisa bukan hujan hadiah yang kudapat, tapi badai telur dan tomat busuk! ”

Yoora tertawa.

Mereka terus berlalu, berusaha mengabaikan warga sekolah yang berbisik-bisik dan mengarahkan jari telunjuknya seraya meliriknya dengan tatapan aneh. Sesekali telinganya menangkap kata-kata mereka yang terdengar pedas.

” Hei, kau lihat anak itu? Ya ya, yang ada skandal dengan guru baru itu! “

” Dasar yeoja centil! Bisa-bisanya dia jalan bareng Kim saem! ”

” Benar! Padahal wajahnya biasa saja! Seharusnya dia lihat cermin dulu baru bikin skandal dengan guru setampan Kim Saem! ”

Para siswa lain lagi komentarnya.

” Aish yeoja-yeoja itu berlebihan sekali. Sudah biasa ‘kan skandal antara guru dan murid macam ini? “

” Ya benar! Paling-paling mereka cuma iri saja dengan yeoja yang–siapa itu namanya?–Yong, Yong, apalah itu! ”

” Biasa, namanya juga yeoja. Seperti tak ada namja lain saja. Padahal kita juga tak kalah tampan dengan guru baru itu. ”

Yong Eun berusaha menulikan telinga. Dia menyeret Yoora ke salah satu bangku di kantin yang letaknya tak jauh dari pastry side. Pesanannya berupa sepotong croissant tanpa isi dan segelas lemon squash datang tak lama kemudian.

Baru saja ia menyeruput lemon squash nya, ia dikejutkan dengan suara bentakan nyaring di samping meja.

” YA!! ”

Suaranya fals parah!, batinnya jengah. Yong Eun mendongak, mendapati beberapa orang gadis berdiri angkuh dengan tatapan mencela. Dia mengenali mereka sebagai sunbaenya.

” Oh, Sunbaenim. ” katanya datar. ” Ada perlu apa? ”

” Kau! Beraninya kau berdekatan dengan Kim Songsaengnim! Sadarlah kau itu siapa! Wajahmu juga pas-pasan. Apa kau tak punya harga diri?! ” sunbaenya itu mencacinya sambil berkacak pinggang. Yong Eun melihat ke mata si sunbae dan merasa ngeri. Bagaimana kalau bola mata yeoja itu copot?

” Ouh ya ampun Sunbaenim.. ” jawabnya cuek. ” Itu toh. Ck. Kukira apa sampai Sunbae rela menghabiskan energi hanya untuk marah-marah padaku. Daripada begitu lebih baik gunakan energimu agar Kim Songsaengnim tertarik padamu. Atau, jangan-jangan Sunbae merasa tak cukup bernyali untuk mendekatinya? Takut tak bisa menyaingiku? Atau semacam itu? ”

Yeoja itu kehilangan kata-kata. Dia makin mendelik marah.

” Kau! Beraninya kau bilang begitu padaku?! ”

” Itulah kenyataannya. Dan Sunbae, masalah harga diri itu, ada baiknya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri. ” tukas Yong Eun tanpa intonasi. ” Well, aku minta maaf sudah membuatmu naik darah. Aku memang sengaja. ”

Yoora menyikut lengan Yong Eun, mengisyaratkan agar temannya itu berhenti bicara. Sementara yeoja itu makin tak kalap, dia memaki dan menarik kerah seragam Yong Eun. Tanpa takut, Yong Eun memandangnya tajam.

Seisi kantin terdiam melihat ‘drama’ ini, berdebar-debar menunggu apa yang akan terjadi.

” Kurang ajar! ” tangan bebas yeoja itu sudah terangkat, hampir saja melukai pipi porselen Yong Eun. Yong Eun tak gentar.

” Berhenti!! ” suara bass nan berwibawa mengalihkan perhatian semua orang, termasuk sunbae Yong Eun dan Yong Eun sendiri. Semuanya menoleh ke sumber suara.

Kim Kibum, orang yang menjadi bahan perang telah berjalan ke ‘arena tempur’, dan berdiri di samping kedua yeoja tersebut. Dia melayangkan tatapan tajam penuh amarah.

” Jangan sentuh dia, Ahgassi! ” ancamnya pada sunbae Yong Eun. ” Jangan pernah, seinci pun, kau menyentuhnya! Apalagi mengganggunya! ”

Yeoja itu terbelalak kaget. Dia otomatis melepaskan cengkeraman tangannya dan menurunkannya ke sisi tubuhnya dengan rasa terpukul.

” Dengarkan aku semuanya! ” lanjut Kibum lantang. ” Siapa pun yang berani menyentuh Cho Yong Eun, seujung rambut saja, aku pastikan dia tak ‘kan lolos dari tanganku, calon suaminya! ”

Semua yang mendengar tak bersuara. Terlalu terkejut dengan serentetan kejadian hari ini. Yong Eun mengusap wajahnya putus asa.

Yang benar saja! Apa skandal tadi pagi tak cukup membuatnya puas? pikirnya.

————–

Hari demi hari berlalu. Namun gosip tentang kedekatan Yong Eun dan Kibum tak juga berakhir. Ah, bagaimana mungkin gosip tentang mereka akan berakhir kalau tiap hari ada saja yang dilakukan Kibum terhadap Yong Eun hingga seisi sekolah geger karenanya?

Tiap hari rutinitas Kibum tak berubah. Mulai dari pagi hari. Menjemput Yong Eun bahkan kadang sebelum Yong Eun selesai sarapan. Tak jarang juga akhirnya ia ikut makan karena dipaksa calon ibu mertuanya. Lalu mengajar di sekolah. Pulangnya bersama Yong Eun lagi. Makan malam di rumah Yong Eun sambil menunggui sang calon istri belajar. Sesekali menemani ngobrol Appa Yong Eun tentang bisnis. Atau bercengkerama berdua bersama Yong Eun sambil menikmati langit berbintang. Tentang apa saja. Kegiatan di sekolah, program-program kesiswaan, kinerja pemerintah, musik, buku yang sedang jadi best seller; apa pun. Laju politik dan tingkat kesejahteraan masyarakat pun tak luput dari perbincangan mereka.

Yong Eun yang tadinya sebal pada Kibum sedikit demi sedikit mulai bisa memahami pemuda itu. Dia tak seburuk yang Yong Eun pikirkan ternyata.

Yong Eun sibuk menjalani harinya dengan Kibum, sampai-sampai ia lupa bahwa tadinya ia menaruh perhatian lebih pada namja depan rumahnya, Kim Jongwoon. Yah, Kibum selalu berhasil mengalihkan pikirannya dari Jongwoon. Tindakannya tak pernah bisa ditebak, membuat Yong Eun terkejut dan tak pernah habis pikir dengan maksud Kibum yang sesungguhnya. Tak jarang juga Yong Eun tersentuh dengan perlakuan Kibum padanya. Pemuda itu sungguh-sungguh memperhatikannya, meski kadang caranya sedikit unik.

” Kibum-ah, apa orang tuamu tak marah kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama kami? ” tanya Ny. Cho suatu ketika. Yong Eun hanya diam menyimak.

” Ani Eommonim. Mereka senang malahan. Kerja sama perusahaan Appa dan perusahaan Abonim makin lancar, meningkat pesat dan mendapat banyak keuntungan karena aku sering kemari, memberi ide-ide segar tentang bisnis kedua perusahaan. ” jawab Kibum sopan. ” Oh ya Eommonim, apakah besok malam semua luang? Mommy ingin makan malam bersama besok di restoran di daerah Myungdong. ”

” Oh tentu! Aku sudah lama tak berjumpa dengan Helenna-ssi. Benar ‘kan, Kyu? ”

Cho Kyuhyun mengangguk.

” Ada banyak hal yang harus kudiskusikan lagi dengan Nam Gil Hyung. ”

” Ah! Mereka juga ingin membahas masalah aku dan Yong Eun. ” tambah Kibum lagi.

” Maksudmu Nak? ”

” Pernikahan kami, Eommonim. ”

” Apa?! ” Yong Eun merespon dengan terkejut.

” Kau tak salah dengar, Sayang. Pernikahan. Pernikahan kita. ”

–TBC–

 

1 Comment (+add yours?)

  1. farhatsmr
    Nov 25, 2014 @ 21:43:30

    Daebakk thor lanjutin seru nihh ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: