Wedding Contract [11/?]

wedding-contract-by-princess-pink

Nama: Stiva Yulianti Azhar

Judul : Wedding Contract

Genre: Romance, Comedy, Family

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Note: Maklum yah kalau ceritanya gaje plus banyak typonya. Hihihi visit http://allrisepink.wordpress.com

The person I miss like crazy
The words I want to hear from you like crazy
I love you, I love you – where are you?
The person I long for, who is deeply stuck in my heart
(Missing You Like Crazy – Taeyeon)

-Princess Pink Storyline-

Eunhyuk’s pov

“Hubungi beberapa karyawan. Beritahu mereka untuk ke kantor sekarang juga!”

“Tapi tuan—“

“Cepat lakukan! Dan juga kau harus menghubungi pihak media yang menyebar kabar perusahaan ini. Ancam mereka untuk segera menarik beritanya.”

“Baik tuan.”

Song Qian segera berlari menuju ruangannya ketika selesai mendengar perintahku. Dia hanya memakai pakaian seadanya ke kantor tengah malam seperti ini. Aku menghubunginya tadi untuk segera datang ke kantor. Masalah yang menimpa PL Group harus diselesaikan sebisa mungkin tanpa harus kakek mengetahuinya.

“Tuan, barusan pihak dari perusahaan lain menelepon. Dia menanyakan tentang kabar PL Group.”

Song Qian masuk kembali ke dalam ruanganku dengan raut wajah lebih panik dari sebelumnya.

“Beritahu padanya kalau semua baik-baik saja. Pastikan kalau dia adalah seorang investor dan jangan biarkan dia menarik investasinya.”

“Baik tuan.”

Aku menjambak rambutku frustasi. Aku tidak ingin perusahaan ini hancur olehku. Perusahaan yang di bangun oleh kakek gulung tikar begitu saja hanya karena aku menolak menandatangani kontrak kerja sama dengan Tuan Akimoto.

Semuanya di luar kendaliku. Terjadi begitu saja tanpa bisa terkontrol. Aku memang tidak bisa mengurus perusahaan ini dengan becus.

Aku sudah memikirkan apa tindakanku selanjutnya. Aku akan memperbaiki kerugian perusahaan ini dengan seluruh usahaku. Setelah semuanya kembali normal, barulah aku akan melepaskannya.

Aku meloloskan nafasku yang sedari tadi tertahan. Tanganku merogoh ponsel dari saku celanaku. Foto Jisoon yang ku ambil saat makan siang dengannya terpampang jelas sebagai lock screen ponselku. Aku tersenyum menatap ekspresi wajahnya yang menurutku menggemaskan itu. Serasa semua energiku terkumpul kembali.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya dengan tenang.

Salah satu alasanku mempertahankan perusahaan ini adalah dia. Dia istriku. Park Jisoon.

***

Aku menghentikan langkahku ketika melihat seseorang duduk di ruang makan sambil menelengkupkan kepalanya di atas meja. Punggungnya bergetar, terdengar samar-samar sebuah isak tangis dari arahnya. Tiba-tiba saja dadaku bergemuruh menyaksikan hal itu.

Aku yang baru saja pulang dari kantor setelah beberapa masalah terselesaikan. Walaupun tidak semuanya, setidaknya itu dapat mengurangi beban sedikit demi sedikit. Song Qian berhasil mengancam media yang menyebarkan berita tentang PL Group. Tapi salah satu di antara kami tidak berhasil menahan satu investor yang tadi.

Kulirik jam di dinding yang menunjukkan pukul empat dini hari. Lalu mengalihkan kembali pandanganku ke arah gadis itu. Apa dia menungguku sedari tadi? Perlahan-lahan ku seret kakiku mendekatinya. Tanganku terangkat untuk menyentuh bahunya.

“Kau belum tidur?” tanyaku pelan.

Jisoon mendongakkan kepalanya begitu mendengar suaraku. Air matanya sendiri sudah membanjiri wajahnya. Matanya sudah memerah sembab. Apa semalaman ini dia terus saja menangis?

“Yak! Kau tidak apa-apa? Apa kau tidak bisa tidur lagi? Penyakitmu itu kambuh lagi?” tanyaku panik.

Aku merasa lega ketika melihat dia menggelengkan kepalanya. Tapi justru air matanya itu kembali mengalir dengan derasnya. Dia berusaha bersuara di tengah-tengah isak tangisnya.

“Aku mengkhawatirkanmu,” ucapnya parau.

Aku meraih kedua tangannya dan memerasnya lembut. Satu hal yang bisa ku lakukan untuk menenangkan perasaannya. Menyentuh tangannya, mengalirkan panas tubuhku yang bisa menghangatkannya.

“Kau pergi begitu saja setelah membaca berita itu di internet. Aku takut karena kau pergi dengan pikiranmu yang tidak tenang. Aku takut karena mungkin saja kau tidak pulang. Aku takut sesuatu terjadi padamu karena kau pergi dengan panik. Aku takut—“

“Hei… hei… tenanglah. Aku sudah pulang. Tidak ada hal yang perlu kau khawatirkan lagi.”

Jantungku serasa bekerja tidak normal ketika Jisoon berhambur ke pelukanku. Tangisnya semakin pecah ketika dia memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya tak kalah eratnya.

Beberapa detik lamanya ia memelukku, ia tiba-tiba melepaskan pelukannya. Dia menghapus air matanya sendiri dengan punggung tangannya.

“Maaf. Aku berlebihan sekali.”

Jisoon segera bangkit dari duduknya. Namun dengan gerakan cepat aku menahan tangannya.

“Malam ini kau tidur bersamaku.”

Nde?”

“Dulu aku menemanimu ketika kau tidak bisa tertidur. Sekarang giliranmu. Aku tidak bisa tidur.”

MWORAGO?

***

Author pov

Pagi itu sangat cerah bagi Dongwoon. Secangkir teh hijau dan pancake hangat selalu menemani paginya. Ditambah dengan sebuah berita mengenai nasib PL Group di tangan ceo barunya, Lee Hyuk Jae.

Saat puncak kebahagiannya tinggal sedikit. Hanya dengan sekali hentakan, semuanya akan jatuh di tangannya.

Tidak peduli bagaimana cara dia merebutnya. Bukankah dari awal semua itu memang miliknya. PL Group dan Park Jisoon. Hanya karena alasan ketidaksengajaan, semuanya itu justru jatuh di tangan Lee Hyuk Jae.

Dongwoon menyesap teh hijaunya. Rasa hambar dari teh hijau itu seketika berubah menjadi manis di lidahnya. Baginya, pagi ini semua hal terasa manis. Bahkan kopi pekat sekalipun mungkin menjadi manis di lidahnya.

“Tuan, aku dengar Lee Hyuk Jae menyuruh media menarik berita mereka tentang PL Group karena mereka belum memiliki bukti-bukti nyata.”

Mood Dongwoon tiba-tiba berubah ketika Yoseob menginterupsi kegiatannya pagi itu. Raut wajahnya yang berseri tadi kini menjadi tampak kesal. Dia meremas pegangan cangkir tehnya, mengumpulkan seluruh emosi di tangannya.

Kemudian dia meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas meja. Dia menekan beberapa digit angka untuk menelepon seseorang.

“Apa artikelnya sudah siap? Kau sudah boleh menyebarnya kalau telah mendapat intruksi dariku,” perintah Dongwoon pada seseorang yang di teleponnya.

Dongwoon memutuskan sambungan teleponnya ketika orang yang di teleponnya itu menyetujui perintahnya. Gelak tawa kemudian memenuhi ruang makan apartemennya.

Setiap rencananya berjalan secara halus dan bertahap tanpa cela sedikitpun. Dan tentu saja, selalu ada rencana B yang telah ia siapkan jika rencananya gagal.

***

Yoonhae tampak sibuk mencari sesuatu di rumah barunya di Tokyo. Seluruh sudut rumahnya telah ia jelajahi. Bahkan semua perabotannya telah dibongkar untuk mencari ponselnya yang ia lupa meletakkannya dimana.

Gadis itu mengacak rambutnya gusar ketika dia putus asa mencari ponselnya. Dia masih menyimpan foto yang dikirim di emailnya tempo hari. Ponsel itu tidak boleh jatuh di tangan yang salah.

Apalagi kalau ponsel itu ditemukan oleh suaminya. Kibum akan tahu alasan sebenarnya mereka pindah ke Tokyo. Yaitu Yoonhae menghindari Jisoon. Lebih tepatnya menghindarkan suaminya dari Jisoon.

Dia selalu mempercayai Kibum yang selalu jujur padanya. Tapi dia tidak bisa mempercayai sepupunya itu, Park Jisoon.

***

Kibum yang baru saja ingin ke kantor barunya di tokyo terkejut ketika melihat ponsel Yoonhae tergeletak di atas dashboard mobilnya. Dia meraih ponsel Yoonhae. Terbesit dipikirannya untuk memeriksa ponsel istrinya itu. Lagipula, batas privasi antara suami-istri itu terlalu tipis. Tidak ada salahnya kalau Kibum membuka privasi istrinya sendiri.

Untung saja ponsel Yoonhae tidak dilindungi kata sandi. Jadi dia bebas membuka setiap aplikasi dalam ponsel itu. Pertama kali yang dia buka adalah inbox ponsel istrinya. Dia membaca setiap pesan yang masuk di ponsel itu.

Ada satu pesan yang menarik perhatiannya. Pesan itu dalam format email. Dia membuka email itu dan sukses terkejut ketika melihat isinya.

Isi email itu adalah fotonya dengan Jisoon yang tengah memasuki sebuah hotel. Siapa saja yang melihat foto itu pasti akan salah paham. Dan istrinya pasti telah berpikiran yang bukan-bukan mengenai apa yang terjadi saat ini.

Sekarang Kibum tahu apa penyebab kepindahannya yang tiba-tiba ini.

Tanpa pikir panjang lagi, Kibum keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia terpaksa membatalkan berangkat ke kantor di hari perdananya bekerja disana. Masalah ini harus diluruskan sesegera mungkin, agar tidak ada kesalahpahaman antara dia dan istrinya lagi.

Kibum dikejutkan dengan keadaan rumahnya yang berantakan. Dia melihat Yoonhae tengah melempar bantal sofa seperti mencari sesuatu. Dugaan Kibum adalah Yoonhae pasti tengah mencari ponselnya.

“Jadi ini yang membuat kita pindah kesini.”

Yoonhae sontak menoleh ketika mendengar suara Kibum.

“Semestinya kita masih berada di seoul saat ini. Perusahaan kakek sedang terguncang di sana. Aku harus ada disana membantu Eunhyuk. Tapi karena kau salah paham tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, kita jadi pindah ke sini.”

“Tentu saja aku salah paham. Bagaimana tidak? Jisoon sangat tergila-gila padamu. Apa aku tidak tersiksa dengan perasaannya? Aku sangat tersiksa! Kau tidak mengerti bagaimana posisiku menjadi seorang istri yang suaminya digilai oleh seorang gadis seperti sepupuku itu.” Yoonhae mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam. Dia tidak memberi kesempatan Kibum untuk berbicara.

“Begitu melihat foto itu, pikiranku hanya tertuju pada satu hal. Yaitu bagaimana cara menghindarkan suamiku dari sepupuku sendiri. Aku memang terlalu egois. Tapi aku hanya egois pada apa yang memang milikku. Aku terlalu mencintaimu, oppa.” Yoonhae mulai menitikkan air matanya. Suaranya yang bergetar berakhir dengan sesenggukan.

Kibum yang melihat istrinya pun kehabisan kata-kata. Dia tahu seberapa besar cinta yang dimiliki Yoonhae. Sama halnya dengan dirinya. Dia terlalu mencintai Yoonhae. Tapi hanya dengan sebuah email yang tidak jelas pengirimnya itu menghancurkan komitmen mereka.

“Kau boleh menelepon orang-orang yang bekerja di hotel kakek itu kalau kau tidak percaya denganku. Mereka akan menjelaskan apa yang terjadi malam itu,” ujar Kibum lembut. Ibu jarinya menghapus air mata Yoonhae.

“Aku mempercayaimu, oppa. Tapi aku tidak mempercayai Jisoon.”

“Malam itu aku hanya membantu Jisoon mempersiapkan kejutan untuk Lee Hyuk Jae.” Dengan sabar Kibum menjelaskan pada Yoonhae.

“Bisa saja kalau Jisoon itu sengaja meminta bantuanmu, oppa.

“Aku yang menyuruhnya memberi Lee Hyuk Jae kejutan di hari ulang tahunnya. Aku pula yang menawarkan diriku untuk membantunya.”

Yoonhae terdiam ketika penjelasan Kibum berhasil membuatnya kalah telak.

kkeurom… kalau kau tidak bisa mempercayai Jisoon. Kau juga jangan percaya dengan apa yang kau lihat. Percaya saja padaku. Karena aku suamimu.”

***

Jisoon’s pov

“Kalian tidur sekamar… lagi?” tanya Kyuhyun yang melihatku baru saja keluar dari kamar Eunhyuk.

Semalam aku terpaksa menemani Eunhyuk tidur. Anggap saja ini sebagai balas budiku. Dan semalam tidak terjadi apa-apa. Aku dengannya tidak melakukan apa-apa sama sekali. Kami hanya tidur di ranjang yang sama. Di bawah satu selimut yang sama.

Hari ini aku tidak memiliki jadwal kuliah jadi aku tidak perlu bangun pagi sekali untuk ke kampus. Sedangkan Eunhyuk pagi sekali sudah berangkat ke kantor.  Mungkin karena perusahaan sedang terguncang, jadi dia harus bekerja ekstra berat hari ini sampai keadaan stabil. Aku sangat mengkhawatirkannya. Bagaimana kalau berita ini sampai di telinga kakek?

Kyuhyun berdeham pelan ketika melihatku hanya diam saja menanggapi pertanyaannya.

“Ada apa?” tanyanya dengan ekspresi wajah serius.

“Ada masalah dengan PL Group. Aku sedikit mengkhawatirkan Eunhyuk,” jawabku.

“Eunhyuk hyung pasti bisa menyelesaikan semuanya,” ujar Kyuhyun mencoba menghiburku.

Sebenarnya bukan itu saja mengganjal pikiranku. Aku juga masih memikirkan hubungan antara Eunhyuk dengan Hyerin. Entahlah, aku merasa tidak suka dengan sikap Eunhyuk yang terlalu mengkhawatirkan Hyerin tapi di lain sisi dia selalu bersikap sebagai suami yang sebenarnya padaku.

Aku tidak suka cara Eunhyuk memandang Hyerin yang terbaring lemah. Bagaimana kalau saja yang di posisi Hyerin kemarin itu adalah aku? Apakah Eunhyuk akan sepanik dan sekhawatir itu?

“Sepertinya bukan hanya itu masalahmu.”

Aku mendengus kesal. Kyuhyun terlalu pintar membaca raut wajahku.

“Eunhyuk mempunyai kekasih,” ujarku pelan. Nyaris tidak terdengar. Suaraku seperti tertelan. Kyuhyun butuh mencondongkan sedikit tubuhnya sehingga dia bisa mendengar apa yang ku katakan.

“Kekasih? Jadi itu sebabnya kau ingin pindah Los Angeles?”

Aku menggeleng dengan cepat. Membantah dugaan Kyuhyun.

Bukan itu alasanku ingin ke Los Angeles. Dari dulu aku berniat melanjutkan studiku di luar negeri. Aku ingin belajar langsung dari desainer-desainer ternama agar aku bisa seperti mereka.

Aniyo. Itu sama sekali tidak ada hubungannya.”

“Kau cemburu dengan hubungan Eunhyuk hyung?” goda Kyuhyun. Dia menaik-naikkan alisnya. Membuatku ingin mencukur alisnya seketika itu juga.

Aniyo. Bukan itu… Aku hanya tidak suka Eunhyuk memberi perhatian lebih pada gadis itu sementara dia memperlakukanku seolah-olah aku ini… orang yang… ah aku tidak bisa menjelaskannya.”

“Orang yang apa? Jangan sepotong-potong!”

“Maksudku dia memperlakukanku seperti istri sesungguhnya.”

“Kau memang istrinya.”

“Istri kontrak,” ujarku meralat kalimatnya.

“Apapun itu… Tapi sepertinya kontrak kalian akan berlaku seumur hidup. If you know what I mean. Love always comes unexpectedly.

Aku memikirkan ucapan Kyuhyun. Bisa saja apa yang dikatakannya itu benar. Apa aku mulai mencintai Eunhyuk? Memikirkannya saja membuat jantungku berdebar tidak karuan.

Lagipula aku tidak mau memiliki perasaan seperti ini. Aku takut kejadian yang sama terulang lagi. Aku takut mencintai seseorang yang sudah memiliki orang yang dicintainya. Kalau benar aku mencintainya, maka aku akan jatuh di lubang yang sama.

Tapi apakah perasaan manusia itu bisa diatur-atur sendiri sesuka hati mereka?

“Kau harus memastikan perasaan Eunhyuk hyung. Dan jangan lupa dengan gadis itu juga,” saran Kyuhyun.

“Bagaimana caranya?”

“Tentu saja dengan cara bicara baik-baik padanya, pabo!”

***

Aku mengikuti saran Kyuhyun kalau aku harus memastikan sendiri perasaan Eunhyuk dan Hyerin. Terlebih dahulu aku harus memastikan perasaan Hyerin pada Eunhyuk. Apa dia mencintai Eunhyuk atau tidak?

Astaga, kenapa aku segila urusan ini mengenai perasaan orang lain?

Aku memasuki kafe tempat Hyerin bekerja. Aku mengedarkan pandanganku mencari orang yang bernama Hyerin itu. Mungkin hari ini dia belum masuk kerja. Karena kemarin dia jatuh sakit.

“Mencariku?”

Aku menoleh ketika mendengar suara seorang wanita  di belakangku. Aku melihat orang yang ku cari sedari tadi. Dia baru saja masuk ke kafe ini. Sepertinya dia baru mau mulai bekerja.

“Aku sudah yakin kalau suatu saat kau akan mencariku ke kafe ini.”

“Kau sudah sembuh?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Tidak sopan! Kau tidak memanggilku eonni. Apa orang tuamu tidak mengajarimu?”

Aku mengepalkan tanganku menahan emosiku. Aku bermaksud datang kesini untuk membicarakan semuanya secara baik-baik. Tapi sepertinya gadis gila hormat ini menggoyahkan pertahananku.

Jangan pikir aku akan meminta maaf padanya karena aku tidak memanggilnya eonni.

“Aku bukan cucu orang kaya. Jadi aku harus kerja walaupun sedang sakit.”

Aku mengelus dadaku. “Sabar, Park Jisoon. Kalau kau menghadapi gadis ini dengan emosi maka semuanya akan semakin runyam,” sugestiku dalam hati.

“Aku akan memberitahukan langsung padamu. Sudah lama aku ingin menemuimu. Tapi aku sibuk dengan pekerjaanku. Walaupun aku hanya seorang pelayan kafe, tapi aku tetap memprioritaskan pekerjaanku.”

Hyerin tampaknya tidak memberiku kesempatan untuk berbicara. Baiklah, aku sudah tidak perlu susah-susah lagi menjelaskan apa tujuanku datang ke kafenya karena dia sudah bisa menduga apa alasanku kesini.

“Kalau kau bertanya apa hubunganku dengan Lee Hyuk Jae. Aku adalah kekasihnya. Kami saling mencintai. Kalau kau menyuruhku meninggalkannya, aku tidak akan menuruti perintahmu. Karena semestinya kau yang harus menyadari dirimu sendiri. Kaulah pengganggu hubungan orang lain.”

Kesabaranku sudah habis. Aku tidak bisa menahannya lagi. Ku layangkan tanganku pada pipi gadis gila hormat itu. Belum sampai tanganku menyentuh pipinya, seseorang menahan tanganku. Aku menoleh dan mendapati Kyuhyun yang memegang tanganku.

“Jangan lakukan itu! Kalau kau menamparnya, bisa saja dia mengatakan yang tidak-tidak pada Eunhyuk hyung,” ujar Kyuhyun.

“Perasaanku tidak enak. Jadi aku mengikutimu,” lanjutnya.

“Asalkan kau tahu saja eonni!” Aku menekan kata eonni pada kalimatku. “Aku ini istrinya. Kau boleh menganggapku merusak hubunganmu. Tapi orang-orang akan menilaimu merebut suami orang. Karena Lee Hyuk Jae adalah suamiku yang sah di mata hukum.”

“Aku tidak butuh pendapat orang lain. Aku hanya membutuhkan Lee Hyuk Jae di sampingku. Apa kau pikir aku tidak tahu rahasia kalian? Kalian hanya menikah pura-pura. Setelah kalian bercerai, Lee Hyuk Jae akan kembali padaku.”

“Beraninya kau—“

“Cukup! Lebih baik kita pergi saja. Kalau kau meladeni gadis ini, kau bisa diusir dari kafe ini.” Kyuhyun menginterupsiku lalu menarik tanganku untuk segera keluar dari kafe ini. Aku menatap Park Hyerin dengan tatapan sengit. Begitupun dengannya. Dia menatapku penuh dengan kebencian.

“Kau bisa membeli apapun dengan uangmu. Tapi kau tidak bisa membeli seorang suami dengan uangmu itu.”

***

Author’s pov

Hyerin merasa lututnya lemas ketika orang yang bernama Park Jisoon dan seorang pria yang menemaninya itu baru saja keluar dari kafe.

Dia menarik salah satu kursi kafe dan duduk di atasnya. Sejenak dia menenangkan jantungnya yang berdebar hebat tadi ketika berhadapan dengan Jisoon. Ini pertama kalinya dia berani menantang seseorang.

Park Hyerin adalah seorang gadis lemah dan sabar. Tapi semenjak dia melihat insiden Eunhyuk dan Jisoon di televisi kemarin, dia mulai berpikir untuk merubah jalan pikirannya. Tidak selamanya dia harus bersabar dan pasrah dengan keadaan.

Untuk mempertahankan miliknya, dia harus menjadi gadis yang kuat. Dia tidak akan membiarkan tangan-tangan orang kaya itu merebut habis semua miliknya. Termasuk Lee Hyuk Jae.

Sebisa mungkin Hyerin menahan agar air matanya tidak jatuh menetes. Dia ingin segera meluapkan seluruh emosinya yang tertahan. Tapi tetap saja dia tidak bisa. Walaupun dia telah menanamkan dalam hatinya kalau dia akan menjadi gadis yang kuat. Tapi dia tidak sekuat kelihatannya.

Hyerin semakin larut dalam emosinya, sehingga dia tidak menyadari sepasang mata tengah menatapnya khawatir

***

“Yak! Park Jisoon! Keluarlah. Kau bahkan belum makan siang dan makan malam. Apa kau ingin mati kelaparan di dalam sana?”

Kyuhyun mengetuk pintu kamar Jisoon dengan putus asa. Gadis itu mengurung dirinya dalam kamar sejak pulang dari kafe tempat Hyerin bekerja. Dia melewatkan makan siang dan makan malam. Kyuhyun khawatir pada Jisoon yang bisa saja pingsan di dalam sana.

“Setidaknya jawab pertanyaanku agar aku tidak mengira kau pingsan,” teriak Kyuhyun lagi.

“Aku tidak lapar!”

Kyuhyun bernafas lega ketika mendengar teriakan Jisoon. Setidaknya gadis itu tidak pingsan di dalam kamarnya.

“Aku akan menelepon Eunhyuk hyung kalau kau tidak ingin makan.”

Tidak ada jawaban dari Jisoon. Mungkin ia mengira ucapan Kyuhyun barusan hanyalah ancaman belaka. Kyuhyun bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Karena dia segera merogoh ponselnya dan menghubungi Eunhyuk.

Hyung, cepatlah pulang. Jisoon sedari tadi mengurung diri di kamarnya. Dia belum makan daritadi siang.”

“Siapa yang menyuruhmu meneleponnya, perut buncit?”

***

Eunhyuk sangat panik ketika ia menerima telepon dari Kyuhyun. Laptopnya yang tengah menyala dia biarkan begitu saja. Dia memberi kode pada Song Qian kalau dia akan pulang sekarang juga. Sekretarisnya itu mengangguk mengerti.

“Perusahaan memang penting. Tapi istri jauh lebih penting.”

Eunhyuk segera berlari setelah Song Qian mengucapkan kalimat itu. Sebenarnya urusan di kantor masih banyak, tapi Eunhyuk harus segera melihat keadaan istrinya. Setelah semuanya beres, dia akan kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.

Dia tidak peduli bekerja selarutnya malam. Pekerjaannya harus segera selesai, dan tanggung jawabnya sebagai suami tetap berjalan.

Sebuah deringan ponsel menghentikan langkah Eunhyuk. Dia menjawab panggilan teleponnya itu tanpa melihat caller Id-nya.

Yeoboseyo”

“Eunhyuk-ah! Apa kau bisa menemaniku membeli obat?”

Tanpa perlu melihat Caller ID-nya, ia sudah tahu kalau suara itu milik Hyerin. Kenapa semuanya harus bertabrakan seperti ini? Eunhyuk mengerang pelan ketika Hyerin mulai mendesaknya.

“Apa kau sibuk?”

Eunhyuk tidak menjawab pertanyaan Hyerin. Dia langsung saja memutuskan sambungan telepon itu. Dia segera mengetik sebuah pesan pada Kyuhyun. Dia menyuruh Kyuhyun untuk terus membujuk Jisoon. Karena sepertinya dia tidak bisa pulang sekarang. Ada hal yang harus dia lakukan dulu.

Eunhyuk masuk kembali ke dalam kantornya. Dia mengambil laptopnya dan beberapa dokumen di ruangannya. Dia juga menyuruh Song Qian segera pulang. Karena dia akan menyelesaikan semua pekerjaannya di kantornya. Tapi sebelum itu dia harus menemani Hyerin untuk membeli obat.

Eunhyuk terus mengumpat dalam hatinya. Dia merasa menjadi pengecut. Pecundang kelas kakap. Dia masih tidak bisa memilih mana hal yang lebih penting baginya.

Dia benar-benar bimbang untuk memutuskan suatu hal. Dan dia tidak mampu memilih satu di antaranya. Pertanyaan aneh tiba-tiba muncul di kepalanya. Mana yang lebih penting? Seorang istri atau kah seorang kekasih?

***

Eunhyuk’s pov

Aku menghentikan langkahku di depan kamar Jisoon. Kulihat Kyuhyun tertidur di depan pintu kamar gadis itu sambil memeluk lututnya. Seorang sahabat seperti Kyuhyun saja sekhawatir ini pada Jisoon. Aku sebagai suaminya tidak bisa mengutamakannya sebagai istri.

Aku mengguncang bahu Kyuhyun untuk membangunkannya. Dia pun terbangun dan mendongak ke arahku.

Hyung, dia tidak mau keluar dari kamarnya daritadi. Kau harus bicara padanya.”

Kyuhyun bangkit dari posisinya. Dia menepuk bahuku sebelum ia berjalan menuju kamarnya. Memberiku privasi dengan Jisoon. Kami berdua butuh ruang dan waktu  untuk mengutarakan perasaan kami masing-masing. Tapi aku sendiri bingung perasaan apa yang ku miliki pada Jisoon.

Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu kamarnya. Aku merasa udara di sekitar pintu kamarnya semakin menipis. Entahlah, aku seperti kesulitan menghirup oksigen.

“Soonnie-ya, buka pintunya!”

Tak ada jawaban dari dalam. Aku menunggu dengan gugup sampai ia membuka pintunya. Jisoon membuka pintu kamarnya tiba-tiba. Tertegun sesaat lalu mengeluarkan suara yang sedikit serak. Seperti seseorang yang baru saja bangun tidur.

Aku ingin bertanya apa dia baru saja bangun tidur, tapi pertanyaan itu tidak terlalu penting. Aku lebih baik menyimpannya rapat-rapat. Dan memilih mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting.

“Kau kenapa?” tanyaku pelan.

“Kenapa kau ada di sini?”

Tidak menjawab pertanyaanku, Jisoon justru bertanya balik.

“Kyuhyun meneleponku. Dia khawatir padamu karena kau mengurung diri di kamar sedari tadi.”

Sial! Kenapa susah sekali aku memberitahunya kalau aku jauh lebih khawatir daripada Kyuhyun?

Aku meraih wajahnya dan menyentuhkan kedua tanganku di pipinya, mengambil rasa hangat yang diam-diam aku rindukan itu.

Jisoon menggigiti bibir bawahnya. Dia tampak menahan sesuatu tapi tidak bisa mengatakannya. Sama halnya denganku. Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kekhawatiranku padanya. Aku takut dia akan menilaiku bersikap berlebihan padanya.

Bukankah dia hanya menganggapku suami kontraknya?

“Jangan seperti ini!” Jisoon menepis kedua tanganku dari pipinya lalu menggeleng tegas.

“Jangan seperti ini!” ulangnya, “Jangan memperlakukanku seperti seorang istri yang sebenarnya. Kau mempunyai Hyerin, dan dia setia menunggumu sampai kita berpisah.”

Jisoon tampak menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Mulai saat ini… Kita harus saling mengerti jarak masing-masing. Karena pada akhirnya kita akan kembali ke jalan masing-masing. Bukankah itu perjanjian kita dari awal?”

“Soonnie-ya, aku—“

“Biarkan aku melanjutkan kalimatku,” potongnya, “Hyerin sangat mencintaimu dan aku tidak ingin merusak hubungan kalian. Aku tidak ingin menjadi gadis yang buruk untuk kedua kalinya. Perlahan-lahan kita menyiapkan perceraian ini agar kakek tidak terlalu terkejut.”

“Kita tidak akan bercerai!” tegasku pada Jisoon. Dia memundurkan sedikit tubuhnya ketika mendengar suaraku yang terkesan membentak.

“Kenapa kau ingin mempertahankan semua ini? Ada Hyerin yang menunggumu. Inilah akhir dari kontrak kita. Jangan selalu berusaha menahanku sementara kau tidak bisa melepaskan Hyerin. Tegaslah jadi orang, Lee Hyuk Jae!”

“Bukan seperti itu—“

Dadaku terasa diiris-iris ketika Jisoon menutup pintu kamarnya dengan kencang di hadapanku. Rasa sakit itu tiba-tiba menyerangku. Aku merasa ditolak tanpa mengatakan apa-apa padanya.

Aku bertanya pada diriku sendiri. Kenapa aku terus menahannya?

***

The next day

Aku sedari tadi tidak berkonsentrasi bekerja. Beberapa panggilan dari telepon kantor ku abaikan begitu saja. Aku mengalihkan semua panggilan itu ke sekretarisku. Song Qian pasti sangat sibuk menangani beberapa klient.

Aku memegang kepalaku yang terasa sakit. Masalah seperti beruntun datang padaku. Masalah perusahaan dan juga merasa perasaanku sendiri yang tidak kumengerti bagaimana titik terangnya.

Aku mendongakkan kepalaku ketika mendengar suara pintu ruanganku terbuka. Tampak seorang pria yang tidak ingin kulihat wajahnya itu sedang menghampiriku. Semoga saja pria itu tidak menambah masalah baru untukku.

Dan ingatkan aku untuk memarahi Song Qian yang membiarkan pria itu masuk begitu saja di dalam ruanganku.

“Ada apa Son Dongwoon-ssi?” tanyaku begitu ia duduk di hadapanku.

“Kau sepertinya tampak stres, Tuan Lee? Apa kau punya masalah?” tanyanya polos. Aku bisa melihat ekspresi mengejek dari raut wajahnya. Aku menahan emosiku agar tidak melayangkan kepalan tanganku ke wajahnya.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku membiarkannya melanjutkan celotehannya itu.

“Kudengar PL Group sedang terguncang. Aku ingin menawarkan bantuan padamu.”

“Tidak! Aku tidak membutuhkan bantuan orang yang tidak bisa dipercaya sepertimu,” tolakku.

Dongwoon seketika itu tertawa. Seperti ada yang lucu dari apa yang kukatakan barusan.

“Kupastikan kau akan menyesal,” ucap pria itu sebelum akhirnya keluar dari ruanganku. Aku menjambak rambutku dengan kesal. Lama-lama aku bisa gila dengan semua masalah ini.

***

Jisoon’s pov

Aku menatap kartu undangan yang ada di tanganku. Kartu itu adalah undangan acara fashion show kampusku. Ternyata desainku termasuk desain terbaik yang akan di tampilkan dalam acara fashion show. Dulu aku ingin mengundang Lee Hyuk Jae untuk menghadiri fashion itu kalau desainku menjadi yang terbaik. Tapi sepertinya aku harus mengurungkan niatku itu.

Mulai saat ini aku harus membatasi diriku agar tidak terlalu berharap dengannya.

Aku sontak terkejut ketika mendengar suara pintu rumah terbuka. Mungkin saja Eunhyuk sudah pulang dari kantor. Aku tidak ingin bertemu dengannya tapi ini terlambat bagiku untuk berlari masuk ke kamar. Itu akan terkesan aku menghindarinya secara terang-terangan.

Aku memilih pura-pura tertidur di sofa. Eunhyuk mungkin akan mengabaikanku dan berjalan masuk ke kamarnya tanpa mempedulikanku.

Tapi nyatanya dugaanku salah. Aku mendengar suara langkah mendekat kearahku. Spontan mataku terbuka ketika kedua tangannya mengangkat tubuhku. Satu tangannya berada di pergelangan lututku. Satunya lagi mehanan beban di bahuku.

Aku melihatnya membawaku ke arah kamarnya. Sontak aku meronta dalam gendongannya.

“Yak! Kamarku di sebelah.”

“Bukankah seorang istri memang harus tidur sekamar dengan suaminya.”

“Turunkan aku atau aku akan mencekik lehermu.”

“Jangan menolakku kali ini. Aku berusaha menjadi suami yang baik. Aku tidak menyukai bantahan, Nyonya Lee.”

Aku tergelak ketika Eunhyuk memanggilku dengan sebutan itu. Dia sudah berapa kali memanggilku dengan sebutan Soonnie-ya dan Lee Jisoon. Tapi kali ini, ketika dia memanggilku dengan sebutan Nyonya Lee, rasanya begitu berbeda. Aku merasa benar-benar menjadi istrinya.

Aku menggelengkan kepalaku. Dia berhasil menghancurkan pertahanan yang sudah ku bangun dengan susah payah.

“Untuk malam ini saja. Setelah ini, kau tidak boleh seperti ini lagi. Aku berusaha menjaga jarak darimu. Tapi kau selalu saja merobohkannya.”

“Memang itu tujuanku. Pada akhirnya kau tidak akan jauh-jauh dariku.”

***

Hubunganku dengan Eunhyuk sejak malam itu kembali membaik. Tapi tidak terlalu baik seperti dulu. Tunggu dulu… bukankah dari awal hubunganku dengannya memang buruk?

Aku menarik nafasku dalam ketika memutar kenop pintu ruang kerjanya. Kulihat dia sedang serius mengetikkan sesuatu di laptopnya. Aku tiba-tiba saja gugup. Tanganku berpegang erat pada pegangan kotak bekal yang ku bawa untuk Eunhyuk.

Tujuanku ke kantornya untuk memberitahunya kalau aku akan ke Beijing mengunjungi orang tuaku. Aku sangat merindukan mereka. Apalagi ulang tahun eomma sudah dekat. Dan juga aku ingin menenangkan pikiranku disana untuk sementara waktu.

“Aku membawakan makan siang untukmu,” ujarku sambil menyodorkan kotak bekal itu padanya. Kupikir dengan berbaik hati seperti ini dia akan membiarkanku pergi ke Beijing. Sebenarnya tanpa meminta persetujuannya aku bisa pergi begitu saja. Tapi aku menghargai posisinya sebagai suamiku.

“Katakan apa maumu.” Lee Hyuk Jae sepertinya sudah mengerti maksud baikku. Kalau begitu aku tidak perlu lagi repot-repot menjelaskan padanya.

“Aku ingin ke Beijing mengunjungi kedua orang tuaku. Aku tidak meminta izinmu. Aku hanya memberitahumu. Aku menghargaimu sebagai suamiku,” jelasku.

Eunhyuk menghentikan aktivitas mengetiknya. Dia menatapku dengan bingung.

“Aku juga ingin menenangkan pikiranku.”

“Kau ingin menghindariku,” ujarnya meralat kalimatku, “kita berdua bisa pergi bersama kalau kau mau. Tapi tunggu sampai pekerjaanku selesai.”

Aish! Bagaimana bisa aku menenangkan pikiranku kalau Lee Hyuk Jae terus saja berkeliaran di sekelilingku?

“Aku tetap akan pergi. Aku pulang dulu. Kau harus menghabisi makanan itu,” pamitku sebelum keluar dari ruangannya.

“Apa ini tidak ada racunnya?” tanyanya curiga sambil membuka bekal yang ku bawa tadi.

“Yak! Aku sudah dari dulu membunuhmu kalau aku ingin melakukannya, Lee Hyuk Jae. Sialan kau!”

“Song Qian akan menjadi saksinya kalau aku keracunan disini.” Eunhyuk malah terkekeh mengejekku.

“Eng… ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu. Apa kau sangat mencintai Park Hyerin?”

Ragu-ragu aku menanyakan hal itu padanya. Sebenarnya aku tidak siap dengan jawabannya yang sudah bisa ku tebak sebelum menanyakan pertanyaan itu. Tapi meski bagaimana pun, aku harus tahu perasaannya yang sebenarnya. Sialnya, dia hanya terdiam tidak menjawab pertanyaanku.

“Aku memberimu waktu. Sepulang dari Beijing, kau sudah harus menjawab pertanyaanku.”

Aku harus menyiapkan diriku dengan apapun jawaban Lee Hyuk Jae nanti.

***

Aku menatap kotak bekal yang dibawa Jisoon tadi. Aku tidak berniat memakannya. Bukan berarti aku tidak menghargai masakannya, tapi nafsu makanku tiba-tiba hilang begitu memikirkan pertanyaan Jisoon barusan.

Apa kau sangat mencintai Park Hyerin?

Pertanyaan itu terus memenuhi kepalaku. Selama ini aku hanya memikirkan perasaanku pada Jisoon. Seperti apa perasaanku padanya… Tapi aku tidak pernah memikirkan apa aku masih mencintai Hyerin nuna?

Aku telah menemukan titik terang perasaanku. Aku sekarang mengerti kenapa aku tetap menahan Park Jisoon di sampingku. Kenapa perlahan-lahan aku merasa tidak memperdulikan Hyerin nuna tapi sulit untuk melepasnya?

Karena Hyerin nuna hanya kenangan cinta pertamaku. Karena aku mulai menyukai Park Jisoon. Bukan… aku tidak hanya menyukainya. Tapi mencintainya. Rasa suka tidak mungkin segila ini.

Dan cinta pertama itu susah untuk melupakannya makanya aku sulit untuk melepaskannya. Tapi aku sudah menegaskan hatiku. Sepulang dari kantor nanti aku akan singgah di kafe Hyerin nuna dan mengakhiri semuanya.

Tapi masalahnya disini aku tidak punya keberanian untuk mengatakan pada Jisoon kalau aku mencintainya. Aku takut dia menolakku seperti kejadian malam itu. Aku takut dia mengungkit-ungkit masalah kontrak pernikahan kita. Lagi-lagi aku merasa menjadi pria yang pengecut.

“Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda.” Song Qian membuyarkan lamunanku. Aku tidak menyadari dia tengah membuka pintu ruanganku dan membiarkan seseorang masuk ke dalamnya.

Sepertinya ini adalah saat yang tepat. Orang yang datang itu adalah Hyerin nuna. Dia tampak ceria menghampiriku dengan kotak bekal yang dibawanya. Tapi seketika ekspresi wajahnya berubah ketika melihat kotak bekal yang lain di atas mejaku. Dia segera menyembunyikan kotak bekal itu di belakang tubuhnya.

“Sepertinya aku terlambat…,” ujarnya.

Ani. Kau datang tepat waktu, nuna.

Tepat di saat aku ingin meluruskan perasaanku padanya.

“Mulai saat ini… kau tidak usah selalu mencariku, nuna. Aku sudah mempunyai seorang istri. Hargai peranku sebagai suaminya,” ujarku berusaha menjelaskan semuanya padanya.

“Kau sudah tidak mencintaiku lagi?” tanyanya kecewa.

Dia menundukkan kepalanya tidak berani menatapku. Aku bisa mengerti perasaannya. Aku bisa merasakan rasa sakit ketika berada di posisinya. Tapi ini lebih baik, daripada aku terus menggantungnya. Membuat luka di dalam hatinya.

“Aku tetap mencintaimu, nuna. Tapi aku baru menyadari kalau aku jauh mencintai Park Jisoon. Sekarang aku sudah mengerti perasaanku. Aku mencintaimu nuna sebagai seorang kakak perempuan untukku. Sebagai cinta pertamaku. Sementara Aku mencintai Park Jisoon sebagai perempuan yang kuinginkan. Sebagai cinta terakhirku.”

“Aku mengerti… tapi semuanya tidak bisa diakhiri semudah ini. Semudah kau mengatakan kalau kau mencintai Park Jisoon di hadapanku.”

“Memang ini tidak mudah. Tapi perlahan-lahan kita harus mengakhirinya, nuna. Mulai saat ini aku melepasmu.”

***

Aku segera berlari ke dalam rumah ketika baru saja pulang dari kantor. Aku sudah mengumpulkan semua keberanianku untuk mengatakan perasaanku pada Jisoon.

Aku berlari ke arah kamarnya. Tapi begitu aku membuka pintu kamarnya, aku melihat tidak ada siapa-siapa. Aku mendapati secarik kertas memo di nakasnya. Aku meraih memo itu dan membacanya. Memo itu berisi pesan Jisoon kalau dia pergi ke Beijing.

Sial! Aku terlambat.

Aku segera menghubunginya tapi sialnya dia sudah menon-aktifkan ponselnya.

Disaat aku sudah menentukan perasaanku. Disaat aku sudah mempunyai jawaban untuk pertanyaannya. Disaat aku sudah mengumpulkan keberanianku untuk mengatakannya. Dia justru pergi begitu saja.

Apa aku harus menyusulnya ke Beijing saat ini juga? Tapi kondisi perusahaan saat ini tidak bisa ditinggalkan.

Aish! Aku mengacak rambutku frustasi. Kenapa rintangannya seberat ini?

***

Jisoon’s pov

Aku memencet bel rumah yang merupakan tempatku tumbuh besar. Rumah ini adalah rumah orang tuaku. Tempat tinggalku selama ini sebelum akhirnya aku memutuskan pindah ke Seoul untuk tinggal bersama kakek. Aku tidak tahu kalau keputusanku saat itu menyebabkan masalah serumit ini.

Eomma membuka pintu rumah dan terkejut melihatku berdiri di hadapannya sambil memegang koperku. Eomma langsung menarikku dalam pelukannya. Obat penenang paling ampuh yang pernah ada hanyalah kehangatan pelukan seorang ibu.

“Masuklah… Appamu ada di dalam.”

Aku segera menarik koperku masuk ke dalam rumah. Appa menyambutku dengan respon yang sama dengan eomma. Dia memelukku erat. Aku sangat merindukan pelukan hangat kedua orang tuaku ini.

Eomma sangat menyesal tidak menghadiri pernikahanmu,” ujar eomma begitu kami berdua duduk di sofa. Eomma mengelus rambutku penuh dengan kasih sayang. Seolah-olah aku anak gadisnya yang masih berumur belasan tahun.

Aku justru bersyukur eomma tidak datang di pernikahan palsuku itu.

“Lalu bagaimana pernikahanmu? Kau tidak mengajak suamimu?” tanya eomma.

“Dia sangat sibuk,” jawabku seadanya.

Eomma menangis semalaman melihat rekaman upacara pernikahan kalian. Appa juga terus merutuki dirinya karena tidak bisa menjadi walimu.”

Eomma… sudahlah.”

“Saat itu eomma dan appa sibuk mengurus perusahaan kakek. Pernikahanmu terlalu mendadak. Apa tidak terjadi sesuatu di antara kalian?”

Pertanyaan eomma berhasil membuatku kehabisan kata-kata. Ingatanku kembali pada apa yang menyebabkan pernikahanku dengan Eunhyuk bisa terjadi. Di mulai dari aku yang terbangun di kamar hotel bersama Eunhyuk. Sampai kami memutuskan untuk membuat kontrak dalam pernikahan kami. Semuanya terasa terjadi begitu cepat.

Dan sepertinya aku terlalu larut dalam permainan yang telah aku buat sendiri.

***

Eunhyuk’s pov

Aku tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku. Sementara Jisoon masih berada di Beijing. Pikiranku terus tertuju padanya yang tidak ada kabarnya sama sekali. Aku begitu frustasi ketika dia tidak mengaktifkan ponselnya. Sangat sulit untuk menghubunginya.

“Tuan, ada telepon dari Tuan Park.”

Song Qian membuka sedikit pintu ruanganku. Hanya celah kecil yang menampakkan kepalanya. Begitu ia sudah menyampaikan kalau ada telepon dari kakek, dia pun kembali ke mejanya.

Aku meraih gagang telepon ruanganku untuk segera menjawab telepon kakek.

“Lee Hyuk Jae, aku sudah mendengar kabar kondisi perusahaan kita. Apa yang kau perbuat sampai bisa seperti ini? Apa kau serius menjalankan PL Group?” cerocos kakek begitu aku menjawab teleponnya.

Aku sedikit menjauhkan gagang telepon itu dari telingaku. Intesitas suaranya ternyata tidak berbeda dengan Jisoon. Inilah yang disebut buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya. Kakek dan cucunya benar-benar mirip.

“Maafkan aku. Aku tidak becus menjalankan perusahaan ini. Aku akan berusaha semampuku untuk mengembalikan kondisinya seperti semula.”

“Aku harap itu tidak hanya omonganmu saja. Kau harus fokus masalah perusahaan dulu. Kau tidak boleh kemana-mana untuk beberapa hari ini.”

Sial! Kakek sudah melarangku untuk kemana-mana. Aku tidak bisa menyusul Jisoon di Beijing. Dan celakanya Jisoon tidak memberitahuku berapa lama dia pergi. Bisa saja dia di sana sebulan lamanya. Bisa juga setahun.

Kalau seperti ini masalahnya, Aku tidak akan pernah bisa memberitahu Jisoon perasaanku yang sebenarnya.

***

Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak bisa lama-lama tanpa Jisoon. Tiga hari sudah terlalu lama bagiku. Aku langsung saja keluar dari ruang meeting ketika rapat dengan para pemegang saham PL Group selesai. Setelah rapat ini, semua urusanku sudah selesai untuk beberapa hari. Waktu ini cukup untuk menyusul Jisoon dan mengajaknya pulang.

Aku berlari ke arah sekretarisku. Aku menyuruhnya untuk mencari alamat lengkap mertuaku dan memesankan tiket ke China sekarang juga. Rasanya aku tidak bisa membuang-buang waktu lagi. Waktu itu terus bergulir menelanku perlahan-lahan.

Song Qian berhasil mendapatkan alamat mertuaku. Tak sulit baginya, karena dia memiliki data anak perusahaan kakek yang lengkap. Bahkan termasuk data lengkap karyawan-karyawannya.

Sayangnya dia hanya mendapat tiket dengan jadwal penerbangannya tengah malam. Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa bertemu dengan Jisoon secepat mungkin. Perasaanku sudah terlalu menggebu-gebu untuk melihat wajahnya lagi. Aku merasa ada yang hilang ketika tiga hari ini suaranya tidak menggelitik telingaku.

***

Jisoon’s pov

Eomma dan appa sudah berangkat ke kantor pagi ini. Aku segera mempersiapkan diriku untuk belanja di supermarket. Aku ingin menyiapkan kejutan di hari ulang tahun eomma dengan membuat acara makan malam keluarga. Hanya antara aku, eomma dan appa.

Aku menyambar cardinganku yang tergantung di belakang pintu kamar. Cardingan pink itu mampu membuat tubuhku terlindungi dari udara dingin yang menyambar di musim gugur ini.

Aku mengeratkan cardinganku sebelum membuka pintu rumah. Langkahku tiba-tiba berhenti. Jantungku seperti melompat ketika melihat seorang pria berdiri di depan rumah. Pria itu tampak mengatur nafasnya yang memburu.

Bibirnya melengkung melukis sebuah senyuman yang empat hari ini kurindukan. Ku akui empat hari ini aku sangat merindukannya. Aku merasa kesepian tanpa mendengar suaranya yang selalu membuat emosiku meletup-letup. Walaupun aku sering menyebutnya pria menyebalkan, pria bodoh, tapi aku jauh lebih menyebalkan dan bodoh karena merindukan pria seperti dia.

Lee Hyuk Jae.

Seperti mimpi saja ketika melihatnya berdiri di hadapanku. Terlalu mustahil.

Masih dalam keadaan shock, Eunhyuk menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Hangat. Kesan pertama yang selalu ku dapat dari pelukannya. Aku membuang gengsiku jauh-jauh untuk mengeratkan tanganku di pinggangnya.

Aku tidak peduli apapun. Dalam pikiranku saat ini hanyalah, aku merindukan pria menyebalkan ini.

Satu menit lamanya aku berada dalam pelukannya. Begitu nyamannya, aku sampai tidak menyadari kalau saat ini kami masih berdiri di depan rumah.

Kesadaranku kembali ketika mendengar satu kalimat yang membuat jantungku berhenti berdetak selama sepersekian detik. Aku tidak bisa berdiri dengan baik begitu mendengar Eunhyuk mengatakan kalimat itu.

“Aku mencintaimu. Aku sudah menjawab pertanyaanmu, kan?”

TO BE CONTINUED

4 Comments (+add yours?)

  1. Ira
    Nov 26, 2014 @ 11:18:10

    kyaa.. akhirnya eunhyuk ngungkapin perasaannya, semoga jisoon ngga nolak eunhyuk..
    next part thor, 😀

    Reply

  2. Ira
    Nov 26, 2014 @ 11:22:38

    kyaa.. akhirnya eunhyuk ngungkapin perasaannya, semoga jisoon ngga nolak eunhyuk..
    next part jan lama2 thor, 😀

    Reply

  3. aLeeya
    Nov 26, 2014 @ 11:36:26

    Eumh,
    seneng akhrnya HyukJae sadar.
    tp agk khawatr m Hyerin, smga wanita itu tak memperburuk keadaan.

    Reply

  4. Annisa
    Nov 26, 2014 @ 13:09:40

    Omona omona….. Akhirnyaaaaaa semoga jisoon juga bisa bilang gitu ke enhyuk… Dan gada lagi yg gangguin hubungan merekaa… 😄

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: