Trouble Agent (Guardian Angel)

Judul                     : Trouble Agent Part 4 (Guardian Angel)

Author                 : Lee Dee Ya The Seonsaengnim

Main Cast           : Park Jungso, Jung Raemun, Lee Hyukjae

                                  Cho Kyuhyun, Anggraini Kim

                                  Kim Jongwoon, Park Sunye

                                  Zhoumi, Han Yara

Genre                   : Action, Romance

Rating                   : PG 13

Author Notes    : FF ini murni imajinasi author dan kawan-kawan author. Part ini semakin keren saja. Jadi jangan lewatkan setiap part actionnya. Ok

 

HAPPY READING (^_^)

 

“Kau mau kemana?” Melihat Rae berusaha berdiri dari duduknya, Yara bertanya apa yang akan dilakukan Rae. Dia khawatir jika Rae banyak bergerak maka luka yang dijahitnya akan terbuka kembali karena belum kering. Seakan tidak melihat kekhawatiran di wajah Yara, Rae terus melangkahkan kakinya keluar ruangan tanpa menjawab pertanyaan Yara.

Saat ini Rae tepat berada di depan pintu ruangan ketua agent Park. Ruangan tersebut yang masih berada di gedung yang sama.

Tok tok tok… Rae mengetuk pintu, berharap Park Jungsoo akan membukakan pintu dan menemuinya. Perlahan pintu terbuka menampakkan sosok Jungsoo yang tersenyum padanya.

“Masuklah Rae!” Usai membukakan pintu untuk Rae, Jungsoo kembali ke tempat duduknya. Rae mengikuti Jungsoo berjalan di belakangnya dan berhenti didepan meja Jungsoo.

“Bagaimana keadan Hyukjae?” Tanpa basa-basi lagi Rae memutuskan untuk menyampaikan tujuannya menemui Jungsoo. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Hyukjae dan ia yakin bahwa Jungsoo adalah orang yang tepat untuk ditanyainya.

“Duduklah dulu!” Jungsoo masih bersikap tenang seolah tak melihat wajah khawatir dari seorang Rae.

“Cepatlah jawab aku!” Rae yang memang begitu khawatir seolah tak sadar dengan siapa ia bicara. Rae tidak dapat mengontrol emosinya, ia sangat ingin tahu dengan keadaan Hyukjae. Entah kenapa hati Rae begitu sesak jika membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Hyukjae.

“Jangan khawatir saat ini Hyukjae berada dirumahnya,…”

“Dia sendirian?” Ucapan Jungsoo dipotong begitu saja oleh Rae.

“Dengarkan aku dulu. Aku rasa dia akan aman karena sekarang dia berada dirumah Ayahnya Tn. Lee”

“Benarkah? Syukurlah kalau begitu” Rae menghembuskan nafasnya merasa sedikit lega mendengar info dari Jungsoo, ketuanya.

“Tapi,…” Kening Rae berkerut, dalam pikirannya bertanya-tanya apakah Hyukjae sudah berbaikan dengan Ayahnya?

“Kau tentu tidak lupa dengan tugas utamamu kan? Kau tidak boleh melibatkan perasaanmu Rae!” Rae terkejut mendapat tatapan intimidasi dari Park Jungsoo. Rae tidak mengerti maksud dari ucapan ketuanya itu.

“Ap… Apa maksudmu?” Rasa ragu dan bingung membuat Rae bertanya dengan tergagap pada Jungsoo.

“Saat kau melibatkan perasaanmu, maka kau akan menjadi lemah. Aku harap kau fokus pada tugas-tugasmu Rae” Rasa sesak muncul dalam hati Rae. Dia bingung dengan apa yang dimaksudkan Jungsoo.

***

Pagi ini Rae akan kembali melakukan aktivitasnya yaitu melaksanakan tugas-tugasnya yang sempat tertunda karena harus melindungi Hyukjae. Saat akan keluar dari gedung rahasia para agent, Rae menghentikan langkahnya diluar ruangan Park Jungsoo. Dia penasaran dengan pembicaraan yang dapat didengarnya dari luar.

“Park Jungsoo-ssi aku berterimakasih padamu dan anak buahmu yang telah berusaha melindungi putraku” Rae mendengar suara seorang lelaki tua yang dapat ia tebak adalah suara Tn. Lee, ayah dari Lee Hyukjae.

“Saya juga berterimakasih, atas kunjungan anda. Bagaimana keadaan putra anda?” Terdengar suara Jungsoo merespon ucapan dari Tn. Lee.

“Hyukjae” Tn. Lee terdiam ragu untuk melanjutkan ucapannya.

“Dia masih tidak mau memaafkanku. Dia tidak pernah mau menurutiku untuk menerima perlindungan dariku. Aku terpaksa menahannya disisiku. Aku mengurung putraku sendiri. Aku lakukan hal ini hanya untuk sementara waktu sampai kasus teror ini selesai” Tn. Lee mencurahkan segala isi hatinya. Rae yang cukup jelas mendengar pembicaraan itu merasa terkejut. Ia tidak menyangka Hyukjae harus mengalami hal ini. Rae tidak dapat membayangkan sampai kapan Hyukjae akan dikurung dan tidak bisa melaksanakan aktivitas yang disukainya yaitu menjadi guru. Sedikit rasa prihatin muncul dalam hati Rae. Tiba-tiba kakinya melangkah cepat menuju kendaraan pribadinya. Dia melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.

“Aku Jung Raemun dari pihak agent, ingin menemui Hyukjae” Ucap Rae menunjukkan lencana agentnya pada polisi penjaga rumah Tn. Lee. Sebelum ini dia tidak pernah menunjukkan lencananya pada siapapun. Setidaknya kali ini status Rae sebagai agent memudahkannya untuk bertemu Hyukjae. Setelah mendengar pembicaraan antara ketua agent Park dan Kepala polisi Tn. Lee, Rae langsung menuju rumah Tn. Lee untuk menemui Hyukjae.

Polisi penjaga membukakan pintu kamar Hyukjae yang dikunci dari luar. Rae melangkah masuk dan menemukan Hyukjae tengah terduduk di lantai bersandar ke kasur besarnya. Dia hanya bisa tertunduk tanpa ingin mengetahui siapa yang datang ke kamarnya. Rae mengalihkan pandangannya pada makanan yang berada di atas meja kamar. Makanan itu terlihat masih utuh nampak belum tersentuh sedikitpun. Rae melangkahkan kakinya dan berhenti tepat di depan Hyukjae.

“Hyukjae-ya!” Suara Rae membuat Hyukjae seketika mendongak dan berdiri. Hyukjae mendekati Rae dan mengulurkan tangannya menyentuh wajah Rae seakan ingin memastikan bahwa dirinya sedang tidak berhalusinasi. Rae tidak menghindari sentuhan tangan Hyukjae. Dia hanya bisa terpaku, tidak tahu harus melakukan apa saat Hyukjae berada dalam jarak yang sangat dekat dengannya. Saat dirasakan kulit yang disentuhnya adalah nyata, Hyukjae pun segera menarik Rae kedalam pelukannya. Begitu eratnya pelukan itu membuat Rae tak mampu bergerak sedikitpun.

“Syukurlah kau selamat.” Hanya kata itulah yang bisa Hyukjae ucapkan ketika memeluk tubuh Rae.

“Kau benar-benar masih hidup kan?” Hyukjae melepaskan pelukannya dan memandang Rae sekali lagi untuk memastikan ini bukanlah mimpi.

“Mm… aku ini tidak mudah dikalahkan. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi.” Rae mengangguk dan melontarkan lelucon berusaha mencairkan suasana kecanggungan dalam hatinya.

“Terimakasih kau tidak meninggalkanku.” Hyukjae tersenyum dan sekali lagi memeluk Rae.

“Lepp… paskan! Apa sekarang kau yang akan membunuhku?” Rae berusaha melepas pelukan Hyukjae yang terlalu erat padanya.

PLETAKKK

“Au… apa yang kau lakukan?” Hyukjae meringis kesakitan ketika Rae mendaratkan pukulan dikepalanya.

“Kau ingin mati ya? Kenapa makananmu belum kau sentuh?” Hyukjae duduk kembali di kasurnya.

“Aku tidak perlu makan. Aku tidak dapat melakukan apapun disini. Hidup pun seakan aku sudah mati.” Hyukjae tampak marah dan tentu saja hal itu memunculkan rasa simpati yang sangat dalam terasa di hati Rae.

“Cepat bangun, kita keluar dari sini!” Ajakan Rae cukup membuat Hyukjae terpaku tak percaya dengan apa yang didengarnya. Melihat Hyukjae yang tak kunjung memberi respon, Rae pun menggenggam tangan Hyukjae dan menariknya menuju pintu kamar. Saat akan keluar keduanya dihadang oleh dua polisi penjaga.

“Maaf nona, Tuan muda tidak boleh pergi kemanapun.” Ucap penjaga itu pada Rae.

“Kalian percaya saja padaku, biarkan aku membawanya.” Rae berkata dengan penuh keyakinan berusaha membuat penjaga itu percaya.

“Maaf nona kami hanya menjalankan tugas dan kami tak dapat melakukan apapun tanpa perintah dari Tn. Lee.” Kali ini penjaga kedua berkata dengan ekspresi agak takut.

“Apa yang kau lakukan disini Rae-ya?” Rae terkejut mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Dengan gerakan cepat dia menoleh mencari asal suara tersebut.

“Ketua Park?” Rae melihat Park Jungsoo memandangnya dengan mata membulat. Sekali lagi Rae mendapatkan pandangan intimidasi dari Park Jungsoo. Tidak hanya itu yang membuat Rae sangat terkejut, Tn. Lee datang bersama Park Jungsoo dan memergoki dirinya yang seperti akan menculik Hyukjae dari tempat itu.

“Ak aku, aku…” Rae bingung tak dapat berkata apapun.

“Aku memaksanya untuk mengeluarkan ku dari sini” Suara keras Hyukjae membuat semua orang kini berfokus padanya. Hyukjae bisa membaca raut kebingungan Rae dan Dia hanya berusaha membelanya.

“Jung Raemun-ssi, sebelumnya terimakasih aku ucapkan untuk usahamu melindungi Hyukjae kemarin. Hyukjae tidak mau mendengarkanku jadi aku terpaksa menahannya” Ucapan Tn. Lee kali ini membuat Hyukjae terlihat enggan menatap ayahnya tersebut.

Ya! Kau pikir aku penjahat hingga harus kau penjarakan” Hyukjae berteriak kesal menanggapi perkataan ayahnya. Ia sama sekali tak mengerti rasa sayang yang ditunjukkan Tn. Lee yang begitu khawatir dengan keselamatannya. Rae dapat merasakan tangan kiri Hyukjae dalam genggamannya bergetar membuat Rae mempererat genggamannya berusaha menenangkan Hyukjae. Rae dapat merasakan gelombang tak menentu dari hati seorang Hyukjae.

Mendengar teriakan putranya, Tn. Lee menutup mata pasrah dengan semua tuduhan anaknya. Ia tidak lagi peduli dengan kata-kata putranya itu. Yang terpenting adalah Tn. Lee tidak ingin kehilangan anak semata wayangnya. Sementara itu Park Jungsoo fokus melihat tangan Rae dan Hyukjae yang masih terus bersatu. Jungsoo dapat membaca apa yang dirasakan dua manusia yang berada di depannya saat ini.

“Biarkan aku membawanya tuan. Aku berjanji tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. Biarkan tuan muda Hyukjae menjalani aktivitasnya. Aku akan menjadi pelindungnya” Ucap Rae mantap memohon izin dari Tn. Lee untuk membawa Hyukjae. Perkataan Rae tadi cukup membuat Hyukjae menoleh cepat kesamping memandang Rae yang seperti tidak gentar apapun. Meski begitu Rae tetap tidak mampu memandang Park Jungsoo. Ia terlalu takut memandang orang yang sudah dianggap seperti kakak baginya.

Tn. Lee terlihat berpikir dan tak bersuara membuat jantung Rae tak berhenti berdetak kencang. Suasana yang sama juga dapat dirasakan Hyukjae dan Jungsoo. Ketiganya seakan sedang menunggu bom waktu untuk meledak.

“Baiklah, aku percayakan putraku padamu Jung Raemun-ssi” Ucapan Tn. Lee benar-benar membuat Rae dan Hyukjae bernafas lega. Perlahan senyum dibibir Rae dan Hyukjae mengembang. Sementara disisi lain Park Jungsoo merasa sakit menahan perasaan cinta yang dipendamnya pada Rae selama ini. Profesionalismenya pada pekerjaan membuat Jungsoo tak pernah berani menyatakan apapun pada Rae.

Sebelum Rae melangkah pergi membawa Hyukjae bersamanya, ia berhenti sejenak di hadapan Jungsoo. Ia berusaha menatap Jungsoo seolah meminta ijin untuk kepergiannya. Keduanya bertatapan cukup lama membuat Hyukjae sedikit merasa cemburu. Hyukjae terus menoleh kekanan dan kekiri memandang Rae dan Jungsoo secara bergantian. Kedua sudut bibir Rae lagi-lagi terkembang saat mendapati sebuah anggukan yang diberikan Jungsoo padanya. Setelah itu Rae menarik Hyukjae pergi bersamanya.

 

***

“Hyukjae-ya, biarkan aku menumpang di mobilmu lagi ya?” Tanya Rae dengan gerakan yang dibuat kekanakan.

“Baiklah, tidak masalah asal kau bersikap sopan. Kau harus memanggilku Oppa karena umurmu lebih muda dariku” Ucapan Hyukjae membuat Rae memutar matanya, merasa jengah dengan gurauan Hyukjae yang dirasa sangat tidak lucu. Saat ini keduanya berada di pelataran parkir apartemen yang dulu mereka tempati. Rae memakai baju seragam sekolahnya dan kembali melindungi Hyukjae dalam sesi penyamaran yang sama.

Shireo, bagiku panggilan Oppa itu hanya untuk orang penting ” Ucap Rae seraya berjalan masuk ke dalam mobil Hyukjae. Mendengar ucapan Rae, Hyukjae merasa sedikit kecewa dan bertanya dalam hatinya. “Apakah aku bukan orang penting untukmu?”

Ya! Penting atau tidak kau harus bersikap sopan” kata Hyukjae yang juga telah duduk di belakang kemudi mobilnya.

Ani” Rae menggelengkan kepalanya.

“Aish, kau ini!” Hyukjae menyerah dan menginjak gas mobilnya. Mobil Hyukjaepun melaju cepat meninggalkan pelataran parkir gedung apartemen tersebut. Keduanya tidak tahu jika ada seseorang yang sedang mengintai mereka dari jauh.

Seseorang berpakaian sangat tertutup memandang ke arah mobil yang dikendarai Hyukjae. Dari headset yang terpasang ditelinganya orang ini mendengarkan dengan begitu seksama apa yang dikatakan seseorang yang lain dari seberang teleponnya.

“Bawa dia hidup-hidup, nyawanya bisa aku tukar dengan kebebasan adikku” Ucap seseorang tersebut. Dari jenis suaranya dapat dipastikan jika yang baru saja berbicara adalah seorang laki-laki.

“Baiklah tuan” Jawab seorang misterius yang sejak tadi terus mengintai Hyukjae dan Rae.

 

***

Murid-murid merasa senang dengan kembalinya guru mereka yang tampan, Lee Hyukjae. Beberapa murid gadis bersorak berlebihan melihat kedatangan Hyukjae.

“Semuanya, kumpulkan tugas yang saya berikan minggu lalu!” Terdengar suara Hyukjae menyuruh semua murid mengumpulkan tugasnya. Rae yang kebingungan menjadi pemandangan yang menarik bagi Hyukjae. Tentu saja Rae tidak sempat mengerjakannya dan ini adalah kesempatan untuk mengerjai Rae.

“Maaf seonsaengnim saya belum mengerjakannya.” Ucap Rae saat berada di depan kelas.

“Bukankah tugas ini sudah satu minggu yang lalu dan kau belum mengerjakannya?” Hyukjae berteriak pada Rae seolah ber-acting memarahi Rae. Rae hanya mampu menundukkan wajahnya namun dalam hatinya ia mengeluarkan seribu umpatan yang ditujukan untuk Hyukjae yang sudah berani mengerjainya.

“Kau dihukum, berdiri diluar kelas!” Rae membelalakkan matanya mendengar ucapan Hyukjae. Rae berusaha menatap Hyukjae seakan menyampaikan apakah ia serius dengan ucapannya.

Hyukjae begitu senang melihat wajah kesal Rae saat keluar untuk melaksanakan hukuman darinya. Ketika di depan kelas Rae melihat kepala sekolah yang membawa seorang perempuan masuk ke dalam kelas. Penampilan perempuan itu layaknya guru-guru wanita disini. Apakah dia guru baru disini? Tanya Rae dalam hatinya. Sayang sekali Rae tak dapat mengetahuinya karena dia harus melaksanakan perintah konyol dari Hyukjae

***

“Hahahaha” Hyukjae tertawa mengingat wajah kesal tak berdaya Jung Raemun saat di hukum tadi pagi di sekolah. Saat ini keduanya dalam perjalanan pulang dari sekolah.

“Tadi itu sama sekali tidak lucu. Kau mengerjaiku?” teriak Rae kesal dengan Hyukjae yang menertawakan kebodohannya tadi pagi.

“Maaf, aku hanya ingin sedikit bermain.”

“Apa kau bilang, bermain dengan menyiksaku berdiri selama dua jam pelajaran?” Rae mengeluarkan pistol dari balik bajunya dan menodongkan pistol itu ke arah Hyukjae.

“Aa.. Aku kan sudah minta maaf. Letakkan senjata itu!” Hyukjae terlihat sedikit gemetar dan meminta Rae menurunkan senjatanya. Rae menahan tawanya. Dia berhasil mengerjai Hyukjae dengan menakut-nakutinya.

“Mm… hahahaha. Ternyata Hyukjae begitu penakut?” Hyukjae lega setelah pistol dalam genggaman Rae tak lagi mengarah padanya. Wajahnya terlihat kesal melihat Rae yang tak berhenti tertawa. Rae berhasil membalas perbuatannya. Setelah puas, Rae menghentikan tawanya dan teringat sesuatu yang sejak tadi membuatnya penasaran.

“Ohya, Hyukjae-ya, perempuan yang tadi masuk ke kelas itu siapa?” Rae menghadapkan wajahnya ke Hyukjae yang saat ini fokus menyetir.

“Oh tadi itu guru matematika yang melakukan praktek lapangan. Selama ia disini aku yang akan menjadi guru pembimbingnya. Tugasku adalah membimbingnya melakukan tugas-tugasnya menjadi seorang calon guru” Jelas Hyukjae pada Rae. Dia mengangguk-ngangguk kepala menandakan bahwa dia mengerti maksud penjelasan Hyukjae.

***

Rae berada di apartemannya. Dia sedang melakukan dua pengawasan sekaligus. Laptop di hadapannya terhubung langsung dengan rekan agentnya Park Sunye. Rae bersama Sunye terus berusaha menyelidiki sepak terjang mafia pencuri rahasia negara yang beberapa bulan ini menjadi teroris negara. Mereka berdua turun secara langsung ke lapangan.

Sementara dari laptop yang lain Rae memperhatikan Hyukjae melalui CCTV yang masih terpasang di beberapa ruangan apartemen Hyukjae. Nampak di layar laptopnya itu Hyukjae sedang sibuk mengerjakan berkas-berkas mengajarnya. Menjadi guru rupanya tidak sekedar mengajar di dalam kelas. Rae tersenyum memandangi aktivitas Hyukjae tapi kemudian Rae mengerutkan keningnya ketika melihat Hyukjae beranjak dari meja kerjanya menuju pintu keluar.

“Mau kemana dia?” Gumam Rae sambil terus memperhatikan gerak-gerik Hyukjae. Ternyata ada tamu, Rae segera men-zoom gambarnya untuk melihat dengan jelas siapa yang bertamu ke apartemen Hyukjae. Rae berusaha mengingat siapa tamu itu karena sepertinya ia mengenali wanita itu. Ya, yang bertamu ke apartemen Hyukjae adalah seorang wanita.

“Dia adalah guru magang itu. Ada apa dia menemui Hyukjae?” Rae akhirnya dapat mengingat wajah wanita itu tapi rasa cemburu muncul di hati Rae. Analisanya bersama Park Sunye tak lagi menarik. Rae memilih untuk terus fokus memperhatikan aktivitas Hyukjae dan wanita itu. Rae tidak tahu siapa nama wanita itu.

Rae akhirnya memutuskan beranjak dari duduknya dan pergi menuju apartemen Hyukjae.

Ya! Rae-ya mau pergi kemana kau” Tampak di layar laptop Sunye sedang berteriak memanggil Rae yang dilihatnya pergi.

Ting tong… ting tong… Mendengar bel pintunya berbunyi lagi, Hyukjae segera membukakan pintu untuk tamunya.

“Hyukjae-ya! Aku kehabisan bahan makanan. Aku rasa kulkasmu masih penuh dan aku akan membantu menghabiskannya” Ucap Rae pada Hyukjae. Tidak perlu menunggu jawaban dari Hyukjae, Rae segera masuk ke apartemen Hyukjae.

Langkah Rae terhenti diruang tamu. Ia memperhatikan wanita yang sedang duduk itu. Wanita itu juga memperhatikan Rae dan tersenyum. Hyukjae yang berjalan menyusul Rae juga terhenti melihat Rae seperti penasaran dengan tamunya.

“Rae-ya, perkenalkan ini adalah Kwon Hana guru magang disekolah kita” Hyukjae melangkah mendekati wanita bernama Kwon Hana itu untuk diperkenalkannya pada Rae. Kwon Hana tersenyum dan menunduk sopan menyapa Rae yang kini juga mendekat padanya.

“Kwon Hana-ssi, dia adalah Jung Raemun tetanggaku disini sekaligus muridku di sekolah” Ucap Hyukjae yang juga memperkenalkan Rae pada Hana. Rae terpaku dengan wajah Hana. Wajah Hana mengingatkannya pada seseorang. Hana mengulurkan tangannya untuk bersalaman tapi tak kunjung mendapat balasan dari Rae hingga Hyukjae mengingatkannya dan Rae pun mengulurkan tangannya  untuk bersalaman dengan Hana.

“Senang bertemu denganmu, kau bisa memanggilku dengan Hana saja. Jadi kau adalah murid yang tadi di hukum?” Senyum Rae hilang berganti raut kesal ketika hal memalukan pada dirinya di ungkit. Rae berpikir akan membuat perhitungan dengan Hyukjae yang telah menciptakan peristiwa memalukan tersebut.

“Ahh… Ne.” Rae berusaha tersenyum meski terpaksa untuk menutupi rasa malunya. Rae juga melirik Hyukjae seolah berkata ‘ini semua gara-gara dirimu’ Sementara Hyukjae yang dilirik tampak tidak merasa bersalah sedikitpun. Dia justru terlihat tengah menahan tawanya.

“Nah, Rae-ya bahan makanan yang kau inginkan ada di kulkas silahkan ambil dan anggap rumah sendiri ya?” Hyukjae memberi arah pada Rae dimana kulkas itu berada dengan tangannya. Rae bukannya tidak tahu letak kulkas itu berada karena seringnya mengacaukan apartemen Hyukjae. Jadi gerakan tangan Hyukjae lebih menunjukkan gerakan mengusir agar Rae pergi dari ruangan tersebut. Rae kesal dan melampiaskannya pada kulkas Hyukjae. Beberapa makanan dia keluarkan untuk dimakan, sedangkan yang lainnya dia buat berantakan. Sambil memakan buah, Rae terus memperhatikan setiap gerak-gerik keduanya yang terlihat sangat akrab.

“Dasar Playboy!” Gumam Rae seraya menggigit apel yang ada ditangannya dengan sangat keras. Sementara Hyukjae sedikit melirik Rae yang terlihat memperhatikannya dari jauh. Hyukjae tahu jika Rae khawatir pada dirinya maka itu Rae sekarang berada disini. Meminta bahan makanan adalah alasannya saja. Hyukjae juga dengan sengaja memperlihatkan keakrabannya dengan Hana. Dia ingin mengetahui perasaan Rae padanya dan dia merasa salah satu caranya adalah membuatnya cemburu. Hyukjae hanya memanfaatkan Hana yang datang untuk mempertanyakan berkas-berkas guru yang harus dipelajari.

Setelah Hana pulang beberapa detik berikutnya Rae juga pamit. Hal itu membuat Hyukjae mengerutkan keningnya. Ia berpikir bahwa meminta bahan makanan adalah benar hanya alasan untuk melindunginya. Jika tidak kenapa meminta bahan makanan saja bisa sangat lama dan sekarang pergi begitu saja setelah kewajibannya selesai.

“Terimakasih Hyukjae Seonsaengnim” Rae tersenyum dan menunduk sopan sebelum ia benar-benar pergi dari apartemen Hyukjae. Hyukjae menjadi lebih heran ketika melihat sikap manis yang ditunjukkan Rae. Pasalnya diluar sekolah Rae tidak pernah bersikap sopan pada dirinya. Hyukjae menjadi sangat curiga akan hal itu.

“Rae-ya!” Teriakan Hyukjae menggema diseluruh ruangan apaertemen Hyukjae.

“Hahahaha….” Rae tak dapat menahan tawanya ketika laptop yang berada dihadapannya saat ini menampilkan kekesalan Hyukjae melihat dapurnya telah tak berbentuk akibat ulah Rae beberapa menit yang lalu.

“Rasakan! Makanya jadi laki-laki jangan genit.” Gumam Rae.

***

Rae melangkahkan kakinya perlahan mengikuti dua orang yang sedang berjalan kaki sambil mengobrol santai. Kedua orang tersebut adalah Hyukjae dan Hana. Sesekali Rae melihat keduanya tertawa bersama. Hyukjae dan Hana memutuskan untuk makan malam bersama diluar setelah jadwal bimbingan mereka selesai. Rae yang tidak tahu lagi harus menggunakan alasan apa untuk berada di dekat mereka akhirnya memilih untuk mengawasi dari jauh. Hana mengajak Hyukjae untuk berjalan kaki karena letak restoran yang tidak jauh dari apartemen mereka. Ya, rupanya Hana juga tinggal di gedung apartemen yang sama dengan alasan agar lebih mudah melakukan bimbingan.

Rae menolehkan kepalanya ke kanan dan kekiri berusaha selalu waspada dengan lingkungan sekitar Hyukjae berada. Benar firasat Rae, dia melihat beberapa orang mencurigakan mengendap-ngendap disudut jalan. Rae melangkah pelan agar mereka tidak menyadari keberadaanya. Rae terus memperhatikan gerak-gerik orang yang telihat fokus pada Hyukjae dan Hana.

Tin tin… Langkah Hyukjae dan Hana terhenti ketika mendengar sebuah mobil membunyikan klakson dan berhenti tepat di hadapan keduanya. Kaca mobil itu kemudian terbuka menampilkan seseorang yang Hana kenal.

“Hana-ya!” Panggil seorang perempuan dari balik kemudi mobil itu.

Eonni! Ada apa?” Tanya Hana melihat saudaranyalah yang berada di dalam mobil itu.

“Ayo naik, aku disuruh eomma menjemputmu”

“Tapi aku sedang bersama guru pembimbingku eonni. Nanti aku menyusul” Ucap Hana menolak permintaan perempuan itu.

“Tidak apa Kwon Hana-ssi. Aku bisa pulang sendiri, kau pergilah!” Sergah Hyukjae berusaha membiarkan Hana meninggalkannya.

“Benarkah?” Tanya Hana. Hyukjae mengangguk menjawab pertanyaan Hana.

“Hati-hati di jalan” Hyukjae melambaikan tangan pada Hana yang telah pergi dengan mobil eonni-nya.

Setelah Hana pergi, Hyukjae menoleh ke belakang mencari keberadaan Rae. Dia tahu jika sejak tadi Rae mengikutinya. Tak kunjung melihat sosok yang dicarinya Hyukjae pun bingung. Ketika hendak berbalik untuk mencari Rae, tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya untuk berlari. Orang asing ini menariknya begitu kuat, dia berlari begitu cepat membuat Hyukjae yang jarang olahraga terlihat terengah-engah. Hyukjae tidak tahu siapa yang menariknya karena dia menggunakan jaket lengkap dengan tudung kepala.

 

——–To Be Contibued——–

2 Comments (+add yours?)

  1. rara
    Nov 30, 2014 @ 14:19:27

    next part thor

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: