Wedding Contract [12/?]

wedding-contract-by-princess-pink

 

Nama: Stiva Yulianti Azhar

Judul : Wedding Contract

Genre: Romance, Comedy, Family

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Note: Maklum yah kalau ceritanya gaje plus banyak typonya. Hihihi visit http://allrisepink.wordpress.com

Bukan ketika kau merasa menyukainya sejak pertama kali bertemu. 
Tapi ketika kau merasa terbiasa bersama dirinya. 
Dan merasa hampa tanpa dirinya.

-Yulianti Azhar Storyline-
Jisoon’s pov

Masih dalam keadaan shock, Eunhyuk menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Hangat. Kesan pertama yang selalu ku dapat dari pelukannya. Aku membuang gengsiku jauh-jauh untuk mengeratkan tanganku di pinggangnya.

Aku tidak peduli apapun. Dalam pikiranku saat ini hanyalah, aku merindukan pria menyebalkan ini.

Satu menit lamanya aku berada dalam pelukannya. Begitu nyamannya, aku sampai tidak menyadari kalau saat ini kami masih berdiri di depan rumah.

Kesadaranku kembali ketika mendengar satu kalimat yang membuat jantungku berhenti berdetak selama sepersekian detik. Aku tidak bisa berdiri dengan baik begitu mendengar Eunhyuk mengatakan kalimat itu.

“Aku mencintaimu. Itu sudah menjawab pertanyaanmu, kan?”

“Tunggu sebentar!”

Aku melepaskan pelukan Eunhyuk dan masuk kembali ke dalam rumah. Meninggalkan Eunhyuk yang masih berdiri di depan. Aku meloncat-loncat senang setelah masuk ke dalam rumah.

Astaga! Apa yang barusan Eunhyuk katakan? Dia mencintaiku? Apa dia tidak sedang mabuk? Atau aku sedang bermimpi?

Aku menutup mulutku dengan tanganku. Menahan sebuah teriakan yang ingin lolos dari mulutku. Rasanya terlalu bahagia sampai aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak meloncat-loncat seperti anak kecil. Aku bertanya-tanya dalam hatiku mengapa reaksi seperti ini bisa terjadi? Apa aku juga mencintainya?

“Yak! Apa yang kau lakukan di dalam? Aku masih di luar.”

Tubuhku membatu ketika mendengar suaranya. Aku masih tidak percaya kalau yang dia katakan barusan itu adalah kalau dia mencintaiku. Terlalu mustahil menurutku.

“Kau tidak pingsan, kan?” teriaknya lagi.

Aku mendengar suara pintu rumah terbuka. Aku tidak ingin membalikkan tubuhku. Eunhyuk memelukku dari belakang. Kedua tangannya melingkar di perutku. Menarikku seerat mungkin dalam pelukannya.

“Aku merindukanmu.”

Eunhyuk melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Dia tersenyum ke arahku. Gusi anehnya yang sangat ku benci itu kini membuatku terpesona. Semua hal yang berhubungan dengan pria aneh ini membuat jantungku berdetak tidak karuan.

“Apa sekarang aku sudah boleh menciummu?”

“Mwo?”

“Bukankah dalam sebuah drama ketika seorang pria dan wanita setelah mengungkapkan perasaan masing-masing, mereka akan berciuman?”

“Aku belum mengungkapkan perasaanku!” protesku.

Seenaknya saja pria menyebalkan ini. Dia datang begitu saja mengatakan satu kalimat keramat yang membuat kesehatan jantungku terancam. Dan sekarang dia ingin menciumku? Pria ini sepertinya berniat mengirimku ke kamar mayat sekarang juga.

“Tanpa kau beritahu pun aku sudah tahu,” ujarnya santai lalu memajukan tubuhnya, mendekatkan wajah kami. Aku berusaha memalingkan wajahku. Tapi terlambat, wajah memesonanya itu membuat leherku menjadi kaku seketika.

“Kau pasti memiliki perasaan yang sama denganku, Lee Jisoon.”

Eunhyuk mencium bibirku dengan kecupan-kecupan ringan. Terlalu manis membuatku tidak mampu berdiri dengan benar. Aku merasa tidak bisa menahan diriku untuk tetap bertahan dalam rengkuhannya.

Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya ketika pagutan bibirnya semakin dalam. Menjadikannya pegangan agar aku tidak terjatuh. Aku sedikit berjinjit untuk menyamakan tinggi kami.

Jari Eunhyuk menyusup masuk ke dalam helaian rambutku, memberikan sensasi geli yang aneh di perutku, seolah ada ratusan sayap kupu-kupu yang mengepak secara serentak di dalamnya.

Eunhyuk terus memperdalam ciumannya. Dia bahkan tidak menyadari kalau tangannya sudah berusaha melepas kancing bajuku satu persatu seiring dengan ciuman kami yang semakin mendesak.

“Jisoon-ah, appa lupa… ASTAGA!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?”

***

Aku terus menundukkan kepalaku ketika makan malam tengah berlangsung. Appa dan eomma terus menatap kami bergantian. Eunhyuk menyikut perutku untuk segera menegakkan kepalaku. Tapi aku terlalu takut dengan tatapan appa yang seolah-olah ingin menelan kami hidup-hidup.

Bukankah hal yang ku lakukan Eunhyuk tadi pagi adalah hal yang wajar? Kita berdua adalah sepasang suami-istri.

“Jadi ini menantu eomma?” Eomma membuka pembicaraan dengan menatap Eunhyuk. Eunhyuk menganggukkan kepalanya dan tersenyum sopan ke arah eomma.

“Kenapa kau menikahi anakku, Park Jisoon? Anak ini sangat keras kepala, dia mudah sekali marah, dan juga  semua keinginannya harus terpenuhi. Dia termasuk orang yang berantakan. Dia bahkan tidak bisa mengatur barang-barangnya sendiri. Apa selama ini dia tidak merepotkanmu?” ujar eomma lembut pada Eunhyuk. Pria itu hanya tersenyum mengejek ke arahku.

Eomma…,” protesku.

“Aku menikahi anak anda tidak memiliki alasan apa-apa. Awalnya aku tidak mengenalnya, bahkan memiliki perasaan pun tidak. Park Taewoo hanya menjodohkan anak asuhnya dengan cucu-cucunya. Aku tidak mencintainya sejak pertama kali bertemu, tapi perlahan-lahan aku mulai menyadari kalau aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Tanpa dirinya aku merasa hampa. Seperti tidak ada alasan untuk bertahan di dunia ini.”

Aku tercengang mendengar ucapannya. Bulu kudukku tiba-tiba meremang.

“Tidak peduli seperti apa sifat buruknya. Aku diciptakan oleh Tuhan untuk melengkapi kekurangannya. Simpel sekali, aku mencintai anak kalian tidak dengan alasan apapun. Tapi aku mencintainya karena aku mau. Mungkin sudah terlambat, tapi aku meminta restu kalian menikahi Park Jisoon.”

Pipiku mungkin saat ini sudah memerah seperti tomat. Appa dan eomma juga cukup tercengang dengan apa yang baru saja pria itu katakan.

“Lee Hyuk Jae, appa dan eomma menitipkan Park Jisoon padamu,” ujar appa sambil menepuk-nepuk bahu Eunhyuk bangga.

Ada sensasi aneh tersendiri ketika Appa secara tidak langsung mengizinkan memanggil mereka dengan sebutan appa dan eomma.

“Dan satu hal, jangan membuat bayi di sembarang tempat!”

“APPA!!!”

Appa terkekeh geli ketika melihat ekspresiku. Ku lihat Eunhyuk menundukkan kepalanya malu-malu.

“Lalu kenapa kau datang kesini, nak? Bukankah Jisoon bilang kalau kau sedang sibuk?” tanya eomma pada Eunhyuk. Eomma tampaknya mengalihkan pembicaraan.

“Jisoon kabur begitu saja, eomma. Dia tidak meminta izin padaku untuk kesini,” jawab Eunhyuk santai.

Aish! Pria ini membuka kartuku.

Aniyo, eomma. Dia bohong. Aku sudah meminta izin padanya. Yak! Lee Hyuk Jae, kenapa kau mengatakan hal seperti itu pada eomma? Aku akan membunuhmu kalau kau bicara yang tidak-tidak!”

“ASTAGA PARK JISOON!!! DIA ITU SUAMIMU.”

***

Eunhyuk terus menertawaiku begitu kami berdua sudah di kamar. Dia menertawaiku karena telah dimarahi oleh eomma. Eomma menyuruhku untuk tidak kasar pada Eunhyuk dan menghormatinya sebagai suamiku. Bagaimana caranya aku menghormatinya, kalau monyet sialan itu selalu saja membuatku kesal?

“Kau sudah dengar apa yang eomma katakan, kan?”

“DIAM KAU, MONYET SIALAN!”

Tawa Eunhyuk semakin meledak. Dia memegangi perutnya yang mungkin sakit karena tertawa. Aish! Sifat menyebalkannya itu benar-benar tidak bisa ditolerir.

Melihatku semakin kesal, Eunhyuk justru menarikku dalam rangkulannya. Dia membisikkan sesuatu di telingaku yang membuat jantungku berhenti berdetak untuk sepersekian detik.

“Bagaimanapun perlakuanmu, kau tetap istriku,” bisiknya pelan, “kau mengerti, Lee Jisoon?”

Eunhyuk mengecup pipiku dengan cepat kemudian berlari ke arah ranjang mempersiapkan posisinya untuk segera baring di atasnya.

Tubuhku membeku beberapa detik. Aku memegang pipiku yang dikecupnya tadi. Pipiku pasti sudah merona seperti tomat akibat ulahnya.

“SIALAN KAU! AKU MEMBENCIMU, LEE HYUK JAE!”

“Aku tahu… aku juga mencintaimu, Lee Jisoon.”

***

Eunhyuk’s pov

“Aigoo… Lee Jisoon. Kau ini lama sekali? Kau tidak perlu berdandan. Kita hanya ingin ke supermarket. Dan asal kau tahu saja, berdandan seperti apapun, kau tetap… cantik.”

Aku menghentikan ucapanku ketika baru saja Jisoon turun dari tangga. Dia hanya memakai dress selutut bermotif bunga-bunga dipadukan dengan cardigan soft pink yang membuat dirinya tampak semakin manis.

Aku merasa paru-paruku kehabisan pasokan oksigen. Aku kesulitan bernafas hanya dengan menatap wajahnya yang tampak innocent dengan style seperti itu. Dia tidak pernah tahu bahwa pengaruhnya bagiku sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku.

“Hei… kenapa melamun? Aku tahu kau terpesona denganku tidak perlu berlebihan seperti itu.”

Aku langsung mengerjapkan kedua mataku ketika sebelah tangannya mengayun di hadapanku. Gadis itu berusaha membuatku tersadar dari lamunanku yang berlangsung beberapa detik tadi.

“Ayo pergi!”

Aku menarik tangannya keluar dari rumah. Dia menghentikan langkahnya untuk mengunci pintu rumah.

“Kalian mau kemana?”

Aku menoleh ketika mendengar suara seorang nenek tua, tetangga eomma Jisoon, sedang menyiram bunga di depan rumahnya. Aku tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan nenek itu. Dia menggunakan bahasa mandarin. Aku hanya bisa menangkap maksudnya, dia menanyakan kemana aku dan Jisoon akan pergi.

“Kami ingin ke supermarket,” jawab Jisoon dengan menggunakan bahasa mandarin juga. Aku hanya terdiam pura-pura tidak mengerti dengan percakapan mereka.

“Apa dia suamimu? Dia sangat tampan.”

Apa katanya? Aku tampan? Sudah tidak diragukan lagi kalau aku ini memang tampan. Bahkan nenek-nenek tua pun mengakui ketampananku ini.

“Iya, dia suamiku. Kami sangat serasi, kan?”

Aku terelak mendengar ucapan Jisoon. Apa yang dikatakannya tadi? Kami sangat serasi?

Aku tidak begitu memerhatikan lagi nenek yang tadi. Aku hanya terpaku pada gadis di sampingku. Wajahnya sudah merah merona setelah mengucapkan kalimat tadi. Dia pasti tidak tahu kalau aku mengerti ucapannya barusan.

Walaupun tidak begitu fasih berbahasa mandarin, tapi aku mengerti dengan ucapannya barusan. Dia mengatakan kalau kami berdua sangat serasi.

“Ayo pergi!” Aku menarik Jisoon setelah mengakhiri percakapannya dengan nenek tadi. “Aku sudah tidak sabar untuk memperlihatkan orang-orang di supermarket nanti, kalau kita ini pasangan yang serasi.”

Jisoon menghentikan langkahnya begitu mendengar kalimatku. Dia menatapku tajam dan kesal.

“Yak! Lee Hyuk Jae, ternyata kau tahu bahasa mandarin!”

***

Jisoon’s pov

Aku mengeluarkan semua belanjaanku dari kantongnya. Aku sempat terkejut ketika melihat beberapa botol susu strawberry dalam kantong belanjaku.

Aku menatap pria yang tengah duduk santai sambil melipat kedua tangannya. Dia pasti yang memasukkan susu strawberry dalam kantongan belanjaku. Aku tidak menyangkah pria yang sudah hampir berumur 30 tahun sepertinya masih meminum susu.

“Kau ingin memasak apa?” tanya Eunhyuk yang sudah bangkit dari duduknya dan menghampiriku di counter dapur.

Kimchi dan Bulgogi,” jawabku tanpa memperdulikannya yang sedang mengupas buah apel untuk dia makan sendiri.

“Apa kau yakin bisa memasaknya?”

“Ck, pergilah sana. Jangan menganggu pekerjaanku di dapur!” responku datar.

Aku mulai mencuci semua bahan yang akan ku olah lalu menyiapkan beberapa alat yang akan ku pakai nanti. Semua alat dan bahan sudah ku siapkan semuanya. Tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana. Terlalu banyak yang ingin ku buat.

“Kau yakin tidak ingin dibantu? Kau sepertinya kerepotan.” Kulihat Eunhyuk bangkit dari duduknya dan mengambil sepotong sawi. Aku hanya terdiam melihatnya memotong sawi itu.

“Kau pintar membuat kimchi, darimana kau belajar?” tanyaku membuka pembicaraan agar suasana tidak terkesan hening.

“Aku dan Hyerin nuna sering membuat kimchi waktu kami masih tinggal di panti asuhan,” jawabnya santai sambil fokus pada sawi yang sedang dipotong-potongnya.

“Oh,” sahutku singkat.

Jadi ternyata dia mempunyai kenangan yang banyak dengan nunanya itu. Lalu kenapa pria jelek itu tidak justru berlari kembali pada Park Hyerin dan menambah kenangan mereka? Aku kesal sekali ketika Eunhyuk menyebutkan salah satu kenangannya bersama Hyerin dengan santai tanpa memperdulikan perasaanku yang campur aduk karenanya.

Tanpa sadar aku mengiris bawang dengan tenaga yang mengenaskan hingga hampir mengenai jariku kalau saja Eunhyuk tidak menyadarkanku.

“Hei, kau ingin memotong jarimu?”

Grep. Tiba-tiba sebuah lengan melingkar di leherku. Membuat sensasi aneh muncul di sekelilingku. Eunhyuk mengeratkan dekapannya, seakan aku ingin lari ketika pelukannya itu terlepas.

“Kau cemburu?” bisiknya di telingaku.

“Untuk apa aku cemburu?”

“Aku sudah bilang, kalau aku mencintaimu. Jadi, kau tidak perlu cemburu untuk alasan sekecil itu. Aku tidak akan pernah melihat ke belakang lagi.”

“Aku memegang ucapanmu, Tuan Lee,” ucapku lalu mengecup bibirnya singkat setelah itu aku melanjutkan kegiatanku yang tertunda tadi dengan wajah yang sudah sangat merah merona.

Astaga, Lee Hyuk Jae… Pengaruhmu terhadap kehidupanku rasanya sudah sangat besar.

***

Author pov

Jisoon berlari-lari kecil ketika mendengar suara keributan kecil di ruang tengah. Dia melihat eomma dan appa­nya yang baru saja pulang dari kantor. Eunhyuk mengikuti gerakan Jisoon yang berjalan mengendap-endap menghampiri eomma yang baru saja pulang.

“Hyaaa, saengil chukkae eomma!” pekik Jisoon ketika nyonya park berjalan masuk ke arah dapur. Diikuti dengan tepuk tangan meriah oleh Eunhyuk.

“Kalian yang menyiapkan semua ini?” ujar Nyonya Park kagum ketika melihat meja makan yang sudah penuh hidangan. Jisoon hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan riang. Lalu tangannya menepuk bahu Eunhyuk, menyuruh pria itu mengeluarkan kue tart yang mereka beli tadi.

Eunhyuk mengeluarkan sebuah kue tart dan itu membuat ibu mertuanya bertambah terkejut. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya saking terharunya. Begitu pun dengan Park Jisoon, dia tidak sadar tangannya bergelayut mesra di lengan Eunhyuk.

Eomma, make a wish!

Nyonya Park meraih kue tart yang disodorkan oleh menantunya. Sejenak dia menarik nafas sebelum mengucapkan harapannya sebelum meniup lilin pada kue itu.

Eomma berharap keluarga Park tetap utuh. Keluarga kita tidak terpisah satu sama lain. Dan eomma juga mengharapkan kehadiran seorang bayi di tengah keluarga kita.”

Jisoon terelak begitu mendengar permohonan eommanya. Perlahan pegangan tangannya pada Eunhyuk mengendur.

Bayi? Memikirkannya saja membuatnya sedikit shockEommanya meminta hal yang tidak bisa Jisoon berikan sekarang. Dia masih takut untuk melakukan hal seintim itu dengan Eunhyuk. Dia takut, Eunhyuk akan pergi setelah semuanya terjadi.

Mengetahui kekhawatiran gadis itu, Eunhyuk menoleh. Dia mengelus kepala Jisoon agar tenang dan tidak memikirkan apa yang eommanya barusan katakan.

“Aku belum siap…,” gumam Jisoon parau. Suaranya sangat kecil, hanya bisa didengarkan oleh Eunhyuk.

“Aku tahu, aku mengerti”

****

“Apa sudah saatnya menyebar berita itu?”

Dongwoon tersenyum miris mendengar pertanyaan rekannya itu. Dia adalah seorang redaktur dari sebuah koran ternama di Seoul. Tugasnya adalah menulis berita utama agar menarik perhatian orang. Dan saat ini, Dongwoon membayarnya jutaan won untuk menyebar foto Hyerin dan Eunhyuk. Dan menjadikannya sebagai berita utama.

Dia sangat yakin, foto-foto itu seperti bom waktu. Dengan sekali ledakan, akan merobohkan semua keluarga Park Taewoo.  Terutama gadis itu, gadis yang menjadi obsesinya selama ini. Park Jisoon.

“Silahkan…,” ujar Dongwoon dengan nyaring.

Diakhiri dengan ledakan tawa kemenangannya. Dia sudah hampir berada pada puncak kemenangannya. Tinggal selangkah lagi… Apa yang diinginkannya akan segera menjadi miliknya dalam sekejap mata.

***

Kyuhyun terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara bel rumah berbunyi dengan nyaringnya. Kyuhyun mengutuk orang yang berani-beraninya menganggu tidurnya yang damai. Dan siapa pula yang bertamu tengah malam seperti ini? Apa orang itu gila?

Pria itu terus menggerutu dalam hatinya. Berjalan ke arah pintu sambil menggaruk belakang kepalanya. Kyuhyun tidak memperdulikan lagi penampilannya yang baru saja bangun tidur.

Kyuhyun membuka pintu dengan enggan dan terkejut setengah mati ketika melihat Park Taewoo berdiri di depan rumah. Jantungnya hampir saja melompat ketika melihat ekspresi wajah kakek yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Raut wajahnya terlihat marah. Marah besar.

Ada apa lagi ini?

Pertanyaan Kyuhyun baru saja terjawab ketika kakek menyodorkan sebuah iPad kehadapan Kyuhyun. Pria itu tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya bergetar meraih iPad itu dari tangan Tuan Park. Matanya tidak bisa berkedip melihat apa yang ditampilkan iPad itu. Dalam iPad itu, Kyuhyun melihat foto Eunhyuk mencium seorang gadis. Dan gadis itu adalah Park Hyerin.

“Hubungi mereka berdua. Suruh mereka agar segera kembali, sekarang!”

***

“Apa Kyuhyun gila? Tengah malam begini dia menyuruh kita pulang, lalu dia tidak ada di rumah.”

Jisoon terus menggerutu ketika mereka baru saja tiba dari Cina. Dia masuk ke dalam rumahnya sambil menarik kopernya dengan wajah kesal. Pasalnya, Kyuhyun menelponnya menyuruh mereka pulang dengan alasan kakek ingin bicara penting dengan mereka. Lalu apa gunanya teknologi? Apa kakek tidak bisa menggunakan ponselnya untuk menghubungi Jisoon?

“Kau tidurlah. Aku akan menghubungi Kyuhyun.”

Eunhyuk tersenyum kecil melihat raut wajah istrinya yang kesal. Dia menahan tawanya ketika melihat Jisoon berjalan dengan langkah malas ke arah kamarnya. Dalam hitungan tiga detik, dia sudah bisa memprediksi kalau akan terdengar suara teriakan Jisoon lagi.

“YAK! LEE HYUK JAE! KEMANA BARANG-BARANGKU?” teriak Jisoon terkejut ketika melihat kamarnya yang kosong melompong. Yang tersisa hanyalah ranjang tempat tidurnya. Kemudian tatapannya beralih ke Eunhyuk memberinya isyarat untuk segera menjelaskan apa yang terjadi dengan kamarnya selama dia tidak ada di rumah itu.

“Oh yah, aku lupa memberitahumu. Kalau barang-barangmu sudah kupindahkan ke kamarku. Mulai malam ini sampai  seterusnya, kau tidur bersamaku.”

“Mwo???”

“Aku tidak menerima penolakan!”

“YAK!”

Jisoon membulatkan matanya saat mendengar kalimat tanpa bantahan pria itu. Terkadang pria itu bisa melambungkan harapannya terlalu tinggi, tapi terkadang dia juga bersikap begitu tidak peduli, seolah dia hanya bermain-main saja, sehingga gadis itu tidak bisa memutuskan sisi mana dari pria itu yang harus dipercayainya?

“Kau masuklah ke kamar… ehem… kamar kita. Aku akan menghubungi Kyuhyun. Selamat malam.” Eunhyuk berdeham ketika mengucapkan kalimat kamar kita. Tangannya terangkat untuk mengacak rambut gadis itu sekilas. Sebuah senyuman kecil tersungging di bibirnya.

“Kau tahu, Lee Hyuk Jae… Aku selalu kehabisan akal untuk membencimu.”

“Tuhan tidak menakdirkan dirimu untuk membenciku, Soonnie-ya.”

***

Eunhyuk masuk ke dalam kamarnya dan segurat senyumnya melebar ketika melihat Jisoon terbaring di balik selimut hangatnya. Pria itu menghampiri Jisoon dan ikut terbaring di sampingnya. Tangannya terulur menyentuh kening gadis itu.

Kelopak mata Jisoon seketika terbuka ketika merasakan sentuhan tangan Eunhyuk di keningnya. Baru saja ia ingin tenggelam di alam mimpinya, tapi kedatangan Eunhyuk menginterupsi segalanya.

“Kyuhyun tidak ada di kamarnya. Dia juga tidak menjawab telponku,” ujar Eunhyuk. Ia memperbaiki posisinya sehingga posisi Jisoon lebih nyaman dalam dekapannya. Tangannya mengusap punggung gadis itu dengan lembut.

“Kau bisa menemuinya besok pagi. Aku akan menghajar wajahnya kalau dia mengerjai kita.”

“Aku yakin, Kyuhyun tidak bermain-main. Firasatku mengatakan kalau ini adalah hal yang benar-benar penting.”

Jisoon tak lagi membalas ucapan Eunhyuk. Usapan tangan Eunhyuk di punggungnya sepertinya telah membuatnya terlelap. Aroma tubuh pria itu seperti obat bius yang menghilangkan kesadarannya. Membuatnya melambung tinggi di dalam mimpinya.

Eunhyuk yang melihat gadisnya terlelap, perlahan-lahan mencium kening Jisoon. Satu bagian favoritnya yang senang dia lakukan mulai detik ini. Satu kesempurnaan hidupnya yang tak pernah ia bayangkan. Mencium kening wanita paling ia cintai dalam dekapan eratnya.

Suara pintu kamar Eunhyuk terjeblak terbuka, mengagetkannya. Membuat Jisoon terbangun dari tidurnya yang baru 5 menit. Jisoon membulatkan matanya ketika melihat kakek berdiri di ambang pintu dengan wajah geramnya. Dia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Eunhyuk.

“Berhenti pura-pura di depanku lagi! Aku sudah muak dengan tingkah kalian berdua.” Kakek melemparkan sebuah koran di hadapan Jisoon dan Eunhyuk. Koran itu menampakkan foto Eunhyuk yang sedang berciuman dengan seorang gadis yang Jisoon yakini wanita itu adalah Hyerin. Siapa lagi? Satu-satunya gadis yang Eunhyuk cintai sebelum dirinya hanya gadis itu?

“Hentikan semua sandiwara kalian. Kakek sudah lama mengetahuinya kalau kalian berdua ini hanya berpura-pura. Kakek tunggu surat perceraian kalian.”

Keheningan menghantar kakek keluar dari kamar itu. Semenjak kepergian kakek, tak ada interaksi apapun yang terjadi antara Jisoon dan Eunhyuk. Dan Eunhyuk membenci keadaan mencekam seperti ini. Eunhyuk lebih menyukai ketika mendengar Jisoon berteriak memakinya daripada diam seperti ini. Itu menyiksa dirinya. Dia tidak bisa menebak apa isi kepala gadis itu.

“Selamat malam,” ujar Jisoon bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar kamar. Eunhyuk tidak berdaya hanya untuk mencegah gadis itu. Tatapan matanya tak pernah terlepas dari arah pintu. Ia berharap pintu itu terbuka sekali lagi. Menampakkan Jisoon yang berlari ke pelukannya. Tapi itu hanya sekedar khayalannya. Gadis itu terlalu gengsi untuk melakukan hal itu, apalagi dalam situasi seperti ini.

***

Jisoon melangkah ke dalam bekas kamarnya. Setidaknya Eunhyuk tidak memindahkan ranjangnya. Dia masih bisa menggunakan ranjang itu untuk tidur. Tapi dia tidak yakin tidurnya akan nyenyak.

Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Air matanya berlomba menyeruak keluar dari pelupuk matanya.

Ia tidak bisa marah. Bukan. Dia tidak bisa menunjukkan kemarahannya. Dia sudah tahu dari awal kalau Eunhyuk pernah menjalin hubungan dengan Hyerin. Ciuman itu sangat wajar.

Tapi menyadari fakta bahwa ada gadis lain yang pernah berkeliaran di otak pria itu. Bahwa bukan hanya dirinya yang pernah menduduki hati pria itu. Rasanya seperti diterbangkan ke langit, lalu dihempaskan begitu saja. Sakit. Sakit sekali. Sampai ia tidak bisa mendeskripsikan rasa sakit itu.

Jisoon meraih ponselnya. Menghubungi Kyuhyun. Satu-satunya orang yang bisa menolongnya. Ia tidak bisa mengurung perasaannya sendirian. Pria itu. Walaupun kadang membuatnya kesal. Tapi satu-satunya sahabatnya di dunia ini hanya pria itu. Cho Kyuhyun.

“Kau dimana? Aku sudah di seoul. Dan aku sudah tahu alasan kenapa kau menyuruhku pulang. Kakek sudah memberitahuku semuanya,” ujar Jisoon sambil terisak. Tangannya bergetar menahan ponselnya agar tetap menempel di telinganya.

“Eunhyuk menelpon sedari tadi. Aku sengaja mengabaikannya. Aku tidak ingin bicara dengannya. Dia melukai hati sahabatku.”

Jisoon tersenyum ketika mendengar kata sahabat keluar dari bibir Kyuhyun. Setidaknya bukan hanya dirinya yang menganggap Kyuhyun sahabat, tapi Kyuhyun juga sebaliknya. Sebenarnya hubungannya lebih dari sahabat. Jisoon sudah menganggap Kyuhyun sebagai saudara laki-lakinya.

“Aku ingin kesana menemanimu. Tapi aku tidak bisa. Jihyun dirawat di rumah sakit. Aku harus menjaganya.”

“Ah! Apa aku menganggumu? Mianhe.”

Gwenchana… Jihyun sudah tertidur. Kau bisa menceritakan apa yang kau rasakan sekarang. Aku siap mendengarmu.”

“Aku tidak tahu harus bagaimana? Aku rasanya tidak berhak marah. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Aku hanya… aku…” Jisoon tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi. Volume air matanya semakin bertambah. Isakannya cukup jelas terdengar di telinga Kyuhyun.

“Kita tidak bisa menyalahkan Eunhyuk hyung—“

“Lalu kita menyalahkan Park Hyerin? Ini bukan salah siapa-siapa. Semuanya berasal dari perjodohan bodoh ini. Semuanya berasal dari kakek yang menjodohkan cucu-cucunya dengan anak yang dia adopsi di panti asuhan. Semuanya sudah salah dari awal,” potong Jisoon.

“Kau tahu… Inilah kehidupanmu. Kau tidak boleh menyalahkan apa yang sudah terjadi. Kehidupan tidak akan indah jika jalanan yang kau lalui terasa nyaman. Kehidupan akan terasa berarti ketika kau melalui jalanan yang berbatu. Kau akan tahu betapa kerasnya hidup ini.”

Jisoon terdiam memikirkan ucapan Kyuhyun.

“Satu pesanku. Pertahankan apa yang sebenarnya milikmu.”

***

Dongwoon meminum secangkir teh yang barusan dibawakan oleh pelayan Park Taewoo. Pagi sekali Son Dongwoon datang ke kediaman Park Taewoo dengan maksud untuk melancarkan aksinya untuk mengambil alih PL Group.

“Mendengar masalah yang terjadi pada PL Group saat ini, aku ingin menawarkan diri untuk membantu perusahaan kakek.”

Taewoo menatap Dongwoon menilai dan menimbang-nimbang tawaran pria itu. Ia memikirkan dampak negatif dan positifnya dari masuknya Dongwoon ke dalam perusahaan itu.

“Aku setuju dengan pendapatmu tapi ada satu hal….”

“Apa itu?” potong Dongwoon, “Aku berpengalaman dalam bidang ini. Aku bisa mengurus perusahaan ayah angkatku sehingga menjadi seperti sekarang ini. Jadi apa lagi yang anda ragukan?”

“Bukan begitu maksudku. Kakek setuju dengan pendapatmu. Tapi saat ini Lee Hyuk Jae lah yang berhak menyetujuinya. Dialah direktur resmi PL Group.”

Dongwoon menghembuskan nafasnya dengan keras. Rencananya gagal. Sekeras apapun ia mempengaruhi kakek, pemegang kendali sesungguhnya adalah Lee Hyuk Jae. Dan pria itu tentu saja tidak akan menerima kehadiran Dongwoon di PL Group.

***

Eunhyuk memasuki kafe itu dengan langkah gamang. Dia sebenarnya tak ingin mengunjungi kafe tempat Hyerin bekerja. Tapi ia tetap harus meluruskan masalah mereka. Dia tak ingin membuat semuanya semakin larut.

Ia melihat Hyerin sedang melayani pelanggannya yang sedang memesan kopi di kasir. Eunhyuk menarik kursi dan mendudukinya sambil menunggu Hyerin menghampirinya.

“Ada yang ingin ku sampaikan padamu,” ujar Eunhyuk begitu Hyerin menghampirinya dan duduk di hadapannya, “masalah berita itu. Apa kau yang menyebarnya?”

Hyerin menggeleng pelan. Guratan tak percaya menyirat di matanya. Bisa-bisanya orang yang dia cintai itu menuduhnya seperti itu. Gadis itu memalingkan wajahnya memerhatikan pemandangan di luar kafe. Menghindari tatapan tajam Eunhyuk.

“Lalu siapa lagi yang melakukan itu?”

“Aku tidak tahu. Jangan menuduhku sembarangan!”

“Aku tidak menuduhmu, nuna. Aku hanya mencurigaimu.”

“Sama saja. Ada apa denganmu, Lee Hyuk Jae? Kau sudah berubah. Aku merasa kau begitu membenciku saat ini. Aku tidak mengerti apa salahku. Apa aku tidak boleh mencintaimu?”

Hyerin menyeka air mata yang mulai mengalir dari pelupuk matanya. Pandangannya mulai kabur akibat genangan air matanya sendiri.

“Bukan begitu maksudku, nuna. Hanya saja—“

Hyerin menarik tangan Eunhyuk dan menggenggamnya dengan erat. Matanya menatap mata Eunhyuk seolah-olah memohon pada pria itu.

“Aku mencintaimu. Apa kau tidak bisa kembali padaku? Bukannya kau bilang, kalau kau mencintaiku. Kenapa sekarang kau seperti ini? Kenapa kau meninggalkanku?”

“Aku minta maaf, nuna. Aku tahu aku salah. Aku memang mencintaimu dulu. Tapi itu sebagai kakak perempuanku. Aku lebih mencintai, Park Jisoon.”

Hyerin tak ingin lagi mendengarkan ucapan Eunhyuk selanjutnya. Ia melangkahkan kaki meninggalkan Eunhyuk. Meninggalkan kenangan masa lalunya. Walaupun sebenarnya ia tidak ingin menyerah begitu saja.

***

Lee Hyuk Jae baru saja tiba di rumah. Ia melihat dalam rumahnya gelap gulita. Tak satupun penerang dalam rumah itu yang menyalah. Eunhyuk mendesah pelan dan melangkah dengan malas.

Sepulang dari kantor Eunhyuk hanya mendapati ruang tengah rumahnya kosong melompong. Semenjak kejadian kemarin, Jisoon hanya mengurung diri di dalam kamarnya.

Sejenak Eunhyuk mengintip ke arah dapur karena ia mendengar suara berisik. Ia melihat Jisoon sedang meminum sesuatu dari lemari. Matanya menyipit untuk melihat dengan jelas apa yang diminum oleh Park Jisoon.

Seketika Eunhyuk membulatkan matanya ketika dia bisa dengan jelas melihat apa yang dipegang gadis itu. Gadis itu meminum wine yang tempo hari Kyuhyun perlihatkan pada Eunhyuk.

“Yak! Park Jisoon! Apa yang kau minum?”

Terlambat! Gadis itu telah meminum 2 botol wine milik Kyuhyun. Dan di tangan gadis itu adalah botol ketiga.

“Bukan urusanmu!”

Eunhyuk merebut botol wine itu dari tangan gadis itu.

“Kenapa kau melarangku meminumnya? sedangkan aku tidak melarangmu untuk mencium Hyerin.”

Eunhyuk terdiam. Menyesali perbuatannya.

“Dasar pria brengsek!” Jisoon memukul-mukulkan tangannya pada dada pria itu. Ia meluapkan seluruh kekesalannya bersamaan dengan tangisnya. Dia tidak tahu sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan semenjak mengenal Eunhyuk.

“Sadarlah, Soonnie-ya.

“Aku juga bisa menciummu kalau kau mau. Kenapa justru orang lain yang kau cium? Aku membencimu, Lee Hyuk Jae!” Jisoon menarik kerah baju pria itu untuk menciumnya. Bibirnya menekan bibir Eunhyuk dengan penuh emosi. Tangannya meremas bahu pria itu.

Pikirannya kosong. Dia tidak tahu apa yang dia pikirkan, yang jelasnya dia begitu menginginkan Eunhyuk secara lebih.

“Baiklah kalau itu maumu, Lee Jisoon.”

Tanpa aba-aba, Eunhyuk mengangkat kedua kaki Jisoon menjauh dari lantai dan melingkarkannya di pinggulnya. Dia mengendong gadis itu, membawanya ke arah ke kamar mereka. Bibirnya mulai menguasai bibir Jisoon. Tanpa membiarkan gadis itu berbicara sedikit pun.

Semuanya terlalu cepat. Eunhyuk tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Malam ini gadis itu akan menjadi miliknya. Sesegera mungkin.

TO BE CONTINUED

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Annisa
    Nov 29, 2014 @ 08:40:55

    Omo omo… Semoga masalah nya cepet selesai aminnnn…

    Reply

  2. Ira
    Nov 29, 2014 @ 14:09:04

    Wow, masalah besar dateng.. Ngga nyangka dongwoon tetep nglakuin rencananya.. Semoga masalah cepet selesai..
    And, semoga juga setelah malam ‘itu’ jisoon sama hyuk bisa berjuang bersama.. Fighting!!!

    Reply

  3. entik
    Dec 04, 2014 @ 21:53:54

    Mudah mudahn maslh nya bisa di lewati dengan mudah.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: