Wedding Contract [13/?]

wedding-contract-by-princess-pink

 

Nama: Stiva Yulianti Azhar

Judul : Wedding Contract

Genre: Romance, Comedy, Family

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Note: Maklum yah kalau ceritanya gaje plus banyak typonya. Hihihi visit http://allrisepink.wordpress.com

I will put everything at risk
I will protect you no matter what hardships come
I can’t see anything else but you
Last Romeo – Infinite

Author’s pov

Jisoon membuka matanya perlahan dan mengerjap. Mendadak rasa nyeri yang berdenyut-denyut menyerang bagian pahanya. Gadis itu menurunkan pandangannya dan terkejut ketika melihat sebuah lengan memeluk pinggangnya dengan erat. Ingatan tentang kejadian semalam tiba-tiba memenuhi otaknya. Percintaan mereka terus berlanjut tanpa henti sampai gadis itu benar-benar tidak sanggup lagi melanjutkannya.

Astaga… Mereka benar-benar melakukannya semalam.

“Astaga….” Jisoon mendesah mengingat semua kejadian semalam. Membuat Eunhyuk tersadar dari tidur singkatnya karena baru pukul 5 pagi ia bisa tertidur. Ini semua akibat permainan hebat mereka semalam yang tanpa henti. Eunhyuk terkekeh sendiri mengingat apa yang mereka lakukan semalam.

“Jangan berteriak lagi, Lee Jisoon! Aku ingin tidur sejam lagi sebelum ke kantor.”

“Kepalaku rasanya sakit. Aku masih tidak mempercayai kejadian semalam.”

“Kau yang memaksaku gadis manis. Ah bukan! Kau bukan seorang gadis lagi sekarang,” Eunhyuk terkekeh lalu membalikkan tubuh Jisoon. Menempelkan dadanya dengan punggung gadis itu. Memeluknya lebih erat.

“Tutup mulutmu, Lee Hyuk Jae!”

“Aku bukan pria yang akan mengucapkan kata-kata yang manis setelah bercinta dengan istrinya. Tapi aku harus mengatakan ini sebelum kau menendangku keluar dari ranjang ini. Mengingat masalah kita….” Eunhyuk mengeratkan pelukannya dan mencium bahu istrinya dengan lembut.

“Aku mencintaimu, Park Jisoon. Sekarang dan seterusnya. Aku meminta padamu untuk tidak mengungkit masa laluku. Masalah foto itu terjadi sebelum kita seperti ini.”

Jisoon mengusap tangan Eunhyuk yang melingkar di perutnya.

“Aku hanya merasa kenapa masalah ini muncul di saat kita sudah seperti ini? Apa dari awal semuanya sudah salah?”

“Tidak ada yang salah… jangan pernah berpikir macam-macam! Mulai saat ini kau milikku, Soonnie-ya. Jangan pernah berpikiran untuk pergi dariku. Kau tahananku seumur hidup.”

***

“Bagaimana dengan keadaan perusahaan saat ini?” tanya Jisoon canggung ketika Eunhyuk berjalan masuk ke dalam ruang makan. Di atas meja sudah tersedia pancake madu buatan Jisoon.

Eunhyuk merapikan jasnya sebelum duduk di hadapan Jisoon. “Masih belum stabil. Aku sudah berusaha mencari investor baru dan mempertahankan yang lama. Tapi semakin hari keadaannya semakin memburuk.” Eunhyuk menatap Jisoon sejenak lalu tersenyum. “Kau tidak perlu khawatir. Ah! Apa ini buatanmu?”

“Kau meragukan kemampuanku?”

“Aku hanya takut keracunan.”

“Yak!” Jisoon melotot ke arah Eunhyuk dan dibalas dengan ketawa cekikikan dari suaminya.

“Aku akan membawanya ke kantor. Kurasa aku sudah terlambat.”

Chakkaman!” Jisoon menahan langkah Eunhyuk. Ia menarik kerah baju pria itu dan merapikan simpul dasinya. Gadis itu tersenyum melihat hasil karyanya.

Eunhyuk hampir kehabisan nafas ketika Jisoon melakukan itu padanya. Ini sudah kedua kalinya, tapi tetap saja efeknya tidak hilang. Kedua tangan gadis itu seperti dialiri listrik yang berhasil membuat sebuah sengatan menyerang dirinya. Dan ia yakin efek itu tidak akan hilang dalam jangka waktu yang lama.

***

Jisoon’s pov

 

Setelah Lee Hyuk Jae berangkat ke kantor, aku segera menghubungi Kyuhyun. Ia harus tahu apa yang telah terjadi saat ini. Dan dia tentunya berhubungan dengan masalah yang terjadi ketika aku pulang dari Beijing.

“Jadi bagaimana masalahmu dengan Eunhyuk hyung?”

“Kami berdua sudah membicarakannya baik-baik dan tidak ada salah paham lagi sekarang,” jelasku pada Kyuhyun ketika berbicara di telepon dengannya. Aku sengaja tidak menjelaskan secara mendetail bagaimana aku bisa gencatan senjata dengan Eunhyuk. Hal ini akan membuatku malu dan tentu saja ini bukan info yang layak Kyuhyun ketahui.

“Baguslah kalau seperti itu. Maaf kalau aku tidak bisa berada di sana. Kau tahu, Jihyun sedang sakit.”

“Ah sampaikan salamku dengan Jihyun. Beritahu dia kalau aku minta maaf tidak bisa menjenguknya.”

Gwenchana. Dia sudah baikan sekarang.”

“Syukurlah.”

“Ah! Sebenarnya aku ingin memberitahukan sesuatu. Tapi—“ Kyuhyun menggantungkan ucapannya. Dia terdengar ragu untuk melanjutkan kalimatnya yang terpotong.

“Tapi apa, Cho Kyuhyun?”

“Aku tidak ingin merusak moodmu.”

“Aku serius Cho Kyuhyun. Cepat jelaskan apa yang terjadi!”

Tidak ada jawaban dari seberang sana. Kyuhyun terdiam sejenak. Pria itu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengeluarkan suara.

“Apa kau sudah tahu berita di internet pagi ini?”

“Berita apa? Jangan membuatku penasaran, Cho Kyuhyun!”

***

Eunhyuk’s pov

Aku masuk ke dalam kantorku dengan bahagia. Tapi kebahagiaanku lenyap begitu saja ketika Song Qian menghampiriku dengan raut wajah cemas dan ketakutan.

“Tuan Lee, di dalam ada Tuan Park.”

Mworago?” Aku membelalakkan mataku tak percaya. Kalau kakek datang di perusahaan ini berarti masalah berat sedang terjadi. Dan ini tidak main-main lagi. Dengan panik aku memasuki ruanganku dan terkejut melihat kakek yang duduk di sofa sambil menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan.

Aku membungkuk sopan ke arah kakek lalu menundukkan kepalaku, tidak berani menatapnya.

“Apa kau ingin membicarakan masalah ini disini atau di tempat lain?” tanya kakek langsung ke pokok permasalahan yang ingin ia bahas padaku.

“Aku melihat berita itu tadi pagi. Sepertinya kita harus membahasnya di tempat lain. Aku tidak ingin orang-orang di kantor ini mendengar apa yang kita bahas,” lanjut kakek, “dan panggil cucuku juga untuk ikut dalam pembicaraan kita.”

Aku mendongakkan kepalaku terkejut. Jisoon? Ada masalah apa kakek ingin memanggil Jisoon? Berarti hal ini bukan masalah perusahaan. Apa mungkin masalah ini adalah tentang hubunganku dengan Jisoon?

***

Author’s pov

Jisoon merasa kepalanya berdenyut setelah membaca berita di internet. Dan berita itu berhasil merusak mood-nya seperti apa yang dikatakan Kyuhyun tadi. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di layar iPadnya.

Dia sedang membaca berita di internet yang memberitakan dirinya sedang selingkuh dengan suami sepupunya sendiri. Dan itu dibuktikan dengan foto-fotonya yang sedang memasuki sebuah hotel bersama Kim Kibum.

Picik sekali! Bisa-bisanya orang yang menyebar info yang sudah lama ini. Dan siapa yang kurang kerjaan mengambil gambar mereka dan memberitakan hal yang bertolak belakang dengan fakta yang terjadi. Jisoon ingat sekali kejadian di foto itu. Saat itu Kibum membantunya membuat kejutan untuk Eunhyuk di hari ulang tahunnya.

Deringan ponsel Jisoon mengalihkan perhatiannya. Firasat buruk seakan menyerangnya ketika ia melihat nama Eunhyuk di layar ponselnya.

Jisoon menimbang-nimbang untuk mengangkatnya. Apa Eunhyuk sudah mengetahui berita itu?

Yeoboseyo,” sapa Jisoon ragu-ragu.

“Kau dimana? Kakek ingin bicara dengan kita. Dia memintamu untuk ke rumahnya sekarang. Kita bertemu disana.”

Jisoon mematikan sambungan teleponnya tanpa menyetujui apa ia akan pergi ke rumah kakek atau tidak. Mendadak seluruh isi perutnya terguncang hendak keluar.

Masalah apa lagi ini? Kakek tiba-tiba ingin membicarakan hal penting dengannya. Apa kakek juga sudah tahu masalah ini?

***

Eunhyuk’s pov

Aku dan Jisoon saat ini tengah berada di rumah kakek. Kami memutuskan untuk membahas masalah yang kakek ingin bicarakan di rumahnya. Suasana diliputi ketegangan. Jisoon meremas lenganku dengan kuat saking gugupnya.

“Apa kalian sudah melihat berita di Internet?”

Jisoon langsung membuang muka ketika kakek mulai bersuara. Aku menatapnya dengan curiga. Begitu pun dengan kakek.

“Kau sudah melihatnya, Jisoon-ah?” tanya kakek lagi.

“Berita apa? Aku tidak tahu apa-apa!” bantah Jisoon. Tingkahnya semakin aneh. Jangan-jangan berita di internet yang dimaksud kakek ada sangkut pautnya dengan dirinya.

Kakek menyodorkan sebuah iPad ke wajah Jisoon dengan kasar. Aku berusaha melihat apa yang ada di dalam iPad itu.

“Tidak usah berpura-pura di hadapan kakek! Kakek sudah tahu semuanya.”

Aku meraih iPad kakek tadi. Dan terkejut melihat isinya. Di iPad itu terpampang dengan jelas foto Jisoon bersama Kibum memasuki sebuah hotel. Aku rasanya mengetahui suasana foto itu. Bukankah foto ini di ambil ketika hari ulang tahunku?

“Ini hanya salah paham. Aku bisa menjelaskan—“

Plak! Sebuah tamparan melayang di pipiku. Kakek baru saja menampar pipiku. Aku memegang pipiku bekas tamparannya. Rasanya perih. Tapi itu tidak seberapa dengan sakitnya hatiku. Ini pertama kalinya seseorang menamparku. Rasanya seperti lebih sakit daripada di caci maki.

“Apalagi yang perlu kau jelaskan? Semuanya sudah jelas. Kau berselingkuh dan cucuku bermain api dengan iparnya sendiri. Aku sudah tahu permainan kalian semua. Dari awal kakek sudah tahu kalau kalian hanya berpura-pura. Malam ketika aku mendapati kalian di hotel, kakek tahu kalau tidak terjadi apa-apa pada kalian.”

“Bagaimana bisa kakek mengetahuinya?” tanya Jisoon kaget. Sama kagetnya dengan diriku.

“Di kamar yang kalian tempati itu adalah kamar khusus. Mereka memasang CCTV. Dan kakek melihat semuanya. Tidak terjadi apa-apa malam itu. Tapi kau membohongi kakek dengan mengatakan kalau kalian telah berbuat sesuatu. Kakek hanya diam, mengikuti alur permainan cucuku sendiri.”

Aku dan Jisoon hanya terdiam. Kami kehabisan kata-kata untuk menjelaskan semuanya pada kakek. Walaupun kami menjelaskannya, kakek pasti tidak percaya lagi pada kami.

Semua yang dikatakan kakek memang benar. Tapi kondisinya sekarang sudah berbeda. Perasaan kami tidak seperti dulu lagi.

Harabeoji, Aku minta maaf atas semua kebohonganku. Tapi situasinya saat ini berbeda. Aku dan Eunhyuk tidak seperti dulu lagi. Kami sudah seperti pasangan suami-istri yang sebenarnya,” ujar Jisoon berusaha menjelaskan semuanya pada kakek.

“Eunhyuk? Kau bahkan tidak memanggil suamimu dengan sebutan formal. Kau tidak menghormatinya. Itu artinya ini semua hanya skenariomu, Park Jisoon.”

“Apa itu penting? Aku terbiasa memanggilnya seperti itu, kakek!”

Kakek bangkit dari duduknya dengan bantuan tongkatnya. Tubuhnya sedikit berguncang tapi untung saja aku bisa menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. “Kakek tidak peduli semua ucapanmu, Park Jisoon. Kakek tinggal menunggu surat perceraian kalian.”

“Bercerai? Apa kakek gila? Kakek! Kakek! Kita belum selesai bicara.” Jisoon berusaha mengejar kakek yang sudah berjalan masuk ke kamarnya. Tapi aku menahannya. Aku menghindari agar Jisoon tidak membuat kakeknya pingsan lagi seperti dulu.

“Biarkan kakek menenangkan pikirannya dulu. Lalu kita akan menjelaskan lagi padanya.”

Jisoon menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menyembunyikan isakannya. Aku menarik kepalanya untuk bersandar di bahuku. Tanganku mengusap rambutnya dengan gerakan menenangkan.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan… Aku hanya… aku hanya tidak ingin berpisah denganmu, Lee Hyuk Jae.”

Aku sedikit tercengang mendengar ucapan Jisoon. Aku yakin ucapannya keluar begitu saja tanpa ia sadari. Ia bukanlah tipe gadis yang blak-blakan.

Aku tersenyum dalam hatiku. Dari situlah aku tahu, betapa gadis ini mencintaiku.

***

Jisoon’s pov

Rasanya semua masalah berlomba-lomba menyerangku. Seperti bom yang hanya dengan satu ledakan bisa menghancurkan semuanya. Seperti nuklir yang hanya dengan sekali ledakan menimbulkan efek dahsyat yang meluluhlantahkan separuh dari bumi ini.

Begitulah masalah ini bermula. Hanya dengan sebuah foto bisa menghancurkan segalanya. Menghancurkan hubunganku dengan Eunhyuk, Kibum oppa, dan terutama kakek.

Aku menyandarkan kepalaku di kaca jendela mobil Eunhyuk. Pria itu hanya duduk di jok pengemudi sambil fokus pada jalan raya di hadapannya.

Pergulatan di otakku terus berlanjut sampai pada akhirnya kami tiba di depan rumah. Kami berdua terdiam. Tak ada yang sama sekali hendak turun dari mobil ini lebih dulu.

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

Aku menoleh ketika Eunhyuk mengeluarkan suara. Mendadak suasana di dalam mobil berubah. Menjadi dingin dan tidak senyaman tadi.

“Apa kau masih….” Eunhyuk tidak melanjutkan ucapannya. Ia tampak ragu-ragu.

“Apa?”

“Aku kau masih menyukai Kibum?”

“Hah?” Aku tertohok. Pertanyaan macam apa ini? Setelah semua yang terjadi di antara kita, apa dia masih mempertanyakan hal itu?

“Aku sudah tidak menyukainya lagi. Ada apa denganmu? Kenapa kau bisa terpikirkan pertanyaan seperti itu?”

“Ah! Lupakan saja!” Eunhyuk dengan cepat turun dari mobil. Tanpa memperdulikanku yang masih bingung dengan pertanyaannya barusan.

“Yak! Kau belum menjawab pertanyaanku! Aish!”

Aku pun turun dari mobil. Mengikutinya masuk ke dalam rumah. Tapi langkahku terhenti begitu melihat sosok seorang gadis yang berdiri di depan rumah kami.

Park Hyerin. Mau apa lagi dia kesini?

“Lee Hyuk Jae. Kumohon… Aku masih mencintaimu. Kau pun pasti begitu. Kau pernah bilang kalau kau tidak akan meninggalkanku.”

Aku membeku di tempatku. Tubuhku kaku tak dapat bergerak. Aku takut kalau yang terjadi Eunhyuk malah menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan mengatakan kalau ia masih mencintainya.

Aku harus menyiapkan diriku kalau saja hal itu benar terjadi.

“Maaf nuna. Semuanya sudah berubah. Aku hanya menganggapmu sebagai kakakku. Tidak lebih—“

“Apa karena gadis itu?” tunjuk Hyerin padaku. “Kau membuangku begitu saja hanya karena gadis yang berselingkuh dengan suami sepupunya sendiri? Aku melihat berita itu di koran.”

Ani… Kejadian waktu itu… Aku ada disana. Mereka yang mengambil foto itu salah paham,” jelas Eunhyuk. Aku mengangguk ketika Hyerin menatap ke arahku dengan tatapan penuh kebencian.

“Lee Hyuk Jae bukankah kau pernah bilang kalau kau akan menceraikan gadis itu dan pergi bersamaku. Membangun kehidupan kita yang baru. Tapi kenapa kau justru meninggalkanku seperti ini?”

Hyerin memajukan tubuhnya. Tangannya menyentuh pipi Eunhyuk dan ia menariknya secara perlahan-lahan. Aku mendekati mereka. Dan dengan kasar menepis tangan gadis itu dari pipi Eunhyuk. Tanpa berpikir panjang, aku menampar pipi gadis itu.

“Jauhkan tanganmu dari suamiku, Park Hyerin-ssi.

“Cepat pergi dari rumah kami atau aku bisa melakukan yang lebih kasar dari ini!” ancamku pada nuna kesayangan Eunhyuk itu. Eerrr… melihat wajahnya saja membuatku tidak tahan.

“Baiklah kalau itu maumu, Park Jisoon. Aku akan pergi. Dan kau akan menunggu kado spesialku untuk kalian.”

“Aku dengan senang hati menunggunya Park Hyerin-ssi. Ah! Dan satu hal yang perlu kau ingat….” Aku menatapnya dengan tatapan mengejek.

“Namaku bukan Park Jisoon lagi. Tapi namaku adalah Lee Jisoon. Arasseo?

***

Author’s pov

Taewoo meraih gagang telepon yang bertengger di kamarnya lalu menghubungi seseorang. Beberapa lama ia menunggu sambungan telepon sampai terhubung dengan orang yang hendak dihubunginya.

Yeboseoyo. Apa ini dengan Son Dongwoon?”

Ne, saya sendiri.”

“Ini Tuan Park. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu dan aku butuh bantuanmu.”

“Ada apa, kakek?”

“Mengenai tawaranmu kemarin… Aku sudah memikirkannya. Aku meminta bantuanmu untuk memperbaiki PL Group.”

“Aku bisa membantu kakek. Selama ini kakek sudah baik padaku.”

Taewoo terdiam sejenak. Memikirkan rencana yang telah ia susun beberapa menit yang lalu.

“Baiklah… aku akan menghubungimu lagi nanti mengenai apa yang kita lakukan selanjutnya.”

***

Jisoon’s Pov

Udara malam ini sangat dingin. Dinginnya menusuk hingga ke tulang rusukku. Hembusan angin di balkon membelai wajahku dengan lembut. Rasanya udara malam ini cukup membuat hatiku sedikit tenang.

“Kau tidak tidur?”

Aku menoleh ketika mendengar suara Eunhyuk di belakang ku.

“Aku belum mengantuk.”

Eunhyuk mendekatiku dan ikut menikmati suasana tenang malam ini. Yah setidaknya suasana malam ini cukup mengurangi tekanan yang terjadi pada malam-malam berat sebelumnya.

“Aku jadi mengingat ketika pertama kali kita pindah ke rumah ini. Kita bertengkar hanya karena rebutan balkon yang kami tempati. Dan sekarang kita bisa membaginya bersama.”

Aku tertawa pelan mengingat kejadian waktu itu. Memang benar-benar konyol. Balkon ini sekarang jadi milik kami berdua.

“Kemarilah….” Eunhyuk menarik tanganku dan memposisikan diriku dalam pelukannya. Dadanya menyentuh punggungku. Membuatku dapat merasakan detakan jantungnya menyentak punggungku. Tangannya melingkar di perutku dengan erat. Sedangkan dagunya bertengger di bahuku.

Aku suka ketika ia memelukku dari belakang seperti ini. Aku pernah membaca buku yang mengatakan ketika seseorang memelukmu dari belakang, itu artinya ia selalu ingin melindungimu. Dan arti lain yang membuatku cukup tercengang, orang yang memelukmu ingin kau juga melihat masa depannya dan mengajakmu bersama-sama untuk meraih masa depan itu.

Aku tidak tahu apakah Eunhyuk sadar melakukan hal itu.

Aku memejamkan mataku menikmati kehangatan tubuhnya. Seakan aku tidak bisa menikmatinya lagi esokan hari. Seakan Ia hanya melakukan hal ini sekali dalam seumur hidupnya.

“Jadi bagaimana dengan masalah kakek? Dan perusahaan—“

“Jangan bahas mengenai hal itu dulu. Aku ingin menikmati waktu kebersamaan kita.”

Hm. Baiklah. Sepertinya memang aku harus menikmatinya. Sebelum kami tidak dapat lagi merasakan momen-momen seperti ini.

Pipiku rasanya semakin panas. Seluruh darahku berkumpul di area wajahku dan aku tidak bisa menebak semerah apa sekarang rupaku. Jantungku semakin berdetak tidak karuan. Kalau posisinya seperti ini terus, aku bisa meleleh di tempat ini sekarang juga.

“Yak! Lee Hyuk Jae….”

“Hhm?”

“Apa kau sudah mandi? Tubuhmu bau sekali.”

“Aish! Lee Jisoon!” Eunhyuk melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhku. Sekarang kami berdiri sambil berhadapan. “Kau merusak suasana saja.”

Aku tertawa. “Aku hanya bercanda.”

Aku memeluk Eunhyuk dengan erat. Kepalaku terbenam dalam dadanya. Aku semakin mendengar dengan jelas detakan jantungnya yang berdetak dengan keras. Mungkin sama dengan suara debaran jantungku saat ini juga.

“Aku ingin terus memelukmu. Seakan malam ini adalah malam terakhir aku bisa memelukmu dengan puas.”

“Bukankah tubuhku bau?”

“Aish! Aku serius!” Aku mencubit pinggangnya dengan gemas.

Eunhyuk terkekeh. Kemudian tangannya mengusap rambutku dengan lembut. Tangannya seperti menghasilkan kalor yang hanya aku yang dapat merasakannya. Seperti sebuah kehangatan pribadi yang orang lain tidak dapat merasakannya.

“Jangan berkata seperti itu. Ada jutaan malam lagi yang harus kita habiskan bersama.”

Eunhyuk menarik tengkukku. Memberikan kecupan-kecupan ringan di bibirku. Tangannya mengusap punggungku naik turun. Menarik tubuhku agar semakin mendekat ke arahnya. Ciumannya pun berubah sedikit lebih dalam. Ia menekan bibirku dengan bibirnya.

Aku sudah bisa menebak. Sepertinya kejadian malam kemarin akan terulang lagi.

***

“Yak! Lee Hyuk Jae! Bangun!” Aku menyibakkan selimutnya dan melemparnya ke lantai. Tangannya ku tarik agar ia segera terbangun dari tidurnya.

“Jadi Jisoon monster sudah kembali, hm?” ujarnya sambil bangkit dari tempat tidur.

“Oh anda kurang beruntung, Tuan Lee. Jisoon yang semalam sudah pergi. Kini Jisoon yang dulu sudah kembali.”

“Sayangnya aku menyukaimu apa adanya, Nyonya Lee. Jadi, apa itu bisa dibilang kurang beruntung?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Eunhyuk dan langsung melemparkan handuk ke wajahnya. “Cepat mandi! Atau kau ingin ku mandikan, hah?” ujarku dengan nada yang sedikit menggoda.

“Kurasa opsi yang kedua patut dicoba.”

“Simpan itu dalam mimpimu, Tuan Lee. Cepat mandi! Dalam waktu 5 menit kau sudah ada di bawah.” Aku berjalan ke arah pintu. Mengabaikannya yang tak kunjung beranjak dari tempatnya. “Aku tidak menerima bantahan!”

***

“Yah… Apa aku tidak mendapat sebuah ciuman selamat pagi?” rengek Eunhyuk sambil menunjuk bibirnya dengan manja. Aku mendorong tubuhnya sampai ke pintu rumah dan membukakannya pintu.

“Tidak! Tidak! Kau sudah mendapat lebih dari ciuman semalam. Jadi sekarang kau harus ke kantor. Bereskan masalah perusahaan kakek, arasseo?

“Hanya sebentar saja, Soonnie-ya,” rengeknya tanpa menyerah. Aish! Kenapa dia jadi manja dan menjijikkan seperti ini?

“Yak! Aku akan menendangmu keluar, Lee Hyuk Jae!”

Aigoo, Jiwa monstermu benar-benar sudah kembali. Kalau begitu aku pergi dulu.”

Aku melihatnya berjalan dengan langkah gontai menggapai gagang pintu. Kasihan juga melihatnya seperti itu. Aku pun mendekatinya, dan menepuk punggungnya.

chakkaman!” Aku memajukan tubuhku untuk mengecup bibirnya sejenak. Dia pun terkesiap dan tersenyum penuh kemenangan.

Fighting, Lee Hyuk Jae!”

“Sekarang pergilah. Aku tidak ingin kakek menganggap rendah dirimu. Kau harus menunjukkan pada kakek, kalau kau pantas untukku.”

Aku memajukan tubuhku sekali lagi dan mengecup bibirnya. Kali ini sedikit lama, karena ia menarikku dalam pelukannya. Tubuhku hampir terhuyung begitu ia melepaskan ciumannya. Untuk saja ia dapat menahan tubuhku.

“Aku pergi dulu,” ujarnya sambil mengacak-acak rambutku.

Aku menutup pintu rumah begitu ia keluar. Pipiku rasanya memanas kembali. Astaga, aku tidak bisa membayangkan diriku yang seperti itu dengannya. Padahal dulu kami seperti anjing dan kucing yang tidak pernah berhenti bertengkar. Sama-sama mempertahankan ego masing-masing.

Baru saja aku ingin naik ke lantai dua. Dimana kamarku dan Eunhyuk berada, tapi tiba-tiba saja bel rumah berbunyi. Pasti Eunhyuk lagi yang belum pergi ke kantornya. Aku berlari kecil ke arah pintu dan membukanya dengan kesal.

“Ada apa— YAK!”

Aku tidak sempat melihat siapa yang ada di balik pintu. Tiba-tiba ia menutup mataku dengan sebuah kain hitam dan membekap mulutku. Aku menghirup aroma dari sebuah kain yang ku tebak adalah sebuah sapu tangan. Rasanya menenangkan dan kepalaku terasa ringan. Detik berikutinya aku sudah tidak merasakan apa-apa dan kesadaranku hilang.

***

Author’s pov

Suara deringan telepon menganggu konsentrasi Dongwoon yang sedang memeriksa beberapa dokumen perusahaannya. Ia mengangkat telepon itu dengan cepat.

“Aku sudah mengamankannya.” Dongwoon tersenyum begitu mendengar kalimat itu dari lawan bicaranya di telepon. Itu artinya rencananya berhasil. Sekarang saatnnya untuk dia melaksanakan rencana selanjutnya. Dan ini adalah bagiannya untuk menjalankan rencananya itu.

“Bagus. Aku akan mengirimkan bayaranmu di rekeningmu.”

“Hubungi aku saja jika kau butuh bantuan.”

“Baiklah. Dan jangan menyentuh gadis itu tanpa aku perintahkan. Kalau kau menyentuhnya, Aku tidak akan tahu apa yang terjadi padamu.”

Dongwoon tidak memperdulikan ucapan suruhannya lagi. Ia segera memutuskan sambungan teleponnya dan beralih menghubungi seseorang.

“Kakek, aku sudah mengamankannya,” ujar Dongwoon begitu sambungan teleponnya tersambung.

“Baiklah. Jangan lakukan apapun dengan cucuku. Dan jangan bilang padanya kalau ini rencana kita.”

“Kakek tenang saja. Sekarang giliranku untuk mengurus Lee Hyuk Jae.”

Dongwoon mematikan sambungan teleponnya begitu kakek yang diteleponnya mengucapkan terima kasih. Semalam kakek menghubunginya untuk meminta bantuannya. Kakek meminta Dongwoon untuk membantunya memperbaiki PL Group yang kacau balau karena ketidakbecusan Eunhyuk. Dan pria itu bersedia membantu kakek.

Rencana kakek adalah memisahkan Jisoon dan Eunhyuk untuk sementara disaat Eunhyuk harus konsentrasi untuk memperbaiki perusahaan. Tapi rencana Dongwoon bertolak belakang dengan rencana kakek. Tentu saja, Ia akan memisahkan Jisoon dan Eunhyuk untuk selamanya.

***

Eunhyuk sedari tadi mengembangkan senyum menawannya. Guratan lengkungan bibirnya tidak pernah beranjak sedikitpun dari wajahnya. Ia terus membayangkan kejadian tadi pagi. Ketika Jisoon memberikannya ciuman selamat pagi untuknya. Begitu manis dan membuatnya tidak bisa melupakan hal itu.

Ia tidak pernah menyangkah hubungannya dengan Jisoon akan menjadi seperti ini. Mereka terjebak dengan rencana mereka sendiri. Hingga akhirnya membuat mereka tidak bisa terpisahkan satu sama lain.

Rentetan masalah yang mereka hadapi membuat mereka menjadi pasangan yang mungkin tidak terpisahkan. Eunhyuk selalu menginginkan kehadiran gadis itu. Dan tentu saja, Jisoon selalu membutuhkan Eunhyuk.

“Selamat pagi, Tuan Lee. Bagaimana harimu?” Suara itu menginterupsi lamunan Eunhyuk. Pria itu mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara yang familiar di telinganya. Suara yang sama sekali tidak ingin didengarnya.

“Siapa yang mengizinkanmu masuk kesini?” tanya Eunhyuk kesal. Bersamaan dengan itu, Song Qian masuk ke dalam ruangan kerjanya juga dengan terburu-buru.

“Maafkan aku sajangnim. Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi dia tetap menerobos masuk.”

Gwenchana. Kau boleh keluar.” Song qian pun keluar setelah membungkuk hormat pada Eunhyuk.

Tatapan Eunhyuk kembali beralih pada Dongwoon yang sudah duduk di hadapannya. Ia menatap pria itu dengan sengit. Seakan ada emosi yang terpendam dan tidak tersalurkan.

“Aku cuma ingin memberitahumu. Mulai hari ini, PL Group dipegang olehku. Kau bisa membaca surat ini.”

Dongwoon menyodorkan sebuah surat ke arah Eunhyuk. Surat itu berisi pemindahan kekuasaan PL Group yang ditandatangani oleh kakek.

“Kau bisa membacanya dengan jelas? Mulai hari ini, aku yang akan memegang kendali PL Group.”

Eunhyuk melemparkan surat itu dengan sembarangan. Dongwoon sedikit tersentak. Raut wajahnya terlihat marah. Tidak terima dengan apa yang dilakukan Eunhyuk barusan.

Dongwoon terkekeh, “Kurasa kau benar-benar tidak tahu diri. Tuan Park telah mengusirmu secara halus. Tapi kau masih saja duduk manis di kursi itu.”

Eunhyuk menatap Dongwoon dengan tajam. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya kini pergi entah kemana. Kini di wajahnya hanyalah amarah yang tidak bisa dia bendung lagi. Tatapan matanya seolah-olah mencabut nyawa lawan bicaranya secara tidak langsung.

“Baiklah… Aku tidak akan diusir begitu saja. Aku yang akan pergi dengan sendirinya.”

Eunhyuk menarik nafas dalam-dalam. Mungkin ini sudah akhir dari segala permainan yang ia buat dengan Jisoon. Segala lamunannya sebelum kedatangan Dongwoon hilang begitu saja. Terganti dengan gambaran-gambaran hidupnya yang akan datang ketika ia tidak lagi bersama gadis itu.

Ketika semuanya tidak bisa ia perjuangkan lagi, keputusan akhirnya yaitu pergi dengan sendirinya…

 

***

Suasana kediaman keluarga Park pada saat itu benar-benar mencekam. Kakek dengan tongkat di tangannya menatap Lee Hyuk Jae, cucu menantunya, dengan tatapan seakan ingin menelan pria itu hidup-hidup.

Lee Hyuk Jae saat itu langsung ke rumah kakek begitu Dongwoon mengatakan kalau PL Group kini di bawah kendalinya. Walaupun ia merasa tercederai kalau kakek menyetujuinya. Tapi ia tetap bersikukuh mempertahankan posisinya.

Setidaknya ia memperbaiki kesalahan yang ia perbuat, meski pada akhirnya ia akan melepaskan semuanya.

“Ada apa lagi?” tanya kakek membuka pembicaraan.

“Aku hanya ingin meminta satu kesempatan.”

“Kesempatan apa lagi?” nada suara kakek mulai meninggi. Namun Lee Hyuk Jae tetap menjaga sikapnya. Ia harus menghadapi kakek dengan kepala dingin.

“Kalau kakek tidak mempercayakan PL Group lagi padaku, berikan satu kesempatan untukku. Aku akan memperbaiki semua kerusakan yang telah ku perbuat. Setelah itu aku akan pergi. Aku tidak akan mencampuri mengenai perusahaan kakek lagi.”

Kakek terdiam sejenak. Memikirkan ucapan cucu menantunya barusan.

“Apa jaminannya kalau kau justru memperburuk keadaan PL Group?”

“Jaminan?” tanya Eunhyuk heran.

“Aku kurang yakin dengan ucapanmu. Kau tidak bisa seenaknya saja meninggalkan PL Group setelah kau membuatnya hancur. Aku ingin jaminan, agar aku bisa memberimu satu kesempatan.”

Eunhyuk tertunduk memikirkan jaminan apa yang akan dia berikan agar kakek percaya padanya.

“Apa kau mencintai cucuku?”

Nde?” Eunhyuk kembali bingung dengan ucapan kakek. Kenapa ia tiba-tiba menanyakan tentang Park Jisoon?

“Aku memang dulu tidak mencintainya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku merasa terbiasa dengan kehadirannya. Dan hal itu seperti candu bagiku. Aku merasa hampa ketika dirinya tidak ada,” ujar Eunhyuk dengan raut wajah meyakinkan. Ia berharap kakek bisa mempercayai ucapannya.

“Baiklah… Bagaimana kalau jaminannya, hubunganmu dengan cucuku? Kalau kau tidak bisa mengembalikan keadaan PL Group seperti dulu, maka kau harus menceraikan cucuku. Apa kau setuju?”

“Tapi—“

“Apa kau ragu?” tantang Tuan Park. “Saat ini aku menyembunyikan Jisoon di suatu tempat. Aku sengaja melakukannya agar kau bisa berkonsentrasi pada perusahaan.”

Eunhyuk kembali tertunduk. Merenungi kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Ia harus menerima tantangan dari kakek. Demi kehidupannya ke depannya. Demi rumah tangganya dengan gadis itu.

“Baiklah, aku terima.”

Tuan Park tersenyum miring, “Disinilah kita bisa melihat, sejauh mana kau mencintai cucuku.”

***

Author’s pov

Cabang PL Group di Tokyo, Japan – 7.30 AM

Kibum merasakan tangannya yang bergetar secara refleks ketika selesai membaca sebuah artikel yang baru saja diupdate di salah satu situs berita bisnis yang sering dibrowsingnya. Artikel itu memposting fotonya bersama Jisoon yang sedang berjalan masuk ke dalam sebuah hotel. Ia spontan berlari keluar ruang kerjanya untuk mencari sekretarisnya. Dia mendapati sekretarisnya sedang konsentrasi dengan layar monitor di hadapannya.

“Natsuki, pesankan aku tiket pesawat ke seoul sekarang. Aku ingin meluruskan masalah foto yang beredar di internet dan menjelaskan semuanya dengan Tuan Park,” pinta Kibum

“Tapi Tuan, Menurutku anda tidak perlu ke Seoul. Keadaan disini juga sedang tidak stabil. Apa yang terjadi di perusahaan pusat yang di Seoul sangat mempengaruhi anak perusahaan lainnya,” ujar Natsuki, sekretaris Kibum, berusaha menjelaskan keadaan saat ini.

“Aku mengerti. Tapi kalau aku menjelaskannya langsung pada kakek, mungkin dia bisa mengerti. Ini masalah rumah tangga sepupuku dan rumah tanggaku juga.”

“Anda bisa menghubungi Tuan Park melalui telepon.”

Kibum mengacak rambutnya kesal. Seluruh kekesalannya dia salurkan ke tangannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau ia menelepon kakek, kemungkinan besarnya kakek justru akan mengabaikannya.

Tapi apa yang bisa dilakukannya?

“Baiklah kalau begitu. Sekarang kau hubungi semua pegawai yang lain. Hari ini kita adakan rapat mendadak.”

“Baik tuan.”

***

Jisoon’s pov

Kepalaku terasa berat. Seperti habis tertimpa sebuah beban yang beratnya puluhan ton. Mataku masih terpejam, aku sama sekali tidak berani untuk membukanya. Tubuhku terduduk di sebuah kursi dengan kedua tanganku terikat.

Ingatanku terakhir kali yaitu ketika aku berada di rumahku dan setelah itu seseorang memencet bel, tiba-tiba pandanganku hilang. Aku menebak kalau orang itu pasti membiusku. Dan aku sekarang tidak tahu ia membawaku kemana.

“Apa dia belum sadarkan diri?” tanya seorang pria dengan suara beratnya. Ia mendekati wajahku untuk mengecek keadaanku. Aku hanya bisa berdoa dalam hatiku. Semoga pria itu adalah pria bodoh yang tidak bisa membedakan keadaan seseorang ketika sedang tidur atau tersadar. Aku merasakan nafas pria itu menerpa wajahku. Sialan. Aku mencium aroma tidak sedap yang keluar dari mulutnya.

“Jangan membodohiku!”

Aku tersentak ketika pria bau mulut itu menarik rambutku. Spontan mataku terbuka dan aku meringis kesakitan.

“Dia sudah sadarkan diri. Saatnya kita bersenang-senang dengan gadis ini.” Seorang pria bertubuh gelap mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya. Aku bisa menebak kalau dia itu pria yang bau mulut tadi. Apa yang ingin dilakukannya?

“Tuan anda dilarang untuk menyentuh gadis itu,” ujar pria lain yang tubuhnya sedikit lebih kecil dari pria bau mulut itu. Aku rasa pria itu adalah kaki tangannya.

“Tapi kita tidak dilarang untuk bermain-main dengannya,” balas pria bau mulut itu sambil memamerkan senyum miringnya.

“Apa mau kalian?” teriakku.

“Menurutmu apa lagi, gadis manis?” Pria bau mulut itu mencengkram lenganku dan memainkan pisaunya di sekitar wajahku. Aku terdiam berusaha tidak terlihat takut dengan tindakannya.Tampaknya hal ini berdampak padanya. Ia menarik pisaunya dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.

Aku sama sekali tidak mengerti dengan dua orang pria ini. Apa niatnya menculik dan menyekapku di apartemen mewah seperti ini? Biasanya orang-orang ketika menculik seseorang ia pasti menyembunyikannya di tempat terpencil. Bukan di apartemen mewah seperti tempatku sekarang.

“Dia tampaknya tidak takut denganmu, tuan.” Pria bertubuh kecil itu bersuara.

Pria bermulut bau itu tertawa mengejek. Ia mendekatkan wajahnya dan mengelus wajahku. Refleks aku menendang bagian bawah perutnya. Mungkin mengenai kelaminnya. Ia terlihat kesakitan namun sedetik kemudian geraman keluar dari mulutnya. Dia ingin menggoreskan pisaunya pada lenganku tapi sebuah suara perempuan menginterupsinya.

“Hentikan! Apa-apaan kalian ini? Kalian hanya disuruh untuk menjaganya.”

Aku mendongak mencari sumber suara itu. Dan aku menemukan seorang gadis yang tidak asing lagi wajahnya.

“Menyiksanya itu adalah bagianku,” lanjutnya.

Aku sedikit tercengang. Gadis itu adalah…

“Park Hyerin….”

TO BE CONTINUED

 

6 Comments (+add yours?)

  1. Annisa
    Dec 01, 2014 @ 16:57:43

    Duh hyerin ko jadi jahat? Aku ngerasa ini alurnya kaya kecepetan gitu deh thor.. Hehehe

    Reply

  2. frila
    Dec 01, 2014 @ 20:45:32

    aku selalu nunggu ff ini

    Reply

  3. Ira
    Dec 02, 2014 @ 08:29:08

    Wahh.. Gila ini jadi komplotan psikopat jangan2.. Haha
    Pasti nanti kakek bakal nyesel setelah tau rencana dongwoon,, semoga aja eunhyuk cepet2 ngeberesin masalah, cepet2 nylametin jisoon.. Fighting!!!

    Reply

  4. entik
    Dec 04, 2014 @ 22:22:02

    Wah wah makin runyam itu urusannya, hyerin makin jadi jahat.

    Aku tunggu kelanjutannya ya sist.

    Reply

  5. mayank
    Oct 08, 2015 @ 01:33:21

    Sist lanjutan x mana??

    Reply

  6. mayank
    Mar 06, 2016 @ 11:35:11

    Thor yg baik hati dan tidak sombong, kapan nih lanjutannya ?, dah penasaran banget gimna nasib jisoon di tangan hyerin n dongwoon, gimna juga kabarnya hyukkie😭

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: