Rainy and Rainbow

Rainy and Rainbow

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF /Riechanie Elf)

Cast :

  • Zhoumi Super Junior as Zhoumi
  • Cho Hyo Na (OC)

Rated : T

Genre : romance, sad…

Length : Oneshoot

Summary : “Ini hanya bercerita tentang takdir. Takdir yang di miliki hujan dan pelangi. Karena Tuhan tengah tak adil pada cinta mereka, dan berhentilah menyalahi mereka untuk itu.”

“Annyeong, jeoneun Rien-imnida. Pasti uda pada kenallah?! XD ehehehehe…^^ satu kebahagiaan dan kepuasan tersendiri untuk ku yang bisa menyelesaikannya dengan cepat! Dan, yeah~ kali ini maincastnya bersama Zhou oppa! >.< huuhuhuhuh, kuharap Nemo oppa ga jealous! XD ehehehe… akhir-akhir ini aku kepincut dengannya?! Huwa, ga terlalu tau kenapa?! Tapi, sejujurnya aku menyukai senyuman Zhou oppa! >.< hiyah~ okelah, dari pada banyak bacot ga penting! Cuz, langsung baca, ne!!! ^^v”

HAPPY READING!!!

ENJOY!!!

DON’T COPAS AND PLAGIAT!!!

DON’T LIKE DON’T READ!!!

—Rainy and Rainbow—

“Akan selalu begitu. Hujan yang tak akan mungkin bisa menyalahi kodratnya. Walau dia tengah di sakiti mendungnya, tetapi dia dengan bodohnya tetap bertahan. Dan, pelangi. Dia akan tetap selalu berada di posisinya. Pelangi yang akan memberikan senyum hangat pada hujannya. Dan, akan terus begitu. Tapi, bagaimana jika takdir berkata lain? Mampukah hujan menyalahi kodratnya dan begitupun dengan pelangi yang menyalahi kodratnya dari awal?”

—Enjoy this my story!!!—

Terlihat gadis itu melangkah malas di lorong kelasnya. Rambut sebahunya tampak dia biarkan tergerai menutupi bagian wajahnya yang bulat itu. Gadis itu memang sengaja melakukan hal itu, dia tengah menutupi matanya yang sembab dan membengkak. Menangis. Yah, hampir semalaman dia menangisi kesakitan hatinya. Dan, dampaknya adalah pada matanya yang tak mampu menyembunyikan kesedihannya itu.

Tuk. Tuk. Tuk.

Di lorong kelas yang masih terlihat lengang itu hanya terdengar hentakan sepatunya yang melangkah dengan pelan. Ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya, bahkan menaruh tanya dengan sosok gadis yang biasanya mereka kenal periang dan berisik itu. Hingga, saat dia hampir saja melewati kelasnya dia menabrak sosok pria lain di sana.

“Maaf.” Kata gadis itu pelan sambil menunduk tak melirik ke arah yang baru saja dia tabrak itu. Sedang, sosok itu hanya memandangnya datar dan dingin untuk selanjutnya adalah sosok itu yang pamit undur diri dari hadapan gadis itu yang masih menunduk di sana.

Pluk.

“Eh?” gadis itu terjengit kaget, dia bawa pandangannya melirik ke arah seorang pria berperawakan tinggi dan berhidung mancung di sana yang terlihat menatapnya penuh khawatir.

“Kau kenapa, Hyo Na-ah?” tanya pria itu sambil menatap gadis yang bernama Hyo Na itu.

Membuat Hyo Na melepaskan genggaman pada lengannya, berlalu meninggalkan pria yang terlihat khawatir itu di sana dan membuat pria itu mau tak mau membuntuti Hyo Na ke dalam kelasnya. Mengekori Hyo Na yang bahkan mengabaikan teguran beberapa teman sekelasnya dan membuat temannya bertanya-tanya akan sikap Hyo Na yang mereka pikir sangat aneh. Tak seperti biasanya dia murung dan bersedih begitu.

“Zhoumi-ah, dia kenapa?” hingga sosok Yesung menanyakan hal itu pada pria yang berada di belakang Hyo Na.

Zhoumi hanya mengangkat kedua bahunya, tak tahu dia akan menjawab apa dengan sikap Hyo Na yang benar-benar aneh di mata mereka semua. Dan, beringsut beberapa temannya yang mulai mendekati meja Hyo Na, sedang Hyo Na yang sudah membenamkan sempurna wajahnya di atas meja. Mungkin dia menangis. Atau dia berpura-pura tertidur agar teman-temannya tak cerewet terus-menerus bertanya tentang keadaannya.

Yah, dia hanya sedang butuh kesendirian saja sekarang.

“Sepertinya kalian harus memberikan waktu untuk dia sendiri.” Ucap seorang gadis yang baru saja terlihat diantara kerumunan teman Hyo Na yang memang di dominasi oleh pria.

Bertanya kenapa Hyo Na di kerumuni teman prianya? Yah, salahkan Hyo Na yang mengikuti klub gitar yang berada di kelasnya dan menuntutnya untuk bertemu dengan pria-pria tampan. Aneh? Tapi, itulah sosok Hyo Na.

Dan, membuat sebagian dari mereka menatap heran, lalu kemudian mengangguk paham untuk selanjutnya berlalu dari Hyo Na sebelum mereka satu per satu berucap, “Hyonie, jangan bersedih!”

Dan, menyisahkan sosok gadis itu dengan Zhoumi yang belum ingin pergi meninggalkan Hyo Na yang masih urung menunjukan wajah dan keadaannya yang hampir membuat seisi kelas gempar dan khawatir di sana.

“Kau tahu dia kenapa, Dan Bi-ah?” tanya Zhoumi pada sosok gadis itu—Park Dan Bi. Dan Bi yang mendapat pertanyaan itu hanya menggeleng, lalu terduduk di hadapan Hyo Na yang terlihat bergetar di sana.

Bahu kecilnya terlihat terguncang dengan suara isakan kecil yang mengalun menyedihkan dari bibirnya. Dan, itu terdengar jelas oleh Dan Bi juga Zhoumi di sana. Membuat kedua sosok itu khawatir dan bertanya-tanya akan Hyo Na yang tak biasanya menangis di kelas seperti ini.

“Tinggalkan aku sendiri, hiks, hiks.” Lirih Hyo Na di tengah-tengah isakannya, membuat kedua orang yang berada di dekatnya memandangnya iba juga semakin khawatir pada sosok Hyo Na yang bahkan sangat rapuh dari hari-hari sebelumnya.

Puk. Puk. Puk.

Uljima, Hyo Na-ah.” Pinta Zhoumi sambil menepuk bahu Hyo Na yang bergetar, juga Dan Bi yang kini terlihat mengusak helaian rambut Hyo Na di sana. “Hiks, jangan membuatku semakin sedih. Hiks, tinggalkan aku sebentar, Zhoumi-ah, Dan Bi-ah!” pinta Hyo Na tegas di sana dan membuat kedua orang itu akhirnya menghela nafas pasrah akan sikap Hyo Na yang selalu keras kepala, lalu mereka berdua beringsut meninggalkan Hyo Na yang terlihat semakin terisak pedih di sana.

—000—

“Putus katamu? Kau bercanda, Dong Hae-ah?” tanya ku tampak tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan Dong Hae tadi. Terlihat Dong Hae yang menatapku serius di iris matanya, bahkan sialnya aku tak melihat kebohongan yang tergurat pada tatapannya matanya.

“Aku serius, Hyo Na-ssi.” Ucap Dong Hae tegas.

Aku tersenyum kecut di sana. Aku bahkan tertawa meremehkan di sana, mendengar perkataan Dong Hae yang terdengar ambigu di telingaku, lalu aku mencoba menggenggam tangan Dong Hae di sana. “Aku tanya sekali lagi! Kau berbohongkan, Lee Dong Hae?” tanya ku sambil menatap Dong Hae lekat-lekat.

Perlahan Dong Hae menjauhkan genggaman tangan ku pada pada tangannya, dia bawa iris matanya untuk menatap ku dalam-dalam. Dia tengah mencoba meyakinkan aku yang terlihat mengemis cinta padanya, menyedihkan menjadi diriku sekarang. Namun, Dong Hae di satu sisi juga tak bisa melihat aku menjadi menyedihkan di matanya dan di mata orang lain. Bagaimanapun juga, Dong Hae tak sampai hati menyakitiku.

Aku masih benar-benar tahu bagaimana sayangnya Dong Hae padaku, bukan?

“Aku serius, Hyo Na. Bagaimana caranya membuatmu percaya lagi, Hyo Na?” ucap Dong Hae pelan pada aku yang terlihat menahan desakan tangis.

Bagaimanapun juga, ini sangat menyakitkan bagi ku dan aku juga tak habis pikir jika Dong Hae mengajak bertemu karena untuk mengatakan hal ini padaku. Putus. Apa kepala Dong Hae baru terbentur hingga membuatnya lupa ingatan dan malah memutuskan ku yang sama sekali tak mempunyai kesalahan? Ini benar-benar konyol!

“Dong Hae, kenapa?” tanyaku menggeram di sana. “Aku tak memiliki alasan tertentu, Hyo Na.” jawab Dong Hae singkat. Aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran pria ini.

Sampai aku berpikir, apa benar ini sosok Dong Hae yang kukenal bahkan sosok Dong Hae yang adalah kekasihku?

Aku benar-benar meragu akan Dong Hae di sini. Dan, Dong Hae malah akan selalu mencoba meyakinkan ku dengan perkataannya dan sikapnya yang menolak ku. Dong Hae, apa yang terjadi padamu?

“Kau menyembunyikan sesuatu padaku? Apa itu Dong Hae? Kumohon, kau harus memberi tahu aku. Aku masih kekasihmu, bukan?”

Dong Hae terlihat menggelengkan kepalanya di sana, “Mulai detik ini tidak lagi, Hyo Na. Mengertilah aku, Hyo Na. Dan, maafkan aku karena telah menyakitimu seperti ini.”

Berakhir dengan Dong Hae yang melangkah menjauhi ku. Menjauhiku perlahan-lahan setelah mengucapkan perkataan nista itu padaku. Membuatku terperosok jatuh dari keseimbanganku, bahkan kubiarkan aku yang sudah berlinangan air mata terduduk di hamparan rerumputan dengan orang-orang yang sudah memandang sedih ke arahku.

Tak kuperdulikan aku yang terisak keras di sana. Yang kuharapkan hanya sosok Dong Hae yang akan kembali ke arahku dan memelukku di sini.

“Hiks, bagaimana bisa, Dong Hae?”

—000—

“Kau tak mau makan, Hyonie?” tawar sosok Sung Min sambil menyodorkan roti miliknya pada Hyo Na yang masih focus menatap jendela yang berada di dekatnya.

Hyo Na lagi-lagi menggeleng menjawabnya, membuat Sung Min menghela nafas dan meletakkan roti itu di atas meja Hyo Na yang terlihat sudah di penuhi oleh berbagai macam makanan ringan. Berlebihan? Tetapi, teman-temannya begitu peduli dan bertanya-tanya tentang perubahan teman berisik mereka itu.

Dan Bi masih di dekatnya atau lebih tepatnya terduduk tepat di depan Hyo Na yang bahkan tak melirik sama sekali ke arahnya. Tatapan Hyo Na benar-benar kosong, tak bercahaya dan tak hidup seperti biasanya.

“Hyonie, kau harus makan! Lihatlah, betapa banyak orang yang peduli dengan mu.” Pinta Dan Bi sambil menatap Hyo Na dengan sedih.

“…” hanya diam respon Hyo Na, bahkan dia benar-benar enggan menanggapi Dan Bi yang terlihat sudah meracau panjang di sampingnya, terus menasehati Hyo Na yang tak ingin makan dan Hyo Na yang sama sekali tak berterima kasih pada teman-temannya yang peduli.

“Dan Bi-ah!” tegur Zhoumi ternyata yang memerhatikan Dan Bi dan membuat gadis cantik pemilik mata besar itu menatapnya dengan heran dan terlihat Zhoumi yang menyuruhnya untuk pergi. Untuk kemudian, Zhoumi datang ke sisi Hyo Na dan terduduk di sampingnya.

Perlahan, pria berdarah China itu melirik Hyo Na dari samping. Wajah Hyo Na yang bahkan tak menunjukan keceriaan pagi tadi. Dan, Zhoumi benar-benar merindukan wajah ceria itu. Hingga dia tarik salah satu kertas kosong milik Hyo Na bersama pulpen, lalu dia mulai menulis beberapa kata di sana dan memberikannya pada Hyo Na.

“Tersenyumlah, hujan! Kau bilang, jika hujan itu membawa kebahagiaan sama sepertimu? Kenapa hujan hari ini benar-benar sedih?”

Hyo Na membaca tiap deret kata itu. Dia menundukan wajahnya sambil mencomot kertas itu dari tangan Zhoumi. Sama seperti Zhoumi, Hyo Na membalas apa pertanyaannya lewat kertas itu.

“Hujan kali ini bukan hujan yang sebenarnya. Bukan hujan yang bahagia. Namun, hujan duka. Ku harap pelangi dapat membantu hujan, walau hujan tahu. Takdir pelangi tak bisa bersama dengan hujan. Kau mengerti bukan?”

Zhoumi tersenyum. Dia bawa iris matanya menatap Hyo Na yang memunggungi. Lalu, dia menuliskan beberapa kata untuk Hyo Na. Yah, begitulah sosok Hyo Na bagi Zhoumi dan Zhoumi bagi Hyo Na, mereka hanya sebatas pelangi dan hujan saja. Zhoumi amat mengenal bagaimana kepribadian unik milik Hyo Na, dan begitu pula sebaliknya. Zhoumi tahu, di mana Hyo Na membutuhkan bahu. Tahu membutuhkan tawa. Tahu membutuhkan tangis. Dan, tahu kapan dia ingin sendirian.

“Kalau begitu. Biarkan pelangi memberi senyum hangatnya pada hujan. Kau ingin melihatnya? Jika, kau ingin melihatnya. Berbaliklah dan lihatlah aku! ^^”

Hyo Na menunduk, perlahan-lahan dia memutar tubuhnya menghadap Zhoumi dan menatap wajah pemuda pemilik hidung mancung itu yang tengah tersenyum hangat padanya. Yah, Zhoumi yang tersenyum hangat padanya, menampilkan matanya yang menyipit di sana dan menunjukan betapa lembutnya senyuman itu, “Aku pelangi mu! Kau bebas memiliki senyuman hangat ku!” hingga keluar dari bibir Zhoumi kata-kata yang selalu dia gumamkan untuk Hyo Na kala dia bersedih atau sedang tak bersemangat.

Tes. Tes. Tes.

Tetapi, respon Hyo Na kali ini berbeda. Hyo Na tersenyum dalam tangisnya. Bahkan, dia sudah benar-benar tak tahu bagaimana caranya tersenyum dengan benar. Yang jelas, dia hanya tahu bagaimana caranya menangis. Zhoumi melihat semuanya, melihat semuanya tepat di iris mata Hyo Na yang memerah itu.

Ada luka di sana. Ada sakit di sana. Dan, ada kebimbangan di sana. Zhoumi benar-benar paham semuanya. Membuatnya kini mengangkat sebelah tangannya untuk dia usak lembut helaian rambut Hyo Na. Yah, Hyo Na sangat menyukai perilaku Zhoumi yang suka mengusak rambutnya dan biasanya Hyo Na akan selalu berceloteh manja jika sudah di perlakukan begitu.

“Hiks, hiks, Zhoumi­-ah.” Lirih Hyo Na yang kini tangisnya semakin pecah, bahkan membuat berpasang mata melihat ke arahnya dengan iba dan kasihan.

Hyo Na tak seceria dulu. Hyo Na yang tak se-aktif dulu. Hyo Na yang tak seberisik dulu. Hyo Na yang tak berteriak menyebalkan. Hyo Na yang tak iseng. Hyo Na yang bahkan mampu berubah dari sikapnya dulu. Dan, teman sekelasnya sangat menyayangi sosok Hyo Na yang seperti itu.

“Hiks, men… mendung, Zhoumi-ah­­.” Kata Hyo Na perlahan.

Terlihat Zhoumi yang sabar, dia menunggu Hyo Na yang perlahan membuka ceritanya. Lebih tepatnya, membuka ceritanya yang sedih. Hingga, entah bagaimana bisa Zhoumi ikut merasakan apa yang Hyo Na rasakan.

Kesakitan…

“Perlahan, Hyonie. Aku tak memaksamu.”

Grep.

“Eh?”

“Hiks, hiks. Zhoumi-ah.” Isakan Hyo Na teredam dalam dada Zhoumi.

Hyo Na yang memeluk tubuhnya dengan badannya yang bergetar hebat di sana, Zhoumi yang bahkan tak mampu berkata-kata lagi. Selain, Zhoumi yang mengusap helaian rambut Hyo Na pelan. Zhoumi yang mencoba menenangkan isakan pedih Hyo Na dan Zhoumi yang merasakan hangat tubuhnya pada Hyo Na.

Masih seperti suasana sebelumnya. Sepasang mata masih menatap ke arah dua insane yang tengah berpelukan di sudut sana. Tak ada yang mampu mereka lakukan, selain menatapnya dengan haru dan berbisik perlahan, “Hyonie, baik-baik saja, Zhoumi?” begitu kira-kira isi bisikannya. Menandakan mereka benar-benar peduli pada Hyo Na yang tengah bersedih hati itu.

‘Kau kenapa, Hyonie? Kau benar-benar sukses membuat semua orang bertanya-tanya tentang keadaanmu. Terlebih aku, Hyonie!’ hanya Zhoumi yang mulai bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada Hyo Na yang masih bungkam dalam pelukannya.

—000—

Mentari senja kini sudah tercetak jelas di langit-langit yang menimbulkan semburat orange di atasnya. Terlihat bahkan burung-burung kecil yang terbang menuju peraduannya. Tetapi, hal itu tak berlaku bagi ku. Yah, setelah kejadian yang baru beberapa jam lalu itu, aku memutuskan untuk melangkah asal. Hanya mengikuti mau ke mana langkah ini membawa ku yang sekarang tak tahu arah dan tujuan.

Wajahku benar-benar lusuh, rambut sebahu ku benar-benar sudah tak berbentuk lagi, dengan blues biru berlengan panjang dan rok sifon berbatas lutut aku melangkah menggunakan sepatu ketsku asal. Membiarkan orang-orang menatapku dengan aneh di jalan. Dan, aku tak memperdulikan itu. Bahkan, Dong Hae saja juga sudah tak memperdulikan ku lagi.

“Hiks, Dong Hae-ah.” Lirihku pelan sambil mencoba menghentikan tangisku yang kembali pecah.

Yah, tangis yang bahkan ku biarkan mengalun indah melewati bibirku. Tangis yang sedari tadi menemaniku dalam langkah acak ini. Yah, tangis yang benar-benar membuatku terlihat menyedihkan dan sangat buruk. Aku memalukan.

Pluk.

Aku tersentak, membuatku mengangkat wajahku untuk melihat siapa yang dengan beraninya menyentuh pundak ku. Hingga, di detik lain ku lihat sosok pria tinggi yang ku kenal tengah menatapku dengan tatapan juga senyumannya yang hangat itu.

“Kau, kau kenapa, Hyonie?” tanyanya lembut, namun terselip kekhawatiran di sana.

Aku menghembuskan nafasku panjang. Mencoba menampilkan senyum terbaikku pada pria ini. Tetapi, itu gagal. Lagi, aku kembali menangis dalam senyum. Membuat sosok pria ini, mengelus lembut helaian rambutku. Hingga kurasakan hangat di sana, membuat hatiku nyaman dan damai terasa. Bahkan, kupikir pesakit hatiku sedikit terangkat oleh sentuhan itu.

‘Gomawo, Zhoumi-ah’

Hingga, kurasa pandangan ku yang mulai mengabur dan untuk selanjutnya aku tak dapat mengingat apa-apa lagi…

­—000—

“Hyonie? Hyonie? Kau dengar suaraku?”

Sayup terdengar suara itu merambat ke dalam indera pendengarannya. Hyo Na perlahan membuka kelopak matanya, hingga dia merasakan cahaya putih menusuk-nusuk masuk memenuhi pandangannya. Namun, dia temukan wajah Zhoumi dengan gurat khawatirnya menatap Hyo Na yang bahkan kini menatapnya dengan mata berair di sana.

Zhoumi melihatnya, bahkan perlahan dia beri senyuman terbaiknya. Pelan-pelan dia menggelengkan kepalanya, memberi isyarat pada Hyo Na untuk tak menangis lagi. Yah, Zhoumi terlalu khawatir dan merasa sakit melihat Hyo Na yang seperti ini. Karena bagi Zhoumi, Hyo Na harus menjadi hujan pembawa kebahagiaannya, bukan hujan duka seperti pada umumnya.

“Aku tak akan menangis, Zhoumi-ah.” Pelan Hyo Na bergumam di sana.

Hyo Na terlihat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Zhoumi juga perlahan mengurangi rasa cemasnya itu, pelan-pelan dia terduduk di samping kasur pesakit itu. Yah, beberapa menit yang lalu, kelas di buat heboh akan Hyo Na yang tiba-tiba saja pingsan dalam pelukan Zhoumi. Bersyukur, Zhoumi mengetahuinya dengan cepat, hingga tanpa banyak bicara dia membawa Hyo Na ke ruangan kesehatan dan memanggil dokter yang berjaga di sana.

‘Dia hanya sedang tertekan. Apa dia memiliki masalah keluarga? Atau di kelas dia selalu menjadi korban pembully-an?’

Zhoumi masih mengingat dokter Kim berbicara tadi. Hyo Na yang katanya tertekan. Tetapi, apa penyebabnya saja dia tak tahu. Karena, Hyo Na masih bungkam dengan semuanya dan dia hanya menangis tanpa lelah hampir seharian ini.

“Zhoumi-ah.”

“Eh? Ya, Hyonie? Apa ada yang sakit?” berburu Zhoumi dekati Hyo Na di sana.

Tatapan Zhoumi benar-benar mengisyaratkan betapa cemasnya dia pada sosok Hyo Na dan itu tak memungkirinya yang akan bertanya dengan cepat dan tergesa di sana. Hyo Na tersenyum di dalam wajahnya yang pucat. Zhoumi yang melihatnya memandang wajah pucat Hyo Na dengan pandangannya yang berkedip, heran. Dan, pelan Hyo Na malah mengeluarkan tawa kecilnya.

“Ck, kau tahu? Wajahmu yang cemas itu lucu sekali, Zhou…”

Grep.

“Eoh?”

Terlihat mata Hyo Na yang berkedip-kedip. Hangat tubuh Zhoumi kini melekat di tubuh Hyo Na. Berpelukan. Bahkan, Zhoumi menyandarkan kepala Hyo Na dalam dadanya, tangannya ikut mengelus helaian lembut rambut sebatas bahu itu, dan Zhoumi membenamkan wajahnya di antara kepalanya.

“Kau masih bisa tertawa setelah membuatku cemas di sini?” geram Zhoumi terdengar, Hyo Na sedikit bergidik takut. Tetapi, dia tak mampu takut pada Zhoumi yang terus-menerus memberikannya kehangatan.

Maka, Hyo Na tersenyum dengan matanya yang berair. Sedangkan, Zhoumi sudah sukses menangis memeluk Hyo Na, “Kau cengeng, Zhoumi!” pekik Hyo Na sambil memukul dada Zhoumi dan terkekeh kecil disana—menutupi tangis yang keluar dari matanya.

“Diamlah! Siapa suruh kau membuatku menjadi cengeng begini, huh?” terdengar serak suara Zhoumi saat memarahi Hyo Na yang terlihat tersenyum dalam tangisnya.

“Jangan membuatku cemas lagi, Hyonie.” Lirih Zhoumi sambil mengecupi helaian rambut Hyo Na, Hyo Na tersenyum mendapatkannya. Bahkan, dia memejamkan kedua kelopak matanya, menikmati sentuhan Zhoumi yang lembut dan hangat, membuatnya nyaman dan damai untuk melupakan kejadian-kejadian menyedihkannya.

Gomawo-yo, Zhoumi-ah.”

Zhoumi tersenyum menanggapinya, dia tepuk pelan punggung Hyo Na dengan lembut, “Jadilah, hujan kebahagiaan untuk ku dan untuk semua orang, Hyo Na.”

Hyo Na mengangguk. Bahkan, dia mendongakan kepalanya, menatap Zhoumi yang memandanginya dalam senyum hangat khasnya. Hyo Na sangat suka. Hyo Na kembali tersenyum, itu terlihat dari warna air mukanya yang kini bercahaya dan tidak murung seperti sebelumnya.

Chu…

“Yang terpenting adalah, kau adalah hujan untuk pelangi. Biarlah, kita menyalahi takdir itu.” Kecupan bibir itu terlepas, menampilkan tatapan sayup Hyo Na yang seakan terhipnotis oleh pandangan Zhoumi yang seakan menguncinya dan tak melepasnya.

Seulas senyum itu hadir lagi di wajah Hyo Na. Hyo Na yang mengelus permukaan wajah Zhoumi dengan kedua tangannya di sana, pelan-pelan kembali di tarik Hyo Na wajah itu mendekati wajahnya, membuat nafas hangat menampar bagian wajah mereka, “Kalau begitu, mari kita langgar takdir itu dan buatlah aku bahagia dengan warna pelangimu.”

Berakhir dengan Hyo Na yang mengecup bibir Zhoumi lembut yang langsung di sambut Zhoumi dengan senang. Dan, terlihat mereka yang menikmati setiap kelembutan ciuman itu, meresapi setiap lumatan yang memperlihatkan betapa mereka tengah melanggar garis takdir itu. Biarkan begitu.

Mereka adalah hujan dengan pelanginya. Tuhan, memang adil. Tetapi, cinta lebih adil lagi. Walau itu melanggar takdir, tetapi langgaran itu terlihat manis dan indah. Namun, siapa yang peduli akan itu? Intinya adalah, kembali pada takdir yang di gariskan adalah sesuatu yang lebih indah, walau jika kita melanggar takdir itu akan membuatnya lebih dan lebih indah lagi.

—000—

Aku berlari mengejar sosok pria tinggi itu. Sedari tadi, aku sudah berteriak memanggil namanya di lorong sekolah. Namun, entah apa yang membuatnya menjadi dingin dan tak dapat kukenali lagi. Dia mendiamkan ku. Dan, aku tak suka jika harus begitu.

“Zhoumi-ah!” teriak ku lagi dan kini terlihat punggungnya yang berhenti di ujung sana dan dia tak melihat ke arahku.

Ck, ada apa dengan si tiang ini, huh?!

Aku tersenyum dan bahkan berlari secepatnya agar dia tak berlari meninggalkan ku. Dan, begitu menghampirinya aku langsung menarik lengannya untuk menghadap ke arahku, sehingga terlihatlah raut wajahnya yang datar itu.

Aku mengerucuti bibirku di hadapannya, “Kenapa kau meninggalkanku?”

Dia mengerutkan keningnya di sana, “Siapa yang meninggalkanmu? Bukannya tadi, kau sedang sibuk memandangi ‘mendung’ mu itu, eh?”

“Eoh?” aku berjengit kaget mendengar perkataannya itu, terlihat dia yang kini berjalan mendahuluiku.

“Yak! Zhoumi-ah! Tunggu aku! Hei!” teriak ku lagi sambil mencoba mengimbangi langkahnya yang panjang itu.

Beruntung keadaan lorong kelas sedang sepi jika sore begini, jadi tak masalah bagiku untuk berteriak-teriak ataupun berlarian. Karena tak akan ada guru atau adik kelas yang mencibirku dan mengataiku. Dan, kembali pada Zhoumi yang terlihat sudah berlari ke arah lapangan basket. Aku terkadang geram sendiri melihatnya yang bertingkah seperti itu, seharusnya kalau dia ingin marah, dia kan juga bisa bilang marah. Tetapi, faktanya adalah, jika dia sedang marah dia memilih mendiamkan dan mengabaikan aku. Dan, aku tidak suka jika dia mulai bersikap itu.

“Zhoumi-ah!” teriak ku lagi, aku mulai mengejarnya yang bahkan kini terlihat berlari mengelilingi lapangan basket.

Dia mengerjaiku, eoh?

“Kejar aku sampai dapat!” balas Zhoumi meledek di sana, bahkan dia terlihat tertawa puas di sana.

Aku berhenti sejenak, ku hentakan kaki ku. Kekanakan. Dan, hal itu terlihat oleh Zhoumi yang bahkan kini tengah meledek ku di sudut sana, “Yah, bocah!” dan aku mendengus mendengarnya dan dengan kekuatan penuh aku mengejarnya yang sudah lebih dulu berlari.

“Yah! Zhoumi-ah, mengalah saja padaku! Kau tak iba melihatku yang kelelahan?” keluh ku saat beberapa menit berlari mengejarnya.

Zhoumi tak mendengarku, bahkan dia semakin berlari mengitari lapangan ini. Begitu sosoknya berada di hadapanku—dengan masih dia yang tengah berlari. Aku langsung membulatkan mataku, “Yah! Zhoumi-ah, kau menjahiliku?!” kemudian aku berlari menjauhinya, karena dia tengah mengejar ku dari belakang.

Tap. Tap. Tap.

Tak terdengar balasan suara dari Zhoumi, tetapi langkah kaki Zhoumi yang semakin mendekat itu terdengar jelas merasuki indera pendengaranku. Aku sudah tak sanggung lagi berlari.

“Aku menyerah!” putusku untuk kemudian aku berhenti sambil menundukan tubuhku.

“Cah, kau dapat! Dan, kau tak akan kulepaskan!” ucap Zhoumi dari belakang.

Kini dia tengah memeluk pinggangku di belakang, aku hanya tersenyum sambil memegangi lengannya yang melingkari perutku, tertawa-tawa di sana, dan kurasakan dada Zhoumi yang menempel di punggungku. Hangat dan terasa jelas degupan jantung Zhoumi yang berdegup cepat di sana.

“Eoh!” pekik ku kemudian sambil mengubah posisiku.

Lebih tepatnya aku mengenyampingkan tubuhku, membuat telingaku menyandar pada dada Zhoumi, terasa dekapan itu sedikit menegang di sana, dan akhirnya membuatku menatap Zhoumi dari bawah.

“Kau. Uhm, jantungmu berdegup cepat, Zhoumi-ah.” Ucap ku sambil menatapnya dan dia mengalihkan pandangannya dari ku.

Aku mengerucutkan bibirku, “Kau tak peduli padaku. Kau menyebalkan!”

Pelan, aku menjauhkan tubuhku darinya. Tapi, sesaat aku melepasnya, dia malah dengan cepat menarik ku lagi dalam dekapannya. Menyandarkan kepalaku pada dadanya dan dia yang mengelus rambutku dengan lembut.

“Maafkan aku, Hyonie.” Aku tersenyum mendengarnya untuk kemudian aku membalas pelukannya.

“Uhm, aku tak bisa menerima permintaan maafmu, Zhoumi-ah!”

“Eh?” kejutnya dan aku kembali melepaskan diriku.

Melangkah menjauhinya dengan perlahan, senyum jahil turut menghiasi wajahku dan terlihat dia yang mendecih di sana, mengetahui apa yang tengah aku perbuat. Yah, mengerjainya dan akan selalu begitu.

“Hya! Hyonie! Kembali kau!” hingga teriakan Zhoumi yang terdengar di sana.

Aku tengah tertawa-tawa kecil dalam langkah lebar dan cepatku, menjauhi Zhoumi di sana.

“Gomawo-yo, Zhoumi-ah!”

—000—

Dari luar ruang kesehatan, terlihat seorang pria pemilik rambut brunette tengah berdiri dengan senyum mirisnya di sana. Bahkan, dia kini membalikan tubuhnya dan melangkah menjauhi ruangan itu.

Ada rasa sakit di dadanya, memang. Tetapi, rasa sakit itu akan hilang jika dia melihat seseorang di dalam sana tersenyum bahagia. Yah, dia hanya berharap akan kebahagian gadis itu—Hyo Na.

“Berbahagialah. Karena di dalam takdir ini, ternyata aku hanya menjadi pelangi bagimu dan mendung yang sebenarnya adalah, Zhoumi.” Lirihan pelan pria itu mengantar kepergiaanya menjauhi ruangan kesehatan, dengan kepedihan dan kesakitan dia pergi. Biar bagaimana pun, dia tengah menyalahi kodratnya dan membuat dua insane itu bersalah paham mengartikan kodratnya.

.

.

.

THE END

“Huwa… ini FF apa?! Sungguh, setelah aku baca ulang lagi, aku jadi natap gaje pada setiap perkataannya?! >.< sebenarnya, apa ini?! Hiyah, gaje yah? Kalian ngerti ga sama jalan ceritanya??? >.< dan, jujur saja yah! Aku ngetik ini dalam keadaan kepala yang aneh banget!? :3 ehehehehe, dan ini benar-benar FF aneh pure hasil pemikiran sendiri. Tapi, aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih yang uda sempatin baca FF gaje dan abal ini. ^^ ppai… ppai… see u next FF!!! Uhm, masih pada berminatkan baca FF abal buatanku?? ^^ hehehe, aku ga maksa kok kalo pada ga mau!? >///<”

2 Comments (+add yours?)

  1. Hdila
    Dec 22, 2014 @ 15:46:39

    Jujur sebenernya aku rada bingung bacanya.. Tapi bahasanya keren. Itu jadi maksudnya si donghae sakit makanya mutusin Hyo Na?

    Reply

  2. uchie vitria
    Dec 24, 2014 @ 10:37:13

    rada bingung ma alurnya hyo na kayaknya terlalu ngenes aja diputusin pacar padahal dunia juga gk bakal hancur cuma karna hal itu
    kasiankan orang” disekitar kita yang perhatian
    next lebih bagus lagi ini juga udah lumayan cuma alurnya buatku kurang greget

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: