Back to SCHOOL: Fakta Rahasia

Back to SCHOOL #3

TYAS (@FanTyastic4) Presents “Back to SCHOOL: Fakta Rahasia
CHO KYUHYUN Super Junior CHA SERA Original Characters
LEE SUNGMIN LEE HYUKJAE Super Junior VICTORIA SONG F(X) and many more
Genre ROMANCE, FRIENDSHIP, SUSPENSELength CHAPTERED Rating TEEN (15+)

Untuk pembukaan:

Jujur, di part ini konflik atau klimaks memang nggak ada, karena part ini cuma kayak… clue gitu deh untuk part berikutnya. Makanya hal-hal di bawah ini kosong.

Tugas Ketiga                      : Menemukan fakta dari banyak kebohongan.

Pengusut                             : …

Alasan Terlibat                 : …

Petunjuk                             :…

Catatan Pengusut            : …

Pencatat Tugas                 : …

 

 

P.S. Siapa pun kalian, jangan berurusan dengan “dia”. Kumohon…

***

Cho Kyuhyun

Kulihat Sera berbalik menatapku. Ia terus berdiri tanpa bergerak di depanku. Aku hendak meraihnya, tapi kurasakan kakiku sangat kaku.

Tunggu… aku dirantai?

Sepasang mata memperhatikanku. Ya, mata indah milik Sera yang selalu membuatku mabuk.Mata itu terus menatapku tajam. Ia mulai mengalirkan air mata. Aku terus berusaha berjalan mendekatinya. Aku ingin memeluk Sera! Aku ingin dia menangis dalam pelukanku! Aku ingin dia! aku ingin dia selamanya!

Selamanya…

Kata-kata itu membuat air mata Sera berubah. Air itu tidak bening. Yang mengalir di pipinya sekarang terlihat sangat pekat, kental, dan…

Merah.

Aku terus berusaha berjalan mendekati Sera, tapi yang ada aku malah makin jauh dengannya. Saat kutatap ia, kulihat seorang lelaki di belakangnya. Aku berusaha memperingatkannya, namun suaraku entah ke mana.

Hingga lelaki itu memenggal kepala Sera.

Kepala itu menggelinding, menghampiri kakiku, dan berhenti tepat di dekatnya. Matanya melotot menatapku, seakan menuduh akulah yang telah membuatnya begini. Mata itu terus menyalahkanku! Mata itu meledak-ledak! Dan…

Kriiiing!!! Kriiiing!!!

“Ya Tuhan!” Aku langsung terlonjak. Kutatap alarm di dekatku. Gila, mimpi tadi amat sangat menyeramkan.

“Kyuhyun?”

Aku menoleh, menatap kepala Sera yang menyembul dari balik pintu kamarku. “Kamu baik-baik saja? Kubuatkan teh manis, mau?”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menggeleng, menolak apa yang Sera hendak berikan padaku.

***

Sejak dua kejadian yang menunjukkan bahwa ada organisasi rahasia bernama C-49, aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku pun tak henti-hentinya menatap Sungmin yang makin lama makin mencurigakan.

Sialnya, setiap kali aku mengawasi, justru aku merasa akulah yang sedang diawasi.

Victoria sakit panas. Kemarin lusa ia pingsan di lapangan dan harus pulang lebih awal. Hal itu membuatku tidak nyaman. Tidak ada Vic, tidak ada orang yang bisa menjamin diriku aman.

Dan hal lain yang membuatku tidak nyaman adalah ada seorang murid baru bernama Krystal yang menyeramkan. Dia baru masuk sekitar sebulan yang lalu, namun waktu sesingkat itu cukup untuk dirinya membuat takut seantero Tetronida karena gayanya.

Dia selalu menggunakan eye-shadow ke sekolah. Yang membuatnya aneh, hanya mata kanannya saja yang ia gelapkan, sedangkan mata kirinya ia biarkan alami.

Rambutnya putih indah dengan hidung yang mancung. Bibirnya kecil dan tak pernah tersenyum. Tangannya kecil dan sekurus nenek lampir.

Serius deh, kapan aku pernah melihat nenek lampir? Iiih!

Yang lebih menyeramkan lagi, Krystal tak pernah mau berbicara—selain padaku. Aneh, kan? Orang-orang selalu dia biarkan bagaikan manusia tolol yang berbicara dengan batu, sedangkan ia langsung mencakarku saat aku tak mendengarkan ocehannya soal organisasi mematikan.

Bahkan bekas cakarannya tidak hilang meski sudah menggunakan salep yang kucuri dari kamar Sera.

Oke, hal itu bukan karena salepnya kurang manjur. Saat tahu aku yang menghabiskan salep supermahalnya—dia memang lebay! Menyebalkan!—Sera langsung menghampiriku di kamar dan mencakar pipiku.

“Urus bekas cakaranku ini sendiri, agar kamu tahu betapa susahnya aku membeli salep ini!”

Butuh dua minggu bagiku untuk menabung dan bisa membeli salep itu. Ternyata harganya memang mahal.

“Tidakkah kamu tahu bahwa kamu dalam bahaya?”

Aku hampir saja menjerit saat Krystal muncul dari belakang dan berbisik. Wajahnya menatapku tajam dan mata kanannya sangat menggangguku. Dia terlihat seperti bonyok daripada gotik menurutku.

“Tidakkah kamu tahu bahwa kamu lebih berbahaya untukku?” semburku sarkastis. Aku beranjak dari dudukku dan menghampiri meja Eunhyuk serta Sungmin. “Kalian mau ke kantin?”

Eunhyuk mengangguk, sedangkan Sungmin baru sadar beberapa detik setelahnya. “Oh,” ia mengangkat wajahnya dari laptopnya, “tentu.”

Aku tahu aku mencurigainya, tapi jika aku memusuhinya, ia akan lebih curiga padaku. Lagi pula, belum ada bukti bahwa Sungmin adalah yang dimaksud oleh korban-korban waktu itu.

Kami berjalan memasuki gerbang kantin yang terbuka lebar. Aroma Zuppa-Zuppa dan potato cheeselangsung masuk ke dalam hidungku.

Aduh, kenapa baunya jadi lebih enak dari yang kemarin?

Aku dan Sungmin duduk di meja yang biasa kami tempati. Kulihat Sera sudah duduk di sana sambil memainkan ponselnya.

“Eh, Kyu, Sungmin, Eunhyuk!” serunya ceria. Ia menunjuk dua mangkuk di depannya. “Kubelikan cream soup untuk kalian!”

Puji Tuhan! Ada juga orang yang baik saat zaman sedang dikuasai oleh iblis. Diberkatilah kau, wahai istriku, Cha Sera yang cantik, imut, baik hati, sehat, cerdas, ceria, Milkita!

Mataku dan mata Sera bertemu. Kulihat ia tersenyum sangat lebar hingga matanya tenggelam. Tapi aku ingat betul bagaimana mata itu menangis. Dari air hingga darah.

Hingga mata itu menatapku tajam.

Aku menggelengkan kepala. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak cerewet seperti biasanya? Kalau begini terus, Sungmin bisa curiga dengan perubahanku.

Dan kenapa selera humorku berkurang? Aku tak suka diriku yang sekarang. Aku terlalu gelisah. Aku bagai residivis yang kembali terjerat kasus. Aku terlalu waspada hingga menyembunyikan diriku terlalu jauh.

Aku merasa diriku dalam bahaya.

Oh, tidak. Lebih parah lagi. Aku merasa Sera ada dalam bahaya.

“Aduh, kamu kenapa sih? Tidak mengerjakan PR, huh?”

Aku tertawa saat mendengar Sera menegurku yang sedari tadi melamun—lebih tepatnya terpaksa tertawa.

“Eh, lihat! Itu seperti jaketku!”

Sera menunjuk Krystal yang baru saja masuk ke kantin dengan jaket hitam panjang dan tudung yang begitu besar. Dia berjalan mendekati mejaku dengan gaya angkuh. Dagunya ia angkat tinggi-tinggi, seakan makhluk yang berada di sekitarnya hanya bakteri penyebar penyakit menjijikan. Benar-benar khas anak konglomerat. (Yah, setidaknya meski sudah bangkrut, dulu ia termasuk orang kaya.)

Uh, kalau dia benar-benar berpikir kami adalah bakteri, akan kupastikan ia menjadi virus! Kalian tahu kan, virus lebih kecil dari bakteri?

Tapi virus berbahaya dan kejam.

Aku kembali menggelengkan kepala. Aku sudah hampir bersorak bahagia saat aku bisa bercanda dengan diriku lagi. Tapi sekarang? Semua ketakutanku membuatku berburuk sangka pada yang lain.

“Eh, Kyu,” Sera menghimpit tubuhku. Ia berbisik di telingaku dengan mulut yang sedang mengunyah nasi kepal. Beberapa kali ludahnya menyiprat ke telingaku, “kurasa itu benar-benar jaketku deh! Persis banget tau!”

“Aku pernah melihat jaket itu di dekat tikungan Jalan Yong-Han. Harganya sekitar sepuluh ribu won,” ucap Eunhyuk sambil menatap mangkuk sup krimnya. Omongannya tadi seperti ia katakan pada mangkuk putih itu daripada untuk menyahut ucapan Sera.

“Wowowow,” Sera menggerak-gerakkan telunjuknya, “jangan salah sangka dulu kamu, Eunhyuk! Aku membelinya di—”

“Seong-Jun, toko yang berada di dekat pemakaman di Dejun, perumahan elite se-Korea.”

Sera langsung memekik kaget dan memelukku saat melihat Krystal sudah berada di sampingnya. Tapi dengan dinginnya Krystal duduk di sana dan membuka kotak bekalnya.

“Kyu, aku sudah berlatih untuk tidak kaget dengan manusia semacamnya. Tapi tetap saja aku gagal membuat diriku tampak berani. Aduh, memalukan!” Sera memelukku lebih erat saat Krystal maju dan memandang wajah Eunhyuk yang duduk di sebelahku.

“Kalian yakin mau berteman dengan orang ini?” tanya Krystal sambil menatap Eunhyuk tajam. “Apakah kalian tahu—”

“Diam kamu, Krystal Jung!” pekik Eunhyuk. “Aku tidak mengenalmu!”

Semua orang menatap Eunhyuk. Eunhyuk menggelengkan kepalanya dengan gusar. “Sialan kamu!”

Yap, dari sekian banyak murid di SMA Tetronida, tak ada yang tahu marga Krystal.

Terkecuali Eunhyuk—yang mengaku tidak mengenal Krystal.

Krystal tersenyum mengejek di depan Eunhyuk. “Oh, gosh, apa yang kamu bilang tadi? Tidak mengenalku? Bagaimana dengan ayahku? Kamu mengenalnya? Atau kamu tahu tentang—”

Tubuhku mengejang seketika. Eunhyuk menarik kerah seragam Krystal dan mengarahkan pisau untuk memotong steak ke arah jantung Krystal.

Semua orang hanya bisa melongo melihat hal ini. Dengan gusar Eunhyuk melempar pisau itu dan pergi dari kantin.

Jadi, siapa yang harus kucurigai? Sungmin? Krystal? Atau… Eunhyuk?

“Kyu,” Sera kembali berbisik padaku, “aku takut.” Ia menghela napas perlahan. “Aku tahu aku aneh. Tapi… aku merasa ada orang yang mengintaiku. Aku berusaha tak ambil pusing, tapi aku selalu merasa ada seseorang yang berdiri di belakangku sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah pisau.”

Tanpa bisa membalas, aku langsung memeluknya. “Apa kamu ada acara hari ini? Biar kuminta ayahmu menjemput kita. Aku juga takut terjadi apa-apa.”

“Sebetulnya hari ini OSIS ada rapat dengan anggota OSIS baru,” sahut Sera, “tapi aku mau izin.”

***

Bel pulang telah berbunyi. Jam tanganku menunjukkan pukul 8 malam. Serius deh, sekolah sampai jam segini tuh melelahkan.

Kulihat Krystal sibuk membereskan barang-barangnya. Ia mengenakan jaket hitamnya lalu berjalan menuju pintu keluar kelas.

“Kamu mau kumpul OSIS?”

Aku menoleh, menatap Sungmin yang baru saja bertanya pada Eunhyuk. Di antara aku, Vic, Eunhyuk, dan Sungmin, hanya aku yang tidak ikut organisasi adikuasa ini.

“Entahlah.” Eunhyuk mengangkat bahunya. “Aku malas melihat si tengik Krystal itu.”

Kukaitkan tas ranselku ke bahu kanan. “Aku duluan, ya!” seruku pada dua orang tadi. Mereka mengangguk lalu membereskan barang mereka dan berjalan menuju ruang OSIS.

Sampai di depan gerbang, aku mendapati Sera dan ayahnya berada di dalam mobil milikku.

“Lama banget,” desah Sera. “Tadinya aku mau menyusulmu ke kelas.”

“Sori.” Aku menyimpan tasku di bangku depan lalu duduk bersama Sera di bangku belakang.

Hubunganku dengan keluarga Sera sudah membaik sejak Daewoon, cowok tengik paling menyebalkan, meminta maaf pada Sera. Karena marah, Sera meminta Daewoon meminta maaf pada kedua orangtuanya dan pada orangtuaku. Kalau melihat betapa tulusnya ia meminta maaf, ia tidak brengsek-brengsek amat, kok.

“Tuh, lihat deh!” Sera duduk menghadapku. Ia memakai tudung jaketnya lalu mengoleskan eye-shadow di mata kanannya. “Mirip dengan Krystal, kan?”

“Kurang seram, tapi,” sahutku. “Harusnya kamu memanjangkan rambutmu dan mewarnainya dengan warna putih.”

“Ah, aku lebih suka rambut pendek. Guru fisikaku bilang—” Sera terdiam sejenak. Ia lalu meraih tasnya dan memeriksanya. “Astaga, Kyu, buku fisikaku!!”

“Besok lagi saja ambilnya,” ujar ayah Sera. “Bukan sesuatu yang penting, kan?”

“Yang penting itu bukan bukunya, tapi tugas yang ada di dalamnya!” pekik Sera panik. “Aduh, aku harus mengumpulkannya! Aku malas mengerjakan di sekolah! Apalagi besok pelajaran pertama!”

“Ya sudah, putar balik.” Ayah Sera memutar balik mobil dan kembali ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Sera langsung memegang tanganku erat.

“Apa maumu?” tanyaku malas. “Jangan sampai kamu memintaku untuk—”

“Aku takut sendirian ke dalam!” pekiknya. “Kelasku di ujung sekolah. Koridornya sering gelap. Aku benar-benar takut!!”

Aku menghela napas. Aku juga khawatir jika Sera mengambilnya sendiri.

Aku keluar dari mobil dan hanya berjalan santai sementara Sera terus menggerayangi lenganku. Beberapa kali ia memekik kaget saat melihat tirai di dalam kelas yang kosong itu bergerak.

Kami berjalan menyusuri taman SMA Tetronida yang besarnya sama seperti city park. Jika siang, suasana di sini sangatlah menyenangkan. Banyak anak Tetronida yang menggunakan taman ini sebagai tempat berdiskusi, bermain, atau bahkan hanya bersantai. Apalagi karena adanya Wi-Fi di taman ini, mereka betah berlama-lama.

Namun, malam hari sepertinya merubah taman yang indah ini menjadi hutan belantara sarang penyamun. Soalnya spooky banget, men! Lampu taman ini cukup terang, tapi tetap saja tidak bisa menerangi pohon-pohon menjulang yang menghiasi sisi jalan. Kalau disidik-sidik, rasanya bukan hal mustahil jika seseorang berjubah hitam dan membawa parang nongol dari balik pohon. Iiih!

Sialnya, kami benar-benar melihat sosok hitam itu. Untungnya, sosok itu tidak membawa parang.

“GYAAAAA!!!” jerit kami berdua seperti dua kekasih ketahuan berbuat hal tidak senonoh. Kami langsung saling berpelukan sambil memejamkan mata.

Dua detik kemudian, Sera menjitak kepalaku.

“Kamu itu cowok, Kyu! Harusnya kamu melindungiku! Bukannya ikut histeris!”

Aku melepaskan pelukanku pada Sera lalu menggaruk kepala belakangku. “Mmm, mau bagaimana lagi, aku juga takut setengah mati tadi.”

Detik berikutnya, sekelabat bayangan hitam lewat di depanku. Awalnya kukira itu hanyalah bayangan, tapi saat melihatnya diam di ujung taman sambil memegang pisau, aku tahu bahwa ia bukan hanya bayangan numpang beken…

Dia ingin menyakiti kami.

“Lari!” seruku sambil menarik Sera menuju gerbang sekolah.

“Nggak mau!” ucap Sera sambil berlari menuju koridor sekolah. “Buku tugasku, tunggu aku!”

Sesuai dugaanku, sosok tadi mengejar kami sambil mengacungkan pisaunya tinggi-tinggi. Kakinya yang cukup panjang melangkah begitu cepat dan bahkan sudah berada di belakangku.

Dua langkah lagi sosok itu dapat meraihku. Tiga langkah lagi sosok itu dapat meraih Sera. Empat langkah lagi, dia bisa menancapkan pisaunya di dada Sera.

No more time.

Aku langsung mendorong Sera ke pinggir koridor dan menghadang si sosok keparat ini.

Sialnya, belum-belum tanganku sudah kena gores.

Aku berusaha menahan pisau itu. Namun, saat mendengar suara lirih Sera yang meringis, aku tak sanggup untuk tidak berbalik dan memastikan keadaannya. Dan persis saat mataku menatap Sera yang terbaring di koridor sambil memegangi pinggangnya, sosok itu menggores bahuku.

Tanpa pikir panjang, aku langsung meninju pipi sosok itu sekeras mungkin. Sempat terdengar suara krek dari pipinya sebelum ia pergi luntang-lantung menuju taman belakang sekolah.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku pada Sera.

“Sepertinya pinggangku memar.” Sera mengangkat sedikit seragamnya. Di pinggangnya terlihat lingkaran merah yang mulai membiru.

“Maaf,” ucapku sambil menunduk. “Aku hanya berusaha melindungimu. Tak tahunya kamu terdorong kuat tadi.”

It’s okay. Aku tahu kok niatmu baik.” Sera mengelus pipiku lembut. “Lagi pula lukaku tentu tidak seberapa daripada luka di bahumu.”

“Nggak kok, lukaku cuma luka gores… Ya Tuhan! Ada apa dengan bahuku?” aku histeris saat melihat seragam putihku yang berada di balik jas almamaterku berubah warna menjadi merah.

“Jangan sampai ayahku tahu.” Sera melepas jaket yang dikenakannya dan memakaikannya padaku. “Akan kuobati sepulang dari sini.”

“Kamu masih berniat mengambil buku tugasmu?”

“Ya iyalah! Memangnya guru fisikaku akan percaya saat kubilang ada sosok psikopat yang melukaiku dan membuatku takut untuk mengambil buku tugas?”

Aku ikut bangkit saat Sera bangkit. “Tunjukkan saja lukamu, gurumu pasti percaya.”

“Cih, mana mungkin aku memperlihatkan pinggangku pada orang lain?” Sera berbalik, lalu berjalan menyusuri koridor. “Lagian, guruku itu cowok!” serunya kemudian.

Kalian tahu betapa bahagianya saat kalian tidak dianggap orang lain oleh orang yang kalian sukai? Aduh, rasanya seperti memakan pie buah segar yang manis dan dingin dihari yang panas. Senangnyaaa…

Saat melewati koridor, kami melihat sebuah bayangan hitam di lantai. Sera memekik kaget lalu bersembunyi di belakangku.

“Aku tahu kamu takut,” ujarku sambil mengusap kepalanya, “tapi itu bukan hantu. Itu hanya kantung—”

Ucapanku terpotong saat aku melihat sebuah pisau menancap di ujung kantung itu. Tunggu… itu kantung? Lalu, pisau itu…?

Aku langsung berlari menghampiri. Dan Sera langsung berteriak saat kubalikan benda hitam yang berlumuran darah itu.

Bayangan hitam yang kukira kantung itu… ternyata adalah Krystal.

***

Sekolah tidak mengizinkan kami untuk menyelidikinya.

Aku dan Sera hanya bisa pasrah saat pihak sekolah melimpahkan segala kekuasaan untuk menyelidiki kasus ini pada polisi. Dan mereka tidak memberikanku kesempatan untuk mencari tahu motif ataupun pelakunya.

Satu-satunya pelaku yang berada di otakku adalah Eunhyuk. Eunhyuk. Eunhyuk. Tapi polisi-polisi itu tidak menangkapnya. Mereka bilang bahwa Eunhyuk memiliki alibi karena setelah keluar dari kelas, ia terus bersama anak-anak OSIS dan tak pernah keluar ruangan OSIS. Yang keluar saat itu hanya Krystal, Daewoon (aku baru tahu kalau dia juga anggota OSIS), Hana, Jimin, Ryeni, dan Hani.

Mereka semua juga tidak dicurigai. Polisi itu bilang bahwa di rekaman CCTV, mereka memang masuk ke dalam toilet.

Tapi aku yakin 100% bahwa pelakunya adalah Eunhyuk.

Ia pasti mengenal Krystal. Dan aku yakin mereka punya masalah. Entah apa pun itu, yang jelas mereka saling membenci dan saking bencinya, Eunhyuk tega membunuh Krystal.

Atau… mungkinkah karena Krystal mengetahui sesuatu dan Eunhyuk tidak mau orang-orang tahu?

“Kamu mengira Eunhyuk pelakunya?”

Aku, Sungmin, dan Eunhyuk langsung menoleh pada Vic. “Apa maksudmu? Kyuhyun menuduhku?” tanya Eunhyuk.

“Dia tak henti-hentinya memandangmu,” ujar Vic. “Tatapannya tajam, keningnya mengerut, dan pupil matanya mengecil. Kurasa, Kyuhyun sedang memikirkan alasanmu membunuh Krystal kemarin lusa.”

“Aku takjub dengan kepintaranmu, tapi kali ini aku membencinya.” Aku menyeruput cokelat panas milik Vic. “Sangat, sangat benci, Vic.”

“Terserah kamu saja.” Vic beranjak dari bangkunya. “Asal kalian tahu, kita banyak berubah sejak penemuan kasus terakhir. Dan kamu, Kyu,” Vic menatapku tajam, “jangan berubah pikiran.”

Vic berjalan menuju keluar kelas. Aku menatap Eunhyuk dan Sungmin yang berada di depanku.

“Apa maksud perkataan Vic tadi?” tanyaku. “Kenapa aku tidak boleh berubah pikiran?”

“Pikirkan sendiri, tukang tikung!” Eunhyuk membanting bukunya di depanku. Dengan langkah entak, ia berjalan menuju meja yang lain dan mengobrol dengan mereka, meninggalkanku dengan Sungmin yang hanya bisa terdiam.

Hi, guys!

Sera melambaikan tangannya padaku dan Sungmin. Sesaat matanya mencari-cari Eunhyuk. “Di mana si monyet itu?”

“Ngambek,” ucapku malas. Kutunjuk si keparat Eunhyuk dengan daguku. “Tuh orangnya.”

“Bagus deh kalo gitu.” Sera menyimpan sebuah file kertas di atas meja. Ia menatapku dan Sungmin bergantian. “Ada sesuatu yang ingin kuceritakan pada kalian tentang pembunuhan Krystal.”

Mataku dan Sungmin langsung terpaku pada file yang berada di dekat Sera. Seketika aura kepo kami keluar. “Dari mana Kakak dapat?” tanya Sungmin.

“OSIS itu adikuasa.”

Jawaban yang seperti ini yang paling kubenci.

Sera membuka file itu. Dari dalam file kertas berwarna hijau itu, keluarlah foto-foto di TKP saat Krystal sedang diidentifikasi.

“Lihat.” Sera menunjuk jaket Krytal yang terdapat bekas injakkan. “Bukankah aneh?”

“Sangat aneh,” timpal Sungmin. “Ini hanya berarti satu, pelakunya terburu-buru.”

“Bukan hanya ini,” lanjut Sera. Ia mengambil foto lain dan menunjuk pisau yang menamcap di pundak Krystal. “Pisau ini adalah pisau steak yang ada di kantin. Ini makin menjelaskan bahwa pelakunya adalah orang yang berada di sekolah ini.”

“Kemungkinan terbesar, dia adalah murid Tetronida,” sahutku. “Tapi siapa?”

“Dan yang lebih aneh dari semua ini terdapat pada tulisan ini.” Sera menarik foto dari sudut berbeda. Dan dalam foto itu, terlihat tulisan dari darah yang ditulis oleh Krystal.

Sebuah hurup S dengan huruf E kecil di sebelahnya.

Apakah yang dia maksud adalah… Sungmin (catatan: hangul Sungmin= Seongmin)?

***

“Kyu, kamu baik-baik saja?”

Aku menatap Sera yang duduk di sampingku. Tangannya menyodorkan camilan yang sedang ia makan. “Mau? Ini kripik rendah lemak.”

“Tidak, aku sedang tidak napsu.” Aku kembali menatap teve yang sedang menyetel drama kesukaan Sera.

“Eh?!” tiba-tiba Sera memekik. “Apa maksudmu tidak bernapsu? Jangan bilang kalau kamu tidak bernapsu pada makanan ini dan malah bernapsu padaku!!!”

“Ampun!” seruku. Aku menatap wajah Sera yang menatapku takut. “Kamu baik, cantik, putih, wangi, dan sedikit berisi. Apalagi sekarang sedang mengenakan hot pants dan kaus longgar yang membuatku mencoba menebak-nebak apa yang berada di baliknya—Auuuuw! Sakit, bodoh!”

“Jadi, itu yang sejak tadi kamu pikirkan?!” sentak Sera. “Dasar brengsek!”

Wajah Sera langsung mendung. Ia duduk menjauh dariku dan menyender pada punggung sofa. Aku sebetulnya masih ingin menjailinya lagi, tapi kurasa aku yang tidak tahan melihat ia ngamuk begini. “Ampuni aku, ya Maha Ratu.”

“Bodoh!” ucapnya tak acuh lalu beranjak pergi. Ia melempar makanannya ke sofa dan masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu keras.

Aduh, sepertinya aku keterlaluan.

Aku berjalan menuju kamarnya. Kuketuk perlahan pintu kamarnya. “Sera, boleh aku masuk?”

“Masuk saja kalau merasa otakmu sudah bersih.”

Ah, dia benar-benar marah.

Aku langsung membuka pintu kamarnya. Ia sedang duduk di pinggir ranjangnya sambil menunduk. Melihatnya sesedih itu membuat hatiku bagai teriris. Sera, maaf….

Tanpa basa-basi, aku langsung menghampirinya dan bertekuk lutut di depannya. aku menunduk sambil berujar lirih, “Maaf, Sera. Aku tidak bermaksud membuat hatimu sakit.”

“Kamu tahu apa yang membuatku sedih?”

Aku menggeleng.

Ia menghela napas, lalu mulai berbicara. “Aku tidak suka jika ada yang mengomentari fisik, Kyu. Terserah orang mau menganggapku berlebihan atau apa, tapi aku tahu bahwa apa yang aku lakukan ini benar. Sebagai seorang wanita, mendengar kata-katamu tadi seperti pelecehan bagiku.”

Mendengar ucapannya, hatiku makin terasa sakit. Sekali lagi, aku hanya bisa bilang, “Maaf.”

“Ini bukan kesalahan besar.” Sera menepuk pundakku. “Aku hanya takut jika kamu benar-benar berpikiran begitu. Ingalah, Kyu, Tuhan sudah memperingatkan kita untuk tidak berzina. Dan jika kamu terlalu sering berpikiran seperti tadi, aku takut kamu masuk dalam lubang iblis yang sekarang sedang merajarela.”

Aku memang benar-benar tidak salah pilih. Selain cantik, pintar, dan dewasa, Sera juga bisa menuntunku agar selalu berjalan lurus.

Betapa bahagianya aku karena telah dipertemukan dengan orang seperti Sera oleh-Nya. Terima kasih, Tuhan.

“Anak-anak! Ayo ke gereja!”

Kudengar suara mamaku dari luar. Dengan perlahan aku membuka pintu dan menatap keluar. “Aku belum mandi!”

“Ampun! Ini sudah jam 10, Kyu! Kenapa kamu belum mandi?” Mamaku mencoba melihat ke belakangku. “Dan apa yang kamu lakukan pada Sera? Apa dia sakit?”

“Tidak,” gelengku wajar. “Kami bertengkar tadi. Tapi sekarang semua sudah beres.”

“Baguslah.” Mamaku berjalan menuju pintu keluar. “Mama tunggu di mobil. Cepat mandi!”

***

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”

Aku menggelengkan kepalaku saat aku hampir saja tertidur. Kutatap Alkitab di tanganku sambil menahan kantuk.

“Dasar bodoh!” Sera menoyor kepalaku sambil berkata lirih. Ia menarik Alkitab di tanganku. “Apa kamu tahu apa yang sedang dibahas?”

“Injil Lukas?” tebakku lirih.

“Ampun!” Sera membuka Alkitabku. “Materinya masih di perjanjian lama.” Dengan kesal Sera membuka halaman demi halaman. “Nah, Yeremia pasal 17—”

Aku tidak menanggapi Sera yang kesal. Mataku tiba-tiba melihat Hani yang berjalan melewati kami dengan seorang pria paruh baya tampan. Oh ya, seingatku Hani keluar dari kamar mandi saat rapat OSIS. Mungkin ia tahu siapa yang mencurigakan dan yang berkemungkinan besar untuk membunuh Krystal.

Tanpa menghiraukan Sera yang menyodorkan Alkitabku, aku berjalan membuntuti Hani dan pria tampan yang sialnya tua itu.

Sampai di luar gereja, Hani baru menyadari bahwa sedari tadi aku membuntutinya. “Eh, Kyuhyun?”

“Hai, Kak Hani,” ucapku sok kenal.

Dengan muka bingung setengah mati, ia bertanya, “Mmm, ada apa ya?”

“Ah, tidak. Aku hanya penasaran, kenapa keluar di saat sedang—”

Aku baru menyadari bahwa sejak tadi pria ganteng ini memerhatikanku. “Oh,” ucapku sok baru sadar. “Maaf, Om. Saya hanya ingin bertanya—”

“Oh, tidak apa-apa,” ucap pria itu ramah. Ia menatap Hani. “Appa tinggal?”

“Yap, sepertinya Kyuhyun ingin bertanya tanpa mendapat tatapan tajam dari Appa,” kata Hani sambil tersenyum. “Appa jemput Hana sendiri saja, ya?”

“Baiklah,” angguk pria ganteng tadi yang ternyata adalah ayah dari murid tercantik di sekolah. “Jaga Eommamu, ya?”

“Oke!”

Setelah ayah Hani pergi, Hani langsung menjawab, “Kami mau menjemput Hana. Tadi dia terpeleset di kamar mandi dan pusing, makanya kami tinggal ke gereja. Tak tahunya, dia tadi menelepon dan meminta appa untuk menjemputnya.”

“Oh,” aku mengangguk paham.

“Rasanya… ada yang lain yang ingin kamu tanyakan?” tanya Hani sambil menyelidiki wajahku. “Apa kamu mau bertanya apa nama ayahku sama seperti namamu?”

“Hah?” pekikku shock. “Memangnya nama ayah Kakak siapa?”

“Cho Kyuhyun. Marga kita kan sama, Kyu.”

“Nama Ibu Kakak?”

“Shim Geurim.”

Sepertinya memang sifatku yang selalu tidak nyambung kalau bicara. Untuk apa aku nge-kepo-in nama orangtua Hani?

“Sebetulnya bukan itu yang ingin kutanyakan,” ujarku. “Aku ingin bertanya soal kejadian malam—”

“Malam saat Krystal dibunuh?”

“Iya!” seruku heboh. “Apa Kakak lihat sesuatu yang mencurigakan?”

“Entahlah…” ia menghela napas sambil mencoba mengingat. “Sepertinya ada sesuatu yang agak aneh.”

“Apa itu?”

Hani menceritakan hal aneh yang terjadi di ruang rapat OSIS. Setelah selesai, aku dan Hani pergi memauki gereja kembali.

“Ke mana saja kamu?” ucap mamaku kesal.

“Ada sesuatu tadi,” ucapku tenang.

“Apa yang kamu lakukan dengan Hani?” tanya Sera sambil menatapku.

“Hanya bertanya.” Aku tersenyum menatapnya. “Kamu cemburu?”

“Setelah aku membalas ciumanmu, kamu masih bertanya apakah aku cemburu saat kamu dekat dengan gadis lain?”

“Kuanggap itu jawaban iya.”

“Itu memang jawaban iya, bodoh!”

***

Eunhyuk dan Sungmin.

Dua nama itu terus berputas di kepalaku. Info yang kudapat dari Hani pun hanyalah info rongsok yang tak bisa digunakan. Oh, ayolah, aku penasaran sekali siapa pelaku yang tega membunuh Krystal.

“Kamu pusing?” tanyaku pada Sera yang sedari tadi menyender di bahuku.

“Hm.” Ia mengangguk sambil memeluk lenganku. “Aku ingin ke ruang renungan saja.”

Aku membantunya bangkit dari bangku kantin. Karena saat berdiri ia hampir terjatuh, aku langsung menggendongnya di punggungku. Ia berbisik, mengatakan terima kasih, lalu memeluk leherku kencang.

“Sial, kamu ingin membunuhku, hah?!”

“Aku tidak sengaja!” bela Sera sambil melonggarkan lengannya. “Aku hanya takut terjatuh.”

Ingin sekali aku memeluk Sera kalau melihat wajahnya yang sedang kesal. Lucu sekali!

Semalam Sera tidak tidur. Ia sibuk membuat proposal untuk acara kemah yang akan diadakan bulan depan. Dengan bantuanku, Sera berhasil menyelesaikannya. Tapi… karena selesai sangat larut, Sera dan aku tidur di sofa ruang teve bersama hingga saat pagi hari mamaku berteriak sebegitu nyaring. (Yeah, sepertinya kalian tahu kenapa mamaku sampai histeris. Beliau memang orang yang religius. Ia sering membelikanku buku-buku rohani untukku bahkan sampai sekarang.)

Sampai di ruang renungan, Sera berjalan menuju altar. Dan tiba-tiba saja ia bersimpuh di depan salib besar dalam ruangan ini.

“Tuhan… berikanlah kami petunjuk-Mu. Hendaklah Kau berikan jalan pada kami untuk mengungkap siapa yang tega berbuat keji kepada domba-Mu karena sungguh Kau sangat membenci orang yang mencintai kekerasan. Amin.”

Aku menghela napas. Sebegitu ingin tahunyakah Sera sampai sebegitu sungguh-sungguhnya ia berdoa? Apakah aku harus ikut berdoa?

Yeah, seperti yang guru-guru sering ajarkan: tak ada kata selesai dalam berdoa.

Kutundukkan kepalaku sambil menautkan kedua tanganku.

“Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan. Terpujilah Tuhan.”

Setelah itu, aku hanya bisa diam. Ah, kenapa aku jadi speechless begini?

Tanpa memedulikan hal lain, aku berusaha berdoa dengan bahasaku sendiri.

“Tuhan, jika Kau mampu membuat kerusuhan, hendaklah Kau buat juga jalan keluarnya. Jika Kau ingin menguji orang fasik, hendaklah Kau tunjukkan pada kami siapa-siapa saja yang membangkang pada-Mu, ya Tuhan. ”

Aku membuka mata, dan tepat di depanku Sera berdiri sambil memperhatikanku dengan senyum manis yang terpampang di wajah cantiknya. Entah apa yang terjadi, tapi di mataku, Sera sepuluh triliun lebih cantik dari sebelum-sebelumnya.

Tanpa aba-aba, aku langsung memeluknya. Dan sialnya, Sera membalas pelukanku dengan lembut dan penuh perhatian.

Cukup lama kami berpelukan hingga akhirnya kami saling memisahkan diri. Melihat wajahnya yang agak pucat, sepertinya Sera sedikit sakit.

“Mau pakai jaketku?” tanyaku.

Melihat Sera mengangguk, aku buru-buru melepas jaket yang kukenakan (yap, aku melanggar peraturan sekolah dengan mengenakan jaket saat berada di lingkungan sekolah) dan mengenakannya pada Sera.

Sera berjalan di belakangku. Sekilas, jaket Sera yang ia kenakan (oke, aku ngaku, itu jaket milik Sera yang persis Krystal, bukan milikku) itu kalau dari belakang membuatnya tidak bisa dikenali. Apalagi kalau cahaya gelap dan…

Koridor yang jarang orang lewati.

Ah, kenapa tidak terpikir dari kemarin! Yang sebetulnya jadi incaran dari awal itu adalah Sera, bukan Krystal!

Ya, tulisan Krystal yakni hurup S dan E adalah “Sera” bukan “Seongmin”! Saat Krsytal tertusuk, ia tahu dirinya bukanlah incaran yang sebenarnya.

Kesimpulan yang kudapat adalah bahwa pembunuh itu mengira bahwa Krystal adalah Sera. Dari belakang, jaket mereka terlihat sama. Apalagi topi di jaket itu sangat besar hingga rambut pemakainya tak terlihat. Tinggi Krystal dan Sera sama persis. Sepatu mereka tak ada yang beda karena Krystal juga memakai sepatu kotak-kotak khas Tetronida seperti yang Sera dan anak-anak lain sering gunakan.

Dan yang membuatku menuduh seseorang itu karena…

“Jadi begini,” cerita Hani padaku. “Kan waktu itu diumumkan bahwa Sera tidak masuk karena bolos, nah tim OSIS membuat tugas untuk membuat lagu. Tiba-tiba saja kulihat Sungmin hanya diam dengan wajah kecewa dan setengah mati jengkel. Bukankah itu aneh, mengingat bahwa Sungmin pintar dan hobi main musik, ia kok bisa sekacau itu?”

Intinya: Sungmin tahu yang dia bunuh bukan Sera.

Lalu, bagaimana caranya Sungmin membunuh jika ia terus berada dalam ruang rapat OSIS?

“AKU MENGAKU, AKULAH PELAKUNYA!!!”

Tiba-tiba kudengar suara ribut dari bawah. Serta-merta aku dan Sera turun dan mendapati koridor bawah penuh dengan gerombolan siswa dengan seorang siswi yang berteriak sambil menyuarakan bahwa ia pelakunya. Entah pelaku apa.

“Aku benar-benar pelakunya! Aku sudah tak tahan! Arwah Krystal terus menggentayangiku!!!”

Dan sialnya, siswi yang berteriak-teriak itu adalah Hana, cewek cantik kembaran Hani.

Hani yang berada di sebelah Hana terus menangis histeris sambil mengguncang-guncang tubuh Hana. “Sadarlah, Hana! Kamu nggak pernah membunuh! Bukan kamu yang membunuh Krystal, Hana!”

Aku dan Sera buru-buru menyelinap dari kerumunan itu dan berdiri di depan Hana yang histeris sambil menutup telinganya dan berteriak histeris.

Kusentuh pipinya dan kuangkat wajahnya. Mataku dan mata Hana langsung beradu.

“Saya adalah Inspektur Song Siwon. Mana siswi yang bernama Cho Hana?”

Aku tidak memedulikan suara pria di belakangku. Mataku terus menyorot tajam pada mata Hana. Dan sebelum ia ditarik oleh inspektur itu, aku bisa melihat pupil matanya mengecil dan ia berbisik padaku, “Tolong aku….”

***

Bibi Geurim hanya bisa diam. Matanya kosong menatap meja restorannya.

“Eomma memang gampang stres,” ucap Hani saat sadar aku terus memperhatikan ibunya.

Paman Kyuhyun (tiba-tiba aku bangga memiliki nama Kyuhyun, soalnya ayah Hani ini amat sangat tampan) duduk di samping Bibi Geurim sambil mengusap pundaknya. Ia lalu menatapku sambil tersenyum. “Dulu istriku sempat mengalami keguguran dan harus dikuret. Kalau melihat keadaannya sekarang, sepertinya ia lebih tertekan daripada waktu itu.”

Tiba-tiba tangan Bibi Geurim menutup mulutnya. Ia lalu menunduk dan menangis. Dengan lembut, Paman Kyuhyun menarik lalu memeluknya. Seketika Bibi Geurim menangis di dada Paman Kyuhyun. Aduh, sweet sekali!

“Ah, mereka selalu mengumbar kemesraan di mana saja,” ucap Hani sambil menuangkan jus jeruk ke dalam gelasku dan Sera. “Nah, ayo dicicip! Mumpung gratis.”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Kupotong steakdi depanku lalu melahapnya. Sekonyong-konyong, mataku langsung membelalak. “Hmmm, enak banget!” ucapku takjub. Aku buru-buru memotong daging itu dan melahapnya. “Serius, ini enak!”

“Paman hebat sekali mencari koki,” ujar Sera pada Paman Kyuhyun. “Pantas saja restoran Paman selalu ramai!”

“Ah, itu bukan sesuatu yang keren kok,” sahut Pama Kyuhyun. “Sebetulnya dulu Paman berjualan es krim, tapi tempat itu sempat bangkrut. Dan setelah bekerja untuk mencari uang, akhirnya Paman bisa membuat restoran ini dan mampu menyekolahkan anak-anak Paman di sekolah yang harganya tidak main-main.”

Paman Kyuhyun menatap wajah Bibi Geurim yang mulai tenang. Ia mengusap punggung Bibi dan mencium puncak kepalanya.

“Hey, Kyu,” bisik Sera di telingaku. “Kalau kita menikah nanti, aku ingin kita seperti itu.”

“Sebentar,” ucapku pada Sera. Aku memajukan tubuhku dan bertanya pada Paman Kyuhyun. “Paman, apa Paman dan bibi berbeda usia?”

“Kami seangkatan,” jawabnya, “tapi tetap Paman yang lebih tua. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa, terima kasih.” Aku kembali duduk di bangkuku dan menatap Sera. “Mereka seperti itu karena Paman Kyuhyun lebih tua dari Bibi Geurim.”

“Lalu?” tanya Sera tak acuh.

“Karena kamu lebih tua dariku, saat kita menikah nanti, aku ingin jadi Bibi Geurim, dan kamu yang jadi Paman Kyuhyun.”

“Dasar keparat,” rutuk Sera bete. “Ah, ya sudah, kamu cari saja wanita lain yang lebih muda!”

“Sialnya aku anak mami,” ucapku sambil meraih tangan Sera dan menggenggamnya. “Aku lebih butuh wanita yang mapan daripada wanita imut yang hanya modal wajah dan tubuh. Sialnya, selain cantik dan molek, kamu juga mapan. Jadi, tak ada alasan aku meninggalkanmu.”

Sera menatapku. Matanya terlihat kosong sesaat. “Kamu serius?”

“Apa tampangku terlihat main-main?”

Ia tersenyum sambil mengangguk. “Ya, kamu serius. I love you.”

Tanpa perlu menjawab, sepertinya Sera tahu apa jawabanku. Ya, love you more….

“Sebetulnya, kami menerima undanganmu ingin menanyakan tentang Hana,” kataku pada Hani. “Aku tahu ini memang bahasan yang agak sensitif apalagi keadaan Bibi Geurim—”

“Tidak, Bibi tidak apa-apa,” potong Bibi Geurim sambil menatapku lembut. “Bibi justru penasaran dengan apa yang ingin kamu tanyakan, Kyu… hyun. Ah, maaf, Bibi agak—”

“Aku mengerti kok, Bi. Paman juga bernama Kyuhyun dan bermarga Cho juga.” Aku menghela napas sejenak dan meneruskan ucapanku tadi. “Aku hanya ingin bertanya, sebelum Hana berteriak seperti itu, apa dia menemui seseorang?”

“Tidak,” geleng Hani. “Sebelumnya aku dan Hana sedang mendengarkan lagu Ten2Five yang berjudul You… eh, sepertinya ini bukan info penting,” ucap Hani sambil sedikit menunduk karena menyadari ia salah bicara. “Tapi itu lagu kesukaan kami.” Hani berpikir sejenak untuk mengingat. Dan tiba-tiba ia menjentikkan jarinya. “Ah, ada sesuatu untuk kalian.” Hani lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop bertuliskan nama kembaran Hani itu. “Hana memberikanku ini dan memintaku membukanya saat tak ada anak sekolah yang melihat. Setelah itu ia bilang akan ke ruang renungan, tak tahunya ia berteriak seperti orang gila dan mengaku bahwa dia pelakunya.

“Yang membuatku tak percaya adalah bukti yang dimiliki Hana yang berada di bawah kasurnya. Ia memiliki pisau dengan darah Krystal dan sidik jarinya dan juga jubah hitam dengan cipratan darah Krystal. Ia mengaku bahwa ia membunuh Krystal karena ia menyukai Eunhyuk dan ia mengira bahwa Krystal hanya cari perhatian pada Eunhyuk. Bukankah itu tak masuk akal?”

“Lalu,” kata Sera sambil memperhatikan surat dari Hana, “kenapa tidak kamu buka surat ini?”

“Aku takut,” ucap Hani jujur. “Aku tadinya akan membukannya di rumah, tapi sepertinya kalian bisa dipercaya, dan aku yakin yang dimaksud Hana adalah anak Tetronida yang lain, bukan kalian.”

“Terima kasih untuk kepercayaannya,” sahutku sambil membungkuk.

Aku langsung merobek amplop cokelat itu. Dan saat kertas putih itu kutarik, mataku langsung membelalak.

Pura-pura mengaku, atau aku akan membuat teman-temanmu dan orangtuamu kesakitan seperti sakit yang dirasakan Mihyeong. C-49

Tuhan, apa lagi ini?!

“Kita tidak bisa menyusun kronologi kalau seperti ini,” bisik Sera. “Kita tidak punya petunjuk, tertuduh, atau barang bukti yang kuat yang bisa menjerat seseorang. Mungkinkah kita bisa menemukan siapa pelakunya?”

THE END

Waaah, akhirnya selesai juga Back to School 3!!

Terima kasih buat yang udah mau baca! Maaf ya bikinnya lama, beberapa bulan terakhir aku ada pertunjukkan teater dan harus latihan sampe malem. Tapi, untungnya kerja keras itu membuahkan hasil! Teaterku dapet 4 piala!!! Yeah!!!

Clue untuk episode Back to School berikutnya adalah… proposal yang dikerjakan Sera dan Kyuhyun pada malam hari. Yap, Kyuhyun dan Sera akan kemah!!!

Mohon ditunggu ya ff-nya ^^ aku bener-bener seneng ngeliat para readers antusias sama karyaku! Bikin terharu setelah perjuangan ngetik *usap air mata* hatur nuhun!

Bye, readers! Tuhan memberkati kalian yang mau baca ff aku!!! Hehe…

14 Comments (+add yours?)

  1. ferhanifatimah
    Jan 03, 2015 @ 10:25:55

    AKU. TUNGGU. KELANJUTANNYA.
    AKUU……
    TUNGGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU…!!!!!!!!!!!!!…..
    *berapi-api*

    Reply

  2. queencyblooms
    Jan 03, 2015 @ 11:08:09

    walau bahasanya campur campur tp aku sama sekali ga keganggu seriusssss karena ini keren!!!! ada lucunya sedikit, dan misteriusnya juga dapet! ditunggu kelnjutannya!!!><

    Reply

  3. mrs choi
    Jan 03, 2015 @ 12:33:41

    masih bingung sebenarnya tapi god job lah imajinasinya hebat

    Reply

  4. aira
    Jan 03, 2015 @ 15:46:45

    next please 😉

    Reply

  5. choi Shan won
    Jan 03, 2015 @ 16:24:47

    Lanjut thor ^^ keren aku suka banget jalan ceritanya

    Reply

  6. Monika sbr
    Jan 03, 2015 @ 22:34:46

    Seruuu…. Ditunggu kelanjutannya thor!!!

    Reply

  7. elfishysme
    Jan 05, 2015 @ 19:16:42

    ceritanya tuh menegangkan tp karena gaya bahasanya yg beda jd malah lucu, keren deh bikin penasaran.

    Reply

  8. indraswari26
    Jan 27, 2015 @ 17:18:09

    Jangan lama* thor nge post nya !

    Reply

  9. haerin lee
    Mar 05, 2015 @ 11:57:38

    daebak aku tunggu kelanjutannya ya keep writing

    Reply

  10. fitria
    Mar 17, 2015 @ 11:20:46

    Makiiinn pensaran thor….
    Ppaliwa lanjutannya… Di tunggu lohh 😀

    Reply

  11. ria
    Apr 21, 2015 @ 14:44:41

    Thorrr . Ini mah makin Seruuuu , figting yah thor nulisnyaa (y) .
    Ditunggu kelanjutannya 🙂

    Reply

  12. allrisesilverdh
    Apr 25, 2015 @ 13:55:03

    ini bakal ada kelanjutannya apa ngga?? Soalnya liat judul ini masuk di FF yg bermasalah.. pdhl aku suka bgt ceritanya.. lagian kan ini ngga pairing sma member GB, cmn dijadiin OC aja..

    Reply

  13. sophie
    Jul 29, 2015 @ 15:10:28

    Semangat,,semangat,,semangat,,

    Reply

  14. farahjulizah
    Aug 23, 2015 @ 08:45:04

    Gak sabarrr cepet fi next eonniiiiiii 😀

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: