I’m Your Man [10/?]

Title                 : I’m Your Man #chapter 10

Author             : Ryuzaki

FB                   : http://www.facebook.com/septi.freedom.5

Main Cast        : Yesung Super Junior as Kim Jong Woon – Shin Ryuu (OC)

Genre              : AU

Rate                 : PG 17

Lenght             : Chapter

Disclaimer       : The story pure fiction

Note                : FF ini sudah pernah di publish di note FB Author dan juga di FP Super junior fanfiction dengan beberapa revisi

*****

Author’s Pov.

Dua gadis itu berhadapan dengan saling melempar tatapan tajam.

“Apa maksudmu? Kau ingin bermain api denganku, Yura-ssi??”

Yura menarik senyum mengejek, “Kau masih saja bersikap angkuh padaku, Ryuu.”

“Apa maumu? Jangan membuatku marah!”

“Cih, dasar pembohong besar. Munafik!”

Ryuu berusaha menahan kakinya untuk tetap di tempatnya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Serendah itukah dirimu, Ryuu? Menikah diam-diam hanya untuk mempertahankan beasiswamu? Ternyata apa yang kau dapat di klub teater benar-benar kau lakukan dalam kehidupanmu sehari-hari, eoh? Berakting untuk kebohongan yang besar??”

DEG!!

M-mwo??” Ryuu terperanjat dengan apa yang baru saja di lontarkan Yura untuknya. Yura masih mengulas senyum mengejeknya.

“Memangnya, semiskin apa dirimu, Ryuu?? Tidak mampu membayar administrasi kuliahmu??”  cibir Yura, membuat Ryuu semakin naik darah.

“Oh, aku baru ingat kalau kau seorang yatim piatu…”

PLAK!!

Dalam dua langkah besar dan cepat, Ryuu berhasil mendaratkan telapak tangan kanannya ke sebelah pipi Yura. Tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut melihatnya.

“Kau tidak tahu apa apa. Berhenti bicara yang tidak tidak, atau aku akan membuat tanda di wajahmu,” Ryuu berkata dingin. Wajahnya mengeras dan merah karena emosi. “Jangan membuat masalah denganku. Arra?”

Ryuu membenahi ranselnya sebelum kemudian ia berlalu dari hadapan Yura yang masih nampak terkejut dengan apa yang ia dapatkan dari Ryuu.

“YA! KAU PEREMPUAN MUNAFIK! AKU TIDAK AKAN BERHENTI SAMPAI DISINI!”

Ryuu tak mendengarkannya. Ia terus berjalan dengan berpuluh pasang mata mengekori langkahnya.

*****

“Sudah?” tanya Hee Chul pada Ryuu yang baru saja keluar dari toilet. Pakaiannya sudah ia ganti. Hee Chul membantu membeli pakaian baru untuknya.

“Apa kau punya sesuatu untuk menghilangkan bau ini?” Ryuu merengut mencium bau telur yang sepertinya masih melekat di rambutnya. Ia mengambil tempat di sebelah Hee Chul yang menungguinya di bangku koridor.

Hee Chul memandang miris pada Ryuu, “Kau kan yeoja. Apa kau tidak membawa parfum?”

Ryuu meliriknya sebal, “Aku bukan pesolek.”

“Oh? Okay okay, aku mengerti,” ujar Hee Chul dengan angkat bahu. Mengalah. Ini bukan saatnya untuk mendebat Ryuu.

“…”

“…”

Hee Chul menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia melirik Ryuu yang diam saja.

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi??” tanyanya sedikit hati-hati.

Ryuu menoleh sekilas padanya. Ia menggeleng pelan.

“Entahlah…”

Hee Chul memasang ekspresi sebalnya pada Ryuu, “Kau ini apa-apa tidak mau berbagi denganku!” katanya dengan menoyor kepala Ryuu kesal sekaligus gemas.

YA!” seru Ryuu marah. “Berbagi apa?! Memangnya apa yang perlu kubagi denganmu?!” sengitnya.

Hee Chul membuang muka, “Kau bahkan tidak mau berbagi memori otakmu untukku. Jika saja aku tidak memberimu sinyal waktu itu, kau pasti belum juga mengenaliku hingga saat ini…”

Ryuu terhenyak. Ia terdiam seribu bahasa. Ia hanya bisa menunduk merasa bersalah.

“Dasar yeoja berpikiran sempit!” cibir Hee Chul. “Sialnya, kenapa aku mau peduli denganmu? Aish. Terserahlah. Aku tidak mau bertanya apa yang sebenarnya terjadi di kehidupanmu. Bukan urusanku. Berlakulah terus seperti orang yang tak merasa berdosa, Rue!”

Ryuu tersentak sendiri mendengar kalimat  Hee Chul yang menohok dirinya.

“Baiklah, aku pergi dulu. Aku masuk kerja jam sepuluh. Dan sekarang sudah lewat lima belas menit. Kurasa aku akan dapat peringatan…”

“Heenim,” Ryuu menahan lengan Hee Chul yang hendak beranjak.

Wae?” tanya Hee Chul tanpa menoleh untuk Ryuu.

“Heenim,” Ryuu meneguk ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. “Gomawo…”

“Hm,” sahut Hee Chul malas. “ Jaga dirimu. Aku pergi.”

Ryuu menatap nanar punggung Hee Chul yang berjalan menjauh.

I’m so sorry, Heenim…” lirihnya. Ia menghela napas berat.

*****

Ryuu Shin’s Pov.

Kupejamkan mataku sesaat, menetralkan tekanan darahku yang seakan sudah mendidih di otakku. Jantungku berdegub keras. Ujung-ujung jemariku beku. Aku benar-benar merasa tidak tenang saat ini.

Yura mengetahui aku sudah menikah. Dan tadi pagi ia meneriakiku di depan umum!

Bagiku tentu saja hal ini sesuatu yang gawat. Dari mana yeoja itu mengetahuinya? Tidak banyak yang tahu mengenai pernikahanku. Hanya keluargaku dan juga keluarga Jong Woon. Dan keluargaku juga keluarga Jong Woon semuanya berada di luar negeri. Lalu siapa yang membocorkan rahasia ini? Apa aku melakukan kesalahan hingga rahasia yang selalu ku tutupi dari orang orang ini terbongkar??

Matilah aku.

Beasiswaku yang selama dua tahun penuh ku perjuangkan akan musnah. Parahnya, bisa juga kuliahku yang sudah menginjak ke empat semester ini akan sia-sia. Aku akan didrop out…

ANDWAE!!!”

Kuacak-acak rambutku, berusaha menghilangkan pikiran mengerikan itu. Akan kutaruh di mana wajahku jika hal itu terjadi??

Eottokaji??”

Kubuka laci meja kerjaku. Mencari surat kontrak beasiswa yang selama ini menjadi acuanku.

“Oh! Di mana surat itu?!” Kutarik keluar setiap lacinya. Surat berkop universitas itu sudah seperti surat keramat untukku.

Aku menelan ludah ketika surat itu kutemukan. Tercampur dengan surat-surat administrasi lain. Kuatur napasku yang memburu. Ya Tuhan, tenangkan aku!

“Pembangkang…”

Tiba tiba saja suara Appa mengiang di telingaku.

“Appa menyuruhmu untuk tetap di sini. Jika kau tetap ingin ke Korea, persiapkan dirimu untuk menerima seseorang dalam hidupmu.”

“Dasar keras kepala. Kau pikir sehebat apa dirimu? Beasiswa itu tidak ada artinya dengan sikapmu yang selalu mengabaikan apa yang aku perintahkan padamu. Jika kau bersikeras untuk itu, pertahankanlah dengan caramu. Tapi dengar baikbaik, aku tidak pernah berharap banyak dengan beasiswa yang kau dapatkan itu!”

Appa…

Aku tahu Appa tidak senang dengan apa yang aku dapatkan dengan kemampuanku sendiri. Karena apa yang aku inginkan selalu berbeda dengan apa yang Appa harapkan untukku. Aku lebih memilih membaca daripada berhitung. Bernyanyi daripada bermain alat musiknya. Berkuda daripada berenang. Dan juga, sastra daripada kedokteran.

Jika Appa tahu hal ini, beliau pasti akan menertawakanku.

“Hiks,”

Aku terduduk di lantai. Beringsut ke sudut dinding dan memeluk lututku. Rasanya sekarang aku tengah menghadapi monster yang bersiap menelanku hidup-hidup.

Drrt drrtt

Kulirik ponselku yang menggeletak di atas meja. Seseorang menelpon. Tanganku gemetar mengambilnya.

Kim Jong Woon.

Apa aku perlu menceritakan ini padanya?

Sedikit ragu aku menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telingaku.

“Ryuu-ya?”

Aku diam. Rasanya masih aneh untuk bicara dengannya melalui telepon.

Ya~ kau sudah pulang?”

“…”

“Ryuu? Kau ada di sana??”

“…”

“Ryuu!”

Hung?” aku menyahut dengan segera.

Gwaenchanayo??”

Oh.”

“Kau sudah makan?”

Um,” aku mengangguk.

Ya~ katakan sesuatu, please?” pintanya. Kudengar ia menghela napas.

“A-apa yang harus kukatakan?” kataku bingung.

“Kau ada di mana?” tanyanya untuk yang kesekian kali.

“Di rumah,” Jawabku singkat.

“Jam berapa tadi kau pulang?”

Jam berapa tadi? Aku bahkan tidak jadi masuk kelas gara gara Yura membuatku berlumuran telur.

“Apa kau sedang melakukan sesuatu??” tanyanya lagi.

“Tidak.”

Huh?”

“…”

“Oh, okay. Kurasa aku akan pulang cepat. Jadi tunggulah sebentar lagi. Eoh?”

Ye.”

“Hei, kau tidak ingin mengucapkan sesuatu untukku??” katanya, terdengar kesal.

“Aku lelah. Aku malas bicara. Kututup teleponnya, ne?” kataku pada akhirnya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa untuknya.

“Oh. Mianhae aku mengganggumu. Istirahatlah.”

Ne.”

Pip.

Aku menutup telepon dari Jong Woon tanpa menunggu ia bicara lagi. Kulempar ponselku sembarangan ke tempat tidur.

*****

Jong Woon Kim’s Pov.

Perasaanku tidak tenang. Entahlah apa yang sebenarnya aku khawatirkan. Tapi pikiranku tidak bisa lepas dari Ryuu. Terlebih saat aku menelponnya tadi siang. Kurasa ia sedang tidak baik-baik saja.

Aku meminta izin untuk pulang satu jam lebih cepat dari biasanya. Aku tidak tahu ini perasaan apa. Kurasa aku hanya merindukannya, dan aku tidak bisa menghalau perasaan ini.

Aku masuk dengan sedikit tergesa ke dalam rumah dan segera menaiki anak tangga untuk menuju kamar Ryuu, menemuinya. Namun langkahku terhenti di anak tangga ke tiga. Karena aku baru menyadari kalau Ryuu berada di ruang tengah. Aku kembali turun dan menghampirinya yang duduk diam di sofa menghadapi televisi yang mati.

“Ryuu?”

Matanya memejam. Apa ia tidur?

“Ryuu? Are you okay?” aku menyentuh bahunya. Ia sedikit tersentak. Ia membuka matanya.

Oh?” ia mengerjap melihatku. “Sejak kapan kau ada di hadapanku?” katanya tampak terkejut. Aku mengambil tempat di sisinya. Meletakkan tas dan jasku di atas meja.

“Belum lama.”

Ia menarik napas dalam. Lalu menyandarkan dirinya ke punggung sofa.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku menyelidik wajahnya yang nampak pucat. Ia angkat bahu. Tanganku mengangkat begitu saja menyentuh sebelah pipinya. Mengusapnya pelan. Akupun segera menangkap kegugupannya. Ya Tuhan, ia manis sekali.

“Katakan padaku apa yang kau rasakan…”

Ia menggeleng.

“Tidak ada,” katanya cepat. Sedikit menarik senyum yang juga begitu cepat. Membuatku gemas. Ia pelit sekali untuk tersenyum padaku.

“Sudah kubilang untuk tidak segan padaku, eoh?”

“Aku tidak segan padamu,” katanya. Itu hanya gengsinya untuk mengakuinya.

“Jinja?” tanyaku dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Hanya ingin menggodanya.

Nde,” jawabnya datar dengan menarik dirinya menjauhiku. Tanganku secara otomatis menangkap bahunya. Menahannya menjauh.

Ya~ kau ini apa-apaan?!” sergahnya tidak nyaman. Membuatku terkekeh sendiri.

“Kemarilah,” kataku dengan menariknya pelan. “Aku hanya ingin memelukmu…” ujarku kemudian seraya membawanya dalam pelukanku. Agak terkejut ketika tanpa kuduga kurasakan Ryuu melingkari kedua tangannya erat padaku. Ini tidak biasa.

“Wae?” tanyaku selembut mungkin. Berusaha untuk tidak membuatnya merasa di interogasi. “Apa ada sesuatu yang terjadi??”

Ia hanya menggeleng.

“Hei, katakan saja, hum?”

“Berhentilah bicara. Aku pusing,” sahutnya pelan.

“Baiklah,” kataku dengan mengeratkan pelukanku padanya. Kupikir, ini pertama kalinya aku dapat memeluknya dengan leluasa. Dan dengan mudah aku dapat menghirup aroma tubuhnya. Merekamnya dalam ingatanku. Rasanya benar-benar menyenangkan. Kuharap waktu agar berjalan dengan lambat. Kupejamkan mataku untuk menikmati momen ini.

Cukup lama juga kami hanya berpelukan. Tidak saling bicara. Hanya terdengar helaan napas dari masing-masing kami. Hingga akupun mengerutkan kening ketika merasakan Ryuu meremas kuat kemeja belakangku.

“Ryuu-ya? Gwaenchana?” tanyaku khawatir. Ia sedikit tersentak mendengar suaraku.

“Ya,” jawabnya singkat.

Aniyo. Aku tahu kau tidak baik-baik saja,” aku merenggangkan pelukannya dan sedikit memundurkan diriku untuk melihatnya. “Suhu tubuhmu juga sedikit tinggi…”

I’m fine,” sahutnya malas dengan memalingkan wajahnya.

“Ryuu-ya…”

“…”

“Jangan menyembunyikannya dariku. Apa yang kau rasakan?”

“…”

“Ryuu, aku sedang bicara padamu…” kataku dengan sedikit menahan kesal.

“Berhenti menanyaiku. Itu membuatku marah padamu!” sergahnya. Suaranya bergetar. Kurasa ia sedang berusaha menahan tangis. Hei, ada apa dengannya??

Aku menarik pelan wajahnya agar kembali menghadapku. Dan benar, matanya sudah sedikit menampung air. Ia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan tangisnya. Namun satu butir bening sudah berhasil lolos meluncur melewati sebelah pipinya.

“Aku bertanya karena aku mengkhawatirkanmu,” kataku dengan menyeka air matanya yang ia masih bersikeras untuk menahannya. Mataku mengarah pada bibirnya yang masih bergetar. Aku menghela napasku. Aku ingin sekali menyentuhnya. Namun apakah tidak apa-apa di saat seperti ini??

Kembali kuhela napasku. Dadaku bergemuruh. Aku tidak bisa menahannya. Aku merindukannya.

Tanpa pikir panjang lagi aku pun mencium bibirnya. Tubuhnya menegang dan dengan reflek berpegangan kuat pada bahuku. Aku mengulum bibirnya dengan sedikit tergesa karena terbawa emosiku yang memburu. Aku benar-benar merindukannya.

Ryuu tidak membalasku. Tidakkah ia menyadari perasaanku yang menggebu? Oh, ayolah Ryuu. Jangan membuatku selalu bersikap sepihak padamu!

Kurasa aku sudah gila sekarang. Aku menggigit kecil bibir bawahnya. Memancingnya untuk merespon ciumanku. Menekan tengkuknya untuk memperdalam ciumanku. Hingga kemudian aku merasakan ia mulai membalasku meski terkesan ragu ragu. Darahku mendadak seperti arus sungai yang kuat merambat ke wajahku. Ribuan kupu kupu serasa terbang memenuhi perutku.

Aku suamimu, Ryuu. Biarkan aku melakukan apa yang ingin kulakukan padamu, jaggi-ya

ANDWAE!!”

Tiba-tiba saja Ryuu mendorongku kuat hingga punggungku menghempas ke lengan sofa. Seketika ia bangkit berdiri menatapku dengan wajahnya yang basah oleh air mata.

“Ryuu…” panggilku. Aku menangkap ekspresi yang aneh darinya.

Ia menggeleng kuat.

Andwae! Andwae!” jeritnya seraya berlari menaiki anak tangga.

“Ryuu-ya!”

Aku menyusulnya memasuki kamar. Ryuu sudah menyudut di sela tempat tidur dan lemari. Menekuk dan memeluk lutut, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.

“Ryuu-ya…”

Aku mendekatinya yang mulai terisak, “Mianhae…” ucapku merasa bersalah. Aku terlalu teburu-buru.

Hati-hati aku mengulurkan kedua tanganku untuk merengkuhnya. Ryuu menerimanya.

Eottokhae? Eottokhae, Oppa? Eottokhae??” katanya seperti frustasi dengan terisak.

Wae? Katakan padaku ada apa??”

“Aku ketahuan Oppa! Aku ketahuan!”

Aku  mengerutkan kening bingung, “Mwo??”

“Yura…Yura akan melaporkannya! Aku akan habis! Aku akan…”

Yura??

Y-ya! Apa yang akan Yura laporkan!?” sentakku.

“Yura tahu aku sudah menikah, Oppa… aku akan di drop out… itu kontraknya kan! Huhuhu…”

M-mwo?!”

*****

Author’s Pov.

Jong Woon menghela napasnya berat. Kepalanya pusing. Di pandanginya wajah Ryuu yang tertidur lelap di sisinya. Ini sudah lewat tengah malam, namun ia sendiri tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya tengah berkecamuk mengenai masalah beasiswa Ryuu dan juga dirinya. Entah ini sebuah kesalahan atau apa. Yang jelas, hal ini terjadi dari dirinya yang terdesak oleh situasi.

Satu hari yang lalu,

“Jong Woon Oppa…”

Jong Woon menghentikan langkahnya. Ia berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.

“Yura??”

Yura tersenyum tipis padanya. Jong Woon melihat sekelilingnya. “Sedang apa kau di sini?” tanyanya.

Yura maju dua langkah, “Aku… aku baru saja dari kampus untuk pulang. Tapi aku melihatmu keluar dari sana. Jadi aku menemuimu,” katanya beralasan.

Jong Woon menoleh ke arah kliniknya sekilas, “Ini sudah malam. Kenapa kau baru pulang?”

“Ah, aku habis mengerjakan tugas hingga lupa waktu…”

Jong Woon manggutmanggut. “Geurae, segeralah pulang. Tidak baik seorang gadis berada di luar jamjam segini,” katanya dengan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan angka sepuluh.

“Hatihati di jalan. Aku duluan,pamitnya.

Yura menunduk, menyesali sikap Jong Woon yang terkesan acuh padanya.

“Oppa!”

“Ya?”

Jong Woon kembali berbalik.

“Um…bisakah…aku menumpang mobilmu??”

Jong Woon terdiam sesaat. Hingga kemudian ia pun mengangguk.

“Baiklah…” katanya dengan mengulas senyum singkat. Yura pun tersenyum senang.

“Gomawo,ucapnya. Dengan segera ia berlari kecil mengiringi langkah Jong Woon menuju mobilnya.

 

Jong Woon menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal. Di sebelahnya, Yura sesekali meliriknya. Tampak sekali ingin bicara dengannya. Namun Jong Woon memasang wajah beku.

“Mianhae,ucapnya pada akhirnya.

Jong Woon menoleh sekilas padanya, “For what?”

“Aku selalu merepotkanmu,” Yura meringis.

“Gwaenchana…” Jong Woon mengulas senyum ramahnya membuat Yura merasa sedikit lebih tenang.

“Umm… Oppa,” panggil Yura.

“Hm?”

“Boleh aku bertanya padamu?”

Jong Woon kembali menoleh sekilas pada Yura, “Oh. Ye. Silahkan.”

Yura memainkan bukubuku jari tangannya, “Umm…Oppa…Apa hubunganmu dengan…dengan Shin Ryuu??”

Deg!

Jong Woon terhenyak sejenak. Namun segera ia mengendalikan dirinya.

“Tidak ada,jawabnya. “Aku tidak-,”

“Aku melihat kalian, sela Yura cepat.

“M-mwo??”

Yura menunduk, “Aku melihat kalian di taman dekat jalan tak jauh dari klinik, tadi siang…” Yura menoleh pada Jong Woon dengan ekspresi risihnya. “Ka-kalian…berciuman…”

Jong Woon merasa dadanya tertohok. Ia tercekat. Dengan seketika ia menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Membuat Yura terhuyung dari duduknya.

“Oppa~,

Jong Woon diam. Ekspresinya sulit di tebak. Antara terkejut, bingung, takut, khawatir…

“Oppa, apa hubunganmu dengan Ryuu? Bukankah kalian tidak saling kenal? Sejak kapan kalian-,”

“Itu bukan urusanmu, Yura…”

Yura mengerutkan keningnya.

“Bukan urusanmu aku ada hubungan apa dengan Ryuu,lanjut Jong Woon dingin.

“Kenapa begitu? Ryuu teman dekatku, Oppa. Dan aku tidak menyangka dia bisa merebut perhatianmu juga setelah Donghae!” sahut Yura mulai emosi.

“Mwo?”

“Tidakkah kau menyadarinya? Aku menyukaimu, Oppa. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kalinya kita bertemu. Tapi kenapa kau malah memandang temanku? Bukan aku?!” seru Yura kesal. “Aku mungkin bisa menahan diri jika Ryuu hanya membuat Donghae berpaling dariku. Tapi kenapa dia juga membuatmu tidak melihatku?! Apa yang membuatmu tidak menyukaiku, Oppa?!”

“…”

“Katakan padaku apa yang membuatmu tidak menyukaiku? Bukankah aku lebih cantik dari Ryuu? Apa menariknya dari seorang Ryuu?!”

“Jangan berkata seperti itu. Kau tidak tahu apa apa.”

“Aku tidak menyangka, ternyata yeoja itu begitu licik. Dia pasti iri denganku. Oppa, Ryuu hanya memanfaatkanmu!”

“Istriku tidak seperti itu.”

“Huh?” spontan Yura menoleh pada Jong Woon.

“Ryuu tidak seperti apa yang kau katakan. Istriku gadis baikbaik.”

Yura tergagap, “M-mwo?? Is-istri?? Siapa? Siapa yang kau sebut istrimu??”

Jong Woon mengatupkan matanya sejenak, berusaha tetap mengendalikan dirinya.

“Dengar, aku sudah lebih dulu mengenal Ryuu daripada aku mengenalmu. Dan kami…” katanya menggantung. Ia menarik napas dalam.

“Aku dan Ryuu, kami sudah menikah…”

“Huufftt!!”

Jong Woon menghembuskan napasnya keras keras, berharap bebannya keluar bersamaan dengan karbondioksida yang ia hembuskan. Malam itu ia benar benar tidak berniat untuk membongkar rahasia. Hanya saja ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada Yura selain berkata jujur jika ia dan Ryuu sudah menikah. Ia juga tidak berpikir kalau Yura akan melaporkannya. Ia sudah meminta Yura untuk tutup mulut. Namun ternyata Yura tidak mendengarkannya. Satu hal yang baru ia sadari sekarang, Yura tidak senang dengan Ryuu, orang yang ia katakan sebagai teman dekatnya.

Mungkin tidak masalah mengenai beasiswanya. Melalui ayahnya, ia bisa melobi pihak universitas untuk setidaknya tidak mengeluarkan mereka berdua. Tapi ia tidak bisa membayangkan bagaimana respon Ryuu jika ia tahu bahwa dirinyalah yang membongkar rahasia pernikahan mereka dengan memberi tahu Yura malam itu. Bisa jadi Ryuu akan membencinya seumur hidup. Bagaimanapun ia mengerti seberapa berharga dan berartinya beasiswa itu bagi Ryuu. Sedikitnya ia tahu apa yang terjadi dengan hubungan antara Ryuu dan ayahnya sendiri.

“Apa yang harus kulakukan, Ryuu? Aku tidak ingin kau membenciku hanya karena ini. Kumohon jangan membenciku…” lirihnya pelan pada Ryuu yang masih terlelap.

Mianhae…”

*****

“Jika ada sesuatu yang terjadi, segera hubungi aku. Eoh?” ujar Jong Woon mewanti-wanti pada Ryuu. Ryuu memejamkan matanya sesaat seraya menghela napas.

Nde.”

Jong Woon mengulas senyum tipis, “Keluarlah…”

Ryuu membuka pintu mobil dan keluar tanpa melihat lihat keadaan lagi.

“Aku akan menjemputmu! Hubungi aku!” seru Jong Woon ketika Ryuu begitu saja melangkah menjauh.

Ryuu berbelok menuju gedung fakultasnya. Ia bisa menyadari berpasang pasang mata mengikuti setiap geraknya. Tentu saja itu tidak nyaman untuknya. Apalagi ketika sampai di koridor kelasnya, disana sudah berkumpul teman-teman sekelasnya, menatapnya aneh dengan kehadirannya.

“Ryuu-ssi, kau masih mau masuk kelas? Untuk apa?”

“Kau pulang saja. Sebentar lagi kau akan di DO. Jadi untuk apa masuk kelas?”

Ya~ kalian tidak boleh bicara begitu! Kasihan Ryuu…”

Ryuu memandang datar teman temannya itu meski darahnya sudah terasa naik ke ubun-ubun. Ia berbalik. Mereka benar, untuk apa masuk kelas jika tak lama lagi ia akan di DO?

Ryuu beralih menuju perpustakaan. Tempat yang selalu menjadi pelariannya.

“Ryuu…”

Langkah Ryuu terhenti oleh seseorang yang menghadangnya.

“Kabar ini tidak benar, kan?”

Ryuu menunduk sejenak. Ia menarik napas dalam.

“Benar. Aku sudah menikah, Donghae-ssi…” katanya seraya mengangkat wajahnya menatap pria di hadapannya. Donghae terhenyak.

“Sejak kapan? Apa kau tidak mengerti juga mengenai perasaanku??”

Ryuu menghela napas lelah, “Kau tidak perlu tahu sejak kapan. Tapi apakah kau tidak mengerti juga? Aku sudah sering menolakmu. Berhenti berharap padaku. Awal Yura membenciku karena kau memiliki perasaan terhadapku. Kumohon jangan membebaniku, Donghae-ssi…”

Kini giliran Donghae menunduk. Sesak sekali rasanya mendengar pernyataan itu.

“Maafkan aku, Donghae-ssi.”

Ryuu melanjutkan langkahnya. Memasuki perpustakaan. Sekalipun ia tahu orang orang yang berada dalam ruangan besar itu memperhatikannya, ia memilih pura-pura tidak tahu. Ia duduk di salah satu kursi baca. Mengambil asal buku dari rak terdekat.

“Ssst…sstt… lihat itu. Itu yeoja yang kemarin kan?”

“Yang kemarin? Oh. Yang katanya diam-diam menikah karena takut beasiswanya di cabut?”

“Kenapa dia bisa menikah? Tidak menunggu hingga kuliahnya selesai? Aneh sekali.”

“Hei jangan-jangan, dia mengalami ‘kecelakaan’??”

Mwo?”

Ah, ye! Mungkin saja! Bukankah ayahnya pejabat duta besar? Ayahnya pasti malu, jadi terpaksa menikahkannya. Itu masuk akal, kan?”

“Ah, kau benar!”

Ryuu mengepalkan tangannya mendengar beberapa gadis membicarakannya berbisik bisik di belakangnya.

“Kasihan sekali. Memangnya sudah semester berapa dia?”

“Ah, itu sudah biasa. Dia saja yang tidak tahu malu. Sudah tahu memiliki tanggung jawab tapi malah seperti itu. Masih banyak mahasiswa baik yang memerlukan beasiswa itu…”

Brakk!!

Ryuu membanting bukunya kesal dan marah. Ia beranjak dan berbalik menghadapi tiga orang gadis yang tadi membicarakannya. Ketiga itu nampak terkejut karenanya.

“Kalian. Apa yang kalian bicarakan, huh?” katanya dingin penuh penekanan.

A-aniya… ka-kami…”

“Berani sekali kalian membicarakanku dengan hal yang tidak-tidak. Kalian ingin mati, eoh!?!” bentaknya, membuat ketiga gadis itu terlonjak kaget.

“Berhenti mengurusi orang lain! Kalian tidak tahu apa-apa! Arraseo!” bentak Ryuu lagi. Wajah ketiga gadis itu nampak seketika pasi. Ryuu memberi tatapan membunuhnya sebelum kemudian ia kembali ke mejanya untuk mengambil ranselnya dan pergi. Perpustakaan sudah tidak cocok lagi untuknya.

Dengan tergesa Ryuu melangkah keluar. Ia tidak tahan untuk tidak menangis. Dan ia tidak memiliki pelarian. Kemana ia harus pergi??

“Kau masih begitu padaku. Aku tahu kau membutuhkan seseorang untuk mendengar keluh kesahmu. Tapi kenapa kau tidak datang padaku? Apa yang menjadi alasanmu selalu melupakanku?”

Langkah Ryuu terhenti.

“Aku mengerti, kau tidak pernah menganggapku sebagai orang yang penting untukmu. Tapi apa hanya karena itu, aku harus menjauhimu? Berpura-pura tidak tahu apa yang sedang kau alami…”

“Heenim…”

Ryuu menatapnya nanar. Hee Chul menghampirinya dan berhenti di hadapannya dengan menjaga jarak. Ryuu mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya yang meluap. Ia menunduk dengan terisak. Hee Chul hanya diam di tempatnya berdiri.

“Maafkan aku… Apa yang harus kulakukan untuk membawamu hadir dalam pikiranku? Sementara pikiranku terlalu penuh. Ingin meledak saja rasanya. Kau adalah teman pertamaku. Kumohon jangan marah padaku…”

“…”

“Jangan menjauhiku, Heenim… Jangan membuatku benar benar kehilangan semuanya…”

Hee Chul menarik napas dalam. Ia melangkah mendekat pada Ryuu dan memeluknya. Seketika tangis Ryuu pecah. Mengeluarkan emosinya yang tertahan sejak tadi.

*****

“Apa yang kau lakukan? Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak mengatakannya pada siapapun? Kenapa kau bahkan mempermalukan Ryuu di depan umum!?” kata Jong Woon marah, ia berusaha keras untuk mengendalikan dirinya.

Yura membuang muka, “Kenapa aku harus menuruti kata-katamu? Memangnya kau siapa?”

Ya!”

Yura membenarkan letak duduknya. Tetap bersikap manis. Ia meminum sedikit jus yang di pesannya.

“Ryuu pantas mendapat perlakuan seperti itu,” katanya tenang. “Tenang saja, hanya Ryuu yang kulaporkan…”

“Kau bilang dia teman dekatmu, apakah yang seperti itu sikap seorang teman akrab?!”

“Dulu aku merasa Ryuu memang teman dekatku. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, Ryuu sama sekali tidak dekat denganku…” ujar Yura dengan menggeleng.

Ya! Apa hanya karena kau menyadari hal itu, kau bersikap begitu padanya?!”

Yura memutar bola matanya, “Bukankah baik aku membongkarnya sekalian? Jika Ryuu drop out, bukankah dia bisa all out untuk menjadi ibu rumah tangga? Seharusnya kau berterima kasih padaku, Oppa…”

“Dengar, kau tidak berhak mencampuri urusanku dan Ryuu!” bentak Jong Woon kesal.

“Aku merasa tidak mencampuri urusan kalian. Aku hanya ingin keadilan…” kata Yura dengan menggedikkan bahunya.

“Keadilan apa yang kau maksud, huh?!”

Yura mendecak, “Kau membuang waktuku, Oppa. Aku pergi. Sampaikan salamku untuk ISTRIMU!” katanya seraya beranjak pergi.

YA! Aku belum selesai bicara!” seru Jong Woon marah. “KIM YURA!”

Yura tak mendengarkan. Gadis itu melenggang pergi begitu saja. Tak peduli dengan Jong Woon yang nampak benar-benar marah padanya.

*****

Ice cream?”

Hee Chul menyodorkan sebuah es krim coklat pada Ryuu. Ryuu meringis. Ia menggeleng pelan.

No, thanks…” katanya dengan menunduk.

“Hei! Come on girl! Jangan seperti itu. Aku tahu kau menginginkannya. Ayo, ambil dan makan es krim ini!” Hee Chul membuka bungkus salah satu es krim yang ia bawa dan memberikannya pada Ryuu. Ryuu tampak ragu-ragu menerimanya.

“Es krim ini rasa coklat. Coklat bisa membuat mood menjadi lebih baik,” ujar Hee Chul dengan tersenyum lebar. Ryuu hanya tersenyum kecut. Ia menggedikkan bahunya dan menjilat es krimnya.

“Yak!” pekik Ryuu.

Wae?!” tanya Hee Chul waspada.

Ryuu kembali meringis, “Es krim ini dingin…”

Hee Chul memberi tatapan datarnya pada Ryuu, “Yang namanya es krim tentu saja dingin, pabo!” ujarnya sebal.

Ah. Ye. Kau benar…” Ryuu tersipu. Membuat Hee Chul agak terpana melihatnya. Iapun tersenyum hingga kemudian tertawa geli.

W-wae??” tanya Ryuu bingung.

Aniya,” sahut Hee Chul acuh sambil membuka bungkus es krim miliknya. Ryuu mencibir. Hee Chul meliriknya tidak suka.

Ya~ kau baru saja tersenyum tadi. Kenapa malah mengubah ekspresimu menjadi merengut seperti ini!” sewotnya dengan mencubit sebelah pipi Ryuu.

Aw!” secara reflek Ryuu memukul tangan Hee Chul. “Kenapa kau mencubitku?!” sentaknya tidak terima.

“Kau sendiri yang membuatku mencubitmu!” kilah Hee Chul.

What the hell?! Kau ingin ribut denganku Hee Chul-ssi??” kata Ryuu dengan penekanan di setiap penggalan kata katanya.

Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin ribut denganku??” balas Hee Chul. Ryuu mengangkat sebelah alisnya.

Ya~ kau yang ingin ribut denganku, Kim Hee Chul!” seru Ryuu dengan menahan senyumnya.

“Cih, kau yang lebih dulu membuatku sebal Shin Ryuu!” sinis Hee Chul.

Well,” kening Ryuu berkerut. “Jadi kita ribut saja kalau begitu!” katanya dengan mengangguk-angguk.

“Siapa takut?” ujar Hee Chul santai sambil menjilat es krimnya. Ryuu menatapnya dengan tatapan mencurigakan. Hee Chul memandangnya aneh.

M-mwoya??”

Ryuu menarik sebelah sudut bibirnya, membentuk seringai kecil.

“Ya-YAKK!!”

Hee Chul memekik keras karena terkejut ketika tiba tiba Ryuu dengan cepat membuat tangannya yang memegang es krim mengoleskan es krimnya itu ke sekeliling wajahnya. Secepat kilat Ryuu segera menjauh dari sana untuk menghindari balasan dari Hee Chul. Yang wajahnya sudah coreng moreng dengan es krim coklat.

“YA! Sialan kau Ryuu!” seru Hee Chul tidak terima. Ryuu tertawa.

“Make up yang cantik, Hee Chul EONNI!” ejek Ryuu.

YA! Kurang ajar! Kemari kau! Dasar patung es!” seru Hee Chul gemas seraya berlari untuk menjangkau Ryuu. Ryuu pun dengan gesit berlari juga untuk menghindari kejaran Hee Chul. Ia tertawa lepas. Tanpa beban. Diam-diam Hee Chul tersenyum. Berapa kali seminggu gadis itu tertawa? Oh, apa sebulan sekali? atau bahkan setahun sekali ia tertawa?? Hee Chul tersenyum geli sendiri lagi.

Ya~ apa yang kau tertawakan, Hee Chul Eonni??” cibir Ryuu.

Ya~ apa maksudmu menyebutku Eonni, huh?!” sengit Hee Chul. “Kau pikir kau bisa seenaknya padaku?! Kemari kau, gadis jelek!”

Ryuu tertawa dengan menjerit ketika Hee Chul berhasil menangkap tangannya.

Ya! Ya! Get away from me!” serunya.

“Tidak semudah itu, agassi,” sinis Hee Chul.

Andwaee~” pekik Ryuu saat Hee Chul sudah mengacungkan es krimnya yang sudah sedikit meleleh untuk ia oleskan pada wajahnya.

“KYAAA…” Ryuu memejamkan matanya risih ketika Hee Chul menempelkan es krimnya ke keningnya.

“Hahaha… kau seperti pendeta hindunis, Rue!” kata Hee Chul melihat hasil kerjanya pada wajah Ryuu.

Mwoya?!”

Keduanyapun tertawa. Saling menertawakan diri mereka masing masing.

Secara kebetulan, seseorang baru saja keluar dari sebuah kafe dekat sana dan melihat mereka. Dari balik kaca mata bening yang di pakainya, kedua belah mata itu memicing, memperjelas fokus matanya pada salah satu dari dua orang itu. Hingga kemudian satu tapak tangannya mengepal. Dengan emosi yang sedang naik ke ubun-ubun, ia melangkah tergesa mendekati mereka. Mendekati Ryuu.

Dalam beberapa langkah lebar, ia menjangkau lengannya dan menariknya sedikit menjauh.

Oppa….”

Senyum Ryuu perlahan memudar karena terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang.

Kim Jong Woon.

Ryuu menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ia tidak bisa berkata kata saat melihat ekspresi beku dari Jong Woon padanya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini??” tanya Jong Woon dingin namun penuh penekanan.

Ryuu membuka mulutnya untuk bicara. Namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Kami sedang menghilangkan beban.”

Jong Woon menoleh pada Hee Chul yang menyahutnya. Jong Woon mengerutkan keningnya. Tiba tiba ia tersenyum sinis.

“Jadi siapa lagi ini, Ryuu-ya? Apa kau sedang melakukan apa yang pernah aku tuduhkan padamu??” katanya dengan nada mencibir. Ryuu semakin tercekat.

N-no! Tentu saja tidak!” bantah Ryuu setelah susah payah mengeluarkan suaranya yang tercekat di tenggorokan.

“Lalu apa?” Jong Woon kembali beralih pada Ryuu. “Jika kau sudah selesai kuliah bukankah aku sudah sering mengatakannya padamu untuk langsung pulang ke rumah??” geramnya.

“Aku yang mengajaknya. Kau tahu, Ryuu, dia habis menerima perla-,”

“Aku tidak bicara padamu,” sela Jong Woon cepat pada Hee Chul. “Aku, bicara pada Ryuu. Pada Istriku,” tekannya dengan menatap tajam Hee Chul. Heecul diam.

Jong Woon menarik tangan Ryuu paksa pergi dari sana. Pulang.

Hee Chul memandang datar Ryuu yang nampak tertatih melangkah menyamai langkah tergesa Jong Woon. Ia menunduk. Tanpa sengaja matanya tertuju pada es krim Ryuu yang menggeletak di tanah. Mencair. Ia melirik es krim miliknya yang masih ia pegang. Sudah mencair juga. Ia pun membuang es krimnya itu sembarangan.

*****

Seperti biasa hanya keheningan yang menemani keduanya. Namun kali ini ada suasana tegang yang ikut andil menciptakan keheningannya. Diam tanpa kata. Sibuk dengan pikiran masing masing. Ryuu masih berdiri di dekat pintu depan, menunggu Jong Woon yang juga mematung tak jauh darinya. Dekat tangga. Membelakanginya.

Jong Woon mengatur napasnya untuk bersikap normal. Mencoba mendinginkan kepalanya sebelum mengadili Ryuu.

“Apa yang terjadi denganmu di kampus? Huh?”

Ryuu tidak langsung menjawab apa yang menjadi pertanyaan pertama Jong Woon.

“Kau tidak masuk kelas kan? Katakan yang jujur! Sudah berapa kali kau membolos kelas? Kau ingin meniru apa yang dilakukan Henry??”

Ryuu menarik napas dalam. Menghimpun tenaganya untuk bicara. “Aku tidak bisa masuk kelas,” jawabnya pelan.

Wae?!”

“Aku akan di DO. Mereka, teman-temanku mengatakan padaku bahwa aku tidak perlu masuk kelas lagi…”

Mwo?” Jong Woon berbalik. Keningnya berkerut mendengar penuturan Ryuu.

“Seputus asa itukah dirimu, Ryuu??” tanya Jong Woon dengan memicingkan matanya. “Bukankah kau tidak ingin kuliahmu berhenti begitu saja?!”

“Ya,” Ryuu menundukkan pandangannya ke lantai.

“Lalu apa yang kau lakukan dengan pria itu tadi? Bersenang-senang??” nada suara Jong Woon meninggi. Emosinya kembali naik.

“Kumohon jangan salah paham. Dia temanku. Dia hanya ingin menghiburku…” ujar Ryuu dengan memelas. Ia lelah.

“Menghiburmu?” ulang Jong Woon. “Cih,” ia menarik senyum sinisnya. “Dan kau senang ia menghiburmu? Dengan mudahnya kau tersenyum bahkan tertawa lepas di tengah jalan? Kau pikir itu pantas? Lihat wajahmu! Kau tidak lebih seperti anak kecil nakal yang selalu membantah! Kau lupa? Kau ini gadis dewasa yang sudah menikah!”

“CUKUP!” bentak Ryuu. Napasnya memburu. “Berhenti menghakimiku seperti ini…” katanya nanar.

“Asal kau tahu, aku tidak pernah lupa dengan statusku… status yang membuatku seperti di penjara olehmu. Kumohon jangan seperti ini. Apa yang kau ucapkan barusan sama saja seperti yang dulu. Dan itu salah…”

Jong Woon membuang muka, “Tapi yang tadi itu sangat jelas terlihat. Kau bahkan tidak pernah tertawa untukku. Tersenyum pun kau seakan enggan…” lirih Jong Woon.

E-eh?”

“Tidak! Kau hanya melakukan pembenaran Ryuu! Aku curiga padamu. Beberapa kali aku melihatmu bersama pria. Dan tidak masuk akal jika memang kau tidak memiliki hubungan apa apa selain denganku, tapi kau bahkan selalu menyebut nama orang lain hampir dalam setiap tidurmu!”

Ryuu tersentak.

“Siapa sebenarnya pria tadi? Dan siapa nama yang sering kau sebut dalam tidurmu? Ken??”

Ryuu menelan ludahnya pahit. Ia terhenyak. Bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Jong Woon.

“Sebenarnya kau ini gadis yang seperti apa, huh?!” seru Jong Woon frustasi. “Kupikir Yura benar. Kau memang lebih baik berhenti dari kuliahmu. Kau perlu banyak belajar untuk menjadi seorang istri!”

Seketika kening Ryuu berkerut, “Apa kau bilang? Yura mengatakan apa??”

Jong Woon mengepalkan tangannya kuat.

“Dengar, apa kau tahu siapa orang yang memberi tahu Yura mengenai pernikahanmu? Pernikahan kita??” Jong Woon menatap tajam pada Ryuu yang wajahnya sudah pias.

“Orang itu adalah aku.”

Ryuu menatap Jong Woon tak percaya. Tiba tiba saja dadanya terasa sesak. Ternggorokannya tercekat. Ia tidak mampu berkata-kata.

“K-kau…”

*****

Ryuu Shin’s Pov.

Aku berlari tanpa arah dengan air mata yang menganak sungai di wajahku. Hatiku sakit. Kecewa. Apa yang dikatakan Jong Woon tadi seperti mata pisau yang menusuk ke ulu hatiku. Pria itu malah meruntuhkan kepercayaan diriku yang susah payah kubangun belakangan ini untuknya. Kenapa begini??

Sebesar apa kesalahanku selama ini pada Jong Woon hingga membuat pria itu tanpa kompromi meluluh lantakkan diriku? Secara sepihak mengadiliku lagi dan membuatku merasa seperti kehilangan masa depan? Benar, aku memang belum menjadi istri yang baik baginya. Tapi bisakah bukan dengan cara seperti ini??

Mungkin orang-orang tidak mengerti apa arti beasiswa itu bagiku. Dengan kukuhnya aku mempertahankannya dengan merelakan diriku menikah muda sebagai syarat yang diajukan ayahku. Merelakan diriku tersiksa karena harus jauh dari orang yang kusayangi yang masih berada di Inggris sana meski aku tidak tahu tepatnya. Ken.

Orang itukah yang menjadi kecemburuan terbesarmu, Oppa? Aku memang tidak pernah bercerita apapun mengenai orang itu. Karena aku tahu, orang itu akan membuatmu merasa tidak aku hargai sebagai seorang suami. Tapi tidakkah kau paham?? Kita menikah bukan karena kita bertemu lalu jatuh cinta dan menikah. Tapi kita bertemu, menikah, lalu aku sedikit demi sedikit, mati-matian membunuh rasa rinduku pada masa laluku untuk mencintaimu. Tidak bisakah kau bersabar??

Aku jatuh tersungkur. Aku lelah berlari dan kakiku sakit. Walaupun rasanya tidak lebih sakit dari hatiku. Tak kupedulikan tatapan aneh orang-orang yang melihatku. Aku bahkan lebih takut pada tatapan Jong Woon.

Drrt drrt

Ponsel di saku jaketku bergetar. Dengan tangan yang gemetar aku mengambilnya. Seseorang dengan nomor asing menelponku. Kugeser tombol hijau untuk mengangkatnya.

“…”

“Halo? Noona? Ini aku Henry!”

Aku berusaha menahan diriku untuk tidak terisak mendengar siapa yang menelponku.

“Halo? Noona? Noona? Apa kau mendengarku??”

Aku menelan ludahku yang terasa pahit. Mengatur napasku untuk dapat bicara.

Noona? Ya~ Noona! Bicaralah!”

“….Henry-a….”

Noona! God!” Henry berseru riang. “Noona, aku baik-baik saja disini. Jadi kau tidak perlu khawatir, eoh?”

Aku mengangguk, “Oh!” kataku dengan masih menahan diriku untuk tidak terisak.

Noona? Are you okay? Apa kau masih marah padaku? Kumohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Tapi kau kan ada Jong Woon Hyeong, jadi kau tidak perlu merasa kesepian…”

“Hiks,” isakan itu langsung saja lolos dari mulutku mendengar apa yang baru saja Henry katakan padaku.

Noona… jangan menangis. Aku akan sering menelpon Noona. Apa Noona sedang bersama Hyeong? Aku ingin bicara pada Jong Woon Hyeong…”

Aku membekap mulutku sendiri. Aku tidak bisa lagi menahan isakan tangisku.

Noona? Halo? Noona?”

Aku menurunkan ponselku dari telingaku. Menggeser tombol merah untuk mengakhiri panggilannya.

Aku melangkah gontai di sepanjang pinggir jalan. Aku masih menangis. Air mata ini sulit kuhentikan. Kepalaku pusing. Entahlah aku ingin kemana. Aku hanya ingin menenangkan diriku. Semakin jauh dari rumah, sepertinya akan semakin membuatku tenang.

Aku berhenti, menunggu lampu lalu lintas mempersilahkan pejalan kaki untuk menyebrang. Lalu lalang kendaraan membuat kepalaku semakin pusing.

“Ryuu?? Hei, Ryuu!”

Aku menoleh sekilas. Seperti ada yang memanggilku.

“Ryuu! Ryuu Shin!”

Kepalaku berat. Bumi yang kupijak seakan bergoyang. Seperti ada lindu. Pening. Pandangan mataku mengabur. Aku terhuyung. Tanganku menggapai-gapai untuk mencari pegangan. Samar-samar aku melihat seseorang berlari ke arahku.

“RYUU!! STOP!!”

Ckiiitttt BRAKK!!

Aku menghempas ke aspal dengan seseorang yang memeluk erat diriku. Melindungi kepalaku dengan lengannya. Dengan kesadaranku yang masih tersisa, aku melihat siapa yang melindungiku.

“Ryuu….”

Samar aku melihat senyumnya. Senyum yang selama ini ingin kulihat lagi. Senyum khas dari seorang…

“K-Kenichi….”

Title                 : I’m Your Man #chapter 10

Author             : Ryuzaki

FB                   : http://www.facebook.com/septi.freedom.5

Main Cast        : Yesung Super Junior as Kim Jong Woon – Shin Ryuu (OC)

Genre              : AU

Rate                 : PG 17

Lenght             : Chapter

Disclaimer       : The story pure fiction

Note                : FF ini sudah pernah di publish di note FB Author dan juga di FP Super junior fanfiction dengan beberapa revisi

*****

Author’s Pov.

Dua gadis itu berhadapan dengan saling melempar tatapan tajam.

“Apa maksudmu? Kau ingin bermain api denganku, Yura-ssi??”

Yura menarik senyum mengejek, “Kau masih saja bersikap angkuh padaku, Ryuu.”

“Apa maumu? Jangan membuatku marah!”

“Cih, dasar pembohong besar. Munafik!”

Ryuu berusaha menahan kakinya untuk tetap di tempatnya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Serendah itukah dirimu, Ryuu? Menikah diam-diam hanya untuk mempertahankan beasiswamu? Ternyata apa yang kau dapat di klub teater benar-benar kau lakukan dalam kehidupanmu sehari-hari, eoh? Berakting untuk kebohongan yang besar??”

DEG!!

M-mwo??” Ryuu terperanjat dengan apa yang baru saja di lontarkan Yura untuknya. Yura masih mengulas senyum mengejeknya.

“Memangnya, semiskin apa dirimu, Ryuu?? Tidak mampu membayar administrasi kuliahmu??”  cibir Yura, membuat Ryuu semakin naik darah.

“Oh, aku baru ingat kalau kau seorang yatim piatu…”

PLAK!!

Dalam dua langkah besar dan cepat, Ryuu berhasil mendaratkan telapak tangan kanannya ke sebelah pipi Yura. Tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut melihatnya.

“Kau tidak tahu apa apa. Berhenti bicara yang tidak tidak, atau aku akan membuat tanda di wajahmu,” Ryuu berkata dingin. Wajahnya mengeras dan merah karena emosi. “Jangan membuat masalah denganku. Arra?”

Ryuu membenahi ranselnya sebelum kemudian ia berlalu dari hadapan Yura yang masih nampak terkejut dengan apa yang ia dapatkan dari Ryuu.

“YA! KAU PEREMPUAN MUNAFIK! AKU TIDAK AKAN BERHENTI SAMPAI DISINI!”

Ryuu tak mendengarkannya. Ia terus berjalan dengan berpuluh pasang mata mengekori langkahnya.

*****

“Sudah?” tanya Hee Chul pada Ryuu yang baru saja keluar dari toilet. Pakaiannya sudah ia ganti. Hee Chul membantu membeli pakaian baru untuknya.

“Apa kau punya sesuatu untuk menghilangkan bau ini?” Ryuu merengut mencium bau telur yang sepertinya masih melekat di rambutnya. Ia mengambil tempat di sebelah Hee Chul yang menungguinya di bangku koridor.

Hee Chul memandang miris pada Ryuu, “Kau kan yeoja. Apa kau tidak membawa parfum?”

Ryuu meliriknya sebal, “Aku bukan pesolek.”

“Oh? Okay okay, aku mengerti,” ujar Hee Chul dengan angkat bahu. Mengalah. Ini bukan saatnya untuk mendebat Ryuu.

“…”

“…”

Hee Chul menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia melirik Ryuu yang diam saja.

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi??” tanyanya sedikit hati-hati.

Ryuu menoleh sekilas padanya. Ia menggeleng pelan.

“Entahlah…”

Hee Chul memasang ekspresi sebalnya pada Ryuu, “Kau ini apa-apa tidak mau berbagi denganku!” katanya dengan menoyor kepala Ryuu kesal sekaligus gemas.

YA!” seru Ryuu marah. “Berbagi apa?! Memangnya apa yang perlu kubagi denganmu?!” sengitnya.

Hee Chul membuang muka, “Kau bahkan tidak mau berbagi memori otakmu untukku. Jika saja aku tidak memberimu sinyal waktu itu, kau pasti belum juga mengenaliku hingga saat ini…”

Ryuu terhenyak. Ia terdiam seribu bahasa. Ia hanya bisa menunduk merasa bersalah.

“Dasar yeoja berpikiran sempit!” cibir Hee Chul. “Sialnya, kenapa aku mau peduli denganmu? Aish. Terserahlah. Aku tidak mau bertanya apa yang sebenarnya terjadi di kehidupanmu. Bukan urusanku. Berlakulah terus seperti orang yang tak merasa berdosa, Rue!”

Ryuu tersentak sendiri mendengar kalimat  Hee Chul yang menohok dirinya.

“Baiklah, aku pergi dulu. Aku masuk kerja jam sepuluh. Dan sekarang sudah lewat lima belas menit. Kurasa aku akan dapat peringatan…”

“Heenim,” Ryuu menahan lengan Hee Chul yang hendak beranjak.

Wae?” tanya Hee Chul tanpa menoleh untuk Ryuu.

“Heenim,” Ryuu meneguk ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. “Gomawo…”

“Hm,” sahut Hee Chul malas. “ Jaga dirimu. Aku pergi.”

Ryuu menatap nanar punggung Hee Chul yang berjalan menjauh.

I’m so sorry, Heenim…” lirihnya. Ia menghela napas berat.

*****

Ryuu Shin’s Pov.

Kupejamkan mataku sesaat, menetralkan tekanan darahku yang seakan sudah mendidih di otakku. Jantungku berdegub keras. Ujung-ujung jemariku beku. Aku benar-benar merasa tidak tenang saat ini.

Yura mengetahui aku sudah menikah. Dan tadi pagi ia meneriakiku di depan umum!

Bagiku tentu saja hal ini sesuatu yang gawat. Dari mana yeoja itu mengetahuinya? Tidak banyak yang tahu mengenai pernikahanku. Hanya keluargaku dan juga keluarga Jong Woon. Dan keluargaku juga keluarga Jong Woon semuanya berada di luar negeri. Lalu siapa yang membocorkan rahasia ini? Apa aku melakukan kesalahan hingga rahasia yang selalu ku tutupi dari orang orang ini terbongkar??

Matilah aku.

Beasiswaku yang selama dua tahun penuh ku perjuangkan akan musnah. Parahnya, bisa juga kuliahku yang sudah menginjak ke empat semester ini akan sia-sia. Aku akan didrop out…

ANDWAE!!!”

Kuacak-acak rambutku, berusaha menghilangkan pikiran mengerikan itu. Akan kutaruh di mana wajahku jika hal itu terjadi??

Eottokaji??”

Kubuka laci meja kerjaku. Mencari surat kontrak beasiswa yang selama ini menjadi acuanku.

“Oh! Di mana surat itu?!” Kutarik keluar setiap lacinya. Surat berkop universitas itu sudah seperti surat keramat untukku.

Aku menelan ludah ketika surat itu kutemukan. Tercampur dengan surat-surat administrasi lain. Kuatur napasku yang memburu. Ya Tuhan, tenangkan aku!

“Pembangkang…”

Tiba tiba saja suara Appa mengiang di telingaku.

“Appa menyuruhmu untuk tetap di sini. Jika kau tetap ingin ke Korea, persiapkan dirimu untuk menerima seseorang dalam hidupmu.”

“Dasar keras kepala. Kau pikir sehebat apa dirimu? Beasiswa itu tidak ada artinya dengan sikapmu yang selalu mengabaikan apa yang aku perintahkan padamu. Jika kau bersikeras untuk itu, pertahankanlah dengan caramu. Tapi dengar baikbaik, aku tidak pernah berharap banyak dengan beasiswa yang kau dapatkan itu!”

Appa…

Aku tahu Appa tidak senang dengan apa yang aku dapatkan dengan kemampuanku sendiri. Karena apa yang aku inginkan selalu berbeda dengan apa yang Appa harapkan untukku. Aku lebih memilih membaca daripada berhitung. Bernyanyi daripada bermain alat musiknya. Berkuda daripada berenang. Dan juga, sastra daripada kedokteran.

Jika Appa tahu hal ini, beliau pasti akan menertawakanku.

“Hiks,”

Aku terduduk di lantai. Beringsut ke sudut dinding dan memeluk lututku. Rasanya sekarang aku tengah menghadapi monster yang bersiap menelanku hidup-hidup.

Drrt drrtt

Kulirik ponselku yang menggeletak di atas meja. Seseorang menelpon. Tanganku gemetar mengambilnya.

Kim Jong Woon.

Apa aku perlu menceritakan ini padanya?

Sedikit ragu aku menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telingaku.

“Ryuu-ya?”

Aku diam. Rasanya masih aneh untuk bicara dengannya melalui telepon.

Ya~ kau sudah pulang?”

“…”

“Ryuu? Kau ada di sana??”

“…”

“Ryuu!”

Hung?” aku menyahut dengan segera.

Gwaenchanayo??”

Oh.”

“Kau sudah makan?”

Um,” aku mengangguk.

Ya~ katakan sesuatu, please?” pintanya. Kudengar ia menghela napas.

“A-apa yang harus kukatakan?” kataku bingung.

“Kau ada di mana?” tanyanya untuk yang kesekian kali.

“Di rumah,” Jawabku singkat.

“Jam berapa tadi kau pulang?”

Jam berapa tadi? Aku bahkan tidak jadi masuk kelas gara gara Yura membuatku berlumuran telur.

“Apa kau sedang melakukan sesuatu??” tanyanya lagi.

“Tidak.”

Huh?”

“…”

“Oh, okay. Kurasa aku akan pulang cepat. Jadi tunggulah sebentar lagi. Eoh?”

Ye.”

“Hei, kau tidak ingin mengucapkan sesuatu untukku??” katanya, terdengar kesal.

“Aku lelah. Aku malas bicara. Kututup teleponnya, ne?” kataku pada akhirnya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa untuknya.

“Oh. Mianhae aku mengganggumu. Istirahatlah.”

Ne.”

Pip.

Aku menutup telepon dari Jong Woon tanpa menunggu ia bicara lagi. Kulempar ponselku sembarangan ke tempat tidur.

*****

Jong Woon Kim’s Pov.

Perasaanku tidak tenang. Entahlah apa yang sebenarnya aku khawatirkan. Tapi pikiranku tidak bisa lepas dari Ryuu. Terlebih saat aku menelponnya tadi siang. Kurasa ia sedang tidak baik-baik saja.

Aku meminta izin untuk pulang satu jam lebih cepat dari biasanya. Aku tidak tahu ini perasaan apa. Kurasa aku hanya merindukannya, dan aku tidak bisa menghalau perasaan ini.

Aku masuk dengan sedikit tergesa ke dalam rumah dan segera menaiki anak tangga untuk menuju kamar Ryuu, menemuinya. Namun langkahku terhenti di anak tangga ke tiga. Karena aku baru menyadari kalau Ryuu berada di ruang tengah. Aku kembali turun dan menghampirinya yang duduk diam di sofa menghadapi televisi yang mati.

“Ryuu?”

Matanya memejam. Apa ia tidur?

“Ryuu? Are you okay?” aku menyentuh bahunya. Ia sedikit tersentak. Ia membuka matanya.

Oh?” ia mengerjap melihatku. “Sejak kapan kau ada di hadapanku?” katanya tampak terkejut. Aku mengambil tempat di sisinya. Meletakkan tas dan jasku di atas meja.

“Belum lama.”

Ia menarik napas dalam. Lalu menyandarkan dirinya ke punggung sofa.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku menyelidik wajahnya yang nampak pucat. Ia angkat bahu. Tanganku mengangkat begitu saja menyentuh sebelah pipinya. Mengusapnya pelan. Akupun segera menangkap kegugupannya. Ya Tuhan, ia manis sekali.

“Katakan padaku apa yang kau rasakan…”

Ia menggeleng.

“Tidak ada,” katanya cepat. Sedikit menarik senyum yang juga begitu cepat. Membuatku gemas. Ia pelit sekali untuk tersenyum padaku.

“Sudah kubilang untuk tidak segan padaku, eoh?”

“Aku tidak segan padamu,” katanya. Itu hanya gengsinya untuk mengakuinya.

“Jinja?” tanyaku dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Hanya ingin menggodanya.

Nde,” jawabnya datar dengan menarik dirinya menjauhiku. Tanganku secara otomatis menangkap bahunya. Menahannya menjauh.

Ya~ kau ini apa-apaan?!” sergahnya tidak nyaman. Membuatku terkekeh sendiri.

“Kemarilah,” kataku dengan menariknya pelan. “Aku hanya ingin memelukmu…” ujarku kemudian seraya membawanya dalam pelukanku. Agak terkejut ketika tanpa kuduga kurasakan Ryuu melingkari kedua tangannya erat padaku. Ini tidak biasa.

“Wae?” tanyaku selembut mungkin. Berusaha untuk tidak membuatnya merasa di interogasi. “Apa ada sesuatu yang terjadi??”

Ia hanya menggeleng.

“Hei, katakan saja, hum?”

“Berhentilah bicara. Aku pusing,” sahutnya pelan.

“Baiklah,” kataku dengan mengeratkan pelukanku padanya. Kupikir, ini pertama kalinya aku dapat memeluknya dengan leluasa. Dan dengan mudah aku dapat menghirup aroma tubuhnya. Merekamnya dalam ingatanku. Rasanya benar-benar menyenangkan. Kuharap waktu agar berjalan dengan lambat. Kupejamkan mataku untuk menikmati momen ini.

Cukup lama juga kami hanya berpelukan. Tidak saling bicara. Hanya terdengar helaan napas dari masing-masing kami. Hingga akupun mengerutkan kening ketika merasakan Ryuu meremas kuat kemeja belakangku.

“Ryuu-ya? Gwaenchana?” tanyaku khawatir. Ia sedikit tersentak mendengar suaraku.

“Ya,” jawabnya singkat.

Aniyo. Aku tahu kau tidak baik-baik saja,” aku merenggangkan pelukannya dan sedikit memundurkan diriku untuk melihatnya. “Suhu tubuhmu juga sedikit tinggi…”

I’m fine,” sahutnya malas dengan memalingkan wajahnya.

“Ryuu-ya…”

“…”

“Jangan menyembunyikannya dariku. Apa yang kau rasakan?”

“…”

“Ryuu, aku sedang bicara padamu…” kataku dengan sedikit menahan kesal.

“Berhenti menanyaiku. Itu membuatku marah padamu!” sergahnya. Suaranya bergetar. Kurasa ia sedang berusaha menahan tangis. Hei, ada apa dengannya??

Aku menarik pelan wajahnya agar kembali menghadapku. Dan benar, matanya sudah sedikit menampung air. Ia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan tangisnya. Namun satu butir bening sudah berhasil lolos meluncur melewati sebelah pipinya.

“Aku bertanya karena aku mengkhawatirkanmu,” kataku dengan menyeka air matanya yang ia masih bersikeras untuk menahannya. Mataku mengarah pada bibirnya yang masih bergetar. Aku menghela napasku. Aku ingin sekali menyentuhnya. Namun apakah tidak apa-apa di saat seperti ini??

Kembali kuhela napasku. Dadaku bergemuruh. Aku tidak bisa menahannya. Aku merindukannya.

Tanpa pikir panjang lagi aku pun mencium bibirnya. Tubuhnya menegang dan dengan reflek berpegangan kuat pada bahuku. Aku mengulum bibirnya dengan sedikit tergesa karena terbawa emosiku yang memburu. Aku benar-benar merindukannya.

Ryuu tidak membalasku. Tidakkah ia menyadari perasaanku yang menggebu? Oh, ayolah Ryuu. Jangan membuatku selalu bersikap sepihak padamu!

Kurasa aku sudah gila sekarang. Aku menggigit kecil bibir bawahnya. Memancingnya untuk merespon ciumanku. Menekan tengkuknya untuk memperdalam ciumanku. Hingga kemudian aku merasakan ia mulai membalasku meski terkesan ragu ragu. Darahku mendadak seperti arus sungai yang kuat merambat ke wajahku. Ribuan kupu kupu serasa terbang memenuhi perutku.

Aku suamimu, Ryuu. Biarkan aku melakukan apa yang ingin kulakukan padamu, jaggi-ya

ANDWAE!!”

Tiba-tiba saja Ryuu mendorongku kuat hingga punggungku menghempas ke lengan sofa. Seketika ia bangkit berdiri menatapku dengan wajahnya yang basah oleh air mata.

“Ryuu…” panggilku. Aku menangkap ekspresi yang aneh darinya.

Ia menggeleng kuat.

Andwae! Andwae!” jeritnya seraya berlari menaiki anak tangga.

“Ryuu-ya!”

Aku menyusulnya memasuki kamar. Ryuu sudah menyudut di sela tempat tidur dan lemari. Menekuk dan memeluk lutut, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.

“Ryuu-ya…”

Aku mendekatinya yang mulai terisak, “Mianhae…” ucapku merasa bersalah. Aku terlalu teburu-buru.

Hati-hati aku mengulurkan kedua tanganku untuk merengkuhnya. Ryuu menerimanya.

Eottokhae? Eottokhae, Oppa? Eottokhae??” katanya seperti frustasi dengan terisak.

Wae? Katakan padaku ada apa??”

“Aku ketahuan Oppa! Aku ketahuan!”

Aku  mengerutkan kening bingung, “Mwo??”

“Yura…Yura akan melaporkannya! Aku akan habis! Aku akan…”

Yura??

Y-ya! Apa yang akan Yura laporkan!?” sentakku.

“Yura tahu aku sudah menikah, Oppa… aku akan di drop out… itu kontraknya kan! Huhuhu…”

M-mwo?!”

*****

Author’s Pov.

Jong Woon menghela napasnya berat. Kepalanya pusing. Di pandanginya wajah Ryuu yang tertidur lelap di sisinya. Ini sudah lewat tengah malam, namun ia sendiri tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya tengah berkecamuk mengenai masalah beasiswa Ryuu dan juga dirinya. Entah ini sebuah kesalahan atau apa. Yang jelas, hal ini terjadi dari dirinya yang terdesak oleh situasi.

Satu hari yang lalu,

“Jong Woon Oppa…”

Jong Woon menghentikan langkahnya. Ia berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.

“Yura??”

Yura tersenyum tipis padanya. Jong Woon melihat sekelilingnya. “Sedang apa kau di sini?” tanyanya.

Yura maju dua langkah, “Aku… aku baru saja dari kampus untuk pulang. Tapi aku melihatmu keluar dari sana. Jadi aku menemuimu,” katanya beralasan.

Jong Woon menoleh ke arah kliniknya sekilas, “Ini sudah malam. Kenapa kau baru pulang?”

“Ah, aku habis mengerjakan tugas hingga lupa waktu…”

Jong Woon manggutmanggut. “Geurae, segeralah pulang. Tidak baik seorang gadis berada di luar jamjam segini,” katanya dengan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan angka sepuluh.

“Hatihati di jalan. Aku duluan,pamitnya.

Yura menunduk, menyesali sikap Jong Woon yang terkesan acuh padanya.

“Oppa!”

“Ya?”

Jong Woon kembali berbalik.

“Um…bisakah…aku menumpang mobilmu??”

Jong Woon terdiam sesaat. Hingga kemudian ia pun mengangguk.

“Baiklah…” katanya dengan mengulas senyum singkat. Yura pun tersenyum senang.

“Gomawo,ucapnya. Dengan segera ia berlari kecil mengiringi langkah Jong Woon menuju mobilnya.

 

Jong Woon menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal. Di sebelahnya, Yura sesekali meliriknya. Tampak sekali ingin bicara dengannya. Namun Jong Woon memasang wajah beku.

“Mianhae,ucapnya pada akhirnya.

Jong Woon menoleh sekilas padanya, “For what?”

“Aku selalu merepotkanmu,” Yura meringis.

“Gwaenchana…” Jong Woon mengulas senyum ramahnya membuat Yura merasa sedikit lebih tenang.

“Umm… Oppa,” panggil Yura.

“Hm?”

“Boleh aku bertanya padamu?”

Jong Woon kembali menoleh sekilas pada Yura, “Oh. Ye. Silahkan.”

Yura memainkan bukubuku jari tangannya, “Umm…Oppa…Apa hubunganmu dengan…dengan Shin Ryuu??”

Deg!

Jong Woon terhenyak sejenak. Namun segera ia mengendalikan dirinya.

“Tidak ada,jawabnya. “Aku tidak-,”

“Aku melihat kalian, sela Yura cepat.

“M-mwo??”

Yura menunduk, “Aku melihat kalian di taman dekat jalan tak jauh dari klinik, tadi siang…” Yura menoleh pada Jong Woon dengan ekspresi risihnya. “Ka-kalian…berciuman…”

Jong Woon merasa dadanya tertohok. Ia tercekat. Dengan seketika ia menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Membuat Yura terhuyung dari duduknya.

“Oppa~,

Jong Woon diam. Ekspresinya sulit di tebak. Antara terkejut, bingung, takut, khawatir…

“Oppa, apa hubunganmu dengan Ryuu? Bukankah kalian tidak saling kenal? Sejak kapan kalian-,”

“Itu bukan urusanmu, Yura…”

Yura mengerutkan keningnya.

“Bukan urusanmu aku ada hubungan apa dengan Ryuu,lanjut Jong Woon dingin.

“Kenapa begitu? Ryuu teman dekatku, Oppa. Dan aku tidak menyangka dia bisa merebut perhatianmu juga setelah Donghae!” sahut Yura mulai emosi.

“Mwo?”

“Tidakkah kau menyadarinya? Aku menyukaimu, Oppa. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kalinya kita bertemu. Tapi kenapa kau malah memandang temanku? Bukan aku?!” seru Yura kesal. “Aku mungkin bisa menahan diri jika Ryuu hanya membuat Donghae berpaling dariku. Tapi kenapa dia juga membuatmu tidak melihatku?! Apa yang membuatmu tidak menyukaiku, Oppa?!”

“…”

“Katakan padaku apa yang membuatmu tidak menyukaiku? Bukankah aku lebih cantik dari Ryuu? Apa menariknya dari seorang Ryuu?!”

“Jangan berkata seperti itu. Kau tidak tahu apa apa.”

“Aku tidak menyangka, ternyata yeoja itu begitu licik. Dia pasti iri denganku. Oppa, Ryuu hanya memanfaatkanmu!”

“Istriku tidak seperti itu.”

“Huh?” spontan Yura menoleh pada Jong Woon.

“Ryuu tidak seperti apa yang kau katakan. Istriku gadis baikbaik.”

Yura tergagap, “M-mwo?? Is-istri?? Siapa? Siapa yang kau sebut istrimu??”

Jong Woon mengatupkan matanya sejenak, berusaha tetap mengendalikan dirinya.

“Dengar, aku sudah lebih dulu mengenal Ryuu daripada aku mengenalmu. Dan kami…” katanya menggantung. Ia menarik napas dalam.

“Aku dan Ryuu, kami sudah menikah…”

“Huufftt!!”

Jong Woon menghembuskan napasnya keras keras, berharap bebannya keluar bersamaan dengan karbondioksida yang ia hembuskan. Malam itu ia benar benar tidak berniat untuk membongkar rahasia. Hanya saja ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada Yura selain berkata jujur jika ia dan Ryuu sudah menikah. Ia juga tidak berpikir kalau Yura akan melaporkannya. Ia sudah meminta Yura untuk tutup mulut. Namun ternyata Yura tidak mendengarkannya. Satu hal yang baru ia sadari sekarang, Yura tidak senang dengan Ryuu, orang yang ia katakan sebagai teman dekatnya.

Mungkin tidak masalah mengenai beasiswanya. Melalui ayahnya, ia bisa melobi pihak universitas untuk setidaknya tidak mengeluarkan mereka berdua. Tapi ia tidak bisa membayangkan bagaimana respon Ryuu jika ia tahu bahwa dirinyalah yang membongkar rahasia pernikahan mereka dengan memberi tahu Yura malam itu. Bisa jadi Ryuu akan membencinya seumur hidup. Bagaimanapun ia mengerti seberapa berharga dan berartinya beasiswa itu bagi Ryuu. Sedikitnya ia tahu apa yang terjadi dengan hubungan antara Ryuu dan ayahnya sendiri.

“Apa yang harus kulakukan, Ryuu? Aku tidak ingin kau membenciku hanya karena ini. Kumohon jangan membenciku…” lirihnya pelan pada Ryuu yang masih terlelap.

Mianhae…”

*****

“Jika ada sesuatu yang terjadi, segera hubungi aku. Eoh?” ujar Jong Woon mewanti-wanti pada Ryuu. Ryuu memejamkan matanya sesaat seraya menghela napas.

Nde.”

Jong Woon mengulas senyum tipis, “Keluarlah…”

Ryuu membuka pintu mobil dan keluar tanpa melihat lihat keadaan lagi.

“Aku akan menjemputmu! Hubungi aku!” seru Jong Woon ketika Ryuu begitu saja melangkah menjauh.

Ryuu berbelok menuju gedung fakultasnya. Ia bisa menyadari berpasang pasang mata mengikuti setiap geraknya. Tentu saja itu tidak nyaman untuknya. Apalagi ketika sampai di koridor kelasnya, disana sudah berkumpul teman-teman sekelasnya, menatapnya aneh dengan kehadirannya.

“Ryuu-ssi, kau masih mau masuk kelas? Untuk apa?”

“Kau pulang saja. Sebentar lagi kau akan di DO. Jadi untuk apa masuk kelas?”

Ya~ kalian tidak boleh bicara begitu! Kasihan Ryuu…”

Ryuu memandang datar teman temannya itu meski darahnya sudah terasa naik ke ubun-ubun. Ia berbalik. Mereka benar, untuk apa masuk kelas jika tak lama lagi ia akan di DO?

Ryuu beralih menuju perpustakaan. Tempat yang selalu menjadi pelariannya.

“Ryuu…”

Langkah Ryuu terhenti oleh seseorang yang menghadangnya.

“Kabar ini tidak benar, kan?”

Ryuu menunduk sejenak. Ia menarik napas dalam.

“Benar. Aku sudah menikah, Donghae-ssi…” katanya seraya mengangkat wajahnya menatap pria di hadapannya. Donghae terhenyak.

“Sejak kapan? Apa kau tidak mengerti juga mengenai perasaanku??”

Ryuu menghela napas lelah, “Kau tidak perlu tahu sejak kapan. Tapi apakah kau tidak mengerti juga? Aku sudah sering menolakmu. Berhenti berharap padaku. Awal Yura membenciku karena kau memiliki perasaan terhadapku. Kumohon jangan membebaniku, Donghae-ssi…”

Kini giliran Donghae menunduk. Sesak sekali rasanya mendengar pernyataan itu.

“Maafkan aku, Donghae-ssi.”

Ryuu melanjutkan langkahnya. Memasuki perpustakaan. Sekalipun ia tahu orang orang yang berada dalam ruangan besar itu memperhatikannya, ia memilih pura-pura tidak tahu. Ia duduk di salah satu kursi baca. Mengambil asal buku dari rak terdekat.

“Ssst…sstt… lihat itu. Itu yeoja yang kemarin kan?”

“Yang kemarin? Oh. Yang katanya diam-diam menikah karena takut beasiswanya di cabut?”

“Kenapa dia bisa menikah? Tidak menunggu hingga kuliahnya selesai? Aneh sekali.”

“Hei jangan-jangan, dia mengalami ‘kecelakaan’??”

Mwo?”

Ah, ye! Mungkin saja! Bukankah ayahnya pejabat duta besar? Ayahnya pasti malu, jadi terpaksa menikahkannya. Itu masuk akal, kan?”

“Ah, kau benar!”

Ryuu mengepalkan tangannya mendengar beberapa gadis membicarakannya berbisik bisik di belakangnya.

“Kasihan sekali. Memangnya sudah semester berapa dia?”

“Ah, itu sudah biasa. Dia saja yang tidak tahu malu. Sudah tahu memiliki tanggung jawab tapi malah seperti itu. Masih banyak mahasiswa baik yang memerlukan beasiswa itu…”

Brakk!!

Ryuu membanting bukunya kesal dan marah. Ia beranjak dan berbalik menghadapi tiga orang gadis yang tadi membicarakannya. Ketiga itu nampak terkejut karenanya.

“Kalian. Apa yang kalian bicarakan, huh?” katanya dingin penuh penekanan.

A-aniya… ka-kami…”

“Berani sekali kalian membicarakanku dengan hal yang tidak-tidak. Kalian ingin mati, eoh!?!” bentaknya, membuat ketiga gadis itu terlonjak kaget.

“Berhenti mengurusi orang lain! Kalian tidak tahu apa-apa! Arraseo!” bentak Ryuu lagi. Wajah ketiga gadis itu nampak seketika pasi. Ryuu memberi tatapan membunuhnya sebelum kemudian ia kembali ke mejanya untuk mengambil ranselnya dan pergi. Perpustakaan sudah tidak cocok lagi untuknya.

Dengan tergesa Ryuu melangkah keluar. Ia tidak tahan untuk tidak menangis. Dan ia tidak memiliki pelarian. Kemana ia harus pergi??

“Kau masih begitu padaku. Aku tahu kau membutuhkan seseorang untuk mendengar keluh kesahmu. Tapi kenapa kau tidak datang padaku? Apa yang menjadi alasanmu selalu melupakanku?”

Langkah Ryuu terhenti.

“Aku mengerti, kau tidak pernah menganggapku sebagai orang yang penting untukmu. Tapi apa hanya karena itu, aku harus menjauhimu? Berpura-pura tidak tahu apa yang sedang kau alami…”

“Heenim…”

Ryuu menatapnya nanar. Hee Chul menghampirinya dan berhenti di hadapannya dengan menjaga jarak. Ryuu mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya yang meluap. Ia menunduk dengan terisak. Hee Chul hanya diam di tempatnya berdiri.

“Maafkan aku… Apa yang harus kulakukan untuk membawamu hadir dalam pikiranku? Sementara pikiranku terlalu penuh. Ingin meledak saja rasanya. Kau adalah teman pertamaku. Kumohon jangan marah padaku…”

“…”

“Jangan menjauhiku, Heenim… Jangan membuatku benar benar kehilangan semuanya…”

Hee Chul menarik napas dalam. Ia melangkah mendekat pada Ryuu dan memeluknya. Seketika tangis Ryuu pecah. Mengeluarkan emosinya yang tertahan sejak tadi.

*****

“Apa yang kau lakukan? Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak mengatakannya pada siapapun? Kenapa kau bahkan mempermalukan Ryuu di depan umum!?” kata Jong Woon marah, ia berusaha keras untuk mengendalikan dirinya.

Yura membuang muka, “Kenapa aku harus menuruti kata-katamu? Memangnya kau siapa?”

Ya!”

Yura membenarkan letak duduknya. Tetap bersikap manis. Ia meminum sedikit jus yang di pesannya.

“Ryuu pantas mendapat perlakuan seperti itu,” katanya tenang. “Tenang saja, hanya Ryuu yang kulaporkan…”

“Kau bilang dia teman dekatmu, apakah yang seperti itu sikap seorang teman akrab?!”

“Dulu aku merasa Ryuu memang teman dekatku. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, Ryuu sama sekali tidak dekat denganku…” ujar Yura dengan menggeleng.

Ya! Apa hanya karena kau menyadari hal itu, kau bersikap begitu padanya?!”

Yura memutar bola matanya, “Bukankah baik aku membongkarnya sekalian? Jika Ryuu drop out, bukankah dia bisa all out untuk menjadi ibu rumah tangga? Seharusnya kau berterima kasih padaku, Oppa…”

“Dengar, kau tidak berhak mencampuri urusanku dan Ryuu!” bentak Jong Woon kesal.

“Aku merasa tidak mencampuri urusan kalian. Aku hanya ingin keadilan…” kata Yura dengan menggedikkan bahunya.

“Keadilan apa yang kau maksud, huh?!”

Yura mendecak, “Kau membuang waktuku, Oppa. Aku pergi. Sampaikan salamku untuk ISTRIMU!” katanya seraya beranjak pergi.

YA! Aku belum selesai bicara!” seru Jong Woon marah. “KIM YURA!”

Yura tak mendengarkan. Gadis itu melenggang pergi begitu saja. Tak peduli dengan Jong Woon yang nampak benar-benar marah padanya.

*****

Ice cream?”

Hee Chul menyodorkan sebuah es krim coklat pada Ryuu. Ryuu meringis. Ia menggeleng pelan.

No, thanks…” katanya dengan menunduk.

“Hei! Come on girl! Jangan seperti itu. Aku tahu kau menginginkannya. Ayo, ambil dan makan es krim ini!” Hee Chul membuka bungkus salah satu es krim yang ia bawa dan memberikannya pada Ryuu. Ryuu tampak ragu-ragu menerimanya.

“Es krim ini rasa coklat. Coklat bisa membuat mood menjadi lebih baik,” ujar Hee Chul dengan tersenyum lebar. Ryuu hanya tersenyum kecut. Ia menggedikkan bahunya dan menjilat es krimnya.

“Yak!” pekik Ryuu.

Wae?!” tanya Hee Chul waspada.

Ryuu kembali meringis, “Es krim ini dingin…”

Hee Chul memberi tatapan datarnya pada Ryuu, “Yang namanya es krim tentu saja dingin, pabo!” ujarnya sebal.

Ah. Ye. Kau benar…” Ryuu tersipu. Membuat Hee Chul agak terpana melihatnya. Iapun tersenyum hingga kemudian tertawa geli.

W-wae??” tanya Ryuu bingung.

Aniya,” sahut Hee Chul acuh sambil membuka bungkus es krim miliknya. Ryuu mencibir. Hee Chul meliriknya tidak suka.

Ya~ kau baru saja tersenyum tadi. Kenapa malah mengubah ekspresimu menjadi merengut seperti ini!” sewotnya dengan mencubit sebelah pipi Ryuu.

Aw!” secara reflek Ryuu memukul tangan Hee Chul. “Kenapa kau mencubitku?!” sentaknya tidak terima.

“Kau sendiri yang membuatku mencubitmu!” kilah Hee Chul.

What the hell?! Kau ingin ribut denganku Hee Chul-ssi??” kata Ryuu dengan penekanan di setiap penggalan kata katanya.

Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin ribut denganku??” balas Hee Chul. Ryuu mengangkat sebelah alisnya.

Ya~ kau yang ingin ribut denganku, Kim Hee Chul!” seru Ryuu dengan menahan senyumnya.

“Cih, kau yang lebih dulu membuatku sebal Shin Ryuu!” sinis Hee Chul.

Well,” kening Ryuu berkerut. “Jadi kita ribut saja kalau begitu!” katanya dengan mengangguk-angguk.

“Siapa takut?” ujar Hee Chul santai sambil menjilat es krimnya. Ryuu menatapnya dengan tatapan mencurigakan. Hee Chul memandangnya aneh.

M-mwoya??”

Ryuu menarik sebelah sudut bibirnya, membentuk seringai kecil.

“Ya-YAKK!!”

Hee Chul memekik keras karena terkejut ketika tiba tiba Ryuu dengan cepat membuat tangannya yang memegang es krim mengoleskan es krimnya itu ke sekeliling wajahnya. Secepat kilat Ryuu segera menjauh dari sana untuk menghindari balasan dari Hee Chul. Yang wajahnya sudah coreng moreng dengan es krim coklat.

“YA! Sialan kau Ryuu!” seru Hee Chul tidak terima. Ryuu tertawa.

“Make up yang cantik, Hee Chul EONNI!” ejek Ryuu.

YA! Kurang ajar! Kemari kau! Dasar patung es!” seru Hee Chul gemas seraya berlari untuk menjangkau Ryuu. Ryuu pun dengan gesit berlari juga untuk menghindari kejaran Hee Chul. Ia tertawa lepas. Tanpa beban. Diam-diam Hee Chul tersenyum. Berapa kali seminggu gadis itu tertawa? Oh, apa sebulan sekali? atau bahkan setahun sekali ia tertawa?? Hee Chul tersenyum geli sendiri lagi.

Ya~ apa yang kau tertawakan, Hee Chul Eonni??” cibir Ryuu.

Ya~ apa maksudmu menyebutku Eonni, huh?!” sengit Hee Chul. “Kau pikir kau bisa seenaknya padaku?! Kemari kau, gadis jelek!”

Ryuu tertawa dengan menjerit ketika Hee Chul berhasil menangkap tangannya.

Ya! Ya! Get away from me!” serunya.

“Tidak semudah itu, agassi,” sinis Hee Chul.

Andwaee~” pekik Ryuu saat Hee Chul sudah mengacungkan es krimnya yang sudah sedikit meleleh untuk ia oleskan pada wajahnya.

“KYAAA…” Ryuu memejamkan matanya risih ketika Hee Chul menempelkan es krimnya ke keningnya.

“Hahaha… kau seperti pendeta hindunis, Rue!” kata Hee Chul melihat hasil kerjanya pada wajah Ryuu.

Mwoya?!”

Keduanyapun tertawa. Saling menertawakan diri mereka masing masing.

Secara kebetulan, seseorang baru saja keluar dari sebuah kafe dekat sana dan melihat mereka. Dari balik kaca mata bening yang di pakainya, kedua belah mata itu memicing, memperjelas fokus matanya pada salah satu dari dua orang itu. Hingga kemudian satu tapak tangannya mengepal. Dengan emosi yang sedang naik ke ubun-ubun, ia melangkah tergesa mendekati mereka. Mendekati Ryuu.

Dalam beberapa langkah lebar, ia menjangkau lengannya dan menariknya sedikit menjauh.

Oppa….”

Senyum Ryuu perlahan memudar karena terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang.

Kim Jong Woon.

Ryuu menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ia tidak bisa berkata kata saat melihat ekspresi beku dari Jong Woon padanya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini??” tanya Jong Woon dingin namun penuh penekanan.

Ryuu membuka mulutnya untuk bicara. Namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Kami sedang menghilangkan beban.”

Jong Woon menoleh pada Hee Chul yang menyahutnya. Jong Woon mengerutkan keningnya. Tiba tiba ia tersenyum sinis.

“Jadi siapa lagi ini, Ryuu-ya? Apa kau sedang melakukan apa yang pernah aku tuduhkan padamu??” katanya dengan nada mencibir. Ryuu semakin tercekat.

N-no! Tentu saja tidak!” bantah Ryuu setelah susah payah mengeluarkan suaranya yang tercekat di tenggorokan.

“Lalu apa?” Jong Woon kembali beralih pada Ryuu. “Jika kau sudah selesai kuliah bukankah aku sudah sering mengatakannya padamu untuk langsung pulang ke rumah??” geramnya.

“Aku yang mengajaknya. Kau tahu, Ryuu, dia habis menerima perla-,”

“Aku tidak bicara padamu,” sela Jong Woon cepat pada Hee Chul. “Aku, bicara pada Ryuu. Pada Istriku,” tekannya dengan menatap tajam Hee Chul. Heecul diam.

Jong Woon menarik tangan Ryuu paksa pergi dari sana. Pulang.

Hee Chul memandang datar Ryuu yang nampak tertatih melangkah menyamai langkah tergesa Jong Woon. Ia menunduk. Tanpa sengaja matanya tertuju pada es krim Ryuu yang menggeletak di tanah. Mencair. Ia melirik es krim miliknya yang masih ia pegang. Sudah mencair juga. Ia pun membuang es krimnya itu sembarangan.

*****

Seperti biasa hanya keheningan yang menemani keduanya. Namun kali ini ada suasana tegang yang ikut andil menciptakan keheningannya. Diam tanpa kata. Sibuk dengan pikiran masing masing. Ryuu masih berdiri di dekat pintu depan, menunggu Jong Woon yang juga mematung tak jauh darinya. Dekat tangga. Membelakanginya.

Jong Woon mengatur napasnya untuk bersikap normal. Mencoba mendinginkan kepalanya sebelum mengadili Ryuu.

“Apa yang terjadi denganmu di kampus? Huh?”

Ryuu tidak langsung menjawab apa yang menjadi pertanyaan pertama Jong Woon.

“Kau tidak masuk kelas kan? Katakan yang jujur! Sudah berapa kali kau membolos kelas? Kau ingin meniru apa yang dilakukan Henry??”

Ryuu menarik napas dalam. Menghimpun tenaganya untuk bicara. “Aku tidak bisa masuk kelas,” jawabnya pelan.

Wae?!”

“Aku akan di DO. Mereka, teman-temanku mengatakan padaku bahwa aku tidak perlu masuk kelas lagi…”

Mwo?” Jong Woon berbalik. Keningnya berkerut mendengar penuturan Ryuu.

“Seputus asa itukah dirimu, Ryuu??” tanya Jong Woon dengan memicingkan matanya. “Bukankah kau tidak ingin kuliahmu berhenti begitu saja?!”

“Ya,” Ryuu menundukkan pandangannya ke lantai.

“Lalu apa yang kau lakukan dengan pria itu tadi? Bersenang-senang??” nada suara Jong Woon meninggi. Emosinya kembali naik.

“Kumohon jangan salah paham. Dia temanku. Dia hanya ingin menghiburku…” ujar Ryuu dengan memelas. Ia lelah.

“Menghiburmu?” ulang Jong Woon. “Cih,” ia menarik senyum sinisnya. “Dan kau senang ia menghiburmu? Dengan mudahnya kau tersenyum bahkan tertawa lepas di tengah jalan? Kau pikir itu pantas? Lihat wajahmu! Kau tidak lebih seperti anak kecil nakal yang selalu membantah! Kau lupa? Kau ini gadis dewasa yang sudah menikah!”

“CUKUP!” bentak Ryuu. Napasnya memburu. “Berhenti menghakimiku seperti ini…” katanya nanar.

“Asal kau tahu, aku tidak pernah lupa dengan statusku… status yang membuatku seperti di penjara olehmu. Kumohon jangan seperti ini. Apa yang kau ucapkan barusan sama saja seperti yang dulu. Dan itu salah…”

Jong Woon membuang muka, “Tapi yang tadi itu sangat jelas terlihat. Kau bahkan tidak pernah tertawa untukku. Tersenyum pun kau seakan enggan…” lirih Jong Woon.

E-eh?”

“Tidak! Kau hanya melakukan pembenaran Ryuu! Aku curiga padamu. Beberapa kali aku melihatmu bersama pria. Dan tidak masuk akal jika memang kau tidak memiliki hubungan apa apa selain denganku, tapi kau bahkan selalu menyebut nama orang lain hampir dalam setiap tidurmu!”

Ryuu tersentak.

“Siapa sebenarnya pria tadi? Dan siapa nama yang sering kau sebut dalam tidurmu? Ken??”

Ryuu menelan ludahnya pahit. Ia terhenyak. Bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Jong Woon.

“Sebenarnya kau ini gadis yang seperti apa, huh?!” seru Jong Woon frustasi. “Kupikir Yura benar. Kau memang lebih baik berhenti dari kuliahmu. Kau perlu banyak belajar untuk menjadi seorang istri!”

Seketika kening Ryuu berkerut, “Apa kau bilang? Yura mengatakan apa??”

Jong Woon mengepalkan tangannya kuat.

“Dengar, apa kau tahu siapa orang yang memberi tahu Yura mengenai pernikahanmu? Pernikahan kita??” Jong Woon menatap tajam pada Ryuu yang wajahnya sudah pias.

“Orang itu adalah aku.”

Ryuu menatap Jong Woon tak percaya. Tiba tiba saja dadanya terasa sesak. Ternggorokannya tercekat. Ia tidak mampu berkata-kata.

“K-kau…”

*****

Ryuu Shin’s Pov.

Aku berlari tanpa arah dengan air mata yang menganak sungai di wajahku. Hatiku sakit. Kecewa. Apa yang dikatakan Jong Woon tadi seperti mata pisau yang menusuk ke ulu hatiku. Pria itu malah meruntuhkan kepercayaan diriku yang susah payah kubangun belakangan ini untuknya. Kenapa begini??

Sebesar apa kesalahanku selama ini pada Jong Woon hingga membuat pria itu tanpa kompromi meluluh lantakkan diriku? Secara sepihak mengadiliku lagi dan membuatku merasa seperti kehilangan masa depan? Benar, aku memang belum menjadi istri yang baik baginya. Tapi bisakah bukan dengan cara seperti ini??

Mungkin orang-orang tidak mengerti apa arti beasiswa itu bagiku. Dengan kukuhnya aku mempertahankannya dengan merelakan diriku menikah muda sebagai syarat yang diajukan ayahku. Merelakan diriku tersiksa karena harus jauh dari orang yang kusayangi yang masih berada di Inggris sana meski aku tidak tahu tepatnya. Ken.

Orang itukah yang menjadi kecemburuan terbesarmu, Oppa? Aku memang tidak pernah bercerita apapun mengenai orang itu. Karena aku tahu, orang itu akan membuatmu merasa tidak aku hargai sebagai seorang suami. Tapi tidakkah kau paham?? Kita menikah bukan karena kita bertemu lalu jatuh cinta dan menikah. Tapi kita bertemu, menikah, lalu aku sedikit demi sedikit, mati-matian membunuh rasa rinduku pada masa laluku untuk mencintaimu. Tidak bisakah kau bersabar??

Aku jatuh tersungkur. Aku lelah berlari dan kakiku sakit. Walaupun rasanya tidak lebih sakit dari hatiku. Tak kupedulikan tatapan aneh orang-orang yang melihatku. Aku bahkan lebih takut pada tatapan Jong Woon.

Drrt drrt

Ponsel di saku jaketku bergetar. Dengan tangan yang gemetar aku mengambilnya. Seseorang dengan nomor asing menelponku. Kugeser tombol hijau untuk mengangkatnya.

“…”

“Halo? Noona? Ini aku Henry!”

Aku berusaha menahan diriku untuk tidak terisak mendengar siapa yang menelponku.

“Halo? Noona? Noona? Apa kau mendengarku??”

Aku menelan ludahku yang terasa pahit. Mengatur napasku untuk dapat bicara.

Noona? Ya~ Noona! Bicaralah!”

“….Henry-a….”

Noona! God!” Henry berseru riang. “Noona, aku baik-baik saja disini. Jadi kau tidak perlu khawatir, eoh?”

Aku mengangguk, “Oh!” kataku dengan masih menahan diriku untuk tidak terisak.

Noona? Are you okay? Apa kau masih marah padaku? Kumohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Tapi kau kan ada Jong Woon Hyeong, jadi kau tidak perlu merasa kesepian…”

“Hiks,” isakan itu langsung saja lolos dari mulutku mendengar apa yang baru saja Henry katakan padaku.

Noona… jangan menangis. Aku akan sering menelpon Noona. Apa Noona sedang bersama Hyeong? Aku ingin bicara pada Jong Woon Hyeong…”

Aku membekap mulutku sendiri. Aku tidak bisa lagi menahan isakan tangisku.

Noona? Halo? Noona?”

Aku menurunkan ponselku dari telingaku. Menggeser tombol merah untuk mengakhiri panggilannya.

Aku melangkah gontai di sepanjang pinggir jalan. Aku masih menangis. Air mata ini sulit kuhentikan. Kepalaku pusing. Entahlah aku ingin kemana. Aku hanya ingin menenangkan diriku. Semakin jauh dari rumah, sepertinya akan semakin membuatku tenang.

Aku berhenti, menunggu lampu lalu lintas mempersilahkan pejalan kaki untuk menyebrang. Lalu lalang kendaraan membuat kepalaku semakin pusing.

“Ryuu?? Hei, Ryuu!”

Aku menoleh sekilas. Seperti ada yang memanggilku.

“Ryuu! Ryuu Shin!”

Kepalaku berat. Bumi yang kupijak seakan bergoyang. Seperti ada lindu. Pening. Pandangan mataku mengabur. Aku terhuyung. Tanganku menggapai-gapai untuk mencari pegangan. Samar-samar aku melihat seseorang berlari ke arahku.

“RYUU!! STOP!!”

Ckiiitttt BRAKK!!

Aku menghempas ke aspal dengan seseorang yang memeluk erat diriku. Melindungi kepalaku dengan lengannya. Dengan kesadaranku yang masih tersisa, aku melihat siapa yang melindungiku.

“Ryuu….”

Samar aku melihat senyumnya. Senyum yang selama ini ingin kulihat lagi. Senyum khas dari seorang…

“K-Kenichi….”

Bersambuuuuuuunggggggggggg~~~~

Bersambuuuuuuunggggggggggg~~~~

2 Comments (+add yours?)

  1. ryeongkim_97
    Mar 05, 2015 @ 08:18:17

    sbnrnya aku udah selesai baca ff ini di fb author, tp cuma jadi siders.
    mian authornim baru comment di wp ini #bow

    Reply

  2. Novita Arzhevia
    Mar 05, 2015 @ 21:35:19

    ff yg ditunggu2 akhirnya dishar juga, sebenarnya udah agak lupa sma critanya, hbisnya nunggunya sampai lumutan. daebakk eon, critanya bikin pnasaran next part jngan lama2

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: