I’m Your Man [12/12]

Title                 : I’m Your Man #chapter 12, End

 

Author             : Ryuzaki

 

Cast                 : Yesung Super Junior as Kim Jong Woon – Shin Ryuu (OC)

 

Genre              : AU (Romance, Friendship, Family)

 

Rate                 : PG 17

 

Length             : Chapter

 

Disclaimer       : Pure Fiction

 

Backsound      : Cobalah mengerti – Noah ft. Momo Geisha

Call – Regina Spektor

A Day – Super Junior

 

Note                : FF ini sudah pernah di publish di note FB Author dan juga di FP Super junior fanfiction dengan beberapa revisi

 

 

 

 

 

 

*****

 

 

*Chapter End is Begin

 

 

Author Pov.

 

Musim dingin masih berlanjut. Pemandangan jingga tergantikan dengan gundukan putih bertebaran di seiap sudut kota Seoul. Kabut tak jarang menyapa pandangan. Hujan putih menjadi teman.

Seorang gadis berdiri di ambang jendela kamarnya yang dibuka lebar. Tangan pucatnya mengulur keluar jendela. Penasaran untuk merasakan setiap butiran es yang jatuh dari langit seperti bunga kapas yang dihembus angin. Ia terkesiap ketika telapak tangannya tersentuh oleh butiran salju yang turun. Dingin. Ia menggenggam butiran salju di tangannya hingga meleleh.

Segaris lengkung yang tipis tampak membentuk di bibirnya yang berwarna pink pucat. Namun tak lama buliran air meluncur di sebelah pipinya. Ia menunduk sesaat sebelum kembali mengangkat wajahnya menengadah seraya menarik napas dalam. Menenangkan hatinya sendiri.

Maafkan aku…

Suara lirih dari seorang pria yang beberapa waktu ini telah menjaganya mengiang kembali. Permintaan maaf itu sederhana. Namun membuatnya tak sanggup membantahnya. Ketulusannya sudah terlanjur menyentuh kebekuan hatinya. Entah sejak kapan.

 

Surat pengunduran dirinya dikirim ke Universitas hari ini. Tidak ada pilihan lain yang mengenakkan. Ia harus mengakui kekalahannya. Kalah dari pertaruhan harga dirinya dengan sang ayah. Gagal menyelamatkan wajahnya dari teman-teman yang selama ini mengaguminya. Kalah untuk mempertahankan apa yang ia perjuangkan mati-matian. Beasiswa kuliahnya tidak mampu diselamatkan lagi. Untuk dilanjutkanpun rasanya tidak ada kemampuan. Ia sudah kehilangan muka.

“Shin Ryuu, apa yang akan kau lakukan setelah ini??” gumamnya, bertanya pada dirinya sendiri.

Senja sudah turun sejak beberapa puluh menit yang lalu. Namun, kemelut pikirannya belum selesai. Ryuu masih di tempatnya. Melempar pandangan kosong keluar sana. Membiarkan dirinya terlarut dalam kebisuan angin.

Cklek.

Pintu kamar dibuka seseorang. Kim Jong Woon. Pria itu datang dengan membawa baki berisi menu makan malam untuk Ryuu. Menu yang bukan semangkuk sereal tentunya. Melainkan semangkuk sup jamur. Buatan Jong Woon. Yeah. Siapa lagi?

Jong Woon menggelengkan kepalanya pelan melihat Ryuu mematung di depan jendelanya yang terbuka. Ia meletakkan baki yang di bawanya di atas meja kerja Ryuu, mengambil selimut dan menghampirinya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya membuat Ryuu agak tersentak kaget menyadari kehadiran Jong Woon di belakang punggungnya. Hingga ia merasakan selembar selimut sudah menyampir di kedua pundaknya. Jong Woon menyelimutinya dan merengkuh tubuhnya hati hati. Hal itu menghasilkan sedikit getaran halus dalam dada Ryuu. Ia merasa tak dapat menggerakkan tubuhnya dalam keadaan begini. Sejenak hening tercipta di antara keduanya.

“Apa yang kau pikirkan saat ini??” tanya Jong Woon lagi, “Aku masih ingin mengatakan maaf padamu…”

Secara tidak sadar Ryuu mengambil napas dalam sedikit tersengal. Menahan air mata yang sejak tadi memaksa untuk menembus pertahanannya. Rasanya ingin sekali ia menyingkirkan kungkungan pria ini dengan menghempaskannya, lalu memukul atau melemparinya dengan apapun yang dapat dijangkaunya. Tapi itu hanya ada dalam benaknya. Faktanya, untuk menggeser kakinya sedikit saja ia tidak mampu.

Sesak tidak terkira rasanya. Bagaimana tidak? Keberuntungan tidak berpihak padanya. Ia yang mengharapkan dirinya masih dapat bertahan dengan beasiswa kuliahnya. Namun malah sebaliknya. Justru Jong Woon yang mendapat beasiswa lain untuk meneruskan pendidikan S2 nya. Bukankah ini terkesan tidak adil? Ya. Memang tidak adil. Sejak kapan Ryuu merasakan keadilan berarti?

“Hiks,”

Suara isakan itu akhirnya berhasil lolos dari kedua bibirnya yang ia katupkan rapat. Pada siapa lagi ia dapat berkeluh kesah? Tidak ada siapapun di sisinya selain pria yang saat ini menjadi konflik batin dalam dirinya. Tidak ada lagi.

“Menangislah. Keluarkan semuanya. Biarkan aku mendengarkannya. Aku ingin mendengarkannya. Jangan berusaha menyembunyikannya dariku,” Jong Woon membalikkan tubuh Ryuu menghadapnya lalu memeluknya.

Ryuu mengutuk dan menjerit dalam hati. Bagimana ia bisa benar-benar membenci pria yang saat ini memeluknya dengan sepenuh hati? Pria yang –katakanlah telah mengacak-acak masa depannya. Mengubah sinopsis hidup yang sudah ia susun rapi dalam lembaran putih kisah hidupnya.

Atau, haruskah ia mengungkit ayahnya?

Dari awal ia sudah hampir kalah dengan menerima kehadiran Jong Woon dalam kehidupannya. Sekarang, ia akui dirinya sudah tidak dapat berkutik lagi.

Pasrah? Dipikir-pikir, kata itu masih belum tepat untuk mengistilahkan perasaannya sekarang. Putus asa? Sepertinya begitu.

 

 

*****

 

 

Jong Woon Kim’s Pov.

 

Menghela napas berat yang menggelayut dalam dadaku. Kupejamkan mata sesaat untuk meredam pikiran yang membuat panas otakku. Tubuhku ikut terasa panas karena memeluk Ryuu dalam waktu yang lama. Sejak kemarin suhu tubuh Ryuu naik turun tidak stabil. Saat pagi, ia akan tampak normal. Namun ketika malam, suhu tubuhnya perlahan akan meninggi.

Jika kukatakan Ryuu sebagai benda, maka tidak ada benda yang lebih rapuh daripada Ryuu sekarang ini. Perasaan bersalahku sudah tidak perlu dibahas lagi. Ryuu adalah tanggung jawabku. Dan aku belum bisa menjadi solusi untuknya. Justru aku malah menjadi deritanya. Demi apa aku mencintainya. Entah apa alasannya. Aku tidak mau mencari alasan untuk itu. Lalu hatiku sakit saat menyadari diriku hanya menjadi beban batin orang yang kucintai. Benar-benar sakit.

Tepat dimana Ryuu menerima keputusan dari Universitas bahwa dirinya terpaksa harus mengundurkan diri, aku mendapat kabar dari dosen pembimbingku bahwa aku dapat meneruskan kuliah S2 dengan beasiswa. Aku tidak tahu ini termasuk kabar baik atau buruk. Yang pasti, ini juga menyakitkan untuk Ryuu. Dengan jujur aku langsung memberitahunya. Bukan apa apa. Meskipun waktunya tidak tepat, aku ingin menyampaikan padanya, bahwa aku tidak ingin ada yang tersembunyi di antara kami. Aku ingin tabir kasat mata antara aku dan dirinya terbuka. Apapun itu.

Lagi-lagi Ryuu menangis padaku. Mengeluarkan semua emosinya melalui air mata yang ia tumpahkan padaku. Sayangnya ia benar-benar hanya menangis. Tidak sedikitpun ia mengungkapkan apa yang ia rasakan padaku. Entah apa yang harus kulakukan untuk membuatnya terbuka padaku.

Aku menggerakkan tanganku mengusap pelan kepalanya yang sejajar dengan dadaku. Menyampaikan perasaanku bahwa aku menyayanginya.

“Ryuu-ya…” panggilku. Sekadar memastikan dirinya terjaga.

Ia diam. Aku menunduk dengan sedikit memundurkan tubuhku agar dapat melihatnya. Matanya mengatup ketika aku sudah dapat melihat wajahnya yang sembab dengan jelas. Sungguh, aku ingin sekali mengetahui apa yang ada dalam pikirannya saat ini.

Sekalipun sembab, aku dapat melihat kesempurnaan melalui setiap garis wajahnya. Ya Tuhan, kenapa ia terlihat sangat cantik dalam pandanganku? Apa aku berlebihan? Tidak. Ryuu memang begitu di mataku.

Aku tergerak untuk mengecup kedua belah matanya yang mengatup sempurna meski aku tahu ia tidak benar-benar tidur. Kurasa aku sudah salah melihat wajahnya. Karena itu aku terus tergerak untuk mencium pipinya kemudian bibirnya. Ryuu tidak bergerak sedikitpun untuk menolakku. Itu malah membuatku semakin merasa bersalah dengan sikapku padanya. Namun sejujurnya aku tidak mampu menarik diri dari pesonanya.

Aku urung mencium bibirnya. Kupikir aku akan kehilangan kendali jika aku melakukannya. Aku terlalu menginginkannya. Dan ini bukan saat yang tepat.

Kuhembuskan napasku secara perlahan. Menormalkan degub jantungku. Apa Ryuu dapat mendengar suaranya?

“Aku mencintaimu,” ucapku pada akhirnya. Sengaja berbisik di telinganya, “Aku mencintaimu, Shin Ryuu…”

Ryuu membuka matanya.

“Kenapa kau selalu mengucapkan kata-kata itu padaku?” tanyanya dengan suara yang terdengar serak. Aku meletakkan telapak tanganku ke sebelah pipinya dengan menatap ke dalam manik matanya yang hitam pekat.

“Karena aku mencintaimu.”

“Aku tidak mencintaimu.”

“Aku tahu…”

“Aku tidak mencintaimu, Kim Jong Woon!” ulangnya dengan nada kesal.

“Ya, kau memang begitu kan?”

Ia menyingkirkan tanganku dari pipinya kasar dan segera menjaga jarak dirinya dariku kemudian memunggungiku.

“Bisakah kau berhenti seperti ini padaku? Kau tahu aku membencimu! Aku ingin membencimu! Jangan katakan lagi bahwa kau mencintaiku! Biarkan aku leluasa membencimu!”

Tanpa sadar aku membuang napas keras.

“Aku tidak akan membiarkanmu leluasa membenciku, Ryuu-ya. Karena aku mencintaimu! Berhenti berpikir bahwa kau membenciku… I’m your man!” tegasku. Ia menggeleng.

“Kita berpisah saja.”

Mwo?

“Sudah cukup permainan konyol ini. Aku sudah kalah. Aku tidak ingin melanjutkannya…” Ryuu berkata dengan nada dinginnya. Ia bangkit dan beranjak untuk melangkah pergi. Kuhela napasku yang masih saja terasa berat. Ia mulai lagi.

“Kau pikir semudah itu untuk menyudahi semuanya?”

“Tentu saja. Semudah dirimu mengatakan pada Yura mengenai pernikahan kita…”

“Shin Ryuu!” panggilku, memperingatkannya.

“Aku ingin pergi. Kau tidak perlu mencariku. Kau bisa memulai hidupmu lagi. Tanpa aku yang selalu merepotkanmu.”

Aku melompat bangkit dari tempat tidur dan mengejarnya dengan beberapa langkah lebar.

“Kemana kau akan pergi, huh?! Jangan melakukan hal yang bodoh lagi! Sudah cukup bahumu mengalami keretakan karena kau pergi dari rumah seperti tempo hari!” aku menahan tangannya sekuat mungkin.

Ia diam sesaat sebelum ia kembali bicara.

“Ken ada disini…”

Mataku menyipit mendengar ia menyebut nama menyebalkan itu. Aku mengeraskan rahangku. Sebisa mungkin aku mencegah diriku untuk tidak membiarkan emosiku keluar karenanya.

Cih. Kau bermaksud untuk selingkuh terang terangan. Begitu?” tekanku. Ia kembali diam. Menunduk.

“Kalau begitu pergilah sesukamu. Aku tidak akan melarangmu,” ujarku kesal. Akupun berlalu dari hadapannya.

 

 

*****

 

 

Author’s Pov.

 

Pria itu menggenggam gelas wine nya dengan kuat, seolah ingin memecahkannya berkeping keping. Ia merasa kesal dengan apa apa yang baru saja ia dengar dari temannya yang saat ini masih duduk di hadapannya.

“Aku tidak percaya bualanmu, Cho Kyuhyun-ssi,” katanya dengan memakai bahasa korea yang tidak fasih.

Teman yang ia panggil sebagai Cho Kyuhyun itu tersenyum sinis, “Kenapa kau tampak tidak terima? Bukankah sebelumnya kaupun memang berniat membuatku menjalin hubungan dengan gadis yang kau katakan sebagai sahabatmu itu?”

“Ryuu tidak mungkin sudah menikah…”

“Awalnya aku juga tidak mau mempercayainya. Sebelum aku tahu kalau kau ingin mengenalkannya padaku, aku sudah menjadi pengagum rahasianya di Universitas. Yah, aku sering melihatnya di perpustakaan…”

“Ryuu tidak mengatakannya padaku.”

Cih, kau pikir kau ini siapanya? Dia merahasiakannya dari semua orang. Kau hanya pria yang dulu menjadi temannya, kemudian pergi begitu saja tanpa memikirkannya!”

Ia diam sesaat, “Ya. Aku memang meninggalkannya. Tapi bukan berarti aku melupakannya.”

“Kau ini pria jenis apa sebenarnya, Ken? Kau menjalin hubungan dengan In Hwa, lalu sempat berencana membuatku menjalin hubungan dengan Ryuu. Sekarang, apa kau akan mengatakan bahwa kaupun sebenarnya mencintainya?!” seru Kyuhyun kesal.

Something like that…” desis Ken.

Kyuhyun meninju lengan sofa yang ia duduki, “Jadi, maksudmu, kau ingin mempermainkanku juga??”

“Sejak awal aku memang menyukainya hingga perasaan itu semakin kuat menjadi perasaan cinta. Aku tidak pernah mengakuinya karena aku takut kehilangannya. Aku takut Ryuu malah berbalik membenciku. Maka dari itu aku mencari pelarian. Seo In Hwa. Hanya Seo In Hwa yang sedikit membuatku teralihkan dari Shin Ryuu…”

“Lalu bagaimana dengan aku, brengsek?!”

“Sejujurnya aku memang ingin memanfaatkanmu, Cho. Aku ingin tahu perasaan Ryuu yang sebenarnya padaku. Jadi aku merencanakan itu.”

“Dengar, aku akan membunuhmu Ken!”

“Silahkan. Ryuu telah menikah. Kupikir itu sudah jelas sekarang…” ujar Ken. Ia meneguk habis wine-nya. Membuat Kyuhyun ingin sekali melayangkan tinjunya tepat di hidung pria itu.

“Apa kau tahu dimana Ryuu tinggal?”

Shit!!” Kyuhyun mengutuk. “Kau ini benar benar…”

Ken menghela napasnya. Ia kembali menuang wine-nya dengan tenang.

 

 

*****

 

 

“Lalu, kau akan menerima tawaran beasiswa S2-mu?”

“Entahlah, aku tidak tahu. Aku benar-benar merasa bersalah pada Ryuu.”

“Dilema? Bagaimana bisa kau tidak mendapat konsekuensi dari pernikahanmu? Justru kau mendapat tawaran lagi?”

“Yura berjanji padaku untuk hanya mengadukan Ryuu. Aku juga tidak mengerti.”

Hening sejenak.

“Apa kau menemukan sesuatu mengenai pria bernama Kenichi itu?”

“Tidak. Aku benar benar buntu dengan Ryuu. Dia terlalu ahli dalam menjauhkan dirinya dari jangkauan orang-orang, sekalipun itu orang dekatnya. Di kampus ia tidak dekat dengan siapapun kecuali denganku atau Siwon. Dan Siwon jarang sekali bersamanya. Begitu pula denganku…”

“Apa maksudmu begitu pula dengan dirimu? Jika selain kau, lalu Ryuu selalu sendirian??”

“Menurut sepengetahuanku memang begitu. Kau tahu, Ryuu itu gadis yang sangat dingin! Dia selalu menyibukkan dirinya di perpustakaan. Aigo, membosankan sekali bagiku!”

 

Jong Woon melonggarkan ikatan dasinya yang seperti menyekiknya, “Sampai saat ini ia tidak mau membuka mulut mengenai dirinya. Bahkan ia mengalami kecelakaan waktu itu ia tidak mengatakannya sama sekali padaku. Aku saja yang terus memaksanya menjawab tebakan-tebakanku. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kepribadiannya…”

“Ya. Lalu bagaimana dengan adiknya?”

“Sebenarnya aku sudah memikirkan semua ini sebelumnya. Maka dari itu aku menyetujui keinginan Henry kembali ke Inggris. Aku khawatir dengan keberadaan Henry di sini akan menambah buruk masalah yang timbul seperti sekarang ini.”

“Kau sudah melakukan hal yang benar menurutku.”

Jong Woon menarik senyum tipis. Kim Hee Chul, pria yang duduk bersamanya itu menepuk bahunya sebagai simbol dukungan.

“Kau tahu? Aku sudah sadar bahwa ada beberapa pria yang menyukai Ryuu di kampus secara diam-diam. Karena Ryuu memang tidak mudah untuk di dekati. Tapi aku benar-benar tidak percaya bahwa ternyata secret admirer Ryuu lebih banyak dari yang kutahu!” Hee Chul mengulas senyum mengejeknya.

Cih. Aku melihat bagaimana ekspresi mereka ketika mengetahui kabar yeoja yang mereka sukai sudah menikah. Kekeke…” katanya lagi dengan terkekeh. Jong Woon meliriknya.

“Benarkah?”

“Ya. Sepertinya kau beruntung memiliki Ryuu,” ujar Hee Chul dengan kembali mengulas senyum mengejeknya.

“Tapi Ryuu tidak mengharapkanku.,,”

Hee Chul memutar bola matanya, “Belum. Dia hanya belum menyadarinya, Kim Jong Woon!”

Jong Woon menghembuskan napas lelah, “Kau tidak tahu bagaimana perasaanku ketika dia selalu menyebut nama pria itu dalam tidurnya,” lirihnya sedih. Ia mengambil sebutir kerikil di dekat kakinya dan melemparnya asal. Hee Chul pun hanya bisa memandangnya prihatin.

 

 

*****

 

 

Ryuu Shin’s Pov.

 

Lagi-lagi aku hanya melamun dalam kesendirianku. Rumah ini seperti pemakaman yang begitu sepi. Aku tidak tahu aku harus melakukan apa. Aku pengangguran sekarang. Melihat buku atau meja kerjaku, hatiku sakit. Aku sudah tidak kuliah lagi. Menyedihkan. Sejak kapan aku tidak menyedihkan? Setiap waktu aku selalu menyedihkan. Segala sesuatunya memuakkan. Kupikir aku mati lebih baik?

“Seo In Hwa, tunangan Ken…”

Pengakuan itu. Pengakuan itu juga menambah luka dalam diriku. Kalimat itu rasanya bagai hantu yang setiap aku memejamkan mata, maka ia akan segera menyekikku. Aku tidak dapat bernapas dengan baik.

Tidak. Lukaku tidak hanya itu. Dadaku terasa sangat sesak ketika melihatnya ada di hadapanku. Atau aku sekadar mengingat namanya. Kim Jong Woon. Ya. Dia. Pria berstatus sebagai suamiku itu.

Aku tidak pernah habis berpikir. Kenapa harus dia? Kenapa harus Jong Woon? Aku menyadari bahwa aku sudah menyakiti perasaannya juga dengan mengaku bahwa aku tidak mencintainya. Tapi kenapa ia masih saja kukuh mengatakan dirinya mencintaiku?!

 

Tuhan. Sudah seberapa banyak dosaku? Aku sudah menikah. Tapi aku tidak merasa seperti sudah menikah. Begitu banyak yang ingin kulakukan sendiri. Tanpa Jong Woon. Tanpa suamiku. Entahlah. Aku sendiri tidak tahu bagaimana aku harus mengambil keputusan. Aku tidak mau menangis lagi. Aku ingin tersenyum. Bisakah aku merasa bahagia sedikit saja dengan apa yang kumiliki?

“Aku tidak akan membiarkanmu leluasa membenciku, Ryuu-ya. Karena aku mencintaimu! Berhenti berpikir bahwa kau membenciku… I’m your man!”

“Aku tahu…”

Kututup jendela kamarku. Membuat hembusan angin membentur kacanya.

Eh? Hembusan angin yang membentur kaca…

Tiba-tiba sesuatu melintas dalam benakku.

Hembusan angin yang membentur kaca. Menyisakan embun…

 

Kubuka kembali jendela kamarku. Membiarkannya terbuka sepertinya lebih baik.

 

 

*****

 

 

Author’s Pov.

 

Sudah waktunya pulang. Jong Woon mengenakan mantelnya sebelum keluar dari klinik tempatnya bekerja. Malam begitu gelap. Sedikit hujan salju menjadi pengganti terangnya bintang-bintang langit.

Jong Woon mengeluarkan kunci mobilnya dari saku mantel yang ia kenakan. Namun kemudian ia memasukkannya kembali ke dalam saku. Ia memilih melangkah pergi meninggalkan mobilnya. Berjalan kaki menuju shelter bus. Rupanya susasana hatinya tidak baik. Dan ia tidak ingin cepat-cepat tiba di rumah.

Hembusan angin yang menerpa membuat ia sedikit mengerut merasakan dingin. Tapi ia pikir, hembusan angin badai salju belum seberapa dari dinginnya sikap gadis yang ia cintai terhadapnya. Herannya, ketika ia merasa diabaikan, terdapat sikap lain yang ditunjukkan gadis itu padanya. Sikap yang membuatnya menaruh harapan besar untuk adanya perubahan yang berarti dari hubungannya dengan gadis itu.

Entah apa yang membuatnya begitu mencintai gadis yang menjadi istrinya karena perjodohan singkat itu. Sakit memang. Jika bukan karena takdir, tidak mungkin ia mengalami hal seperti sekarang ini. Iya kan?

Ia tahu gadis itu tidak mencintainya. Sejak awal memang sudah ada keterpaksaan. Dan itu belum berubah hingga saat ini. Tidak seperti dirinya. Seolah mudah sekali takluk dalam kediaman gadisnya. Garis pesona gadis itu mungkinlah yang benar-benar menjeratnya. Membuatnya terus mencoba, bahkan memutuskan untuk tetap bertahan. Ia tidak ingin menyakiti siapapun. Sekalipun ia melakukannya, ia akan benar-benar menyesalinya.

Bus berjalan dengan kecepatan normal. Jong Woon memilih duduk sendiri di kursi paling belakang dekat jendela. Menikmati pemandangan pinggir jalan dengan lampu-lampu. Benaknya kini memutar memori memori beberapa bulan terakhir. Dimana ia menjalani hari-hari bersama Ryuu. Sikap dinginnya, tingkah konyolnya, jalan pikirannya yang aneh, hingga senyum manisnya yang jarang sekali ia dapati.

“Aku tidak memiliki alasan untuk berhenti mencintaimu,” gumamnya sendu.

Setelah beberapa menit menghabiskan waktu selama perjalan bus, Jong Woon berjalan kaki memasuki komplek perumahannya. Hujan salju sudah semakin lebat. Tapi ia merasa tidak perlu repot-repot berlari menghindarinya. Toh, ia sudah basah dan kedinginan dari tadi.

Segaris lengkung senyum di bibirnya terbentuk. Ia merasa menjadi orang bodoh.

Beberapa meter lagi ia sampai di depan pintu rumahnya. Ia menyeret langkahnya untuk terus berjalan. Ia gontai. Kepalanya pusing. Sementara butiran salju belum juga berhenti membentur wajahnya. Tulangnya terasa kaku.

Oppa,

Jong Woon mengangkat wajah dari ketertundukkannya. Samar matanya melihat Ryuu berdiri di ambang pintu rumah. Memandangnya seperti panik.

“Ryuu-ya. Kau belum tidur?”

Ryuu menggeleng. Ia segera menghampiri Jong Woon yang sedikit tersandung melangkah untuk masuk.

“Dimana mobilmu? Kenapa kau berjalan di tengah turunnya salju??”

Jong Woon tak menjawab. Ia menyingkirkan tangan Ryuu yang hendak membantunya karena ia berjalan dengan terhuyung-huyung.

Oppa…”

Jong Woon berlalu begitu saja. Mengabaikan Ryuu. Iapun ambruk di sofa ruang tengah. Kepalanya benar-benar terasa berat. Dan tubuhnya lemas. Ia ingin langsung tertidur.

Ryuu terdiam di tempatnya berdiri. Memandang Jong Woon dengan ekspresi yang sulit di artikan. Seperti tengah ada perang batin. Entah apa yang diributkan dalam dirinya.

 

 

*****

 

 

Jong Woon Kim’s Pov.

 

Mataku masih berat untuk kubuka. Namun sesuatu yang hangat menyentuh pipiku membuatku penasaran.

“Ryuu??”

Aku tertegun ketika mendapati Ryuu ada di hadapanku. Ia tampak terkejut. Secepat kilat ia menarik tangannya yang menyentuh pipiku.

“Ma-maaf,” ucapnya dengan tergagap, “aku membuatmu terbangun.”

Aku diam. Ia juga diam dengan menunduk. Akupun tergerak untuk melihat sekitarku. Aku bukan berada di kamar. Tapi berada di sofa ruang tengah. Lalu aku menyadari kemejaku yang basah sudah tanggal dari tubuhku. Di gantikan oleh selimut. Pantas saja aku merasa hangat.

“Kau demam.”

Ryuu kembali bersuara. Ia duduk di lantai, menghadapiku yang berbaring di sofa.

“Kau tidak biasanya seperti ini. Kemana mobilmu? Kau pulang berjalan kaki?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku lebih memilih memperhatikan dirinya. Wajahnya sudah tidak sembab lagi. Berarti ia tidak menangis hari ini. Ia masih tidak mengikat rambutnya seperti kemarin-kemarin. Rambutnya yang hitam legam jatuh menyampir di salah satu pundaknya. Aroma bunga yang sudah kukenali sebagai aroma khasnya menguar ke indera penciumanku.

“Apa kau sudah makan? Aku membuat sesuatu. Tapi aku tidak yakin dengan rasanya.”

Aku masih diam. Memandangi wajahnya yang seperti sinar bulan dalam gelap malam. Demi apa, aku seperti tersihir olehnya.

“Maaf,” ucapnya lagi, “aku mengganggumu.”

Ia terlihat seperti kecewa karena aku tak juga menanggapi kalimat-kalimatnya. Ia hendak beranjak. Namun aku segera menahan lengannya. Aku ingin mengatakan sesuatu untuknya. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Alhasil aku hanya menatapnya. Ia memandangku bingung.

Oppa? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Apa kau mengkhawatirkanku?” tanyaku pada akhirnya.

Ia diam. Terhenyak.

“Apa kau mengkhawatirkanku?” ulangku. Berharap ia menjawab dengan jawaban yang ingin sekali kudengar darinya.

“Kau demam. Kau seorang dokter, kenapa kau bisa demam?”

Aku menghela napas. Bukan kalimat begitu yang ingin kudengar. Kalimat apa itu? Cih.

 

Aku melepaskan tanganku dari lengannya dan bangkit. Ia benar-benar menyebalkan seperti apa yang sering Hee Chul katakan.

Oppa, apa kau sudah makan? Kau harus makan dulu sebelum me-,”

“Aku sudah makan,” sahutku cepat, menyela kalimatnya. Aku melangkah menaiki anak tangga menuju kamarku. Aku ingin melanjutkan tidurku. Akan lebih baik sepertinya jika aku tidak dapat bangun kembali esok harinya. Benarkan.Ryuu?

 

 

*****

 

 

Ryuu Shin’s Pov.

 

Aku memperhatikan Jong Woon hingga ia memasuki pintu kamarnya dari tempatku duduk di lantai beralaskan karpet tebal ruang tengah. Perlahan aku menyentuh dadaku. Aneh. Kenapa aku merasa dadaku sesak? Ini tidak masuk akal.

Kembali kudongakkan wajahku untuk melihat ke lantai atas. Jong Woon sudah benar-benar masuk ke dalam kamarnya.

Kau lihat itu, Ryuu? Dia bersikap dingin padamu!

Itu bagus.

Apanya yang bagus?! Kau mengingkari dirimu sendiri, Ryuu! Lalu apa yang membuatmu merasa sesak jika bukan karena pria itu bersikap seperti tadi padamu?!

Dia hanya kelelahan. Besok pun ia akan ramah lagi padaku.

Mwo? Bukankah itu berarti kau berharap ia tidak mengacuhkanmu??

Berisik. Aku baik-baik saja. Aku tidak mengharapkan apapun darinya.

 

Aku beranjak dari dudukku. Ini sudah larut. Aku juga mengantuk.

Aku menghentikan langkahku di koridor antara pintu kamarku dengan kamar Jong Woon. Apa dia sudah langsung kembali tidur? Penasaran, aku melangkah mendekati pintu kamarnya yang menutup rapat. Menempelkan sebelah telingaku ke sana untuk mencuri dengar.

Hening. Tidak ada suara apapun. Sepertinya ia benar-benar sudah tidur.

Brakk! Srakk!

Aku tersentak kaget hingga hampir menubruk pintunya ketika tiba-tiba terdengar suara gaduh. Seperti ada sesuatu yang dipukul?

Aku menelan ludahku. Tanganku hampir saja menggapai knop pintunya. Perasaanku tidak enak. Tapi aku takut untuk sekadar mengetuk pintu atau bertanya pada penghuni kamar ini apa yang sedang ia lakukan.

Oppa,” aku memanggilnya dengan suaraku yang tercekat. Sangat pelan. Kuharap dia baik-baik saja.

Aku memasuki kamarku dan dengan ragu menutup pintu kamarku. Hingga aku berbaring rapi dengan selimut menutupi tubuhku mencapai leher dan lampu yang sudah kumatikan, aku justru tidak juga memejamkan mata. Rasanya kantukku menguap begitu saja. Pikiranku saat ini masih tertuju pada penghuni kamar di depan kamarku. Apa ia tidak apa-apa? Ia sedang demam dan tadi aku mendengar suara gaduh.

Aish!”

Aku bangkit duduk. Aku tidak dapat tidur. Kusibakkan selimutku, lalu turun dari tempat tidur.

 

 

*****

 

 

Author’s Pov.

 

Ryuu mematung di depan pintu kamar Jong Woon. Ingin sekali ia mengetahui keadaan pria itu. Terlebih ia juga mendengar Jong Woon terbatuk-batuk. Tapi sungguh, ia takut ia akan mengganggunya. Mengingat sebelumnya iapun sudah mengganggu tidurnya di ruang tengah tadi.

Cklek.

Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh knop dan memutarnya. Dan ia tertegun sendiri karena pintu itu tidak dikunci. Perlahan ia mendorong daun pintu itu membuka. Ruangan itu temaram. Lampu meja saja yang menyala. Ryuu memberanikan diri melangkah masuk, menutup pintunya hati-hati. Aroma maskulin khas Jong Woon memenuhi ruang yang jarang sekali ia masuki itu. Kakinya menginjak sesuatu. Ada lembaran-lembaran kertas yang berserakan di lantai. Itu lembar kerja milik Jong Woon. Sepertinya kertas-kertas itu memang diacak-acak. Ryuupun tergerak memungutinya satu persatu untuk ia bereskan.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Tangan Ryuu terhenti memungut lembar kertas yang tinggal beberapa lagi. Terkejut dengan suara Jong Woon yang menegurnya. Ia menoleh. Samar ia melihat Jong Woon sudah bangkit duduk menghadapnya.

“A-aku,” Ia tergagap.

Tek

Jong Woon menyalakan lampu meja yang satunya lagi hingga cahaya yang ada lebih terang dan dapat membantu melihat secara jelas.

Ryuu bangkit berdiri setelah mengambil lembaran kertas yang tersisa lalu meletakkannya di sebuah rak di dekatnya. Ia tampak gugup sendiri. Bagaimanapun ia memasuki kamar Jong Woon dengan diam-diam.

Umm… apa kau baik-baik saja??” tanyanya kemudian setelah belasan detik ia hanya diam.

“Apa pedulimu?”

Ryuu terhenyak mendengar ulasan Jong Woon yang terdengar ketus.

“Aku tidak apa-apa. Keluarlah.”

DEG!!

Ryuu menggigit bibir bawahnya. Kalimat Jong Woon barusan terasa menohok dirinya. Bukankah itu berarti pria itu mengusirnya? Tiba-tiba ia ingin menangis.

“A-aku hanya…aku hanya ingin tahu keadaanmu. Bagus kalau kau tidak apa-apa..” katanya dengan mengulas senyum singkat yang memaksa. Dengan perasaan terluka ia berbalik untuk keluar. Ia hendak melangkah secepat mungkin, namun suara Jong Woon menghentikannya.

“Berhenti.”

Ryuu ingin tidak mendengarkan, tapi Jong Woon mengulang kembali kalimat perintahnya dengan nada yang lebih keras.

“Kubilang berhenti!”

Mau tidak mau Ryuu tidak melanjutkan langkahnya. Namun ia tetap membelakangi Jong Woon.

 

Jong Woon melangkah menghampiri Ryuu dan memeluknya erat dari belakang. Hal itu membuat Ryuu agak terkejut juga.

“Kenapa kau mau pergi begitu saja? Kau bilang ingin mengetahui keadaanku. Kau belum mengetahui keadaanku, dan kau sudah ingin pergi??”

Ryuu tertegun.

“Ka-kau bilang…kau tidak apa-apa…”

“Kenapa kau percaya begitu saja?! Bagaimana jika aku berbohong?”

Ryuu terdiam sejenak.

“Kupikir aku lagi-lagi mengganggumu…”

“Lalu kenapa jika kau menggangguku?”

“Aku-,”

“Dari awal kau sudah menggangguku. Kau mengganggu pikiranku setiap hari, kau tahu?!”

Eh?”

Jong Woon membalikkan tubuh Ryuu menghadapnya.

“Katakan kalau kau mengkhawatirkanku.” katanya, terkesan memaksa.

“…??”

“Katakan saja jika kau memang mengkhawatirkanku! Aku tidak suka kau mengatakan hal yang lain!”

Ryuu mengerutkan keningnya, tidak begitu paham dengan apa yang Jong Woon katakan.

“Katakan Ryuu!”

“Aku…” Ryuu memandang Jong Woon bingung. Ia menggeleng. Jong Woon memutar bola matanya kesal. Ia pun meraih tangkuk Ryuu untuk kemudian mencium bibirnya tanpa ada kode apapun.

 

Namun entah bagaimana, Ryuu tidak merasa terkejut lagi dengan perlakuan Jong Woon yang seperti ini. Menciumnya. Rasanya justru ia seperti langsung terlarut dalam setiap pagutan yang Jong Woon berikan. Meski kali ini Jong Woon menciumnya dengan sedikit kasar dan terkesan memburu. Yang tentu saja membuat jantungnya seketika berdebar kuat.

Ryuu tidak memiliki pilihan lain selain membalasnya. Jong Woon menekan tengkuknya untuk memperdalam ciumannya. Sebelah tangannya memeluk pinggang Ryuu, menahannya agar tak menjauh. Ciuman itu semakin intens. Menciptakan suasana yang memanas. Hingga Jong Woon merasa hal itu tidak bisa ia hentikan begitu saja. Emosinya tiba-tiba memuncak. Iapun membawa Ryuu ke tempat tidurnya tanpa melepas cumbuannya.

Ryuu menyadari apa yang akan dilakukan Jong Woon padanya. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Ia merasa takut sekarang.

O-oppa…” panggilnya dengan suara bergetar. Ia menahan Jong Woon yang tidak berhenti menciumnya dengan memalingkan wajahnya.

Hum?” Jong Woon beralih mencium lehernya. Membuat Ryuu harus mencengkram bahu pria itu. Ia memejamkan matanya kuat ketika Jong Woon menghisap sedikit kulit lehernya.

“Bi-bisakah kau hentikan ini? Aku-,”

“Aku menginginkanmu, Ryuu…” sela Jong Woon seduktif.

Ryuu susah payah meneguk ludahnya. Tenggorokannya tercekat. Jong Woon menyusuri lehernya hingga ke atas dadanya.

“Hentikan Oppa!” sentaknya tidak tahan lagi. Ia sudah ingin menangis.

Jong Woon terhenti. Ia menatap Ryuu jauh ke dalam matanya. Seolah ia tengah berkata-kata melalui itu. Ryuu berpikir Jong Woon sedang mengunci pikirannya.

“Biarkan aku melakukannya…” ujarnya kemudian. Ryuu menggeleng kuat.

“Aku tidak bisa, Oppa…”

“Biarkan aku melakukannya, Ryuu…”

“Tapi-,”

“Aku tidak peduli!” bentak Jong Woon. “Kau istriku. Dan aku adalah suamimu. Apa kau tidak mengerti juga?!” serunya kesal.

“Kenapa?! Kenapa kau tidak bisa?? Karena kau tidak mencintaiku? Aku mencintaimu, Ryuu!!”

Ryuu memejamkan matanya. Sebutir cairan bening meleleh dari sudut matanya.

Jong Woon menghembuskan napasnya keras-keras. Ia menyingkir dari atas tubuh Ryuu. Beranjak mendekati salah satu rak.

Brakk!!

Ia memukul rak itu hingga beberapa buku jatuh dari sana.

“Aku ingin kau menyadari kehadiranku. Hanya aku yang berada di sisimu. Bisakah kau hanya melihatku saja?” ujar Jong Woon, terdengar putus asa. Matanya berkaca-kaca. Baru kali ini ia merasa sangat kecewa melebihi rasa kecewa yang pernah ia rasakan sebelum-sebelumnya.

Mendengar itu membuat Ryuu diliputi rasa bersalah. Perasaannya jadi bercampur aduk. Di satu sisi ia mengerti perasaan Jong Woon saat ini, sementara di sisi lain, ia masih memiliki ego yang masih ingin ia pertahankan.

“Kau tahu, aku mencintaimu, Aku berjanji pada ayahmu, pada orang tuaku, pada Henry dan pada diriku sendiri untuk melindungimu, menjagamu. Kau adalah tujuan hidupku sekarang…”

“Aku tahu kau membenciku. Aku sangat tahu itu. Tapi bisakah setidaknya kau berpura-pura menyukaiku? Meski tetap saja membuat hatiku sakit, aku tidak apa-apa. Asalkan kau mau bersamaku…”

Ryuu tidak dapat lagi menahan air matanya. Ia beranjak mendekati Jong Woon yang berdiri membelakanginya. Sedikit ragu ia menyentuh punggung kukuh itu.

“Maaf…” ucapnya bersalah. Iapun memeluknya. “Maafkan aku, Oppa…”

Jong Woon berbalik pada Ryuu. Air matanya sudah luruh begitu saja. Ryuu tidak mampu melihatnya.

“Kumohon, Ryuu. Bisakah kau berpura-pura untukku…”

Ryuu menggeleng. “Tidak. Tidak bisa begitu. Kenapa kau berpikir begitu? Maafkan aku. Aku ingin mencintaimu. Sungguh. Aku memang egois. Maafkan aku…”

Ryuu mengangkat tangannya menghapus air mata yang membuat jejak di pipi Jong Woon. “Aku hanya ingin memintamu bersabar sedikit lagi. Akupun sudah lelah seperti ini…” Ryuu mengulas senyumnya dengan bibir bergetar.

“Ajari aku untuk mencintaimu. Buatlah aku menerimamu. Aku akan berusaha. Maafkan aku…”

Jong Woon tersenyum senang mendengarnya di sela air matanya yang masih mengalir. Iapun memeluk Ryuu erat.

“Aku akan membantumu. Aku juga minta maaf atas semua sikapku padamu. Aku mencintaimu…”

Ryuu mengangguk seraya membalas pelukan Jong Woon.

“Terimakasih… suamiku…” ucapnya haru.

 

 

*****

 

Jong Woon Kim’s Pov.

 

Hari ini matahari bersinar begitu cerah. Jika seharusnya setiap weekend adalah waktunya bersantai, namun sepertinya tidak kali ini.Gundukan es di segala tempat mulai mencair. Dan itu harus segera dibersihkan sebelum halaman rumahku jadi banjir karenanya.

Aku sudah bersiap-siap dengan sekop besar di tanganku. Sekarang aku berpikir bagian mana yang lebih dulu akan aku bersihkan.

Srek!! Srekk!!

Spontan aku menoleh ke asal suara yang baru saja kudengar.

Ya~ apa yang sedang kau lakukan, huh??” tegurku. Kulihat seorang gadis dengan pakaian olahraganya tengah susah payah mengeruk tumpukan salju di salah satu sudut halaman. Ia menoleh ke arahku.

“Kenapa bertanya? Kau tidak melihat aku sedang apa?” katanya dengan merengut.

“Aku tidak menyuruhmu untuk ikut membersihkan ini!” kataku.

“Aku melakukannya dengan senang hati,” sahutnya sambil meneruskan apa yang tadi ia lakukan.

Ya~ bahumu belum sembuh benar!”

Ia kembali menoleh padaku. Ia meletakkan sekopnya kemudian berbalik menghadapku dan menggerak-gerakkan tangan kanannya bebas.

“Tidak sakit,” ujarnya santai. Iapun mengambil kembali sekopnya.

Ya! Letakkan lagi sekopnya dan masuk!” seruku memerintahnya.

“Jangan cerewet. Kau sendiri masih demam. Sombong sekali kau ingin mengerjakan ini sendiri?” ia menggerutu. Aku mendecak. Dia benar-benar keras kepala.

“Aku ini laki-laki. Pekerjaan begini tidak akan berpengaruh bagiku!”

“Berisik. Kau kerjakan saja yang sebelah situ!”

 

Aigo, benar-benar gadis bernama Shin Ryuu itu. Menguji kesabaran, menyebalkan, keras kepala…

“Aduh!”

Nah, lihat itu. Ia menjatuhkan sekopnya dan memegangi bahu kanannya.

Oppa…” ia meringis dengan menoleh padaku lagi.

“Kubilang juga apa? Siapa suruh kau tidak mendengarkanku?!” omelku dengan menghampirinya. “Berhenti menjadi keras kepala. Kau ingin kepalamu menjadi batu karenanya?! Berbalik! Aku akan memeriksanya…”

“Tidak.”

Mwo?”

Pluk!

Segenggam es dilempar oleh Ryuu ke arah wajahku. Dingin dan hambar.

Oops…” Ryuu menutup mulutnya. “Sorry,” katanya dengan menahan tawanya.

“Shin Ryuu…” aku menggeram kesal.Sial. Ia mengerjaiku.

“YAK! KEMARI KAU!” seruku saat ia sudah berlari menghindariku masuk ke dalam rumah. Aku hendak mengejarnya, namun sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahku. Aku urung meladeni Ryuu. Kubersihkan sisa-sisa es di wajahku dan memperhatikan Ford itu.

Seorang pria keluar dari sana dengan berpakaian kasual. Terlihat asing bagiku. Ia melihatku dan sedikit membungkuk memberi hormat. Aku mengernyit.

“Ada yang bisa kubantu?” tanyaku.

Oh, ye. Apakah…” ia menyelidikku. “Kau… suami dari Ryuu Shin??” tanyanya dengan bahasa korea yang tidak fasih. Tiba-tiba aku merasa curiga padanya.

“Ya. Memang benar…”

“Perkenalkan, aku Matsuyama Ken’ichi. Teman dekat Ryuu…”

 

 

*****

 

 

Ryuu Shin’s Pov.

 

“Kau benar-benar sudah menikah…”

“…”

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”

“…”

“Membiarkanku mendengarnya dari orang lain?”

Aku menarik napas dalam. Aku tidak pernah mengira Ken akan datang mencariku. Waktu itu aku pergi dari apartemennya tanpa pamit.

“Darimana kau bisa tahu aku tinggal disini?” tanyaku, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan miliknya.

“Ada seseorang yang membantu mencari tahu…”

Aku menoleh memandangnya, “Cho Kyun-ssi?” tebakku.

Ia menggedikkan bahunya.

“Kau mengenalnya.” kataku lagi.

Yeah…”

Cih, kenapa dunia ini terasa sekali sempitnya…”

“Ceritakan padaku, bagaimana kau bisa menikah? Apakah itu termasuk dari tuntutan ayahmu?”

Aku diam.

“Shin?”

“Benar,” ujarku dengan melempar pandanganku jauh ke ujung jalan sana.

“Dan kau bahagia??”

Aku kembali terdiam. Bagaimana aku harus menjawabnya?

“Katakan jika kau memang bahagia. Aku akan bersyukur untukmu,” katanya dengan ikut memandang ke arah yang sama denganku. “Tapi jika kau merasa tidak begitu…” Ken menggantung kalimatnya. Aku beralih padanya. Menunggu terusan kalimatnya.

“Kau bisa pergi denganku…”

DEG!

Aku menelan ludahku untuk membasahi tenggorokanku yang tiba-tiba tercekat. Ken manatapku. Aku menunduk. Berusaha membuatnya tidak bisa membaca mataku.

“Aku akan bahagia…”

“Benarkah?”

Aku mengangguk, meski hatiku diliputi keraguan.

Ia tertawa kecil sambil mengacak rambutku. Kebiasaannya.

“Kau sudah banyak berubah…” katanya. Aku tersenyum kecut.

Hening.

“Aku akan kembali ke negaraku,” ia kembali bersuara. “Saat aku menemukanmu, aku pikir setidaknya aku akan bertahan lama disini. Tapi melihatmu yang sekarang,” ia menoleh padaku. “aku tak memiliki alasan untuk bertahan lama disini…” ujarnya dengan tersenyum. Senyum yang selalu ingin kulihat. Ia menarik napas dalam.

“Banyak sekali yang ingin kukatakan padamu, Shin. Tapi pasti akan memakan banyak waktu. Sementara kita sudah membuat suamimu menunggu dengan gelisah…”

Ken mengarah ke dalam kafe. Aku mengikuti arah pandangannya. Dari dinding kaca, Jong Woon berdiri menghadapi kami. Ekspresinya terlihat harap-harap cemas. Hal itu sudah terlihat sejak ia mengizinkanku untuk bicara berdua saja dengan Ken.

“Kurasa dia cocok denganmu, Ryuu. Jangan pernah berpikir ia sama dengan ayahmu. Berpikirlah tentangnya. Ia berbeda. Aku pastikan ia dapat menjagamu dengan baik. Aku bisa mengetahuinya dari tatapan matanya saat memandangmu…”

Aku menghela napasku yang terasa berat. Aku tidak tahu harus berkata-kata seperti apa untuk menanggapinya.

“Kim Jong Woon. Seorang dokter,” Ken menggumam. Ia melihat jam tangannya. “Sudah waktunya. Setelah ini aku akan pergi ke pulau jeju lebih dulu sebelum aku akan pulang ke Jepang…”

“Secepat itu?”

Ken memegang kedua bahuku, “Look, kau akan bahagia. Kau sendiri yang mengatakannya. Jadi, aku tidak mau jika aku menemukanmu lagi, dan keadaanmu seperti tempo hari…”

Aku menggenggam erat tangan Ken di sebelah bahuku, “K-kau…akan meninggalkanku lagi??” tanyaku dengan dadaku yang bergemuruh. Mataku mulai berkabut.

“Hei, aku tak pernah meninggalkanmu. Tapi kau sudah memiliki dia. Dia yang akan bersamamu,” Ken meletakkan tangannya yang lain ke ubun-ubunku.

“Ken…”

“Makanlah dengan baik. Kau terlihat kurus. Pria tidak menyukai wanita yang kurus, kau tahu?”

Aku mendesis mendengar lelucon garingnya. Kusingkirkan tangannya dari kepalaku.

“Ryuu…”

Aku dan Ken serentak menoleh.

“Aku sudah akan pergi…” Ken melempar senyum pada Jong Woon lalu berbalik lagi padaku. “Tersenyumlah, Ryuu. Aku ingin melihatmu tersenyum.”

“Dasar bodoh. Bagaimana aku bisa tersenyum saat aku melihatmu akan pergi?!” sentakku kesal. Embun di mataku sudah membendung. Ken membawaku dalam pelukannya. Memelukku dengan erat. Aku tak bisa menahan lagi air mataku.

“Kau adalah gadis pertama yang dekat denganku. Dan selamanya akan dekat di hatiku.”

Aku mengangguk percaya.

“Dengar, ada satu hal yang ingin kau tahu…” Ken berbisik di telingaku.

“Aku mencintaimu…”

Aku mematung. Ken sempat mengecup sebelah pipiku sebelum ia melepaskan pelukannya.

“Aku pergi…”

Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat menahan suara hatiku yang menjerit. Sakit dan sesak memenuhi rongga dadaku. Tulang tulangku seperti kehilangan sendi sendinya. Aku jatuh berlutut.

“Ryuu!”

Aku hanya bisa menatap nanar punggung Ken yang semakin menjauh.

“Ryuu-ya…”

“Dia pergi…” lirihku. Kugigit bibirku, mencegah diriku untuk menangis. Sialnya aku memang sudah menangis.

“Dia pergi, Oppa…hiks,”

Dan akupun benar-benar menangis.

 

 

*****

 

 

Epilog – A Day

 

Jong Woon Kim’s Pov.

 

Musim gugur.

Musim ini adalah musim yang menggenapkan umur pernikahanku menjadi setahun. Sedikit lebih cepat memang. Mungkin karena musim dingin lalu tidak begitu lama. Atau aku yang salah menghitung? Entahlah. Tidak penting juga menghitung-hitung. Toh yang terpenting adalah apa yang sudah kudapatkan, aku harus mensyukurinya.

Sejauh ini, aku merasa istimewa karena aku sudah menikah. Begitu banyak hal yang menjadi pelajaran buatku. Dan itu sekurang-kurangnya membuat hidupku terasa semakin berwarna.

Kriing kriingg

Oppa, ini dasimu.Aku perlu mengangkat telepon!”

Hari ini adalah hari pertamaku diterima bekerja di rumah sakit universitas. Menjadi dokter di rumah sakit universitas memang keinginanku dari dulu. Aku bersyukur sekarang aku bisa langsung dipercaya untuk menjadi salah satu dokter di sana. Ngomong-ngomong, saat ini juga aku sedang menjalani studi S2 ku di universitas yang sama dimana aku menyelesaikan S1 ku.

Aku menerima beasiswa S2 yang pernah di tawarkan padaku. Hal itu tidak terlepas dari dukungan dari istriku, tentu saja. Aku benar-benar berterima kasih padanya karena mau berbesar hati padaku. Sementara dirinya lebih memilih tetap tidak melanjutkan kuliahnya. Ingin fokus dengan rumah tangga, begitu ia beralasan.

Ck, kenapa kau belum juga memakai dasimu?”

Ryuu memakaikan dasiku dengan tangannya yang terampil. Rupanya ia sudah terbiasa melakukannya. Masih jelas dalam ingatanku, beberapa bulan yang lalu ia bersusah payah belajar mengikat dasi karena ingin sekali memakaikanku dasi. Dasar konyol.

Setahun cukup membuat Ryuu sedikit demi sedikit mengubah sikapnya terhadapku. Kini, aku sudah bisa melihatnya sering tersenyum untukku. Bahkan tertawa lepas. Aku benar-benar menyukai senyumnya. Aku bisa tidak tidur jika sehari saja tak mendapatinya tersenyum padaku.

Oppa, kau tahu? Baru saja Heenim menelpon…”

“Apa yang ia katakan?”

Ia tidak langsung menjawab, seperti masih berpikir apa ia harus mengatakannya padaku. Satu sifat yang sulit sekali ia ubah. Layaknya memindahkan gunung. Dan aku tidak pernah lagi mendesaknya untuk memberitahukannya padaku. Karena aku percaya, suatu saat yang menurutnya tepat, ia pasti akan mengatakannya padaku.

“Sudah,” ia tersenyum. Aku melihat hasil pekerjaannya. Tidak buruk.

“Padahal mereka baru menikah kira-kira sebulan yang lalu. Tapi aku sudah mendapat kabar Ji Hyun sedang mengandung sekarang…” seperti tanpa sadar ia menggumam.

Mwo?” aku mengernyit.Ji Hyun adalah istri Hee Chul. Dan dia sedang hamil?

Ryuu mendeham. Ia melirikku sekilas sebelum berbalik untuk pergi tapi aku segera menahannya.

“Ji Hyun sudah hamil?” tanyaku, tidak percaya. Ryuu mengangguk. Saat ia mengangguk itulah aku menyadari sesuatu yang agak tersembunyi di bagian lehernya. Aku tergerak untuk memeriksanya.

Astaga. Itu hasil pekerjaanku semalam.

Aku tak dapat menahan senyumku. Ryuu memandangku bingung.

“Apa?” tanyanya.

Aku mendekatkan mulutku ke telinganya, “Aku harap kita juga bisa berhasil…” bisikku seduktif.

Aku tertawa melihatnya nampak terperangah dengan apa yang kukatakan. Buru-buru aku berlalu darinya sebelum ia akan berteriak histeris karena itu.

HIYAAAAA OPPPAAAA!!”

Aku menutup kedua telingaku serapat mungkin. Aku bisa tuli jika mendengar teriakannya. Hahaha. Shin Ryuu. Aku benar-benar pria-mu sekarang.

 

 

 

 

 

 

THE ENDDDDDDDDDDDDDDDD!!~~

4 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Mar 12, 2015 @ 13:52:21

    Ahhhh…. So sweet!!
    Akhirnya mereka bisa hidup bahagia selamanya……..

    Reply

  2. Novita Arzhevia
    Mar 13, 2015 @ 16:27:05

    ah so sweet eon, .

    Reply

  3. peperokyu
    Mar 14, 2015 @ 22:59:20

    Akhirnya bahagia jg
    Gilee susah bgt yaa buat ngeluluhin hati ryuu
    Keras bgt
    Ryuu pny bnyk bgt pria di sekeliling dia yg bertekul lutut
    Agak ga rela jg yura ga dpt balesan sm sekali

    Reply

  4. Titi Larastiana (@ttlrstiana)
    Jan 04, 2016 @ 07:26:32

    good job, author!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: