SECRET [1/?]

SECRET [Part 1]

Author: Shin Hyeonmi

Lee Hyukjae | Shin Hyeonmi | Gabriel | Park Sojin | Kim Jongwoon

Chapter | PG-17 | Romance

Rating: General

Tag: Lee Hyukjae, , Eunhyuk, Yesung, Kim Jongwoon, Kim Jong Woon, Super Junior, Superjunior

 

Note: I just hope readers will like this. Thanks for reading it (: And, I’ve published this before on my personal blog ( http://eunhaewife.wordpress.com/ ) Visit me if you have times^^ Happy reading^^

 

 

“Jadi kalau boleh ku simpulkan, cinta yang sebenarnya adalah saaat dimana pasanganmu benar-benar memperlakukanmu sebagai seorang wanita dan selalu melindungi kehormatanmu sebagai seorang wanita?” Hyeonmi menghentikan pergerakan jari-jari tangannya di atas keyboard laptop.

Gadis itu mengangkat kepalanya, memandang lebih dalam lagi sosok wanita di hadapannya yang kali ini menjadi narasumbernya. Dibenarkannya sekali lagi posisi kacamatanya yang terpasang tepat di depan kedua matanya, dan di lihatnya baik-baik kembali wanita tersebut.

“Hei, tidakkah atmosfer kita saat ini menjadi terlalu serius?” jawab wanita tersebut.

Park Sojin, seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun itukemudian tertawa. Hampir dua jam sudah mereka berdua melewati sesi wawancara dengan suasana yang cukup santai, dan baru saja secara tiba-tiba Hyeonmi seakan melemparkan padanya sebuah pertanyaan yang terdengar cukup serius, berbeda dari sebelumnya.

“Benarkah? Ahh, mian, sepertinya aku terlalu berkonsentrasi pada ceritamu hingga secara tak sadar aku telah mengubah suasana ini?” kata Hyeonmi sambil menarik segelas moccacionya dan kemudian meminumnya.

“Ahh, ani, tak masalah.” Jawab Sojin cepat, “Hmm… seperti itulah kira-kira kesimpulan dari cinta sejati menurutku, karena pasanganku saat ini adalah sosok yang benar-benar memperlakukanku dengan begitu baik,” lanjut wanita tersebut.

Hyeonmi kembali memusatkan pandangannya pada monitor laptopnya, sambil tangannya kembali mengetikkan kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh Sojin.

Selesai, dan aku bisa segera pulang setelah ini, ucap gadis itu dalam hati. Kembali di gerakkan tangannya untuk menutup layar microsoft wordnya dan segera menekan icon shutdown di dalamnya.

“Apakah sudah selesai?” tanya Sojin.

“Ne, terimakasih banyak atas bantuanmu hari ini Sojin-ssi, semua informasimu benar-benar telah membantuku,” jawabnya sambil menutup layar laptopnya dan memasukkan kembali barang tersebut ke dalam tas laptop jinjingnya.

“Ne, cheonma, ngomong-ngomong bukankah sedari tadi kau terus bertanya padaku seperti apa cinta sejati itu, lalu menurutmu cinta sejati itu seperti apa?” kali ini Sojin berganti melemparkan pertanyaan yang sama padanya.

“Cinta sejati itu… bukan hanya seseorang yang mampu menggeratkan hatimu, tapi dialah orang yang bahkan akan mempertaruhkan hidupnya untukmu.” Jawabnya.

Hyeonmi mengalihkan pandangannya seketika, menatap sebuah jendela kaca besar yang ada di cafe tersebut. Pandangannya lurus ke aras, menatap langit kota Seoul yang siang ini tampak memamerkan warna biru lautnya.

Kilasan memorinya yang terekam kembali memutarkan kenangan-kenangan indah dalam hidupnya yang pernah ia lewati bersama dengan seorang pria yang kini benar-benar telah ia yakini sebagai cinta sejati itu.

 

Flashback

~6 years ago~

“Lee Jongsuk-ssi, bersediakah kau berjanji untuk mencintai dan menghargai, wanita di sebelah kananmu? Baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang. Apakah kau berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung baginya, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidupmu? Bersediakah kau?”

Laki-laki itu tak langsung menjawab, sebaliknya, di tolehkannya wajahnya menatap waniita yang ada di sebelahnya. Wanita itu balik menatapnya, memberikan senyuman yang tulus padanya. Tapi di dalam senyuman itu, pria itu dapat menangkap cahaya dari dalam kedua bola matanya, bahwa saat ini gadisnya sedang gusar.

Wanita mana yang tak akan merasakan canggung luar biasa di detik-detik pemberkatan pernikahan yang ia jalani seperti ini. Sesaat pria itu memberikan senyum padanya, memberikan sedikit kekuatan baginya yang tengah di rundung perasaan takut.

“Ne, saya bersedia.” Jawab pria itu kemudian dengan mantap.

Pendeta di hadapan mereka kini sedikit mengubah posisinya berdiri menyerong lurus kepada sang mempelai wanita, bersiap untuk memberikan kalimat pertanyaan yang sama kepada sang pengantin wanita.

“Shin Hyeonmi-ssi, bersediakah kau berjanji untuk mencintai dan menghargai, lelaki di sebelah kirimu? Baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang. Apakah kau berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi istri yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidupmu? Bersediakah kau?”

“Ne, saya bersedia.”

Flashback Off

 

“Ahh, jadi kau sudah menikah, Hyeonmi-ssi?”

Gadis itu mengangguk mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan oleh Sojin. Mungkin jika dihitung sudah enam tahun lamanya ikrar penikahan itu ia ucapkan seiring dengan usia putra semata wayangnya saat ini.

“Mmmmh… aku iri padamu, usiamu masih 26 tahun, itu berati kau dua tahu lebih muda dariku, tapi kau justru sudah memiliki pengalaman menikah yang belum ku miliki.” Kata Sojin lagi.

“Ahh, ani. Kami memang memutuskan untuk menikah muda dulu, kau sendiri kenapa kau dan pasanganmu belum memutuskan untuk menikah.” Tanya Hyeonmi.

Pertanyaan yang tepat, batin Sojin. Tetapi sampai saat ini gadis itu sendiri bahkan belum mengetahui jawabannya. Ia sendiri sampai saat ini masih menunggu kapan pria itu akan menggajaknya untuk membina sebuah hubungan yang lebih serius.

Bahkan sampai saat ini, saat usia hubungannya dengan pria itu telah menginjak tahun keenam, belum ada sedikitpun tanda-tanda bahwa lelaki itu akan melamarnya. Terkadang pada saat seperti ini, gadis itu hanya bisa menyalahkan keputusannya pada awal hubungannya dulu, saat pria tersebut secara serius mengajaknya untuk menikah, tetapi ia justru menolaknya, dengan alasan bahwa mereka masih terlalu muda dan ia ingin berkonsentrasi terlebih dahulu pada pendidikan dan karirnya sebagai seorang jaksa.

**

“Ahh, sunbae, ne.. aku sudah melakukan wawancara dengan Jaksa Park.”

“Ne, aku akan mengerjakannya di rumah.”

“Ne, sunbae, anyyeong.”

Hyeonmi mematikan panggilan teleponnya. Seseorang dari kantor redaksi baru saja menghubunginya, untuk menanyakan wawancaranya tadi dengan seorang Jaksa Wanita yang saat ini tengah meroket namanya di Korea.

Bekerja di sebuah stasiun televisi sebagai seorang penulis naskah program acara talkshow memang menuntut gadis tersebut untuk sering bertemu dan melakukan sesi wawancara dengan orang-orang penting yang ada di Korea Selatan.

Dan kali ini, tema yang diambil acara yang dikelolanya untuk minggu depan adalah makna cinta pada pasangan kekasih yang telah menjalin hubungan sangat lama. Seorang teman kemudian menghubunginya bahwa tema tersebut sangat sesuai dengan Jaksa Park yang saat ini tengah melejit namanya dalam dunia hukum. Selain itu dibalik kesuksesannya memenangkan setiap kasus yang ia tangani, ternyata terselip kisah cinta yang cukup panjang antara jaksa tersebut dengan kekasihnya.

Tepatnya sudah enam tahun lamanya mereka menjalin hubungan, tetapi belum ada perubahan status apapun sampai saat ini pada hubungan mereka. Setelah melalui prosesi wawancara tersebut, akhirnya Hyeonmi mengetahui bahwa sebenarnya kekasih dari Jaksa Park bahkan pernah mengajak mereka untuk menikah, dulu saat usia hubungan mereka masih baru berjalan beberapa bulan. Namun dengan pertimbangan usia yang cukup muda dan juga status mereka yang masih mahasiswa, saat itu Jaksa Park menolaknya. Dan hingga kini pria tersebut masih belum memberikan sinyal menikah lagi.

Saat ini dia masih terlalu asyik dengan bisnis dan perusahaan.

Jawaban Jaksa Park yang masih terngiang jelas di telinga Hyeonmi. Hal itu mungkin saja, pikir Hyeonmi. Karena memang menurut Jaksa Park, saat ini karir yang dilalui kekasihnya itu benar-benar tengah meranjak naik, menjadi CEO termuda dari salah satu anak perusahaan milik HaeShin Group, dan tentu saja pria itu kini tengah asyik menyelami dunia barunya sebagai seorang pemimpin.

“Mom…”

Teriakan seorang anak laki-laki yang berlari ke arahnya saat ini sontak membuyarkan lamunan Hyeonmi pada kisah cinta Jaksa Park. Wanita itu memutarkan pandangannya, menoleh ke samping dan memberikan senyuman pada anak tersebut.

“Gabriel..” ucapnya sambil membuka lebar kedua tangannya, memberikan kesempatan bagi bocah tersebut untuk datang dan memeluknya.

“Mom, apa hari ini kita akan langsung pulang?” tanya anak tersebut dalam pelukan Hyeonmi.

Hyeonmi melepaskan pelukannya, dan duduk mensejajarkan dirinya dengan putranya. Diusapnya baik-baik rambut di sisi kanan milik putranya tersebut dengan penuh rasa sayang.

“Wae? Apa kau mau pergi ke suatu tempat?”

“Aku ingin ke taman bermain, setelah itu aku ingin makan Samgyetang, ne?”

Terlihat Hyeonmi sedikit berpikir mempertimbangkan ajakan putranya, “Mmmm, sepertinya haelmoni akan marah kalau kita makan di luar,”

“Common, mom, just for today, i want it, please.” Pinta anak itu lagi. Ditepukkannya kedua tangannya menyatu di depan wajahnya dan mulai ia memperlihatkan wajah memohonnya kepada sang ibu kemudian.

Hyeonmi kembali berdiri tegak di hadapan putranya. Di balikkannya tubuhnya dan kemudian berjalan meninggalkan Gabriel yang masih berdiri memohon padanya. Setelah beberapa langkah, gadis itu kemudian berhenti dan membalikkan tubuhnya menatap anak laki-lakinya itu lagi, “Hei, let’s go,” ucapnya.

Hanya dengan satu kalimat tersebut, Gabriel dengan segera berlari ke arah ibunya. Ia tahu bahwa ibunya memang yang terbaik di dunia ini, apapun yang ia minta sudah pasti akan dituruti, begitupun hari ini.

**

Apa kau sibuk?

Sedikit, wae?

Aku merindukanmu.

Tunggu aku di cafe Yesung-hyung, kita bertemu disana.

 

Sojin menutup kembali layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Segera dijalankannya mobil yang ia kendarai memecah jalanan padat Korea menuju sebuah cafe yang tak lain adalah milik senior dan juga sahabat baiknya sejak menempuh sekolah hukum dulu.

Bertemu di cafe lagi, tidakkah pria itu memiliki niatan untuk mebuatkan kejutan romantis untuknya. Menjemputnya mungkin? Tidak, hal-hal semacam itu bahkan sangat jarang dan hampir tidak pernah dilakukan pria itu lagi.

Mungkin pekerjaan memang telah menjadi yang utama untuk pria itu saat ini, tapi tidakkah ia terlalu berlebihan jika hanya menomorduakan kekasihnya setelah pekerjaan itu?

“Kau datang lagi?” ucap seorang pria yang tengah duduk di belakang meja kasir cafe tersebut.

Pria itu berdiri kemudian dan berjalan mendekat pada Sojin, menyambut gadis itu dan mengajaknya untuk menempati salah satu kursi yang biasa digunakan gadis itu saat berkunjung ke cafe ini.

“Ne, seperti biasa Eunhyuk mengajak kami bertemu disini.” Jawab gadis itu malas.

“Dan kau kecewa lagi padanya?”

“Yak, Yesung-ah, dia bahkan sudah tidak pernah memberikanku kejutan-kejutan romantis.”

“Tapi kau yakin bahwa dia masih mencintaimu, seperti kau mencintainya bukan?” tanya pria tersebut meyakinkan gadis di depannya yang saat ini benar-benar sedang dalam mood yang kurang baik.

“Molla.” Jawab gadis itu malas. “Ryeon, eodiseyo?” tanya gadis itu balik setelah melihat sekeliling.

Yesung mengangkat bahunya, memberikan jawaban pada Sojin bahwa ia juga tidak mengetahui dimana Ryeon berada saat ini, “Mungkin sedang bersama Donghae, ku dengar hari ini Donghae sedang libur.”

Ryeon adalah adik Yesung yang seringkali ikut membantu menjaga cafe ini. Persahabatan yang mereka jalin telah membuat keduanya saling mengenal keluarga satu sama lain. Tak hanya keluarga, dan bahkan teman dekatpun mereka saling mengenal. Hingga akhirnya persahabatan yang mereka jalin tersebut kemudian juga mempertemukannya dengan Eunhyuk, kekasihnya saat ini.

Berawal dari Ryeon yang menjalin hubungan dengan Donghae yang merupakan sahabat baik Eunhyuk, itulah awal hubungan antara mereka terjalin.

**

“Try it, Gabriel-ah.” Hyeonmi kembali menaruh beberapa potong sayuran ke dalam mangkuk makanan milik Gabriel.

Layaknya anak-anak lain yang tidak begitu menyukai sayuran, anak laki-lakinya tersebut juga tak jauh beda. Gabriel juga lebih menyukai junkfood dan makanan-makanan berlemak lainnya yang membuat tubuhnya saat ini sedikit menggemuk, terutama di kedua pipinya.

“Shireo. I dislike it, Mom.” Tolaknya lagi.

Kalian benar-benar mirip, batin Hyeonmi

“Dad supposed help me again.” Lanjut Gabriel.

Sesaat Hyeonmi terdiam dan mulai teringat kembali kenangan-kenangan bersama mereka bertiga. Ketika makan dan terjadi perselisihan pendapat tentang sayuran seperti ini, Jongsuk selalu menjadi pihak pelerai antara ia dan Gabriel. Pria itu selalu mengambil jatah sayuran milik Gabriel sehingga anaknya tersebut tidak meninggalkan satupun sayur di sisa makanannya.

Selera makan antara Jongsuk dan Hyeonmi memang benar-benar mirip, mereka berdua sama-sama menyukai sayuran, tapi hal itu sangat berbanding terbalik dengan Gabriel yang sangat membenci makan sayur, terlebih sepeninggal Jongsuk.

“Do you still love Dad, Mom?”

“Waeyo?”

“Just to know, i think i’m worried if you will ignore Dad from your heart.”

 

Flashback

~2 years ago~

Hyeonmi berjalan sedikit tergesa untuk mengangkat telepon rumahnya yang sudah sedari tadi berdering. Hari itu jarum jam sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam, dan suaminya belum kembali ke rumah, tetapi entah siapa malam-malam seperti itu ada saja orang yang meneleponnya.

“Hello, this is Lee Jongsuk’s wife, right?”

“Yess, what happen?”

“I’m sorry to say that, but your husband was die because an accident when he back to home.”

“…”

“And your husband now, is still in the Emergency Room at the hospital.”

“…”

Seketika itu Hyeonmi menjatuhkan gagang telepon yang ia pegang. Tubuhnya ambruk tak berdaya setelah mendengarkan informasi dari pihak rumah sakit tentang suaminya.

Dunia yang sejak awal masa pernikahannya begitu indah seolah hancur seketika. Pria itu, Lee Jongsuk, pria yang telah berjanji atas nama Tuhan dan di saksikan pendeta akan mencintainya seumur hidupnya benar-benar menepati janjinya untuk mencintai Hyeonmi seumur hidup.

Flashback Off.

 

“No.” Hyeonmi berhenti sejenak dan menatap buah hatinya dalam-dalam dan memberikan senyuman singkat padanya, “Mom akan selalu mencintai Dad, seperti Dad mencintai Mom,” lanjutnya.

“Nado, aku juga akan tetap mencintai Dad, walaupun aku tidak bisa melihat secara langsung Dad saat ini, tapi dari sana, di sisi Tuhan, Dad akan tetap bisa melihat bahwa kita mencintai Dad, dimanapun dia berada.”

Air mata itu tanpa bisa di cegah mulai mengalir dari sepasang mata Hyeonmi. Hati seorang Ibu mana yang tidak akan tersentuh jika anak semata wayangnya yang barusaja berusia enam tahun dapat berkata bijak seperti itu.

Jongsuk memang telah pergi, meninggalkan mereka berdua seorang diri di dunia ini. Tetapi Hyeonmi yakin bahwa curahan cinta yang selalu di berikan Jongsuk padanya tak akan pernah hilang walaupun sosoknya saat ini telah menghilang di dunia ini.

**

“Ahh, jadi kalian berdua benar-benar akan segera menikah?”

Park Sojin terkejut menerima secarik kartu undangan pernikahan yang di berikan Ryeon kepadanya. Di bukanya kemudian undangan tersebut dan dilihatnya berkali-kali tanggal pernikahan yang telah dipilih sepasang kekasih tersebut untuk mengucapkan janji dan ikrar penikahan bersama.

“Ne unnie, ku harap hari itu kalian berdua, kau dan Eunhyuk-oppa akan sedikit meluangkan kesibukan kalian untuk datang ke acara pernikahan kami.” Jawab Ryeon.

“Lalu kapan kalian akan mengikuti jejak kami untuk menikah?” sambung Donghae yang duduk di samping Ryeon.

Sojin menatap sosok di sebelahnya yang tengah asyik memperhatikan undangan pernikahan milik Ryeon dan Donghae. Seolah tak menyadari bahwa sedang diperhatikan, pria itu masih saja membuka-buka bagian depan dan dalam dari undangan tersebut dan tak memperdulikan tiga pasang mata yang kini tengah menatapnya.

“Kau tanyakan saja sendiri pada tuan CEO ini, Dokter Lee.” Jawab Sojin kesal sambil memukul keras lengan Eunhyuk yang masih saja tak menyadari bahwa pertanyaan Donghae tadi harus segera di jawabnya.

“Aww..” Eunhyuk meringis kesakitan karena pukulan yang diarahkan Sojin itu kepadanya.

Tetapi gadis itu sama sekali tak memperdulikan teriakan kesakitan yang di ucapkan oleh Eunhyuk. Justru gadis itu segera berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Yesung yang telah kembali ke posisinya di depan meja kasir, meninggalkan Eunhyuk, Donghae, dan juga Ryeon di tempatnya tadi.

“Yak, kau mau kemana Sojin-ah?” teriak Eunhyuk saat gadis itu berjalan meninggalkannya.

Tapi Sojin hanya diam tak memperdulikan pertanyaan yang dilontarkan kekasihnya.

“Hah, wanita itu benar-benar, tadi dia bilang merindukanku, dan aku sudah menemuinya di cafe ini, tapi sekarang dia justru meninggalkanku, terkadang aku benar-benar tidak bisa memahami bagaimana cara berpikir seorang jaksa sepertinya,” umpat Eunhyuk yang kesal karena tak mendapatkan respon dari Sojin.

Donghae dan Ryeon yang sedari tadi melihat bagaimana perubahan mood dari Sojin hanya bisa saling menatap tak percaya pada sepasang kekasih yang ada di hadapan mereka. Bagaimana bisa mereka sanggup mempertahankan hubungan mereka selama enam tahun dengan keadaan yang seperti itu. Hampir tak pernah ada percakapan yang panjang dan lebar setiap kali mereka bertemu.

“Oppa, kupikir tadi kau memang benar-benar keterlaluan.” Timpal Ryeon pada Eunhyuk.

“Keterlaluan? Wae? Aku hanya membaca undangan kalian berdua, apakah itu salah?” jawab Eunhyuk tak terima.

“Yak, Eunhyuk-ah, apa kau tidak bisa membaca apa yang diinginkan Sojin?” kali ini giliran Donghae yang berbicara.

“Diinginkan? Apakah tadi dia bertanya sesuatu hal padaku?”

Bukannya menjawab pertanyaan Donghae, justru pria itu bertanya balik. Sontak saja hal tersebut membuat Donghae dan juga Ryeon menghembuskan nafas mereka berat. Apakah yang seperti itu dapat dikatakan saling mencintai? Entahlah, faktanya perasaan cinta tersebut hanya bisa terlihat dari mata Sojin, sedangkan di mata Eunhyuk hal itu sama sekali tak terlihat.

“Ryeon-ah, Donghae-ah, aku pulang dulu, ada beberapa hal yang harus ku persiapkan untuk persidangan besok.” Ucap Sojin sedikit berteriak dari depan meja kasir kepada Ryeon dan Donghae.

Segera setelahnya gadis itu berjalan keluar dari cafe. Hanya dengan melihat bagaimana gadis itu berpamitan bahkan orang yang tak mengerti permasalahan antara mereka akan dapat dengan mudah membaca bahwa ada semburat kekesalan di wajah Sojin terhadap kekasihnya itu.

“Kau lihat bukan? Dia bahkan tak berpamitan kepadaku.” Kata pria itu sambil memperhatikan Sojin yang tengah berjalan keluar dari cafe, di balikkannya kembali badannya kemudian menatap Donghae dan juga Ryeon, “Aku heran, apakah perbedaan pekerjaan yang sama-sama kami lakukan yang membuat kami seperti ini?” lanjut pria itu kemudian.

Fakta pekerjaannya yang tak jauh dari dunia bisnis tak dapat di pungkiri sangat berbanding terbalik dengan jenis pekerjaan yang saat ini dilakoni oleh Sojin. Sebagai seorang jaksa, mungkin gadis itu terbiasa untuk berhubungan dengan orang lain tanpa memikirkan berapa besar keuntungan yang akan dia eroleh karena memang jenis pekerjaannya yang termasuk ke dalam Social Service.

Sedangkan Eunhyuk, ia tidak bisa seperti itu, setiap orang yang ia temui akan memberikan keuntungan tersendiri baginya apabila ia benar-benar bisa melihat dengan jeli dimana celah yang mampu ia manfaatkan. Tapi apakah hal itu juga akan berpengaruh dalam hubungan dua orang yang sama-sama telah bersepakat untuk menjalin kasih?

“Kupikir tidak, Eunhyuk-ah, kau lihat sendiri, antara aku dan Ryeon, jenis pekerjaan yang kami jalani kini juga berbeda, tapi hubungan kami sangat berbeda dengan yang kau jalani bersama Sojin.” Bantah Donghae.

Setidaknya Donghae dapat mengatakan hal demikian bukan karena tanpa alasan. Jika Eunhyuk berasumsi bahwa pekerjaan yang membuat mereka seperti ini, faktanya ia dan Ryeon tidak. pekerjaannya sebagai seorang dokter, dan pekerjaan Ryeon sebagai seorang Fashion Stylist, bukankah hal itu juga sangat berbeda. Tapi mereka mampu membuat perbedaan itu menjadi masalah yang tidak berarti. Masalah yang tidak akan pernah menggangu hubungan mereka. Bahkan kini mereka telah sama-sama mampu mencapai langkah yang lebih tinggi dalam hubungan percintaan, yaitu dengan membawa hubungan tersebut ke dalam sebuah ikatan pernikahan.

**

Next Day.

 

“Baiklah, setelah membaca beberapa informasi awal yang di tuliskan oleh penulis Shin, aku secara pribadi lebih condong untuk membawa kisah Jaksa Park ke dalam siaran kita minggu depan. Bagaimana dengan kalian?” kata PD-Kang melanjutkan rapat yang saat itu beragendakan pemilihan narasumber yang akan di bawa ke dalam talkshow mereka.

Suasana dalam ruangan tersebut masih hening sesaat, beberapa dari staff yang lain masih sibuk membaca draft hasil wawancara yang telah dibuat oleh Hyeonmi dengan beberapa narasumbernya kemarin.

“Aku sependapat dengan PD-Kang.” Ucap staff lain sambil mengangkat satu sisi tangannya.

“Aku juga.” Sambung suara lainnya yang telah menyelesaikan membaca draft.

“Baiklah, kalau begitu apakah bisa kita sepakati semua bahwa narasumber kita untuk minggu depan adalah Jaksa Park?” lanjut sang Program Director lagi.

“Ne.”

“Baiklah, seperti biasa kita kembali ke posisi masing-masing untuk mempersiapkan acara ini, penulis Shin segera siapkan naskah untuk acara ini, dan juga Jung Tae-Oh, segera hubungi Jaksa Park, tanyakan padanya apakah dia bisa mengisi program acara kita, dan kapan waktu untuk menjalani syuting acara ini!”

“Ne.” Jawab seluruh staff serempak.

Tak menunggu waktu lama, seluruh staff segera membubarkan diri dan kembali meja mereka masing-masing. Tersisa Hyeonmi, PD-Kang dan juga Jung Tae-Oh yang masih tetap berada di mejanya masing-masing.

“Emm.. PD-Kang, sebetulnya kemarin saat penulis Shin bertemu dengan Jaksa Park, aku sedang ada kepentingan lain, jadi aku tidak bisa menemaninya untuk melakukan wawancara dengan wanita tersebut.” Kata Tae-Oh.

Mendengar apa yang diucapkan oleh Tae-Oh, wanita tersebut segera mengangkat pandangannya dan melihat wajah gusar yang diperlihatkan oleh Tae-Oh. Sepertinya akan terjadi hal yang tidak ku inginkan, batin Hyeonmi.

“Lalu?”

Kemarin pria tersebut seharusnya menemaninya untuk bertemu dan melakukan wawancara bersama Park Sojin. Tetapi Tae-Oh beralibi bahwa ada kepentingan mendadak yang membuatnya harus segera kembali ke rumah dan tak bisa menyelesaikan pekerjaannya untuk bertemu dengan Jaksa tersebut.

“Penulis Shin, bisakah kau saja yang menghubunginya? Ku pikir kalau dia sudah bertemu denganmu itu akan lebih mudah untuk mengajaknya ke acara kita.”

“Yak, Jung Tae-Oh,!” ucap Hyeonmi tak terima, tapi baru saja dia berniat untuk melampiaskan kekesalannya, dilihatnya wajah PD-Kang yang membuatnya pada akhirnya mengundurkan niatnya,”Geurae, tapi ini yang pertama dan terakhir, jika sampai hal seperti ini nanti terulang kembali, akan kupastikan kau kehilangan tempatmu di program ini,” lanjutnya.

*

Hyeonmi berjalan dengan sedikit tergesa menuju ke ruangan PD-Kang, sang penganggung jawab program acara yang di lakoni saat ini. Tangan kirinya masih memegangi ponsel dan tampak berkali-kali ia mencoba untuk menghubungi seseorang, sementara tangan kanannya masih menggenggam naskah yang ia gunakan untuk rapat tadi pagi.

“Sunbae, sepertinya aku mengalami kesulitan, Jaksa Park sudah ku hubungi berkali-kali tetapi tidak ada respon sama sekali,”

“Benarkah? Apa kau juga sudah mengirim pesan kepadanya?”

Drrrt.. drttt..

Ponselnya berdering lagi, kali ini sebuah pesan masuk. Ahh, mungkin dari eomma, karena aku memintanya untuk menjemput Gabriel di sekolah hari ini, pikir Hyeonmi. Dibukanya pesan itu kemudian, dan sukses hal itu membuatnya terperangah.

 

From: Park Sojin

Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan? Mian, temui saja aku di kantor Zeus, aku ada di lobby.

 

“Sunbae, ini dari Jaksa Park. Dia memintaku untuk menemuinya,” kata Hyeonmi masih dengan wajah terkejutnya.

Seorang Jaksa yang kini tengah berada dalam masa kejayaannya, kali itu benar-benar membalas pesannya. Apakah Jaksa tersebut juga akan menerima permintaannya untuk menjadi tamu dalam acara talkshownya? Semoga saja, batin Hyeonmi.

“Ppalli, segera kau temui dia,”

“Ne sunbae,”

**

“Lebih baik kita berpisah saja?” Sojin berdiri mantap dari sofa yang tersedia tepat di lobby kantor perusahaan Zeus Corp.

Diangakatnya wajahnya ke atas, berusaha menahan tetesan air mata yang mungkin saja akan segera mengalir jika ia sedikit saja menundukkan kepalanya, apalagi jika ia menatap sosok lelaki yang duduk di sofa yang ada di sampingnya.

“Mwo?” jawab pria itu seketika, segera ia berdiri tepat di hadapan wanita itu dan menatap dalam gadis yang telah berstatuskan sebagai kekasihnya tersebut dalam beberapa tahun terakhir ini,“Yak, Park Sojin, apa kau sadar atas apa yang baru saja kau bicarakan?” tanyanya.

Ini bukan atas dasar kesadaran atau apapun ia mengatakan hal ini, tapi lebih tepatnya ini adalah bentuk keraguannya pada lelaki bernama Eunhyuk tersebut. Jika saja, sampai saat ini pria itu tak mengecewakannya secara berlebih mungkin ia masih akan dapat memakluminya.

Apa gunanya fakta tentang kekasihnya ini yang selalu ia banggakan di hadapan semua orang, bahwa kekasihnya adalah sosok pria yang sangat menghormatinya sebagai seorang wanita, apa gunanya semua hal itu jika pada kenyataannya, pria tersebut sama sekali tak pernah menghiraukannya.

Dan semalam, adalah malam terberat yang pernah ia lalui, bukan karena ia iri pada hubungan Donghae dan juga Ryeon yang akan segera berlanjut ke pernikahan, tetapi lebih karena pria itu telah berkali-kali tak menghiraukannya. Semalam, gadis tersebut telah memikirkannya matang-matang tentang kelanjutan hubungan mereka, dan rasa kecewanya semalam adalah akumulasi dari seluruh kekecewaan yang ia pendam selama ini.

“Wae? Apa aku salah? Sepertinya kau sudah tak memiliki rasa apapun padaku, EUNHYUK-ssi.” Sengaja di tekankannya kata EUNHYUK-ssi tersebut untuk mengartikan bahwa saat ini memang hubungan mereka telah benar-benar berakhir.

“Eunhyuk-ssi?” kata pria itu meyakinkan pendengarannya kembali.

Masih, gadis itu tak memandang seincipun wajah pria yang telah mengisi hari-harinya selama enam tahun terakhir ini. Semuanya akan sia-sia jika gadis itu melakukan kesalahan hanya dengan menatap pria tersebut walaupun hanya satu detik. Ia hanya ingin membuktikan, bahwa ia bukanlah gadis lemah yang akan menangis karena cinta.

Pandagannya menatap lurus kepada seseorang yang juga ia teui kemarin. Seseorang dari kantor stasiun tv yang telah ia minta untuk datang kesini. Satu sisi dalam hatinya merasakan bersalah pada gadis tersebut karena apa yang ia ceritakan kemarin tentang sosok kekasihnya saat ini telah berubah. Tapi satu sisi hatinya yang lain, sedikit merasakan kelegaan karena berhasil mengatakan apa yang selama ini hanya mampu ia pendam.

“Ahh, kau sudah datang, mian, sepertinya aku tidak bisa menjadi tamu dalam acaramu, Hyeonmi-ssi.” Kata Sojin tanpa memperdulikan Eunhyuk yang bahkan masih berdiri tepat di hadapannya.

“Hubungan kami baru saja berakhir,” lanjutnya.

Hyeonmi yang baru saja sampai di hadapan gadis itu sontak merasa lemas atas apa yang dikatakan Jaksa Park,

“Wae?”

“Hyeonmi-ssi?”

Dua pertanyaan itu secara bersamaan terlontar dari dua orang yang ada di hadapan Sojin. Eunhyuk membalikkan tubuhnya menatap sosok wanita yang baru saja dipanggil dengan nama ‘Hyeonmi’ itu oleh Sojin.

Tidak, itu tidak mungkin dia. Wanita itu tidak mungkin wanita yang pernah ia kenal dulu. Bukankah wanita itu telah pergi dan tinggal menetap di Amerika setelah menikah? Berbagai pertanyaan itu seketika muncul di pikiran Eunhyuk. Tetapi dengan seketika seluruh jawaban dari pertanyaannya terjawab dengan sendirinya setelah ia melihat dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri siapa wanita tersebut.

“Lee Hyukjae?” kata gadis itu kaget menatap sosok yang benar-benar tidak ia harapkan itu ada di hadapannya saat ini.

“Shin Hyeonmi.” Ucap pria itu lirih.

“Wae? Kau mengenalnya?” tanya Sojin yang samar-samar dapat mendengar apa yang diucapkan pria itu.

“Menikahlah denganku, Park Sojin.” Kata pria itu tiba-tiba.

 

*TBC

2 Comments (+add yours?)

  1. Elita
    Mar 17, 2015 @ 15:23:17

    Maksud ?? Membingungkan ?? Ada apa mereka sebenarnya di masa lalu ?? Trus itu tiba” eunhyuk ngajak sojin nikah ?? Bener” membingungkan

    Reply

  2. sulfia
    Mar 20, 2015 @ 11:29:34

    ya ampun hyukjae minta sojin nikah sama dia gegara liat hyeonmi… dia mau bales dendam sama hyeonmi .. tpi kl eunhyuk tau dia punya anak sama hyeonmi pasti dia nyesel..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: