SECRET [2/?]

SECRET [Part 2]

Author: Shin Hyeonmi

Lee Hyukjae | Shin Hyeonmi | Gabriel | Park Sojin | Kim Jongwoon

Chapter | PG-17 | Romance

Rating: General

Tag: Lee Hyukjae, , Eunhyuk, Yesung, Kim Jongwoon, Kim Jong Woon, Super Junior, Superjunior

 

Note: I just hope readers will like this. Thanks for reading it (: And, I’ve published this before on my personal blog ( http://eunhaewife.wordpress.com/ ) Visit me if you have times^^ Happy reading^^

 

 

 

Menikahlah denganku, Park Sojin

Hyeonmi memukul stir mobilnya saat itu juga. Entah mengapa, semakin ia berusaha untuk melupakan kalimat tersebut, rasanya semakin terulang-ulang berkali-kali dalam memorinya hal yang baru saja ia lihat secara langsung.

Pria itu benar-benar melamar Jaksa Park tepat di hadapannya, seolah ingin menunjukkan padanya bahwa ia mampu, dan ia bisa bangkit dari luka masa lalu. Apakah luka itu terlalu dalam untuknya? Tiba-tiba pertanyaan itu seakan lewat begitu saja dalam pikirannya.

Tidak, pada kenyataannya bukan hanya ia yang terluka, tapi aku juga.

Kembali gadis itu memukul-mukul stir mobil di hadapannya dengan keras. Bertemu kembali dengan sosok yang tak ingin ia temui, seakan membawanya kembali untuk mengingat masa lalu kelam yang bahkan belum sepenuhnya bisa ia lupakan. Dan kini, kilasan memori itu seolah berkumpul kembali menjadi satu untuk menghancurkan benteng pertahanan yang telah ia buat selama enam tahun ini.

 

Drrrt.. Drrtt..

 

Hyeonmi menolehkan pandangannya sejenak pada ponsel yang ia letakkan di kursi mobil sebelah kanannya. Dilihatnya sesaat nama yang tertera pada layar laptopnya, ‘Eomma.. Calling..”. Hatinya teriris kembali, mengingat bagaimana perjuangan yang ia lakukan untuk mengobati luka sang ibu. Bagaimana ia harus tetap tersenyum untuk wanita yang dipanggilnya Ibu itu meskipun dalam hati ia menangis dan terluka.

“Ne eomma, wae?” ucapnya menjawab telepon sang Ibu.

Hyeonmi-ah? Apa kau bekerja lembur?

“Ne, eomma. Aku harus menyelesaikan naskah untuk acara minggu depan, karena recording akan dilaksanakan besok.” Jawab Hyeonmi, “Apa Gabriel sudah tidur?”

Hmm, dia sudah terlelap, dia bilang hari ini sangat lelah karena ada pelajaran olahraga. Yasudah, kembalilah bekerja.

“Ne, eomma,” wanita itu berhenti sejenak, seakan ragu untuk melanjutkan kata-katanya, “Saranghae, eomma.” Lanjutnya kemudian.

Dengan segera gadis itu memutuskan panggilan teleponnya, sebelum air matanya mulai jatuh membasahi pipinya. Mianhae eomma, mianhae, karena pernah membuatmu terluka, ucapnya dalam hati.

**

Sojin masih berdiri menatap Eunhyuk dengan penuh pertanyaan yang ada dalam otaknya. Kali ini mereka sudah meninggalkan lobby kantor perusahaan, dan mencari tempat lain untuk membicarakan hal tadi lebih serius. Bukan, kali ini bukan di cafe milik Yesung lagi, mereka membutuhkan tempat yang lebih sepi dan tidak mengganggu privasi mereka. Dan itu adalah rumah Eunhyuk.

Gadis itu menatap tajam lelaki yang saat ini tengah duduk bersandar diatas sofa. Wajahnya tampak sangat santai dan sama sekali tak menunjukkan sebuah tanda-tanda bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu hal.

Kontan saja hal tersebut membuat Sojin semakin frustasi. Berkali-kali sudah membaca pikiran orang dengan melihat tingkah lakunya saat melakukan penyidikan, tetapi pria ini benar-benar berbeda dan terlalu pandai menyembunyikan perasaannya. Gadis itu yakin ada yang sengaja di sembunyikan oleh Eunhyuk tentang bagaimana ia bisa mengenal Hyeonmi.

Selain itu, gadis itu, Hyeonmi, memanggil dengan nama aslinya yaitu Lee Hyukjae. Nama yang bahkan sangat jarang diucapkan oleh teman-teman Eunhyuk. Bahkan tak jarang teman-temannya hanya mengetahui nama panggilannya, seringkali mereka bahkan tidak mengetahui jika pria itu memiliki nama lengkap Lee Hyukjae.

Mereka bilang hubungan mereka hanyalah soonbae dan hoobae saat status mereka masih sebagai pelajar di high school, tetapi dari cara mereka saling menatap satu sama lain, gadis itu bahkan dapat merasakan atmosfer yang berbeda. Dan kini, ketika ia ingin mencari tahu lebih dalam seperti apa hubungan mereka yang sebenarnya, pria benar-benar telah sukses membuatnya tak bisa menemukan jawaban.

“Baik, sekarang katakan padaku, mengapa kau tiba-tiba saja melamarku?” tanya Sojin.

Pria itu kembali menghempaskan tubuhnya bersandar pada sofa tamu di kamar apartemennya. Di tutupnya kedua matanya sesaat sebelum kemudian terbuka kembali dan menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Sojin, “Wae? Bukankah kau memang ingin menikah?”

Sojin melemparkan pandangannya, entah harus berapa kali lagi ia memendam perasaannya atas kelakuan pria ini. Benar, ia memang ingin segera menikah, tidakkah setiap wanita di dunia ini memang ingin menikah?

Hanya wanita bodohlah yang akan memilih untuk hidup sendiri seorang diri tanpa pasangan di hidupnya.

Dan mungkin dia memang bodoh, karena jatuh dalam perasaan cinta yang dalam pada pria itu, dan sekali lagi ia hanya bisa menyadari kebodohannya karena begitu saja menerima ajakan menikah yang di ucapkan oleh Eunhyuk tadi.

Mungkin karena telah terlalu lama menunggu kalimat tersebut terucap dari seorang nama bernama lengkap Lee Hyukjae, bahkan rasa sakit hati yang selama ini ia pendam seketika itu saja hilang ketika kalimat itu terucap.

“Ah,, molla.. aku bahkan benar-benar tidak bisa berfikir bagaimana mungkin aku menyetujui ajakanmu tadi.”

Pasrah, pada akhirnya gadis itu lebih memilih untuk mengalah. Inilah yang mendasari seberapa lamanya sebuah hubungan dapat berjalan, jika kau mau sedikit mengalah dan membuang egomu pada kekasihmu, maka niscaya hubungan tersebut akan berjalan lama. Dan itulah yang selama ini dilakukan oleh Sojin, mengalah pada ego yang dimiliki Eunhyuk, daripada harus memaksakan pria itu menerima egonya.

Gadis itu meraih kembali tasnya dan bersiap untuk meninggalkan rumah pribadi Eunhyuk. Mungkin ia membutuhkan waktunya untuk sendiri agar dapat berfikir jernih dari segala hal yang terjadi hari ini. Segala hal yang benar-benar membuatnya merasakan keterkejutan luar biasa.

Ketika ia bahkan telah menyerah pada cintanya, tapi pria itu meraihnya kembali.

“Besok kau berangkat jam berapa?” tanya pria itu tiba-tiba saat Sojin telah melangkah untuk meninggalkan ruangannya.

Gadis itu berhenti sejenak dan membalikkan wajahnya menghadap Eunhyuk, “Pagi, seperti biasa, aku ada satu persidangan besok pagi,”

“Aku akan menjemputmu besok pagi.”

“Wae? Apa kau tidak bekerja besok?”

“Aku akan mengambil libur sehari, untukmu.”

“Tapi aku ada jadwal ke stasiun tv besok,”

“Aku juga akan mengantarkanmu, aku siap menjadi sopir pribadimu besok.”

**

Yesung’s Cafe

 

 

Ryeon sedang duduk di meja kasir cafe milik kakaknya. Hari itu giliran ia yang menunggui meja cafe karena sang kakak masih belum pulang dari kantornya. Gadis itu tengah menempatkan ponselnya di telinga sebelah kirinya dan berbincang-bincang dengan seseorang melalui sambungan telepon tersebut.

“Benarkah? Ahh, chukkae eonni.” Ucap Ryeon.

Gadis itu mengentikan percakapannya sejenak dan menatap sang kakak yang baru saja melewati pintu kaca di cafe itu.

“Ne, aku akan segera memberitahukan hal ini pada Yesung-oppa” sambung gadis itu lagi sebelum akhirnya memutuskan sambungan teleponnya.

Yesung yang mendengar namanya di sebut dalam percakapan adiknya tadi kemudian berhenti di depan meja kasir. Bibirnya bergerak melafalkan kata ‘nugu?’ namun tak ada suara yang ia keluarkan.

“Sojin eonni.” Jawab Ryeon sambil meletakkan kembali ponselnya di atas meja. “Dia bilang Eunhyuk-oppa baru saja melamarnya.” Lanjut Ryeon.

Seketika itu juga Yesung diam tak menjawab lagi. Tak ada sepatah katapun yang dapat ia ucapkan. Seperti ada perasaan kehilangan yang seketika memenuhi dirinya. Seperti ada goresan luka yang menyakiti hatinya saat itu juga.

“Oppa.. kenapa kau diam saja?” tanya Ryeon yang mulai menyadari ada hal yang berubah dari kakaknya.

Tapi pria itu masih diam, tak begitu memperdulikan pertanyaan Ryeon, justru ia segera melangkahkan kakinya kembali untuk naik ke lantai atas Cafe tersebut yang memang sengaja disediakan untuk beristirahat.

Yesung melangkah menaiki satu persatu anak tangga dengan intonasi yang normal, namun semakin menuju tinggi anak tangga yang ia pijak, semakin berkurang juga tenaga yang ia keluarkan. Hingga langkah kakinya bernar-benar berhenti di ujung tangga paling atas, pria itu bersandar pada sisi tembok yang berdampingan dengan tangga.

Tangannya bergerak naik mengelus dadanya berkali-kali. Rasanya sakit, seperti ada sebuah sayatan baru yang mengukir hatinya. Ia tahu hal ini tak seharusnya terjadi, bahkan ia tak memiliki hak untuk merasakan rasa sakit yang seperti ini.

Park Sojin bukan hanya sesosok wanita yang menjadi sahabatnya yang ia kenal sejak memasuki masa sekolah hukum. Gadis itu sudah sejak lama menggetarkan hatinya. Gadis itu adalah cinta baginya. Dan selama ini, ia hanya bisa memendam cintanya itu.

Baginya hanya dengan melihat gadis itu bisa tersenyum bahagia bersama orang yang di cintainya, semua telah sempurna. Tetapi mengapa kali ini tidak? mengapa kali ini ketika gadis itu kembali merasakan bahagia bersama orang yang di cintainya ia merasakan sesak di dadanya?

Seandainya enam tahun yang lalu ia memiliki kekuatan untuk sekeda menyatakan perasaannya kepada gadis itu, mungkin ceritanya saat ini akan berbeda. Tapi apalah gunanya menyesali kejadian di masa lalu. Menyesal itu hanya bisa di lakukan jika pada kehidupan sekarang ia telah melakukan perubahan, tapi faktanya sampai saat ini dan detik ini ia masih belum memiliki kekuatan untuk mengatakan perasaannya yang sesungguhnya kepada gadis itu.

“Kau benar-benar pecundang, Jongwoon-ah” katanya lirih.

Kim Jongwoon, yang lebih sering disapa Yesung oleh adik dan juga teman-temannya, seorang pengacara publik yang telah memendam perasaan cintanya selama bertahun-tahun. Dan kini ketika cinta yang ia miliki akan segera mengikat janji untuk melangkah lebih jauh, akankah ia masih hanya diam dan memendam perasaannya?

**

Next Day

 

 

“Oh, Jaksa Park sudah datang?” Hyeonmi berjalan menghampiri beberapa staff yang sedang bersiap-siap untuk memberikan make-up pada tamu pengisi acara talkshow hari ini.

“Ne, Penulis Shin.” Jawab salah satu staffnya.

Mendapatkan jawaban yang memuaskan, kemudian wanita itu berjalan kembali keluar dari ruang make-up. Seluruh pekerjaan yang harus ia siapkan sebelum recording hari ini telah selesai, dan ia membutuhkan waktu rehat sejenak dari rasa lelahnya. Dilangkahkannya kakinya keluar gedung stasiun tv sejenak untuk sedikit mencari udara segar.

Wanita berhenti sejenak saat langkahnya telah melewati pintu kaca stasiun tv. Ia merapatkan kembali mantel jaket yang ia kenakan saat semilir angin musim semi itu menyapa kulit tubuhnya. Di masukkannya kedua tangannya ke dalam kantung jaketnya dan kembali ia melangkahkan kakinya menuju salah satu coffe shop yang terletak tak begitu jauh dari stasiun tv.

“Satu cup americano,” katanya kepada kasir coffe shop tersebut.

“Tidak, berikan kami dua cup americano.”

Hyeonmi segera memalingkan wajahnya, menatap seorang pria yang berdiri tepat di hadapannya. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan segera memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku sebelum kemudian balas menatap Hyeonmi dengan senyuman khas miliknya.

Senyuman ini, benar-benar masih sama dan masih menggetarkan hatiku, batin wanita itu. Di geleng-gelengkannya kembali wajahnya kemudian setelah menyadari pemikiran bodohnya tadi, dan kembali gadis itu memutarkan pandangannya ke depan, memperhatikan pelayan cafe yang sedang menyiapkan dua cup americano untuk mereka.

Tak ada sedikitpun kata yang terucap dari keduanya. Dan mereka lebih memilih untuk bertahan diam pada kondisi canggung ini.

Haruskah aku mengatakan sesuatu hal padanya, tanya pria itu dalam hati. Tidak, seharusnya ia yang lebih dahulu mengajakku berbicara karena tadi aku telah memberikan sinyal berupa senyuman itu padanya, pikirnya lagi.

Tapi Hyeonmi masih bertahan pada pendiriannya, untuk tetap diam dan tak memulai satupun topik pembicaraan pada pria itu. Baginya, kisah yang pernah mereka lalui bersama dulu telah berakhir dan jika ia memulai pembicaraan lebih dulu itu artinya ia akan mengembalikan kenangan yang telah mereka tinggalkan.

Mereka yang sekarang bukanlah mereka yang dulu, mereka yang sekarang tak ubahnya dua orang yang tak mengenal satu sama lain. Dan jika salah satu diantaranya menginginkan hal yang berbeda dari ini, maka mereka harus mengulang semua itu dari awal, seakan mereka yang sekarang ini bukanlah sosok yang saling mengenal satu sama lain.

Hyeonmi segera meraih americanonya setelah minuman pesanannya tersebut selesai di sajikan. Tanpa memperdulikan pria itu, ia segera membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya keluar dari coffe shop dan segera kembali ke stasiun tv.

“Yak, kau benar-benar,” ucap lelaki tersebut kemudian yang merasa kewalahan karena Hyeonmi sama sekali tak mengucapkan satu patah katapun padanya dan meninggalkannya. “Yak, Shin Hyeonmi, tunggu aku.” Teriaknya lagi saat menyadari gadis itu tak menghiraukannya dan bahkan tak berniat untuk menghentikan langkahnya dan menunggu dirinya.

Segera pria itu berjalan cepat menyusul langkah Hyeonmi yang semakin menjauh. Disamakannya langkah kakinya dengan Hyeonmi membuat alunan nada pada hentakan kaki mereka yang cukup seirama.

Dimasukkannya telapak tangan kirinya pada saku celana kain yang ia kenakan, sementara tangan kanannya memegang americano yang ia beli tadi. Disesapnya seteguk americano tersebut dan segera ia muntahkan americano yang terminum olehnya.

Pahit, dan sampai kapanpun rasa americano tak akan berubah menjadi lebih manis.

“Yah, kau masih tetap sama, suka sekali menyesap rasa pahit dalam americano.” Kata pria itu pada Hyeonmi.

“Dan kau juga masih sama, tak sedikitpun menemukan rasa manis yang tersembunyi dalam pahitnya americano, Hyukjae-ssi.” Jawabnya.

“Kau masih mengingatku dengan baik.”

Hyukjae, lelaki itu tersenyum kemudian. Wanita ini masih mengingatnya dengan baik bukan? Ia masih sangat ingat bahwa seorang Lee Hyukjae yang saat ini telah bertransformasi menjadi seorang CEO Zeus, salah satu anak perusahaan milik HaeShin Gruoup hingga kini masih tak mampu menyesap Americano. Meskipun sekeras apapun wanita itu mencoba untuk menutupinya, ia kini tahu bahwa tak sedikitpun bagian dari dirinya yang dilupakan oleh Hyeonmi.

“Ini bukan berarti aku mengingatmu dengan baik.” Sanggah Hyeonmi, wanita itu menghentikan langkahnya kemudian dan memutar tubuhnya menatap Hyukjae yang berdiri tepat di sampingnya, “Siapapun akan bisa melihat kau yang tak pandai meminum americano hanya dengan menatap ekspresi wajahmu sesaat setelah kau meneguknya,” ucapnya lagi, sambil kemudian kembali melangkahkan kakinya.

Hyukjae terdiam, mengingat bagaimana ia memuntahkan americanonya tadi. Apakah hal itu begitu kentara dan menandakan bahwa ia tak bisa meminum minuman ini? “Yah, baiklah. Tapi aku hanya ingin bertanya satu hal padamu, kenapa kau kembali ke Korea?” tanya pria itu lagi.

Hyeonmi menghentikan langkahnya lagi. Pada akhirnya pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir pria ini, pertanyaan yang sudah seharusnya ia pertanyakan kemarin ketika mereka pertama kali bertemu kembali setelah bertahun-tahun tak saling menatap satu sama lain.

“Bukankah kau telah memutuskan untuk menetap di Amerika setelah menikah dengan suamimu? Siapa namanya?” Hyukjae berhenti sejenak, mencoba mengingat-ingat satu nama yang pernah membuatnya begitu marah, “Ahh, Jongsuk, Lee Jongsuk itu.” Lanjut pria itu.

Hyeonmi menarik nafasnya dalam, bahkan sampai saat ini ketika Jongsuk telah pergi dengan tenang, Hyukjae masih menyebutkan nama tersebut dengan emosi nada emosi yang sangat jelas terdengar. Satu sisi hatinya merasa terluka ketika pria itu seakan meremehkan sosok yang telah mengorbankan hidup untuknya, tapi disisi lain hatinya ia masih menyadari bahwa ia tak mampu untuk membenci lelaki ini lebih dalam lagi.

Rasa bencinya telah sampai mencapai batasan tertinggi dari kebencian yang dimiliki manusia, dan tak ada lagi ruang dalam hatinya yang mampu untuk menyimpan rasa benci yang lebih lagi untuknya.

“Wae? Aku adalah orang Korea, apapun yang terjadi aku adalah orang Korea, jadi mengapa kau harus mempertanyakan kenapa aku kembali ke negaraku?” jawab Hyeonmi. Gadis itu masih berusaha dengan keras mengatur emosinya agar tak meluap begitu saja di hadapan pria ini, tetapi tetap saja pada akhirnya seluruh kata yang terucap olehnya akan terdengar begitu emosional, “Dan satu lagi, daripada kau sibuk mencari jawaban mengapa aku kembali ke Korea, lebih baik kau urusi saja wanita itu, wanita yang dengan terang-terangan di hadapanku kau ajak untuk menikah.”

Hyukjae kembali terdiam, mencerna seluruh kalimat yang dikatakan wanita itu, yang terdengar penuh emosi itu. Sebenci itukah wanita itu padanya? Bukankah seharusnya ia yang lebih membencinya? Bahkan ingatannya masih begitu jelas merekam memori masa lalunya yang begitu pahit karena wanita ini.

Bagaimana saat itu secara tiba-tiba Hyeonmi memutuskannya dengan tanpa alasan apapun. Dan beberapa saat setelahnya gadis itu menikah dengan pria yang saat ini berstatuskan sebagai suaminya itu, Lee Jongsuk.

Harusnya dialah yang merasakan benci lebih dalam, manusia mana yang tidak akan sakit hatinya jika mengetahui bahwa selama menjalin hubungan dengannya, gadis yang begitu ia cintai itu ternyata menusuknya dari belakang, gadis yang selalu ia banggakan itu ternyata berselingkuh dengan orang yang selama ini hanya diperkenalkan padanya sebagai sosok sahabat dekatnya.

Sahabat? Itu bulshit. Ia tak menampik tentang hubungan persahabatan karena pada nyatanya iapun memiliki sahabat dekat yaitu Donghae, tapi persahatannya dengan Donghae sangat berbeda jauh dengan persahabatan yang dijalin oleh Hyeonmi dan juga Jongsuk. Persahataban antara dua orang yang berbeda jenis kelamin, akankah itu dapat dikatakan sahabat? Bohong besar, toh pada kenyataannya ternyata di balik persahabatan yang selalu mereka perlihatkan, mereka menyimpan rasa cinta satu sama lain, dan hal itu benar-benar telah membuatnya merasakan rasa sakit hati yang luar bisa.

**

Yesung kembali membolak-balikkan halaman majalah dengan kedua  matanya yang sebenarnya tak memperhatikan apapun isi dalam setiap halaman yang ia buka. Sejak kemarin sepertinya antara hati dan pikirannya tidak menempati posisi yang seharusnya di dalam tubuhnya. Ia tak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan dan rasakan, kecuali menyadari satu hal bahwa perubahan ini terjadi setelah ia mendengar kabar bahwa Eunhyuk telah melamar Sojin dan itu artinya tak lama setelah ini mereka akan segera menikah.

Faktanya ia bukanlah siapa-siapa yang dapat melarang hal itu terjadi, ia bukanlah sosok pangeran yang mampu membuat Sojin berpaling dari Eunhyuk. Dan kini hal seperti sebelum-sebelumnya akan kembali terjadi, ia hanya akan diam dan memperhatikan bagaimana gadis itu akan semakin menjauh darinya.

Pria itu menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya berat. Lagi-lagi ia hanya akan meratapi nasibnya seorang diri yang begitu menyedihkan ini. Sesaat lagi adiknya Ryeon akan menikah dengan Donghae itu artinya dia telah di langkahi oleh adiknya terlebih dahulu dalam hal pernikahan, dan lagi sebentar lagi orang yang ia cintaipun akan segera menikah dengan lelaki pilihannya.

“Oppa, bagaimana menurutmu? Apakah gaun ini sudah cukup pas untukku?” pertanyaan Ryeon seketika membuyarkan Yesung pada lamunannya.

Pria mengangkat kepalanya, memandang Ryeon yang tengah berdiri di depan cermin dengan tubuhnya yang berbalutkan gaun pengantin dengan model terusan panjang yang terbuka di bagian bahunya. Sesaat pria berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat pada Ryeon, memperhatikan lebih dekat adiknya yang tengah mencoba gaun pengantin itu.

Hari ini pria itu absen dari pekerjaannya sebagai pengacara publik, dan bahkan ia juga membatalkan pertemuannya dengan beberapa klien hari ini. Tidak ini bukan karena ia sengaja ingin meluangkan waktunya untuk menemani Ryeon melakukan fitting baju pengantin, tapi lebih karena ia tak memiliki sedikitpun sisa tenaga untuk menyelesaikan beberapa kasus yang ia tangani.

Dan secara kebetulan, ketika ia meminta cuti hari ini, sang adik memintanya untuk menemani fitting baju pengantin karena kesibukan seorang Lee Donghae sebagai seorang Dokter hari ini memaksanya untuk berjaga seharian penuh di rumah sakit.

“Oppa, aku merasa ada yang aneh padamu sejak kemarin? Apa kau sakit?”

“Aniyo.”

“Oppa, jangan berbohong padaku.”

Sekeras apapun Ryeon memintanya untuk berkata jujur, tapi tetap saja Yesung takkan mengatakannya. Karena dia tahu, walaupun ia mengatakannya pada Ryeon, semuanya tak akan berubah, Sojin akan segera menikah dengan Eunhyuk, dan ia akan tetap tak bisa memiliki gadis itu.

Tidak, bahkan selama ini ia tak pernah berniat untuk memiliki gadis itu, baginya hanya dengan melihat Sojin tersenyum saat menjalani hari-harinya dengan pria itu, semuanya sudah cukup. Hanya dengan melihat gadis itu tersenyum, maka hatinya pun akan merasakan sebuah ketenangan, jadi untuk apa ia harus berperilaku licik dengan berusaha merebut Sojin daru Eunhyuk.

Gadis itu mencintai Eunhyuk, dan memang hanya Eunhyuk yang ia cintai, jadi ia tak mau memaksakan perasaannya. Lebih baik ia sendiri yang terluka dari pada harus melihat wanita yang ia cintai terluka.

“Oppa, ku mohon, jangan seperti ini,” suara Ryeon mulai bergetar. Ia terlalu takut pada apa yang terjadi dengan kakaknya saat ini, akan lebih baik untuknya jika kakaknya itu marah padanya atau melakukan apapun yang ia rasakan daripada hanya memendamnya sendiri seperti ini, karena hal seperti ini akan membuatnya merasa bersalah, “Oppa, apa kau marah padaku karena aku lebih dulu menikah?” katanya lagi.

Yesung masih diam, benteng pertahanannya seolah runtuh saat menyadari Ryeon telah salah menganggap apa yang ia lakukan.

“Aku akan mengatakan pada Donghae-oppa untuk membatakan pernikahan ini. Oppa, ku mohon jangan marah padaku.”

Segera setelah menyelesaikan kalimatnya, Ryeon berjalan mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam tas. Jika pernikahan ini memang memang mengganggu kakaknya, maka akan lebih baik jika ia membatalkannya. Apalah gunanya ia berbahagia jika di balik ini semua ternyata kakaknya tak bisa memberikan restu yang utuh untuknya.

“Ryeon-ah, jangan. Bukan ini bukan karenamu.” Yesung segera meraih ponsel Ryeon dan membatalkan sambungan teleponnya.

Tapi dengan sisa-sisa kekuatannya, Ryeon masih berusaha meraih ponselnya dari tangan Yesung. Gadis itu menarik paksa tangan kakaknya dan mencoba mengambil benda itu lagi. Yesung tak tinggal diam, segera di dekapnya tubuh Ryeon dalam pelukannya, mencoba menenangkan adik semata wayangnya itu.

Air mata Ryeon mulai jatuh membasahi pipinya, gadis itu menangis atas apa yang ia lihat dari sosok kakaknya saat ini. Kakaknya benar-benar berubah, tidak lagi seperti orang yang ia kenal, dan ia membenci hal ini.

“Oppa, bicaralah padaku, jangan memendam masalahmu sendiri.” Ucapnya di sela-sela isak tangis.

“Kalau kau ingin aku membatalkan pernikahan ini, aku akan melakukannya, tapi ku mohon oppa, jangan kau pendam apa yang kau rasakan itu sendirian.” Ucap gadis itu lagi dalam pelukan sang kakak.

Yesung mengeratkan pelukannya seketika. Wajahnya diangkat menatap langit-langit ruangan dimana ia saat ini berada. Kedua kelopak matanya menutup, mencoba menahan air matanya yang sedikit lagi mungkin akan segera mengalir.

“Ryeon-ah..”

Ryeon diam, menunggu kakaknya akan mengatakan apa yang ia rasakan.

“Rasanya sangat sakit,”

Pria itu kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Ryeon dengan penuh rasa bersalahnya. Jari-jari tangan kanannya mengepal dan di arahkannya pada dadanya, “Di sini, rasanya sakit sekali Ryeon-ah,” lanjutnya lagi sambil memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangannya tersebut.

Menyadari hal itu, Ryeon segera menghentikan perbuatan kakaknya yang terus menerus memukul-mukulkan tangannya ke dada. Hal ini tidak hanya akan melukai bathinnya yang telah terluka, tetapi juga fisiknya.

“Seperti sebuah pisau yang terus menerus menyayat organ di dalam dadaku secara berkala, dan baru kali ini aku benar-benar merasakan rasa sakitnya.”

“Wae oppa? Wae?” tanya Ryeon kembali.

“Sojin, Park Sojin, ku pikir aku benar-benar telah mencintainya.”

**

Eunhyuk kembali melangkahkan kakinya memasuki kantor stasiun televisi. Langit sore kali ini telah mulai menyiapkan diri untuk tampil dan hampir saja ia terlupa bahwa hari ini ia telah berjanji untuk mengantarkan Sojin kemanapun. Ini karena wanita itu, Hyeonmi, yang telah membuatnya kehilangan mood.

Apakah wanita itu benar-benar racun untuknya?

Dulu, secara terang-terangan gadis itu meninggalkannya dan menikah dengan orang yang selama ini di kenalkan padanya sebagai Sahabat. Dan kali ini, luka itu masih belum hilang dalam hatinya.

Pria itu menghentikan langkahnya sejenak, saat tatapan matanya menangkap sosok Hyeonmi yang baru saja keluar dari toilet dan tengah berjalan menuju studio siaran. Tanpa berkedip sedikitpun pria itu menatap sosok Hyeonmi yang telah melukai hatinya.

Sosok itu masih sama seperti dulu, tetap bertubuh kurus namun kedua pipinya yang chubby seolah mampu menutupi bagaimana kecilnya tubuh itu. Kedua matanya yang indah, walalupun kini lebih sering ia tutupi dengan kacamata baca, hal ini tentu saja karena jenis pekerjaan yang ia jalani yang menuntutnya untuk lebih sering menatap draft naskah wawancara ataupun layar laptop. Dan satu hal yang mebedakan wanita itu saat ini dengan dulu, bahwa statusnya yang telah berubah menjadi seorang istri.

Ahh, Lee Jongsuk kau benar-benar begitu menyebalkan dan aku benar-benar membencimu, ucapnya dalam hati.

Sekali lagi pria itu memperhatikan Hyeonmi dan muncul pertanyaan lain yang tersebesit olehnya, haruskah ia membalaskan rasa sakit hatinya?

Eunhyuk segera menghentikan seorang staff stasiun tv lain yang sedang berjalan tak jauh dari tempatnya saat ini, “Ahh, chogi, apa kau kenal dengan penulis yang bekerja untuk program acara talkshow hari ini?” tanyanya pada salah satu staf wanita yang berperawakan gemuk dan berkamacata itu.

“Emm, Penulis Shin maksudmu?”

“Ne, sejak kapan dia bekerja disini?”

Wanita itu terlihat berpikir sejenak, mencoba menghitung saat dimana pertama kalinya ia bertemu dengan Hyeonmi, “Mungkin sudah dua tahun terakhir ini. Kudengar dia kembali dari Amerika setelah suaminya meninggal.”

“Suaminya meninggal?”

Eunhyuk mulai diam, jadi lelaki itu telah meninggal? Itukah alasannya Hyeonmi kembali ke Korea?

“Ne, dan sepeninggal suaminya ia dan anaknya kembali ke Korea.” Kata staff tersebut sambil kemudian berlalu meninggalka Eunhyuk yang masih mencerna beberapa hal yang baru saja ia dengar.

Lee Jongsuk, teganya kau meninggalkan wanita ini dengan beban anakmu.

**

 

TBC

3 Comments (+add yours?)

  1. sulfia
    Mar 20, 2015 @ 11:49:57

    wah sedih untuk yesung… eunhyuk ga tau hal sebenarnya…. emang ibu hyeonmi knpa ya?

    Reply

  2. Yulia
    Mar 25, 2015 @ 10:03:25

    ceritanya bikin aq penasaran… lanjut jangan lama2 ya…

    Reply

  3. Shin Ji Ki
    May 16, 2015 @ 21:04:20

    Gabriel anak eunhyuk oppa kan?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: