Trilogy In Time (My Sunrise) [3/3]

Author            : gluu

Title                : Trilogy In Time (My Sunrise)

Genre                         : Angst, sad story, hurt, happy, drama.

Rating             : PG 15

Length            : Trilogy

Cast                :

  • Cho Kyu Hyun of Super Junior
  • Kang Hyu Won (OC)
  • Lee So Yeon (OC)
  • Choi Han Sung (OC)
  • Park Jung Soo of Super Junior
  • Lee Donghae of Super Junior

Notes               : Assalamualaikum, hallo semua! Ini last chapter Trilogy in Time. Semoga di part ini semua bahagia ya. Makasih buat all admin yang udah publish cerita ini dan readers yang udah baca, komen, like. Sekali lagi FF ini cuma dipublish di sini dan blog pribadi aku, gluu’s Area. Langsung aja deh, happy reading!

 

Jika kau mencintai seseorang, biarkanlah ia pergi; karena jika ia kembali, ia akan menjadi milikmu. Namun jika dia tidak kembali, ia tidak pernah jadi milikmu –Kahlil Gibran

****

Seven Years Later…

Sunae Elementary School

Seoul, South Korea

08.40 AM

Hyu Won membetulkan pita kecil di atas kepala So Yeon, gadis mungil itu sibuk berceloteh tentang kekesalannya pada teman sekelasnya. Suaranya terdengar ringan, khas anak kecil. Hyu Won sesekali tertawa menanggapi ucapan gadis mungil itu.

“Eomma, bisakah nanti sore kita ke rumah Lee Harabeoji?” tanya So Yeon.

“Kau ingin ke sana?” tanya Hyu Won.

“Ne,”

“Ya, kita akan ke sana kalau kau menginginkannya.”

“Aku akan menelpon Harabeoji.”

Hyu Won memberikan kotak bekal milik So Yeon, ia lalu mengecup lembut kepala gadis mungil itu. Gadis itu mengangkat kepalanya lalu mengecup cepat bibir Hyu Won.

“Sampai nanti, eomma!” ucap So Yeon lalu berlari menuju gerbang sekolah. Hyu Won melambaikan tangannya, bibirnya tersenyum simpul.

“Belajar yang pintar, nak!” Ia berbalik lalu berjalan menuju mobilnya.

****

Kyu Hyun memarkirkan mobilnya dengan serampangan di depan sekolah Han Sung. Ia tak memperdulikan pekikan tertahan Han Sung. Kalau bukan karena bocah itu susah dibangunkan, mereka tidak akan terlambat dan ia tak akan memarkirkan mobil seperti ini. Ia bahkan membawa mobil seperti orang gila tadi.

“Samchon, kau akan membunuh kita!” ucap Han Sung dengan sindirian.

“Aku sudah mati bertahun-tahun lalu!” balas Kyu Hyun asal. Bocah laki-laki itu tak terlalu memperdulikan ucapan Kyu Hyun walaupun apa yang dikatakan Kyu Hyun memang fakta. Sebenarnya bukan mati dalam arti sesungguhnya tetapi merasakan mati perasaan karena kesalahan yang ia lakukan di dalam hidupnya. Sampai sekarang pun ia selalu menyesali kesalahan itu.

“Aku turun, terima kasih!” ucap bocah itu. “So Yeon sudah datang!” tambah Han Sung bersemangat, Kyu Hyun menolehkan kepalanya mengikuti arah pandang Han Sung. Dengan cepat Han Sung hendak membuka pintu namun Kyu Hyun lebih dulu menarik kerah belakang bajunya.

“Aishhh Samchon!” pekik Han Sung kesal.

“Tunggu dulu, mengapa terburu-buru sekali big boy? So Yeon kekasihmu ya?” ucap Kyu Hyun menggoda bocah kecil itu, Han Sung hanya mendengus karena Kyu Hyun tak melepas cengkraman pada kerah bajunya. Pria itu sibuk mengambil kotak makan di bangku belakang.

“Kau melupakan bekalmu, aku sudah bangun pagi-pagi sekali untuk membuatkannya untukmu. Ibumu bisa mengamuk kalau kau tak makan siang.” Ucap Kyu Hyun.

“Aku akan baik-baik saja,” sungut  Han Sung tak sabaran. “Mana So Yeon?” ucap Han Sung dengan mata yang bergerak melihat gerbang sekolah.

“Mungkin dia sudah masuk, ini bekalmu.” Ucap Kyu Hyun lalu memberikan bekal Han Sung. Anak itu dengan cepat akan keluar dari mobil namun lagi-lagi Kyu Hyun menahan kerah bajunya.

“Samchon! Aku sudah terlambat!” teriak Han Sung kesal, Kyu Hyun hanya terkekeh melihat kekesalan keponakannya itu.

“Kau mau pergi begitu saja setelah aku mengantarmu?” tanya Kyu Hyun jahil.

Han Sung menarik nafasnya kesal, dengan cepat ia mencondongkan tubuhnya lalu mencium kasar pipi Kyu Hyun. Itu kebiasaan mereka sejak dulu. Kyu Hyun tertawa puas, ia tahu Han Sung mulai membenci kebiasaan mereka itu, ia mungkin berpikir dirinya sudah dewasa sehingga sangat tidak lazim mencium pipi paman sendiri. Han Sung keluar dengan cepat lalu berlari menuju gerbang sekolah.

“Sampai nanti big boy!” ucap Kyu Hyun keras setelah Han Sung keluar dari mobilnya.

****

Seoul International Hospital

Seoul, South Korea

10.30 AM

Kyu Hyun memasuki rumah sakit, ia berjalan lurus menuju kantin. Akibat susah membangunkan Han Sung, ia tidak sempat sarapan pagi ini.

Didorongnya pintu kantin lalu berjalan memasuki kantin. Sebelum mencari tempat duduk, ia memesan kopi untuk sarapannya. “Ahjumma, kopi hitam. Hanya dua sendok gula.”

“Ne,”

“Gomawo.” Balas Kyu Hyun. Ia berbalik lalu tersenyum getir. Selalu begini. Sebenarnya ia lebih suka kopi hitam tanpa gula, itu adalah minuman favoritnya –minuman favorit Hyu Won juga. Tapi semenjak beberapa tahun lalu, ia sudah memutuskan untuk mengubah sedikit kebiasaannya meminum kopi tanpa gula. Rasa kopi hitam tanpa gula selalu membangkitkan kenangan di antara mereka. Jadi menambahkan gula bisa sedikit mengurangi kenangan di antara mereka. Ia tak ingin menghapus kenangan mereka, ia masih ingin memiliki dan menyimpan kenangan tentang mereka.

“Dokter Cho!” Seseorang memanggil dengan keras, Kyu Hyun membalikan tubuhnya dan melihat dokter Jang berjalan ke arahnya.

“Ada apa dokter Jang?” tanya Kyu Hyun.

“Kebetulan aku melihatmu. Ini udangan pernikahanku. Kuharap kau datang,” ucap dokter Jang dengan sumringah. Kyu Hyun mengambil undangan itu lalu membacanya sekilas.

“Wah! Selamat untuk pernikahanmu.” Ucap Kyu Hyun dengan tulus.

“Cepatlah menyusulku.” Ucap dokter Jang dengan bangga.

“Suatu saat nanti.” Balas Kyu Hyun.

“Kalau begitu aku pergi dulu,” ucap dokter Jang.

“Ya.” Balas Kyu Hyun. Setelah dokter Jang pergi, Kyu Hyun kembali menatap undangan di tangannya.

Flashback

Four Years Ago…

Kyu Hyun menatap rumah besar dengan cat putih di depannya. Jemarinya sibuk mengetuk-ngetuk setir mobil. Matanya menatap tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari pintu rumah tersebut. Dia hanya butuh beberapa menit lalu setelah itu ia akan pergi dari tempat tersebut.

Tak lama setelah itu pintu rumah terbuka. Tubuh Kyu Hyun menegang. Seorang pria keluar lalu diikuti seorang wanita. Jantung Kyu Hyun berdegup semakin kencang, dicengkramnnya setir mobil dengan kuat. Kalau dia sudah tidak waras, ia akan keluar dari mobil lalu berlari menuju wanita tersebut. Ia akan memohon bahkan melakukan apapun untuk mendapatkan wanita itu kembali tapi sekarang semuanya sudah terlambat wanita itu sudah memiliki seseorang di sisinya.

“Hyu Won-ah.” Bisik Kyu Hyun perih.

Pria itu –Lee Donghae–membungkukan tubuhnya lalu mengecup mesra dahi Hyu Won. Kyu Hyun tersenyum getir. Seharusnya itu adalah dirinya seandainya ia tak menyia-nyiakan Hyu Won.

Hyu Won melambaikan tangannya lalu tersenyum manis pada Donghae, Kyu Hyun tersenyum melihat senyuman Hyu Won. Ia tahu ia adalah pria pengecut karena hanya bisa melihat wanita itu dari jauh. Tangan kirinya bertumpu pada jendela mobil ia lantas memijat kasar dahinya. Terlalu menyesakan melihat Hyu Won tersenyum terhadap pria lain.

“Apakah kau mencintainya, Hyu Won-ah?”

Pintu gerbang terbuka lalu mobil Donghae keluar dari halaman rumah. Mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah. Kyu Hyun kembali menatap ke arah pintu rumah namun Hyu Won sudah tidak ada di sana.

“Kau… kau tampaknya bahagia sekali.”

Kyu Hyun menundukan kepalanya, ia masih enggan meninggalkan tempat itu. Ia masih merindukan Hyu Won. Semenjak pernikahannya, Hyu Won seolah menghilang begitu saja. Ia dan Donghae pindah ke Incheon.

Kyu Hyun mengangkat kepalanya lalu menatap rumah Hyu Won untuk terakhir kalinya.

“Cukup sudah.” Ucap Kyu Hyun berbisik. Ia menengadahkan kepalanya mencegah butir air mata yang mendesak keluar.

“Aku tidak akan melanjutkannya lagi. Berbahagialah Hyu Won-ah, aku akan mencari kebahagiaanku juga.” Ucap Kyu Hyun lalu menancap gas meninggalkan rumah Hyu Won.

Sudah tiga tahun ia hidup seperti orang gila. Ia akan datang ke Incheon hanya untuk melampiaskan kerinduannya pada Hyu Won meskipun ia tak pernah berani muncul di hadapan wanita itu. Kelak bila ia merindukan Hyu Won, ia sudah berjanji untuk tidak kembali ke Incheon. Ia akan menahan bila perlu membuang rasa rindu itu, Hyu Won sudah memilih pria lain. Seharusnya ia bisa ikhlas dan menarima semuanya.

Flashback end

“Hei!”

Kyu Hyun mengangkat kepalanya terkejut, seorang wanita dengan senyum manis berdiri di hadapannya.

“Dokter Jung?” ucap Kyu Hyun lalu tersenyum ramah.

“Bolehkah aku duduk di sini?” tanya wanita cantik itu.

“Ya, tentu saja.”

Wanita itu lantas duduk lalu meletakan nampan berisi sarapan paginya. “Kulihat dokter Cho tampak murung, apa ada masalah?”

“Ah… tidak ada apa-apa. Hanya sedang berpikir tentang beberapa hal saja.”

Wanita itu menganggukan kepalanya mencoba tidak bertanya lebih. “Bagaimana kalau kita pergi bersama ke acara penikahan dokter Jang?”

“Dokter Jang ya? Aku belum melihat jadwalku lagi, nanti aku akan mengabari kalau aku bisa datang ke acara pernikahannya.” Balas Kyu Hyun.

“Kau harus datang. Lihat jadwalmu lalu kabari aku.” Ucap wanita itu bersemangat. Kyu Hyun hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita itu.

“Aku sudah selesai, tidak apa-apa kalau kutinggalkan sendiri?” tanya Kyu Hyun. Ia harus segera kembali ke ruangannya.

“Hmm, duluan saja. Tidak perlu sungkan.”

Kyu Hyun lantas berdiri lalu pergi meninggalkan wanita itu. Wanita itu menyesap teh hijau di depannya lalu tersenyum lebar.

****

Kyu Hyun mencuci tangannya, matanya menatap pantulan wajahnya di cermin. Operasi panjang baru saja berlalu. Senyum puas masih tersungging di bibirnya, rasanya senang ketika ia bisa menyelamatkan satu nyawa manusia lagi.

“Hei.” Sebuah tepukan mendarat pada bahu Kyu Hyun, pria itu melirik siapa yang menepuk bahunya pada cermin. Ia lantas menyudahi aktivitas mencuci tangannya.

“Jung Soo Hyung?”

“Kau baru selesai melakukan Operasi?” tanya pria itu.

“Ya,”

“Malam ini ikut kami ke Bar?” Jung Soo mengajak Kyu Hyun.

“Tidak bisa, aku punya jagoan kecil yang harus kuurus.” Tolak Kyu Hyun dengan kekehan.

Jung Soo mencibir ucapan Kyu Hyun. “Han Sung sudah seperti putramu sendiri, kan.” Ucap Jung Soo dengan tawa kecil.

“Eomma dan Appa-nya sedang pergi ke luar kota, aku hanya berusaha menjadi paman yang baik dengan menjaga keponakanku.” Balas Kyu Hyun, lagipula dia memang suka mengurus Han Sung.

“Ya… ya terserah padamu. Kau harusnya bisa ikut dengan kami dan mencari gadis-gadis muda.” Ucap Jung Soo. “Lanjutkan hidupmu Cho Kyu Hyun.” Tambah Jung Soo berubah serius.

“Aku sedang mencoba. Tenang saja,” balas Kyu Hyun tenang.

Jung Soo menarik nafasnya lalu menepuk kembali bahu Kyu Hyun. Ia selalu mendengar Kyu Hyun berkata seperti itu. Sudah berapa tahun? Tiga… lima? Ahh Ia tak bisa menghitungnya. Dia tidak tahu apa sebenarnya hal yang akan dilakukan Kyu Hyun untuk dirinya sendiri. Ia curiga pria itu akan terus menyendiri sampai hari tua.

“Jangan mengkhawatirkanku, hyung.” Ucap Kyu Hyun berusaha santai.

Jung Soo tertawa ringan menanggapi ucapan Kyu Hyun. “Kalau Han Sung sudah tidur, susul kami di Bar. Kami di sana sampai pagi.” Ucap Jung Soo.

“Ia sering terbangun di malam hari.” Balas Kyu Hyun dengan kekehan. Ia masih berusaha menolak ajakan pria itu.

Jung Soo mendesah kesal. “Kalau begitu aku pergi duluan.” Ucap Jung Soo lalu berlalu dari hadapan Kyu Hyun.

“Hmm.” Balas Kyu Hyun.

Kyu Hyun menatap jam tangannya. Ia sudah punya rencana untuk malam ini. Membantu Han Sung mengerjakan pekerjaan rumahnya lalu makan malam dengan masakan cina yang akan ia beli nanti.

****

Lee’s Family Home

Seoul, South Korea

06.00 PM

Hyu Won mengganti chanel TV, dua orang paruh baya di kedua sisi sofa menikmati menonton TV dan memakan buah-buahan di atas meja.

“Menginaplah.” Ujar pria paruh baya di samping Hyu Won.

“Aku tak membawa baju sekolah So Yeon, Appa. Kami akan pulang sebentar lagi.” Balas Hyu Won.

“Uri So Yeon sudah tidur,” ucap wanita paruh baya di samping pria paruh baya tadi mencoba menahan Hyu Won san So Yeon untuk tinggal.

Hyu Won tersenyum. Ia bukannya tidak mau tinggal tetapi besok So Yeon memang masih sekolah. “Aku bisa membangunkannya nanti.” Ucap Hyu Won pelan.

Tiba-tiba suasana berubah hening, bahkan suara keras TV tidak bisa mengalahkan keheningan di antara mereka.

“Dia selalu merindukannya.” Ucap Hyu Won merujuk pada putri kecilnya.

“Ya, dia selalu bercerita padaku.” Balas wanita paruh baya tersebut, suaranya berubah sendu.

“Sudah lama beralalu tapi aku masih merasakan kehadirannya.” Ucap Hyu Won. Rasa bersalah dan rindu terus menghinggapinya.

“Dia selalu di sini.” Ucap pria paruh baya tersebut mencoba menenangkan dua wanita di sisinya.

“Hmm, dia selalu bersama kami. Bersama So Yeon dan aku.” Balas Hyu Won berubah sendu.

“Jangan terus menyiksa dirimu Hyu Won-ah, ia tak akan suka. Semua yang terjadi memang sudah menjadi keputusan Tuhan.” Ucap pria paruh baya itu lagi. Ia tak suka menantunya terus menyalahkan dirinya.

Hyu Won tersenyum lemah. “Sepertinya aku harus membangunkan So Yeon. Kami harus pulang sekarang. Hari semakin larut, Eomma.” Ucap Hyu Won.

****

Sunae Elementary School

Seoul, South Korea

08.30 AM

Kyu Hyun memarkirkan mobilnya dengan serampangan lagi. Kali ini bukan karena terlambat bangun tetapi Han Sung yang terlalu lama di dalam kamar mandi, anak itu tertidur di kamar mandi hingga membuat Kyu Hyun sempat khawatir mengapa keponakannya itu tak juga keluar. Setelah ia mengambil kunci cadangan dan membukanya, ia hanya bisa mendesah kesal sekaligus terhibur dengan tingkah keponakannya itu.

“So Yeon!” pekik Han Sung keras. Kyu Hyun memutar matanya melihat tingkah keponakannya itu. Belum sempat ia mengomentari tingkah anak itu, Han Sung sudah lebih dulu keluar dan meninggalkan Kyu Hyun tanpa pamit.

“Astaga, Noona bagaimana bisa kau punya anak seperti dia.” Kesal Kyu Hyun. Matanya melirik bekal makanan yang tertinggal di bangku belakang. “Ya Tuhan! Dia selalu melupakannya.” Ucap Kyu Hyun lalu mematikan mesin mobil. Dengan cepat ia meraih bekal makanan milik Han Sung, matanya bergerak mencari Han Sung di gerbang sekolah. Ia segera turun dari mobil sebelum anak itu menghilang dan membuatnya semakin frustrasi.

“Ya! Choi Han Sung, ini bekal makananmu!” teriak Kyu Hyun namun tertutupi dengan suara berisik anak-anak kecil di sekitarnya. Ia berjalan dengan cepat ke arah Han Sung yang tampak berdiri dan berbicara dengan seorang gadis kecil.

“Choi Han Sung kau lupa bekalmu.” Ucap Kyu Hyun setelah ia mencapai tubuh kecil Han Sung. Han Sung menolehkan kepalanya dan menatap Kyu Hyun lalu beralih menatap bekal makanan di tangan Kyu Hyun.

“Samchon! Kenalkan ini So Yeon,” ucap Han Sung dengan lembut. Kyu Hyun menyipitkan matanya melihat tingkah keponakannya itu.

Kyu Hyun menundukan tubuhnya mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu. “So Yeon? Ahh… Ini So Yeon teman yang sering dibicarakan Han Sung?” tanya Kyu Hyun lembut. Han Sung menatap wajah Kyu Hyun dengan menyipitkan matanya.

Aku tidak pernah menceritakan tentang So Yeon, bisik Han Sung dalam hati.

“Ah ne. Annyeong haseyo Ahjussi, Lee So Yeon imnida. Han Sung oppa sering berbicara tentang Ahjussi.” Balas So Yeon dengan manis. Kyu Hyun suka dengan tingkah imut So Yeon, gadis itu mengingatkannya pada seseorang.

Kyu Hyun mengerlingkan matanya. “Geurae? Han Sung sering membicarakanku?” tanya Kyu Hyun memasang wajah penasaran. Han Sung hanya tersenyum masam mendengar ucapan So Yeon.

“Nde. Oppa sering bilang kalau Ahjussi pria lajang yang sulit mendapatkan kekasih.” Balas So Yeon dengan tawa kecil. Kyu Hyun menatap Han Sung yang kini sibuk menatap arah lain. Ia tahu keponakannya sedang mengalihkan tatapannya.

“Dia hanya membual.” Balas Kyu Hyun. Han Sung menatap Kyu Hyun seolah meminta pria itu untuk pergi tapi Kyu Hyun bertingkah seolah ia tak mengerti tatapan keponakannya itu.

“Samchon, bukankah kau harus bekerja, sebentar lagi aku dan So Yeon juga harus masuk.” Ucap Han Sung berusaha mengusir Kyu Hyun.

“Kenapa begitu terburu-buru Choi Han Sung?“ goda Kyu Hyun, ia sedang mempermainkan emosi keponakannya itu.

“So Yeon ini buku gambarmu,” suara lembut seorang wanita membuat Kyu Hyun terkejut. Tubuhnya seolah memiliki alarm aneh, ia merasa jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya membeku seperti es. Ia tahu ia tak mungkin melupakan jenis suara seperti ini. Wajahnya berubah pucat seketika. Apakah bisa rasa rindunya terhadap seseorang membuat suara seseorang itu terdengar begitu nyata?

So Yeon berlalu dari hadapan Kyu Hyun, Kyu Hyun masih membeku tak bergerak sama sekali. Han Sung sudah berjalan meninggalkan Kyu Hyun.

“Gomawo Eomma.” Ucapan So Yeon membuat Kyu Hyun tersadar.

“Halo Han Sung?” sapa wanita itu lagi.

“Halo Ahjumma.” Balas Han Sung.

Ini semakin nyata saja. Kyu Hyun menolehkan kepalanya dengan cepat, ia ingin memastikan siapa pemilik suara itu. Sedetik setelah ia membalikan tubuhnya, emosi seolah berkumpul menjadi satu. Rasa sakit, penyesalan, dan rindu berkumpul seperti gumpalan asap. Matanya membulat besar menatap sosok wanita di hadapannya. Ingatan tentang hari di mana ia menunggu wanita itu seolah muncul dan membuatnya menjadi pusing. Rasa sesak kembali muncul, ia seolah dipaksa mengingat kembali hari di mana ia merasakan kesepian yang mencekam di dalam hidupnya.

“Kang Hyu Won?” Ucap Kyu Hyun tidak keras tapi mampu membuat wanita itu mendongakan kepalanya. Hyu Won yang sedang berbicara dengan So Yeon seketika mengangkat kepalanya dan menatap Kyu Hyun.

“Kyu Hyun?” ucap Hyu Won tak percaya. Mata keduanya terpaku satu sama lain. Kyu Hyun menatap Hyu Won dengan emosi sedangkan Hyu Won menatap Kyu Hyun dengan keterkejutannya. Wanita itu berdiri membeku menatap Kyu Hyun.

Kyu Hyun menelan ludahnya setelah ia mampu mengontrol dirinya. Ia lantas berdehem, matanya beralih pada So Yeon lalu kembali menatap Hyu Won. Seketika dunianya seperti runtuh. Wanita itu sudah memiliki seorang putri yang manis sekali. Rasa sedih dan putus asa membuatnya berusaha tersenyum. Lama tak bertemu namun ketika bertemu wanita itu membawa perubahan besar. Ia sudah memiliki seorang putri, demi Tuhan seorang putri.

Kyu Hyun tersenyum pada Hyu Won. “Lama tidak bertemu. Tak kusangka kita bertemu di sini.” Ucap Kyu Hyun mencoba bersikap normal.

Hyu Won tersenyum lalu mulai berjalan mendekati Kyu Hyun. “Ya sudah lama. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hyu Won. Ia berusaha bersikap seolah mereka adalah teman lama yang tak memiliki “sejarah” apapun. Ia tahu semua sudah lama berlalu.

Kyu Hyun mencoba bersikap santai. “Mengantar big boy-ku.” Balas Kyu Hyun lalu melirik Han Sung yang kini memutar matanya sebal.

Hyu Won menganggukan kepalanya. “Ah… anakmu?” tanya Hyu Won. Rasa penasaran muncul seketika.

“Keponakanku.” Balas Kyu Hyun singkat. “Dan kau? Mengantar anakmu?” tanya Kyu Hyun.

“Ya, putriku.” Balas Hyu Won dengan senyum manis. Kyu Hyun menganggukan kepalanya seolah semua baik-baik saja.

Kyu Hyun tahu sudah lama ia tak melihat gadis itu tersenyum. Hanya tersenyum padanya, gadis itu memiliki senyum paling menawan.

“Hanya sendiri?” tanya Kyu Hyun berubah datar. Ia tak ingin bertanya seperti ini sebenarnya.

“Ya.” Balas Hyu Won. Kyu Hyun menyunggingkan senyumannya.

“Eomma kenal dengan Han Sung Ahjussi?” suara cempreng So Yeon membuat dua orang dewasa itu segera sadar bahwa mereka tidak hanya berdua di sini.

“Nde?” Hyu Won terkejut.

“Eomma mengenal Kyu Hyun Ahjussi?” Ulang So Yeon lagi. Hyu Won menatap Kyu Hyun lalu menatap So Yeon.

“Ya, ia teman Eomma.” Balas Hyu Won canggung.

Kyu Hyun tersenyum kecut. Kami lebih dari teman kalau kau tidak lupa, bisik Kyu Hyun dalam hati.

“Whoa daebbak!” Ucap Han Sung senang.

Kyu Hyun melihat jam tangannya lalu beralih pada Han Sung. “Bukankah kalian harus masuk?” tanya Kyu Hyun.

“Ah! Benar.” Balas Han Sung. “Kajja! So Yeon-i.” Ucap Han Sung lalu meraih tangan So Yeon.

“Eomma, Ahjussi, kami masuk!” pamit So Yeon lalu berlari memasuki gerbang sekolah bersama Han Sung.

Dua bocah kecil itu berlari meninggalkan Hyu Won dan Kyu Hyun sendiri. Keduanya berdiri canggung, Kyu Hyun lebih dulu membuka pembicaraan.

“Sepertinya aku harus pergi, sebentar lagi waktu kerjaku.” Ucap Kyu Hyun.

“Ah benar, aku juga.” Balas Hyu Won.

Kyu Hyun menganggukan kepalanya dan tersenyum, begitupun Hyu Won. Setelah itu keduanya berbalik dan berjalan meninggalkan satu sama lain.

Kyu Hyun memegang dadanya seolah merasakan kembali rasa sesak yang bertahun-tahun lamanya tinggal di dadanya. Mengapa setelah bertahun-tahun lamanya mereka kembali bertemu? Mengapa setelah bertahun-tahun semua usahanya untuk melupakan Hyu Won harus hancur hanya karena pertemuan beberapa menit tadi. Ia tahu ini sangat salah bahwa ia masih mengharapkan wanita itu. Wanita itu sulit untuk dihilangkan begitu saja.

Mereka mengutuk pertemuan kembali yang terjadi begitu canggung, bukankah dulu mereka saling mencintai? Mengapa sekarang mereka seperti dua orang yang hanya mengenal selayaknya teman biasa?

****

Hyu Won menangkupkan wajahnya pada kedua tangannya. Nafasnya tersenggal-senggal setelah pertemuan singkat antara dirinya dan Kyu Hyun tadi. Ia masih belum beranjak dari parkiran di sekolah So Yeon. Jarum jam sudah menunjukan pukul sembilan lewat dan ia belum juga beranjak menuju kantornya.

“Tuhan! Apa maksudnya ini?”

Ia meraih air mineral lalu meneguknya hingga hampir setengahnya, ia tidak lupa bagaimana tatapan Kyu Hyun tadi pada dirinya. Bagaimana Kyu Hyun menatap dirinya maupun So Yeon. Bagaimana Kyu Hyun berjongkok di hadapan putri cantiknya. Bagaimana Kyu Hyun bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Ia tidak pernah lupa bagaimana membaca perasaan dan raut wajah Kyu Hyun. Dia pernah menjadi seseorang yang sangat dekat dengan Kyu Hyun. Ia tak mungkin melupakan tingkah laku dan kebiasaan pria itu dengan mudah.

“Oppa, katakan padaku apa arti semua ini?” Ucapnya pelan.

Drrt Drrt Drrt

Ponselnya bergetar keras, dengan cepat ia meraih ponselnya lalu membaca pesan untuknya. Ia harus segera pergi ke kantornya. Ia sudah terlalu terlambat. Ini akan menjadi hari yang panjang untuknya.

****

Seoul Intenational Hospital

Seoul, South Korea

10.00 AM

Kyu Hyun mengusap rambutnya kasar, ia bingung menghadapi perasaannya. Ia senang sekaligus gamang dalam waktu bersamaan.

Ia sudah menikah. Ayolah, Cho Kyu Hyun tak bisakah kau melupakannya? Bisik Kyu Hyun dalam hati.

Langkahnya melambat memasuki ruangan Jung Soo, ia butuh saran dari pria itu. Setidaknya bila tak mendapat saran, mungkin ia bisa sedikit menceritakan kejadian tadi di sekolah Han Sung. Ia tahu Jung Soo adalah orang yang bijak dalam situasi seperti ini.

Tok… Tok… Tok…

“Masuk,” suara Jung Soo terdengar datar.

Kyu Hyun membuka pintu dan melangkah masuk, dilihatnya Jung Soo sedang membaca berkas-berkas.

“Data pasien?” tanya Kyu Hyun.

“Ya.”

“Hyung, kau sedang sibuk?” tanya Kyu Hyun lalu duduk di kursi tepat di hadapan  Jung Soo.

“Tidak juga, ada operasi nanti siang. Aku masih santai.” Balas Jung Soo masih menatap berkas-berkas di tangannya.

Kyu Hyun mengetuk meja lalu mengedarkan pandangannya menatap interior ruangan Jung Soo.

“Kau tidak mungkin ke sini hanya untuk mengagumi interior ruanganku.” Ucap Jung Soo tenang.

Kyu Hyun tersenyum menanggapi ucapan Jung Soo. “Ya, kau benar.”

“Ada apa?” tanya Jung Soo.

Kyu Hyun terdiam beberapa saat, Jung Soo tidak bertanya lebih ia ingin memberi Kyu Hyun ruang untuk berpikir.

“Aku bertemu dengannya.” Ucap Kyu Hyun.

Jung Soo meletakan berkas seketika di atas meja, matanya tertuju pada Kyu Hyun. Ia menatap Kyu Hyun dengan tajam.

“Sampai kapan kau akan terus menyiksa dirimu? Jauhi dia, mengapa kau menemuinya lagi?” tanya Jung Soo sekratis.

“Aku tidak bilang menemuinya, Hyung. Kami tidak sengaja bertemu.” Bela Kyu Hyun.

“Tidak sengaja atau sengaja, kau seharusnya tak bertemu dengannya. Ingat, dia bukan lagi gadismu –gadis lajangmu. Dia sudah menikah. Sudah menikah.” Jung Soo menekan perkataannya hingga membuat Kyu Hyun kesal.

“Ya, aku tahu. Tapi aku tidak tahu kami akan bertemu. Aku mengantar Han Sung dan ia mengantar… mengantar putrinya.” Ucap Kyu Hyun berubah parau. Jung Soo menelan ludahnya seketika, ia tahu seperti apa perasaan Kyu Hyun sekarang. Mengetahui Hyu Won sudah menikah saja sudah menghancurkan hidupnya bagaimana bisa ia justru bertemu dengan putri dari wanita itu? Apakaha ada orang yang memiliki hati sebesar Kyu Hyun?

“Mereka satu sekolah?” tanya Jung Soo.

“Ya.” Balas Kyu Hyun.

“Astaga!” umpat Jung Soo seolah mengutuk apa yang baru saja Kyu Hyun katakan.

“Lihatlah, kami seperti ada di dalam lingkaran setan. Aku pernah memiliki keyakinan bahwa sekuat apapun aku mencoba untuk menjauhinya ataupun ia pergi menjauhiku, kami akan tetap bertemu suatu saat nanti. Dan kau lihat, kami kembali bertemu.” Ucap Kyu Hyun dengan suara keras.

“Kau tidak pernah mencoba dengan sungguh-sungguh untuk menghilangkan dirinya dari kepalamu!” Bentak Jung Soo.

“Demi Tuhan! Kau pikir semuanya mudah? Aku mencobanya, aku benar-benar mencoba untuk mengenyahkannya dari kepalaku sejak empat tahun lalu. Kau tahu sendiri, Hyung.” Ucap Kyu Hyun berubah kasar. Ia ingin sekali saja Jung Soo berada dipihaknya. Ia tahu pria itu selalu mendorongnya untuk melupakan Hyu Won tetapi semua tak semudah apa yang orang-orang inginkan. Mereka tak merasakan apa yang ia lalui dengan Hyu Won. Semua tidak mudah, sekali lagi tidak mudah. Orang-orang hanya bisa menyalahkan dan menyuruhnya melakukan ini dan itu tanpa mereka tahu ia juga merasakan perasaan bersalah dan hancur. Orang-orang hanya melihat dari sudut pandang mereka, mereka tak tahu bagaimana hancurnya hati seorang Cho Kyu Hyun. Ia sudah menyesali apa yang ia lakukan, ia sudah mendapat balasan dari semua kesalahan yang ia lakukan. Tak bisakah ia mendapatkan kesempatan atau paling tidak sedikit saja kebahagiaan?

“Lalu kau pikir apa maksud dari pertemuan ini? Tuhan memberikannya kembali padamu?” tanya Jung Soo menyindir.

Kyu Hyun menatap Jung Soo dengan tajam. Hatinya seolah teriris mendengar sindirian pria itu. Ia tahu semuanya tak mungkin, wanita itu sudah menikah.

“Entahlah, sepertinya Tuhan memang belum puas melihatku menderita.” Ucap Kyu Hyun lalu berdiri dari kursinya.

Jung Soo merasa bersalah seketika. “Cho Kyu Hyun, bukan maksudku seperti itu.”

“Ya, aku mengerti. Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku mengerti maksudmu, kau hanya ingin ia pergi dari kepalaku. Aku mencobanya, percayalah. Aku juga tidak ingin terus menderita.” Ucap pria itu seolah ia begitu lelah.

“Duduklah. Kau butuh kopi.” Ucap Jung Soo berusaha mencegah Kyu Hyun pergi.

“Tidak, aku butuh waktu untuk berpikir.” Ucap Kyu Hyun lalu pergi dari ruangan Jung Soo.

Tinggalah Jung Soo yang menatap pintu dengan wajah mengeras. Ia tahu seperti apa penderitaan Kyu Hyun. Sejujurnya ia tak pernah menyalahkan Kyu Hyun, ia hanya ingin sahabatnya itu menemukan kebahagiaannya sendiri.

****

Sunae Elementary School

Seoul, South Korea

04.00 PM

Kyu Hyun sengaja datang terlambat menjemput Han Sung. Ia sudah menelpon bocah itu untuk keterlambatannya. Ia tak ingin kejadian seperti tadi pagi terulang kembali. Ia tak ingin bertemu dengan Hyu Won sengaja atau tidak disengaja. Ia sadar bahwa wanita itu bukan lagi gadis lajang seperti dulu. Mereka sudah berbeda, terlalu banyak penghalang di antara mereka. Ia harus sadar dengan posisinya sendiri.

Kyu Hyun turun dari mobil dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Ia berjalan santai memasuki gerbang sekolah. Han Sung mungkin sedang menunggunya di kantin. Beberapa orang di sekitarnya memberi salam dengan menundukan kepala mereka, Kyu Hyun balas memberi salam.

Langkahnya terhenti saat ia memasuki kantin, Han Sung tampak berbicara dengan gadis kecil tadi pagi. Ia tahu itu So Yeon. Tubuhnya berubah menjadi tak nyaman. Kyu Hyun melepas kacamatanya lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, ia mencoba mencari Hyu Won. Dahinya berkerut saat ia tak menemukan Hyu Won di mana-mana. Dengan langkah tegas, ia berjalan mendekati keponakannya itu.

“Han Sung-ah…” panggil Kyu Hyun pelan. Han Sung membalikan tubuhnya dan menatap Kyu Hyun dengan lega.

“Samchon!” ucapnya keras. Kyu Hyun tersenyum lalu ikut duduk di antara Han Sung dan So Yeon.

“Maaf aku lama, aku harus menolong pasienku.” Ucap Kyu Hyun.

“Gweanchanna, lagipula So Yeon Eomma juga belum datang. Jadi aku bisa menemaninya dulu.” Balas Han Sung.

Kyu Hyun menolehkan kepalanya pada So Yeon lalu kembali menatap Han Sung. “Mengapa So Yeon belum dijemput?” tanya Kyu Hyun pada Han Sung.

“Molla.” Balasnya.

“Aku sudah menghubungi Eomma tapi ia sulit dihubungi. Aku tahu Eomma sedikit sibuk minggu-minggu ini tapi tak seperti biasanya ia lupa menjemputku.” Ucap So Yeon dengan wajah muram, Kyu Hyun tersenyum melihat wajah sendu So Yeon. Itu mengingatkannya pada sosok Hyu Won. So Yeon terlalu mirip Hyu Won hanya saja gadis kecil itu memliki bola mata seperti ayahnya. Kyu ingat betul dengan mata seorang Lee Donghae. Rasa sesak kembali menghinggapinya.

“Samchon, bagaimana kalau kita mengantar So Yeon pulang?” ucapan Han Sung seperti petir di siang bolong. Kyu Hyun menatap So Yeon lalu kembali menatap Han Sung. Ia tak mungkin menolak permintaan Han Sung. Lagipula ia bukan pria kejam yang akan meninggalkan seorang anak kecil hanya kerena ia memiliki kisah menyedihkan dengan Ibu anak tersebut.

“Ya, kita bisa mengantar So Yeon pulang.” Ucap Kyu Hyun mengiyakan ucapan Han Sung. Dua bocah kecil itu lantas berdiri lalu menatap Kyu Hyun yang kini diam membeku.

“Ahjussi, kajja!” Ucap Han Sung mengagetkan Kyu Hyun. Kyu Hyun lalu berdiri. Han Sung dan So Yeon dengan cepat menggengam tangan Kyu Hyun. Kyu Hyun menatap dua bocah kecil di sampingnya dengan senyum simpul. Mereka akan mengantarnya pada rasa sakit yang tidak pernah berujung.

****

Hyu Won’s Bridal

Seoul, South Korea

04.30 PM

Kyu Hyun memarkirkan mobilnya di depan pelataran sebuah butik. Ia mengedarkan pandangannya, ia benar-benar penasaran mengapa So Yeon memberikan alamat ini padanya. Ini tidak tampak seperti sebuah tempat yang disebut rumah.

“So Yeon, apakah sudah benar kami mengantarmu ke sini?” tanya Kyu Hyun pada gadis kecil itu.

“Ne Ahjussi, ini butik eomma.” Balas gadis kecil itu.

Kyu Hyun melihat Han Sung yang tertidur pulas lalu berganti menatap So Yeon. “Kajja! Ahjussi akan mengantarmu ke dalam. Sepertinya Han Sung masih tidur, kita tinggalkan saja.” Ucap Kyu Hyun lalu membuka jendela mobil sebelum keluar dari mobil. So Yeon mengikuti Kyu Hyun keluar dari mobil.

Kyu Hyun dan So Yeon berjalan beriringan memasuki butik besar itu, tangan gadis kecil itu mengenggam tangan Kyu Hyun seolah ia sudah mempercayai Kyu Hyun. Perasaan hangat membanjir Kyu Hyun. Ia sudah gila karena ia merasa seolah ia akan menjaga gadis mungil ini selamanya.

Kyu Hyun mendorong pintu kaca lalu membiarkan So Yeon masuk lebih dulu. Gadis kecil itu berlari riang meninggalkan Kyu Hyun.

“Eomma!” teriak So Yeon kencang, tubuh Kyu Hyun menegang seketika. Ditatapnya Hyu Won yang kini sibuk berbicara dengan So Yeon, wanita itu belum menyadari kehadirannya.

“Maafkan Eomma sayang, seharusnya Eomma meminta Eun Ji Ahjumma untuk menjemputmu tapi Eomma lupa. Maafkan Eomma, hari ini hari yang sangat sibuk. Eomma baru saja akan menjemputmu.” Ucap Hyu Won, terlihat sekali wanita itu begitu menyesal.

“Gweanchanna, aku pikir terjadi sesuatu dengan Eomma. Lagipula aku sudah di sini, Han Sung oppa juga menemaniku tadi.” Balas So Yeon.

“Lalu kau datang dengan siapa?” tanya Hyu Won.

“Aku datang dengan Kyu Hyun Ahjussi, itu!” So Yeon menunjuk Kyu Hyun yang kini berdiri menatap mereka.

Hyu Won menegang seketika, Kyu Hyun tahu Hyu Won terkejut melihatnya. Dengan santai Kyu Hyun melambaikan tangannya lalu tersenyum pada Hyu Won. Kyu Hyun berjalan santai ke arah Hyu Won dan So Yeon. Pria itu mati-matian menahan diri untuk tidak berlari dan berteriak pada Hyu Won bahwa ia sangat merindukan wanita itu, bahwa ia ingin mereka bersama kembali.

“Han Sung memintaku untuk mengantar So Yeon jadi sekalian saja, lagipula aku tak melihat ada tanda-tanda kau akan datang jadi aku mengantar So Yeon pulang.” Ucap Kyu Hyun seolah tahu Hyu Won akan merasa sungkan padanya.

“Gomawo, seharusnya aku tidak lupa untuk menjemputnya. Hari ini benar-benar sibuk, kalau tidak ada kau aku tidak tahu bagaimana nasib So Yeon.” Ucap Hyu Won penuh terima kasih.

Ayahnya, kau bisa menyuruh ayahnya. Gumam Kyu Hyun dalam hati.

“Gweanchanna, santai saja.” Balas Kyu Hyun.

“Eomma, aku lapar!”

“Eomma sudah membelikanmu makanan, ada di belakang.” Ucap Hyu Won.

“Aku akan pergi ke belakang.” Ucap So Yeon. “Ahjussi gomawo sudah mengantarku, aku mau makan dulu.” Ucap So Yeon lalu pergi dari hadapan Kyu Hyun dan Hyu Won. Suasana berubah menjadi canggung.

Hyu Won berdehem sebentar. “Aku bisa mentraktirmu kopi di kafe sebelah?” tanya Hyu Won membuka pembicaraan lagi. Ia ingin mentraktir kopi sebagai ucapan terima kasih.

“Ah… maafkan aku, sepertinya lain kali. Aku harus mengantar Han Sung pulang pada Eommanya.” Ucap Kyu Hyun menolak. Sebenarnya ia berbohong, tentu saja ia akan menolak demi kebaikan bersama. Ia tak ingin kembali menaruh harapan pada wanita yang sudah bersuami.

“Apakah Han Sung itu anak Ahra Eonni?” tanya Hyu Won.

“Ya, anak Ahra Noona.” Balas Kyu Hyun.

“Baiklah kalau kau harus mengantarnya pulang. Lain kali aku akan mentraktirmu kopi. Sampaikan salamku pada Ahra Eonni.” Ucap Hyu Won sambil tersenyum. Kyu Hyun menganggukan kepalanya.

“Kalau begitu aku pergi.” Ucap Kyu Hyun enggan sebenarnya.

“Ne, hati-hati. Sekali lagi gomawo.” Ucap Hyu Won.

“Hmm, sampai nanti.” Ucap Kyu Hyun lalu berbalik meninggalkan Hyu Won, ia tahu wanita itu masih menatapnya. Ia mengutuk semua yang baru saja terjadi. Betapa canggungnya pembicaraan mereka, padahal mereka dulu tak seperti ini.

****

Kyu Hyun’s Home

Seoul, South Korea

07.00 PM

Kyu Hyun menata makanan di atas meja, Han Sung menatap makanan dengan wajah kelaparan. Kyu Hyun tersenyum melihat wajah anak itu. Baginya ini seperti hiburan sendiri. Sering-sering saja kakaknya pergi ke luar kota.

“Kapan Eomma akan pulang? Di sini sepi sekali, Ahjussi. Aku rindu pada Eomma dan Appa.” Ucap Han Sung sambil mencomot kimchi dengan sumpitnya.

“Lusa Eomma-mu akan datang, kalau kau kesepian. Aku akan mengantarmu ke rumah nenek.” Ucap Kyu Hyun.

“Ahh… Shirreo. Mereka akan mencubit pipiku terus-menerus.” Ucap Han Sung. Kyu Hyun tertawa mendengar ucapan keponakannya itu. Semua orang terlalu menyayangi Han Sung karena ia cucu pertama di keluarga Cho.

“Makanlah.” Ucap Kyu Hyun.

“Samchon, mengapa kau tak membangunkanku tadi?” tanya Han Sung cemberut.

“Kau tertidur seperti orang mati, aku tak bisa membangunkan orang mati.”

“Aku masih hidup.”

“So Yeon menitipkan salam padamu. Jujur saja padaku, kau menyukai So Yeon-i?” tanya Kyu Hyun menggoda keponakannya itu.

Han Sung menatap Kyu Hyun lalu tertawa mengejek. “Tch~ aku tak menyukainya, kami hanya teman saja. Ia memintaku untuk menjadi Oppanya. Dia bilang dia selalu ingin punya kakak laki-laki, ia ingin seseorang untuk menjaganya dan Eommanya.” Ucap Han Sung sambil mengunyah makanan.

“Bukankah ia punya Appa untuk menjaga dirinya dan Eommanya?” Ucap Kyu Hyun.

“So Yeon Appa sudah meninggal.” Ucap Han Sung polos.

DEG!

“MWO?”

Seketika itu juga Kyu Hyun menjatuhkan sumpit yang ada di tangannya. Pandangan pria itu tertuju pada Han Sung. Ia menatap Han Sung dengan tajam. Tubuhnya seolah baru saja direkatkan pada tembok dengan alat perekat super sehingga ia tak bergerak sedikitpun.

“Katakan sekali lagi.” Ucap Kyu Hyun dingin. Han Sung menatap Kyu Hyun dengan bingung.

“Samchoni, kau kenapa? Kau baik-baik saja? Mengapa kau pucat sekali.” Han  Sung bertanya dengan khawatir.

“Katakan sekali lagi Choi Han Sung, apa yang terjadi pada Appa-nya?”

“So Yeon-i?” tanya Han Sung bingung. “Appanya sudah meninggal sejak ia kecil.” Ucap Han Sung berubah gugup ketika melihat ekspresi keras di wajah Kyu Hyun.

Tubuh Kyu Hyun berubah lemas seketika. Ia tahu anak kecil tidak mungkin berbohong, tapi apa maksud dari semua ini? Ia kembali dipertemukan dengan Hyu Won ketika wanita itu sudah tidak bersama dengan Lee Donghae lagi. Tiba-tiba muncul rasa iba pada So Yeon –juga Hyu Won. Ia tak tahu mengapa ia merasa kasihan tetapi perasaannya seolah ikut bersedih. Mungkin karena memikirkan Hyu Won yang berjuang sendiri untuk hidupnya dan So Yeon.

“Lee Donghae meninggal? Kenapa?” ucap Kyu Hyun pelan nyaris berbisik.

“Samchon bilang apa?”

“Aniyo. Ayo lanjutkan makanmu, setelah ini kita mengerjakan pekerjaan rumahmu.” Ucap Kyu Hyun berusaha mengabaikan pertanyaan Han Sung. Makanan di hadapannya tak lagi menggugah selera, sekarang banyak sekali pertanyaan berputar di kepalanya.

****

Sunae Elementary School

Seoul, South Korea

04.00 PM

Hyu Won tertegun menatap Kyu Hyun yang kini berdiri tepat di depannya. Pria itu menggengam tangan Han Sung sama sepertinya yang kini tengah menggenggam tangan So Yeon. Dahi Hyu Won berkerut saat mendapati Kyu Hyun menatapnya dengan tajam. Sudah lama ia tak melihat tatapan seperti itu. Tatapan itu adalah tatapan saat dulu ketika mereka masih bersama. Ia merasa mereka seolah kembali ke masa di mana mereka pernah bersama dulu. Tatapan intimidasi Kyu Hyun selalu menandakan bahwa ada sesuatu yang salah.

“Hai!” sapa Hyu Won pelan mencoba menghalau pikirannya.

“Hai.” Balas Kyu Hyun datar.

“Ahjussi, annyeong haseyo!” sapa So Yeon riang seketika itu runtuh semua tatapan tajam Kyu Hyun pada Hyu Won.

“Annyeong So Yeon-i.” Sapa Kyu Hyun lembut.

“Ahjussi bolehkah kami menumpang pada mobilmu? Eomma tidak membawa mobil. Mobilnya mengalami masalah.” Ucap So Yeon. Hyu Won membulatkan matanya lalu menatap So Yeon kesal.

“Yak! Lee So Yeon mengapa kau berkata seperti itu? Eom-…”

“Tentu saja, kau dan Eommamu bisa menumpang. Kebetulan kita memang searah, kan?” ucap Kyu Hyun menekankan kalimatnya seolah tak ingin ada penolakan dari Hyu Won. Kali ini ia harus berbicara dengan Hyu Won. Ia tak ingin terus penasaran seperti semalam.

“Aku bisa memesan taksi sebenarnya jadi tidak perlu repot mengantar kami.” Tolak Hyu Won.

“Gweanchanna, Ahjumma. Ikutlah dengan kami!” ucap Han Sung tiba-tiba. Kyu Hyun tersenyum mendengar ucapan Han Sung.

“Ya, ikutlah…” tawar Kyu Hyun sekali lagi.

Hyu Won menatap So Yeon lalu kembali menatap Kyu Hyun. “Nde, maaf merepotkanmu.” Ucap Hyu Won akhirnya. Kyu Hyun mengangguk lalu tersenyum puas.

“Kajja!” ucap Kyu Hyun lalu tanpa sengaja meraih tangan So Yeon, ia lantas berjalan beriringan dengan Han Sung dan So Yeon menuju mobil. Hyu Won hanya dapat terpaku melihat sikap Kyu Hyun pada So Yeon.

“Eomma, palli-wa!” teriak So Yeon keras. Hyu Won tersadar dari lamunannya lalu berjalan menuju mobil. So Yeon dan Han Sung sudah masuk lebih dulu sedangkan Kyu Hyun masih menunggu di luar mobil. Ketika Hyu Won berdiri di hadapan Kyu Hyun, Kyu Hyun bersiap akan membuka pintu mobil untuk wanita itu.

“Silahkan masuk.” Ucap Kyu Hyun dengan datar. Ia sudah tak sabar ingin menanyakan semuanya. Hyu Won hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Kyu Hyun menutup pintu mobil lalu berlari kecil memasuki pintu kemudi.

****

Hyu Won’s Bridal

Seoul, South Korea

04.30 PM

Kyu Hyun mematikan mesin mobil lalu menolehkan kepalanya ke bangku belakang, Han Sung dan So Yeon sedang bermain permainan pada ponsel Han Sung.

“Samchon, aku ingin ke kamar mandi.” Ucap Han Sung tiba-tiba.

“Oppa, kau mau buang air kecil?” tanya So Yeon.

“Ne, aku sudah tidak tahan.” Ucap Han Sung dengan wajah merah padam, So Yeon tertawa melihat raut wajah Han Sung.

“So Yeon, antar Han Sung ke kamar mandi, ne?” Hyu Won meminta So Yeon mengantar Han Sung.

“Ne.” Balas So Yeon. “Kajja!” Ajak So Yeon. So Yeon dan Han Sung segera turun dari mobil dan berlari ke dalam butik Hyu Won. Hyu Won menggelengkan kepalanya melihat tingkah Han Sung.

Sepeninggal Han Sung dan So Yeon, Kyu Hyun menolehkan kepalanya dan menatap Hyu Won dengan dalam. Ia suka melihat Hyu Won tersenyum lepas seperti itu, sudah lama sekali ia tak melihat senyum Hyu Won.

“Kang Hyu Won.” Suara berat Kyu Hyun membuat Hyu Won menolehkan kepalanya seketika.

“Ne?” balasnya gugup.

“Sekarang aku punya banyak waktu, mungkin kau bisa mentraktirku minum kopi di kedai sebelah. Ada yang ingin aku tanyakan.” Ucap Kyu Hyun tanpa nada humor sedikitpun. Hyu Won menggigit bibir bawahnya mencoba menghilangkan rasa gugup yang mulai meningkat.

“Ya, tentu saja.” Balas Hyu Won bersikap santai. Sebenarnya Hyu Won sedikit bertanya-tanya tentang raut wajah Kyu Hyun. Mengapa pria itu tampak serius sekali.

Kyu Hyun membuka seatbelt-nya begitupun Hyu Won. Keduanya turun dari mobil lalu berjalan menuju kafe di samping butik milik Hyu Won.

****

Coffee and Tea Caffe

05.00 PM

Pelayan datang lalu meletakan pesanan Kyu Hyun dan Hyu Won. Kyu Hyun menatap pesanan yang dipesan oleh Hyu Won, bibirnya tersungging miris.

“Kenapa Teh?” Hyu Won dan Kyu Hyun bertanya secara bersamaan. Mereka tertawa canggung.

“Kau saja.” Ucap Kyu Hyun mempersilahkan.

“Kurasa kita sama-sama tahu jawabannya.” Balas Hyu Won lalu menyesap tehnya.

“Anggap aku penasaran. Kenapa?” tanya Kyu Hyun.

“Terlalu banyak kenangan dengan kopi hitam tanpa gula.” Ucap Hyu Won datar. Kyu Hyun menganggukan kepalanya paham. Jawaban Hyu Won adalah apa yang akan menjadi jawabannya juga.

“Tapi aku tetap mencintai kopi tanpa gula.” Ucap Kyu Hyun. Hyu Won menganggukan kepalanya seolah setuju dengan jawaban Kyu Hyun.

“Terlalu sulit untuk menghilangkan kebiasaan.” Sambung Hyu Won.

Kyu Hyun menyesap tehnya lalu meletakannya di atas meja, ia menyandarkan tubuhnya pada sofa lalu meletakan kedua tangannya pada lengan sofa. Matanya menatap Hyu Won dengan tajam, rahangnya mengeras seketika.

“Jadi bagaimana kehidupan pernikahanmu dengan Donghae? Tampaknya kau sangat bahagia.” Ucap Kyu Hyun mencoba tenang. Raut wajah Hyu Won berubah seketika, ia tak menyangka Kyu Hyun secara terang-terangan bertanya tentang Donghae dan kehidupan pernikahannya. Apakah pria itu ingin menyerangnya?

Hyu Won menyesap kembali tehnya, ia tak bisa membicarakan Donghae di hadapan Kyu Hyun. Itu akan menyakiti dirinya dan juga Kyu Hyun. Lagipula Kyu Hyun tak tahu bagaimana keadaannya dirinya sebenarnya.

“Ya. Bahagia, kami bahagia.” Balas Hyu Won singkat.

Kyu Hyun tertawa hambar. “Aku turut bahagia untuk kebahagiaanmu.”

“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Hyu Won.

Kyu Hyun memiringkan kepalanya lalu menatap Hyu Won. “Aku? Aku masih sama seperti dulu. Masih sendiri.” Balas pria itu tanpa senyum sedikitpun.

“Kenapa?” pertanyaan itu lolos begitu saja tanpa dipikirkan. Hyu Won bahkan mengutuk bibirnya yang dengan mudah bertanya seperti itu.

“Kau tahu kenapa.”

“Tidak, aku tidak tahu.” Balas Hyu Won. Ia benar-benar tidak tahu, apa alasan dirinya harus tahu mengapa Kyu Hyun masih sendiri. Ia tidak pernah mendengar kabar tentang Kyu Hyun sedikitpun. Bagaimana ia bisa tahu? Sebut saja ia besar kepala, apakah pria itu masih sendiri karena menunggunya? Ia tak mau berbesar kepala, lagipula sudah lama berlalu.

“Seharusnya kau datang di rumah pohon waktu itu.” Suara Kyu Hyun berubah tajam.

“Geumanhae.” Ucap Hyu Won. Ia menatap Kyu Hyun seolah meminta pria itu tak mengungkit semuanya kembali.

“Tidak. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan lagi.” Balas Kyu Hyun.

“Kyu Hyun, itu sudah lama berlalu. Kau tak seharusnya mengungkit semuanya lagi.” Ucap Hyu Won berubah marah.

“Tidak bagiku. Selama kau belum mendengar semuanya, aku tak akan berhenti. Tenanglah, tidak akan ada yang peduli tentang pembicaraan kita. Hanya ada kita di sini.” Ucap Kyu Hyun.

“Aku sudah menikah, ingat!” ucap Hyu Won keras. Ia menggunakan statusnya sebagai tameng.

Kyu Hyun mendengus kecil mendengar kebohongan yang dikatakan Hyu Won. Ia lalu memajukan tubuhnya sehingga jaraknya dengan Hyu Won tidak terlalu jauh. “Jadi di mana Donghae sekarang berada dan bagaimana keadaannya? Kau takut ia mengetahui pertemuan kita?” tanya Kyu Hyun memojokan Hyu Won. Ia tahu ia sangat keterlaluan tetapi ia tak ingin wanita itu berbohong tentang statusnya. Mengapa wanita itu seolah ingin menutup dirinya?

“Hmm?” tanya Kyu Hyun lagi.

Hyu Won menarik nafas mencoba meloloskan rasa sesak di dadanya. Bagaiamana bisa Kyu Hyun bertanya tentang keberadaan Donghae.

“Donghae Oppa, ia… ia.”

“Dia sudah meninggal, benar?” ucap Kyu Hyun tanpa ekspresi sedikitpun. Ia tak bersyukur untuk kematian pria itu tetapi ia membenci kebohongan yang dikatakan Hyu Won.

“KAU! Kau tahu?” tanya Hyu Won terkejut. Ia tak suka keadaan seperti ini.

“Ya, mengapa tak mengatakan kebenarannya? Mengapa tidak mengatakan padaku bahwa kau sudah tidak bersamanya?” tuntut Kyu Hyun.

Hyu Won mendesah marah. “Aku bukan orang yang akan mengumbar kehidupanku. Mengapa aku harus bercerita padamu? Kita baru bertemu kembali dan kau sudah bersikap seperti ini.” Balas Hyu Won tenang.

“Karena aku butuh. Sudah terlalu lama aku menderita untuk menunggumu, ak-…”

“KYU HYUN!” Hyu Won berteriak mencegah ucapan Kyu Hyun lebih lanjut lagi.

Kyu Hyun tak memperdulikan peringatan Hyu Won. “Aku tidak akan berbelit-belit lagi. Kemarin aku mencoba menahannya tetapi sekarang tidak lagi, tidak setelah aku tahu kebenarannya.” Ucap Kyu Hyun masih dengan intonasi penuh emosi.

“Jangan memanfaatkan keadaan!” bentak Hyu Won.

“Aku tidak memanfaatkan keadaan. Tak tahukah kau bagaimana rasanya aku ketika melihatmu untuk pertama kalinya lagi kemari?” balas Kyu Hyun.

“Kita tak akan seperti dulu lagi.” Ucap Hyu Won datar. Ia menertawakan dirinya sendiri, ia berkata seperti itu sementara hatinya tidak. Sejujurnya ia juga merasakan efek yang sama seperti apa yang Kyu Hyun katakan.

“Aku mencoba melupakanmu tetapi aku bahkan tak bisa menyingkirkan dirimu sedetikpun dari kepalaku. Sekarang kau tak akan pergi ke manapun. Aku sudah menunggu untuk semua ini, aku tak akan melepaskanmu lagi. Tidak akan.” Ucap Kyu Hyun tanpa jeda sedikitpun.

“Kau gila!” pekik Hyu Won. Mengapa pria itu bisa berkata seperti itu sedangkan mereka baru bertemu lagi kemarin. Pria itu bersikap seolah mereka tak pernah berpisah selama tujuh tahun ini.

“Ya, aku gila. Sekarang tetap diam dan duduk di sini. Kau harus mendengar semua yang ingin aku katakan. Mencoba pergi dan kau tahu aku bisa melakukan apapun.” Ucap Kyu Hyun mulai melunak walaupun tatapan matanya masih tajam. Ia berusaha mengintimidasi Hyu Won. Ia tahu wanita itu tak ingin pergi dari kafe ini tapi ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan semuanya.

Hyu Won mendengus lalu mulai merilekskan tubuhnya. Ia ingin tahu apa yang akan Kyu Hyun katakan. Lagipula ia tahu Kyu Hyun tidak akan main-main dengan perkataannya. Pria tidak hanya akan mengancamnya, ia akan melakukan apa yang ia katakan.

“Geurae. Katakan apapun yang ingin kau sampaikan.” Ucap Hyu Won.

Kyu Hyun menegakan tubuhnya bersiap akan berbicara, Hyu Won justru melipat tangan di depan dada. Pandangannya tertuju pada luar jendela.

“Hari di mana kau menikah…” ucap Kyu Hyun menggantung, tubuh Hyu Won tiba-tiba menegang. “Aku ingin mengungkapkan semuanya hari itu. Aku ingin mengatakan semua penyesalanku tapi kau… kau tak memberi kesempatan. Kau tak datang.” Ucap Kyu Hyun kemudian.

Hyu Won mengalihkan pandangannya pada Kyu Hyun dengan marah. “Jangan bilang aku tak memberikanmu kesempatan, Kyu. Aku memberikanmu kesempatan saat kau akan pergi meninggalkanku untuk Jung An…” ucap Hyu Won menggantung, rasa sesak masih terasa bila ia kembali mengingat hari di mana Kyu Hyun pergi meninggalkannya. Ia menelan ludah mencoba melancarkan tenggorokannya. “Tapi kau tak peduli. Kau tak mendengarkanku, kau justru pergi meninggalkanku seperti sampah. Kau pergi untuk dia. Jadi jangan bilang aku tak pernah memberikanmu kesempatan.” Sambung Hyu Won kemudian.

Kyu Hyun menundukan kepalanya lalu mengangkatnya lagi. “Ya, kau benar. Seharusnya aku mendengarkanmu, seharusnya aku mengambil kesempatan itu. Seharusnya aku lebih memilihmu.” Ucap Kyu Hyun.

Hyu Won menatap Kyu Hyun, ia tahu pria itu benar-benar tulus berkata seperti itu. Ia tahu itu adalah tatapan penyesalan. “Sudahlah, semua sudah berlalu. Tak akan pernah terulang lagi.” Ucap Hyu Won pelan, ia sudah mengobati sakit hatinya. Ia tak ingin mengingat semua itu lagi.

Keduanya terdiam menikmati irama lambat dari musik yang mengalun di dalam kafe. Tidak ada yang memulai pembicaraan, terlalu banyak pertanyaan yang mengumpul di dalam kepala sehingga mereka hanya mampu terdiam satu sama lain. Mereka sibuk mengontrol emosi di dalam hati.

“Kenapa?” Kyu Hyun dan Hyu Won bertanya secara bersamaan.

Kyu Hyun mengisyaratkan Hyu Won untuk berbicara duluan. “Kenapa kau meninggalkanku di hari pertunangan kita?” Tanya Hyu Won berubah serius.

Kyu Hyun terdiam lama, Hyu Won tak memaksa pria itu untuk berbicara. Ia memberi jeda pada Kyu Hyun untuk mengutarakan pemikirannya.

“Kalau kau tak mau mengatakannya, tak perlu dijawab.” Ucap Hyu Won.

“Karena aku terlalu bodoh dan egois. Aku mengejar Jung An untuk obsesi bodohku, aku tak pernah menghargaimu.” Ucap Kyu Hyun berubah sendu. Ia tahu semua ini terlalu menyakitkan untuk diulang.

“Benar. Kau mengejarnya, kau mengatakan padaku ini demi kemanusiaan tapi kau justru mengejarnya. Kenapa kau berjanji padaku? Malam itu kau bilang tidak akan meninggalkanku, kenapa kau berjanji padaku?” tanya Hyu Won berubah parau. Ia mengingat kembali kejadian buruk di hari pertunangan mereka. Itu terlalu menyakitkan untuk diingat kembali.

“Karena aku tidak ingin melepasmu. Aku tak bisa melepasmu.” Ucap Kyu Hyun penuh penekanan.

“Dan kau juga tidak melepas Jung An.” Ucapan Hyu Won seperti peluru yang berbalik ke arah Kyu Hyun. Perasaan Hyu Won berubah menjadi emosi tapi ia menahannya.

“Kau benar.” Balas Kyu Hyun. “Aku menyesal.” Sambung Kyu Hyun, suaranya terdengar berat sekali. Ia sejujurnya mulai bosan mengatakan kalimat penyesalan tapi itu semua yang bisa ia lakukan.

Hyu Won mengetukan jarinya di meja. “Kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali selama dua tahun kau di London?” tanya Hyu Won berbisik. Ia ingin mengetahui jawaban dari semua tingkah bodohnya yang masih menunggu Kyu Hyun dulu saat pria itu pergi meninggalkannya ke London tanpa kabar.

Kyu Hyun menatap Hyu Won dengan dalam. Hyu Won balas menatap Kyu Hyun.

“Karena aku sangat malu dan merasa tak pantas untuk menghubungimu. Aku ingin menghubungimu tapi aku tak sanggup untuk memintamu menungguku lagi. Aku menikamati kebersamaanku dengan Jung an tapi aku memikirkanmu, merindukanmu setiap saat. Aku tak tahu bila harus menghubungimu apa yang harus kukatakan padamu. Memintamu menunggu atau memintamu pergi. Aku tak bisa melepaskanmu. Aku memang pengecut. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kukatakan bila berbicara denganmu.” Balas Kyu Hyun. Ia merasa ia adalah pecundang nomor satu di dunia.

“Kau tak tahu bagaimana rasanya menunggu tanpa kabar sedikitpun. Bodohnya aku masih berharap padamu saat itu.” Ucap Hyu Won berubah parau.

Kyu Hyun manarik nafas lalu menatap Hyu Won. Nafasnya masih tak teratur.  “Percayalah, aku tahu rasanya menunggu tanpa kabar. Aku tahu bagaimana rasanya menunggu seseorang sedangkan seseorang yang kutunggu tak tahu sama sekali aku menunggunya, itu sangat membuatku menderita. Aku tahu rasanya, Hyu Won-ah. Aku tahu bagiamana menderitanya dirimu karena aku pun mengalaminya.” Ucap Kyu Hyun sendu. Suaranya berubah parau, ia ingat bagaimana menderitanya hidup sendiri tanpa Hyu Won. Itu terlalu menyedihkan untuk diulang kembali. Ia tak ingin perasaan sendiri seperti itu muncul lagi.

Seketika itu air mata mengenangi pipi Hyu Won. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras menahan isakan. Ucapan Kyu Hyun terlalu menyakitkan untuk di dengar, pria itu menunggu dirinya. Ia tak tahu itu. Pria itu melakukan hal yang sama seperti apa yang ia lakukan. Pria itu merasakan apa yang ia rasakan. Pria itu mendapat balasan untuk perbuatannya pada Hyu Won.

“Dan… dan aku tak pernah berhenti berharap walaupun kau sudah bersama Donghae.” Sambung Kyu Hyun pilu.

“Cukup. Ini terlalu banyak.” Ucap Hyu Won tegas.

Kyu Hyun mengeluarkan sapu tangannya lalu memberikan sapu tangan itu pada Hyu Won. “Jangan menangis, Hyu Won-ah.” Ucap Kyu Hyun tulus lalu memberikan sapu tangan itu. Ia terlalu sering membuat Hyu Won menangis. Hyu Won meraih sapu tangan itu lalu menghapus air matanya. Ia tak pernah membayangkan akan ada sore seperti ini. Sore di mana ia dan Kyu Hyun duduk lalu membicarakan hubungan mereka. Ia tak pernah bersama siapapun setelah kematian Donghae. Ia menutup hatinya tapi sore ini, ia seolah membuka kembali hatinya.

Kyu Hyun tak mengalihkan pandangannya ke manapun, ia terus menatap Hyu Won yang masih terisak kecil. Ia masih belum puas melihat wajah wanita itu. Ia selalu memimpikan hal seperti itu, mereka duduk berdua lalu mulai meluruskan semua hal.

“Hyu Won?” panggil Kyu Hyun setelah ia yakin Hyu Won sudah menghentikan tangisannya.

“Ne?”

“Apakah… apakah kau masih mencintaiku saat kau menikah dengan Donghae?” tanya Kyu Hyun pelan. Ini adalah apa yang selalu ingin ia tahu dari dulu.

Hyu Won terdiam cukup lama, ia mengingat kembali tahun-tahun di mana Kyu Hyun muncul saat ia akan menikah. Menikah dengan Donghae adalah keputusan terbesar dalam hidupnya.

“Aku memulai cinta baru dengan Donghae Oppa lalu menikah dengannya.” Ucap Hyu Won pelan. Ia terdiam sejenak memikirkan bagaimana perasaannya pada Kyu Hyun saat itu.

“Kau benar-benar ingin tahu seperti apa perasaanku?” tanya Hyu Won.

“Katakan apapun itu. Aku ingin tahu seperti apa perasaanmu saat itu walaupun itu adalah hal terburuk yang pernah aku ketahui.” Balas Kyu Hyun tenang.

“Menikah dengan Donghae Oppa adalah sebuah pilihan yang sangat berat dalam hidupku. Aku tak mungkin menikahinya tanpa rasa cinta tapi aku,” Hyu Won mengambil nafas panjang. Kyu Hyun menunggu dengan perasaan tak tentu. “Aku tak pernah berhenti mencintaimu. Aku… aku tak pernah berhenti mencintaimu. Aku hanya berusaha mengabaikannya. Bersikap seolah aku sudah melupakanmu.” Ucap Hyu Won akhirnya, ledakan emosi muncul seketika di antara mereka.

Kyu Hyun terpaku di tempat duduknya, rasa sesal semakin menjadi-jadi. Kalau ia tahu seperti itu perasaan Hyu Won, ia tak akan pernah berhenti berjuang untuk wanita itu. Ia masih punya banyak kesempatan. Wanita itu selalu mencintainya.

“Ya Tuhan…” desah Kyu Hyun kalah. Ia terisak parah seketika. Ia selalu merasa ia sudah menyia-nyiakan hidupnya selama tujuh tahun ini tapi ternyata wanita itu sama sekali tidak berhenti untuk mencintainya. Untuk pertama kalinya ia merasa semua hal yang ia lakukan untuk Hyu Won selama tujuh tahun tidak sia-sia.

Hyu Won menatap Kyu Hyun yang kini tertunduk menyedihkan. Ia ikut merasakan bagaimana perihnya perasaan Kyu Hyun. “Kenapa kau masih terus mencintaiku?” tanya Kyu Hyun setengah berteriak tak mengerti dengan jalan pikiran Hyu Won.

Hyu Won menggelengkan kepalanya menahan isakannya. “Kita hidup bersama sejak kecil. Aku mencintaimu hampir seumur hidupku, lalu menurutmu apakah mudah menghapus semua itu?” tanya Hyu Won parau. “Tidak Kyu.” Sambungnya lagi.

“Aku melewatkan tahun-tahun penderitaanku untuk dirimu dan aku tahu kau tak pernah berhenti mencintaiku. Kau tahu ini seperti aku memegang terlalu banyak balon. Aku selalu berada di sekitarmu bahkan setelah kau menikah, aku membuntutimu seperti pencuri. Dan aku memutuskan untuk melepaskanmu padahal kau tak pernah berhenti mencintaiku. Aku tak pernah tahu sampai kapan aku harus menunggu sedangkan kau tak tahu aku menunggumu tapi kau… kau tak pernah berhenti mencintaiku? Ya Tuhan… mengapa aku begitu bodoh melepaskanmu?” isak Kyu Hyun lagi.

Hyu Won tak pernah melihat Kyu Hyun menangis untuknya, ia tak pernah benar-benar melihat Kyu Hyun berjuang untuk hubungan mereka tetapi sore ini, sore ini ia mengatahui semuanya.

“Kyu…” Hyu Won memanggil pria itu pelan.

“Kang Hyu Won, wanita seperti apa dirimu itu? Mengapa masih mencintaiku sedangkan aku selalu menghancurkan hatimu?” Ucap Kyu Hyun frustrasi.

“Kita selalu menyakiti orang yang kita cintai.” Ucap Hyu Won pelan. Emosinya mulai mereda.

Kyu Hyun mengusap air matanya lalu menatap Hyu Won. “Ya kita menyakiti satu sama lain. Mungkin ini hukuman untukku.” Ucap Kyu Hyun. Mereka kembali terdiam mencoba menenangkan diri masing-masing. Mereka tahu semua sudah terungkap

“EOMMA! Ada Eun Ji Ahjumma,” ucap So Yeon dari arah pintu. Kyu Hyun maupun Hyu Won memasang wajah seolah tak terjadi apapun.

“Ne.” Balas Hyu Won.

“Aku baru saja makan dengan Han Sung Oppa.” Ucap So Yeon lalu kembali keluar dari kafe.

Hyu Won baru saja akan berbicara saat Eun Ji memasuki kafe, wanita itu mendorong pintu lalu melambaikan tangannya pada Hyu Won. Tidak sampai beberapa detik, raut wajahnya berubah tegang-marah-terkejut. Ia menatap Kyu Hyun, Eun Ji lantas berjalan menuju Hyu Won dan Kyu Hyun.

“Neo! Apa yang kau lakukan di sini?” Bentak Eun Ji pada Kyu Hyun.

Hyu Won berdiri lalu menghadang Eun Ji yang bersiap seolah akan memukul Kyu Hyun. “Tenanglah Eun Ji-ya, Kyu Hyun tidak melakukan apapun.” Ucap Hyu Won mencegah Eun Ji melakukan kekerasan pada Kyu Hyun.

Eun  Ji menatap Hyu Won datar. “Kau menangis?” tanya Eun Ji, ia lantas menolehkan kepalanya pada Kyu Hyun namun hatinya terenyuh saat melihat bekas air mata masih menempel pada wajah Kyu Hyun. Ia tahu sesuatu baru saja terjadi.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Eun Ji berubah lunak.

Kyu Hyun berdiri lalu merapikan pakaiannya, “sepertinya aku harus pergi. Aku akan kembali lagi, Hyu Won-ah.” Ucap Kyu Hyun lalu bersiap akan pergi.

“Ya, pergilah dan jangan kembali.” Ucap Eun Ji pada Kyu Hyun. Kyu Hyun hanya menganggukan kepalanya pada Hyu Won, ia tak memperdulikan teriakan Eun Ji. Hyu Won hanya bisa tersenyum masam melihat Kyu Hyun pergi.

Setelah Kyu Hyun keluar dari kafe, Eun Ji lantas duduk dan menatap Hyu Won dengan pandangan menuntut.

“Ya! Eun Ji-ya, kau tak bisa bersikap seperti itu.” Ucap Hyu Won pelan.

Eun Ji memutar matanya lalu melempar tasnya. “Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia menyakitimu lagi?” tanya Eun Ji masih marah. Hyu Won hanya diam.

“YA! Aku bicara padamu Kang Hyu Won!”

“Dia tidak menyakitiku, percayalah.” Ucap Hyu Won meyakinkan Eun Ji. “Ia… ia mengatakan semuanya Eun Ji-ya. Ia menyesal. Ia kembali, Eun Ji-ya.” Ucap Hyu Won lalu mulai terisak lagi.

Eun Ji melipat tangannya. “Melihatmu seperti ini membuatku yakin bahwa kau kembali jatuh dalam pesonanya.” Ucap Eun Ji datar. Ia tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu.

Hyu Won duduk lalu mulai menelungkupkan kepalanya. “Ia bilang ia menungguku, ia selalu membuntutiku setelah pernikahanku dengan Donghae. Ia menyakiti hatinya. Ia menungguku… ia menungguku. Aku harus bagaimana?” Isak Hyu Won.

Eun Ji terenyuh mendengar ucapan Hyu Won. “Dia mendapatkan hukumannya, ia… entahlah Hyu Won-ah. Ikuti kata hatimu.” Ucap Eun Ji pelan.

“Dia bilang dia menyesal. Dia menangis untukku, untuk pertama kalinya. Ia tampak kacau sekali.” Ucap Hyu Won.

“Ia sudah seharusnya melakukan semua itu.” Ucap Eun Ji puas.

“Apa yang akan dikatakan Donghae Oppa?”

“Aku tidak tahu.” Geleng Eun Ji.

Hyu Won mengusap air matanya lalu menatap ke arah luar jendela. Aku tak pernah menutup hatiku untuknya, aku tak pernah berhenti mencintainya. Aku hanya menyingkirkannya tanpa benar-benar membuangnya. Sekarang dia kembali dan mengapa aku harus merasa seperti ini. Oppa… Donghae Oppa apa yang harus kulakukan? Gumam Hyu Won di dalam hati. Donghae adalah sosok teman, Donghae adalah pria yang mampu membuat Hyu Won bangun dari keterpurukan karena Kyu Hyun. Sekarang dia membutuhkan Donghae, Donghae mungkin akan mengerti situasi seperti ini. Ia akan mengerti.

****

Six day later…

Sunae Elementary School

Seoul, South Korea

04.30 PM

Hyu Won berjalan tergasa-gesa memasuki gerbang sekolah So Yeon, ia terlambat menjemput putrinya lagi. Terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, akhir-akhir ini butiknya memiliki banyak pesanan.

Hyu Won mengedarkan pandangannya tetapi matanya tak menemukan di mana So Yeon berada. Kegelisahan mulai muncul, ia menarik nafas lalu mulai melakukan beberapa panggilan. Ia menelpon guru So Yeon tetapi wanita di seberang telepon justru mengatakan So Yeon sudah dijemput. Rasa panik tak pelak semakin membuat Hyu Won ketakutan. Ia menggigit bibir bawahnya mencoba menahan kegelisahannya. Ia takut terjadi sesuatu pada So Yeon.

“Eomma!”

Hyu Won membalikan tubuhnya dengan cepat seolah ia tak punya tulang sama sekali. “So Yeon-ah!” pekik Hyu Won tertahan, ia segara berjalan menuju gadis kecil itu. Matanya membulat saat melihat Kyu Hyun di belakang So Yeon, Kyu Hyun membawa tas merah muda milik putrinya.

“Kyu Hyun?” ucap Hyu Won terkejut. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu lagi setelah pembicaraan mereka di kafe. Selain itu, ia terkejut melihat kedekatan Kyu Hyun dan So Yeon.

“Hai.” Sapa Kyu Hyun saat pria itu berdiri di samping So Yeon, Hyu Won masih terkejut melihat Kyu Hyun.

“Eomma, kau terlalu lama menjemputku. Tadi kami makan dulu. Setelah ini kami akan pergi membeli es krim, bolehkan?” tanya So Yeon pelan.

“Ne? Maafkan eomma So Yeon-ah. Ah… So Yeon-Ah, ini sudah sore. Kyu Hyun ahjussi mungkin lelah setelah seharian bekerja.” Balas Hyu Won pelan tidak tahu harus mengizinkan atau tidak. Ia merasa sedikit kikuk.

“Gweanchanna, aku senang mengajak So Yeon pergi. Kami punya topik pembicaraan yang menyenangkan. Lagipula aku tidak terlalu lelah.” Balas Kyu Hyun dengan senyum penuh arti, ia seolah sedang mempermainkan Hyu Won. Hyu Won tahu Kyu Hyun sengaja merencanakan semua ini.

“Eomma, kau dengar sendiri apa yang Kyu Hyun Ahjussi katakan, kan? Lagipula ini jumat, besok libur. Tidak ada salahnya kita jalan-jalan.” Ucap So Yeon masih merayu Hyu Won.

“Di mana Han Sung?” tanya Hyu Won berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Dia dijemput Ahra Noona tadi, mereka tiba-tiba punya acara sendiri.” Balas Kyu Hyun.

“Jadi bagaimana? Boleh, kan?” tanya So Yeon lagi.

Hyu Won meringis pelan mengutuk tingkah anaknya, ia menatap Kyu Hyun seolah meminta pria itu untuk menolak keinginan putrinya itu tapi Kyu Hyun seolah membutakan hati dan matanya. Ia justru menoleh pada So Yeon dengan senyum anehnya.

Hyu Won menyipitkan matanya. “Kalian sudah merencanakannya, kan? Dasar menyebalkan, aku bisa apa.” Ucap Hyu Won kemudian, Kyu Hyun dan So Yeon tertawa kecil lalu melekukan high five di depan Hyu Won.

“Kajja!” Ucap Kyu Hyun lalu meraih tangan So Yeon dan berjalan meninggalkan Hyu Won di belakang. Hyu Won berdiri menatap kedua orang itu pergi dari hadapannya, hatinya seolah meluruh melihat keceriaan So Yeon, belum lagi sikap perhatian Kyu Hyun. Tidak pernah ada seorang pria pun yang melakukan hal seperti ini pada mereka. Ia hanya terus mengurung diri, ia tak pernah mengizinkan pria manapun mengambil tempat Donghae. Tapi hari ini, hari ini ia membiarkan orang lain –bukan orang lain sebenarnya- mengisi sebagian kecil tempat di hatinya. Ia tahu ia terharu dengan sikap Kyu Hyun. Perasaan hangat membanjirinya.

****

Hyu Won’s Home,

Seoul, South Korea

08.00 PM

Kyu Hyun memarkirkan mobilnya di halaman rumah Hyu Won, ia tak tahu tempat ini sama sekali. Hyu Won mungkin membelinya atau ini adalah rumah peninggalan Donghae. Kyu Hyun segera melepas seatbelt-nya, ia tak ingin berpikir tentang mantan suami wanita yang kini duduk di sebelahnya itu.

“Dia sudah tidur, sepertinya So Yeon sangat kelelehan.” Ucap Kyu Hyun memecah keheningan.

“Ya, dia terlalu banyak bermain hari ini.” Balas Hyu Won dengan senyuman.

“Kajja! Aku akan menggendongnya ke dalam.” Ucap Kyu Hyun.

“Aniyo, tidak perlu. Aku bisa membangunkannya.”

“Jangan. Aku saja, tidak apa-apa. Kau hanya akan mengganggunya tidur.” Ucap Kyu Hyun. Hyu Won hanya menganggukan kepalanya lalu menatap Kyu Hyun dengan raut wajah berterima kasih.

“Tidak perlu sungkan.” Ucap Kyu Hyun seolah tahu isi kepala Hyu Won. Pria itu lantas turun dari mobil dan berjalan menuju pintu belakang. Ia membuka pintu lalu mulai mengangkat tubuh mungil So Yeon. So Yeon bergerak kecil dalam tidurnya tapi ia tidak terbangun.

“Ssst~…” ucap Kyu Hyun menenangkan So Yeon.

Hyu Won berjalan di depan Kyu Hyun, menuntun pria itu memasuki rumahnya. Hyu Won membuka pintu lalu mulai menyalakan lampu rumah.

“Lewat sini.” Ucap Hyu Won lalu mulai menaiki tangga, Kyu Hyun mengikuti Hyu Won.

“Rumah ini tidak terlalu besar tapi juga tak terlalu kecil.” Ucap Kyu Hyun.

“Ya, kami membelinya saat kami pindah ke Seoul. Aku suka halaman belakangnya, penuh dengan taman bunga.” Balas Hyu Won.

Kyu Hyun mencerna ucapan Hyu Won, ia tahu ini rumah mereka –rumah Hyu Won dan Donghae. Hyu Won berhenti di depan sebuah kamar kecil bertuliskan So Yeon Room di depan pintu.

Hyu Won membuka pintu lalu menyalakan lampu, Kyu Hyun berjalan menuju ranjang kecil di sudut ruangan lalu meletakan tubuh mungil So Yeon di atasnya, Hyu Won duduk di tepi ranjang lalu membuka sepatu dan kaus kaki So Yeon; Kyu Hyun berjalan keluar, Hyu Won lalu menarik selimut gadis itu. Kyu Hyun menatap Hyu Won dari depan pintu kamar, wanita yang selama ini tak pernah ia lihat kini ada di hadapannya. Ia begitu keibuan, ia begitu menyayangi So Yeon, ia terpesona dengan semua perjuangan Hyu Won untuk membesarkan putrinya sendiri. Kyu Hyun tahu ia jatuh cinta lagi dengan Hyu Won. Bukankah ia memang selalu mencintai Hyu Won. Mengapa ia tak pernah menyadarinya dari dulu?

“Selamat malam So Yeon-i” Ucap Hyu Won lalu mematikan lampu kamar So Yeon. Hyu Won berjalan meninggalkan kamar So Yeon, ia lalu menutup pintu kamar gadis mungil itu. Hyu Won membalikan tubuhnya dan jantungnya berdetak kencang saat mendapati tatapan tajam Kyu Hyun mengarah padanya. Ia tak mengerti arti tatapan pria itu tapi perlahan tatapan pria itu berubah menjadi tatapan lembut.

“Gomawo.” Ucap Hyu Won pelan.

“Gweanchanna.” Balas Kyu Hyun.

“Aku jarang mengajaknya pergi seperti hari ini. Kau tidak hanya mengajaknya pergi membeli es krim, kau juga mengajaknya ke taman bermain. Seharusnya aku lebih sering mengajaknya pergi. Ia sangat bahagia asal kau tahu saja, aku tak pernah melihat So Yeon yang bermain riang seperti hari ini. Ayahnya mungkin akan marah padaku bila kita bertemu lagi.” Ucap Hyu Won.

“Aku senang mengajakanya pergi, ia anak yang cerdas. Ayahnya tidak akan marah padamu, kau adalah ibu yang baik untuknya.” Ucap Kyu Hyun.

“Terima kasih. Aku akan membuatkanmu minuman.” Ucap Hyu Won mencoba mengalihkan pembicaraan, ia lalu berjalan meninggalkan Kyu Hyun. Ia tahu Kyu Hyun menatapnya, ia merasa punggungnya seolah terbakar karena tatapan pria itu.

“Berhenti Hyu Won-ah.” Ucap Kyu Hyun penuh penekanan. Hyu Won menghentikan langkahnya seketika. Ia baru saja akan membalikan tubuhnya saat ia merasakan tubuhnya seolah tak bisa bergerak. Kyu Hyun memeluk dari belakang, ia bahkan bisa mendengar desahan nafas pria itu.

“Aku merindukanmu.” Ucap Kyu Hyun dengan sangat berat, nafasnya berubah menjadi sangat berat. “Sangat merindukanmu.” Sambung Kyu Hyun lagi.

Hyu Won memegang tangan Kyu Hyun yang kini melingkar di dadanya, ia menarik nafas seolah ikut merasakan rasa sesak yang di rasakan Kyu Hyun. Ia tahu mereka sudah terlalu lama menderita.

“Mengapa kau muncul Kyu Hyun-ah?” tanya Hyu Won berbisik.

“…”

“Mengapa kau tidak hidup bahagia saja?” tanya Hyu Won parau.

“Kau tahu mengapa Hyu Won-ah.” Balas Kyu Hyun pelan.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Hyu Won pelan lebih kepada dirinya sendiri.

“Maafkan aku, kalau aku bisa mengulang waktu. Aku tak akan pernah menyia-nyiakanmu.” Ucap Kyu Hyun.

Hyu Won membalikan tubuhnya lalu melepas pelukan Kyu Hyun. “Ini terlalu banyak. Terlalu tiba-tiba, bisakah kau memberiku waktu?” tanya Hyu Won.

“Aku tidak bisa menunggu terlalu lama lagi.” Ucap Kyu Hyun tegas.

“Kyu Hyun, sudah tujuh tahun lamanya-…”

“Aku tidak penah melupakanmu, aku tidak bisa menghilangkan dirimu dari kepalaku. Aku mencoba tapi aku tak pernah berhasil. Kau… kau selalu muncul Hyu Won-ah, kau pun tak pernah melupakanku. Jangan menyangkalnya.” Ucap Kyu Hyun menyudutkan Hyu Won.

“Kyu Hyun aku tid-…”

Kyu Hyun menarik kepala wanita itu lalu melumat bibirnya dengan cepat, ia tak membiarkan wanita itu bergerak sesentipun menjauhinya, ia mengunci pergerakan Hyu Won. Kedua tangannya bergerak menekan kepala Hyu Won.

Kyu Hyun melepas lumatannya, keduanya terengah seolah mereka baru saja melakukan maraton. Hyu Won memundurkan tubuhnya karena terlalu shock dengan apa yang baru saja terjadi. Tangannya bergerak menyentuh bibirnya lalu menatap Kyu Hyun.

Kyu Hyun menatap Hyu Won dengan tajam, Hyu Won kembali merasakan sifat Kyu Hyun yang dulu. Pria itu memang selalu berhasil menintimidasi dirinya.

“Ini sudah malam Kyu Hyun-ah, kau sebaiknya pulang.” Ucap Hyu Won.

“Beri aku kesempatan, sekali lagi. Kau mungkin sudah bosan mendengarnya tapi aku mohon berikan satu kesempatan lagi.” Ucap Kyu Hyun penuh keyakinan. Hyu Won meringis pelan melihat wajah memohon Kyu Hyun. Mereka bukan lagi remaja seperti beberapa tahun lalu, mereka sekarang adalah dua orang pria dan wanita dewasa.

“Kyu Hyun-…” Hyu Won memanggil nama Kyu Hyun seolah ia tak mampu mengatakan apa-apa lagi.

“Aku mohon, aku tak akan mengacaukan semuanya lagi.” Ucap Kyu Hyun masih berusaha meyakinkan Hyu Won. “Aku mohon, kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu.” Ucap Kyu Hyun pelan, ia merengkuh wajah Hyu Won.

“Hmm? Aku mohon.” Desah Kyu Hyun lagi.

Hyu Won memejamkan matanya lalu membukanya lagi, sejujurnya ia juga sama seperti Kyu Hyun. Ia tahu semua akan berjalan tergantung pada dirinya. Bila ia mengatakan tidak, ia akan menghentikan segalanya lalu membiarkan mereka kembali pada kehidupan mereka yang dipenuhi kesendirian. Tapi bila ia berkata ya, ia tak akan tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Ia ingin mencoba, mencoba kembali. Ia ingin tahu bagaimana akhr kisah mereka. Ia ingin tahu rencana apa yang akan Tuhan lakukan lagi untuk mereka. Bukankah Tuhan sudah bermurah hati dengan mempertemukan mereka kambali?

“Yah.” Desah Hyu Won akhirnya. Ia mengalami pergolakan batin, ia memang menginginkan pria itu tetapi ada sebagian hatinya yang tak mengizinkan pria itu masuk kembali. Ia tidak takut, ia hanya berusaha mempertimbangkan semuanya matang-matang.

“Aku bersumpah tak akan pernah menyia-nyiakan dirimu lagi.” Ucap Kyu Hyun lalu mengecup dahi Hyu Won.

“Kalau kau kembali mengacaukannya, aku tak akan pernah lagi memberimu kesempatan Kyu.” Ucap Hyu Won dengan suara bergetar namun tegas. Ia bersungguh-sungguh. Kyu Hyun dengan cepat meraih tubuh wanita itu lalu memeluknya dengan erat, seolah wanita itu adalah penopang hidupnya.

****

Hyu Won’s Home

Seoul, South Korea

Semenjak hari di mana Hyu Won memberikan kesempatan kepada Kyu Hyun, hubungan mereka semakin dekat bahkan jauh lebih dekat daripada dulu. Kyu Hyun selalu mengajak Hyu Won dan So Yeon berlibur di akhir pekan, Kyu Hyun bahkan mengantar dan menjemput So Yeon pulang dari sekolah. Kyu Hyun tak ubahnya seperti ayah kandung So Yeon, Hyu Won kadang merasa seolah memanfaatkan Kyu Hyun tetapi pria itu sendiri yang menegaskan ia tak merasa direpotkan ataupun dimanfaatkan.

Seperti pagi ini di hari minggu Kyu Hyun berjalan santai menuju pintu rumah Hyu Won, pria itu membawa dua kantung plastik dan sebuket bunga mawar putih. Bibirnya terus tersungging sepanjang perjalanan menuju rumah Hyu Won.

Kyu Hyun menekan bel lalu berdiri menunggu pintu terbuka, tak sampai beberapa menit Hyu Won membuka pintu. Wanita itu berdiri dan menatap Kyu Hyun dengan terkejut.

“Hai,” sapa Kyu Hyun lalu mengecup pipi Hyu Won. Hyu Won tersipu malu, ia lalu menatap buket bunga di tangan Kyu Hyun.

“Itu untukku?” tanya Hyu Won dengan mengerlingkan matanya.

“Hmm.” Gumam Kyu Hyun lalu memberikan bunga itu untuk Hyu Won. Hyu Won menghirup aroma segar dari mawar putih di tangannya.

“Gomawo.” Ucap Hyu Won.

“Ahjusssiiii!” Hyu Won menolehkan kepalanya dan menatap So Yeon yang berlari ke arah mereka. Gadis itu lantas berlari ke dalam pelukan Kyu Hyun tanpa ragu. Kyu Hyun dengan sigap melepas dua kantung plastik di tangannya lalu meraih tubuh mungil So Yeon, pria itu lantas menggendong So Yeon.

“Hai gadis pandai, bagaimana kabarmu?” tanya Kyu Hyun santai. Ia menggendong So Yeon seperti itu adalah putrinya sendiri.

“Aku baik, aku tak menyangka Ahjussi akan datang.” Ucap gadis mungil itu dengan riang.

“Ya, aku akan menghabiskan hari ini di sini. Boleh, kan?” tanya Kyu Hyun. Kyu Hyun bertanya kepada mereka berdua –Hyu Won dan So Yeon. Hyu Won tahu So Yeon tak akan menolak Kyu Hyun, kalau So Yeon tak menolak maka dirinya tak mungkin menolak pria itu. So Yeon sudah terlalu menyukai Kyu Hyun.

“Tentu saja!” balas So Yeon mantap. Kyu Hyun tersenyum lalu menatap Hyu Won seolah ia berhasil memenangkan hati gadis mungil di pelukannya. Hyu Won hanya memutar matanya melihat tingkah pria itu.

“Kajja! Kita bisa masuk dan bermain di dalam.” Ucap Hyu Won.

****

Hyu Won baru saja akan memanggil Kyu Hyun dan So Yeon untuk makan siang saat ia melihat mereka sedang asik di depan TV. Seorang pria dewasa yang sedang menemani gadis berusia enam tahun menonton kartun dan bermain puzzle adalah pemandangan yang membuatnya takjub. Rasa haru seketika membanjiri perasaannya, melihat So Yeon bahagia seolah membuat hatinya penuh dan tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Terlalu lama So Yeon hidup tanpa seorang ayah di sampingnya.

“Hai, apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Hyu Won saat ia menghampiri Kyu Hyun dan So Yeon.

“Eomma…” ucap So Yeon masih bermain puzzle di depannya. Hyu Won menunduk dan mencium pipi So Yeon. Ia lantas ikut duduk dengan mereka berdua.

“Aku mencium bau wangi dari sini, apakah kau memasak makan siang untuk kami?” tanya Kyu Hyun masih sibuk mencari potongan puzzle.

“Hmm, sebaiknya kita makan siang dulu.” Ucap Hyu Won. Kyu Hyun menghentikan permainan namun So Yeon tidak melepas puzzle dari tangannya, gadis mungil itu terlalu asik dengan mainan di depannya. Kyu Hyun meyakinkan So Yeon bahwa mereka akan bermain lagi setelah makan siang. Gadis mungil itu menurut dan berjalan menuju ruang makan. Kyu Hyun tersenyum melihat So Yeon, Hyu Won bahkan terkejut dengan tingkah putrinya itu. Gadis mungil itu terlalu menurut pada Kyu Hyun.

“Kau selalu pandai membuatnya patuh.” Ucap Hyu Won.

“Tidak sulit, dia pada dasarnya anak yang penurut.” Balas Kyu Hyun santai.

****

Kyu Hyun duduk pada teras rumah Hyu Won, ia menatap matahari di ujung langit. Ia tahu mengapa Hyu Won memilih rumah ini, mungkin karena pemandangan yang begitu indah di sore hari seperti sekarang ini. Dia selalu menyukai langit sore sama seperti Hyu Won. Mereka menyukai matahari tenggelam dan jingga di ujung langit. Tetapi beberapa tahun terakhir ia tak pernah lagi mau melihat matahari tenggelam karena semuanya membuatnya teringat bagaimana hatinya hancur saat Hyu Won pergi meninggalkannya. Sekarang ia kembali melihat matahari sore dan hatinya terasa hangat. Ia merasa seolah sudah bertahun-tahun lamanya tak merasakan perasaan hangat seperti sekarang ini.

“Apa yang kau lakukan sendirian di sini?” suara Hyu Won mengagetkan Kyu Hyun. Kyu Hyun menolehkan kepalanya dan menatap Hyu Won yang kini berdiri di dekat pintu masuk.

“Di mana So Yeon?” tanya Kyu Hyun.

“Dia barus saja tertidur, ia sangat kelelahan tampaknya.” Jawab Hyu Won.

Kyu Hyun menepuk tempat kosong di sebelahnya, “ke marilah…” perintah Kyu Hyun. Hyu Won mendekat lalu duduk di sebelah Kyu Hyun.

“Indah sekali, kan?” tanya Hyu Won pada Kyu Hyun. Ia tahu pria itu sedang melihat matahari di ujung langit.

“Hmm, indah tak seperti beberapa tahun lalu.” Balas Kyu Hyun santai, Hyu Won menegang seketika. Kyu Hyun tak bermaksud menyindir gadis itu, ia hanya mengutarakan isi hatinya.

“Maaf.” Ucap Hyu Won pelan, itu dari lubuk hatinya. Hyu Won tahu ucapan Kyu Hyun merujuk pada penderitaannya bertahun-tahun lalu. Ia tahu hari di mana ia menikah dengan Donghae adalah hari di mana kehancuran Kyu Hyun. Jangan bilang ia tak memikirkan perasaan pria itu, ia memikirkan perasaan Kyu Hyun. Ia memikirkan bagaimana Kyu Hyun mungkin menunggunya hari itu tapi ia sudah membuat pilihan dan harus memilih. Pilihannya dalah Lee Donghae saat itu.

“Gweanchanna, mungkin seharusnya begitu. Aku terlalu banyak menyakitimu. Kau punya hak untuk hidupmu. Aku mencoba menerimanya.” Ucap Kyu Hyun masih menatap langit.

“Kau tak bisa.” Sambung Hyu Won.

Kyu Hyun menolehkan kepalanya dan menatap Hyu Won. “Ya, aku tak bisa. Sekuat apapun aku mencoba, aku tak bisa. Aku tahu suatu saat kita akan bertemu tapi aku tak pernah mau membayangkan seperti apa kondisi kita bila kita bertemu nanti. Aku terus menunggu tanpa tahu kau akan datang atau tidak, aku tidak peduli asal kau tahu saja. Aku terus memperbaiki diriku, terus berharap dan tidak pernah malu dengan harapanku. Sejujurnya aku tak pernah lelah menunggumu tetapi hidup sendiri tanpa kejelasan membuatku bertanya untuk semua hal. Apakah kau memang akan kembali padaku atau kau akan hidup bahagia dengan Lee Donghae…” Kyu Hyun memberi jeda untuk bernafas, emosinya kembali tak bisa ia tahan. “Aku memutuskan untuk tak menunggumu empat tahun lalu… tidak, sebenarnya tidak benar-benar memutuskan untuk tidak menunggumu. Aku masih menyimpan harapan kecil di hatiku. Kalau aku tahu empat tahun lalu kau sudah tak bersama Donghae… seharusnya aku lebih banyak bersabar untukmu. Untuk cintaku.” Ucap Kyu Hyun tak mampu menahan diri lagi. Ia menundukan kepalanya seolah ia mengutuk semua hal yang terjadi antara dirinya dan Hyu Won.

Hyu Won tak kuasa mendengar semua ucapan Kyu Hyun. Pria selalu mengatakan ia masih menunggunya meskipun ia telah menikah, ia tak pernah tahu karena pria itu memang tak pernah menunjukan dirinya lagi. Ia merasa begitu jahat dan egois, ia bahagia sementara pria itu tidak sama sekali.

“Kyu…” ucap Hyu Won berbisik. Ia merengkuh tubuh Kyu Hyun lalu memeluk pria itu. “Sekarang aku di sini.” Ucap wanita itu parau.

“Yah…  kau di sini. Tuhan mungkin sedang menguji kita saat itu. Menjauhkanmu dari diriku tetapi pada akhirnya mempertemukan kita kembali. Kau tahu, satu waktu aku begitu marah padanya tetapi aku tahu sekarang jawaban dari semua amarahku. Kau di sini… ya, terima kasih.” Ucap Kyu Hyun dalam pelukan Hyu Won.

“Hmm…” angguk Hyu Won. Air matanya mengalir tiba-tiba, ia terlalu terbawa suasana.

Kyu Hyun melepas pelukan mereka lalu merengkuh wajah Hyu Won. Ia menghapus air mata Hyu Won dengan ibu jarinya. “Jangan menangis, percayalah kau terlihat seperti beberapa tahun silam.” Ejek Kyu Hyun, Hyu Won memukul bahu pria itu pelan.

“Aku suka dengan rumah ini, kau dan Donghae pandai memilihnya.” Ucap Kyu Hyun.

“Aku dan Donghae?” ucap Hyu Won tak setuju, Kyu Hyun menatap Hyu Won lalu mengerutkan dahinya.

“Kau bilang kami membeli rumah ini.” Ucap Kyu Hyun.

“Aku dan So Yeon yang memilih rumah ini, kami pindah ke mari beberapa tahun setelah Donghae oppa meninggal karena tumor otak yang ia derita. Dokter bilang itu semua terjadi karena kecelakaan yang pernah ia alami dulu. Aku dan So Yeon ingin memulai sesuatu yang baru, kepergian Donghae oppa membuat kami sangat terpukul. So Yeon sangat mencintai ayahnya tetapi aku tak bisa hidup terus dengan kesedihan bila mengingat kebersamaan kami di rumah lama kami, kuputuskan untuk membeli rumah ini. Jadi kau salah besar jika menyangka rumah ini adalah rumah kami.” Ucap Hyu Won mencoba menjaga perasaan Kyu Hyun.

Kyu Hyun merasa lega, setidaknya ini bukan tempat di mana kenangan antara Hyu Won dan Donghae masih tersisa.

“Hyu Won-ah,” Kyu Hyun memanggil nama Hyu Won penuh dengan perasaan, pria itu merogoh sesuatu di saku celananya. Hyu Won mengerutkan dahi melihat Kyu Hyun berdiri dari duduknya. Pria itu tiba-tiba berlutut di hadapan Hyu Won dengan kotak beludru di tangannya. Hyu Won berdebar memikirkan apa yang akan Kyu Hyun katakan selanjutnya. Pria itu membuka kotak beludru dan membuat Hyu Won merasa akan pingsan detik itu juga.

“Aku ingin kau menikah denganku.” Ucap Kyu Hyun tenang bahkan jauh lebih tenang dari apapun. Mata pria itu menatap tajam ke arah Hyu Won, menunggu apa yang akan wanita itu katakan padanya.

“Apa… apa yang kau lakukan?” tanya Hyu Won dengan tergagap-gagap.

“Menikahlah denganku, Hyu Won-ah.” Ucap Kyu Hyun penuh keyakinan. Hyu Won bernafas dengan cepat, jantungnya berdetak tak tentu. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Kau terlalu terburu-buru,” ucap Hyu Won pelan. “Ini terlalu cepat. Kau terburu-buru Kyu.” Ucap Hyu Won.

Kyu Hyun menutup kotak beludur tanpa menatap Hyu Won seolah hatinya kembali hancur tetapi ia tak ingin Hyu Won melihatnya. Ia lantas bangun dari posisinya dan berdiri menatap Hyu Won. “Aku tidak terburu-buru. Dan kau berpikir ini terlalu cepat? Mau berapa lama lagi kau membuatku menunggu… membuat kita menunggu? Tidak cukupkah bertahun-tahun lamanya kita hidup terpisah?” tanya Kyu Hyun penuh penekanan.

“Demi Tuhan kita baru saja bertemu dan kau sudah melamarku, kau hanya takut.” Ucap Hyu Won tak sadar ia telah berteriak, emosinya ikut tersulut.

“Ya. Tentu saja aku takut. Aku takut kehilangan dirimu lagi. Bertahun-tahun hidup tanpamu membuatku hidup tanpa jiwa dan perasaan, Kang Hyu Won! Aku hidup tapi aku tak tahu ke mana arah hidupku.” Ucap Kyu Hyun dengan emosi.

Hyu Won memeluk dirinya sendiri. “Orang tuaku… orang tua Donghae oppa mereka akan bertanya tentang semua ini.” Bisik Hyu Won.

Kyu Hyun mendengus. Ia sudah menyangka Hyu Won akan berkata seperti ini. “Ini hidupmu demi Tuhan, dan maafkan aku karena aku sudah lebih dulu bertemu dengan orang tuamu sebelum aku memintamu menikah denganku.” Ucap Kyu Hyun seolah ini adalah perjuangan terakhirnya melawan Hyu Won.

“APA? Kau… kau tidak mungkin melakukan itu.” Ucap Hyu Won dengan menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang Kyu Hyun katakan.

“Sayangnya, ya. Semuanya mungkin saja, aku sudah lebih dulu meminta restu pada ayah dan ibumu.” Ucap Kyu Hyun.

Hyu Won duduk lemas dan menatap Kyu Hyun. “Kau melakukannya? Apakah kau bersungguh-sungguh?” tanya Hyu Won.

Kyu Hyun menarik nafas lelah. “Ya, Hyu Won. Aku bersungguh-sungguh. Seharusnya aku melakukan ini sejak dulu. Seharusnya aku melamarmu sejak dulu.” Ucap Kyu Hyun seolah menyesali semua kebodohan dirinya yang tidak mengikat wanita itu sejak dulu.

Pria itu kembali berlutut di hadapan Hyu Won, ia memegang kedua lutut Hyu Won seolah meminta wanita itu untuk menatapnya. “Aku takut… aku sangat takut kau pergi lagi dari diriku. Kau hanya merasa tak enak dengan keluargamu, kau merasa bersalah pada keluarga mantan suamimu. Percayalah, ini hidupmu. Mereka akan mengerti. Aku sangat ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu. Aku ingin menua bersamamu. Aku ingin melakukan semua hal denganmu… dengan So Yeon. Aku ingin hidup bersama kalian. Aku ingin menjagamu dan So Yeon, Hyu Won-ah… Aku ingin membahagiankanmu. Membahagiakan kalian.” ucap Kyu Hyun dengan lembut, ia ingin Hyu Won mempercayainya. Hyu Won mulai berkaca-kaca kembali. Ia tak tahu mengapa semua terasa begitu mengharukan.

“Aku mohon, menikahlah denganku.” Ucap Kyu Hyun lagi. Kali ini suaranya terdengar penuh dengan permohonan dan sebuah janji.

Hyu Won menatap Kyu Hyun lalu memeluk pria itu dengan erat. Ia tak ingin menyiksa pria itu lagi. Ia tak ingin menyiksa dirinya lagi. Ia akhirnya melihat dengan jelas ketulusan dan keseriusan di mata Kyu Hyun.

“Ya. Aku akan menikah dengamu.” Ucap Hyu Won tenang namun tegas. Seketika suasana berubah menjadi ledakan tangis di antara mereka berdua.

Kyu Hyun merasa seolah seseorang baru saja memberikan dunia padanya, air mata mengalir dari matanya. Ia membalas pelukan Hyu Won dengan erat.

“Aku akan menjaga kalian.” Bisik Kyu Hyun.

“Kau akan menjadi ayah yang baik untuk So Yeon…” ucap Hyu Won di tengah nafasnya yang tak beraturan. Ia masih sesenggukan di dalam pelukan Kyu Hyun. Kyu Hyun tak bisa berkata-kata, ini terlalu membuatnya bahagia. Ia berdiri lalu membawa Hyu Won pada pelukannya. Ia menatap senja di ujung langit. Matahari tenggelam sekarang milik mereka kembali.

****

The Wedding…

Hyu Won memandang pantulan dirinya di cermin. Eun Ji berdiri menatap sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca.

“Kau yakin dengan dia?” tanya Eun Ji.

“Aku sangat yakin Eun Ji-ya.” Balas Hyu Won penuh keyakinan.

“Kau mencintainya?”

“Aku tidak pernah berhenti mencintainya.” Ucap Hyu Won masih tersenyum. Ia merasa begitu bahagia hari ini. Ia penasaran bagaimana rupa Kyu Hyun hari ini.

“Aku berdoa untuk kebahagiaannmu.” Ucap Eun Ji lalu memeluk Hyu Won, Hyu Won balas memeluk wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka di bangku kuliah itu.

“Ia tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi Eun Ji-ya, ia berjanji.” Ucap Hyu Won.

“Aku percaya padanya.” Ucap Eun Ji dan mendapat tatapan heran dari Hyu Won, Eun Ji tak pernah suka apalagi mempercayai Kyu Hyun tetapi sekarang ia justru berbalik seolah ada di pihak Kyu Hyun.

“Ia datang padaku dan meminta maaf. Ia meminta restuku.” Ucap Eun Ji pelan. Hyu Won menganga mendengar penuturan sahabatnya itu.

“Berapa banyak orang yang ia temui sebenarnya.” Ucap Hyu Won masih tak percaya.

“Dia mungkin pada akhirnya menyadari semua kebodohan dan kesalahan yang ia lakukan, Hyu Won-ah. Kali ini aku mempercayai ketulusannya.” Ucap Eun Ji pelan, air matanya tak sengaja menetes. Ia terlalu bahagia dan larut dalam kisah cinta Hyu Won dan Kyu Hyun.

“Sshh… aku yang menikah mengapa kau yang menangis?”

“Maafkan aku, aku terlalu larut dalam kisah tragis hidupmu.” Canda Eun Ji.

“Sialan kau.”

“Eomma!” Teriakan So Yeon membuat Eun Ji dan Hyu Won memalingkan wajah mereka ke arah pintu.

“Keponakanku yang cantik, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?” tanya Eun Ji sambil berlutut menyamai tingginya dengan So Yeon.

“Ne, aku akan menjadi pengiring pengantin yang cantik untuk Eomma dan Kyu Hyun Appa.” Ucap So Yeon polos. Wajahnya tersenyum lebar. Hyu Won menatap putrinya dengan senyum bahagia.

“Kajja!” ucap Eun Ji lalu membantu Hyu Won berjalan.

Mereka keluar dari kamar rias lalu berjalan menuju sebuah pintu besar di mana dua orang penjaga berdiri. Musik pernikahan mulai berbunyi. Hyu Won berdiri menunggu dan meremas jarinya berusaha menghilangkan ketegangan. Dua orang tadi membuka pintu untuk Hyu Won dan So Yeon. Semua orang berdiri dan menatap Hyu Won dengan wajah berbinar bahagia. Hyu Won menatap kedua orang tuanya maupun kedua orang tua Donghae, mereka menatap haru. Bahkan Ibu Donghae menitikan air matanya. Hyu Won manatap Ahra yang berdiri sambil menyeka air matanya. Mengapa semua orang menangis? Tapi Hyu Won tahu itu tangis bahagia.

Hyu Won mengangkat kepalanya untuk melihat Kyu Hyun tetapi ia tak bisa melihat dengan jelas. Ia berjalan di atas taburan mawar yang So Yeon tabur sepanjang jalan, ia tersenyum menatap putri kecilnya.

Langkah Hyu Won semakin dekat dengan Kyu Hyun, ia merasakan tatapan panas terbakar dari mata Kyu Hyun. Pria itu menatap Hyu Won seolah tak ada hari esok. Matanya berbinar penuh kebahagiaan dan ketidaksabaran. Kalau ia sudah tak waras, ia ingin berlari dan memeluk Hyu Won. Wanita itu terlalu cantik di hari pernikahan mereka.

Hyu Won mengangkat kepalanya dan menatap tepat di manik mata Kyu Hyun. Hyu Won bergetar melihat Kyu Hyun. Pria itu berbalut tuksedo hitam. Hyu Won merasa lemas dengan tatapan Kyu Hyun. Tatapan pria itu adalah semua yang bisa ia rasakan. Kepemilikan, gairah, keinginan membara, dan semua tatapan lembut kebahagiaan.

Hyu Won akhirnya bergabung berdiri di samping Kyu Hyun, pria itu meraih tangan Hyu Won lalu menggengamnya seolah memberikan semua hidupnya untuk wanita itu. Hyu Won merasa seolah ia dicintai dan disayangi. Akhirnya pria yang ia inginkan sejak ia kecil kini berdiri di hadapannya. Air mata mendesak untuk keluar tapi ia menahannya.

Pendeta mulai membacakan sumpah pernikahan, ia menatap kedua pengantin lalu mulai menarik nafas.

“Cho Kyu Hyun, apakah anda bersedia menikahi Kang Hyu Won dan mencintainya dengan setia seumur hidup dalam suka maupun duka, menghormati dan menghargainya sekarang dan selamanya?” tanya Pendeta.

“Saya bersedia.” Jawab Kyu Hyun tanpa meninggalkan tatapannya dari Hyu Won.

“Kang Hyu Won, apakah anda bersedia menikahi Cho Kyu Hyun dan mencintainya dengan setia seumur hidup dalam suka maupun duka, menghormati dan menghargainya sekarang dan selamanya?” tanya Pendeta.

Hyu Won menatap gugup ke arah Kyu Hyun begitupun sebaliknya. Kyu Hyun tahu Hyu Won akan mengatakan kalimat yang sama seperti apa yang ia katakan tetapi rasa gugup itu tetap ada.

Hyu Won menarik nafasnya dengan yakin. Ia yakin pria di hadapannya adalah pria yang Tuhan kirimkan untuk dirinya. Ia tahu bagaimana sulitnya mereka melewati semuanya hingga titik ini.

“Saya bersedia.” Jawab Hyu Won tegas.

Semua orang berdecak senang. Kyu Hyun mengedipkan matanya ke arah So Yeon yang kini berdiri menatap mereka. Gadis mungil itu tersenyum lebar melihat Eomma dan calon Appanya itu. Ia mengacungkan jempol ke arah Kyu Hyun. Hyu Won menundukan kepalanya menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

Appa, apakah kau bisa lihat Eomma begitu bahagia? Aku harap Appa juga berbahagia di atas sana. Kau tidak perlu khawatir, Kyu Hyun Appa menyayangi kami. Ia yang akan menjagaku dan Eomma. Aku menyayangimu. Ucap So Yeon di dalam hati.

Pendeta mulai meresmikan pernikahan Kyu Hyun dan Hyu Won. Mereka saling menatap seolah ini adalah apa yang mereka tunggu sejak dulu. Seharusnya semua ini terjadi sejak dulu. Kalau Kyu Hyun ataupun Hyu Won bersabar sedikit dengan cinta mereka mungkin mereka sudah bersama sejak dulu tetapi siapa yang tahu apa yang sudah diatur oleh Tuhan? Sejauh dan selama apapun kau pergi dan terpisah dengan orang yang kau cintai bila memang dia adalah jodohmu maka Tuhan akan menunjukan kuasanya untuk mempertemukan kalian kembali. Karena Tuhan sudah dengan mutlak mengukir namamu berdampingan dengan nama jodohmu.

Pagi ini di depan banyak orang yang menyaksikan pernikahan mereka, Kyu Hyun merasa dirinya kembali hidup. Bagi Kyu Hyun Hyu, Won adalah matahari yang kembali terbit setelah bertahun-tahun lamanya terbenam. Dan begitupun sebaliknya Hyu Won, Kyu Hyun adalah sinar yang tidak akan pernah redup untuk kehidupannya dengan So Yeon. Ia tidak akan lagi tenggelam dalam kesedihan dan kesendirian.

Kyu Hyun meraih cincin emas putih dengan berlian cantik di atasnya, ia memasangkan cincin itu di jari manis Hyu Won begitupun sebaliknya.

“Seseorang pernah mengatakan manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan dan yang mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan. Percayalah, aku sudah merasakan semua itu. Aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu lagi, aku mencintaimu Cho Hyu Won.” Ucap Kyu Hyun lembut.

Hyu Won tersenyum pada Kyu Hyun, matanya berkaca-kaca. Ini adalah pria yang akan menghabiskan sisa hidupnya bersamanya. Ini adalah pria yang selalu ia impikan sejak masa remaja hingga kehidupan dewasanya.

“Aku percaya padamu dan aku mencintaimu sekarang dan selamanya, Cho Kyu Hyun.” Balas Hyu Won.

THE END

 

 

17 Comments (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Mar 22, 2015 @ 20:02:50

    owww,,, akhirnya mereka bisa bersama juga setelah melewati ujian yg bertubi2……
    ending yg meharukan,,,,,

    Reply

  2. elmaaaa
    Mar 22, 2015 @ 20:36:52

    sweet bgt :’)
    daebakkk deh buat authornya (y)

    Reply

  3. ririekim
    Mar 23, 2015 @ 00:40:41

    Waw… DAEBAKKKK THORRR..
    mengharukan.. kisah kyuhyun dan hyu won perjuangan batin dan citna.. bacanya sampe nangis nagis + sesegukan..

    Reply

  4. nadia
    Mar 23, 2015 @ 08:11:52

    daebaaakk ceritanyaaa .. maaf baru comment dipart ini.. dan aku nangis waktu bacanya apalagi dipart 1.. ceritanya bener2 daebak thor .. saya suka saya sukaa~ baru kali ini lhoo aku nangis karna baca cerita wkwk hebat dehh pokoknya

    Reply

  5. nanat
    Mar 23, 2015 @ 09:26:50

    Yeeey happy ending ^^ takdir mempertemukan mereka kembali dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. Btw hwd hyuwon & kyuhyun cepet kasi dedek buat soyeon ya

    Reply

  6. Monika sbr
    Mar 23, 2015 @ 18:41:49

    Oooh….. So sweet!!!
    Penantian panjang kyuhyun akhirnya bisa membuat mereka bisa bersatu dan bahagia selamanya……

    Reply

  7. Novita Arzhevia
    Mar 23, 2015 @ 19:21:12

    daebakkk thor (y) tidak bisa berkata-kata lagi ini terlalu mengagumkann. . Sampai nangis bacanya, kisah cinta yg hebat dan mengharukan

    Reply

  8. esakodok
    Mar 24, 2015 @ 11:53:07

    kalo jodoh pasti ketemu dan bersatu lagi ya
    .walau sudah terpisah jauh…hidup penuh misteri…q suka ffnya..nice ff..makna nya dalem penuh pelajaran hidup

    Reply

  9. evi
    Mar 24, 2015 @ 23:14:24

    dan akhir ny happy ending!!

    Reply

  10. fatimatus19
    Mar 25, 2015 @ 01:09:04

    Happy ending

    Reply

  11. mierna_sakura
    Mar 25, 2015 @ 16:34:43

    bca ff ne bikin hatiqu nyesek, tapi ngak pa2 y penting happy ending

    Reply

  12. tabiyan
    Mar 26, 2015 @ 07:08:45

    Baru komen disini maaf ya! Abisnya seru bgt ceritanya keren, jd pengen buru2 tau kelanjutannya heheheheeh.

    Reply

  13. tiara cho
    Mar 27, 2015 @ 08:06:53

    Sumpah ini ff daebak bgt. Mirip lirik yg terkandung di at gwanghwamun, at close , dan eternal sunshine. Sumpah keren baca aja deh liriknya dan pahami artinyaa

    Reply

  14. FriendsLee
    Mar 30, 2015 @ 21:10:08

    Huuuaaa ;(

    So Sweet bnget, jdi terharu+aku suka Happy Ending.🙂

    Reply

  15. nazaki
    Apr 01, 2015 @ 01:16:16

    Tdinya smpet bnci bgt ma kyu,bner pria brengsek. Tp stlah kyu jg ngrasain derita yg sma slma brthun2,speryinya kyu udh ckup dpt hukuman.they deserve to be happy…
    Suka ffnya,daebak. Mo cri blog pribadi author,biar bs bca ff yg lain😉

    Reply

  16. ayu diyah
    Apr 01, 2015 @ 11:30:32

    happy ending… suka suka suka
    emg bner ya,, klu jodoh , gimana pun jalan nya psti tetap bersatu

    Reply

  17. Tiara Ramadhani
    Aug 25, 2015 @ 02:13:54

    Ending nya mengharukan.
    Ceritanya bagus..
    Setelah 2 part dibuat sesak dan mata sembab bacanya.
    Thank’s thor udh buat ff ini. Aku suka bgt

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: