[Season 2] Winter’s Song [2/2]

 

Season 2

 

[Season 2] Winter’s Song (Part 2/End)

By. Lauditta Marchia T

Main Cast : Lee Donghae & Hyun Bi Hyul (OC)

Support Cast : Choi Siwon, Lee Hyukjae, Song Hyori (OC), Song Hyena (OC) & Kang Min Kyung (OC)

Genre : Commedy, Romance

Note : Season sengaja dikemas dalam commedy romance yang ringan. Jadi serial Season dimulai dari Season 1 s.d. Season 4, kemungkinan kalian tidak akan menemukan konflik yg berat. Mohon untuk tidak melakukan tindakan PLAGIAT!

***

 

#Author’s POV#

14 Februari.

Hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang, terutama para muda-mudi—tak terkecuali di Chongdam High School. Ketika memasuki sekolah, sudah terlihat para gadis yang memamerkan kado yang akan diberikan maupun pemberian dari orang spesial. Bi Hyul orang pertama tiba di kelas yang belum berpenghuni, tak berapa lama kemudian si kembar Hyori dan Hyena, juga gadis pemarah Min Kyung—memasuki kelas.

“Aku benci valentine,” keluh Min Kyung.

“Kau benci valentine karena tak ada pemuda yang menyatakan cinta padamu,” ledek Hyori.

“Bagaimana denganmu? Kau lebih menyedihkan dibandingkan aku—mengejar Siwon yang bahkan mengarahkan ekor matanya padamu tidak dia lakukan,” Min Kyung menyengir hebat. “Hyena, apa yang akan kau berikan pada Hyukjae?” tatapan Min Kyung teralih pada Hyena.

Gadis itu diam. Masih mencerna ucapan Min Kyung.

“Apa hari ini ulang tahun Hyukjae?” pertanyaan polos yang keluar dari mulut Hyena membuat ketiga gadis lainnya mendesah kesal.

“Hyena, kau tak tahu jika hari ini adalah hari yang paling dinantikan oleh semua orang?” Hyori mendelik.

Valentine. Ini hari valentine, Hyena,” Min Kyung menambahkan.

“Sudahlah, apa kalian lupa jika gadis ini baru saja bangkit dari kematian?”

“HYUN BI HYUL!!!”

Sekejap Bi Hyul menyumbat telinganya agar teriakan histeris Min Kyung dan Hyori tak merusak gendang telinganya.

“Kau ingin membuka segel kutukan Hyena?” Min Kyung menggeram pelan di telinga Bi Hyul, berusaha agar Hyena tak mendengar perkataannya.

“Baiklah,” Bi Hyul menjawab malas-malasan. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku.

Tatapan mereka teralih pada kedatangan seorang murid laki-laki. Tubuhnya cukup jangkung dan yang membuat Hyori, Min Kyung juga Bi Hyul saling pandang penuh arti karena pemuda itu berpenampilan aneh, ada riasan eye liner di matanya—ia berpenampilan gotic. Ketiga gadis itu saling pandang, lalu perlahan-lahan menoleh pada Hyena yang begitu tenang membaca buku. Penampilan murid lelaki itu dikhawatirkan dapat membangkitkan jiwa kelam Hyena.

“Siapa kau?” TANYA Bi Hyul kasar.

Siswa itu tak bergeming. Ia berjalan dan berhenti tepat di hadapan Hyena membuat gadis itu terpaksa mengangkat wajahnya, memandangi pemuda itu.

“Kau—senior Song Hyena?” Tanya pemuda itu. “Senior, aku pengagummu,” ia berkata dengan sangat plong.

Min Kyung, Bi Hyul dan Hyori tercekat. Dada mereka sesak. Lagi-lagi mereka harus mengakui bahwa saat ini Hyena adalah bintang utama dan mereka hanyalah peran pembantu. Pesona Hyena sangat nyata.

“Apakah sekolah kita kekurangan murid laki-laki?” Min Kyung menggeram menyadari tak ada satupun yang menghampirinya sekedar mengucapkan selamat hari valentine.

Tawa Bi Hyul justru pecah melihat Hyori menggigit sapu tangan yang dipegangnya seakan berusaha mencabik-cabik benda tersebut.

“Tidak bisa dipungkiri. Senior kau memang sangat cantik,” ucapan pemuda itu membuat ketiga gadis lainnya iri. Peruntungan Hyena sangat baik. “Hanya saja, senior aku lebih menyukai penampilanmu dulu—kau terlihat jauh lebih cantik sebelumnya.”

Bi Hyul, Min Kyung dan Hyori oleng seketika setelah mendengar lanjutan pengakuan murid itu. Pemuda itu meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja, tepat di hadapan Hyena yang masih terdiam.

“Senior, aku…,”

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya ketika Min Kyung, Hyori dan Bi Hyul menyeretnya keluar kelas.

“Siapa murid stress ini?” Hyori mulai ketakutan memandangi pemuda yang tampak tak beraksi—sangat tenang.

“Apa perlu aku membuangnya dari sini?” Bi Hyul begitu berambisi melempar pemuda tersebut ke lantai dasar.

Ada saja tantangan dan rintangan ketika Hyena telah memutuskan menjadi gadis normal.

“Apa yang kalian lakukan pada Hyena-ku?”

Brugh! Bunyi itu terdengar ketika kepala Hyori dan Min Kyung saling terantuk. Tubuh mereka kehilangan tenaga mendengar pertanyaan pemuda itu.

“Hye..Hyena—kuuuu???” Bi Hyul memegangi dadanya. Ia tak yakin jika posisi jantungnya tak bergeser.

Murid itu hanya menatap penuh amarah pada tiga gadis yang tampangnya seperti orang idiot. Shock.

“Hyena-ku?” pertanyaan yang sama dengan pertanyaan Bi Hyul terdengar kembali. Pemuda itu beserta tiga gadis yang mencoba mengumpulkan kesadaran kini menoleh pada seorang pemuda yang tengah berdiri tak jauh dari mereka.

Lee Hyukjae. Mereka bergidik melihat aura menyeramkan di sekeliling Hyukjae. Entah mengapa ia terlihat sangat menakutkan? Tubuhnya bergetar—menahan kegeraman.

“Kau bilang, Hyena-ku?” Hyukjae mengepal tangannya. Serasa melihat api yang mengelilingi seluruh tubuh Hyukjae. “Jika kau masih mengatakan kata-kata itu, maka aku…,”

TIK.

Seperti magic, pemuda berpenampilan gotik itu menghilang secepat angin sebelum Hyukjae melanjutkan kalimatnya. Ia pasti sangat ketakutan.

“Kalian baik-baik saja?” Hyukjae keheranan melihat Bi Hyul, Min Kyung dan Hyori memegangi kepala masing-masing, berjalan terhuyung-huyung sambil mencari apapun yang bisa dipegang untuk membantu tubuh mereka agar tetap berdiri teguh.

“Semoga kami akan baik-baik saja,” gumam Hyori.

Hyukjae semakin kebingungan. Tentu saja, ia tak mengira jika tindakannya barusan dianggap sebagai sesuatu yang sangat romantis dan hal tersebut membuat tiga gadis itu merasakan tulang-tulang di tubuh mereka melunak—tak sanggup menampung rasa iri bercampur haru.

Dengan sisa tenaga yang ada, ketiga gadis itu masuk ke dalam kelas. Langkah mereka terhenti, raut wajah mereka langsung berubah drastis. Kado pemberian pemuda berpenampilan gotic tadi telah terbuka.

OH MY GOD!” ketiga gadis itu berteriak serentak melihat Hyena telah mengayunkan kalung berbandul dua tengkorak di depan matanya. Mata Hyena terlihat aneh, aura seram yang mulai berpendar dari tubuhnya dirasakan oleh Min Kyung, Hyori dan Bi Hyul. Bulu badan mereka meremang.

Hyukjae menerobos tiga gadis yang masih berdiri kaku. Ia berjalan cepat menghampiri Hyena, dengan sigap Hyukjae mengambil kalung di tangan Hyena dan langsung melempar kalung itu keluar jendela. Hyena tersentak, ia seperti baru mendapatkan kesadarannya kembali.

“Hyukjae, itu…,”

Hyukjae menatap Hyena dengan sangat tenang. Ia lalu membungkukkan tubuhnya, merundukkan kepalanya mendekati Hyena yang masih duduk tenang di tempatnya. Tanpa diperhitungkan Hyena ketika bibir Hyukjae telah menyatu dengan bibirnya. Bola mata Hyena langsung melebar. Terkejut. Bahkan ketika Hyukjae melepas rekatan bibir mereka, mata Hyena masih belum berkedip. Pemuda itu tersenyum melihat reaksi Hyena. Ia kembali membungkukkan badannya.

Happy valentine,” Hyukjae berbisik lembut di telinga Hyena.

Seringai Hyukjae kian melebar melihat Hyena masih tak berkutik. Ia mengelus lembut kening Hyena sebelum akhirnya berbalik hendak meninggalkan kelas itu. Namun Hyukjae terpekik melihat Bi Hyul, Hyori dan Min Kyung telah terkulai di ubin. Merangkak dan berusaha untuk bangkit.

“Apa yang terjadi? Kalian sakit?” Hyukjae tampak cemas.

“Kami…baik-baik..saja…,” Min Kyung dengan susah payah mencoba menjawab pertanyaan Hyukjae.

“Benarkah? Kalian tak apa-apa?” Hyukjae tak begitu yakin, sedari tadi ketiga gadis itu bertingkah aneh.

“Jangan perdulikan kami—pergilah…,” usir Hyori, ia lemas, “Ah—udara panas membuat kami ingin menikmati dinginnya ubin ini,” Hyori berkata sambil tertawa salah tingkah ketika Hyukjae masih tak berkutik. Demi meyakinkan Hyukjae, Hyori kembali membaringkan tubuhnya di lantai.

“Ah benar. Idemu brilliant—sangat sejuk di sini,” mau tak mau Min Kyung dan Bi Hyul mengikuti ide gila Hyori

“Hyukjae, kau pergilah,”Bi Hyul kembali meyakinkan Hyukjae.

“Baiklah,” Hyukjae meninggalkan kelas meskipun tak menyurutkan keheranannya. “Udara panas? Bukankah saat ini masih musim dingin? Bahkan di luar salju sedang turun,” batin Hyukjae.

Sepeninggal Hyukjae, ketiga gadis itu kembali duduk. Mereka saling pandang—bola mata mereka kian berbinar-binar.

“KYAAA!!!” bersama-sama mereka berteriak histeris. Untuk kedua kalinya Hyukjae bersikap romantis dan itu melebihi perkiraan mereka. “KYAAAAAAAA!!” mereka kembali berteriak, bahkan lebih histeris lagi ketika mengingat adegan ciuman yang baru beberapa menit lalu terjadi di depan mereka.

Dengan penuh haru ketika Hyori menoleh ke arah Hyena, “Hyena—kau…,” namun ia tak dapat meneruskan ucapannya dan dua gadis lainnya ikut terkejut melihat Hyena yang telah terkulai tak sadarkan diri di lantai, hidungnya bahkan mengeluarkan cairan merah—mimisan.

Ciuman Hyukjae seperti sebuah pukulan hebat bagi Hyena. Gadis itu terlalu polos, tubuhnya seakan tak mampu menahan debaran jantungnya yang bekerja keras beberapa waktu lalu.

 

***

 

Bi Hyul duduk seorang diri di dalam kelas yang telah kosong. Murid-murid sudah meninggalkan sekolah. Hari ini banyak sekali kejadian yang tak terduga. Dimulai dari aksi Hyukjae yang berakhir dengan Hyena yang kehilangan kesadaran. Lalu Hyori yang mencuri semua hadiah yang diberikan para gadis kepada Siwon. Pemuda itu pasti terkejut ketika membuka loker dan hanya mendapati sebuah kado yang tak lain adalah pemberian Hyori.

Satu hal lagi yang cukup mengganggu ketenangan Bi Hyul. Sehari ini, beberapa kali ia memergoki gadis-gadis yang terus mengikuti Donghae—mencari kesempatan untuk menyerahkan kado valentine atau mungkin menyatakan cinta pada Donghae.

“Apakah mereka buta? Ataukah mereka memang gila?” Bi Hyul gusar, mempertanyakan kewarasan gadis-gadis yang menaruh hati pada Donghae.

“Sepertinya kau sedang terganggu?”

Bi Hyul menoleh pada Donghae yang telah berdiri di ambang pintu kelas. Donghae berjalan menghampiri Bi Hyul. Memutar arah bangku di depan meja Bi Hyul dan duduk di atasnya sehingga posisinya berhadapan dengan Bi Hyul—jarak diantara mereka hanya dipisahkan oleh meja.

“Aku ingin tahu—hal apa yang begitu mengganggu seorang Hyun Bi Hyul?” Donghae menopang dagunya. “Apa karena aku?” ia tersenyum.

“Kiamat!” Bi Hyul melempar Donghae dengan sebuah buku yang terletak di atas meja. Donghae hanya tertawa—seperti biasanya.

“Kudengar hari ini Hyena mendapatkan ciuman pertamanya? Wah—bravo. Kalian bertiga memang tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Hyena,” Donghae menggeleng prihatin sehingga membuat emosi Bi Hyul kian tersulut. “Honey, kau tak pernah mengatakan padaku—siapa ciuman pertamamu?” pancing Donghae.

“Kau tak perlu tahu itu.”

Gosh. Jangan katakan jika kau juga belum pernah berciuman? Hyori dan Min Kyung pasti memiliki nasib yang tak berbeda jauh denganmu—mengenaskan.”

Donghae memamerkan tawanya yang selalu membuat Bi Hyul naik pitam.

“Bagaimana denganmu? Jangan mengejekku—aku tak yakin ada gadis yang menyukaimu.”

“Kau bercanda?” Donghae memamerkan sekantong penuh hadiah yang diterimanya hari ini. “Gadis-gadis selalu tergiur melihat ini,” ia mengarahkan telunjuk pada bibirnya.

Entah mengapa Bi Hyul ikut memandangi bibir Donghae. Bibir itu sangat sehat—tipis dan juga seksi. Glek! Air ludah Bi Hyul melewati kerongkongannya. Dengan secepat kilat, ia mengalihkan perhatiannya. Ia tak menyadari jika Donghae tersenyum melihat tingkahnya.

“Mengapa aku tak pernah menerima hadiah valentine darimu?” tanya Donghae.

“Itu sama artinya dengan menambah biaya pengeluaranku,” jawab Bi Hyul sekenanya. “Kaupun tak pernah memberikan apapun padaku.”

“Kau ingin sesuatu dariku?” tanya Donghae, “Katakanlah!”

“Kau serius?” Bi Hyul terlihat girang. Donghae mengangguk. Bi Hyul mencoba mencari keseriusan di wajah Donghae namun tatapannya tiba-tiba turun ke bibir Donghae. Ciuman Hyukjae dan Hyena melintas kembali dihadapannya.

“Apa yang kau inginkan? Aku akan mengabulkan permintaanmu,” ujar Donghae. “Katakan sebelum aku berubah pikiran.”

Mata Bi Hyul masih tertanam pada bibir tipis seksi milik Donghae yang entah mengapa kini terlihat sangat menggoda.

“Uhm…bibir..,” gumam Bi Hyul. “..bibir itu..,” ia kembali bergumam.

“Kau bilang apa?” Donghae berusaha menangkap ucapan Bi Hyul.

Kesadaran Bi Hyul kembali terkumpul. Ia lalu memukul kasar kepalanya agar beroperasi dengan benar. Ia mencoba tak melihat bibir Donghae, namun ekor matanya berkhianat.

“Hyun Bi Hyul!” Donghae mengayunkan tangannya di hadapan wajah Bi Hyul.

“Tidak—aku tak menginginkan apapun darimu!” Bi Hyul berkata dengan sangat lantang.

“Kau yakin?” goda Donghae. “Baiklah,” ia tahu Bi Hyul tak akan merubah pendapatnya.

Bi Hyul hanya diam. Ia masih takut memikirkan fantasinya yang teramat sangat mengerikan tadi. Donghae mengeluarkan headset, memakaikan benda itu ke telinga Bi Hyul.

“Sebaiknya kau mendengarkan lagu—otakmu mulai kehilangan kewarasannya,” Donghae bahkan masih sempat mengeluarkan ejekan yang hanya dibalas dengan cibiran Bi Hyul.

__

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

__

Lagi-lagi itu adalah sebuah lagu yang sama—lagu yang selalu dinyanyikan Donghae. Lucky.

“Hei bodoh! Apa tak ada lagu lain?” Bi Hyul mulai geram. “Mengapa kau selalu membuatku mendengarkan lagu ini? Membosankan!” Bi Hyul melepas headset tapi Donghae kembali memasangkan headset itu di telinga Bi Hyul.

“Dengarkan saja,” Bi Hyul tak dapat menolak ketika melihat Donghae tersenyum manis. Ia hanya mengikuti apa yang dikehendaki Donghae, mendengarkan lagu itu hingga tuntas.

 

***

 

Hari mulai sore ketika Bi Hyul terjatuh dari tempat tidurnya. Ia duduk dengan mata yang masih tertutup, memegangi kepalanya yang baru saja mencium lantai kamar tidurnya.

Krruuuuukkk.

Jeritan perut Bi Hyul, menyadarkan Bi Hyul bahwa ia harus men-charger tubuhnya dengan makanan. Dengan penampilan yang acak-acakan, Bi Hyul keluar dari kamar. Ia menuruni anak tangga sambil menggaruk-garuk kepala hingga membuat rambutnya kian berantakan.

Matanya tertuju pada Bi Hwan, Bi Hye dan Donghae yang sedang bermain kartu di ruang tengah. Mereka memandangi Bi Hyul dan menggeleng, berdecak prihatin.

“Itukah yang dinamakan seorang gadis?” selidik Donghae.

“Kenapa?” tanya Bi Hyul. “Kau meragukanku? Kau ingin pembuktian?” tanya Bi Hyul berapi-api, tangannya bersiap untuk menyingkap kaos putih longgar yang dipakainya.

“Tak perlu,” cegah Donghae. “Apa yang akan kau tunjukan justru akan mengakibatkan iritasi berat pada mata kami,” ia berkata dengan sangat santai.

“KAU!!” Bi Hyul memelototi Donghae yang seakan tak mengubrisnya. Pemuda itu justru mengajak kedua adik Bi Hyul untuk kembali fokus pada permainan kartu mereka.

Bi Hyul mengigit bibirnya—kesal. Ia menghentak-hentakkan kakinya kasar menuju ruang makan. Tak ada satupun makanan yang tersedia. Bi Hyul melangkah mendekati tiga orang yang masih bermain kartu dengan sangat serius.

“Kalian tak menyisahkan makan malam untukku?”

“Hari ini Donghae Oppa mentraktir kami—jadi aku tak memasak,” jawab Bi Hye.

“Mana bagianku?”

“Kau beli saja sendiri,” ujar Donghae. Bi Hyul semakin kesal.

“Bi Hye, masaklah sesuatu untukku.”

“Tak mau!”

Sungguh sakit hati Bi Hyul mendengar penolakan tajam adik perempuannya.

Noona—jika kau ingin makan, kau masak saja sendiri. Jangan mengganggu permainan kami,” Bi Hwan menyambung lidah membuat darah Bi Hyul naik sampai ke puncak tertinggi.

“Kalian!!” Bi Hyul menggeram. “Kalian kira aku tak bisa masak?” tatapan tajam Bi Hyul sedang dipamerkan dan tak ada yang berani untuk beradu mata dengan gadis itu.

Hentakan kaki Bi Hyul terdengar menjauh ketika ia meninggalkan Bi Hwan, Bi Hye dan Donghae yang kemudian saling pandang—lalu kembali melanjutkan permainan mereka. Seperti tak terjadi sesuatu.

“Bukankah dia memang tak bisa memasak?” Donghae balik bertanya.

Pertanyaan Donghae dijawab dengan anggukan antusias kedua adik Bi Hyul. Tak berapa lama keributan mulai terdengar dari dapur, peralatan-peralatan dapur yang berdentang hebat, seperti berlomba-lomba menggelinding ke lantai—diselingi dengan teriakan Bi Hyul juga rutukan-rutukannya.

Eonni seperti sedang membangun sebuah apartemen,” bisik Bi Hye.

“Dia tak terdengar seperti sedang memasak tapi justru seperti sedang berperang,” sambung Donghae.

Ketiga orang itu meringkik, tertawa dengan pelan agar Bi Hyul tak mendengar mereka. Berkali-kali mereka tersentak kaget karena kegaduhan yang ditimbulkan Bi Hyul.

Dua jam kemudian.

Donghae, Bi Hwan dan Bi Hye tertegun. Mereka terdiam memandangi semangkok ramyeon dengan asap yang masih mengepul.

“Sudah kubilang, aku bisa melakukannya.”

Ketiga orang itu menatap Bi Hyul yang tersenyum penuh kemenangan. Tatapan nanar tersirat dari bola mata mereka melihat penampilan Bi Hyul yang kacau balau. Rambutnya semakin awut-awutan. Mereka tinggal di rumah modern jadi tak perlu memasak menggunakan tungku tapi entah mengapa wajah Bi Hyul dihiasi arang, belum lagi kesepuluh jari tangannya kini dibalut dengan plester.

Honey. Kau baru dari medan perang?” Donghae menatap heran.

“Jangan terus mengejekku,” protes Bi Hyul. “Bi Hyul, kau memang sangat berbakat,” ia lalu memuji dirinya sendiri.

Ramyeon yang hanya memerlukan waktu beberapa menit, kau menyelesaikannya selama dua jam????” Donghae mendelik. “Mengerikan!”

“Bi Hyul. Jangan perdulikan ucapan orang-orang itu,” ujar Bi Hyul santai.

Ia baru saja hendak menarik suapan pertama ketika Bi Hwan merampas sumpit di tangannya.

“Hyun Bi Hwan!!” hardik Bi Hyul.

Bi Hwan tak perduli dan langsung menelan ramyeon itu. Bi Hwan mengunyah pelan—dan terhenti. Wajahnya berubah aneh. Dengan tangan gemetar Bi Hwan meletakan kembali mangkuk ramyeon di atas meja.

“Syukurlah, kau berubah pikiran,” Bi Hyul salah mengartikan perlakuan adik lelakinya—tatapannya lalu beralih pada Donghae dan Bi Hye. “Kalian tak ingin mencobanya?”

Yang ditanya langsung menggeleng kasar. Dari raut wajah Bi Hwan, ditambah lagi remaja itu langsung melesat ke toilet—Bi Hye dan Donghae sudah bisa menilai seperti apa ‘kelezatan’ masakan Bi Hyul. Mereka hanya memandang ngeri pada Bi Hyul menyeruput dalam-dalam ramyeon-nya, ia sangat lahap.

Eonni—sepertinya itu cumi mentah,” Bi Hye bergidik melihat cumi utuh yang baru saja masuk ke dalam mulut Bi Hyul.

“Dia pasti mati rasa,” Donghae memegangi tengkuknya yang meremang. Sementara Bi Hyul tak perduli dengan tatapan prihatin Donghae dan Bi Hye yang tak lepas darinya.

 

***

 

Jam tiga pagi. Ketika kesadaran Donghae dipaksa kembali oleh ringtone ponselnya yang sangat berisik.

“Ya…,” jawab Donghae masih dalam keadaan setengah sadar.

OPPA!!!” jeritan histeris Bi Hye seperti tamparan keras yang langsung membuatnya terlonjak dari kasur empuknya. “EONNI SEKARAT!!” tanpa ampun Bi Hye kembali menjejalkan virus tuli dadakan ke dalam lubang telinga Donghae.

Tak berpikir panjang, Donghae segera berlari keluar dari rumahnya dan langsung menuju ke rumah Bi Hyul. Ia menaiki anak tangga, pintu kamar Bi Hyul telah terbuka lebar. Ia mendapati Bi Hye dan Bi Hwan yang panik. Tak jauh dari tempat tidurnya, Bi Hyul tergeletak tak berdaya di atas lantai. Wajahnya pucat dengan bibir yang mulai membiru. Secepat kilat Donghae membopong tubuh Bi Hyul yang mulai mendingin.

***

 

Pagi harinya begitu mendengar kabar Bi Hyul masuk rumah sakit. Min Kyung, Hyori dan Hyena memutar arah dari sekolah menuju rumah sakit. Mereka terburu-buru hingga tibalah mereka di kamar rawat Bi Hyul. Donghae dan kedua adik Bi Hyul sedang menjaga gadis tersebut. Donghae segera menyuruh Bi Hwan dan Bi Hye agar pulang dan bersiap ke sekolah, kedua orang itu memang sangat menuruti apa pun yang dikatakan oleh Donghae.

Si kembar dan Min Kyung mendekati tempat tidur Bi Hyul. Mereka memandangi wajah Bi Hyul yang masih tampak pucat.

“Aku tak mengira kau akan menikmati tempat tidur ini,” Min Kyung melempar ejekan pada Bi Hyul yang hanya mencibir.

Oppa, apa yang terjadi padanya?” Hyena memandangi Donghae.

Pemuda itu menarik nafas panjang. Ekspresinya membuat Bi Hyul kesal.

“Keracunan.”

“Keracunan?” Hyori terlihat heran.

“Hebatnya—dia teracuni oleh masakannya sendiri.”

“APA??” paduan suara para gadis membuat Bi Hyul harus menutup telinganya.

“Tak perlu seheboh itu,” desis Bi Hyul.

“BI HYUL MEMASAK???” tak puas-puas para gadis bertanya dengan volume yang dinaikan satu oktaf.

“Inilah hasilnya,” Donghae menggeleng.

Derai tawa pecah dan membahana di ruangan itu. Min Kyung, Hyori dan Hyena memegangi perut mereka yang mulai sakit karena tak bisa menghentikan tawa mereka. Bahkan mata mereka mulai mengeluarkan air mata.

“Berisik! Apa kalian tak melihat seseorang sedang sakit?” Bi Hyul terlihat emosi.

“Kau sedang sakit?” Min Kyung justru mendorong kepala Bi Hyul dengan telunjuknya. Mereka kembali tertawa.

Bi Hyul menyentuh peralatan masak merupakan headline news terpanas yang pernah didengar oleh ketiga gadis itu. Mereka bahkan mengusulkan agar moment itu dimasukan dalam catatan rekor dunia atau kalau perlu didaftarkan sebagai salah satu keajaiban dunia.

“Kau adalah petaka bagi pria yang akan memperistrimu,” ledek Hyori. “Tak ada yang bisa diandalkan darimu.”

“Jangan khawatir honey—jika tak ada pria yang menikahimu, aku bersedia untuk menampungmu.”

“Tutup mulutmu!” Bi Hyul menerjang Donghae dengan tatapan beringasnya.

“Kau menolak?” goda Donghae. “Bi Hwan yang hanya mencicipi sedikit saja dari masakan ajaibmu itu, sampai saat ini diarenya tak hilang. Kau yakin ada laki-laki yang ingin menikahimu selain aku? Mereka tak bodoh untuk memilih mati pada usia muda.”

Derai tawa kembali membahana dalam ruangan itu. Bi Hyul hanya menggigit bibirnya. Ia sangat marah namun tak dapat melakukan apapun.

 

***

 

Berhubung Bi Hyul kehilangan banyak tenaga. Cairan dalam tubuhnya mendekati minus, ia harus banyak beristirahat. Ketika matanya terbuka, sudah hampir tengah malam dan gadis itu kembali merutuk kesal mendapati tak seorangpun sedang menungguinya di kamar rawat.

Bi Hyul mencoba meraih segelas air yang terletak di atas meja, tepat di sisi pembaringannya. Ia meneguk air sampai habis membasahi kerongkongannya yang kering kerontang.

Mata Bi Hyul tertuju pada ponselnya yang bergetar di atas meja tak jauh dari gelas yang baru saja ia letakkan. Donghae sedang meneleponnya.

“Di mana kalian semua?” Bi Hyul mempertanyakan kesetiaan Donghae dan kedua adiknya yang mengkhianatinya ketika ia tertidur

Kau baik-baik saja?

“Aku cukup baik untuk mengurusi diriku sendiri,” kesal Bi Hyul. “Kau meneleponku hanya untuk mengejekku? Atau kau ingin memastikan aku masih hidup?”

Nona Hyun Bi Hyul. Mengapa kau sangat kasar padaku?” Donghae mendesah. “Aku hanya ingin mendengar suaramu—sepertinya kau memang baik-baik saja.

“Matikan teleponmu. Aku ingin tidur,” ujar Bi Hyul malas.

Ada yang ingin aku katakana.

Bi Hyul terdiam. Donghaepun ikut sunyi.

“Apa?” Bi Hyul bertanya pelan. Suasana hatinya tiba-tiba berubah. Dadanya berdebar—debaran yang sangat halus.

Sudahlah, bukan sesuatu yang penting.

Perkataan Donghae menimbulkan rasa kecewa dalam hati Bi Hyul. Ia tak mengerti, apa yang sedang ia harapkan keluar dari mulut si bodoh itu.

Malam ini, aku akan menjagamu.

“Tidak perlu!” Bi Hyul menolak kebaikan hati Donghae, ia lalu memutuskan percakapan itu. Bi Hyul bahkan mematikan ponselnya, melempar ponsel itu begitu saja. Belakangan ini, ia terus merasa marah pada Donghae bahkan dengan alasan yang sepeleh. Bi Hyul mulai merasa bahwa ada perubahan aneh dalam dirinya.

Benar saja. Tak sampai tiga puluh menit, wajah Donghae yang menyeringai lebar nampak dari balik pintu. Dia benar-benar serius dengan perkataannya.

“Aku cemas, kau mati seorang diri di sini,” canda Donghae, ia menarik bangku dan duduk di sisi tempat tidur Bi Hyul.

“Aku yakin kalian bertiga pasti terus berdoa agar aku mendekam lebih lama di rumah sakit,” Bi Hyul terus mencurigai Donghae dan kedua adiknya.

Donghae tak menjawab. Ia justru tersenyum lembut. Jantung Bi Hyul berdetak dengan irama yang cepat melihat senyuman itu. Bi Hyul membuang tatapan.

“Hyun Bi Hyul. Apa yang salah dengan otakmu?” Bi Hyul mendesah sangat pelan mempertanyakan kewarasannya yang mulai memudar.

Donghae meraih gitarnya yang tertinggal di kamar rawat Bi Hyul, ia memangku gitar dan denting senar gitar mulai terdengar.

“Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu,” ujar Donghae

“Aku tak mau!”

“Suaraku sangat manjur untuk mengurangi kadar racun dalam tubuhmu,” seringai Donghae.

Lucky?” Bi Hyul menyebutkan judul lagu yang selalu dinyanyikan oleh Donghae. “Lupakan saja!”

Donghae tak mengubris penolakan Bi Hyul. Ia mulai memetik gitarnya. Melodi yang begitu harmonis dan menetramkan itu terdengar indah. Bi Hyul selalu tak mampu untuk tak mendengar suara Donghae yang berpadu dengan petikan gitarnya.

__

No New Year’s Day to celebrate
No chocolate covered candy hearts to give away
No first of spring
No song to sing
In fact here’s just another ordinary day

No April rain
No flowers bloom
No wedding Saturday within the month of June
But what it is, is something true
Made up of these three words that I must say to you

__

Suara merdu Donghae, menenangkan hati Bi Hyul. Gadis itu tak melarikan tatapan matanya dari Donghae.

__

I just called to say I love you
I just called to say how much I care
I just called to say I love you
And I mean it from the bottom of my heart

__

I just Called to Say I Love, lagu yang dipopuler oleh penyanyi tuna netra bersuara emas—Stevie Wonder, mengalun lembut dari bibir Donghae. Mata Donghae begitu intens menatap Bi Hyul—mereka terus beradu pandang dan Donghae tak berhenti melantunkan lagu itu. Susana yang kian hangat terasa di dalam ruangan itu. Perasaan aneh kembali bergulir dari hati Bi Hyul, ia hampir tak dapat memalingkan wajahnya untuk tidak menikmati sorot mata sendu dan hangat milik Donghae yang tertanam padanya.

 

***

 

#Bi Hyul’s POV#

Sungguh diluar dugaan jika aku harus menghabiskan dua minggu waktuku di rumah sakit. Akh, aku tak ingin mengingat lagi peristiwa mengenaskan itu dan mulai sekarang aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tak akan menyentuh peralatan dapur atau mencoba memasak sesuatu.

Aku merubah motto hidupku; Hyun Bi Hyul, jauhi dapur sebisa mungkin, sebelum nyawamu terancam!

Syukurlah aku bisa kembali ke sekolahku yang tercinta. Semua orang pasti sudah merindukan keberadaanku. Segaris senyuman di sudut bibir mengiringi langkah pastiku menyusuri koridor sekolah. Ajaib sekali—tiga gadis autis itu sudah berdiri di luar kelas, tak jauh dari pintu kelas kami.

“Kalian pasti sengaja menyambut kedatanganku,” tegurku.

Raut wajah mereka seperti ingin muntah mendengar perkataanku. Terserah kalian.

“Aku berharap kau masih dalam masa perawatan—minimal sebulan untuk menyekolahkan kakimu yang tak pernah tenang,” desis Hyori.

Aku mendorong kasar kepala Hyori, membuatnya hampir memberikan kopengan bebas ke dinding sekolah. Hyori menatapku galak, ia memperbaiki tatanan rambutnya.

“Sstt, bukankah itu murid tingkat pertama yang cukup terkenal?” perkataan Min Kyung mengalihkan tatapan kami.

Seorang gadis berambut panjang ikal sebahu. Kulitnya putih bersih, bibirnya yang merah jambu juga pipinya yang bersemu merah, belum lagi mata bulatnya. Ditunjang dengan tubuh singset, tinggi semampai. Kuakui gadis itu memang cantik.

“Min Ji Woo,” Hyori menyebut nama gadis itu. “Aku lega karena orang yang disukainya bukan Siwon—my man,” Hyori mengelus dada.

“Semoga saja itu bukan hasil operasi plastic,” Aku terkekeh.

“Bi Hyul, apa kau tak khawatir sedikit pun?” tumben sekali Hyena bertingkah sangat perduli.

“Tentang apa?” aku masih belum bisa menyembunyikan senyumanku memikirkan operasi plastik.

“Kau terancam. Gadis itu menyukai Donghae Oppa!”

Ucapan Min Kyung membuat senyumku hilang. Aku bahkan langsung terbatuk-batuk.

“Kau bilang—apa?”

“Semua orang sudah tahu jika Ji Woo menyukai Donghae Oppa,” ujar Min Kyung. “Bahkan dia sudah menyatakan cinta pada Donghae Oppa.”

Aku terdiam. Senyumku mulai mengembang. Tak lama kemudian, ketiga gadis idiot itu memandangiku dengan penuh keheranan melihatku tertawa lepas.

“Kau tak cemas?”

Pertanyaan Hyena semakin membuat tawaku menjadi-jadi.

“Kalian gila?” aku memegangi perutku yang terasa sakit, “Gadis itu menyukai si bodoh? Apa matanya baik-baik saja?”

“Bi Hyul, mengapa kau bisa senaif itu?” Hyori menatapku dengan penuh amarah. “Apa kau tak sadar jika Donghae Oppa adalah pemuda yang baik hati? Oppa sangat ramah pada semua orang. Kau tak tahu jika banyak gadis yang tergila-gila pada Oppa? Bi Hyul, orang yang harus memeriksakan matanya adalah kau. Kau tak bisa melihat ketampanan Oppa?” Hyori mendesis sambil menggeleng-geleng kepalanya.

Tampan? Tampan dari dunia persilatan mana? Setampan kungfu panda. Tawaku kembali menggelegar.

“Donghae Oppa,” ucapan Hyena mengalihkan tatapan Min Kyung dan Hyori.

Dengan tawa yang tak surut, aku mengikuti arah pandang meraka. Dari jauh si tampan kungfu panda sedang berjalan ke arah kami. Aku masih tertawa lalu aku menyadari hal lain. Apa itu? Para gadis yang berpapasan maupun yang melihat Donghae memamerkan tingkah laku yang patut dicurigai. Mereka saling berbisik heboh dengan wajah merah merona.

Tunggu dulu. Jadi benarkah Donghae disukai banyak gadis? Apa yang terjadi pada gadis-gadis bodoh itu? Apa yang membuat mereka menyukai si idiot itu? Rasanya tak ada yang…

DEG.

DEG.

DEG.

Jantungku berdetak sangat kasar. Donghae membalas sapaan semua orang dengan begitu ramah. Ia tersenyum sangat ramah dan senyumannya itu memaksa ludahku tertelan paksa melewati kerongkonganku yang tiba-tiba terasa kering. Belum lagi wajahnya yang…mataku langsung memicing, mengapa tiba-tiba ia terlihat begitu menyilaukan?

Hyun Bi Hyul! Bangun dari mimpi burukmu!

Aku memukul kepalaku kasar membuat tiga gadis lainnya menatapku semakin heran.

“Kalian masih di sini?” Donghae menghampiri kami.

“Gadis ini terus menertawaimu,” Min Kyung langsung melaporkan perbuatanku pada Donghae.

Oppa—dia meremehkanmu,” ingin rasanya kutendang Hyori. Mengapa ia selalu memanas-manasi situasi.

“Bi Hyul. Apa yang kau pikirkan?” Donghae menatapku. “Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa menerima kenyataan tentangku?” Donghae tersenyum.

Pemuda itu memajukan wajahnya mendekati wajahku membuat aku hampir kehilangan keseimbangan, aku dapat merasakan tangan Donghae menangkap pinggangku. Jarak kami sangat tipis. Aku merasakan wajahku memanas.

“Lepaskan!” dengan kasar aku menggertaknya dan bergegas meninggalkan mereka. Apa yang salah denganku?

 

***

 

Well, akhirnya aku hanya berusaha menjaga jarak dari Donghae. Aku harus mencari tahu apa penyebab tingkah dan perlakuanku padanya mulai berubah. Argh, ini sangat menggangguku.

Berkali-kali aku harus mendidik keras ekor mataku agar tak mengkhianatiku ketika Donghae berada didekatku. Akhir-akhir ini aku tak bisa menolak pesona seorang Lee Donghae dan aku sadar bahwa aku benar-benar gila.

Untuk mengatasi kegilaanku. Berbagai cara aku lakukan agar tak sering bertemu dengan Donghae. Sekarang aku lebih mirip dengan teroris yang selalu bersembunyi. Malangnya diriku.

Hari ini aku melakukan hal yang sama. Membiarkan ketiga sahabat autisku pulang terlebih dahulu. Biasanya Donghae akan menunggui kami di gerbang, itulah sebabnya aku tak ingin bersama mereka.

Aku menuruni anak tangga. Berjalan gontai di sepanjang koridor sekolah yang senyap. Langkahku terhenti. Di luar salju sedang turun. Aku merapatkan jaket yang memberikan kehangatan pada tubuhku. Aku melangkah pasti menerjang ribuan benda putih yang jatuh dari langit. Salju yang mengenai kulitku, rasa dinginnya merembes menembus kulit.

Tak sengaja aku melihat seseorang yang sedang duduk di sebuah bangku taman. Gila. Apakah orang itu sudah gila? Cuaca begitu dingin dan dia tampak duduk tenang. Aku bermaksud melanjutkan langkah kakiku ketika menyadari bahwa sosok itu bukanlah orang asing. Lee Donghae.

Tak heran lagi dia bertingkah seperti itu. Dia memang gila. Aku mendekatinya. Headset kesayangannya menyumbat telinganya. Matanya terpejam. Ada segaris senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Tak perlu diragukan lagi—Lee Donghae sudah gila!

DUK!

“Aaaahh!” Donghae meringis ketika ujung sepatuku mencium tulang kering kakinya. “Hyun Bi Hyul—kau keterlaluan,” ia menatapku, masih kesakitan.

“Aku rasa kau memang gila.”

“Jangan menghujaniku dengan tatapan itu. Sangat mengerikan,” ujar Donghae.

Aku menebas salju tipis di atas bangku, dan duduk tepat di sisi Donghae.

“Katakan, kau benar-benar…,” aku tak melanjutkan perkataanku—hanya memutar kedua bola mataku.

“Ya. Aku memang mulai menggila,” jawab Donghae sangat tenang. “Dan itu karena kau,” kini dia membuatku tak tenang.

“Aku?”

“Kau pikir aku tak tahu jika belakangan ini kau terus menghindariku?” Donghae menatapku tajam.

Aku memalingkan wajahku. Menatap lurus ke depan, mencegah mata kami bertemu agar aku bisa mengontrol permainan jantungku yang belakangan ini berada di luar kendaliku.

“Kau ingin menyangkal?” Donghae kembali bertanya. Aku hanya menggeleng. Mengakui bahwa aku memang sedang menjauhinya, “Apa alasannya?” dia sepertinya sangat penasaran.

“Aku hanya ingin mencoba untuk tidak terus di sisimu,” jawabku. Ah, rasanya aneh jika tak ada Donghae di sekitarku.

“Mengapa?” ia kembali bertanya dan aku hanya diam. “Aku selalu ingin berada di sekitarmu,” ia berkata getir.

“Kau dan aku—suatu saat akan mempunyai kehidupan sendiri,” aku mulai berbicara. “Aku sedang mengecilkan potensi kesalahpahaman yang akan terjadi di masa depan.”

“Apa maksudmu?”

“Kudengar kau cukup populer di kalangan para gadis,” aku menatapnya.

“Akhirnya kau mengakui itu,” dasar sinting. Ia justru tersenyum bangga.

“Aku hanya merasa kasihan pada gadis-gadis itu jika mereka salah paham karena kedekatan kita. Terlebih, aku tak ingin mereka mengira kau adalah seorang gay karena aku.”

Ya, meskipun gadis di sekolahku tahu bahwa aku adalah wanita tapi aku yakin banyak gadis di luar sana yang mengira aku ini adalah laki-laki. Donghae menatapku dalam.

“Kau—mengkhawatirkanku?” ia bertanya. Diam adalah jawaban yang mampu aku berikan. “Jika pada akhirnya seperti ini—lebih baik kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun tentangku. Aku lebih memilih kita menjadi teman bertengkar, seperti dulu.”

Bergantian aku menatapnya. Donghae terdiam seribu bahasa. Entah apa yang dia pikirkan.

“Bodoh. Kita ini tetap sahabat baik,” aku meninju pelan pundaknya. Ia tersenyum mekar. Syukurlah, Donghae sudah kembali normal. Diam dan merenung bukanlah ciri Donghae. “Karena kita sahabat baik. Katakan, apakah kau menerima Ji Woo?”

Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum ketika bertanya dan itu berbanding terbalik, rasanya ingin menangis menyadari Donghae sahabatku kini telah tumbuh dewasa dan memilih jalannya. Mendadak aku merasa takut. Takut jika Donghae benar-benar meninggalkanku.

“Ji Woo? Ah—pasti tiga gadis kembar siam itu yang mengatakan padamu. Semua pria tak akan menolak gadis secantik Ji Woo,” ia mendesah sangat santai, sementara aku sedang menahan gemuruh dan rasa sakit dalam dadaku yang tiba-tiba menghampiriku begitu saja. “Tapi bagaimana mungkin aku menerimanya? Aku sudah punya seorang kekasih,” senyumannya kian mengembang.

Rasanya semakin ingin menangis. Meskipun bukan Ji Woo tapi Donghae sudah memiliki seseorang yang berarti. Bi Hyul bodoh. Mengapa aku bisa seperti ini? Jangan menangis.

“Benarkah?” aku membalas tatapannya. Tersenyum mekar dengan sekuat tenagaku. “Seperti apa dia?” Bi Hyul bodoh, jelas kau merasa sakit tapi mengapa kau masih mencoba mencari tahu gadis itu.

“Dia. Sangat spesial. Tak bisa dibandingkan dengan gadis manapun,” ucapan Donghae yang tegas begitu menohok hatiku.

“Aku rasa dia gadis yang sangat beruntung,” tentu saja. Memiliki pria seperti Donghae, gadis itu sangat beruntung dan bodohnya aku baru menyadari hal itu sekarang. Bodoh. Bodoh. Sangat bodoh.

“Tidak. Justru akulah orang yang beruntung memiliki gadis seperti itu di sisiku.”

Sial. Lee Donghae, hentikan—kantung air mataku hampir jebol. Mengapa seorang Donghae yang selalu banyak bertingkah bisa bersikap setenang itu? Gadis itu membuatku sangat iri ketika Donghae bercerita tentangnya.

“Benarkah?” semoga Donghae tak melihat bibirku yang gemetar. “Karena kita sahabat baik. Maukah kau mengenalkan gadis itu padaku?”

“Tentu saja. Dengan senang hati,” ia tersenyum. “Kau ingin aku meneleponnya?” Donghae bertanya santai.

Tidak. Aku tak ingin tahu tentang gadis itu. Tidak sama sekali.

“Iya,” aku hanya bisa merutuki ketololanku yang selalu melakukan hal yang bertentangan dengan keinginanku.

Tak bisa kutahan, air mataku jatuh begitu saja. Aku membuang wajahku, menghindar dari jarak pandang Donghae. Aku tak ingin ia mengetahui hal memalukan ini.

Ponselku bergetar. Tiga gadis itu pasti sudah menantiku. Hari ini kami harus menyelesaikan tugas kami dan aku justru menangis bodoh di tempat ini. Kuhapus air mataku dan mengendalikan diriku agar semua tampak normal.

“Ya, maafkan aku—aku akan segera…,”

I love you.

Aku tertegun mendengar suara itu. Kulihat identitas pemanggil dan jantungku langsung terpukul lebih hebat dari sebelumnya. Secepat kilat aku menoleh. Donghae menatapku tenang, ia masih menempelkan ponsel di telinganya.

Saranghamnida.

Seluruh tubuhku seperti dialiri oleh sengatan listrik bertegangan tinggi. Donghae mengulas senyum tipis di bibirnya. Ponselku bahkan terlepas dari genggamanku dan jatuh di atas salju tipis. Jantungku bekerja dengan irama yang kian cepat. Tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku justru beranjak.

Tak sedikit pun aku menengok ke belakang untuk sekedar menoleh pada Donghae. Aku justru mempercepat langkahku. Jauh. Jauh. Semakin menjauh dari bangku taman yang beberapa menit lalu berubah menjadi bangku terpanas dalam hidupku.

Apakah ini bukan mimpi? Tidak—siapa pemuda tadi? Apakah dia memang sudah gila? Mengapa dia mengatakan hal tak masuk akal itu. Lee Donghae—kau sedang bermain-main denganku?

Langkahku berhenti mendadak.

Mengapa? Hyun Bi Hyul—mengapa kau harus lari? Ketika Donghae mengatakan hal yang diluar dugaanku, aku justru kehilangan kata-kata dan tak berani menatap matanya. Mengapa aku menjadi begitu pengecut? Saat ini, aku bahkan tak bisa mendefinisikan perasaan campur aduk dalam dadaku.

Lee Donghae. Apa maksudmu?

Aku memutar arahku dan berjalan menuju tempat semula. Donghae masih duduk tenang di tempat tadi. Ia tak beranjak. Bahkan tak berusaha untuk mengejarku. Aku rasa dia memang sedang bermain-main denganku. Lihat saja, kau akan menyesali semuanya.

Aku semakin mendekati Donghae dan akhirnya berhenti tepat di hadapannya yang sedang tertunduk.

“Apa maksudmu?” aku tak bisa membendung rasa penasaranku. Donghae mengangkat wajahnya perlahan dan menatapku. “Tadi kau…apa kau serius?” ah, Bi Hyul—dimana harga dirimu? Terlihat sekali jika aku begitu berharap padanya.

“Di matamu, apakah aku selalu terlihat bermain-main?” Donghae balik bertanya padaku.

“Donghae—apa yang harus aku katakan? Tapi kau memang orang yang seperti itu.”

Aku tak pernah bisa membedakan jika dia itu sedang serius atau tidak dan jujur—ketakutan terbesarku jika saat ini adalah bagian dari salah satu permainannya. Donghae berdiri. Ia maju selangkah mendekatiku.

“Kau itu lebih bodoh dari dugaanku,” dia mendorong kasar kepalaku dengan telunjuknya. Dengan sikapnya itu, dia tak terlihat serius bagiku. “Seumur hidup kau bersahabat denganku tapi kau tak menyadari hal itu. Terhadap yang aku katakan—aku serius.”

Donghae menatapku tajam dan jantungku kembali bekerja keras.

“Meskipun kau sangat galak, tak bisa dandan, masakanmu bisa menghantarkan seseorang pada pintu kematian dan sekalipun nantinya kau memiliki tubuh binaragawan…,”

“Lee Donghae!!” aku menghardiknya kasar. Apa maksudnya mengatakan semua itu—seolah dia berkata tak ada satupun yang baik dalam diriku.

“Tapi aku selalu menyukaimu,” ia tersenyum. “Dan aku tak tahu sejak kapan, aku begitu gila karena memikirkanmu,” senyumnya kian mengembang.

Oh man—dia tersenyum seperti itu membuatku seperti melihat bola lampu di wajahnya. Silau.

“Donghae, jika kau…,”

“Kau sangat memprihatinkan,” Donghae memotong perkataanku, dia tahu jika kalimat yang belum kuselesaikan tadi adalah kalimat yang masih mempertanyakan keseriusannya. “Kau tak tahu alasanku kembali dari London?”

Gosh. Apakah aku menjadi alasan penghancuran masa depannya? Ah Tidak—si bodoh ini selalu menyeretku dalam setiap alasannya yang tak masuk akal.

“Kau memang sangat idiot. Berulang kali aku mengatakan padamu tentang perasaanku tapi otakmu yang begitu lambat itu tak bisa menerima signal itu.”

“Hei, kau jangan seenaknya menuduhku. Sejak kapan kau…,”

Lucky!” potong Donghae cepat.

Sekarang, dia sedang berbicara tentang lagu kesayangannya itu?

“Kau ingat lirik lagu itu?”

Bagaimana mungkin aku tak mengingatnya? Sekalipun aku tak berniat mengingatnya tapi kau yang terus menyanyikan lagu itu membuatku tanpa sadar mulai menghafalkan semua liriknya, tanpa terkecuali.

I’m lucky I’m in love with my best friend. Lucky to have been where I have been. Lucky to be coming home again,” Donghae melafalkan kembali reffrein dari lirik lagu itu. Lalu jantungku kembali dibuat berdetak dibatas maksimal. “Kau masih tak mengerti? Mengapa aku selalu menyanyikan lagu itu? Bahkan ketika telingamu hampir pecah karena lagu itu tapi aku terus menyanyikannya, bukan karena aku tak mampu mengingat lagu lain.”

Desiran halus membuat tubuhku seakan melayang. Hatiku seperti meluas dan seluruh tubuh yang meremang.

“Akhirnya kau mengerti sekarang,” ia berkata tenang. Aku masih mematung, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Donghae menarikku lembut ke dalam pelukannya—tubuhku yang kaku tak bisa menolak perlakuannya, “Gadis bodoh. Congratulation—untuk otakmu yang begitu lambat menyadari semuanya”

“KAU!!”

Aku mendorong kasar tubuh Donghae. Dia baru saja menghancurkan suasana hatiku dengan ejekan pedasnya. Donghae tertawa tanpa suara. Demi apa pun, jangan tertawa seperti itu—tubuhku bisa meleleh.

“Aku punya sesuatu untukmu.”

“Apa?”

“Hadiah.”

“Kau ingin memberikanku hadiah?” wow, baru kali ini aku menerima hadiah dari seorang pria.

“Hadiah yang selalu kujaga dengan baik dan hanya akan aku berikan padamu—Nona Hyun Bi Hyul,” Donghae mengedipkan matanya. “Coba tebak?” senyumnya kian merekah.

Hmm. Donghae tahu semua benda yang aku inginkan. Terlalu banyak hingga aku tak mengingat satu pun dari mereka. Apakah mungkin dia akan memberikanku tiket ke Mars? Mustahil. Kalau begitu, mungkin robot terbaru yang…

Aku masih berusaha menebak-nebak dalam hati ketika tangan Donghae menyentuh daguku, membawa wajahnya mendekatiku dan detik selanjutnya terjadi ledakan bom berkapasitas besar di tubuhku—bibir Donghae yang tipis dan seksi itu terasa lembut dan hangat di bibirku.

Donghae—sedang menciumku???

Rohku berpencar!

Donghae mengakhiri kecupan lembutnya. Dia tertawa tanpa suara melihat ekspresiku, yang entahlah—aku sendiri tak bisa membayangkan. Tubuhku gemetar. Di mana…di mana pijakanku? Aku harus mencari sesuatu sebagai penopang tubuhku. Lemas. Donghae langsung memelukku. Menangkap tubuhku yang limbung.

Congratulation—bukankah kau juga sangat menginginkan bibirku?” ia berbisik di telingaku. Menyeringai lebar.

“Lee Donghae!” bom kedua kembali meledak tapi itu adalah bom kemarahan. Dalam situasi romantis bersejarah dalam hidupku yang patut dirayakan sebagai hari libur nasional—pemuda ini masih sempat mencandaiku.

Aku mendorongnya. Dia kembali memelukku.

“Bagaimana ini? Jika ada yang melihat adegan ini—mereka akan mengira kita adalah pasangan gay,” Donghae berkata sambil tertawa.

Amarahku kian memuncak. Mengapa sikapnya cepat sekali berubah? Di mana Lee Donghae dewasa dengan kalimat menakjubkan dari mulutnya tadi? Lee Donghae yang membuat mataku silau—di mana sosok itu? Aku mendorongnya kasar. Meninggalkannya di belakang.

“Oii..honey!!” panggil Donghae.

Aku berusaha menyumbat telingaku dari teriakannya. Aku tahu dia sedang mengikuti langkahku dari belakang. Ia mensejajarkan langkahnya denganku. Tangannya lalu merangkul pundakku.

“Mari kita pulang. Aku tak sabar ingin menikmati masakanmu,” Donghae mengerling padaku. Kemarahanku hilang. Aku justru tertawa. Benar sekali, masih ada cara lain untuk membalaskan dendamku.

 

*~Winter’s Song (Hyun Bi Hyul’s story) End~*

 

Next, [Season 3] Spring In Memory.

5 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Mar 26, 2015 @ 22:04:34

    Ooh… So sweet!!
    Benar2 mengharukan
    cara ngungkapin cintanya donghae ke bi hyul paling romantis deh!!
    Bi hyul udah hampir nangis karena mikir donghae menyukai gadis lain malah terkejut sendiri karena telepon yg dilakukan donghae padanya…..
    Akhirnya mereka bisa bersatu!!

    Gak sabar nungguh kelanjutannya. Kira2 siapa ya jadi cast utama di ”spring in memory”??? Semoga aja bahgian siwon dan hyori deh….

    Reply

  2. Novita Arzhevia
    Mar 27, 2015 @ 00:00:46

    Huaaaa keren, dongek so sweet bingo. . .pasangan giLaa tapi romantisss,

    Reply

  3. elfishysme
    Mar 27, 2015 @ 20:03:36

    aduh donghae kamu bener2 yah kadang bikin dongkol tp kalo lg sweet bikin melting.

    Reply

  4. shoffie monicca
    Apr 13, 2015 @ 15:47:04

    adh donghae oppa sosweet bngt…ak mau dong oppa..

    Reply

  5. saverinarepi
    Jun 20, 2015 @ 11:35:38

    So sweat . Buat aku irih saja, sampai-sampai meneteskan air mata ku.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: