SECRET [3/?]

SECRET [Part 3]

Author: Shin Hyeonmi

Lee Hyukjae | Shin Hyeonmi | Gabriel | Park Sojin | Kim Jongwoon

Chapter | PG-17 | Romance

Rating: General

Tag: Lee Hyukjae, , Eunhyuk, Yesung, Kim Jongwoon, Kim Jong Woon, Super Junior, Superjunior

 

Note: I just hope readers will like this. Thanks for reading it (: And, I’ve published this before on my personal blog ( http://eunhaewife.wordpress.com/ ) Visit me if you have times^^ Happy reading^^

 

 

“Oh, unnie kau datang?”

Ryeon mengalihkan pandangannya pada dua orang yang baru saja memasuki cafenya, Sojin dan Eunhyuk. Dalam hati Ryeon hanya mampu menyimpan rasa tanyanya, tentang pasangan ini yang sepertinya nampak berbeda hari ini. Biasanya mereka selalu datang secara terpisah dan mengendarai mobil mereka sendiri-sendiri dan datang saat jam sudah menunjukkan waktu yang cukup malam.

Tapi hari ini sepertinya berbeda, dan senyuman itu, senyuman penuh cinta yang biasanya sangat jarang ia temukan pada wajah Sojin hari ini tampak begitu terlihat. Apakah ini karena mereka juga akan segera menikah?

“Ne, ahh, berikan aku satu gelas iced Strawberry milk Ryeon-ah.” Jawab Eunhyuk santai sambil kemudian segera menuju salah satu kursi di depan dinding kaca yang sering mereka gunakan untuk berkumpul.

Sojin menatap punggung Eunhyuk yang mulai menjauh darinya, lagi-lagi pria itu memesan minuman anak-anak, gadis itu menghembuskan nafasnya pelan dan menatap Ryeon kembali, “Apakah Yesung belum datang?”

“Ani, oppa sedang sakit.”

“Sakit?” tanya Sojin cepat. Seketika itu juga gadis itu menunjukkan kecemasannya setelah mendengar bahwa sahabat terbaiknya itu tengah sakit.

“Ani, hanya sedikit pusing unnie, sepertinya gejala flu.” Jawab Ryeona segera membenarkan.

Sebetulnya Yesung tidak sakit, Ryeon sengaja membuat alasan agar Sojin tidak mencari-cari kakaknya. Saat ini kakaknya sedang tidak dalam kondisi yang baik, mungkin saja jika kakaknya melihat gadis itu saat ini ia akan kembali terluka, padahal luka yang ia miliki belum terobati sama sekali. Dan ia tak akan membiarkan kakaknya itu yang sedang tersiksa semakin tersiksa lagi melihat pasangan ini disini.

“Flu? Musim dingin bahkan sudah cukup lama berlalu, bagaimana bisa ia mendapatkan flu?” tanya Sojin. Sejenak gadis itu nampak berfikir, apakah karena perubahan suhu yang membuat Yesung terkena flu? “Baiklah, berikan aku satu gelas iced americano Ryeon-ah.” Lanjutnya lagi. Gadis itu kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dalam dompetnya untuk membayar minuman yang ia pesan dan juga minuman yang di pesan oleh kekasihnya.

“Ne unnie.”

Setelah memastikan Sojin telah menjauh dari tempatnya, Ryeon segera meraih ponselnya yang tergeletak di sebelah mesin kasir. Gadis itu segera membuka layar ponselnya dan mulai mengetikkan beberapa pesan untuk kakaknya yang berisi agar ia tak turun ke cafe karena ada Sojin dan juga Eunhyuk disana.

 

To: Yesung-oppa

Jangan ke bawah, Sojin dan Eunhyuk-oppa datang. Aku tak ingin oppa sakit hati lagi.

 

Send. Gadis itu mengirimkan pesannya pada Yesung, dan segera memanggil pelayan cafe yang lain untuk menggantikannya berjaga di meja kasir. Ia akan pergi mengantarkan sendiri minuman yang dipesan oleh Sojin dan Eunhyuk.

“Apa Donghae tidak datang hari ini?” tanya Eunhyuk ketika Ryeon telah sampai mengantarkan minuman pesanannya.

“Ani. Dia berjaga hingga malam.” Jawab Ryeon sambil meletakkan gelas minuman pesanan Eunhyuk dan Sojin.

Sejenak gadis itu menempatkan dirinya duduk tepat di sebelah Sojin, raut mukanya mulai tampak bingung dan ingin mengucapkan beberapa pertanyaan, namun ia ragu haruskah ia menanyakan hal tersebut.

Ryeon sama sekali tak menyangka jika jauh di lubuk hati Oppa-nya, dia menyimpan kesetiaan cinta pada sosok ini. Enam tahun, ah tidak bahkan mungkin lebih, bukankah dulu mereka berdua telah saling mengenal sejak masih menjadi mahasiswa?

“Ahh, Yesung-ah, Ryeon bilang kau sakit?”

Ryeon terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan Sojin. Gadis itu menengok sejenak ke belakang dan benar-benar mendapati sang kakak yang menuruni anak tangga dari lantai atas. Dilihatnya baik-baik wajah sang kakak yang tampak memamerkan senyumannya, namun ia tahu kini bahwa apa yang tersimpan di balik senyuman itu tak lain adalah sebuah tangisan.

“Ani.. aku hanya kelelahan sedikit.” Jawab Yesung, sesaat pria itu tampak memandang wajah Ryeon dan mengisayaratkan pada adiknya tersebut bahwa ia baik-baik saja dengan keadaan ini, dan kembali kemudian menatap Sojin dan juga Eunhyuk yang sudah duduk di salah satu meja cafenya, “Kudengar kalian akan menikah? Kapan?” lanjutnya bertanya pada pasangan tersebut.

Ryeon hanya bisa menatap heran ke arah kakaknya. Tidakkah pertanyaan itu hanya akan membuat luka di hatinya semakin dalam. Tapi dengan wajah yang masih sama seperti sebelumnya, Yesung masih terlihat baik-baik saja. Membuat gadis itu semakin tak mengerti tentang apa yang sebenarnya diinginkan oleh kakaknya.

“Mungkin akhir musim gugur yang akan datang,” jawab Eunhyuk.

Sojin dengan segera mengalihkan pandangannya menatap tak percaya pada Eunhyuk. “Jinjayo? Pernikahan kita akan dilaksanakan musim gugur?” tanya gadis itu antusias.

Menikah di musim gugur adalah impian Sojin selama ini, musim yang tak kalah indahnya dengan musim semi. Dimana daun-daun yang menguning dan memerah itu mulai melepaskan diri dari ranting-rantingnya. Dimana suhun udara yang juga tidak menunjukkan terlalu dingin ataupun terlalu panas. Dan dimana kebanyakan festival-festiva budaya dilakukan.

Melalukan resepsi pernikahan di bawah daun-daun yang mulai jatuh berguguran diatas mereka, adalah mimpi indah yang selalu ia inginkan selama ini.

“Ahh, sesuai sekali, kau sangat menginginkan menikah di musim gugur bukan Sojin-ah?” tanya Yesung.

Gadis itu hanya bisa mengangguk, tanpa mengucapkan kata-kata apapun. Ia terlalu antusias dan bahagia dengan rangkaian acara pernikahan yang di rancang leh Eunhyuk itu untuknya. Sekali lagi gadis itu merasakan bahwa perjuangan mereka membina hubungan ni selama enam tahun tidak sia-sia begitu saja dengan rancangan pernikahan indah yang telah di buat Eunhyuk.

Yesung sesaat memandang wajah Ryeon, ada hal yang ingin ia minta pada gadis itu. Ia ingin berbicara dua pasang mata saja pada Eunhyuk, dan ia berharap Ryeon akan dapat mengerti apa yang ia inginkan itu dari tatapan matanya.

Sesaat gadis itu menatap kakaknya dan mengerti apa yang ia maksud, dengan segera gadis itu meraih tangan Sojin, dan membawanya untuk naik ke lantai atas cafe tersebut, tempat dimana biasa ia dan kakaknya gunakan untuk beristirahat jika tidak sedang berada di rumah, “Unni, kau tidak ingin melihat gaun pengantinku, aku akan memperlihatkannya padamu.” Kata gadis itu sambil menarik tangan Sojin untuk mengikutinya.

“Eunhyuk-ah..” Yesung mulai membuka suaranya ketika Ryeon telah membawa Sojin menjauh dari mereka.

“Wae.. hyung?” tanya Eunhyuk, “Ahh, hyung, apa kau bisa membantuku mengatasi keluhan pelanggan esok.” Kata pria itu.

Yesung adalah salah satu dari puluhan pengacara yang dimiliki Eunhyuk untuk memberikan perlindungan hukum perusahaannya. Dia juga termasuk pengacara yang paling di percayai Eunhyuk untuk meminta bantuan hukum seperti ini. Karena latar belakang pertemanan yang mereka jalin di luar urusan pekerjaanlah yang membuat Eunhyuk lebih nyaman untuk berkonsultasi dengan Yesung dari pada pengacaranya yang lain.

“Apa ada masalah?” tanya Yesung.

“Ani hyung, hanya saja kami baru saja mengeluarkan produk baru, dan kami masih dalam tahap mempromosikan produk ini.” Jawabnya.

“Geurae, panggil aku saja nanti kau membutuhkan bantuan.” Jawab Yesung, “Ahh, dan satu hal lagi, ku harap kau akan benar-benar serius dengan Sojin, jangan menyakitinya lagi.” Lanjutnya dan langsung pergi meninggalkan Eunhyuk sendirian disana.

Jangan menyakitinya lagi,

Kalimat itu terdengar seakan berkali-kali di telinga Eunhyuk.

Jangan menyakitinya lagi,

Pria itu menutup matanya, dan menghempaskan tubuhnya pada kursi. Seperti ada pesan tersirat ketika Yesung-hyung mengatakannya tadi, kata pria itu dalam hati. Seperti kilasan memori di masa lalu yang secara tiba-tiba kembali di putar olehnya.

Kenangan masa lalunya bersama Hyeonmi, yang berakhir menyakitkan,

Jangan menyakitinya lagi,

Seketika pria itu membuka matanya dengan cepat. Ia masih ingat betul kalimat seperti pernah di ucapkan Jongsuk padanya. Di hari-hari akhir saat pria itu akan membawa Hyeonmi pergi ke Amerika.

Cihh,, ia memalingkan pandangannya. Bibirnya sedikit tertawa, menertawakan apa yang baru saja ia alami. Bisa-bisanya di saat seperti ini ia masih memikirkan orang yang telah mencuri wanitanya. Bisa-bisanya pula di saat seperti ini ia masih teringat pada sosok yang telah mati itu.

**

Hyeonmi berjalan mendekat ke arah tempat tidurnya. Sesaat ia menggeser letak kursinya mendekat ke pinggir tempat tidur dan mendudukinya. Di lihatnya baik-baik Gabriel yang tengah tertidur pulas tanpa selimut yang menutupinya itu.

Sesaat tangannya beralih, melepaskan handuk yang baru saja ia gunakan untuk mengusap rambutnya yang basah setelah keramas. Di usapkannya telak tangannya pada dahi Gabriel yang mulai basah oleh keringat yang memenuhinya.

Musim semi akan segera bekahir. Dan suhu udara mulai bergerak naik mengikuti musim panas yang akan segera muncul. Dan Gabriel akan mulai mengeluh karena panasnya suhu udara yang mengelilingi bumi Korea beberapa saat yang akan datang.

Gadis itu kembali tersenyum mengingat bagaimana nanti Gabriel akan berkali-kali mengeluh padanya untuk pergi berlibur ke pantai. Setiap kali musim panas seperti ini, anak ini akan setiap hari meminta kupon liburan ke pantai padanya.

Namun karena kini ia adalah seorang single parent, yang harus bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan mereka, ia sadar bahwa tak bisa seterusnya menuruti permintaan Gabriel. Ia harus tetap disiplin pada tugasnya sebagai penulis naskah acara talkshow yang tayang setiap minggunya.

Beruntung, pekerjaannya yang saat ini sudah lebih ringan daripada dulu ketika ia masih menjadi penulis di redaksi pemberitaan. Kini ia lebih banyak bisa menikmati waktunya untuk sekedar menjernihkan pikiran di taman di depan stasiun tv. Sangat berbeda dengan yang dulu bukan, bahkan dulu ia hampir tak pernah memiliki waktu untuk sekedar menjemput Gabriel sepulang sekolah.

Dan untuk libura kali ini, ia telah benar-benar menyisihkan waktunya untuk berlibur bersama putra semata wayangnya itu. Ia ingin menikmati musim panas kali ini dengan menikmati indahnya pantai Heundae, Busan. Pantai yang memiliki banyak kenangan untuknya, terlebih kenangan saat ia masih memiliki hubungan dengan Hyukjae.

Tidak, faktanya ia memang tidak sepenuhnya melupakan kenangan bersama pria itu. Sekuat apapun ia menciba untuk melupakan segalanya tentang pria itu, yang ada hanyalah kenangan-kenangan tersebut justru semakin kuat ada di dalam ingatannya.

Berlibur berdua ke Busan, menikmati suasana sore di Heundae, dan setelah itu semuanya benar-benar telah berakhir untuk mereka.

Hyeonmi kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk menydarkan dirinya sendiri pada kenyataan yang ada sekarang. Takdir itu telah terjadi. Mereka telah berubah dan tak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk bersama-sama kembali. Ia yang sekarang adalah Shin Hyeonmi yang merupakan istri dan juga seorang Ibu untuk anaknya. Bukan lagi Hyeonmi yang dulu, Hyeonmi yang hanya mengurusi cinta dalam hidupnya dan juga Hyeonmi yang tidak memiliki tanggung jawab apapun.

Begitupula dengan pria itu, bukan lagi seorang mahasiswa yang merupakan senior di sekolahnya dulu. Pria itu, Lee Hyukjae telah berubah menjadi seorang bisnisman sukses, yang memiliki ratusan pegawai di perusahaan dimana ia kini memimpin, dan ia juga memiliki masa depannya sendiri saat ini dengan seorang Jaksa cantik tersebut.

Wanita itu kembali berdiri dan berjalan menuju meja riasnya. Sesaat ia kembali menarik handuk yang menyampir di pundaknya dan mengusapkannya kembali ke rambut basahnya sebelum benar-benar kemudian melepaskan handuk tersebut dan melemparkannya ke tumpukan baju kotor lainnya.

Dilihatnya baik-baik kemudian pantulan dirinya dari balik cermin yang terdapat di atas meja riasnya. Benar, semuanya telah berubah. Ia yang kini dan dulu, telah benar-benar berubah. Sekilas mungkin semuanya masih terlihat sama, tubuhnya yang mungil, pipinya yang chubby, tapi jika di telisik lebih dalam maka akan terlihat perbedaan itu. Disini, di dalam matanya. Bukan lagi kehidupan pribadinya yang menjadi utama, tetapi kehidupan dan kebahagiaan Gabriel yang menjadi paling utama untuknya kini.

**

“Mom, wae?” tanya Gabriel ketika selesai mengenakan sepasang sepatunya dan berjalan keluar pintu rumah kediaman kakek dan neneknya.

Bocah itu menghentikan langkahnya dan menatap ibunya yang tengah berjuang menyalakan mesin mobilnya. Mungkin sudah setengah jalm atau bahkan lebih sang ibu berulang kali menstarter mobilnya, namun belum ada kemajuan sedikitpun disana.

“Apa mobilnya mogok? Wah, kalau begitu aku tidak perlu ke sekolah kan mom?” tanya anak kecil tersebut dengan antusias.

“No.” Jawab Ibunya cepat, sesaat Hyeonmi menyembulkan wajahnya keluar melewati jendela kaca mobilnya, dan menatap baik-baik wajah Gabriel, “Tidak ada alasan untuk membolos, kita bisa naik bus ke sekolahmu.” Katanya lagi.

“Tapi aku akan terlambat naik bus,” jawab Gabriel.

“Mom akan mengantarkanmu sampai sekolah dan meminta maaf pada Gurumu kalau terlambat,” sahut gadis itu seraya keluar dari dalam mobilnya dan berjalan memasuki rumahnya kembali.

Tak lama gadis itu keluar dari dalam rumahnya lagi dengan membawa tas jinjingnya. Diikuti ibunya yang mengikuti di belakangnya. “Kau yakin akan naik bus Hyeonmi-ah? Kau bisa membawa mobil appamu.” Kata ibunya sambil berjalan di belakang Hyeonmi.

“Ani eomma, appa harus ke kantor dengan mobil itu, aku bisa naik bus saja.” Jawabnya sambil sedikit berjongkok memasang sepatu heelnya di sepasang kakinya. “Aku berangkat eomma, anyyeong.” Pamitnya kemudian.

**

Eunhyuk kembali mengurangi kecepatan mobilnya. Tangannya bergerak memencet beberapa tombol yang ada di dashboard mobilnya, dan tak lama kemudian alunan melodi itu segera terdengar. Jason Mraz, Im Yours, adalah salah satu lagu favoritnya yang benar-benar menjadi penyemangatnya saat pagi berangkat ke kantor seperti ini.

Sejenak ia menolehkan pandangannya keluar kaca jendela, menatap daun-daun dan bunga yang mulai tumbuh sejak musim semi kemarin. Bibirnya mulai bergerak tersenyum menatap bunga-bunga segar yang tumbuh di jalanan itu.

Perlahan pandangannya terhenti pada seorang wanita yang berdiri di pingir halte bus. Seseorang yang dua hari ini telah mengisi harinya kembali setelah enam tahun lamanya ia menghilang. Dengan cepat pria itu kembali menekan gas mobilnya dan menghentikannya tepat di depan gadis itu berdiri.

“Kau naik bis?” tanyanya saat kaca mobilnya terbuka.

Hyeonmi memandang ke sekelilingnya, mencari tahu sosok lain yang mungkin saja diajak bicara pria itu. Tetapi tak ada sosok lain di sekitarnya dan hanya ia yang tengah berdiri disana.

“Kau, kau pikir aku berbicara dengan orang lain.” Kata pria itu sebal.

Gadis itu mendengus sebal dan sedikit meruncingkan bibirnya sebelum menjawab pertanyaan pria itu, “Ne, mobilku mogok.” Jawabnya singkat.

“Kenapa kau mencari bis disini. Bukankah ini bukan arah rumahmu.” Tanya Eunhyuk lagi.

“Aku baru saja mengantarkan anakku ke sekolah.”

Pria itu mengangguk paham kemudian. Dia benar-benar telah berubah, setidaknya ia dapat melihat wanita ini menunjukkan rasa sayangnya kepada orang lain, meskipun memang itu adalah anaknya sendiri yang harus mendapatkan rasa sayang itu darinya, “Mau berangkat bersamaku?” tawarnya kemudian.

Hyeonmi tak segera menjawab, sejenak ia itu berpikir tentang tawaran yang di lontarkan Hyukjae padanya. Ini sudah terlalu siang untuk mengunggu bis, tetapi jika ia menumpang mobil pria ini tidakkah itu terlalu berlebihan. Bukankah ia telah berjanji semalam, bahwa tak akan sedikitpun membiarkan celah hatinya kembali terbuka untuk pria ini.

“Ani. Aku tidak mau berhutang apapun padamu.” Tolaknya kemudian.

Hyukjae diam, apakah gadis ini baru saja menolaknya lagi? Cihh, benar-benar wanita yang terlalu keras kepala, batinnya. “Geurae, aku duluan kalau begitu.” Ucapnya kasar, tapi sebelum kembali menutup kaca jendelanya, ada hal lain yang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, “Lebih baik kau telfon suamimu, dan memintanya untuk mengantarkanmu ke kantor.” Ucapnya lagi sebelum akhirnya benar-benar menutup kaca jendelanya dan menjalankan mesin mobilnya menjauhi Hyeonmi.

Sementara Hyeonmi hanya bisa melihat mobil yang di kendarai semakin menjauh darinya dan dalam hati ia hanya bisa menahan amarahnya karena ucapan pria itu tadi. Pria itu masih saja berbuat dan berkata sesuka hatinya bukan.

Mungkin ia tak dapat menyalahkan Hyukjae sepenuhnya jika pria itu menaruh rasa dendam pada Jongsuk, karena faktanya saat mereka masih berhubungan dulu ia selalu mengenalkan Jongsuk sebagai sosok sahabatnya. Dan ia sendiri juga tak pernah berfikir bahwa sosok yang selalu ia anggap sebagai sahabatnya itu ternyata adalah orang yang benar-benar menjadi suaminya kemudian.

**

“Apakah aku masih memiliki jadwal lain hari ini?” tanya Eunhyuk pada sekertarisnya sambil berjalan keluar ruangan meetingnya dengan jajara direksi HaeShin Group.

Pria itu berjalan sambil sedikit melonggarkan kaitan dasinya di leher yang cukup kuat hari itu. Sesaat wanita yang berjalan di belakangnya nampak membuka-buka sebuah buku catatan kecilnya dan memastikan jadwal yang dimiliki Eunhyuk setelahnya, “Ani. Seharusnya setelah ini Anda ada pertemuan dengan investor dari Jepang, tetapi beliau membatalkannya karena penerbangannya dari Jepang hari ini sedikit terlambat.” Jawab wanita itu.

“Apa tidak ada lagi yang lain?” tanyanya lagi.

“Ani. Mungkin hanya mengecek beberapa laporan dari bagian keuangan.” Jawabnya.

“Kau periksa saja semuanya dan laporkan padaku nanti. Aku ingin meninggalkan kantor lebih awal hari ini.”

Tanpa menunggu jawaban dari sekertarisnya, pria itu segera berjalan cepat menuju tempat parkir perusahaan dan mengambil mobilnya.

Dengan segera ia menyalakan mesin mobilnya dan melesat meninggalkan perusahaan. Ada hal lain yang kini benar-benar memenuhi pikirannya dan bahkan telah sukses membuat konsentrasinya hari ini saat rapat dengan dewan direksi menjadi pecah dan berantakan.

Hyeonmi. Lagi-lagi nama itu yang membuatnya kacau.

Pagi tadi ia bertemu dengan gadis itu di pinggir jalan, dan gadis itu secara terang-terangan menolak ajakannya untuk menumpang mobilnya. Karena kesal, ia bahkan sempat mengucapkan kalimat yang sedikit kasar pada gadis itu dengan menyebut-nyebut sosok Jongsuk yang notabene kini telah meninggal dunia.

Tapi yang membuatnya kembali berfikir adalah fakta mengapa Hyeonmi seakan menutupi kematian Jongsuk darinya. Ia justru mengetahui Jongsuk telah meninggal dari staf lain di stasiun tv dimana gadis itu bekerja. Apa ia sengaja menyembunyikan hal itu padanya, dengan tujuan agar ia tak kembali mengusik kehidupan pribadinya?

Hanya itu yang ingin ia ketahui, dan kalaupun nanti jawabannya memang benar menyakitkan untuknya, maka ia berjanji pada gadis itu untuk tak kembali mengusik kehidupannya dan memulai kehidupan barunya sendiri dengan Sojin.

Pria itu mematikan mesin mobilnya setelah selesai memarkirkannya tepat di pinggiran cafe yag berjajar di sekitar stasiun tv. Sengaja ia tak memarkirkan mobilnya di tempat yang seharusnya karena tadi ia sempat melihat gadis yang ia cari sedang duduk di kursi taman milik stasiun tv.

Segera ia berlari menuju ke tempat dimana gadis itu berada, dan menemukannya sedang diam mematung menatap aliran air kolam ikan yang terletak tepat di tengah-tengah taman itu. Di tangannya ia menggenggam segelas americano dingin yang kini hanya tersisa setengah gelas. Sesaat ia menghembuskan nafasnya pelan melihat apa yang dibawa gadis itu di tangannya, selalu americano.

“Americano lagi.” Katanya memecahkan lamunan Hyeonmi.

Eunhyuk menempatkan dirinya untuk duduk bersandar pada kursi panjang yang sama dengan yang saat ini tengah di duduki Hyeonmi itu. Ditatapnya sekali lagi wajah gadis itu dengan intens, kemudian beralih menatap aliran air kolam yang sebelumnya menjadi fokus utama dari Hyeonmi.

“Kau belum mengatakan satu hal padaku,” kata pria itu lagi.

Sementara Hyeonmi mengalihkan pandangannya, menatap tak mengerti pada kalimat yang baru saja dikatakan pria itu. Satu hal? Mungkin bukan hanya satu, tapi cukup banyak hal yang memang tidak ia katakan pada lelaki itu. Dan ia sama sekali tak berpikir untuk mengatakan apapun padanya, karena toh semua itu tak akan berarti apapun untuknya.

“Tentang Jongsuk yang telah pergi meninggalkanmu.” Kata pria itu lagi tanpa menatap Hyeonmi dan masih asyik memperhatikan cipratan air kolan yang sedikit mengenainya.

Hyeonmi sedikit terkejut dengan kalimat tersebut. Tapi kembali ia berusaha tampak tenang seolah tak menyembunyikan fakta apapun tentang Jongsuk dari lelaki itu. Kembali di tolehkannya wajahnya ke depan, ikut mengamati air kolam yang berada tepat di hadapannya, sambil sesekali memperhatikan beberapa ikan-ikan kecil yang berenang di dalamnya.

“Sampai kapan kau akan diam kepadaku, Hyeonmi-ah?”

Lagi, gadis itu memilih diam dan tak menjawabnya dengan sepatah katapun.

 

Drrrtt… drrttt..

 

Hyeonmi merogoh saku jaketnya, dan mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam jaket tersebut.

“Yoboseyo?” katanya mengangkat panggilan tersebut.

“Ne, Gabriel? Wae?

“Ne, saya akan segera kesana.” Jawabnya kemudian dengan sedikit panik.

Segera gadis itu berdiri dan melangkahkan kakinya menjauh meninggalkan Hyukjae sesaat setelah menutup panggilan teleponnya. Sedangkan Hyukjae juga dengan segera berdiri dan berjalan mengikuti langkah gadis itu yang tergesa-gesa. “Yak, Shin Hyeonmi, kau mau kemana?” teriaknya.

Dengan cepat Hyukjae berjalan mengikuti Hyeonmi dan menarik pergelangan tangan kiri gadis itu. Membuatnya menghentikan sejenak langkahnya dan menatap tajam ke arah Hyukjae, “Kau tahu kan, meskipun Jongsuk telah meninggal, aku memiliki anak buah pernikahanku dengan Jongsuk.” Kata Hyeonmi.

Hyukjae diam, memberikan waktu yang lebih pada gadis itu untuk menjelaskan tujuannya.

“Aku mendapat telepon dari sekolahnya, dan aku harus kesana sekarang juga.” Lanjut gadis itu. Dengan keras ia berusaha melepaskan cengkraman Hyukjae di pergelangan tangannya. Tetapi lelaki itu memiliki kekuatan yang lebih jika di bandingkan dengannya hingga ia harus berusaha berkali-kali agar cengkeraman itu terlepas.

“Naiklah ke mobilku, aku akan mengantarkanmu kesana.” Kata pria itu setelah melepaskan cengkeraman dan berjalan menuju mobilnya.

**

“Gabriel tadi memukul EunSeok, meskipun tidak ada luka yang serius tetapi sebaiknya kami mempertemukan kedua orang tua dari anak yang bersangkutan.” Salah satu guru sekolah Gabriel mulai menjelaskan kepada Hyeonmi dan juga seorang wanita lainnya yang duduk tepat di sebelah Hyeonmi.

“Menurut Gabriel, ia hanya membantu temannya yang memang sedang di goda oleh EunSeok.” Lanjut guru tersebut.

Sementara di luar ruang kantor guru, Gabriel terduduk lemas di pinggir pintu. Bocah kecil itu menyandarkan dirinya pada dinding yang membatasinya dengan ibunya saat ini yang berada di dalam ruang guru.

Ia menunduk, dan menahan agar tak sedikitpun air matanya menetes keluar saat ini. Bukan, bocah itu tak menangis karena telah melakukan perbuatan yang salah dengan memukul EunSeok, justru ia memukul EunSeok karena ia hanya ingin membela Aleyna. Dan kini ia mati-matian menahan air matanya karena takut jika sesaat lagi ibunya akan memarahinya.

Ia tak memiliki sosok ayah yang akan melindunginya lagi seperti dulu ketika ia berbuat salah dan membuat ibunya marah. Ia tak tahu harus meminta pertolongan pada siapa lagi nanti jika ibunya memarahinya.

“Yak, kau menangis? Bukankah kau anak laki-laki?”

Gabriel mengangkat kepalanya menata seseorang berpakaian kemeja lengkap dengan stelan jas yang ia gunakan itu sedang berdiri di hadapannya. Sesaat pria itu berjongkok padanya dan mensejajarkan dirinya dengan tubuh mungil Gabriel.

“Nuguya?” tanya Gabriel pada lelaki itu.

“Aku?” pria itu melirik ke sebelah Gabriel sejenak dan mengerlingkan senyumannya pada Gabriel, “Aku teman Ibumu, kau bisa memanggilku Wonbin-ahjushi.” Lanjutnya.

“Wonbin? You’re liar.”

“Mwo? Geurae, geurae. Panggil aku Hyukjae-ahjushi.” Kata pria itu pada akhirnya, “Yak, apa kau tadi baru saja bertengkar dengan temanmu?” tanyanya kemudian.

Gabriel mengangguk, dan menempatkan satu jari telunjukkan tepat di depan bibirnya. Memberikan isyarat pada Hyukjae agar merahasiakan hal tersebut.

“Mom, akan memarahiku nanti.” Jawab bocah kecil itu dengan nada suara yang melemah.

“Marah? Apa ibumu pemarah?”

Belum sempat Gabriel menjawab pertanyaan Hyukjae, justru Hyeonmi telah berdiri di hadapannya dengan memasang wajah yang benar-benar paling di benci bocah itu. Ketika ibunya sedang dalam emosi yang benar-benar memuncak karena perbuatannya.

“Bisa kau antarkan aku kembali sekarang Hyuk?” kata Hyeonmi seolah tak memperdulikan Gabriel sama sekali.

Dengan segera ia berjalan melangkahkan kakinya keluar dari gedung sekolah Gabriel. Sementara Gabriel yang ketakutan itu masih diam mematung di tempatnya. Hyukjae segera meraih tangan Gabriel dan mengajaknya berjalan bersama menuju mobilnya terparkir di depan gedung sekolah.

Pria itu membukakan pintu mobil bagian depan untuk Hyeonmi dan setelahnya ia kembali membuka pintu bagian belakang untuk Gabriel sebelum kemudian ia masuk dan mulai mengemudikan mobilnya melintasi jalanan.

“Apa kau mau aku mengantarkanmu ke rumah?” tanyanya

“Ani. Aniyo, aku tidak mau pulang ke rumah.” Protes Gabriel.

Hyeonmi sedikit menggeserkan pandangannya menoleh ke kursi bagian belakang dimana saat ini Gabriel sedang duduk. “Gabriel, Mom harus kembali ke kantor untuk bekerja. Tidak mungkin Mom membawamu ke kantor.” Ucapnya.

Gadis itu benar, ia masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor hari ini dan tidak mungkin ia membawa Gabriel kesana. Kantornya hari-hari belakangan ini cukup sibuk, dan tidak ada seorangpun yang dapat ia mintai tolong untuk menjaga Gabriel hari ini. Berbeda dengan di rumah, setidaknya ada Ibunya yang akan menjaga Gabriel disana.

“Mom, please. It’s not time for me to back at home.”

“So, why you fight with your friends if you wan’t back to home?”

“I just.. “ bocah itu diam, tak bisa menjawab lagi. Apapun yang ia katakan hanya akan terdengar sebagai sebuah alasan untuk ibunya saat ini.

Sungguh ini masih terlalu awal jika ia harus pulang ke rumah haelmoni, dan dia tak mau pulang lebih awal, tapi ibunya benar, kemana lagi ia harus pergi jika ibunya sedang bekerja selain pulang ke rumah haelmoni?

Hyukjae menarik nafasnya berat, sungguh saat ini ia berada dalam atmosfer yang benar-benar tidak nyaman. Hyeonmi yang sekarang tak jauh berbeda dengan yang pernah ia kenal dulu. Saat marah, wanita itu akan memilih untuk diam solah tak menggubris sosok yang membuatnya marah. “Yak, kau berkelahi dengan temanmu? Lalu apa kau memenangkan perkelahian itu tadi?” kata pria itu membuka suaranya.

Gabriel mengangkat kepalanya menatap Hyukjae yang sedang mencoba untuk mencairkan suasana diantara mereka yang memang sedang kaku karena ibunya yang marah. “Tentu saja. Ahjushi kau tau, dia tidak bisa melawanku sama sekali.” Jawab bocah kecil tersebut antusias.

“Jinjayo??” jawab Hyukjae, “Kau hebat.” Katanya sambil memperlihatkan dua jari jempolnya kepada Gabriel, membuat bocah kecil itu kembali tersenyum saat itu juga.

Hyeonmi menolehkan wajahnya ke kiri, menatap Hyukjae yang sedang berusaha untuk menghibur Gabriel saat ini, “Hyuk, tolong jangan membelanya.”ucap Hyeonmi. Ini bukan saat yang tepat jika pria itu ingin menghibur Gabriel karena kesalahan yang dilakukan olehbocah kecil itu tadi di sekolah memanglah tak pantas untuk dibela.

“Aku tidak membelanya.” Jawab pria itu, “Tapi, kemana aku harus membawa kalian pergi saat ini?” tanyanya.

“Ke rumahku.” Jawab Hyeonmi singkat.

“Shireo.” Tolak Gabriel lagi. Sungguh ia masih belum ingin kembali ke rumah haelmoni saat ini, tapi sesungguhnya ia sendiri juga tak tau kemana ia harus pergi.

Pria itu menutup matanya sejenak, menarik nafasnya berat dan segera menghembuskannya, “Baiklah, boleh aku menengahi?” jawabnya, “Biarkan dia ikut bersamaku.” Kata pria itu kemudian.

“Mworago? Apa kau tidak bekerja?”

“Pekerjaanku sudah selesai.” Jawabnya santai, “Kau bisa mempercayaiku Hyeonmi-ah.” Lanjutnya.

Pria itu kembali menyunggingkan senyuman khas miliknya pada Hyeonmi. Disadari atau tidak, sejak mengetahui bahwa Hyeonmi telah menjadi seorang single parent, secercik harapan yang pernah mati untuk gadis ini sepertinya telah kembali tumbuh.

 

*TBC*

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: