A Memory

a memory

Nama : LexaCSJ

Judul : A Memory

Cast : Find out by yourself

Genre : Hurt, Family, Sad

Rating : PG-15 /?

Length : Ficlet – One Shot

Catatan :

All cast milik Tuhan…. But, cerita murni dari pemikiran Author… Ini fanficku yang pertama, walaupun jadi dalam beberapa jam tapi revisi berkali-kali karena buruknya penulisan

Author tak menuntut banyak, bila berkenan tinggalkan komentar baik itu kritik ataupun saran agar fanfic selanjutnya lebih baik

Terinspirasi dari lagu Winner – Empty

 

Bold : Flashback

**

Kringg…

Suara alarm menimbulkan bunyi nyaring disetiap sudut ruangan itu. Kicauan burung yang hinggap di balkon kamar, sinar matahari yang menyeruak masuk ke celah-celah tirai jendela meyakinkan keadaan bahwa waktu sudah pagi.

Seorang pria yang tengah tidur diranjang berukuran king size mematikan alarm yang berada di nakas sebelah kanan tanpa membuka matanya. Merenggangkan seluruh badannya yang sakit akibat terlalu banyak bekerja dan kurang tidur, membuka matanya tanpa berniat bangun dari tempat tidur. Meraba ranjang sebelahnya berharap ada seseorang yang tidur disana, tapi nihil. Tak seorangpun berada disana, ia menghela nafas pendek lalu menyembunyikan wajah dengan tangan kanannya.

Aku merindukanmu sayang. Sangat merindukanmu…

Kututup mataku kembali ketika seseorang membuka pintu kamar, berpura-pura tidur.

“sayang bangun” diam. Aku tak mengindahkan perkataannya. Aku mengerang pelan dan berganti posisi tanpa membuka mata.

“sayang… Ayo bangun” kurasakan dia menaiki ranjang, menggoyangkan tubuhku. Sekejap kutarik tubuhnya hingga dia jatuh diatas tubuhku. Kupeluk dia lalu membuka mata seraya menatap matanya.

“morning kiss” kataku sambil tersenyum jahil. Dia menatapku dengan wajah yang dibuat-buat.

“tidak ada morning kiss sebelum kau mandi sayang. Ayo, aku sudah membuatkan sarapan kesukaanmu” dia memberontak agar aku mau melepaskannya tapi salah besar. Aku mempererat pelukanku. Terlebih akibat gerakannya membuatku ingin melakukan hal yang lebih.

“sayang. Jangan membuatku melakukan hal yang membuatmu tak bisa turun dari ranjang ini. Morning kiss” bisikku menggoda di telinganya. Aku tahu dia tersipu malu, memukul pelan dadaku yang terlanjang

“kau mesum. Baiklah, hanya untuk hari ini” dia mencium bibirku lembut, kubalas ciumannya perlahan tanpa menutup mataku. Memandangi wajahnya merupakan salah satu kegemaranku. Saat dia akan melepaskan ciumannya, kupererat pelukanku di pinggangnya. Melumat habis bibirnya yang menggoda. Mengusap punggung polosnya. Balasan darinya membuatku ingin…

Kulepaskan ciuman kami, dia menghirup udara sebanyak mungkin. Aku terkekeh melihat walaupun aku sendiri sepertinya

Kupukul pantatnya ketika dia bangkit berdiri. Dia terkejut dan menatapku garang, aku tertawa kecil lalu mengikutinya. Memeluknya dari belakang

“terima kasih sudah masuk dalam hidupku, sayang” setelah itu aku mandi dan bersiap sebelum diceramahinya

Bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi dengan lemas. Melepas celana tidurnya beserta boxer yang dipakainya lalu masuk ke dalam box kamar mandi, mandi dengan shower akan membuatnya lebih tenang. Dengan bertumpuan pada dinding, dia menundukkan kepalanya hingga air membasahi seluruh rambutnya.

Menit demi menit berlalu tanpa pergerakan hingga pundaknya berulang kali terangkat pelan. Menangis. Pria itu menangis dalam pancuran air. Sadar sudah terlalu lama berdiam diri, dia mendongakkan kepalanya mulai membersihkan diri sendiri.

Dengan masih menggunakan handuk di pinggangnya, dia berjalan ke lemari memilih pakaian yang akan di pakai. Matanya tertuju pada pakaian wanita yang tersimpan bersama dengan miliknya, mengambil salah satu baju yang menarik perhatiannya, menghirup wangi khas yang dia rindukan. Menaruhnya kembali sebelum dia menumpahkan air matanya lagi, memakai pakaian formal yang selalu dia gunakan ke kantor.

Setelah berpakaian lengkap, dia duduk di depan meja rias, membuka laci mengambil sebuah jam tangannya yang tersimpan disana. Saat hendak berdiri tak sengaja menatap berbagai merk kosmetik yang tertata rapi di atas meja. Tanpa sadar mengambil sebuah perona bibir kesukaan wanitanya, menatapi benda itu penuh pilu. Setetes air mata jatuh mengenai benda itu, dia mengusap matanya lalu menaruh kembali benda itu di tempatnya semula. Dia sangat hafal dengan letak semua benda-benda itu.

Begitu banyak kenangan denganmu disini sayang. Aku tak akan pernah meninggalkanmu dan berhenti mencintaimu…

“kau cantik” pujiku. Dia memakai sebuah dress pendek berwarna beige polos dengan stiletto hitam 12cm. Kuakui dia sangat cantik saat ini, wanitaku yang tak pernah menyukai dress, memakainya hanya karena permintaanku. Kurengkuh tubuhnya, mendongakkan kepalanya lalu menciumnya. Bisa kurasakan bibir manisnya dengan rasa mint serta bau khasnya.

“kau harus membayar mahal karena menyuruhku memakai ini” katanya selepas kami berciuman. Aku tertawa kecil.

“apapun untukmu. Apa yang mau kau lakukan hari ini?” tanyaku. Dia berpikir sejenak.

“kau yakin hari ini tak ke kantor?” aku mengangguk yakin.

“aku sudah meminta tolong abeoji untuk menggantikanku hari ini jadi aku tak mungkin berbohong” mengumbar senyum indahnya lebar. Membisikkan kata-kata yang membuatku terkejut.

“amusement park? Kau yakin sayang? Dengan pakaian seperti itu?” tanyaku bertubi-tubi. Hanya dengan satu anggukan dan wajahnya yang berbinar membuatku yakin dia tak main-main.

“baiklah. Aku akan menuruti kemauanmu putri” pergilah kami ke taman bermain seperti keinginannya dengan membawa tas ransel yang kugunakan berisi pakaian ganti untuk kami.

“appa” seorang bocah kecil berlari kearahnya dan memeluk kakinya.

“anak appa sudah siap rupanya. Morning kiss” katanya sembari menggendong anaknya di lengan dan memberikan ciuman singkit dibibir anaknya.

“appa menangis?” tanya sang anak yang melihat matanya sembab. Dia menggelengkan kepalanya tak ingin anaknya tahu. Mendudukkan anaknya dikursi untuk sarapan bersama yang selalu dia lakukan beberapa tahun terakhir.

“hari ini kita akan mengunjungi eomma, kan appa?” tanya sang anak girang, membuat dia ikut tersenyum lembut.

“ne. Eomma pasti senang melihatmu datang. Tapi, kau harus jadi anak baik disana” anak itu mengangguk semangat, menghabiskan makanannya dengan lahap tanpa mengotori pakaiannya.

Aku melihatmu sayang. Dalam raga anak kita, Kim Jinwoo. Aku sedih sekaligus bahagia, karenamu kita memilikinya tapi karenanya aku harus kehilangan dirimu. Aku berjanji akan menyayanginya seperti aku menyayangimu, mencintainya seperti mencintaimu. Aku tak akan menyalahkanmu karena lebih memilihnya untuk hidup baru, aku mengerti sayang. Doakan dan bantulah kami selamanya.

“bagaimana keadaannya?” tanyaku panik saat sampai di rumah sakit.

“dia masih di dalam” orangtuaku menangis. Dia kesakitan dan aku tak ada disampingnya saat itu. Aku sungguh suami yang buruk, dia membutuhkanku tapi aku meninggalkannya sendiri.

“tuan Jongwoon. Nona Yeonjoo meminta anda untuk menemaninya” kata suster yang keluar dari ruang operasi. Aku mengangguk kasar dan mengikutinya.

“sayang” kugenggam tangannya. Memberinya kekuatan. Anakku. Anakku akan segera lahir.

“kau pasti bisa sayang. Kau kuat, sebentar lagi kita akan menjadi orangtua” aku tak kuat melihatnya kesakitan. Tuhan, bantulah dia. Kugenggam terus tangannya yang meremas tanganku menahan sakit.

Tangisan. Aku mendengar suara tangisan. Apa itu anakku?

“selamat tuan. Anda memiliki anak laki-laki yang tampan” aku menitikkan air mata bahagia melihat anakku lahir. Tak bertahan lama, aku mendengar suara dokter berteriak kencang. Aku menolehkan kepalaku pada wanitaku.

“tuan. Silakan ikut saya keluar” seorang suster menarikku keluar, aku terpaku melihat keadaannya.

 

1 jam…

 

2 jam…

 

3 jam…

 

Choi Siwon keluar dari ruang operasi, saat melihat wajahnya membuatku semakin gusar.

“bagaimana keadaannya, Siwon ah?” desakku. Dia menggelengkan kepalanya.

“maafkan aku hyung. Aku sudah berusaha semampuku. Keadaan noona sangat buruk, dia mengalami pendarahan hebat” ucapan Siwon bagaikan petir yang menyambarku, aku berjalan lunglai hingga terjatuh di lantai. Tak mendengarkan kata siapapun, aku sungguh tak kuat mendengarnya lagi.

 

Next day…

“sayang. Aku sangat berterima kasih bisa bertemu denganmu. Aku bersyukur bisa memilikimu. Dan aku sangat bahagia kau berada disini. Jagalah anak kita seperti kau menjagaku. Perlakukanlah dia seperti kau memperlakukan keluargamu” ucap wanitaku lemah sembari menggendong bayi kami. Dia sudah tersadar beberapa jam yang lalu dan hal pertama yang dia minta adalah melihat bayi kami. Aku mengangguk pelan, memalingkan kepala untuk beberapa saat dan mendongakkannya berharap air mataku tak jatuh.

“hanya kalian berdualah tujuanku untuk hidup. Aku bangga pada kalian. Kumohon jangan pernah meninggalkanku dan juga anak kita sayang. Aku membutuhkanmu” kukecup keningnya lama.

“tuan Jongwoon. Tuan Venetianer dan nyonya Lee mengatakan mereka sudah pergi terlebih dahulu dan meminta anda dan tuan muda bertemu di sana” ucap Jung ahjumma, seseorang yang selalu merawatnya dari kecil dan kini merawat Jinwoo.

“arraseo ahjumma. Gomawo sudah memberitahu dan membantuku meminta izin pada sekolah Jinwoo” kata Jongwoon tulus. Jung ahjumma hanya tersenyum dan membersihkan piring-piring yang sudah terpakai. Menggandeng Jinwoo keluar rumah, mendudukkannya di bangku belakang dimana terdapat bangku khusus untuknya. Sekali lagi mengecup pipi Jinwoo singkat.

Beberapa jam berkendara, mereka sampai di sebuah padang rumput yang indah. Tak ingin anaknya lelah, dia berinisiatif menggendongnya dengan sebelah tangan lalu tangan lainnya memegang buket bunga. Melewati padang rumput hingga berada di bukit kecil, mereka melihat sebuah pohon serta dua orang paruh baya berdiri. Jinwoo memintanya untuk menurunkannya lalu berlari ke arah kedua orang itu yang terlihat senang dengan kehadiran Jinwoo.

“abeonim… Eommonim…” sapanya sambil membungkukkan badan tanda menghormati mereka.

“kalian sudah datang” ucap pria paruh baya itu. Dia mengangguk sedikit, melalui mereka dan mendekati sebuah nisan di depannya. Menatapi sedih, berjongkok dan menaruh buket bunga disana. Jinwoo menghampirinya dan turut menaruh bunga disana.

“eomma. Aku merindukanmu dan sangat ingin menemuimu. Appa selalu bercerita tentang eomma, aku iri dengan appa” ucap Jinwoo sambil mengembungkan pipinya menandakan kesal. Dia terkejut anaknya akan berkata seperti itu, berdecak pelan.

“sayang. Lihatlah, anak kita bahkan sudah bisa marah pada appanya ini” sambungnya. Mengadu pada nisan di depannya seolah itu adalah sesosok manusia.

“eomma. Eomma harus lihat kelakuan appa di kantor, banyak ahjumma-ahjumma yang menggoda appa. Aku tak menyukainya, aku janji akan menjaga appa dengan baik biar ahjumma jahat itu tak mengganggu lagi” dia membulatkan matanya, bagaimana bisa anaknya berkata seperti itu.

“sayang. Jangan bicara seperti itu pada eomma. Nanti eomma marah pada appa dan merajuk sepertimu” Jinwoo menjulurkan lidah mengejek dia lalu kembali kepada harabeoji dan halmeoninya yang sudah menunggu mereka untuk makan bersama. Hari ini tepat empat tahun wanitanya meninggalkan mereka berdua.

Dia memperhatikan anaknya sejenak setelah itu kembali menatap nisan di depannya tanpa kata.

Memorial in

Irene Cassandra Venetianer

a.k.a

Lee Yeonjoo

1984-2012

“kau tahu aku selalu merindukanmu. Kadang aku masih selalu berharap kau berada disampingku, tapi aku disadarkan kembali bahwa kau telah lama meninggalkanku. Aku selalu mendoakanmu disana. Kau tahu, setiap harinya aku selalu berpikir Jinwoo semakin mirip denganmu sayang. My hearts feels so empty. Just a memory, i was happy. Don’t forget me, lets meet again” mengakhiri ucapannya, memberikan ciuman pada telepak tangannya dan menaruhnya di batu nisan. Tersenyum lemah lalu kembali ke keluarga yang sudah menunggunya.

5 Comments (+add yours?)

  1. Jung Haerin
    Apr 02, 2015 @ 00:09:09

    Oke sedih trnyta….. Kereenn….
    Keep writing…

    Reply

  2. esakodok
    Apr 02, 2015 @ 12:28:14

    arghhh…feel joowon cinta banget sama istrinya juga kerasa bangettt…merinding rasanya

    Reply

  3. Monika sbr
    Apr 02, 2015 @ 15:26:23

    Kasihan jongwoon yg harus merawat anaknya seorang diri….

    Reply

  4. ShikshinCloud
    Apr 05, 2015 @ 00:15:35

    sedih banget..

    Reply

  5. ayu diyah
    Apr 07, 2015 @ 12:22:59

    joongwoon dia lelaki idaman.
    awalnya nyangka kyuhyun,,eh ternyata ahjussi kepala besar kkk~
    suka suka

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: