Minutes When I Remember You

Minutes When I Remember You (new)

Title: Minutes When I Remember You

Author: Petite Lady

Main Cast(s): Kyuhyun, Sheena

Genre: Romance, Angst

Length: Oneshot

Rating: T

Twitter: @thepetitelady

Facebook: Nurhayati Puspitarini

———————

Aku baru hampir saja merasakan berdiri bersanding denganmu. Tapi ternyata, aku tak punya cukup waktu karena ingatanmu yang kembali lebih lama daripada durasi napasku.

***

“Kupastikan kau akan menyesal karena menolakku!” teriak Sheena dengan cukup lantang hingga orang-orang melemparinya dengan tatapan apa-dia-gila. Namun gadis itu tetap tidak peduli. Lebih tepatnya sudah tidak peduli lagi. Ia lelah. Bukan hanya tubuhnya yang mungil itu yang merasa lelah. Tapi juga pikiran dan hatinya.

Ia jengkel bukan karena sebuah penolakan cinta—melainkan penolakan atas lamaran pekerjaannya. Ini sudah hampir yang kelima kalinya lamaran pekerjaannya ditolak dalam waktu sehari. Dan ia sudah berusaha melamar pekerjaan di berbagai tempat minggu ini. Jadi, bisa dibayangkan kan, betapa lelahnya dia?

Tenggorokannya kering. Perutnya keroncongan. Tapi masih tergambar jelas di ingatannya, tak banyak uang yang tersisa di dompetnya sekarang. Hidup seorang diri sebagai pegawai yang baru saja di-PHK di kota besar seperti Seoul tentu saja bukan perkara mudah baginya. Ia harus tetap bertahan hidup dengan keuangan yang semakin menipis.

Sheena memandangi stopmap berisi dokumen-dokumen penting miliknya yang ia gunakan untuk melamar pekerjaan. Tak satu pun dari kertas-kertas itu menolongnya hari ini—atau di hari-hari sebelumnya. Dia hampir putus asa. Ia melangkahkan kakinya dengan sisa-sisa tenaganya menyusuri jalan Dongdaemun yang dipenuhi banyak orang sore ini. Aroma makanan-makanan yang banyak dijual di situ tak jarang menggelitik hidungnya dan merambat ke perutnya. Ini pertama kalinya ia merasa lapar, tapi ia justru ingin menangis.

Ia butuh sesuatu. Sesuatu sebagai tempatnya menumpahkan air matanya. Tak jauh dari situ, sesuatu tertangkap oleh pandangan matanya. Seorang laki-laki—yang entah siapa—dengan kostum beruang berwarna putih berukuran besar lengkap dengan sepatu yang berbahan sama dengan kostum yang ia gunakan sekarang. Ia memegang sebuah plakat berukuran lima puluh senti kali empat puluh senti berwarna putih dengan tulisan “FREE HUG” yang ditulis dengan spidol warna hitam.

Tanpa pikir panjang lagi, Sheena melangkah cepat ke arah orang berkostum itu dan memeluknya—dan tentu saja orang berkostum itu membalas pelukannya. Ini yang ia butuhkan saat ini. Ia tak peduli siapa orang di balik kostum ini. Ia hanya perlu pelukan hangat seperti ini, bukan yang lain. Sheena menangis sejadinya. Ia bahkan terisak hingga tak sedikit orang yang berlalu-lalang pun memandanginya. Sheena menyembunyikan wajahnya di kostum yang terasa empuk sebagai tumpuan tubuhnya sekarang. Ia merasa nyaman untuk sekadar menumpahkan air matanya.

Agasshi, apa kau baik-baik saja?” Suara besar dan sedikit berat itu sedikit “membangunkan” Sheena yang sejak tadi menangis.

Sheena mengangkat wajahnya dan menemukan sepasang bola mata cokelat sedang membelenggu perhatiannya. Sheena memperhatikan fitur wajah si pemilik bola mata itu. Hidung meruncing, alis yang tercetak rapi di atas matanya yang cukup lebar, dan bibir tipis yang sedikit terbuka karena heran.

Agasshi?” panggil laki-laki berkostum itu lagi. Laki-laki itu sama sekali tak melepaskan lingkaran lengannya, begitu pun Sheena.

“Apa aku bisa memelukmu sebentar lagi?”

Raut wajah terkejut tak bisa disembunyikan oleh laki-laki itu. Tapi tak lama kemudian ekspresi itu berubah menjadi sebuah lengkungan senyum yang hangat. “Tentu saja.”

Sheena tersenyum lemah dan kembali memeluk laki-laki berkostum beruang itu lagi. “Aku benar-benar lelah….”

***

Sheena memandang ke dalam coffee shop melalui jendela besar yang berdiri gagah di bagian depan. Ia rindu duduk di balik jendela besar itu dengan sepasang headset putih terpasang di kedua telinganya, mengalunkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Howl—salah satu penyanyi Korea favoritnya. Ia rindu duduk di balik jendela besar itu sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang dengan ditemani secangkir espresso yang mengepul dan hangatnya atmosfir serta suasana di dalam coffee shop itu. Tapi itu dulu, saat ia masih memiliki cukup penghasilan. Sekarang, untuk sekadar makan dalam sehari pun ia perlu berpikir berkali-kali.

Hari ini masih sama dengan hari kemarin. Lamaran pekerjaannya masih saja ditolak. Ia sudah berjalan ke banyak tempat, namun tetap tak menghasilkan sebuah perubahan baik apa pun.

Sheena berjalan kembali menyusuri trotoar yang dipenuhi daun-daun kering yang berguguran dari pohon-pohon yang berjajar rapi mendampingi sepanjang jalan. Musim gugur… Sheena suka musim gugur. Tapi rasanya musim gugur kali ini terasa begitu menyedihkan baginya.

Agasshi?” sapa seorang laki-laki dari balik punggungnya. Sheena pun segera berbalik ketika ia merasa seseorang memanggilnya. Ah, bukan. Lebih tepatnya ketika Sheena mengenal suara ini. Suara yang mulai ia ingat sejak pertama kali mendengarnya—dan ia tak perlu waktu lama untuk itu.

“Eh, kau. Bear-ssi,” sahut Sheena langsung asal celetuk.

“Apa? Barusan kau memanggilku… Bear-ssi?” Laki-laki itu terbahak mendengar panggilan yang baru saja Sheena sebutkan tanpa ia pertimbangkan dahulu.

Sheena menjadi salah tingkah melihat respon dari laki-laki itu. Ia bingung, apakah ia harus ikut tertawa atau justru menunduk malu. Tapi akhirnya Sheena hanya menunduk malu. Ia mengutuk dirinya sendiri. Tak seharusnya ia memanggil laki-laki itu dengan panggilan “Bear”.

“Kita kemarin belum sempat berkenalan, ya? Sampai-sampai kau memanggilku dengan sebutan ‘Bear’.”

“Maaf,” gumam Sheena masih menunduk.

“Kau akan kumaafkan jika bersedia menemaniku minum espresso di coffee shop yang ada di tepi jalan—tempat kita bertemu kemarin. Bagaimana?” Laki-laki itu mengembangkan senyum yang begitu manis, sehingga berhasil membuat Sheena semakin salah tingkah dan mulai merasakan bertambahnya kecepatan detak jantungnya.

“Ng… baiklah.”

Mereka berdua hanya perlu berjalan selama sepuluh menit untuk mencapai coffee shop yang ada di dekat tempat mereka bertemu pertama kali kemarin.

Suasana hangat langsung menyambut keduanya ketika lonceng yang tergantung di pintu berbunyi nyaring sebagai tanda kedatangan pelanggan. Aroma kopi menguar memasuki rongga hidung mereka sehingga cukup berhasil mengundang keinginan mereka untuk sekadar menyesap secangkir kopi selama beberapa menit dengan didampingi topik perbincangan yang sudah mereka siapkan di masing-masing benak mereka.

“Kau ingin minum apa, Agasshi?” tanya laki-laki itu sopan ketika seorang barista menawarkan bantuan pada mereka dari balik meja counter.

Tanpa perlu berpikir lama, Sheena menjawab,“Espresso. Aku ingin minum espresso.” Rasanya sudah lama sekali baginya tidak meminum kopi favoritnya itu.

“Kalau begitu, tolong beri kami dua cangkir espresso,” ujar laki-laki itu pada si barista. Barista itu mengangguk sambil tersenyum ramah dan meminta mereka berdua menunggu.

Mereka berdua cukup beruntung hari itu. Tempat duduk di samping jendela besar di coffee shop itu masih kosong—belum ditempati oleh siapa pun. Mungkin karena sinar matahari menembus masuk dan cukup menyilaukan mata. Tapi tak satu pun dari mereka berdua mengeluhkan akan hal itu. Mereka justru senang, karena mereka semakin merasa hangat. Matahari pagi selalu menjadi sesuatu yang wajib untuk dinikmati ketika memulai hari yang baru.

“Mari segera kita buka acara perkenalan secara resmi, sebelum kau keterusan memanggilku ‘Bear’.” Laki-laki itu menahan tawa.

Kali ini Sheena tertawa kecil. Ada sedikit perasaan bersalah di benaknya. Tapi ia tak kuasa menahan senyum yang terkembang di bibirnya saat melihat kedua ujung bibir laki-laki itu tertarik secara berlawanan arah.

“Namaku Kyuhyun. Cho Kyuhyun.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya pad Sheena.

Sheena berhenti tertawa. Ia ganti memandangi telapak tangan besar yang sekarang sedang ada di depannya. Telapak tangan itu… telapak tangan yang telah berhasil membuatnya merasa nyaman. Yang seakan-akan menawarkan perlindungan padanya. Sheena memandang Kyuhyun yang masih tersenyum sambil mengangkat-angkat kedua alisnya.

Sheena menjabat tangan itu dan balas tersenyum—senyum termanis yang rasanya baru ia berikan sekarang. Rasanya laki-laki bernama Kyuhyun itu cukup—bahkan sangat pantas mendapatkan senyum termanisnya. “Sheena.”

“Kau….”

“Keturunan Singapura–Korea.”

“Kau sendirian saja di sini?”

“Aku sedang bersamamu. Apa kau sebodoh itu?”

Sheena mengutuk dirinya lagi. Bagaimana bisa mulutnya bisa selancang dan setidak sopan ini? Sheena menepuk-nepuk pelan mulutnya.

Di luar dugaan, Kyuhyun justru tertawa. “Kau benar-benar lucu, Sheena-ssi. Aku menyukai orang sepertimu.”

Sheena yakin bahwa ia bisa merasakan darahnya berdesir dengan kecepatan di atas normal sekarang ini. Sama dengan degup jantungnya, yang seakan-akan siap melompat keluar jika Sheena tak bisa mengendalikan dirinya sendiri dengan benar.

Oh, ayolah Sheena… kau jangan terlalu cepat berasumsi tentang kata “suka” itu….

“Aku sendirian sejak kecil—maksudku tanpa kedua orang tuaku. Sejak kecil, aku hanya mengenal kakek dan nenekku. Sedangkan ayah dan ibuku, aku hanya melihat mereka melalui foto tua yang entah sejak tahun kapan foto itu diambil.”

Kyuhyun hanya diam. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Perasaan bersalah seketika menjalari seluruh tubuhnya. Ia pasti membangkitkan rasa sakit dari luka-tak-tersembuhkan milik Sheena.

“Maaf…,” gumam Kyuhyun.

“Tidak perlu minta maaf, Kyuhyun-ssi. Aku sudah terbiasa tanpa mereka.” Sheena yang biasanya begitu sensitif ketika membahas tentang orang tuanya, kali ini mengulas senyum lebar seakan-akan tak ingin suasana di antara mereka rusak karena cerita menyedihkan dari masa lalunya. Ia tak ingin masa lalu menyakitkan itu juga mengganggu masanya yang lain. Ia perlu pindah dari masa kelam itu.

“Jadi, sejak kapan kau menjadi beruang yang suka memberi pelukan secara gratis?” Sheena membuka pembicaraan baru.

Kyuhyun tertawa lagi. Laki-laki ini benar-benar suka tertawa, ya. Itulah pikiran Sheena.

“Kemarin baru hari kedua,” jawab Kyuhyun. “Sebenarnya aku hanya iseng, sih. Rasanya sedang ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain.”

“Wah….” Sheena ragu untuk bertanya, walaupun sebenarnya ia sangat penasaran tentang hal yang membuat Kyuhyun sebahagia itu sampai-sampai ingin membaginya melalui cara seperti itu.

“Aku diterima sebagai salah satu pemain di panggung musikal ternama di jantung kota. Sesekali datanglah untuk menonton.”

Andai aku bisa, Kyuhyun-ssi.

“Suaramu pasti bagus sekali.”

Kyuhyun tertawa. Giginya yang putih tampak berderet dengan rapi. “Tidak begitu sih.”

“Pembohong.”

Suara tawa berderai di antara mereka, memenuhi sudut ruangan coffee shop yang hangat. Bersamaan dengan hadirnya dua cangkir espresso di meja yang menjadi batas mereka, tawa pun reda.

“Aku suka sekali aroma espresso.” Kyuhyun mengangkat cangkirnya dan mencium aromanya sekilas sambil menutup matanya sebelum benar-benar menyesapnya.

Sheena memperhatikan semua yang dilakukan Kyuhyun di depannya. Ia merasa… laki-laki di depannya ini benar-benar menyita seluruh perhatiannya. Perkataannya, tatapan matanya, senyumnya, tawanya, tingkah lakunya, semuanya tampak begitu pas.

“Nyanyikan satu lagu untukku.”

“Apa—“

“Buat aku percaya bahwa kau benar-benar pemain drama musikal,” ujar Sheena terdengar santai tapi menantang sambil menyesap espresso-nya.

Kyuhyun menggigit bibirnya sekilas hingga akhirnya ia mengambil napas panjang dan mengembuskannya pelan.

Tell me how am I supposed to live without you

Now that I’ve been loving you so long

How am I supposed to live without you?

How am I supposed to carry on?

When all that I’ve been living for is gone…”

Sebuah kecupan mendarat di pipi Kyuhyun. Sheena hanya tergerak untuk melakukannya begitu saja. Seketika itu juga Sheena merasa benar-benar akan kehilangan nyawanya karena malu. Wajah keduanya memerah. Dalam diam, mereka bertanya-tanya di benak masing-masing, mencoba menempatkan apa yang baru saja terjadi dengan akal sehat mereka. Semua begitu cepat hingga akhirnya mereka pun tertawa canggung.

“Maaf, Kyuhyun-ssi, aku terlalu suka dengan suaramu.”

“Sepertinya aku harus sering-sering bernyanyi di depanmu, Sheena-ssi.

Sheena merasa seluruh tubuhnya panas secara bersamaan. Ia bisa merasakan dadanya bergemuruh. Ia berharap saat itu juga Kyuhyun kehilagan ingatannya. Ia benar-benar malu. Sheena yakin wajahnya sekarang pasti sudah semerah tomat. Ia hanya menunduk dengan bibir terkatup rapat. Tak tahu harus bicara apa lagi setelah apa yang ia lakukan baru saja….

Tiba-tiba Sheena merasakan sentuhan hangat yang bergerak di puncak kepalanya. Sheena memberanikan diri menatap Kyuhyun yang sedang mengusap kepalanya lembut.  Seulas senyum mengembang di bibir tipis Kyuhyun.

Sheena harus mengakui, ia sangat menyukai senyum laki-laki ini.

“Terima kasih, Sheena-ssi. Aku merasa sangat dihargai.”

Setelah melihat senyumnya, Sheena tidak yakin bahwa ia masih berharap jika Kyuhyun akan melupakan hari ini.

***

“Kutunggu di tempat biasanya. Jangan sampai terlambat. Oke?”

Sambungan diputus. Sheena mendengus pelan. “Kyuhyun selalu saja begitu. Tak memberiku kesempatan berbicara walaupun hanya sekadar ‘sampai nanti’.”

Hari ini adalah tepat 6 bulan sejak hari itu—hari di mana semuanya dimulai. Di sudut coffee shop yang hangat, disaksikan dua cangkir espresso panas, dan sebait lirik lagu Michael Bolton yang dilantunkan oleh laki-laki bernama Cho Kyuhyun. Semuanya berlanjut begitu tapi dan manis, membawa mereka ke saat-saat di mana mereka saling mengenal lebih jauh.

Suara lonceng yang tergantung di pintu masuk coffee shop seakan-akan telah menjadi suara yang sangat akrab di telinga Sheena. Bahkan aroma coffee shop ini juga telah terekam dengan baik oleh otaknya. Hingga tanpa disadari semuanya telah mendarah daging dalam dirinya. Termasuk rasa rindu yang selalu memenuhi dadanya. Rasa rindu yang teramat hebat pada laki-laki berambut cokelat yang sekarang sedang duduk menunggunya di sudut ruangan coffee shop yang berada di samping jendela besartempat favorit mereka berdua.

“Sudah lama menunggu?” Sheena meletakkan tasnya terlebih dahulu di tepi meja sebelum akhirnya ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Kyuhyun.

“Ini sudah cangkir ke-100.” Kyuhyun menyesap espresso kesukaannya.

Sheena mencebik. “Maaf… tadi aku masih ada pekerjaan.”

Kyuhyun memanggil barista yang sejak tadi berdiri tak jauh dari meja Kyuhyun dan Sheena. “4 cangkir espresso untuk Sheena Agasshi.”

“Apa katamu? Kenapa banyak sekali?” Sheena membelalakkan matanya, menuntut penjelasan dari apa yang Kyuhyun lakukan barusan.

Tapi Kyuhyun hanya diam dan kembali menyesap espresso-nya dengan ekspresi datar.

“Kyu!”

“Hukuman karena kau datang terlambat.”

Seorang barista yang lain datang mendekati Kyuhyun. “Maaf, Kyuhyun-ssi. Anda diminta polisi ketertiban untuk memindahkan parkir mobil Anda ke utara.”

“Ah, baiklah.” Kyuhyun meletakkan cangkirnya lalu berdiri. Sebelum berbalik, ia menatap Sheena yang masih sedikit kesal dengan keacuhan Kyuhyun padanya.

“Kau hanya perlu menyiapkan sapu tangan, Sheena. Aku yakin beberapa menit lagi kau akan terharu,” ujar Kyuhyun sambil tersenyum hangat seperti yang biasa ia lakukan pada Sheena.

Sheena memandangi punggung Kyuhyun yang menjauh dan hilang di balik pintu masuk coffee shop dengan tanda tanya besar yang muncul lagi di otaknya. Lagi-lagi Sheena harus bersabar dengan teka-teki yang selalu diberikan Kyuhyun. Ia harus menebak-nebak lagi. Rasanya ia benar-benar akan meledak sekarang.

Seorang barista pun datang sambil membawa 4 cangkir espresso yang tadi dipesan Kyuhyun untuknya. Cangkir-cangkir itu diletakkan secara berurutan di depannya secara horizontal. Tapi tak seperti biasanya, kali ini cangkir-cangkir itu ditutup dengan tutup cangkir yang bercorak senada dengan cangkirnya.

BRAK.

Suara yang sangat keras tiba-tiba datang dari arah jalan di depan coffee shop. Hanya kurang dari sepuluh detik, orang-orang berkerumun di tengah jalan.

Sepuluh detik adalah waktu yang cukup untuk Sheena melihat apa yang terjadi melalui jendela besar yang sekarang ada di sampingnya.

Sepuluh detik adalah waktu yang cukup untuk Sheena melihat dengan jelas apa yang sekarang menjadi pusat perhatian orang-orang yang sekarang sedang berkerumun itu.

Tapi sepuluh detik rasanya tak akan pernah cukup untuk Sheena memahami apa yang baru saja tertangkap oleh matanya. Sepuluh detik tak akan pernah cukup untuknya memercayai bahwa orang yang sekarang tergeletak tak berdaya di sana adalah… Kyuhyun….

Dengan pelupuk mata yang tergenangi air mata hingga mengaburkan pandangannya, perlahan-lahan Sheena membuka satu per satu tutup cangkir di depannya. Air mata semakin deras menyusuri pipi Sheena ketika ia mengetahui apa maksud dari Kyuhyun memesan 4 cangkir espresso ini. Tulisan “would you marry me?” tertulis rapi di atas espresso itu. Setiap cangkir memuat satu kata.

Kini Sheena tahu kenapa ia harus terharu atas ini. Tapi sayang sekali, bukan ini yang membuat air mata Sheena terus mengalir. Apa yang ia lihat melalui jendela inilah yang membuatnya demikian….

Sheena sadar, ia telah jatuh cinta pada si pemilik senyum dan suara indah itu.

“Seharusnya kau lebih kuat dari itu, Kyu.”

***

Sheena tampak memperhatikan apa saja yang dapat ia lihat melalui jendela besar di depannya ini. Tapi sebenarnya, pikirannya sedang melayang jauh. Jauh ke tiga tahun yang lalu, ketika melalui jendela itu ia harus menyaksikan seseorang yang mulai memiliki arti dalam hidupnya tergeletak tak berdaya setelah sebuah mobil menghantam tubuhnya lebih keras. Dan seharusnya detik itu juga ia harus mulai siap dengan segala kemungkinan terburuk, termasuk dilupakan.

Lonceng yang tergantung di pintu masuk coffee shop masih memiliki bunyi yang sama setiap pintu dibuka. Suara ini, aroma coffee shop ini, rasa hangat ini, semuanya masih sama. Kecuali satu hal. Kyuhyun yang seharusnya sekarang duduk di depannya—yang seharusnya sekarang sudah mengucapkan ikrar janji pernikahan untuknya, justru berdiri di depan counter dengan setelan jas rapi sambil memberi sedikit arahan kepada beberapa barista.

Sheena mengalihkan pandangannya ke depan ketika mencium aroma Kyuhyun yang memenuhi ruangan. Bahkan parfum yang ia gunakan masih sama… Kyuhyun masih ingat parfum kesukaannya. Secara kasat mata, memang tak banyak yang berubah dari Kyuhyun.

Kyuhyun menyapa para pelanggan yang selesai membayar bill di kasir dengan senyumnya yang masih saja sama dengan tiga tahun yang lalu. Senyum yang sangat disukai Sheena. Senyum yang menjadi alasan bagi Sheena untuk sering datang kemari. Walaupun arti di balik senyum itu sudah tak sama lagi dengan senyum yang senantiasa ia dapatkan saat tiga tahun yang lalu.

Sheena kembali memandang jalan yang dipenuhi langkah orang-orang yang sibuk berlalu-lalang di depan coffee shop tempatnya berada sekarang. Ia terus memandang tanpa berkedip satu kali pun, hingga air mata jatuh dari pelupuk matanya—entah karena pedas atau memang ada sesuatu yang mengambil alih pikirannya. Tapi jika saja ia boleh jujur, memang ada sesuatu yang sangat mengganggunya tiga tahun belakangan ini.

Tiga tahun yang lalu, tepat di depan coffee shop ini, Sheena pertama kali merasakan tubuhnya benar-benar hangat. Tapi itu ia anggap sebagai kehangatan yang berbeda. Bukan hangat yang ditimbulkan oleh pemanas ruangan atau jaket tebal berbulu apa pun. Bukan juga hangat yang ditimbulkan oleh sinar matahari. Saat musim gugur, matahari selalu kalah dibandingkan udara dingin yang khas di musim itu kan? Kehangatan itu datang dari sebuah dada bidang, dua pasang lengan kukuh, dan telapak tangan besar yang menawarkan perlindungan.

Itu adalah pertama kalinya Sheena bisa meluapkan perasaannya. Meluapkan beban yang selama ini selalu ia tahan sendirian hingga dadanya selalu terasa sakit karena sesaknya.

Pertama kali Sheena merasa nyaman bahkan percaya pada orang asing yang belum ia kenal.

Pertama kali Sheena percaya bahwa ia tak sendirian….

Suara laki-laki yang notabene adalah manajer coffee shop itu meluluhlantakkan roll memori yang sedang terputar ulang di benaknya.

Agasshi, tempat ini sudah akan tutup. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya orang itu dengan senyum yang sama sekali tak memudar walaupun Sheena melempar tatapan datar padanya.

Sheena tak langsung menjawab. Ia bisa mendengar pertanyaan orang itu dengan sangat jelas tanpa ia harus melepas headset yang sejak tadi terpasang di kedua telinganya, namun ia hanya merasa terlalu lemah untuk bisa menjawab secepat itu. Ia memandangi espresso yang sudah mendingin yang tinggal tersisa seperempat cangkir. Sheena mengangkat wajahnya dan mengulas senyum lemah sembari berkata,“Aku ingin kau mengingat sesuatu yang kau lupakan. Bisa?”

“Maksud Agasshi?”

“Apa kau benar-benar tidak mengingatku, Kyu?”

“Mungkin Anda salah orang, Agasshi,” ujarnya tetap sopan.

Sheena tertawa miris. “Ya, mungkin kau benar. Mungkin Cho Kyuhyun yang sekarang memang bukan Cho Kyuhyun yang dulu. Bukanlah Cho Kyuhyun yang pernah memelukku dengan kostum beruang. Bukanlah Cho Kyuhyun yang membiarkanku menangis di pundaknya walaupun belum mengenalku. Bukanlah Cho Kyuhyun yang memberiku kesempatan bicara saat di telepon. Bukanlah Cho Kyuhyun yang kukecup setelah menyayikan lagu dengan sempurna walau hanya sebait. Bukanlah Cho Kyuhyun yang selalu mengajakku menunggu pelanggan pergi demi bisa duduk di bangku ini setiap datang ke sini. Bukanlah Cho Kyuhyun yang memberiku senyum paling manis dan paling hangat yang pernah kudapatkan selama ini. Aku tahu semuanya tak akan pernah bisa sama, Kyu. Dan aku… memang tak seharusnya menyalahkanmu.” Sheena mengambil tasnya dan berjalan keluar dari coffee shop—meninggalkan Kyuhyun dan berdiri mematung dengan berjuta tanda tanya.

Otaknya terlalu sulit memahami ini. Baru saja di depannya ada seorang gadis—yang entah siapa—bicara dengan nada tinggi padanya namun air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya. Gadis itu mengatakan bahwa ia bukanlah dirinya yang dulu. Ia bahkan tak tahu siapa gadis itu. Bagaimana bisa gadis itu mengatakan bahwa ia berbeda dengan Cho Kyuhyun yang dulu?

BRAK.

Suara hantaman yang sangat keras tiba-tiba mengusik gendang telinga Kyuhyun. Ia pun cepat-cepat berlari ke pintu masuk coffee shop dan mendapati orang-orang berlarian mengerumuni sesuatu di tengah jalan. Mata Kyuhyun melebar, ia pun segera berjalan keluar. Namun langkahnya terhenti sebelum ia menginjak aspal jalan. Sesuatu yang menyakitkan sedang membantai kepalanya. Badannya terhuyung, lututnya mulai terasa lemas. Rasanya sesuatu sedang diputar ulang secara paksa di ingatannya. Ia merasa ia pernah berada di saat-saat seperti ini. Ya, ia pernah. Tapi kapan? Terlalu sulit baginya untuk mengingat.

Dan saat itu juga semua ingatan kembali berderet di roll memorinya. Ketika ia diterima sebagai salah satu pemeran dalam drama musikal yang ada di teater terkenal di jantung Kota Seoul. Ketika ia begitu senang hingga ia berlari ke tempat penyewaan kostum dan membuat tulisan besar yang kemudian ia bawa ke Dongdaemun. Ketika begitu banyak orang yang datang memeluknya. Ketika ada seorang gadis yang memeluknya sambil menangis, hingga pertemuan itu berlanjut di coffee shop favoritnya. Ketika ia mendapat sebuah kecupan di pipinya setelah menyanyikan sebait lagu Michael Bolton. Ketika ia menyukai senyum gadis itu. Gadis bernama Sheena. Gadis keturunan Singapura-Korea yang hanya tinggal sendirian di Seoul. Ketika dalam benaknya tumbuh perasaan ingin melindungi. Hingga enam bulan kemudian ia memutuskan untuk melamar gadis itu dengan espresso kesukaan mereka dan di tempat kesukaan mereka juga. Namun semua itu belum sempat ia lakukan ketika begitu banyak orang yang mengerumuninya—menutup langit yang terbentang di atasnya. Ketika ia berpikir mungkin itulah bagaimana orang akan meninggal. Hingga akhirnya semua itu seakan-akan telah berakhir. Ia telah melupakan banyak hal….

Ya, Kyuhyun ingat semuanya. Semuanya. Ingatannya kembali dengan sempurna.

Ia pun segera menerobos kerumunan orang-orang itu dan menemukan seorang gadis yang tak asing lagi baginya sedang tergeletak tanpa tenaga dengan mata tertutup dan darah segar yang menutupi dahi dan hidunynya. Hatinya mencelos. Sekujur tubuh Kyuhyun benar-benar telah mati rasa. Ia merasa… seluruh saraf di tubuhnya berhenti berfungsi sesaat.

“Sheena!” seru Kyuhyun.

Mata yang sejak tadi tertutup, kini terbuka perlahan-lahan. Kyuhyun yakin, ia masih mendengar napas menderu pelan dari hidung runcing Sheena.

“Sheena! Bertahanlah!” Kyuhyun merogoh ponselnya dan hendak menekan beberapa tombol, hingga akhirnya sebuah tangan menahannya dengan lemah—dengan kekuatan yang tersisa.

Tangan yang rasanya sudah seabad tidak digenggam Kyuhyun. Kyuhyun memandangi si pemilik tangan yang sedang tersenyum lemah padanya. “Rupanya aku masih mengingatmu, Kyu. Kupikir aku bisa lupa ingatan dan kita bisa sama-sama berkenalan lagi. Memulai semuanya dari awal.”

“Sheena….”

“Apa yang kau siapkan tiga tahun yang lalu itu… dugaanmu salah. Aku tidak menangis terharu, Kyu.” Sheena tersenyum.

Sebutir air mata jatuh dari pelupuk mata Kyuhyun. Kyuhyun menggenggam erat tangan Sheena. Sangat erat.

“Aku suka kejutanmu. Tapi, aku tidak suka bagian akhirnya—saat kau tiduran di sini.” Sheena tertawa lirih. “Lain kali ajaklah aku.”

“Maafkan aku, Sheena. Aku benar-benar—”

“Saat kau lupa, aku baru menyadari betapa berharganya ingatan itu. Dan sekarang kau sudah mengingatku. Itu lebih dari cukup.” Sheena terus tersenyum. Segelintir rasa bahagia memeluknya, memenuhi rongga dadanya yang selama ini merasakan sakit setiap kali Kyuhyun tak mengenalinya. Kebahagiaan tergambar jelas di kedua matanya. Ia benar-benar bahagia. Ia mendapatkan Cho Kyuhyun yang dulu. Cho Kyuhyun yang selalu ia rindukan….

“Aku mengantuk, Kyu,” gumam Sheena.

“Sheena, kumohon, bertahanlah sebentar.” Suara Kyuhyun mulai terdengar berat dan serak. Air mata semakin deras mengalir di pipinya.

“Kyu, aku ingin tidur di lenganmu. Berbaringlah di sini.”

Kyuhyun menahan isakannya sambil mengangkat kepala Sheena, kemudian meletakkan lengan kukuhnya di bawah kepala Sheena. Ia memeluk Sheena dengan sangat erat.

“Mendekatlah. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” gumam Sheena.

Kyuhyun menahan sesak di dadanya. Sheena bahkan sudah terlalu lemah untuk berbicara padanya. Ia mendekatkan telinganya ke bibir Sheena.

“Untuk pertama dan terakhir kali…. Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.”

Sebuah kecupan mendarat lagi di pipi Kyuhyun yang basah karena air mata.

“Sekarang, berjanjilah. Kau harus menyanyikan lagu Michael Bolton untukku dari awal. Apa pun yang terjadi kau harus menyanyikannya sampai selesai.”

Kyuhyun hanya diam. Ia tak sanggup berjanji. Ia bahkan tak yakin ia akan mampu bernyanyi di saat seperti ini. Tapi….

“Kyu, berjanjilah.”

Kyuhyun berdeham singkat. “Baiklah. Aku… berjanji.”

“I could hardly believe it

When I heard the news today

I had to come and get it straight from you

They said

Suara Kyuhyun tersendat karena isakannya sendiri.

Sheena tersenyum. “Kyu… lanjutkan.”

Kyuhyun menengadahkan kepalanya, menahan air matanya. Ia pun melanjutkan.

“They said you were leaving

Someone’s swept your heart away

From the look upon your face, I see it’s true

So tell me about it, tell me ‘bout the plans you were making

Then tell me one thing more before I go

Tell me how am I supposed to live without you

Now that I’ve been loving you so long

How am I supposed to live

“Kyu….”

Kyuhyun tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Air matanya terus mengalir dan seakan-akan isakannya tertahan di pita suaranya.

“How am I supposed to live without you?

How am I supposed to carry on?

When all that I’ve been living for is gone…

I didn’t come here for crying

Didn’t come here to break down

It’s just a dream of mine is coming to an end

And how can I blame you

When I build my world around

Kyuhyun tidak mendengar deru napas itu lagi. Ia tak mendengarnya keluar dari hidung Sheena. Ia tak mendengarnya… tapi Kyuhyun sadar ia harus terus bernyanyi….

The hope that one day we’d be so much more than friends

And I don’t wanna know the price I’m gonna pay for dreaming

When even now it’a more than I can take…

Tell me how am I supposed to live without you

Now that I’ve been loving you so long

How am I supposed to live without you?

How am I supposed to carry on?

When all that I’ve been living for is gone…”

“Aku akan menghukummu, Sheena. Karena kau—” Kyuhyun mengambil napas di sela-sela tangisnya,“kau tak mendengarkanku menyanyi sampai selesai.”

***

“Jika hari ini ia masih belum ingat padaku, maka aku juga ingin menjadi lupa dengan cara yang sama sepertinya.”

* THE END *

Hello! Udah selesai baca FF-nya? Author sangat mengharapkan apresiasi dari readers berupa komentar, saran, atau kritik pada kolom komentar. Atau bisa juga langsung mention ke twitter @thepetitelady n_n

Kalau kalian pengin baca ceritaku yang lain, silakan langsung menuju ke http://petiteladytales.wordpress.com.

Terima kasih! n_n

35 Comments (+add yours?)

  1. Poespae
    Apr 01, 2015 @ 21:02:42

    Awalnya kisahny menyedihkan, msk ketengah tdk semenyedihkan awalnya, aq pikir endingnya akan berakhir bahagia, eh gak taunya lbh menyedihkan lagi…..

    Benar2 terharu bacanya.

    Keren

    Reply

  2. melina
    Apr 01, 2015 @ 21:05:41

    ya ampun jadi ternyata sheena sengaja nabrakin dirinya sendiri dong ? aiggoooo…
    nyesek banget pas kyunya udah inget eh sheenanya meninggal …
    ditunggu karya autor selanjtnya ^^

    Reply

  3. yanda
    Apr 01, 2015 @ 21:11:28

    aku nangis bacanya😥

    Reply

  4. nia kurnianti
    Apr 01, 2015 @ 21:44:36

    ini sheena yang sengaja mau lupa ingatan biar bisa mulai dari awal
    mulai kenal kyu lagi,, wah,, miris !!!

    Reply

  5. nandakyu
    Apr 01, 2015 @ 21:52:11

    Sungguh miris pasangan ini… kyu udah inget malah shena yang mati bunuh diri… haduhhh…

    Reply

  6. sukhwi
    Apr 01, 2015 @ 22:11:33

    waw..bener2 ga terduga..takdir memang tak bisa ditebak.. setelah baca ini banyak kata andai dikepalaku..u..u..:(

    Reply

  7. tmatikka
    Apr 01, 2015 @ 22:20:41

    nyesekkk ><
    tp alurnya ini terlalu cepet, tapi nggak papah, namanya jugak oneshoot :"

    Reply

  8. rhesttyelf
    Apr 01, 2015 @ 23:02:47

    kenapa nyesek banget ini. diawalnya kirain mau happy, eh ending nya ngenes. aduh!! keren deh, feelnya dapet. kak, boleh juga dong mampir ke blog aku chochoblue.wordpress.com

    minta komentar, kritik, dan saran🙂

    Reply

  9. Jung Haerin
    Apr 02, 2015 @ 00:30:47

    Huhuhu syediiihhh….. Kyuu yg sabar yaaa….

    Reply

  10. kashira cho
    Apr 02, 2015 @ 02:12:28

    sedih banget… singgkat dan mendaaallem banget… ngena banget kisahnya,,good !!
    sebangin sih ada sedikiiit kata-kata atau kalimat yang kurang pas, over all its good… tertutup dengan porsi kisah yang mengagumkan…

    semngat terusss yah…

    Reply

  11. -tteokpokki-
    Apr 02, 2015 @ 07:44:49

    aku merinding bacanya… ngira kyuhyun meninggal ternyata amnesia.. lalu sekarang sheena yg tabrakan… jadinya dy meninggal??? ahh siallll, knpa se heartbreaken gini ceritanya???? ah… km bagus nggambarinnya… tepatttt!!!

    Reply

  12. Monika sbr
    Apr 02, 2015 @ 08:15:38

    Kasihan banget sheena

    Reply

  13. elmaaaa
    Apr 02, 2015 @ 09:58:01

    nyesek bgt bacanya😥

    Reply

  14. esakodok
    Apr 02, 2015 @ 12:22:53

    iyaa…sakit bgt bacanyaa…..feelnya q suka…alurnya juga mendukung feelnya bangett

    Reply

  15. nona bintang
    Apr 02, 2015 @ 13:18:24

    sad ending😦

    Reply

  16. Park HaeMin
    Apr 02, 2015 @ 14:18:38

    sedih banget bacanya… sheena sampe rela lupa dengan cara yg sama, tpi kyu malah inget…😥 jdi inget ss5 waktu kyu dkk nyanyi ini, sedih banget… alurny jga gk gampang ketebak, great job thor!🙂

    Reply

  17. jung dong in
    Apr 02, 2015 @ 21:01:25

    nyesek banget bacanya thor😥

    Reply

  18. karlina park
    Apr 02, 2015 @ 21:55:36

    cerita ny kerenn and nyesek bnget .. alur ny susah di tebak . aku pikir endding nya bakalan happy tapi ternyata malah sebalik nya .. daebakk thorr (y) lanjutkan

    Reply

  19. theseonsaengnim
    Apr 03, 2015 @ 10:04:28

    Wah…. di awal tamoak biasa yach tapi benar tak terduga. Pasangan ini banyak cobaannya…. hiks.. sheena harusnya jangan menyerah.

    Reply

  20. GyuHae
    Apr 03, 2015 @ 10:43:41

    Kebayang lucunya kyu pake kostum bear saya jg pengen meluk dia, hahaha..
    Dan aya nangis pas bagian sheena nya ketabrak, sedih… Kyu masih beruntung hidup walau hilang ingatan tp sheena??? Pedihhh

    Reply

  21. withwitri
    Apr 03, 2015 @ 21:11:24

    Kyaaaa sukaaa thor😍
    Singkat tapi alurnya tetep enak diikutin, terus feelnya luar biasa dapet!
    Aku juga suka cara kamu cerita, bahasanya enak. Tapi lain kali lebih detail penjelasannya ya thor sm typonya td msh ada hehe. Maaf pjg lebar nih, overall daebbak buat author!!

    Reply

  22. FriendsLee
    Apr 04, 2015 @ 10:59:48

    Supah, nyesek banget… ;( tpi itu, kata2 yg terakhir, apa sheena sengaja nabrakin dirinnya?
    Kalau bsa di lanjutin critanya🙂 bagus

    Reply

  23. ayu diyah
    Apr 07, 2015 @ 12:24:57

    hm… kisah mreka tragis,,😥
    kasian shenna,, sumpah,,😥

    Reply

  24. Jealmunita
    May 23, 2015 @ 07:51:42

    Huwaaa nice FF
    Feellnya dapet
    Nice thor

    Reply

  25. miaalawia
    May 24, 2015 @ 11:38:37

    Reblogged this on miaalawia and commented:
    Ilove this blog

    Reply

  26. chosteffy
    Jul 03, 2015 @ 19:49:24

    huaaaa, sedih banget… ada sequelnya kah?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: