Under the London Eye

Under the London Eye

Title: Under the London Eye

Author: Petite Lady

Main Cast(s): Donghae, Nam

Genre: Romance, Angst

Length: Series

Rating: T

Twitter: @thepetitelady

Facebook: Nurhayati Puspitarini

———————

***

Jika boleh, aku ingin bertemu denganmu 2 tahun lebih awal. Mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang yang kau prioritaskan di atas orang lain. Tapi lagi-lagi, itu hanya menjadi harapan yang kukubur bersama dengan tahun yang telah berganti.

***

“Tuliskan keinginanmu-keinginanmu.”

“Berapa?” Aku mencuri pandang ke arahnya yang sedang sibuk mengeluarkan spidol warna-warni dari kantong bagian depan dari tas punggungnya.

“Terserah.” Kali ini manik matanya beralih ke arahku, diiringi selengkung senyum manis dari bibir tipisnya.

Aku mengambil spidol merah yang tadi ia keluarkan, lalu membuka tutupnya. Aku mulai memandang ke sekelilingku, mencoba memikirkan kembali keinginan-keinginanku yang belum terwujud. Suara gumaman mulai muncul dari pita suaraku, tapi sepatah kata pun tetap belum meluncur dari bibirku.

“Aku ingin…,” ucapku sambil mengetuk-ngetuk ujung spidol di daguku,“tetap muda walaupun usiaku bertambah.”

Aku bisa merasakan tatapan apa-katamu-tadi yang dilemparkan ke arahku, namun aku mengabaikannya, dan memilih untuk melanjutkan imajinasiku.

“Aku ingin bisa menjadi lebih pandai daripada kamu, lebih populer, lebih percaya diri, lebih….”

Stop.” Salah satu sudut bibirnya terangkat, bersamaan dengan sebelah alisnya. “Sampai kapan pun kau tak akan bisa melampauiku.” Ia tersenyum jail, memperlihatkan gigi-giginya yang berjajar rapi. Seakan-akan mengejek, namun itu hanya sebatas bercanda.

Aku memukul pelan lengan kukuhnya, yang sudah pasti bukan pukulan yang terasa sakit untuknya. Aku mendengus pelan, memasang mimik wajah sok kesal. “Baiklah, aku akan memikirkan yang lain.”

Ia tampak menunggu lanjutan kalimatku dengan kedua alis terangkat, mengangkat dagunya, dan memajukan bibir bagian bawahnya, berpura-pura menantang.

“Aku ingin tetap muda walaupun usiaku bertambah, atau…,” aku mengerjap beberapa kali, kemudian melanjutkan,“wajahku berkerut, tapi aku melewati fase itu… bersamamu, di sampingku.

“Nam….”

“Tidak ada yang lebih kuinginkan selain bersanding di sampingmu saat di pelaminan, membesarkan anak-anak kita, tumbuh menua, dan menghabiskan sisa hidupku bersamamu….” Indera penglihatanku memproduksi carian bening yang entah sejak kapan menggenangi kelopak mataku dan telah memburamkan penglihatanku, kemudian kini jatuh menyusuri pipiku. Aku mengumpulkan seluruh kemampuanku untuk menatap tepat pada kedua matanya yang lebar dan tajam, namun memancarkan kehangatan. “Aku boleh kan, menuliskan ini?”

Kini kedua mata indahnya itu mulai berkaca-kaca. “Tentu saja. Apa pun keinginanmu, tulislah semuanya.” Suaranya mulai berubah. Kali ini terdengar lebih berat. “Selesai menulis, kita pergi ke suatu tempat.”

Aku menulis dengan semangat. Semua harapan dan keinginanku, terutama yang muncul bertubi-tubi setelah laki-laki ini hadir, kutulis tanpa terkecuali. Aku tahu dengan pasti, kertas ini tak akan mampu mengabulkan satu pun permintaanku. Tapi aku tetap ingin menuliskannya, seakan-akan aku takut lupa, karena harapan dan keinginanku yang terlampau banyak.

“Donghae….” Panggilanku membuatnya menghentikan aktivitas menulisnya. “Apa yang kutuliskan ini tidak akan mengganggumu, bukan?”

Laki-laki berparas tampan yang kupanggil Donghae ini menggelengkan kepalanya sembari tersenyum lembut. “Tidak, Nam. Siapa pun boleh berharap.”

“Walaupun kenyataan adalah yang sebaliknya?”

“Nam….”

“Aku sudah selesai,” selaku cepat. Aku tahu ia tidak suka jika aku mengungkit masalah ini. “Kau sudah selesai juga kan?”

***

Menginjak bulan ke-5 sejak kedatanganku kemari, London mulai menjelma menjadi tempat tinggal yang nyaman untukku. Pun perbedaan musimnya tidak terlalu jauh dengan Korea yang juga sama-sama memiliki 4 musim. Namun, ibukota dari sebuah negara berbentuk kerajaan yang dikepalai oleh seorang ratu ini justru mempertemukanku dengan seseorang yang sama-sama merasakan atmosfir baru ini.

Lee Donghae, laki-laki yang berusia 3 bulan lebih tua dariku itu diperkenalkan oleh Semesta kepadaku di suatu hari saat pelaksanaan upacara penyambutan mahasiswa baru. Ia yang merupakan ketua kelompok mahasiswa dari Korea, ternyata tinggal di apartermen yang sama denganku. Karena berada di apartemen yang sama dan jurusan yang kami ambil pun sama, hampir setiap hari kami berangkat bersama. Kesempatan untuk mengenal satu sama lain pun terbuka selebar-lebarnya, apalagi dia adalah orang yang sangat mudah bergaul dan ramah.

Entah sejak kapan, waktu menggiring kami untuk mencanangkan bahwa kami adalah sahabat karib yang cocok satu sama lain. Banyak sekali kesamaan di antara kami. Mulai dari kebiasaan, kesukaan, pola pikir, dan masih banyak lagi.

***

Bulan ke-4. Rupanya tak perlu banyak waktu bagiku untuk mengerti apa arti dari ini semua. Arti dari kupu-kupu yang berterbangan di perutku, kembang api yang menyala dalam jantungku, menimbulkan gemuruh yang tak wajar dalam hatiku, setiap kali ia mencurahkan perhatian-perhatiannya padaku. Bahkan hanya dengan sebuah lengkungan ke bawah yang sederhana dari bibirnya, mampu memperbaiki mood-ku yang rusak seharian.

“Ya, aku memang menyukaimu. Bahkan mungkin yang lebih parah lagi, aku mencintaimu.” Suaraku bergetar. Lidahku kelu, terasa kebas, sulit sekali untuk berkata lebih banyak lagi. Untuk mengatakan kata-kata barusan saja, aku memerlukan waktu berpikir dan menyiapkan mental serta keberanian selama berminggu-minggu. “Aku tak akan meminta apa pun darimu, karena… aku memang tak berhak atas itu.”

Dia hanya diam memandangiku. Lama. Dan itu berakhir ketika ia mengembuskan napasnya cukup keras. “Terima kasih, Nam. Aku menghargai itu. Aku menghargai kejujuranmu… dan perasaan tulusmu. Aku jadi penasaran, laki-laki seperti apa yang beruntung mendapatkan wanita sepertimu nantinya.”

Aku tersenyum getir. Kata-katanya tak lain merupakan sebuah penghiburan. Atau mungkin bisa juga dikatakan sebagai penolakan yang halus? Aku tak peduli. Setidaknya, beban di hatiku sedikit terangkat. Ia tahu, bahwa sangat sulit untuk tidak jatuh cinta dengan laki-laki sesempurna dia. Lee Donghae….

Ia menepati janjinya. Bahwa tak akan ada yang berubah dari dirinya, jika aku mengatakan yang sebenarnya. Dan benar saja, semenjak hari itu, ia tetap sama. Tetap membangunkanku yang terlambat bangun melalui telepon ketika setiap pukul 07.00 aku belum muncul di depan pintu apartemen. Tetap bersedia mengajarkanku pelajaran yang belum kumengerti ketika aku mengeluh kesulitan. Tetap bersedia memberikan bahunya ketika aku lelah dengan segala permasalahan yang kuhadapi. Tetap bersedia meluangkan waktu di tengah kesibukannya ketika aku hanya sekadar bosan atau butuh tempat untuk bercerita. Tetap bersedia menerima teleponku dan menemaniku ngobrol ketika aku belum bisa terlelap. Dia tidak berubah. Dan itu, membuatku semakin sulit melupakannya. Dan hal tersulit yang kuhadapi adalah ketika aku tidak mampu mengambil jarak darinya, karena tak tahu apa jadinya hari-hari di tempat ini tanpa dia di sisiku.

***

“Kau menuliskan apa saja tadi? Curang sekali, aku tidak kau izinkan untuk melihat tulisanmu.” Aku mencebik kesal. Walaupun aku sudah bisa menebak apa saja yang ia tuliskan, tapi tetap saja aku ingin melihatnya sendiri. Harapan-harapan indahnya, yang kemungkinan besar dapat melukaiku.

“Sudahlah, kau tidak perlu tahu.” Ia mengacak-acak rambutku yang rapi berbandana.

Langit sudah berubah menjadi semburat jingga keemasan ketika kami tiba di depan loket untuk membeli tiket menaiki London Eye. Semakin sore, ternyata semakin banyak juga yang ingin menyaksikan perubahan warna langit dalam putaran London Eye. Lampu LED warna-warni yang terpasang menghiasi London Eye juga sudah mulai mengusir kegelapan yang menyelimuti sekitar Sungai Thames. Sungai Thames tampak berkilauan oleh warna-warninya.

“Kita masih keburu.” Ia tersenyum lebar, tampak begitu bahagia. Matanya berkilat-kilat memandangi matahari yang perlahan merambat turun, mengiringi datangnya sang malam.

Sejak pertemuan kami 3 bulan yang lalu, ini sudah ke-9 kalinya aku menemaninya melewatkan senja, memperhatikan matahari yang undur diri, menghilang dari langit London. Ia menyukai senja, sama sepertiku. Warna jingga keemasan menembus kaca kapsul raksasa London Eye dan kini menimpa wajahnya. Dan entah ini sudah kali ke berapa, aku justru malah memperhatikannya. Memperhatikan lekuk wajahnya. Memperhatikan detil-detil fitur wajahnya. Perpaduan antara alis tebal, mata cokelat gelap, hidung mancung, bibir tipis berwarna merah alami, dan tulang pipi tegas. Menikmati setiap detik yang bergulir ketika aku bisa menatapnya dengan sepuas hatiku, ketika aku mampu. Aku tak pernah sanggup mengabaikan desiran-desiran lembut yang merayapi hatiku yang bercampur dengan perasaan senang, setiap kali aku melewatkan waktu dengan laki-laki ini. Namun semua itu membuatku lemah, ketika kenyataan menghardikku. Menghancurkan saat-saat yang selalu kunantikan ini.

“Hei.” Ia mencubit hidungku dengan mengapitkannya di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. “Kenapa melamun? Masih memikirkan tentang tulisanku di kertas tadi?” Nada tawa terselip di sana.

“Tidak.” Aku langsung mengalihkan pandanganku ke luar kaca, mencari matahari yang entah sejak kapan sudah menghilang.

“Mataharinya ngambek karena kau tak mengacuhkannya.” Ia pura-pura memasang raut wajah serius.

Aku mendengus. “Ngomong apa sih?” Aku tak bisa menahan tulang pipiku yang naik karena ingin tertawa. Akhirnya tawa kami pun hadir, seakan menyambut datangnya langit malam.

Seluruh Kota London kelihatan begitu jelas dari atas sini. Ini tampak seperti permadani gelap yang sangat luas terhampar, yang di sana dihiasi dengan permata lampu-lampu yang berlomba menerangi jalan-jalan yang ramai dilalui baik oleh pejalan kaki maupun mobil-mobil yang tampak seperti mainan dari sini. Langit malam yang menanungi Kota London, tampak seperti kubah hitam yang di mana bintang-bintang itu tampak seperti kunang-kunang yang berterbangan. Sang dewi malam mulai hadir, seakan-akan memimpin kawanan kunang-kunang tersebut. Tak mau kalah, bangunan-bangunan penting seperti House of Parliament yang bernuansa gotik, Westminster Abbey, Museum Tate Modern, dan Jembatan London berdiri dengan gagahnya, dengan bantuan lampu-lampu yang menyinarinya, membuatnya tampak begitu menawan. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan.

“Aku ingin nanti kita bisa lulus bersama.” Kalimat itu tiba-tiba terluncur dari bibir tipis Donghae. Matanya tak beralih dari pemandangan di luar sana.

“K-kenapa memangnya?”

“Aku hanya tidak ingin salah satu dari kita kesepian di sini.” Ia mengalihkan wajahnya padaku, dan mengembangkan seulas senyum hangat yang menyenangkan.

Perasaan senang itu, kini perlahan-lahan berubah menjadi haru yang menghadirkan air mata lagi di pelupuk mataku. Rasa nyeri bercampur desiran yang sudah tidak aneh lagi ini merayapi hatiku, membuat ritme jantungku menjadi tak beraturan.

Aku tak pernah ingin menanyakan apa maksud dari setiap kata-kata manis yang menenangkanku itu. Aku tak cukup berani untuk menilik kenyataan di balik kata-kata itu, karena aku takut jika aku salah menafsirkannya. Aku merasa menjadi seorang pengecut. Bagai katak dalam tempurung. Tak berani keluar dari zona nyamanku saat bersamanya. Aku hanya selalu berpikir, selama aku senang bisa melewatkan masa-masa ini dengannya, kenapa tidak?

Tanpa peduli siapa dia, bagaimana statusnya, siapa aku, dan apa hubungan kami. Ini rumit untuk terlalu dijelaskan. Tapi jika saja dia bisa mengerti, perasaanku ini hanyalah desiran sederhana yang sering muncul, mempengaruhi perubahan ritme jantungku, seiring dengan tingginya frekuensi kebersamaan kami dalam putaran waktu. Bagian mana yang salah dari itu? Bukankah manusia tak pernah tahu kepada siapa hati mereka akan tertambat, seperti yang terjadi padaku ini?

Aku balas tersenyum. “Walaupun kau lulus terlebih dahulu, kurasa aku tidak akan kesepian.” Entah datang darimana keberanian ini untuk mengatakan hal tersebut, tapi rasanya aku begitu yakin tentang kelulusannya yang mendahuluiku. Tidak heran lagi, karena dia memang sangat pandai.

“Oh ya? Bukankah kau bukan tipe orang yang mudah terbuka pada orang lain?” Ia menggodaku sambil terkekeh penuh kemenangan, seakan-akan ia baru saja membuka kartu asku.

“Bukankah di dunia ini¾atau siapa tahu di London ini¾masih ada orang lain yang mampu membuka hatiku, lebih daripada kamu?”

Senyum lebar yang sejak tadi menghiasi wajah tegasnya kini menyurut¾bahkan hilang tak berbekas. Entah mengapa.

“Andaikan saja kau datang 2 tahun lebih cepat, pasti keadaannya akan sangat berbeda.”

Detik selanjutnya, kami berdua hanya diliputi keheningan, menunggu sampai London Eye berhenti berputar dan membiarkan kami turun. Sampai kami turun pun, tak sepatah kata pun meluncur dari kedua bibir kami. Lagi-lagi, aku tak berani dan tak ingin memikirkan alasan hilangnya senyum lebar di wajahnya tadi. Karena aku terlalu sibuk dengan perasaan asing yang membuat hatiku terasa begitu berat. Mungkin semacam penyesalan? Menyesal pada takdir?

***

“Tahun baru pertama kita di London! Aku tidak sabar,” ujarku antusias sambil memandangi kalender 2013 yang sebentar lagi berakhir. Sebenarnya, bukan tahun baru yang kutunggu-tunggu. Melainkan ulang tahunku yang bertepatan dengan awal tahun. Aku benar-benar tidak sabar sampai-sampai sejak dua hari yang lalu aku sudah memikirkan ingin minta ditemani pergi ke mana saja olehnya.

“Bukan tahun baru, tapi ulang tahunmu kan?” Gelak tawanya dari seberang telepon memenuhi rongga alat pendengaranku. “Kau ingin hadiah apa?”

“Bagaimana jika jalan-jalan keliling London? Kau tahu sendiri kan, aku belum pergi ke banyak tempat sepertimu.” Aku berlari ke meja belajarku, menyobek secarik kertas dari buku catatanku, dan mulai menuliskan beberapa tempat yang ingin kukunjungi layaknya sebuah to do list.

“Kau yakin hanya ingin itu?” Ia menunggu jawabanku.

Jika aku meminta hatimu, apa kau akan memberikannya? Ah, aku mulai ngelantur.

“Tidak. Itu saja. Tapi tetap tidak menolak jika kau mau memberi kado.” Aku terkekeh pelan.

“Oke. Sampai jumpa nanti malam.”

Pukul 22.00 ia mengetuk pintu apartemenku. Aku yang sebelumnya sudah repot-repot menyiapkan penampilanku untuk malam yang spesial ini, untungnya bisa selesai tepat waktu. Tidak terlalu berlebihan, hanya kaus berbahan sweter warna putih dengan garis-garis horizontal berwarna merah hati yang sedikit kebesaran, kupadukan dengan tights hitam polos, dan boots yang berwarna senada dengan garis-garis horizontal pada sweterku tadi. Tak lupa, di leherku terlilit syal warna hitam agar menghangatkanku di musim yang masih saja belum bersahabat ini. Aku mengikat rambutku ke belakang mirip ekor kuda.

Aku menyabet tas ransel warna cokelatku ketika mendengar ketukan dari pintu apartemenku. Oh iya, dia adalah orang yang benar-benar tepat waktu. Karena baginya, waktu bisa berarti kesempatan. Jika membuang-buang waktu, itu berarti membuang-buang kesempatan. Untuk ukuran seorang laki-laki, ia memang benar-benar rapi dan disiplin. Rasanya benar-benar satu dibanding seribu bisa menemukan laki-laki sepertinya.

Malam ini Donghae mengenakan kaus berbahan sweter dengan perpaduan 3 warna, yaitu  merah, biru tua, dan cokelat yang terususun horizontal. Ia mengenakan jeans warna biru muda dan topi hitam dengan simbol nike di bagian depan. Struktur otot di lengan kukuhnya tampak jelas, membuatnya kelihatan sangat manly.

Tempat yang pertama kali kami datangi malam itu adalah Her Majesty’s Theatre yang merupakan tempat pertunjukan terkenal di Inggris yaitu Phantom of the Opera. Karena ini adalah malam tahun baru, teater baru akan tutup saat jam 12 malam nanti. Setelah membeli tiket, aku dan Donghae memperhatikan orang-orang yang akan menyaksikan pertunjukan bersama kami. Sebagian besar penonton menggunakan pakaian yang berkelas, seperti akan menghadiri gala dinner. Tapi yang sebagian lagi mengenakan pakaian ala turis dan general saja seperti kami.

Pertunjukan dimulai sekitar pukul 22.30 malam, dan masih ada waktu 15 menit lagi sebelum acara dimulai.

“Bagaimana jika kita langsung masuk saja? Atau kau ingin mampir ke kafe itu dulu untuk membeli minuman panas?”

Aku mengangguk setuju dan kami pun berjalan menuju kafe yang terletak tak jauh dari teater. Kafe tampak ramai dengan orang-orang berbalut pakaian tebal yang sedang asyik membicarakan topik obrolan masing-masing dengan ditemani satu atau dua cangkir minuman yang mengepul.

Vanilla latte macchiato.” Aku memesan pada seorang karyawan perempuan yang berdiri di balik konter, menyapa kami dengan ramah.

“Aku cappuchino.” Donghae menambahkan.

“Diminum di sini atau take away?

“Tempatnya sudah penuh. Kalau begitu, kita take away saja ya?” tawar Donghae setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe. Aku hanya mengangguk setuju.

Setelah mendapatkan pesanan kami, aku dan Donghae duduk di bangku yang tersisa, terletak beberapa meter dari kafe. Napas kami mengepul sama halnya dengan minuman panas yang ada di tangan kami. Hanya bedanya, napas kami mengepul karena kedinginan, sedangkan minuman ini mengepul karena panasnya.

“Dingin?” Ia bertanya, kemudian menyesap cappuchino-nya dengan suara khas orang yang sedang minum minuman panas.

“Sedikit.” Aku pun mengikutinya menyesap vanilla latte macchiato-ku.

“Nanti setelah nonton Phantom of the Opera, kita langsung ke dekat London Eye. Kata temanku, di sana akan ada fireworks party.”

Tampaknya, pergantian tahun ini akan jadi kado terindah untuk ulang tahunku. Ya, semoga semua berjalan baik-baik saja.

***

Setelah pertunjukan berdurasi 1 jam itu selesai, aku dan Donghae menuju ke London Eye. Benar saja, kurang 10 menit lagi pergantian tahun dan di sekitar London Eye sudah berubah menjadi lautan manusia yang juga ingin melewatkan pergantian tahun dengan menyaksikan fireworks party di sini. Tahun baru memang tak terasa lengkap tanpa kembang api.

Aku memperhatikan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi London Eye. Begitu indah. Apa lagi jika nanti ditambah dengan kembang api warna-warni berukuran besar yang menghiasi langit malam sebagai latar belakangnya. Ditambah lagi dengan Sungai Thames yang juga ikut bermandikan cahaya di tahun baru ini. Ini benar-benar luar biasa.

Kulirik jam tanganku, sekarang pukul 23.06. Yes, 4 menit lagi. Aku dan Donghae sudah mendapatkan tempat berdiri yang strategis untuk melihat kembang api. Dari tempat ini, kami akan bisa melihat jelas kembang api yang nantinya akan melatarbelakangi London Eye dan dari sini pula kami bisa melihat Sungai Thames yang akan berkilauan nantinya.

Tepat pukul 23.07, ponsel Donghae berdering. Entah dari siapa, ia langsung mengangkatnya. Karena suasana sekitar yang terlalu riuh, aku tidak bisa mendengar percakapannya dengan orang di seberang teleponnya. Ia pun juga menutupi sekitar mulutnya dengan sebelah telapak tangannya agar lawan bicaranya bisa mendengar suaranya dengan jelas.

“Apa?” Itulah satu-satunya yang bisa kudengar dari mulut Donghae saat berbicara dengan lawan bicaranya. Ia tak bicara lama di telepon, mungkin hanya 1-2 menit.

“Nam.” Ia menepuk pundakku ketika aku sibuk memperhatikan orang-orang yang mulai berseru bahwa fireworks party akan segera dimulai. Aku berdebar-debar tidak sabar menantikan pesta kembang api ini.

“Ya?” sahutku sedikit keras karena suasana kian semakin riuh daripada sebelumnya.

Aku mungkin salah dengar, tapi yang ditangkap oleh indera pendengaranku saat ia berbicara tepat di depan telingaku adalah,“Maaf. Sepertinya aku harus pergi sekarang. Nara ada di London. Dia datang jauh-jauh dari Seoul, hanya ingin melewatkan tahun baru denganku, katanya.”

Sebelum sempat menimpali apa pun, Donghae sudah tidak berdiri di sampingku. Ia pergi entah ke mana, ditelan kerumunan orang-orang yang mulai merapat ke dekat London Eye. Mataku berkabut dan terasa berat, bukan karena mengantuk. Melainkan karena mataku mulai memproduksi cairan bening dalam jumlah berlebih secara tiba-tiba. Air mataku langsung jatuh menyusuri pipiku yang basah karena kedinginan. Dadaku sesak, bukan karena berada dalam kerumunan orang-orang ini. Melainkan karena menyadari bahwa ternyata aku bukanlah siapa-siapa. Aku tak sepenting gadis itu, hingga di hari ulang tahunku pun ia rela meninggalkanku, melaluinya sendirian.

Fireworks party pun dimulai. Kembang api berwarna-warni berukuran besar menari-nari di langit, memamerkan kecantikannya, menandakan datangnya tahun baru. Semuanya sesuai dengan bayanganku tadi. London Eye tampak semakin memesona dengan latar belakang kembang api-kembang api itu. Sungai Thames tampak berkilauan, bermandikan cahaya memantulkan warna-warni semarak pergantian tahun itu. Namun ada 1 yang tak sesuai dengan bayanganku. Keberadaan Donghae di sampingku, melewatkan momen berharga ini. Begitu ironi, apakah hanya aku satu-satunya orang yang menangis sedih di antara orang-orang yang sekarang sedang berbahagia merayakan pergantian tahun? Seharusnya ini menjadi ulang tahunku yang terindah….

Tapi aku menyadari satu hal sekarang. Ternyata, sesering apa pun aku menyugesti diriku bahwa aku akan baik-baik saja, dibandingkan dengan masalah pelik dan rumit seperti ini, tidaklah ada apa-apanya. Aku tak lain bukanlah hanya seseorang yang duduk di bangku penonton dan jatuh cinta pada sang pemain yang tampak bersinar dan begitu sempurna.

Aku salah. Tak seharusnya aku menyalahkan takdir. Tak seharusnya aku merasa menyesal karena datang terlambat di hidupnya. Yang harusnya kusesali adalah kenapa aku selemah ini terhadap sesuatu tak berbentuk, yang tak mampu kulihat, bahkan kusentuh, yang dinamakan cinta. Seharusnya aku bisa lebih kuat daripada itu. Selama ini, aku hanya terlalu naif untuk menyadarinya lebih awal. Aku terlalu takut jika jadinya akan seperti ini.

Mungkin melupakannya tidaklah semudah membalik telapak tangan. Karena orang-orang yang patah hati selalu butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalunya.

 

* TO BE CONTINUED *

Hello! Udah selesai baca FF-nya? Author sangat mengharapkan apresiasi dari readers berupa komentar, saran, atau kritik pada kolom komentar. Atau bisa juga langsung mention ke twitter @thepetitelady n_n

Kalau kalian pengin baca ceritaku yang lain, silakan langsung menuju ke http://petiteladytales.wordpress.com.

Terima kasih! n_n

11 Comments (+add yours?)

  1. elmaaaa
    Apr 02, 2015 @ 09:36:33

    kasian namnya😦
    semoga ada yg bisa ngobatin sakit hatinya nam :’)
    keep writing authornim🙂

    Reply

  2. Park HaeMin
    Apr 02, 2015 @ 13:52:48

    sedih banget….😥 moga2 ad reverse ny, kyk cewekny Hae ninggalin dia gtu, akhirny mereka jadi deh.. yeayy! #ngayal keep writing thor, fighting!

    Reply

  3. Monika sbr
    Apr 02, 2015 @ 15:46:28

    Semoga aja nam bisa menemukan pria yg memperdulikannya dibandingkan donghae…

    Reply

  4. ff71ocean
    Apr 03, 2015 @ 09:05:45

    ff ini daebak thor .. alurnya bagus , penyampaiannya bagus , pokoknya keren deh .. aku tunggu part selanjutnya neee .. jangan lama lama thor hehehe

    Reply

  5. haewina15
    Apr 03, 2015 @ 15:51:23

    bagus sekali author ceritanyaaa :’)) please lanjutin kisahnya~ sad ending aja biar nambah meweknyaaa hahaha.

    lanjutin yaa authorrr 😘

    Reply

  6. Jealmunita
    May 23, 2015 @ 08:04:44

    Pembawaannya nice thor..
    Maybe next chapter buat momen yg lebih nyesek gitu😀
    Haha kalo bisa sad
    Tapi si Nam dapet namja lain ^^ *ngarepnya

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: