Amor Cruenta

amor

Author            : Fatiha Dyahpuspa Ardianti

Title                : Amor Cruenta

Casts               : Jung Hyo Koo

                          Henry Lau

                          Cho Kyu Hyun

                          Other casts, find by yourself^^

Genre             : Angst, AU, Mystery

Length            : Chaptered on oneshoot, 64 pages Times New Roman-12-1,5-A4

Author’s note : Has been published at superjuniorfanfictiongallery.blogspot.com, please no plagiarism, no copying without any permission. Let’s interacts each other! Find me on Twitter @sjgyulau. Enjoy!

Added note    : Thanks to God, my parents who always support me, all of my partners, Super Junior as my inspiration, Tita Hwang as my cover model, thanks to everyone who will be Amor Cruenta’s readers, thank you!

Like a shadow, always follows its own

And I am your shadow, cruel shadow when anyone hurts you

It’s all about love and death on your one shadow, me

 

Ketika kau berimajinasi bahwa kau adalah dewa kematian

Maksudku, itu menyenangkan untuk menghentikan hidup seseorang

Seseorang yang telah menyakiti orang yang kau cintai

Sayangnya, yang kutahu, tidak ada dewa yang jatuh cinta

Kalaupun ada cinta, cinta itulah yang akan membunuhmu

Tanpa cinta itu inginkan, tanpa cinta itu harapkan

Kau terbunuh, kau adalah dewa kematian yang terbunuh, terbunuh oleh cinta

Dan ironinya, cinta itu sama sekali tidak membalas cintamu

Jadi kurasa, tidak selamanya menjadi dewa itu menyenangkan

Aku sedang tidak menulis seberapa hebat dan menyedihkan dewa kematian

Aku sedang tidak menulis itu untuk kau baca

Aku sedang menulis tentang…

CINTA

Dan

KEMATIAN

 

            CHAPTER 1 | The story is still continuing, amor cruenta

 

KEMATIAN MISTERIUS [LAGI], MAHASISWA LHJ MENJADI KORBANNYA

Diduga korban sempat melawan, darah di sekitar jari dan kuku korban bukan darah korban sendiri.

Headline sebuah surat kabar yang pagi ini diterimanya, membuat gadis itu membulatkan matanya penuh tak percaya. Nafasnya tertahan, tenggorokannya tercekat, seperti tidak ada lagi oksigen di bumi ini. Lagi. Lagi-lagi sebuah kematian misterius. Dia menerawang ke udara, menatap kosong langit-langit putih terasnya yang tampak kelam. Lee Hyuk Jae, tidak salah lagi yang dimaksud adalah dia, korban keempat akhir November ini dari entah apa kesalahan yang dia buat. Rasanya baru kemarin dia putus cinta dengan Hyuk Jae. Pria dengan panggilan akrab Eun Hyuk itu terdaftar menjadi korban pelaku yang sampai saat ini belum diketahui persis siapa. Terasa mustahil, semalam memang hubungan mereka berakhir. Tapi haruskan itu adalah pertemuan terakhir? Rahangnya semakin mengeras, matanya bengkak karena sesuatu yang memaksa keluar dari sudut-sudutnya.

“Semua pergi. Siapa selanjutnya?”

Hening, tanpa suara, bulir kedua dari matanya terjun dan menyapu pipinya, membuat sebuah garis yang mungkin akan berbekas. Dia tidak mengerti dengan apa yang Tuhan rencanakan, mengambil semua orang darinya? Itu tidak mungkin.

Gadis itu mengerjapkan matanya, menyeka air-air yang mengembun di sekitar matanya. Dia benar-benar tidak paham dengan semua ini. Semua yang menimpanya. Semua yang menimpa orang-orang terdekatnya. Terdengar tidak adil, kehilangan banyak orang yang sempat menorehkan memori untuknya. Tidakkah akan ada akhir nantinya? Dia lelah, terlalu lelah untuk berpikir atas apa yang terjadi.

“Terimakasih, kau boleh pergi, Yoo Dae-ssi

Sebuah senyum manis yang dibuat-buat terulas dari bibir tipisnya untuk pria bertopi pengantar koran. Yoo Dae, laki-laki itu menyebut dirinya Yoo Dae. Stylenya selalu sama, kaus polos putih yang dipadu dengan jaket hitam, celana hitam, dan topi hitam yang hampir menutupi seluruh wajahnya. Ditambah kepalanya yang selalu menunduk dan rambut poninya yang dikedepankan. Yang pasti, ada semacam luka goresan yang cukup jelas terlihat di leher mulusnya, yang sepertinya luka baru. Yoo Dae sangatlah sopan, atau pemalu? Dia memang mengenal baik pria itu, hanya tentu saja sedikit rasa canggung masih menyelimuti keduanya. Itu adalah wajar.

Pria jakung itu membungkuk hormat, lalu kembali melangkah dengan sangat cepat menghampiri sepedanya yang penuh dengan tumpukan kertas abu-abu, dengan headline yang sama edisi 28 November.

Pria aneh. Dia selalu melangkah cepat, seperti terburu-buru.

Pelan-pelan Yoo Dae mengayuh kendaraan itu. Gadis yang menerima apa yang diantarkan pria itu hanya memandang samar-samar dari tempatnya. Sesekali dia menghela nafas, masih tak percaya dengan apa yang dibacanya tadi.

Drrtt… Drrt…

Ponselnya bergetar.

            It’s all about love and death on your one shadow, me

Sebuah pesan singkat yang masuk. Seolah-olah sudah terbiasa, dia hanya memandang ponselnya dengan wajah tertekuk tanpa kesan keheranan. Pesan yang sama yang diterimanya akhir-akhir ini, yang dia yakini adalah pesan dari si pelaku.

Cih, peneror itu terlambat mengirim pesan.

“Jadi, kau mendapat pesan misterius itu lagi?”

Pertanyaan pertama yang sama yang selalu meluncur dari mulut yang sama, setelah mendengar berita yang beredar. Berita yang sangat menggemparkan Kyunghee University.

Kyu Hyun menganggukkan kepalanya, seakan tahu jawaban atas pertanyaannya untuk Hyo Koo tanpa gadis itu menjawab.

“Sudah kubilang, peneror itu gila! Apa itu love and death? Cinta dan kematian? Cih!”

Mereka berdua terus berjalan sepanjang koridor sekolah yang sesak. Semua. Oh bukan, hampir semua mahasiswa di sini membicarakan tentang temannya yang inisialnya terpampang pada kabar utama di setiap surat kabar. Ya, hampir semuanya. Kecuali seseorang, seseorang yang terlihat menyendiri di anak tangga nomor enam dari bawah. Pandangannya seperti menatap sesuatu, atau kosong? Atau sedang berpikir? Tapi entahlah apa yang dipikirkan.

Pria itu masih ditempatnya. Nafasnya terasa sampai di tempat Jung Hyo Koo dan Cho Kyu Hyun berdiri. Membuat keduanya merasa ingin menghampiri manusia aneh itu. Bisa-bisanya dia bersikap tidak peduli sementara teman baiknya sendiri meninggal dunia.

Hyo Koo dan Kyu Hyun melangkah menuju tangga, tentu saja untuk menemui Dong Hae di sana.

“Kalau kau beranggapan aku tidak peduli dengan Eun Hyuk, kau salah”

Seakan-akan mengetahui jalan pikiran Hyo Koo. Kyu Hyun menyipitkan matanya, bertanya bagaimana bisa Dong Hae membaca apa yang mereka pikirkan. Hyo Koo mengangkat bahunya tanda tak mengerti.

Hening, beberapa saat hening. Waktu seperti berhenti sejenak, kelelahan merasakan apa yang dirasakan setiap orang di kampus ini. Hanya angin yang berdesir di sebuah ruang yang terasa. Ya, angin di sebuah ruang. Terdengar ganjal, tapi itulah yang dirasakan semua orang saat ini. Keganjalan sebuah kematian. Kematian yang misterius.

“Aku tahu perasaanmu, Dong Hae Lee”

“Kau tidak tahu perasaanku!”

Suara itu terdengar memekakkan telinga. Dong Hae berteriak di depan wajah Hyo Koo. Dia sedang ditenggelamkan emosinya. Hyo Koo tahu itu wajar. Bagaimanapun dia juga adalah salah seorang dari banyak orang yang merasa kehilangan atas kematian Eun Hyuk.

Hening. Lagi-lagi hening. Bibir-bibir mahasiswa lain yang sedang membicarakan topik yang sama seolah hanya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara. Sentakan Dong Hae membuat suasana hari ini semakin tidak menentu. Sulit dijabarkan untuk menggambarkan perasaan seorang Lee Dong Hae.

“Kau tidak akan tahu!”

Dia menyentak sekali lagi. Mengumpat tidak jelas sambil memincingkan matanya ke segala arah. Dong Hae berdiri dan menghentakkan kakinya pergi. Hyo Koo tahu, tidak seharusnya dia menghapiri Dong Hae. Tentu pria itu butuh waktu untuk sendiri, bergelut dengan perasaan dan pikirannya. Bergelut tentang Eun Hyuk.

Dong Hae berhenti. Dia menoleh ke arah Hyo Koo, seolah-olah menegaskan sekali lagi bahwa Hyo Koo tidak akan pernah tahu perasaannya. Membuat Hyo Koo sangat tertekan, tapi dia tahu persis Dong Hae lebih tertekan karena kejadian ini. Siapa selanjutnya? Siapa selanjutnya yang akan jadi tertekan? Siapa selanjutnya yang akan jadi korban? Gadis berambut hitam khas Asia itu tampak frustasi. Dia memijit keras jari-jarinya yang sama sekali tidak pegal.

Tidak, Dong Hae. Aku tahu persis bagaimana perasaanmu.

Hyo Koo berujar dalam hati. Dia mendengus perlahan, masih pada tempatnya berdiri. Beberapa kali dia menggigit bibirnya, akankah berakhir semua ini. Dia terlalu banyak menangis karena manusia misterius yang terus mengusik pikirannya. Entahlah, mungkin suatu saat dialah yang akan menjadi korban terakhir.

“Aku tahu perasaan Dong Hae. Menurutmu bagaimana perasaannya?”

Hyo Koo menoleh kepada Kyu Hyun, bertanya hal yang tidak penting untuk ditanyakan. Ya, hanya memecah keheningan di antara mereka. Banyak makhluk hidup di sini, tapi terasa seperti berada di suatu tempat tanpa kehidupan. Semuanya sibuk berkutat dengan hatinya masing-masing.

Tampak Kyu Hyun tidak bergeming, seperti… entahlah, sulit dilukiskan. Wajahnya memerah, matanya berubah tajam, nafasnya tidak beraturan. Tidak ada yang mampu membaca ekspresi siapapun saat ini. Bergelut dengan ekspresinya masing-masing itu sudah cukup memuakkan.

Hyo Koo hanya memutar bola matanya melihat wajah aneh seseorang di sampingnya itu. Bukan hanya karena wajah anehnya, tapi pertanyaannya yang melayang-layang di depannya yang tanpa ada niat sama sekali untuk dijawab.

“Hey! Kau ini kenapa?”

Ditegurnya Kyu Hyun. Mungkin dia sedang berfantasi dimana dia sedang bertarung dengan pelaku teror ini. Bodoh sekali dia!

Sekali lagi, tidak ada jawaban.

“Apa dia gila? Atau berkepribadian ganda?”

Bertanya bukan kepada siapapun, bukan juga kepada dirinya sendiri. Dia terus saja menguntit agak jauh di belakang. Mengikuti kedua orang itu. Ah bukan, lebih tepatnya salah seorang dari mereka. Salah seorang dari mereka yang sudah menarik perhatiannya dari dulu. Sikapnya aneh. Beberapa kali dia berpikir mungkin memang orang itu bukan orang normal, tapi melihat apa yang terjadi saat ini dengannya membuatnya semakin yakin dia adalah orang normal yang aneh. Entah apa aneh itu, mungkin sikapnya, atau pribadinya, atau punya maksud tertentu.

Hal-hal aneh kerap kali terjadi, termasuk juga kematian berturut-turut dari empat mahasiswa di Kyunghee belakangan ini. Mungkin orang-orang juga akan menganggap dirinya aneh karena terlalu memperhatikan apa yang terjadi. Tapi rasa penasarannya sungguh jauh lebih besar. Dia tidak bisa diam saja, atau teka-teki ini tidak akan terpecahkan. Apalagi tentang apa yang selama ini diduganya. Ya, baru sekedar dugaan, dugaan tentang semua kematian yang menyangkut dengan seseorang. Seseorang yang dikasihnya. Seseorang yang disayanginya. Seseorang yang mungkin… ya, mungkin. Mungkin dicintainya. Dan dia tidak mau seseorang itu menjadi korban berikutnya.

“Henry-ya, apa yang…”

“Diam!”

Henry terus saja mengamati apa yang sedang diamati. Dia tidak mau kehilangan barang hanya secuil apa yang seharusnya diketahuinya. Secepatnya kasus ini harus bisa diakhiri.

“Ah, mereka pergi. Pria itu benar-benar… kenapa langkahnya cepat sekali? Bahkan teman perempuannya itu tidak bisa mengimbangi”

“Siapa?”

Tidak ada jawaban. Kadang Lee Chae Rin juga dibuat sebal karena Henry. Dia selalu melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya, sekalipun Chae Rin tidak mengerti apa yang sebenarnya Henry lakukan. Selalu merasa seperti dirinya tidak ada di mata Henry. Padahal dia sendiri melihat Henry lebih dari sekedar ada. Ya, lebih.

“Makan siang seusai kelas?”

Lagi, tidak ada jawaban. Henry hanya memandang lurus, entah apa yang dipandangnya. Dia terlalu sibuk untuk memperhatikan seseorang di sampingnya. Bagaimanapun juga permainan ini memang harus berakhir, sebelum jatuh korban lagi. Ini sudah tidak bisa ditoleran. Bahkan Henry bersumpah dia akan menjadi orang pertama yang akan memukul keras kepala pelaku itu. Kepala yang entah apa isinya. Mungkin kemarahan, atau kebencian, atau… dendam?

“Henry-ya? Kuanggap itu artinya kau setuju”

“Untuk apa kau kemari?”

Sebuah pertanyaan menyakitkan terlontar dari lidah seorang Lee Dong Hae. Pria itu seperti membenci Hyo Koo, bahkan saat gadis tinggi ramping itu berusaha bersimpati atas apa yang terjadi dengan teman baik Dong Hae. Seperti tidak lagi menerimanya, seperti ada kesalahan besar dari Hyo Koo, seperti jika memang ada yang salah Dong Hae tidak akan memaafkannya.  Aneh. Hyo Koo sendiri tidak tahu ada apa sebenarnya, apa salahnya, atau apapun yang membuat Dong Hae tampak membencinya. Kabar itu sudah cukup membuatnya gila, dan jangan lagi dengan sikap dingin Dong Hae ini. Seharusnya dia tahu, Hyo Koo pun merasakan apa yang dirasakannya. Meskipun demikian, Hyo Koo juga adalah seseorang yang lebih di mata Eun Hyuk. Jadi, mungkin hatinya merasakan hal yang sama.

“Tentu saja untuk kelas Dosen Kang. Kau ini kenapa?”

“Aku tahu itu kau!”

Donghae berdiri, memukul meja yang menjadi satu dengan bangkunya. Marah. Dia benar-benar marah. Marah dengan tanpa alasan, atau alasan yang sama sekali Hyo Koo tidak mengerti. Sekejap seluruh pasang mata di sekitarnya menatap heran. Kyu Hyun yang sedari tadi ada di samping Hyo Koo tidak bersuara, dengan wajah yang seperti tenang, atau… berusaha tenang? Entahlah, tidak ada yang begitu memperhatikan Kyu Hyun, semua mengarah kepada Dong Hae.

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu itu kau, jalang!”

DEG!

Lisan itu! Lisan itu, milik Dong Hae. Dan dari lisan itu, Hyo Koo mendengar sesuatu yang belum pernah didengarnya sebelumnya. Dia benar-benar diluapkan kemarahan. Kebencian. Atau entah apa yang sedang merasukinya saat ini. Kacau. Kelas menjadi kacau. Bahkan saat dosen telah tiba nanti, mungkin akan masih seperti ini. Kacau.

Hyo Koo benar-benar tidak paham dengan apa yang pria itu bicarakan. Dia tahu itu Hyo Koo. Tentu dia tahu bahwa yang sedang ditudingnya adalah Hyo Koo. Tapi tahu dalam artian apa? Apa maksudnya? Sungguh, tanda tanya besar memenuhi benak Hyo Koo, serasa semakin membesar dan akan menggesek nadinya lalu menembus kulitnya saja. Dan kata itu, jalang. Apa maksudnya? Sekian lama Hyo Koo mengenal Dong Hae, sapaan itu adalah sapaan yang paling kasar, dan pasti akan sulit dilupakan. Sapaan pertama untuknya, dan semoga menjadi sapaan kasar terakhir bagi Hyo Koo. Ya, terakhir.

“Kau yang membunuh Hyuk Jae. Kau! Iya, pasti kau! Itu karena kau tidak terima Hyuk Jae memutuskan hubungannya denganmu semalam. Tidak salah lagi, itu adalah kau”

Hyo Koo membuka lebar mata dan mulutnya. Sulit dipercaya, seorang Lee Dong Hae bisa menduga hal yang sama sekali mustahil untuk dilakukan Hyo Koo.

“Hey! Kau… kau…”

“Apa? Tidakkah kau sadar? Semua orang! Setiap orang! Setiap orang yang dekat denganmu, dan dari semua orang yang dekat denganmu itu sekiranya membuatmu terluka, dia pasti mati! Iya, mati! Kau tahu, hah? MA-TI!”

DEG!

Seketika itu juga terasa semua mata menatap tajam ke arah Hyo Koo, lalu menyemburkan api besar di setiap tatapannya. Membunuhnya perlahan. Benar-benar membunuhnya. Hambar. Dia tidak tahu ada apa dengan perasannya. Dia tidak merasakan apapun. Sakit. Bahkan perasaan itu tidak cukup mampu menggambarkan suasana hatinya yang sedang riuh membenarkan dan menyalahkan. Tidak kalah berisik dengan setiap bisikan-bisikan semua orang di sana. Bisikan yang menganggap Dong Hae benar, atau semua yang dikatakan Dong Hae logis, atau Dong Hae sangat marah, atau Dong Hae sudah gila. Padahal satu-satunya orang di sana yang sekarang benar-benar gila, adalah Hyo Koo.

Benar. Dong Hae benar. Semua orang yang menyakitiku, mereka pasti pergi.

“Henry-ya? Kau mau kemana?”

Henry tiba-tiba saja berlari. Untuk apa lagi? Tentu mengikuti dua orang yang selalu diikutinya. Orang yang selalu mengundang rasa penasarannya. Orang yang selalu dianggapnya sedikit aneh, atau berkepribadian ganda, atau normal namun aneh. Entahlah, bahkan saat orang itu akan buang air, mungkin Henry tetap mengikutinya. Henry benar-benar sudah gila. Membuang waktunya untuk hal yang tidak sepatutnya dia urusi. Padahal dia tahu betul polisi sedang dalam misi meringkus habis si pelaku. Dan dengan tanpa dasar apapun, Henry mencurigai seseorang. Entah mencurigai sebagai korban selanjutnya, atau… pelakunya?

Pria berbakat dalam segala alat musik itu terus melangkah pelan, seperti berpikir bahwa decitan sepatunya saja akan membuat orang yang diikutinya tersadar, bahkan banyak manusia di sana yang terkadang dibuatnya untuk menyembunyikan diri. Berdiri di belakang mereka, atau berpura-pura sedang berbicara dengan salah seorang mahasiswa di sana.

Chae Rin, gadis yang tadi menanyainya, mungkin Henry tidak ingat lagi bahwa beberapa sekon yang lalu dia sedang berbincang dengan gadis bersuara unik itu.

“Pukul satu tepat setelah kelas selesai, Henry-ya! Jangan lupa!”, sebuah teriakan, tentu saja dari Chae Rin. Hanya memastikan Henry akan benar-benar ingat dengan janjinya untuk makan siang bersama. Janji? Bahkan Henry belum menyetujuinya. Chae Rin lah yang memutuskan bahwa Henry setuju. Bodoh! Gadis itu memang bodoh. Sudah hampir dua semester Chae Rin memberi perhatian kepada Henry, tapi belum ada reaksi apapun. Belum ada, atau… tidak ada? Tidak akan pernah ada?

“Kau yang membunuh Hyuk Jae. Kau! Iya, pasti kau! Itu karena kau tidak terima Hyuk Jae memutuskan hubungannya denganmu semalam. Tidak salah lagi, itu adalah kau”

Suara yang samar-samar, namun jelas terdengar di antara banyak bisikan di ruang itu. Ramai. Penuh. Sesak. Dramatis. Membuat Henry tertarik untuk ikut bergumul di antara mereka, apalagi targetnya pun sedang di sana. Mungkin melihat apa yang terjadi, sambil memantau orang itu adalah ide yang tidak begitu buruk.

“Hey! Kau… kau…”

“Apa? Tidakkah kau sadar? Semua orang! Setiap orang! Setiap orang yang dekat denganmu, dan dari semua orang yang dekat denganmu itu sekiranya membuatmu terluka, pasti dia mati! Iya, mati! Kau tahu, hah? MA-TI!”

Mati. Kata itu sedikit ditekankan, membuat matanya melotot dengan sedikit berpikir. Bagaimana Henry, sang mata-mata dalam tanda petik ini, tidak memikirkannya dari awal. Jelas sudah. Tapi kejelasan itu belum cukup menjawab tanda tanya di kepala Henry. Semuanya harus tuntas, kalau perlu tidak berbekas.

Henry menggerak-gerakkan jarinya, seperti sedang menghitung sesuatu. Ya, sikap anehnya kembali ditunjukkannya.

“Sung Min, Lee Teuk, Hee Chul, Eun Hyuk, keempat korban itu. Tapi jika memang apa yang dikatakan Dong Hae benar, lalu apa hubungan mereka berempat dengan Hyo Koo?”, Henry tenggelam dalam bisikannya sendiri, bisikannya di antara bisikan-bisikan di ruang itu. Setidaknya dia menemukan sedikit kejelasan. Ya, hanya sedikit. Sangat sedikit.

Henry tampak merubah ekspresinya, bahkan tidak ada yang tahu perubahannya, karena begitu cepat. Seperti menemukan pemikiran baru. Dia terperangah, cemas, khawatir.

Akan ada korban lagi hari ini.

“Kau! Aku tidak percaya kau mengatakan itu!”

Hyo Koo berbalik menuding Dong Hae. Sungguh, dia tak lagi sanggup. Bagaimana bisa, sahabat mendiang mantan kekasihnya berkata seperti itu kepadanya? Hyo Koo sendiri ragu, apakah Dong Hae berkata demikian dengan dalam keadaan yang benar-benar sadar.

Matanya sembab. Air mata lagi. Ya, air mata lagi. Hal yang sangat dibencinya. Bagaimana bisa dia selemah ini? Kecewa. Sedih. Maklum. Tidak percaya. Semua berputar-putar di depannya seperti roll film pada mesinnya. Roll film yang menggambarkan bagaimana kisah-kisah menyedihkan itu. Saat orang-orang yang menyakitinya sekaligus dikasihinya itu satu per satu pergi. Sung Min, Lee Teuk, Kang In, Eun Hyuk. Memutar hal-hal apa saja yang pernah Hyo Koo lalui dengan mereka, masih tersimpan di memorinya. Sampai akhirnya dia harus kehilangan mereka, tepat setelah mereka membuat hatinya hancur.

“Kenapa? Kau tidak percaya aku mengatakan kebenarannya? Bahkan aku tahu pasti, saat ini aku membuatmu sakit hati, bukan? Dan aku tidak peduli jika aku adalah korbanmu berikutnya. Aku tidak peduli, kau tahu? Hah?”

Semua orang di sana memandang tidak percaya. Itu adalah kalimat paling berani yang pernah didengar mereka. Bagaimana jika pembunuhnya memang Hyo Koo? Bagaimana jika pembunuhnya bukan Hyo Koo, tapi sedang ada di sini? Bagaimana jika pembunuhnya mendengar dan akan benar-benar membunuh Dong Hae? Hyo Koo menatap nanar mata pria dengan pelupuk yang bengkak dan sudut-sudutnya yang basah. Ini mustahil. Itu bukan Dong Hae. Apa yang didengarnya bukanlah Dong Hae yang berbicara. Itu bukan Dong Hae.

Sekali lagi, sebuah gambar bergerak seakan ada di hadapannya. Semua yang dilaluinya bersama Dong Hae. Saat Dong Hae terlihat girang menjadi saksi Eun Hyuk yang menyatakan cintanya kepada Hyo Koo. Saat Dong Hae yang selalu ada untuk mendengar kisah dan keluh Hyo Koo tentang Eun Hyuk. Saat Dong Hae memberi dukungan Hyo Koo untuk terus bersama Eun Hyuk. Saat Dong Hae dengan lucunya memperingatkan Hyo Koo untuk tidak menyakiti Eun Hyuk. Tapi sekarang? Menyakiti? Bahkan Dong Hae menganggap Hyo Koo lebih dari menyakiti temannya. Dia menganggap Hyo Koo yang membunuhnya.

Semua pasang mata di ruang itu yang menatap heran kepada Dong Hae, kini menunjukkan betapa mereka ngeri untuk mendekati Hyo Koo. Seakan-akan apa yang dikatakan Dong Hae adalah fakta, dan mereka harus berhati-hati terhadap seorang Jung Hyo Koo. Dan tatapan mereka seolah menampar Hyo Koo berulang kali hingga dia kehilangan wajahnya.

Jika itu yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya.

Sebuah suara hati, suara hati yang hanya mampu didengar pemiliknya tanpa ada yang mengetahui.

Aku akan mengabulkannya, mengabulkan keinginanmu, keinginanmu untuk mati.

“Satu lagi manusia bodoh. Bagaimana bisa Dong Hae menantang kematiannya?”

Dan bagaimana bisa seorang Henry sebegitu bodohnya untuk mengurusi hal semacam ini? Itulah pertanyaan yang seharusnya menghuni benak setiap orang. Itupun jika Henry melakukannya dengan terbuka. Ya, tentu saja dia merahasiakan apa yang sedang menyibukkannya, atau pelaku kejahatan itu akan tahu dan membunuhnya. Bahkan Lee Chae Rin mungkin tidak tahu itu, yang dia tahu hanyalah Henry semakin aneh dari hari ke hari.

Mata dan telinganya terus merekam apa yang dia lihat dan dia dengar. Tidak peduli apa yang akan terjadi jika hal yang sebenarnya sedang dilakukannya akan terkuak. Dan otomatis Henry akan menjadi peserta urutan selanjutnya di daftar kematian manusia misterius itu. Tapi dia harus tetap tenang. Biarlah dia mungkin akan mati oleh siapapun itu si manusia laknat, tapi itu tidak akan terjadi sebelum dia melakukan sumpahnya. Memukul keras kepala pelaku itu.

Hiruk pikuk kelas mulai teredam dengan kedatangan Dosen Kang.

“Ada apa ini?”

Rambutnya yang sudah memutih dan rontok membentuk belahan tepat di tengahnya, kulitnya pun mulai berkerut samar-samar. Kacamata dengan bingkai hitam berbentuk lingkaran yang sedikit diturunkan. Kemeja berwarna zambrud dengan celana panjang coklat, sungguh perpaduan yang konyol. Dosen Kang memang sangat payah dalam urusan bergaya, tapi siapa yang tidak heran bahwa sebenarnya beliau adalah dosen favorit di Kyunghee? Bukan karena kecerdasannya –yang tentu kecerdasan seorang dosen tidak perlu diragukan lagi-, tapi karena cara mengajarnya yang lamban dan penyabar. Dalam artian bukan dosen galak seperti pikiran kebanyakan anak-anak baru yang sedang menjalani masa ospek di sana. Dosen Kang sangat ramah dan lembut, sangat bertolak belakang dengan karakter seorang pria yang sebenarnya. Mudah dirayu, apalagi oleh mahasiswi-mahasiswi muda yang minta tambahan nilai.

Segera Henry mengikuti orang-orang di sana yang berhamburan tanpa arah dari kerumunan tadi. Tutur Dosen Kang memang lembut dan pelan, bahkan teramat sangat, tapi entah bagaimana caranya di tengah keramaian tadi semua dapat mendengar kedatangan Dosen Kang. Mungkin tapak kakinya sudah dapat dirasakan dari tadi, atau harum aroma green tea dominan mint khas parfumnya sudah tercium beberapa inci dari depan pintu kelas.

“Ah, kau datang di saat yang sangat tidak tepat, Pak Tua!”, Henry berbisik dalam hati, masih dengan poin-poin yang tadi diperhatikannya berkecamuk hebat di dalam kepalanya. Tentu saja sangat tidak tepat. Di saat dia seharusnya akan menggali banyak informasi dari perdebatan kecil tadi. Perdebatan kecil yang gagal menjadi besar jika bukan karena kedatangan pria yang kerap dipanggilnya Pak Tua itu. Dia mendudukkan pantatnya di bangku sambil mendengus perlahan. Tetap dengan aktifitasnya memutar otak memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti. Atau apa yang akan diterimanya nanti. Atau… apa yang akan menimpa dirinya nanti?

Seorang gadis dengan rambut lurus sepunggung yang dicat merah semu jingga, seperti daun maple di musim gugur, tampak mengintip dari luar jendela. Menggerak-gerakkan bola matanya seperti sedang mencari sesuatu di sana. Tentu dia tidak masuk, dia sedang tidak ada kelas Dosen Kang. Dia ada kelas Dosen Shin, dosen baru yang tampan dengan perawakan sedikit berisi, itupun sekitar 15 menit lagi.

“Psst psst, Henry-ya! Pukul satu tepat, ok?”

CHAPTER 2 | And your wish will come true, your death

 

“Nilai terbaik untuk uji coba semester ini, Henry”

Ramai tepuk tangan seluruh mahasiswa terdengar sedikit kaku dengan ekspresi anehnya masing-masing. Kagum kepada Henry, tentu saja. Belakangan ini Henry memang acap kali mengungguli beberapa uji coba. Yang membuat suasana di ruangan ini sedikit canggung dan lebih dominan sunyi tentu saja adalah karena kejadian tadi. Adu mulut antara Dong Hae dan Hyo Koo. Semuanya kembali bertarung dengan kepala masing-masing. Beberapa ada yang menebak bahwa Dong Hae akan menjadi korban selanjutnya. Ada juga yang masih tidak percaya dengan apa yang Dong Hae katakan. Sebagian lagi menganggap remeh pemikiran-pemikiran itu, seakan tidak peduli dan menilai yang lain terlalu berlebihan memberi reaksi atas kasus kematian 4 mahasiswa Kyunghee. Atau bisa dibilang, i-tu-ha-nya-ke-be-tu-lan-sa-ja.

“Hyo Koo, kuharap kau tidak mempunyai masalah yang terlalu rumit. Maaf, aku menyesal mengatakan kau ada di peringkat bawah”

Dosen Kang menjelaskan lagi. Kasus ini memberi efek besar terhadap nilai-nilai Hyo Koo. Tentu saja ini sangat tidak baik. Mata Hyo Koo membulat sempurna tidak percaya, bagaimana bisa posisinya tergantikan oleh pria yang tidak begitu dia kenal. Henry, Dosen Kang menyebut pria itu Henry. Ada dua kemungkinan, Henry sangatlah jenius, atau Hyo Koo sendiri yang terlalu larut dalam masalahnya. Dan Hyo Koo lebih meyakini kemungkinan kedua sebagai jawaban atas hasil yang diterimanya. Hyo Koo rasa dia harus tidur cantik malam ini, membiarkan tubuhnya beristirahat dan menikmati setiap nafasnya tanpa tahu akankah ada nafas yang terhenti berikutnya.

Kelas Dosen Kang sudah berakhir. Semuanya berhamburan keluar kelas dengan wajah yang menggambarkan perasaan yang sama, seperti ketakutan terhadap Hyo Koo. Bagaimana tidak? Mereka tersenyum manis –atau lebih tepatnya berusaha agar senyumnya terlihat manis– di depan Hyo Koo sambil membungkuk dalam-dalam. Tentu saja hal ini sangat membuat Hyo Koo merasa sangat tidak nyaman. Tapi Hyo Koo tahu perasaan mereka, bukan salah mereka jika mereka seperti ini. Bukan salah Dong Hae juga yang membuat mereka seperti ini. Lalu salah siapa? Salah Hyo Koo sendiri? Apa salahnya? Ini murni kesalahan pembunuh bejat itu.

Hyo Koo nampak tidak rela dengan apa yang diperolehnya. Dia harus mengejar ketertinggalannya. Seperti tidak terima Jung Hyo Koo yang dulu dikenal cerdas harus tersisihkan oleh pria asing itu.

“Kyu Hyun-ah?”

“Rendah, sangat rendah. Satu tingkat di atasmu. Selisih yang sangat kecil”

Bahkan Hyo Koo lebih tidak percaya dengan apa yang Kyu Hyun ucapkan. Bagaimana bisa pria yang diragukan kesehatan jiwanya oleh Hyo Koo itu bisa lebih unggul satu tingkat di atasnya. Tentu saja Hyo Koo merasa ini tidak mungkin. Ada yang salah, pasti ada yang salah. Tentu saja dengan dirinya. Ada yang salah dengan dirinya.

“Ya! Bagaimana bisa, heum?”

Kyu Hyun hanya menggeleng tidak tahu. Hyo Koo benar-benar tidak mau, tidak ingin, bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau seorang Jung Hyo Koo, mahasiswa yang dielu-elukan kepandaiannya, harus kalah dengan manusia yang sedikit tidak normal itu.

Hyo Koo mencoba mencari jalan keluar untuk memperbaiki nilainya. Dia tidak bisa merayu Dosen Kang seperti mahasiswi lain untuk memperoleh nilai tambahan, karena memang dia sangat payah dalam merayu seseorang. Dia juga tidak mau ayah dan ibunya yang sudah tenang di alam lain harus menelan ludah kecewa atas apa yang selama ini mereka banggakan dari putri satu-satunya.

“Kau luar biasa!”

Sontak Henry menoleh. Wajahnya nampak terkejut dengan tepukan kecil di pundaknya. Sedetik kemudian berubah blank seperti orang idiot setelah melihat siapa yang menepuk pundaknya.

Agasshi, kau luar biasa!”

Henry yang sedang merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas hitam dengan sedikit efek silver yang mewah menoleh ke belakang setelah tepukan kecil di pundaknya. Nafasnya tertahan, waktu kembali berhenti untuk yang entah keberapa kali. Seperti scene drama, kamera memutarinya seolah dunia melihat scene itu tanpa menyadari bahwa waktu sedang berhenti.

Henry tersenyum simpul. Berusaha menahan perasaannya yang sedang meledak-ledak seperti kembang api pada perayaan pergantian tahun.

Ya, Tuhan! Dia berbicara kepadaku! Dia benar-benar berbicara kepadaku!

Pria kelahiran ‘89 ini menoleh ke belakang, memastikan bahwa Hyo Koo benar-benar sedang berbicra dengan dia. Bukan berbicara dengan seseorang di belakangnya, atau orang lain. Atau dia akan mati saat itu juga karena malu merasa sedang diajak bicara dengan gadis yang selama ini… merebut perhatiannya.

“Ah, terimakasih! Anda lebih hebat!”, Henry membungkuk dalam-dalam. Senang, bersyukur, bahagia, semuanya menyatu di pelupuk Henry. Pria ini tidak bisa menyembunyikan perasaannya, sudut bibirnya seakan sudah nyaman tersungging ke atas dan tidak mau diturunkan, setidaknya untuk bersikap sedikit normal. Tapi siapa yang bisa bersikap normal di saat seperti ini? Di saat seseorang yang begitu spesial ada di hadapannya. Di saat manik mata mereka saling memandang intens seperti membuat garis semu yang seolah berkata bahwa dia melihat sesuatu yang paling indah yang belum pernah dilihat sebelumnya.

“Jangan terlalu formal, Henry-ya! Dan jangan membalikkan fakta seperti itu, jelas kau yang lebih hebat”

“Ah, terimakasih. Terimakasih”, Henry membungkuk lebih dalam lagi. Rasanya seperti tubuhnya menjelma menjadi seringan kapas yang terbang dihempas angin, tidak peduli akan tersesat dimana dia nanti. Terbang itu menyenangkan, sama seperti yang sedang dirasakannya saat ini. Menyenangkan.

Bahkan mungkin dia melupakan kebiasaan menguntitnya.

Melupakan profesi sambilannya yang tak berbayar, menjadi spy di bawah kelas sangat rendah untuk ukuran mata-mata di seluruh dunia.

Melupakan sumpahnya menjadi pemukul kepala pelaku yang pertama dan terkeras.

Melupakan kasus yang selalu mengusik kepalanya.

“Apa kau keberatan jika setelah ini kau membantuku untuk uji coba berikutnya?”

“Aku sudah membolos 15 menit kelas dosen Shin agar bisa tepat waktu. Tapi kemana pria itu?”

Chae Rin terus mendelik kesal di samping mobil merah metalik milik Henry yang terparkir di pojok basement. Tentu saja ini tentang janji –yang disepakatinya sendiri– makan siang bersama. Bukan makan siang romantis, tapi kalau boleh jujur Chae Rin memang mengharapkannya.

30 menit berlalu sia-sia. Seharusnya mereka sudah duduk di bangku kafe yang dekat jendela pilihan Chae Rin. Bahkan mungkin sudah selesai, mengingat Chae Rin yang sangat cepat saat jam makan, dan Henry yang tidak terlalu banyak makan.

Beberapa kali Chae Rin mengirim pesan singkat. Tidak ada balasan. Telfon pun selalu saja ponsel Henry sedang sibuk. Ponselnya yang sedang sibuk, atau Henry sendiri yang sedang sibuk dengan kebiasaan konyolnya itu?

Chae Rin menggelengkan kepala, seperti seorang ibu yang kualahan menghadapi tingkah anaknya. Dan itu memang benar. Lee Chae Rin lebih tampak seperti ibu bagi Henry, dan Henry adalah anak kecil menyebalkan yang tidak patuh dan susah diatur.

“Seharusnya dia tidak perlu mencariku karena aku sudah menunggunya di sini. Setidaknya jikapun dia lupa dengan janjinya, dia tidak akan lupa mobilnya ada di sini dan melihatku sedang menemani mobil kesepian ini. Tapi kurasa aku yang akan mencarinya”

Gadis itu terus saja mengumpat sebal atas keterlambatan Henry. Keterlambatan apa pun tidak ada yang tahu. Henry sendiri sudah tentu merasa tidak punya janji, karena dia memang tidak berjanji.

Lee Chae Rin berjalan meninggalkan basement yang sepi itu menuju pintu masuk kampus. Menaiki satu per satu anak tangga, menyusuri beberapa lorong yang sangat terang namun terkesan sepi dan menyeramkan, hingga menemukan lift dan menekan tombol 3 dimana kelas terakhir Henry berada.

Kelas terakhir Henry berada, namun entahlah Henry masih ada di kelasnya atau tidak.

“Kyu Hyun-ah! Hampir 45 menit kau berdiri. Duduk dan bergabunglah, nilaimu sangat buruk!”

Shireo, setidaknya nilaiku sedikit lebih tinggi dari nilaimu, no-na-je-ni-us”, penekanan dua kata terakhir begitu jelas terdengar. Membuat Hyo Koo mengerucutkan bibirnya dengan pandangan sebal ke arah manusia yang sering dianggapnya gila itu. Kyu Hyun tidak akan berubah, tidak akan pernah berubah. Kekanak-kanakkan dan manja, seperti tidak sadar seberapa dewasa dia saat ini. Bahkan Hyo Koo pernah menegurnya untuk segera berkencan, tapi lagi-lagi Kyu Hyun menunjukkan sikap bocahnya itu.

Henry yang sedang duduk bersebelahan dengan Hyo Koo hanya terkekeh geli melihat tingkah keduanya. Bagaimana no-na-je-ni-us itu bisa betah berteman dengan pria itu. Di sini, Henry hanya melihat kebersamaan mereka berdua lebih seperti kakak-adik, yang seharusnya Kyu Hyun adalah kakaknya, tapi faktanya itu sangatlah tidak pantas. Sedikit perasaan lega mengembang di hati Henry atas pikirannya sendiri, bahwa tidak ada yang spesial dari hubungan mereka. Tapi siapa yang tahu?

Hyo Koo nampak serius dengan apa yang dilakukan.

Kyu Hyun terus bersiul seperti tidak mengenal kedua orang itu.

“Kau tidak akan bisa berpikir kalau masalahmu saja masih kau pikirkan, Hyo Koo-ya!”

Tentu dia tidak akan melewatkan kesempatan ini, Henry tidak melupakan tugas yang ditugaskan dari dan kepada dirinya sendiri. Mengupas lebih dalam tentang kasus itu. Dan Henry tahu benar, Hyo Koo adalah salah seorang yang terlibat dalam permainan berbahaya ini.

“Tahu apa kau tentang aku?”

“Siapa yang tidak tahu tentang kau?”

Seketika itu juga kepala Hyo Koo tertunduk. Rambutnya tidak sengaja menutupi seluruh wajahnya yang Henry yakini sedang murung dan dalam keadaan tidak baik. Seharusnya Henry tidak menyinggung masalah itu.

Seperti mengeluarkan dentuman keras, saat kepala Hyo Koo tertunduk saat itu juga Kyu Hyun mendongak. Pria ini sedikit idiot, tapi sangatlah peka dengan Hyo Koo. Dan dia yakin betul Hyo Koo sedang tidak baik. Sejurus kemudian dia berhenti bersiul tidak jelas.

“Kau?”, Kyu Hyun menuding Henry dengan rahang yang mengeras dan mata terbelalak, “Apa yang kau lakukan kepada Hyo Koo-ku?”

Wajah Henry mendadak memanas kemerahan. Dia seperti merasa begitu bersalah. Belum sampai pada intinya, lagi-lagi –sepertinya– untuk sementara Henry melupakan apa yang seharusnya akan dilakukannya tadi sejenak. Perlu waktu yang tepat dengan topik dan bahasa yang tepat pula. Hyo Koo sangatlah lemah, dan dia tidak mau kedekatannya membuat Hyo Koo semakin lemah. Di sini Henry menambah perannya sendiri, menuntaskan misteri Kyunghee, dan menjaga Hyo Koo dari pelaku gila itu.

Tangan pucat Henry menyentuh kepala Hyo Koo, mengusap pelan seakan mengungkapkan bahwa dia sangat menyesal dan minta maaf. Sungguh, Henry sama sekali tidak bermaksud menyakiti hati gadis yang dicintainya itu.

Mata Kyu Hyun mengerjap melihat perlakuan Henry dan tangan kurang ajarnya itu. Segera ditepisnya tangan Henry dari kepala Hyo Koo, “kau akan menyakitinya lagi, bodoh!”

Henry menarik kembali tangannya dengan gemetar, lalu menelungkupkannya di atas pahanya yang berbalut celana jeans panjang agak longgar yang sedikit ditekuk bagian bawahnya.

“Aku tidak apa. Teruskan saja belajarnya!”

Kyu Hyun juga melepaskan sentuhannya, menurut kepada Hyo Koo yang seperti memberi isyarat untuk tidak meributkan apapun saat ini. Dia kembali bersiul dengan matanya yang melihat ke segala arah, seperti seseorang yang salah tingkah tanpa alasan. Sampai biji hitam matanya menangkap sesuatu yang dirasanya aneh berkelebat di tangga.

Sesuatu itu seperti memanggil kakinya.

“Aku menunggunya, dan dia sedang di sini bersama jalang itu… dan pacarnya?”

Mata Chae Rin mulai sembab, sekitarnya sedikit basah dan pelupuknya membengkak. Membolos 15 menit, menunggu hampir satu jam, dan dia mendapati pemandangan menyakitkan di depannya. Ironi memang.

“Cih, belajar bersama? Jalang itu yang mencuri kesempatan!”, Chae Rin terus mengumpat tidak jelas, mengolok-olok Hyo Koo yang notabene sedang bersama Henry dan ditemani Kyu Hyun.

Gadis itu terus mengintip dari balik papan yang diposisikan begitu saja tanpa ada fungsinya, dekat dengan tangga utama dan toilet umum. Matanya menyipit, bibirnya dikerucutkan, keningnya berkeringat dengan alis terangkat, setiap orang yang melihat mimik wajahnya pasti akan berpikir hal yang sama, dia sedang kesal.

Taptap taptap taptap tap… tap… taptap taptaptaptaptaptaptap…

Taptaptaptaptaptaptaptaptaptaptaptaptaptaptap…

Seperti suara langkah kaki yang beriringan, memberi suara aneh yang tidak penting untuk diperhatikan. Lalu berhenti begitu saja.

Chae Rin yang tidak peduli membalikkan tubuhnya sambil tangannya masih menyeka air mata di lekuk wajahnya. Menuruni satu per satu anak tangga, hingga pada anak tangga terakhir…

“AAAAAAAA!!!”

Hyo Koo merasa sedikit lebih baik. Tapi perlakuan Kyu Hyun yang over protective terhadapnya tadi terlalu berlebihan, dan sama sekali tidak menyenangkan.

“Kyu Hyun-ah, kau…”

“Psssssstt!”

Telinga Henry memang istimewa, sesuatu mengusik pendengarannya dan memaksa menghentikan apa yang akan Hyo Koo ucapkan sebelum gadis itu menoleh kepada orang yang akan diajak bicara.

Taptap taptap taptap tap… tap… taptap taptaptaptaptaptaptap…

Taptaptaptaptaptaptaptaptaptaptaptaptaptaptap…

“Kau dengar itu?”

Dahi Henry berkerut samar, memfokuskan seluruh inderanya pada suara yang sama sekali tidak penting itu. Naluri mata-matanya mulai bangkit, sesuatu yang aneh. Suara yang aneh. Saat ini kampus sangat sepi. Dan bagaimana ada suara derap kaki seseorang yang sedang berjalan dengan sedikit loncatan dari anak tangga ke anak tangga, lalu sedikit tenang dan pelan, dan tiba-tiba terdengar cepat seperti seseorang yang sedang berlari begitu saja. Lalu disusul langkah seseorang yang juga seperti sedang berlari. Suara-suara itu jelas berbeda tempo, tidak mungkin hanya ada satu orang di tangga itu.

“Kau tunggu di sini, aku akan memeriksa”

Hyo Koo hanya mengangguk menyetujui, tanpa memulai perdebatan yang menjadi hobinya setiap kali seseorang memerintahnya.

“AAAAAAAA!!!”

Rumput hijau yang membubuhi tanah merah di area itu tampak terinjak-injak begitu saja, seperti merasakan kesedihan yang luar biasa dalamnya, karena harus merasakan derap berpasang-pasang kaki yang pemiliknya tampak mengenakan pakaian serba hitam. Pakaian yang menunjukkan sebuah kedukaan.

Nisan-nisan yang berjajar rapi di sana seolah hanya batu biasa yang juga akan dimiliki oleh temannya, yang kini tubuhnya terbujur kaku di dalam peti, nisan serupa, hanya saja berbeda name tag, Lee Dong Hae.

Ya, korban kelima misteri Kyunghee yang belum ditemukan titik terang pelaku dan alasan pembunuhan. Tentu saja hal ini semakin membuat resah mahasiswa universitas di sana. Duka, takut, cemas, semuanya beradu dalam lingkup kabung sepeninggalnya Lee Dong Hae tempo hari.

“Kau yakin tidak mau turun?”

Tampak seorang pria yang juga berbalut hitam-hitam, celana panjang hitam, kemeja hitam dengan garis-garis horizontal putih yang dibiarkan terbuka kancing kemeja bagian atasnya, juga sepatu dan kacamata hitam, sedang membungkuk dengan tangan yang menekan lututnya, seperti sedang berbicara dengan seseorang di dalam mobil merah metaliknya.

“Dan melihat orang-orang menatapku aneh seperti kemarin?”

Henry membujuk Hyo Koo untuk turun dan bergabung dengan mereka, yang sedang berdoa bersama untuk kematian Dong Hae, tapi rasanya Hyo Koo enggan. Bukan karena arogansinya atau dendam atas apa yang pernah Dong Hae ucapkan kepadanya –lebih tepatnya yang terakhir kali Dong Hae ucapkan kepadanya-, hanya saja akan terasa tidak nyaman jika dia berada di sana, di antara mereka yang sedang berkabung. Cukup Hyo Koo melihat upacara pemakaman dari sini.

“Terserah kau saja. Aku akan ke sana, tak apa jika kau sendirian?”

Tangan kanan Henry memegang pundak gadis yang sepertinya masih belum percaya atas fakta dan kenyataan bahwa tenyata pembunuhan itu belum berakhir. Hyo Koo yang menunduk mendongakkan kepalanya, lalu mengangguk tanda tidak apa. Memang tidak apa, Hyo Koo sudah terbiasa sendiri. Ah, tidak. Sebenarnya dia tidak sendiri. Seharusnya ada seseorang yang biasanya selalu di sampingnya, sekalipun saat itu dia belum mengenal Henry. Seseorang yang menemaninya, dan hanya dia, hanya mereka berdua, Hyo Koo dan orang itu. Tapi kepalanya sudah terlalu sakit untuk memikirkan seseorang itu. Pusing, Hyo Koo terlalu lama menangis atas kematian Dong Hae semalam, dan itu membuatnya sedikit pusing. Parahnya, dia melihat jasad Dong Hae tergeletak di anak tangga utama paling bawah saat itu tanpa tahu siapa yang membunuh –yang semestinya pembunuh itu belum lama pergi-. Bukan hanya dia, Henry dan Chae Rin yang tertangkap basah sedang menguntit mereka pun tahu. Dan itu merupakan penyesalan terbesar dalam hidupnya.

“Jangan menangis, heum! Matamu semakin sipit saja”, pria itu tersenyum kilat ke arah Hyo Koo. Jari telunjuk kanannya menyentuh ujung hidung gadis itu. Menggemaskan.

Mataku semakin sipit? Dia memperhatikanku?

Henry membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi meninggalkan mobilnya yang terpakir cukup jauh dari area pemakaman. Hyo Koo kembali meraih ponsel di tas kecil hitamnya. Dibukanya pesan misterius itu (lagi) yang semalam diterimanya.

It’s all about love and death on your one shadow, me

Hyo Koo berdeham kasar, diikuti desahan pelannya, seperti seseorang yang putus asa menjalani kehidupannya. Dan sepertinya, itu memang benar.

Lima pesan yang serupa. Yang selalu mendapatkan reaksi dari Hyo Koo yang serupa pula. Tangisan.

Tanpa terasa, satu butir lagi air matanya terjun mengarungi pipi mulusnya, dan terjatuh di tangannya sendiri yang sengaja terngadah.

Tapi aku menangis, lagi.

Lagi. Sampai kapan?

“Apa yang terjadi sebenarnya? Kami dengar kalian, dan satu lagi teman kalian, menyaksikan kejadian itu. Ah bukan, melihat korban sudah tergeletak tak bernyawa”

Sorotan demi sorotan, blitz kamera, wartawan dan reporter, semuanya mengelilingi Henry dan Chae Rin yang notabene merupakan orang-orang pertama yang melihat jasad Dong Hae sudah tak bernafas. Pembunuhan ini, bukankah sudah jelas dari awal bahwa memang sudah menjadi trending topic di seluruh media Korea Selatan. Mereka yang haus akan berita mengerubungi Henry dan Chae Rin untuk meminta kejelasan seusai upacara pemakaman. Beberapa sudah datang sejak awal dan memotret prosesi pemakaman, bahkan masih ada yang sibuk memotret makam Dong Hae, mungkin karena datang terlambat dan tidak mendapat ruang untuk merekam saksi mata, lalu mencari berita picisan nantinya yang akan beredar tentang pembunuhan kelima ini.

Henry mencoba menjelaskan, sedangkan Chae Rin tampak seperti masih trauma dengan apa yang dilihatnya kemarin. Mungkin terlalu mengenaskan, bahkan sulit dilukiskan seperti apa keadaan Dong Hae saat itu.

“Aku dan dua temanku yang lain, tanpa dia,”, Henry menunjuk Chae Rin, “sedang belajar bersama di kelas. Kupikir hanya ada kami bertiga, ternyata Chae Rin-ssi juga ada di dekat lokasi kejadian. Aku mendengar seperti derap kaki dua orang yang sedang saling mengejar, yang aku yakini mereka adalah korban dan pelaku, dan kurasa Chae Rin juga mendengarnya”

Henry menoleh kepada Chae Rin, dan dijawab anggukan kecil dari gadis itu.

“Benar, aku pun mendengarnya. Hanya saja aku tidak terlalu peduli hingga mampu mengatakan pasti bahwa ada dua orang di tangga utama, seperti apa yang Henry-ssi katakan tadi. Saat aku akan kembali, dan tentu saja melewati tangga utama, di sana aku melihat tubuh korban penuh dengan darah. Aku berteriak, dan sepertinya mereka bertiga mendengar teriakanku”

“Benar, kami memeriksanya dan memang Chae Rin-ssi sudah ada di sana”, Henry mengakhiri wawancara singkat itu.

Tunggu, Chae Rin sudah ada di sana?

Wartawan-wartawan itu tampak puas atas apa yang diterimanya, lalu mulai meninggalkan kerumunan tanpa berterima kasih, bahkan membungkuk pun tidak. Mungkin ada, hanya beberapa. Henry dan Chae Rin tentu tidak terlalu memerhatikan. Juga, tidak peduli jika wartawan itu bersikap tidak sopan. Yang ada di pikiran Henry adalah; bagaimana keadaan Hyo Koo di mobil. Sedangkan Chae Rin masih saja menuntut penjelasan mengapa Henry membatalkan janjinya.

“Aku tidak berjanji. Kau yang memutuskan!”

“Lalu mengapa kau ada di sana bersama perempuan itu dan pacarnya?”

Pacarnya? Maksudnya, apa maksudnya Kyu Hyun? Dimana dia?

Henry memalingkan muka dan hendak pergi ke mobilnya, meninggalkan Chae Rin dan menemui Hyo Koo tentu saja. Tidak baik bagi seorang gadis jika sendirian di mobil, sore hari dan masih di dalam area pemakaman. Sesuatu yang buruk mungkin saja akan terjadi.

Kaki kanannya baru terangkat dan belum menginjak tanah, tapi tangan kanan Chae Rin jauh lebih gesit memegang tangan kiri Henry dan menahannya untuk tidak pergi. Tidak masalah jika dia dicampakkan, atau tentang makan siang yang gagal itu, tapi ada sesuatu yang mengganjal benaknya. Yang rasanya harus diambil untuk diutarakan, dan terjabarkanlah jawabannya.

“Kau… mencintai Hyo Koo?”

Kaku. Tubuh Henry terasa kaku. Kaki kanannya masih mengudara, belum bertemu dengan tanah merah yang berselimut rerumputan basah. Dia tidak bisa bergerak. Angin sore itu serasa mendekapnya dalam kenyataan yang enggan diakuinya. Bukan karena malu, tentu saja dia bangga bisa mencintai gadis seperti Hyo Koo. Sekalipun dia tidak tahu apa yang membuatnya bangga, bahkan kedekatan Hyo Koo dan Kyu Hyun seolah menjadi makanan utamanya setiap dia berada di kampus. Ya, memang bukan karena malu. Hanya saja dia tidak mau menyakiti gadis yang belum melepaskan genggaman pada tangannya itu. Tentu saja dia sudah tahu sejak awal bahwa Chae Rin menyukainya. Bukan terlalu percaya diri, tapi sikap yang kerap kali Chae Rin tunjukkan di depan Henry memberi sinyal bahwa Chae Rin memang menyukainya. Dan itu tidak salah, kan? Itu memang fakta, kan? Ya. Bertolak belakang dengan apa yang Chae Rin rasakan, Henry lebih menganggap Chae Rin seperti teman dekatnya. Dia memang selalu ada di setiap Henry bertingkah konyol. Jujur, Henry nyaman dengan perlakuan Chae Rin, dan akan semakin nyaman jika tetap seperti itu tanpa ada hubungan istimewa di antara mereka. Karena hubungan istimewa itu hanyalah antara dia dan Hyo Koo, seperti yang diharapkannya. Entah Hyo Koo akan menerimanya atau tidak.

Ah, Henry berpikir terlalu lama. Kaki kanannya mulai keram, seperti tangan kirinya yang terlalu erat digenggam Chae Rin.

“Cukup, Chae Rin-ah. Aku harus pergi, Hyo Koo sendirian di mobil dan itu tidak baik untuk seorang gadis sepertinya”

Henry mencoba melepaskan tautan tangannya dengan tangan Chae Rin. Sedikit kasar memang, tangan Chae Rin memberontak untuk dilepaskan. Tautan terlepas, Chae Rin memutar bola matanya, seperti kau pikir baik meninggalkanku juga? Apa yang spesial dari dia sehingga kau begitu mencemaskannya? Bahkan baru kemarin dia mengenalmu.

Chae Rin menepuk-nepuk tangannya, menata poninya lalu menelungkupkan kedua lengannya sambil membalikkan tubuh, tanpa melihat ke arah Henry.

“Oh, jadi dia ada di mobilmu. Pantas saja aku tak melihatnya. Ternyata benar”

“Tentang apa?”

“Tentang kata orang-orang, bahwa Hyo Koo-lah peneror Kyunghee. Pem-bu-nuh!”

“Oh, jadi dia ada di mobilmu. Pantas saja aku tak melihatnya. Ternyata benar”

“Tentang apa?”

“Tentang kata orang-orang, Hyo Koo-lah peneror Kyunghee. Pem-bu-nuh!”

Ya Tuhan, semua orang berpikir akulah pembunuhnya.

Tampak seorang gadis sedang berdiri di sebelah gundukan tanah merah dengan nisan bertuliskan kepemilikan Lee Dong Hae. Semua orang tahu tentang anak ini yang dibunuh dan menyusul ayahnya. Hyo Koo tidak menghadiri prosesi upacara pemakaman, dan rasanya itu sangat tidak sopan. Dia berdiri di sana, menatap nanar nisan itu dan melafalkan baik-baik nama yang tertera di sana dalam hatinya. Masih dengan mata yang sembab, yang belum berhenti mencucurkan air pilu. Yang lebih memilukan lagi adalah, dua orang yang tidak terlalu jauh darinya nampak sedang membincangkan Hyo Koo. Menyakitkan. Bagaimana bisa Chae Rin berpikir Hyo Koo adalah pembunuh itu? Ah, mengapa harus pertanyaan itu lagi? Sudah semestinya Hyo Koo tidak lagi heran, bukan hanya Chae Rin, seisi kampus pun berpikiran hal yang sama. Kecuali, Henry dan… Kyu Hyun.

Kyu Hyun? Dia dimana sekarang?

Hyo Koo mengambil ponselnya lagi, menekan nomor kontak Kyu Hyun dan menghubunginya.

“Apa maksudmu, hah?”

Teriakan Henry membuyarkan niatnya. Dia menutup telfonnya yang belum sempat tersambung, dan terperanjat dalam posisinya sekarang. Tidak bergerak, seperti mayat hidup saja. Wajahnya pucat, nafasnya tertahan, akan ada apa lagi nanti?

“Hyo Koo tidak punya muka untuk ditunjukkan di hadapan publik, karena dialah yang membunuh. Untuk itulah dia tidak terlihat tadi!”

“Kyu Hyun juga tidak ada di upacara pemakaman! Kenapa kau curiga kepada Hyo Koo saja?”

“Kyu Hyun juga terlibat, bodoh! Dia sangat menyayangi Hyo Koo, hanya saja dia idiot, dia akan membantu Hyo Koo sekalipun itu adalah membunuh!”

“Hyo Koo tidak membunuhnya. Dia bersamaku saat itu!”

“Memang, tapi bisa saja Hyo Koo menyuruh seseorang! Buka pikiranmu!”

Pemakaman tampak sepi, dan menjadi bising karena perdebatan Henry dan Chae Rin. Sedangkan Hyo Koo? Dia masih terpaku pada tempatnya dengan matanya yang berlinang semakin deras saja.

“Tingkahmu saja yang seperti detektif, tapi otakmu tidak, menguntit Hyo Koo dan Kyu Hyun lalu berharap misteri ini terpecahkan. Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan. Kau mengikuti mereka, kenapa? Karena kau curiga, bukan?”

Hening. Henry hanya terdiam, kebisuan membungkam mulutnya dan mengambil otaknya, hingga dia tidak bisa berpikir apa yang harus dikatakannya untuk menepis semua perkataan Chae Rin, yang dia sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak.

“Kenapa? Oh, ayolah Henry-ya, jangan biarkan cin-ta-mu-i-tu membutakan jalan pikiranmu!”

Jadi kedekatanku dengan Henry, semua itu palsu? Dia hanya mengawasiku?

DUG! Hyo Koo terjatuh, tapi masih dengan kesadarannya. Dia berpangku lutut di dekat makam Dong Hae, meratapi apa yang baru saja didengarnya. Seperti ada pisau tajam yang penuh karat menusuk tepat di jantungnya, lalu menyayat-nyayat organ dalamnya, dan memutus saraf dan nadinya.

“Ya! Jalang! Di situ kau rupanya!”, jeda sejenak, seperti memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk membunuh perasaan Hyo Koo, seperti terbunuhnya perasaan Chae Rin sendiri, “Kau sama saja dengan Henry! Penguntit! Memalukan! Pergilah bersama Kyu Hyun-mu itu, pembunuh! Jangan kau seret Henry-ku!”

“Diam kau!”, Henry sudah akan melayangkan tangan kanannya ke pipi putih Chae Rin, yang memang dirasa kata-katanya sungguh kelewat batas itu, seperti tidak bisa dimaafkan, “Kau yang pembunuh!”, jeda sejenak, “Bagaimana bisa kau berada di tempat itu lebih dulu? Kau berteriak, untuk menyamarkan kebusukanmu itu! Kau yang menutup pikiranku, tapi kau tidak akan mampu, bodoh!”, Henry benar-benar tenggelam dalam emosinya. Dia menoleh ke arah Hyo Koo, “Percayalah, Hyo Koo-ya. Akan kujelaskan nanti”

Jujur, Henry tidak sengaja dengan perkataannya. Pikiran buruk dan emosinya benar-benar mengontrolnya saat ini. Bahkan dia ragu dengan apa yang baru saja dikatakannya. Bagaimanapun juga, Chae Rin adalah teman dekatnya.

“Bagaimana kau… arghh!”, Chae Rin beranjak dari tempatnya. Dia benar-benar tidak menyangka Henry akan mengatakan itu. Semua yang dilakukannya untuk Henry, semuanya sia-sia. Chae Rin mulai menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia mengejar hal yang tidak mungkin berhenti lari dari kejarannya?

Henry menghampiri Hyo Koo yang tampak errr… benar-benar bukan Hyo Koo. Dia tahu itu wajar, sangat wajar. Sangat wajar jika Hyo Koo saat ini mungkin sedikit depresi. Semua orang menyalahkannya, semua orang menjauhinya, bahkan banyak orang-orang yang seharusnya dekat justru berdebat hebat, dan tentu saja Hyo Koo merasa itu adalah ulahnya. Entah berapa besar kesabaran yang dia butuhkan. Kesabaran yang tidak bisa ditemukan begitu saja dimanapun itu.

Hyo Koo bangkit. Wajahnya masih sama, penampilannya masih sama, perasaannya pun masih sama. Berantakan. Gadis ini memalingkan tubuhnya, berjalan gontai meninggalkan Henry. Hyo Koo rasa Henry adalah tokoh antagonis dalam skenario yang dirancang Tuhan untuknya ini. Henry, orang yang begitu dia percaya, sekalipun belum 24 jam penuh mereka saling kenal, dan Hyo Koo harus menerima fakta bahwa kedekatan Henry dengannya sama sekali tidak tulus.

“Tidak, tunggu! Aku bisa jelaskan. Hyo Koo-ya! Hyo Koo-ya!”

Sebuah suara hati, lagi.

Satu lagi, orang yang menginginkan sebuah pertemuan dengan ajalnya.

Kenyataan pahit itu memang harus diterimanya. Membuat Hyo Koo begitu terpukul, serasa dibanting keras dari tapakkan kakinya di awan putih, lalu tersungkur ke bumi, di rujaman kristal es yang tajam dan dingin. Hyo Koo mulai merasa bosan hidup. Untuk apa? Semua orang seakan pelan-pelan membunuhnya. Hidup untuk dibunuh? Yang benar saja! Hidup untuk disalahkan atas kesalahan yang tidak diperbuatnya. Bukankah itu menyakitkan? Ya Tuhan, bahkan sakit pun masih belum cukup untuk menggambarkan kehidupan seorang Jung Hyo Koo. Bagaimana tidak? Semua orang yang dikasihinya pergi, dan orang yang bahkan tidak dia kenal menjauhinya, lalu dengan siapa dia akan bersandar bahu? Ah, tentu saja Kyu Hyun dan Henry. Tidak, mungkin hanya Kyu Hyun. Ya, hanya dia, hanya dia satu-satunya yang mengerti Hyo Koo. Sedangkan Henry? Di mata Henry, Hyo Koo tidak lebih dari sekedar lubang untuk pria itu menggali apa yang ingin diketahuinya. Di saat dia membutuhkan seseorang seperti Henry –selain Kyu Hyun tentu saja– justru orang itu malah menyakitinya. Lebih menyakitinya, bahkan jika dibandingkan orang-orang yang tidak mau kenal dengannya lagi. Kecewa, itu pasti. Dan sekarang, dalam hidup yang menyakitkan dan penuh nestapa ini, dia harus mau menelan bulat-bulat kekecewaan itu. Itu bukan hidup yang Hyo Koo inginkan. Tapi siapa dia? Dia bukan siapa-sipa, bahkan hanya untuk mengubah hidupnya sendiri dia tidak mampu. Lalu bagaimana? Seorang Jung Hyo Koo, gadis lemah ini akan menikmati hidupnya yang penuh duri itu. Dia akan menikmati duri-duri itu. Duri yang sudah tertancap terlalu dalam. Sakit, tapi untuk mengambil duri itu pun jauh lebih sakit. Dia tidak bisa berbuat apapun. Sama sekali tidak bisa.

“Jangan terlalu kau pikirkan tentang Henry, heum! Sebenarnya, aku sudah mencium kebusukannya sejak awal”

Suara itu menyadarkan Hyo Koo dari renungannya. Dia mengerjapkan mata sembari menggelengkan kepala mungilnya, membuat rambut hitam itu terkibas ke kanan dan ke kiri, sangat indah. Hyo Koo mulai mengatur nafasnya yang dirasa sesak dari tadi, tentu saja sesak karena apa yang dia pikirkan. Dia mengacak rambutnya frustasi, mendongak dan mendapatkan sosok pria yang sangat dibutuhkannya saat ini.

“Ini sulit dipercaya, Kyu Hyun-ah! Bagaimana bisa… arghh!”

“Ck, itulah hidup. Terkadang kau merasa tidak puas dengan kehidupanmu. Dan aku?”

Hyo Koo menoleh setelah mendengar kalimat terakhir Kyu Hyun. Seperti Kyu Hyun pun bernasib sama, atau hampir sama dengannya. Ternyata masih banyak manusia di bumi ini yang juga merasakan kepedihannya, sekalipun bukan karena masalah yang serupa. Entah dia harus bersyukur atas kenyataan itu, karena bukan hanya Hyo Koo sendiri yang mengalami kegilaan semu seperti ini. Atau dia harus prihatin, atau bagaimana. Entahlah. Untuk apa mengurusi orang lain, mengurus hidupnya sendiri pun Hyo Koo tidak mampu.

“Kau?”

“Aku sudah kehilangan hidupku, Hyo Koo-ya. Aku kehilangan”

Hyo Koo menatap datar manik mata Kyu Hyun. Bahkan dia merasa Kyu Hyun lebih gila darinya. Itu berarti apa yang dia pikirkan selama ini memang benar. Kyu Hyun terlampau gila. Dan sepertinya, Hyo Koo akan menyusul.

“Ya, aku memang gila. Kehilangan hidup memang membuatku gila”

Mata Hyo Koo membulat sempurna. Kyu Hyun bukan hanya gila, bahkan dia membaca apa yang sedang Hyo Koo pikirkan.

Ya Tuhan, dia sampai kehilangan hidupnya.

“Gila. Kehilangan hidup. Kau tidak akan bisa membayangkan seberapa hancur aku, sekalipun kau akan merasakan kehancuranmu yang menurutmu paling hancur”

Hyo Koo memasang telinganya baik-baik. Tertarik mendengar cerita Kyu Hyun, yang jika boleh menebak, pasti itu sangatlah rumit dan dramatis. Penuh ujian yang tidak mudah, seperti di film Harry Potter favoritnya, dimana tokoh utama selalu mendapat jalan yang penuh tantangan, dan dia berhasil pada akhirnya. Entah berhasil untuk apa, Hyo Koo yakin Kyu Hyun pun akan berhasil. Tapi dia ragu dengan dirinya sendiri. Berhasilkah dia? Setidaknya untuk keluar dari masalah yang sedang membelitnya ini.

“Tidak sepenuhnya, sebenarnya. Aku hanya kehilangan hidupku untuk diriku sendiri, aku masih mempunyai hidup untuk melindungi orang-orang yang kucintai, sekalipun aku sendiri tidak bisa memastikan apa mereka mencintaiku”

Sejenak hening. Kyu Hyun mengambil nafas dalam-dalam. Seperti inilah intinya, inilah yang ingin kuucapkan sebenarnya.

“Dan aku… ingin…”

Pria itu memejamkan matanya, merasakan terpaan angin di setiap inci wajah tampannya. Jantungnya semakin tidak terkendali, cepat dan bertambah cepat saja detakannya, seperti detik terakhir sebuah bom yang akan meledak.

“…melindungimu”

Hyo Koo tersentak. Matanya yang bengkak, melebar menatap lurus mata Kyu Hyun, mulutnya menganga, dan pipinya masih basah saja oleh air matanya yang belum sempat dia seka. Cedera yang dia rasakan tanpa sadar sedikit demi sedikit mulai memudar. Dan itu hanya karena apa yang Kyu Hyun katakan. Bahkan dia yakin wajahnya sudah semerah kepiting rebus karena perlakuan Kyu Hyun yang saat ini sedang menatap matanya dalam-dalam.

Hyo Koo tampak memalingkan rasa malunya.

“Dimana Yoo Dae? Seharusnya dia mengantar surat kabarku pagi ini”

“Yoo… Yoo… Yoo Dae?”

Hyo Koo hanya mengangguk. Wajahnya tampak sedikit berseri. Hanya sedikit, ya hanya sedikit perasaan lebih baik. Tidak separah apa yang tadi Hyo Koo rasakan. Kyu Hyun seperti akan menemukan Hyo Koo yang dulu sempat menghilang.

“Ya! Seharusnya kau melihat ekspresimu tadi, Hyo Koo-ya!”

Cahaya di wajah Hyo Koo kini kembali memerah malu. Kyu Hyun benar-benar mempermainkannya saat ini.

“Kau ini menyebalkan sekali, heh!”, Hyo Koo mendorong tubuh Kyu Hyun pelan, setidaknya sampai pria itu kehilangan sedikit keseimbangannya.

Ini yang kuharapkan, Hyo Koo-ya. Ini yang kuharapkan, dan semoga lebih.

Kyu Hyun masih dengan tubuhnya yang hampir jatuh karena dorongan kecil tadi. Ah, mungkin itu terlalu berlebihan. Hingga dia mendongakkan kepalanya ke samping. Hyo Koo terkekeh geli. Dan sedetik kemudian gadis itu terdiam. Ekor matanya menunjuk pada leher Kyu Hyun, atau lebih tepatnya sesuatu yang ada di lehernya.

“Lehermu? Luka baru?”

“Oh… em… tidak apa”, jeda sebentar, Kyu Hyun membuang tatapannya ke arah lain, “kurasa seseorang mencarimu, Hyo Koo­-ya!”

Kebersamaan itu berlangsung hanya sebentar. Hanya sebentar, dalam kehidupan panjang Hyo Koo yang hanya penuh keprihatinan. Seharusnya bisa sedikit lama, setidaknya beberapa menit lagi, jika bukan karena mata elang Kyu Hyun yang menangkap sesuatu yang menurutnya ganjal. Kepekaan penglihatan pria bermarga Cho ini memang tidak bisa diragukan.

Manik mata Kyu Hyun menyudut mengikuti arah Henry yang tampak berdiri dari kejahuan.

“Dia tidak berubah. Penguntit!”

“Bukankah sepertimu, di penghormatan terakhir Dong Hae kemarin, penguntit nakal”, Kyu Hyun menyentuh ujung hidung Hyo Koo, mencoba menggodanya. Terlalu lama terpuruk dalam kemurungannya sendiri, tentu sedikit hiburan adalah baik baginya.

Gadis itu sedikit mendongak, seperti berpikir sejenak.

“Heh? Tunggu! Bagaimana kau bisa tahu? Sedangkan kau tidak hadir kemarin?”

            Kepada cahaya pertama matahari pagi, yang kuyakin dia pun sedang melihatmu. Entah sampai kapan aku akan menjadi seonggok gadis lemah yang berusaha untuk tetap terlihat kuat dan tidak rapuh. Sedangkan dia, seseorang yang menyangga nafasku untuk terus hidup, justru memilih pergi dan membiarkan sangga yang selama ini digenggamnya patah dan hancur. Dan tentu itu membuatku hancur pula. Cinta tak terbalas. Awalnya kupikir itu tak lebih sekedar omong kosong yang hanya ada dalam drama, dan itu memang benar. Cinta tak terbalas, memang terjadi dalam drama Tuhan yang saat ini  kuperankan. Hanya saja ini bukan omong kosong, ini benar-benar nyata. Dan kau tahu bagaimana rasanya, cahaya pertama matahari pagi? Pahit. Sakit. Entahlah. Kadang aku selalu membayangkan bagaimana jika aku adalah kau. Kau datang di setiap pagi, dan pergi di setiap senja, tanpa ada yang memerdulikanmu. Kita senasib. Hanya saja, kau tidak bosan untuk terus terbit dan terbenam, sekalipun tetap saja tidak ada perhatian yang kau dapat. Sedangkan aku? Aku sendiri tidak tahu, bosankah aku atau tidak? Bosan? Tapi apakah cinta mengenal bosan?

Lee Chae Rin menutup buku hariannya. Terlihat lusuh dan usang memang, tapi apa yang ada di dalamnya adalah deretan tulisan yang begitu rapih, yang menggambarkan bagaimana hatinya. Diraihnya buku berwarna biru pudar itu, lalu mendekap benda itu dalam-dalam sejenak, seolah hanya benda itulah yang mengerti dirinya kapanpun. Dia menatapnya sebentar, lalu ditaruhnya di atas meja riasnya, di bagian ujung kanan atas dekat dengan beberapa foto Henry dengan berbagai ekspresi konyolnya, yang diam-diam diambil saat Henry tidak sadar tentu saja. Chae Rin tersenyum kecil melihat tumpukan foto-foto itu. Sudah lama rasanya tidak menyentuh lembaran bergambar yang menyimpan banyak kenangan itu, hanya berdiam diri sudut meja tanpa ada yang peduli.

Chae Rin membuka kembali buku hariannya, dan mulai menorehkan lagi ujung pena bertintanya di setiap garis hitam yang berjarak sekitar delapan milimeter itu.

Kepada cahaya pertama matahari pagi, yang kuyakin dia tak lagi memandangmu. Aku tidak tahu apakah ini baik atau tidak, tapi seseorang yang lain rupanya pun merasakan apa yang kita rasakan. Tidak dipedulikan. Dia. Dia sama sepertiku. Tidak dipedulikan oleh orang yang dicintainya. Tidak dianggap ada oleh orang yang dicintainya. Cih, cinta. Mengapa begitu kejam? Hanya saja, apakah benar dia pun merasakan apa yang kita rasakan? Ya Tuhan, jalang itu menyakitinya!

Hari ini mahasiswa Kyunghee diliburkan, tentu saja karena pengolahan lokasi kejadian oleh pihak polisi masih berlanjut. Lagipula, Chae Rin memang malas untuk menginjakkan kakinya di bangunan itu, banyak kenangan pahit di dalamnya. Yang dia sama sekali tidak ingin peristiwa yang sudah berlalu itu terjadi. Ah, Henry. Pria itu benar-benar membuatnya gila.

Teringat dengan pria itu lagi, bahkan di saat masih sepagi ini. Udara dinginnya masih sangat terasa mengetuk tulang. Diraihnya ponsel yang tergeletak di meja riasnya, dengan meneguk teh panasnya yang dicampur sedikit madu, jari jari kanannya sibuk dengan nomor telfon Henry. Dia berharap Henry baik-baik saja. Sekalipun dia masih belum melupakan perkataan Henry tempo hari di pemakaman selepas upacara kematian Dong Hae. Apalagi pikiran dan kecurigaanya belum berubah, tentu saja tentang Hyo Koo.

“Ah, sial! Kenapa dia harus mematikan ponselnya?”

Chae Rin mencoba sekali lagi. Henry benar-benar membuatnya gelisah kali ini.

“Ya! Henry-ya!”

Gadis ini memasang tampang cemasnya yang semakin menjadi-jadi. Mimik wajahnya berubah tatkala matanya tertuju pada cangkir kristal berisi teh madu tadi di hadapannya. Seperti biasa, dia mulai membayang sesuatu yang aneh. Atau sesuatu yang menurutnya aneh. Atau sesuatu yang membuatnya aneh.

“Ah, bodohnya aku! Teh manis, mungkin mereka sedang minum teh manis bersama. Sedangkan aku, dan teh manisku sendiri, tidak punya teman di sini”

Ujung bibirnya tersungging ke atas, tapi matanya justru memerah dan mengalirkan sebutir air. Dia tersenyum. Dia juga menangis. Aneh, bukan?

Tapi, bagaimana jika mereka tidak minum teh bersama?

Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpa Henry?

Hyo Koo berdecak pelan. Kyu Hyun yang sedari tadi di sampingnya sudah tidak terlihat. Cepat sekali pria itu pergi. Bahkan pertanyaan terakhir Hyo Koo belum sempat mendapat respon, dia sudah tidak ada saja. Tentu saja membuat Hyo Koo kesal. Ditambah lagi, seseorang yang sedang tidak ingin ditemuinya, jelas-jelas sedang ada di kejauhan sana  mengawasinya.

“Bodoh! Dia masih saja di sana!”

Pagi ini memang seperti lebih baik. Sedikit lebih baik. Oksigen pagi terasa begitu manis saja. Cicitan nyanyian burung gereja mengalun tenang seperti lagu di telinga Hyo Koo. Langit pun tidak seperti biasanya yang selalu kelam mengimbangi suasana hatinya, kali ini terlihat sangat biru tak berawan. Cantik sekali. Beberapa kali embun masih menetes kecil di pagi yang sudah hampir siang ini. Hari semakin panas, dan itu sedikit mencairkan perasaannya yang sudah lama membeku. Tentang Dong Hae, seperti dia telah sedikit melupakannya. Bebannya luntur begitu saja, yah meskipun tidak semuanya. Karena pagi yang indah ini tentu saja. Atau kalau boleh jujur, karena apa yang tadi Kyu Hyun katakan kepadanya. Ah sungguh, Hyo Koo benar-benar tidak bisa melupakan kejadian beberapa menit yang lalu. Mawar ini kembali mekar dan berseri, tapi tidak sepenuhnya, tentu saja karena kehadiran Henry yang masih menetap di tempatnya berdiri.

“Belum pergi juga?”

Bibirnya yang sedikit membusur membentuk senyum, kini tampak seperti garis lurus dengan pandangan mata yang seperti bosan. Hyo Koo mendengus perlahan sambil memutar kedua bola mata hitamnya.

Hyo Koo berbalik dari tempatnya bersepi. Dilangkahkanlah kakinya buru-buru. Tangan kanannya menyentuh knop pagar, ingin ditutupnya sebelum ada tangan yang mencegahnya, yang dia yakin itu adalah tangan Henry.

Terkaannya benar, sebuah tangan meraih tangan kanan Hyo Koo yang sudah menyentuh knop pagar. Hanya saja itu bukan tangan Henry.

“Kau… ada waktu?”

Perkataan orang itu sangatlah lembut. Hyo Koo kenal persis dengan suara itu, hanya saja terdengar sedikit berbeda, tentu saja karena nada halusnya.

“Kau?”

“Kumohon”

CHAPTER 3 | Before him, it will be her, a death (again)

“Jadi, maksudmu?”

Hyo Koo masih dengan ekspresi tenangnya, menyesap teh seduhnya pelan. Matanya masih menatap intens lawan bicara di depannya.

Ditaruhnya cangkir kristal keperakkan dengan sedikit garis-garis keemasan ujungnya di atas meja. Kaki kirinya dipangkukan ke kaki kanannya. Tangannya saling menumpu di pahanya yang berbalut hotpant hitam.

Beberapa saat hening.

Satu detik.

Tiga detik.

Dua belas detik.

Terdengar suara nafas, yang dihembuskan dengan kasar.

Enam belas detik.

“Ya seperti yang kuucapkan tadi”, dia menyapu poni panjang yang menutupi pandangannya, “kumohon, Hyo Koo-ya, aku benar-benar tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada Henry. Aku benar-benar tidak ingin Henry menjadi yang keenam. Aku benar-benar tidak ingin… aku… aku… aku benar-benar…”

“Kau benar-benar mencintainya, Chae Rin-ah?”

Hening.

Sekali lagi, hening.

“Aku… aku sendiri tidak mengerti perasaanku terhadapnya. Aku… hanya ingin dia baik-baik saja. Hyo Koo-ya, kumohon!”

Angin tidak lagi bergeming, seperti mengawang dan diam.

“Hyo Koo­-­ya”, sesuatu jatuh dari pelupuk mata Chae Rin. Sebuah tangisan, Sebuah air mata. Air mata yang tampak tulus. Air mata yang belum pernah Hyo Koo lihat sebelumnya. Air mata seseorang yang pernah membuatnya sakit hati. Air mata yang saat ini justru membuat Hyo Koo semakin… terpuruk. Entah.

“Dua semester aku menunggunya. Dua semester perhatianku kulemparkan untuknya. Dua semester juga aku merasa sia-sia. Entah ini cinta, atau hanya sesuatu yang menggelapkan mataku. Aku ragu. Cinta, kupikir cinta memang indah. Tapi apa yang kurasakan? Ini sungguh menyakitkan. Sungguh menyakitkan. Apakah yang menyakitkan adalah cinta? Atau memang ada cinta yang menyakitkan? Lalu mengapa mereka bilang cinta itu indah? Apakah sakit itu indah?”, air mata Chae Rin semakin deras saja. Bahunya lemas, isak kecilnya terdengar sayup-sayup, dia terus saja menunduk.

Ya Tuhan, dia benar-benar tulus.

“Aku tidak bermaksud membenarkan perkataan Dong Hae. Aku juga tidak berpikir kau penerornya. Yah, maksudku, lupakan kata-kataku waktu itu. Tapi kumohon mengertilah. Sungguh, aku bukan apa-apa, kecuali orang gila yang kehilangan hidupnya, jika Henry…”, Chae Rin tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Suara isaknya jauh lebih mendominan di ruangan yang sepi ini.

Hyo Koo memegang bahu Chae Rin. Bahkan dia bisa merasakan getaran di setiap sengguk tangisan gadis itu. Membuat Hyo Koo merinding, seakan dia turut merasakan apa yang Chae Rin rasakan. Atau… perasaannya sendiri.

Entah apa perasaan ini. Kupikir ini adalah… sakit? Kenapa?

Hyo Koo menangis. Gadis itu benar-benar menangis. Dia tidak bisa menyembunyikan apa yang dirasakannya. Sakit?

“Ah, aku terlalu banyak menonton drama rupanya. Maaf kau harus membuang waktumu”, Chae Rin membungkuk dalam, “kumohon, pikirkanlah perkataanku. Aku tahu ada sesuatu yang istimewa diantara kalian. Aku tahu kau tidak akan pernah menginginkan Henry terluka”

Aku… aku… jujur, aku memang tidak mau… Henry terluka.

Argh! Aku ini kenapa?

“Hyo Koo­-ya, jauhi Henry. Tolong”

Terduduk di rerumputan, sambil beberapa kali menyentuh rumput-rumput yang tertata rapi itu, atau hanya menatap semu dengan pandangan kosong ke depan. Henry sedang menunggu, entah apa yang ditunggunya. Ya, entah. Dia menunggu Hyo Koo yang sendiri di sana seperginya Kyu Hyun. Ah, lalu apa yang ditunggu? Sudah jelas memang bahwa Hyo Koo mendapati keberadaan Henry. Lalu? Apa Henry berharap Hyo Koo menghampirinya? Dia menunggu Hyo Koo melangkah ke arahnya? Ah, menunggu. Benar-benar sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Menunggu, sedangkan pikirannya terbang ke hal lain. Pria aneh, ah sebutan itu masih saja pantas diterimanya. Maksudnya, apa sebutan untuk orang yang melakukan sesuatu sedangkan pikirannya melakukan hal yang lain? Matanya mengerjap, dia menghirup oksigen kuat-kuat lalu dibuangnya begitu saja.

“Apa yang dua orang itu bicarakan? Argh!”

Henry mengacak rambutnya frustasi. Apa selama ini yang dia percaya ternyata bukanlah fakta? Atau apa selama ini yang dia percaya berubah menjadi fakta lain yang sepertinya… menyakitkan? Dia pikir Kyu Hyun dan Hyo Koo, yah, hanya sebatas teman, atau semacam kakak dengan adiknya. Dia pikir, sesuatu yang spesial tidak mungkin ada di antara mereka. Tapi melihat pemandangan tadi, bahkan Henry melihat jelas semu merah yang hampir menyerupai warna bibir Hyo Koo sendiri di kedua pipi gadis itu. Sesuatu mengganjal hati, dan mengalihkan seratus delapan puluh derajat penuh apa yang selama ini dia kira. Atau lebih tepatnya, apa yang selama ini… diharapkannya.

Henry melengguh kasar, mata kelamnya yang kosong tidak juga berubah. Sebelum… mata itu menangkap sesuatu di tempat dimana matanya mengarah. Di halaman rumah Hyo Koo tentu saja. Dia tidak lagi melihat gadis itu. Tapi, dia melihat… sosok lain.

“Chae Rin?”

Apa yang dilakukannya? Dia ingin menyakiti Hyo Koo-ku? Lagi?

Henry benar-benar melihat Chae Rin di sana, sekalipun wajah gadis itu tampak tak jelas apa yang terekspresikan. Yang pasti, tidak ada senyum licik di sana. Tidak ada aura yang kurang menyenangkan. Tidak ada rasa marah yang bisa terbaca dari matanya. Lalu apa yang akan Chae Rin lakukan? Sekalipun wajah perempuan muda itu tampak teduh tanpa cela yang patut dicurigai, tapi tetap saja pikiran Henry tidak mau luput dari perasaan negatif. Peka, sensitif, atau hanya imaginasi bodoh seorang pria aneh?

Rasanya belum ada 24 jam dia tidak menguntit, kecuali kali ini tentu saja. Dan sepertinya, kebiasaan itu terpaksa diulanginya. Desiran angin hari itu, ah bukan mungkin memang perasaan cemas yang belum juga hilang itu, seakan membawanya mengarah ke samping jendela ruang tamu tempat mereka berdua berbicara yang entah apa yang sedang dibicarakan. Penasaran, rasanya semakin membesar saja rasa itu di setiap inci dia mendekati samping rumah Hyo Koo.

Ini akan baik-baik saja. Tidak ada masalah. Selesaikan, dan semua akan selesai.

Kakinya tepat berdiri dimana yang diinginkannya berdiri. Hanya terdiam, sama sekali tidak bergeming. Nafasnya terasa berat, butuh banyak waktu hanya untuk menarik lalu membuang nafas, seakan setiap udara yang dihirup dan dikeluarkannya akan berdentum keras dan menyadarkan kedua gadis itu, bahwa ‘sang penguntit’ ada di dekatnya.

Tangisan, itu yang pertama Henry dengar.

Benar, Hyo Koo menangis. Apa yang Chae Rin lakukan?

“Hyo Koo­-ya, jauhi Henry. Tolong”

Itu adalah kalimat terakhir, satu-satunya kalimat yang Henry dengar.

Satu-satunya kalimat yang sama sekali tak kumengerti.

Kakinya terasa lemas, suara derap langkah sekian pasang kaki disekitarnya seakan terasa hanya angin berlalu yang membuat aspal dingin jalanan bergetar. Banyak pejalan kaki di sini dengan masih-masing mimik wajah mereka, tapi hanya Chae Rin yang terus saja murung. Menunduk dengan mata sayu dan bengkak sepulangnya dari rumah Hyo Koo.

Gadis itu berhenti sejenak, tepat di bawah sebuah papan iklan. Tampak seperti menunggu seseorang, tapi menunggu apa? Menunggu ketidakpastian? Ketidakpastian atas apa? Tidak bisakah hidupnya tenang sebentar saja? Mengapa pikirannya tidak mau berhenti menghujat diri dengan ribuan pertanyaan sulit yang tidak ingin dijawabnya?

“Tidakkah seharusnya aku lega telah mengatakan semuanya kepada Hyo Koo?”

Kakinya menendang-nendang udara. High heels hitam itu sama sekali tidak memberatkan kaki kecilnya yang masih bergelut dengan asap-asap Seoul.

“Ya, seharusnya kau lega. Seharusnya kau lega karena sudah menjauhkanku dari Hyo Koo”, suara berat terdengar begitu jelas di telinga kiri Chae Rin.

Gadis itu menoleh. Sosok pria muda yang sangat dikenalinya, sedang membuang nafas seperti membuang beban berat, bahkan terlalu berat untuk dibawa lalu dibuang. Sontak membuat Chae Rin terkejut. Henry masih terdiam di tempatnya berdiri, di samping Chae Rin. Entah sejak kapan dia ada di sana.

“Henry?”

“Kenapa?”

Peluh gadis itu mulai merembes dari pori-pori kulit di keningnya. Pandangannya dilemparkan ke arah lain. Sungguh, mata itu. Mata itu benar-benar… sekalipun sedang tidak mengarah padanya, tapi Chae Rin tahu persis apa arti mata itu. Mata tajam itu. Bahkan sebelum Henry menatapnya, Chae Rin sudah mengelak dari pandangannya. Dia takut dengan mata itu. Dia takut dengan pandangan itu. Atau lebih tepatnya, dia takut akan arti dari pandangan mata itu. Dia takut, bahkan hanya untuk meliriknya.

“Henry? B… bagaimana kau…”

“Aku tanya ke-na-pa! Kenapa? Kenapa kau meminta Hyo Koo untuk menjauhiku?”

Kali ini Henry benar-benar melihat ke arahnya. Suaranya agak ditekankan, namun masih terdengar pelan. Tentu saja karena keramaian Seoul. Bisa malu Henry karena berteriak tidak jelas di tempat seperti ini. Tapi tetap saja suara itu terdengar begitu keras dan mematikan di telinga Chae Rin.

Gadis ini semakin menunduk. Peluhnya bertambah deras saja. Menangis? Akankah dia menangis? Lagi? Tangisan yang ke-berapa untuk hari ini? Air matanya terasa sudah kering saja, seperti tidak ada lagi yang bisa di tumpahkan dari ujung-ujung mata cantiknya. Dia bosan… bosan untuk terus menangis. Tapi entahlah, apakah dia bosan untuk yang satu ini?

Bosan? Tapi apakah cinta mengenal bosan?

Henry menjambak rambutya frustasi. Ingin rasanya dia berteriak, meluapkan semua yang ia pendam.

Argh! Ya Tuhan, mengapa harus serumit ini?

Pemuda itu kembali menatap Chae Rin. Disentuhnya pipinya lembut, selembut tatapannya saat ini. Ujung dagunya pun tak luput dari jemari Henry, mendongakkan kepala Chae Rin agar mau membalas tatapannya pula. Gadis ini terlalu takut. Henry bisa merasakan getaran di stiap inci dia menyentuh wajahnya. Tangan Henry berpindah pada saku celananya, mengambil sapu tangan, dan mengusapkannya di kening Chae Rin.

“Kumohon jangan seperti ini. Kita masih berteman, bukan?”, nada bicara Henry berubah begitu cepat. Wajah teduhnya kembali diperlihatkan. Tidak salah memang jika semua orang menganggapnya aneh.

Teman? Jadi… selama ini… hanya sekedar… teman?

“Aku hanya bertanya, kenapa?”

Tidakkah kau merasakannya selama ini? Merasakan perasaanku terhadapmu? Merasakan sesuatu yang berbeda setiap kau bersamaku? Selama dua semester ini?

“Chae Rin-ah, kumohon jawab!”, Henry mengeratkan genggamannya di bahu Chae Rin. Getarannya semakin menjadi-jadi saja. Peluh yang sempat disekanya, kembali membanjir. Apa yang selama ini gadis ini rasakan sebenarnya?

“Kenapa?”

Hening.

“Karena aku…,”

Jeda sejenak. Chae Rin mengambil napas dalam-dalam, ditahannya sebentar, lalu dihembuskannya kuat-kuat.

“…, mencintaimu”

Hening. Lagi.

Dia bilang dia mencintaiku? Tapi haruskah dengan menjauhkanku dari cintaku? Ya, cintaku bukanlah dia. Dan aku tahu ini wajar. Dia mencoba menjauhkanku dari cintaku, ini wajar. Dibandingkan dengan lukanya selama ini. Dia tersakiti. Dua semester dia tersakiti. Ya Tuhan, sebodoh inikah aku?

Henry tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Masih tidak habis pikir atas apa yang Chae Rin beberapa detik yang lalu. Sedangkan gadis itu sudah beberapa langkah di depannya. Langkahnya terlihat buru-buru menyeberang di sisi lain jalan ramai ini. Lapi lampu hijau untuk pejalan kaki belum juga menyala. Entah apa yang sekarang dirasakannya. Baru saja dia mengungkapkan fakta di hadapan Henry. Seharusnya dia lebih lega. Ya, lebih lega.

Terlalu lama berdiri di tepi jalan. Dia tidak sanggup lagi ada di dekat Henry. Jantungnya masih berdegup tidak beraturan jika dia tetap di sini. Ah, lega. Ini lebih seperti lega yang membuatnya justru semakin gugup. Baiklah, sekarang Chae Rin yang menjadi aneh.

Sesekali Chae Rin menengok ke belakang. Pria itu masih berdiri di sana. Dengan tatapan kosong. Tatapan bingung. Atau entahlah.

Oh ayolah, biarkan aku menjauh darinya. Ini benar-benar memalukan. Maksudku, aku yang menyatakan kepadanya? Ya Tuhan, bisakah Kau ulangi kejadian beberapa detik yang lalu? Saat dia menyentuhku dengan lembut, dan saat aku mengungkapkan semuanya.

Bibirnya tersungging ke atas. Takut, lalu tersenyum. Ah, hari ini adalah hari yang paling gila untuknya. Chae Rin menengok ke belakang sekali lagi. Dia menggeleng dengan kuluman senyumnya yang sama sekali tak berubah. Dilangkahkan kakinya cepat-cepat. Dia takut Henry sadar, dan dia bisa membayangkan betapa… argh dia tidak mau memikirkannya. Sekalipun itu pastilah sangat indah. Mungkin. Kakinya terus saja bergerak ke depan dengan sedikit loncatan-loncatan kecil. Benar-benar seperti anak kecil yang mendapat peringkat pertama di kelasnya.

BRAKKK!!

“Kumohon Chae Rin-ah, bertahanlah untukku. Kumohon!”, langkah cepat Henry mengimbangi Chae Rin yang tubuhnya terkulai di atas busa berbalut kain putih, yang sedang didorong beberapa manusia berbaju putih-putih pula, melewati lorong ruang gawat darurat.

“Maaf Tuan, tapi Anda bisa menunggu di luar”

“Lakukan semua yang kalian bisa! Kumohon!”

Permintaan Henry hanya disambut dengan anggukan kecil salah seorang dari perawat di sana. Ini benar-benar gila. Akal sehatnya tidak bisa berpikir apapun, kecuali hanya keselamatan Chae Rin. Entah apa dan bagaimana, tapi dia merasa begitu bersalah terhadap Chae Rin. Dia merasa… argh, kepalanya semakin berdenyut hebat saja.

Henry terduduk lemas di ruang tunggu. Entah apa yang terjadi di dalam sana, dibalik pintu bercat putih dengan sepasang kaca atau semacamnya yang sengaja dibuat buram. Ah benar, menunggu memang benar-benar tidak menyenangkan.

Kakinya mulai ngilu, pantatnya pun kesemutan karena terlalu lama duduk. Apa yang sebenarnya terjadi? Semuanya, semuanya terencanakan begitu saja tanpa bisa diprediksi. Bahkan tanpa pernah terpikirkan sebelumnya. Sedetik setelah kecelakaan tadi, dia ingat persis apa yang sempat ia dengar.

Aku lega bisa mengatakannya, sekalipun Tuhan belum menjawab permintaanku untuk mengulangi apa yang baru saja terjadi. Jikapun aku harus pergi, aku senang bisa pergi dengan lega. Jangan khawatir, aku tetap mencintaimu.

Kalimat itu terus saja menggema di telinganya. Membuatnya semakin resah. Membuatnya semakin tidak tenang. Chae Rin memegang pipi dan dagu Henry, seperti halnya yang Henry lakukan sebelumnya, dia juga sempat tersenyum saat mengatakan itu. Bodoh sekali gadis ini, dia sedang sekarat dan sempat-sempatnya dia tersenyum?

Bangunlah, Chae Rin-ah! Bangunlah dan yakinkan aku bahwa kau tidak apa. Bangunlah dan aku akan memberimu jawaban atas apa yang kau minta. Aku akan mengulanginya. Aku akan mengulanginya untukmu. Kumohon, bangunlah!

Henry kehilangan wajah teduhnya yang sempat ditunjukkannya kepada Chae Rin tadi. Dan dia akan mendapatkan keteduhan itu lagi, jika sesuatu dapat memastikan Chae Rin baik-baik saja. Sungguh, Henry tidak akan sanggup memaafkan dirinya jika hal yang buruk terjadi kepada Chae Rin.

Menunggu. Dia masih saja menunggu. Semuanya terasa ringan, eum ralat, bukan sepenuhnya ringan, bukan seperti kapas yang diterpa angin dan terbang hingga entah kemana seperti saat Hyo Koo pertama kali menyapanya dulu. Ini ringan, ringan yang membuatnya begitu lemas. Bahkan untuk bernafas pun dia tidak punya tenaga. Tenggorokannya tercekat, dadanya sesak, sungguh sulit digambarkan apa yang sedang dirasakannya.

Bibirnya tak berhenti bergerak, berbisik hal-hal aneh dengan getaran hebat di setiap pelafalannya. Nampak seperti sedang mengucapkan kata-kata yang menyalahkan dirinya.

Aku bodoh. Aku bodoh. Semua ini salahku. Aku bodoh.

Terus. Terus seperti itu dan berulang-ulang. Tidak jelas memang, tapi ini sudah cukup memperlihatkan betapa dia menyesal atas kejadian beberapa jam yang lalu. Ah, menyesal. Penyesalan yang memuakkan. Bola adalah benda mati, tidak bisa bergerak, sekalipun kau dorong dan dia bergerak, bola tetaplah bola, benda mati. Berbanding lurus seperti yang sedang dirasakannya saat ini. Sebuah penyesalan. Tidak ada yang berubah. Tidak akan mengubah apapun.

Argh! Kenapa tak ku hentikan jalannya saat dia menghindariku?

“Percayalah, Henry-ya! Dia akan baik-baik saja”

Suara lembut itu membuyarkan lamunannya. Matanya mengarah kosong ke depan, hingga Henry menengok. Sesosok gadis juga terduduk diam di sampingnya. Apa yang baru saja diucapkannya tampak tenang, tapi faktanya wajahnya tidak setenang perkataannya. Menunduk, murung, gelisah, serupa dengan mimik Henry. Hanya saja gadis itu sedikit mencoba untuk tersenyum.

Gadis itu pun menengok. Manik mata mereka bertemu.

“Kau? Ba… bagaimana…”

“Kyu Hyun memberitahuku bahwa Chae Rin… ah, tak perlu kita bahas. Dia sempat melihat kejadian itu di perjalanan pulangnya. Kyu Hyun menelfonku, dan yah…”

Henry mengangguk paham. Sedikit perasaan lebih baik. Dan Henry tahu kenapa.

“Eum, Henry-ya. Maaf… aku tidak bermaksud… maksudku, tentang itu… sikap dinginku…”

Sekali lagi, Henry mengangguk. Senyum kecil terulas di bibir pria itu.

Apa itu artinya, kita bisa bersama lagi? Kita bisa semakin dekat satu sama lain?

“Dan, yah Henry-ya. Sampaikan maafku juga untuk Chae Rin. Aku berjanji ini adalah yang terakhir”

Mata Henry mendelik, menyorot tajam ke arah lawan bicaranya. Apa maksudnya?

Tentang apa?

“Yah, seharusnya aku tak mendekatimu”

DEG! Hancur! Semuanya hancur begitu saja. Harapan kosong. Harapan yang ada hanya untuk diharapkan, bukan untuk menjadi kenyataan. Kenapa? Kenapa harus kedekatannya dengan Hyo Koo? Dan mirisnya, Hyo Koo sendiri yang berkata seperti itu kepadanya. Hyo Koo sendiri. Beberapa detik yang lalu. Semakin menghancurkannya. Argh!

Hening.

Hanya udara yang begitu terasa hampa yang memenuhi ruangan ini.

Suara deham seseorang yang berlalu.

Masih saja hening.

Tidak ada percakapan. Tidak ada dialog. Keduanya berkutat dengan hatinya masing-masing atas interaksi pendek tadi.

Apa ada yang salah dengan apa yang kuucapkan tadi?

Tidakkah dia salah mengucapkan atau apa? Dia benar-benar ingin menjauhiku?

Suara memekik pintu gawat darurat yang terbuka membuyarkan keduanya. Sesosok pria jakung yang sepertinya sudah sedikit berumur tampak berdiri di sana. Pria itu merapatkan jas putihnya, lalu berjalan menghampiri dua manusia yang sedang berekspresi penuh tanda tanya. Apa yang terjadi?

“Tuan, kami sudah mencoba yang terbaik. Tapi, kehendak Tuhan berbeda”

It’s all about love and death on your one shadow, me

CHAPTER 3 | He will be the last, or still continuing?

Jika hidup adalah sepi, kesendirian, hampa, dan kosong, kupikir itu bukanlah hidup. Maksudku, ketika hal yang membuatmu bahagia hanyalah kepalsuan, maka hidupmu pun palsu. Ketika kau berpikir betapa membosankan dunia ini, kau benar. Tidak ada siapapun, hanya kau dan oksigen-oksigen di sekelilingmu. Namun pikiran itu akan membawamu kepada sesosok yang mengertimu. Tapi pernahkah kau bayangkan, akan ada suatu waktu dimana sosok itu harus pergi dari hidupmu. Pergi dari duniamu. Semua kembali pada sepi, kesendirian, hampa, dan kosong. Semua kembali pada kepalsuan. Semua kembali pada dunia yang membosankan. Semua kembali pada pikiranmu yang dulu. Semua kembali. Lalu, kemana pikiranmu akan membawamu? Lagi?

Ketika bahkan kejemuanmu bosan dan tak mau lagi mendengar cerita-cerita semu itu, kepada siapa kau akan bercerita? Hanya membiarkan cerita-cerita itu mengawang di udara hambar yang menyedihkan. Kutekankan sekali lagi, tak ada siapapun. Hanya kau, dan oksigen-oksigen di sekelilingmu, yang mulai… berkurang. Masa itu akan datang, dan siapa yang akan kau salahkan? Kepergian orang-orang yang kau cintai seakan sudah menjadi kebiasaanmu. Bahkan ketika perselisihan mulai membaik, lalu kau kehilangan, lagi, apa yang akan kau lakukan?

Rerumputan basah itu masih sama sejak terakhir Hyo Koo lihat 2 hari yang lalu. Seakan jenuh karena terinjak, lagi, dengan berpasang-pasang kaki yang sama. Titik-titik embun di ujung-ujungnya tampak seperti serbuk perak yang berkilau terbias terik siang. Langit sedang cerah dan tidak berawan, berbanding terbalik dengan perasaan tiap orang di area pemakaman ini. Hyo Koo menghirup udara panas ini dalam-dalam. Baunya masih sama. Dia juga melihat-lihat sebentar. Tampaknya pun masih sama. Bahkan, gundukan merah lusa lalu masih belum luntur kemerah-merahannya. Bibit-bibit alang-alang sudah mulai terlihat menyelimuti makam Dong Hae. Ah, pria itu, Hyo Koo merindukannya.

Hyo Koo menatap nanar ponselnya. Keenam teks pesan yang serupa. Huh, bahkan dia mulai bosan dengan permainan ini.

“Apa kau lelah? Aku tak mendengar tangisanmu? Lagi?”

Pertanyaan Henry hanya dijawab anggukan kecil Hyo Koo.

“Semua orang menangis, Hyo Koo-ya. Mungkin juga aku. Kau tahu, heum? Aku berjanji sesuatu kepadanya. Dan kurasa, Chae Rin pun menangis di sana karena aku tak bisa menepati janjiku. Aku berbohong dua kali kepadanya. Ah, payah sekali aku ini!”

“Aku juga berjanji kepadanya, aku harus…”, hening sebentar, Hyo Koo menegak ludahnya dalam-dalam, dia tahu ini akan sulit, tapi janji adalah janji, “menjauhimu”

Henry menoleh ke arah Hyo Koo. Menatap wajah gadis itu yang sepertinya memang sebenarnya tidak mau mengatakannya. Matanya disambut oleh mata Hyo Koo. Tubuh gadis itu pun ikut menoleh. Hanya sedetik mata mereka menatap satu sama lain. Angin panas di terik siang itu terasa dingin saja. Akankah? Akankan sikap dinginnya kembali lagi? Akankah bersama Hyo Koo adalah hal yang mustahil? Akankah… argh! Terlalu singkat waktu yang Tuhan berikan untuk kebersamaan ini.

BRUK! Tubuh Henry jatuh ke arah Hyo Koo. Bukan apa-apa, seperti Henry menanggapi benar apa yang Hyo Koo katakan. Pria itu memeluknya, memeluk Hyo Koo begitu erat, sangat erat hingga keduanya bisa saling merasakan kehangatan masing-masing. Kehangatan di antara panas hari ini yang terasa begitu dingin.

“Henry-ya?”

“Kumohon, biarkan seperti ini. Sebentar saja”

“Kau memelukku di depan makam seseorang yang memegang janjiku”

Jika bersamamu adalah tidak mungkin karena kau terikat satu janji, maka aku akan mengikatmu dengan satu janji lagi.

“Kalau begitu, berjanjilah kau akan terus bersamaku”

Hyo Koo melepas pelukan Henry. Dia benar-benar tak habis pikir. Mungkin Henry memang sedang tidak baik karena kematian Chae Rin, apalagi selepas upacara penghormatan terakhir tadi, tapi tak seharusnya Henry mempersulitnya. Apa maksudnya memaksanya berjanji untuk itu? Dan menyakiti Chae Rin di alam lain? Gadis macam apa Hyo Koo ini?

“Kau? Kau ini… argh! Jangan mempersulitku! Aku sama sepertimu! Aku juga kehilangan Chae Rin. Tepat setelah hubunganku dengan Chae Rin setidaknya sedikit membaik. Membaik kenapa? Karena janji itu! Dan kau juga berjanji kepadanya! Sekarang kau paksa aku untuk berjanji seperti itu? Dan melupakan janjiku kepada orang yang tubuhnya sekarang sedang membeku di tanah basah yang dingin ini? Mau kau buat serumit apa skenario hidupku? Hah? Kau pikir aku ini apa? Belum puaskah kau melihatku hancur? Belum puaskah kau…”

DARR!

BRUK! Sekali lagi, dekapan erat dari Henry. Bahkan jauh lebih erat. Lalu pelan-pelan melemas. Lemas. Kaku. Tubuh Henry terasa dingin. Peluhnya bercucuran. Matanya terpejam. Nafasnya menjadi tenang.

Henry terjatuh.

Tangan Hyo Koo dengan sigap memapang punggung Henry yang terjatuh ke belakang. Wajahnya mulai menunjukkan sebuah kecemasan. Dipangkukan kepala Henry di atas pahanya.

Henry tidak sadar.

Sesuatu yang basah terasa merambas di tangan kanan Hyo Koo yang memapang punggung Henry. Bau anyir menyeruak di tanah yang lapang ini. Jelas sekali.

Cairan merah.

Darah.

Henry…

…tertembak.

“HENRY-YA!!!”

“Henry-ya! Henry-ya! Kau… Ya Tuhan! Siapapun kau, tunjukkan dirimu! Henry-ya!”

Tangis Hyo Koo memecah keheningan area pemakaman yang sedari tadi menyelimuti. Membungkam angin yang tak mau berhenti mendesis membawa aroma amis darah di sana. Hyo Koo, gadis lemah ini menyentuh lembut pipi Henry. Tangannya yang berlumur darah sesekali dipandangnya, seakan tak percaya dan belum mengerti apa yang sebenranya terjadi. Kepala Henry masih bersimpuh di pahanya. Gila! Ini gila! Siapa yang melakukannya?

Henry. Seorang Henry Lau. Harus terluka sedemikian rupa di hadapannya?

Ini karena pembunuh berengsek itu! Hyo Koo yakin.

Air matanya tak mau berhenti bercucuran, mengaliri lengkukan wajah Henry. Matanya semakin bengkak memerah. Senggukan diiringi getaran yang hebat mengguncang tubuh terkulai itu.

“Henry-ya! Kumohon bertahanlah! Ambulan! Ya, ambulan! Kemana ponselku? Siapapun, panggilkan ambulan! Arghhh!!”

Tangisnya semakin meledak. Darah berwarna merah segar itu tak henti-hentinya menyungai, memberi warna rerumputan di bawahnya. Langit berubah kelam. Mendung menyelimuti kedua makhluk itu. Hujan. Hujan deras turun begitu saja menderai pekikkan Hyo Koo. Suasana semakin dingin. Ada apa sebenarnya?

“Ya Tuhan! Kumohon! Henry-ya, kau harus bangun! Kau harus bangun untukku, sayang! Ya, aku berjanji, aku berjanji tidak akan menjauhimu. Aku berjanji, dan Chae Rin mendengarnya! Kumohon, buka matamu! Katakan kau baik-baik saja! Henry-ya!”

Sepi. Butir-butir berair itu meluncur dari sudut-sudut mata Hyo Koo tanpa ampun. Menangis di antara rinai hujan itu menyenangkan, tapi tidak untuk hari ini. Teriakan demi teriakan tak terbalas. Tidak ada jawaban. Tidak ada respon. Tidak ada pertolongan.

“Siapapun kau, pembunuh bejat, tunjukkan rupamu, hah! Apa maumu? Henry­-ya, kumohon sadarlah! Peluk aku! Peluk aku seperti tadi. Peluk aku dan biarkan seperti itu, sebentar saja! HENRY-YA!”

Suasana pilu semakin pilu. Mengapa harus seperti ini? Mengapa haru hidup jika seperti ini? Mengapa?

“Hei manusia tuli! Keluar kau, bodoh! Kenapa harus Henry-ku? Kenapa bukan aku? Apa salahnya? JAWAB AKU!”

Air matanya masih belum berhenti terjun.

Tepat saat itu juga, ponselnya bergetar di tengah gemericik derasnya hujan dan kilat yang menggebu-gebu, dengan angin kencang yang membuat pohon-pohon di sana seolah menari gembira.

“Aku tahu itu kau! Aku tahu kau yang mengirimku pesan busuk itu! Siapa kau sebenarnya, hah? KATAKAN! SIAPA?”

Hening sejenak. Waktu, setelah sekian lama, kini kembali seolah berhenti.

“Aku adalah… seseorang yang ingin… melindungimu”

“Aku adalah… seseorang yang ingin… melindungimu”

“Aku adalah… seseorang yang ingin… melindungimu”

“Aku adalah… seseorang yang ingin… melindungimu”

“Aku sudah kehilangan hidupku, Hyo Koo-ya. Aku kehilangan”

“Ya, aku memang gila. Kehilangan hidup memang membuatku gila”

Ya Tuhan, dia sampai kehilangan hidupnya.

“Gila. Kehilangan hidup. Kau tidak akan bisa membayangkan seberapa hancur aku, sekalipun kau akan merasakan kehancuranmu yang menurutmu paling hancur”

“Tidak sepenuhnya, sebenarnya. Aku hanya kehilangan hidupku untuk diriku sendiri, aku masih mempunyai hidup untuk melindungi orang-orang yang kucintai, sekalipun aku sendiri tidak bisa memastikan apa mereka mencintaiku”

“Dan aku… ingin…”

“…melindungimu”

Semua kalimat-kalimat tak asing itu berputar dalam kepala Hyo Koo. Seakan memenuhi benaknya dan meledak begitu saja. Semuanya terasa aneh. Semuanya terasa ganjal. Ini gila! Ada apa? Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Dia kenapa? Dirinya sendiri kenapa? Melindungi apa? Kehilangan hidup bagaimana? Gila kenapa? Ada apa?

Hyo Koo memijat kepalanya yang sedang berseteru dengan hatinya. Ini semua nyata. Ya, ini benar-benar nyata. Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus pria itu yang… Argh! Kenapa?

“Kyu Hyun-ah?”

“Ya, ini aku, sayang. Kau merindukanku?”

Benar. Itu suara Kyu Hyun. Tapi… kenapa? Mengapa Kyu Hyun ada di sini? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapapun tolong ceritakan! Tolong hentikan! Argh!

Tampak sosok pria berpakaian serba hitam remang-remang di antara sekian juta butir-butir air langit. Berjalan santai ke arah Hyo Koo dengan pandangan melecehkan. Senyum kemenangan mengembang di antara lekukan pipinya. Hyo Koo benar-benar mengenal sosok itu. Sumpah demi apapun, ekspresi itu adalah ekspresi yang paling Hyo Koo benci.

“Apa yang kau lakukan di sini, Kyu Hyun-ah?”

“Salah jika tuan rumah juga ikut berpesta? Kau menikmati pestanya, sayang?”

“Ta… tapi… kenapa?”

“Tidak perlu memasang tampang bodoh seperti tempo hari itu, heum. Kau bahagia?”, Kyu Hyun mendekat. Kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Hyo Koo, “Lihat! Bahkan langit pun menangis bahagia hari ini!”

“Kyu Hyun-ah! Kau?”

“Mimik bodohmu itu membuatku gemas, heh”

PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Kyu Hyun. Nafas Hyo Koo tak teratur. Matanya tajam menyorot wajah menyebalkan Kyu Hyun. Ini sulit dipercaya. Benar-benar sulit dipercaya.

“KATAKAN YANG SEBENARNYA, TUAN CHO!”

“Tak apa, sayang. Tanganmu terlalu keras membelaiku. Tapi aku menyukainya. Manis”

“BODOH! KUBILANG KATAKAN YANG SEBENARNYA!”

“Ah, serigala betinaku, kau tampak kelaparan sekali”

“DAN SETELAH INI AKU AKAN MEMAKANMU! KATAKAN! KAT…”

Chu~ Bibir Kyu Hyun lebih dulu membungkam bibir Hyo Koo. Menguncinya dalam sebuah ciuman lembut. Mencegahnya untuk terus menggila seperti tadi.

Waktu lagi-lagi terasa berhenti.

Jika boleh jujur, sejak dulu aku menginginkan ini, Hyo Koo-ya.

Hening.

Kenapa kau bodoh sekali, Kyu Hyun-ah!

Hyo Koo mendorong wajah Kyu Hyun.

PLAK! Sebuah tamparan. Lagi.

“APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH!”

“Oh ayolah, sayang. Jangan terlalu ganas seperti itu”

“KYU HYUN-AH!!”

Arraseo. Ah, kumulai darimana? Sung Min-mu kubunuh, Lee Teuk-mu kubunuh, Kang In-mu kubunuh, Eun Hyuk-mu kubunuh, Dong Hae-mu kubunuh, Chae Rin-mu kubunuh, Henry-mu juga kubunuh, maksudku jika dia memang sudah terbunuh. Aku adalah Yoo Dae, lihat luka ini, luka yang serupa dengan milik Yoo Dae, karena kuku monyet Hyuk gila itu. Ah, kau juga tak tahu sepulang kelas saat itu. Kau tak tahu kepergianku, heum? Aku pergi, dan aku membunuh Dong Hae. Dan, yah, Chae Rin, kupikir kau benar-benar nona jenius, mengapa kau begitu bodoh, heh? Tanpa curiga kau hanya menerima apa yang kukatakan. Kaupikir apa yang kulakukan di lokasi kecelakaan Chae Rin? Tentu saja untuk menabraknya. Aku adalah pengirim pesan misterius itu, tidakkah kau sadar, aku selalu tidak berada di sampingmu ketika kau menerima pesan itu? Aku adalah pelindungmu, sayang. Aku pe-lin-dung-mu. Well, dongeng pengantar tidur, oh maksudku ajal, Henry-mu itu, tamat. Ah, cepat sekali. Tamat. Kau terhibur? Oh, atau kau mau kulanjutkan dongeng untuk ajal seseorang yang lain?”

“KAU??! ARGHH!!”

“Kenapa? Sulit dipercaya, bukan? Sung Min mencelamu, Lee Teuk berbuat kasar kepadamu, Kang In hampir membunuhmu, Eun Hyuk memutuskanmu, Dong Hae memfitnahmu, Chae Rin membentakmu, dan Henry me-ni-pu-mu! Jadi, kesimpulannya adalah…”

“Kesimpulannya adalah, selama ini aku berteman dengan manusia bejat sepertimu! AKU MEMBENCIMU! AKU MEMBENCIMU, SETAN!”

“Apa? Aku tak salah dengar? Aku adalah malaikatmu!”

“KAU SETAN! KAU PEMBUNUH!”

“SEKALI LAGI KAU MENYEBUTKU SEPERTI ITU, KUPASTIKAN…”

“APA? KAU PASTIKAN APA? SETAN!”

“ARGHH!! Tidak bisakah kau sedikit peka, Hyo Koo-ya? Hah? Aku melakukan semua ini karena… karena… karena aku… mencintaimu! AKU MENCINTAIMU! DENGAR DONG HAE-YA! DENGAR CHAE RIN-AH! AKU MENCINTAI HYO KOO! DENGAR DUNIA, AKU MENCINTAI HYO KOO! AKU MENCINTAI JUNG HYO KOO!”

“APA KAU SUDAH GILA, HEH?”

“YA, BUKANKAH DARI DULU KAU MENGANGGAPKU GILA? HAH? YA, AKU GILA! AKU GILA KARENAMU!”

“AKU YANG GILA KARENA ULAHMU!”

“AKU KEHILANGAN HIDUPKU KARENAMU! DAN SEKARANG KAU HIDUPKU!”

“AKU YANG KEHILANGAN ORANG-ORANG YANG KUSAYANGI KARENAMU! DAN SEKARANG KAU BUNUH SAJA AKU!”

“ITU KARENA AKU MENCINTAIMU!”

“MENCINTAIKU? MEMBUNUH SEMUA ORANG YANG DEKAT DENGANKU, KAU BILANG KAU MENCINTAIKU?”

“MEREKA MENYAKITIMU! DAN MEREKA PANTAS MATI! Aku tidak mau kau sakit. Aku tidak mau kau terluka, sayang. Aku ingin melindungimu. Aku ingin melindungimu dengan cinta kita. Tidakkah kau sadar berapa lama aku berada di dekatmu? Tidakkah juga kau merasakan betapa aku mencintaimu? Tapi apa? Bahkan aku tak melihat diriku di matamu. Dan aku ragu, adakah aku di hatimu? Sebenarnya aku ini siapa untukmu selama kita bersama? Mengapa bahkan untuk diriku sendiripun aku tak mengenal? Mengapa kau buat aku gila? Mengapa kau hilangkan hidupku? Mengapa kau tidak pernah sekali saja menganggapku ada? Apa salahku? Mengapa aku harus hidup dengan sia-sia? Mengapa aku harus tersenyum di depanmu dan menangis di belakangmu? Mengapa hidupku penuh kepalsuan? Mengapa aku tak bisa selalu tersenyum dan membuatmu juga tersenyum? Mengapa harus aku yang menjadi manusia malang itu? Mengapa aku diciptakan untuk melihat punggungmu dan bukan wajahmu, untuk melihat kau berpaling muka dan bukan menatapku, untuk melihat kau berjalan menjauhiku dan bukan ke arahku? Mengapa?”

Tangis Hyo Koo semakin berderu deras. Air matanya, lagi-lagi, mengaliri wajah tampan Henry yang semakin… pucat. Segera dilepasnya jaket hitamnya dan menutupi luka tembak Henry. Dia benar-benar butuh rumah sakit sekarang.

“LIHAT, HYO KOO-YA! BAHKAN KAU TIDAK MEMERDULIKANKU! KENAPA SELALU SAJA HENRY? BAHKAN BARU BEBERAPA HARI KAU MENGENALNYA!”

“KARENA KAU MENYAKITI HENRY, KYU HYUN-AH!”

“KARENA HENRY MENYAKITIMU! SIAPAPUN YANG MENYAKITIMU, SIAPAPUN ITU, DIA HARUS MATI! LIHAT! BAHKAN AKU MASIH MEMIKIRKANMU DI SAAT HATIKU KAU LUKAI SEPERTI TADI!”

“KAU YANG TIDAK SADAR! KAU YANG MENYAKITIKU, HEH! Mengapa kau harus pisahkan aku dengan orang-orang yang kukasihi? Mengapa kau membuatku rapuh dalam kesendirianku? Mengapa kau membuatku semakin tak mengenal siapa diriku? Mengapa kau membuat semua orang kini menjauhiku? Mengapa kau harus menjadi Kyu Hyun yang seperti ini? Mengapa aku harus hidup seperti ini? Hidup tertekan! Hidup tidak tenang! Hidup depresi! Hidup dengan menyedihkan! Hidup kesepian! Mengapa kau bunuh hidupku? Mengapa kau buat aku selalu menangis? Mengapa kau tak pernah membiarkanku tersenyum? Mengapa hidupku penuh ketidakpastian? Mengapa hidupku penuh kecemasan? Mengapa harus aku yang menjadi gadis malang di sini? Mengapa aku hanya bisa melihat masalah yang membelitku dan bukan wajahmu, menatap suram setiap pilu kematian mereka dan bukan kau, berjalan mencari ketenangan diri dan bukan ke arahmu? Mengapa? KAU YANG MENYAKITIKU! KAU YANG MENYAKITIKU!”

Hening.

BRAK! Kyu Hyun bersimpuh lutut. Pistol yang digenggamnya terjatuh. Kepalanya menunduk. Ujung-ujung rambut basahnya membentuk butiran air dan terjun begitu saja, juga menimpa wajah Henry. Bahunya lemas. Tubuhnya gemetar. Dadanya sesak. Nafasnya tercekat. Jari-jarinya kesemutan. Sudut matanya semakin menyipit. Dia tak berdaya.

“KENAPA, KYU HYUN-AH! JAWAB AKU!”

Tubuh Kyu Hyun bergetar hebat. Rahangnya mengeras. Matanya dipejamkan. Nafasnya memburu. Tangannya mengepal. Didongakkannya kepalanya, menatap intens mata sayu Hyo Koo. Semua tampak redup. Tampak gelap.

“A… aku… maaf…”

Hening sejenak. Hujan dibiarkan menderas begitu saja. Mata Kyu Hyun terpejam semakin dalam. Dia menggigit bibir bawahnya terlalu kencang. Lidahnya, dia seperti kehilangan lidahnya. Dia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Benar. Benarkah?

Benarkah dia menyakiti Hyo Koo?

“…aku me… menyakiti… mu”

Diambilnya kembali pistolnya.

DARR!

 

Mengapa dia segila itu? Mengapa dia sebodoh itu? Mengapa… mengapa harus dia? Mengapa harus seseorang yang begitu dekat denganku? Mengapa harus seseorang itu yang kubenci? Mengapa harus seseorang itu yang membunuhku perlahan? Mengapa hidup ini begitu rumit, Ya Tuhan? Mengapa?

Semuanya terjadi begitu saja tanpa sanggup kubayangkan sebelumnya. Semuanya berlalu begitu saja tanpa memberiku waktu untuk membayangkan apa yang akan menimpaku selanjutnya. Semuanya… benar-benar di luar dugaanku. Semuanya… mengontrol emosiku, melumat habis mimpi-mimpiku, mengasingkanku di suatu tempat yang mengudarakan pilu seonggok daging berdarah ini. Mengapa harus kehidupan kecilku yang diuji? Mengapa aku tak ditakdirkan untuk bernafas bebas tanpa terbelit beban masalah? Mengapa aku dipaksa menikmati ini semua? Mengapa aku  diciptakan untuk menghuni dunia yang kejam ini, bukan negeri dongeng yang fiktif dan menyenangkan? MENGAPA AKU HARUS HIDUP SEPERTI INI?

Jika boleh aku berharap. Jika bumi yang kupijak, langit yang mengatapiku, udara yang mengelilingiku, mendengar desis parau bisikan hatiku, sungguh jangan ulangi mimpi buruk ini. Setitik cahaya pasti akan muncul, aku tahu itu. Tapi, kapan? Saat semua yang kumiliki benar-benar hilang tak tersisa? Saat aku tak bisa bermimpi lagi? Semuanya nampak gelap. Gelap. Sangat gelap. Atau aku yang buta? Mataku buta? Hatiku buta? Ada apa sebenarnya? Apa yang sedang kulihat? Gelap, hitam, kelam. Bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Bangunkan aku, dan antarkan aku di mimpi yang lebih baik, lalu jangan pernah siapapun buyarkan aku dari tidur dan mimpi itu. Aku akan melihat ribuan cahaya dari seluruh penjuru di mimpi indah itu, sekalipun mataku terpejam, sampai kapanpun terpejam, dan tidak akan melihat, lagi, kegelapan.

Apa lagi? Apa lagi yang akan pergi dariku? Ini terasa seperti aku tak memiliki apapun lagi, bahkan untuk dihilangkan oleh hidup yang kejam ini. Masih adakah sedikit saja harapan untukku terus hidup tanpa tangisan? Hanya senyum yang mengembang, untuk mereka yang kucitai, dan melihat mereka tersenyum membalas senyumku. Ah, bodoh sekali aku ini. Aku akan tersenyum untuk siapa? Aku akan mendapat balasan senyum dari siapa? Tak ada siapapun lagi sekarang. Tak ada. Sama sekali. Ah, senyum, bahkan rasanya begitu sulit untukku tersenyum. Ya Tuhan, cabut kata-kata hatiku beberapa detik yang lalu. Ternyata tak selamanya mimpi indah itu memang indah. Lalu apa? MENGAPA AKU HARUS HIDUP SEPERTI INI?

“Nona? Nona tidak apa?”

Tubuh Hyo Koo terguncang. Sepasang telapak tangan yang berbalut sarung tangan putih tampak menggerak-gerakkan bahu gadis yang sudah menggigil cukup hebat itu, membuat nafasnya semakin tak teratur. Bibirnya gemetar. Tubuh Hyo Koo terasa dingin. Mungkin efek hujan tadi. Tubuhnya lemas begitu saja di bangku ruang tunggu rumah sakit.

“Nona?”

Sekali lagi, pria berbalut jas putih itu membangunkan Hyo Koo.

Perlahan, mata Hyo Koo terbuka. Cahaya yang menyilaukan samar-samar menerpa penglihatannya. Seperti… dia pernah melihat, ah mengharapkan ini. Dia terbangun dari kegelapan hidup yang tadi menghantuinya. Dia sekarang merasa… ah, ini bukan… ini hanya rumah sakit. Cahaya penerangan rumah sakit. Dia tersadar. Kepalanya masih sedikit pusing, tubuhnya terasa ngilu. Ini bukan portal bercahaya yang akan mengantarnya ke dunia lain. Ah, apa yang dipikirkannya?

“Ah, maaf. Aku tak sengaja tertidur rupanya. Bagaimana, dokter?”

“Kita harus bicara tentang kedua pasien, mari ke ruang saya”

Hyo Koo hanya mengangguk ringan.

Dokter itu pun berlalu, diikuti langkah gontai Hyo Koo. Dia mengerjapkan matanya, hanya memastikan ini benar-benar rumah sakit. Hanya memastikan apakah kesadarannya sudah sepenuhnya pulih.

“Silahkan duduk”

Hyo Koo menurut. Mimik wajahnya masih seperti orang linglung. Dengan wajah yang lebih putih dari biasanya, tidak ada rona merah di pipinya, dan bibirnya tampak begitu pucat. Sesekali Hyo Koo menggosokkan kedua tangannya.

“Anda tampak tidak baik. Teh hangat?”

Hyo Koo mengangkat alisnya keheranan.

“Ah, tidak perlu khawatir, ini teh saya dan saya sama sekali belum meminumnya. Tak apa, Anda benar-benar membutuhkannya”

“Te… terimakasih”

Pria jakung itu pun hanya tersenyum. Tangannya sibuk menata beberapa file-file, data, atau apalah itu, yang nampaknya begitu menjemukan.

“Tentang kedua pasien itu…”

“Ya?”, matanya membulat penuh arti. Hyo Koo baru ingat, bagaimana dia ada di rumah sakit ini. Letihnya benar-benar membuatnya lupa segalanya.

“Kami sudah mengerahkan semua yang kami mampu. Semua yang terbaik kami upayakan”

“Keduanya baik-baik saja, bukan?”, matanya berkaca-kaca, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

Ya Tuhan, itu sungguh sulit dipercaya. Kenapa harus mereka berdua yang… argh! Kenapa… bodoh! Bodoh sekali!

Dokter yang duduk di hadapannya tampak diam sejenak, kepalanya menunduk, menarik nafas panjang, dan menghembuskannya begitu saja. Dengan hembusan yang tercium semacam… penyesalan? Kekecewaan? Tapi kenapa?

Hening.

“Dokter?”

Pria itu mendongak, menatap mata gadis di hadapannya. Seperti, apa aku akan menyakitinya jika mengatakan ini?

“Dokter, tolong katakan!”

Pertanyaan Hyo Koo hanya disambut dengan gelengan… misterius. Apa yang terjadi? Ada apa sebenarnya?

“Maaf, tapi kami gagal menyelamatkan salah seorang dari mereka”

DEG!

“Apa tidak sebaiknya Anda mandi terlebih dahulu, Nona? Anda kedinginan dan menggigil”

“Tidak, tidak perlu. Pergilah”

Sekali lagi, aku kehilangan. Aku kehilangan untuk yang terakhir kalinya, semoga. Karena mungkin, setelah kehilangan ini, aku tak akan kehilangan apapun lagi. Entah aku harus menangis atau tersenyum, bagaimanapun ini sangat menyakitkan bagiku. Ya, sepertinya hidupku memang tak akan pernah luput dari kata me-nya-kit-kan.

Seorang gadis dengan pakaian yang masih serupa tampak terduduk merenung di bangku di sebelah ranjang pasien. Matanya yang tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya masih saja menitikkan air-air di setiap senggukannya.  Tak habis pikir. Selalu. Tak habis pikir atas semua yang terjadi.

Kami berhasil mengeluarkan peluru salah seorang dari mereka. Tapi pria yang satunya, tidak ada siapapun yang selamat dari peluru di kepalanya.

Kalimat dokter itu, masih terngiang-ngiang di kedua telinganya.

Hyo Koo menatap mata yang tertutup kelopak pria yang sedang terbaring di ranjang ruang rawat inap itu. Kaku. Tubuhnya kaku. Seperti mayat hidup. Ya, hidup. Hyo Koo masih bisa merasakan deru nafas ringan pria itu. Tangan dingin Hyo Koo menggenggam erat tangan yang tak kalah dingin itu.

Sudah lewat tengah malam, tapi mata Hyo Koo masih saja tidak lelah untuk terus berlinang. Menumpahkan segala emosinya, dengan teriakkan frustasi di setiap butirnya. Jendela ruang rawat inap bahkan belum tertutup, membiarkan angin dingin malam yang membuat tirai menari-nari menusuk kulitnya dan membekukan urat nadinya.

“Kau pasti kedinginan, heum? Seperti halnya aku”

Hyo Koo bangkit dari tempatnya terduduk. Melangkah menuju jendela yang masih menguap. Disibakkan tirai-tirai putih di depan wajahnya.

Lihat, bahkan langit masih belum mau menghentikan tangisannya. Bintang-bintang tak tampak. Gelap. Sewarna dengan hidupku. Ya, langit yang seperti ini, bagiku begitu indah. Langit yang seperti ini, mendung dan kelabu. Langit yang seperti ini, kurasa hanya dia yang mengerti lukaku.

Dia menutup jendela, menyibakkan kembali tirainya. Melangkah menuju tempatnya tadi terduduk. Bayangan itu masih terus memburunya, seperti teater yang terus saja dimainkan di hadapannya. Dan jika ini memang teater, sungguh teater dengan cerita yang paling dibencinya.

Dia bilang dia akan membunuh siapapun yang menyakitiku. Tapi aku bodoh. Aku bodoh karena aku jujur kepadanya. Aku bodoh karena aku jujur bahwa dia yang menyakitiku. Aku bodoh karena kejujuranku membuatku kehilangannya. Dia menembakkan peluru berapi itu ke… kepalanya sendiri.

Hyo Koo mengusap air matanya.

“Kau tahu? Kau berhasil! Misteri Kyunghee sudah tamat! Bertahanlah, bangun, buka matamu, dan berbanggalah untukku, Tuan Penguntit!”.

EPILOG | That’s all enough, it’s time to get better life

2 weeks later…

“Aku tak tahu mengapa dan bagaimana, tapi kalian berdua luar biasa. Sempurna. Nilai terbaik untuk uji coba hari ini, Henry dan Hyo Koo”

Riuh tepuk tangan mahasiswa setelah apa yang diumumkan Dosen Kang tadi terdengar begitu membanggakan untuk kedua makhluk itu. Mereka tampak bertatap muka, saling membius diri dengan mata seseorang yang sedang ditatapnya. Senyum mereka mengembang. Ya, senyum. Hal yang begitu langka kini terjadi pada seorang Jung Hyo Koo.

“Aku menemukan no-na-je-ni-us-ku lagi!”

“Dan yang mengherankan, tuan penguntit kini menjadi tu-an-je-ni-us!”

Henry tampak memerah menahan malu.

“Ya! Seharusnya kau berekspresi seperti itu di depan cermin!”

“Aku takut aku akan terobsesi dengan ketampananku sendiri”

“Apa katamu? Tampan? Dasar sipit, belajarlah membuka matamu! Kapan kau akan terpejam seperti itu terus, heh? Dan lagi, pipimu itu, cobalah untuk tidak terlalu banyak tidur, kue mochi! Itupun jika kue mochinya manis, melihat kulitmu seperti melihat mochi yang terlalu banyak tepung! Oh iya, tambah porsi makanmu dan pergilah ke gymnasium, kurus!”

“Tapi kau menyukainya, bukan?”

Kini Hyo Koo yang nampak memerah menahan malu.

“Ah jujurlah, Nona Jung!”

“Jangan panggil aku dengan margaku, Tuan Lau! Ya! Kau ini! Kau ini sangat menyeb…”

Chuu~

Ciuman lembut membungkam bibir Hyo Koo. Menghentikan rendetan kalimat menyebalkan yang akan meluncur dari mulut gadis itu. Bibir mereka terpaut cukup lama.

Entah untuk ke-berapa kalinya, waktu terasa berhenti.

Tautan bibir mereka pun terlepas.

“Kau ini! Beraninya kau!”

“Kenapa, Nona Jung, oh maksudku Nona Lau?”, Henry terkekeh geli.

“Kau? Kau ini! Kau pikir aku akan bangga dengan nama yang kau berikan itu? Jangan seenaknya mengubah nama seseorang, eoh!”

“Aku bangga karena pertama, nilaiku setara dengan nilaimu, oh bahkan pernah melebihimu, no-na-je-ni-us!”

Hyo Koo mengerucutkan bibirnya. Bagaimana bisa Henry mengingat itu? Ah, menyebalkan sekali.

“Kedua, aku bangga misteri Kyunghee kini tamatlah sudah”

Rupanya kau mendengarku saat kau terbaring di ranjang ruang inap malam itu, Henry-ya.

“Satu lagi, aku bangga karena, kau tahu apa? Aku mendapat undangan dari badan intelejen Korea dan akan ada wawancara di sana!”

“Benarkah?”

“Begitulah. Dan yang paling penting, aku bangga… aku bangga memilikimu, Jung Hyo Koo. Aku bangga jika kelak nanti, semua orang akan memanggilmu… Nyonya Lau”

“Jadi, kau melupakan sumpahmu begitu saja, Henry-ya?”

Hyo Koo menyesap coklat panasnya perlahan. Kepulan asap hangat menerpa paras cantik itu begitu saja. Bibirnya tak berhenti mengerucut dan meniup-niup gelas minumannya.

“Sumpah?”

“Memukul keras kepala pelaku teror itu. Cepatlah, selagi kita belum beranjak dari makamnya ini”

“Tahu apa kau tentang aku?”

“Siapa yang tidak tahu tentang kau?”

“Dan kau?”, Henry mendelik. Senyum setannya jelas ditampakkan di depan wajah Hyo Koo.

“Apa?”

“Janjimu. Dia juga sedang ada di sini, Hyo Koo-ya

“Janji?”

“Menjauhiku”

“Tahu apa kau tentang aku?”

“Siapa yang tidak tahu tentang kau?”

“Memangnya kau sanggup jika aku menjauhimu? Bukankah kau yang menyuruhku berjanji untuk tidak jauh darimu?”

“Benarkah? Aku tidak merasa pernah menyuruhmu berjanji seperti itu”

“Oh, begitu? Aku akan menjauhimu, sipit!”

“Kau tak akan bisa”

“Sungguh? Kau terlalu percaya diri, Tuan Lau”

“Kau tak akan bisa, karena…”

Henry mendekap Hyo Koo. Dekapan yang tak asing bagi Hyo Koo.

“Kau? Kenapa?”

“Kumohon, biarkan seperti ini. Sebentar saja”

Dan, yah, benang yang sempat merumit dan nyaris terputus itu kini kembali lurus. Tak ada lagi kehilangan. Tak ada lagi kecemasan. Dan yang pasti, tak ada lagi pesan-pesan misterius itu. Oh, tentang pesan-pesan itu, jika kalian pikir aku telah menghapusnya, kalian salah. Aku menyimpannya sebagai memori hidupku. Ini akan sulit terlupakan. Pasti. Sekalipun begitu pahit dan menyakitkan kurasa. Tapi kalian lihat sendiri? Aku sanggup melewatinya. Aku masih mampu bertahan hidup. Jika seorang bijak berpetuah bahwa jangan sampai putus asa melemahkanmu di saat genting dalam hidupmu, aku berani bilang itu tidak sepenuhnya benar. Kisahku. Kisah hidupku. Semua penuh keputus-asaan. Jika kau mau belajar di saat genting itu, putus asa adalah gula yang akan memaniskan semuanya. Yang benar adalah, silahkan berputus asa asal tidak sampai mengunyah semangat hidupmu. Tentang semangat hidup. Saat ini aku sedang berada di depan makam seseorang yang i-ngin-me-lin-du-ngi-ku, seseorang yang ke-hi-la-ngan-hi-dup-nya, seseorang yang… yah, kuyakin kau tahu siapa dia. Ya, Cho Kyu Hyun. Dia kehilangan hidupnya, dia kehilangan semangat hidupnya, tapi yang kuingat sampai sekarang adalah, dia tidak kehilangan hidupnya untuk melindungi orang yang dicintainya. Yah, meskipun caranya melindungiku salah, tapi aku selalu merasa gusarku lenyap begitu saja jika aku mengingat kalimatnya yang satu itu. Aku pun merasakan hal yang serupa. Aku kehilangan hidup, mungkin hampir, karena kurasa lebih parah hidup seorang Cho Kyu Hyun. Biar kuberitahu rahasia kisahku ini, maksudku kisah Kyu Hyun, orang tua Kyu Hyun terlibat perseteruan dan akhirnya bercerai, kakaknya depresi dan meninggal karena kecelakaan dalam kondisi mabuk, mantan kekasihnya memiliki pria lain di luar sepengetahuan Kyu Hyun. Bagaimana menurutmu? Dia benar-benar ingin bunuh diri saat itu, tapi dia sadar ada seseorang yang harus dilindunginya, aku. Tapi pada akhirnya dia bunuh diri juga. Bagian yang tidak kutulis di sini, tentang cara dia bunuh diri, mengambil kembali pistolnya dan menembakkan ke kepalanya, tepat di hadapan mataku. Jangan tanyakan bagaimana perasaanku saat itu, kalian tak akan pernah bisa membayangkan. Well, kembali ke melindungi seseorang yang kita cintai. Ya, ketika kalian ada di posisi terpuruk sepertiku, dan kalian benar-benar jenuh dengan hidup kalian, pikirkanlah kehidupan seseorang yang kalian cintai. Pikirkanlah mereka. Pikirkanlah bahwa mereka butuh kalian seperti kalian butuh mereka. Pikirkanlah untuk melindungi diri kalian sendiri, kalian harus melindungi mereka. Pikirkanlah, semua pasti berakhir dengan rencana terbaik yang telah Tuhan siapkan untuk kalian. Pasti. Hidup memang pahit, dan kau memang dipaksa untuk menikmatinya. Ini sudah hukum alam. Namun ketika manisnya hidup datang di kehidupanmu, sungguh rasanya sangat luar biasa. Percayalah.

TAMAT

10 Comments (+add yours?)

  1. idealqueen
    Apr 07, 2015 @ 05:44:43

    Woooh psiko nih ff.. Daebak!!!! Gak bs brhenti melongo.. Awal2 bingung, trus makin jelas, trus di tengah2 (pas pemakaman dh) udh mulai curiga sama kyuhyun.. Ternyata bner dy pelakunya… Kyuhyun nya psiko… Serem dah kalo ada org mcm ini… Eh authornya anak jurusan psikologi kah?

    Reply

  2. jung dong in
    Apr 08, 2015 @ 18:35:25

    kyaa!!! daebak!!! suka suka suka banget sama ff ini huwaa !!! keep writing thor😀

    Reply

  3. Park HaeMin
    Apr 16, 2015 @ 16:04:03

    jjann.. akhirny elesai juga bacanya, this is a long~ shot. but also a great one. awalnya curiga sm henry tpi kok waktu belajar bareng kyu aneh ya?? ternyata benar, huahaha. mungkin aku bisa gantiin henry disitu jdi mata2ny *digampar author&strings* karya ini daebak banget, serasa lgi baca novel apa gmn gtu~lah. okeh kykny kebanyakan cuap2. good job thor! fighting& keep writing..

    Reply

  4. Dhitiya Atika
    Jun 01, 2015 @ 15:09:29

    Ahh akhirmya selesai juga bacanya. Seru!! Sebenernya dari awal udah nyangka kalo si yoo dae itu pelakunya. Soalnya, dari kalimat yang bilang kalo di kuku hyukjae ada darah tapi bukan darahnya. Sementara di leher yoo dae ada luka baru yang mungkin kalo itu cakaran atau apalah yang hyukjae buat. Tapi pas di tengah cerita, malah nyangka kyuhyun pelakunya. Entahlah kenapa. Ga kepikiran kalo mereka justru orang yang sama. Dan ternyata benar, kyuhyun sekaligus yoo dae pelakunya. Jadi intinya sih suka sama ff nya!! Keren thor! Keep writing ya!!! 😄😄

    Reply

  5. sophie
    Jul 28, 2015 @ 14:42:05

    Weww bahasa nyaa aduhh berat bgt,,rda gaa ngrti diawal tp kena diakhir,,udah ketebak psti kyuhyun ygg jdi pembunuh soalnya dya aneh

    Reply

  6. ghefirasaras010298
    Apr 20, 2016 @ 04:44:12

    Udah nebak2 kalau Kyu pelakunya. Tapi nggak ngeh kalau Yoo-Dae sama Kyuhyun itu orang yang sama;;)
    FF-nya keren. Nggak nyangka aja si Kyuhyun sebegitunya pengen ngelindungi Hyo-Koo sampe rela ngotorin tangannya sendiri😂
    Keep writing!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: