Unwanted Marriage [3/?]

Unwanted Marriage [Part 3]

 

Author                  : GuiKyu

Casts                     : Park Minhye ( OC )

                                  Cho Kyuhyun ( Super Junior )

                                 Lee Donghae ( Super Junior )                    

Genre                    : School life, little comedy, romance

Rating                  : PG-13

Length                  : Chaptered

Disclaimer          : This FF pure of my mind. Cho Kyuhyun and other Super Junior member are belong to God and themselves. Don’t Copy without permission and don’t to be plagiarism. I need your critics and suggestions but don’t bashing me! So, enjoy read!^^

“Jadi… kau juga bersekolah disini?” tanya Minhye kepada lelaki yang sempat menepuk belakang pundaknya tadi. Lelaki itu mencomot cup cake blueberry pesanannya. Mengunyahnya lamat-lamat  seolah tak ingin kehilangan kunyahan cup cakenya segera. Terlalu hanyut dalam dunia yang diciptakan cup cakenya saat ia mengunyahnya. Rasa yang fantastis menurutnya. Ia menyeruput jus jeruknya sebelum menjawab pertanyaan Minhye untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sedikit seret. Membuat gadis itu menatapnya jengah karena pertanyaannya tak kunjung terjawab.

“Hmm… bukankah aku pernah menceritakan padamu kalau aku bersekolah di Seoul International High School?” kata lelaki itu akhirnya setelah cukup lama bergeming. Sibuk dengan dunianya bersama cup cake blueberrynya. Mereka kini tengah duduk berhadapan di meja sebuah kafe. Lelaki itu memutuskan untuk mengajak Minhye mengobrol di sebuah kafe setelah dirinya mendapat omelan super pedas dari seorang Park Minhye. Gadis itu tetap melancarkan aksi memakinya saat ia sudah kembali sadar dari keterkejutannya. Terkejut mendapati teman lamanya yang ternyata juga satu sekolah dengannya.

“Astaga! Haha aku sepertinya lupa. Aku sama sekali tidak sadar jika saat itu kau mengatakan padaku bahwa kau melanjutkan sekolahmu di Seoul International High School pasca kepindahanmu dari Jepang. Aku benar-benar payah!” Minhye merutuki kebodohannya sendiri membuat lelaki di depannya terkikik geli.

“Benar-benar ciri khas seorang Park Minhye! Aku tidak terkejut sama sekali.” Lelaki itu menanggapinya santai. “Ngomong ngomong kapan kau kembali ke Korea?” lanjut lelaki itu.

“Emm… sekitar satu minggu yang lalu, mungkin.” Minhye terlihat berpikir ketika menjawab.

“Apa? Ya! Kau kembali satu minggu yang lalu tapi kau sama sekali tak mengabariku. Kau anggap aku ini apa, huh?”

“Ya! Bagaimana mungkin aku mengabarimu! Bukankah kita lost contact sekitar satu tahun yang lalu? Tepat beberapa bulan setelah kau pindah ke Korea.” Minhye tidak terima dengan sikap kekanak-kanakan sahabatnya ini. Terakhir kali yang tidak membalas e-mailnya adalah namja itu. Ia menghilang tanpa kabar seolah bumi telah menelannya. Lalu bagaimana bisa lelaki itu malah menyalahkannya?

“Hehe itu karena aku sibuk pasca kepindahanku kemari. Kau tahu, aku berlatih keras untuk bisa masuk di club basket sekolah dan untungnya aku diterima bahkan aku menjadi kapten tim sekarang.” Ucap lelaki itu bangga membuat Minhye mengerucutkan bibirnya kesal.

“Itu bukan alasan, Lee Donghae! Setidaknya kau bisa mengecek e-mailmu satu minggu sekali kan? Atau paling tidak satu bulan sekali? Atau jangan bilang kau merusakkan kembali laptopmu!” lelaki bernama Donghae itu hanya tersenyum tanpa dosa melihat raut wajah sahabatnya yang sudah mulai menunjukkan ekspresi tak biasa. Ekspresi khas gadis itu saat sedang kesal. Ekspresi yang sangat dirindukannya. Dan ekspresi yang diam-diam menjadi favoritenya.

“hehe seharusnya kau sudah hafal dengan tingkah sahabatmu ini.” Kekeh Donghae menertawakan kebodohannya sendiri.

Geurae, Ciri khas seorang Lee Donghae. Ceroboh!” cibir Minhye yang mendapat protesan keras dari lelaki itu.

“Ya! Kau pikir dirimu juga tidak ceroboh? Setidaknya aku masih lebih baik darimu. Kau harus berkaca dulu sebelum mengatai orang, nona Park!” seringai kemenangan yang sebetulnya lebih mirip dengan sebuah senyuman itu mengakhiri lontaran kalimat mengejeknya. Seringai itu terlalu manis jika disebut sebagai seringaian. Beberapa gadis yang duduk tidak jauh dari mereka sempat berteriak histeris. Gadis-gadis itu memang memperhatikan Donghae dan Minhye sejak mereka datang. Lebih tepatnya hanya memperhatikan Donghae. Terpesona? Mungkin saja! Mengingat paras Donghae yang cukup menawan. Dengan sengaja Lee Donghae mengedipkan satu matanya ke arah mereka. Membuat gadis-gadis itu mengumpat pelan saking terpesonanya.

“Berhenti melakukan hal menjijikkan, Lee Donghae! Aku benar-benar ingin muntah melihatnya. Kau tidak pernah berubah. Lee Donghae si cassanova yang suka tebar pesona di hadapan gadis-gadis! Tipikal seorang Lee Donghae! Ckckck!” Minhye jengkel setengah mati dengan kebiasaan buruk namja itu. Selalu saja tebar pesona di hadapan para gadis. Namun anehnya ia tidak pernah terlihat mengencani atau terlibat dalam suatu hubungan yang serius dengan seorang gadis. Itu dulu saat mereka masih duduk di bangku junior high school di Jepang. Namun siapa tahu jika keadaan sekarang telah berubah?

“Yang itu baru aku setuju. Lee Donghae si cassanova? Kedengaranya bagus! Hey, apa itu julukan baruku?”

—-o0o—-

Hari minggu memang menjadi hari favorite bagi Minhye. Hari dimana ia dengan leluasa menghabiskan waktu senggangnya dengan tidur seharian. Bergelung dengan selimut tebal yang membungkus seluruh tubuhnya yang entah mengapa terasa sangat nyaman walau cuaca seterik apapun. Salah satu kebiasaan buruknya! Ia masih berkelana di alam mimpinya sebelum bunyi memekakkan telinga yang dengan sialnya mengganggu waktu paling keramat baginya. Jam weker.  Dengan mata yang masih terpejam, tangannya menggapai-gapai ke arah nakas di samping ranjangnya. Mencoba menemukan benda yang telah mengusik ketentramannya. Ia membuka matanya sedikit, mencari tahu dimana letak jarum jam panjang berada. Ia menggeram tertahan. Ini masih terlalu pagi untuknya bangun. Seharusnya ia masih punya waktu beberapa jam lagi untuk menikmati tidur indahnya. Tapi mengapa benda bodoh itu berdering di saat yang tidak tepat? Apa ia salah mensetting wekernya semalam? Seingatnya ia selalu mengatur benda itu agar berdering tepat pukul 12 siang di saat hari minggu atau hari libur. Lalu bagaimana bisa? Ada yang bisa menjelaskan ini padanya? Jam itu masih berdering. Menimbulkan bunyi yang teramat mengganggu siapa saja yang mendengar. Gadis itu tidak berniat sama sekali untuk sekedar menekan tombol yang berfungsi membuat benda itu bergeming. Matanya kembali terpejam rapat. Mencoba kembali menyelami dunia indahnya di alam bawah sadarnya saat deringan sialan itu kembali menyambangi telinganya seolah tidak mengizinkannya melanjutkan kegiatannya. Dengan kasar Minhye melampar jam wekernya yang membuat benda itu teronggok mengenaskan di lantai. Benda malang itu tak bersuara lagi. Keadaannya sudah porak-poranda. Membuat Minhye bersorak girang dalam rasa kantuknya. Tidak ada lagi yang mengganggu waktu tidur berharganya. Ini masih jam 8. Jika ia masih punya waktu 4 jam lagi untuk tidur, mengapa ia harus repot-repot terjaga? Yang benar saja! Sedetik kemudian ia kembali membuka matanya. Membelalakkan matanya lebar. Ia teringat sesuatu. Hari ini tepat pukul 9 ia berjanji akan menemani Lee Donghae untuk mengunjungi neneknya di Busan. Ya ampun, bagaimana ia bisa lupa? Oh, lupa adalah tipikal park Minhye. Ingat?

“Aish, bodoh! Ikan buntal itu bisa merajamku jika aku terlambat!” pekiknya sambil berlari menuju kamar mandi.

—-o0o—-

Park Minhye berjalan tergesa-gesa menuruni tangga di rumahnya. Entah kenapa rasanya jumlah anak tangga di rumahnya menjadi semakin banyak. Setahunya ayahnya tidak pernah melakukan renovasi pada rumahnya. Lalu bagaimana bisa? Ia sudah tampak rapi kali ini. Kemeja kotak-kotak biru yang sengaja tidak di kancing dengan lengan yang digulung sampai batas siku serta kaos putih yang menjadi dalamannya. Celana jeans hitam yang melekat pas di kakinya yang tidak terlalu jenjang. Sneakers merah yang membungkus telapak kakinya. Dan rambut dikuncir kuda yang menyisakan poni menutupi dahinya sebagi pemanisnya. Tanpa polesan make up sama sekali. Ciri khas lain seorang Park Minhye. Tidak perlu waktu terlalu lama baginya untuk bersiap-siap. Jika gadis pada umumnya menghabiskan waktu paling singkat satu jam untuk bergegas, Minhye hanya perlu waktu 15 menit untuk sekedar mandi dan berpakaian serta persiapan sebelum pergi lainnya. Ia bukan tipikal gadis yang gemar berdandan. Ia lebih suka dan nyaman tampil apa adanya. Langkahnya tehenti ketika samar-samar ia mendengar suara khas milik ibunya tengah mengobrol dengan seseorang dari ruang tamu. Ini masih pagi. Orang tolol macam mana yang bertandang ke rumah orang lain sepagi ini? Gadis itu mengernyit heran sembari melanjutkan langkahnya. Minhye mengerjap saat menyadari siapa orang tolol yang pagi-pagi telah datang ke rumahnya. Cho Kyuhyun? Oh ia melupakan satu hal. Bukankah Cho Kyuhyun adalah calon suaminya? Wajar saja jika ia berada di rumahnya. Tapi ini masih kelewat pagi untuk bertamu! Tentu saja dengan kata ‘pagi’ versi gadis itu sendiri. Gadis itu sedikit meringis ngeri saat terlintas kata ‘calon suami’ di pikirannya tadi. Ia memutar bola matanya jengkel.

Eomma baru akan memanggilmu tapi kau sudah turun dengan penampilan yang cukup rapi.” Ibunya mengernyit heran saat mendapati anak gadisnya sudah rapi dan harum di hari minggu dengan waktu yang tergolong cukup pagi bagi seorang Park Minhye.

“Kau mau kemana?” lanjut ibunya yang masih terheran-heran.

“Aku ada janji dengan teman hari ini. Aku sudah benar-benar terlambat. Aku pergi!” jawabnya acuh tanpa memandang ibunya. Bahkan Kyuhyun yang sedari tadi menatapnya tidak diliriknya sama sekali. Moodnya sudah terlanjur buruk hanya dengan mengetahui bahwa pria itu ada di rumahnya pagi-pagi sekali.

“YAK! Kau tidak boleh pergi! Kau tidak boleh kemana-mana! Kyuhyun sudah jauh-jauh menjemputmu. Apa kau tidak kasihan? Lagipula kalian akan melakukan fitting baju hari ini!” Minhye benar-benar terkejut dengan ucapan ibunya. Jadi… ia akan tetap dinikahkan dengan Kyuhyun? Astaga, tentu saja! Mengingat ucapan orang tuanya yang tidak pernah main-main. Dan juga perjanjian laknat yang sudah terlanjur dibuat itu tentunya.

“Shireo! Aku sudah berjanji pada temanku, eomma! Bagaimana bisa aku membatalkannya secara mendadak? Aku akan tetap pergi! Tidak dengan Kyuhyun! Dan tidak melakukan fitting baju hari ini!”

“Tentu saja kau akan pergi! Dengan Kyuhyun! Pergi untuk fitting baju!” tegas ibunya berapi-api.

Eommaaa, kalau saja eomma mengatakan sejak jauh-jauh hari aku pasti akan pergi. Kenapa mendadak sekali? Tunda saja lain kali!” Minhye tetap bersikukuh mendebat ibunya.

“Tidak bisa! Kau pikir membuat janji dengan pihak butik itu mudah? Kau harus pergi apapun alasannya! Tanpa terkecuali! Harus!” gadis itu benar-benar dibuat jengkel oleh ibunya sendiri. Ibunya masih sama seperti dulu. Selalu sama malah. Tidak mau mendengar keinginan anaknya dan tidak menerima penolakan. Siapa yang akan tahan dengan sikap ibu yang seperti itu? Namun sialnya gadis itu terlalu mencintai ibunya. Minhye merogoh ponselnya di saku jeansnya. Mencari satu nama yang akan dihubunginya. “YAK!! PARK MINHYE, KAU DIMANA, HUH?” Minhye menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika mendengar teriakan seseorang dari seberang sambungan teleponnya. Belum sempat ia mengucapkan kalimat sapaan ia sudah dihujami dengan teriakan melengking yang bisa membuatnya tuli mendadak. “YAK!! KAU MATI, HUH? SETIDAKNYA BERITAHU AKU DULU SEBELUM KAU BERTERIAK! KAU MEMBUATKU TULI MENDADAK, LEE DONGHAE!” cecarnya tak kalah keras. “Hehehe mian.. mian!!! YAK!! Kau belum menjawab pertanyaanku!!” Lagi, pria itu berteriak keras saat pertanyaannya tak direspon oleh Minhye. “SUDAH KUBILANG JANGAN BERTERIAK!! KAU MEMBUAT TELINGAKU SAKIT, PABO! Aish! Emm… itu… Maaf aku tidak bisa menemanimu hari ini. Eomma memaksaku pergi ke suatu tempat. Aku benar-benar menyesal, Hae-ya!” Minhye menunjukkan raut wajah bersalahnya meskipun saat itu Donghae tidak dapat melihatnya. Faktanya ia benar-benar menyesal. Ia bukanlah tipe orang yang suka membatalkan janji. Baginya sebuah janji adalah prioritas utama dari apapun!

Eo, gwaenchanha! Aku sudah di dalam kereta saat ini!” jawabnya tanpa dosa membuat Minhye melongo parah. “Mwoya?  Kau bahkan berniat meninggalkanku? Aish, kenapa kau tidak pergi sendiri saja, Tuan Lee! Menyebalkan!”

“Yak! Jangan salahkan aku! Salah sendiri kenapa kau lamban sekali? Kau seperti tidak niat menemaniku!”

“APA? Yak! Kau itu temanku atau bukan sih? Dasar ikan tengik!” Minhye menutup teleponnya kesal. Ia jadi berpikir dua kali untuk sekedar menyesal karena berniat membatalkan janjinya. Mengingat sikap Lee Donghae yang seolah tidak merasa bersalah sama sekali karena meninggalkannya. Kyuhyun dan ibunya masih dengan setia memandanginya penuh minat. Percakapannya di telepon tadi cukup menarik perhatian mereka. Kyuhyun tersenyum meremehkan ketika mengingat sikap Minhye saat di telepon tadi. ‘Ada gadis seperti ini? Bahkan ia yang akan menjadi istriku? Gadis ababil sekaligus sinting ini? Haish, neraka duniaku akan segera tiba!’ pikirnya.

“Mwo?” Merasa ditatap dengan pandangan yang tidak biasa membuat Minhye merasa risih sekali sekaligus heran. ‘Apa yang salah denganku?’ batinnya. Ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang membuat ia bertambah heran. Sudahlah! Untuk apa dipikirkan.

—-o0o—-

Minhye mematut dirinya di depan cermin. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi yang tak biasa. Ekspresinya tak terbaca. Harusnya ia senang hari ini. Harusnya ia merasa gembira. Bahagia di hari yang sangat spesial untuk setiap orang yang mendambakan pernikahan. Sejujurnya ia juga mendambakan pernikahan. Orang mana yang tak ingin menikah seumur hidupnya? Jika memang ada sepertinya orang itu sinting atau semacamnya. Namun bukan di saat seperti ini yang ia inginkan. Bukan di umurnya yang masih tergolong terlampau muda. Bukan dengan pria itu yang ia harapkan. Bukan pernikahan seperti ini yang ia mimpikan. Berkali-kali ia menghela napas berat. Bukan karena gugup. Namun karena sesuatu yang membuatnya serasa tercekik. Keadaan yang menghimpitnya. Ia benci dimana ia harus melakukan hal-hal yang sama sekali tidak diinginkannya. Disisi lain ia harus berpura-pura untuk terlihat tetap baik-baik saja agar tak membuat orang tuanya khawatir. Atau bahkan mengancamnya untuk meregang nyawa detik itu juga. Suara pintu berderit menampakkan seorang pria paruh baya dengan senyum malaikatnya, Park Jung Soo. Pria itu menatap anaknya dengan tatapan kagum sekaligus bahagianya. Dan Minhye tidak perlu menjadi pintar untuk mengetahui arti dari tatapan itu. Ia tersenyum untuk membalas senyuman indah milik ayahnya. Namun gagal. Yang terlihat hanya sebuah senyuman miris, sekaligus penuh keputusasaan yang bercampur dengan rasa  frustasi. Ayahnya cukup paham dengan apa yang dirasakan anak gadisnya saat ini. Tapi yang ia lakukan kini semata-mata hanya untuk kebahagiaan anaknya. Pria itu merasa bahwa pria pilihannya lah yang akan membahagiakan anaknya kelak. Oh bukankah ia terlihat seperti cenayang? Meskipun harus dengan melakukan pernikahan yang terlampau dini. Keluarganya dan keluarga Kyuhyun sepakat bahwa pernikahan yang mereka rencanakan saat ini merupakan masa-masa pendekatan untuk anak-anak mereka. Gila! Pendekatan tidak harus dilakukan dengan jalan menikah dulu bukan?

“Hey, pengantin wanita tidak boleh menampakkan wajah masamnya di hari paling bahagianya!” tegur ayahnya masih dengan senyuman yang melekat di bibirnya.

“Hmmm…” Minhye hanya menggumam sebagai balasan untuk ayahnya.

Kajja! Kita sudah di tunggu.” Park Jung Soo memberikan tangannya pada Minhye yang disambut setengah hati oleh gadis itu. Kemudian ayahnya menuntunnya keluar ruangan hingga berakhir sampai di altar.

—-o0o—-

“Aku bersedia!” helaan napas lega sekaligus bahagia menggema di sekitar gereja katedral tempat pernikahan itu berlangsung. Beberapa saat lalu keheningan sempat menyelimuti ruangan itu ketika sang pengantin wanita tak kunjung mengucapkan janji sakralnya saat pastor memberondongnya dengan sederet kalimat suci pernikahan yang membuatnya ngeri. Tiba saatnya dimana sang pengantin pria dipersilakan untuk mencium pengantin wanitanya. Kyuhyun membalikkan tubuh ke arahnya. Mendekatinya secara perlahan. Membuat gadis itu menjerit tertahan. “Haruskah?” Bisiknya pelan dan ngeri yang hanya dapat di dengar oleh Kyuhyun. “Jika bisa, aku berharap untuk tidak melakukannya. Tapi kau lihat semua orang tengah menunggu momen ini dengan antusias. Jadi ayo selesaikan secepatnya!” Kyuhyun kembali memajukan wajahnya. Tinggal beberapa senti lagi bibir mereka bertemu. Namun Minhye menahan dada pria itu dengan tangannya. “Tunggu! Kau tidak berniat menciumku di bibir kan?” matanya melotot tajam. Menghujam mata elang milik Kyuhyun dengan sadisnya. “Lalu kau pikir aku akan menciummu dimana?” Pria itu memutar bola matanya kesal. Ayolah, mereka hanya perlu berciuman dan selesai tapi kenapa gadis itu seolah menghambat semuanya. “Tapi kau tidak mencintaiku, Cho Kyuhyun! Begitu sebaliknya!” protes Minhye yang membuat Kyuhyun semakin geram dengan gadis itu! “Aish, diamlah! Kau cerewet sekali.” Kyuhyun menarik wajah Minhye ke arah wajahnya. Sedetik kemudian bibir mereka bersentuhan. Hanya menempel. Namun cukup membuat gadis itu shock bukan main. Matanya melebar sempurna. Jantungnya serasa dipompa lebih cepat. Debaran jantungnya menggila. Aliran darahnya berdesir dua kali lebih cepat dari normalnya. Membuat sebuah perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Yang entah mengapa tiba-tiba terasa hangat. Kyuhyun menahan bibirnya sejenak di bibir gadis itu. Perasaan aneh juga menyusup di hatinya ketika ia merasakan rasa yang tak biasa di bibir gadis itu. Manis. Pikirnya. Minhye tidak dapat berpikir dengan benar. Bahkan untuk sekedar menjauhkan tubuh Kyuhyun darinya saja ia tak sanggup. Otaknya mendadak tak berfungsi. Separah inikah efek dari ciuman Kyuhyun? Bahkan pria itu hanya menempelkannya saja. Tak lebih. Mengerikan! Kyuhyun menciumnya? Tepat dibibir. Ini sungguh gila! Meskipun sekarang pria itu adalah suaminya yang berarti berhak penuh atas dirinya. Namun tetap saja mereka menikah atas dasar perjodohan. Lebih tepatnya pemaksaan. Tidak ada unsur cinta yang menjadi pondasinya. Bukankah ini klise? Gadis itu masih menunjukkan ekspresi shocknya saat Kyuhyun telah menjauhkan wajahnya. Melongo seperti orang bodoh. Tubuhnya masih terdiam kaku. Berdiri mematung masih dengan posisi awal saat Kyuhyun menciumnya. Bahkan matanya masih belum berkedip. Suara riuh yang berasal dari bangku tamu undangan pun tidak dapat menyadarkannya kembali ke dunia nyata.

Kyuhyun tersenyum geli saat mendapati wajah paling bodoh Minhye hanya karena sebuah sentuhan ringannya. Oh, apakah sebuah ciuman dapat dikategorikan sebagai sentuhan ringan? Faktanya gadis itu melongo sejadi-jadinya. Atau mungkinkah reaksi gadis itu saja yang berlebihan?

“Apa ciumanku sehebat itu, huh? Kau bahkan tampak seperti orang bodoh!” Kyuhyun terkekeh ringan saat mengucapkan kalimatnya. Minhye segera tersadar dari keterkejutannya. Sialan! Ia buru-buru menormalkan kembali ekspresinya. Menatap tajam Kyuhyun seolah tidak terima dengan apa yang baru saja ia alami. “Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun?” pekiknya jengkel. “Wae? Apa itu tadi ciuman pertamamu, huh?” Alih-alih menjawab Minhye malah semakin menajamkan pandangannya ke arah pria itu. “Kau harusnya bersyukur karena yang merebut ciuman pertamamu adalah SUAMIMU sendiri! Suami? Cih, terdengar menggelikan!” baru saja Minhye akan mengeluarkan makiannya untuk Kyuhyun tiba-tiba saja seseorang memeluknya erat.

“Minhye-ya…. tak kusangka akan secepat ini kau melepas masa lajangmu. Aku turut berbahagia, chingu-ya! Semoga kalian bahagia!”

“YAK! YAK! Lepaskan! Kau bisa membunuhku, Yoonhae, pabo!”

“Maaf, aku terlalu bersemangat! Kau tampak cantik hari ini, sungguh! Bahkan Kyuhyun tadi sempat terpana saat melihatmu memasuki altar. Benar begitu, Kyuhyun-ssi?” Yoonhae menatap Kyuhyun dengan pandangan menggoda sementara pria itu buru-buru mengalihkan pandangannya. Kentara sekali sedang gugup. Minhye yang menyadari Kyuhyun seolah menolak kontak mata dengan Yoonhae mengernyit heran. “Ah, sudah dulu ya. Aku harus pulang. Tampaknya orang-orang sudah mengantri di belakang untuk memberi ucapan selamat pada kalian. Selamat bersenang-senang nanti malam. Annyeong!” Yoonhae mengerling nakal sebelum mengucapkan salam perpisahannya. Membuat Kyuhyun dan Minhye saling menatap heran.

“Apa maksudnya? Dasar aneh! Kau memberitahunya kalau kita…..?” Kyuhyun tidak melanjutkan ucapannya. Ia malas jika harus mengucapkannya.

“Ia tidak akan mengatakannya pada siapapun! Dia sahabatku. Dan aku mengenalnya sejak kecil. Kau tenang saja!” Kyuhyun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Sahabat dari kecil? Pantas saja mereka langsung akrab. Batinnya.

“Captain Cho! Aku tidak percaya kau mendahuluiku! Kau benar-benar keterlaluan!” ucap seorang gadis sambil memeluk Kyuhyun erat yang membuat Minhye menaikkan sebelah alisnya. Siapa gadis ini? Pikirnya.

“Aku juga tidak berniat mendahuluimu. Kalau kau tidak terima, salahkan saja eomma dan appa!”

“YAK! Aku hanya bercanda, bodoh! Serius sekali!” Ahra mencebikkan bibirnya kesal saat mendapat jawaban Kyuhyun yang menanggapi perkataannya dengan serius. Gadis itu beralih pada Minhye yang sedari tadi menatapnya dengan raut wajah bingung.

Annyeong, adik ipar! Kau cantik sekali. Sepertinya uri Kyuhyun beruntung sekali menikahimu!” senyumnya melebar saat ia berbicara dengan Minhye. Oh, gadis ini kakaknya ternyata. Kyuhyun melirik sadis ke arah kakak perempuannya namun sayangnya Ahra mengabaikan tatapannya. Minhye hanya tersenyum canggung merespon ucapan Ahra. Ia bingung harus menunjukkan ekspresi seperti apa dihadapan gadis ini.

Noona, sedang apa kau disini? Bukankah seharusnya kau di Jepang?” suara Kyuhyun berhasil menghilangkan senyuman manis di bibir Ahra. Ia menatap adik satu-satunya itu tajam.

“YAK! Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku masih menyempatkan diri untuk hadir di pernikahanmu mengingat padatnya jadwal kuliahku saat ini. Dasar tidak sopan!”

“Aku juga tidak berharap kau hadir.” Balas Kyuhyun santai.

“YAK! Dasar setan tengik. Kau tidak merindukan noona-mu ini, huh?”

“Sayangnya tidak!”

Mwo? Jinja, Anak ini! Adik ipar, sepertinya mulai sekarang kau harus mempersiapkan mentalmu sebaik mungin untuk menghadapi si setan tengik ini. Selain kurang ajar dia juga benar-benar menyebalkan, kau tahu.”

“Aish, jangan mencoba menghasutnya, noona! Ini pencemaran nama baik namanya!” protes Kyuhyun tidak terima. Ahra mengangkat bahunya acuh.

“Sudahlah. Aku pergi dulu jika aku tak ingin ketinggalan penerbanganku!” Ahra melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Waktunya tinggal dua jam lagi. Dan ia akan benar-benar terlambat jika ia tetap melanjutkan adu mulutnya dengan adiknya. Sejujurnya ia masih merindukan moment-moment dimana ia biasa berdebat dengan Kyuhyun. Namun bagaiman lagi, waktu seolah mendesaknya.

Mwo? Kau sudah mau pergi? Kau bahkan baru datang pagi ini. Koreksi aku jika aku salah!” Kyuhyun menatap Ahra tak percaya. Noona-nya baru tiba di korea beberapa jam lalu dan tiba-tiba saja sudah mau pergi? Apa ia kira Jepang-Korea jaraknya hanya sebatas Seoul-Incheon?

“Aku cukup memaklumi kalau kau benar-benar merindukanku, Kyuhyun-ah. Tapi aku sangat menyesal tidak dapat berlama-lama disini. Aku ada ujian sore nanti jadi aku tak mungkin membolos kuliah!” raut menyesal tergambar jelas di wajah Ahra. Ia memeluk adiknya sekilas kemudian beralih memeluk Minhye. Membisikkan sesuatu disana. “Aku tahu kalian menikah karena sebuah perjodohan konyol. Tapi percayalah, adikku orang yang baik dan perhatian. Meskipun sifat dan kelakuannya terlampau menyebalkan. Ia akan menunjukkan perhatian dan rasa sayangnya dengan cara-cara tak terduga. Cara-cara tak wajar yang bukan seperti orang-orang lakukan pada umumnya. Jadi belajarlah untuk mencintainya dan bersabar dalam menghadapi tingkahnya. Aku tahu kau gadis yang tepat untuknya. Aku percayakan adikku padamu, Minhye-ya!” Ahra melepas pelukannya seraya tersenyum pada Minhye. Sebuah senyuman yang tulus. Minhye tidak bisa melakukan hal lain selain membalas senyuman tulus Ahra. Walaupun senyuman Minhye terkesan sedikit canggung. Begitu juga anggukan kepalanya yang terlihat canggung untuk sekedar mengiyakan permintaan Ahra. Kyuhyun mengernyit, tidak mengerti dengan apa maksud dari adegan kedua gadis itu. Ahra tersenyum lega sebelum pergi.

“Baiklah, aku pergi sekarang! Kalian baik-baik, oke! Kyuhyun-ah kau harus menjaga istrimu mulai saat ini. Kau harus belajar bertanggung jawab!”

“Kau cerewet sekali, noona!” Ahra menghela napas berat saat mendapat jawaban acuh dari dongsaeng-nya. “Aku pergi!” ucapnya terakhir kali sebelum benar-benar pergi menuju bandara. “Hati-hati, eonni!” teriak Minhye saat Ahra belum benar-benar menghilang dari pandangannya. Ahra berbalik dan tersenyum padanya. “Oke!” Sesaat kemudian Ahra menghilang dari balik pintu besar gereja.

Chukhae! Sepertinya kalian pasangan paling bahagia hari ini!” kata seorang pria berwajah  baby face. Usia pria itu terpaut dua tahun di atas Kyuhyun namun masih terlihat seperti seumuran. Bahkan ia terlihat lebih muda dari Kyuhyun.

Eoh, hyung! Kau disini?” alih-alih menjawab Kyuhyun malah menanyakan pertanyaan yang sudah jelas-jelas jawabannya. “Lalu kau pikir orang yang berdiri di depanmu ini siapa? Setan? Dasar! Kau bahkan tidak mengundangku, huh? Untung saja Hanna ahjumma memberitahuku. Kau benar-benar keterlaluan!”

“Emm.. maaf! Aku bukannya tidak bermaksud untuk tidak mengundangmu. Hanya saja…. aish, kau tahu sendiri kan?” Pria itu terkekeh pelan mendengar jawaban yang terkesan sangat terbebani itu.

“Hey, kau tidak mengenalkanku dengan istrimu, huh?”

“Kau bisa berkenalan sendiri kan, hyung? Jadi kurasa aku tidak perlu repot-repot melakukannya!”

“Cih, cuek sekali! Kau tidak takut aku akan merebut istrimu yang cantik ini, hum?” Tentu saja pria itu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia hanya berniat menggoda sahabatnya saja. Namun yang terlihat hanya raut wajah tidak peduli yang ditunjukkan oleh sahabatnya. Dan pria itu  cukup memakluminya. Pria itu tersenyum ke arah Minhye. Menatapnya penuh minat.

Annyeong, Nyonya Cho!” sapanya ringan. Minhye mengamati pria itu dengan seksama. Wajah yang familiar menurutnya. Ia pernah melihat wajah itu entah dimana. Ia mengutuk kemampuan mengingatnya yang memang terbilang cukup payah. Selalu saja seperti ini. Ia berpikir cukup keras hingga membuat pria dihadapannya tertawa renyah. Kyuhyun menatapnya bingung. ‘Apa yang ia tertawakan?’ pikirnya. Sejurus kemudian Minhye tersentak saat sadar siapa pria dihadapannya.

“Sungmin oppa?” Kyuhyun menoleh cepat ke arahnya. Tidak percaya bahwa gadis itu mengenal sahabatnya. “Syukurlah ternyata kau masih mengenaliku.” Sungmin tersenyum seraya mengacak-ngacak rambut Minhye gemas. “Tentu saja, kau tidak banyak berubah.” Minhye membalas senyuman Sungmin tanpa protes sedikitpun dengan ulah tangan pria itu di rambutnya yang sekarang membuat rambut gadis itu sedikit berantakan. Kyuhyun heran. Bagaimana bisa Sungmin mengenal gadis itu? Namun ia tetap memilih diam mendengarkan apa yang selanjutnya akan terucap dari mereka.

“Aku tidak menyangka kau akan menikah dengan sahabatku. Astaga, dunia ini sempit sekali!” Minhye tersenyum kecut menanggapi. “Hey, sejak kapan kau kembali ke Korea?” obrolan-obrolan ringan terus berlanjut antara Minhye dan Sungmin. Mengabaikan eksistensi Kyuhyun yang memang sedari tadi terdiam. Menjadi saksi bisu percakapan antara dua sejoli yang sudah lama tak bertemu itu. Sahabatnya dan istrinya! Istri? Sepertinya mulai saat ini ia harus membiasakan diri untuk mendengar kata itu. Sialan!

—-o0o—-

Kyuhyun menghempaskan kasar tubuhnya ke atas sofa sembari memijat pelipisnya pelan. Akhir-akhir ini pikirannya benar-benar kacau dan terkekan. Terlebih lagi hari ini merupakan titik puncak dari segala permasalahan yang membelit kehidupannya. Hari dimana ia melepas masa lajangnya di usia yang masih jauh dari kata matang. Hari pernikahannya. Walaupun ia menganggap bahwa pernikahan ini hanya sekedar status. Namun tetap saja ia merasa terbebani. Ketika dimana seharusnya ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Bermanja-manja dengan ibunya. Bukan malah terjebak dalam sebuah komitmen menggelikan dengan si gadis sakit jiwa. Ditambah lagi ia sekarang tinggal satu atap dengan gadis itu. Hanya berdua! Menambah deretan panjang kadar kefrustasiannya. Meskipun ia berniat untuk mengabaikan eksistensi gadis itu selama mereka tinggal bersama, tetap saja kehadiran gadis itu di dekatnya membuat moodnya menurun drastis.

Minhye menggeret koper super besar miliknya dengan lemas. Gadis itu cukup kewalahan membawa koper miliknya itu dengan balutan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Ia menggerutu sepanjang jalan menuju apartemen baru yang akan ditempatinya mulai saat ini dengan Kyuhyun. Bisa-bisanya pria itu dengan santainya meninggalkannya yang cukup kepayahan untuk membawa koper sebesar itu. Minhye sempat merutuki ibunya yang tidak kira-kira membawakan koper sebesar itu untuknya. Sedangkan Kyuhyun? Jangankan membantunya, menoleh padanyapun tidak sama sekali. Oh, neraka dunianya akan tiba tak lama lagi! “Ah, akhirnya sampai juga!” ucapnya lega sembari menyeka keringat yang membanjiri dahinya. Dilihatnya Kyuhyun tengah berbaring nyaman di atas sebuah sofa ruang tamu apartemennya. Gadis itu mempoutkan bibirnya melihat kelakuan pria tak berperasaan itu. Ia kembali menggeret kopernya menuju kamar. Berniat merapikan barang-barang bawaanya. Ia sempat tertegun mengagumi interior apartemen hadiah pernikahan mereka dari ayah Kyuhyun yang cukup minimalis itu. Ukurannya tidak terlalu besar memang. Namun desainnya cukup elegan tetapi terkesan sederhana. Dengan warna-warna hitam dan putih yang mendominasi. Serta beberapa perabot yang cukup unik turut meramaikan sudut-sudut apartemen mereka. Minhye mengerutkan kening saat ia hanya mendapati sebuah ruangan selain dapur dan kamar mandi yang terletak di sebelah dapur. Hanya ada satu kamar? Oh, ini gila! Batinnya. Ia melirik Kyuhyun yang masih terpejam seolah tak ingin diganggu. ‘Bagaimana ini? Tidak mungkin tidur sekamar kan?’ Tiba-tiba Kyuhyun bangkit dan melewainya begitu saja menuju kamar. Ia mengekor di belakang Kyuhyun sambil menarik kopernya kembali. “Apartemen ini hanya ada satu kamar?” tanyanya sambil bersandar di pinggiran pintu dan melipat kedua tangannya di dada. Matanya menelisik ke setiap inchi kamar. “Menurutmu?” jawab Kyuhyun singkat. “Kita tidak mungkun tidur satu kamar kan?” Kyuhyun menyeringai mendengar pertanyaan Minhye. Terbesit sebuah ide brilian untuk bermain-main dengan gadis itu. Menggodanya! “Hey, nona! Kau lupa kalau kita sudah menikah, huh? Bukankah hal yang wajar jika kita tidur sekamar? Seranjang!” seringaian Kyuhyun semakin melebar ketika melihat wajah pucat pasi Minhye. Ia tertawa puas sembari memegangi perutnya. Berguling-guling di atas ranjang. Membuat Minhye kebingungan dengan tingkahnya. “Kau….. Haishh!” Minhye menatapnya tajam. Namun yang ditatap masih tetap melanjutkan kegiatan tertawanya. “Apa yang kau pikirkan, bodoh! Tentu saja aku tidak akan tidur seranjang denganmu. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri. Lagi pula jangan bepikir aku akan melakukan hal yang macam-macam padamu. Tubuhmu bahkan tidak menarik sama sekali!” ucap Kyuhyun serius setelah berhasil menghentikan tawanya membuat Minhye semakin menatap horror ke arahnya. Kyuhyun beranjak menuju kamar mandi berniat membersihkan diri sekaligus merilekskan kembali pikirannya. Meninggalkan Minhye yang masih tak bergeming di ambang pintu. Sedetik kemudian gadis itu mendesah lega. Setidaknya Kyuhyun masih bisa berpikir rasional.

—-o0o—-

Eommaaa…. apa lagi ini? Kenapa kau tega sekali?” cerocos Minhye begitu saja saat sambungan teleponnya diangkat. Gadis itu bergerak-gerak tidak jelas di atas ranjang. Terkadang berguling-guling lalu menghentak-hentakkan kakinya. Persis anak kecil yang tidak dituruti permintaannya oleh ibunya. “YAK! Apa maksudmu?” Ibunya cukup terkejut dengan perkataan anaknya itu. “Eommaaaa….  kenapa di apartemen ini hanya ada satu kamar? Sepertinya Cho ahjussi salah membeli apartemen. Aish, eotteohke eommaaa..??” rengek gadis itu semakin menjadi. “Lalu apa yang salah? Kalian sudah menikah bukan? Tidak ada salahnya tidur sekamar!” jawab ibunya santai membuat Minhye bergidik ngeri. Gila! Bagaimana ibunya bisa berpikir demikian? “Mwo?? Michyeoseo?  Yak! Eomma, apa kau tidak takut anakmu ini diapa-apakan oleh namja menyebalkan itu, eoh? Aish, bahkan tadi ia sudah berani-beraninya menciumku di depan umum!” Minhye memekik histeris membuat ibunya seketika menjauhkan ponselnya dari telinga. Teriakan gadis itu cukup nyaring. Jika ibunya tidak ingin terserang gangguan telinga setelahnya, maka menjauhkan ponselnya adalah tindakan darurat yang tepat. “Aish, apa yang kau lakukan? Kau lupa kalau sedang berbicara dengan ibumu, huh? Nappeun yeoja! Lagipula kalau Kyuhyun memang berniat melakukan sesuatupun itu haknya. Kau istrinya sekarang!”

“Jadi menurut eomma kalau Kyuhyun melakukan ‘sesuatu’ padaku malam ini lalu kemudian membuahkan ‘sesuatu’ juga, itu adalah hal yang wajar? YAK! Ini gila! Aku bahkan masih sekolah eomma! Bagaimana bisa eomma berpikir seperti itu? Sebenarnya tujuan kalian menikahkan aku ini untuk apa? Kalau memang kalian sudah memiliki niat sejak awal, lalu kenapa kalian tetap menyekolahkanku hingga ke tingkat Senior High School?”

“Sesuatu apa yang kau maksud, huh? Eomma yakin Kyuhyun tidak akan berbuat sejauh itu!” jawab ibunya menegaskan pikiran-pikiran bodoh anaknya.

“Bagaimana eomma bisa begitu yakin? Eomma bagaimanapun Kyuhyun itu namja normal, ia bisa saja melakukan hal yang tidak-tidak padaku!” ujar Minhye bersikeras mempertahankan pemikiran konyolnya. Ia benar-benar takut jika hal itu terjadi. Meskipun memang kenyataannya mustahil Kyuhyun akan menyentuhnya. Tapi mungkin saja kan?

“Aish, sudahlah. Hentikan pemikiran bodohmu itu! Kalaupun Kyuhyun akan melakukannya ia pasti akan berpikir dua kali untuk melakukannya mengingat apa akibatnya jika ia menyentuhmu. Lagipula eomma pikir dia tidak akan tertarik sama sekali dengan tubuhmu!”

“YAK!!! Apa?? Eomma…..tuuuut tuuut tuuut…..

Haish, bahkan eomma juga mengatakan itu! Haaah tega sekali! Sebenarnya aku ini anakmu bukan sih? Memangnya kenapa dengan tubuhku? Aku tahu kalau aku tidak seseksi Kim Hyunah dan Hyorin tapi kan tubuhku tidak terlalu buruk juga. Ck, menyebalkan!” Minhye melempar ponselnya kasar ke samping tubuhnya yang berbaring di ranjang. Mengutuk ibunya yang entah sejak kapan perkataannya menjadi sangat menyebalkan. Bahkan perkataannya akhir-akhir ini terkesan seolah membela Kyuhyun. Sebenarnya yang mana anak dan yang mana menantu disini? Dirinya merasa seperti dianak tirikan.

—-o0o—-

Kyuhyun memasuki apartemen barunya dengan gontai. Ia baru saja berkeliling di sekitar apartemen. Mencoba mencari udara segar yang mungkin bisa membuat dirinya sedikit merasa lebih baik. Sebenarnya ia teramat malas kembali ke apartemen kemudian bertemu dengan gadis itu. Membuatnya merasa kehilangan gairah hidup. Menyebalkan! Tapi ia tak punya pilihan lain. Tak ada tempat tinggal lain. Tidak mungkin kan jika ia menginap di rumah orang tuanya? Tidak, ia masih cukup waras untuk tidak mendapat omelan mengerikan dari orang tuanya. Kyuhyun membuka pintu satu-satunya kamar di apartemen itu. Memperlihatkan seonggok manusia yang terduduk di pinggiran ranjang dengan mulut tak henti-hentinya mengoceh. Keadaannya berantakan. Kyuhyun yakin seratus persen bahwa gadis itu belum mandi sejak tadi pagi. Bahkan sisa riasan tadi pagi masih menempel di wajahnya. “Ck, Penampilan yang sempurna untuk seorang gadis sakit jiwa!” ucapnya bermonolog namun pendengaran gadis itu cukup tajam sepertinya. Minhye melirik sinis ke arahnya. Mulutnya telah berhenti mengoceh. Namun tak berminat membalas ucapan Kyuhyun sepertinya. Kyuhyun berjalan mendekat ke arahnya membuat Minhye memasang sikap waspada.

“Minggir!” ucap Kyuhyun datar ketika sampai di depan Minhye.

Mwo?” jawab Minhye berpura-pura bodoh. Sebenarnya ia cukup tahu maksud Kyuhyun hanya saja ia enggan untuk menurutinya.

“Kau tidak dengar? Apa kau tuli? Kubilang minggir! Aku mau tidur!” Kyuhyun menarik Minhye berdiri kemudian mendorong gadis itu pelan menjauh dari ranjang.

“YAK! Lalu aku tidur dimana?” protes Minhye kesal.

“Kau pikir aku peduli? Kau bisa gunakan sofa!” Kyuhyun menunjuk sofa di dalam kamar dengan dagunya. “Aish, aku yeoja dan kau namja! Harusnya kau yang mengalah! Aku tidur di ranjang sementara kau tidur di sofa!”

“Atas dasar apa aku harus mengalah padamu? Enak saja! Ini apartemen milik ayahku. Jadi kau saja yang mengalah!” Kyuhyun melipat kedua tangannya di depan dada. Menaikkan kepalanya sedikit. Membuatnya terlihat angkuh. Minhye mencebikkan bibirnya melihat kelakuan Kyuhyun yang terkesan arrogan. “Shireo! Aku tidak mau tidur sofa!”

“Yasudah, kau bisa tidur di lantai! Lantai lebih luas daripada sofa. Silakan saja, kau bebas memilih lantai manapun yang akan kau tiduri!”

“YAK!! Kau benar-benar tidak mau mengalah, huh? Dasar namja tidak berperasaan!” Kyuhyun mengedikkan bahu acuh. Tak peduli dengan cibiran Minhye.

“Kau pikir aku peduli? Sudahlah kau tidur di luar saja! Hush.. hush… sana!” Kyuhyun mendorong Minhye menuju pintu membuat gadis itu memberontak hebat namun tenaganya tak cukup kuat dari Kyuhyun. Kyuhyun menutup pintu cukup keras kemudian menguncinya dari dalam. Membuat gadis itu mati-matian menahan amarahnya yang bisa mencuat kapan saja. Ekspresi Minhye tak dapat dideskripsikan. Antara marah, jengkel, dan ingin menelan Kyuhyun hidup-hidup. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal kemudian menendang pintu kayu di depannya cukup keras membuat benda persegi panjang itu sedikit bergetar.

“CHO KYUHYUN SIALAN! MENYEBALKAN! TAK BERPERASAAN! DASAR NAMJA JELMAAN IBLIS! TUNGGU SAJA PEMBALASANKU!”

“YAK!!! DIAM KAU!! BERISIK!!!”

“AKU MEMBENCIMU! CHO KYUHYUN SIALAN!” Minhye berjalan tak bertenaga menuju sofa. Membanting tubuhnya perlahan. Membaringkannya tanpa minat. “Argghhh…. Eomma, demi Tuhan! Dia benar-benar menyebalkan dan tak berperasaan!” teriaknya sekali lagi sebelum benar-benar terlelap akibat kelelahan. Meringkuk tak berdaya di sofa.

— To Be Continued–

4 Comments (+add yours?)

  1. uchie vitria
    Apr 07, 2015 @ 12:24:52

    hahhh selalu dech kalo pernikahan perjodohan para pengantin gk mau tidur satu ranjang dan salah satunya pasti bobok disofa
    toh mereka kan gk bakalan nglakuin apa”

    Reply

  2. shoffie monicca
    Apr 07, 2015 @ 14:56:38

    hahaha smkin sru aj kyu km tg skli msa minhye tdr dispa sdngkn kyu tdr diksur….

    Reply

  3. lieyabunda
    Apr 07, 2015 @ 20:39:50

    gimana masa depan mereka kalo kerjaan nya brantem terus…..
    lanjut

    Reply

  4. Novita Arzhevia
    Apr 11, 2015 @ 19:01:18

    daebakk thor, , cptan ditunggu next partnya

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: