[Season 3] Spring In Memory [1/?]

Season 3

 

 

[Season 3] Spring In Memory (Part 1)

By. Lauditta Marchia T

Main Cast : Cho Kyuhyun & Kang Min Kyung (OC)

Support Cast : Choi Siwon, Lee Hyukjae, Lee Donghae, Song Hyori (OC), Song Hyena (OC) & Hyun Bi Hyul (OC)

Genre : Commedy, Romance

Note : Season sengaja dikemas dalam commedy romance yang ringan. Jadi serial Season dimulai dari Season 1 s.d. Season 4, kemungkinan kalian tidak akan menemukan konflik yg berat. Mohon untuk tidak melakukan tindakan PLAGIAT!

***

 

Hari yang cerah di pertengahan Bulan Mei. Musim semi yang begitu difavoritkan telah tiba. Bunga-bunga mulai bermekaran, menyentuh alam dengan keindahan yang menjadi ciri khasnya.

Chongdam High School. Sama seperti setiap harinya. Seragam musim dingin yang dikenakan telah berganti dengan seragam musim semi yang lebih simple—memudahkan pemakainya untuk bergerak lebih leluasa.

“Jadi, ke mana kita hari ini?” tanya Hyori selepas jam pelajaran yang cukup memberikan pemanasan berskala tinggi di otak mereka.

“Ke mana lagi?” Bi Hyul mendesah resah, sepertinya memang tak ada pilihan lain bagi mereka selain ke sebuah tempat yang sama.

“Akui saja. Kalian pasti menikmati itu,” Hyena bergumam santai.

“Bagaimana denganmu? Meskipun Hyukjaemu itu tampan—dan meskipun hatimu telah tertambat pada Hyukjaemu seorang, tapi jika melihat sosok indah—sangat mustahil matamu tak menikmati itu,” ujar Hyori. “Tapi hatiku tak akan pernah goyah, sekalipun mereka bersujud sembah mengemis cinta dariku. Aku hanya milik Siwon my man, seorang.”

Hyori hanya berbesar hati menerima lemparan remasan kertas dari ketiga gadis lainnya.

“Baik. Baik. Sebaiknya kita bergerak sekarang juga,” Bi Hyul langsung beranjak, matanya sesekali mengawasi pintu kelas mereka.

“Kau berniat menghindari kekasihmu itu?”

“Jangan mengejekku!” Bi Hyul seperti ingin mematahkan tulang-tulang Hyori.

“Kenyataan. Kalian berpacaran kini,” potong Min Kyung. “Aku sangat heran. Sebenarnya apa yang ada di otak Donghae Oppa? Mengapa dia bisa menyukai produk gagal sepertimu? Aish, Bi Hyul akan kurekomendasikan tempat di mana kau bisa mengikuti kursus untuk menjadi wanita sejati.”

Detik selanjutnya rambut panjang Min Kyung menjadi sarang amukan dasyat Bi Hyul yang langsung menarik rambut Min Kyung, menyeretnya keluar kelas diikuti oleh si kembar. Min Kyung dengan susah payah berhasil melepaskan diri dari keperkasaan Bi Hyul.

 

~.oOo.~

 

Goshen café. Sebuah kafe yang terletak di daerah Gangnam. Teras kafe dihiasi dengan bunga-bunga dan pohon-pohon. Suasana kafe di siang hari cukup ramai namun tetap santai dan nyaman.

Min Kyung, Bi Hyul dan si kembar Hyori-Hyena baru saja tiba di kafe tersebut. Mengingat semua kursi di teras telah terisi penuh, keempat gadis itu terpaksa mengambil tempat di dalam bangunan kafe. Pemandangan cukup baik karena dinding kafe yang terbuat dari kaca membuat mereka serasa berada di luar ruangan.

Keempat gadis itu segera memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan. Mereka selalu menghabiskan banyak waktu di Goshen café dan itu bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan.

Goshen café selalu ramai dikunjungi terutama oleh para mahasiswa maupun siswa-siswi dari sekolah lain.

“Lihatlah, mereka sangat menarik,” ujar Hyori. Pandangan mereka tertuju pada kumpulan mahasiswa yang duduk di meja yang tak jauh dari mereka.

Keempat gadis itu sangat memanjakan mata mereka dengan pemuda-pemuda tampan yang rutin mengunjungi kafe.

“Ya, tapi lihat juga—gadis-gadis yang bersama mereka,” Bi Hyul tersenyum sinis. Ketiga gadis lainnya mendesah. Mereka tak mungkin membohongi diri sendiri dengan mengatakan gadis-gadis itu tak menarik sama sekali.

Min Kyung sedari tadi hanya diam. Matanya terus mengawasi keadaan di sekitar mereka. Ia seperti sedang mencari seseorang.

“Hei, hei,” Hyena bergumam, ia menarik-narik tangan Bi Hyul. “Mereka datang,” mata Hyena memandang ke satu arah.

Min Kyung secepat kilat menoleh ke arah yang sama dengan sahabat-sahabatnya. Mereka sedang mengawasi kumpulan pemuda yang baru saja memasuki kafe. Empat orang pemuda tampan. Kedatangan mereka cukup menyita perhatian, terutama para gadis. Mata Min Kyung tertuju pada pemuda yang berjalan paling belakang. Ia menatap dalam wajah tegas yang terukir sempurna. Sorot mata pemuda itu sangatlah tajam. Raut wajahnya yang tenang terkesan sangat dingin. Ia bahkan bersikap tenang ketika ketiga orang pemuda lainnya saling melempar candaan.

“Tunggu dulu—jadi mereka juga siswa sekolah menengah atas?” Hyori tercekat. Mereka akhirnya sadar ketika memandangi seragam yang dikenakan oleh keempat pemuda itu.

Selama ini mereka mengira keempat orang itu adalah mahasiswa, pasalnya baru kali ini mereka datang ke kafe mengenakan pakaian seragam.

“Seragam itu…bukankah itu Anyang High School?” Bi Hyul meminta pembenaran atas pertanyaannya.

“Ah, kau benar,” ujar Hyena.

“Ternyata mereka berasal dari sekolah itu,” desah Hyori. “Aku berharap ada masa ketika Chongdam berhasil melengserkan posisi Anyang.”

“Berharaplah pada anak atau cucumu,” ujar Min Kyung. “Karena dengan otakmu yang lamban itu, sangat tak mungkin merubah kedudukan Chongdam,” gadis itu meledek Hyori membuat Hyori merengut kesal.

Anyang High School terkenal sebagai sekolah  paling bergengsi di Korea Selatan. Diikuti oleh Chongdam High School yang berada di urutan kedua. Kondisi itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun lamanya.

Ada yang berubah dengan atmosfer Min Kyung, belakangan mata gadis itu selalu tertanam pada salah satu dari keempat siswa Anyang itu. Gadis itu tak dapat menolak bahwa ia cukup terkesima melihat pemuda tersebut.

“Jangan hanya menatapnya?” Hyena memandang Min Kyung dengan tajam

“Kau ingin aku mencari tahu siapa dia?” Hyori tersenyum iseng.

“Tak perlu. Apa yang kau lakukan selalu berakhir dengan sesuatu yang sangat memalukan,” Min Kyung menolak, tegas. “Aku tak pernah mengharapkan bantuan apa pun darimu!” ia kembali menekankan kata-katanya membuat Hyori mendesis hebat.

“Min Kyung,” Bi Hyul memandangi Min Kyung dengan begitu serius. “Sekalipun kau memandanginya hingga bola matamu berubah warna, pemuda itu tak akan memperhatikanmu. Sebaiknya kau bergegas—tidakkah kau lihat, berapa banyak gadis yang mengincar pemuda itu?”

Min Kyung hanya cemberut. Memang benar, para gadis tak sedikit pun melepaskan pandangan mereka dari empat pemuda Anyang itu, terutama pemuda yang telah membuat hati Min Kyung berdesir-desir halus.

“Kalian ingin aku melakukan apa? Menghampirinya?” Min Kyung mendelik tajam. “Kalian boleh mencukur habis rambut kebanggaanku ini jika aku melakukan itu”

Ketiga gadis lainnya menggeleng prihatin. Seorang Min Kyung akan sangat mustahil bertindak seperti itu. Mereka sama-sama tahu bahwa Min Kyung sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Ia tak akan sudi untuk melukai harga dirinya yang teramat sangat berharga itu.

“Jadi kau hanya akan memandanginya direbut oleh gadis lain?” Bi Hyul kembali memandangi Min Kyung. “Kalah sebelum berperang” gadis itu terkekeh.

“Bi Hyul, kau lupa siapa kau? Jika Donghae Oppa tak bertindak agresif, kaupun pasti hanya akan menangis bodoh melihat Donghae Oppa direbut gadis-gadis itu,” amarah Min Kyung mulai meledak-ledak. Bi Hyul hanya membuang wajahnya, kesal.

“Aku pernah membaca sebuah buku,” Hyori berkata gamblang diikuti tatapan mendelik penuh ketidakpercayaan ketiga gadis lainnya. “Sebuah buku yang membahas pertanda cinta,” jelas Hyori kemudian. Wajah ketiga gadis itu menenang, sepertinya mereka sudah menduga bahwa Hyori tak akan mungkin membaca buku pelajaran.

“Lalu?” tanya Hyena santai.

“Jika kau terus menanamkan tatapanmu pada pemuda itu sambil menghitung dalam hatimu—apabila pemuda itu kembali menatapmu sebelum hitungan kesepuluh, artinya kau berjodoh dengannya.”

Hyena, Bi Hyul dan Min Kyung tercekat, kemudian tawa mereka pecah.

“Apa yang lucu?” kesal Hyori.

“Kau ini jangan terlalu memalukan! Mengapa kau sebegitu bodohnya?” tuding Min Kyung. “Mempercayai hal-hal tak masuk akal seperti itu? Kau gila? Astaga Hyori,” Min Kyung berdecak kagum atas tingkat kebodohan Song Hyori.

“Jangan meledekku!”

Eonni, tak ada yang sedang meledekmu,” Hyena tersenyum simpul.

“Lalu kau percaya itu?” selidik Bi Hyul. Hyori mengangguk antusias, “Kau sudah mempraktekkannya pada ‘Siwon, my man’—sudahkah?” ia kembali bertanya, menirukan gaya bicara Hyori.

“Tentu saja,” jawab Hyori tegas.

“Dalam hitungan itu, Siwon menatapmu?” pertanyaan Bi Hyul dijawab dengan senyum sumringah Hyori, kepala gadis itu menggangguk bahagia. “Lalu mengapa sampai detik ini tak terjadi apa pun di antara kalian?” pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan Bi Hyul langsung melemaskan tubuh Hyori, ia menunduk pelan.

“Bodoh,” Min Kyung mendesis pelan, “Tentu saja dia akan memandangimu—dia menoleh karena tengkuknya pasti meremang merasakan hujanan tatapanmu. Di matanya kau ini terlihat seperti stalker psikopat.”

“Kang Min Kyung!” Hyori mengamuk. Marah. “Baiklah, jika kalian tak percaya—tak akan mempengaruhiku. Siwon hanya belum menyadari bahwa….bla..bla..bla…,” ketiga gadis lainnya segera mengambil minuman mereka, menyeruput dalam-dalam seakan tak perduli dengan Hyori yang masih melayangkan aksi protes yang bisa berjam-jam lamanya. Telinga mereka seperti telah diprogram agar menghalau gelombang suara Hyori ketika ia mulai melakukan ceramah panjang.

Sementara Hyori masih berkicau nyaring, Min Kyung  terus mengaduk santai jus dengan sedotan—hal yang sama dilakukan oleh Hyena dan Bi Hyul. Mereka tak perduli dengan Hyori. Min Kyung kembali menyeruput jus aneka buah yang dipesannya dan entah mengapa di kepalanya kembali terngiang kata-kata Hyori.

“Bukan apa-apa,” elak Min Kyung saat Hyena dan Bi Hyul memandang heran padanya ketika ia menepis keinginan dalam hatinya dengan menggeleng kasar.

Min Kyung kembali terganggu dengan hasutan-hasutan dalam hatinya untuk membuktikan perkataan Hyori. Menyerah pada pendiriannya, Min Kyung akhirnya mulai berhitung di dalam hati.

Gadis itu terus menyeruput jus di hadapannya namun matanya tertanam tajam pada sosok pemuda Anyang sambil terus melanjutkan perhitungannya.

“…8…9…,” bisik Min Kyung dalam hati.

Ia terus memandangi pemuda yang sesekali tersenyum tipis menanggapi candaan ketiga pemuda lainnya. Pemuda itu terdiam sejenak, dengan perlahan seperti efek slow motion ketika pemuda itu menggerakkan kepalanya—menoleh. Matanya beradu pandang dengan mata Min Kyung. Gadis itu mendelik ketika tatapan tajam pemuda itu bertemu dengan matanya. Min Kyung tersedak. Ia terbatuk-batuk, memegangi dadanya.

“Min Kyung?”

“Apa yang salah denganmu?” Hyena terlihat cemas.

Batuk Min Kyung kian meningkat, ia memukul-mukul dadanya. Ketiga sahabatnya tampak cemas. Secepat kilat Hyori menyodorkan gelas yang berisi air mineral kepada Min Kyung.

“Kau tak apa-apa?” tanya Bi Hyul panik.

Min Kyung belum bisa menjawab, ia lebih memilih menghabiskan air dalam gelas di tangannya. Mencoba untuk menetralkan dirinya.

“Gadis bodoh—apa yang kau pikirkan?” selidik Hyori.

Min Kyung tak menjawab, pemuda itu telah kembali bercanda riang dengan teman-temannya.

“Tidak apa-apa.” Min Kyung kembali mengelak.

“Kau sakit? Mengapa wajahmu memerah?” Hyena menyandarkan punggung tangannya pada dahi Min Kyung.

“Tidak,” Min Kyung menyingkirkan tangan Hyena. “Aku tak apa-apa. Bukan sesuatu yang penting,” Min Kyung terlihat gugup, ia tahu wajahnya terasa panas setelah adu tatapan tadi.

“Benarkah?” Hyori masih tak yakin.

“Aku..,” Min Kyung mencoba meredakan kegugupannya. “Aku ke toilet,” katanya sambil beranjak kasar.

Ia berjalan tergesa-gesa meninggalkan Bi Hyul dan si kembar yang hanya saling pandang kebingungan. Sesampai di toilet, Min Kyung segera membasuh wajahnya yang masih terasa panas seperti habis terbakar. Ia memandangi pantulan wajahnya pada kaca, menarik nafas pelan.

“Min Kyung bodoh—bagaimana bisa kau terpengaruh pada si idiot itu?” Min Kyung menyesalkan perbuatannya. Gadis itu menarik tissue dan mengeringkan wajahnya.

Min Kyung melangkah gontai keluar dari toilet, ia tertunduk lemas—penyesalan luar biasa karena ia menganggap perbuatannya barusan telah melukai harga dirinya.

“Nona!! Jangan di situ!!”

Min Kyung tersentak. Di depannya seorang pelayan kafe sedang meneriakinya, pelayan itu terlihat kesulitan dengan nampan berisi pesanan pengunjung kafe. Secepat kilat Min Kyung menghindari tabrakan yang nyaris terjadi antara dirinya dan pelayan kafe tersebut.

Sukses, namun Min Kyung harus berhadapan dengan malapetaka lainnya ketika tanpa sengaja kakinya menggaet kaki kursi. Gadis itu kehilangan keseimbangan, ia berteriak dan hanya pasrah ke mana tubuhnya akan terjatuh.

Min Kyung memejamkan matanya kuat sekali. Gadis itu mulai membuka matanya dan detik selanjutnya jantungnya terpukul kuat menyadari apa yang sedang berlangsung saat ini. Ia tak berakhir tragis di ubin kafe tapi jatuh tertelungkup di atas pangkuan seseorang.

“..celana…sepatu…,” Min Kyung menelan ludah kasar menyadari bahwa dia sedang tertelungkup di atas pangkuan seorang pria.

“Kau,” suara berat si pemilik tubuh yang menjadi landasan mendarat Min Kyung.

Min Kyung mengangkat wajahnya takut-takut dan yang terjadi selanjutnya adalah wajahnya yang berubah pucat pasi dengan detak jantung yang melemah—hampir terhenti. Kepalanya yang mendongak, memandangi wajah tampan yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.

Entah itu musibah atau anugerah bahwa kenyataannya Min Kyung terjatuh di pangkuan pemuda Anyang High School yang telah merubah struktur dasar hatinya. Wajah itu terlihat jauh lebih baik dari dekat, garis wajah dan lekuk tegas—tatapan mata yang sangat tajam. Min Kyung merasa ia telah kekurangan banyak oksigen.

“Kau,” pemuda itu kembali berujar pelan, sementara ketiga pemuda lainnya masih tercengang karena kejadian barusan.

“Ah,” secepat kilat Min Kyung memperbaiki posisi tubuhnya, ia berdiri. “Maaf. Maafkan aku,” gadis itu berkali-kali menundukkan kepalanya. Ia merasa malu yang luar biasa.

“Kau tak apa-apa, Ajumma?”

Min Kyung yang sedari tadi tak henti-henti meminta maaf langsung bereaksi sebaliknya. Ia terhenti ketika mendengar kata terakhir dari pemuda itu.

A—jum—ma??” gumam Min Kyung pelan, dengan sangat perlahan ia mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.

Tiga pemuda lainnya langsung bergidik melihat tatapan mengerikan Min Kyung.

“Kau bilang—Ajumma?” bibir Min Kyung bergetar.

Hyori, Hyena dan Bi Hyul yang menyaksikan kejadian itu secepat kilat berlari menghampiri Min Kyung yang masih berdiri kaku.

“Min Kyung—kita pergi!” ajak Hyori takut-takut. Mereka berusaha untuk membawa Min Kyung pergi tapi gadis itu telah mengeluarkan jurus pertahanan yang membuat mereka tak bisa menggeser posisi tubuh Min Kyung.

Ajumma. Ada apa?” pemuda itu bertanya dengan sangat santainya.

“Kau!!” Hyena mendelik pada pemuda itu.

Bi Hyul dan Hyori menggeleng pelan dengan ekspresi cemas, seperti memberi sebuah kode pada pemuda itu agar tak melanjutkan apa pun yang akan keluar dari mulutnya.

“Apakah dia baik-baik saja?” tanya pemuda lainnya. Mereka terlihat kebingungan.

“Ah, jadi kau juga seorang siswa?” ujar pemuda berwajah tampan itu, masih dengan kesan dingin. “Maaf. Salahkan wajahmu yang terlalu boros—itulah mengapa kau terlihat seperti seorang Ajumma,” pemuda itu melanjutkan perkataannya dengan sangat enteng membuat Bi Hyul dan si kembar bergidik. Mereka memandangi tubuh Min Kyung yang telah gemetar hebat.

Min Kyung mengepal tangannya. Ia menggeram.

“AARGHHH!!” teriakan Min Kyung hampir memicu lonjakan serangan jantung massal pengunjung kafe “KAU!!!” Min Kyung mengarahkan telunjuknya ke wajah pemuda itu. Matanya yang lebar tak berkedip, menyala-nyala karena amarah yang membakar.

Dengan sekuat tenaga ketika Bi Hyul, Hyori dan Hyena mencengkeram tubuh Min Kyung, menyeret paksa gadis itu.

“LEPASKAN AKU. AKAN KU BUNUH ORANG ITU!!!” Min Kyung merontah, berteriak-teriak histeris berusaha melepaskan diri dari pegangan ketiga sahabatnya.

Semua pengunjung tampak heran. Mereka memandangi Min Kyung yang telah berhasil diamankan dan dilarikan dari kafe sebelum terjadi kekacauan besar. Tiga pemuda Anyang mulai menyurutkan ketegangan di wajah mereka, namun si pemicu kemarahan Min Kyung justru terlihat sangat tenang. Ia menarik cangkir yang berisi capucino, meneguk pelan dan meletakkan cangkir itu pada tempatnya.

“Apa yang kau lakukan tadi?” tanya seorang pemuda. Ia merasa jantungnya hampir bergeser karena insiden tadi tapi orang yang ditanya hanya bersikap tenang, ia justru menarik senyuman di sudut bibirnya.

Di tempat lainnya. Hyori, Hyena dan Bi Hyul sedang berusaha meredamkan amarah Min Kyung yang belum juga surut—mereka tak berani melepaskan pegangan mereka karena Min Kyung pasti akan segera meluncur ke kafe.

Ketiga gadis itu sama-sama tahu. Melukai harga diri adalah hal tabu bagi Min Kyung, namun itu berada di urutan kedua. Hal paling pertama yang sangat dibenci dan dapat merubah Min Kyung menjadi tak terkendali jika seseorang memanggilnya Ajumma.

Tetangga Min Kyung yang masih berstatus sebagai pelajar sekolah dasar,  mengejek Min Kyung dengan sebutan ‘Ajumma’ dan dua hari kemudian anak itu ditemukan tersesat di sebuah pulau terpencil. Beruntung anak itu tak berani membuka suara tentang Min Kyung yang dengan sengaja membuatnya berlayar ke Pulau. Ia hanya mengatakan bahwa ia sedang ingin jalan-jalan.

 

~.oOo.~

 

“Min Kyung.”

Gadis itu menoleh ketika namanya dipanggil. Si kembar dan Bi Hyul sedang berjalan terburu-buru menghampirinya.

“Mau ke mana?” tanya Hyena.

“Tentu saja pulang.”

Goshen café—kau tak ingin ke sana?” Hyori memandangi wajah Min Kyung dengan sangat lekat.

“Tunggu sampai aku bisa menetralkan kemarahanku pada orang itu,” Min Kyung mendesah, mendorong pelan kepala Hyori. “Kalian pergilah!”

“Jadi, kau tak ingin melihat pangeranmu itu?”

“Apa? Pangeran?” Min Kyung mendelik tajam. “Dia memang tampan, tapi mulutnya membuatnya berkurang banyak point.”

“Kang Min Kyung—katakan dengan jujur,” Bi Hyul maju selangkah dan dibalas oleh Min Kyung yang mundur selangkah, “Kau tak akan tergoda lagi olehnya?” sengiran tajam terpampang jelas di wajah Bi Hyul.

“Aku tak suka dengan pemuda bermulut tajam, dingin dan sombong itu,” kilah Min Kyung. “Aku menyesal pernah berdebar melihatnya.”

“LUAR BIASA!” terdengar paduan suara ketiga gadis lainnya.

“Hatimu bahkan masih bisa berdebar?” lanjut Bi Hyul. Mereka tertawa nyaring

“Hentikan!” hardik Min Kyung, “Ketika dia mengatakan kata keramat itu—detik itu juga, aku telah membuang dia dari pikiranku.”

Min Kyung langsung melenggang pergi meninggalkan Hyori, Hyena dan Bi Hyul yang hanya saling pandang. Mereka lalu tertawa pelan melihat kekonyolan Min Kyung.

~~~

Min Kyung melangkah gontai di sepanjang trotoar jalan, melewati barisan pepohonan di pinggiran jalan. Ia berhenti di depan sebuah restaurant sederhana. Dahi Min Kyung berkerut melihat restaurant itu ditutup.

Ya, itu adalah restaurant ramyeon keluarganya,  Ayah dan Ibunya memiliki banyak pelanggan setia. Min Kyung masih berpikir keras, tak biasanya tempat itu tutup. Gadis itu segera mempercepat langkahnya.

Dari jauh Min Kyung melihat sebuah mobil hitam mewah terparkir di depan rumahnya. Seorang pria berjas rapi baru saja masuk ke dalam mobil setelah dibukakan pintu oleh sopir. Sang sopir segera bergegas memasuki mobil dan mobil itupun meninggalkan tempat tersebut.

Min Kyung mempercepat langkahnya. Ia memasuki rumahnya.

“Ayah! Ibu!” teriak Min Kyung sambil melepas sepatunya, mengganti dengan sepasang sendal yang telah tersedia.

Tak ada sahutan.

“Ibu?” langkahnya terhenti. “Ayah?” ia menatapi Ayah dan Ibunya yang masih terdiam, duduk termenung di ruang tamu.

“Min Kyung, kau sudah pulang,” ujar wanita paruh baya itu.

“Ada apa?” tanya Min Kyung “Siapa orang-orang tadi?”

“Ah—jadi kau melihatnya?” Tuan Kang menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Mengapa?” Min Kyung menangkap sesuatu yang aneh dari gelagat kedua orang tuanya.

Mata Min Kyung lalu tertuju pada sebuah kotak persegi yang tampak sangat menarik, kotak itu terbuka di atas meja. Cepat-cepat Min Kyung menghampiri meja, tangannya langsung memegangi kotak itu.

Garakji?” Min Kyung memandangi sepasang cincin yang terbuat dari batu giok hijau.

Garakji merupakan perhiasan yang digunakan wanita pada jaman Joseon, bagi wanita yang sudah menikah menggunakan dua buah atau sepasang cincin pada jari yang sama—sedangkan wanita yang belum menikah hanya menggunakan sebuah cincin.

“Waah, cantik sekali,” Min Kyung terkesima. “Ibu—ini punyamu? Mengapa aku tak pernah melihat cincin ini?”

“Min Kyung, garakji itu milikmu.”

Min Kyung menoleh, dahi berkerut tipis.

“Mereka baru saja mengantarnya—orang yang berpapasan denganmu tadi,” ujar Nyonya Kang. “Karena kau belum menikah, kau hanya boleh mengenakan salah satu dari garakji ini.”

“Ibu??”

“Ah, tapi jika kau tak ingin menggunakan sekarang juga tak masalah” Nyonya Kang menambahkan lagi.

“Ayah??” pandangan Min Kyung teralih pada Ayahnya.

“Kau akan segera menikah, Min Kyung.”

Ucapan sang Ayah membuat Min Kyung terkejut bukan main.

“Sayang,” Nyonya Kang mendesis manja pada suaminya. “Min Kyung masih terlalu muda untuk berumah tangga,” ujar Nyonya Kang lagi—ia lalu memandangi Min Kyung yang masih saja mematung. “Jangan cemas, kau pasti akan menikah tapi tidak dalam waktu dekat. Selesaikan sekolah, pergi ke perguruan tinggi—kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan sebelum menikah.”

“Ibu—aku juga tahu itu,” Min Kyung mendesah lega.

“Tapi kau tak boleh berhubungan dengan lelaki manapun,” perkataan Nyonya Kang membuat perasaan Min Kyung semakin tak enak. “Garakji itu diantar oleh orang-orang utusan dari keluarga tunanganmu.”

WHAT?”

Min Kyung refleks berdiri, suaranya sangat nyaring.

“Ibu…tadi—tunangan??”

“Min Kyung, kau tenanglah,” Tuan Kang mengajak anak satu-satunya itu untuk duduk dan bersikap tenang.

“Ayah, jelaskan apa maksud dari kata tunangan tadi?”

“Ah,Min Kyung jangan khawatir, itu bukan masalah besar. Seperti yang Ibumu katakan, kau tak akan menikah dalam waktu dekat—kau masih bisa menjalani hidupmu sesuai keinginanmu. Garakji ini hanyalah pertanda bahwa kau ini sudah memiliki seorang tunangan.”

“AYAH!!” Min Kyung memelototi Ayahnya. “Tunangan? Sejak kapan aku memiliki tunangan? Seingatku, aku tak pernah melangsungkan pertunanganan dengan siapa pun. Bagaimana mungkin saat ini aku adalah gadis yang telah memiliki tunangan?”

“Tenanglah Min Kyung,” Nyonya Kang berusaha untuk menenangkan putrinya. “Ibu yakin kau pasti akan menyukai orang itu.”

“IBU!!” untuk kesekian kalinya Min Kyung harus mengeluarkan suara keras. Melihat wajah kedua orang tuanya yang menegang, Min Kyung menarik nafas panjang berusaha untuk menstabilkan emosinya. “Katakan, sebenarnya apa yang sedang terjadi?”

Ia memandangi satu per satu secara bergantian wajah Ayah dan Ibunya. Kedua orang itu saling pandang, saling menolak untuk memberikan penjelasan.

“Baiklah. Biar kutebak,” Min Kyung mendesah. “Kalian menjualku?”

“Aish, anak ini!” Nyonya Kang hampir melayangkan tamparan ke punggung Min Kyung namun dicegah oleh Tuan Kang. “Mengapa otakmu selalu berpikiran yang negatif?”

Min Kyung memangku tangannya, memandang kesal pada kedua orang tuanya.

“Sebenarnya aku dan Seung Jae adalah sahabat, kami sangat dekat melebihi kedekatan saudara kandung.”

“Kalian tak ingin jalinan itu berakhir begitu saja, lalu memutuskan untuk menikahkan anak-anak kalian,” Min Kyung memotong ucapan Ayahnya.

“Min Kyung, bagaimana kau tahu?”

“Itu adalah alasan yang sering dipakai dalam drama berseri. Sangat umum dan tak masuk akal,” ujar Min Kyung. “Bagaimana mungkin alasan tak masuk akal itu terjadi dalam hidupku?” gadis itu mendelik.

“Min Kyung…,”

Nyonya Kang memandangi Min Kyung yang beranjak.

“Ibu, Ayah…ini bukan jaman Joseon, mengapa kalian harus menjodohkanku seperti itu?” Min Kyung menggigit bibir bawahnya, ia sangat kesal. “Aku tak ingin bertunangan dengan siapa pun,” ia lalu berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.

“Min Kyung, meskipun kau mengatakan tak ingin bertunangan tapi nyatanya statusmu sudah menjadi tunangan seseorang,” Tuan Kang, ia menaikan volumenya agar Min Kyung bisa mendengar suaranya. “Kang Min Kyung, kau tak akan menyesali itu!”

Di dalam kamar tidurnya, Min Kyung telah menyumbat kedua telinganya dengan ear phone, ia bersiul-siul pelan sambil membolak-balik buku pelajarannya.

 

~.oOo.~

 

Honey,” Donghae tersenyum mekar. Ia menghampiri Bi Hyul yang sedang berkumpul bersama Min Kyung, Hyori dan Hyena di dalam kelas.

“Haish,” Bi Hyul mendesah kesal melihat Donghae yang langsung duduk di sisinya. “Ada apa?”

“Gadis ini—mengapa kau selalu bersikap kasar?” Donghae mencubit gemas pipi Bi Hyul, namun tindakannya itu harus berakhir dengan tepukan keras Bi Hyul di kepalanya. “Sangat arogan!”

Oppa, kau sudah tahu dia seperti itu—mengapa kau masih menyukainya?” Hyori berdecak tak percaya,

“Gadis ini pasti sudah memantraiku,” Donghae ikut berpikir.

“Lee Donghae!” Bi Hyul mendelik. Donghae tertawa, sepertinya ia selalu bahagia melihat Bi Hyul kesal.

“Dia selalu marah jika melihatku,” gumam Donghae. Pemuda itu memajukan wajahnya memandangi tiga gadis yang duduk di hadapannya. “Apa kalian tahu keinginan terbesar Bi Hyul?”

“Pergi ke Mars,” jawab Hyena. Donghae menggeleng

“Bukan itu? Lalu?” Min Kyung menjadi penasaran

“Apa?” ketiga gadis itu terkejut ketika Donghae mengarahkan telunjuknya pada bibirnya “Oppa—apa maksudmu?” Hyori memandangi Donghae lekat.

“Sebaiknya tutup mulutmu!” ancam Bi Hyul

“Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan,” Donghae menyapu wajahnya, terlihat seperti orang frustasi namun detik selanjutnya ia tersenyum nakal—kembali menanamkan tatapan dalamnya pada ketiga gadis yang sedang menahan nafas, “Gadis itu selalu bernafsu melihat bibirku,” Donghae menyengir tajam.

“Lee Donghae!” Bi Hyul menendang tulang kering kaki Donghae membuat pemuda tersebut meringis kesakitan.

“Bi Hyul—benarkah itu?”

“Kalau saja kalian melihat bagaimana reaksinya ketika aku menciumnya—aku bahkan harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menopang tubuhnya yang limbung,” Donghae berdecak.

“APA? KALIAN BERCIUMAN?”

Teriakan heboh ketiga gadis itu langsung memicu gelombang perhatian seisi kelas.

“KAU!!” Bi Hyul menoleh kasar, ia baru saja hendak melayangkan pukulan telak namun Donghae sudah tak berada di sisinya. Pemuda itu sudah berdiri di ambang pintu kelas.

“Maaf, aku kira kau menceritakannya pada tiga kembar siam itu,” Wajah Donghae terlihat tanpa penyesalan. “Ah sudahlah—kau urus saja mereka. Sayonara honey,” Donghae terkekeh pelan sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan mereka.

“LEE DONGHAE—LIHAT SAJA, KUBUNUH KAU!!” Bi Hyul menjerit histeris. Seperti sebuah gunung yang baru saja mengeluarkan larva.

Nafas Bi Hyul saling memburu. Ia berpaling kasar pada ketiga gadis lainnya dan secara refleks membuang pandangan mereka. Tak berani untuk menatapnya apalagi melayangkan pertanyaan meskipun mereka hampir mati dengan rasa penasaran perihal ciuman itu.

Lantunan lagu riang memecah kesunyian dan ketegangan yang masih terjadi.

Hallo,” Min Kyung mengangkat malas ponselnya.

Min Kyung—kau sudah menemukannya?” suara Nyonya Kang terdengar dari seberang. “Pagi ini Ibu menerima sebuah kiriman amplop—mengingat kau orang yang lebih berhak jadi Ibu tak membuka amplop itu dan langsung menyelipkannya di tasmu, di dalamnya ada foto tunanganmu.

“Ibu,” Min Kyung mendesah kasar.

Ah, sepulang sekolah jangan pergi kemanapun. Datanglah ke restaurant di Seoul Avenue hotel.

“Seoul Avenue?”

Kami akan menunggumu di sana.

“Ibu—jangan katakan bahwa…,”

Kau harus menyapa keluarga calon suamimu,” Nyonya Kang terdengar riang.

“IBU!!” teriakan Min Kyung mengagetkan ketiga sahabatnya, tentu saja untuk kedua kalinya menarik perhatian teman-teman seisi kelas mereka

Baiklah, sampai jumpa siang nanti—kami menunggumu.

“Ibu, aku tak akan datang. Sudah kubilang, aku tak ingin bertunangan atau menjadi tunangan siapapun. Halloo~ Ibu…,” Min Kyung membabi buta melancarkan serangan. “Aku…Ibu? Hallo? Ibu?? Haishh!!” Min Kyung melempar kasar ponselnya di atas meja, Ibunya mengakhiri percakapan tanpa memberikan kesempatan pada Min Kyung untuk melakukan aksi protes.

Min Kyung terkejut bukan kepalang ketika wajah tiga gadis bodoh itu telah terpampang jelas di hadapannya, dengan jarak yang sangat tipis.

“Kalian mengejutkanku,” Min Kyung mendorong satu per satu kepala ketiga sahabatnya.

“Bertunangan?”

Min Kyung mendesis. Ia memandang kesal pada tiga gadis itu yang sedang menuntut penjelasan.

“Bertunangan?” Hyori mengulangi pertanyaan yang sama.

Tak mempunyai pilihan lain, akhirnya Min Kyung menceritakan kejadian mengejutkan yang sedang dialaminya.

“Benarkah?” Hyena berdecak.

“Kalian tahu, sekarang aku merasa seperti sedang berada dalam drama-drama menyebalkan itu,” Min Kyung meratapi nasibnya.

“Aku tak mengira masih ada keluarga yang ingin mengambil mantu pemarah dan labil sepertimu,” ucapan Hyori membuat gadis itu harus menerima dorongan kasar telunjuk Min Kyung di kepalanya.

“Tapi itu cukup unik, di jaman seperti ini—disaat banyaknya perhiasan modern, tapi mereka justru memberikanmu garakji,” ujar Bi Hyul.

“Terbukti karena mereka masih memiliki pemikiran udik Joseon,” Min Kyung menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi miliknya.

“Min Kyung, mengapa kau tak mencoba menerima takdirmu itu.”

“Kau gila?” Min Kyung mempertanyakan kewarasan Hyori

“Aku tak gila,” elak Hyori. “Bagaimana jika dia adalah pemuda tampan, pewaris kerajaan—sang putra mahkota,” Hyori melipat kedua tangannya di bawah dagunya.

“Idiot. Kau sedang membicarakan drama ‘Princess Hours’?” Min Kyung memandang tak percaya pada Hyori

“Hyori, gadis seperti Min Kyung sangat tak mungkin seberuntung Shin Chae Gyoung yang dipersunting oleh putra mahkota Lee Shin,” pembelaan Bi Hyul justru terdengar seperti penghinaan keji di telinga Min Kyung.

Eonni—negara kita bentuk kepemimpinannya bukan lagi kerajaan, jadi tak mungkin lagi adanya seorang pangeran mahkota,” terang Hyena.

“Aku tahu,” Hyori menjawab pelan.

“Min Kyung, seperti apa dia?” tanya Bi Hyul.

“Aku tak tahu,” jawab Min Kyung.

“Bagaimana bisa kau tak tahu seperti apa tunanganmu itu?” pertanyaan Hyena hanya dijawab dengan tatapan tajam Min Kyung.

“Apa peduliku? Lagipula, tak ada hubungannya denganku,” ujar Min Kyung.

“Tak ada hubungannya?” Bi Hyul menggeleng prihatin.

“Bagaimana jika orang itu tampan, kaya raya, baik hati,” Hyori menerawang jauh. “Setidaknya kau harus tahu seperti apa dia sebelum kau menolaknya, jangan sampai kau menyesali itu.”

“Aku tak akan menyesali apa pun. Yang aku sesalkan adalah kedua orang tuaku yang berpikiran sempit seperti itu.”

Mereka terdiam. Masihg-masing dengan pikiran mereka.

“Ah, tunggu dulu,” Min Kyung teringat sesuatu, ia segera mengacak-acak isi tas sekolahnya.

Min Kyung lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya. Dengan hati-hati ia membuka amplop itu dan mengeluarkan sesuatu yang tersimpan di dalamnya, selembar foto. Mata Min Kyung melebar, ia sangat terkejut melihat foto tersebut—tangannya bahkan gemetar.

“Siapa?” ketiga gadis lainnya sangat penasaran melihat ekspresi Min Kyung. Mereka lalu merampas foto yang sedang di pegang Min Kyung.

“Waah, lucunya,” Hyori berdecak.

“IBU..AYAH!!!” Min Kyung menggeram hebat. Tangannya mengepal kuat.

“Min Kyung?” ketiga sahabatnya terkejut.

“Di mana akal mereka? Bagaimana mungkin mereka menjodohkanku dengan orang itu?” Min Kyung menunjuk-nunjuk kasar wajah dalam foto tersebut.

“APAAAA???” jerit histeris kini bersumber dari ketiga gadis autis itu “Orang ini—tunanganmu??” jantung mereka berlomba-lomba berpacu kencang.

Mereka diam seribu bahasa untuk beberapa waktu, hanya mengamati foto itu.

“Dia sangat tampan—bakat tampannya sudah terlihat tapi…,” Bi Hyul terlihat ragu melanjutkan ucapannya.

“Dia terlihat seperti murid sekolah dasar,” lanjut Hyena.

Min Kyung melemas, kepalanya pusing. Gadis itu memijit keningnya, frustasi. Mereka bersama-sama memandangi foto itu. Tak ada yang salah. Tampang itu adalah tampang anak-anak dengan kisaran umur diantara delapan sampai dengan sepuluh tahun.

“Min Kyung, kau memiliki orang tua yang sangat unik,” ujar Hyori.

“Kau masih ingin aku bertunangan dengan orang ini?” Min Kyung menatap Hyori.

“Ehm…sebenarnya anak ini sangat tampan. Lagi pula di jaman ini, perbedaan usia tidak menjadi masalah,” Hyori terkekeh pelan.

“Gadis gila,” desis Bi Hyul.

Tanpa banyak berkomentar, Min Kyung terlihat sibuk dengan ponselnya.

“Ibu, kalian bercanda? Bagaimana mungkin aku dan anak itu…” Min Kyung langsung menyerang sebelum Ibunya berbicara.

Bagaimana? Dia sangat tampankan?

“Kalian gila? Ibu, tega sekali kalian menjodohkanku dengan anak itu? Setidaknya carikan seseorang yang sesuai denganku.”

“Sepertinya aku mendengar dia berkata tak ingin dijodohkan dengan siapa pun—ternyata dia masih memiliki pertimbangan lain,” Hyena berbisik pelan. Mereka tersenyum aneh setelah mendengar penuturan Min Kyung

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Min Kyung setelah mengakhiri sepihak percakapan itu.

“Tidak,” mereka menggeleng, menyimpan senyum dalam-dalam.

“Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?”

“Kenapa?”

“Kau ini bodoh? Masih bertanya kenapa?” Min Kyung kesal. “Siang ini mereka mengadakan pertemuan keluarga. Aku benar-benar tak ingin bertunangan dengan anak kecil ini.”

“Sebaiknya tidak kau lanjutkan atau banyak orang akan mengira kau seorang pedofilia,” ledek Bi Hyul.

“Bi Hyul, jaman sekarang hal-hal seperti itu sudah tak perlu menjadi bahan pertimbangan lagi. Sekarang dia terlihat seperti anak kecil tapi pikirkan sepuluh tahun mendatang—kurasa dia akan menjadi pemuda yang sangat tampan,” Hyori tampaknya sangat mendukung pertunanganan Min Kyung.

“Song Hyori! Apa kau tak bisa membayangkan? Sepuluh tahun mendatang mungkin dia telah tumbuh menjadi pemuda tampan tapi bagaimana denganku? Kesenjangan usia itu sangat mengerikan,” desis Min Kyung.

“Itulah gunanya operasi plastik,” sahut Hyori. “Kau bisa selalu meng-upgrade penampilanmu,” Hyori tersenyum mekar. Min Kyung langsung menarik kasar rambut Hyori, gadis itu hanya meringis pelan namun senyumannya tak pudar.

“Katakan saja kau menolak,” ujar Hyena.

“Sudah kulakukan tapi kedua orang tuaku tipe yang tak mendengarkan pendapat.”

“Satu-satunya cara, kau harus membuat keluarga anak itu yang membatalkan pertunanganan,” usul Bi Hyul.

“Aku mengerti. Kau harus membuat keluarga mereka tak menyukaimu,” lanjut Hyena.

“Bagaimana caranya?” tanya Min Kyung

“Dengan sikapmu yang selalu marah-marah, jika melihatmu mereka pasti menyesal,” ujar Hyori.

“Song Hyori! Sebaiknya kau tenang di situ dan jangan sedikit pun membuka mulutmu,” Ancam Min Kyung. Hyori mengerucutkan bibirnya.

“Jangan datang ke pertemuan siang nanti,” usul Hyena. “Point-mu akan berkurang di mata mereka.”

Brilliant,” Min Kyung tampak senang. “Tapi—jika aku melakukan itu, kedua orang tuaku bisa mengirimku ke panti asuhan.”

“Lalu kau ingin seperti apa?”

“Entahlah—akan kupikirkan nanti tapi untuk saat ini aku tak ingin berada di tengah pertemuan itu.”

“Telepon Ibumu, katakan kau sedang sakit.”

Min Kyung mulai melakukan latihan batuk agar sandiwaranya meyakinkan. Setelah dirasa cukup, gadis itu langsung menghubungi nomor Ibunya.

UHHUUUKK…” baru saja Min Kyung hendak membuka mulut ketika suara batuk keras terdengar di seberang, “Uuhhuuuukk. Ah, Min Kyung—ada apa?

“Ibu…,” Min Kyung kehilangan kata-kata.

Ibumu ini sakit..uhhuuuuk..,” erang Nyonya Kang. “Min Kyung, pastikan kau hadir pada pertemuan keluarga jika kau tak ingin menghadiri pemakamanku besok..,huuukk—uhuuukk,” Nyonya Kang lalu mematikan telepon.

Min Kyung terdiam dengan mata berkilat-kilat.

“IBUUU!!!” gadis itu langsung menjerit.

Ia tahu bahwa Ibunya sedang bermain trik. Tak menyangka Ibunya lebih lihai, kini tak ada alasan lagi bagi Min Kyung. Ia menyandarkan kepalanya di meja. Mengetuk-ngetuk meja dengan kepalanya. Ketiga sahabatnya hanya menarik nafas—ikut pasrah menerima nasib Min Kyung.

“Semangat!!” seru Bi Hyul, Hyori dan Hyena ketika Min Kyung menoleh pada mereka. Gadis itu kembali menimbulkan bunyi yang lebih keras dengan kepalanya. Ia terlihat sangat frustasi.

 

~.oOo.~

 

Seoul Avenue Hotel.

Min Kyung melangkah lunglai memasuki lobi hotel berbintang itu. Ia terlihat berbicara dengan salah seorang receptionist, tak lama kemudian Min Kyung telah melangkah ke arah yang diberitahukan oleh receptionist tadi. Berkali-kali gadis itu menarik nafas panjang.

Langkah kaki Min Kyung terhenti. Seseorang sedang berdiri dalam jarak kurang lebih sepuluh meter—menghadang Min Kyung. Min Kyung ikut memandangi orang tersebut, seorang anak berpakaian rapi. Pakaian anak itu terlihat sangat bermerek. Anak tersebut memangku tangannya angkuh, memandangi Min Kyung tajam. Min Kyung memandangi dirinya sendiri, ia merasa tak ada yang aneh dengannya.

“Ada apa?” tanya Min Kyung malas—ia benar-benar sedang kehilangan semangat.

Anak itu tak menjawab. Ia hanya terus memandangi Min Kyung dari kepala sampai kaki—melakukannya secara berulang-ulang membuat kesabaran Min Kyung mulai menipis.

“Tunggu…,” Min Kyung tercekat “Kau…?” Ia mengamati dengan lebih fokus anak tersebut.

“Ah—jadi kau gadis itu?” anak kecil itu berujar santai, nada bicaranya terkesan sangat sombong.

Min Kyung mendesah kasar. Ia tak salah mengenali orang. Anak itu adalah anak yang ada di foto.

“Anak ini? Anak sekecil ini? Tunanganku?” Min Kyung berujar dalam hati. “Sungguh langit dan bumi sangat kejam padaku,” gadis itu kembali membatin. “Hei, bocah! Kau seperti tak pernah melihat manusia,” ujar Min Kyung.

“Aku sedang mengagumimu,” ujar anak itu, tersenyum polos—kemarahan Min Kyung sedikit mereda. “Baru kali ini ada species sepertimu. Aku akan memberikan rekomendasi khusus padamu, kau bisa datang ke museum milik kami,” kata-kata selanjut membuat Min Kyung mendelik hebat.

“Kau? Bocah—kau tak tahu siapa aku?” Min Kyung mengepal tangannya. Ia sedang bertekad untuk memberi pelajaran pada anak kecil itu.

“Terlalu biasa. Standar yang sangat jauh dibawah rata-rata. Apa yang ada dipikiran para orang tua itu?” anak lelaki itu tersenyum tipis.

“Berapa umurmu? Mengapa kau bersikap tak sopan?”

“Umurku? Tentu saja jauh lebih muda darimu,” ia tersenyum mengejek, amarah Min Kyung sedang tersulut. “Kau benar-benar berniat melanjutkan pertunanganan?”

“Bocah, kau kira aku sudi?” Mata Min Kyung melotot tajam.

“Jangan memanggilku bocah. Aku punya nama, aku…,”

Shut up!” Min Kyung memotong kasar ucapan anak itu. “Siapapun kau, aku tak perduli. Kau punya nama? Bukan urusanku,” Min Kyung memangku tangannya.

Ia tersenyum puas melihat kekesalan luar biasa di wajah anak itu.

“Dasar kau…,” anak itu menarik nafas panjang, ia menatap Min Kyung setelah raut wajahnya menenang “Cerewet seperti seorang…Ajumma,” senyum sinis tersungging di sudut bibirnya.

Senyum kemenangan yang sedari tadi dipamerkan Min Kyung mendadak sirna terbawa angin.

~~~

Min Kyung memasuki sebuah ruangan khusus, ruang VVIP dalam restaurant tersebut. Kedatangannya langsung disambut oleh senyum lega kedua orang tuanya. Mata Min Kyung mengawasi sepasang pria dan wanita yang umurnya tak berbeda jauh dari umur kedua orang tuanya. Pasangan suami-istri itu terlihat berpenampilan sangat rapi.

Gadis itu menundukkan kepala, memberi salam. Mereka tersenyum dan terlihat puas melihat Min Kyung. Min Kyung segera duduk di tempat yang sudah disediakan.

“Kau Min Kyung?” tanya wanita itu. Min Kyung tersenyum, senyum yang dipaksakan “Lihatlah—kau tumbuh menjadi gadis yang cantik,” wanita itu terlihat benar-benar puas dan Min Kyung menjadi resah.

“Kau sudah tumbuh sebesar ini,” suami wanita itu ikut tersenyum pada Min Kyung. Min Kyung hanya mengangguk santun. “Yong In, aku tak mengira kita benar-benar menjadi keluarga,” pria itu menatap Ayah Min Kyung, Tuan Kang.

“Kau bicara apa—kita ini memang sudah menjadi keluarga,” tepis Tuan Kang.

“Itu artinya, aku tak perlu bertunangan” Min Kyung mendesis pelan “Aaauw!” ia kembali mendesis ketika sebuah tendangan keras di kakinya “Ibu?” ia memandangi Ibunya dengan kesal.

“Astaga, kemana anak itu?” Wanita itu terlihat cemas, ia memandangi jam tangannya.

Sementara Min Kyung membuang tatapannya, ada seringai hebat di wajah gadis itu. Lalu gebrakan terjadi ketika pintu terbuka paksa. Mereka terkejut memandangi seorang anak kecil yang nafasnya tak beraturan. Seluruh tubuhnya basah kuyup.

“In Ha—apa yang terjadi?”

Anak itu langsung melayangkan tatapan marah pada Min Kyung yang meneguk tehnya dengan tenang, seolah tak pernah terjadi apapun.

“Ibu, batalkan pertunanganan itu,” ucapan anak bernama In Ha itu mengejutkan semua orang—satu-satunya yang bersikap tenang hanyalah Min Kyung.

“In Ha, apa yang kau bicarakan?”

“Ayah, jangan percaya pada gadis itu. Dia itu seperti iblis!” In Ha menggeram hebat. “Dia membuatku basah kuyup dan mengurungku di toilet!” In Ha mengadukan semua perbuatan Min Kyung.

“IN HA!” Ayah anak itu terlihat marah, “Jaga ucapanmu!”

“Ayah, jangan lanjutkan pertunangannya” In Ha terus gencar melakukan aksi protes.

“Sebaiknya memang tak perlu dilanjutkan,” Min Kyung berkata dengan tenang.

“Min Kyung?” Nyonya Kang memelototkan matanya pada Min Kyung yang hanya mendengus.

“Aku tak ingin gadis mengerikan ini masuk dalam keluarga kita.”

Min Kyung berdiri. Ia membalas tatapan In Ha.

“Hei bocah! Tutup mulutmu!” Min Kyung membentak kasar. “Ibu, Ayah.. bukankah sudah jelas? Mengapa harus memaksakan ini?”

“Kang Min Kyung!!” Tuan Kang menghardik Min Kyung. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, terlalu kesal.

“Ibu, kalian tak berpikir? Akan seperti apa nasib Hyung?” In Ha tetap bersikeras.

“IN HA, KAU!!” pria itu marah, ia hampir memukul anaknya jika anak itu tak segera diamankan oleh Ibunya.

Min Kyung menyesali perbuatan Ibu In Ha—ia ingin sekali melihat anak itu diberi pelajaran. Hal itu hanya berlangsung sekian detik ketika alis Min Kyung saling bertaut—ia mengernyit.

Pintu ruangan tersebut kembali terbuka. Seorang pemuda dengan postur tubuh tinggi dan tegap. Tatanan rambut yang sedikit acak-acakan.

“Maaf, aku terlambat,” ia membungkuk sopan, meminta maaf pada semua orang.

Min Kyung sudah tak dapat berkutik menyaksikan wajah tegas pemuda bertatapan dingin itu.

“Ka—kau???” Jantung Min Kyung berdebar keras. Bukan hanya karena wajah pemuda itu sangat tampan tapi Min Kyung mengenali pemuda itu sebagai pemuda yang pernah menarik perhatiannya namun berubah menjadi pemuda menyebalkan setelah membuat amarahnya meledak karena memanggilnya dengan kata keramat yang paling dibenci olehnya. Si pemuda berseragam Anyang High School.

“Apa kabar, Nona Kang Min Kyung?” ia menatap Min Kyung dengan tatapan tenang, namun tetap meninggalkan kesan tajam dari sorot matanya. “Aku, Cho Kyuhyun—tunanganmu,” lanjutnya lagi, ia tersenyum tipis—sangat tipis hingga nyaris tak terlihat. Min Kyung telah membatu dengan mata yang membelalak lebar.

~~~

In Ha berjalan mendekati Kyuhyun yang sedang berdiri di lobi hotel, pemuda itu terlihat sibuk memainkan ponselnya.

“Gadis gila itu sudah pergi?” tanya In Ha.

“Baru saja,” jawab Kyuhyun pelan. “In Ha, jangan terlalu sering mengeluarkan kata gila untuknya—kau ingin aku bertunangan dengan orang gila?” tanya Kyuhyun santai tanpa memalingkan tatapannya dari ponsel.

Hyung, nyatanya gadis itu lebih gila dari yang kau katakan. Dia mengerikan. Sangat mengerikan Hyung,” In Ha mendesis tajam.

“Benarkah?” Kyuhyun mengangkat wajahnya, lalu menoleh pada In Ha. “Dia yang membuatmu basah kuyup seperti ini?”

In Ha terdiam, memandangi Kyuhyun dengan penuh kekesalan.

“Ah—jadi kau mengabaikan nasehatku?” Kyuhyun mengangguk-angguk paham. “Sudah kubilang, jangan memanggilnya dengan sebutan itu! Kau keras kepala,” ia menyengir melihat kondisi adiknya.

Hyung, mengapa kau masih ingin bertunangan dengannya? Bukankah dia itu sangat mengerikan?”

Kyuhyun tak menjawab, ia kembali menyibukan diri dengan ponselnya.

“Aish, kau sama menyebalkan dengan gadis gila itu—baiklah, kalian memang cocok bersama-sama,” ujar In Ha. “Oh ya, kau mengambil fotoku? Kembalikan padaku!”

“Jangan meminta padaku,” jawab Kyuhyun. “Kau mintalah pada calon kakak iparmu itu,” Kyuhyun tersenyum, menepuk-nepuk pundak In Ha—ia lalu berjalan meninggalkan In Ha.

“Kau mengirim fotoku pada gadis sinting tadi?” In Ha mendelik, ia memandangi punggung Kyuhyun yang kian menjauh “Hyung, mengapa kau lakukan itu? Hyung!” meski In Ha terus memanggilnya namun Kyuhyun hanya melambaikan tangan tanpa menoleh membuat In Ha menggeram kesal.

 

~to be continue~

 

Penjelasan singkat ttg ff Season. Serial Season menceritakan kisah persahabatan empat orang gadis yg mungkin cukup aneh, dan kisah cinta masing-masing dari mereka akan dibahas per season. Jadi ada empat Season yaitu :

[Season 1] Crazy Time In Autumn

[Season 2] Winter’s Song

[Season 3] Spring In Memory

[Season 4] Summer, I Love You So Much!

 

5 Comments (+add yours?)

  1. Neigyu
    Apr 08, 2015 @ 18:43:02

    KEREN, ringan aja bacanya. Dan saya suka hahaha

    Reply

  2. shoffie monicca
    Apr 08, 2015 @ 19:21:40

    crtanya sru cwenya mngrikn bngt tpi cocoklh sm kyu sptnya sma2 evil..min minta link season1 sm season2 donk ak blm bca..blh ngga????

    Reply

  3. july
    Apr 09, 2015 @ 06:59:21

    Keren abis….ditunggu lanjutan y

    Reply

  4. Monika sbr
    Apr 09, 2015 @ 22:17:48

    Hahahahahaa….
    Kayaknya kyuhyun yg sdh mulai menyukai min kyung duluan deh!!

    Reply

  5. LestaRizqa
    Apr 11, 2015 @ 03:17:22

    Thor, boleh cek email.a? Aku udh kirim email.. Udh bnr2 penasarannn..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: