SECRET [4/?]

SECRET [Part 4]

Author: Shin Hyeonmi

Lee Hyukjae | Shin Hyeonmi | Gabriel | Park Sojin | Kim Jongwoon

Chapter | PG-17 | Romance

Rating: General

Tag: Lee Hyukjae, , Eunhyuk, Yesung, Kim Jongwoon, Kim Jong Woon, Super Junior, Superjunior

 

Note: I just hope readers will like this. Thanks for reading it (: And, I’ve published this before on my personal blog ( http://eunhaewife.wordpress.com/ ) Visit me if you have times^^ Happy reading^^

 

 

 

 

Gabriel kembali berlari mengambil bola besar yang sudah ia lemparkan sebelumnya, bocah kecil itu mengambil bola tersebut dan karena ukuran bola yang lebih besar daripada tubuhnya, ia tampak seperti sedang memeluk bola tersebut. Lagi kemudian ia kembali melemparkan bola tersebut ke ujung ruangan yang lain. Siang ini tempat bermain yang berada di salah satu mall besar di Seoul ini masih cukup sepi karena mungkin teman-teman lain yang seusianya masih belum pulang dari sekolah, sedangkan bagi Gabriel, karena insiden yang terjadi padanya tadi di sekolah bocah kecil itu terpaksa dipulangkan lebih awal sebelum jam pulang.

Hyukjae menatap wajah sumringah Gabriel, kedua bola matanya sejak tadi menatap lurus kearah bocah itu yang sepertinya sudah cukup lupa kemarahan yang diperlihatkan Hyeonmi tadi padanya. Dihembuskannya nafasnya berat kemudian, bersyukur jika memang saat ini Gabriel sudah lupa pada kemarahan ibunya tadi, entah mengapa baginya kemarahan yang diperlihatkan Hyeonmi tadi pada putranya sangatlah berada diluar batas. Bagaimanapun juga bocah ini masih cukup kecil untuk mengerti dan menerima pemikiran orang dewasa seperti yang di maksudkan oleh Hyeonmi.

“Ahjushi, aku lapar.” Gabriel melepaskan bola yang sebelumnya ia bawa dan mulai berjalan mendekat pada Hyukjae.

Biasanya ia akan merasa lapar saat jam pulang sekolah, tapi saat ini bahkan belum jam biasanya ia merasakan lapar. Mungkin karena aktivitasnya sebelumnya yang lebih aktif dari biasanya yang membuat bocah kecil itu menjadi lebih cepat merasakan lapar dari biasanya.

“Baiklah kita makan? Kau mau makan apa?” tanya Hyukjae sambil mulai berdiri dari tempatya dan menggandeng tangan Gabriel untuk keluar dari kawasan bermain tersebut. “Ahh, apa ibumu pernah memasak untukmu, Gabriel-ssi?” tanyanya lagi.

Tiba-tiba saja ia teringat beberapa hal yang pernah ia lalui bersama Hyeonmi dulu ketika masih bersama, berbicara tentang makan maka satu hal yang paling jelas dalam ingatannya adalah bahwa wanita itu sama sekali tak bisa memasak apapun bahkan membuat ramyunpun ia terkadang menambahkan terlalu banyak air di dalamnya.

“Mom? Pernah, tapi akan lebih baik jika mom tidak memasak,” jawab Gabriel polos.

Hyukjae mendesah pelan mendengar jawaban Gabriel, “Huuh… Dia belum berubah,” katanya singkat.

Namun secara tiba-tiba Gabriel menghentikan langkah lagi, membuat Hyukjae seketika itu juga ikut berhenti dan membalikkan badan menatap bocah kecil itu. “Ahjushi, apa kau menyukai mom?”

Hyukjae sedikit tersentak saat itu juga, apakah ia masih menyukai Hyeonmi? Apakah perasaannya pada wanita itu masih sama dan tak pernah berubah? Tapi bukankah ia membenci wanita itu karena mengkhianati hubungan mereka? Mana mungkin ia masih menyimpan perasaan itu untuk Hyeonmi?

Tapi tidak, jika memang ia membenci Hyeonmi, bukankah seharusnya ia tak mempedulikan wanita itu. Tapi mengapa saat ini ia bahkan mau menjaga anak dari wanita itu dengan pria yang telah menghancurkan hubungannya dulu?

“Ahjushi, kenapa kau diam?” suara bocah kecil itu seakan menginterupsi Hyukjae yang melamun selama beberapa detik, “Aku sudah lapar, ayo kita makan.” ajak Gabriel kemudian ssambil mulai kembali menarik tangan Hyukjae.

“Gabriel, apa kau mau ke rumah Ahjushi? Ahjushi akan memasakkan makanan untukmu.”

*

“Cahh…”

Hyukjae menyuapkan sepotong daging sapi yang baru saja selesai ia panggang pada Gabriel yang langsung diterima oleh bocah kecil itu dengan membuka lebar-lebar mulutnya.

Sesungguhnya hari ini ia ingin menunjukkan kemampuan memasaknya pada Gabriel tapi bahan makanan yang tersisa di dalam lemari es nya hanya tersisa satu kotak daging sapi ini, selain itu tidak ada lagi. Sejak menjadi seorang CEO di Zeus, pria itu sangat jarang lagi menghabiskan waktunya di dapur untuk bereksperimen dengan berbagai menu masakan, berbeda dengan dulu saat ia masih terdaftar menjadi mahasiswa, ia bahkan sering sekali memasak untuk dia sendiri dan juga Hyeonmi yang saat itu masih berstatuskan sebagai kekasihnya.

“Kau mau sayuran?” tawarnya kemudian.

Gabriel menggeleng yang kemudian membuat Hyukjae tersenyum, “Kau tidak suka sayuran?” tanyanya lagi yang kembali dijawab dengan gelengan kepala oleh Gabriel karena di dalam mulutnya masih terisi penuh makanan, “Nado, aku juga tidak begitu menyukai sayuran.” Kata pria itu kemudian.

Kita mirip, kata Hyukjae dalam hati. Tapi beberapa detik kemudian pria itu kembali menolak gagasannya sebelumnya. Mungkin karena Gabriel masih anak-anak, sehingga ia tidak begitu menyukai sayuran, bukankah semua anak kecil seperti itu?

“Mom, selalu memaksaku makan sayuran, padahal aku tidak suka.” Kata Gabriel dengan suara yang tak begitu jelas karena sambil mengunyah makanan. “Dulu, Dad selalu membantuku memakan sayuran.” Lanjut bocah tersebut.

Dad? Pasti Jongsuk yang dimaksud, tentu saja bukankah pria itu sangat menyukai sayuran? Bahkan ia ingat dulu saat sedang makan bersama dengan Hyeonmi, wanita itu selalu saja membahas selera makannya dengan Jongsuk yang sama-sama menyukai sayuran, berbeda sekali dengan dirinya.

“Ahjushi, di depan sofa sana, aku melihat fotomu bersama seorang wanita, siapa dia?” tanya Gabriel.

Hyukjae sedikit mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat foto apa saja yang ia pasang di rumah bagian depannya. Sojin? Ahh, tentu saja, hanya ada satu foto yang ia pasang di depan, dan itupun Sojin sendiri yang menaruhnya disana, bukan atas inisiatifnya sendiri.

“Dia, tunanganku.”

Gabriel menghentikan aktivitasnya sejenak, dan mulai menatap tak percaya bahwa pria di hadapannya ini ternyata sudah memiliki tunangan, “Eihhh.. kau sudah memiliki tunangan?” tanyanya lagi yang hanya di jawab anggukan oleh Hyukjae, “Kau tidak boleh menyukai Mom kalau begitu.” Kata Gabriel lagi.

Hyukjae kembali menoleh menatap gabriel dan kemudian meletakkan sumpitnya keatas meja. Tangannya bergerak, lagi-lagi mengusap rambut Gabriel dengan penuh kasih sayang, “berarti aku harus memutuskan tunanganku terlebih dahulu kalau ingin memiliki ibumu?” tanya pria itu.

“Mwo?”

“Heish, sudahlah, lupakan.” Potong Hyukjae cepat, sepertinya apa yang baru saja ia katakan tadi benar-benar diluar kendalinya sendiri, sepertinya kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa bisa ia cegah.

“Kau mau bermain sepatu roda? Di ujung jalan sana ada taman kecil, biasanya banyak anak kecil yang bermain sepatu roda disana,” katanya kemudian berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka, “Kita bisa bermain disana sambil menunggu ibumu datang.”

 

**

Hyeonmi masih diam mematung menatap bangunan besar yang ada di depannya. Pandangannya lurus ke depan memandang setiap detil bangunan rumah tersebut dengan seluruh ketidakpercayaan yang memenuhinya.

 

Seoul-ssi, Seodaemun-gu, Yeonhui-dong, 25-27, 109.

 

Kembali gadis itu membaca pesan dari Hyukjae yang mengirimkan alamat rumahnya, dan benar saat ini ia telah berada tepat di depan rumah milik pria itu.

Bangunan ini, benar bangunan ini bukian sebuah bangunan yang asing lagi baginya. Deretan tangga untuk menuju pintu masuk rumah ini, sebuah ayunan kayu yang berada di halaman depannya, dan satu lagi sebuah jendela kaca besar yang tepat menghadap ke arah halaman rumahnya ini benar-benar nyata ada di hadapannya.

Ini adalah wujud dari miniatur rumah yang pernah ia mimpikan saat masih menjalin hubungan dengan pria ini dulu. Rumah yang pernah mejadi sebuah harapan bersama saat mereka masih bersama. Dan kini, pria itu ternyata membuktikan rumah ini, pria itu benar-benar mewujudkan rumah yang pernah ia desain sendiri ini.

“Oh.. MOM !!”

Gadis itu menoleh ke samping kirinya, mendengar suara teriakan Gabriel yang tengah berlari ke arahnya dari jalanan lurus yang ada di depan kawasan kompleks perumahan ini. Di belakangnya, Hyeonmi menemukan Hyukjae yang tengah berjalan mengikuti Gabriel dari belakang dengan pakaian santai, bukan lagi mengenakan jas kantor yang ia gunakan untuk bekerja seperti tadi saat pria itu meminta ijinnya untuk membawa Gabriel.

“Kau sudah datang?” tanya pria tersebut basa-basi.

“Ini rumahmu?” tanya wanita tersebut tak percaya.

Sungguh ini benar-benar diluar bayangan Hyeonmi jika saat ini pria itu telah pindah dari apartemen kecil yang dulu ia tempati ke kompleks perumahan elit seperti ini. bukan, sesungguhnya bukan letak rumahnya yang berada di karasan elit ini yang membuatnya terkejut arena untuk sekelas CEO seperti Hyukjae sekarang rumah di kawasan seperti ini bukanlah sebuah hal yang mustahil, bahkan ini terlalu biasa. Hanya saja, bangunan rumahnya, mengapa pria itu benar-benar mewujudkan rumah yang pernah menjadi impian mereka berdua dulu saat masih menjalin hubungan bersama?

Hyukjae tersenyum, tak mau menanggapi pertanyaan Hyeonmi, “Masuklah!” perintahnya sambil membukakan pintu gerbang rumahnya.

“Mom, aku ingin sepatu roda,” suara Gabriel tiba-tiba konsentrasi Hyeonmi saat itu juga, “diujung jalan sana, ada tempat untuk belajar sepatu roda, aku ingin belajar sepatu roda disana.” lanjut Gabriel sambil menunjukkan jari telunjuknya ke ujung jalan dimana dia tadi baru datang.

Gadis itu menoleh sejenak ke arah tempat yang ditunjuk Gabriel dan kemudian kembali menatap bocah tersebut yang sepertinya cukup bahagia setelah bermain cukup lama bersama dengan Hyukjae. Tapi aneh, melihat kebahagiaan yang tampak dari wajah Gabriel mengapa justru saat ini ia merasakan kekhawatiran?

“Sepertinya lebih baik kami langsung pulang.” Ucap Hyeonmi sambil menarik ujung tangan Gabriel yang hampir saja melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju halaman rumah Hyukjae.

“Hyeonmi-ah,, kau bisa beristirahat sejenak, aku akan membuatkanmu minuman dan nanti kuantarkan kalian pulang ke rumah.” cegah Hyukjae.

Siapapun yang berada bersama mereka saat itu pasti akan dengan cepat dapat menangkap bahwa ada hal yang coba ingin di hindari Hyeonmi, dan Hyukjae dapat merasakannya pula. Wanita itu ingin segera pergi dari tempat ini, entah karena alasan apapun yang belum diketahui oleh pria itu.

“Mom, Ahjushi benar, kita bisa beristirahat sebentar di dalam dan setelah itu dia akan mengantarkan kita pulang, itu lebih baik daripada naik bis kan?” pinta Gabriel.

Wanita itu menoleh kembali, dan menatap wajah meminta yang diperlihatkan Gabriel. Rasa takut itu kembali memenuhinya saat melihat Gabriel yang sepertinya cukup nyaman dekat-dekat dengan Hyukjae. Tidak bisa, ia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi kepadanya untuk yang kedua kalinya, ia tak bisa membiarkan hatinya luluh kembali kepada pria itu, dan yang paling penting saat ini ia tak bisa membiarkan putranya untuk dekat dengan pria itu.

“Ani, aku sudah cukup banyak merepotkanmu hari ini, dan saat ini sudah cukup malam kami harus segera pulang.” Tolak Hyeonmi lagi masih dengan menggenggam erat tangan Gabriel, tak mengijinkan bocah itu melangkahkan kakinya sedikitpun untuk masuk.

Sementara Gabriel hanya bisa diam, tak mampu menyanggah lagi ucapan ibunya. Ini bukan saatnya lagi baginya untuk meminta tetap tinggal disini jika sang ibu sudah mulai menunjukkan wajah seriusnya seperti ini. Setidaknya kini bocah kecil itu sudah cukup bisa membedakan saat dimana sang ibu mulai nampak serius dan kapan ia boleh meminta suatu hal kepada ibunya.

Hyukjae menghembuskan nafasnya berat, memilih untuk mengalah kepada apa yang dikatakan Hyeonmi. Mungkin wanita itu memang takkan sudi untuk menginjakkan kakinya di rumah yang telah ia bangun dengan hasil kerjanya ini sendiri ini. Atau mungkin juga wanita ini memang sengaja menghindari semua hal yang berpotensi mengingatkan kenangan mereka saat masih bersama dulu.

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu lebih,” ucap pria itu pada akhirnya, “tunggu disini sebentar, aku akan mengambilkan tas dan sepatu Gabriel di dalam, sekaligus mengambil kunci mobil untuk mengantarkan kalian pulang.” Lanjutnya.

**

From: Park Sojin

Apa kau tidak ingin pergi berjalan-jalan? Aku sangat bosan.

 

Yesung kembali menutup ponselnya setelah membuka pesan masuk dari Sojin. Biasanya ketika gadis itu mengajaknya untuk keluar bersama seperti ini, ia tak pernah sedikitpun mengeluarkan alasan penolakan. Tapi tidak untuk kali ini.

Gadis itu akan segera menjadi milik orang lain, dan ia tak bisa membiarkan hatinya untuk terus menerus menumbuhkan perasaan itu kepada wanita yang jelas-jelas tak akan pernah ia dapatkan. Setidaknya saat ini ia sudah harus mulai menekan egonya sendiri yang terus menerus ingin berada di dekat Sojin, setidaknya mulai saat ini ia juga harus segera memutuskan untuk berhenti mencintai wanita itu.

Yesung kembali menatap lembaran-lembaran kertas bill yang berada diatas meja kasir, mencoba mengalihkan perhatiannya kepada deretan angka yang tertulis diatas kertas tersebut daripada tetap menghentikan pikirannya kepada Park Sojin.

“Kau mengacuhkan pesanku?” pria itu menoleh dan mendapati Sojin yang telah berdiri tak begitu jauh dari meja kasirnya, “Yak, Kim Jongwoon kenapa kau jadi sombong sekali, hah?” ucap Sojin lagi sambil melangkahkan kakinya mendekat pada Yesung.

Sesampainya di hadapan Yesung, gadis itu segera meraih beberapa lembar brosur yang terpajang di depan meja kasir, menggulung kertas brosur tersbut dan memukulkannya pelan kepada Yesung. Entah mengapa, diacuhkan seperti ini oleh Yesung rasanya begitu menyakitkan untuknya.

Mungkin karena selama ini pria itu tak pernah mengacuhkannya sekalipun, berbeda halnya dengan Eunhyuk yang sudah cukup sering mengacuhkannya hingga membuat gadis itu terbiasa dengan sikap acuh yang selalu ditunjukkan oleh Eunhyuk padanya.

“Waeyo? Kenapa tidak mengajak calon suamimu?” tanya Yesung.

Calon suami? Pria itu tertawa dalam hatinya, bagaimana bisa kata tersebut terucap dari bibirnya, padahal jelas-jelas saat ini hatinya cukup sakit jika harus membayangkan suatu hari nanti wanita ini, wanita yang ia cintai akan bersanding di altar bersama dengan lelaki itu.

“Heishh.. aku sedang malas menghubunginya,” jawab Sojin cepat, “Ayolah, aku ingin pergi bersamamu, aku ingin melihat pesta kembali api oppa.” Lanjut gadis itu sambil mengeluarkan beberapa jurus aegyo-nya yang justru semakin membuat Yesung tak bisa mengendalikan dirinya lagi.

Apakah seorang pria yang mencintai wanitanya memang seperti ini? tak pernah mampu sekalipun untuk menolak seluruh permintaan wanita yang ia cintai? Atau mungkin hanya ia seorang yang seperti ini, yang tak bisa menolak permintaan gadis itu?

Bukankah Eunhyuk juga sama mencintai Sojin, seperti ia mencintai gadis ini? setidaknya hal itu yang sampai saat ini terus coba ia yakini. Untuk apa mereka akan bertahan dalam hubungan hampir enam tahun jika faktanya pria itu tak mencintai gadis ini?

Bukankah setiap manusia itu memang terlahir berbeda? Sama seperti Tuhan menciptakan seluruh ciptaannya dengan keunikan individunya masing-masing? Seperti itu pulalah, Tuhan menciptakan setiap manusia dengan karakternya masing-masing. Mungkin inilah caranya mencintai Sojin, dengan selalu menemani gadis itu setiap kali ia membutuhkannya, berbeda dengan Eunhyuk yang mungkin memiliki cara lain untuk menunjukkan bahwa ia juga mencintai gadis itu.

“Baiklah, tunggu sebentar,” ucap Yesung pada akhirnya menuruti permintaan Sojin.

**

Hyeonmi menolehkan pandangannya ke belakang dan mengarahkan tangan kanannya untuk menyisirkan pelan jari-jarinya di rambut Gabriel. Bocah itu kini telah tertidur pulas di kursi belakang mobil Hyukjae dalam perjalanannya pulang.

“Dia cukup menyenangkan,” kata Hyukjae membuat Hyeonmi memandangnya sedikit heran.

Ia pikir Hyukjae akan marah, atau mungkin akan membenci Gabriel karena statusnya yang tidak lain adalah merupakan anak dari Jongsuk, orang yang mungkin hingga saat ini begitu ia benci. Tapi ternyata tidak, saat tadi pagi pria itu coba memintanya untuk percaya bahwa ia akan menjaga Gabriel dengan baik sesungguhnya ia tak begitu yakin, tapi setelah melihat sendiri bagaimana tadi Gabriel begitu bahagia bersama dengan pria ini pada akhirnya gadis itu percaya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi pagi,” ucap pria itu lagi.

“pertanyaan?” Hyeonmi tampak mengerutkan keningnya sejenak, mencoba mengingat-ingat pertanyaan apa yang sempat diajukan Hyukjae sebelumnya.

“Tentang Jongsuk yang telah pergi meninggalkanmu, mengapa kau seakan menyembunyikan hal itu dariku.” Kata pria itu mencoba mengingatkan Hyeonmi kembali.

Ahh, kali ini wanita itu ingat tentang pertanyaan Hyukjae tadi saat di kolam ikan dekat dengan stasiun tv, pria itu menanyakan tentang alasannya menyembunyikan bahwa suaminya telah tiada.

“Untuk apa aku harus mengatakannya padamu? Bukankah hubungan kita sudah berakhir, ah tidak hubungan kita memang sudah berakhir.” Jawab Hyeonmi, “Dan lagi, bukankah kau akan segera menikah dengan Jaksa Park, kuucapkan selamat untukmu, Hyukjae-ssi.”

Lagi wanita itu coba mengingatkan Eunhyuk dengan menambahkan embel-embel –ssi dibelakang nama pria itu. Meyakinkan bahwa memang saat ini mereka memang sudah tak terikat dalam sebuah hubungan yang sama seperti dulu pernah mereka jalani. Meyakinkan bahwa seluruh kejadian yang terjadi dalam hidupnya saat ini tak perlu lagi ia laorkan kepada pria itu karna memang mereka sudah tak memiliki hubungan apapun.

Sebuah alasan sederhana sebenarnya yang menjadi alasan mengapa Hyeonmi lebih memilih untuk menyembunyikan tentang kepergian Jongsuk dari pria itu. Bahwa ia tak ingin membuka lagi kemungkinan bersama pria itu, bahwa ia tak ingin lagi merasakan sebuah rasa sakit hati yang jauh lebih dalam dari keluarga pria itu.

Lagipula bukankah saat ini Hyukjae telah memiliki seorang calon pendamping yang memiliki karir luar biasa? Seorang jaksa wanita muda yang cukup terkenal di negeri ini? bukankah memang sosok wanita seperti itulah yang diharapkan menjadi seorang menantu di keluarga besar pemilik HaeShin Group itu?

“Kau benar, semuanya sudah berakhir.” Kata pria itu lemah, seperti ditampar berkali-kali ketika gadis itu mengatakan bahwa hubungan mereka telah berakhir rasanya seperti ada sesuatu hal yang sangat menohoknya. Oh ayolah Eunhyuk-ah, untuk apa kau terus menerus mengejar jawaban yang tidak mungkin dari gadis itu, katanya dalam hati.

Bukankah semuanya sudah jelas, ketika dulu wanita ini secara tiba-tiba meminta putus darinya tanpa alasan yang jelas, bukankah saat itu ia sudah cukup menemukan jawaban bahwa sebenarnya gadis itu telah mengkhianatinya?

Lalu untuk apa saat ini ia harus berbaik hati pada wanita ini? ahh tidak, bahkan ia masih sangat yakin bahwa tujuan awalnya sejak kemarin adalah untuk membalaskan dendam rasa sakit hatinya pada Hyeonmi, tapi kenapa justru saat ini ia seakan tak mampu untuk melakukan hal itu. Yang ada saat ini justru ia ingin melindungi gadis itu dan juga Gabriel, anak buah pernikahannya dengan Jongsuk.

“Cukup, aku bisa turun sampai di gang depan,” ucap Hyeonmi seketika membuyarkan lamunan Hyukjae.

Ditatapnya jalanan di depannya saat ini dan sesungguhnya dari gang ini untuk menuju rumah Hyeonmi masih cukup jauh. Terlebih lagi saat ini Gabriel sudah tertidur pulas, itu artinya wanita itu akan menggendong bocah kecil ini sendirian sampai di rumahnya.

Hyukjae menggelengkan kepalanya tak percaya, bahkan dengan tubuh sekurus itu ia tak yakin sama sekali jika Hyeonmi akan mampu bertahan menggendong putranya sampai di tempat tujuan.

Pria itu meminggirkan sejenak mobilnya sebelum kemudian mematikan mesin mobilnya setelah sampai di depan gang yang dimaksud Hyeonmi tadi. Ditatapnya baik-baik Hyeonmi yang saat ini telah keluar dari mobilnya dan membuka pintu kemudi bagian belakang dan coba meraih tubuh Gabriel untuk diangkatnya ke dalam gendongan.

“Aku pulang, terimakasih untuk bantuanmu hari ini,” ucap Hyeonmi sebelum kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari Hyukjae.

Diakui atau tidak saat ini memang sudah cukup banyak perubahan yang ditunjukkan Hyeonmi dari yang terakhir kali ia kenal. Ia bukanlah seorang gadis muda manja seperti dulu yang memiliki cukup banyak aegyo. Tapi saat ini telah telah berubah menjadi seorang ibu dengan satu anak yang memiliki tujuan hidup lebih jelas ke depan, yakni menghidupi anak semata wayangnya dengan seluruh tenaga yang ia miliki.

**

Bunyi suara kembang api yang pecah ke langit dan kerlipan lampu-lampu berwarnanya cukup ampuh membuat Sojin terperangah. Beberapa detik setelahnya ketika kembang api yang lain mulai ikut pecah ke udara, suara teriakan dan sorakan dari pengunjung yang lain mulai ikut pecah seiring dengan kembang api yang mengudara.

Sojin masih memegangi erat telapak tangan sebelah kiri milik Yesung, seakan tak menginjinkan pria itu untuk pergi kemanapun, selain disini, disampingnya, hanya di sampingnya. Tanpa disadari oleh gadis itu, justru kesempatan seperti inilah yang membuat Yesung semakin merasakan cinta padanya, perasaan yang tak seharusnya lagi kini tetap dimilikinya.

Jantungnya masih berdebar, bahkan hanya karena genggaman telapak tangan mereka. Bagaimana bisa setelah ini ia harus membunuh seluruh perasaan cintanya untuk gadis itu?

“Gomapta, Yesung-ah, sudah menemaniku melihat kembang api malam ini.” ucap gadis itu sambil memamerkan senyuman yang tulus dari bibirnya.

Pria itu tak menjawab, hanya saja dengan segera ia menari tubuh Sojin mendekat padanya, mendekap tubuh gadis itu erat dalam pelukannya. Hangat dan menenangkan, sungguh hal itu yang pertama kali ia rasakan dari pelukan ini.

Ya Tuhan, bagaimana caranya untuk membuang perasaan cinta yang sudah begitu lama ia pendam dan tumbuhkan untuk gadis ini?

Untuk beberapa waktu sebelumnya, ia memang masih diperbolehkan untuk mencintai gadis ini. Tapi untuk beberapa waktu ke depan, masihkah ia diijinkan mencintai gadis ini seperti dulu, seperti saat ini? Haruskah ia pergi untuk selamanya dari kehidupan gadis ini? bukankah itu adalah pilihan terbaik, untuk menghormati semua orang termasuk calon suami Sojin.

Tapi bagaimana jika nanti ketika ia telah memilih untuk pergi, dan gadis itu kembali mencarinya karena kelakuan Eunhyuk yang lagi-lagi selalu mengacuhkannya? Bagaimana ia bisa meninggalkan gadis itu dengan tenang nantinya?

“Berjanjilah, kau akan bahagia setelah ini.” ucapnya di sela-sela pelukan tubuh mereka.

“Yak, wae..”

“Ssssttt..”

Belum sempat Sojin melanjutkan kata-katanya, tapi pria itu sudah lebih dahulu menghentikannya. Pria itu kembali mengeratkan pelukan Sojin, seakan tak ingin melepaskan kaitan tubuh mereka untuk selama-lamanya.

Bagaimanapun juga mungkin ini adalah terakhir kalinya untuknya bisa memeluk wanita ini seperti ini, sebelum gadis ini resmi menyandang gelar baru sebagai nyonya Lee, Lee Hyukjae.

**

“Dokter Lee, anda bisa mempercayakan pasien padaku, selamat beristirahat.” Ucap seorang perawat pada Donghae yang baru saja keluar dari ruang perawatan.

“Ne, kau bisa menghubungiku jika terjadi apa-apa dengan pasien di ruangan 105 perawat Min,” jawab pria itu sambil memamerkan senyumannya.

Donghae melangkahkan kakinya menjauh dari area perawatan, dan berjalan menuju ruangannya yang terletak paling ujung dari lorong di lantai tersebut. Sambil melepaskan jas dokternya pria itu mulai melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah cukup malam, dan ia lagi-lagi membatalkan janji yang sudah ia buat dengan Ryeon untuk menemani gadis itu menemui Wedding Organizer mereka.

Pekerjaannya sebagai seorang dokter selalu menuntutnya untuk siap dan sedia ketika ada pasien yang membutuhkannya. Entah sudah berapa kali pria itu membatalkan janji yang ia buat denga Ryeon untuk pasien, sehingga membuat dirinya sendiri merasa begitu bersalah pada gadis itu.

Beruntung Ryeon adalah wanita tersabar yang ia miliki, gadis itu selalu pengertian dan tak pernah menuntut yang lebih padanya. Meskipun tak jarang gadis itu mengomel karena pembatalaan janji mereka, namun pada akhirnya ia selalu sadar bahwa kekasihnya adalah seorang dokter yang sedang di butuhkan oleh banyak orang.

Tinggal satu minggu, bertahanlah Lee Donghae, kata pria itu dalam hati.

Tersisa waktu satu minggu lagi untuk pria itu bergelut dengan pasien, setelah itu ia akan mendapatkan cuti untuk persiapan pernikahannya dengan Ryeon yang akan berlangsung dua minggu lagi. Sementara Ryeon bahkan sudah mengambil cuti sejak dua minggu yang lalu dari pekerjaannya.

Donghae memutar kenop pintu ruang kerjanya, bermaksud ingin segera mengambil tas dan juga kunci mobilnya, meskipun hari ini ia gagal menemani Ryeon menemui WO untuk pernikahan mereka, tapi sepertinya tidak ada salahnya bukan jika ia memberikan kejutan pada gadis itu dengan menjeputnya disana?

Tapi ketika pintu ruangannya terbuka, ia itu terkejut, saat mendapati sosok sahabatnya, Eunhyuk sudah duduk diatas sofa yang ada di dalah satu sisi ruang kerjanya. Melihat pria itu yang terduduk dengan wajah lesu, Donghae bisa menebak bahwa pria itu pasti sedang berusaha menyimpan masalahnya. Dan saat ini Eunhyuk datang menemuinya, tidak lain adalah untuk mencari teman berbincang agar sedikit melonggarkan pikirannya yang tengah di penuhi masalah tersebut.

“Donghae-ah..” kata pria itu pelan

“Waeyo?”

Eunhyuk terlihat menarik nafasnya sejenak, dan mengangkat kepalanya ke atas menatap langit-langit di ruang kerjanya, sebelum kemudian kembali menatap sosok Donghae yang kini tengah berjalan mendekat padanya. Donghae menghempaskan dirinya diatas sofa di samping Eunhyuk dan mulai bersiap mendengarkan segala hal yang akan diceritakan Eunhyuk padanya. Baiklah, sepertinya malam ini ia memang tak diijinkan untuk bertemu atau bahkan memberikan kejutan pada Ryeon karena saat ini Eunhyuk sepertinya memang sedang membutuhkannya.

“Aku bertemu dengan wanita itu lagi.” Kata Eunhyuk singkat.

Satu kata singkat yang diucapkan pria itu tentu saja tak dapat membuat Donghae yang mendengarkannya dapat mengerti dengan cepat. Wanita itu? Donghae kembali memutar otaknya, mencoba untuk mengingat siapa sosok yang dimaksud oleh Eunhyuk saat ini.

Tiba-tiba saja bayangannya tertuju pada satu nama yang sudah cukup lama tak pernah mereka berdua bahas lagi. Satu nama wanita yang pernah menjalin kasih dengan Eunhyuk sebelum pria itu pada akhirnya berhubungan dengan Sojin. Satu nama wanita yang sangat ia yakini sampai saat ini masih menyisakan rasa dendam di hati Eunhyuk.

“Hyeonmi?” tanyanya hati-hati.

Hyukjae mengangguk, sementara Donghae menghempaskan punggungnya menempel pada sandaran sofa. “Waeyo? Apa yang terjadi pada wanita itu?” tanya Donghae kemudian.

“Harusnya aku tak melamar Sojin kemarin, seharusnya aku menerima saja saat wanita itu meminta putus dariku.”

“Mwo? Yak, apa maksudmu?” tanya Donghae semakin tak mengerti, apa hubungannya pria itu bertemu dengan Hyeonmi dengan rencana pernikahannya dengan Sojin, untuk kembali pada Hyeonmi? Bukankah itu tidak mungkin karena yang ia tahu gadis itu meninggalkan Eunhyuk karena menikah dengan lelaki lain.

“Seharusnya aku mencari tahu terlebih dahulu tentang wanita itu, bukannya dengan sengaja memperlihatkan bagaimana aku melamar Sojin di hadapannya.” Jawabnya lagi, “Kau tau Donghae-ah, suaminya sudah meninggal, dan saat ini ia harus bekerja keras untuk menghidupi anaknya.” Lanjutnya.

Bodoh, jika saja kemarin saat pertama kali bertemu dengan Hyeonmi ia bisa mengontrol emosinya, maka saat ini ia tak mungkin merasakan hal yang demikian. Balas dendam? Konyol, saat ini ia bahkan telah tenggelam dalam usaha balas dendam yang ia rencanakan sendiri.

Lalu harus seperti apa kini langkah yang ia ambil? Membatalkan rencana pernikahannya dengan Sojin? Bukankah itu akan menyakitkan untuk wanita itu? tapi ia tak bisa memungkiri bahwa saat ini hatinya masih cukup bergetar saat melihat Hyeonmi. tak hanya itu, jauh di di dalam lubuk hantinya bahkan sangat ingin melindungi gadis itu, ia tak ingin melihat sosok itu bekerja terlalu keras untuk menghidupi buah hatinya sendirian.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan? Membatalkan rencana pernikahanmu dengan Sojin?” tanya Donghae dengan sedikit meninggikan intonasi suaranya.

“Apakah kau tega menyakiti hati wanita itu? Kau tahu, saat ini Sojin bahkan telah meminta bantuan Ryeon untuk menghubungi Wedding Organizer untuk pernikahanmu.” Lanjut Donghae. Pria itu benar, setidaknya saat ini Eunhyuk harus mempertimbangkan perasaan Sojin yang begitu bahagia karena akan segera mengakhiri masa pacaran mereka.

“Lupakan Hyeonmi!” perintahnya, “Bukankah ia sendiri yang memilih untuk melepaskanmu dulu, dan menikah dengan orang lain? Mengapa kau harus membantu wanita yang pernah mengkhianatimu?” lanjutnya.

Lagi, tidakkah semua yang dikatakan Donghae adalah benar? Bukankah Hyeonmi sendiri yang dulu memilih untuk lepas dari Eunhyuk dan menikah dengan pria lain. Lalu jika saat ini wanita itu harus membanting tulang sendirian untuk menghidupi anaknya, bukankah itu adalah resiko dari pilihan yang pernah ia ambil?

 

**

Two weeks later,

Donghae and Ryeon, wedding days..

 

Hyukjae segera menjalankan mobilnya selepasnya ia keluar dari butik dimana ia baru saja melakukan pengukuran untuk baju pengantin yang akan ia kenakan. Pada akhirnya saat ini ia benar-benar memilih untuk menuruti apa yang dikatakan Donghae malam itu, dimana ia harus melupakan Hyeonmi, dimana saat ini ia juga telah memiliki sosok lain di masa depannya yaitu Sojin.

Hampir dua minggu berselang semenjak terakhir kali ia mengantarkan Hyeonmi kembali ke rumahnya, dan hampir dua minggu pula ia masih belum bisa melepaskan pikiran tentang Hyeonmi sepenuhnya.

Benar ia menjalani persiapan pernikahannya dengan Sojin, namun itu hanya fisiknya, berbeda dengan hatinya yang masih belum juga bisa mencintai gadis itu sepenuhnya.

Mungkin benar, dari awal tidak seharusnya ia bermain-main dengan api. Tidak seharusnya karena pengkhianatan Hyeonmi dulu, ia menjadikan Sojin sebagai pelarian dari rasa sakit hatinya. Tidak seharusnya. Dan kini ia harus menanggung seluruh resiko yang telah ia ambil. Gadis itu sudah terlanjur jatuh cinta padanya, dan ia sudah terlanjur meminta gadis itu sebagai pendamping hidupnya.

Ciiiit…..

Pria itu mengerem mobilnya dengan tiba-tiba. Sial, memikirkan semua ini benar-benar membuatnya kehilangan fokus dalam menyetir. Pria itu memukul keras stir mobilnya, bagaimana bisa ia menjadi semengenaskan ini?

Drrrrt… drrrttt….

Kembali ia melirik ke arah ponselnya yang ia letakkan diatas dashboard mobil, dilihatnya baik-baik nama yang tertera di layar ponselnya saat ini, Sojin calling, ia menghembuskan nafasnya berat, lagi-lagi wanita itu yang menghubunginya dan memintanya untuk segera kembali ke butik dan berangkat ke acara resepsi pernikahan Donghae dan Ryeon yang berlangsung hari ini.

Tadi setelah selesai melakukan pengukuran baju pengantin, ia ijin sejenak untuk mencari udara segar diluar sembari menunggu Sojin yang sedang berdandan untuk menghadiri resepsi Donghae dan Ryeon. Setelah selesai ia berjanji untuk kembali dan menjemput gadis itu lagi dab berangkat bersama ke acara tersebut.

Tapi ini baru juga lima menit ia keluar, gadis itu sudah meneleponnya, seakan takut ia tak akan kembali untuk menjemputnya. Terkadang hal seperti inilah yang membuat Hyukjae merasa sebal kepada Sojin yang tak bisa mempercayai setiap perkataannya.

Tangannya bergerak meraih ponsel yang berdering tersebut, namun tak berniat untuk mengangkatnya. Justru kini tangannya bergerak menggeser ikon berwarna merah yang menandakan ia menolak untuk mengangkat telepon dari Sojin.

Kembali pria itu menjalankan mobilnya, menuju sebuah gedung penyiaran dimana saat ini Hyeonmi terdaftar sebagai karyawan disana. Mungkin saat ini gadis itu sedang duduk di pinggiran kolan ikan air mencur yang ada di depan stasiun tv seperti biasanya sambil menyesap satu cup americano yang sangat ia sukai.

Ia hanya ingin memandang gadis itu dari kejauhan, menatap tubuh mungilnya yang sudah tak bisa lagi ia miliki. Hanya memandangnya, tak akan lebih karena ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk benar-benar pergi dari kehidupan wanita itu, seperti apa yang diinginkan Hyeonmi pula.

Tapi pria itu kembali teringat sesuatu hal yang lain, bukankah untuk menuju stasiun tv ia akan melewati sekolah Gabriel? Entah mengapa rasanya ia juga cukup merindukan melihat tawa lepas dari bocah kecil itu. kemudian ia memutuskan untuk menghentikan mobilnya sejenak saat tiba tepat di depan pintu gerbang sekolah Gabriel dan mencoba menatap ke halaman sekolah dimana saat ini beberapa siswa sedang bermain-main di halamannya.

Hyukjae mengedarkan pandangannya, mencari sosok Gabriel diantara murid-murid lain yang sedang asyik bermain. Tapi pria itu masih belum menemukannya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan mencari sosok Gabriel lebih dekat.

“Oh, ahjushi.” Teriak seorang anak laki-laki dari sisi sebelah kanannya.

Hyukjae menoleh ke kanan, dan menemukan Gabriel yang tengah berlari ke arahnya dengan membawa sebuah mainan robot-robotan. Senyuman di wajah Gabriel yang khas seolah mampu membuat pria itu merasakan kelegaan yang begitu nyata atas seluruh masalah yang memenuhi pikirannya saat ini.

“Kenapa kau kesini?” tanya Gabriel lagi.

Hyukjae berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Gabriel lalu mengusap pelan ujung rambut bocah kecil itu yang sedikit berponi. “Sepertinya ahjushi merindukanmu,” jawab pria itu.

Sejujurnya ia sendiri bingung mengapa ia harus merindukan Gabriel? Bukankah darah yang mengalir di dalam tubuh Gabriel adalah darah Lee Jongsuk? Pria yang telah merebut sosok Hyeonmi dari hidupnya. Bukankah seharusnya ia juga membenci bocah ini, karena apa yang dilakukan ayahnya kepadanya dulu membuat seluruh mimpi yang telah susah payah ia bangun menjadi hancur berantakan?

“Heish, kau merindukanku atau merindukan Mom?”

“Mwo?” Hyukjae sedikit terkejut, apakah terlalu kentara jika saat ini ia begitu merindukan Hyeonmi?

“Ahjushi, kau mau kemana?” tanya Gabriel lagi saat melihat pakaian rapi yang dikenakan oleh Hyukjae.

“Ani, aku akan menghadiri pesta pernikahan temanku.”

Biasanya pria ini memang selalu berpakaian rapi karena pekerjaannya yang menjabat sebagai seorang CEO, tapi untuk kali ini tingkat kerapiannya berada satu tingkat lebih tinggi dari biasanya. Bukan karena pekerjaan, tapi lebih tepat karena sesaat lagi ia akan mendatangi resepsi pernikahan Donghae dan juga Ryeon.

Sesaat ia kembali menolehkan pandangannya pada jam tangan yang mengait di pergelangan tangan kirinya, sepertinya ia sudah harus kembali ke salon menjemput Sojin kembali sebelum Jaksa cantik itu semakin marah.

“Baiklah, aku harus segera kembali,” ucapnya lalu kemudian berdiri dan mulai merapikan pakaiannya kembali, namun kemudian kedua matanya kembali menatap wajah polos Gabriel yang masih menatapnya tanpa henti.

Pria itu kembali menunduk, menempatkan wajahnya tepat di depan wajah Gabriel dan mulai tersenyum pada bocah kecil itu. Tangannya bergerak mengelus pelan rambut Gabriel sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan bocah itu.

“Ahjushi, bisakah kau sering-sering menjengukku?”

Hyukjae tersenyum, kemudian mengangguk menyetujui permintaan Gabriel. Sepertinya tanpa harus diminta ia akan semakin sering mengunjungi Gabriel, karena cukup hanya dengan melihat bocah ini ia kerinduannya pada Hyeonmi seakan telah terobati. Menemui Gabriel sepertinya juga lebih aman daripada pergi menemui Hyeonmi yang sudah jelas-jelas akan menolak kehadirannya.

Satu ide kemudian terlintas di pikirannya atas permintaan Gabriel tersebut, pria itu mengambil satu kartu namanya yang ia simpan di dalam dompet dan mengambil sebuah bolpoint hitam yang selalu tersedia di saku jasnya. Dalam kartu nama tersebut sebenarnya sudah cukup jelas tertera nomor ponsel yang ia gunakan, namun pria itu tahu untuk anak seumuran Gabriel jelas belum memiliki ponsel sendiri sehingga ia menuliskan nomor telepon rumahnya di balik kartu nama tersebut.

“Telepon saja, jika kau ingin aku mengunjungimu. Arra?” katanya sambil memberikan kartu nama tersebut pada Gabriel.

“Arraseo.”

*

Donghae’s Wedding

 

“Oh, Eomonim, aboji, kalian sudah datang?” Sojin dengan cepat berjalan mendekat pada kedua orang tua Eunhyuk yang telah datang terlebih dahulu di acara pernikahan Donghae.

Sementara Eunhyuk yang datang bersama dengan Sojin tetap berjalan santai mendekat kearah kedua orang tuanya, tidak seperti Sojin yang terlalu bersemangat.

“Dari mana saja kalian berdua? Kenapa bisa terlambat? Hah?” tanya Jung Deokmin, istri Lee Kangheon yang merupakan ayah dari Hyukjae.

“Jongsohamnida eomonim, kami baru saja selesai melakukan fitting gaun pengantin.” Jawab Sojin.

Gadis itu kemudian meraih tangan ibu Eunhyuk dan mengikatkannya diatara tangannya, membuat suasana akrab kembai diantara mereka seperti biasanya saat mereka saling bertemu seperti ini.

 

Mungkin ini adalah salah satu kesempatan langka ketika seorang presiden Grup Haeshin yang paling besar di Korea ini menghadiri acara pernikahan Donghae dan juga Ryeon. Sejak awal mereka berdua bahkan tak terlalu berharap jika Lee Kangheon akan mau menyempatkan waktunya yang sangat sibuk itu untuk datang.

“Mian aku tak bisa berlama-lama disini, kuucapkan selamat untuk pernikahan kalian berdua,” ucap Lee Kangheon pada Donghae dan juga Ryeon sambil menjabat kedua tangan mempelai.

“Ani, kedatanganmu hari ini bahkan sudah sangat membuatku berterimakasih, tuan Lee.” Kata Donghae.

Di belakangnya, istrinya Jung Deokmin dan juga Sojin mengekor memberikan ucapan selamat kepada Donghae dan Ryeon. Sementara Ryeon dan Donghae tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas kedatangan orang-orang tersebut.

“Apa kau juga akan ikut pergi bersama dengan mereka?” tanya Ryeon saat Sojin berada tepat di hadapannya, gadis itu memegang erat tangan Sojin seakan tak mau membiarkan Sojin pergi begitu saja ketika acara pernikahannya belum selesai sepenuhnya.

Sojin memeluk Ryeon saat itu juga, sambil kemudian berbisik pada gadis itu, “Tentu saja tidak, aku hanya mengantarkan calon mertuaku untuk memberikan ucapan selamat pada kalian,” kata Sojin sebelum kemudian melepaskan pelukannya dan kembali tersenyum pada kedua pasangan tersebut.

Sojin melepaskan jabatan tangannya, lalu kemudian menoleh ke belakang ke deretan tamu undangan, mencari sosok Eunhyuk yang saat ini bahkan telah berkumpul dengan undangan lainnya yang juga memiliki latar belakang bisnis sepertinya.

“Kau lihat, Eunhyuk bahkan masih berkumpul dengan teman-temannya, bagaimana bisa aku pulang tanpa pria itu?” kata Sojin lagi kemudian, “Ahh, dimana Yesung? Sepertinya aku belum melihatnya.” Tanya gadis itu.

Ryeon menoleh ke samping ke tempat dimana kakaknya seharusnya berada, tapi tidak ada. Mungkinkah kakaknya itu sengaja ingin bersembunyi dari Sojin? Entahlah, Ryeon sendiri bahkan tak dapat mengerti bagaimana sesungguhnya jalan pikiran kakaknya. Jika memang ia sakit karena hubungan Sojin dan juga Eunhyuk, mengapa ia harus tampak bahagia di hadapan pasangan ini?

**

Sojin berjalan cepat tanpa mempedulikan berapa orang sudah yang ia tabrak. Sejak tadi ia bahkan sudah mencari sosok ini dan sepertinya pria ini sengaja bersembunyi darinya sehingga ia tak dapat menemukan pria itu.

Awas kau, Yesung-ah, aku takkan membiarkanmu hidup sesaat lagi, ucapnya dalam hati. Saat kedua matanya tadi menangkap sosok Yesung diantara kerumunan tamu undangan Donghae dan Ryeon, Sojin bahkan telah berjanji untuk memukul dengan keras punggung pria itu ketika ia telah sampai di sampingnya, dan benar saja sesaat lagi gadis itu akan dengan segera menepati janjinya.

Tapi, semakin ia mendekat pada sosok Yesung, samar-samar ia mendengarkan pembicaraan yang sedang dilakukan Yesung dengan sosok di hadapannya.

“Kuharap kau akan benar-benar serius pindah ke Ulsan, Jongwoon-ssi.” Kata pria di depan Yesung tersebut, “Asal kau tau, hampir tidak ada pengacara habat yang bekerja secara sukarela disana.” lanjutnya.

Pindah? Sojin menghentikan langkahnya seketika tepat di belakang Yesung. Gadis itu diam, berusaha untuk mencerna kembali dan mengartikan kembali apa yang baru saja dia dengar.

“Aku akan mempertimbangkannya, Ilkook-ssi” jawab Yesung, “tapi kemungkinan besar aku akan menerima penawaran yang kau berikan ini, tuan Song.” Lanjutnya.

Sojin tersenyum kecut, apa-apaan ini? Apakah Yesung berencana untuk mengambil pekerjaan di Ulsan? Itu atinya pria itu akan meninggalkannya sendiri di Seoul?

Yesung mengakhiri pembicaraannya dengan Song Ilkook untuk sementara dan berbalik, berencana untuk kembali ke tempat dimana Ryeon dan Donghae saat ini berada. Tapi pria itu terdiam saat menyadari Sojin kini tengah berada tepat di hadapannya dengan wajah yang sama sekali tak bisa ia gambarkan.

“Katakan bahwa apa yang ku dengar barusan hanyalah sebuah candaan!” kata Sojin.

Entah mengapa, saat ini untuk membayangkan bahwa suatu saat nanti Yesung akan pergi dari kehidupannya saja rasanya sangat menyesakkan.

“Sojin-ah, mianhae.” Ucap pria itu lirih.

Yesung menunduk, tak berani lagi menatap wajah Sojin. Bahkan hanya menatap wajah gadis itu yang tampak sedih seperti inipun ia tak mampu, bagaomana bisa suatu saat nanti ia pergi meninggalkan gadis ini? bisakah gadis ini nantinya bertahan sendirian tanpa dia? Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja di pikirannya.

“Wae? WAE?” sojin mengepalkan jari-jarinya, memukul-mukul tubuh Yesung saat itu juga, meminta pria itu untuk memberikan penjelasan kepadanya.

“Cek..cek..” suara seorang pria dari atas panggung menginterupsi mereka berdua secara tiba-tiba. Sojin dan Yesung menoleh, begitu juga para tamu undangan yang lain mulai berkumpul tepat di depan panggung terlebih para wanita-wanita.

“Baiklah, sepertinya sekarang sudah saatnya untuk pengantin wanita melemparkan bunganya,” kata pria tersebut tadi, “apakah kalian sudah siap?” lanjutnya.

Suara teriakan siap seketka itu juga menggema, membuat Sojin dan juga Yesung mengentikan sesaat perseteruan mereka. Gadis itu menoleh ke sekitar, mungkin dari seluruh tamu undangan yang hadir, hanya ia yang tak begitu antusias dengan kegiatan ini.

Ini benar-benar diluar perkiraannya, tadi saat berangkat ke acara ini bersama dengan Eunhyuk, gadis itu bahkan sangat berantusias dan bahkan sangat ingin mendapatkan bunga yang dilemparkan Ryeon nantinya. Tapi setelah mendengar bahwa Yesung sedang mempertimbangkan untuk pindah, entah mengapa semangatnya yang tadi sebelumnya begitu berapi-api seketika itu juga hilang dan tergantikan dengan emosi.

Banyak orang bilang, bahwa siapa saja yang mendapatkan bunga yang dilemparkan oleh pengantin maka ialah yang akan berikutnya menyusul jejak sang pengantin. Dan Sojin ingin membuktikannya. Bukankah akhir musim gugur ini ia akan menikah juga?

Namun tiba-tiba…

BRUUKK…

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

Dan kemudian suara tepuk tangan dari seluruh undangan menggema, Sojin memperhatikan ke sekelilingnya, seluruh pasang mata saat ini bahkan tengah menatap bahagia ke arahnya.

Gadis itu menunduk, menatap sebuket bunga yang jatuh tepat di tengah-tengah antara dirinya dengan Yesung. Bunga ini benar-benar mengarah kepadanya, sesuai dengan apa yang orang-orang bilang bahwa siapapun yang mendapatkan bunga ini pasti akan segera menyusul jejak pengantin.

Dan benar saja, akhir musim gugur tahun ini ia juga akan menikah..

 

*TBC*

1 Comment (+add yours?)

  1. Shin Ji Ki
    May 16, 2015 @ 21:58:57

    Andweeee.. -_-

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: