The Fear

thefear

Author: kyubumgirl

Title: The Fear

Cast: Kim Rae Ah, Cho Kyuhyun

Rate: PG-17

Genre: Romance

Length: Oneshot

This story is real of mine. Published on my own wp. Sorry for typo^^

Wish you guys enjoy this story J

 

***

Aroma vanilla yang menguar ke seluruh apartemen mewah ini begitu menggoda penciuman seorang Cho Kyuhyun. Laki-laki yang baru saja menyelesaikan mandi paginya tersebut bergegas menuju sumber munculnya aroma tersebut, dapur. Laki-laki itu tersenyum. Sepertinya ia tahu siapa pelakunya.

Senyumnya melebar melihat seorang gadis tengah sibuk menghias sebuah kue. Tebakannya benar. Gadis itu, Kim Rae Ah, pelaku yang telah membuat apartemen mewah milik Cho Kyuhyun dipenuhi oleh arone vanilla kesukaan sang pemilik.

Kyuhyun menyandarkan bahu kirinya pada pinggiran pintu dengan kedua tangan dilipat di depan dada dan kakinya ia silangkan. Terlihat sangat mempesona dengan pakaian yang dikenakannya.

Kemeja biru polos dibiarkan terbuka, menampakkan kaos hitam di dalamnya dengan lengan kemeja yang digelung sampai siku. Celana jeans warna hitam membalut kaki panjangnya. What a perfect guy! Look at his mess hair. Aroma vanilla benar-benar membuat seorang Cho Kyuhyun lupa untuk merapikan rambut hitam kecoklatannya. I swear, he’s so fuckin’ perfect with that mess’ hair.

Merasa diawasi, Kim Rae Ah mendongakkan wajahnya dan sedikit terkejut melihat Kyuhyun berada di pintu dapur. Ia menatap Kyuhyun tanpa berkedip. Terpesona oleh ketampanannya, nona Kim?

Kim Rae Ah mengerjap. Ia tersenyum simpul dan kembali memberikan perhatian penuh pada kue yang dibuatnya. Jantungnya bertalu dengan cepat. Ia sibuk menenangkan jantungnya.

Ya Tuhan, jantungnya masih belum tenang akibat melihat wajah mempesona Kyuhyun dan sekarang parfum khas laki-laki itu mendekat, menghampiri indera penciumannya. Aroma yang memabukkan yang bahkan mampu menghilangkan kesadarannya. Oh, ayolah. Ini sudah tahun ketiga. Harusnya kau sudah terbiasa dengan laki-laki ini. Ugh, kurang sedikit saja pesona Cho Kyuhyun ini Tuhan.

Untuk hal ini ia merasa Tuhan sangat tidak adil. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan laki-laki sesempurna Cho Kyuhyun? Laki-laki yang dengan hanya melihatnya dari jauh saja sudah melumpuhkan saraf-saraf diotaknya. Cho Kyuhyun dengan segala pesona yang dimilikinya memang sangat memabukan.

“Kenapa tidak mengabariku kalau kau akan pulang, sayang?” Rae Ah terperanjat kaget saat suara Kyuhyun menyapa gendang telinganya, begitu dekat. Kedua tangan kekar milik Kyuhyun yang melingkari perutnya membuat gadis itu salah tingkah. Rae Ah mencoba menahan ekspresinya agar tidak terlihat gugup.

“Kau sedang sibuk. Aku tidak ingin mengganggumu,” jawab gadis itu seraya berusaha keras menahan debaran di dadanya.
“Aku kan sudah bilang, kau harus memberitahu diriku apapun tentang dirimu. Mengerti?” Rae Ah menghela napasnya pelan. Sikap Kyuhyun yang seperti ini justru membuatnya risih. Kyuhyun memperlakukan dirinya seolah ia adalah gadis lemah dan manja.

Well, Rae Ah tahu Kyuhyun hanya khawatir tapi tetap saja. Hal itu membuatnya kurang nyaman. Memang, awalnya Kyuhyun tidak terlalu merasa khawatir seperti ini. Namun, peristiwa yang menimpa Rae Ah setahun lalu menjadikan Kyuhyun terlalu mengkhawatirkan gadis itu. Gadis yang sudah menjadi kekasihnya sejak tiga tahun lalu.

“Aku juga sudah bilang kalau aku tidak ingin kau terlalu mengkhawatirkanku-”
“Kau tahu alasannya. Kumohon,” Rae Ah memejamkan mata, menghela napas lalu berbalik agar berhadapan dengan Kyuhyun.

Jari-jari lentik gadis itu merengkuh kedua sisi wajah Kyuhyun, tersenyum simpul menjadikannya berkali-kali lipat lebih cantik di mata Kyuhyun. Mempertipis jarak di antara keduanya, Kim Rae Ah mengecup kilat bibir Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum lalu kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Rae Ah. Cukup lama hingga Kyuhyun melepasnya. Kedua mata mereka saling bertemu dengan senyuman yang tidak pernah pupus dari wajah masing-masing, seakan mereka sedang melakukan telepati untuk menyampaikan perasaannya.

“Maafkan aku. Tidak akan kuulangi,” ucap Rae Ah. Kyuhyun memegang tangan Rae Ah yang menangkup wajahnya, menutup mata untuk merasakan betapa lembut dan hangatnya sentuhan tersebut.

“Aku tidak akan bisa hidup lagi jika peristiwa itu kembali terjadi. Aku,”
Happy birthday, Kyuhyun” potong Rae Ah cepat tanpa ingin mendengar lanjutan dari kalimat yang akan disampaikan oleh Kyuhyun. Kalimat yang cukup sering ia dengar selama setahun ini. Kalimat yang selalu dilontarkan Kyuhyun setiap kali ia akan meliput berita di luar negeri atau luar kota.

Kyuhyun membuka mata ketika tangan Rae Ah tidak lagi menangkup wajah tampannya. Kini ia dapat melihat kue dengan lilin berangka 28 di hadapannya. Ia tersenyum, mengerti akan sikap gadisnya yang menghindari perbincangan yang -mungkin mengerikan. Diusapnya pelan puncak kepala gadis yang sudah menjungkir-balikkan kehidupannya itu.

Let’s make a wish!” Ucap Rae Ah antusias. Kyuhyun memejamkan mata seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Rae Ah ikut memejamkan mata, bersama Kyuhyun merapalkan doa untuk kehidupan di masa depan.

Lindungi Rae Ah di manapun dan kapanpun. Jangan pernah pisahkan kami. -Kyuhyun

Lindungi Kyuhyun. Izinkan kami bersama selalu, Tuhan. Aku sangat mencintainya. –Rae Ah

Keinginan yang sangat sederhana. Dua orang yang saling mencintai melantunkan doa dalam hati masing-masing. Doa untuk selalu bersama. Hanya itu yang mereka inginkan.

“Sekarang tiup lilinya,” Rae Ah mengerjapkan matanya yang terkena kepulan asap dari lilin yang Kyuhyun tiup. Melihat hal tersebut membuat Kyuhyun langsung panik.

Dengan gerakan refleks ia mengambil kue dari tangan Rae Ah dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu ia meraih wajah Rae Ah lalu meniup kedua mata gadis itu. “Tidak apa-apa? Maafkan aku,” tanya Kyuhyun panik.

Rae Ah membuka matanya yang sedikit berair karena perih. Ia tersenyum untuk menenangkan Kyuhyun. “Aku tidak apa-apa. Jangan berlebihan, Kyuhyun!” Jawabnya. Kyuhyun menarik napas lega.

Kim Rae Ah menutup matanya saat wajah Kyuhyun mendekat dan ia dapat merasakan bibir tebal milik laki-laki itu mengecup kedua matanya secara bergantian. Hatinya menghangat. Ia selalu merasa hangat setiap kali Kyuhyun memperhatikannya meskipun terkadang ia kesal karena terlalu berlebihan.

“Aku sangat mencintaimu, Kim Rae Ah.” Rae Ah membalas pelukan Kyuhyun. Laki-laki itu memang memeluknya setelah berhasil membuat pipi gadis itu merona karena perlakuannya.
“Aku tahu,” jawab gadis itu. Kyuhyun melepas pelukanya, menatap tajam Rae Ah yang menyunggingkan smirk yang mirip dengan milik Kyuhyun. Gadis itu menirunya.
“Aku juga mencintaimu,” ucap Rae Ah cepat seraya mengecup lembut bibir Kyuhyun sebelum laki-laki itu merajuk. Kyuhyun merapatkan jarak di antara tubuhnya dengan Rae Ah, memagut mesra bibir mungil gadis cantik yang sangat ia cintai, menyampaikan menyampaikan melalui ciuman itu betapa Kyuhyun sangat mencintainya.

©©©

So, mind to tell me how’s ‘your Bayern München’?” Tanya Kyuhyun membuka perbincangan di antara keduanya. Saat ini, ia dan Rae Ah tengah berbaring, berhadapan di atas kasur Kyuhyun. Rae Ah menggunakan tangan kekar Kyuhyun sebagai bantal.

Kyuhyun lebih senang menyebut kepergian Rae Ah ke luar negeri sebagai perjalanan biasa daripada perjalanan tugas gadis itu sebagai seorang wartawan di sebuah media cetak. Perusahaan media yang merupakan anak perusahaan dari CH Group. Sebuah perusahaan besar yang dipimpin olehnya, oleh Kyuhyun.

Entahlah. Sejak peristiwa itu, Kyuhyun sebenarnya ingin agar Rae Ah berhenti menjadi seorang wartawan. Namun menjadi wartawan adalah impian gadia itu sejak kecil. Kyuhyun tidak bisa melarangnya.

Waktu itu, setahun lalu, Rae Ah menjalankan tugasnya sebagai wartawan untuk meliput peperangan antara Israel dan Palestina. Kyuhyun sudah menolak keras ketika Rae Ah menyampaikan hal tersebut tapi Kyuhyun selalu tidak bisa menolak keinginan gadis itu. Pada akhirnya Kyuhyun mengizinkan dengan syarat Rae Ah harua pergi bersama orang-orang kepercayaan Kyuhyun. Maka terjadilah peristiwa itu. Bahu gadis itu tertembak oleh salah satu tentara Israel saat mengambil gambar.

“Semua tugas yang aku lakukan selalu memberi kesan tersendiri. Perjalananku kemarin baik-baik saja. Meskipun ya, ada sedikit kendala saat aku sedang meliput kegiatan para pemain München,” jawab Rae Ah santai. Tangannya mengelus pelan dada bidang Kyuhyun.

“Benarkah? Kendala seperti apa?” Tanya Kyuhyun. Meskipun ia tidak suka dengan pekerjaan gadisnya, tapi Kyuhyun selalu antusias mendengar ceritanya.
“Aku sulit konsentrasi pada pekerjaanku karena dikelilingi pemain bola hebat seperti mereka. Mereka selalu tersenyum. Astaga, melihat pemain bola tersenyum langsung di hadapanku sangat membuat konsentrasiku buyar. Kau tahu, kan, pemain bola hanya tersenyum di lapangan jika mereka menang saja. Aku terkesan bisa bertemu langsung dengan para pemain dari tim terhebat yang dimiliki Jerman itu,” Rae Ah tersenyum miring mendapati Kyuhyun tidak merespon ceritanya.

Nafas laki-laki itu terdengar memburu. Sudah dapat dipastikan. Cho Kyuhyun sedang cemburu. Well, memang itu tujuannya.

“Kenapa diam?”
“Mana kadoku?” Rae Ah bersorak dalam hati. Laki-laki ini memang cemburu. Hah. Memangnya kapan seorang Cho Kyuhyun tidak pernah cemburu padamu, Kim Rae Ah?

“Kado? Benar. Sebentar, aku akan mengambilnya.” Kyuhyun mendengus melihat gadisnya langsung beranjak. Tidak sadarkah gadis itu kalau ia sedang cemburu? Bisa-bisanya Kim Rae Ah menceritakan laki-laki lain di hadapannya dengan nada riang seperti itu. Kyuhyun cemburu, memang. Apalagi mengingat pemain bola adalah tipe gadis itu dan Kyuhyun sama sekali tidak pandai dalam permainan yang sangat digandrungi oleh hampir seluruh masyarakat di dunia tersebut.

Kyuhyun menatap malas benda yang disodorkan Rae Ah. Dengan wajah kesal Kyuhyun mengambil benda itu. Sebuah kotak segi empat berwarna biru dengan pita warna oranye sebagai hiasan. Dalam hati Kyuhyun tersenyum melihat perpaduan warna tersebut. Sangat cocok. Warna biru melambangkan dirinya dan oranye adalah Kim Rae Ah. Sangat cocok, bukan?

Dahinya mengerut melihat sebuah novel ada di dalamnya. Kyuhyun meneliti novel tersebut dengan seksama. Sebuah novel berjudul Beautiful Journalist and The C.E.O yang dikarang oleh Kim Rae Ah. Kim Rae Ah?!

Kyuhyun mengubah posisisinya menjadi duduk, menatap Rae Ah dengan ekspresi kau-yang-menulis-ini?

Rae Ah tersenyum. “Novel itu terbit hari ini dan akan launching nanti malam. Kau datang, ya?” Kyuhyun tersenyum lalu mengangguk. Kekesalannya seolah menguap entah kemana. Ia bangga karena pada akhirnya Kim Rae Ah menulis sebuah novel.

“Kadonya berharga sekali. Terima kasih dan selamat,” Kyuhyun menarik Rae Ah ke dalam dekapan hangatnya. Sungguh, Kyuhyun bangga bisa memiliki Kim Rae Ah.

“Kau akan datang, kan?” Tanya Rae Ah sekali lagi.
“Tentu saja,” Rae Ah mengeratkan pelukannya sebagai ucapan terima kasih atas kesediaan Kyuhyun menghadiri acaranya.

“Ah, satu lagi. Ini,” Kyuhyun lagi-lagi memasang wajah bingung ketika Rae Ah menyodorkan sebuah benda padanya. Kali ini sebuah amplop berwarna coklat. Kyuhyun mengambilnya lalu membuka amplop itu.

Matanya membulat seketika. Ditatapnya Rae Ah dan kertas yang ada dalam amplop tersebut secara bergantian. Kertas tersebut merupakan surat mutasi. Kim Rae Ah dialih-tugaskan dari wartawan CH News menjadi sekretaris pribadi CEO CH Group, Cho Kyuhyun.

“Aku tidak ingin membuatmu khawatir lagi. Untuk itu aku memutuskan berhenti menjadi wartawan dan Jerman menjadi tugas terakhirku. Aku juga tidak mungkin menganggur makanya aku melamar menjadi sekretaris pribadimu,” Rae Ah menggigit bibir bawahnya, takut Kyuhyun marah. Apalagi melihat laki-laki iti hanya diam dengan menatap datar dirinya. Apalah keputusannya salah?

“Aku memasang persyaratan yang sangat ketat untuk melamar menjadi sekretarisku. Dia harus lulusan yang memang bidangnya dan setahuku kau lulusan Sastra Inggris. Bagaimana bisa kau diterima?” Selidik Kyuhyun.
“Pemilik perusahaan itu adalah calon mertuaku. Tentu saja aku meminta bantuannya,” jawab Rae Ah santai. Kyuhyun terbelalak. Hei, itu perbuatan tidak terpuji!
Are you crazy? That’s illegal,” sergah Kyuhyun. Well, Kyuhyun sebenarnya tidak masalah. Ia justru sangat senang gadis itu akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi wartawan. Ia hanya ingin menggoda gadisnya. Ya, anggap saja sebagai pembalasan dendam karena gadis itu telah membuatnya cemburu. How childish.

Kyuhyun, kau tidak senang aku menjadi sekretaris pribadimu?” Gadis itu cemberut. Berdiri lalu melipat tangannya di depan dada, menatap kesal Kyuhyun yang sedang menahan mati-matian agar tawa tidak pecah melihat tingkah menggemaskannya.

“Kau dan ayah sudah berbuat curang,” jawab Kyuhyun datar. Rae Ah menghentakkan kakinya lalu berjalan ke arah balkon, meninggalkan Kyuhyun yang menyunggingkan smirk andalannya.

Kyuhyun tertawa pelan melihat punggung Rae Ah yang berdiri di balkon. Ia kemudian memutuskan untuk menyusul gadisnya itu.

Dipeluknya Rae Ah dari belakang, meletakkan dagunya di bahu kanan gadis itu. Tidak ada respon. Kemudian hening tercipta.

Tiba-tiba saja ia teringat bahwa bahu yang menjadi sandaran dagunya ini adalah bahu yang waktu itu tertembak. Bayangan bagaimana tubuh Rae Ah mengeluarkan banyak darah membuat Kyuhyun meneteskan air matanya.

Dikecupnya bahu itu dengan penuh perasaan. Sejujurnya ia masih dihantui rasa bersalah pada gadis ini. Seandainya ia tidak mengizinkan Kim Rae Ah pergi ke Gaza. Air mata semakin deras membasahi pipinya dan sebagian mengenai bahu gadis itu. Bahu itu memang tidak memiliki bekas jahitan atau luka apapun karena ia dan Kim Tae Jun, ayah Rae Ah, memutuskan untuk mengoperasi bekas itu agar tidak terlihat. Tenti saja butuh perjuangan keras bagi mereka agar Rae Ah mau melakukannya. Tidak ada maksud lain. Kedua laki-laki yang sangat menyayangi Rae Ah itu hanya tidak ingin membuat anak gadisnya minder.

Rae Ah membalikkan badannya saat ia merasa sesuatu yang basah menyapa bahunya. Ia terkejut melihat Kyuhyun menangis. Diusapnya wajah laki-laki itu seraya menggelengkan kepala. “Kenapa menangis?”

Kyuhyun menggenggam tangan Rae Ah lalu mengecupnya. “Aku hanya senang karena akhirnya kau memutuskan untuk berhenti. Kau tahu? Sejak kejadian itu aku tidak pernah bisa tidur nyenyak setiap kali kau bertugas ke luar negeri. Aku takut anggota tubuhmu yang lain akan terluka seperti bahumu ini,” Rae Ah menyentuhkan pipinya pada tangan Kyuhyun yang bertengger di bahu kanannya.

“Sejak awal aku sudah tahu resiko menjadi wartawan. Kejadian setahun lalu adalah pengalaman berharga bagiku, sebagai seorang wartawan. Aku minta maaf karena selalu membuatmu khawatir,” menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Kyuhyun, memejamkan mata, bersyukur dalam hati kepada Tuhan karena telah mengirimkan laki-laki sebaik Kyuhyun.

“Ngomong-ngomong, aku senang dengan keputusanmu. Terima kasih,” Rae Ah mengangguk sebagai jawaban. Kyuhyun mencium puncak kepala gadisnya, menyampaikan betapa cinta yang ia miliki tidak akan pernah berujung.

“Aku rasa, Swiss tidak buruk sebagai ucapan terima kasih.” Kyuhyun menghela napas. See? Di dunia ini memang tidak ada yang gratis.
“Baiklah. Bulan depan aturkan saja jadwalnya,” putus Kyuhyun -pasrah. Memangnya Kyuhyun bisa menolak setiap keinginan Rae Ah? Oh, tunggu saja sampai Tuhan mencabut hak paten atas rasa cinta Kyuhyun untuk Rae Ah.

Rae Ah menyeringai. “Sayangnya aku sudah mengatur keberangkatan kita ke Swiss. Besok,” ucap Rae Ah sembari mengalungkan tangannya di leher Kyuhyun. Mata Kyuhyun membola.

Are  you kidding me?! Hey,i have so many schedule” protes Kyuhyun. Rae Ah memutar bola matanya malas. CEO payah, pikirnya.
Hey, mister! Lusa memang jadwalmu untuk pergi ke Swiss, bertemu dengan klien. Untuk itu aku mengaturnya agar kita bisa sekaligus liburan. Get it?” Kyuhyun mengangguk puas.

Kim Rae Ah menjadi asisten pribadinya. Itu berarti, gadis itu akan berada bersamanya. Mereka akan selalu melangkah bersama-sama. Tanpa rasa khawatir karena Kyuhyun akan bertaruh dengan nyawanya untuk melindungi gadis ini.

“Berarti, kita akan berbulan madu lebih awal, nona Kim?” Gosa kyuhyun. Rae Ah mendecak.
“Dalam mimpimu,”
“Wae? Bukankah kita akan menikah nantinya?”

Rae Ah mendorong Kyuhyun, berjalan menjauh. Kyuhyun terkikik karena berhasil menggoda gadisnya -lagi.

Di ambang pintu, Rae Ah berbalik, menatap Kyuhyun penuh arti. “Kalau begitu, segera nikahi aku agar kita bisa pergi untul bulan madu,” rona merah itu kembali muncul di pipinya yang putih. Buru-buru gadis itu berlalu dari hadapan Kyuhyun untuk menyembunyikan rasa malunya.

Kyuhyun hampir melonjak kegirangan karena ucapan Rae Ah. Bukankah gadisnya tengah memberi isyarat bahwa ia ingin segera dilamar.  Ya Tuhan, dengan senang hati akan ia lakukan secepatnya.

“Nanti malan aku akan ke rumahmu, bersama ayah dan ibu. Berdandan yang cantik ya?!”

THE END

Mind to review?

Ah, ff ini buat ulang tahun Kyuhyun sebenernya. Terus males bikin cover jadi yaaa. Hhaa

Thank’s for coming!

6 Comments (+add yours?)

  1. Oh Wu Sparkling
    Apr 11, 2015 @ 12:53:12

    ouhh so sweet ^-^

    Reply

  2. Monika sbr
    Apr 11, 2015 @ 17:05:16

    Ahhhh….. So sweet!!!
    Kyu sayang banget rae ah…
    Bikin iri!!!

    Reply

  3. choalfi
    Apr 11, 2015 @ 22:04:07

    Sukaaa.. kyuhyun protektif banget ya. Kadang emang rasanya terkekang, tp kadang juga bikin kita tau kalo dia sayang bgt sama kita

    Reply

  4. idealqueen
    Apr 12, 2015 @ 00:21:29

    Satu kata aja: manisss! 😘😘😘😘😘

    Reply

  5. ichul
    Apr 13, 2015 @ 07:05:13

    Sukaaaa bgt sama ceritanya…
    Manis kaya gula, simple tapi seru ^^

    Reply

  6. Park HaeMin
    Apr 21, 2015 @ 16:41:07

    Aigoo… sweet banget, tumben kyu bisa sweet kyk gtu… jadi iri..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: