SECRET [5/?]

SECRET [Part 5]

Author: Shin Hyeonmi

Lee Hyukjae | Shin Hyeonmi | Gabriel | Park Sojin | Kim Jongwoon

Chapter | PG-17 | Romance

Rating: General

Tag: Lee Hyukjae, , Eunhyuk, Yesung, Kim Jongwoon, Kim Jong Woon, Super Junior, Superjunior

 

Note: I just hope readers will like this. Thanks for reading it (: And, I’ve published this before on my personal blog ( http://eunhaewife.wordpress.com/ ) Visit me if you have times^^ Happy reading^^

 

 

Sojin berdiri dari kursi dengan tubuh yang masih menghadap ke depan cermin meja riasnya. Tangannya bergerak melepaskan bando yang ia gunakan saat sedang membersihkan make up, lalu kemudian melepaskan ikatan rambutnya sebelum kemudian gadis itu melangkahkan kakinya ke tempat tidur.

Dipasangkannya masker penutup mata yang selalu ia gunakan ketika tidur itu keatas dahinya, sebelum kemudian ia kembali meraih barangnya yang lain yakni ponsel yang sebelumnya ia letakkan diatas meja samping tempat tidur.

Tangannya bergerak diatas layar ponselnya berniat untuk menghubungi Yesung, namun seketika ia teringat untuk lebih dahulu menghubungi Eunhyuk yang sudah mengantarkannya pulang hari ini.

“Kau sudah sampai?” tanya gadis itu ketika pria itu mengangkat teleponnya,

Entah seperti apa perasaannya malam ini, sepertinya ia sendiri juga tak terlalu ingin mengobrol banyak dengan pria ini. Ia hanya ingin memastikan pria itu telah sampai di rumah setelah mengantarkannya pulang dari acara pernikahan Donghae dan juga Ryeon hari ini.

“Baiklah, cepatlah istirahat. Aku juga akan beristirahat.” Jawab gadis itu sebelum kemudian menutup teleponnya.

Sojin masih menatap layar ponselnya setelah itu, berpikir untuk segera menghubungi Yesung, namun akankah ia dapat mengontrol emosinya jika malam ini ia berbicara pada pria itu?

Yesung adalah sosok yang paling dekat dengannya semenjak ia mulai memasuki bangku kuliah hingga sekarang. Pria itu pula yang selama ini selalu menjadi sandarannya setiap kali masalah demi masalah datang menghampirinya. Sosok tersebut adalah sosok terbaik yang selalu mengerti semua hal tentang dirinya, bahkan terkadang ia berpikir tentang masa depannya, maka sesungguhnya akan lebih baik jika pria itu yang menjadi pendamping hidupnya.

Tok..tok..tok..

Sojin memalingkan wajahnya kearah pintu kamarnya yang diketuk dari luar. Sesaat gadis itu menaruh kembali ponselnya keatas meja dan kemudian berjalan membukakan pintu.

“Oh, eomma?” kata gadis itu saat pintu terbuka dan memperlihatkan sosok ibunya di depan pintu.

Sojin berjalan kembali ke ranjangnya, membiarkan ibunya masuk dan mengikuti langkahnya kemudian. Tangannya bergerak mengambil sebuket bunga yang ia dapatkan saat di acara pernikahan Donghae dan juga Ryeon tadi, menunjukkan bunga itu pada sang ibu sambil tersenyum.

“Cantiknya..” puji sang ibu sambil tangannya bergerak mengelus bunga yan diperoleh Sojin, “Berarti benar sebentar lagi kau akan segera menikah, mengikuti jejak Ryeon dan Donghae.” Lanjutnya.

“Tentu saja, bahkan persiapan pernikahanku sudah mulai dilakukan, bagaimana bisa aku tidak jadi menikah?”

Wanita paruh baya itu kemudian menatap Sojin dan mulai mengelus puncak kepala anak gadisnya sambil menyunggingkan senyum. Senyuman ini, senyuman yang selalu menguatkan untuk Sojin, senyuman tulus dari seorang ibu untuk sang anak.

Lahir dari keluarga yang cukup terpandang dan memiliki pengaruh di Korea, Park Sojin tumbuh dan besar dalam lingkungan yang sangat mengenal tentang hukum. Ayahnya adalah seorang hakim agung, sementara ibunya adalan seorang mantan pengacara. Semenjak menikah dengan ayahnya, ibunya mulai berhenti dari pekerjaannya kala itu dan memilih untuk fokus pada keluarga.

“Apakah acara makan malam besok lusa jadi?” tanya sang ibu kemudian.

Sojin mengernyitkan dahinya, hampir saja ia terlupa bahwa lusa ia dan keluarganya memiliki janji untuk makan malam bersama dengan keluarga Eunhyuk, membahas mengenai pernikahan mereka berdua. Selain itu ini juga moment untuk merekatkan hubungan antara dua buah keluarga mereka yang sama-sama sibuk.

“Tadi aku bertemu dengan orang tua Eunhyuk, tapi aku lupa untuk menanyakan tentang acara itu,” kata gadis itu sedikit menyesal, “Ahh, akan ku tanyakan pada Eunhyuk setelah ini nanti, ne?”

“Baiklah, eomma hanya ingin memastikan acara itu jangan sampai batal,” kata ibunya lagi, “Appa-mu sudah susah payah meluangkan waktunya untuk acara tersebut,” lanjutnya.

Sojin mengangguk, dan sedikit merasa bersalah pada ayah dan ibunya atas insiden beberapa hari yang lalu. Dimana pada saat itu ayah dan ibunya telah meluangkan waktunya untuk acara makan malam dengan keluarga Eunhyuk, namun acara tersehbut tiba-tiba saja dibatalkan karena kesibukan yag dijalani presiden direktur Grup Haeshin tersebut.

“Baiklah, segera tidur, kau ada persidangan besok kan?” tanya sang ibu yang dijawab anggukan lagi oleh Sojin. Wanita itu bangkit dari duduknya dan meninggalkan kamar Sojin. Membiarkan anak gadisnya agar segera tidur saat itu juga karena keesokan harinya ia harus kembali menjalani tugasnya sebagai seorang Jaksa.

Setelah memastikan sang ibu keluar dari ruangan kamarnya, Sojin masih menatap bunga yang ada dalam genggamannya. Rangkaian bunga yang begitu cantik, sama seperti filosofinya yang juga tak kalah cantik tentang sebuah pernikahan. Bagaimana bisa bunga ini tadi benar-benar terlempar ke arahnya, padahal sudah jelas-jelas tadi ia berada di deretan tamu undangan paling belakang, dan ia bahkan tak begitu mempedulikan acara pelemparan bunga ini tadi karena sedang berselisih pendapat dengan Yesung.

Ahh, teringat tentang Yesung lagi, gadis itu segera mengambil ponselnya lagi dan menghubungi pria itu. Rasanya saat ini ia benar-benar ingin meyakinkan agar pria itu tidak pindah kemanapun, cukup disini, di Seoul, dan di sampingnya agar ia tak merasakan kesepian.

**

Hyukjae melemparkan ponselnya ke atas sofa dan mulai melonggarkan ikatan dasi yang ada di kerah bajunya. Perlahan pria itu mulai membuka kancing bajunya satu per satu dan segera melepaskan hem yang melekat pada tubuhnya dan menggantinya dengan sebuah kaos tidur biasa.

Tumben sekali malam ini Sojin tak berbicara terlalu banyak seperti biasanya, pikirnya dalam hati.

Mungkinkah karena Yesung hyung?

Sesaat ia teringat pada kejadian yang tadi ia lihat dengan kedua matanya sendiri, saat-saat sebelum Ryeon melemparkan bunganya ke arah tamu undangan. Pria itu jelas-jelas melihat ada sedikit pertengkaran antara Sojin dengan Yesung.

Dan lagi tatapan yang diperlihatkan Yesung pada Sojin sangat terlihat berbeda malam ini. Sedikit besar, tatapan itu mengingatkannya pada tatapan seseorang beberapa tahun silam yang samar-sama sudah hampir ia lupakan.

Tatapan dari Jongsuk pada Hyeonmi? Mungkinkah itu adalah tatapan yang sama seperti yang ditunjukkan Jongsuk pada Hyeonmi dulu? Apakah itu artinya Yesung hyung juga memiliki rasa pada Sojin, seperti dulu Jongsuk yang nyatanya memang memiliki perasaan cinta kepada Hyeonmi.

Tidak. Pria itu menggeleng. Ini tidak bisa disamakan, bagaimana mungkin ia menyamakan Yesung hyung dengan orang yang paling ia benci? Mereka berbeda, pria itu yakin mereka berbeda. Yesung hyung tidak mungkin menyukai Sojin, karena jika hal itu memang benar bagaimana bisa yesung hyung bertahan selama sembilan tahun hubungannya dengan Sojin.

Drrrt… drrtt…

Hyukjae menoleh sejenak ke arah telepon rumahnya yang berdering. Mungkin sekertaris pribadinya di kantor yang menelepon, karena biasanya pada jam-jam seperti ini ia akan melaporkan kegiatan di perusahaan dan juga jadwal yang harus ia lalui besok.

“Yoboseyo?”

Ahjushi

Hyukjae diam sejenak mencoba mengingat-ingat siapa pemilik suara ini. Ini bukan suara sekertarisnya, tapi lebih mirip seperti suara seorang anak kecil.

“Gabriel?” tanyanya hati-hati takut jika ternyata tebakannya salah, “Kau benar-benar meneleponku?” tanyanya lagi.

Kau yang memintaku untuk meneleponmu kan?

Hyukjae tertawa kemudian, benar juga tadi siang dia sendiri yang mengatakan agar Gabriel meneleponnya. Tapi ia sama sekali tak menyangka jika bocah itu aka secepat ini meneleponnya,

Kau sedang apa?

“Aku? Aku baru saja pulang dari pesta pernikahan temanku.” Jawabnya, “Kau sendiri?” tanyanya kemudian.

Aku baru saja makan, Mom belum pulang dan Haelmoni sedang mandi, jadi aku meneleponmu. Jawab Gabriel kemudian, Apa Mom boleh tau kalau aku meneleponmu?

Pria itu diam sejenak, mencoba memikirkan kemungkinan apabila Hyeonmi mengetahui bahwa ia menghubungi Gabriel dan bahkan meminta bocah kecil itu untuk meneleponnya. Bisa saja wanita itu akan marah dan tak mengijinkan Gabriel untuk menghubunginya lagi bukan? Bukankah selama ini Hyeonmi selalu menjaga jarak dengannya, dan Hyukjae yakin pasti wanita itu juga berusaha agar Gabriel tak begitu dekat dengannya.

Tapi entah mengapa hati kecilnya seolah tak bisa menerima begitu saja apa yang diinginkan Hyeonmi. Seharusnya ia juga tak perlu mendekati Gabriel karena bocah itu merupakan darah daging Jongsuk, pria yang sangat dibencinya, tapi ia tak bisa melakukannya.

“Ani, jangan mengatakan pada Ibumu. Cukup ini jadi rahasia kita berdua. Arra?”

Arraseo. Apa haelmoni juga tak boleh tahu?

“Sepertinya itu lebih baik.”

Ahjushi, Haelmoni sudah selesai mandi, aku harus menutup telepon. Jaljayo, Ahjushi. Kata Gabriel terakhir kali sebelum ia menutup teleponnya.

“Ne, jaljayo.” Jawab Hyukjae sebelum meletakkan kembali gagang teleponnya.

Pria itu berbalik dan menatap jarum jam yang tergantung di salah satu bagian dinding rumahnya. Pukul 20.00 kst, sepertinya mulai esok dan seterusnya ia akan berjaga di depan telepon rumah setiap jam delapan malam untuk menunggu telepon dari Gabriel.

**

Yesung baru saja turun dari mobilnya ketika merasakan ponselnya yang ia simpan dalam saku jasnya berdering. Pria itu merogoh saku jasnya, mengambil ponsel tersebut dan segera mengangkat telepon yang ternyata berasal dari Sojin, Park Sojin.

“Ne, Sojin-ah, wae?” kata Yesung setelah mengangkat teleponnya,

“Aku baru sampai di rumah, setelah mengantarkan Donghae dan Ryeon di Bandara,” kata pria itu lagi, “Ne, mereka langsung pergi berbulan madu malam ini ke Jeju selama satu minggu, kemudian satu minggu berikutnya mereka berencana untuk menghabiskan musim panas di Busan.” Lanjunya.

Yesung kembali melangkahkan kakinya memasuki lift yang membawanya ke apartemen pribadi miliknya yang berhasil ia dapatkan setelah bekerja keras selama menjadi pengacara publik ini. sebuah apartemen kecil yang mungin harganyapun akan sangat jauh dibawah apartemen yang pernah ditinggali oleh Eunhyuk dulu, saat pria itu masih menjadi mahasiswa dan belum berpindah ke rumah pribadinya saat ini di kawasan Yeonhui-dong.

Yesung-ah, apa kau benar-benar akan pergi? Ke Ulsan? Tidakkah itu terlalu jauh?

Yesung diam sejenak, merasakan hal yang sama-sama berat seperti yan di katakan oleh Sojin. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak memiliki pilihan lain selain ini. jika ia tetap memaksakan diri untuk berada di Seoul sepertinya hatinya akan semakin terluka.

Ia ingin pergi jauh dari gadis ini, meninggalkan gadis ini ketika ia sedang merasakan kebahagiaan, sehingga nantinya ketika ia telah benar-benar tak bisa meihat wajah Sojin lagi maka hanya ada wajah bahagia gadis itu yang terekam dalam memorinya.

“Mianhae,” jawab pria itu pelan.

Tak ada jawaban langsung dari Sojin, hanya kesunyian yang seketika itu terjadi diantara mereka. Entah cara apalagi yang harus gadis itu lakukan untuk membuat Yesung bertahan disini seperti biasanya. Entah harus bagaimana lagi ia berbuat untuk mencegah kepergian pria itu.

Sementara Yesung, hanya diam terpaku tepat di depan pintu apartemennya. Pria itu diam mematung, dan tak mampu lagi untuk bergerak sesentipun saat itu, mungkinkah ia telah begitu melukai hati gadis itu? gadis yang bahkan telah begitu lama ia puja dan jaga kebahagiaannya?

**

Hall-room, Grand Intercontinental Hotel, Gangnam-gu

 

Sojin kembali memotong steak yang terhidang di hadapannya dengan kasar dan segera memasukkan potongan daging tersebut ke dalam mulutnya. Jika saja yang terhidang di depannya saat ini adalah daging CEO Zeus yang tidak lain adalah tunangannya mungkin ia akan lebih bersemangat lagi memakan tersebut, bahkan mungkin ia takkan susah-susah mengunyah daging pria itu dan langsung menelannya.

Sialan, tidak bisakan pria itu sedikit saja menghargai waktu yang telah di setujui sebelumnya?

Malam ini keluarganya bahkan telah meluangkan waktunya untuk datang tepat waktu di acara makan malam ini, ayahnya yang seorang hakim agung yang setiap harinya selalu menghabiskan waktu untuk pekerjaannya telah merelakan waktunya untuk bekerja terpotong untuk acara malam ini, tapi apa yang dilakukan pria itu? Dia bahkan belum datang sampai saat ini?

Bahkan di pertemuan keluarga yang sebelumnya yang terpaksa di batalkan itu Sojin tidak sekesal hari ini. Waktu itu calon ayah mertuanya, yang merupakan ayah daripada Eunhyuk yang juga merupakan Presiden Utama Haeshin Grup itu tidak bisa menghadiri pertemuan keluarga dan terpaksa membatalkan acara tersebut karena pekerjaannya. Tapi apa kali ini? Mungkinkah pria itu juga terlambat karena urusan pekerjaan? Itu bulshit, dia bahkan tak pernah terjaga hingga larut malam di kantornya.

Tok..tok..

Gadis itu menoleh dan mendapati sosok yang benar-benar membuat moodnya buruk itu tengah berdiri di depan pintu dengan wajah yang tak bersalah.

“Jongsohamnida, aku terlambat, ada beberapa pekerjaan kantor yang harus ku selesaikan tadi,” kata Eunhyuk.

Cih, gadis itu tersenyum kecut saat itu juga mendengar pembelaan yang dikatakan Eunhyuk pada kedua orang tua mereka. Sejak kapan ia akan menyelesaikan pekerjaan kantornya hingga selarut ini? Sojin bahkan tahu benar jika Eunhyuk bukanlah tipe pria yang akan mau duduk berlama-lama di balik meja kantornya. Ketika jam lembur yang ia miliki telah tercapai maka pria itu takkan segan-segan meninggalkan kantornya dan pergi entah kemana saja yang jelas ia takkan pernah mau tinggal hingga larut malam di kantor.

“Tidak bisakah kau meninggalkan pekerjaanmu sejenak? Bukannya malah datang terlambat ke acara penting ini?”

Sojin tersenyum mendengar teguran yang dikatakan oleh calon ibu mertuanya tersebut pada Eunhyuk. Rasanya seperti apa yang sejak tadi ia pendam telah dimengerti orang lain bahkan tanpa harus repot-repot ia mengatakannya.

Sementara Eunhyuk justru terlihat cuek dan tak mau terlalu menanggapi dengan serius apa yang dikatakan Ibunya. Adakah hal yang lebih penting untuknya saat ini selain menunggu telepon dari Gabriel? Dan hal itulah yang sebenarnya menjadi alasan megapa pria itu tadi memilih utuk datang terlambat ke acara makan malam ini, karena Gabriel.

“Ini bukan masalah nyonya Lee, bukankah yang paling penting adalah anakmu tetap datang ke acara ini meskipun terlambat,” potong ayah Sojin,

Sojin seketika itu juga menoleh terkejut atas apa yang dikatakan oleh ayahnya, tidakkah ini termasuk sebuah sindiran secara halus yang sengaja diarahkan oleh orangtuanya kepada calon mertuanya karena di pertemuan sebelumnya mereka bahkan sengaja membatalkan pertemuan karena orang tua Eunhyuk yang tak bisa hadir?

Tetapi untung saja hal tesebut tak terlalu ditanggapi oleh kedua orang tua Eunhyuk, mereka justru menanggapi dengan santai hingga tak terjadi pertikaian dalam pertemuan keluarga malam ini.

Pembahasan yang dilakukan dua keluarga tersebut pada pertemuan makan malam saat itu tak jauh dari bahasan seputar rencana pernikahan Sojin dan Eunhyuk yang akan berlangsung akhir musim gugur tahun ini yang artinya mungkin hanya akan tersisa waktu skitar tiga bulan lagi untuk persiapan mereka. Segala konsep dan dekorasinya mereka serahkan kepada Eunhyuk dan Sojin untuk mendesain sesuai dengan keinginan mereka karena memang ini adalah pesta pernikahan mereka, sehingga segala hal yang terkait dengan pernikahan akan di sesuaikan dengan kinginan mereka berdua.

Namun faktanya selama beberapa hari terakhir ketika melakukan pemesanan tempat dan lain-lain, seluruh ide dan konsep adalah milik Sojin, Eunhyuk tak begitu banyak menyumbangkan idenya. Pria itu lebih memilih menyerahkan segala hal tersebut pada Sojin dan Wedding Planner mereka.

“Hyukjae-ah, bukankah salah satu teman baikmu saat di universitas dulu kini ada yang menjadi penyanyi?”

Eunhyuk mengangkat kepalanya sejenak atas pertanyaan ayahnya yang dilontarkan padanya. Pria itu menaruh sendoknya sejenak dan menyapukan tissu di sekitar bibirnya sebelum kemudian menjawab pertanyaan sang ayah.

“Ne, namanya Choi Jina,” jawab pria itu.

“Mintalah dia untuk membawakan lagu saat acara resepsi nanti,” kata ayahnya lagi, “Jangan pikirkan masalah biaya pernikahan kalian, biar aku yang menanggung semuanya,” lanjutnya,

Pria itu mengangguk, dan kemudian kembali melanjutkan aktivitas makannya. Sesungguhnya ia tak mau terlalu menanggapi permintaan keluarganya, bukan karena ia memikirkan uang atau hal-hal yang berhubungan dengan materi. Tapi hal yang paling mengganggu pikirannya justru masalah kesiapannya untuk menikahi gadis bernama Park Sojin tersebut.

Jika sampai saat ini ia masih belum bisa melupakan Hyeonmi dan justru saat ini ia semakin memikirkan wanita itu, bagaimana ia bisa memulai hidup baru dengan Sojin?

“Jadi apa kalian sudah memutuskan akan pergi kemana nanti saat berbulan madu?” tanya ibu Sojin.

Sojin tertunduk, bahkan sampai saat ini ia dan pria itu belum pernah sama sekali membicarakan keinginan bulan madu mereka. Ia bahkan sempat berpikir bagaimana jika mereka tak perlu pergi berbulan madu? Bukankah semuanya akan terasa hambar nanti jika mereka pergi berbulan madu? Dan sepertinya mereka hanya akan menghabiskan uang secara sia-sia jika benar-benar pergi berbulan madu.

“Aniyo, kami belum membicarakannya,” jawab Eunhyuk santai.

“Bukankah temanmu baru saja menikah? Kemana mereka pergi berbulan madu?” tanya wanita itu lagi pada Eunhyuk.

Pria itu diam, mencoba mengingat-ingat kemana acara bulan madu Donghae dan juga Ryeon, tapi sepertinya saat ini ia benar-benar sosok sahabat yang sangat buruk karena ia bahkan tak bisa mengingat sama sekali kemane perginya pasangan itu untuk merayakan bulan madu mereka.

“Kudengar dari kakaknya, mereka pergi ke Jeju selama satu minggu, dan satu minggu berikutnya mereka menghabiskan musim panas di Busan.” jawab Sojin.

Busan? Eunhyuk diam sejenak, teringat akan pembicaraannya dengan Gabriel di telepon tadi sebelum ia berangkat kesini. Bocah itu juga mengatakan bahwa minggu depan ia akan pergi menghabiskan liburan musim panasnya di Busan dengan Hyeonmi.

Dan minggu depan Donghae dan Ryeon, sahabatnya juga akan pergi ke Busan untuk berbulan madu. Mengapa secara tiba-tiba ia juga ingin pergi berlibur kesana? Tapi adakah alasan yang kuat untuknya dapat pergi kesana? Bukankah alasannya ingin kesana saat ini hanya karena Gabriel dan Hyonmi yang juga pergi kesana?

“Busan memang selalu menjadi surga ketika musim panas,” kata Ibu Eunhyuk, “Ahh, bukankah bulan madu kalian nanti pada saat musim dingin? Bagaimana kalau kalian pergi ke tempat dengan temperatur udara yang hangat?” lanjut wanita itu.

**

5 days later…

 

Yesung kembali menyantap makarel panggang yang ia pesan bersama dengan teman-teman sekantornya yang juga merupakan pengacara publik itu siang ini. Berbeda dengan suasana makan siang sebelum-sebelumnya, kali ini pria itu lebih memilih untuk diam, dan ta terlalu banyak berceloteh menceritakan klien yang sedang ia tangani seperti teman-temannya yang lain.

Tadi pagi surat pemindahannya telah ia sampaikan ke atasannya, pria itu telah benar-benar memutuskan untuk pindah ke Ulsan seperti apa yang ia pikirkan kemarin. Sementara teman-teman satu kantornya yang lain mungkin sudah mulai mengetahui tentang rencana kepindahannya ini, itulah sebabnya siang ini ia tak mau terlalku banyak bicara sehingga menyebabkan perhatian teman-temannya tertuju padanya, dan satu per satu dari mereka mulai menanyakan alasan kepindahannya.

Sejujurnya ia belum siap, bahkan ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri yang ternyata memilih jalan keluar seperti ini. Ia malu karena apa yang selama ini selalu ia katakan kepada klien yang ia tangani dengan memotivasi mereka, nyatanya saat ini ia tidak bisa memotivasi dirinya sendiri.

Kabur, dan tak berniat untuk kembali melihat ke masa lalu bersama Sojin. Itulah yang sedang ia rencanakan saat ini. Jika saja sesaat lagi gadis itu akan berubah membencinya dan kemudian tak mau lagi menemuinya, maka ia akan sangat bersyukur karena bukankah dengan demikian ia akan dapat melupakan gadis itu, dan sedikit demi sedikit mulai mengubur rasa cintanya pada Sojin?

“Pengacara Kim, apa berita yang ku dengar pagi ini benar?” salah satu temannya mulai bertanya pada Yesung, “tentang kau yang mengirimkan surat permohonan pindah pada ketua,” lanjutnya

Pria itu diam menghentikan gerakan sumpit di tangannya sejenak, tatapan matanya menatap pada makarel panggang yang berada di tengah-tengah mejanya tapi jauh di dalam tatapan mata itu sebenarnya kosong, “Ne,” jawab Yesung singkat dan segera ia kembali melanjutkan makan siangnya.

Sementara sosok lain yang ada dalam ruangan tersebut sejak tadi tak berhenti menatap segala tingkah Yesung, mulai dari tingkahnya yang berbeda dari biasanya yang mencoba untuk terlihat tenang dan menutupi masalahnya, dan dari bagaimana pria itu tadi sebelumnya menanggapi pertanyaan Pengacara Cha yang ditunjukkan pada Yesung.

“Ketua, apa kau akan benar-benar mengijinkannya pergi? Waeee?” tanya pengacara Cha pada sosok yang masih diam memperhatikan Yesung tersebut.

“Ani,” jawab pria itu.

“Ketua,,” protes Yesung seketika.

“Bukankah sudah ku bilang akan mempertimbangkannya? Jika kau bisa memberikanku alasan yang rasional mengenai kepindahanmu ini maka aku akan menginjinkannya, tapi kau bahkan tidak bisa menjelaskannya kepadaku, pengacara Kim.”

Lagi ia hanya bisa tertunduk, bagaimanapun yang dikatakan oleh ketuanya sangatlah benar, jika ia memang ingin dipindah tugaskan maka ia harus memberikan alasan yang rasional, tapi masalahnya ika itu karena masalah hati apakah itu termasuk ke dalam hal yang rasional? Sepertinya tidak, karena sampai saat ini ia sendiri bahkan tidak mengerti mengapa di harus memilih jalan ini untuk mengakhiri konflik hatinya.

“Kuberikan waktu padamu selama dua minggu, sembari kau menyelesaikan kasusmu, setelah itu jika kau bisa memberikanku alasan yang rasional maka aku akan mengijinkanmu pindah, tetapi jika kau tidak bisa menunjukkan padaku alasanmu itu maka aku akan memberikan kasus dua kali lipas yang harus kau tangani,”

**

Eunhyuk masih duduk di belakang meja kerjanya, memeriksa beberapa laporan dari bawahannya sebelum kemudian ia menandatangi laporan-laporan tersebut. Sejenak pria itu memutarkan pergelangan tangannya dan menatap jarum jam tangannya yang sudah menunjukkan saat makan siang.

Ditaruhnya pena yang sejak tadi ada dalam genggamannya, kemudian ia berdiri dan mulai mereganggkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat kaku setelah setengah hari penuh ini hanya berkutat dengan lembaran demi lembaran kertas tersebut.

Namun kemudian ia kembali duduk di kursinya, bukannya melangkahkan kakinya keluar untuk menikmati waktu makan siang yang telah datang. Diraihnya telepon kantor yang ada di meja kerjanya dan coba ia sambungkan dengan sekertarisnya yang berjaga di ruangan yang tak begitu jauh dari ruangannya saat ini.

“Sekertaris Yoon, bukankah seharusnya minggu depan ada proyek di Busan yang harus ku datangi?” tanya pria itu kemudian.

Ne sajangnim, tapi bulan lalu kau menunjuk tuan Jang untuk mewakilimu kesana,

Pria itu diam sejenak dan teringat alasan yang dia katakan bulan lalu saat menolak utuk datang ke acara tersebut dan kemudian menujuk Manajer Jang untuk menggantikannya ke acara tersebut. Bodoh jika saja ia tahu kalau minggu depan itu Hyeonmi dan Gabriel pergi berlibur kesana seharusnya ia tak pernah menolak pekerjaan tersebut dan tak seharusnya pula ia menunjuk orang lain untuk menggantikannya.

Beberapa hari yang lalu saat ia mengobrol dengan Gabriel di telepon, bocah kecil itu meceritakan padanya bahwa ia dan ibunya akan menghabiskan waktu liburan musim panas selama satu minggu di Busan. Semenjak itu, Gabriel bahkan terus menerus menceritakan padanya hal-hal apa saja yang di janjikan ibunya nanti ketika berlibur, yang tentu saja mau tidak mau membuat pria itu juga ingin pergi kesana.

Sebegitu dekatnya mereka saat ini, Gabriel dan Hyukjae? Ya, bahkan hampir setiap hari bocah kecil itu menghubunginya lewat telepon di jam yang sama. Begitupula pria itu bahkan selalu pulang lebih awal dan segera kembali ke rumah hanya untuk menunggu telepon dari Gabriel, dan mendengarkan celotehan bocah kecil itu padanya.

Sajangnim, apakah Anda masih disana?

Pertanyaan dari sekertarisnya lagi-lagi membuat pria itu terkejut karena sebelumnya ia memang tengah melamun.

“Ahh, ne, baiklah kalau begitu,” jawab pria itu, “Tapi sekertaris Yoon, bisakah kau atur jadwal liburku untuk minggu depan?” tanyanya lagi.

Libur? Sepertinya itu akan sedikit susah sajangnim, awal minggu depan ada 4 rapat besar yang harus Anda datangi,

Hembusan nafas kecewa itu seketika itu juga lepas dari pria itu, sepertinya mengharapkan hari libur untuk berjalan-jalan ke Busan menemui Gabriel dan Hyeonmi juga Donghae dan Ryeon yang sedang berbulan madu kesana sangatlah tidak mungkin bisa ia wujudkan saat ini.

Tapi aku akan kuusahakan nanti sajangnim, sela sekertarisnya ketika menyadari kekecewaan bosnya tersebut,

“Baiklah terimakasih sekertaris Yoon, kau bisa istrirahat dulu sekarang,” kata pria itu.

**

“Mom bilang akan mengajakku berjalan-jalan mencicipi sashimi di semua kedai yang ada di pasar Jagalchi besok, lalu Mom juga berjanji akan membawaku melihat salah satu pulang di Jepang dari Busan, apa kau tau tempat itu?”

Malam itu lagi, Gabriel menelepon sosok yang dipanggilnya Hyukjae Ahjushi tersebut dan mulai menceritakan apa yang akan dia lakukan esok hari dengan sang Ibu saat berlibur di Busan.

Oh, itu ada di Taejongdae. Disana kau akan bisa melihat pulau Tsushima, salah satu pulau milik Jepang yang letaknya paling dekat dengan negara kita.

“Jinjayo?” tanya bocah itu tak percaya

Ne, kalau cuaca sedang bagus kau bahkan mungkin bisa melihat langsung tanpa menggunakan alat apapun. Jelas pria itu lagi

Pria itu jelas mengerti tempat-tempat yang dikatakan oleh Gabriel yang rencananya akan dia datangi nanti saat berkunjung ke Busan. Tempat itu adalah tempat yang cukup memiliki arti dalam hubungan Hyukjae dan Hyeonmi, tempat itu juga adalah tempat yang selalu mereka datangi dulu ketika masih bersama. Dan kini pria itu tak heran jika Hyeonmi mengajak putranya berkunjung ke tempat-tempat tersebut, mungkin karena hanya tempat-tempat itulah yang diketahui Hyeonmi di Busan.

“Wohaaa.. daebak..” seru Gabriel lagi sambil beberapa kali menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara dari seberang telepon tersebut dapat ia dengar kikikan pelan dari Hyukjae Ahjushi yang mungkin saja saat ini sedang menertawakannya.

“Gabriel kau sedang berbicara dengan siapa?”

Gabriel menoleh dan mendapati Haelmoninya yang baru saja keluar dari kamar mandi tengah berjalan menuju ruang tengah dimana saat ini ia sedang menelepon Hyukjae-Ahjushi, “Oh, ahjushi sepertinya haelmoni sudah selesai mandi, aku harus segera menutup telepon, anyyeong.” Tutup bocah itu cepat sebelum neneknya tiba di ruang tengah.

“Aniyo,” jawab Gabriel cepat, “Haelmoni, apa Mom masih lama? Bukankah Mom bilang akan pulang cepat hari ini dan mengajakku untuk berbelanja untuk besok?” tanyanya berusaha mengalihkan pertanyaan neneknya yang sebelumnya.

Ibu Hyeonmi menolehkan wajahnya sejenak, menatap jarum jam dinding yang terpasang di salah satu tembok rumahnya kemudian kembali menatap Gabriel dengan senyum, “Sebentar lagi, Mom pasti akan segera pulang. Bukankah Mom selalu menepati janjinya padamu?” jawab wanita tersebut.

Dua tahun sudah ia hidup bersama dengan cucunya tersebut semenjak kembalinya Hyeonmi dari Amerika sepeninggal Jongsuk dahulu, dua tahun pula ia sudah cukup mengenal dan memahami bagaimana sifat Gabriel yang tak pernah bisa melupakan setiap janji yang dibuat orang lain padanya.

Dan pagi tadi, Hyeonmi jelas membuat janji kepada bocah tersebut akan pulang lebih awa dan mengajaknya pergi berbelanja barang-barang kebutuhan mereka untuk berlibur besok di Busan selama tiga hari ke depan.

“Ne, kapan Mom pernah megingkari janji yang Mom buat untukmu?”

Suara itu tiba-tiba muncul dari arah ruang tamu bagian depan. Gabriel meloncat dari kursi yang ia duduki dan cepat berlari menuju sumber suara yang dia yakini tadi adalah suara Ibunya.

“MOM!!” teriak Gabriel sambil menghamburkan dirinya kearah sang Ibu, memeluk tubuh wanita itu seketika itu juga seperti telah lama tak bertemu padahal baru tadi pagi Ibunya berpamitan untuk pergi bekerja.

Hyeonmi berjongkok, kemudian menumpukan beban tubuhnya di lutut, mensejajarkan tingginya dengan Gabriel. Wanita itu mengusap pelan rambut anak semata wayangnya pelan, dan seketika itu juga beban atas pekerjaannya hari ini seolah hilang begitu saja, lenyap setelah melihat wajah ceria yang nampak dari Gabriel.

“Apa kau sudah siap? Bagaimana kalau kita pergi sekarang?” tanya Hyeonmi

Gabriel mengangguk dan dengan cepat berlari ke dalam mengambil jaketnya. Sementara neneknya yang berdiri tepat dari arah ruang tengah hanya dapat menggeleng pelan melihat tingkah bahagia yang ditunjukkan oleh Gabriel.

“Kau tidak beristirahat dulu? Makanlah dulu Hyeonmi-ah!” pinta wanita tersebut.

“Aniyo eomma, aku akan nanti setelah pulang berbelanja.” tolak Hyeonmi

Ibu Hyeonmi hanya dapat mendesah pelan kemudian setelah mendengar jawaban Hyeonmi. Anaknya itu benar-benar seperti seseorang yang tidak memiliki rasa lelah sama sekali, bahkan belum sampai satu menit dia sampai di rumah, kini ia berencana untuk berangkat lagi tanpa makan malam ataupun meminum seteguk air untuk melegakan tenggorokannya.

“Kenapa harus ke Busan? Bukankah Oido lebih dekat dan disana juga ada pantai,” tanya sang Ibu

“Ada seseorang yang ingin kutemui disana eomma,” jelas Hyeonmi, “Aku ingin bertemu dengan salah satu Ahjumma pemilik kedai di Jagalchi, memperlihatkan Gabriel padanya, karena dulu saat berangkat ke Amerika bersama Jongsuk-oppa aku belum sempat berpamitan padanya.” Lanjutnya.

**

“Busan? Untuk apa? Bukankah bulan lalu kau sudah menunjuk salah satu manajer bagian untuk mewakilimu kesana?” Sojin masih berbicara dengan Eunhyuk di telepon sambil tetap melangkahkan kakinya berjalan memasuki gedung pengadilan.

Langkahnya sedikit demi sedikit berjalan menuju salah satu pintu lift dan ketika melihat pintu tersebut sudah hampir tertutu gadis itu dengan berjalan cepat agar bisa cepat sampai dan tak perlu menunggu lift tersebut kembali turun untuk membawanya keatas.

Namun saat ia benar-benar telah berdiri tepat di depan pintu lift tersebut, langkahnya terhenti, gadis itu diam melihat siapa sosok yang telah ada di dalam lift seorang diri. Yesung, seorang teman baiknya yang juga merupakan pengacara publik yang akan bertanding melawannya sesaat lagi.

“Liburan? Terserahlah.” Kata gadis itu lagi menanggapi percakapan dengan tunangannya di telepon, “Jangan lupa untuk segera menghubungi temanmu, Jina untuk mengisi acara kita nanti.” Kata Sojin lagi sebelum memutuskan sambungan teleponnya.

Gadis itu melangkahkan kakinya kembali memasuki lift yang hanya terisi dirinya dan juga Yesung saat itu sebelum kemudian ia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Hening. Suasana yang sangat hening terjadi diantara mereka karena tidak ada satupu diantara mereka yang mau membuka percakapan.

Bahkan biasanya meskipun mereka akan bertanding di persidangan, hal yang seperti ini tidak pernah terjadi pada mereka. Selama ini mereka bahkan selalu berhasil memisahkan antara urusan pekerjaan dengan persahabatan yang mereka jalin, meskipun di dalam ruang sidang mereka sering berbeda pendapat dan coba saling mengalahkan satu sama lain, namun faktanya di kehidupan nyata mereka tak pernah memasukkan urusan pekerjaan tersebut untuk keseharian mereka.

Hingga lift terbuka, Yesung terlebih dahulu melangkahkan kakinya keluar dan meninggalkan Sojin seorang diri di dalam lift. Membuat gadis itu hanya dapat memandanginya dengan tatapan bodoh saat itu juga.

“Pengacara Kim,” panggil Sojin pada akhirnya, pria itu menghentikan langkah kakinya saat itu juga namun tak berbalik untuk menatap Sojin.

“Aku tidak akan mengubah dakwaanku sedikitpun pada kasus ini, dan aku akan memenangkan persidangan kali ini. Bagaimanapun juga aku akan membuat terdakwamu hari ini meringkuk di dalam penjara.” Ucap gadis itu penuh emosi dan langsung berjalan menuju ruangannya, meninggalkan Yesung saat itu juga.

**

“Bodoh, kau pikir aku tak punya pekerjaan lain selain mengikuti kalin berdua, hah?” Eunhyuk melepaskan kacamata hitam yang sebelumnya terpasang menutupi kedua matanya dari sinar matahari pagi di pantai Heundae.

Pagi ini ia baru saja mendarat di Busan dan langsung menemui Donghae dan juga Ryeon yang sedang menikmati suasana sunrise di pantai Heundae, Busan, salah satu kawasan pantai paling terkenal yang dimiliki Busan.

“Lalu apa yang kau lakukan disini kalau bukan mengikuti kami? Pekerjaan, itu lebih tidak masuk akal lagi,” jawab Ryeon yang memang tak terima dengan kedatangan pria itu disini. Baginya kedatangan Eunhyuk di Busan adalah benar-benar sebagai penganggu di acara bulan madu yang sudah sengaja ia rancang indah bersama dengan suaminya, dan semenjak kedatangan pria itu sepertinya semua rancangan indah tersebut benar-benar hancur.

“Sudahlah Ryeon-ah, jika dia bilang tidak ingin mengganggu kita maka sebaiknya kita biarkan dia disini, dan kita lanjutkan perjalanan kita,” kata Donghae mulai berdiri dari posisi duduknya sebelumnya.

Ryeon yang melihat Donghae telah berdiri saat itupun segera bangkit mengikuti sang suami dan segera mengaitkan satu tangannya ke tangan Donghae. Sementara Eunhyuk semakin merasa diacuhkan oleh pasangan tersebut saat ini.

“Yak, yak,, kalian mau kemana hah?”

“Rumah sakit,” jawab Donghae singkat.

“Mwo? Kau gila? Bukankah ini adalah acara bulan madu kalian, bagaimana bisa kau pergi ke rumah sakit, hah?”

“Itu lebih baik oppa, daripada berada disini bersamamu,” sela Ryeon sambil mulai berlalu.

Cih, pria itu mencoba untuk memalingkan wajahnya kembali ke hamparan pasir pantai yang ada di hadapannya daripada melihat pasangan Donghae dan Ryeon yang semakin berlalu meinggalkan dirinya.

Sepertinya memutuskan untuk pergi menemui Donghae dan Ryeon setelah sampai di Busan benar-benar pilihan terburuk yang telah ia ambil hari ini. Ini masih terlalu pagi dan moodnya benar-benar telah dibuat buruk oleh sepasang pengantin baru tersebut yang telah sukses mengacuhkannya.

Pria itu berdiri kemudian dan memutuskan untuk ikut meninggalkan pantai daripada berada disana seorang diri sepertinya akan semakin memperlihatkan bahwa ia adalah sosok yang terbuang semenjak kepergian kedua temannya tadi.

Mungkinkah sekarang mereka ada di Pasar Jagalchi? Tanya pria itu dalam hati,

Dengan cepat ia kembali melangkahkan kakinya dan segera masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil tersebut dan mulai memecah jalanan kota Busan yang entah sudah berapa lama tidak pernah ia kunjungi lagi.

**

Hyeonmi masih memegangi erat jari-jari tangan Gabriel agar tak terlepas. Saat ini mereka tengah menyusuri setiap kedai yang ada di pasar Jagalchi, mencari salah satu kedai yang benar-benar ingin dikunjungi wanita tersebut.

“Mom, apa kau benar-benar akan mencari satu kedai itu saja?” protes Gabriel.

Sudah hampir tiga kali mereka berdua berputar di kompleks yang sama hanya karena Hyeonmi mencari satu kedai yang benar-benar ingin ia datangi. Akan tetapi hasilnya masih nihil, sejak tadi mereka berdua belum menemukannya juga.

“Ahjumma itu sudah pindah ke kedai yang ada di ujung jalan sebelah sana,” kata seseorang di belakang mereka.

Hyeonmi menoleh dan seketika itu juga terkejut melihat sosok yang berdiri tegak tepat di belakangnya.

“KAU??”

“AHJUSHI!!”

Dua kata itu meluncur seketika dari bibir Hyeonmi dan Gabriel saat melihat Hyukjae yang ada disana. dua kata yang diucapkan oleh Ibu dan anak tersebut dengan mimik wajah yang berbeda. Gabriel dengan kegembiraannya saat melihat Hyukjae, dan Hyeonmi yang tampak sedikit tak nyaman dengan kedatangan pria itu.

“Ahjumma yang kau cari itu sudah pindah ke kedai yang terletak di paling ujung sana,” kata pria itu mencoba tak terlalu menanggapi bagaimana ketidaknyamanan yang terlihat dari wajah Hyeonmi.

Hyukjae segera meraih tangan Gabriel, menggandeng bocah kecil itu menuju tempat yang dicari Hyeonmi. Sesungguhnya ia ingin menggandeng tangan Hyeonmi juga, tapi bukankah itu adalah sebuah hal yang tidak mungkin bisa ia lakukan? Cukup seperti ini saja, cukup gadis itu diam saat dia berada di sampingnya, bukan mengusir atau meneriakinya seperti seorang pejahat, itu semua sudah lebih dari cukup untuknya.

“Yak, bagaimana bisa kau datang kesini?” tanya Hyeonmi yang kemudian terpaksa mengekor di belakang Hyukjae.

Tapi pria itu tak menjawab, seperti berusaha membalas semua perlakuan yang selalu diperbuat Hyeonmi padanya. Perlakuan yang selalu ditunjukkan Hyeonmi ketika pria itu bertanya padanya, hanya diam dan tetap berfokus pada kegiatannya sebelumnya.

Sialan, wanita berhenti sejenak mencoba menahan emosinya yang seolah sengaja dipancing oleh pria itu. Sedetik kemudian ia kembali melangkahkan kakinya mengikuti langkah pria itu dan Gabriel di depannya.

“Aigoo, siapa ini? Bukankah sudah sangat lama sejak kau terakhir kali kau datang ke sini?” sambut seorang wanita paruh baya ketika mereka bertiga mulai memasuki salah satu kedai yang terletak paling ujung.

Pria itu benar, ahjumma pemilik kedai yang ia cari memang pindah ke kedai yang lebih besar dari sebelumnya. Di tempat yang lebih luas ini mungkin ahjumma ini bisa menerima lebih banyak pengunjung yang ingin makan sashimi di kedai miliknya.

“Apa kabar, ahjumma?” jawabnya.

Hyeonmi membungkuk, memberi hormat pada wanita tersebut sebelum kemudiansegela melepaskan kedua alas sepatunya dan menyusul Gabriel dan Hyukjae yang telah memilih salah satu meja yang ada di paling pojok.

“Ini anak kalian? Aigooo… sudah besar sekali.”

“Ani, dia anakku, tapi bukan dengan pria ini,” jawab Hyeonmi cepat.

Sementara Hyukjae hanya bisa terdiam mendengar jawaban Hyeonmi yang terasa begitu menusuk itu. Tapi faktanya memang benar, bukankah Gabriel memang anak buah pernikahan wanita itu dengan Jongsuk, lalu mengapa ia harus merasa sakit hati ketika Hyeonmi mengatakan hal yang sebenarnya?

“Mom, aku sudah kenyang,” Gabriel meletakkan sumpitnya diatas meja dan kemudian mulai meneguk minuman miliknya dengan cepat, “Aku mau berjalan-jalan sendiri di depan.”

Tanpa menunggu persetujuan dari Hyeonmi, bocah kecil itu segera beranjak dan berlari ke depan di pinggiran jalan melihat ikan-ikan segar yang dijual di bagian depan kedai dimana sekarang ini mereka berada. Sementara Hyeonmi hanya membiarkan putranya itu bermain sendiri, ia lebih sibuk dengan menu makanan yang ia santap dan sama sekali tak memperdulikan Hyukjae yang ada tepat di hadapannya.

Hyukjae menggeleng dan sedikit tertawa kemudian, “cara makanmu masih saja sama,” kata pria itu kemudian.

Hyeonmi menegakkan badannya sejenak, menatap Hyukjae dalam-dalam tepat di kedua bola matanya. Tak ada senyum yang coba ia perlihatkan pada lelaki itu, tak ada pula tatapan seperti tadi saat ia berbicara dengan putranya, yang ada hanyalah tatapan penuh benci sama seperti biasanya ketika ia bertemu dengan sosok tersebut.

“Jangan mengajakku berbicara,” jawab Hyeonmi singkat kemudian kembali melahap makanannya.

Pria itu mengalihkan pandangannya sejenak dan kemudian tertawa mengingat tingkah Hyeonmi barusan. Apa-apaan wanita ini? apa dia sedang mencoba untuk membalas dendam atas semua tindakannya tadi yang tampak sengaja mengacuhkannya?

Bukankah selama ini ia juga seperti itu? Selalu mengacuhkannya setiap kali pria itu datang menemuinya dan coba mengajaknya berbicara.

“Apa kau marah padaku?” tanya pria itu kemudian. Tapi Hyeonmi mulai kembali ke kebiasaannya sebelumnya yang mengacuhkan setiap perkataan pria itu lagi.

“Lihatlah, kau bahkan mengacuhkanku lagi,” kata pria itu lagi.

“Yak, Shin Hyeon..”

Ciiiiiiitttt…. BRAKKKK….

Belum sempat Hyukjae melanjutkan kalimatnya, suara tumbukan keras tiba-tiba memecahkan pendengaran mereka. Keduanya segera bangkit dari tempat mereka dan lari mengmabur keluar melihat kondisi yang terjadi.

“GABRIEL!!!” teriak Hyeonmi ketika melihat putranya tengah terkapar dengan tubuh penuh darah.

Hyeonmi merengkuh tubuh Gabriel saat itu juga tak peduli begitu banyak darah yang pada akhirnya turut melumuri dirinya. Hyukjae yang sempat beberapa detik sebelumnya diam, terkejut dengan kondisi Gabriel segera mengambil paksa tubuh Gabriel dari pelukan Hyeonmi dan berlari membawa tubuh bocah kecil tersebut masuk ke dalam mobilnya.

“Kita ke rumah sakit sekarang, cepat masuk mobilku!” perintah Hyukjae saat telah berhasil menggendong Gabriel.

Pria itu membuka pintu mobil belakangnya dan segera membaringkan tubuh Gabriel disana, Hyeonmi yang berjalan di belakangnya segera ikut masuk dan duduk di kursi belakang mengikuti dimana saat itu Gabriel berada.

Setelah memastikan Hyeonmi duduk di kursi belakang, pria itu dengan cepat mebutup pitu mobilnya dan segera masuk ke kemudi, menjalankan mobilnya saat itu juga menuju salah satu cabang rumah sakit Seoul yang ada di Busan, rumah sakit tempat dimana Donghae sahabatnya bekerja disana.

Beberapa kali terdengar bunyi suara klakson dari kendaraan lain yang ditujukan pada mobil yang kini tengah dikendarai oleh Hyukjae, namun pria itu tak menggubrisnya sama sekali. Baginya saat ini yang terpenting adalah cepat sampai di rumah sakit dan memberikan pertolongan pertama kepada Gabriel.

Melihat bagaimana kondisi bocah itu saat ini siapapun pasti akan sangat khawatir, tak terkecuali Hyukjae sendiri. Meskipun Gabriel bukanlah anaknya, melainkan anak dari seseorang yang telah merebut Hyeonmi darinya, tapi entah mengapa saat ini perasaannya begitu kacau. Bahkan sejak tadi jari-jari tangannya bergetar, takut jika terjadi hal-hal yang tak terbayangkan pada bocah itu.

“Dia akan baik-baik saja kan?” kata Hyeonmi di sela-sela tangis yang mulai membanjirinya.

Wanita itu memeluk erat tubuh Gabriel dan tak berniat sedetikpun melonggarkan pelukannya. Gabriel adalah salah satu penyemangat hidupnya saat ini, Gabriel adalah hidupnya, lalu apa yang akan dia lakukan nanti jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada buah hatinya ini?

“Tenanglah Hyeonmi-ah, tenang.”

**

Hyukjae masih duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di sekitar ruangan gawat darurat. Tangannya sejak tadi sibuk mengetik di layar ponselnya dan berkali-kali sudah ia mencoba untuk menghubungi Donghae, namun pria itu tak menjawab satupun panggilannya.

Lagi, ia kembali memencet ikon call pada Donghae dan menunggu sampai pria itu mengangkat teleponnya.

Yoboseyo? Jawab Donghae pada akhirnya

“Yak kau dimana? Aku membutuhkan bantuanmu sekarang, aku di rumah sakit.” Kata Hyukjae cepat, “Aku tidak berbohong ataupun main-main sekarang, kau harus cepat kesini, Dokter Lee.” pinta Hyukjae pada akhirnya sebelum menutup teleponnya.

Sejak Donghae menjadi seorang dokter, Hyukjae tak pernah sekalipun memanggil pria tu dengan nama gelarnya seperti kali ini, Dokter Lee. Begitupula dengan Donghae, sejak Hyukjae benar-benar menjabar sebagai seorang CEO di Zeus, ia tak pernah sekalipun memanggil temannya sejak kecil tersebut dengan gelar-gelar kehormatan ataupun yang lainnya.

Bagi mereka memanggil satu sama lain dengan gelar kehormatan seperti itu hanya akan membuat persahabatan yang telah mereka bangun cukup lama tersebut akan terasa canggung dan tak nyaman sekali untuk di dengarkan.

Tapi kali ini berbeda, Hyukjae benar-benar meminta agar Donghae segera datang memberikan pertolongan pada Gabriel yang saat ini tengah berada di dalam ruangan gawat darurat. Bukankah Donghae adalah seorang Dokter yang hebat? Bahkan beberapa bulan lagi dia akan dikirim ke Hungaria sebagai perwakilan Korea Selatan untuk melakukan penelitian disana, tidakkah dia benar-benar hebat?

Hyukjae bangkt dari duduknya dan mulai berjalan mendekat pada Hyeonmi yang saat ini tengah bersandar di dinding tepat di samping pintu ruangan dimana Gabriel saat ini mendapatkan perawatan. Dipeluknya kemudian tubuh mungil Hyeonmi tersebut, seolah berusaha memberikan sedikit sisa kekuatan yang ia punyai untuk Hyeonmi.

“Tenanglah, dia pasti akan baik-baik saja.” Ucapnya sambil terus mengelus puncak kepala Hyeonmi, mencoba menenangkan wanita tersebut dari isak tangisnya yang tak kunjung reda.

Siapapun orang tua pasti akan khawatir jika berada di posisi yang sama seperti halnya Hyeonmi saat ini. Jadi ketika saat ini Hyeonmi terus menerus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang terjadi pada Gabriel, Hyukjaepun tak mampu sedikitpun mencegahnya.

Mungkin ia juga turut berperan atas kecelakaan yang terjadi pada Gabriel tadi, seandainya saja tadi saat Gabriel berjalan keluar sendirian ia segera mengikuti bocah kecil itu dan menemaninya disana mungkin kejadian ini takkan terjadi. Tapi faktanya tadi ia justru tetap duduk diam di dalam bersama dengan Hyeonmi bahkan ia memilih untuk menemani Hyeonmi menghabiskan makanannya.

Ceklek..

Seorang perawat muda kemudian keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri Hyeonmi dan juga Hyukjae saat itu juga.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Hyeonmi cepat.

“Dia kehilangan banyak darah, dan persediaan darah di rumah sakit sedang kosong,”

“Kau bisa mengambil darahku, berapa banyakpun anakku membutuhkannya ambil saja darahku.”

Perawat tersebut diam sejenak melihat Hyeonmi yang begitu serius mengatakan apa yang ia katakan, “Benarkah? Apa golongan darah Anda O?” tanya perawat itu kemudian.

Hyeonmi menunduk seketika mendengar pertanyaan perawat tersebut, “Aniyo, aku B.” Jawabnya lemah.

Seketika itu juga waita itu kembali bersandar pada dinding tembok.bahkan disaat genting seperti ini ia tidak bisa menyelamatkan putranya sendiri. Apakah dia adalah sosok Ibu yang benar-benar baik? Entah mengapa saat itu juga apa yang dirasakan Hyeonmi begitu buruk pada dirinya sendiri.

“Golongan darahku O, bisakah kau mengambil darahku saja?” kata Hyukjae kemudian pada perawat tersebut.

Saat itu juga Hyeonmi mendongak, menatap Hyukjae dengan penuh rasa terima kasih seolah pria itu benar-benar seperti seorang dewa penyelamat untuknya.

**

Hyukjae masih berbaring sambil menunggu satu kantong tersebut benar-benar penuh terisi oleh darahnya yang saat ini benar-benar dibutuhkan oleh Gabriel. Pria itu menutup kedua matanya, bukan karena ia merasakan pusing karena proses transfusi tersebut, tetapi lebih dari itu.

Kilasan memorinya kembali memutarkan tentang saat-saat dulu ia dan Hyeomi masih bersama. Saat itu mereka tengah berada di sebuah toko buku, dan Hyeonmi menemukan sebuah buku karakter dari golongan darah.

Ketika itu Hyeonmi membacakan seluruh sifat oleh golongan darah B yang dituliskan di buku tersebut dan hampir seluruhnya adalah benar-benar sesuai dengan karakter Hyeonmi yang sesungguhnya.

Kemudian gadis itu membacakan karakter golongan darah O yang dituliskan dalam buku tersebut yang cukup banyak berbeda dengan bagaimana karakter golongan darah B. Tapi faktanya saat itu meskipun mereka memiliki banyak sifat yang berbeda, toh mereka tetap bisa menyatukannya.

Dan yang paling diingat oleh Hyukjae adalah bagaimana setelah itu Hyeonmi mulai kembali mengungkit-ungkit persamaannya dengan Jongsuk. Apa saja yang mereka sukai selalu mirip itu karena golongan darah mereka yang juga memang sama.

Bingo.

Pria itu membuka matanya kemudian. Bukankah golongan darah Jongsuk dan Hyeonmi sama-sama B, tapi kenapa bisa Gabriel memiliki golongan darah O? Dan golongan darah O itu sama seperti dirinya.

Lagi pria itu mulai mengingat-ingat bagaimana kebiasaan-kebiasaan Gabriel yang dirasa mirip dengannya selama ini. Dan lagi bukankah sejak awal bertemu dengan Gabriel ia sama sekali tak memiliki perasaan benci pada bocah itu? Justru ia selalu meridukan bocah itu dan bahkan ia sampai setiap hari menunggui bocah kecil itu meneleponnya?

Bukankah dulu ia dan Hyeonmi sempat melakukannya beberapa kali saat masih bersama? Apakah itu berarti ada kemungkinan bahwa Gabriel adalah anaknya?

“Sudah cukup, Anda bisa kembali tuan Lee.” Kata perawat yang tadi memecahkan lamunannya.

Hyukjae bangkitdan segera berjalan kembali keluar, cepat-cepat ia ingin menemui Hyeonmi dan bertanya pada gadis itu tentang hal ini. Tapi saat kedua matanya menangkap sosok Hyeonmi dari kejauhan, tiba-tiba rasa khawatir itu kembali memenuhinya.

Bukankah selama ini Hyeonmi selalu menjaga jarak darinya? Apakah dia akan menjawab dengan jujur jika saat ini juga ia bertanya hal ini?

“Kau sudah selesai?” tanya Hyeonmi kemudian saat menyadari kedatangan Hyukjae, wanita itu menoleh ke salah satu sisi lengan Hyukjae yang masih tertutupi sebuah kapas kecil dan kemudian tersenyum lega, “Terimakasih, kau sudah menyelamatkan anakku,” katanya lagi.

Tanpa menjawab sepatah katapun, pria itu kembali merengkuh Hyeonmi, memeluk erat tubuh wanita tersebut dengan segala kekuatan yang ia miliki. Pikirannya mulai berkecamuk, memikirkan tentang kebenaran bahwa Gabriel adalah benar-benar anaknya. Tapi mengapa selama ini Hyeonmi selalu mengatakan bahwa Gabriel adalah anaknya dengan Jongsuk?

“Eunhyuk-ah.”

Hyukjae menoleh sejenak dan mendapati Donghae dan Ryeon yang baru saja memanggilnya telah berdiri ujung lorong jalan menuju ruangan gawat darurat. Dilepaskannya pelukan tubuhnya dengan Hyeonmi dan coba menyambut kedatangan Donghae dan Ryeon yang tengah mendekat pada mereka.

“Oppa, apa yang terjadi?” tanya Ryeon cemas melihat baju yang dikenakan pria itu penuh darah.

Sementara Donghae hanya diam ketika menyadari wanita yang ada dipeluk oleh sahabatnya tadi adalah Hyeonmi. Beberapa pertanyaan saat itu juga mulai memenuhi pikiran Donghae, apakah selama ini mereka masih saling berhubungan? Dan lagi apakah kedatangan Hyukjae hari ini ke Busan ada hubungannya dengan wanita ini?

“Ada sesuatu hal yang harus kubicarakan padamu Donghae-ah.” Kata Hyukjae cepat saat menyadari tatapan tak biasa yang ditujukan Donghae pada Hyeonmi, “Ryeon-ah, bisa tolong kau temani wanita ini berganti baju? Kau lihat sendiri baju yang ia kenakan sudah penuh dengan darah,” pintanya sebelum kemudian menarim tangan Donghae untuk mengikuti langkahnya.

Hyukjae membawa Donghae pergi ke luar area rumah sakit, sebuah taman bunga kecil di depan rumah sakit yang sepi dan ia yakin disana ia bisa cukup leluasa berbicara dengan Donghae. Pria itu menarik nafasnya dalam sebelum kemudian menghembuskan nafasnya berat.

“Apa yang terjadi? Mengapa kau bisa ada disini berdama dengan wanita itu?” tanya Donghae, “Bukankah kau bilang kemarin akan menjauhi Hyeonmi? Kau tidak lupa pada pernikahanmu yang akan segera berlangsung kan?” lanjut Donghae.

Hyukjae menunduk, menatap ujung sepatunya saat itu juga. Apa yang dikatakan Donghae memang benar, kemarin ia telah berjanji untuk menjauhi Hyeonmi dan melupakan segala hal yang berkaitan dengan wanita itu.

Tapi faktanya setelah ia berjanji kemarin ia bahkan menemui Gabriel dan memberikan nomor telepon rumahnya pada bocah itu yang membuatnya semaki dekat pada Gabriel dan sampai hari ini ia bahkan mengambil libur dari pekerjaannya dan pergi menyusul Gabriel.

Ia tahu ini adalah bentuk pelanggara atas janji yang telah ia buat sendiri, tapi seandainya hari ini ia tidak berangkat ke Busan menemui dua orang ini maka ia tidak akan pernah tau seluruh kebenaran ini bukan? Tidak, mungkin sampai saat ini semuanya masih dugaannya, tapi ia benar-benar ingin mengetahui kebenaran dari seluruh dugaannya ini.

“Donghae-ah, apakah mungkin jika dua orang yang memiliki golongan darah yang sama kemudian anaknya akan memiliki golongan darah yang berbeda dari kedua orang tuanya?” tanyanya.

“Mwo?” seketika itu juga Donghae mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan apa yang dimaksud Hyukjae. ia bahkan tak menjawab pertanyaannya dan kini ia justru berbalik bertanya tentang golongan darah padanya.

“Anak itu tidak memiliki golongan darah yang sama dnegan Hyeonmi danjuga Jongsuk, golongan darahnya sama denganku.”

Donghae melangkahkan kakinya satu langkah ke depan kemudian, mengerti akan apa yang dimaksud oleh sahabatnya ini. Ia mengusap wajahnya sejenak dengan kedua tangannya sejenak kemudian sebelum kemudian berbalik menatap Hyukjae kembali.

“Lalu apa kau berpikir dia adalah anakmu?”

“Itu mungkin saja, karena saat terakhir sebelum kami putus dulu, kami sempat melakukannya,”

“Apa kau yakin hanya dengan alasan itu akan menunjukkan bahwa dia adalah anakmu?”

“Tidak, untuk itulah aku meminta bantuanmu,” saat itu juga Hyukjae mengangkat kepalanya, membalas tatapan tajam Donghae padanya, “Lakukan tes DNA untukku,” pintanya.

Donghae mengerang frustasi atas permintaan Hyukjae padanya, beberapa kali ia mengacak rambutnya pelan sebelum kemudian menanggapi permintaan tersebut, “Kau gila hah? Aku tidak bisa melakukan tes seperti itu sesuka hatiku, tetap ada prosedur yang harus kupatuhi,”

“Kau bisa melakukannya Donghae-ah, bukankah kau hanya perlu membawa stempel darahku dan juga Gabriel ke laboratoriummu, hah?”

 

*TBC*

2 Comments (+add yours?)

  1. allrisesilverdh
    Apr 15, 2015 @ 12:10:21

    Miiiinnn.. ppaliiii.. Next miinn.. i’m so curious XD

    Reply

  2. Shin Ji Ki
    May 17, 2015 @ 08:01:02

    Tuh kan aku udh yakin klo gabriel anak hyuk oppa tp knp hyeonmi nutup2in?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: