Call My Name [1/?]

1389163418898

 

Judul: Call My Name 1

Main Cast :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Choi Siwon (Super Junior)
  • Park Ji Rin (OC)
  • Lee Dong hae (Super Junior)
  • Kim Chae Rin (OC)
  • Kim Young Woon (Super Junior)

Author : OctciKyu

Genre :Married Life, Sad, Romance, Friendship

Length : Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Dong Hae, and Kim Young Woon as himself. OC belong to my imagination character.

 

Halooo Readers,

Happy Reading J

 

“Setidaknya ajari aku bagaimana untuk memiliki kekuatan ketika kehilangan itu datang”

 

Suara lonceng Gereja terdengar nyaring memenuhi seluruh sudut Gereja dan  bagian luar Gereja. Sesaat setelah itu terdengar nyanyian rohani yang menggema dan bersukacita. Sukacita setiap orang yang bernyanyi karena akan mengikuti kebaktian pernikahan dua anak manusia, pernikahan sacral yang membawa dua sejoli itu untuk menempuh hidup baru. Dua anak manusia yang akan dipersatukan dalam ikatan kasih kehidupan rumah tangga.

Pintu Gereja terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya yang sedang menggandeng seorang gadis cantik di sebelah kirinya. Membawa gadis  itu berjalan menuju altar Gereja, membawanya kepada seorang pria yang berdiri menunggu di altar. Sang gadis berjalan dengan langkah yang begitu pasti menatap ke depan, menatap sang Pendeta dan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Jantungnya berdegu kencang, menatap seorang pria di depan altar. Sang gadis merasa bahwa kali ini perjalanan menuju altar begitu sangat jauh, dan merasakan bahwa kakinya terasa lemas ketika sang ayah memberikan tangan gadis itu pada pria tampan itu.

Pria tampan itu menerima tangan sang gadis dengan penuh ketegangan dan timbul rasa takut dalam dirinya. Dia mencoba untuk tetap bersikap tenang sampai prosesi pemberkatan berlangsung.Memberi senyum dan menampilkan wajah yang begitu tenang terpancar dari wajahnya. Segera proses pemberkatan berlangsung dan kedua anak manusia itu mengucapkan janji pernikahan. Saling menyematkan cincin pada jari manis mereka, dan meninggalkan kecupan di dahi. Segera setelah prosesi pemberkatan, air mata sang gadis meluncur dengan indahnya. Air mata yang mewakili perasaannya saat ini, tetapi wajahnya tetap terhias dengan senyuman yang cantik.

*

Kedua anak manusia yang baru saja menyelesaikan pernikahan dan resepsi hari ini, berjalan beriringan memasuki rumah baru yang akna mereka tempati. Sebagai hadiah dari orang tua sang pria. Seharusnya pasangan ini tinggal di rumah orangtua sang pria, tetapi dengan alasan tertentu sang wanita menolak untuk tinggal bersama mertua.

Park Ji Rin POV

Aku merasakan lelah yang amat sangat pada tubuhku, kakiku pegal akibat terlalu lama berdiri hari ini.Bibirku yang terasa lelah akibat olahraga seharian ini, memberikan senyuman pada setiap ribuan orang yang menghadiri pesta hari ini.Tubuh dan jiwaku seakan runtuh saat ini juga, ketika aku terus berjalan menuju pintu rumah mewah ini.Aku dan dia memang berjalan beriringan, diselimuti dengan keheningan yang begitu menakutkan.Bahkan mengalahkan keheningan hutan di malam hari.Dia membukakan pintu dan aku masuk sembari berjalan menuju lantai dua rumah ini.Aku melihat sebuah kamar yang sudah dihias dengan begitu mengerikan bagiku. Di lantai depan pintu kamar tersebut bertaburan bunga mawar dan wangi semerbak yang membuatku ingin pingsan. Diluar saja sudah kelihatan begitu, apalagi di dalam kamar itu.aku melihatnya juga berdiri di depan pintu kamar itu dan mencoba membuka pintu. Sebelum dia benar-benar masuk aku berbicara.

“Aku akan tidur di kamar lain.” Aku berbicara tanpa menatapnya.
“Apa kau berpikir bahwa hari ini hanya aku saja yang menikah? Kamar ini dipersiapkan untuk kita.” Dia bertanya dengan begitu sinis dan aku tidak mempedulikannya.
“Aku tidak pernah berpikir bahwa aku telah menikah hari ini.”Aku menjawab dengan datar dan membelakanginya
“Kau tidak memasuki kamar ini, aku juga tidak.Karena aku juga tidak akan pernah mengganggap bahwa telah terjadi pernikahan hari ini.” Dia mengikuti perkataanku dan aku hanya tersenyum.
“Baguslah kalau begitu.”Aku menjawab pelan dan berjalan meninggalkannya.

Aku menuju kamar tamu yang berada di pojok lantai 2 ini, dan aku tau bahwa di kamar itu hanya tersedia ranjang biasa, lemari kecil dan kaca hias.Aku memang selalu menunjukkan wajah dingin dan datar di hadapan semua orang 3 bulan terakhir ini. Tapi aku akan menangis ketika aku telah sendiri dan ketika aku berdoa. Seperti saat ini aku menangis, sesaat setelah aku meninggalkannya. Aku tidak menyangka bahwa semuanya akan seperti ini, aku tidak menyangka bahwa orang yang dulu ku cintai bahkan sampai saat ini tidak menepati janji untuk menikahiku, karena alasan yang mulia. Aku terdampar disini bersama seorang pria yang tidak aku kenal, dan kami memang tidak saling mengenal.Aku selalu bertanya kenapa harus aku, kenapa harus aku yang memiliki keluarga seperti itu, kenapa aku memiliki oppa seperti itu dan dongsaeng seperti itu, kenapa aku yang harus gagal bersamanya dan kenapa pria itu memilih jalan hidup seperti itu.Aku merasa bahwa aku telah jatuh ke dasar titik terendah.

FLASHBACK

Aku membuka pintu rumah dan mendapati bahwa ruang tamu kosong.Aku berjalan menuju ruang makan dan ternyata seluruh keluargaku berkumpul disana.Aku segera bergabung dan ibu membuatkan nasiku.Aku terkadang merasa iba meilhat ibuku dan aku sering menangis karenanya.Aku benar-benar bersyukur memiliki ibu yang begitu tangguh, hebat dan sabar menghadapi keluargaku. Bahkan aku masih sering mengecewakannya, kadang aku bertanya apakah ketika aku menikah nanti apa aku bisa seperti ibu? Tapi pikiran itu runtuh ketika aku tau bahwa pria yang aku cintai tidak akan pernah bisa menikah denganku bahkan sampai seumur hidupnya. Tiba-tiba ayah memanggil namaku dan aku menoleh.
“Semenjak kau mengetahui tentangnya, kau selalu sedih dan tidak bersemangat. Ayah mengerti kalau begitu terpukul, tapi kau juga tidak bisa untuk menghalangi apa yang telah menjadi jalan hidupnya.” Ucap Ayah dengan tegas.
“Ne appa.” Aku hanya mampu mengucapkan hal itu.
“Karena itu Ayah akan mengenalkan mu seorang pria , cobalah untuk jalin pertemanan dengan pria itu.” Aku memang tidak begitu terkejut, karena aku tau saat-saat seperti ini akan datang. Beberapa minggu lalu aku juga mendengar pembicaraan appa dengan seorang teman appa melalui telepon.
“Ne appa.” Aku hannya menjawab seadanya, karena aku tau bahwa aku harus melalui jalan seperti itu.
“Jirin-ah kenapa kau hanya menjawab ne appa.Apa kau tidak memiliki jawaban lain?” Oppaku bertanya dan membuatku naik darah seketika.
“Diamlah.Kau tidak akan pernah tau tentang apapun.” Aku membentaknya dan ibuku mencoba menenangkanku.
“Hanya begitu saja, kau sudah marah.”Ucap oppaku lagi dan aku hanya mengabaikannya.
FLASHBACK OFF

Aku kembali mengingat percakapan yang menjadi awal kehabisanku. Aku memang menuruti apa yang orangtuaku inginkan, dan mereka memberikan waktu 3 bulan bagiku untuk mengenal pria itu. tetapi yang terjadi salam masa 3 bulan itu hanya terlewat begitu saja, aku dan dia tak pernah berkomunikasi, tak pernah bertemu atas inisiatif kami. Pria yang baru saja bersanding denganku hari ini.Di hari pernikahan ini adalah pertemuan ketiga kami.Pertama, ketika ayah mengenalkanku dengannya.Kedua, ketika kami melakukan fitting baju, dan yang ketika adalah hari ini.Aku tau bahwa aku telah menikah dan sudah sah di hadapan Gereja, tapi dari dalam diriku aku belum bisa menerima. Aku masih jatuh tenggelam pada pesona pria di masa lalu, yang selama ini aku pastikan akan menikah denganku. Pria yang tidak mungkin aku gapai lagi, bahkan dengan cara terhebat apapun yang aku lakukan, aku tetap tidak bisa. Menjadi selingkuhannya, itu adalah poin yang sangat sangat mustahil, berlutut dihadapannya juga tidak akan mempengaruhinya. Dia sudah terikat dengan sesuatu yang tidak bisa dengan mudah untuk kau lepaskan.

***

Cho Kyu Hyun POV
Aku memasuki kamar tidur lantai bawah. Aku memilih lantai bawah karena aku tidak ingin berada di lantai yang sama dengan Jirin. Melihat cara dia yang sungguh menolak keberadaanku membuatku emosi dan benar-benar ingin menjauh darinya. Aku tau bahwa kami menikah karena perjodohan orangtua kami, bukan hanya dia saja yang merasa terluka aku juga merasakannya.Tapi bisakah dia bersikap biasa saja.sekarang dia telah membuka pintu perang dengannya dan aku menyambutnya dengan baik. Aku segera saja menghempaskan tubuhku di ranjang empuk ini, menghilangkan penat tubuh dan pikiranku hari ini.Jirin memang cantik tapi semuanya tertutupi dengan sikap dinginnya yang begitu mendominasi dan tatapan datar yang selalu terpajang indah di wajahnya. Sepertinya orangtuaku menjodohkan orang yang salah denganku, pribadi Jirin benar-benar sama denganku jika aku lihat sejauh ini. Ditambah dengan profesi ku ini membuat ku begitu kaku untuk berhadapan dengan orang lain. aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga ini ke depannya.

**

Pagi hari yang menyapaku dengan senyuman mentari menyapa wajahku, aku tidak bisa tidur lelap mala mini sehingga aku sudah bangun jam 6.30 pagi. Aku memutuskan untuk memandang keadaan luar dari balik jendelaku.Sekian lama aku berdiri disini, aku beranjak keluar kamar karena aku merasa lapar dan haus.Aku melihat di meja makan telah tersedia dua piring nasi goreng, 2 coklat panas, dan kue-kue lainnya.

“Aku membuatkan sarapan, bukan karena aku merasa aku memiliki kewajiban sebagai seorang istri.Tapi hanya sekedar peduli dengan orang yang tinggal serumah denganku.” Tiba-tiba dia menyapaku dengan kalimat seperti itu, tidak bisakah dia menyapaku dengan mengatakan ‘ayo sarapan’ atau cukup hanya tersenyum saja.
“Memangnya siapa yang menganggapmu bahwa kau melakukan ini karena kewajibanmu sebagai seorang istri?Aku bahkan tidak pernah berpikir seperti itu. Karena kita adalah musuh.” Aku menekankan kalimat terakhir ku, aku benar-benar jengkel. Aku melihat Jirin hanya bersikap datar dan tersenyum tipis.
“Baiklah, itu akan semakin memudahkan”
“Memudahkan untuk bercerai maksudmu?”Tanyaku sarkartis
“Aku tidak bilang seperti itu.” oh, dia membalikkan ucapanku ternyata
“Jangan pernah membalikkan ucapanku.”
“Memang benar kan aku tidak mengatakan seperti apa yang kau katakan tadi. Kalau aku salah silahkan koreksi.” Benar-benar mengajakku berdebat rupanya.
“Tatap aku ketika aku berbicara.” Tegasku dengan suara meninggi.Sejak pertama kali bertemu aku dengan Jirin, dia tak pernah menatap ke arahku.Dia selalu membelakangiku, atau melihat kearah lain, atau bahkan hanya melirikku seperti sekarang ini.Aku merasa rendah diperlakukan seperti itu. Di dunia pekerjaanku aku begitu dihormati, dijunjung, tapi dihadapan gadis ini semuanya runtuh begitu saja.
“Apakah ada peraturan ketika aku berbicara padamu, aku harus menatapmu?” Emosiku sudah memuncak, aku mengepalkan tanganku.
“Memang tidak ada, tapi coba hargai orang lain jika kau ingin dihargai.” Jawabku menatap Jirin tajam, yang bahkan hanya sibuk dengan makanannya. Dia tidak lihat bahwa aku sedari tadi berdiri dan sama sekali tidak menawariku untuk duduk.
“Aku tidak perlu melakukan hal seperti itu terhadap seseorang yang bahkan tidak masuk daftar orang yang pernah kukenal.” Aku jengah menghadapi perkataannya.
“Kita memang tidak saling mengenal dan sampai kapan pun akan seperti itu.” jawabku
“Tepat sekali yang kau katakan.”Jirin menyesap coklat panasnya dengan santai
Rasa lapar dan hausku menguap begitu saja ketika berbicara dengannya. Aku memilih meninggalkan nya di ruang makan dan aku mendengar dia berbicara.
“Kalau kau ingin makan, ambilkan saja di lemari.” Aku tidak membalasnya, aku melenggang dengan cepat menuju kamarku.

***
Park Ji Rin POV

Dua minggu telah berlalu semenjak pernikahan itu dan aku tinggal berdua bersamanya di rumah ini.Ini bukan rumahku dengan dirinya, ini hadiah dari mertuaku.Selama seminggu berlalu aku jarang bertemu dengannya.Kami hanya bertemu di pagi hari, ketika sarapan pagi.Setiap pagi aku memang selalu memasakkan sarapan untuk kami berdua, sebagai bentuk pertanggungjawabanku terhadap orangtua nya.Aku masih memiliki kepedulian terhadap orang di sekitarku sekalipun aku tidak pernah mengharapkannya. Kami tidak berbicara banyak selama ini, hanya sekedar sapaan di pagi hari ‘aku pergi’, siang hari kami sama sekali tidak bertemu karena aku sibuk dengan pekerjaanku begitupun dengannya yang sibuk untuk mengurus surat perpindahannya. Aku tidak mengambil cuti untuk pernikahan itu, karena aku memang tidak ingin berdiam diri di rumah.

“Aku pulang” tiba-tiba aku mendengar suara menggema, aku bertanya-tanya siapa orang yang telah salah masuk rumah.Selama ini aku tidak pernah mendengar sapaan seperti itu ketika pintu dibuka. Aku merasa familiar dengan suara itu.
“Jirin-ahh aku pulang.”Aku semakin kaget saja dan segera menuju ruang tamu. Aku melihat pria berseragam yang selama ini tinggal bersamaku  berdiri dengan tersenyum ke arahku dan aku segera memalingkan wajahku.
“Kenapa kau hanya diam saja Jirin-ahh?” Dia bertanya dengan nada yang lembut, beda sekali.
“Apa otakmu bergeser hari ini? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini padaku?” Aku bertanya datar.
“Sapaan seperti inikah yang kau berikan bagi suamimu yang baru saja pulang ke rumah?”Ucapnya masih tetap tersenyum. Aku meliriknya sinis.
“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang suami bagiku.Dan aku tidak perlu melakukan ha-hal manis seperti menyambutmu.”
“Kenapa kau tidak bisa membalas niat baikku.Aku ingin kita memiliki hubungan yang baik Jirin.” Ucapnya lantang dan aku benar-benar tidak suka dengan gaya bicaranya seperti itu. dia pikir aku anak buahnya.
“Dan aku tidak pernah memiliki niat untuk berhubungan baik denganmu.”
“Jirin tolong ubah sikapmu.” Dia berkata dengan nada dingin.
“Aku tidak bisa.Kalau ingin makan siang, pergilah.” Aku melihatnya sebentar dan berjalan meninggalkannya.
“Berhenti disitu dan temani aku makan siang.” Suaranya terdengar memerintah dan aku mengabaikannya.
“Aku bilang temani aku makan siang.”Aishhh, semakin hari dia semakin menujukkan sikap bossy dan dengan sangat terpaksa aku menuju meja makan dan menyiapkan makanannya.
**

“Kenapa kau mau menuruti perkataanku hanya ketika aku membentakmu?”
“Aku melakukan ini bukan karena kau membentakku, tetapi karena aku tau kau tidak bisa melakukannya.”Ucapku sinis
“Haishh, kau selalu saja seperti ini. Tidak bisa bersikap manis, pantas saja kau sampai dijodohkan karena tidak ada satu lelakipun yang mau menikahimu.” Ucapnya meremehkan.
“Lebih baik kau jangan banyak bicara, karena kau tidak mengenalku. Dan kita sama saja, kau juga sampai dijodohkan karena tidak ada satu gadis pun yang mau menikah dengan lelaki sepertimu.” Ucapku setengah tertawa.
“Jirin, kau juga jangan berbicara sembarangan karena kau tidak mengenalku.”
“Kau sadar tidak, bahwa kau yang lebih dulu memulainya.”Ucapku dengan ketus dan dia menatapku tajam.Aku tenang-tenang saja dan memainkan ponselku.Kami sama-sama diam menikmati kesibukan kami.

****

Seorang pria berjalan tegap memasuki kantor barunya di Seoul, dia baru saja mengurus kepindahannya dari daerah tempat dia bekerja selamai ini. Selama ini dia bertugas di Pulau Jeju dan aktif di lapangan, tetapi semenjak kepindahannya dia memilih untuk bekerja di bagian kantor dan mengurangi aktivitas di lapangan.Tentunya ini bukan kemauannya, dia benar-benar sudah menyatu dengan teman-teman tempat dia bekerja dulu dan merasa nyaman untuk tinggal di Pulau Jeju. Ini semua dia lakukan karena permintaan orangtua dan juga mertua sang istri. Tapi sampai sejauh ini dia merasa dia hanya melakukan hal yang sia-sia saja. Waktu telah berlalu dan tidak bisa diputar kembali, jadi dia tidak punya pilihan selain menjalani kehidupannya sekarang.
“Selamat pagi pak” Seseorang yang mengenakan seragam sama dengannya menyapa dengan senyum jahil dan memberi hormat, sangat tidak cocok jika ditilik dari profesinya.
“Selamat pagi.” Pria yang ternyata benaman Kyuhyun memeri salam hormat dengan begitu tegas dan raut wajah yang berwibawa.
“Tidak perlu seserius itu kalau berbicara denganku kwan.” Ucap seorang pria bernama Kim Young Woon.
“Jika di kantor kita harus bersikap professional dan berbicara seputar pekerjaan.” Ucap Kyuhyun dengan nada tegas.
“Bagaimana dengan istrimu? Apakah saran yang aku berikan berhasil?” tanya Young Woon dengan semangat
“Apa kau tidak dengar apa yang aku bicarakan tadi. Apa perlu aku mengulangnya, dan aku pikir kau belum tuli.”Kyuhyun menatapnya tajam dan berjalan meninggalkannya.Sementara Kim Young Woon hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.

****

Cho Kyu Hyun POV

Aku masih begitu sulit untuk beradaptasi di lingkungan baruku, membuatku banyak berdiam diri di ruanganku. Ini memang hari pertama aku bekerja di kantor baruku, tapi aku tetap pulang jam 5 sore. Tidak ada istilah ‘hari pertama bekerja untuk bersantai-santai’.Aku segera menuju perkiran mobilku untuk segera pulang ke rumah. Sebenarnya ketika aku akan kembali ke rumah membuatku frustasi, aku tidak memiliki hubungan yang baik dengan Jirin, dia selalu berbicara dengan dingin, tajam dan pada akhirnya aku juga berbicara seperti itu dengannya. Dia memang menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, walaupun dari dalam dirinya dia tak pernah menganggapnya.Setiap pagi dia membuatkan sarapan dan di malam hari membuatkan makan malam. Tapi hanya sekedar itu, tidak lebih dari itu, tidak seperti istri teman-temanku yang lain. Sungguh mirisnya kehidupan rumah tanggaku.Aku melihat di pekarangan rumahku terparkir mobil appaku. Aku tau bahwa appa dan oemmaakan datang ke rumahku, dan tentunya Jirin tidak tau.
“Annyeong appa, oemma.Jam berapa appa dan oemma tiba disini?” sapaku dan aku duduk di samping kanan Jirin
“Sudah 30 menit yang lalu, appa dan oemma sengaja datang lebih awal sebelum kau sampai di rumah.Karena ingin berbicara dengan menantu.” Ucap appa tersenyum gembira dan aku melihat Jirin tersenyum tidak enak.
“Apa kau tidak mandi dulu Kyuhyun?” oemma bertanya dan terlihat kekhawatiran dari wajahnya.
“Tidak oemma, aku begitu lelah.Jadi aku ingin istirahat dulu dan berbincang-bincang bersama. Dua minggu kita tidak bertemu oemma,  kita hanya berkomunikasi dari telepon saja.” aku tersenyum dan menunjukkan kerinduanku
“Kyuhyun-ahh, Jirin-ahh, appa dan oemma selalu menunggu kalian untuk berkunjung ke rumah. Tapi bahkan sampai 2 minggu kalian tidak kunjung datang, sampai membuat ibu merasa khawatir terjadi apa-apa dengan kalian.” Oemma berkata bahkan ingin menangis dan appa menepuk-nepuk pundak oemma.
“Miane oemma jika kami membuat appa dan oemma menjadi khawatir. Kami terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dan mambuat kami lupa untuk berkunjung walau hanya sebentar.” Aku lihat menjawab dengan perasaan tidak enak yang begitu kentara dan ketika dia mengucapkan ‘appa dan oemma’ kedengaran begitu canggung dan segan.
“Ne miane oemma, appa.Aku mengerti jika oemma merasa khawatir, tapi oemma harus percaya bahwa kami baik-baik saja. Goekjoeng hajimaseyo” aku memberi jawaban yang menenangkan hati oemmaku.
“Oemma merasa lega mendengarnya. Cobalah untuk saling mengenal satu sama lain Kyuhyun-ahh, Jirin-ahh.” Oemma tersenyum senang
“Oemma tidak ingin membuat kalian tersinggung, tapi oemma hanya bertanya saja.Bagaimana rencana kalian untuk memiliki anak?” ucap oemma lagi tersenyum dan itu benar-benar membuat jantungku ingin lepas. Aku tidak menyangka bahwa oemma kan menanyakan hal seperti itu secepat ini. Kami bahkan baru menikah 2 minggu, catat 2 minggu.
“Kami sudah berunding oemma kalau kami akan memiliki anak 2 tahun kemudian. Aku mengerti jika appa dan oemma ingin segera memiliki cucu, tapi kami sendiri ingin focus sejenak pada karir kami.Jirin harap oemma dan appa boleh mengerti.” Jirin menjawab dengan lancar, tidak terlihat keraguan disana, dan dia membrikan senyumnya sambil menundukkan kepala.
“Benar apa yang dikatakan Jirin oemma, apalagi aku baru saja pindah kantor. Aku ingin focus dan menjukkan kinerja terbaikku. Doakan kami oemma dalam pekerjaan kami.” Aku menambahkan perkataan Jirin, dan aku benar-benar minta maaf oemma appa aku telah membohongi kalian.
“Tidak apa-apa. Dulu Oemma dan appa juga baru memiliki anak setelah 2 tahun, tapi yang terpenting kalian saling menjaga komunikasi dan saling memahami.” Ucap appa bijak.

**

Appa dan oemma baru saja pulang, dan kami sedang berdiri di teras rumah. Aku melihat wajah dingin jirin dan menatapku sekilas.
“Kenapa kau tidak bilang kalau appa dan oemma akan datang kesini?” ucapnya langsung
“Bagaimana aku harus memberitahumu huh? Aku saja tidak memiliki nomor ponselmu, SNS mu, email atau apalah itu.” jawabku sekenanya
“Setidaknya kau harus memberitahuku pagi tadi.”
“Pagi tadi aku tidak tau kalau appa dan oemma akan berkunjung kesini, aku baru diberitahu tadi siang. Jadi salahkah aku Jirin-ahh?” Aku menantangnya
“Argghh, aku benar-benar mati kutu akibat pertanyaan mereka.” Dia menggerutu tidak jelas sambil meninggalkanku.
“Itu adalah deritamu.”Jawabku sambil berjalan cepat melewatinya.

****

3 Months later

Park Ji Rin POV

Setiap pagi aku selalu merasa jengkel dan emosiku bisa naik secara tiba-tiba.Aku selalu mencoba untuk menghindarinya, tapi tetap saja aku harus melihatnya dengan penampilan seperti setiap paginya. Ketika aku sarapan lebih dulu, aku selalu berpapasan dengannya di depan pintu kamarnya. Aku keluar pintu terlebih dahulu, tapi tetap saja dia sudah menyusulku dengan cepat.Dan hari ini aku mencoba untuk bangun lebih pagi, membuat sarapan dan makan lebih cepat untuk menghindari bertemu dengannya.Tapi ketika sedang sarapan aku mendengar suara pintu terbuka, dan mendengar langkah kaki yang mendekat.Aku tidak mendongak, karena aku tidak ingin mood ku rusak untuk hari ini. Aku tetap focus pada sarapanku dan menghiraukannya.
“Tidak biasanya kau bangun secepat ini?Apakah kau sudah memiliki jam kerja lebih pagi Jirin-ahh?” tanyanya dengan penekanan yang kentara
“Apa pedulimu?” Aku menjawab tanpa menatapnya
“Aku heran dengan seseorang yang rela bangun pukul 5 pagi hanya untuk menghindari bertemu seseorang.” Ucapnya menyindirku
“Kau tidak tau apa-apa.”
“Kau tidak bodoh kan Jirin? Tidak mungkin kau tidak mengerti apa yang aku maksud.”
“Kau lebih bodoh karena suka mengusik ketenangan orang lain.” ucapku kesal
“Terlihat sekali kalau kau sedang menghindari untuk bertemu denganku beberapa lama ini. Aku tidak tau seberapa bencinya kau padaku, tapi aku tidak menyangka kalau kau akan bertindak seperti ini.” Ucapnya tetap memandangku
“Bahkan sudah 3 bulan pernikahan bodoh ini berlangsung, selama itu pula kau tidak pernah menatapku berbicara Jirin.” Lanjutnya dengan suara yang semakin meninggi.
“Bagus telah menyadarinya, sekarang kau sudah tau bahwa keadaannya memang seperti itu. Jadi aku harap tidak mengusikku, dan biarlah kita berbicara seperlunya saja.” aku menyudahi sarapanku.
“Sarapanlah, aku membuatkan sandwich pagi ini.”
“Bahkan kau tidak tau kalau aku tidak menyukai sayur.” Dia memisahkan sayuran-sayuran.
“Ternyata walau kita sering sarapan dan makan malam bersama, tidak membuatmu untuk menyadari apa yang tidak aku sukai.” Dia mendesah berat dan aku hanya diam saja.
“Maaf, aku merasa bahwa aku tidak perlu untuk mengetahui hal seperti itu darimu.”
“Aku saja bisa mengetahui apa yang kau sukai ketika kau makan.” Jawabnya
“Aku tidak pernah memintamu untuk mengetahui apa yang aku sukai  ketika aku makan.” Ucapku dingin dan beranjak mengambil tas kerjaku.
“Kenapa kau selalu menjawab seperti itu?Kenapa kau membenciku?”
“Kenapa kau begitu tak sudi untuk melihatku Jirin?”Dia berkata pelan dan aku mendengarnya dengan jelas.
“……………….”

TBC…….

Jangan biarkan kebencian tumbuh subur di dalam hatimu, cobalah untuk membuang kebencian sebelum matahari terbenam dan sebelum kebencian itu mengendalikan dirimu.
Keep Reading, Comment, and like readers.
Thank you ^^

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Apr 18, 2015 @ 19:13:09

    Pernikahan mereka kaku banget sih!!
    Tapi semoga aja mereka bisa cepat jatuh cinta deh……

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: