SECRET [6/?]

SECRET [Part 6]

Author: Shin Hyeonmi

Lee Hyukjae | Shin Hyeonmi | Gabriel | Park Sojin | Kim Jongwoon

Chapter | PG-17 | Romance

Rating: General

Tag: Lee Hyukjae, , Eunhyuk, Yesung, Kim Jongwoon, Kim Jong Woon, Super Junior, Superjunior

 

Note: I just hope readers will like this. Thanks for reading it (: And, I’ve published this before on my personal blog ( http://eunhaewife.wordpress.com/ ) Visit me if you have times^^ Happy reading^^

 

 

Two weeks later

Yesung memasukkan surat yang baru saja selasai ia tulis ke dalam sebuah amplop cokelat kecil dan segera memasukka amplop tersebut ke dalam tasnya. Surat pengunduran dirinya dari pekerjaan sebagai pengacara publik.

Pada akhirnya inilah jalan yang ia pilih, ketika permintaan pindah tugasnya oleh sang ketua ditolak pria itu memilih untuk mundur dari pekerjaannya sebagai pengacara publik. Ia sudah mantap pada keputusannya untuk segera pergi menjauh dari Sojin, daripada terus menerus melihat gadis itu dari dekat hanya akan menambag rasa sakit di hatinya.

Ting Tong.. Ting Tong..

Sesaat pria itu menoleh ke pintu utama apartemennya kemudian mengernyitkan dahinya sejenak, befikir siapakah orang yang akan datang bertamu sepagi ini ke apartemennya? Soji tentu saja tidak mungkin, ia sangat ingat jika pagi ini Sojin memiliki jadwal persidangan.

Diletakkannya amplop berisikan surat pengunduran dirinya tersebut sebelum kemudian ia berjalan ke depan, membukakan pintu untuk orang yang datang ke rumahnya tersebut. Sejenak sebelum membukakan pintu, pria itu berhenti tepat di depan layar intercom apartemennya, melihat siapa sosok yang berdiri di depan pintu apartemennya.

Ryeon? Kim Ryeon? Tumben sekali adiknya ini datang berkunjung ke apartemennya. Selama ini adiknya tersebut sangat jarang datang berkunjung ke apartemennya, karena sehari-hari mereka bahkan sudah bertemu di cafe.

Tapi mungkin ini adalah pertemuan pertama mereka, semenjak Ryeon kembali dari bukan madunya di Jeju dan Busan. Dua minggu, apa adiknya ini benar-benar telah melupakan Yesung yang merupakan kakak satu-satunya yang ia miliki? cela pria itu sesaat dalam hati.

Tapi di balik celaannya tersebut, Yesung mengetahui jika memang adiknya ini sedang bersemangat menjalani kehidupan barunya sebagai seorang istri sehingga hampir dua minggu ini ia hanya fokus pada kegiatan mengurus suaminya tanpa datang ke cafe menemui dirinya ataupun ibunya.

“Oppa, cepat bukakan aku pintu!” perintah Ryeon dari balik pintu.

Yesung tersenyum sejenak menyadari bahwa meskipun saat ini status Ryeon telah berubah menjadi seorang istri namun tetap saja seluruh sifatnya tidak ada yang berubah. Ryeon masih seperti Ryeon yang ia kenal sebelumnya, cerewet dan bawel.

“Kupikir kau sudah lupa pada kakakmu,” kata Yesung tepat setelah membukakan pintu untuk Ryeon.

Pria itu berbalik dan segera mejalan ke dalam, membiarkan Ryeon masuk sendiri ke dalam apartemennya tanpa harus ia mempersilahkan adiknya tersebut masuk. Sejenak ia memperhatikan jarum jam dinding yang tergantung pada salah satu sisi tembok sebelum kemudian segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil jas dan juga beberapa berkas yang perlu ia bawa hari ini. Ryeon mengerucitkan bibirnya sejenak atas sindiran halu kakaknya tersebut sebelum kemudian ia melangkahkan kakinya masuk dengan membawa dua kotak berisi makanan yang ia jinjing pada satu sisi tangannya.

Hari ini Donghae, suaminya berangkat sangat pagi-pagi sekali ke rumah sakit, sehingga ia menyiapkan sarapan sangat pagi pula untuk suaminya tersebut. Dan ketika menyadari sarapan yang ia buat terlalu banyak pagi ini akhirnya ia memutuskan untuk mengantarkan makanan tersebut untuk sang kakak yang sudah pasti belum berangkat ke kantor pagi ini.

Setelah masuk ke apartemen Yesung, Ryeon langsung menuju dapur meletakkan membuka kotak makanan yang ia bawa dan kemudian meletakkannya ke atas meja makan agar segera dimakan sang kakak.

“Aku membawakan sarapan untukmu, makanlah sebelum kau berangkat.” Kata Ryeon.

Ryeon kembali mengedarkan pandangannya ke beberapa sisi di apartemen sang kakak yang dapat ia kategorikan cukup bersih kali ini sehingga ia tidak perlu repot-repot membersihkan apartemen ini seperti biasanya ketika gadis itu berkunjung. Namun untuk beberapa saat gadis itu menghentikan pandangannya pada sebuah amplop coklat yang berada diatas meja.

Penasaran ia segera melangkahkan kakinya dan segera mengambil amplop tersebut. Dibukanya amplop berisikan selembar kertas itu dan segea ia membaca isinya. Seketika itu juga ia terkejut ketika mengetahui bahwa ini merupakan surat pengunduran diri sang kakak dari pekerjaannya. Bagaimana bisa kakaknya memutuskan untuk mengundurkan diri? Bukankah ini adalah pekerjaan yang memang diinginkannya seja dulu? Menjadi seorang pengacara yang membantu orang-orang yang membutuhkan perlindungan hukum tanpa perlu ia memeperhitungkan apakah kliennya akan mampu membayar jasa yang ia berikan.

“Apa kau berencana ke cafe hari ini?” Yesung yang keluar dari kamarnya berheti sejenak ketika menyadari bahwa kini Ryeon telah membaca surat pengunduran dirinya, pada akhirnya memang Ryeonlah orang pertama yang mengetahui seluruh rencananya, seperti kini ia juga menjadi prang pertama yang mengetahui perasaannya pada Sojin, “Aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku,” katanya mengaku.

“Wae?”

“Ada tawaran pekerjaan lain, di Ulsan,”

Ryeon seketika itu juga mengangkat wajahnya, menatap kakaknya penuh tanya, “Ulsan? Tidakkah itu terlalu jauh?” tanyanya, “Pekerjaan apa yang ditawarkan padamu disana?” tanyanya lagi

“Temanku baru saja mendirikan sebuah firma hukum disana,”

Ryen menarik nafasnya berat dan menghembuskannya pelan, sebelum kemudiania menghempaskan tubuhnya bersandar pada sofa yang ia duduki, “Firma hukum? Itu artinya kau akan dibayar oleh kliennya sebagai seorang pengacara, bukan dibayar oleh negara karena memberikan perlindungan dan bantuan hukum pada orang lain, apa impianmu sudah berubah?” tanyanya lagi.

Apapun yang dikatakan Ryeon saat ini memanglah benar sehingga tak ada sepatah katapun dari bibir Yesung yang keluar. Memberikan bantuan hukum kepada orang-orang yang membutuhkan tanpa perlu ia meminta bayaran atas bantuanya tersebut karena negaralah yang berkewajiban memberikan upah padanya, itu adalah impiannya sejak dulu. Tapi kini semuanya berubah seiring dengan berjalannya waktu, karena cinta.

Karena cinta ia merasakan bahagia, karena cinta ia merasakan rasa sakit hati, dan karena cinta kini ia harus melepaskan impiannya pula.

**

Hyukjae melangkahkan kakinya memasuki ruangan kerja Donghae, tetapi saat pria itu membuka pintu ruangan tersebut tak ada satupun orang disana yang bisa ia temui. Beberapa saat yang lalu Donghae memintanya datang ke rumah sakit terkait dengan hasil tes DNA yang ia minta dua minggu sebelumnya ketika Gabriel mengalami kecelakaan di Busan.

Sahabatnya itu pada akhirnya benar-benar melakukan permintaannya meskipun mereka tahu hal ini sangat beresiko, melakukan tes DNA tanpa mendapatkan ijin resmi apapun dari wali Gabriel, bahkan Hyeonmi sama sekali tidak mengetahui jika pada saat itu mereka berdua diam-diam mengambil sampel darah Gabriel dan dibawa ke laboratorium Donghae di Seoul.

Beruntung rumah sakit tempat Gabriel di rawat saat di Busan waktu itu adalah salah satu cabang rumah sakit Seoul dimana saat ini Donghae bekerja sebagai dokter disana sehingga mereka setidaknya memiliki sedikit akses untuk mengambil sampel darah Gabriel.

“Perawat Min, apa kau tau dimana Donghae?” tanya Hyukjae sesaat setelah melihat salah satu perawat yang paling ia kenal itu lewat di sekitar lorong menuju ruangan Donghae.

Wanita itu nampak berfikir sejenak, mengingat-ingat kemana perginya dokter Lee sebelum kemudian menjawab pertanyaan Hyukjae, “Sepertinya dia sedang memeriksa beberapa pasien yang hari ini baru saja masuk, tunggu saja sebentar lagi dokter Lee pasti akan segera kembali.” Jawabnya sebelum kemudian kembali melangkah meninggalkan area tersebut.

Mendengar jawaban tersebut Hyukjae segera masuk ke dalam ruangan Donghae dan duduk di salah satu soso sofa. Dihempaskannya punggungnya ke sandaran sofa tersebut sedangkan tatapan matanya beberapa kali berputar melihat-lihat desain ruangan kerja Donghae.

Sesaat kemudian tatapannya berhenti pada sebingkai foto yang terpasang di salah satu rak buku Donghae. Sebuah foto pernikahan Donghae dan Ryeon yang sengaja dipasang disana. Sepertinya pria itu sengaja memasangnya disana dengan tujuan untuk sedikit memamerkan pada siapapun yang masuk ruangan kerjanya ini bahwa ia baru saja menikah dengan gadis pujaannya.

Cih, kau pikir hanya dirimu yang bisa memasang foto pernikahan di ruang kerja, cela pria itu dalam hati.

Tapi untuk beberapa saat kemudian lagi-lagi pikirannya kembali bergerilya, mungkinkah nanti ia juga akan memasang foto pernikahannya di ruang kerja kantornya? Entah mengapa meskipun tanggal pernikahannya sudah semakin dekat dimana hanya tersisa dua bulan lagi, tetapi pria itu masih belum yakin bahwa ia akan menikah dengan Sojin. Justru saat ini ia semakin berharap bahwa rencana pernikahannya dengan Sojin dapat dibatalkan.

Tapi bukankah itu sangatlah tidak mungkin? Persiapan pernikahannya bahkan sudah mencapai 50persen meskipun selama ini ia tidak pernah sedikitpun membantu Sojin menyiapkan acara pernikahan mereka. Selain itu keluarganyapun sudah sangat menantikan hari itu tiba, lalu masih bisakah rencana tersebut dibatalkan?

“Kau sudah datang?” kata Donghae tiba-tiba memecahkan lamunannya.

Pria itu menegakkan badannya sejenak menyambut Donghae, namun tetap pada posisi duduknya diatas sofa dan tak berniat untuk bangkit dan berdiri.

“Mmm, apa hasil tesnya sudah keluar?” tanyanya langsung.

Donghae tampak berjalan mendekat ke meja kerjanya dan membuka salah satu laci mejanya, mengambil sebuah map coklat dan kemudian memberikannya pada Hyukjae. pria itu duduk tepat di samping Hyukjae setelah memastikan map tersebut berada di tangan sahabatnya dan kemudian memperhatikan setiap gerakan Hyukjae.

Hyukjae mulai merasakan dingin yang menyelimtinya padahal tak ada satupun dari mereka berdua yang menurunkan suhu udara dari AC di ruangan tersebut. Tangannya mulai bergetar saat berusaha membuka map tersebut, perasaan ragu itu seketika menyelimutinya.

Berbagai kemungkinan-kemungkinan itu muncul saat itu juga, bagaimana jika hasilnya jika ternyata firasatnya kemarin salah? Lalu apa yang akan dia lakukan juga jika seandainya Gabriel itu benar-benar merupakan darah dagingnya?

Masih dengan tangan yang bergetar, pria itu mulai perlahan membuka ikatan tali map tersebut. Pelan dan pelan, rasanya ia ingin menghentikan saja putaran waktu yang terus bergerak maju ini. siapkah dia menerima segala kebenaran ini nantinya? Siapkah dia?

Hyukjae kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan ketika ikatan tali tersebut terbuka. Tangannya merogoh masuk mengambil selembar kertas hasil tes tersebut, selembar kertas berisi jawaban kebenaran tentang dugaannya sebelumnya.

Deretan angka dan huruf-huruf yang tersusun dalam sebuah tabel dan menandakan kode-kode bahasa kedokteran yang apa artinya itu semua juga tidak ia ketahui. Hingga kemudian pandangannya terhenti pada sebuah kalimat bertuliskan Probability of Paternity 99,348%. Jantungnya terasa seperti dihantam saat itu juga. Bibirnya terbuka karena terlalu terkejutn dan dengan cepat pria itu menutupinya dengan telapak tangannya.

“Apa artinya ini?” tanya pria itu.

“Seperti dugaanmu, hasilnya menunjukkan bahwa dia hasil DNA kalian sama, dia benar-benar anakmu,” jawab Donghae.

Dia anakku? Satu kalimat itu langsung meluncur dalam benaknya, rasanya seperti paru-parunya saat itu juga dipukul keras hingga ia sendiri kesulitan untuk mengambil nafas. Pria itu segera beranjak dari tempatnya dan berlari keluar dari ruangan Donghae saat itu juga.

“Yak, Eunhyuk-ah, kau mau kemana?” teriak Donghae ketika pria itu berlari meninggalkannya namun sama sekali tak dipedulikannya.

**

Ada yang hal yang perlu ku bicarakan denganmu, keluarlah sebentar, aku di depan gedung stasiun tv.

Hyeonmi membaca ulang pesan masuk dari Hyukjae dan kemudian menutup ponselnya. Dimasukkannya kemudian ponsel tersebut ke dalam saku jaket yang ia kenakan sebelum kemudian tatapannya berputar mencari letak mobil Hyukjae yang terparkir di depan gedung tempat ia bekerja.

Wanita itu menghembuskan nafasnya pelan sambil kemudian merucingkan bibirnya saat menyadari hujan saat itu telah turun cukup deras sehingga ia harus memakai payung untuk menuju mobil pria itu.

Sepenting apakah hal yang ingin pria itu bicarakan padanya, sehingga ia harus menembus derasnya air hujan yang turun dari langit untuk menemuinya? Sesungguhnya ia ingin tetap berada di kantor saja hari ini, menyelesaikan seluruh pekerjaannya sehingga ia bisa cepat pulang ke rumah dan merawat Gabriel yang belum sepenuhnya pulih semenjak kecelakaan beberapa hari yang lalu di Busan.

Hyeonmi masih meruncingkan bibirnya, memperlihatkan wajahnya yang sebal sembari membuka payung yang ia genggam sebelumnya dan mulai melangkah menembus air hujan menuju mobil Hyukjae yang diparkir tak begitu jauh dari pintu utama gedung stasiun tv.

Dengan cepat wanita itu melangkahkan kakinya menuju mobil Hyukjae agar ia tak semakin basah oleh percikan air hujan yang mulai membasahi beberapa bagian bajunya. Setelah sampai tepat di samping mobil tersebut, ia mengetuk kaca mobil tersebut beberapa kali dan mendekatkan wajahnya, mengintip sosok tersebut dari luar sebelum kemudian membukanya dan masuk ke dalam.

“Ahh, musim panas benar-benar sudah berakhir,” kata wanita itu basa-basi sambil menutup payugnya dan segera menutup pintu mobil tersebut.

Sesaat Hyeonmi memalingkan wajahnya menatap Hyukjae yang nampak sedikit berbeda karena pria itu cenderung diam saat ini. Biasanya dia bahkan lebih dahulu menyapanya, tapi kali ini berbeda justru Hyeonmi yang pada akhirnya lebih dahulu membuka suara.

“Waeyo? Katamu ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya kamudian.

“Bagaimana kondisi Gabriel?” tanya Hyukjae.

“Sudah semakin membaik, beberapa lukanya juga sudah mulai menutup,” jawab Hyeonmi sambil kemudian tersenyum pada Hyukjae.

Sejak kejadian hari itu, Hyeonmi memang sedikit bertindak lebih lembut pada Hyukjae. Semua itu karena apa yang telah dilakukan Hyukjae pada Gabriel. Seandainya saja saat itu Hyukjae tidak memberikan darahnya pada Gabriel mungkin hal lain akan menimpa bocah kecil tersebut.

“Syukurlah,”

“Hanya itu?” tanya Hyeonmi kemudian, “Kau memintaku datang kesini, menembus derasnya hujan yang turun hanya untuk bertanya satu hal itu?” tanyanya lagi.

Hyeonmi menyipitkan matanya, meminta penjelasan yang lain tentang alasan yang membuat Hyukjae memintanya datang kesini. Bukankah jika ia hanya ingin menanyakan kodisi Gabriel, ia bisa menanyakannya lewat pesan dan Hyeonmi pasti akan menjawabnya. Tapi dari pesan yang dikirimkan Hyukjae padanya tadi, pesan yang memintanya untuk keluar dan menemuinya di dalam mobil sepertinya ada hal lain yang sangat penting yang perlu mereka bicarakan.

“Hyeonmi-ah”

Pria itu menarik nafasnya dalam sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya.

“Bisa kau jelaskan padaku tentang hal ini?” katanya sembari memberikan selembar kertas yang tadi ia peroleh dari Donghae.

Hyeonmi menerima kertas tersebut dan mulai membaca rangkaian huruf yang tertulis disana hingga sampai pada kalimat paling dasar. Beberapa kali matanya berkedip saat itu juga, sedikit tak percaya pada apa yang dia lihat kali ini.

“Benar dia anakku?”

“Jawab aku, dia anakku kan?” tanya Hyukjae lagi.

Sementara Hyeonmi mulai melepaskan kertas tersebut dari genggamannya dan menunduk saat itu juga. Hyukjae yang tak bisa menunggu lebi lama lagi segera meraih tubuh Hyeonmi, membalikkannya hingga tepat menghadap ke arahnya saat itu juga.

“Hyeonmi-ah, katakan kalau dia benar-benar anakku,” kata pria itu masih sambil memegangi kedua pundak Hyeonmi.

Beberapa kali pria itu coba menggoyang-goyangkan tubuh Hyeonmi, meminta agar wanita itu menjawab pertanyaannya dengan cepat, tapi tetap saja ia masih mengunci bibirnya.

“Aniyo.” Kata tersebut akhirnya keluar dari bibir Hyeonmi, pelan, bahkan sangat pelan hingga Hyukjae hanya mendengarkannya samar-samar, “Dia bukan anakmu,” lanjutnya.

Hyukjae memalingkan wajahnya sejenak dan tertawa kecut sebelum kemudian kembali menatap tajam ke arah Hyeomi. Tulang rahangnya mulai tampat terlihat mengeras, menandakan bahwa saat itu emosinya benar-benar tengah naik tapi dengan sekuat hati ia coba meredamnya. Ia tak ingin marah pada wanita ini, karena saat sedikit saja kemarahan itu terlepas dari kendalinya maka Hyeonmi akan semakin jauh dari genggamannya.

“Kau masih berbohong, bahkan ketika semua bukti sudah jelas menunjukkan hal yang sebenarnya,” katanya lagi masih mencoba lembut.

Hyeonmi mulai mengangkat wajahnya, balas menatap Hyukjae yang menatapnya tajam. Namun dalam hati wanita itu mulai ragu, dapatkan ia terus menerus menutupi kebohongan yang telah ia buat? Upaya apa lagi yang harus ia lakukan untuk menutupi kebohongan ini lagi?

Menutup segala akses tentang dirinya dan juga Gabriel dari pria ini? Tapi masih bisakah hal itu ia lakukan ketika kini bahkan Gabriel dan Hyukjae mulai terlihat dekat dan kompak satu sama lain.

Mungkin kesalahan awal yang ia lakukan dulu adalah menerima saja saat pria ini mengantarkannya ke sekolah Gabriel sehingga kala itulah pertama kalinya mereka bertemu. Seharusnya hari itu juga ia tak mengijinkan pria itu pergi membawa Gabriel bersamanya jika pada akhirnya ia mengetahui hal yang melatar belakangi kedekatan mereka berdua adalah karena apa yang ia perbuat sendiri.

“DIA BUKAN ANAKMU,” kalimat yang diucapkan dengan keras itu pada akhirnya benar-benar terlepas dari bibir Hyeonmi.

Dengan cepat Hyeonmi keluar dari mobil Hyukjae saat itu juga dan membuka payungnya sedikit terlambat karena tubuhnya yang telah lebih dahulu berada di luar mobil. Beberapa bagian tubuhnya yang basah akibat percikan air hujan tidak ia pedulikan lagi, yang terpenting saat ini ia harus segera meninggalkan pria itu sebelum hal-hal lain yang selama ini coba ia tutupi dari pria itu mulai terbuka sedikit demi sedikit.

Melihat Hyeonmi yang secara tiba-tiba kabur tersebut, Hyukjae tak tinggal diam. Dengan cepat pria itu meraih jaket kulit yang ia simpan di kemudi belakang mobilnya dan segera berlari mengejar Hyeonmi dengan menggunakan jaket tersebut untuk menutupi kepalanya agar tak terkena ar hujan.

Salah satu kelemahan yang ia miliki adalah bahwa tubuhnya sangat lemah apabila terkena sedikit saja air hujan. Oleh sebab itu pria itu tak mau mengambil resiko yang lebih apabila secara tiba-tiba saja nanti dirinya akan demam akibat hujan ini yang megenai tubuhnya.

Hyukjae berlari cepat mengejar Hyeonmi yang melangkahkan kakinya dengan cepatv memasuki pelataran gedung stasiun tv. Namun sebelum gadis itu sampai di teras stasiun tv pria itu meraih tangan Hyeonmi dan sedikit menarik wanita itu agar sedikit menjauh dari stasiun tv.

Permbicaraan mereka belum selesai, Hyeonmi belum menjawab semua pertanyaannya dengan jawaban yang jujur, jadi tak ada alasan lain baginya selain terpaksa sedikit melakukan hal yang kasar pada Hyeonmi dengan menarik paksa gadis itu.

“Kau belum menjawab pertanyaanku Hyeonmi-ssi.”

“Pertanyaan apa lagi? Dia bukan anakmu! Dia adalah anakku dengan Jongsuk.” Kata Hyeonmi sambil terus menerus meronta, berusaha melepaskan ikatan tangan Hyukjae yang mencengkeram pergelanga tangannya dengan keras.

Satu nama itu tersebut oleh Hyeonmi pada akhirnya yang membuat Hyukjae terhenti saat itu juga. Bahkan disaat seperti ini dia masih sanggup menyebutkan satu nama yang paling ia benci itu. emosinya seketika itu juga bangkit, mengapa harus pria itu yang ia sebutkan, mengapa selalu pria itu yang mengambil semua hal yang seharusnya ia miliki?

“Jongsuk? Bajinganku lagi?” ucap pria.

Hyeonmi berhenti meronta ketika mendengar apa yang dikatakan Hyukjae. Bajingan? Bahkan apa yang selama ini telah dikorbankan Jongsuk telah lebih besar dari apa yang diberikan pria ini padanya, tapi kali ini dengan entengnya pria itu mengatakan bahwa Jongsuk adalah bajingan?

Merasa tak terima dengan penghinaan atas Jongsuk tersebut, Hyeonmi menjatuhkan payung yang melindungi tubuhnya hingga kini ia benar-benar basah oleh air hujan. Dihempaskannya dengan keras kaitan tangan Hyukjae di pergelangannya, dan dengan kuat gadis itu mendorong tubuh Hyukjae hingga pria itu sedikit goyah, menjatuhkan jaket yang menutupi kepalanya, dan sedikit mundur beberapa langkah. Kini keduanya telah benar-benar basah oleh air hujan yang turun.

“Wae? Apa yang kukatakan salah?” maki Hyukjae, “Dia telah mengambil semua yang ku miliki, Kau, dan bahkan anakku juga dia ambil, harus kusebut apalagi pria itu jika bukan BAJINGAN?” lanjutnya.

Seketika itu juga Hyeonmi menampar dengan keras satu sisi pipi Hyukjae, hingga membuat pria itu sedikit terhuyung namun dengan cepat ia dapat kembali mengendalikan tubuhnya

“JANGAN BICARA SEOLAH-OLAH KAU TAHU SEGALA HAL TENTANG JONGSUK!” kata gadis itu keras, “SEDIKITPUN KAU BAHKAN TAK AKAN PERNAH BISA MELAKUKAN HAL YANG LEBIH BAIK DARIPADA PRIA ITU,”

Hyeonmi membalikkan tubuhnya berusaha menutupi air matanya yang mulai menetes. Ia tak ingin terlihat menangis di depan pria ini, meskipun berada di bawah guyuran air hujanpun tak akan memperlihatkan air matanya yang mulai turun dari kedua sudut matanya.

Pelan wanita itu melangkahkan kakinya, sambil sesekali ia berusaha mengembalikan energinya yang sudah cukup banyak terkuras akibat perkelahian singkat tadi. Tapi beberapa saat setelahnya Hyukjae menepuk pundaknya dan kuat membalikkan tubuh Hyeonmi.

Cuuup…

Sebuah ciuman singkat saat itu juga ia dapatkan dari Hyukjae tepat di bibirnya. Hyeonmi terdiam, jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga tapi dengan cepat ia segera menyadarkan dirinya kembali bahwa apa yang baru saja ia dapatkan ini adalah sebuah penghinaan.

PLAAAAK.

Satu tamparan keras seketika itu juga mendarat di sebelah pipi Hyukjae yang membuatnya meringis saat itu juga. Mereka bukanlah apa-apa sekarang, bahkan hubungan yang pernah mereka jalin bersama telah berakhir cukup lama. Bukankah Hyeonmi adalah seorang istri saat ini, dan pria itu sendiri telah memiliki calon istri yang akan segera ia nikahi, bagaimana bisa pria itu melakukan hal itu padanya.

Tapi Hyukjae tak tinggal diam sampai di situ saja. Kembali ia meraih kedua sisi pipi Hyeonmi, menggenggamna erat dan menciumnya tepat di bibir. Hyukjae mencium kuat bibir Hyeonmi dan mulai memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibir bagian bawah milik Hyeonmi.

Sementara Hyeonmi yang awalnya masih terkejut dengan segera melakukan penolakan dan berusaha melepaskan ciuman tersebut. Tangannya yang mengepal berkali-kali memukul-mukul dada Hyukjae, meminta agar pria itu segera menghentikan ciuman mereka. Namun pria itu tetap tak menghentikannya, justru semakin kuat ia kembali melakukan ciuman itu padanya.

Air hujan yang masih terus mengguyur tubuh mereka sama sekali tak membuat Hyukjae sedikit saja menghentikan aktivitasnya. Semakin ia mengeratkan perpaduan bibirnya dalam bibir Hyeonmi. Semakin pula gadis itu berusaha melepaskan dirinya, semakin kuat pula Hyukjae menciumnya.

Hingga pada akhirnya Hyeonmi melemah dan mulai menurunkan kepalan tangannya. Kesempatan tersebut justru semakin dimanfaatkan Hyukjae dengan kembali menggigit bibir bagian bawah Hyeonmi sehingga membuat gadis itu sedikit tersentak dan membuka bibirnya.

Ketika bibir yang sejak tadi diam dan tertutur itu mulai terbuka, kembali ia memanfaatkannya dengan cepat memasukkan lidahnya ke dalam mengabsen setiap deretan gigi Hyeonmi dan kemudian berkelut dengan lidah Hyeonmi.

Pada akhirnya wanita hanya akan mengikuti saja apa yang dilakukan seorang lelaki padanya, ia tak kuasa lagi untuk menolak dan memberikan perlawanannya. Apakah kali ini ia juga begitu merindukan sentuhan dari pria ini? Tidak, bahkan logikanya menentang dengan kuat pemikiran ini, namun entah mengapa serasional apapun saat ini pikiranya, tapi hatinya berkata lain.

Hyukjae perlahan mengalihkan genggaman tangannya ke kepala bagian belakang Hyeonmi, membuat perpaduan diantara mereka semakin dekat dan tak menyisakan jarak sedikitpun. Rintik-rintik hujan yang masih terus menerpa tubuh mereka bahkan seolah semakin memberikan kekuatan pada lelaki itu untuk terus melakukan hal ini dan tak akan melepaskannya.

Namun sedetik kemudian ia dapat merasakan nafas Hyeonmi yang sedikit tersengal. Wanita itu menangis, benar-benar menangis. Apakah ia telah kembali menyakitinya? Entah mengapa perasaan itu muncul kembali. Perasaan yang pernah ia rasakan dulu ketika masih bersama dengan Hyeonmi.

Perasaan sakit yang benar-benar menusuk tepat di jantung hatinya ketika melihat wanita ini menangis. Bagaimana bisa? Bahkan selama enam tahun terakhir ini ia telah berusaha keras untuk mengubah perasaannya pada Hyeonmi dengan perasaan benci, tapi bagaimana bisa saat ini kembali merasakan cinta itu.

Tangannya perlahan mulai turun, jatuh tepat di kedua bagian pudak Hyeonmi. Sementara aktivitas di bibirnya mulai melemah dan perlahan pria itu melepaskan ciumannya. Kepalanya beralih sedikit lebih keatas dan kemudian ia menempelkan dahi mereka berdua.

Cukup lama mereka berdua terdiam dalam posisi tersebut. Diam dan berfiri masing-masing tentang apa yang mereka rasakan saat ini.Sebelum kemudian Hyeonmi melepaskan kedua tangan Hyukjae dari pundaknya dan berbalik meninggalkan pria itu sendirian disana dan segera masuk ke kantornya tanpa mengucapkan apapun pada Hyukjae.

“Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Hyeonmi-ah.” Ucapnya lirih ketika Hyeonmi telah jauh dari jangkauannya.

Dengan cepat kemudian pria itu berbalik, menembus kembali guyuran air hujan yang semakin membasahi tubuhnya, segera masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya menuju sebuah kantor peradilan hukum.

**

Sojin memarkirkan mobilnya tepat di tempat paling ujung dari tempat parkir kantornya. Baru saja ia kembali dari penyelidikan lapangan atas kasus kekerasan yang berkasnya baru saja ia terima pagi tadi dari kepolisian dan berharap pengacara yang akan menjadi tandingannya atas kasus ini adalah Yesung, sahabatnya.

Sepertinya sudah cukup lama sejak kasus terakhir dua minggu yang lalu ia tak kembali berhadapan dengan pria itu dalam persidangan. Selain itu selama dua minggu terakhir ini ia juga bahkan tak pernah bertemu ataupun menghubungi pria itu karena kemarahannya sebelumnya ketika pria itu memutuskan untuk pindah.

Gadis itu mendesah sesaat sebelum mematikan mesin mobilnya, dan kemudian menghempaskan dirinya pada sandaran kursi kemudinya. Cinta dan kekerasan? Mengapa orang yang mengatakan cinta pada kenyataannya dapat melakukan tindak kekerasan kepada orang yang ia cintai? Benarkah itu adalah sebuah perasaan cinta? Atau hanya karena sebuah perasaan cinta sesaat sehingga ketika rasa cinta itu telah habis terkikis oleh waktu maka hanya ada perasaan saling menyakiti yang tersisa?

Hah, kembali ia mendesah dan mulai menutup matanya saat itu juga. Haruskah ia memberikan hukuman yang sesuai pada pelaku kekerasan tersebut? Tapi faktanya yang terjadi saat ini korban bahkan memintanya untuk memberikan hukuman yang ringan saja. Seperti itukah cinta? Bahkan ketika telah disakitipun ia masih memilih untuk menyelamatkan orang yang dicintai?

Dunia ini memang benar-benar gila. Bagaimana mungkin mereka bisa begitu saja melepaskan orang-orang yang telah menyakiti hanya karena alasan cinta?

Drrrt.. drrttt…

Sojin menolehkan pandangannya sesaat pada layar ponselnya dan kemudian segera meraih ponsel tersebut.

Keluarlah

Untuk kesekian kalinya gadis itu kembali mendesah, dan segera melepaskan sabuki pengamannya, berjalan keluar dari dalam mobilnya menuju depan gedung kantornya menemui pria bernama lengkap Lee Hyukjae tersebut.

Sepertinya benar tentang apa yang selama ini ia dengar dari orang-orang Wedding Organizer yang membantunya menyiapkan pernikahan bahwa setiap pasangan yang akan menikah pasti selalu saja memiliki konflik-konflik kecil menjelang pernikahannya. Seperti apa yang ia rasakan kali ini pada Eunhyuk, bahwa hampir seluruh persiapan pernikahan ini dia sendiri yang mengurus dan pria itu tidak terlibat sama sekali di dalamnya.

Marah. Tentu saja ia marah dan merasakan sebal yang berlebihan pada lelaki itu. Bukankah ini adalah acara mereka berdua, tapi sampai detik ini ia sama sekali tak membantunya sedikitpun.

Gadis itu melangkah santai ke arah Hyukjae yang tengah duduk di bagian depan mobilnya yang terparkir di depan gedung perkantoran. Untuk sesaat langkahnya terhenti menyadari bagaimana kini kondisi pria itu. Rambutnya serta baju yang ia kenakan tampak basah, begitu pula bibirnya yang tampak biru memperlihatkan bahwa kini pria itu tengah kedinginan.

Pasti dia baru saja terkena air hujan, dan mungkin saja ia sengaja hujan-hujan, pikirnya. Tapi apa pria ini gila? Bahkan ia sudah tau bahwa tubuhnya sangat rentan terkena demam jika sedikit saja terguyur air hujan, dan nyataya kini ia datang kepada Sojin dengan kondisi seperti ini.

Untuk apa? Apakah untuk menunjukkan bahwa sesaat lagi ia akan jatuh sakit? Lalu apa ia harus pergi dan merawat pria ini jika sakit? Oh tentu saja, bukankah itu memang yang seharusnya dilakukan oleh seorang tunangan. Tapi sepertinya ia terlupa jika ketika ia sakit sebelumnya pria ini bahkan tak pernah merawatnya, justru Yesung sahabatnya yang selalu menemaninya kala ia harus dilarikan ke rumah sakit,

Sementara pria ini? Pria yang statusnya adalah kekasihnya saat itu bahkan tak menjenguknya sekalipun di rumah sakit karena alasan pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan.

“Waeyo?” tanya gadis itu dingin ketika telah sampai tak begitu jauh dari lelaki itu.

Sosok yang sedari tadi menunggu datangnya Sojin itu menunduk kini mengangkat wajahnya dan tanpa ekspresi apapun pria itu menatap gadis di depannya. Hanya memandang dan cukup lama hingga kemudian pria itu menarik nafasnya dalam dan menepuk tempat di sebelahnya, mengisyaratkan pada gadis itu untuk duduk di sampingnya.

Awalnya Sojin ingin menolak, dan mengabaikan saja permintaan pria itu, tapi saat ini pikirannya sedang kacau akibat kasus yang harus ia tangani, belum lagi permasalahan Yesung yang masih menyisakan sedikit kemarahan di dadanya, dan kali ini ia hanya ingin cepat mengakhiri pertemuannya dengan Eunhyuk karena tak ingin lagi menambah beban pikirannya yang masih sangat kacau.

Gadis itu melangkah dan mulai menyandarkan tubuhnya pada mobil bagian depan milik pria itu. untuk sesaat dia kembali tersenyum kecut, menyadari betapa ia sangat menuruti semua perintah pria itu sampai saat ini. Bahkan mungkin ini sudah lebih dari enam tahun hubungan mereka, dan ia tetap saja melakukan hal yang sama setiap kali bertemu dengan sosok ini. Mengalah dan menuruti segala permintaannya.

Awalnya dia pikir hal ini adalah salah satu cara untuk mempertahankan hubungan mereka yang masih terus berjalan hingga enam tahun lamanya ini, tapi lama kelamaan mengapa kali ini ia baru menyadari perbuatan bodohnya ini? Mengapa baru sekarang ia merasa menyesal?

“Sojin-ah, tinggal berapa lama lagi rencana pernikahan kita?” tanya Eunhyuk dengan suara yang pelan dan sedikit bergetar.

Sojin menoleh, menatap wajah Eunhyuk saat itu juga dan sedikit terkejut melihat bibirnya yang mulai membiru. Pria bodoh ini pasti merasakan dingin, terlihat dari warna bibirnya yang telah berubah dan suaranya yang mulai bergetar.

“Dua bulan, wae?” jawab gadis itu singkat.

Kembali Eunhyuk menarik nafasnya berat, hingga Sojin bahkan dapat mendengarkan suara ketika pria itu menghirup oksigen.

“Masih bisakah,” pria itu meghentikan ucapannya sejenak dan kembali mengambil nafas yang panjang, “Masih bisakah semua ini dibatalkan?” kata pria itu akhirnya.

Seketika itu juga Eunhyuk merasakan kelegaan daam dadanya. Kalimat tersebut akhirnya mampu ia ucapkan, kalimat itu akhirnya benar-benar dapat ia katakan, dan kini rasanya sungguh benar-benar lega karena inilah yang sesungguhnya selama ini ia inginkan. Bukan kebohongan yang selalu ia perlihatkan di depan gadis ini.

Lain halnya dengan Sojin, seketika itu juga gadis itu kembali berdiri tegak, pandangannya lurus ke depan dan sekuat tenaga ia mencoba untuk menahan air matanya yang bersiap turun karena keterkejutan ini.

“Wa.. waeyo?” kali ini giliran Sojin yang gemetar, bahkan saat itu juga ia tak bisa lagi mengatur nafasnya yang mulai sesak.

Melihat Sojin yang nampak begitu terkejut, Eunhyuk segera turun dari duduknya dan berniat untuk memeluk tubuh gadis itu, tapi dengan cepat Sojin menangkisnya. Hanya penjelasan yang ia butuhkan saat ini, bukannya pelukan ataupun kata-kata penyemangat dari pria itu.

“Ada seorang wanita yang..” pria itu berhenti sejenak, ragu haruskah ia mengatakan seluruhnya pada gadis ini, tapi menutupinya saat ini adalah percuma toh pada akhirnya nanti Sojin akan mengetahui semuanya, “Ada seorang wanita yang ku cintai, dan seorang anak lelaki yang merupakan darah dagingku,” lanjutnya.

Sekuat tenanga Sojin berusaha menahan air matanya, tapi nyatanya seketika itu juga air matanya keluar. Entah terkejut atau merasa kehilangan yang menjadi alasan utama mengalirnya air matanya kini, tapi semua ini tak dapat ia bendung lagi pada akhirnya.

Mungkin jika alasan pria itu adalah seorang wanita saja keterkejutannya takkan setinggi ini, tapi faktanya kenyataan lain benar-benar membuat jantungnya seolah berhenti berdetak untuk beberapa detik. Anak? Tidakkah ia salah mendengar? Pria ini telah memiliki seorang anak dari wanita lain?

“Mianhae, tapi..”

“Cukup,”

Belum sempat Eunhyuk melanjutkan kalimatnya, Sojin pada akhirnya bersuara. Ia tak mau terlibat terlalu jauh dalam urusan pribadi pria itu, dan ia juga tak ingin mendengarkan terlalu banyak alasan dari pria itu. Bukankah saat ini yang ia tunggu adalah keputusannya untuk benar-benar mengakhiri semua ini?

“Akan kupertimbangkan.” Kata Sojin lagi, gadis itu menunduk sejenak dan kemudian mulai menghapus aliran air mata yang tergambar di pipinya, “Cepatlah pulang, kau akan demam,” lanjut gadis itu sambil kemudian berjalan cepat meninggalkan Eunhyuk seketika.

Sementara Eunhyuk saat itu juga terdiam mennyadari sudah dua orang wanita hari ini yang telah ia buat menangis. Apakah ia memang seorang bajingan? Tapi faktanya itu memang yang terjadi. Lelaki mana yang tak pantas disebut bajingan jika telah membuat dua orang wanita menangis dalam satu hari. Bahkan tak cukup itu saja ia bahkan juga telah menelantarkan darah dagingnya dan juga wanita yang telah membesarkan keturuannya.

Di lain tempat Sojin melangkahkan kakinya cepat, bahkan kini gerakan kakinya terlihat seperti berlari. Entah kemana tujuannya ia hanya mengikuti kemana langkah kakinya pergi membawa tubuhnya. Gedung kantornya bahkan telah ia lewati namun langkahnya tak berhenti atapun berbelok memasuki gedung tersebut.

Untuk beberapa saat gadis itu terjatuh, menyebabkan sedikit luka kecil di lututnya. Gadis itu berhenti sejenak dan meniup pelan luka di lututnya. Kembali ia berdiri, namun ketika kembali melangkah ia kembali terjatuh. Dilihatnya sejenak hak sepatu yang ia pakai ternyata terlepas.

Seketika itu juga air matanya kembali menetes. Tak adakah yang berpihak padanya saat ini? bahkan hak sepatunyapun yang seharusnya membantunya untuk dapat kembali berjalan lepas, seolah turut mengejekinya yang saat ini telah benar-benar dicampakan.

Gadis itu kemudian melepaskan sepasang sepatunya dan membantingnya keras seolah ingin menunjukkan pada sepasang sepatu tersebut bahwa tanpa mereka ia masih akan tetap bisa berjalan, dan untuk apa ia harus mempertahankan sepatu yang bahkan tidak berpihak kepadanya?

Kembali ia melangkah, tak peduli berbagai pasang mata kini mulai memperhatikannya. Seorang gadis yang bahkan mungkin pernah mereka lihat wajahnya di televisi ataupun koran, kini tengah berlari sendiri tak ubahnya seorang wanita gila dengan air mata yang bercucuran dari kedua sudut matanya.

Sojin tak mau memperdulikannya, ia hanya ingin berlari saat ini, bahkan jika boleh ia ingin lari dari kenyataan ini, kenyataan yang benar-benar menghancurkan perasaannya dan bahkan telah mencabik-cabik hatinya.

Hingga kemudian langkahnya terhenti, tepat di depan gedung pegawai negeri yang mungkin berjarak lima gedung dari kantor kejaksaan. Gadis itu berhenti sejenak dan mulai menerawang ke dalam hingga kemudian tatapannya terhenti pada sosok sahabat baiknya yang berjalan keluar dari pintu utama gedung tersebut. Sesaat kemudian ia kembali berlari ke arah sosok tersebut dan dengan cepat memeluk pria itu.

Yesung yang mendapatkan pelukan secara tiba-tiba terkejut saat itu juga, namun selang beberapa detik pria itu sadar bahwa sosok ini adalah Sojin. Tangannya kemudian bergerak, membalas dekapan Sojin yang begitu erat pada tubuhnya. Gadis itu terisak, dan bahkan kali ini ia yakin bahwa gadis itu tegah menangis dalam dekapannya.

Berbagai pertanyaan mulai muncul dalam pikirannya, mengapa gadis ini menangis? Mengapa secara tiba-tiba ia berlari ke arahnya dengan kondisi seperti ini, tanpa alas sepatu dan tangisan yang terus membanjiri kedua pipinya. Namun tak ada sepatah katapun yang terlontar dalam bibirnya melihat kondisi Sojin saat ini, hanya belaian tangannya di punggung gadis itu mencoba menenangkannya.

Beberapa menit mereka bertahan pada posisi tersebut, hingga Yesung mulai merasakan isakan tangis Sojin yang mereda dan akhirnya ia beranikan diri untuk melepaskan dekapan gadis itu pada tubuhnya. Tangannya beralih meraih kedua pipi Sojin dan menatap jauh dalam kedua bola mata gadis itu sebelum kemudian ia tersenyum padanya meskkipun jauh dalam lubuk hatinya masih tersisa begitu banyak pertanyaan.

Tangannya kembali beralih menggenggam satu tangan Sojin, menggandeng gadis itu untuk keluar dari gedung kantornya menuju mobilnya yang terparkir tak begitu jauh dari tempat mereka saat ini. Namun belum sampai lima langkah mereka melangkah, Yesung kembali menghentikan gerak kakinya dan berlutut menatap kedua kaki Sojin yang tak beralaskan apapun. Beberapa detik kemudian ia melepaskan sepatunya dan memakaikan sepatu tersebut pada sepasang kaki Sojin, membiarkan kakinya saat itu berjalan hanya dengan beralaskan kaos kaki.

Sesampainya di samping mobil, pria itu melepaskan genggaman tangannya dan segera membukakan pintu mobil bagian depannya untuk Sojin. Namun gadis itu hanya diam, dan tak segera masuk ke dalam mobil hingga kemudian kembali lagi ia mendorong tubuh Sojin untuk masuk dalam mobilnya dan duduk disana.

Saat ini gadis itu membutuhkan ketenangan terlepas dari apa masalah yang sedang di hadapinya gadis itu benar-benar butuh tempat yang sepi sehingga ia bisa melepaskan segala kepenatan yag sedang memenuhinya. Itulah yang menjadikan alasan Yesung untuk membawa Sojin saat ini pergi dari jejeran gedung perkantoran dimana mereka tadi berada karena tempat itu sangat penuh dan ramai oleh aktivitas-aktivitas pekerjaan.

Yesung memutuskan untuk membawa Sojin ke cafenya. Cafe yang ia miliki baru akan buka nanti sore dan ketika masih tutup seperti ini suasana disana cukup sepi dan cocok untuk gadis itu yang memang sedang membutuhkan ketenangan. Dan bahkan jika sampai nanti sore Sojin belum juga merasa baikan ia telah berniat untuk menutup cafenya hari ini sehingga gadis itu dapat beristirahat disana tanpa harus merasa terganggu karena ia harus segera membuka cafenya.

**

Hyeonmi membereskan beberapa lembar kertas-kertas diatas meja kerjanya, mulai merapikan barang-barang tersebut menjadi satu tumpuk dan segera memasukkkannya ke dalam laci di meja di bagian kiri. Setelah itu ia kembali meraih tumpukan kertas lainnya dan memasukkannya ke dalam tas jinjing yang ia gunakan hari ini.

Ia berdiri dan bersiap untuk pulang dengan membawa tumpukan kertas yang ia masukkan tadi ke rumah. ia memutuskan untuk membaca berkas-berkas tersebut di rumah saja sembari menemani Gabriel yang belum pulih sepenuhnya dari kecelakaan tempo hari. Selain itu ia juga membawa satu tas kecil lainnya berisikan baju basah yang tadi ia kenakan ketika kehujanan. Beruntung di dalam mobilnya masih tertinggal satu baju yang kemarin ia bawa saat berlibur di Busan sehingga meskipun tadi ia sempat basah kuyup karenahujan kini ia bisa berganti baju tersebut.

Dengan cepat ia berbalik dan melangkahkan kakinya keluar, sepertinya ia benar-benar butuh untuk cepat pulang saat ini karena nyatanya sejak tadi saat ia coba melakukan pekerjaannya disini tak ada satupun pekerjaannya yang dapat selesai. Semenjak insiden pertemuannya dengan Hyukja tadi moodnya telah benar-benar buruk sehingga sangat berpengaruh pada hasil kerjanya.

Anak? Apa yang dimaksud pria itu ketika menanyakan bahwa Gabriel adalah anaknya? Apakah sesaat lagi ia akan merebut Gabriel darinya? Tidak akan, hal itu tidak akan pernah ia biarkan.

Bagaimana perjuangannya selama ini untuk mempertahankan Gabriel tidak akan semudah itu jika pria itu ingin mendapatkan anaknya. Ahh tidak, pria itu bahkan tidak memiliki hak untuk merebut Gabriel darinya karena secara hukum dan sah Gabriel telah diakui sebagai darah dagingnya dengan Lee Jongsuk, suaminya.

Jadi bagaimana bisa pria itu akan mengambil Gabriel dan mengaku-ngaku jika Gabriel adalah anaknya?

“Penulis Shin,”

Hyeonmi berhenti sejenak mendengar panggilan yang dialamatkan padanya. Ia berbalik saat itu juga dan melihat seorang petugas keamanan yang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah tas kecil di genggaman tangan kanannya.

“Aku menemukan sebuah jaket kulit di depan gedung tadi setelah hujan, apa kau mengenalinya?” kata petugas keamanan tersebut sambil menyerahkan tas yang ia bawa pada Hyeonmi.

Hyeonmi meraih tas tersebut dan mengintip ke dalam isinya. Sepertinya ini adalah jaket yang tadi sempat dikenakan oleh Hyukjae saat ia baru saja keluar dari mobil dan sepertinya jaket ini terjatuh ketika mereka sempat bertengkar tadi.

“Mohon maaf, tadi aku melihat kalian berdua sedang berkelahi, itulah mengapa ketika aku menemukan jaket ini aku langsung menemuimu,” kata petugas keamanan itu lagi, “Sepertinya ini jaket yang cukup mahal, bahkan mungkin aku hanya bisa membeli jaket ini dengan tiga bulan gajiku, jadi aku minta tolong padamu untuk megembalikannya,” lanjut petugas itu lagi.

Jaket mahal? Tentu saja, bukankah pria pemiliknya ini adalah seorang CEO Zeus, sebuah perusahaan komunikasi yang saat ini tengah menanjak karena produknya tengah menjadi yang paling laris digunakan masyarakat? bahkan tanpa harus pemilik jaket ini bekerjapun Hyeonmi dapat menebak ia pasti akan tetap mampu membeli jaket semahal ini karena ia merupakan seorang putra dari pemilik Haeshin Group yang termasuk dalam lima group terbesar se-Korea.

“Tapi kenapa harus aku yang menyerahkannya?” baru saja kalimat tersebut terlontar dari bibir Hyeonmi tetapi ketika ia kembali mengangkat kepalanya, petugas keamanan yang menyerahkan barang ini padanya tadi sudah berjalan menjauh.

Kenapa harus ia? Sejujurnya ia sudah cukup muak untuk kembali bertemu dengan pria itu setelah insiden tadi. Karena benci? Mungkin, tapi sepertinya itu hanya sebagian kecil dari perasaannya, selebihnya mungkin karena ia tak siap jika harus bertemu dengan pria itu. ia tak siap jika harus merasakan debaran jantung yang sama seperti tadi ketika mereka berciuman, debaran jantung yang sama seperti dulu ketika mereka masih bersama.

Pada akhirnya ia mengambil ponsel yang berada dalam tasnya dan segera mencari kontak nomor milik pria itu dalam list kontak di ponselnya. Apapun yang terjadi kini ia memang harus menyerahkan jaket tersebut kepada pemiliknya, namun ia juga harus dengan cepat mengendalikan perasaannya nanti ketika bertemu dengan pria itu.

Cukup lama Hyeonmi menunggu pria tersebut mengangkat panggilannya, namun kemudian suara operator yang memberitahukan bahwa pemilik nomor tersebut sedang tidak bisa mengangkat teleponnya mulai terdengar. Kembali ia melakukan panggilan lagi, tetapi hasilnya sama sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menyerahkan jaket tersebut ke rumahnya.

Mungkin pria itu sudah berada di rumahnya, atau mungkin jika pria itu belum kembali ke rumahnya maka akan lebih baik, ia telah merencakan untuk meninggalkan jaket tersebut nanti di halaman rumahnya saja sehingga ia tak perlu repot-repot mengendalikan perasaannya dengan melihat wajah pria itu.

**

Ryeon keluar dari taksi yang membawanya ke cafe milik kakaknya. Hari ini gadis itu memutuskan untuk datang berkunjung ke cafe dan membantu menjaga meja kasir disana. Ini masih sore dan sepertinya suaminya tak akan pulang cepat hari ini sehingga ia memutuskan untuk ke cafe setelah pulang dari bekerja.

Namun saat tiba di depan cafe, ia melihat sebuah kertas bertuliskan ‘CLOSED’ tertempel di pintu kaca bagian depan cafe. Aneh. Sepertinya tidak ada perayaan apapun hari ini untuk memutuskan menutup cafe hari ini. Dan sepertinya pengunduran diri kakaknya dari pekerjaan sebagai seorang pengacara publik tidak mungkin dirayakan sampai ia harus menutup cafenya seperti ini.

Ia menoleh sejenak, mendapati mobil kakaknya yang terparkir di halaman depan cafe. Sepertinya kakaknya adal di dalam, dan dengan segera Ryeon melangkah memasuki cafe tersebut.

“Aku akan membatalkan rencana pernikahanku,”

Ryeon berhenti sejenak ketika mendengarkan suara seorang wanita yang sedang berbicara. Sepertinya suara tersebut mirip dengan suara Sojin-eonni, tapi kali ini suaranya terdengar begitu berat seperti orang yang baru saja menangis.

“Dia tidak pernah mencintaiku, bahkan setelah enam tahun lamanya kami bersama aku yakin ia sama sekali tidak pernah menyimpan perasaan padaku,”

Sontak saat itu juga Ryeon terkejut dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Itu benar-benar suara Sojin-eonni dengan nada suara yang gemetar. Beberapa kali ia bahkan dapat mendengar suara Sojin yang terisak menandakan bahwa tangisnya belum sepenuhnya reda.

“Apakah kau sudah mempertimbangkan ini dengan baik?” kali ini giliran Yesung yang berkata.

“Tidak ada jalan lain Yesung-ah, pria itu..” Sojin kembali menghentikan kalimatnya dan mengatur nafasnya kembali, “pria itu sudah memiliki seorang anak dari wanita lain,” lanjutnya.

Seorang anak? Ryeon yang masih menguping pembicaraan mereka berdua seketika itu juga lemas. Ia sungguh tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar, benarkah Eunhyuk-oppa yang selama ini ia kenal sebagai sahabat baik suaminya itu sudah memiliki seorang anak.

Saat itu juga Ryeon segera masuk ke ruangan dimana saat itu Sojin dan Yesung berada. Dengan cepat gadis itu mendekat kearah Sojin dan merengkuhnya, memeluk Sojin erat saat itu juga menandakan bahwa saat ini ia juga cukup merasakan apa yang dirasakan gadis itu.

“Eonni mian, aku sudah mendengarkan semua pembicaraan kalian,” kata gadis itu masih sambil memeluk erat tubuh Sojin.

Jika saat ini ia dihadapkan pada posisi yang sama seperti Sojin mungkin Ryeon tak akan setegar gadis itu. Ia yakin bahkan mungkin ia sudah melakukan hal yang lebih gila dari apa yang dilakukan Sojin, bisa saja saat ini Ryeon akan mencoba mengakhiri hidupnya jika ia benar-benar berada dalam posisi yang sama seperti yang di hadapi oleh Sojin.

Dia yang hanyalah orang luar dalam hubungan Sojin dan Eunhyuk bahkan benar-benar terkejut dengan kenyataan bahwa ternyata pria itu sudah memiliki seorang anak, lalu bagaimana dengan Sojin yang selama ini menjalin hubungan dengan pria itu? tentu saja hatinya merasakan hal yang teramat pedih bukan?

Tunggu dulu, Ryeon melepaskan pelukannya kemudian. Seorang anak? Tiba-tiba saja kilasan memorinya seolah kembali berputar pada kejadian dua minggu yang lalu ketika dia dalam perjalanan bulan madu dengan Donghae di Busan.

Saat itu tiba-tiba saja Eunhyuk datang menemui mereka ke Busan. Sempat saat itu ia sempat mengira bahwa kedatangan pria itu ke Busan adalah untuk mengganggu acara bulan madunya dengan Donghae. Tapi berkali-kali pula ketika itu Eunhyuk mengatakan bahwa ia datang bukan untuk mengganggu mereka.

Selang setelah itu, masih pada hari yang sama saat sore hari tiba-tiba saja pria itu menelepon suaminya dan meminta mereka untuk segera datang ke rumah sakit. Saat itu tidak ada pilihan lain bagi mereka ketika mendengar suara yang teramat cemas dari pria itu untuk mengikuti permintaannya.

Sesampainya disana fakta lain yang membuat Ryeon tak mengerti adalah pria itu sedang bersama dengan seorang wanita muda yang sepertinya seumuran dengannya tapi sudah memiliki seorang anak berusia enam tahunan. Sepertinya wanita itulah yang menjadi penyebab ini semua, benar pasti wanita itu. Ryeon yakin dengan pasti karena pada saat itu Eunhyuk-oppa terlihat begitu cemas melihat anak dari wanita itu yang baru saja mengalami kecelakaan.

“Ryeon-ah, tolong jaga Sojin sebentar, aku akan mengambilkan segelas air untuknya.” kata Yesung kemudian sambil menepuk pundaknya.

Yesung kemudian berlalu, meninggalkan Sojin dengan Ryeon ke dalam bukan untuk mengambilkan air untuk gadis itu, tapi pria itu diam disana dan mulai kembali merenung. Mengapa rasanya begitu sakit? Ketika gadis itu mengatakan akan menikah hatinya terasa sakit karena berpikir ia akan kehilangan wanita yang begitu ia cintai. Tapi kini tidakkah seharusnya ia bahagia karena ia tidak akan kehilangan gadis itu, setidaknya ia tidak akan kehilangan Sojin dalam waktu dekat ini.

Tapi melihat bagaimana gadis itu menangis dan merasakan sedih yang teramat mendalam, mengapa hatinya juga merasakan begitu sakit. Bahkan ini lebih sakit dari luka yang sebelumnya. Mungkinkah ini hanya karena ia melihat gadis itu menangis sehingga ia merasakan marah. Benar, kini bahkan asanya ia ingin marah sejadi-jadinya pada pria itu, pria yang telah membuat gadis yang ia citai menangis.

Sementara di tempat lain, Ryeon masih coba menenangkan Sojin dengan beberapa kali mengusap pundaknya dan menyapu pipinya yang basah karena aliran air dari sudut matanya. Beberapa kali ia membuka bibirnya berniat untuk mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya ia kembali menutup mulutnya dan berpikir ini bukanlah saat yang tepat jika ia mengatakan apa yang ia lihat waktu itu di Busan mengingat kondisi Sojin yang masih belum stabil.

“Hari ini, oppa menyerahkan surat pengunduran dirinya,” kata gadis itu pelan.

“Mwo?” tanya Sojin seketika itu juga.

“Eonni, apa kau tidak menyadari bagaimana sesungguhnya oppa-ku selama ini?”

Sojin membulatkan matanya saat itu juga. Awalnya ia tidak mengerto apa inti pertanyaan yang dilontarkan Ryeon padanya, tetapi pada akhirnya gadis itu mengerti kemana arah pertanyaan itu akan berlabuh.

“Oppa-ku sangat mencintaimu, tidakkah kau pernah menyadari hal ini?”

**

Hyeonmi mematikan mesin mobilnya setelah memarkirkannya dengan cukup rapi di piggir jalan tepat di depan rumah Hyukjae. Sesaat sebelum keluar dari mobil gadis itu kembali terdiam menatap jaket tersebut dan kemudian memalingkan pandangannya ke arah rumah Hyukjae yang terlihat menyala lampunya.

Rumah ini benar-benar mirip seperti desain rumah yang pernah dijanjikan pria itu dulu ketika mereka masih bersama. Anak tangga yang merupakan jalan utama untuk masuk ke halaman rumah yang tertutupi pagar tinggi. lalu halaman rumahnya yang hanya terisi rumput dan sebuah ayunan tepat di depan jendela kaca dari arah ruang tamunya. Semuanya, semua ini benar-benar sama seperti harapan mereka dulu.

Tiba-tiba saja hatinya terasa begitu sakit melihat semua ini. Bukankah ini adalah sebuah hadiah yang khusus dipersembahkan Hyukjae untuknya dulu? Tetapi mengapa pria itu tetap saja membangun rumah ini meskipun hubungan mereka telah berakhir. Ini adalah harapan mereka, ini adalah milik mereka berdua, dan ketika hubungan yang pernah mereka jalani telah berakhir seharusnya pria itu juga membuang semua mimpi mereka sehingga tidak akan menyisakan rasa tidak rela untuknya.

Tak ingi kembali larut dalam kenangan masa lalunya, Hyeonmi segera membuka pintu mobilnya dan berjalan mendekat ke rumah Hyukjae. Tapi sebelum sempat ia masuk ke dalam, seorang pria pengantar pizza delivery memanggilnya dan datang ke arahnya.

“Agashi, apa kau mengenal pria penghuni rumah ini?” tanya pria itu dengan nafasnya yang sedikit tersengal, “Aku sudah mengetuk pintu rumahnya berkali-kali sejak tadi untuk mengantarkan pesanannya, tapi pemilik rumah ini tidak menjawab,” lanjutnya.

Sesaat Hyeonmi mengerutkan keningnya, mengerti apa yang dimaksud oleh pria ini. Tapi ia sendiri juga tidak ingin bertemu dengan si pemilik rumah ini, bukanakah sudah jelas niatnya tadi hanya akan meninggalkan jaket ini di halaman rumah pria itu tanpa harus bertemu dengan Hyukjae.

Tapi melihat wajah penuh harap dari pengantar pizza ini rasanya hatinya kembali terketuk untuk membantunya. Seorang pengantar makanan seperti ini pasti memiliki tanggung jawab yang lebih, masih ada banyak pesanan pizza yang harus diantarkannya, sedangkan ia yang sebentar lagi mungkin akan segera pulang ke rumah dan beristirahat.

“Arraseo, aku akan membawanya ke dalam, berapa yang harus ku bayar?” tanya Hyeonmi.

Setelah selesai melakukan pembayaran ia segera masuk menaiki anak tanga menuju halaman rumah Hyukjae. Tak dihiraukannya rasa berdebar yang mulai terasa di dadanya. Hanya satu yang ia iginkan saat ini, segera mengakhiri pertemuannya kali ini dan pergi dari rumah ini.

Beberapa kali ia mengetuk pintu rumah Hyukjae, namun sepertinya yang dikatakan pria pengantar pizza delivery tadi benar. Tak ada jawaban apapun dari pria itu. Merasa ada yang janggal, akhirnya Hyeonmi memutuskan untuk membuka pintu rumah tersebut dan sedikit terkejut karena ternyata pria itu sama sekali tidak mengunci pintu rumahnya.

Perlahan ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah tersebut dan kembali ia di hadapkan pada desain interior dalam rumah ini yang benar-benar sesuai dengan apa yang diceritakan Hyukjae dulu padanya. Sebuah jendela kaca besar di samping ruang tamu yang berhadapan langsung dengan halaman rumahnya yang terdapat sebuah ayunan besar. Kemudian di samping rak tv sebelum menuju dapur benar-benar terdapat beberapa pot bunga yang masih kosong hanya terisi tanah-tanah tanpa tanaman di dalamnya. Ini adalah salah satu permintaannya dulu ketika pria itu menawarkan rumah seperti ini untuknya.

Sesaat Hyeonmi berhenti dan memegangi dadanya yang benar-benar terasa sesak. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Rumah ini benar-benar mimpinya yang telah terwujud, namun sayangnya ia tak akan pernah bisa memiliki rumah ini. Setidaknya itulah adanya, takdirnya bukanlah dengan pria itu karena sebentar lagi pria itu akan segera menikah dengan Park Sojin.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Hyeonmi terkejut dan ketika ia berputar memalingkan wajahnya ke belakang ialebih terkejut lagi melihat Hyukjae yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah yang sangat pucat. Bibirnya yang tampak berubah warna menjadi putih pucat, rambutnya yang terlihat acak-acakan, dan lagi kini ia mengenakan sweater panjang yang dilapisi lagi dengan jaket tebal.

“Kau sakit?” tanya Hyeonmi.

“Seperti biasa, ini karena terkena air hujan tadi.”

Hyeonmi teringat saat itu juga bahwa pria ini mudah sekali demam apabila sedikit saja terkena air hujan. Dan tadi saat di depan stasiun tv dia bahkan tidak hanya terkena air hujan, tapi lebih tepatnya berhujan-hujanan bersamanya. Ia sedikit menyesal dan tak mengira bahwa perbuatannya tadi ketika ia mendorong pria itu hingga jaketnya terjatuhlah yang menyebabkan Hyukjae kini terkena demam.

“Aku mengantarkan jaketmu yang terjatuh tadi, dan apa kau memesan pizza? Tadi aku bertemu dengan pengantarnya di depan.” Kata Hyeonmi sambil menunjukkan pesanan pizza milik Hyukjae.

“Taruh saja disana,” jawab Hyukjae singkat lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.

“Kau tidak makan?” tanya Hyeonmi namun tidak ada jawaban apapun dari Hyukjae, “Apa kau sudah minum obat?” tanyanya lagi namun tetap saja pria itu tak menjawabnya.

Hyeonmi kemudian berjalan ke arah dapur milik Hyukjae dan memutuskan untuk membuatkan minuman hangat untuk pria itu.

Sepertinya Hyukjae benar-benar sedang sakit sehingga ia tak mau terlalu banyak bicara seperti biasanya. Dan lagi mungkin dia juga sedang tidak bernafsu makan sehingga ia membiarkan saja pesanan pizzanya yang telah datang.

Hyeonmi berjalan pelan memasuki kamar Hyukjae dan menaruh gelas berisi teh hangat tersebut ke atas meja yang terletak tepat di samping ranjang yang kini tengah digunakan untuk berbaring oleh pria itu. Sesaat gadis itu menepuk tubuh Hyukjae, membagunkannya untuk meminum sedikit minuman yang telah ia buat.

“Jangan pergi,” kata pria itu ketika mengembalikan gelas minuman itu kepada Hyeonmi.

“Ani, aku akan ke dapur sebentar mengambil air untuk mengompresmu,” kata wanita itu.

Segera Hyeonmi berjalan keluar membawa gelas minuman kosong yang baru saja dihabiskan oleh Hyukjae. Diambilnya baskom dari rak dapur dan mengisinya dengan air dingin. Sebelum membawanya kembali ke kamar Hyukjae, ia meraih selembar kain handuk kecil untuk iagunakan mengompres tubuh Hyukjae.

Sesaat setelah memasuki kamar Hyukjae ia berhenti sejenak dan melihat pria itu yang sudah tertidur kembali. Sepertinya ia benar-benar sedang kesakitan dna itu semakin membuat Hyeonmi merasa bersalah karena telah membuatnya seperti ini.

Kembali ia melangkahkan kakinya mendekat pada Hyukjae dan mulai membasahi kain handuk yang ia bawa dan memerasnya sebelum kemudian ia tempelkan di dahi Hyukjae. Pria bodoh, jika kau merasa tidak enak badan seharusnya jangan pulang ke rumah, maki gadis itu dalam hati. Tidak ada orang lain di rumahnya saat ini karena pria itu hanya tinggal sendirian dan bagaimana bisa ketika sudah merasakan sakit ia malah pulang ke rumah, seharusnya ia pulang ke rumah orang tuanya atau kemana saja sehingga ada orang yang akan merawatnya.

Melihat pria itu yang tengah tertidur sembari tetap memegangi kain handuk yang menempel di dahinya mengingatkan Hyeonmi kembali pada saat-saat mereka masih bersama dulu. Tidakkah dulu mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai satu sama lain dan semua itu terasa sangat indah baginya?

Tiba-tiba saja air matanya mulai menetes, mengingat hal terburuk yang pernah ia lalui dalam hidupnya. Seorang wanita seusia ibunya yang datang menemuinya dan memberikan segepok uang untuknya agar pergi menjauh dari kehidupan pria ini. Harga dirinya saat itutelah terlampau tinggi untuk menerima uang itu dan menuruti perintah wanita itu untuk menggugurkan bayi dalam kandungannya yang bahkan masih berusia lima minggu.

Hyeonmi menghapus aliran air matanya saat itu juga. Melihat pria ini saja luka itu kembali membekas, padahal itu hanya melihat. Ia tahu bahwa pria ini sama sekali tidak bersalah atas kejadian enam tahun yang lalu akan tetapi pria inilah yang menjadi alasan utama mengapa kejadian enam tahun yang lalu itu bisa terjadi.

Menyadari bahwa kini ia telah berada di tempat yang salah, dengan cepat Hyeonmi mnarik tanganya dan berniat untuk segera pulang meninggalkan pria ini. Namun gerakannya terjenti ketika merasakan genggaman tangan pria itu pada telapak tangannya yang tak mengijinkannya untuk pergi.

“Jangan pergi, kumohon jangan pergi.” Ucap Hyukjae masih dengan kedua matanya yang tertutup.

**

Jung Deokmin melangkah cepat memasuki ruangan kerja suaminya dengan wajah yang nampak cemas. Baru saja ia mendapatkan telepon dari keluarga Hakim Park bahwa putri mereka memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahannya dengan Hyukjae, putra pertama di keluarga mereka.

Sesaat setelah kedua kakinya telah sampai dalam ruangan kerja tersebut, wanita itu diam menyadari bahwa saat ini suaminya telah mengetahui semua ini. Pria itu pasti akan marah besar karena pernikahan tersebutlah yang selama ini benar-benar telah ia tunggu, ketika putranya benar-benar resmi menikahi seorang Jaksa yang juga merupakan putri dari seorang Hakim Agung di Korea.

Berbagai rencana bahkan telah dolakukan pria itu ketika nanti pernikahan tersebut telah benar-benar terjadi salah satunya adalah bersiap saham-saham yang ia miliki di berbagai tempat akan meningkat saat itu juga karena pernikahan ini. Tapi kini semua itu akan menjadi mustahil melihat apa yang saat ini terjadi.

“APA SAJA YANG KAU LAKUKAN HAH?” teriak pria itu bahkan sebelum Jung Deokmin mengatakan apapun.

“Jongsohamnida.” Ucap wanita itu pelan.

“Kau bilang dulu sudah menyelesaikan wanita itu? Tapi kenapa saat ini dia kembali dan menghancurkan rencana pernikaha Hyukjae dengan Sojin?”

*TBC*

1 Comment (+add yours?)

  1. allrisesilverdh
    Apr 17, 2015 @ 21:22:47

    lanjut miiinnn (y)😀

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: