Marriage Not Dating : Our Wedding, Right? [1/?]

Title : Marriage Not Dating : Our Wedding, Right? 1 of 2
Cast :
• Cho Kyuhyun
• Yoo Hyunjin
• Cho Ahra
• Lee Donghae
• Lee Hyukjae
• Shin Jihye
• Their Parent
Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family
Rated : PG 13
Length : Chaptered
Author : Garini Cho
Before : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2014/11/22/marriage-not-dating-how-it-begins/
Homepage : https://kyujinzone.wordpress.com/

Setelah acara makan malam itu, omongan Hyunjin dan Kyuhyun tentang orang tuanya yang tidak main-main menjodohkan anak mereka terbukti benar. Terhitung sudah dua minggu setelah acara makan malam waktu itu. Kedua pasang suami istri itu sering melakukan pertemuan untuk membahas masalah perjodohan itu anak mereka. Tidak mendapat penolakan seperti biasanya dari Kyuhyun membuat Tuan dan Nyonya Cho sangat bersemangat dengan perjodohan ini.
Sedangkan Kyuhyun dan Hyunjin kini sudah mulai akrab seperti dulu. Dan Kyuhyun tidak lupa untuk meminta nomor handphone Hyunjin. Selama dua minggu ini pun beberapa kali Kyuhyun dan Hyunjin menghabiskan waktu berdua walau hanya untuk makan siang bersama. Dan tentu saja itu atas ide Kyuhyun.
Malam ini kembali Tuan dan Nyonya Yoo bertemu dengan Tuan dan Nyonya Cho untuk membahas tanggal pernikahan. Hyunjin yang tidak suka sendirian dirumah kembali memaksa Jung Ahjumma – orang yang membantu eomma dirumah, untuk menemaninya sampai orang tuanya pulang. Padahal jam kerja Jung Ahjumma biasanya hanya sampai jam 6 sore, tetapi karena ia memohon untuk ditemani, dan Jung Ahjumma yang tidak tega, jadilah Jung Ahjumma menemaninya sampai orang tuanya pulang.
Kini Hyunjin yang ditemani Jung Ahjumma sedang berada di ruang tengah sambil menonton televisi. Sekembalinya ke Korea, Hyunjin menjadi keranjingan menonton drama korea, dan ia lebih memilih untuk berada dirumah sepulang kerja dari pada pergi entah kemana hanya untuk menonton drama kesukaannya.
Drama yang tengah ditonton Hyunjin kali ini menceritakan kedua tokoh utama yang sedang menikah. Mereka tampak sangat bahagia dengan pernikahannya walaupun ditentang oleh Eomma si laki-laki. Kini tampak si pengantin laki-laki tengah mencium mesra bibir pengantinnya.
“Romantisnya” komentar yang dilontarkan Jung Ahjumma membuat Hyunjin mau tak mau menganggukkan kepala menyetujui apa yang barusan diucapkan Jung Ahjumma.
“Apa mereka akan bahagia?” pertanyaan tanpa sadar terucap oleh Hyunjin.
“Tentu saja. Mereka kan saling mencintai. Walaupun acara pernikahan mereka sederhana dan tidak direstui, mereka akan tetap hidup bahagia.” Jelas Jung Ahjumma seperti dialah yang membuat cerita drama tersebut.
“Apakah benar seperti itu?” Tanya Hyunjin dengan polosnya kepada Jung Ahjumma.
“Nona, bukankah kau sebentar lagi akan menikah? Kau pasti akan tahu rasanya bahagia saat menikah.” Ucapan Jung Ahjumma barusan berhasil membuat Hyunjin tertegun sesaat. Bahagia?
“Bagaimana saat kau menikah dulu, Ahjumma?” kembali Hyunjin melontarkan pertanyaan, tetapi kali ini mengalihkan arah perbincangannya dengan Jung Ahjumma.
“Hmmm.” Gumam Jung Ahjumma tak jelas karena sedang mengingat-ingat memorinya saat menikah dulu.
“Pernikahanku sangat sederhana, bahkan tidak ada pesta atau acara yang mengundang banyak orang. Suamiku bukan orang berada, sehingga kami hanya melakukan pemberkatan di gereja kecil dan mendaftarkan pernikahan kami di catatan sipil. Bahkan gaun yang aku kenakan saat menikah dulu adalah gaun sewaan.” Jung Ahjumma kemudian tersenyum miris. Hyunjin yang merasa tidak enak hanya diam dan tidak berani memberikan komentar.
“Terlepas dari semua itu, aku sangat bahagia dengan pernikahanku, nona. Walaupun saat itu aku hanya mengenakan gaun sewaan, tapi suamiku memujiku terlihat sangat cantik saat itu. Bahkan kata suamiku, aku lebih cantik dari pada bunga yang sedang aku pegang saat itu, Hahaha” Jung Ahjumma tertawa geli mengingat saat-saat pernikahannya dulu dan tawanya kemudian tertular pada Hyunjin. Gadis itu ikut tertawa bersama Jung Ahjumma, akan tetapi ada terselip sedikit rasa iri dihatinya mendengar cerita Jung Ahjumma. Dengan keadaan seperti itu, Jung Ahjumma tetap merasa sangat bahagia karena ia menikahi orang yang ia cintai dan mencintainya.
Ditengah tawa mereka, terdengar suara bel. ‘siapa yang bertamu malam hari begini?’ benak Hyunjin.
Kemudian Jung Ahjumma yang sudah menghentikan tawanya beranjak dari duduknya dan membuka pintu depan. Hyunjin kembali menonton drama dihadapannya setelah sebelumnya terputus karena mendengar cerita Jung Ahjumma. Tak berapa lama kemudian terdengar suara teriakan dari pintu depan yang membuat Hyunjin terlonjak kaget.
“Yaaak! Yoo Hyunjin! Kau kembali ke Korea dan tidak memberi tahu aku! Dasar kau!” dan kemudian terasa tangan seseorang yang melingkar di lehernya, dan membuat Hyunjin kesulitan bernafas.
“Aaaaa! Ampun! Ampun eonni! Lepaskan, aku bisa mati!” rontanya sambil berusaha melepaskan tangan yang berada di lehernya.
“Rasakan! Siapa suruh tidak memberi tahu aku tentang kepulanganmu, huh? Bahkan aku baru saja tahu dari Appa, karena Eommamu memberitahu bahwa kau akan menikah! Kau anggap apa aku, haaaah! Setelah tidak memberitahuku bahwa kau sudah pulang, dan sekarang kau akan menikah! Mati kau ditanganku, Hyunjin!” tidak puas dengan hanya melingkarkan tangannya di leher Hyunjin, kini ia mengubahnya menjadi cekikan dan mengguncang-guncangkan badan Hyunjin.
Jung Ahjumma yang melihat itu hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah lama tidak menyaksikan pemandangan seperti saat ini. Kemudian ia pun berlalu ke dapur, menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk dua orang yang saling berteriak itu.
Sekembalinya ke ruang tengah dengan nampan berisi makanan dan minuman, Jung Ahjumma mendapati kedua orang yang tadi sedang berteriak-teriak kini sudah sama-sama tepar. Yang satu tepar karena lelah terguncang-guncang dan yang satu tepar karena lelah mengguncang-guncang.
“Nona, Ahjumma ada urusan mendadak. Ahjumma pulang tidak apa-apa, kan? Sekarang kan sudah ada yang akan menemanimu” Tanya Jung Ahjumma yang sebelumnya mendapat telepon agar pulang sekarang.
“Jangan Ahjumma. Nanti aku mati” lirih Hyunjin yang masih lemas akibat kejadian barusan, melarang Jung Ahjumma pulang.
“Pulang saja Ahjumma. Aku juga akan menginap disini” bantah suara lain.
“Baiklah, Ahjumma pulang dulu, ne”
♥♥♥
Untuk sejenak suasana rumah menjadi sunyi setelah kepulangan Jung Ahjumma. Hanya terdengar suara televisi yang sedari tadi masih menyala tetapi tidak di tonton.
“Aku tidak akan mempermasalahkan kenapa kau tidak memberitahuku atas kepulanganmu saat ini, karena kau memang tidak menganggapku sebagai Eonnimu” rajuk seseorang yang kini sedang duduk disebelah Hyunjin.
Shin Jihye. Sepupu Hyunjin, anak dari kakak laki-laki eomma Hyunjin. Usianya lebih tua 5 tahun dari Hyunjin dan sangat dekat dengan Hyunjin karena mereka berdua sama-sama anak tunggal.
“Eonni jangan begitu. Siapa bilang aku tidak menganggapmu? Sepulangnya aku ke Korea, aku sangat sibuk mengurus ini dan itu, Eonni. Kau juga sedang sibuk dengan pekerjaanmu sebagai koki, kan? Aku minta maaf, ne” jelas Hyunjin sambil memeluk Jihye dari samping.
“Yak lepaskan! Peluk saja calon suamimu! Jangan peluk aku!” sembur Jihye sambil berusaha melepaskan pelukan atau lebih tepatnya kungkungan Hyunjin, karena saat ini Hyunjin bukan hanya sekedar memeluknya dengan tangan, tetapi juga dengan kakinya.
Hyunjin tidak mengindahkan dan malah semakin erat memeluk Jihye.
“Kau mau mendengar ceritanya, tidak?” tawar Hyunjin berusaha merayu Jihye yang sedang merajuk.
“Cerita ya cerita saja. Jangan peluk-peluk aku seperti ini” mau tak mau Hyunjin melepaskan pelukan – kungkungannya, dan merapikan duduknya disebelah Jihye.
“Kau ingat dengan perjanjian yang kujadikan syarat dengan orang tuaku agar aku bisa kuliah diluar, Eonni?” Hyunjin memulai ceritanya.
“Eo, aku ingat.” Jihye menjawab sekenanya sambil mengambil minuman yang disediakan Jung Ahjumma tadi.
“Karena janji itulah sekarang aku akan menikah” jelas Hyunjin to the point.
“Mwo!” Jihye yang sedang menegak minumnya hampir saja menyemburkan kembali air yang sudah mencapai tenggorokannya.
“Yang benar saja! Kau bercanda! Apa Samchon dan Imo segila itu? Apa mereka menganggap janji yang kau berikan saat itu bukan hanya sekedar main-main saja? Aku tidak bisa percaya ini! Aku kira kau menikah dengan kekasihmu yang kau dapat di luar negeri sana!” heboh Jihye tidak percaya.
Telinga Hyunjin mendengung karena sedari tadi mendengar teriakan-teriakan Jihye. Hyunjin mendelikkan matanya kesal kearah Jihye. Kenapa heboh sekali sih?
“Lalu siapa yang menjadi calon suamimu?” belum lagi mendapatkan jawaban dari serentetan pertanyaan yang ia lontarkan tadi, Jihye kembali melontarkan pertanyaaan baru.
“Sudahlah, aku tidak jadi ceritanya” putus Hyunjin yang terlanjur malas menjelaskan karena sedari tadi mendapatkan pertanyaan heboh.
“Apa-apaan kau tidak jadi cerita! Cepat ceritakan semuanya kepadaku!” paksa Jihye yang mendapat desahan malas Hyunjin.
“Tapi kau janji jangan heboh, Eonni!”
“Aku usahakan”
“Hhh.. kau ingat dulu saat SMA aku sering ke Game Centre, kan?” pertanyaan Hyunjin mendapat balasan berupa kerutan di kening Jihye.
“Hah? Apa hubungannya?” Tanya Jihye dengan tampang bodohnya.
“Yaak, jangan potong ceritaku! Kau bilang tadi ceritakan semuanya, kan!” emosi Hyunjin karena omongannya dipotong.
“Oke, baiklah. Lanjutkan”
“Kau ingat dengan laki-laki yang aku ceritakan saat itu? Laki-laki yang aku temui di Game Center? Laki-laki yang baru pertama bertemu denganku, langsung aku ajak taruhan?”
“Tentu saja aku ingat. Kapan kau pernah bercerita tentang laki-laki seumur hidupmu kecuali saat itu. Memangnya kenapa laki-laki itu?”
“Dia calon suamiku”
“MWO?”
♥♥♥
Kyuhyun berjalan santai memasuki gedung apartement setelah sebelumnya memarkirkan mobilnya di basement apartement tersebut. Melirik ke jam tangan yang sedang ia pakai dan mendapati saat ini sudah pukul 8 malam. Hari ini ia lembur sehingga baru pulang kerja jam segini. Biasanya ia pulang kerja jam 4 atau jam 5 sore.
Saat Kyuhyun baru membuka pintu apartementnya, ia mendapati dua pasang sepatu yang tergeletak di lantai. Ia hanya mendecak malas karena tahu siapa yang sedang berada di dalam apartementnya.
Langsung saja ia melenggang masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan dua onggok manusia yang sedang berada di ruang tengahnya.
“Woi!” teriak salah satunya saat melihat Kyuhyun masuk kedalam kamarnya.
“Aku mau mandi dulu!” teriak Kyuhyun dari dalam kamarnya membalas teriakan sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, tampak Kyuhyun dengan pakaian santai keluar dari kamarnya sambil menggosok-gosokkan rambutnya yang masih basah dengan handuk.
“Dari jam berapa kalian disini?” Kyuhyun langsung duduk di sofa single di samping sofa yang diduduki 2 onggok manusia yang sedang ditanyainya itu. Eunhyuk dan Donghae. Mereka sahabat Kyuhyun saat kuliah dulu. Mereka beda jurusan, Eunhyuk dan Donghae jurusan Bisnis sedangkan Kyuhyun jurusan Arsitektur. Mereka menjadi dekat karena sering berkumpul dan mengatas namakan diri mereka pria idaman di kampus dulu, yah itu mereka sendiri yang menamakannya. Mereka juga menjadi dekat dengan Kyuhyun karena dulu mereka ingin dikenalkan dengan Ahra, tetapi Ahra saat itu sudah berpacaran dengan Jung Soo. Dan akhirnya mereka hanya menjadi teman saja dengan Ahra. Tidak jarang juga mereka menghabiskan waktu untuk bermain game bersama, dan itu merupakan paksaan dari Kyuhyun.
Hingga kini mereka beberapa kali menyempatkan diri berkumpul. Walaupun tidak sesering dulu karena mereka masing-masing kini sudah memiliki pekerjaan. Tapi ada satu kesamaan mereka hingga saat ini. Sama-sama tidak punya pacar. Donghae tidak memiliki pacar karena terlalu pemalu dan Eunhyuk tidak punya pacar karena malu-maluin.
“Setengah jam sebelum kau datang. Kami kira kau ada didalam, jadi kami masuk saja.” Jawab Donghae.
“Pasti kulkasku kosong sekarang” sindir Kyuhyun yang mendapat cengiran kuda dari keduanya.
“Oh, iya. Baguslah kalian ada disini. Aku mau menyampaikan sesuatu.” Kyuhyun hampir saja lupa memberitahu kedua sahabatnya ini tentang kabar itu.
“Penting tidak?” cegat Donghae.
“Iya, biasanya kau pura-pura serius seperti ingin menyampaikan sesuatu yang penting, ternyata kau menyampaikan ‘aku ini tampan’ sambil berbisik menjijikkan” timpal Eunhyuk dan langsung mendapat anggukan setuju dari Donghae.
“Kali ini sangat penting, Hyung” balas Kyuhyun dengan mimik wajah yang serius.
“Awas kalau tidak penting” ancam Eunhyuk. Eunhyuk dan Donghae kini sudah memasang wajah penasaran dengan apa yang akan Kyuhyun katakan. Sedangkan Kyuhyun sengaja mengulur waktu karena puas mendapat tampang penasaran kedua orang itu.
Kyuhyun mendehem sedikit membersihkan tenggorokannya.
“Aku akan menikah”
Beberapa saat mendadak suasana menjadi hening. Kyuhyun menunggu reaksi seperti apa yang akan ia dapatkan dari kedua orang sahabatnya itu.
“Sekarang boleh aku ketawa?”
“Apa ada kamera tersembunyi disini?”
“Yaak! Aku serius!” teriak Kyuhyun sambil melempar bantal sofa ke muka dua orang yang sedang memasang wajah bodoh didepannya. Berharap bantal yang ia lemparkan itu bisa menggeser otak keduanya.
“Kau sedang berkhayal ya? Mengaku-ngaku akan menikah, tapi pacar saja tidak punya!” ujar Donghae sambil menatap iba ke arah Kyuhyun
“Kyu! Jangan bilang kau menghamili seorang gadis!” teriakan tiba-tiba Eunhyuk sontak membuat Kyuhyun dan Donghae melotot. Kyuhyun langsung berdiri dari duduknya dan langsung menempeleng kepala Eunhyuk.
“Kau gila, huh! Mana mungkin aku menghamili anak orang!” sembur Kyuhyun.
“Jadi bagaimana bisa kau menikah?” Donghae menengahi Kyuhyun yang kesal dan Eunhyuk yang sedang lebay.
“Tentu saja bisa. Aku dijodohkan” jawab Kyuhyun sambil kembali duduk di sofa.
“Bukankah selama ini kau selalu menolak gadis yang dikenalkan Eommamu? Lalu sekarang kenapa kau menerima begitu saja untuk dijodohkan?” tanya Donghae dengan memasang wajah bingung.
“Dia sudah tidak tahan, Hae. Makanya dia mau dijodohkan” Eunhyuk yang berada di samping Donghae membisikkan hal tersebut dan untung saja Kyuhyun tidak dapat mendengarnya.
“Yah, kali ini aku tidak bisa menolaknya”
“Ah, aku baru ingat! Apa kau sudah tidak menunggu gadis yang kau ceritakan itu lagi?” tanya Donghae lagi yang memang sedari tadi hanya Donghae yang bertanya, sedangkan Eunhyuk hanya mengiyakan dan mendengarkan. Dan sepertinya mereka mulai antusias dengan cerita Kyuhyun kali ini.
“Gadis itu, aku sudah bertemu dengannya lagi, Hyung” Kyuhyun melirik kearah dua orang yang kini sedang memasang wajah penasaran dengan lanjutan ceritanya.
“Lalu? Kenapa kau menerima untuk dijodohkan? Bukankah selama ini kau menunggu gadis itu? Dan sekarang kau bilang kau sudah bertemu dengan gadis itu lagi, tetapi kau menerima perjodohan yang dibuat orang tuamu? Jadi untuk apa selama ini kau menghabiskan waktu untuk menunggu gadis itu?” Kali ini Eunhyuk yang angkat bicara dan mengeluarkan rentetan pertanyaan.
Kyuhyun hampir saja menyemburkan tawanya melihat ekspresi lebay kedua sahabatnya itu. Dilipatnya kedua tangannya didepan dada sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Tidak lupa memasang seringaian khas miliknya dan apa yang diperbuat Kyuhyun malah membuat Eunhyuk dan Donghae mengerutkan kening mereka.
“Karena…”
“Calon istriku adalah gadis yang selama ini aku tunggu”
Dan pernyataan Kyuhyun barusan berhasil membuat Eunhyuk dan Donghae menganga lebar dan memasang wajah tidak percaya.
♥♥♥
“Namanya Cho Kyuhyun”
“Cho Kyuhyun?” setelah mendengar nama yang diucapkan Hyunjin, buru-buru Jihye mengambil tas yang ia tenteng tadi dan segera mengeluarkan ponselnya. Mengetikkan sesuatu dan beberapa saat kemudian langsung menyodorkan layar ponselnya kemuka Hyunjin.
“Cho Kyuhyun yang ini?” Hyunjin langsung mengambil ponsel Jihye dan memperhatikan foto yang terpampang dilayar ponsel tersebut.
“Iya yang itu. Kau dapat fotonya dari mana?” Hyunjin masih belum mengalihkan pandangannya dari foto Kyuhyun di ponsel Jihye.
“Dari internet, lah. Memangnya untuk apa aku menyimpan foto Cho Kyuhyun?” sungut Jihye karena menurutnya pertanyaan Hyunjin sangat tidak penting.
“Mengapa foto Kyuhyun ada di internet?” pertanyaan Hyunjin barusan entah ditujukan untuk Jihye atau ditujukan untuk dirinya sendiri.
“Tentu saja ada. Dia itu kan arsitek terkenal. Terkenal dengan hasil kerjanya dan terkenal karena ketampanannya. Jangan bilang kau tidak tahu?” Hyunjin hanya menggidikkan bahunya menjawab pertanyaan Jihye.
“Aku baru tahu. Menurutmu bagaimana bisa aku tahu tentang Kyuhyun saat aku sedang berada diluar negeri, Eonni?”
“Kau benar juga”
Kini Hyunjin dan Jihye terdiam sesaat. Posisi mereka saat ini sama-sama sedang menyandarkan punggung masing-masing ke sofa dengan kepala menghadap kelangit-langit. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan entah apa yang mereka lihat dilangit-langit rumah Hyunjin, mungkin melihat cicak.
“Lalu kau akan menikah dengannya?” Jihye kembali mengeluarkan suara ditengah keheningan mereka beberapa menit yang lalu.
“Apa aku harus mengulang ucapanku lagi, Eonni?” Hyunjin yang sebelumnya menatap langit-langit, kemudian memberikan tatapan malasnya pada Jihye. Dan kembali menatap keatas.
“Bukan, maksudku, apa kau akan menikah dengannya begitu saja?” ralat Jihye. Hyunjin menghela nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan Jihye, lagi.
“Kurasa, iya” balas Hyunjin singkat.
“Apa kau tidak ingin menikah dengan seseorang yang kau cintai?” Jihye masih saja memberikan pertanyaan.
“Aku tidak terlalu memikirkan hal semacam itu”
“Benarkah? Aku saja sampai sekarang belum menikah karena belum mendapatkan orang yang betul-betul aku cintai. Dan kau dengan santainya menikah dengan orang asing”
“Dia bukan orang asing” bantah Hyunjin langsung saat mendengar Jihye mengatakan bahwa Kyuhyun hanya orang asing.
“Tapi kau tidak mengenalnya”
“Aku mengenalnya sudah lama, Eonni”
“Maksudku, kau tidak tahu apa-apa tentang dia, kan? Berikan aku alasan yang masuk akal atas dasar apa kau mau menikah dengannya?” Jihye kembali memberikan pertanyaan dan menatap jengah kearah Hyunjin.
“Karena dia pilihan orang tuaku”
“Dan aku tidak ada pilihan. Aku sudah berjanji dengan orang tuaku. Dan aku yakin orang tuaku tidak mungkin asal-asalan dalam memilih pendamping hidupku. Cho Kyuhyun tidak buruk, bukan? Seperti katamu, dia mapan, tampan, dan aku mengenalnya. Lalu mengapa aku harus menolak perjodohan ini?” lanjut Hyujin panjang lebar.
“Yah, kau benar” putus Jihye.
“Lalu kapan kalian akan menikah?” sambungnya lagi.
“Kurasa orang tua kami sudah menetapkan tanggalnya, Eonni. Dan kurasa juga tidak lama lagi”
“Haaah, bicara masalah pernikahan membuatku ingin menikah juga. Kau tahu, sepertinya sangat menyenangkan saat kau dan calon suamimu berdiskusi memilih tema pernikahan kalian, memilih gaun yang akan kau kenakan, memilih cincin pernikahan kalian bersama, dan melakukan perdebatan kecil karena berbeda pendapat dan selera. Bukankah itu manis? Saat kau melakukan semua itu, kau akan merasa bangga dengan pernikahanmu karena kau yang merancangnya, memilih setiap detilnya. Bukankah itu impian semua gadis di dunia ini?” Hyunjin yang mendengar penuturan panjang Jihye tentang pernikahan tanpa sadar menganggukkan kepalanya menyetujui pendapat Jihye. Ia belum pernah memikirkan hal semacam itu sebelumnya. ‘Benar, mendengarnya saja menyenangkan, apalagi kalau aku mengalami hal-hal seperti itu’
“Makanya, segeralah cari pasangan lalu menikah, Eonni”
♥♥♥
“Yaa, kenalkan kami dengan calon istrimu, Kyu” pinta Donghae yang masih mendapatkan jawaban berupa gelengan kepala Kyuhyun.
“Aku malu mengenalkan kalian kepadanya” jawab Kyuhyun dengan nada menghina.
“Kenalkan aku saja, tidak usah bawa si Eunhyuk” kembali Donghae meminta agar dikenalkan dengan calon istri Kyuhyun. Dan tidak perlu menunggu lama, terasa jitakan dikepalanya dan tentu saja itu berasal dari Eunhyuk.
“Bilang saja kau takut calon istrimu kepincut salah satu dari kami berdua” celetuk Eunhyuk yang masih kesal.
“Buahahahahaha. Yang benar saja” ejek Kyuhyun.
“Yak, kalian tidak ingin menikah juga, Hyung?” kini Kyuhyun yang melontarkan pertanyaan kepada dua orang itu.
Mendengar pertanyaan Kyuhyun, baik Eunhyuk maupun Donghae sama-sama menegang dan tidak tahu harus menjawab apa. Mereka juga sudah sangat sering sekali mendengar pertanyaan serupa. Walaupun sudah sering mendengarnya, tetap saja tidak tahu harus menjawab apa.
“Ah, perutku sakit. Sepertinya aku kebanyakan menghabiskan makanan dikulkasmu, Kyu. Aku mau ke toilet dulu” bohong Eunhyuk yang langsung kabur sebelum menjawab pertanyaan Kyuhyun.
Kemudian Kyuhyun melirik kearah Donghae yang sedang menatap kepergian Eunhyuk. Sadar tengah diperhatikan, Donghae pun segera mengalihkan perhatiannya.
“Apa drama kesukaanku sudah mulai ya?” tanya Donghae pada dirinya sendiri sambil menggonta-ganti siaran televisi untuk mengalihkan perhatian Kyuhyun.
♥♥♥
Siang ini Kyuhyun dan Hyunjin makan siang bersama di restaurant langganan mereka setelah sebelumnya Kyuhyun menjemput Hyunjin di klinik tempat kerja Hyunjin. Setelah pesanan mereka datang, si pelayan langsung menata makanan mereka di hadapan masing-masing. Sebelum memulai makannya, Hyunjin mengatupkan tangan sambil memejamkan matanya, berdoa. Kebiasaan Hyunjin. Dan melihat hal tersebut Kyuhyun tersenyum dan ikut memejamkan matanya sesaat untuk berdoa juga.
“Apa orang tuamu ada mengatakan sesuatu, Jinnie?” Tanya Kyuhyun sambil memasukkan potongan kecil steak yang menjadi makan siangnya kini.
“Ada. Tanggal pernikahan, Kyu” jawab Hyunjin seadanya
“Oh, kukira hanya aku yang baru diberitahu. Bagaimana menurutmu?” Tanya Kyuhyun lagi sambil terus memperhatikan Hyunjin yang kini juga sedang mengunyah makanannya.
“Emmm…” Hyunjin yang ragu-ragu memberikan jawaban malah membuat Kyuhyun tambah penasaran dengan jawaban gadis itu.
“Apa tidak terlalu cepat, Kyu?” lanjut Hyunjin setelah sebelumnya ragu untuk mengutarakan pendapatnya.
“Yah, rasaku juga terlalu cepat.” Angguk Kyuhyun sependapat dengan Hyunjin
“Apa kita bisa mempersiapkan segalanya dalam waktu semepet itu?” Tanya Hyunjin lagi sambil meminum minuman dihadapannya.
“Kurasa pasti para orang tua itu yang akan mengurus segalanya. Mereka kan begitu semangat seperti mereka yang akan menikah” mendengar jawaban Kyuhyun, bahu Hyunjin langsung lemas. Kembali ia teringat perbincangan tadi malam yang membuatnya kepikiran dengan masalah pernikahan.

pinkycat_co_kr_20110921_195526

“Begitukah?” suara Hyunjn nyaris tak tertangkap oleh telinga Kyuhyun saking pelannya.
“Hei, Ada apa?” Kyuhyun tidak mengerti mengapa Hyunjin tiba-tiba bersikap seperti ini. ‘Apa dia berniat membatalkan pernikahan?’
“Tidak. Hanya saja…” gantung Hyunjin yang malah membuat Kyuhyun semakin takut mendengar apa yang selanjutnya akan Hyunjin ucapkan.
“Apa kau berniat membatalkan perjodohan ini, Jinnie?” karena saking tidak tahannya dengan pemikiran-pemikiran yang ada dikepalanya, langsung saja Kyuhyun lontarkan pertanyaan itu pada Hyunjin.
“bukan begitu” entah kenapa Hyunjin malu untuk mengatakan maksudnya kepada Kyuhyun.
“Lalu?”
“Aku akan mengatakannya asal kau janji tidak akan tertawa” putus Hyunjin setelah sebelumnya menimbang-nimbang untuk memberitahu Kyuhyun atau tidak.
“Memangnya ada apa sampai aku bisa tertawa?” heran Kyuhyun yang sedari tadi bertanya-tanya. Merasa kebingungan dengan ketidaktahuannya tentang apa yang gadis ini rasakan.
“Janji atau tidak kuberitahu?” Ancam Hyunjin yang mau tak mau membuat Kyuhyun menyerah dan mengangkat tangan kanannya keatas.
“Baiklah. Aku janji”
Hyunjin menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan. Mencoba untuk tenang. Kemudian diliriknya Kyuhyun yang sedang menanti penjelasannya.
“Hhh.. Begini, aku ingin ikut terlibat dalam persiapan pernikahanku. Maksudku, yah inikan pernikahanku, masa aku hanya akan terlibat saat acara pernikahannya saja. Aku juga ingin merasakan bagaimana repotnya mengurus persiapan pernikahan, bagaimana rasanya memilih gaun pernikahan yang aku inginkan, bagaimana rasanya memilih ini dan itu. Aku juga ingin terlibat.” Akhirnya Hyunjin mengungkapkan hal yang mengganjal hatinya pada Kyuhyun.
“Lalu… dimana letak lucunya?” Tanya Kyuhyun dengan wajah polosnya.
“Yaak! Aku sedang serius, Kyu!” kesal Hyunjin saat mendengar tanggapan Kyuhyun.
“Tadi kau menyuruhku untuk tidak tertawa. Aku kira kau akan mengatakan sesuatu yang lucu, ternyata tidak ada sesuatu yang lucu sehingga bisa membuatku tertawa.”
Hyunjin tidak menanggapi omongan Kyuhyun, hanya mengerucutkan bibirnya.
“Apa sudah kau sampaikan keinginanmu itu pada orang tua kita?” kini Kyuhyun mulai serius menanggapi masalah yang dialami oleh Hyunjin.
Hyunjin hanya menggelengkan kepalanya. Dan Kyuhyun bingung bagaimana cara yang tepat untuk menghibur Hyunjin yang terlihat murung itu. Ia tahu keluarganya dan keluarga Hyunjin melakukan ini semua karena ia dan Hyunjin sibuk bekerja. Tetapi setelah mendengar pendapat Hyunjin yang menurutnya ‘normal’ bagi seorang gadis yang akan menikah ingin mempersiapkan pernikahannya sendiri, ia tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi dia menghargai pertolongan orang tua mereka yang dengan senang hati mempersiapkan pernikahannya dengan Hyunjin tapi disisi lain ia mengerti bagaimana perasaan Hyunjin sebagai calon pengantin.
“Hmm.. Begini saja, nanti akan aku beritahu eommaku kalau ia tidak usah mengurus masalah pernikahan semuanya. Yah, aku usahakan. Kau tahu sendirikan eommaku sangat antusias dengan urusan pernikahan. Dan eommamu juga sepertinya terlihat sangat bahagia mengurus pernikahan kita karena kau anak satu-satunya. Dan semoga saja mereka mau mengerti.” Hibur Kyuhyun.
“Terima kasih” balas Hyunjin sambil menunjukkan senyum tipisnya. Dan senyum Hyunjin menular ke Kyuhyun yang jadi ikut-ikutan melontarkan senyum.
♥♥♥
Hari ini pekerjaan Hyunjin di Klinik tidak terlalu banyak. Memang sebagai dokter baru, ia hanya menangani anak-anak dengan penyakit ringan. Saat sedang memasukkan barang-barang kedalam tas – bersiap-siap untuk pulang, terdengar suara pintu ruangannya diketok. Tak berapa lama kemudian, muncullah wajah eommanya dari balik pintu.
“Eomma?” tanyanya dengan wajah bingung. ‘untuk apa eomma kesini?’
Kemudian diikuti 2 wanita lainnya, Nyonya Cho, dan Cho Ahra.
“Eh, Annyeong Haseyo Ahjumma, Agasshi” sapanya langsung pada Nyonya Cho dan Cho Ahra sambil membungkukkan badannya.
“Eyyyy, jangan panggil aku Ahjumma. Panggil aku Eommoni” tidak terima dengan panggilan Hyunjin barusan, Nyonya Cho langsung meralat ucapan Hyunjin.
“Aku juga. Masa kau memanggilku Agasshi? Panggil aku Eonni mulai sekarang, eo?” Ahra pun ikut-ikutan meralat panggilan Hyunjin padanya.
“Ah, ye. Joesonghamnida Eommoni, Eonni” ralat Hyunjin sambil menunduk malu.
“Eiissh, kau manis sekali adik ipar. Beruntungnya setan itu” ucapan Ahra membuat mereka semua tergelak tawa.
“Kau sudah mau pulang kan, Hyunjin-ah” tanya Nyonya Yoo melihat meja kerja Hyunjin sudah rapi.
“Iya, Eomma. Pasienku hari ini tidak banyak”
“Ah, iya Hyunjin-ah. Kyuhyun kemarin memberitahuku, kalau kau ingin ikut mengurus masalah pernikahan. Apa benar?” tanya Nyonya Cho.
“Ne, Eommoni. Apa tidak apa-apa?” kikuk Hyunjin.
“Tentu saja tidak apa-apa. Inikan pernikahanmu. Bukankah lebih bagus kalau kau mengetahui apa-apa saja yang akan disiapkan untuk pernikahanmu?” jawab Nyonya Cho bijak diikuti anggukan setuju oleh Nyonya Yoo dan Cho Ahra.
“Kalau begitu tunggu apa lagi? Bukankah pernikahanmu sebentar lagi? Banyak yang harus kita siapkan, bukan?” tanya Ahra
“Kami kesini untuk mengajakmu memesan gedung, Hyunjin-ah. Kau mau ikut?” sambung Nyonya Yoo. Tentu saja Hyunjin langsung menganggukkan kepalanya semangat.
Tak lama kemudian mereka sampai disalah satu hotel berbintang di Korea. Hyunjin hanya bisa menatap takjub dengan hotel yang sedang ia masuki saat ini.
“Kita akan memesan tempat disini?” tanya Hyunjin pada orang-orang yang membawanya kesini.
“Kita lihat dulu. Kalau cocok kita pesan saja langsung” Jelas Nyonya Cho.
“Apa tidak terlalu berlebihan memesan tempat disini?” Hyunjin yang merasa tidak enak dengan pertanyaannya barusan hanya mengeluarkan suaranya serendah mungkin walaupun masih dapat didengar.
“Apanya yang berlebihan? Bukannya kita harus memilih tempat yang muat untuk para undangan, bukan?” kini Nyonya Yoo yang gantian menjawab pertanyaan Hyunjin.
“Memang sebanyak apa undangannya sampai harus memesan tempat disini?”
“Ah, kau belum tahu ya? Undangan sudah eomma dan eommoni pesan sebanyak 1000 unda..”
“Mwo? Berapa tadi eomma? 1000? Eomma tidak salah ngomong?” potong Hyunjin saat eommanya baru saja menyebutkan jumlah undangan pernikahannya. Mendengar angka 1000 kepalanya sudah pusing karena membayangkan berapa banyaknya kepala yang akan ia lihat.
“1000 undangan itu sudah paling minimalnya Hyunjin-ah. Bayangkan saja, keluarga besarmu, keluarga besar Kyuhyun, kolega bisnis Appamu dan Appa Kyuhyun, dan yang lain-lain. Bahkan saat pernikahanku dulu juga menyebarkan 1000 undangan” jelas Ahra yang sedari tadi sibuk menggendong anaknya, kini ikut menimpali.
“Apa tidak bisa kita membuat acara pernikahan yang sederhana saja, Eomma, Eommoni, Eonni?” tanyanya ragu-ragu.
“Menurut eomma, pernikahanmu nanti tidak berlebihan, Hyunjin-ah.”
“Bukan begitu, maksudku. yah yang sederhana saja. Yang penting upacara pernikahannya hikmat” Hyunjin kesulitan memilih kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan maksudnya.
“Tenang saja, upacara pernikahannya nanti akan tetap hikmat.” Kini Nyonya Cho ikut memberikan pengertian pada Hyunjin.
Hyunjin yang sedari tadi terus saja mendapat sanggahan atas pendapatnya akhirnya mau tak mau menganggukkan kepalanya – tidak ikhlas, menyetujui untuk melangsungkan upacara pernikahan besar-besaran. Hilang sudah angan-angannya – yang walau belum lama ini menjadi angan-angannya, untuk melangsungkan pernikahannya secara sederhana. Ia bisa apa jika saat ini dia hanya seorang diri yang menginginkan acara yang sederhana sedangkan para ibu-ibu yang bersamanya saat ini menginginkan acara pernikahan yang mewah. Dalam jumlah saja dia sudah kalah.
2 jam kemudian, setelah melihat ballroom hotel serta sekeliling hotel, dan membooking ballroom hotel tersebut untuk upacara pernikahan Hyunjin dan Kyuhyun, mereka keluar dengan wajah yang sumringah, tentu saja kecuali Hyunjin. Ia sedari tadi hanya diam dan hanya menanggapi sekedarnya saja saat para ibu-ibu itu menanyakan pendapatnya tentang betapa mewahnya hotel tersebut. Tentu saja Hyunjin mengakui kemewahan hotel ini karena memang nyatanya hotel ini sangat sangat mewah. Tetapi, ia tidak seantusias para ibu-ibu itu.
“Oke, gedung pernikahan, check” seru Ahra yang masih saja memasang wajah sumringahnya.
“Mengasyikkan bukan mengurus masalah pernikahan, Hyunjin-ah?” Hyunjin yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya memasang senyum – terpaksa, sambil menganggukkan kepalanya tidak semangat.
“Kau sepertinya terlihat lelah, Hyunjin-ah. Kita lanjutkan besok saja lagi mengurus pernikahanmu. Kita masih punya waktu 2 minggu lagi, bukan?” Nyonya Cho sepertinya salah mengartikan wajah tidak semangat Hyunjin yang sebenarnya karena tidak begitu setuju dengan keputusan sepihak para ibu-ibu itu.
“Kami pulang dulu, ne. sampai jumpa besok. Hyunjin-ah, kau sampai rumah langsung istirahat, ne. jangan sampai sakit” pamit Nyonya Cho dan Ahra .
“Ne, Eommoni, Eonni. Hati-hati dijalan.
♥♥♥
Sudah seminggu ini, setiap pulang kerja Hyunjin ikut kemana para ibu-ibu membawanya pergi dengan alasan mengurus pernikahannya. Hyunjin yang awalnya memang menginginkan hal tersebut kini sudah pasrah karena rasanya percuma saja dia ingin ikut mengurus jika pada akhinya pendapatnya tidak ada yang terwujud.
Persiapan pernikahannya kini sudah 70%. Undangan sudah disebar, sedangkan Hyunjin saja tidak tahu bagaimana bentuk undangan pernikahannya sendiri. Cinderamata, cake pengantin, bunga-bunga dan masalah tetek bengek pernikahan hampir semuanya sudah dipesan dan lagi, tanpa mendengar pendapat Hyunjin.
Bisa saja Hyunjin merengek pada Eommanya – jika ia merasa tidak enak merengek pada Nyonya Cho dan Cho Ahra, tetapi dia tidak melakukannya. Ia merasa tidak enak jika harus menentang pendapat orang lain, walaupun hasilnya ia harus menelan bulat-bulat kekesalannya karena pendapatnya tidak didengarkan selama seminggu ini.
Hari ini pun, sepulang kerja ia kembali pergi bersama para ibu-ibu itu. Hari ini mereka akan memilih gaun pernikahan dan tentu saja Hyunjin harus ikut kali ini. Hyunjin langsung antusias karena menurutnya kali ini kesempatan terakhirnya untuk paling tidak bisa memilih sendiri gaun yang ingin ia kenakan.
Kini Hyunjin dan para ibu-ibu – dan tentu saja dengan Soowan yang kini tengah digendongan Ahra, memasuki butik kenalan Nyonya Cho untuk memilih gaun. Para karyawan butik itu langsung menyambut hangat mereka. Setelahnya mereka diantar oleh karyawan butik ke tempat pemilik butik. Sedari memasuki butik ini, mata Hyunjin tidak henti-hentinya menatap kagum gaun-gaun indah yang dipajang dan yang dipasangkan di badan menekin. Ia sengaja berjalan lambat menikmati pemandangan indah yang baru pertama kali dilihatnya secara langsung. Biasanya ia hanya melihat gaun-gaun cantik seperti ini di televisi, dimajalah atau di internet.
“Yeppeuda” gumamnya tak henti sedari tadi sambil sesekali menyentuh gaun-gaun indah itu. Tidak sadar bahwa oran-orang yang datang bersamanya tadi sudah jauh berada didepan. ‘Apa aku akan mengenakan gaun-gaun indah seperti inii?’ pikirnya dalam hati. Terus melangkah perlahan hingga sampai ke tempat orang-orang berkumpul. Eommanya dan Eomma Kyuhyun sedang berbincang dengan seorang wanita yang menurutnya merupakan pemilik Butik ini.
“Ah, ini dia calon pengantinnya.” Ucap Nyonya Cho mengenalkan Hyunjin kepada wanita tersebut sambil merangkul bahu Hyunjin.
Hyunjin yang sedang dikenalkan kemudian membungkuk sopan kepada wanita yang lebih tua darinya tersebut.
“Kau sudah mempersiapkan gaun terbaik disini, kan?” Tanya Nyonya Cho pada pemilik butik tersebut.
“Tentu saja Nyonya, setelah anda memberitahu saya kemarin bahwa anda sedang mencari gaun, saya langsung mempersiapkan gaun-gaun paling bagus.” Ungkap si pemilik butik.
“Tolong antarkan calon pengantin ke ruang ganti” perintahnya pada salah satu karyawannya.
“Baik, Nyonya. Silahkan Nona.” Kemudian Hyunjin mengikuti karyawan butik itu memasuki ruang ganti. Sedangkan para ibu-ibu memutuskan untuk duduk dikursi yang disediakan yang kebetulan menghadap langsung ke tirai ruang ganti. Mereka bertiga antusias sekali seperti mereka saja yang akan menikah.
Dibalik tirai – ruang ganti, Hyunjin mencoba gaun pertama dibantu oleh karyawan butik. Setelah selesai memakai gaun itu, ia memandang takjub cermin raksasa didepannya. Merasa tak percaya ia kini sedang mengenakan gaun pernikahan yang indah.
“Anda terlihat cantik, nona” puji karyawan yang membantu Hyunjin. Hyunjin yang mendengar itu hanya tersenyum malu.
“Calon pengantinnya sudah siap” ucap si karyawan agak kencang, seperti memberi tahu kepada orang-orang yang sedang menunggu. Tak berapa lama tirai pembatas ruang ganti itu dibuka dan tampaklah Hyunjin yang terlihat cantik mengenakan gaun pertamanya.

8a646e70e280d0d1946d180c240f2c33151

“Waaah” decakan kagum terdengar hingga membuat Hyunjin tersenyum malu-malu.
“Gaunnya terlihat cocok untukmu, Hyunjin-ah” puji Ahra sambil mengacungkan jempolnya. Mendengar hal itu, wajah Hyunjin panas dan terlihat rona merah di pipinya.
“Gaun ini memang cantik, tapi kau terlihat berisi mengenakannya, Hyunjin-ah” terang Nyonya Cho setelah sebelumnya meneliti Hyunjin.
“Ah benar! Aku baru saja mau berkata seperti itu, Hana-ya!” dan kini Nyonya Yoo mengamini pernyataan calon besannya itu.
“Masih ada gaun yang lain, Hyunjin-ah. Kau coba lagi yang lain sana” lanjut Nyonya Yoo memerintahkan anaknya untuk kembali ke dalam ruang ganti. Lalu tirai kembali ditutup.
Masih dengan dibantu oleh karyawan butik, Hyunjin mencoba mengenakan gaun kedua. Wajahnya sudah sedikit berbeda saat kembali memasuki ruang ganti lagi. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin ia memakai gaun asal-asalan untuk pernikahannya walaupun gaun tadi menurutnya cantik. Setelah selesai memakai gaun keduanya, Hyunjin kembali bersiap-siap dibalik tirai. Kemudian saat tirai dibuka, tampak orang-orang yang sedang menunggunya menahan nafas melihatnya.

f33d22852ff0e7687a7c2a69c65676182121

“Apa yang kau kenakan itu, Hyunjin-ah” kaget Nyonya Yoo memprotes terang-terangan.
“Gaun ini sedikit terlalu terbuka, Hyunjin-ah” kini Nyonya Yoo juga memprotes walau secara halus.
“Payudaramu besar juga Hyunjin-ah. Itu terlihat seperti mau tumpah. Sayang sekali Kyuhyun tidak ada disini. Hahaha” mendengar komentar terakhir yang berasal dari Ahra, Hyunjin langsung menyilangkan tangannya di depan dadanya.
“Coba cari yang lebih tertutup, Hyunjin-ah” nasihat Nyonya Cho.
Hyunjin yang mendengar berbagai komentar itu kembali lagi ke dalam ruang ganti. Mulai kesal dengan keadaan yang ia alami saat ini. Ingin rasanya menyuruh semua orang yang ada disini untuk pulang saja, dan membiarkan masalah gaun pernikahan menjadi urusannya sendiri. Tetapi dia masih memiliki rasa sopan santun yang tinggi sehingga tidak melakukan hal yang sedari tadi terlintas di otaknya.
“Tolong ambilkan yang lebih tertutup”
Tak berapa lama tirai kembali terbuka dan menampakkan Hyunjin yang kini mengenakan gaun yang lebih tertutup.

Scoop-Neckline-Sheer-Long-Sleeved-Satin-Wedding-Gown-with-Flower-Decor12546

“Ige Mwoya! Kau terlihat tua Hyunjin-ah” kini Ahra yang pertama memberikan komentar.
“Warnanya tidak bagus”
“Terlihat norak, Hyunjin-ah”
Dan kini rasanya bagai ubun-ubun Hyunjin sudah mengeluarkan asap. Ia sudah terlalu jengah dengan semua komentar-komentar yang ia terima. Memang keinginannya untuk terlibat dalam urusan tetek bengek masalah persiapan pernikahannya, tetapi tidak seperti ini yang ia inginkan.
Dan dimana Kyuhyun sekarang? Mengapa hanya ia yang merasakan posisi seperti ini? Tanpa pikir dua kali, langsung diambilnya tasnya yang berada disudut ruang ganti itu, dan segera mengetik nama Kyuhyun.
“Kyu” panggil Hyunjin sedikit terdengar merengek saat panggilannya baru diangkat Kyuhyun.
“Ada apa Jinnie?”
“Kau dimana sekarang?”
“Aku sedang meeting dengan client. Ada apa?”
“Apakah masih lama selesai meetingnya?” bukannya menjawab pertanyaan Kyuhyun, ia malah balik bertanya.
“Bahkan meetingnya baru saja dimulai”
“Begitukah. Baiklah, maaf kalau aku menggangu” lalu dimatikannya langsung sambungan telepon itu sepihak. Kembali menggerutu dalam hati. Tidak mungkin ia meminta Kyuhyun untuk datang kesini menolongnya disaat pria itu sedang meeting. Memangnya siapa dia hingga meminta Kyuhyun meninggalkan meetingnya. Oke, dia calon istrinya. Tetapi tidak se-special itu hingga bisa membuat Kyuhyun meninggalkan meetingnya.
Di tariknya nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan. Mencoba meredam emosi yang dirasanya saat ini.
Lalu dicobanya lagi gaun selanjutnya. Masih dengan usaha meredam emosinya.
Kini tirai kembali terbuka, menampilkan Hyunjin dengan gaun yang keempat.

f83bac12d5c428fa610dfc8fd46c812c21215

“yang ini lumayan juga Hyunjin-ah”
“tapi, bukankah ini terlihat seperti tumpukan gorden?” kembali komentar terlontar dari mulut Nyonya Yoo yang sedari tadi paling banyak berkomentar tentang gaun yang dikenakan Hyunjin.
Disaat Hyunjin sedang berusaha meredam emosinya, kemudian eommanya memberikan komentar lagi tentang gaun yang ia kenakan. Dan emosi itu kembali memuncak. Dan rasa kesal yang menumpuk selama seminggu mencuat semuanya dan menyatu dengan emosinya saat ini. Saking kesalnya, sampai-sampai matanya kini basah oleh air mata yang siap meluncur dari kedua bola matanya. Ingin mengeluarkan gerutuan yang sedari tadi hanya ia pendam sendiri di hatinya, tetapi tidak bisa. Tangannya sudah mengepal erat di sisi tubuhnya, seakan melampiaskan emosinya.
Melihat perubahan wajah Hyunjin, Nyonya Yoo kaget. Sama kagetnya dengan Nyonya Yoo, Nyonya Cho dan Ahra juga kaget. Tidak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti seperti itu dari Hyunjin.
“Ya, Hyunjin-ah ada apa?”
“Hyunjin-ah, kenapa kau seperti ini?”
Mendapat pertanyaan seperti itu, malah membuat Hyunjin menangis.
“Ada apa sayang? Apa punggungmu terjepit resleting gaun?” pertanyaan konyol Nyonya Cho bukannya membuat tangisan Hyunjin berhenti, malah menjadi tambah kencang.
Hyunjin ingin mengutarakan kekesalannya saat ini, hanya saja ia tidak mau menyinggung perasaan orang-orang yang kini tengah panik didepannya. Jadilah ia hanya mengeluarkan kekesalannya dengan tangisan yang sekarang bertambah keras. Para ibu-ibu itu terus berusaha untuk menghentikan tangisan Hyunjin, sedangkan si pemilik butik beserta karyawannya tidak kalah panik dan tidak tahu harus berbuat apa.
Ditengah usaha untuk membuat Hyunjin berhenti menangis, tiba-tiba saja Soowan yang sedari tadi anteng-anteng saja kini ikut-ikutan menangis seperti tidak mau kalah dengan Hyunjin. Dengan pecahnya suara tangisan Soowan, suasana butik tersebut semakin kacau.
Disela-sela tangisannya, Hyunjin mendengar suara lengking tangisan Soowan dan hal itu tambah membuatnya menangis. Menangisi suasana yang kini tambah kacau dengan keikutsertaan Soowan menangis bersamanya. Ahra kini juga sedang menimang-nimang Soowan agar tangisannya berhenti.
Masih dengan emosi yang belum semuanya tersalurkan dan ditambah suasana yang kini sangat kacau, Hyunjin yang masih sesegukkan menatap eommanya dan Nyonya Cho.
“Eo..Eomma hiks.. Eommo.. hiks ..ni. Sepertinya aku hiks.. hiks.. tidak bisa…” omongan Hyunjin terpotong sesaat karena ia kini sedang mengelap cairan yang keluar dari hidungnya.
“hiks.. melanjut.. hiks ..kan pernika.. hiks ..an ini” dengan susah payah Hyunjin mengucapkan kalimat tersebut.
Dan seisi ruangan yang mendengar ucapan Hyunjin memasang wajah terkejut dan tanpa mereka sadari bahwa kini juga ada orang lain yang juga sama terkejutnya dengan orang-orang yang ada di ruangan itu. Cho Kyuhyun.
Kyuhyun yang sebelumnya akan memulai meetingnya mendapat telepon dari Hyunjin, dan gadis itu tidak menjawab pertanyaannya. Karena penasaran, ia pun menelpon Ahra dan mendapati ternyata kini mereka semua sedang berada di butik gaun pernikahan. Ahra pun langsung memaksa Kyuhyun untuk datang ke butik tersebut dengan alasan bahwa Kyuhyun harus memilih jas untuk pernikahannya juga. Jadilah Kyuhyun meminta asistennya untuk menggantikan dirinya meeting dengan client dan segera menuju butik yang ternyata hanya beberapa blok dari tempat meetingnya tadi.
Dan saat baru saja memasuki butik tersebut ia langsung disuguhi dengan suasana kacau dan pernyataan mengejutkan yang dilontarkan Hyunjin. Mimpi buruknya terjadi, gadis ini ingin membatalkan pernikahan mereka.

TBC

8 Comments (+add yours?)

  1. oktalita1004
    Apr 18, 2015 @ 15:45:49

    seru seru cerita.. hyujinya kurang histeris nangis nya un kkk lanjut unn smngat ^^9

    Reply

  2. idealqueen
    Apr 18, 2015 @ 16:32:50

    Kocak pas bagian ” .. dan Eunhyuk malu-maluin.. ” wkwkwk

    Reply

  3. rain04
    Apr 18, 2015 @ 19:32:36

    Omg, padahal bukan itu maksud hyujin, tp kyuhyun salah mengartikan.

    Reply

  4. galuh
    Apr 18, 2015 @ 20:25:24

    ahhh .. terharu sekali😥

    Reply

  5. runi
    Apr 18, 2015 @ 21:36:52

    Uwaa.. seru ceritanya…!!!!

    Reply

  6. rara
    Apr 18, 2015 @ 22:29:31

    Gmn gk nangis hyunjin
    gnti baju smpek 4x gitu
    mn gaunnya berat” lg
    yg prtama pdhal bagus
    bs stress kyuhyun klo prnikahannya batal
    harus bujuk hyunjin smwnya neh

    Reply

  7. lieyabunda
    Apr 22, 2015 @ 04:04:09

    pengen ngerasain repotnya ngurus pernikahan kok jadi stress gitu hyunjin nya,,,,, hehehehehe
    semoga gak batal aza pernikahannya…..
    lanjut

    Reply

  8. Trackback: Marriage Not Dating : Our Wedding, Right? [1/?] | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: