Re-Debut

5262_shindong-nari-3

 

 

 

Re-Debut

by Liana D. S.

Super Junior’s Shindong and his once beloved Jung Nari

[genre] Slice of Life, Romance, [length] Ficlet, [rating] General

also posting on AO3, IFK and Utopia

.

Kisah Shindong setelah keluar dari Super Junior.

***

Shindong suka dan mahir menari, tetapi jika diminta untuk memilih, maka menjadi penari adalah pilihan terakhirnya.

Dahulu, Shindong adalah seorang pemuda berbadan subur dengan kelenturan tubuh di atas normal dan energi berlimpah. Segala jenis tarian ia kuasai dengan baik, bahkan ia dapat merancang tarian sendiri untuk teman-teman segrupnya. Dia sangat senang dan bertekad ingin terus menjadi penari, yang muncul di atas panggung maupun di layar kaca. Grupnya merangkul banyak orang menjadi penggemar mereka—tetapi popularitas Shindong berbanding terbalik dengan popularitas grupnya.

Hanya karena penampilan.

Sekarang, Shindong adalah seorang pria berbadan subur… ehm, cenderung kurus, dengan setumpuk keputusasaan menyertainya. Beberapa penggemar mencintai grupnya—tanpanya. Dia hampir tidak dilirik, sehingga setelah sepuluh tahun grupnya beraksi, dialah yang pertama kali keluar dari grup, mengatakan sembari tersenyum pada pers bahwa ini sudah bukan masanya.

Dari dulu, Shindong memang tidak pernah memiliki era sendiri di dunia hiburan, walaupun teman-teman satu grupnya memprakarsai zaman baru budaya Korea.

“Aku sudah keluar dari grup dan tidak ingin menari lagi,” ucap Shindong pada diri sendiri, “Apa hal lain yang bisa kulakukan?”

Pertanyaan ini menghempaskan Shindong ke sebuah taman kanak-kanak kecil di pinggir kota, menjadi guru di sana. Sedikit kebahagiaan kembali, tetapi hanya sedikit.

Hingga seseorang yang tak asing menemuinya.

“Shindong-oppa?”

Gadis mungil yang bergelar mantan pacar Shindong itu kini tampak seperti wanita dewasa, terlebih ketika ia menggandeng tangan salah satu anak murid Shindong. Kedipan tak percaya dari Shindong menerbitkan tawa wanita muda itu. “Jangan terkejut. Seperti aku ini orang asing saja buatmu.”

“Nari-ya? Junhee adalah anakmu?”

Si penjemput, Jung Nari, menggeleng cepat. “Aku seorang Jung dan Junhee seorang Choi—menurutmu dia anakku?”

“Nari-ahjumma adalah bibiku, Shin-songsaengnim, tetapi hari ini, dia yang menjemputku karena Appa sibuk.” ralat gadis kecil berkuncir dua yang berdiri di samping Nari. Shindong mengangguk-angguk mengerti dan, untuk satu alasan yang tak jelas, merasa lega.

“Aku sudah dengar berita tentang keluarnya kau dari Super Junior, tetapi aku tidak menyangka kau…” Nari memandang bangunan taman kanak-kanak itu sesaat, “…akan menjadi guru di sini. Kupikir kau akan berkarir solo sebagai pembawa acara atau—“

“Dunia hiburan tidak pantas lagi buatku,” kekeh Shindong, menyembunyikan kepahitan dalam suaranya, “Aku suka anak-anak dan anak-anak menyukaiku, jadi inilah pekerjaan yang terbaik.”

Tapi Nari tidak berpikir demikian. Ia menatap Shindong beberapa lama, lalu merogoh saku dan memberi pria berwajah lucu itu sebuah kartu nama.

“Datanglah jika kau punya waktu. Kau harus datang.”

Di kertas kecil itu, tertera satu nama agensi artis yang baru berkembang—Jung Nari rupanya berstatus sebagai ‘pencari bakat’ untuk agensi itu.

Maka Shindong datang ketika ia senggang.

“Aku tahu passionmu di dunia hiburan masih tinggi,” Nari menyambut Shindong dengan wajah senang, “Kau harus dimanfaatkan, hahaha…”

“Kau yakin sudah memanfaatkan orang yang tepat?”

“Tentu saja, seyakin Direktur Lee dulu hingga menarikmu ke perusahaannya.”

“Bahkan jika aku seorang yang gendut?”

“Peduli apa? Kemampuan menarimu adalah sesuatu yang patut dibanggakan. Bahkan Eunhyuk-oppa rekan setimmu dulu tidak sehebat kau!”

Shindong tersenyum samar. “Tapi kecantikan fisik adalah komoditi utama di dunia ini.”

“Siapa bilang kau tidak cantik?” Nari menyeret Shindong dengan segera, “Untukmu, tak perlu pakai audisi; aku akan mengajakmu langsung menemui Direktur.”

Satu desiran aneh muncul di antara Shindong dan Nari saat tangan mereka bertaut.

“Semua orang bilang aku memperburuk sebuah panggung.” ucap Shindong.

Nari tidak langsung menanggapi. Ia menelengkan kepala, membiarkan helaian rambut hitamnya jatuh, menutupi rasa malunya sesempurna mungkin. “Bagiku, kaulah yang membuat sebuah penampilan layak untuk dinikmati.”

***

Sejak hari itu, Shindong memancangkan niat untuk terus menghidupkan panggung dengan tariannya, meski berada di bawah label yang berbeda. Menghiasi layar kaca dengan candaan khas dan wajah lucunya.

Juga mewarnai panggung kehidupannya bersama Jung—ups, maksudku Shin—Nari.

***

TAMAT

 

2 Comments (+add yours?)

  1. B14FF
    Apr 19, 2015 @ 10:51:20

    Gilaaakk -,- kece thor :v

    Reply

  2. topaore
    Apr 24, 2015 @ 05:03:44

    Wow ini ff shindong terbaik yang pernah gue baca. Good job banget nih buat authornya. Keep writing ya thor, tulisannya rapih plus gak bertele-tele. ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: