Season 4 – Summer, I Love You So Much! [1//]

Season 4

Main Cast : Choi Siwon & Song Hyori

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

Season 4Summer, I Love You So Much! (Song Hyori’s story)

***

“Argh!! Panas sekali!”

Bi Hyul menggerutu kesal, ia mengebas-ngebaskan buku di wajahnya. Tak perduli ketika Hyori, Hyena dan Min Kyung yang memandang miris padanya.

“Mengerikan sekali” desis Min Kyung, ia memandangi Bi Hyul yang sibuk mencari angin dari hasil kebasan bukunya, sebelah kakinya diangkat di atas kursi yang dudukinya “Mirip dengan penjual ikan di pasar” lanjut Min Kyung.

“Haisshh!!” Bi Hyul bersiap meninju Min Kyung namun gadis itu berhasil berkelit.

“Ini aneh..” Min Kyung bergumam pelan “Mengapa aku harus sekelas lagi dengan kalian??” ia menatap langit-langit, seolah bertanya pada Sang Pencipta tentang nasibnya.

“Karena kita ditakdirkan untuk selalu bersama dalam suka maupun duka, sakit ataupun senang, hidup ataupun mati” jawaban Hyori menghasilkan tatapan iba ketiga sahabatnya, ia seperti sedang mengucapkan janji suci pernikahan. Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya “Ah, jika mati maka kalian matilah sendiri, aku masih ingin hidup” lanjutnya lagi sambil terkekeh. Ia di hadiah oleh tiga buah buku yang sukses mengenai tubuhnya.

“Song Hyena?” Bi Hyul menatapi Hyena yang sedari tadi masih bungkam “Kau tahu apa yang sedang terjadi?”

Hyena mengangguk “Eonni merengek pada kakek agar menempatkan kita di kelas yang sama” jelas Hyena.

“Sudah kuduga” ucap Min Kyung dan Bi Hyul bersamaan.

Keempat gadis itu kini telah duduk di bangku kelas XII, mereka baru saja meninggalkan semester terakhir di kelas XI.

“Aku tak mengira, seorang Song Hyori yang bodoh bisa mempengaruhi dinasti Chongdam high school” Min Kyung mendesis manakala melihat Siwon dan Hyukjae baru memasuki kelas.

Ya, Hyori membuat Siwon sekelas dengan mereka—bahkan kini, Hyukjaepun berada di kelas yang sama.

“Ough,, Siwon my man~”

Bi Hyul dan Min Kyung mendesis melihat Hyori yang selalu terkesima pada Siwon, melipat kedua tangannya dan memandangi Siwon seperti orang bodoh. Hyena langsung mengalihkan tatapannya dengan membaca ketika Hyukjae mengerling padanya.

“Apa ini bisa dipercaya?” Siwon terduduk kasar di kursinya, ia tampak sangat kesal dan selalu menyesali keberadaannya di kelas yang sama dengan empat gadis aneh itu.

“Tak ada yang bisa kau lakukan” Hyukjae menyengir tajam. Berbeda dengan Siwon, tentunya Hyukjae sangat senang jika ia bisa sekelas dengan Hyena “Siwon, mengapa kau begitu kesal? Kau sangat tak adil”

“Apa maksudmu?”

“Hanya karena Hyori menyukaimu, kau membenci itu. Lalu bagaimana dengan gadis-gadis lain yang juga menyukaimu?” pertanyaan Hyukjae membuat Siwon terdiam, “Sudahlah, lagipula Hyori adalah gadis yang baik dan dia secantik adiknya”

Siwon memandang datar pada Hyukjae “Jangan libatkan aku dalam cintamu yang aneh itu”

“Baiklah. Lalu mengapa kau begitu membenci Hyori?”

“Aku tak tahu”

“Kau gila?” desis Hyukjae

“Aku tak memerlukan alasan untuk membencinyakan?” kesal Siwon “Mungkin karena sifatnya yang ceroboh itu dan—dia terlihat sangat bodoh” ia lalu mendesah.

“Kau tahu? Kau terlihat seperti anak kecil” ledekan Hyukjae sukses membuat sebuah buku menyapu kasar kepalanya “Sangat kekanak-kanakan” lanjut Hyukjae lagi dan ia berusaha untuk menghindari kamus tebal yang akan mengenai wajahnya.

~.o0o.~

Hari sudah gelap ketika Hyori melangkah lemah memasuki pekarangan rumahnya. Langkahnya terhenti. Ia melihat saudari kembarnya, Hyena yang sedang mondar-mandir di depan pintu. Meremas-remas tangannya. Hyori dapat mengenali suasana hati Hyena yang sedang cemas dan gugup.

Mata Hyena lalu tertuju pada Hyori yang masih mengernyitkan keningnya.

“Eonni!!” Hyena berlari kecil menghampiri Hyori “Darimana saja kau?” tanya Hyena

“Kau tahu, ada diskon besar-besaran di toko X” Hyori menyebutkan nama sebuah tokoh di kawasan Apgujeong, dia memamerkan kedua tangannya yang menenteng kantong yang berisi tas-tas bermerek “Tapi, ada apa kau mencariku?” tanya Hyori lagi.

“Gawat” mimik Hyena terlihat semakin cemas “Itu, kakek..”

“Kakek?” Hyori justru terlihat girang

“Eonni, kau tak cemas?”

“Apa kakek membawakanku hadiah?”

Hyena menggeleng prihatin “Lupakan hadiah, sebaiknya kau persiapkan dirimu”

“Kamarku telah siap menampung semua hadiah kakek” Hyori terkekeh pelan.

~~~

Seorang pria tua dengan kaca mata yang membingkai kedua bola matanya. Ia menatap lurus pada Hyori yang berdiri mematung di hadapannya. Sementara istrinya dan kedua orang tua si kembar berdiri tak jauh bersama-sama Hyena, raut wajah mereka terlihat sangat cemas. Pria tua itu menarik nafas panjang.

“BODOH!!” hardikan kakek membuat semua orang tersentak kaget.

“Yeobo, perhatikan tekanan darahmu” nenek mencoba mengingatkan kakek akan hipertensinya.

“Aku tak perduli jika saat ini aku mati, tapi bagaimana bisa cucuku sebodoh itu?” ia menunjuk-nunjuk kesal pada Hyori yang hanya tertunduk “Song Hyori, kau tidak merasa malu pada adikmu?”

“Haissh,, kakek~ diantara kakak beradik, perasaan seperti itu hanya akan mengganggu” Hyori menepis dengan tampang polosnya membuat kakek memelototkan matanya.

“Astaga, ya Tuhan… Dia bahkan tak mengerti ucapanku. Oh leherku” kakek memegangi belakang lehernya yang menegang “Hyori, dibandingkan Hyena yang selalu masuk peringkat sepuluh besar—mengapa kau justru setia berada di urutan terakhir? Kau mencoreng wajahku”

Lelaki tua itu pasti merasa malu jika cucunya sendiri terlihat berada di peringkat akhir.

“Kakek, kau pasti semakin rabun” Hyori kembali menepis dengan gaya malu-malunya “Tak ada coretan apapun di wajahmu” katanya lagi. Semua orang menarik nafas dalam-dalam.

“Joong Ki” kakek beringsut-ringsut di atas sofa

“Ya, Ayah”

“Kau yakin dia adalah putrimu?”

“Ayah, kau bicara apa?” pria itu terkejut, ia terlihat kebingungan sambil menatap wajah istrinya.

“Yeobo, kau menuduhku berselingkuh?” desis Ibu si kembar yang salah mengartikan tatapan suaminya.

“Sepertinya aku mengerti darimana datangnya otak bodoh Hyori” kakek berdecak prihatin

“Kakek, marah-marah tak baik untuk kesehatanmu—kau harus ingat, umurmu tak muda lagi. Menurut riset, orang yang selalu emosi maka umurnya semakin pendek” ujar Hyori

Semua hening.

“Eonni” Hyena memberi kode agar Hyori tetap bungkam

“Kau bicara apa? Dengan otak bodohmu, apa yang kau tahu tentang riset?” delik kakek.

“Uhm, sebenarnya…aku hanya mendengar mereka mengatakan itu pada Min Kyung” Hyori terkekeh tanpa dosa.

“KAU!!” kakek ingin memberi pelajaran pada cucu bodohnya itu tapi ia kembali terduduk sambil memegangi lehernya.

“Yeobo, sudah kubilang—hati-hati dengan tekanan darahmu” nenek segera memijit-mijit leher dan pundak kakek.

“Seseorang berbuat salah adalah wajar apalagi di usiaku yang masih sangat muda ini” celoteh Hyori, ia tak perduli ketika semua menatapnya sambil memberi kode agar tak melanjutkan apapun yang ada di dalam kepalanya itu “Kakek, kau bukan Tuhan, tak mungkin hidup tanpa kesalahan. Menjadi urutan terakhir bukanlah perkara besar, jika tak melihat Siwon barulah kiamat tiba”

“SONG HYORI!!” kakek kembali berteriak kencang “Dia bukan cucuku” batinnya. Kakek lalu menarik nafas panjang, mencoba untuk meredakan amukan dasyat dalam dirinya “Hyori, mulai saat ini, jam bersenang-senangmu akan di kurangi. Kau harus memperbaiki nilaimu. Besok, guru private akan menemuimu”

“Kakek~ oksigenku berkurang jika harus melakukan semua itu” rengek Hyori

“Lakukan itu atau lupakan semua tentang pakaian, tas, sepatu dan hal-hal bermerek lainnya” kakek tersenyum kejam dan berlalu meninggalkan Hyori yang melemas.

“Eonni, seharusnya kau tak perlu melawan perkataan kakek” desah Hyena.

“Ayah” Hyori berpaling seketika menatap Ayahnya “Kau yakin, orang tua itu adalah Ayahmu?”

“Haisshh, anak ini!!” pria itu mendesah sangat kasar.

~.o0o.~

 

“Benarkah?” Min Kyung dan Bi Hyul terlihat bersemangat. Mereka memandangi antusias secara bergantian pada si kembar. Hyori menarik nafas berat “Kakekmu sungguh melakukan itu?” Bi Hyul meyakinkan perkataan Hyena.

Hyena mengangguk “Tak ada pilihan kedua untuk eonni”

“Entah mengapa, tapi aku sangat senang mendengar itu” senyum simpul Min Kyung.

“Karena kau selalu ingin melihatku tersiksa” keluh Hyori

“Aku mengerti apa yang dirasakan oleh kakekmu” ujar Bi Hyul “Meskipun kau cucu dari pemilik sekolah tapi prestasimu sungguh sangat nihil”

“Kenapa kalian semua ikut mempermasalahkan itu?” Hyori mendelik “Di jaman seperti ini, wanita tak wajib bersekolah apalagi berambisi mengejar mimpi. Yang perlu kalian lakukan adalah menjadi cantik lalu menjadi istri dari pria kaya dan tampan”

Bersama-sama ketiga gadis lainnya mendorong kasar kepala Hyori.

“Eonni, kau berbicara tentang jaman yang mana?” desis Hyena

“Sungguh sangat idiot. Apa yang ada di kepalamu Song Hyori?” Min Kyung terlihat resah “Kau kira wajah cantikmu akan cukup? Kau tak memiliki sesuatu yang ingin kau gapai dalam hidupmu?”

“Tentu saja ada” elak Hyori “Siwon…”

“My man~” ketiga gadis itu memotong ucapan Hyori, mereka menatap sadis pada si bodoh itu.

“Hyori, kau pikir pria-pria akan melirikmu hanya karena wajahmu?” tanya Min Kyung, Hyori justru tersenyum memamerkan senyuman mautnya “Baiklah, jika mereka melihat wajah dan bodymu—mereka mungkin akan berlomba-lomba untuk mengenalmu tapi aku berani bertaruh, dalam waktu tiga menit berbicara denganmu, kaki mereka pasti ingin berlari sesegera mungkin untuk menghindar”

“Di jaman seperti ini?” Bi Hyul tersenyum kesal, ia mengulangi pernyataan enteng Hyori “Kurasa gadis ini lebih cocok hidup di jaman Joseon, ah—jaman Goryeo ataupun Silla akan jauh lebih baik untuknya” Bi Hyul tak segan-segan untuk melontarkan ejekan.

“No no no” Min Kyung menggeleng, ia mengelus-elus pelan dagunya “Pikirkan jaman megalitikum. Saat ini para arkeolog pasti akan heboh dengan penemuan fosil wanita tercantik dari jaman pra sejarah” seringai lebar menghiasi wajah gadis itu. Di otaknya terlintas hal yang lebih kejam dari jaman megalitikum, ia memikirkan jaman-jaman sebelum itu seperti paleolitikum, mesolitikum dan neolitikum.

“Kang Min Kyung!” Hyori menghadiahi Min Kyung dengan sebuah tinju kecil di pundaknya, sejurus kemudian ia mengatur nafasnya—memandang Min Kyung dengan tatapan polos “Ng…tapi siapa megaletsoit itu?”

“MEGALITIKUM!!” ketiga gadis itu memperbaiki kata yang mengalami pergeseran hebat karena ulah Hyori

“Sudahlah, meskipun di jelaskan, otak merayapnya tak akan mampu mencerna itu” desis Bi Hyul mencegah Min Kyung untuk mengeluarkan tenaganya dengan sia-sia. Hyori hanya melengos kesal karena sikap dari ketiga gadis itu.

Bel panjang meraung terdengar sampai di seluruh pelosok sekolah. Keempat gadis-gadis itu terlihat sangat bersemangat membereskan perlengkapan sekolah mereka. Murid-murid mulai berhamburan keluar dari dalam kelas.

“Hyena”

Hyena menoleh memandangi Hyukjae yang tersenyum, sekecap Hyena menghalau matanya yang silau setiap kali melihat senyuman Hyukjae.

Pemuda itu berjalan menghampiri Hyena dan langsung memegangi pergelangan tangan gadis itu “Ikut denganku” ia mengerling.

“Ke, kemana?” Hyena masih merasa gugup setiap kali berdekatan dengan kekasihnya itu.

“Aku lapar” jawab Hyukjae. Hyena tak bisa berbuat apa-apa ketika Hyukjae membawanya keluar dari dalam kelas.

“Aku juga ingin seperti itu” Hyori berkata lirih sambil menggigit-gigit ujung bukunya. Matanya melirik pada Siwon yang masih tenang di tempat duduknya. Min Kyung dan Bi Hyul hanya saling pandang muak “Dibandingkan kalian bertiga, aku jauh lebih cantik. Hmm, ada yang tak beres—pasti terjadi kesalahan” Hyori tak habis-habisnya berpikir bahwa diantara mereka berempat, dialah satu-satunya yang belum memiliki kekasih hati.

“Letak kesalahan ada pada otakmu” celetuk Min Kyung tanpa basa-basi.

“Ciihh” Hyori mencibir, ia lalu menatap Bi Hyul “Ah, Hyun Bi Hyul, kau tak cemas tentang Donghae oppa?”

“Apa?”

“Universitas adalah tempat berkumpulnya gadis-gadis cantik, kau yakin Donghae oppa tak akan tergoda dan tetap setia pada produk setengah jadi?” Hyori melirik Bi Hyul dengan ekor matanya.

“Haishh!!”

“Aaauu..!!! Sakit~” Hyori meringis kesakitan ketika Bi Hyul menginjak kakinya

“Mulutmu, harimaumu” desis Min Kyung

“Sadarlah Kang Min Kyung, apa berbedanya kau?” kesal Hyori disela-sela kesakitannya “Dengan temperamen buruk, apa yang keluar dari mulutmu bahkan jauh lebih mengerikan”

“Hyori, kau tahu apa yang membedakanku denganmu?” tanya Min Kyung. Ia tersenyum lalu mengetuk-ngetuk jidat Hyori dengan telunjuknya “Kapasitas otak” katanya lagi sambil mengerling.

“KALIAN????” Hyori yang mengeluarkan suara kencang cukup mengejutkan Min Kyung dan Bi Hyul, selama ini dia selalu tak bereaksi dan bahkan hanya tersenyum idiot meskipun ia menerima penghinaan dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi oleh Min Kyung dan Bi Hyul.

“Dia bereaksi?” bisik Min Kyung keheranan.

“Kurasa, bagian otaknya yang tersumbat mulai berfungsi” balas Bi Hyul, mereka tak perduli ketika Hyori menatap dengan tatapan kesal.

“Apa maksudmu?” Hyori emosi, berbicara dengan sangat serius “Hanya karena kau jauh lebih baik dan kau mengataiku seperti itu? Kang Min Kyung, maaf—tapi otakku bukan terbuat dari kapas”

Min Kyung dan Bi Hyul menganga.

“Bukankah yang tadi kukatakan adalah kapasitas?” Min Kyung menelan ludah kasar dan dijawab dengan ekspresi paling aneh milik Bi Hyul “Gosh!!” kedua gadis itu tertunduk lesuh dan tak berdaya karena ketololan Hyori.

“Song Hyori”

Ketiganya menoleh pada pemilik suara berat yang baru saja memanggil Hyori.

“Siwon!” pekik Hyori “My man!” lanjutnya lagi membuat Siwon harus menarik nafas dalam-dalam seolah tak ada oksigen yang tersisa untuknya.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu”

Hyori langsung mematung karena kalimat itu.

“Bisakah kita berbicara sebentar?” Siwon menatap kesal pada Hyori yang tak memberikan reaksi apapun.

“Ah, tentu. Tentu saja!” Hyori tersadar dari keterpakuannya, ia memandangi Siwon yang berjalan keluar kelas “Dengan senang hati!” ucapnya keras.

“Apa yang terjadi?” Bi Hyul memandangi Hyori.

“Mendadak Siwon bersikap aneh” alis Min Kyung bertautan, tak biasanya Siwon dengan sengaja berbicara pada keempat gadis itu—terlebih pada stupid Hyori “Mungkin dia tak menelan obatnya hari ini” gumam Min Kyung.

Telinga Hyori seakan tersumbat, tak memperdulikan celoteh dan kepesimisan dua sahabatnya yang tengah mempertanyakan sikap menyimpang seorang Choi Siwon. Gadis itu menempelkan telapak tangannya dikedua belah pipinya yang telah memerah dan memanas.

“Aku, tak sedang bermimpikan?” gumam Hyori, dua gadis lain hanya menatapnya jengah “Seseorang, tolong tampar aku” ia kembali bergumam.

Senyum mengembang di sudut bibir Bi Hyul.

Plak!!

Sebuah tamparan ringan menembus permukaan kulit wajah Hyori yang halus.

“Hyun Bi Hyul!!” teriak Hyori, ia memegangi pipinya.

“Semua orang pasti akan menemukan titik terang ketika bertemu dengan telapak tangan ajaibku” Bi Hyul menepuk-nepuk santai kedua tangannya “Jadi, bagaimana menurutmu? Kau sudah bisa menyimpulkan antara mimpi dan kenyataan?” senyum Bi Hyul.

“Kau tak perlu menanggapinya dengan serius” kilah Hyori “Itu menyakitkan” katanya lagi sambil terus memegangi pipinya.

“Hanya berhati-hati dengan perkataanmu” Min Kyung menarik nafas santai.

Hyori hanya mendesis, mengerucutkan bibirnya. Ia terlihat kesal pada Bi Hyul dan Min Kyung yang tetap santai tak terpengaruh dengan Hyori. Hyori tercekat, ia seperti baru tersadar bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting yang harus ia kerjakan.

“Ah, aku melupakannya. Siwon, my man~” ia terpekik ketika sadar bahwa ia harus segera bertemu dengan Siwon “Siwon, aku padamu!” katanya lagi dan berlari keluar kelas.

“Aku padamu?” ulang Bi Hyul “Apa maksudnya?”

“Hanya dia dan Tuhan yang tahu” jawab Min Kyung “Aku tak pernah memahami dengan benar apapun yang keluar dari mulutnya. Dia seperti gadis yang berbeda planet dengan kita” ujar Min Kyung.

“Ah, Min Kyung” Bi Hyul tiba-tiba memandangi Min Kyung dengan sangat serius “Bagaimana dengan pangeran Anyang-mu itu?”

Min Kyung mendesah “Katakan langsung pada intinya”

“Setelah lulus dari Chongdam, kau benar-benar akan segera menikahinya?”

Min Kyung menjitak kepala Bi Hyul “Kau gila?” ia mendesis

“Jika kau menolak, bukankah itu artinya kau yang gila? Apalagi yang kau tunggu? Di Korea Selatan ini, kau adalah gadis yang sangat beruntung. Bayangkan, nyonya Royal Group”

“Hyun Bi Hyul, aku tak menolaknya—kalian tahu itu” ujar Min Kyung “Aku ingin melakukan apapun yang aku inginkan, termasuk ke pergi ke Universitas. Lagipula, aku hanya tak ingin menjadi boneka yang tak mengerti apapun dan hanya duduk manis mengurusi asset keluarga itu” jelas Min Kyung.

Bi Hyul menangguk pelan “Ya, itulah kau” dia tahu betul seperti apa watak seorang Kang Min Kyung. Begitu keras dan penuh pendirian.

Sementara itu, disuatu tempat dalam bangunan Chongdam high school, sebuah tempat yang jarang dilalui oleh para penghuni sekolah. Hyori masih berdiri terpaku di hadapan Siwon yang memangku tangan santai, tak sedikitpun menggeser pandangannya dari gadis itu.

“Jadi, bagaimana menurutmu?” ungkap Siwon. Hyori masih terdiam, otaknya sibuk mencerna apa yang didengarnya “Song Hyori, aku sedang bertanya padamu” ulang Siwon, ada penekanan dari kalimat terakhirnya.

“Ah, itu..” Hyori menatap Siwon, ia terlihat sedikit kebingungan “Yang kau katakan, itu—benarkah?” ia bertanya dengan sangat pelan.

Siwon menarik nafas “Ya? Atau tidak?” pemuda itu memandangi Hyori yang lagi-lagi tak bergeming, tampang polosnya yang semakin terlihat kebingungan, mencoba untuk meraih konsentrasi penuh “Aku anggap jawabanmu adalah iya. Aku sudah selesai” Siwon lalu meninggalkan Hyori.

Gadis itu masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia memegangi dadanya, debar jantungnya yang kencang terasa jelas di sana. Berkali-kali Hyori menarik nafas panjang. Dengan langkah tertatih, ia berjalan pelan. Hyori tak perduli ketika tubuhnya bertabrakan dengan murid-murid yang berlalu lalang. Ia telah kehilangan sebagian besar kesadarannya.

~.o0o.~

 

Chongdam high school.

Hyori melangkah sambil melompat-lompat kecil. Ia terus bersenandung, senyuman tak pernah surut dari wajah cantiknya. Terlihat sekali jika ia sedang berbahagia. Ya, beberapa waktu belakangan ini suasana hati Hyori sangat baik. Semua murid yang berpapasan terus menancapkan tatapan mereka pada Hyori yang tak perduli sekalipun mereka sedang membicarakannya.

Beberapa menit berlalu, giliran Siwon yang mendapat sorotan tajam. Berbeda dengan Hyori yang selalu cuek, Siwon harus menahan hatinya dan mempertebal wajahnya ketika ia terus menerima tatapan-tatapan itu, bahkan menjadi bahan pembicaraan. Pemuda itu mempercepat langkah kakinya. Hatinya sedikit melega ketika ia tiba di dalam kelas, namun kelegaan itu tak berlangsung lama.

“Siwon, my man!!”

Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam menerima sambutan yang sama disetiap hari selama hampir tiga tahun keberadaannya di SMA Chongdam. Ia lalu duduk sekenanya, menarik sebuah buku dari dalam laci mejanya dan mengarahkan konsentrasi penuh pada buku itu.

“Kepopuleranmu semakin bertambah” ujar Hyukjae “Seminggu belakangan ini, kau menyadari itukan?”

“Kau diam saja” jawab Siwon malas-malasan.

Hyukjae merapatkan tubuhnya “Choi Siwon, sebenarnya ada apa ini?” selidik Hyukjae “Kau baik-baik saja?” ia terlihat mencemaskan sahabatnya itu.

“Perlukah aku menjawabmu?” balas Siwon.

“Tentu saja” kepala Hyukjae mengangguk pasti

“Tapi aku tak ingin menjawab itu” senyum tipis tergambar di sudut bibir Siwon membuat Hyukjae menggerutu ringan.

“Kau memang selalu menyebalkan” Hyukjae mendesis, ia lalu kembali menatapi Siwon dengan sangat serius “Siwon, kau dengan jelas mengatakan bahwa kau membenci gadis itu dan aku tahu siapa kau. Lalu tiba-tiba kau justru…”

Siwon melepaskan buku yang dipegangnya, ia menoleh pada Hyukjae “Jangan berpikir keras. Sebaiknya kau tetap menjaga wanita silumanmu baik-baik. Kau tahu—segel kutukannya bisa terlepas kapan saja”

“Argh, mengapa kau sangat menyebalkan?” Hyukjae menggeram.

Siwon hanya tersenyum tipis, ia kembali membuka buku. Mengangkat buku itu setinggi-tingginya untuk menghalangi wajahnya. Hyukjae tak bisa berbuat apapun selain terus menggerutu.

Masih di kelas yang sama. Min Kyung, Bi Hyul dan si kembar tengah asyik bercengkrama. Tampaknya Min Kyung dan Bi Hyul sedari tadi terus mencerca Hyori dengan berbagai macam pertanyaan.

“Sampai kapan kau akan bermain-main dengan kami?” Min Kyung menahan nafas—emosinya mulai terpancing.

“Permisi—tapi permainan apa yang sedang kita mainkan?” tanya Hyori polos.

“Oh my gosh!!” Min Kyung menyeka keringat yang mulai membasahi dahinya.

“Song Hyori. Tolong pergunakan otakmu dengan sebaik-baiknya” Bi Hyul mulai tidak sabaran “Apa yang dikatakan Siwon padamu waktu itu?”

“Kalian ingin aku menjawabnya?” selidik Hyori

“Tidak, kau hanya perlu buang angin” ujar Min Kyung santai, ia mengumpulkan tenaganya “TENTU SAJA KAU HARUS MENJAWABNYA, BODOH!!” Min Kyung berteriak tepat di telinga Hyori.

“Min Kyung, sebaiknya kau tidak bersuara keras. Bagaimana jika pupilku rusak?” dengan serius Hyori memegangi telinganya.

Ketiga gadis itu saling pandang, tak mengerti dengan ekspresi yang berkata ‘Apa hubungannya dengan pupil?’

“Jika itu terjadi….sangat mengerikan” Hyori bergidik sendiri “Aku akan menjadi gadis cantik yang tuli” lanjutnya.

Jawaban yang diberikan Hyori sukses membuat kepala ketiga gadis itu terantuk di atas meja. Mereka hanya mendesah lemas, tak berniat untuk memperbaiki kesalahan fatal Hyori bahwa yang dimaksud olehnya bukan pupil melainkan gendang telinga.

“Eonni, kau masih ingat apa cita-citamu dulu sebelum kau bertemu Siwon?” tanya Hyena pelan.

Hyori terlihat berpikir keras, ia mencoba menggali ingatannya yang sangat minim “Ah, tentu saja. Dokter” jawabnya antusias. Min Kyung dan Bi Hyul langsung mendelik hebat.

“Masihkah kau berpikir untuk menjadi dokter?” Hyena bertanya lagi.

“Hmm, meskipun aku sangat cantik tapi itu tak akan cukup—sangat tak imbang jika Siwon hanya memiliki istri yang cantik” perkataan Hyori memporak-porandakan isi perut ketiga gadis itu “Aku rasa, menjadi dokter bukan ide yang buruk” ia tersenyum puas.

“TIDAK!!” cegah Min Kyung dan Bi Hyul. Hyena hanya menarik nafas lesuh.

“Ada apa?” Hyori bertanya dengan sangat enteng, tak menyadari muatan otaknya yang benar-benar perlu diperbaiki.

“Lupakan itu” desah Min Kyung.

“Tidak Hyori, untuk ukuran gadis sepertimu. Kau memang hanya perlu menjadi cantik lalu menikahi pria kaya dan tampan” Bi Hyul akhirnya setuju dengan pernyataan Hyori beberapa waktu lalu “Ingat, menjadi cantik dan menikahlah. Jangan berpikir selain itu” Bi Hyul kembali meyakinkan Hyori.

Hyori terdiam “Kalian benar-benar membuatku terharu” katanya dengan mata yang berkaca-kaca. Tiga gadis lainnya ikut berkaca-kaca karena merasa prihatin dengan tingkat keluguan Hyori “Tapi tidakkah kalian berpikir jika aku sangat cocok mengenakan seragam dokter? Lagipula, kalian bisa berobat padaku—gratis” tekan Hyori.

Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul menggeleng kasar.

Apa berobat padamu? Sekalipun kau satu-satu dokter yang tersisa di muka bumi ini—aku tak akan mau diobati olehmu, itu sama saja dengan hukuman mati” batin Bi Hyul berkecamuk

Kau bahkan tak bisa membedakan pupil dan gedang telinga lalu kau ingin menjadi dokter? Ayolah Song Hyori, kau hanya akan menjadi legenda mal praktek” bisik Min Kyung dalam hati.

Tuhan tolong sadarkan eonni” giliran Hyena yang membatin.

“Hei, mengapa kalian diam? Apa yang kalian pikirkan?” Hyori heran melihat tingkah tiga gadis itu “Aku tahu kalian akan setuju” ia menyengir tajam.

“Hyori, jangan gegabah” Min Kyung emosi, namun ia berusaha mengendalikan diri ketika melihat sorot mata tajam dari Hyena dan Bi Hyul “Maksudku, kau harus fokus pada satu hal. Hyori, bukankah kau sangat menyukai Siwon? Yang perlu kau lakukan adalah fokus pada Siwon, kejarlah dia. Aku akan mendukungmu dengan sepenuh hati” lanjut Min Kyung, ia menyimpan modus lain dari kalimat itu.

Bi Hyul mengangguk pasti “Benar, lupakan keinginanmu yang lain. Ingat, jadilah cantik dan seret Choi Siwon ke depan altar” Bi Hyul ikut memprovokasi.

Siwon memegangi tengkuknya “Aneh, mengapa aku jadi merinding?” ia bergumam heran, pemuda itu lalu kembali melanjutkan bacaannya meskipun segudang tanya sedang menggerogoti kepalanya karena suasana menyimpang yang terasa kental dipermukaan kulit sampai menembus perasaannya yang terdalam.

Mata Hyori yang telah berkaca-kaca memandangi Min Kyung, Bi Hyul dan Hyena secara bergantian “Terima kasih, aku akan ingat itu. Baiklah, mulai saat ini motto hidupku berubah; Siwon my man—akan kuseret kau ke altar” seringain lebar menghiasi wajah Hyori.

Ketiga gadis lainnya menarik nafas lega. Misi penyelamatan dunia berakhir sukses.

“Jadi, dimulai dengan mengatakan apa yang siwon katakan padamu” pancing Min Kyung

“Mengapa dia tiba-tiba bersedia menjadi guru privatemu?” tambah Bi Hyul.

“Tanyakan pada Hyena” ujar Hyori.

“Hyena?” gumam Min Kyung dan Bi Hyul “Kau—memantrai Siwon?” Bi Hyul mulai menduga jika segel kutukan Hyena mulai memudar.

“Haissh, tidak seperti itu” Hyena kesal “Bagaimana aku tahu? Eonni tak pernah mengatakan apapun”

“Benarkah?” Hyori justru balik bertanya “Kupikir aku sudah menceritakannya padamu?” gumam Hyori. Hyena menjawab dengan gelengan pelan.

“Hyori, apa yang Siwon katakan padamu”

“Dia hanya mengatakan bahwa kakek memintanya menjadi guru privateku, lalu ia meminta pendapatku—tapi aku tak bisa mengatakan apapun, berada begitu dekat dengannya membuatku lemas”

“Kau tak menjawabnya?”

Hyori mengangguk “Karena aku diam, dia menganggap jawabanku adalah iya”

“Aneh” gumam Min Kyung

“Apa yang aneh?” tanya Bi Hyul

“Untuk seorang Choi Siwon yang begitu membenci Hyori. Jika aku jadi dia, maka yang akan kukatakan adalah; karena kau diam maka aku menganggap jawabanmu adalah tidak”

Kesadaran Bi Hyul dan Hyena seperti terkumpul. Mereka menganggap apa yang dikatakan oleh Min Kyung masuk akal.

“Kau benar. Jika aku menjadi Choi Siwon yang begitu tak menyukai Hyori, maka aku tak akan menjadi guru privatenya, lalu mengapa dia justru bersedia?” gumam Bi Hyul

“Hei, bukankah itu artinya Siwon mulai menyukaiku?” Hyori kegirangan.

Bi Hyul dan dua gadis lainnya hanya tersenyum aneh, mereka tak ingin mengatakan apapun karena yang terpenting bagi mereka agar Hyori fokus pada Siwon dan melupakan cita-cita yang bisa berdampak pada malapetaka. Kecemasan mereka terlalu berlebihan, tentu saja Hyori tak akan semudah itu diterima di fakultas kedokteran apalagi dengan minimnya isi otak gadis itu.

“Aku rasa, dia tak bisa menolak permintaan kakekmu” Bi Hyul berbisik pada Hyena.

“Aku sependapat denganmu” Min Kyung ikut berbisik. Mereka berusaha agar apa yang mereka katakan tak sampai ke telinga Hyori.

“Eonni, apa kau tahu?” Hyena teringat sesuatu “Jika kau tak bisa memperbaiki nilaimu maka kakek akan mengirimu ke Austria”

“Austria??” Hyori, Min Kyung dan Bi Hyul terkejut “Austria? Bukankah itu artinya dia mengirimku pada bibi Yeona? Argh, tidak! Aku tak bisa hidup bersama wanita iblis itu” Hyori meremas rambutnya kasar.

Si kembar sama-sama tahu jika kakak dari Ayah mereka itu sangatlah keras dan penuh dengan kedisiplinan. Bagi mereka, tinggal bersama bibi Yeona sama halnya dengan tinggal di neraka.

“Hyena, mengapa kakekmu yang menyebalkan melakukan hal semengerikan itu padaku?” mata Hyori membulat.

Min Kyung menjitak kepala Hyori “Dia kakekmu juga, idiot”

Dahi Hyori berkerut, ia kemudian tertawa terpingkal-pingkal tanpa rasa bersalah “Ah, aku lupa” jawaban entengnya membuat ketiga gadis itu mendorong keras kepala bodoh Hyori.

~.o0o.~

Kediaman keluarga Song.

Hyena terburu-buru menyusuri koridor rumahnya. Ia berhenti tepat di depan sebuah pintu. Hyena mengetuk keras pintu tersebut. Tak ada sahutan.

“Eonni” panggil Hyena “Eonni, apa yang kau lakukan?”

Tak ada suara dari dalam kamar Hyori.

Hyena yang tak sabar, lalu membuka pintu itu “Eonni, cepatlah! Siwon sudah…” ia tak dapat melanjutkan kalimatnya. Hyena terpaku melihat Hyori “Eonni..???”

“Bagaimana menurutmu?” tanya Hyori dengan wajah yang berseri-seri.

Hyena hanya memandangi Hyori dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Eonni, kau akan ke pesta?” selidik Hyena yang bingung melihat gaya berpakaian dan dandanan Hyori.

Hyori menggeleng “Kau gila? Membiarkan Siwon my man seorang diri di sini?? Tak mungkin!” elak Hyori

“Jadi, untuk apa kau berdandan?”

“Untuk calon kakak iparmu” senyum tipis Hyori membuat Hyena hanya memandanginya, sangat miris.

“Jangan berlebihan. Cepat rubah pakaianmu—kau hanya akan membuat Siwon ketakutan”

Hyori memandangi pantulan bayangannya di kaca. Ia kebingungan karena ucapan saudari kembarnya itu.

“Dia pasti akan menganggapmu aneh” ujar Hyena “Sekalipun kau memang sudah terlahir aneh” Hyena membatin dengan sangat gamblang, sepertinya ia tak sadar akan dirinya sebelum berevolusi “Cepatlah, sudah hampir sejam Siwon menunggumu” Hyena berlalu dari dalam kamar tidur Hyori.

Hyori hanya membuang nafas lesuh.

Lima menit kemudian ia tampak keluar dari kamarnya, tentu saja dengan dandanan yang lebih normal. Ia segera berjalan menuju sebuah ruangan yang cukup luas di lantai satu rumahnya. Siwon telah menunggunya.

Pemuda itu duduk tenang, sebuah buku sedang dibacanya, ada kaca mata tipis membingkai matanya. Mata Hyori memicing, ia seperti melihat banyak bidadari yang berkeliaran di sekitar Siwon. Di matanya, Siwon benar-benar sangat memukau dan berpotensi membuatnya meleleh.

Siwon menyadari kehadiran Hyori, ia menoleh pada gadis yang masih mematung di ambang pintu.

“Setelah membuatku berjamur di sini, kau masih bisa berdiri santai seperti itu?” Siwon menatap Hyori dingin “Cepatlah, kau membuang banyak waktuku!”

“Ma, maaf” Hyori terlihat gugup.

Gadis itu dengan perlahan menghampiri Siwon. Debar jantungnya bekerja maksimal. Pesona seorang Choi Siwon memiliki pengaruh besar bagi kelangsungan hidup Hyori.

“Duduklah” Siwon merasa kesal karena ia harus mendikte apa yang harus dilakukan oleh Hyori.

Seperti orang yang dihipnotis, Hyori hanya mengikuti semua arahan yang diberikan Siwon. Siwon mulai membuka buku-buku pelajaran di atas meja. Ia lalu mulai berbicara, menerangkan materi-materi itu dengan baik pada Hyori.

Siwon begitu baik dalam berbicara, terbukti bahwa dia memang adalah siswa unggulan di Chongdam. Hyori menopang dagunya, terkesima melihat Siwon yang telah menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan pelajaran pada Hyori.

“Song Hyori” Siwon bergumam pelan “Yang perlu kau perhatikan adalah buku yang terbentang di hadapanmu. Bukan wajahku” katanya kesal.

Hyori hanya tertawa “Entahlah, tapi aku melihat semua pengetahuan di wajahmu” jawaban Hyori membuat Siwon menarik nafas dalam. Sangat dalam.

“Aku akan memberikanmu soal, cobalah kau kerjakan” ujar Siwon, ia terlihat sibuk menulis di atas kertas, lalu menyodorkan kertas itu pada Hyori.

“Uhm, itu—kau tahukan, aku tak pandai dalam matematika” gumam Hyori.

Kau memang tak pandai dalam segala hal” bisik kejam Siwon dalam hati “Berusahalah, kau sangat mudah menyerah. Kau harus bisa mengerjakan soal itu. Setiap manusia punya banyak kelebihan, kau harus ingat itu!” desah Siwon.

“Benarkah?” harapan Hyori mulai tumbuh “Lalu, menurutmu. Apa kelebihanku?” Hyori mulai bertanya lagi, ia menatap Siwon harap-harap cemas, penasaran menanti jawaban yang keluar dari mulut Siwon.

Siwon kembali menarik nafas panjang “Hanya satu kekuranganmu” jawab Siwon. Hyori tersentak kaget, ia tersenyum puas “Yaitu, tak punya kelebihan sama sekali” Siwon kembali mendesah membuat senyuman di wajah Hyori luntur.

“Setidaknya, dia harus bisa mengatakan satu hal yang baik—meskipun itu hanyalah kebohongan” Hyori bergumam kesal.

“Song Hyori, berhenti mengoceh dan cepat kerjakan soal itu. Mulutku hampir berbusa menjelaskan cara kerja soal itu padamu, jika kau memperhatikan seharusnya kau bisa mengerjakannya”

Hyori hanya bersungut-sungut, ia mulai mencoret-coret di atas kertas. Siwon membiarkan Hyori, pemuda itu memilih melanjutkan bacaannya. Sepuluh menit berlalu.

“Coba kulihat” Siwon menarik kertas Hyori dan ia terkesiap melihat tampilan visual kertas tersebut “Apa ini?” bibir Siwon mulai bergetar.

“Otakku tak bisa berpikir. Aku melukis pemandangan itu untuk menemukan inspirasi” jawab Hyori sekenanya.

Siwon memukul kepala Hyori dengan pena “Inspirasi? Hyori, matematika adalah ilmu pasti” Siwon tampak kesal.

Ia lalu menarik kertas lain “Perhatikan baik-baik” katanya lagi. Siwon mulai menerangkan, tangannya dengan lincah mengerjakan rumus-rumus itu, ia memang sangat hebat “Selesai” Siwon meletakan kertas itu di hadapan Hyori.

Hyori memegangi kertas itu “Daebak” ia terkesima melihat hasil akhir dari soal tersebut “Ini kebetulan yang sangat menakjubkan. Jawabannya adalah 3? Ah, aku sangat menyukai angka itu. Angka favoritku”

Siwon tersenyum tipis membiarkan Hyori mengagumi kepintarannya. Pemuda itu menarik gelas yang berisi jus apel.

“Angka 3 adalah angka terseksi yang pernah diciptakan, selalu mengingatkanku pada bokongmu yang sangat seksi”

Jus yang belum sampai di tenggorokan Siwon langsung tersembur paksa keluar dari dalam mulut pemuda itu. Ia terbatuk-batuk keras setelah mendengar ucapan Hyori.

“SONG HYORI!!” hardik Siwon geram. Ia sangat marah tapi mulutnya seakan tak bisa berkata-kata. Siwon hanya menyisir frustasi rambutnya dengan kelima jari tangan kanannya. “Sudahlah, sebaiknya kita belajar yang lain saja” katanya lagi.

Siwon mulai berbicara panjang lebar, berharap bahwa penjelasannya masuk di otak Hyori meskipun itu hanya 0,01%. Kali ini Hyoripun tampaknya menyimak dengan baik apa yang dijelaskan oleh Siwon, sesekali ia bertanya dan Siwon menjawab.

“Sistem reproduksi manusia, argh—aku sangat membenci pelajaran seperti ini” kilah Hyori. Siwon hanya tersenyum sinis, memang tak ada yang bisa diandalkan dari seorang Song Hyori “Bagaimana jika kita menggambarnya? Kurasa akan lebih mudah untuk dipelajari” usul Hyori

Siwon terbatuk “Kau gila?” ia mengelus dadanya, berusaha agar tekanan darahnya terjaga normal “Jangan mengusulkan apapun”

Pemuda itu kembali melanjut ke halaman berikutnya. Ia harus bekerja keras untuk mengisi otak kosong Hyori.

“Siwon” Hyori merengut, ia memijit-mijit kepalanya “Aku tak mengerti. Kau berbicara panjang lebar tentang system reproduksi, lalu cara hewan-hewan itu berkembang biak. Aku benci hewan. Aku rasa akan lebih baik jika yang kau bahas adalah bagaimana cara manusia berkembang biak”

Kembali ucapan Hyori dengan sukses membuat Siwon terbatuk keras.

“Siwon, my man—kau baik-baik saja?” Hyori membantu menepuk-nepuk punggung Siwon.

Siwon menghalau tangan Hyori “Song Hyori, kau tahu apa yang kau katakan?” terjang Siwon.

Hyori menggeleng.

“Sudah kuduga” desah Siwon.

Hyori hanya terdiam. Tampaknya tak satupun ucapan Siwon yang menyangkut di otaknya. Siwon hanya menggeleng prihatin. Sangat-sangat prihatin.

~.o0o.~

Baru lima menit lalu bel panjang meraung-raung diseantero sekolah. Siswa-siswi Chongdam high school langsung berhamburan keluar kelas, memadati koridor dan seluruh pelosok sekolah—terutama kantin.

Min Kyung, Bi Hyul dan si kembar telah mengambil tempat terlebih dahulu di dalam kantin, bahkan meja mereka telah dipadati oleh pesanan keempat gadis itu.

Hyori menyeruput dalam-dalam minuman dalam gelas yang sedang digenggamnya. Tatapannya lalu tertuju pada ketiga gadis lainnya yang hanya memandanginya—masih membiarkan makanan dan minuman mereka menganggur.

Alis Hyori sedikit naik “Ada apa?” tanyanya bingung, tak menunggu jawaban dari mereka ketika Hyori mengangguk paham “Ah—maafkan aku. Percayalah, tapi aku mengerti perasaan kalian yang terintimidasi karena kecantikanku” katanya lagi. Hyena, Min Kyung dan Bi Hyul memutar bola mata mereka dan segera meneguk minuman dalam gelas di hadapan mereka, mencegah isi perut mereka yang rasanya akan keluar setelah mendengar kenarsisan Hyori yang terlalu berlebihan.

“Tak ada perubahan” Min Kyung menggeleng prihatin.

“Siwon harus benar-benar bekerja keras” sambung Bi Hyul.

Hyena hanya mengangkat bahu, ia tak ingin mengomentari apapun.

“Hyori, apa kau tahu jika yang Siwon lakukan itu seperti menulis di atas air?” delik Min Kyung.

Hyori terdiam.

“Min Kyung—meskipun aku tak meragukan kemampuan otakmu tapi sangat tak bijak jika kau menggambarkan situasinya dengan peri bahasa seperti itu—terutama saat kau berbicara dengan Hyori” Bi Hyul menatap tenang pada Min Kyung, pandangan Bi Hyul lalu beralih pada Hyori yang masih terlihat berpikir membuat dahinya berkerut tipis “Gadis ini kehilangan sepuluh tahun kemudaannya hanya untuk mengartikan ‘menulis di atas air itu”

Min Kyung menarik nafas dalam “Sia-sia” katanya. “Sudah sebulan Siwon menjadi guru privatemu—setidaknya kau menunjukan tanda-tanda kemajuan. Lalu apa ini? Tak sedikitpun ada yang berubah darimu. Bukankah itu artinya apa yang Siwon lakukan sangatlah sia-sia?”

“Aku tak tahu apa yang dipikirkan kakekmu” Min Kyung menatap lirih pada Hyena yang kembali mengangkat kedua bahunya, tak mengerti “Tugas yang diberikan kakekmu sama beratnya dengan membangun tembok china”

“Aih~” Hyori menepis dengan gaya malu-malu khasnya yang mungkin hanya dimiliki oleh Hyori seorang “Kalian terlalu terburu-buru. Untuk mendapatkan sesuatu yang sangat memuaskan, maka yang diperlukan adalah kerja keras dan kesabaran”

Mereka tertegun mendengar kalimat bijak itu keluar dari mulut Hyori, namun hanya untuk beberapa saat kemudian ketika mereka menarik nafas panjang dengan ekspresi aneh.

“Aku tak melihat kerja keras gadis bodoh ini” gumam Bi Hyul, ia menjejalkan makanan ke dalam mulutnya hingga penuh.

“Harapan tersisa adalah kesabaran. Mari kita lihat seberapa besar kesabaran Siwon” Hyena menanggapi perkataan Bi Hyul. Perkataannya diiyakan dengan anggukan kepala Min Kyung.

“Kekhawatiran kalian berlebihan” keluh Hyori “Aku dan Siwon akan bekerja sama dengan baik”

“Buktikan!” tantang Min Kyung “Aku mencemaskanmu—terlebih Siwon, dia bisa kehilangan kepintarannya jika terlalu lama bergaul denganmu” desis gadis itu, terdengar lebih mirip hinaan keji.

“Min Kyung, jika Kyuhyun mendengarmu mencemaskan pemuda lain, dia tak akan menyukai itu. Pangeran Anyangmu itu sangat egois jika sudah menyangkut tentangmu” ujar Bi Hyul “Mengerikan” ia bergidik. Min Kyung hanya menatap kesal padanya.

Siwon dan Hyukjae baru memasuki kantin. Kedatangan keduanya tentu saja membuat kehebohan Hyori. Gadis itu melipat kedua tangannya di bawah dagunya, memandang Siwon dengan sangat terpesona. Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul hanya menggeleng prihatin—mereka sudah tak bisa melakukan apapun terhadap Hyori.

“Dia tak memiliki reaksi lain” ujar Hyukjae. Siwon hanya menatap tenang pada Hyukjae. Hyukjae lalu melipat kedua tangannya di bawah dagu, “Siwon, my man!” ia menirukan persis tingkah laku Hyori membuat ketenangan Siwon sirna dan langsung menghadiahi Hyukjae dengan tinju pelan di lengannya.

“Pesan saja makananmu” Siwon memperingatkan Hyukjae untuk tidak membuat gerakan menyimpang.

“Ah, pesananku sama dengannya” Hyukjae tersenyum pada pelayan kantin yang telah mencatat semua pesanan mereka. Hyukjae tampaknya tak berniat merepotkan dirinya untuk memilih menu dari list menu. Pelayan itu segera bergegas “Kau tak perlu semarah itu” cengir tajam Hyukjae menghiasi wajahnya.

“Aku sedang memperingatkanmu—jangan melakukan sesuatu yang sia-sia”

“Sia-sia?” tanya Hyukjae “Aku hanya menghiburmu. Siwon, bukankah pekerjaan yang kau lakukan itu yang pantas dikatakan sia-sia?”

Siwon menatap Hyukjae.

“Kau yakin upayamu akan membuahkan hasil? Aku tak melihat perkembangan Hyori—hmm, atau mungkinkah kau tak sepintar itu?”

Siwon mendorong kasar kepala Hyukjae “Kau sebaiknya tutup mulutmu—habiskan saja makanan itu” ia menatap pelayan yang telah meletakan makana yang mereka pesan di atas meja.

“Ok” kerling Hyukjae, ia langsung menyantap makanannya.

Siwon hanya mendesah pelan melihat Hyukjae, pemuda itu lalu mulai menjejalkan makanan ke dalam mulutnya. Mereka tak bersuara lagi.

“Kau lihat dia?” Hyori menatap ceria ketiga gadis di dekatnya—ia kembali menoleh pada Siwon yang masih mengunyah makanannya “Mengapa makin hari Siwon semakin tampan? Luar biasa” ia berdecak.

“Hyori, kau tak melihat dengan jelas?” selidik Bi Hyul “Aku tak sependapat denganmu”

“Apa maksudmu?” tanya Hyena.

“Coba kalian perhatikan baik-baik. Wajah Siwon terlihat semakin lesuh, aku melihat keletihan besar dari sorot matanya”

Min Kyung dan Hyena mengangguk pelan.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Hyori satu-satunya yang terlihat panik dengan kadar yang berlebihan “Haruskah aku memberikan vitamin padanya?”

“Kau tak perlu melakukan hal-hal yang tak perlu” desis Min Kyung “Yang perlu kau lakukan adalah belajar—dia seperti itu karena merasa putus asa terhadapmu”

“Hanya karena itu?”

“Hanya karena itu?” Min Kyung mengulangi pertanyaan Hyori, gadis itu tertawa pelan “Song Hyori. Otak bodohmu membuat semua orang frustasi. Jika kau menyukainya, seharusnya kau memikirkan keselamatan mental Siwon—mengapa tak sedikitpun kau menunjukan perkembangan? Siwon pasti lelah menghadapimu”

“Sebaiknya kakek mencarikan guru private baru untukmu” ujar Hyena.

“Apa?” Hyori terkejut “Tidak! Aku tak mau guru private baru!” ia menggeleng kasar.

“Jadi—sebaiknya kau cobalah untuk sedikit lebih serius. Aku heran dengan isi kepalamu itu” keluh Bi Hyul.

“Siwon tak akan mampu mengajarimu, dia akan menyerah jika kau tak memiliki kemauan untuk berubah!” ujar Min Kyung.

Hyori berdiri kasar, meninggalkan derik aneh kursi yang bergeser di atas lantai. Untuk sesaat, perhatian semua orang teralih padanya.

“Tidak. Kalian salah” ujar Hyori, tatapannya terlihat sedikit berapi-api “Siwon bukan orang seperti itu!”

“Kau menjadi topik pembicaraan mereka” Hyukjae menatapi Siwon.

“Perasaanku tak enak—sesuatu yang buruk sepertinya akan terjadi” gumam Siwon.

Hyukjae tertawa “Sudahlah, sebaiknya kita habiskan makanan-makanan ini. Kau selalu berburuk sangka. Gadis itu bukan penyihir yang mampu mengirim kutukan padamu” ledek Hyukjae. Pemuda itu kembali menjejalkan makanan ke dalam mulutnya.

Siwon mendesah sambil tersenyum tipis “Ya, setidaknya dia tak semengerikan pacar seseorang” tatapannya tertuju pada Hyukjae.

“Choi Siwon, kau ingin mati!” Hyukjae memukul kepala Siwon dengan sumpit, pemuda itu hanya tertawa pelan menanggapi kekesalan Hyukjae. Mereka kembali melanjutkan kegiatan mengisi perut mereka.

Min Kyung, Bi Hyul dan Hyena masih memandangi Hyori.

“Hyori, duduklah—kita bisa membicarakan dengan baik-baik” Bi Hyul menyentuh tangan Hyori.

“Apa kalian tak begitu keterlaluan?” Hyori menepis tangan Bi Hyul “Mengatakan Siwon seperti itu—jika kalian mengata-ngataiku, aku tak akan menyangkalinya tapi Siwon bukan orang seperti itu. Dia bukan seseorang yang mudah menyerah!”

“Untuk itulah, kau harus membantunya untuk tidak menyerah” desah Min Kyung “Manusia itu tak ada yang bodoh, yang membedakan mereka hanyalah keinginan dan kerja keras. Kau tak bodoh Hyori, kau hanya perlu sedikit kerja keras”

Hyori terdiam, ia lalu menatapi ketiga gadis itu “Aku tahu” katanya pelan. Sangat pelan hingga nyaris terdengar seperti gumamam “Kakek meminta Siwon karena kakek percaya padanya. Kakek tahu jika Siwon adalah orang yang impoten”

UHUK!!

Ketiga gadis itu langsung tersedak hebat mendengar kata terakhir dari kalimat panjang Hyori.

“Hyori~” Min Kyung memukul-mukul dadanya yang sesak, ia segera meraih gelas dan meneguk isinya, membiarkan makanan yang tersumbat di tenggorokannya berjalan lancar.

“Eonni, katamu itu…” Hyena kembali terbatuk.

“Apa yang kalian lakukan?” Hyori memandangi Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul yang tampak kesusahan untuk menghirup oksigen.

“Kumohon, tolong berhati-hati dan perhatikan kata-katamu. Kau berkata seperti itu tentang Siwon, bukankah itu dapat menimbulkan kesalahpahaman?” Bi Hyul menarik nafas dalam-dalam.

“Kalian meragukan perkataanku?” nada Hyori semakin meninggi, ketiga gadis lainnya berusaha mencegahnya untuk tidak mengatakan apapun lagi “SUDAH KUBILANG, SIWON ITU ORANG YANG SANGAT IMPOTEN!!”

Kantin hening. Min Kyung, Bi Hyul dan Hyena langsung terantuk di atas meja—mereka memilih membenamkan wajahnya di atas meja.

SROOOOOTT!

Makanan yang ada di dalam mulut Siwon menyembur kencang keluar dari mulutnya. Sumpit dengan gulungan mie yang tadinya hendak masuk mulut Hyukjae tertahan begitu saja. Mereka mematung.

“SONG HYORI!!!!” Siwon berteriak kencang membuat Hyori tertegun.

Seisi kantin berubah menjadi gaduh. Siwon segera keluar dari tempat duduknya, ia menghampiri Hyori, memegang pergelangan tangan Hyori dan menarik kasar Hyori—Siwon bahkan tak perduli ketika Hyukjae tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul-mukul meja.

Siwon terus menyeret Hyori menjauh dari tempat itu. Siswa-siswi yang berpapasan hanya menaruh tatapan heran pada dua orang itu.

“Siwon~ kau menyakiti tanganku” desis Hyori.

Siwon menghempas kasar tangan Hyori ketika mereka tiba di tempat yang lebih sepi. Ia lalu membalikan tubuhnya, menatap marah pada Hyori yang langsung tertunduk.

“Kau tahu apa yang baru kau lakukan tadi?”

“Aku—aku hanya berusaha membelamu di hadapan tiga gadis menyebalkan itu” elak Hyori.

“Gosh! Hyori! Kau justru menghancurkanku” delik Siwon.

“Apa yang kulakukan? Rasanya—aku tak membuat sesuatu yang buruk” Hyori berkata takut-takut.

“Kau!!” Siwon menarik nafas panjang “Kau tahu apa arti dari katamu tadi? Impoten?” Siwon tertawa pelan, mengasihani dirinya sendiri yang telah ternistakan oleh ketololan Hyori.

“Aku berkata yang sebenarnya—kakek memintamu untuk mengajariku, karena kakek tahu kau adalah orang yang seperti itu”

“Tunggu dulu~” Siwon terdiam, ia memutar bola matanya. Pemuda itu lalu mendekati Hyori, gadis itu mundur selangkah “Kau tak bisa membedakannya? Yang harusnya kau katakan adalah kompeten—bukan impoten!” ia menyapu kasar wajahnya.

Hyori terperanjat “Ah! Pantas saja terasa sedikit janggal di lidahku” ia terkekeh pelan “Tapi kedua kata itu terdengar sama di telinga” katanya lagi.

“Mereka memiliki arti yang sangat jauh berbeda, Song Hyori” dada Siwon kian sesak karena Hyori.

“Benarkah? Apa itu?” Hyori bertanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Oh God! Leherku!” Siwon memegangi belakang lehernya yang menegang, ia merasa tekanan darahnya sangat tinggi—ia menatap kesal pada Hyori “Haisshh!”

“Aaaww!” Hyori mendesis kesakitan ketika Siwon menyentil dahinya. “Kau menyakitiku~” rengek Hyori.

Siwon yang terlanjur kesal hanya berlalu meninggalkannya, namun langkahnya terhenti—ia berbalik dan menoleh pada Hyori “Tanyakan pada ketiga sahabat bodohmu itu apa arti kata impoten. Jika kau sudah tahu artinya, sebaiknya kau hapus kesalahpahaman yang mungkin telah menyebar di seluruh sekolah. Aku ingin namaku kembali bersih!” ucap tajam Siwon. Ia akhirnya benar-benar meninggalkan Hyori yang hanya termenung sambil berpikir.

~.o0o.~

Hyori mengacak-acak rambutnya, frustasi “Apa yang harus aku lakukan?” ia menerjang Hyena, Bi Hyul dan Min Kyung dengan tatapan kasarnya—ia hendak marah tapi justru melampiaskan pada ketiga gadis itu.

“Itulah sebabnya kau harus berhati-hati dengan setiap perkataan yang keluar dari mulutmu” ujar Min Kyung.

“Eonni—aku tak mengerti, mengapa kau selalu seperti itu?” Hyena mempertanyakan Hyori yang selalu menyebutkan kata yang salah.

Hyori bersandar lemas di tempat duduknya “Aku tak tahu” gumamnya “Jadi—apa yang harus kulakukan?” ia kembali melayangkan pertanyaan yang sama “Siwon tak akan mengajariku sebelum namanya bebas dari rumor aneh” desahnya lagi.

Ketiga gadis lainnya hanya diam, mereka tak tahu harus mengatakan apa lagi. Seminggu sejak kejadian naas di kantin, Siwon melakukan aksi protes dan memberikan ultimatum pada Hyori bahwa ia tak akan memberikan private sebelum Hyori meredakan kesalahpahaman yang beredar sangat cepat di sekolah.

“Aku sudah melakukan segalanya” Hyori menatapi langit-langit kelas mereka.

Ya, gadis itu memang telah melakukan upaya keras karena kebodohannya itu. Ia melakukan klarifikasi dengan memasang permintaan maaf di setiap mading sekolah, bahkan meminta maaf secara terbuka melalui siaran radio sekolah—tak segan-segan Hyori mendatangi satu per satu murid-murid yang berada di kantin pada saat kejadian menggemparkan itu.

“Kau—bersabarlah” ujar Bi Hyul “Hanya itu yang dapat aku katakan”

“Bagaimana jika Siwon tak akan datang ke rumah lagi? Bagaimana jika dia memilih mundur? Bagaimana jika kakek kembali murka padaku?” Hyori melayangkan banyak pertanyaan “Aish, rasanya aku akan gila!” ia menghentak-hentak kasar kakinya di permukaan ubin kelas.

~.o0o.~

Dengan lincah tangan Hyukjae membuka halaman demi halaman sebuah komik yang sedang dibacanya, ia berbaring santai di sebuah sofa—di dalam kamar. Tak berapa lama kemudian, Siwon keluar dari dalam kamar mandi, rambut hitamnya yang lembab membuatnya terlihat sangat segar.

“Kau tak akan pulang?” Siwon mengernyit melihat Hyukjae yang belum beranjak dari dalam kamarnya.

“Hidup seorang diri di apartemen sangat membosankan. Aku berencana akan pindah ke sini” jawab Hyukjae santai, tak sedikitpun ia memalingkan wajahnya dari komik itu.

“Cihh” dengus Siwon.

Hyukjae seperti teringat sesuatu. Ia segera merubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk—menutup komik setelah sebelumnya menandai halaman terakhir yang dibacanya.

“Katakan saja” ujar Siwon ketika Hyukjae menatap aneh padanya.

“Sepertinya kau masih melanjutkan aksi mogok mengajarmu?” alis Hyukjae sedikit bertaut “Bukankah kau telah mendapatkan nama baikmu, wahai pria impoten”

Tanpa banyak bicara, Siwon langsung menendang keras kaki Hyukjae membuat pemuda itu meringis di sela-sela tawa nyaringnya.

“Sekali lagi aku mendengar kau mengatakan itu—kau tak akan pernah aku ampuni” Siwon mengancam Hyukjae yang hanya dibalas dengan kerlingan aneh Hyukjae.

“Kau tak akan kembali ke rumah itu?” tanya Hyukjae “Kau memutuskan untuk tidak mengajarinya lagi? Ah, itu sangat bijak” ia mengangguk-anggukan kepalanya.

“Mengapa aku harus menjawabmu?” Siwon mendesis pelan, ia lalu kembali ke dalam kamar mandi, meninggalkan Hyukjae seorang diri. Pemuda itu hanya mencibir tenang.

Krruuuuuukkk~

Hyukjae memegangi perutnya ketika bunyi mesra itu cukup terdengar di seluruh ruang kamar Siwon yang senyap. Pemuda itu bergerak dari posisi duduknya, ia melangkah—meneliti setiap sudut kamar Siwon yang sebenarnya sudah sangat familiar baginya.

Siwon adalah orang yang perfectionis, terbukti dengan kerapihan dalam kamar tidurnya. Hyukjae harus berdecak kagum ketika tak sedikitpun debu menempel di atas meja ketika dengan sengaja Hyukjae meletakan telunjuknya di sana, buku-buku di meja dan di rak bukunya tertata sangat rapi, tak ada benda-benda aneh yang berserakan tidak pada tempatnya—semuanya sangat berbanding terbalik apartemen kapal pecah milik Hyukjae.

Langkah kaki Hyukjae terhenti tepat di depan sebuah lemari buku, yang lagi-lagi isinya berbaris rapi. Ada beberapa foto dalam pigura di sana, juga robot-robot kecil yang dijadikan pemanis. Mata Hyukjae bergeser pada sebuah kotak berbentuk persegi, ukurannya tidak begitu besar sehingga dapat dipegang dengan muda oleh Hyukjae.

Alis Hyukjae bertaut “Coklat?” wajahnya berbinar senang “Orang baik tak akan pernah mengalami kesusahan” ia memuji dirinya sendiri. Tangannya dengan lincah membuka tutup kotak itu—matanya disambut oleh pemandangan segar coklat-coklat kecil berbentuk bulat. Mereka sangat menggiurkan.

Tak menunggu lama, Hyukjae segera menjejalkan sebuah bola coklat ke dalam mulutnya.

“Lee Hyukjae!!”

Pemuda itu menoleh pada Siwon yang mematung di depan pintu kamar mandi. Siwon memandangi mulut Hyukjae yang aktif mengunyah, lalu pandangannya turun pada benda yang masih berada dalam genggaman Hyukjae.

“Ah—terima kasih, meskipun rasanya tak begitu enak tapi mampu mengganjal perutku” katanya lagi sambil melempar coklat kedua dalam mulutnya.

“Hei!! Apa yang kau lakukan??” Siwon kembali berteriak histeris. Ia menghampiri Hyukjae dan langsung merampas coklat di tangan Hyukjae “Kau memakannya?”

“Aku kelaparan karena menunggumu” jawab Hyukjae santai.

“Kau memakannya?” ulang Siwon. Ia memandangi dua tampat dalam kotak itu telah kosong—ia terkejut “Kau bahkan menghabiskan…” tak sanggup berkata-kata, Siwon hanya menunjukan dua jarinya dan dibalas dengan anggukan polos Hyukjae. “Haishh, kau gila?” Siwon menepuk punggung Hyukjae membuat pemuda itu terbatuk-batuk.

“Choi Siwon? Mengapa kau bertingkah berlebihan hanya karena dua butir coklat itu?” Hyukjae berusaha menghindari amukan Siwon “Kau pelit sekali pada sahabatmu ini—kau bahkan hampir membunuhku”

Siwon tak mengatakan apapun. Ia lebih memilih menyimpan coklat itu di dalam lemari dan mengunci lemar itu.

“Sekarang aman” katanya sambil memamerkan kunci.

Hyukjae mendesah tak percaya “Gosh, are you kidding me?”

“Peraturan pertama. Jangan menyentuh apapun di dalam kamar ini tanpa persetujuanku” ujar Siwon “Kau hampir menghancurkan koleksiku”

“Koleksi? Aku akan membelikan sekarung coklat untukmu” desis Hyukjae. Ia sangat kesal dengan sifat berlebihan Siwon. Ia merasa heran dengan keanehan Siwon.

~.o0o.~

Tuk. Tuk. Tuk. Tuk.

Bunyi itu terdengar diseluruh penjuru ruangan yang terasa sangat sepi. Siwon mengetuk-ngetuk meja dengan pena yang dipegangnya. Tangan sebelahnya lagi memegang sebuah buku yang sedang dibacanya.

Wajah tampannya itu terlihat sangat tenang. Sorot matanya yang tajam hanya menghujani tulisan-tulisan dalam buku itu. Garis wajahnya sangat tegas. Kaca mata tipis yang membingkai matanya justru menambah pesonanya.

Siwon menarik nafas pelan “Fokus saja pada pelajaranmu” katanya tenang.

Hyori salah tingkah karena tingkahnya diketahui oleh Siwon. Gadis itu membuka matanya bulat-bulat memandangi buku yang terbentang di hadapannya.

Suasana kembali senyap. Hyori tak jera untuk mengintipi Siwon dari balik buku.

“Fokus Hyori—fokus!” ulang Siwon.

“Ah, tentu saja” Hyori terkekeh pelan.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal karena tak diberi kesempatan untuk mengagumi ketampanan Siwon. Tak punya pilihan lain, Hyori menarik bukunya.

Sudah lima belas menit berlalu. Siwon sedikit menurunkan bukunya. Ekor matanya melirik pada Hyori. Gadis itu terlihat menopang jidatnya dengan tangannya. Tangan sebelahnya membolak-balik halaman buku, sambil terus mengerjakan soal yang diberikan oleh Siwon. Sesekali desahan panjang keluar dari bibir mungil Hyori. Gadis itu terlihat sedang berusaha keras. Siwon menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya melihat keseriusan Hyori.

Tiba-tiba saja ponsel Siwon berbunyi nyaring. Perhatian mereka teralih.

“Ah, maaf” ujar Siwon, ia bangkit dan hendak berjalan meninggalkan ruangan itu agar konsentrasi Hyori tak terganggu “Ingat, kau harus menyelesaikan soal-soal itu!” ia memberikan ultimatum sebelum benar-benar berlalu dari ruangan tersebut.

Hyori menggeram kesal. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Hyori sudah hampir kabur meninggalkan jam private tapi ia teringat pada ucapan ketiga gadis itu bahwa tak hanya Siwon yang harus bekerja keras namun ia pun harus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas otaknya yang teramat sangat buruk itu. Hyori menarik nafas panjang, ia membulatkan tekad dan akhirnya kembali berusaha untuk memecahkan soal-soal itu.

“Baiklah—setelah ini, aku akan segera ke tempatmu” Siwon menyudahi pembicaraan yang berlangsung cukup lama.

Setelah menyimpan ponselnya, ia bergegas kembali ke dalam ruangan, dimana ia meninggalkan Hyori seorang diri. Langkah Siwon terhenti setelah beberapa langkah di dalam ruangan itu, matanya tertuju pada Hyori yang telah terlelap di atas meja belajar itu.

“Gadis ini~” Siwon terlihat kesal. Ia menghampiri Hyori dan berdecak melihat tingkah Hyori.

Siwon menarik kertas yang tertindih tangan Hyori. Ia cukup tertegun melihat ada coret-coret Hyori di sana, dibandingkan sebelumnya ketika Hyori justru menggambar pemandangan. Dari kelima soal yang diberikan Siwon, setidaknya ia menyelesaikan empat soal. Siwon kembali tertegun ketika tiga diantaranya diselesaikan Hyori dengan tepat.

Pemuda itu meletakan kertas yang dipegangnya di atas meja. Ia memandangi wajah Hyori yang tengah terlelap. Siwon memajukan wajahnya, melihat lebih seksama wajah Hyori. Ia mengarahkan telunjuknya ke dahi gadis itu. Menyentuh dahi Hyori dengan telunjuknya.

“Song Hyori, kau tak sebodoh dugaanku” katanya tenang.

Mereka dalam posisi itu cukup lama. Mata Siwon berkedip pelan memandangi wajah polos Hyori. Ia kembali berkedip pelan. Seperti tersadar dari lamunan panjangnya, Siwon tersentak. Ia menarik tangannya dan berdiri kasar. Akibatnya, kaki Siwon justru terantuk kasar pada pada kaki meja. Pemuda itu meringis kesakitan, membuat tubuhnya meringkuk. Disaat bersamaan tubuh Hyori bergerak, mungkin reaksi benturan di kaki meja. Ia mengangkat kepalanya—Siwon ikut menoleh. Tepat.

Bibir kedua orang itu saling bertemu.

Permainan jantung Siwon dibatas maksimal. Matanya membulat. Ia segera menjauhkan wajahnya yang telah memerah dari wajah Hyori. Dadanya terus berdegub kencang. Ia memandangi Hyori yang masih terdiam, sorot mata gadis itu tampak begitu sendu.

“Hyori..” Siwon tak tahu harus berkata apa.

Hyori hanya diam. Sorot matanya yang sendu kian menyendu. Matanya mulai terpejam, Hyori kembali membaringkan kepalanya di atas meja. Tertidur.

~.o0o.~

Murid-murid antusias melihat kertas ujian dibagikan. Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul cukup terkesima melihat kenaikan nilai ujian harian Hyori.

“Bagaimana? Aku bisa melakukannya, benarkan?” senyum Hyori.

“Good—kau cukup baik” puji Min Kyung.

“Kakek pasti akan senang mengetahui perkembanganmu” Hyena melega.

“Aku ikut senang” lanjut Bi Hyul. “Setidaknya, Siwon mengajarimu dengan sangat baik, Hyena”

“Tentu saja. Siwon, my man!” Hyori berkata dengan ekspresi familiarnya, ketiga gadis lainnya membuang nafas kasar. Hyori tiba-tiba terdiam “Aku rasa, aku sudah gila”

“Syukurlah jika kau menyadari itu” ledek Min Kyung.

“Kalian tahu cerita putri salju?”

“Aku tak begitu menyukai dongeng” Bi Hyul menanggapi pertanyaan Bi Hyul.

“Sama seperti putri salju yang hidup setelah diracuni oleh sang ratu—seperti aku yang mendapatkan nilai baik setelah selalu berada diurutan terakhir” Hyori mulai merangkai benang kusut dalam otaknya. Rasanya benang-benang itu akan tetap kusut.

“Apa hubungannya denganmu—kau bukan putri salju. Kau Song Hyena” gumam santai Min Kyung.

“Kekuatan ciuman cinta sejati” ucapan Hyori sukses membuat ketiga gadis di sisinya saling pandang—heran.

“Eonni, maksudmu—kau memperoleh nilai baik setelah mendapatkan sebuah ciuman?”

Hyori tersenyum.

“Siwon menciummu?” tanya Bi Hyul to the point.

“Antara Siwon yang sudah gila atau kau yang berhalusinasi hebat akibat tekanan pelajaran” tebak Min Kyung tanpa memperdulikan perasaan Hyori.

Hyori menggeleng pelan, ia tersenyum “Tidak. Aku merasakannya. Bibir Siwon yang hangat—terasa begitu lembut di sini” ia memegangi bibirnya.

Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul terpekik.

“Kalian benar-benar berciuman?” Hyena sedikit tak yakin.

“Bagaimana? Bagaimana itu terjadi?” Min Kyung sangat penasaran. Ia sulit mempercayai ucapan Hyori.

“Aku melihatnya—dalam mimpiku”

Ketiga gadis itu melemas setelah mendengar penuturan polos Hyori.

“Haish” Bi Hyul menjitak pelan kepala Hyori “Kau jangan mengada-ngada”

“Tapi tetap saja” Hyori mengerang kesakitan “Bermimpi dicium Siwon sudah membuat nilaiku meningkat—bagaimana jika Siwon benar-benar menciumku? Aku pasti akan mengalahkan Einstein” ia terkekeh.

Ketiga gadis itu menghadiahi Hyori dengan remasan kertas yang mendarat di tubuhnya. Di sudut lain, Siwon justru terbatuk-batuk. Pendengarannya cukup baik untuk menangkap percakapan mereka.

“Ada apa? Kau sakit?” Siwon menyingkirkan tangan Hyukjae dari dahinya “Wajahmu terlihat memerah” ujar Hyukjae.

“Aku, baik-baik saja” jawab Siwon.

Perhatian seisi kelas teralih melihat seorang guru memasuki kelas. Semua langsung hening karena kedatangan wali kelas mereka.

“Aku to the point saja” ujar sang guru “Musim panas ini, kelas kita akan mengadakan MT di sebuah daerah pegunungan” Sorak-sorai riuh menggelegar di dalam kelas ketika mendengar kabar baik itu. “Tenang, kalian tenang dulu. MT akan dilaksanakan selama tiga hari, jadi kalian harus membawa persiapan secukupnya. Jangan membawa benda-benda yang tak perlu”

Tatapan guru tertuju pada para gadis yang hanya tersenyum tersipu-sipu malu.

“Baiklah, silahkan lanjutkan pelajaran kalian” guru segera meninggalkan kelas.

Murid-murid tampak girang mengetahui musim panas mereka tak akan membosankan. Membership Training atau MT merupakan bagian khusus dari budaya Korea dimana teman sekolah atau karyawan kantor bersama-sama melakukan perjalanan akhir pekan ke tempat-tempat yang menarik dengan jarak yang bermil-mil jauhnya dari kota. MT bukan sekedar perjalanan bersenang-senang tapi melatih kekompakan mereka.

~.o0o.~

Gunung Seorak adalah puncak tertinggi dari Rangkaian Pegunungan Taebaek, terletak di propinsi Gangwon, sebelah timur Korea Selatan. Merupakan objek wisata yang ramai dikunjungi sepanjang tahun, tapi puncak kunjungan terjadi di musim gugur, ketika dedaunan berwarna-warni. Kecantikan Gunung Seorak di musim gugur dikagumi sebagai salah satu pemandangan musim gugur terindah di Korea. Dedaunan hutan yang merah dan kuning mewarnai batu-batuan dimana aliran mata air keluar. Meskipun begitu, kawasan gunung Seorak tetap ramai dipenuhi wisatawan pada musim panas seperti saat ini.

Seoraksan Tourist Hotel, sebuah hotel yang berada di kawasan pengunungan Seorak—wajah gunung Seorak yang dapat tertangkap mata dari kawasan hotel tampak sangat mengagumkan.

Rombongan murid kelas XII-1 Chongdam High School baru saja memasuki lobi hotel. Seharusnya pada musim panas, murid-murid sekolah di Korea dapat menikmati waktu libur mereka, pengecualian bagi mereka yang harus mengikuti kelas tambahan untuk memperbaiki nilai. Itulah sebabnya murid-murid kelas XII-1 Chongdam High School merasa jenuh harus mengikuti kelas musim panas. Pasalnya, mereka merasa nilai mereka cukup baik. Mungkin saja guru dengan sengaja mengadakan kelas musim panas tanpa pengecualian untuk mempersiapkan mereka menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Ketika diputuskan diadakan MT, sontak saja para murid berlonjak senang. Setidaknya musim panas mereka tak begitu membosankan.

“Aku heran, mengapa kita harus sekamar?” Min Kyung menatap gusar pada tiga gadis yang sedang membongkar koper masing-masing.

“Karena kita memesan kamar yang sangat luas,” kerling Bi Hyul.

Min Kyung mendesah. Memang, mereka memilih kamar berukuran luas, dengan dua tempat tidur besar yang cukup untuk menampung tubuh mungil mereka.

“Setidaknya—ada waktu-waktu tertentu aku tak ingin terlibat dengan kalian,” keluh Min Kyung sambil membuka koper, mengeluarkan beberapa perlengkapan yang dibawa olehnya.

“Kudengar, hotel ini memiliki pemandian air panas,” celetuk Hyena.

“Ah, sudah lama sekali aku tak menikmati pemandian air panas,” sambung Hyori. “Terakhir kali, ketika berlibur di Jepang, di sana kita mengunjungi sebuah Onsen—benarkan?” ia menatap Hyena, meminta pembenaran saudari kembarnya itu. Hyena mengangguk pelan.

“Liburan musim panas dengan mandi air panas,” ledek Bi Hyul.

“Kau tak bisa membedakan situasi? Sekalipun sekarang judulnya adalah musim panas—Kita berada di daerah pegunungan, kau tak merasakan udara dingin yang menusuk tulangmu?”

Bi Hyul mencibir, “Aku mengerti, tapi bisakah kau tak memelototiku seperti itu—ajumma?”

Kontan saja sebuah bantal melayang ke wajah Bi Hyul. Gadis itu memang tak pernah berhenti menggoda Min Kyung yang selalu temperamen.

“Tunggu dulu!” tiba-tiba lengkingan Hyori mengagetkan mereka. “Di kamar nomor berapa dia? Siwon, my man!!”

Mereka bertiga hanya menggeleng prihatin. Perubahan untuk seorang Song Hyori sepertinya hanyalah sebuah angan-angan yang tak akan kunjung jadi kenyataan.

“Kau berniat menyusup ke kamar Siwon?” Hanya menahan nafas. Min Kyung dan Bi Hyul hanya mencibir.

“Perjalanan hari ini sangat melelahkan, mungkin saja Siwon sedang membutuhkan pijatan,” Hyori berseloroh ringan, tak sadar jika ketiga gadis di sisinya hampir pingsan.

Bi Hyul yang paling dekat dengan Hyori segera menangkap pipi Hyori dengan kedua tangannya. “Song Hyori, apa kau sedang belajar menjadi seorang gisaeng? Kurasa kau memang lebih cocok hidup di jaman Joseon,” katanya sambil menarik-narik kedua belah pipi Hyori.

“Sakit!” Hyori menepis kasar tangan Bi Hyul. “Kau tahu, kekuatanmu seperti kekuatan badak,” air mata Hyori hampir keluar, ia mengusap-ngusap pipinya yang memang tampak memerah. Bi Hyul justru memamerkan sengiran tajam di wajahnya.

~~~

Mereka berempat terlihat keluar dari sebuah tempat. Dibandingkan sebelumnya, penampilan mereka kali ini tampak lebih fresh. Ya, mereka baru saja meninggalkan kolam-kolam pemandian air panas setelah sejam lamanya memanjakan tubuh di pemandian air panas.

Gurauan dan derai tawa yang keluar dari mulut mereka cukup menarik perhatian orang-orang yang berpapasan dari mereka. Dasar gadis-gadis yang saraf malu telah putus, mereka justru tak menghiraukan tatapan aneh orang-orang itu.

Tiba-tiba saja langkah kaki Min Kyung terhenti. Bi Hyul dan si kembar yang telah mendahuluinya beberapa langkahnya akhirnya ikut berhenti dan menoleh pada Min Kyung.

“Ada apa?” tanya Hyena.

“Kau pasti meninggalkan sesuatu di tempat tadi,” Bi Hyul mendesis kesal.

“Tidak!” alis Min Kyung berkerut, raut wajahnya mulai memucat. “Aneh. Kalian tak merasakannya?” Min Kyung memegangi belakang lehernya, ia merasakan tubuhnya meremang. “Oh tidak, Kang Min Kyung—kau pasti berhalusinasi. Lupakan itu! Tidak mungkin!” gadis itu berkomat-kamit, seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.

“Terlalu lama berendam sepertinya membuat tingkat kesadarannya menurun,” gumam Hyena.

Min Kyung tak menghiraukan gumaman Hyena yang justru sedang mempertanyakan kewarasannya. Gadis itu hanya terdiam dengan detak jantung yang mulai meningkat.

“Berpura-pura tak melihatku?”

Suara itu membuat nafas Min Kyung serasa tertahan di tenggorokannya. Pelan-pelan Min Kyung menolehkan kepalanya menengok sosok yang berdiri tak jauh di belakangnya.

“Tak merindukanku, noona?”

Min Kyung terpekik melihat cengiran tajam mengerikan dari wajah itu. Bi Hyul, Hyori dan Hyena ikut terkejut.

“BOCAH SETAN???” mereka berempat berpaduan suara ketika meneriakan kata yang sama.

“Cihh, kumpulan orang saraf,” celetuk anak yang tampak berdiri angkuh.

“Cho In Ha,” bibir Min Kyung bergetar. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengikutiku?”

“Apa? Mengikutimu?” In Ha mendelik, ia lalu tertawa mengejek. “Kau mengira aku benar-benar sudah gila?” tatapnya sinis.

“Lalu mengapa kau di sini?” Min Kyung memelototkan matanya.

“Liburan musim panas.”

“Aku tahu. Tapi dari sekian banyak tempat yang dapat kau datangi—mengapa kau berada di sini?” kesabaran Min Kyung mulai terkuras.

“Aku tak perlu mengatakan semua jadwalku padamu kan, noona?” In Ha menggeleng prihatin. “Lagi pula, aku bisa datang kapan saja ke sini,” desahnya sok dewasa. Ia lalu menatapi Min Kyung dan tiga gadis lainnya. “Noona, kau tak tahu? Hotel ini milik kami,” ia berkata datar, tak ada maksud untuk memamerkan apapun.

Damn,” Min Kyung menyapu kasar wajahnya.

“Ah, benarkah?” Bi Hyul terkejut.

“Min Kyung, itu artinya kita bisa melakukan apapun di sini,” Hyori tersenyum mekar.

“Lupakan!” desah Min Kyung, ia kembali memandangi In Ha. Mata Min Kyung sedikit menyisir sekeliling mereka. “Lalu, kau bersama orang itu?”

“Kau mengira aku siapa? Mengikuti kemanapun hyung pergi? Kau pikir aku tak punya kehidupan sendiri?” In Ha berdecak kesal.

“Syukurlah,” Min Kyung justru menarik nafas lega mengetahui bahwa tunangan tampannya tak berada di tempat itu.

“Kau ingin aku memanggil hyung?” In Ha tersenyum menggoda, sejurus kemudian raut wajahnya berubah datar. “Memangnya aku tunangannya? Kau panggil saja dia sendiri!” jawabnya tenang.

Min Kyung hampir saja melayangkan tendangan ke tubuh In Ha jika tidak segera diamankan oleh ketiga sahabatnya.

“Mendadak udara di sini seperti terkontaminasi oleh radiasi nuklir—ah, aku harus segera mencari udara segar,” In Ha bergumam santai, ia lalu meninggalkan Min Kyung yang masih dalam pengamanan Bi Hyul dan si kembar.

“Mengapa kau menahanku?” Min Kyung menatap garang pada ketiga sahabatnya. Ia baru berhasil membebaskan diri. “Anak nakal itu perlu diberi pelajaran.”

“Aku tahu niat baikmu tapi, aku sedikit mencemaskan keselamatan In Ha,” celetuk Hyena. Min Kyung menarik nafas panjang.

“Hei lihat rombongan itu?” tunjuk Hyori. Mereka mengawasi rombongan muda-mudi yang baru saja memasuki lobi. “Apakah mereka juga sedang mengadakan MT?” ia mencoba mengira-ngira.

“Nowon High School,” ujar Bi Hyul. Mereka mengamati beberapa orang dari mereka yang mengenakan jaket sekolah tersebut. “Apa yang mereka lakukan d sini?”

“MT?” tebak Hyori.

“Apapun yang mereka lakukan, tak ada urusannya dengan kita,” Min Kyung berseloroh ringan, ia berjalan meninggalkan ketiga sahabatnya yang masih memandangi kawanan siswa Nowon itu.

“Bertemu dengan In Ha membuat hormonnya makin memburuk,” celetuk Hyena, mereka memandangi punggung Min Kyung yang kian menjauh.

“Jika terus mengata-ngataiku, kalian cari kamar yang lain saja!” ujar Min Kyung, ia menambah volume suaranya agar sampai pada telinga ketiga gadis itu.

Mereka langsung saling pandang dan bergidik. Min Kyung seperti seorang paranormal, ia tahu apa yang mereka sedang lakukan saat itu. Cepat-cepat mereka menyusuli Min Kyung.

~.o0o.~

 

Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas, tempat yang terlihat seperti sebuah aula dengan panggung kecil di depannya. Lantai yang terbuat dari bahan kayu berkualitas tampak sangat mengkilat, semua murid duduk melantai tanpa khawatir jika celana ataupun rok yang mereka kenakan kotor. Min Kyung, Bi Hyul, Hyena dan Hyori termasuk dalam kumpulan murid-murid itu. Mereka sengaja dikumpulkan di tempat itu mengingat MT mereka akan diisi dengan beberapa kegiatan.

Siwon dan Hyukjae duduk tak jauh dari mereka. Entah apa yang sedang kedua pemuda itu bahas hingga harus membuat keduanya tak jarang tertawa lebar. Dan ketika Siwon menoleh ke satu arah, Hyori sedang memandangnya dengan tatapan berkaca-kaca dan ekspresi berlebihan. Siwon bergidik ngeri ketika Hyori melakukan gerakan cium jauh padanya.

“Memalukan!” Min Kyung menjitak kasar kepala Hyori. “Kau lihat, Siwon pasti semakin takut padamu,” desah Min Kyung.

“Mengapa dia setampan itu?” Hyori tak jemu-jemu mencurahkan perhatiannya pada Siwon yang sedang berusaha keras agar tak bertemu mata dengannya. “My Man~” katanya lagi dengan mendayu-dayu.

“Menikmati pemandangan Gunung Seorak sangat menyenangkan, Hyena kau bisa melakukannya dengan Hyukjae” cengir Bi Hyul tajam.

“Bi Hyul. Ucapanmu justru terdengar seperti kaulah yang sedang mengidam-idamkan menikmati pemandangan itu bersama Donghae Oppa” perkataan Hyena yang tenang, menusuk Bi Hyul sampai ke kedalaman hatinya.

Perhatian mereka teralih pada guru wali kelas dan seorang guru pendamping yang baru saja memasuki ruangan. Keadaan kian ricuh ketika tak lama berselang, segerombolan orang ikut memasuki ruangan.

“Siapa mereka?” selidik Min Kyung.

“Bukankah mereka murid-murid Nowon?” Bi Hyul menduga dan diangguk antusias oleh si kembar. “Apa yang mereka lakukan di sini?”

Tak ada yang mencoba untuk menjawab. Mereka hanya memperhatikan ketika murid-murid Nowon ikut melantai di ruangan yang sama. Tiga orang guru mereka bergabung dengan guru Chongdam yang telah berdiri di panggung.

“Kalian pasti kebingungan?” Guru Yoo, wali kelas XII-1 Chongdam High School memandangi murid-muridnya yang hanya saling melempar pandangan. “Sebenarnya ini tidak direncanakan sebelumnya, tapi mengingat Nowon juga sedang melakukan MT—jadi kami memutuskan untuk melakukan MT gabungan.”

“Ya, kami harap kalian bisa berbaur dengan baik,” ucap seorang guru dari sekolah Nowon. “Ini kesempatan yang cukup langka dan kami tidak akan menyia-nyiakan hal ini. Mempertemukan tiga sekolah dalam MT seperti ini sebetulnya cukup sulit.”

“Tiga?” Hyori menunjukan tiga jari sambil bertanya-tanya.

Pertanyaan mereka terjadi ketika ada rombongan lain yang memasuki kelas. Para murid-murid entah dari sekolah mana. Semua mata memandangi wajah-wajah yang baru masuk. Gadis-gadis semakin terkesima melihat murid sekolah tersebut didominasi oleh pemuda-pemuda tampan.

“Hyori, jangan khilaf!” Hyori menepuk kasar pipinya. “Siwon masih setia menunggumu,” katanya lagi.

Ketiga sahabatnya hanya memandang miris padanya. “Tidakkah kau kau menempatkan posisi Siwon terbalik?” desis Bi Hyul.

“Gadis tak tahu diri!” ledek Min Kyung. Hyena seperti biasanya hanya mengulum senyum dalam-dalam.

“Sepertinya aku mengenal mereka..” tanpa sadar Bi Hyul mengarahkan telunjuknya pada ketiga pemuda yang terakhir memasuki ruangan. “Kupikir, wajah mereka sangat tak asing,” ia berusaha untuk menggali ingatannya.

Mereka memang cukup familiar dengan wajah-wajah itu dan ketika mereka sedang berusaha untuk mencoba mengingat, seorang pemuda terlihat memasuki kelas dengan sangat santai sambil memainkan ponsel di tangannya. Ia seakan tak perduli kepada para gadis yang langsung tersihir melihat pesonanya.

“CHO KYUHYUN????” secara serempak si kembar, Bi Hyul dan Min Kyung meneriaki nama pemuda itu membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka, sebelum akhirnya kembali tertanam pada Kyuhyun yang lalu bergabung dengan ketiga sahabatnya yang telah terlebih dahulu duduk di suatu tempat. “Jadi, sekolah ketiga yang dimaksud itu—Annyang?” gumam Hyena.

Kebetulan yang aneh memang, sejumlah tiga kelas yang berasal dari tiga sekolah yang berbeda secara tak sengaja terkumpul di tempat itu dengan tujuan yang sama. Well, apapun bisa terjadi di dunia ini kan?

“Apa…apa-apan…” tiba-tiba saja seluruh tubuh Min Kyung gemetar. Ia ingin segera menghampir Kyuhyun namun ketiga gadis lainnya menahannya, mereka cemas sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Baiklah, tampaknya semua sudah berkumpul,” Guru Yoo terlihat sangat puas “Sepertinya untuk hari ini, kita belum masuk pada kegiatan yang telah disusun. Saat ini kalian hanya perlu berbaur dan menjalin keakraban,” Guru Yoo mengakhiri pidato singkatnya. Lalu bersama para guru mereka tampak bercakap-cakap.

“Siapa orang itu?” Siwon mengarahkan pandangannya pada Kyuhyun. Sejak tadi ia terus memperhatikan bahwa perhatian keempat gadis aneh di kelasnya terus tertuju pada murid Annyang tersebut.

“Cho Kyuhyun.”

“Kau mengenalnya?” Siwon begitu takjub ketika Hyukjae menjawab pertanyaannya tanpa berpikir. “Dia cukup terkenal. Selain calon pewaris Royal Group, kudengar dia tunangan Kang Min Kyung.”

“Begitu,” gumam Siwon. Wajahnya terlihat menenang.

“Ada apa? Sepertinya kau cemas karenanya?” selidik Hyukjae.

“Bukan urusanmu!”

Min Kyung berhasil terlepas dari pengawasan Bi Hyul dan si kembar. Ia langsung menghampiri Kyuhyun. Pemuda itu menatap tenang pada Min Kyung telah berdiri di dekatnya.

“Cho Kyuhyun!”

Min Kyung seperti telah dikelilingi oleh api di sekujur tubuhnya. Gadis itu benar-benar sangat bermasalah dengan hormonnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Dia sudah gila,” bisik Hyori pada Bi Hyul. “Bertanya seperti itu pada calon suaminya.”

Kyuhyun tetap terlihat tenang. “MT,” jawabnya santai.

“Gosh,” Min Kyung terlihat kesal. Baru beberapa jam berlalu ketika tekanan darahnya meningkat karena In Ha dan kini ia harus diperhadapkan pada seorang evil tingkat satu, sekalipun itu adalah tunangannya sendiri.

Kyuhyun memandangi Min Kyung yang terus menerus menarik nafas panjang. Tanpa diperkirakan Min Kyung ketika Kyuhyun menarik tangannya, membuat gadis itu terduduk tepat di hadapan Kyuhyun. Kyuhyun selalu membuat jantungnya berirama cepat, apa lagi ketika Kyuhyun memajukan wajahnya—memandang lekat bola mata Min Kyung.

“Kau sakit mata?” Pertanyaan Kyuhyun refleks membuat Min Kyung terkejut. “Kian hari matamu kian membesar, seperti mata kodok!”

“Kau!!” Min Kyung geram.

“Tentu saja, setiap hari dia terus memelototkan matanya,” Hyori mendesis dan ketiga gadis itu tersenyum. Senyum mereka hilang seketika saat Min Kyung menatap tajam pada mereka.

“Tak bisakah kau membiarkanku tenang?” tanya Min Kyung, ia mencoba menenangkan dirinya. “Bertemu denganmu dan In Ha selalu membuatku memburuk,” desahnya lemas.

“Lalu, aku harus bagaimana?” Kyuhyun tersenyum hangat. Detik selanjutnya Min Kyung telah membatu. Senyuman Kyuhyun benar-benar virus berbahaya. Gadis itu bahkan seketika melupakan kekesalannya hanya karena senyuman maut itu.

Min Kyung berdiri kasar. “Aku pergi!” katanya gugup. Ia lalu berjalan meninggalkan Kyuhyun. Ketika sahabatnya saling pandang heran dan bergegas menyusulinya.

Kyuhyun tersenyum dan senyuman itu kian melebar, ia bahkan tertawa memamerkan deretan gigi putihnya meskipun tak satupun suara yang keluar dari mulutnya. Ketiga sahabat Kyuhyun hanya menggeleng melihat cara Kyuhyun memperlakukan Min Kyung.

***

“Kang Min Kyung!”

Min Kyung tak sedikitpun menoleh pada Bi Hyul dan si kembar yang tergopoh-gopoh menyusulinya.

“Kau ini lari begitu saja,” desah Hyori yang kelelahan. “Kau tak cemas jika gadis-gadis itu merebut perhatian Kyuhyun?”

Langkah kaki Min Kyung terhenti, ia terlihat berpikir. Ada kecemasan di wajahnya. “Aku tak mungkin merantainya kan?” katanya lagi dan kembali melanjutkan langkahnya.

“Ck..ck..ck..” Bi Hyul berdecak. Mereka melangkah santai di sepanjang koridor hotel menuju kamar mereka. “Aku mengerti mengapa Min Kyung merasa kesal. Ada saat-saat tertentu, kita membutuhkan waktu tanpa harus memikirkan boys. Beruntung lelaki sinting itu tidak di sini,” Bi Hyul menarik nafas lega. Semua tahu siapa yang dimaksud olehnya.

“Honey!”

Langkah kaki keempat gadis itu terhenti.

“Honey?” gumam Hyena. “Sepertinya aku familiar dengan sapaan itu?”

“God. Kali ini saja, semoga itu hanya halusinasi,” mulut Bi Hyul komat-kamit, ia melipat kedua tangannya sambil menatap ke langit-langit.

“Oi, honey!”

Terulang lagi. Suara itu kembali terdengar. Mimik wajah Bi Hyul hampir menangis ketika yakin bahwa ia tidak berhalusinasi. Dengan efek slow motion ketiga gadis itu memutar kepala mereka, menengok ke belakang.

Lee Donghae sedang berdiri beberapa meter di belakang mereka. Ia memanggul ransel berukuran sedang, tak lupa sebuah topi yang selalu bertengger di kepalanya. Wajahnya menyeringai lebar.

“My honey!!!” ia melangkah cepat menghampiri kumpulan gadis yang mematung itu dan langsung menyambar Bi Hyul ke dalam pelukannya. Bi Hyul telah kehilangan tenaga hingga tak dapat melakukan apapun ketika Donghae memeluknya semakin erat bahkan ketika Donghae mendaratkan kecupan bertubi-tubi di dahi dan kedua belah pipinya.

“STOP!” Bi Hyul mencubit bibir seksi Donghae ketika pemuda itu hampir saja mendaratkan kecupan di bibirnya.

“Honey?” Donghae menatap tak percaya, mempertanyakan tingkah Bi Hyul “Kau sakit? Tak biasanya kau bertingkah seperti ini? Jangan cemas, satu kecupan akan menyembuhkanmu,” ia terlihat cemas namun tak memperdulikan wajah Bi Hyul yang telah memerah memendam amarah. “Kau marah?” Donghae menatap lekat-lekat wajah Bi Hyul.

Pemuda itu lalu menoleh pada Min Kyung, Hyori dan Hyena yang menatap mereka berdua dengan intens sambil menyeringai lebar dengan eskpresi yang cukup mengerikan, seolah menantikan pertunjukan maha dasyat ketika Donghae mencium bibir Bi Hyul.

“Ah, aku mengerti. Ciuman panas kita tidak seharusnya menjadi konsumsi publik,” ia melirik ketiga gadis yang melemas menyadari bahwa melihat langsung si tomboy Bi Hyul dicium adalah sesuatu yang mustahil.

“LEE DONGHAE!!” Bi Hyul menghardik kasar.

“Oppa, bagaimana kau bisa ke sini?” tanya Min Kyung.

“Kudengar dari Bi Hye jika kalian mengikuti MT dan itu artinya aku tak akan melihat si papan seluncur dalam beberapa hari,” jawab Donghae kejam sambil melirik pada Bi Hyul, ia selalu mengumpakan tubuh Bi Hyul seperti papan seluncur yang datar dan tak berlekuk—ledekan yang sangat ekstrim. Ia kembali memeluk Bi Hyul, “Honey, aku sangat merindukanmu.”

Bi Hyul mendorong kasar tubuh Donghae. “Dalam sehari berkali-kali melihatku apa itu tak cukup?” Bi Hyul mendelik, Donghae memperlakukannya seperti mereka telah terpisah selama sepuluh tahun. “Menyingkir dariku!”

“Gadis ini sungguh kejam,” desah Donghae. “Sudahlah, aku lega kau baik-baik saja. Ah, perut six pack mu belum berubah menjadi eight pack, kan? Atau jangan-jangan kau telah memiliki ten pack? Coba kuperiksa!”

Bi Hyul melayangkan tendangan keras ke kaki Donghae membuat pemuda itu meringis. “Dasar lelaki tua gila!”

“Umur kita hanya terpaut setahun,” Donghae menggerutu. “Oke. Sebaiknya aku menyingkir. Bi Hyul, jika kau tak ingin bergabung dengan tiga kembar siam ini—kau bisa sekamar denganku,” kerlingnya.

“Pergi kau!”

Donghae hanya tertawa puas melihat Bi Hyul yang telah memerah seperti kepiting rebus. Ia berlalu dari hadapan mereka, suara tawanya masih terdengar. Tingkahnya yang jahil selalu membuat Bi Hyul emosi, dan Donghae menyukai itu.

~.o0o.~

Hari kedua MT.

“Baiklah, kegiatan kita dimulai pada hari ini,” seorang guru setelah semua murid dari ketiga sekolah berkumpul. “Beberapa perlombaan akan mengisi kegiatan MT kita dan di hari ini akan dilangsung perlombaan mencari miss school.”

Ucapan sang guru disambut riuh tepuk tangan semua murid, para gadis sudah terlihat antusias dan penuh keyakinan diri untuk maju sebagai peserta lomba.

“Tunggu dulu! Perlombaan ini hanya diperuntukan bagi murid lelaki,” semua murid saling pandang tak mengerti. “Miss school yang dimaksud adalah murid laki-laki yang harus berdandan layaknya seorang wanita. Masing-masing harus mengirimkan kandidatnya.”

Kericuhan semakin terjadi, para gadis melemas namun tak sedikit yang bersorak gembira membayangkan kelucuan di depan mata.

“Kalian boleh membantu peserta untuk melakukan make over,” guru itu tersenyum lebar.

Murid-murid mulai berkumpul dengan kelompok mereka. Hyori dan teman-teman sekelasnya telah berkumpul. Mereka terlibat pembicaraan serius dalam penentuan siapa murid yang akan diikutsertakan dalam perlombaan itu.

“Aku rasa Ji Hoo lebih cocok berpakaian wanita.”

“Are you kidding me?” murid bernama Ji Hoo mendelik, “Pacarku bisa memutuskanku jika melihatku berdandan seperti itu,” keluhnya.

“Aku tak mau!” tolak seorang siswa mentah-mentah ketika semua mata tertuju padanya, ia memang memiliki wajah yang cukup tampan.

“Kita harus segera mengirimkan seseorang jika tak ingin kalah,” ujar Siwon selaku ketua kelas.

“Siwon, kurasa kau sangat cocok dengan kostum itu,” Lee Kang Joo menyeringai hebat. Hyukjae mengangguk antusias.

“Tidak boleh!” Siwon baru saja hendak berkata-kata ketika Hyori berteriak kasar, “Tidak kuijinkan kalian menodai keperkasaan Siwon, my man!” ia mendelik. Semua murid menarik nafas sesak.

“Kau tak perlu mengatakan hal-hal seperti itu,” ujar Siwon dengan ekspresi aneh. Ia lalu memandangi semua murid dengan tatapan dinginnya dan mereka segera tertunduk, “Kalian ingin aku melakukannya?” tanyanya. Mereka menggeleng bersama-sama.

“Bagaimana denganku?” Hyukjae menawarkan diri dengan suka cita.

“No no no.. kau justru akan terlihat seperti tiang listrik rusak di atas podium, sudah pasti kita kalah,” ledek Min Kyung sadis.

“Heiisshhh!!” Bi Hyul yang sedari tadi bungkam menjadi emosi karena perdebatan yang tak kunjung usai itu. “Jadi siapa yang kalian pilih?” tanyanya marah.

Semua orang terdiam memandanginya.

“Apa?” tanya Bi Hyul setelah sekian menit berlalu dan mereka tak mengalihkan tatapan darinya. Perasaannya tiba-tiba menjadi tak enak.

“Tepat!”

“Akhirnya!”

Mereka menyeringai hebat.

“Hei, hei!!” Bi Hyul langsung merinding, “Aku tak akan melakukan itu,” ia tahu apa maksud mereka. “Ingat, hanya murid laki-laki yang boleh mengikutinya. Kalian tak mungkin ikut melupakan genderku kan?”

“Ya, kami tak lupa siapa kau,” senyum Hyori “Tapi mereka tak tahu siapa kau,” mereka yakin jika murid Anyang dan Nowon tak akan mengira jika Bi Hyul adalah seorang gadis.

“Kalian tak boleh bermain curang seperti itu!” cegah Bi Hyul.

“Ini bukan curang tapi seni dalam bertarung,” ujar seorang murid.

“Aku tak mau!” tegas Bi Hyul.

“Hyun Bi Hyul! kau hanya perlu berpakaian wanita dan berdiri di podium—lagi pula apa susah? Kau ini seorang wanita, jangan menyangkali itu!” seperti biasanya, satu-satunya yang paling cepat tersulut emosinya adalah Min Kyung.

“Kau lupa? Tunanganmu itu pasti tahu jika aku ini adalah seorang gadis,” Bi Hyul terus mencari-cari alasan.

“Dia bukan tipe yang sangat perduli dengan lomba-lomba seperti ini,” jawab Min Kyung yang mengenal dengan baik sifat Kyuhyun yang malas tahu.

“Aku tak akan melakukan itu! jika kalian memaksaku, sebaiknya bunuh aku sekarang juga!” ancam Bi Hyul. Semua menatapnya dengan tatapan mengerikan membuatnya merasa terpojok.

Satu jam kemudian.

“Oke, tiga kontestan telah siap di belakang panggung,” ucapan Guru Yoo disambut tepuk tangan riuh. “Are you ready?”

“YAAAA!!!” teriak murid-murid bersamaan.

“Kontestan pertama, miss school from Nowon High School!”

Seseorang keluar dari balik panggung. Detik selanjutnya gelak tawa riuh membahana ketika murid itu terlihat lebih jelas. Seseorang dengan tubuh tinggi gempal mengenakan wig pirang, gaun berwarna pink membuatnya tampak lucu—apalagi ketika ia meliuk-liuk di atas panggung dengan gerakan yang serba cool justru mengundang tawa. Semua tetap memberikan tepuk tangan ketika murid yang justru terlihat seperti pelawak itu membungkuk memberi hormat, masih dengan gayanya yang lucu.

“Aku seperti melihat Rambo dalam balutan pakaian wanita,” Guru Yoo tak bisa menyembunyikan seringaiannya, “Peserta kedua, yeah—sepertinya dari sekolah kami.”

Semua murid Chongdam bertepuk tangan riuh dan saling bersiul menanti kontestan perwakilan mereka menampakan diri.

“Kurasa, dia masih malu-malu,” Guru Yoo tertawa karena hingga sekian menit tak satupun yang terlihat di panggung. Semua murid bertepuk tangan dan mereka terus meminta sang kontestan untuk memperlihatkan diri.

Tak lama kemudian, seseorang tampak keluar dari balik panggung dengan langkah pelan. Ia melangkah pelan ke tengah panggung tampak berusaha menyesuaikan dengan sepatu yang dipakainya, kepalanya terus tertunduk. Ia terlihat sangat canggung sehingga membuatnya tak lagi bergerak. Murid-murid Chongdam menyengir hebat, mereka berhasil membuat si tomboy Bi Hyul mengenakan pakaian yang seharusnya ia kenakan.

Perlahan-lahan gadis itu mengangkat kepalanya, teman-teman sekelasnya yang tadinya berhura-hura riang langsung bungkam memandangi Min Kyung. Gaun pendek dan high heels, juga wig hitam panjang serta riasan yang minimalis di wajahnya membuat parasnya terlihat cantik dan lembut.

Tak hanya siswa Chongdam, siswa dari dua sekolah lain cukup terkesima melihat Bi Hyul—mereka hanya mengira jika lelaki itu bisa menjadi begitu cantik tanpa mengetahui jika Bi Hyul adalah seorang gadis. Sementara di sudut ruangan, Donghae nyaris tak bergerak. Kedua matanya bahkan lupa berkedip melihat Bi Hyul yang untuk sesaat berpenampilan layaknya seorang wanita.

Tak menunggu lama, Bi Hyul segera melepas sepatu yang dipakainya dan berlari keluar panggung. Ia merasa sangat malu.

“Bakat terpendam.. aku harus bertanya pada murid-muridku siapa gadis cantik itu,” goda Guru Yoo mengundang gelak tawa. Murid-murid Chongdam hanya saling pandang lalu meringkik pelan, wali kelas mereka tak tahu jika mereka telah berbuat curang. “Baiklah, kita sambut peserta miss school terakhir!”

Tepuk tangan kembali terdengar dan dari balik panggung sebuah wajah memandang malu, ia lalu bergerak pelan persis seperti gerak gerik Bi Hyul yang salah tingkah. Untuk kesekian kalinya semua murid kembali tercengang. Murid itu tampak sangat cantik.

Bi Hyul yang menyaksikan itu merasa hatinya sangat tertohok, pria itu bahkan jauh lebih cantik darinya tadi yang notabenenya adalah seorang perempuan tulen. Dia hanya berdecak pelan sebelum keluar dari ruangan itu.

“Oh My God, apakah mereka juga mengirim seorang murid perempuan?” decak Hyena. “Bagaimana dia bisa secantik itu?”

Belakangan baru diketahui kalau murid cantik itu adalah salah seorang dari ketiga sahabat Kyuhyun, dia adalah Kim Myung Soo. Sudah dipastikan bahwa gelar miss school jatuh kepada Anyang High School.

“Honey.”

Bi Hyul menoleh dan saat itu juga Donghae telah membidiknya dengan kamera ponselnya.

“Lee Donghae, apa yang kau lakukan?”

“Mengabadikan pemandangan langka,” jawab Donghae, tersenyum puas. Ia melangkah mendekati Bi Hyul. “Baiklah, mulai sekarang kau harus berpenampilan seperti ini.”

“Kau gila!”

Donghae tertawa lalu merangkul leher Bi Hyul, “Aku tahu. Aku tetap menyukaimu sekalipun kau berpenampilan sama denganku bahkan saat kau terlihat lebih tampan dariku. Aku masih menyukai saat-saat mereka mengira kita adalah pasangan gay,” goda Donghae. Bi Hyul hanya mendesah kasar.

~.o0o.~

Hari kedua MT. Murid-murid sedang menikmati sarapan mereka. Duduk dengan kelompok masing-masing, memenuhi meja-meja bulat yang dikelilingi empat buah kursi.

“Hyung, kau di sini?” Siwon memandangi Donghae yang bergabung dengannya dan juga Hyukjae.

“Bagaimana kehidupan universitasmu, menyenangkan?” tanya Hyukjae.

“Aku harus menjawab yang mana dulu?” Donghae balik bertanya. Ia lalu memamerkan senyumnya membuat kedua juniornya itu hanya berdecak.

“Boleh aku bergabung dengan kalian?”

Ketiga pemuda itu menatapi Kyuhyun yang bahkan telah terlebih dahulu memenuhi kursi satu-satunya yang tersisa tanpa menunggu persetujuan mereka.

“Kau benar-benar tunangan Min Kyung?” Siwon masih tak percaya dengan perkataan Hyukjae beberapa waktu lalu. Kyuhyun hanya tersenyum tipis.

“What?” Donghae terkejut. “Kau bertunangan dengan siapa? Kang Min Kyung? Gadis pemarah itu?” ia mendelik dasyat. Senyuman Kyuhyun kian mengembang, tingkah Donghae yang berlebihan memang terlihat lucu.

“Ya ampun!” Hyori berdecak. Matanya terfokus pada keempat pemuda yang duduk tak jauh dari meja mereka, “Lihat, mereka sangat akrab dan mempesona—suami-suami kita.”

Min Kyung, Bi Hyul dan Hyena memamerkan muka masam. Perut mereka terkocok dan rasanya makanan yang baru ditelan akan keluar. Bukan karena mereka menyangkali perkataan Hyori tentang pemuda-pemuda itu tapi perkataan seperti itu begitu keluar dari mulut Hyori justru lebih terdengar seperti jenis penistaan berat terhadap keempat pemuda itu, ditambah lagi Hyori menggunakan embel-embel suami kita.

Donghae, Siwon, Kyuhyun dan Hyukjae masih terlibat dalam sebuah percakapan dan mereka tampak akrab seperti orang-orang yang telah saling mengenal sejak lama.

“Gadis-gadis Chongdam memang sangat menarik.”

Kalimat itu sukses membuat keempat pemuda itu terdiam begitu mendengar pembicaraan beberapa murid yang duduk di meja yang tak jauh dari meja mereka. Tampaknya murid-murid itu berasal dari Nowon High School.

“Gadis pendiam itu, kulihat dia satu-satunya yang tak banyak bicara. Bukankah dia sangat menarik?”

Begitu menyadari bahwa gadis yang dimaksud adalah Hyena, secara spontan Hyukjae memamerkan wajah masamnya.

“Aku lebih menyukai gadis berambut ikal itu. Dia tampak sangat ceria!”

Siwon tak jadi menelan makanannya saat mengetahui yang dikatakan sebagai gadis ceria itu adalah Hyori.

“Heish,, bagaimana dengan gadis berambut lurus panjang itu. Raut wajahnya menunjukan bahwa dia tipe gadis yang smart”

Berbeda dengan Hyukjae dan Siwon, Kyuhyun justru meneguk tehnya dengan santai. Ia terlihat tak perduli jika tunangannya sedang menjadi incaran pemuda lain.

“Mereka begitu akrab dengan pemuda itu, mendadak aku iri padanya.”

Tawa Donghae langsung meledak. Ia yakin tak ada satupun yang mengira jika Hyun Bi Hyul adalah seorang gadis.

***

Keempat pemuda Nowon terlihat melangkah santai di luar bangunan hotel, mereka tampaknya masih membicarakan tiga gadis Chongdam yang tak mereka ketahui termasuk dalam kumpulan teraneh, dan mungkin mereka telah menyusun strategi untuk mendekati Min Kyung dan si kembar.

“Hei!” langkah mereka terhenti. Mereka menoleh dan mendapati Hyukjae yang sedang berjalan mendekati mereka. Hyukjae memamerkan wajah tak sedapnya, terlebih pada pemuda yang menaruh ketertarikan pada Hyena. Ia menatap tajam dari ujung kaki hingga ujung kepala dan detik selanjutnya pemuda itu terdecak sambil berlalu.

Kepergiannya hanya disambut dengan tatapan heran keempat pemuda itu, mereka sama sekali tak mengerti dengan perilaku Hyukjae. Mereka lalu melanjutkan langkah kaki dan tentu saja percakapan yang terhenti. Untuk kedua kalinya langkah kaki mereka terhenti. Siwon telah berdiri di hadapan mereka. Ia memandangi pemuda-pemuda itu satu per satu.

“Namanya Song Hyori. Sangat ceroboh dan sangat menyebalkan. Gadis terbodoh dan mungkin teridiot yang pernah aku temui dan karenanya aku harus mengalami pencemaran nama baik juga peningkatan tekanan darah. Gadis itu seperti teror bagiku. Jika kau bisa mengambilnya dan menyingkirkannya dariku…” Siwon menarik jeda dari kalimat panjangnya, ia menatap pemuda yang menaruh hati pada Hyori, “Maka lakukanlah!” lanjutnya tegas, namun sorot matanya yang tajam dan sangat dingin membuat mereka takut. Kalimat perintah terakhir bagi mereka justru terdengar dalam arti sebaliknya.

“Apa?” Keempat pemuda itu kembali saling pandang sepeninggal Siwon begitu saja. Mereka sama-sama menggeleng, mencoba mencerna situasi aneh itu.

Mereka melanjutkan perjalanan yang tertundu dan berpapasan dengan Donghae yang memainkan sebuah gantungan kunci yang di pegangnya dengan lincah. Donghae melangkah santai sambil bersiul-siul pelan.

Langkah Donghae terhenti ketika mereka telah saling melewati. Ia menoleh ke belakang “Ah, permisi,” ujarnya membuat keempat pemuda itu menoleh padanya.

“Ya?”

“Adakah seseorang diantara kalian yang mempunyai selera yang berbeda? Uhm, maksudku—gay?” Pertanyaan Donghae yang blak-blakan membuat mereka terperanjat. Pertanyaan yang sangat tak lazim. “Sepertinya tak ada. Syukurlah,” Donghae tersenyum mekar dan ia kembali melanjutkan perjalanannya sambil tertawa lebar.

“Sebenarnya, ada apa dengan hari ini?”

“Mengapa kita terus bertemu orang-orang aneh?”

Mereka hanya menggeleng. Bertemu dengan Hyukjae, Siwon dan Donghae yang bertingkah aneh membuat mereka kebingungan—sepertinya pikiran mereka belum terhubung dengan perkataan mereka beberapa waktu ketika sedang sarapan.

“Oii!!”

Mereka kembali menarik nafas lesuh ketika mendengar sapaan itu. Kyuhyun sedang berjalan di belakang mereka. Pemuda-pemuda itu membalikan tubuh mereka.

“Ada apa lagi ini?” tanya salah satu diantara murid Nowon tersebut.

“Tunggu,” Kyuhyun memangku tangan santai dan menelusuri wajah keempat pemuda yang terlihat kesal. “Ah, benar. Kau orangnya!” ia menatap seorang diantara mereka, pemuda manis berambut coklat itu balik menatap heran pada Kyuhyun.

“Kau mengenalku?”

“Tidak,” Kyuhyun menjawab dengan sangat cepat. “Kau menyukai tipe gadis smart, benar?”

Meski tak mengerti, pemuda itu mengangguk. “Bagaimana kau tahu?”

“Kebetulan aku mendengarmu membicarakan gadis Chongdam itu,” jawab Kyuhyun.

“Kami mengalami hari-hari aneh sepertinya karena gadis-gadis Chongdam itu,” seseorang mulai mengerti apa yang sedang terjadi, “Siapa kau? Kau mengenali salah satu dari gadis-gadis itu?”

Kyuhyun berdecak. “Cih, mereka bergerak sangat cepat,” katanya memikirkan tiga pemuda yang telah mendahuluinya. “Tentu aku mengenal salah satu dari keempat gadis itu.”

“Oke. Aku tak akan mendekatinya!”

“Mengapa?” tanya Kyuhyun santai. “Pemuda-pemuda itu mengancam kalian?” ia kembali bertanya dan mereka terdiam. “Jangan cemas, aku tak sekejam mereka.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tak akan melarang kalian mendekatinya,” jawab Kyuhyun tenang.

“Kau serius?” pemuda itu terlihat senang.

Kyuhyun mengangguk. “Kang Min Kyung. Umur tujuh belas tahun. Murid kelas XII-1 Chondam High School. Sangat pintar. Seorang anak tunggal. Sangat menyukai kucing.” Kyuhyun menjelaskan secara detail tentang Min Kyung.

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” mereka terlihat menaruh curiga besar pada Kyuhyun.

“Karena aku sangat mengenalnya—sejak kecil,” ucapan Kyuhyun disambut dengan anggukan paham mereka. “Meskipun begitu, dia gadis yang sangat susah didekati. Kalian tak akan mudah untuk menarik perhatiannya. Tapi, ada satu hal yang bisa membuatnya menanggapimu…”

“Benarkah?” pemuda itu bertanya dengan polos. Kyuhyun tersenyum.

***

Di hari yang sama. Hyori, Hyena, Bi Hyul dan Min Kyung tampak sangat riang, mereka tak tanggung-tanggung untuk tertawa lepas ketika topik yang menjadi pembahasan mereka cukup mengundang tawa. Keempat gadis itu baru saja tiba di kolam-kolam pemandian air panas yang mulai ramai. Pria, wanita, tua, muda maupun anak-anak tersebar di beberapa kolam dengan diameter yang cukup luas. Kepulan-kepulan asap terlihat di permukaan air. Pemandian air panas yang terletak di alam terbuka dengan dilatarbelakangi oleh pemandangan menakjubkan Gunung Seorak—membuat siapapun sangat menikmati sesi mandi air panas mereka.

“Sstt.. lihat,” ujar Bi Hyul.

Tatapan mereka tertuju pada empat orang pemuda yang terlihat sumringah menatapi mereka.

“Apa mereka gila?” selidik Bi Hyul lagi.

“Abaikan saja,” ujar Min Kyung.

Mereka terus melangkah hingga mendekati tempat pemuda-pemuda itu berada. Ya, keempat pemuda Nowon High School.

“Nona,” panggil salah seorang.

Min Kyung, Bi Hyul dan si kembar menatap sekilas. Seakan tak perduli ketika keempat gadis itu melenggang pergi.

“Nona Kang Min Kyung.”

Langkah Min Kyung terhenti. Ia menoleh pada mereka dengan penuh tanya.

“Min Kyung, sepertinya dia menyukaimu,” ujar Hyori. “Dia bahkan mengetahui namamu. Dari mana dia tahu itu?”

“Entahlah,” jawab Min Kyung santai.

“Jika Kyuhyun tahu, tamatlah riwayatmu,” kecam Bi Hyul. Mereka tak tahu jika pemuda-pemuda itu mengetahui Min Kyung justru dari tunangan gadis itu.

“Aku tak perduli,” jawab Min Kyung sambil melenggang santai. Ketiga gadis itu kembali mengikutinya.

“Gadis itu memang terlihat sangat keras dan susah didekati,” ujar salah satu dari keempat pemuda. Dia dan kedua temannya terus menyemangati pemuda yang menyukai Min Kyung.

“Baiklah,” ujar pemuda itu. Ia menarik nafas dalam-dalam dan… “Ajumma…”

Min Kyung yang tertawa lebar bersama ketiga sahabatnya langsung bungkam. Kakinya terhenti.

“Wah, orang itu benar—dia bereaksi..” mereka terlihat girang tanpa tahu bahaya yang mengancam.

“Hallo, Ajumma..” pemuda itu kembali mengulangi kata keramat itu.

Pelan-pelan Min Kyung memutar kepalanya, mengarahkan pandangan mengerikan yang langsung menancap jantung keempat orang itu. Hyori, Hyena dan Bi Hyul telah mendelik terlebih dahulu dengan mimik cemas.

Lima menit kemudian kekacauan besar telah terjadi. Semua menatap heran ke suatu tempat. Sementara Min Kyung telah diamankan dan diseret pergi oleh Bi Hyul dan si kembar.

“Ada apa dengannya?” Myung Soo bertanya. Ia dan Kyuhyun juga kedua sahabatnya yang lain sedang melintas ketika melihat orang-orang sedang berusaha menyelamatkan seorang pemuda yang telah mengambang di permukaan kolam air panas.

“Berhati-hatilah pada wanita,” ujar Kyuhyun.

“Apa maksudmu?”

“Tidak,” jawab Kyuhyun kemudian. Ia tersenyum lebar dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.

Ah, Kyu membuat seseorang hampir kehilangan nyawa karena memanfaatkan kekuatan tersembunyi paling mengerikan milik tunangannya, Kang Min Kyung. Mengatakan ‘ajumma’ pada Min Kyung sama saja dengan mencoba memperpendek umur. Min Kyung sangat ANTI dengan kata AJUMMA dan Kyuhyun TAHU itu. Tentu saja Kyuhyun tahu, karena dialah penyebab Min Kyung bereaksi mengerikan terhadap sapaan ajumma itu.

~.o0o.~

Semua murid berkumpul dengan kelompok masing-masing. Mereka terlihat serius membicarakan sesuatu. Perlombaan di hari ini membuat mereka kembali berpikir keras.

“Kali ini kita tidak boleh kalah!”

“Bayangkan, ditiap perlombaan kita tak pernah keluar sebagai juara,” Hyori terlihat sangat rusuh.

“Mereka terus mengolok-olok kita,” Lee Kang Joo meremas jemarinya. “Kali ini Chongdam harus menang!”

“Baiklah, siapa lagi yang rela didandani? Aku tak ingin menjadi bahan permainan kalian!” ujar Bi Hyul yang trauma karena perlombaan kemarin.

Semua terdiam dan berpikir keras.

“Hyena?” usul seseorang. Hyena yang sedari tadi hanya diam akhirnya tertegun.

“TIDAAAAKK!!!” teriak murid-murid lain menolak usul Ji Hoo.

“Apa?” Hyukjae bereaksi, “HOW DARE YOU? SHE’S MY GIRL. NO, YOU CAN’T!”

“Ayolah, kalian ingin kita terus dipermalukan?” Ji Hoo memanas-manasi.

“Aku lebih memilih dipermalukan.”

“Chongdam tak bisa diandalkan?” pancing Ji Hoo, semua menunduk lemas. “Tenang, kita bisa mengatasi itu.”

“Bagaimana?”

“Itu mudah saja,” kerling Ji Hoo. “Saat ini kalian hanya perlu menyetujui usulku. Oke?”

“Baiklah,”

“Hyena, kau tak keberatan?” Ji Hoo memandangi Hyena.

Hyena terdiam. Ia berpikir lalu menjawab, “Aku rasa tidak masalah, demi sekolah kitakan?”

“Hyena,” Hyukjae terlihat cemas.

“Aku bisa mengatasinya,” Hyena tersenyum tipis mencoba meyakinkan Hyukjae bahwa tak ada satupun yang salah. Hyukjae hanya memandangi Hyena, tak yakin dengan semua ucapan gadisnya itu.

Sejam kemudian.

Kyuhyun baru saja hendak memasuki ruangan tempat berkumpulnya semua siswa ketika Min Kyung menarik tangannya dan membawa pemuda itu menjauh. Meskipun kebingungan, Kyuhyun tak mencoba untuk melawan.

Kening Kyuhyun mengernyit ketika melewati sebuah kapel, ia menoleh pada Min Kyung. “Bukankah itu teman-temanmu?” ia tampak kebingungan melihat semua murid Chongdam sedang berdoa dengan sangat khusuk, bahkan ada yang sampai menitikkan air mata.

“Ya,” jawab Min Kyung.

“Kalian punya schedule sendiri? Ibadah? Lalu bagaimana dengan lomba itu? kurasa Anyang dan Nowon masih berkumpul,” selidik Kyuhyun.

“Mengapa kau banyak bertanya?” Min Kyung tampak sangat sebal. “Sudah, ikut saja jika kau ingin selamat!”

Kyuhyun kembali dibuat kebingungan, “Apa lagi? Kalian berhasil meramal kapan kiamat tiba?” goda Kyuhyun. Min Kyung tak terlihat ingin bercanda. “Ah, jadi kemana kita?”

“Temani aku jalan-jalan.”

“Kau hanya beralasan, benar?”

“Apa maksudmu?”

“Baiklah, kita kencan!” Kyuhyun tersenyum.

“Sinting. Sudah kubilang, aku hanya ingin menyelamatkan pertumbuhan otakmu!”

Kyuhyun menarik nafas, ia berhenti tepat di hadapan Min Kyung, “Oke, kau boleh menyelamatkanku,” senyumnya mengembang membuat Min Kyung gugup.

Sementara itu di ruangan tempat semua murid berkumpul…

“Aneh, kemana semua murid Chongdam?” selidik seorang guru, “Bahkan guru mereka tak terlihat di sini?”

“Apa mereka tak berniat mengikuti lomba ini?” guru lainnya ikut bertanya-tanya.

“Kurasa mereka menyerah karena terus menerus kalah,” ia tersenyum. “Baiklah, dengarkan aku baik-baik!” ia mengeraskan suaranya agar sampai di telinga semua yang berada di dalam ruangan. “Kalian siap dengan tantangan ini?”

“SIAAAAPPP!!” semua murid berteriak penuh semangat. Terlihat beberapa gadis memasang wajah cemas.

“Meskipun halloween masih jauh, tapi tema kita hari ini adalah horror!” Tepuk tangan kembali membahana di dalam ruangan. “Woah, suasana tiba-tiba mencekam. Baiklah, karena menimbang-nimbang keadaan psikis para gadis.. sebaiknya semua peserta kita undang bersama-sama untuk memasuki podium,”

Sorak-sorai dan tepuk tangan kembali membahana memenuhi isi ruangan tersebut. Beberapa saat kemudian bermunculan para murid yang berpenampilan sesuai dengan tema , horror. Mereka bergaya layaknya hal-hal yang berbau menyeramkan. Murid-murid bertepuk tangan meskipun ada beberapa dari mereka yang terlihat ketakutan.

“Jika aku tak tahu mereka murid-murid, mungkin aku sudah berlari kencang,” guru itu berkata dan disambut dengan derai tawa.

Namun tawa itu mendadak berhenti seperti sebuah perintah. Semua orang yang berada di ruangan itu merasa roh mereka tercabut dengan kejam dan tak merasakan pijakan kaki ketika melihat sosok yang berdiri di ujung panggung. Seorang gadis dengan gaun putih selutut, rambut panjang yang tergerai dan poni yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Aura di sekelilingnya sangat menyeramkan hingga membuat lidah semua orang kelu.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Keadaan yang sunyi senyap mendadak kacau balau karena teriakan semua orang. Mereka lari pontang-panting meninggalkan tempat itu setelah berhasil mengumpulkan kekuatan. Beberapa orang yang pingsan hanya diseret begitu saja oleh teman-teman mereka.

Dalam beberapa detik ruangan tersebut telah senyap, tinggallah sang gadis menyeramkan yang masih mematung. Song Hyena, yang sebenarnya hanya berniat menjadi peserta lomba tapi disalahpahami sebagai arwah penasaran. Ya, mereka memang tak tahu masa lalu kelam Hyena—jika bukan karena seorang murid pindahan bernama Lee Hyukjae, mungkin Hyena masih bertahan pada penampilan menyeramkan yang membuatnya lebih mirip arwah daripada manusia. Tampaknya, bakat dan aura menyeramkan masih melekat dengan sangat baik pada Hyena.

“Apa yang terjadi?” ia bertanya polos, seakan tak sadar jika penampilannya benar-benar telah merusak mental semua orang. “Chongdam kalah lagi?” bisiknya masih tak sadar diri, ia lalu melangkah gontai meninggalkan ruangan tersebut.

Gadis itu melangkah menyusuri koridor, keberadaannya disambut dengan pekik para tamu hotel yang kebetulan melihatnya.

“Ehm, dimana mereka semua?” Hyena sedang mencari-cari keberadaan kelompok Chongdam. Ia tak perduli jika beberapa orang bahkan tak sadarkan diri setelah melihat wujudnya. Ia tak ada bedanya dengan arwah penasaran penunggu hotel.

Sementara itu, In Ha sedang bersiap-siap di dalam kamar tidurnya. Ia telah menyiapkan sebuah topeng monster yang sangat menyeramkan. Senyum di wajahnya tak surut.

“Ajumma, tunggu dan rasakan pembalasanku!” ia masih menyimpan dendam pada Min Kyung dan berniat menakuti calon kakak iparnya itu. Dengan pasti ia membuka pintu, “Waktunya menjalankan misi rahasia Cho In…”

Perkataan In Ha tertahan ketika melihat ‘arwah’ menyeramkan yang berdiri tepat di depan pintunya.

“Kau tahu di mana Min Kyung dan lainnya?”

GUBRAGH!

In Ha pingsan di tempat.

“Cih, dasar anak aneh.. bukankah lebih nyaman tidur di dalam kamar?” batin Hyena berkecamuk. Gadis polos itu masih tak sadarkan diri jika semua yang berjatuhan karena penampilan mengerikannya. “Oh Tuhan, aku harus bekerja keras mencari mereka semua,” ia tertunduk dan kembali melanjutkan langkah kakinya. Melanjutkan teror di hotel.

***

Siwon menarik tangan Hyukjae, “Mau kemana?” tanyanya ketika Hyukjae hendak meninggalkan kapel.

“Kau dengar teriakan di luar sana?”

Siwon tampaknya paham jika Hyena telah menimbulkan horror besar bagi pengunjung hotel. Ya, guru dan murid Chongdam lainnya mendengar teriakan histeris orang-orang dan itulah yang membuat mereka berdoa dengan sungguh-sungguh. Siwon memilih mengikuti Hyukjae yang berlari keluar kapel hendak mencari Hyena. Hyori dan Bi Hyul juga mengikuti mereka.

“Kau melihat Hyena?” tanya Hyukjae ketika berpapasan dengan Min Kyung dan Kyuhyun.

“Tidak,” jawab Min Kyung.

“Hyung!” Hyukjae melambai pada Donghae, “Kau kebetulan melihat Hyena?”

“Tidak,” jawab Donghae. “Ah, kalian tahu? Telah terjadi keributan besar. Orang-orang mengatakan ada roh halus sedang berkeliaran. Ekstrim sekali hantu itu,” Donghae bergidik, ia tak tahu menahu dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Tak menunggu lama, Hyukjae berlari ke arah yang ditunjuk oleh Donghae.

Mereka akhirnya sampai di luar hotel, mencari Hyena di sekitar taman. Langit mulai gelap, artinya malam mulai berkuasa.

“Hiiiiii….!!” Bi Hyul secara refleks menutup matanya.

Tatapan mereka tertuju pada arah yang ditunjuk oleh Bi Hyul. Tepat di bawah rindangnya sebuah pohon, tampak seorang gadis berpakaian putih dengan rambut hitam legam. Gadis itu sedang berdiri.

“Gosh! Jadi arwah itu adalah Hyena?” Donghae akhirnya mengerti situasi apa yang sebenarnya terjadi.

“Song Hyori?” Hyukjae memandangi Hyori yang membenamkan wajah di balik dada Hyukjae.

Gadis itu membuka matanya perlahan dan ia terkejut, “Hyukjae, apa yang kau lakukan? Kau bisa menimbulkan kesalahpahaman Siwon, my man!” ia mendelik hebat.

“Kau yang berlari ke arahku, aku ini korban,” jawab Hyukjae datar.

“Oh,” Hyori bergumam pelan. Ia lalu berpaling pada Siwon, “My man,” ucapnya mendayu-dayu, berusaha memeluk Siwon namun pemuda itu menahan Hyori dengan menempelkan ujung telunjuknya pada dahi Hyori.

“Gadis gila,” Min Kyung mencibir Hyori. Kyuhyun tampak tak bersuara, ia akhirnya paham apa yang dimaksud Min Kyung dengan menyelamatkannya setelah melihat Hyena. Kyuhyun tak tahu jika adiknya telah menjadi korban kebrutalan horror yang diciptakan oleh Hyena.

Hyukjae mampu merasakan jika kutukan Hyena masih sangat kental. Kakinya sedikit melemas, sejujurnya ia sendiri tak mampu memandangi sosok mengerikan Hyena terlalu lama. Jika saja Hyena bukan gadis yang dicintainya, ia tak akan sudi menghampiri Hyena yang terlihat mirip roh penasaran itu.

Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Hyukjae melangkah mendekati sosok mengerikan itu sementara yang lain tetap berdiam di tempat dan mungkin sedang mengucapkan doa dengan sungguh-sungguh.

“Hyena,” panggil Hyukjae. “Bukankah seharusnya kau merubah dandananmu?” ia memandangi Hyena takut-takut karena Hyena tak merubah penampilan kembali pada kata normal.

Hyena tak bersuara.

“Hyena, ini sudah malam. Kau tahu, berpenampilan seperti itu membuat semua orang ketakutan?” Hyukjae mencoba tertawa menghibur dirinya yang mulai gemetar. “Hyena mengapa kau diam saja? Kau marah karena kami meninggalkanmu? Maaf, seharusnya aku tetap di sisimu,” pemuda itu menarik nafas.

Sosok itu justru menunduk. Setelah mengucapkan sebuah doa hingga tuntas, Hyukjae memberanikan diri memegangi pergelangan tangan Hyena, ia takut Hyena kembali pada kebiasaan lamanya.

“Hyena, mengapa tanganmu dingin sekali?” gumam Hyukjae, ia lalu memandangi Siwon dan lainnya yang tampak harap-harap cemas. “Udara malam membuatmu kedinginan, sebaiknya kita kembali ke dalam,” ujar Hyukjae. Ia menarik tangan Hyena namun gadis itu tak berkutik seakan tak ingin bergerak dari tempat tersebut.

Hyukjae benar-benar tak ingin Hyena berperilaku aneh seperti dulu. Ia merasa menyesal membiarkan Hyena mengikuti lomba itu. Dengan lembut Hyukjae meraih tubuh Hyena ke dalam pelukannya. Mendadak ketakutannya sirna tergantikan dengan penyesalan.

“Bahkan seluruh tubuhmu sangat dingin, maaf membiarkanmu seperti ini,” ia mempererat pelukannya meskipun tak ada reaksi dari sang gadis.

“Lee Hyukjae…” suara yang amat familiar terdengar di telinga Hyukjae, “Apa yang kau lakukan?”

Hyukjae mencoba memperjelas pandangannya, namun sosok yang berdiri hanya beberapa meter darinya tak diragukan lagi adalah Song Hyena. Ia masih mengenakan pakaian putih itu namun tidak dengan aura menyeramkan. Rambutnya telah dikuncir seadanya. Hyena memandangi Hyukjae dengan tatapan nanar. Sementara Hyukjae sudah tak bisa bergerak.

Jika Song Hyena sedang berdiri di sana, lalu siapa gadis yang berada dalam pelukannya itu? Seluruh tubuh Hyukjae melemas, tulang-tulangnya terasa lunak. Dengan gemetar ia melepas pelukan dari gadis misterius tersebut dan saat itu juga sosok tersebut menghilang.

“HWUUAAAAAAAA!!!”

Hyukjae berteriak histeris, ia menyambar tangan Hyena dan menyeret gadis itu pergi. Ia tak lagi melihat Siwon, Kyuhyun, Hyori, Min Kyung, Donghae dan Bi Hyul. Mereka pasti telah melarikan diri setelah menyadari bahwa sosok yang dipeluk mesra oleh Hyukjae adalah benar-benar makhluk halus.

Tak melepaskan genggaman tangannya ketika Hyukjae berlari memasuki hotel, keringatnya terlihat sebesar butir jagung. Di tempat yang lebih terang dan lebih aman, enam orang lainnya telah menanti dengan wajah pucat pasi.

Hyena menampik kasar tangan Hyukjae, “Lepaskan!” ia terlihat tak bersahabat.

“Hyena—seharusnya kau datang sejak awal…” bibir Hyukjae masih gemetar membayangkan kejadian hebat yang baru dialaminya.

“Aku terus mencari kalian dan ternyata kau…” Hyena menarik nafas panjang. “Kau bersama gadis lain, memeluknya?” tanya Hyena diikuti dengan desah nafas berat semua orang. Apakah ia tak sadar siapa gadis itu?

“Hyena…dengar…”

“Kau masih ingin beralasan?” Hyena memandang tajam pada Hyukjae, “Jelas-jelas aku melihatmu memeluknya dengan sangat mesra?” Hyena terdengar cemburu namun tidak pada tempatnya, “Kau selingkuh dengannya?” ia bertanya dengan emosi yang sedikit meningkat.

Semua yang ada hampir kehilangan kesadaran. Terlebih Hyukjae yang hatinya bagai ditancapi oleh ribuan belati. Selingkuh? dengan arwah penasaran asli? Harga diri Hyukjae mendadak terinjak-injak.

“Apa seleramu sungguh tertambat pada gadis-gadis mengerikan?” sindir Siwon.

“Song Hyena. Jangan menyalahpahamiku seperti itu,” Hyukjae tak perduli dengan sindiran Siwon. “Aku…”

“Lalu siapa gadis cantik itu?”

SSERRRR!

Mendadak mereka merasakan angin kencang yang berputar-putar hingga membuat mereka benar-benar limbung setelah mendengar pertanyaan ekstrim Hyena. Gadis cantik? Dia itu sosok mengerikan, roh penasaran. Apa yang ada di mata Hyena ketika menarik kesimpulan yang serasa menohok hati mereka yang mendengarnya?

“Song Hyena. Apa kau gila? Mengapa kau terus mengatakan hal-hal tak masuk akal?” emosi Min Kyung telah tersulut.

“Hyena, aku memeluknya karena kupikir dia adalah kau,” desah Hyukjae. “Dia bukan gadis cantik,” air mata Hyukjae hampir menetes menyadari ketertarikan Hyena pada hal-hal mengerikan masih cukup kental. “Gadis itu adalah hantu—ASLI!” tekan Hyukjae pada kata terakhir.

Hyena tertegun. Ia terdiam dalam beberapa menit. Entah apa yang ada di dalam kepalanya. Semua mengira jika Hyena sedang menyesali tudingannya pada Hyukjae.

“Mau kemana?” Hyukjae menangkap pergelangan tangan Hyena ketika gadis itu hendak pergi.

“Menemuinya,” jawab Hyena santai.

“Apa?”

“Mengapa baru mengatakan jika gadis itu adalah hantu asli?” tanya Hyena dengan tampang penuh penyesalan. Ya, dia memang menyesal. “Aku belum pernah bertemu yang asli. Ah, setidaknya aku harus mendapatkan tanda tangannya,” Hyena mendesah lemas.

Semua menganga lebar.

Mendapatkan tanda tangan siapa? Astaga Song Hyena! Mengatakan seperti itu seolah-olah ia menempatkan sosok mengerikan tersebut sebagai artis idola popular yang sedang naik daun di Korea.

Tak menunggu lama, beramai-ramai mereka menyeret Hyena. Meskipun tak saling bicara, namun tujuan mereka sudah sangat jelas. Kapel. Mereka akan meminta pastur berdoa untuk Hyena, kalau perlu melakukan misa pengusiran roh jahat.

Malam itu juga, MT ditutup. Para guru mencemaskan keadaan murid-murid mereka setelah menyaksikan sosok mengerikan Hyena. Murid-murid itu mendadak kejang-kejang—mereka telah menunjukkan gejala epilepsi.

~.o0o.~

Chongdam High School.

Bi Hyul, Min Kyung dan si kembar sedang menyusuri salah satu koridor dalam bangunan sekolah mereka yang luas. Tiba-tiba saja langkah Bi Hyul terhenti. Ketiga sahabatnya memandanginya heran.

“Ada apa?” tanya Min Kyung melihat Bi Hyul memegangi perutnya.

“Maag-ku kambuh. Aku tak sempat sarapan,” jawab Bi Hyul menerangkan penyakit lambungnya yang sering kali menderanya.

“Maag?” ulang Hyori. Ia memandangi Bi Hyul dengan tatapan curiga, “Maag atau makhluk?”

PLETAK!

Hyori meringis ketika Bi Hyul menjitak keras kepalanya yang bodoh.

“Bagaimana jika ucapan Hyori benar? Sakit Bi Hyul karena ada makhluk hidup yang sedang tumbuh di perutnya?” gumam Min Kyung.

“Bayi?” Hyena menimpali gumaman Bi Hyul. “Apa Donghae Oppa melakukannya? Maksudmu, mereka berdua telah melakukan itu?” lanjut Hyena.

Kedua orang itu seolah tak menyaksikan serangan yang baru saja diterima oleh Hyori dan mereka masih saja melanjutkan topik mereka.

“Siapa yang tahu? Rumah mereka bersebelahan. Seandainya dinding kamar bisa berbicara. Daebak! Jika benar, maka Donghae Oppa sungguh pejantan tangguh!” ujar Min Kyung, “Oppa bisa mengalahkan Bi Hyul yang kesangarannya melebihi beruang kutub!” lanjut Min Kyung.

“Apa mungkin? Kalian yakin Bi Hyul masih mengalami menstruasi setiap bulan? Entah mengapa aku justru merasa sel telur Bi Hyul telah sepenuhnya berevolusi menjadi sperma!” gumam Hyena dengan tenang.

“Aku ragu jika seorang Hyun Bi Hyul masih bisa bereaksi terhadap sentuhan-sentuhan,” tiba-tiba saja Hyori telah bergabung dengan pembicaraan sesat Min Kyung dan Hyena.

Ketiga gadis itu terdiam. Tak berapa lama mereka mulai senyam-senyum tak jelas, wajah mereka menyeringai lebar. Sudah dipastikan jika otak mereka sedang terserang virus kemesuman stadium empat. Mereka pasti sedang membayangkan adegan tak senonoh antara Bi Hyul dan Donghae.

“Aneh sekali, mengapa dalam bayanganku terlihat seperti sepasang pria yang sedang memadu cinta?” perkataan Hyori membuat lamunan mereka bubar seketika.

“Aku justru melihat Donghae Oppa memeluk papan seluncur,” desah Hyena.

“Oppa, sungguh malang nasibmu,” ujar Min Kyung. Ketiga gadis itu tertunduk, mengheningkan cipta atas nasib Donghae.

Sementara Bi Hyul sejak tadi telah membeku mendengar pembicaraan ketiga gadis sinting itu. seluruh tubuh Bi Hyul gemetar dan hidungnya kembang kempes, ia terlihat seperti banteng gila yang siap mengamuk.

Detik selanjutnya hanya terdengar bunyi yang dihasilkan oleh perpaduan tangan Bi Hyul dengan kepala ketiga gadis itu. Min Kyung dan si kembar hanya bisa meringis setelah diberi jurus maut Bi Hyul.

“Siwon, wanitamu mendekat,” ujar Hyukjae ketika melihat Hyori bersama tiga gadis lainnya sedang berjalan berlawanan arah dengan mereka.

“Kau bicara apa?” Siwon bertanya santai.

“Siwon, my man!” seru Hyukjae menirukan gaya bicara maupun ekspresi Hyori membuat Siwon mendengus, “Mengapa kau tak mencoba mengimbanginya?”

“Apa lagi yang sedang kau bicarakan?” desis Siwon.

“Hyori, my woman!”

“Lee Hyukjae! Kau tak perlu mengajakku untuk menjadi manusia gila sepertimu,” Siwon mendadak rusuh.

Hyukjae tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah merah Siwon yang sedang memendam kegeraman. Pemuda itu lalu mengerling pada Hyena ketika mereka berpapasan sehingga membuat Hyena tertunduk malu dengan rona kemerahan pada kedua belah pipinya. Namun ada pemandangan ganjil yang terjadi. Ketika berpapasan, Hyori yang biasanya langsung histeris saat melihat Siwon—tapi, kini dia bertingkah aneh. Hyori justru menundukkan kepalanya. Bahkan hingga mereka telah saling melewati, tak sedikit pun Hyori melirik pada Siwon.

Langkah kaki Siwon sedikit melambat, ia menengok ke belakang, kepada Hyori yang berjalan membelakanginya.

“Apa dia benar-benar Song Hyori?” Hyukjae segera menyuarakan rasa herannya. “Apa yang terjadi dengannya?” Hyukjae kembali bertanya, namun Siwon tetap bungkam. Pertanyaan Hyukjae ikut bersarang di kepala Siwon. “Hyori adalah tipe yang begitu memujamu, tapi kau lihat tadi? Jangankan bersuara, melihatmu pun tidak dia lakukan.”

Siwon tetap bungkam. Ia tak terlihat berniat menjawab pertanyaan Hyukjae.

“Jangan katakan jika Hyori telah menyerah terhadapmu,” tebak Hyukjae. Siwon masih tetap bungkam sambil memandangi punggung Hyori yang kian menjauh, “Atau—mungkinkah dia telah terpikat pada siswa Nowon itu?” pertanyaan kedua yang dilontarkan Hyukjae sukses membuat Siwon berpaling padanya.

“Jangan berlebihan,” ujar Siwon dingin, ia kembali melangkah meninggalkan Hyukjae yang masih mematung.

“Berlebihan?” alis Hyukjae saling bertaut, “Apa yang berlebihan?” ia kembali bertanya. “Choi Siwon, tunggu aku!” Hyukjae berlari pelan mengejar Siwon.

Kembali pada Hyena, Min Kyung dan Bi Hyul yang saling pandang dan tertegun melihat tingkah Hyori beberapa waktu lalu. Cepat-cepat Min Kyung menyandarkan punggung tangannya di dahi Hyori.

“Apa?” Hyori menyingkirkan tangan Min Kyung dengan santai.

“Kau sakit?”

“Tidak.”

“Lalu,” Min Kyung memajukan wajahnya dan berbisik di telinga Hyori, “Kau terkena mantra Hyena?”

“Aku bisa mendengarmu,” desah Hyena kesal.

“Tidak,” Hyori memberikan jawaban yang sama pada Min Kyung.

“Lalu mengapa kau bersikap seperti itu?” tanya Min Kyung lagi.

“Seperti apa?”

Ketiga gadis itu hanya bisa menarik nafas dalam-dalam atas pertanyaan yang diberikan Hyori.

“Mungkin karena tadi kau memukul kepala Eonni terlalu keras,” giliran Hyena yang memandangi Bi Hyul.

“Song Hyena, hentikan tatapanmu itu!” hardik Bi Hyul.

“Hyori, bukankah kau melihat siapa yang tadi berpapasan dengan kita?” Min Kyung bertanya dengan pelan, ia dan dua gadis lainnya sangat terkejut ketika melihat tingkah Hyori.

“Tentu saja,” jawab Hyori, “Choi Siwon,” lanjutnya lagi.

“Dia pasti sakit,” batin ketiga gadis itu berkecamuk. “Tiba-tiba saja kau mengabaikan Siwon. Ini bukan seperti dirimu,” ujar Bi Hyul.

Hyori terdiam. Ia menarik nafas dan ketiga gadis lainnya ikut menarik nafas. Hyori lalu menghembuskan nafas kasar, ketiga gadis lainnya ikut melakukan hal yang sama. Ketika Hyori kembali menarik nafas dalam-dalam, ketiga gadis itu ikut melakukan hal yang sama. Mereka terlalu tegang menanti jawaban yang keluar dari mulut Hyori.

“Apa kita sedang belajar bagaimana cara bernafas dengan baik?” Bi Hyul yang sebal mulai mengajukan protes.

“Ah—aku ke toilet,” Hyori justru mengucapkan kalimat itu setelah penantian panjang ketiga gadis lainnya. Ia sepertinya tak berniat membicarakan apapun.

“Dia benar-benar bertingkah aneh,” ujar Min Kyung. Mereka memandangi Hyori yang berjalan menjauh. “Terjadi sesuatu dengannya?” pandangan Min Kyung beralih pada Hyena.

“Kurasa begitu, tapi aku tak tahu apa yang terjadi,” jawab Hyena.

~.o0o.~

Seperti biasanya, suasana kelas jauh dari kata tenang. Namun ketika guru Yoo datang, kelas menjadi begitu hening. Guru Yoo mulai membagikan hasil test kelas XII-1 beberapa waktu lalu.

“Song Hyori, kau melakukannya dengan baik,” ujar guru Yoo ketika Hyori menerima hasil testnya. Hyori tersenyum puas. Ia memamerkan kebahagiannya pada Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul dengan melambai-lambaikan kertas di tangannya. Ketiga gadis itu ikut tersenyum.

Sejak dua bulan lalu Siwon mengajari Hyori, gadis itu telah menunjukan peningkatan. Senyum di wajah Hyori mulai menipis ketika matanya dan mata Siwon bertemu. Senyum itu akhirnya hilang, Hyori kembali ke tempat duduknya dan tak lagi menoleh pada Siwon. Sementara Siwon tetap bungkam, banyak hal yang tiba-tiba saja berkeliaran di kepalanya. Ia menarik nafas panjang. Seminggu belakangan ini Hyori mendadak bertingkah aneh.

~~~

Hyori berjalan keluar dari kelas yang mulai sepi ditinggal para penghuninya. Saudari kembarnya beserta Min Kyung dan Bi Hyul telah beranjak sejak awal. Belakangan Hyori memang tak terlihat begitu bersemangat. Langkah kaki Hyori terhenti ketika melihat Siwon yang hendak memasuki kelas. Hyori lalu kembali mengayunkan kakinya.

“Hyori,” langkah Hyori terhenti ketika Siwon memanggilnya saat mereka berpapasan. “Jangan pergi kemanapun! Hari ini aku akan ke rumahmu,” kata Siwon tenang. Sejak Hyori bersikap aneh, sejak itu Siwon tak dapat menemui Hyori di rumah gadis itu dengan alasan yang sama—Hyori sedang tidak di rumah.

“Kau masih mau mengajariku?” Hyori bergumam pelan. Siwon menatap heran padanya. “Baiklah. Terima kasih,” ujar Hyori lagi dan kembali meninggalkan Siwon yang mematung. Benar-benar bukan seperti Hyori yang dikenal oleh Siwon.

Hyori terus menyeret kakinya. Raut wajahnya terlihat sangat sedih. Gadis itu masih melangkah lesuh hingga seseorang membuatnya terhenti. Hyori memandangi seorang gadis yang berdiri di gerbang sekolah. Gadis cantik berambut panjang itu masih mengenakan seragam. Dari seragam yang dikenakan olehnya cukup menjelaskan statusnya sebagai murid sekolah menengah pertama. Gadis itu menatap Hyori dengan tatapan yang kurang bersahabat.

“Eonni!”

Langkah Hyori kembali terhenti. Ia memandangi gadis yang kini berjalan menghampirinya dan berhenti tepat di hadapannya.

“Ada apa?” sejujurnya Hyori malas meladeni gadis remaja itu.

“Kau benar-benar melakukan apa yang aku katakan, bukan?”

“Mengapa aku harus menurutimu?”

“Kau harus! Karena mengajarimu, waktu Siwon Oppa terbagi.”

“Siapa gadis ini?”

Hyori terkejut melihat Hyena, Bi Hyul dan Min Kyung tiba-tiba saja menghampirinya. Ia pasti tak mengira jika ketiga gadis itu belum beranjak dari sekolah. Hyena, Bi Hyul dan Min Kyung sengaja membuntuti Hyori. Mereka sangat penasaran dengan perubahan sikap Hyori.

“Hyori—siapa dia?” Min Kyung mengulangi pertanyaan Hyena sebelumnya.

“Aku?” gadis itu bertanya. Ia lalu tersenyum angkuh, “Ah—jadi kalian rupanya kumpulan orang aneh Chongdam?”

“Hei!” Bi Hyul yang geram ingin sekali meninju gadis itu tapi tindakannya dicegah oleh Min Kyung.

“Baiklah, aku akan memperkenalkan diri,” katanya sambil memangku tangan angkuh. “Aku Hyo Seon, putri dari Hyundai Group dan aku adalah tunangan Siwon Oppa!”

“Apa?” Hyena, Bi Hyul dan Min Kyung terkejut. Sementara Hyori hanya terdiam dengan mimik wajah yang melemas.

“Mengapa aku di sini? Kalian pasti sedang bertanya seperti itu. Aku sedang memperingatkan sahabat kalian agar menjauhi Oppa.”

“Hyundai?” ulang Bi Hyul, “Min Kyung, mengapa kau tak mengatakan padanya bahwa kau adalah Nyonya Royal Group?” pertanyaan Bi Hyul hanya dibalas dengan lototan tajam Min Kyung.

“Tingkah para chaebol memang sangat menyebalkan,” desis Min Kyung. Ia tiba-tiba teringat pada tunangannya dan In Ha yang juga menyandang status sebagai keluarga chaebol atau konglomerat.

“Jadi, inilah sebabnya kau bertingkah aneh belakangan ini,” Hyena memandangi Hyori.

“Kuharap dengan otak bodohmu, kau dapat menangkap maksud perkataanku,” gadis yang mengaku bernama Hyo Seon masih berkata dengan nada yang sangat angkuh. “Siwon Oppa adalah milikku!”

“Kau pikir Siwon itu apa? Bagaimana bisa dengan entengnya kau menaruh hak milik atas seseorang?” Bi Hyul mulai memanas.

“Tentu saja bisa, karena aku adalah tunangannya,” tegas Hyo Seon.

“Hyori, jangan terpengaruh olehnya. Hati seseorang bisa berubah, jika kau menyerah sebelum kau menyatakan cintamu pada Siwon maka kau sangat pengecut,” Min Kyung berbicara dengan bibir yang bergetar halus. Sejak tadi ia berusaha mengendalikan emosinya.

“Aku…” kata-kata Hyori tertahan.

“Sebaiknya kukatakan saja. Jangan terlalu bermimpi. Kau tentunya tahu jika Oppa sangat membenci gadis bodoh. Kau harusnya sadar bagaimana frustasinya Oppa karenamu. Jadi, sangat bijak jika kau menyerah,” Hyo Seon tersenyum sinis. Hyo Seon segera menaiki mobil mewah yang terparkir menantinya. Mobil itu pun pergi.

“Haisshh! Mengapa ada gadis semenyebalkan dia?” Bi Hyul meremas kasar rambutnya. “Seharusnya kalian tak menahanku tadi, biar gadis kurang ajar itu kuberi sedikit pelajaran.”

“Sedikit?” Hyena sangsi dengan perkataan Bi Hyul. “Kau bisa membuatnya berada di UGD,” lanjutnya lagi sambil mendesah.

“Hyori, kau tak apa-apa?” Min Kyung memandangi Hyori yang tiba-tiba saja kehilangan semangat.

“Aku tak cukup baik,” jawab Hyori pelan. Ia tak ingin menyangkali isi hatinya.

“Eihh, jangan terlalu sedih,” Bi Hyul menepuk pundak Hyori, ia berusaha membuat Hyori tersenyum.

“Semua yang dikatakan gadis itu benar. Bertahun-tahun aku mengejar Siwon, tapi tak sedikitpun Siwon melihat padaku.”

“Eonni, mengapa kau tiba-tiba menjadi sangat pesimis?” Hyena merasa iba pada saudari kembarnya, ia ikut merasakan kesedihan Hyori. Kontak batin di antara mereka cukup kuat.

“Kau tak ingat motto hidupmu?” pancing Min Kyung.

“Menyeret Siwon ke altar? Tentu saja aku tak pernah lupa. Itu menjadi impian terbesarku,” Hyori tertawa pelan, lalu tawanya mulai menyurut. “Tapi, mimpi seseorang bisa saja berubah,” katanya lagi.

“Aku tak mengira jika kau bisa mengalami krisis kepercayaan diri,” Min Kyung mendesah.

“Aku? Tidak percaya diri?” mata Hyori membulat, “Kalian gila. Aku hanya kasihan pada gadis itu, jika aku bersikeras maka dia tak akan memiliki kesempatan,” gumam Hyori. Ketiga gadis lainnya hanya menggeleng-geleng dan mereka cukup lega karena Hyori mulai terlihat seperti biasanya.

“Lalu, kau akan tetap menyerah?”

“Tidak mungkin! Aku tak akan menyerahkan Siwon, my man pada gadis sialan itu!” Hyori mengepal tangannya kuat. “Sekalipun Siwon telah memiliki seorang tunangan atau bahkan jika kenyataannya Siwon tak menyukai gadis bodoh, tapi aku tak akan menyerah.”

“Benar! Kau tak boleh menyerah!” Bi Hyul ikut memberikan semangat.

“Segala sesuatu bisa saja terjadi. Coba kalian pikir, Hyukjae bisa menyukai Hyena yang sangat mengerikan. Donghae Oppa justru tertarik pada si produk gagal Bi Hyul. Lalu Kyuhyun pun jatuh hati pada gadis penderita kelainan hormon seperti Min Kyung. Bukan tidak mungkin jika suatu saat Siwon akan menyukaiku, benar?”

Hyori berbicara panjang lebar dan ketika ia menoleh pada tiga gadis lainnya mereka telah membatu dengan mata yang hampir melompat keluar.

“SONG HYORI!!!”

Jerit histeris Bi Hyul, Hyena dan Min Kyung telah membahana.

~.o0o.~

Kediaman keluarga Song.

Siwon menunggui Hyori yang sedang mengerjakan soal yang dibuatnya. Pemuda itu mengisi waktu dengan membaca sebuah buku. Sesekali dengan ekor matanya ia melirik pada Hyori yang begitu serius.

“Bagaimana?”

Hyori mengangkat wajahnya, “Beri aku beberapa menit lagi.”

“Baiklah—kau tak perlu terburu-buru,” Siwon kembali meneliti kalimat-kalimat yang tertera pada buku di tangannya. Ia mencoba fokus namun ekor matanya justru mengkhianatinya dengan melirik pada Hyori.

“Selesai!” seru Hyori.

Cepat-cepat Siwon memalingkan wajahnya, seakan ia hanya terfokus pada buku dalam genggamannya. Siwon kembali menatapi Hyori, “Biar kulihat,” ia meletakan bukunya dan menghampiri Hyori.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Hyori setelah beberapa saat Siwon meneliti hasil kerja kerasnya.

Siwon belum bersuara, ia masih terus menatapi tulisan-tulisan yang tertera di lembar soal Hyori.

“Ada apa?” Hyori tak dapat menahan kesabarannya.

Siwon lalu menatap Hyori. Ia terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia meletakan tangannya di puncak kepala Hyori, “Good job, Hyori,” katanya sambil mengacak-acak rambut Hyori.

Hyori tertegun melihat Siwon yang untuk pertama kalinya tersenyum padanya. Siwon yang menyadari apa yang ia lakukan menjadi salah tingkah dan menghentikan aksinya. Kedua orang itu kembali membisu. Jantung mereka pasti berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Keadaan tiba-tiba saja terasa begitu canggung.

“Kau,” Hyori bergumam pelan, “Apa kau benar-benar membenci orang bodoh sepertiku? Tapi kau lihatkan, aku tak sebodoh itu,” Hyori masih bergumam sangat pelan, “Apakah mungkin jika suatu saat kau akan menyukaiku? Bolehkah aku berharap?” Hyori menarik nafas lesuh. Detik selanjutnya ia hampir terjungkir ketika mengangkat wajahnya dan mendapati Siwon sedang menatapnya serius. “Siwon—kau mengagetkanku!” Hyori semakin gugup, “Tunggu… kau mendengar apa yang aku katakan?” tanya Hyori lagi.

Siwon terdiam dan tak menggeser sedikit pun tatapannya dari Hyori. Pemuda itu menggeleng pelan dan kemudian kembali menarik buku lalu membacanya.

“Syukurlah,” Hyori menarik nafas lega. Hyori yang berusaha mengontrol detak jantungnya segera menarik kertas soal kedua dan berusaha mengejarkan tanpa banyak bicara.

Sepuluh menit berlalu. Siwon kembali melirik pada Hyori, namun gadis itu tidak sedang melakukan apa yang ia instruksikan. Hyori telah tertidur dengan menjadikan kedua tangannya yang terlipat di atas meja sebagai bantalan kepalanya. Untuk kedua kalinya Siwon meletakan bukunya. Ia memandangi Hyori sekian menit dan dengan perlahan ia melepaskan kaca mata yang selalu setia membingkai kedua bola matanya. Pemuda itu mulai menopang dagu dengan tangan kanannya, namun matanya tak sedikitpun beranjak dari Hyori.

“Dasar bodoh,” ia bergumam pelan dan terus menyelediki wajah Hyori yang tampak lelap.

~.o0o.~

Chongdam High School. Pagi itu, Hyori telah bertekad untuk menyatakan perasaannya pada Siwon. Hyori telah memikirkan keputusannya berkali-kali, ia tahu jika Siwon telah bertunangan tapi ia ingin mengungkapkan isi hatinya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia akan menerima apapun keputusan Siwon.

Hyori melangkah dengan perasaan yang begitu gugup. Taman belakang adalah tempat tujuannya. Sebelumnya, Hyori telah menyelipkan sebuah surat di tas Siwon. Dalam surat itu, Hyori meminta Siwon menemuinya di taman belakang sesuai waktu yang telah ditentukan.

Gadis itu tak berharap banyak jika Siwon akan memenuhi permintaannya, namun ketika ia melihat Siwon berdiri di tempat yang ia sebutkan—hati Hyori berlonjak girang. Hyori menarik nafas panjang. Ia berusaha mengontrol permainan jantungnya. Hyori kembali melangkah pasti mendekati Siwon.

Ponsel Siwon berbunyi dan pemuda itu segera menjawab telepon.

“Hyo Seon, ada apa?”

Langkah Hyori mendadak terhenti begitu mendengar Siwon menyebut nama itu.

“Jangan cemas, pulang sekolah aku pasti menjemputmu,” ujar Siwon. Ia terlihat santai menanggapi Hyo Seon. “Seon—kuharap kau tak menemui Hyori lagi.”

Mendengar Siwon menyebut namanya, perasaan Hyori kian berkecamuk. Jantungnya berdetak sangat kencang. Siwon terlihat sangat akrab dengan Hyo Seon. Siwon bahkan bisa tersenyum ketika berbicara dengan Hyo Seon meskipun itu hanya lewat sambungan telepon.

I love you too,” ucap Siwon dengan wajah ceria ketika mengakhiri pembicaraan itu.

Jantung Hyori terpukul keras. Ia merasa seperti tertimpa oleh bangunan yang ambruk. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Hyori merasakan sakit yang begitu luar biasa di dadanya. Untuk sesaat ia bahkan tak bisa bernafas.

“Ah, Hyori. Kau terlambat tiga menit dari waktu yang kau janjikan,” ujar Siwon ketika menoleh dan mendapati Hyori telah berdiri tak jauh.

Hyori sudah tak dapat berkata apa-apa lagi. Matanya mulai berkaca-kaca dan ia berusaha keras agar air matanya tak mengalir.

“Bukankah ada yang ingin kau katakan?” tanya Siwon ketika sekian menit Hyori tak berkutik. “Hyori?”

Ingin rasanya Hyori menghilang saat itu juga namun entah mengapa ia tak dapat menggerakan seluruh tubuhnya.

“Song Hyori? Kau baik-baik saja?”

Hyori berusaha untuk berkata-kata, “Aku…”

“Apa yang kau ingin katakan?” Siwon bertanya lagi. Hyori berusaha mengumpulkan kekuatannya.

“Kau—kau tak perlu mengajariku lagi,” ucap Hyori. Ini tidak sesuai dengan apa yang ia rencanakan, tapi ia tak tahu apa yang harus ia lakukan karena semua kalimat yang telah ia susun mendadak sirna.

“Hyori?” Siwon tak dapat menyembunyikan rasa herannya.

“Aku bilang, kau tak perlu mengajariku,” ulang Hyori. Kedua orang itu saling pandang cukup lama. “Aku lelah.”

Selepas mengatakan itu, Hyori segera berlari meninggalkan Siwon yang mematung. Air mata Hyori mengalir begitu saja. Kesedihan dan sakit hati yang ia rasakan tak bisa digambarkan dengan kata-kata, hanya mampu Hyori ekspresikan dengan air mata.

Sejak kejadian itu, Hyori benar-benar menjadi gadis yang pendiam. Ia tak seceria biasanya. Dia memilih untuk tidak berpapasan dengan Siwon dimanapun mereka bertemu dan jika pertemuan mereka tidak bisa terhindarkan maka Hyori hanya menunduk, tak ingin melihat wajah itu. Perubahan sikap Hyori turut mengundang rasa heran semua yang mengenalnya, tak terkecuali Hyena, Min Kyung dan Bi Hyul. Berbagai cara dilakukan untuk menghibur Hyori tapi gadis itu seperti mati rasa.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Hyori terus-terusan bersikap aneh? Dia bahkan menghindarimu?” Hyukjae memandangi Siwon. Ia sangat penasaran dengan perubahan sikap Hyori.

“Aku tak tahu,” jawab Siwon. “Dua hari lalu, Hyori tiba-tiba mengatakan bahwa aku tak perlu mengajarinya.”

“Really? Congratulation.”

“Mengapa?”

“Bukankah kau sangat ingin terbebas darinya? Harusnya kau senang ketika Hyori mengatakan itu padamu.”

Siwon tak bereaksi, ia lebih memilih bungkam. Siwon berpikir sesaat, “Dia mengatakan jika ia lelah,” ujar Siwon.

“Lelah?”

“Apa aku terlalu menekannya? Salahkan otaknya jika ia merasa tertekan,” desis Siwon kesal.

“Kau berpikir jika ia berkata lelah karena pelajaran?” tanya Hyukjae. “Entah mengapa aku tak berpikir seperti itu.”

“Apa maksudmu?”

“Kupikir, dia lelah karenamu. Dia lelah mengejarmu,” ucapan Hyukjae membuat Siwon menatapnya tajam. “Coba kau bayangkan. Kau menyukai seseorang bertahun-tahun tapi orang yang kau sukai tak sedikit pun menanggapimu. Bukankah itu sangat melelahkan? Seberapa besarnya rasa suka Hyori terhadapmu tapi jika sikapmu seperti itu, Hyori akan lelah. Kurasa, pilihannya untuk mundur sangat tepat. Kau baik-baik saja dengan semua itu?”

Hyukjae bertanya dan Siwon tetap tak bersuara.

“Ah—tentu saja kau baik-baik saja. Kau tak pernah menaruh perhatian padanya. Kau bahkan sangat membencinya. Sudah pasti kau sangat senang ketika Hyori memutuskan menyerah terhadapmu,” ujar Hyukjae. Ia memandang lekat pada Siwon dan terus menyelidiki Siwon, berusaha mencari tahu isi hati Siwon yang sebenarnya lewat ekspresi yang tergambar di wajahnya.

Mata Siwon lalu menangkap Hyori yang berjalan ke suatu tempat. “Hyukjae, kau duluan ke kelas. Aku harus ke toilet,” ujarnya dan langsung meninggalkan Hyukjae tanpa memberi kesempatan Hyukjae untuk menanggapinya.

Toilet hanyalah alasan. Tujuan utama Siwon adalah menemui Hyori. Ia sendiri merasa terganggu karena Hyori dan terlebih perkataan Hyukjae benar-benar membuatnya tak tenang. Niat Siwon tertahan karena Hyori dihampiri oleh ketiga gadis yang selalu bersama-sama dengannya.

“Hyori, ada apa?” tanya Min Kyung.

“Eonni, kau terus membuat kami cemas. Apa yang terjadi?”

“Mengapa kau tak pernah mengatakan apapun? Apa karena gadis tengik itu?” Min Kyung selalu saja emosi jika mengingat Hyo Seon.

“Bukan, ini bukan kesalahannya,” Hyori menjawab pelan.

“Lalu jika bukan karena dia? Mengapa kau seperti ini?” Bi Hyul menatap lekat wajah Hyori, “Atau—karena… Siwon, my man?” tanyanya lagi dan masih tetap mengikuti cara Hyori berekspresi ketika menyebut kalimat wajibnya tentang Siwon.

Hyori hanya tersenyum tipis, “Siwon—he’s not my man,” jawabnya tenang dan berlalu meninggalkan ketiga gadis yang terpaku.

“Apa aku tak salah dengar?” Bi Hyul meminta Hyena dan Min Kyung meyakinkan apa yang baru saja ia dengar dan kedua gadis itu mengangguk antusias. “Daebak! Otak Hyori berevolusi dengan baik. Dia bahkan mampu mengucapkan kalimat bahasa inggris lain—selain Siwon, my man!” Bi Hyul berdecak kagum.

“Tapi, apakah itu artinya Hyori benar-benar menyerah terhadap Siwon?” pertanyaan Min Kyung justru menghasilkan keheningan diantara mereka. Gadis-gadis itu tak menyadari jika sejak tadi Siwon telah menyimak semua pembicaraan mereka dengan Hyori. Pemuda itu terdiam dengan ekspresi terkejut.

~.o0o.~

Siwon memasuki kamar tidurnya. Ia membuang kasar tas di atas lantai, sesuatu yang tak biasa ia lakukan mengingat ia memiliki tingkat kerapian di atas rata-rata. Siwon merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Sebenarnya, Siwon tak berniat tidur. Ia hanya mencari posisi aman untuk menenangkan hatinya. Tak menemukan apa yang ia inginkan, Siwon beranjak. Ia menuju meja belajarnya, bersandar lesuh pada sandaran kursi. Pikirannya sedang berkecamuk.

Pemuda itu tak bisa melakukan apapun yang ia inginkan dengan nyaman. Ketenangannya sudah terusir. Kini Siwon lebih memilih mengitari ruang kamarnya yang begitu luas. Langkahnya terhenti ketika ia tepat berada di depan sebuah lemari yang tertutup rapat. Pemuda itu sedikit berjinjit ketika berusaha mengambil sesuatu di atas lemari. Sebuah kunci kini berada dalam genggamannya. Entah apa isi lemari itu hingga membuat Siwon harus mengunci rapat lemari tersebut.

Ketika kedua pintu lemari terbuka, yang nampak dari rak-rak bersusun di dalam lemari itu adalah kado dengan berbagai bentuk juga motif. Semua orang jika melihat isi lemari tersebut akan mengira jika Siwon pasti mengoleksi benda-benda itu. Siwon meraih salah satu kado yang berada di rak paling atas. Ia membuka benda berbentuk hati, sebuah kartu menyambut mata Siwon ketika tutup kado itu dibuka. Siwon meraih kartu tersebut, membukanya dan membacanya yang entah sudah keberapa kali ia lakukan.

‘Happy valentine, my man.’

Senyum terlukis di wajah Siwon ketika membaca kalimat yang tertera dalam kartu. Pemuda itu menaruh kartu di dalam benda berbentuk hati yang di dalamnya berisi coklat, lalu ia meletakan kembali kado itu pada tempat semula. Tangan Siwon bergeser pada kado berbentuk persegi dengan motif polkadot.

‘Cepat sembuh, my man.’

Sebuah minuman bervitamin tinggi adalah isi dari kotak itu. Senyum Siwon kian mengembang. Kotak itu diletakan kembali pada tempatnya dan ia lalu mengambil kado berbentuk bulat berwarna merah cerah.

‘Aku tahu kau pasti akan berada di urutan pertama. Kau selalu menjadi yang terhebat, my man.’

Membaca tulisan-tulisan pada kartu bersama kado yang diterima Siwon mampu membuat pemuda itu tersenyum lebar.

‘Selamat ulang tahun, my man.”

Pandangan Siwon lalu tertuju pada sebuah kado berbentuk persergi panjang yang terletak di rak kedua. Ia membuka kado yang di dalamnya berisi bunga mawar yang telah kering dan kehilangan keindahannya. Siwon meraih kartu di dalamnya.

‘Annyeong. Aku salah satu dari sekian banyak gadis yang mengagumimu. Menyadari bahwa aku tak sebanding denganmu cukup membuatku frustasi dan aku tak mempunyai keberanian untuk menampakan diri di hadapanmu. Jadi, aku akan menyukaimu secara diam-diam, my man.’

Siwon tertawa tanpa suara begitu membaca tulisan itu. Meskipun semua kartu yang diterimanya tak pernah tertertera identitas pengirim namun sekali melihat isinya, Siwon sudah tahu siapa orangnya. Song Hyori. Kartu dan mawar itu adalah kado pertama yang diberikan Hyori tiga tahun lalu. Lemari tersebut hampir penuh oleh kado yang diberikan Hyori selama tiga tahun belakangan ini.

Tawa Siwon menyurut, namun senyum masih terus terpancar di wajahnya. Pikirannya berkelana pada kejadian beberapa tahun lalu. Musim panas tiga tahun lalu ketika ia berada di tahun pertama sebagai murid Chongdam.

Saat itu, Siwon terburu-buru karena memasuki gerbang sekolah tepat setelah bel masuk berbunyi dan ia terjatuh sehingga menyebabkan buku-buku dalam tasnya berserakan di tanah. Ketika Siwon sibuk mengumpulkan buku, seorang gadis berdiri tepat di hadapannya.

Wajah cantik gadis itu terlihat terpaku ketika melihat Siwon. Bola matanya yang bulat bahkan tak berkedip. Pipinya bersemu merah.

“Ada apa?” tanya Siwon.

Seperti tersadar dari hipnotis, gadis yang tak lain adalah Hyori segera membantu Siwon mengumpulkan buku.

“Aku bisa melakukannya,” cegah Siwon.

Hyori tak menjawab, ia lalu menyerahkan buku di tangannya pada Siwon, “Ini pertama kalinya kita bertemu. Kurasa kita berada di tahun yang sama,” Hyori terlihat berpikir-pikir dengan tampang polosnya.

Siwon diam. Siwon lalu merasakan sesuatu yang aneh dan kemudian ia kembali menjelajahi tanah dengan sorot matanya yang tajam.

“Kau kehilangan sesuatu?” tanya Hyori lagi, namun Siwon tak menjawabnya. “Contact lens?”

Pertanyaan Hyori membuat Siwon menatapnya. Sepertinya tebakan Hyori cukup jitu.

“Jangan bergerak!” seru Hyori sambil menahan pergelangan tangan Siwon. Ia memajukan wajahnya mendekati wajah Siwon. Semakin dekat dan jarak yang tersisa sangat tipis hingga membuat jantung Siwon berdetak kasar. Hyori mengambil sesuatu tepat di sudut bibir Siwon, “Bagaimana menurutmu?” tanya Hyori sambil memamerkan contact lens yang berada di ujung telunjuknya.

Siwon membuang nafas panjang, ia berusaha untuk menetralkan permainan jantungnya yang menjadi aneh karena ulah Hyori tadi.

“Hyori!”

Panggilan itu mengalihkan perhatian mereka. Min Kyung dan Bi Hyul sedang menanti Hyori. Hyori melambaikan tangan meminta mereka menunggunya.

“GOSH!”

Siwon terpekik saat matanya menangkap sesosok gadis berpakaian seragam Chongdam namun seragamnya berwarna hitam pekat. Gadis berambut panjang dengan poni yang hampir menutupi wajahnya pucat pasinya. Sosok mengerikan itu berjalan mendekati Min Kyung dan Bi Hyul. Siwon gemetar, ia sangat ketakutan melihat penampakan yang dikiranya adalah arwah gentayangan.

“Dia bukan hantu,” Hyori berkata sambil tertawa. Siwon menatapnya heran, “Gadis itu adalah adikku, Song Hyena. Dia memang selalu seperti itu,” terang Hyori santai. Siwon rasanya ingin pingsan saja.

“Hyori. Apa yang kau lakukan?” teriak Bi Hyul.

“Cepatlah! Kita sudah terlambat!” Min Kyung mulai marah.

“Iya,” Hyori menjawab mereka. Gadis itu lalu berpaling menatap Siwon, “Kau akan tetap terlihat tampan bahkan jika kau memakai kaca mata,” Hyori tersenyum lebar sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Siwon.

Siwon terdiam, ia terus memandangi Hyori yang pergi bersama komplotan anehnya. Jantung Siwon kembali berdetak kencang saat ia melihat tawa ceria Hyori yang sedang bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya.

Pertemuan pertama, Hyori telah menarik hati Siwon namun pemuda itu memiliki sifat yang cukup angkuh. Dia tak pernah terang-terangan menunjukan perasaannya pada Hyori yang selalu bersikap polos. Semua mengetahui bahwa Siwon yang sempurna tidak menyukai Hyori yang bodoh, namun tak satu pun yang akan mengira termasuk Hyori jika semua hadiah pemberian Hyori selalu diterima oleh Siwon bahkan disimpan dengan baik.

~.o0o.~

Suatu sore ketika Siwon masih terlelap. Sebuah panggilan menyadarkannya dari alam mimpi.

“Ada apa?” tanyanya malas.

Choi Siwon! Kau di mana?” suara Hyukjae yang begitu nyaring hampir menjebol gendang telinga Siwon.

“Bisakah kau berbicara lebih pelan?” kesal Siwon.

Itu tidak penting. Di mana kau sekarang?

“Di rumah. Mengapa?”

Apa aku meninggalkan earphone milikku di rumahmu?

Siwon mengedarkan pandangan mencari benda yang disebut Hyukjae, “Tidak,” jawab Siwon kemudian. “Di mana kau?” Siwon sedikit penasaran mendengar kebisingan yang terjadi di seberang.

Bandara.

“Bandara? Kau akan ke Amerika?” Siwon mengira Hyukjae hendak mengunjungi keluarganya yang tinggal di Amerika.

Tidak. Aku sedang bersama Hyena, Min Kyung dan Bi Hyul. Kami akan mengantar Hyori.

“Hyori?” Siwon beringsut dari tempat tidur begitu mendengar nama Hyori.

Kau tak tahu?” Hyukjae balik bertanya, “Hyori memutuskan tinggal di Austria bersama bibinya,” perkataan Hyukjae membuat Siwon sangat terkejut.

“Kau bilang… Austria?” tanya Siwon dengan terbata.

Ah—kalian benar-benar tak saling bicara lagi rupanya,” desah Hyukjae.

Hyukjae, apa yang kau lakukan? Cepatlah!

Siwon dapat mendengar suara Hyena yang meminta Hyukjae untuk bergegas.

Cintaku sudah memanggil. Sampai jumpa lagi,” ujar Hyukjae yang segera memutuskan sambungan telepon.

“Hyukjae! Lee Hyukjae!” panggil Siwon namun sambungan telepon sudah terputus. Ketika Siwon mencoba menghubungi kembali, ponsel Hyukjae sudah tak aktif.

Siwon belum bisa menyurutkan rasa kagetnya. Ia bungkam seribu bahasa. Pikiran dan hatinya berkecamuk luar biasa. Pemuda itu tampak sedang menimbang-nimbang sesuatu di kepalanya. Ia akhirnya beranjak, menarik jaket dan berlalu dengan tergesa-gesa meninggalkan kamarnya yang nyaman.

~~~

Bandara internasional Incheon.

Siwon berlari-larian di antara manusia yang berkeliaran di area bandara. Ia telah mengecek ke terminal keberangkatan luar negeri namun ia tak menjumpai Hyori. Siwon mencari Hyori sejak sejam lalu. Pemuda itu akhirnya tertunduk lemas. Siwon berpikir jika saat ini Hyori pasti telah berada di dalam pesawat yang membawanya menuju Austria.

Penyesalan dirasakan Siwon di dalam hatinya. Ia terus berjalan sambil memandangi ujung sepatunya dan tak menyadari jika ia menabrak seseorang.

“Maafkan aku,” ujar Siwon dan tetap menunduk.

“Choi Siwon?”

Begitu mendengar suara itu, secara refleks Siwon mengangkat kepala. Matanya melebar menyaksikan seorang gadis yang berdiri di hadapannya. Song Hyori. Tangan kanan Hyori masih menyeret koper miliknya.

“Hyori,” Siwon tak memungkiri bahwa ia sangat bahagia melihat wajah itu.

“Kau. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hyori.

Siwon tak menjawabnya. Siwon hanya menelusuri wajah Hyori yang masih menanti jawaban yang keluar dari mulutnya. Tak berpikir panjang lagi, ia meraih Hyori dan mendekap Hyori ke dalam pelukannya.

“Si, Siwon…” Hyori sangat terkejut dengan perlakuan Siwon.

“Maafkan aku,” ujar Siwon. Ia semakin mempererat pelukannya.

“Siwon. Kau…,” kata-kata Hyori tertahan di tenggorokannya. Jantung gadis itu berdegub kencang.

“Maafkan aku, Hyori,” Siwon mengulang perkataannya. “Bisakah kau tetap tinggal di sini?”

Hyori terdiam, “Aku harus pergi. Saat ini, aku harus pergi.”

Siwon melepaskan pelukannya dan ia menatapi raut wajah Hyori yang masih dipenuhi rasa penasaran.

“Karena aku?” tanya Siwon.

“Tidak. Tidak seperti itu.”

Mereka terdiam.

“Baiklah, aku mengerti,” Siwon tersenyum tipis. Sepertinya tidak ada yang bisa ia lakukan dan penyesalan di hatinya semakin menggunung. “Berapa lama kau akan berada di sana?” tanya Siwon kemudian.

“Dua hari.”

“APA?” Siwon tersentak mendengar jawaban Hyori.

“Tadinya aku merencanakan kepergianku selama seminggu, tapi itu terlalu lama. Jadi kuputuskan dua hari sudah cukup,” Hyori menjawab dengan panjang lebar sambil memamerkan wajah lugunya. “Ada apa?” tanyanya polos.

“Kau hanya dua hari di Austria?” Siwon mulai kebingungan.

“Austria?” giliran Hyori yang bertanya heran. “Tapi—aku hanya pergi ke Busan,” jawab Hyori lagi.

“BUSAN?” Siwon lebih terkejut daripada sebelumnya.

“Nenek memintaku dan Hyena mengunjunginya, tapi Hyena tak bisa pergi. Kupikir, mungkin aku bisa menenangkan pikiranku di sana.”

“Awas kau Lee Hyukjae!” Siwon menggeram.

Sementara itu tak jauh dari situ, Hyukjae, Hyena, Min Kyung dan Bi Hyul sedang mengawasi Siwon dan Hyori.

“Ada baiknya jika untuk sementara waktu aku bersembunyi di Amerika,” Hyukjae bergumam memikirkan bahwa Siwon pasti akan memberinya pelajaran.

“Siapa suruh kau membohonginya?” desis Bi Hyul.

“Jika aku tak melakukan itu, kalian pikir Siwon akan berkutik?” Hyukjae melakukan aksi pembelaan. “Siwon mungkin bisa membohongi publik, tapi dia tak akan pernah bisa membohongi seorang Lee Hyukjae,” Hyukjae tersenyum bangga. Min Kyung dan Bi Hyul hanya menggeleng sadis, sementara Hyena tak memberikan reaksi yang berlebihan.

Keempat orang itu kembali menanamkan perhatian mereka pada Siwon dan Hyori.

“Lalu—mengapa kau berada di sini?”

Siwon tak tahu harus menjawab apa ketika Hyori bertanya. Ia berpikir sesaat namun tak menemukan jawaban yang tepat.

“Jadi, kau akan tetap pergi?” Siwon bertanya untuk mengalihkan pertanyaan Hyori.

“Ya,” jawab Hyori. “Tadi—mengapa kau memelukku?” Hyori masih sangat penasaran dengan sikap aneh Siwon. Pemuda itu menjadi salah tingkah.

“Oppa!”

Siwon dan Hyori menoleh pada seorang gadis yang berdiri memandangi mereka dengan kesal.

“Hyo Seon,” sapa Siwon. Raut wajah Hyori mendadak berubah melihat Hyo Seon.

“Mengapa kau lama sekali?” Hyo Seon menghampiri mereka.

“Ah—maafkan aku,” Siwon menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Aku tahu ini pasti akan terjadi,” Hyo Seon menatap tajam pada Hyori.

Hyori mengokohkan pegangannya pada koper, “Aku sebaiknya pergi,” ujar Hyori dengan mimik yang sangat sedih.

“Tunggu!” Siwon mencoba mencegah Hyori melangkah.

“Jangan cemas,” Hyori memaksakan bibirnya untuk tersenyum, “Aku tak ingin tunanganmu mencariku lagi,” keluh Hyori.

“Tunangan?” alis Siwon bertaut. Pemuda itu langsung menoleh sekejap pada Hyo Seon, “Choi Hyo Seon! Apa yang kau katakan padanya?” tatap galak Siwon.

Hyo Seon berpura-pura tak melihat kegeraman Siwon.

“Choi Hyo Seon?” Hyori menjadi tak mengerti.

“Baiklah. Baiklah. Aku kalah,” Hyo Seon menyerah. “Apa kabar Eonni? Perkenalkan aku Choi Hyo Seon. Anak kedua Hyundai Group sekaligus adik satu-satunya Choi Siwon,” perkenalan Hyo Seon membuat mulut Hyori terbuka lebar.

“Dia adik Siwon?” Hyena bertanya. Min Kyung dan Bi Hyul ikut menatapi Hyukjae, meminta penjelasan pemuda itu.

“Iya. Coba saja jika kalian bertemu dengannya. Hyo Seon gadis ceria dan menyenangkan,” senyum sumringah Hyukjae.

“Menyenangkan?” Min Kyung mencibir.

“Jadi, Siwon anak sulung Hyundai Group? Benarkah?” Bi Hyul menatap Hyukjae sangat lekat.

“Apa aku tak pernah mengatakan pada kalian?” tanya Hyukjae dan dijawab dengan gelengan kepala ketiga gadis itu.

Siwon memang tak pernah mencoba mengatakan siapa dirinya atau keluarga seperti apa yang ia miliki. Semua orang mengetahui jika dia tampan, pintar dan cukup kaya, tapi siapa yang menyangka jika dia kaya raya.

“Gadis ini—adikmu?” mata Hyori membulat memandangi Hyo Seon.

“Iya, adikku. Bukan tunanganku,” ujar Siwon. “Hyo Seon, kau benar-benar cari masalah,” Siwon kembali menerjang Hyo Seon dengan tatapan galaknya.

“Aku hanya sedikit mengerjai Eonni,” elak Hyo Seon. “Oppa, ini juga salahmu. Kau melupakan hari ulang tahunku. Bukankah itu sangat keterlaluan?” protes Hyo Seon kekanak-kanakan.

Hyori sudah tak dapat berkutik. Ia hanya mampu memandangi adu mulut kakak beradik itu.

“Eonni, apa kau tahu? Karena kau Oppa melupakan hari ulang tahun adik satu-satunya. Dia lebih memikirkanmu dibanding aku.”

“Siwon memikirkanku?” Hyori tersentak, “Benarkah?” ia tak percaya.

“Hyo Seon,” Siwon menatap tajam pada adiknya.

“Apa aku salah?” Hyo Seon membalas tatapan Siwon. Mata Hyo Seon kembali tertuju pada Hyori yang masih mematung, “Eonni, apa kau tahu bagaimana frustasinya Oppa karena memikirkanmu? Dia bahkan bisa berubah menjadi orang gila hanya dengan melihat isi lemari itu,” ujar Hyo Seon blak-blakan.

“Isi lemari?” Hyori kembali bertanya.

“Ya, lemari yang…” belum sempat Hyo Seon melanjutkan perkataannya ketika Siwon membekap mulutnya.

“Diamlah, atau aku akan memamerkan nilai burukmu pada Ayah dan Ibu,” ancam Siwon.

“Oppa!” Hyo Seon menghentak-hentakan kakinya kesal.

Hyori masih tertegun, “Apakah itu artinya…” Hyori ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

“Wah! Daebak!” mendengar Hyo Seon terpekik, Siwon dan Hyori mengikuti arah pandang Hyo Seon.

Apa yang mereka saksikan cukup membuat mereka terkejut. Sepasang muda-mudi sedang berciuman. Tampaknya seseorang diantara mereka akan berangkat dan itu adalah ciuman perpisahan. Secepat kilat Siwon menutup mata Hyo Seon.

“Oppa, biarkan aku melihatnya,” Hyo Seon berusaha melepaskan tangan Siwon.

“Tidak boleh!” tolak Siwon mentah-mentah.

Hyori tersenyum karena menyaksikan tingkah kedua orang itu. Ia merasa lucu dengan tingkah kakak beradik tersebut. Terlihat jika Siwon sangat menyayangi dan melindungi adiknya.

“Ah, sepertinya aku harus pergi sekarang,” ujar Hyori begitu mendengar bahwa pesawat yang akan ditumpanginya menuju Busan akan segera lepas landas beberapa saat lagi.

“Baiklah,” ujar Siwon.

“Kau tak akan mengatakan apapun?” tanya Hyori, ia merasa masih ada yang ingin dikatakan oleh Siwon.

“Sepertinya tidak ada,” kata Hyori lagi ketika Siwon hanya terdiam. “Aku pergi,” pamitnya.

Belum sempat Hyori melangkah ketika Siwon menarik Hyo Seon, menyandarkan kepala Hyo Seon di dada bidangnya lalu dengan tangan kanannya, Siwon menutup mata Hyo Seon. Sementara itu, tangan kiri Siwon merengkuh belakang kepala Hyori dan ia mendaratkan ciuman di bibir Hyori. Hyori tersentak begitu menyadari Siwon sedang menciumnya. Keempat orang yang sedang mengintai dari jauh hampir saja berteriak histeris namun mereka harus membekap mulut mereka agar tidak terdengar oleh Siwon dan Hyori. Siwon melepaskan rekatan bibir mereka, ia memandangi Hyori yang matanya belum berkedip sama sekali.

“Apakah itu cukup mewakili apa yang ingin kukatakan?” Siwon tersenyum pada Hyori yang benar-benar telah membatu.

“Oppa, mengapa kau menutup mataku?” protes Hyo Seon setelah ia berhasil menyingkirkan tangan Siwon.

“Pergilah, bukankah kau harus segera pergi?” Siwon kembali memperingatkan Hyori yang terlihat seperti orang ling lung. “Hanya dua hari saja, bukan?” ia tersenyum dan kembali melanjutkan perkataan, “Hyori, you have to remember that i’m your man.”

Hyori mengangguk pelan, entah dia mengerti atau tidak dengan ucapan Siwon. Seperti orang hilang ingatan, Hyori berjalan meninggalkan Siwon dan Hyo Seon. Gadis itu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun. Siwon dan Hyo Seon memandangi punggung Hyori yang mulai menjauh.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Oppa.”

“Apa?”

“Mengapa tadi kau menutup mataku?”

“Bukan urusanmu.”

“Kau melakukan sesuatu?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa wajahmu memerah seperti itu?”

“Udara cukup panas.”

Hyo Seon terus menyerang Siwon dengan banyak pertanyaan dan hanya dijawab santai oleh Siwon. Mereka kembali terkejut saat tanpa disadari Hyori telah berdiri di hadapan mereka.

“Hyori?” alis Siwon mengernyit, “Kau belum pergi?”

“Itu…” Hyori terdiam. “Ternyata aku belum membeli tiket,” jawab Hyori sambil terkekeh lebar tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Tanpa terkecuali—Siwon, Hyo Seon, bahkan Hyukjae, Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul yang memantau dari jauh hanya mampu mendesah sambil memijit-mijit dahi mereka. Mereka frustasi karena Hyori.

*~Summer, I Love You So Much! (Song Hyori’s story) End~*

10 Comments (+add yours?)

  1. dhe
    Apr 22, 2015 @ 20:45:09

    sumpahhh min ini frustasi bgt yang namnya harus behadapan sama hyori.. ya allah itu terlalu polos atau pas pembagian otak dia gak dtng? yang bikin ini ff bener bener luar biasa. ngakak, kesel, teriak gak jelas gra gara baca ff ini

    Reply

  2. elmaaaa
    Apr 22, 2015 @ 20:51:53

    daeebbaaakkkkkkk ><
    suka bgt sma ffnya butuh sequel nih penasaran sama kisah mereka setelah lulus sekolah #ngarep
    moga dikabulin🙂
    ditunggu ya😉

    Reply

  3. spring
    Apr 22, 2015 @ 22:36:45

    nih fic bikin q ketawa2 malem2. hyo ri lucu bgt. and siwon my man… ah..
    setuju sama yg pertama, pgn tau kisah mereka stlh lulus school.

    Reply

  4. i'm2IP
    Apr 22, 2015 @ 23:30:22

    Aaahhh.. lucuuuu ceritanya.. daebak!! Daebak!! Daebak!!😀 ceritanya biki aku senyam senyum sendiri thor.. bagus sumpah😀.. aku suka hyori sama siwon mereka sweet banget.. n hyorinya lucu hahaha bikin ngakak karna tingkahnya.. waahh ini termasuk ff favoritku thor.. good job🙂.. bikin squel wajib kalu thor Xp

    Reply

  5. meynininx90
    Apr 23, 2015 @ 03:39:34

    Bner” dech hyori….bkin kpla psing.

    ..
    Siwon sbar Gtu….Hadeh
    Bner” kocax dech ff me…..bguz bgt pkoxe

    Reply

  6. shoffie monicca
    Apr 23, 2015 @ 08:27:44

    hahaha inimh pgi2 dh bc ff kack bkin ngakak apa lg ps bc tingkn hyorin adh2 bkin ngkak

    Reply

  7. Monika sbr
    Apr 23, 2015 @ 10:00:57

    Ahhhh….. KereeeN banget thor!!!
    Aku bacanya sampai guling2 ditempat tidur karena saking lucunya!!!
    Kewarasan otaknya hyori emang aneh bin ajaib!!
    Part yg ini emang lucunya minta ampun, karena mereka semuanya dibahgian ini……
    Benar2 manis banget!! Ternyata siwon emang sudah menyukai hyori sejak lama, tapi gengsinya aja yg ketinggian, baru bisa mengungkapkannya sekarang!!!
    Apalagi hyena dan hyukjae juga so sweet banget.
    Gak tau lg mau komen apa, tapi semoga aja ada sequelnya, bikin cerita tentang mereka saat semuanya sudah pada nikah thor!!!

    Reply

  8. jung dong in
    Apr 24, 2015 @ 10:17:44

    huwaa daebak!!! suka banget😀

    Reply

  9. sleepingjae
    Apr 24, 2015 @ 11:39:10

    sumpah ya untuk kesekian kali aku baca dan ke sekian kali ngumpat ekwkwk

    Reply

  10. yuni
    Apr 24, 2015 @ 20:29:26

    Daebaakkk daebakkkkk. Br nemu ff kocak.gini bhsany ok dn gk trlalu over… sukaa sukaa.. bkn ketawaaaa.. hahahhaa
    Lnjt yah.. bth sequel pasangan lucu ini..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: