SECRET [7/7]

SECRET [Part 7-END]

Author: Shin Hyeonmi

Lee Hyukjae | Shin Hyeonmi | Gabriel | Park Sojin | Kim Jongwoon

Chapter | PG-17 | Romance

Rating: General

Tag: Lee Hyukjae, , Eunhyuk, Yesung, Kim Jongwoon, Kim Jong Woon, Super Junior, Superjunior

 

Note: I just hope readers will like this. Thanks for reading it (: And, I’ve published this before on my personal blog ( http://eunhaewife.wordpress.com/ ) Visit me if you have times^^ Happy reading^^

 

 

Hyeonmi berjalan tanpa alas kaki di sebuah tanah lapang luas yang hanya berisikan rumput berwarna hijau sejauh matanya memandang. Sesaat ia berhenti dan memerhatikan baju yang dipakainya, sebuah dres selutut berwarna putih berlengan panjang yang tampak seperti menyala karena warna putihnya yang teramat bersih.

Beberapa saat kemudian ia menutup matanya dan mulai menghirup udaranya di sekitarnya pelan yang benar-benar terasa sejuk, lalu ketika ia membuka kedua matanya kembali tiba-tiba saja sosok Jongsuk telah berdiri di hadapannya.

Ia terkejut, namun tak lama kemudian segera mengalungkan kedua tangannya di pundak pria itu dan memeluk tubuhnya erat seolah tak mengijinkan dirinya untuk kembali kehilangan pria ini. Dari telapak kakinya yang harus berjinjit ketika memeluk pria ini karena memang selirih panjang tubuh mereka cukup jauh, ia yakin bahwa ini adalah benar-benar Lee Jongsuk, suaminya.

“Waeyo?” tanya pria itu kemudian dan berusaha sedikit melonggarkan kaitan tangan Hyeonmi di tubuhnya.

Tapi dengan sigap Hyeonmi menolaknya, justru kini ia semakin erat mengaitkan kedua tangannya pada tubuh pria itu. “Biarkan seperti ini, aku benar-benar merindukanmu,” kata Hyeonmi.

Namun Jongsuk tak menghiraukan permintaan Hyeonmi, ia melepaskan kalungan tangan Hyeonmi dari pundaknya lalu meenggenggamnya. Untuk sesaat pria itu menaikkan pandangannya menatap wajah ceria Hyeonmi lalu memberikan senyumannya pada wanita itu.

Jongsuk kemudian menarik salah satu tangannya hingga tersisa satu tangannya saja yang tetap menggenggam satu tangan milik Hyeonmi. Kemudian pria itu berbalik dan mulai melangkah, mengajak Hyeonmi untuk berputar dan berjalan-jalan ke sekeliling daerah itu.

“Hyeonmi-ah,” panggil Jongsuk kemudian, “mulai saat ini hiduplah dengan bahagia,” lanjut pria itu.

Hyeonmi menghentikan langkahnya sejenak membuat Jongsuk saat itu juga berhenti dan berbalik menatapnya masih dengan wajah yang penuh senyum. Dahinya mengerut, menandakan bahwa sesungguhnya ia tak terlalu paham dengan apa yang baru saja dikatakan pria ini padanya.

“Apa maksudmu?”

“Aku akan merawat Fraya dengan baik, dan kau rawatlah Gabriel dengan baik pula,” kata pria itu sambil kemudian merapikan rambut Hyeonmi yang tergerai dan tertiup oleh semilir angin, kemudian mendekap kedua pipi Hyeonmi dengan dua tangannya, “Ambilah semua kebahagiaan yang menjadi hakmu, dan jangan pernah melepaskannya lagi,” lanjut pria itu.

Kali ini giliran Jongsuk yang meraih tubuh Hyeonmi dan memeluknya erat, sementara Hyeonmi masih belum mengerti sepenuhnya dengan maksud perkataan tersebut namun perlahan tangannya mulai bergerak balas mengikat tubuh Jongsuk dari balik punggung pria itu.

Hyeonmi membuka matanya berat dan sesaat kemudian menyadari bahwa pertemuannya dengan Jongsuk barusan adalah sebuah mimpi. Tentu saja itu hanya sebuah mimpi karena dua tahun yang lalu ia telah benar-benar kehilangan sosok tersebut di dunia.

Sesaat gadis itu diam, dan berusaha mencerna setiap pesan yang telah dikatakan Jongsuk kepadanya tadi dalam mimpi. Pria itu memintanya untuk merawat Gabriel dengan baik sementara disana ia akan merawat Fraya dengan baik pula. Seketika hatinya terasa pilu, mungkinkah disana Jongsuk telah bertemu dengan Fraya? Seorang janin yang pernah singgah dalam rahimnya selama beberapa bulan dan tak sempat ia lahirkan ke dunia ini. Entah apa jenis kelaminnya, saat itu merek berdua, dia dan Jongsuk bersepakat untuk memberikan nama Fraya kepada janin yang belum sempat terlahir tersebut.

Mengingat peristiwa keguguran yang pernah dialaminya dulu seolah kembali mengingatkan salah satu luka lama yang pernah ia buat. Jika saja Fraya terlahir di dunia ini mungkin setidaknya ia pernah memberikan kebahagiaan kepada Jongsuk, bukan hanya sebuah kepedihan pada pria itu.

Selama awal pernikahannya dengan Jongsuk dulu ia begitu buruk sebagai seorang istri. Ia bahkan tidak memberikan cinta yang sesungguhnya kepada Lee Jongsuk diawal pernikahannya, tetapi meskipun begitu pria itu sama sekali tidak pernah mengacuhkannya. Ia tetap memperlakukan Hyeonmi dengan baik, dan bahkan terlampau baik.

Air matanya kembali menetes ketika mengingat sosok Jongsuk. Ketika menghapus aliran air mata tersebut, gadis itu menoleh ke sekitarnya dan menyadari bahwa saat ini ia tidak berada di kamarnya. Ini adalah tempat yang berbeda dari ruangan kamarnya, dan tidak ada Gabriel di sampingnya. Segera ia bangkit dan menyadari dimana saat ini ia berada.

Semalam ia tak bisa pulang karena Hyukjae yang sedang demam terus menggenggam erat telapak tangannya dan tak membiarkannya untuk pergi. Dan setelah itu ia tertidur di samping ranjang ini dengan posisi duduk sementara satu tangannya masih di gengggam oleh Hyukjae. Tapi kini ketika ia bangun ia sadar bahwa posisinya telah berubah berbaring diatas ranjang. Lalu kemana perginya pria itu?

Dengan cepat ia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menemukan sosok Hyukjae yang berada di sofa tamu sambil membaca koran. Saat itu juga hatinya merasakan lega ketika melihat pria itu telah lebih baik dari kondisinya semalam, dan bahkan sembari membaca koran tersebut pria itu mulai memakan pizza yang semalam ia pesan.

“Kau sudah bangun?” tanya Hyukjae sesaat membuat Hyeonmi terkejut seketika karena nyatanta pria itu telah menyadari kedatangannya, “Tadi pagi aku memindahkanmu ke atas ranjang, mianhae sudah membuatmu tertidur dalam posisi duduk,” lanjut pria itu.

“Gwenchana,”

Hyeonmi mulai berjalan mendekat pada Hyukjae dan sedikit menyingkirkan koran yang tengah dibaca pria itu lalu menempelkan telapak tangannya pada dahi pria itu, “Panasmu sudah turun, apa kau merasa lebih baik?” tanyanya, kemudian ia kembali menatap sepotong pizza yang tengah dimakan Hyukjae lalu menggelengkan kepalanya sesaat.

“Jangan memakan makanan seperti ini dulu sebelum kau benar-benar sembuh,”

Sementara pria yang diberitahu seolah tak menghiraukan sedikitpun perkataan Hyeonmi dan lebih memilih untuk kembali membaca koran yang ia pegang lagi.

“Yak, ku bilang jangan makan makanan itu dulu,” kata Hyeonmi lagi dengan sedikit meninggikan suaranya dan segera menyambar sepotong pizza dalam genggaman Hyukjae.

Hyukjae yang sedikit tidak terima atas tindakan Hyeonmi tersebut segera menghentikan perbuatan gadis itu dengan menggenggam pergelangan tangannya dan sedikit menariknya sehingga membuat jarak antara mereka berdua menjadi lebih dekat.

Keduanya diam ketika jarak antara wajah mereka hanya tersisa beberapa senti. Bahkan dengan jarak yang sedekat ini bisa saja Hyeonmi bisa merasakan hembusan nafas Hyukjae yang seperti menyapu permukaan kulitnya.

Deg.. deg.. deg..

Menyadari jantungnya yang mulai berdetak diluar kendali, ia segera menjauhkan tubuhnya dari Hyukjae dan segera melepaskan genggaman tangan mereka. Ini memalukan, dalam jarak sedekat itu ketika ia bisa merasakan hembusan nafas Hyukjae yang begitu dekat mengapa ia tak bisa mengontrol debaran jantungnya?

Bagaimana jika pria itu dapat mendengarnya?

“Kembalikan, aku lapar.” Protes Hyukjae.

Sesungguhnya ia sendiri juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Hyeonmi baru saja. Jantungnya juga berdetak cukup kencang ketika jarak antara mereka semakin menipi, dan Hyukjae tak ingin membahasnya karena mungkin jika sedikit saja ia mencoba membahas hal itu tadi maka bukan hanya Hyeonmi yang akan merasakan malu tapi ia juga.

“Aku akan membuatkanmu bubur untuk sarapan, jadi berhentilah makan makanan yang tidak sehat.” Kata Hyeonmi.

Merasa semakin tak bisa lagi mengontrol dirinya, Hyeonmi segera berbalik dan melangkah ke arah dapur. Entah mengapa rasanya kini ia menjadi begit5u canggung jika harus berlama-lama dengan pria itu.

Sementara Hyukjae untuk beberapa saat hanya diam dan tak segera menyusul Hyeonmi yang telah berjalan meninggalkannya. Butuh waktu beberapa detik lebih lama untuknya memulihkan kembali emosinya yang cukup mampu dibuat sedikit gila tadi karena berdekatan dengan Hyeonmi, dan sepertinya ia merindukan kembali masa-sama dimana jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya karena cinta.

Beberapa detik berselang, pria itu segera menepuk salah satu pipinya mencoba mengembalikan kesadarannya kembali dari apa yang baru saja terjadi. Dan dengan cepat pria itu berdiri dan segera berjalan menyusul Hyeonmi yang telah mulai menggunakan beberapa peralatan dapurnya.

“Apa kau yakin bisa membuatkan bubur untukku?” tanyanya pria itu sambil menarik sedikit kursi di meja pantry dan mulai duduk disana sambil memandangi Hyeonmi yang mulai berkelut di dapur.

Pria itu teringat beberapa waktu sebelumnya, ketika ia membawa Gabriel ke rumahnya dan memanggang daging bersama dengan bocah kecil itu. Saat itu Gabriel bahkan mengatakan bahwa akan lebih baik jika ia tidak memakan makanan yang dibuatkan oleh Ibunya.

“Diamlah, jangan mengganggu konsentrasiku jika kau ingin sarapan yang lezat,” jawab Hyeonmi.

Sementara Hyukjae hanya tersenyum dan sedikit tertawa mendengarkan jawaban yang dilontarkan oleh Hyeonmi. Sepertinya gadis itu sangat yakin jika ia akan sanggup menyelesaikan menu sarapan bubur untuknya pagi ini.

Apakah ini adalah salah satu bagian dari harapan yang selama ini telah ia mimpikan?

Menunggui seorang wanita yang tengah memasakkan sarapan di pagi hari untuknya, sambil sesekali ia mengajaknya mengobrol, sepertinya ini adalah sebuah harapan yang dimiliki setiap pria ketika telah menikah nanti. Begitupula Hyukjae.

Ketika benar-benar memutuskan membangun rumah dengan menggunakan desain yang pernah ia persembahkan untuk Hyeonmi ini dulu, ia sempat tidak yakin akankah gadis ini akan menginjakkan kakinya disini sekali saja. Tapi kenyataannya ternyata lebih, kini gadis itu bahkan telah mencoba memasak di dapurnya dan bahkan semalam ia telah tidur di kamarnya, kamar yang selalu ia harapkan akan menjadi kamarnya bersama dengan wanita ini.

Hyeonmi-ah, tunggulah sebentar lagi, aku akan datang mengulurkan tanganku padamu dan ketika saat itu datang kau hanya perlu meraih tanganku, ucapnya dalam hati.

 

Tok tok tok…

Keduanya seketika itu juga saling memandang satu sama lain ketika mendengar suara pintu depan yang di ketuk. Sepertinya ada tamu, tapi siapa orang yang datang bertamu sepagi ini. Sambil memberikan isyarat kepada Hyeonmi untuk melanjutkan aktivitasnya, pria itu bangkit dari kursinya dan segera berjalan ke depan menemui sosok yang berada di depan rumahnya.

Hyeonmi kembali membalikkan tubuhnya lagi menatap panci berisikan bubur yang ia buat, kemudian kembali mengaduk-aduk isi di dalamnya. Kemudian ia berjalan menuju lemari es, mencari daun bawang untuk ditambahkan ke dalam bubur tersebut. Sambil mulai menyiapkan potongan daun bawang, Hyeonmi mulai mendapatkan ide untuk menyiapkan dua mangkuk bubur ini nantinya di meja pantry. Satu mangkuk untuk Hyukjae dan satu mangkuk lagi untuk tamu pria itu yang baru saja datang.

Sebenarnya ia juga ingin pergi ke depan melihat siapa sosok tamu yang datang berkunjung ke rumah Hyukjae pagi ini, tapi sepertinya hal itu bukanlah kapasitasnya untuk terlalu ikut campur ke dalam masalah pribadi pria itu sehingga ia kembali memutuskan untuk memasak dan setelah selesai nanti ia ingin segera kembali ke rumah karena semalaman ia sudah meninggalkan Gabriel di rumah.

Setelah selesai, gadis itu mulai melepaskan kain celemek yang menempel pada tubuhnya, melipatnya kembali dan menaruhnya di tempat dimana sebelumnya tadi benda itu berada. Kemudian ia segera depan bermaksud untuk menuju kamar Hyukjae mengambil tas yang ia bawa semalam dan juga baju basah yang ia pakai kemarin saat hujan sebelum kembali ke rumah.

“Bukankah sudah pernah ku peringatkan padamu untuk jangan lagi menyakiti Sojin?”

Seketika itu juga langkah Hyeonmi terhenti ketika akan menuju kamar Hyukjae yang melewati bagian samping ruang tamu pria itu, samar-samar gadis itu dapat mendengarkan percakapan Hyukjae dengan seorang tamu yang sepertinya jika ia dengar dari suaranya adalah seorang pria.

Menyakiti Sojin? Gadis itu diam sejenak, mungkinkah saat ini Hyukjae sedang bermasalah dengan Park Sojin? Jaksa yang pernah ia temui untuk urusan pekerjaan.

“Hyung..”

Belum sempat Hyukjae mengatakan apapun, tapi kembali lagi sosok itu memotong kalimat yang baru saja akan dikatakan oleh Hyukjae. “Apa kau tau bagaimana Sojin sangat sibuk mempersiapkan pernikahan kalian? Tapi dengan mudahnya kau meminta gadis itu untuk membatalkannya?” kata pria yang tak lain adalah Yesung.

Saat itu juga Hyeonmi yang masih mendengarkan percakapan itu merasakan lemas seketika, tubuhnya terhuyung dan menyandarkan tubuhnya ke tembok. Tidakkah apa yang baru saja ia dengarkan ini adalah salah? Benarkah pria itu dan Park Sojin tidak akan jadi menikah?

“Hyung dengarkan aku,”

“Apa lagi? Wanita lain dan seorang anak lagi kah yang akan kau katakan? Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu langsung kepada Sojin? Kau benar-benar tidak memikirkan bagaimana perasaan Sojin,”

Hyeonmi terkejut dan segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat itu juga. Lagi-lagi apakah yang ia dengarkan barusan itu benar? Penyebab batalnya pernikahan itu adalah ia dan Gabriel.

Tiba-tiba rasa sesak itu mulai kembali menyerang dadanya menyebabkan ia sendiri saat itu begitu kesulitan mengambil nafas. Jika memang benar ia adalah penyebab batalnya pernikahan tersebut, bukankah itu berarti ia adalah sosok yang sangat buruk. Entah mengapa rasa bersalah itu seketika memenuhinya. Gadis itu mulai berjongkok dan menutup kedua telinganya, seolah tak ingin lagi mendengarkan lebih banyak kenyataan yang sepertinya hanya akan menambah deret kesalahannya.

“HYUNG KAU MENYUKAI SOJIN.” Tiba-tiba saja Hyukjae berteriak keras saat itu juga.

Sejak awal sesungguhnya pria ini sudah merasakan ada hal yang yang sebenarnya coba ditutupi oleh Yesung padanya . Dan kini perlakuan Yesung padanya yang berlebihan seperti ini membuatnya benar-benar yakin bahwa pria itu memiliki perasaan untuk Sojin.

“KAU MENYEMBUNYIKAN PERASAANMU DIBALIK STATUS PERSAHABATAN KALIAN KAN?” teriaknya lagi.

Entah mengapa apa yang dilakukan Yesung padanya kali ini benar-benar membuat Hyukjae merasa muak. Perasaan cinta yang dismbunyikan dengan dalih persahabatan? Tidakkah itu sama seperti yang dulu dilakukan Jongsuk dan Hyeonmi, dan pria ini benar-benar membenci hal-hal semacam ini.

“Hyung kau tau, apa yang paling kubenci di dunia ini?” tanya Hyukjae, “Orang-orang yang menyembunyikan perasaannya dengan dalih persahabatan, aku membenci orang-orang itu dan kini aku harus kembali berhadapan dengan orang seperti ini yang tidak lain adalah KAU.” Lanjut pria itu.

Ini benar-benar sama dan membuatnya seolah kembali pada kasusnya beberapa tahun yang lalu, ketika ia masih bersama dengan Hyeonmi dan ada sedikit masalah dalam hubungan mereka. Saat itu Jongsuk secara tiba-tiba datang kepadanya dan memaki-makinya, hal yang samapun juga dikatakan oleh Jongsuk agar ia tidak meyakiti Hyeonmi lagi.

Keduaya terdiam, Hyukjae yang seketika itu juga merasakan kilasan memorinya saat harus beradu pendapat dengan Jongsuk dulu kembali terulang dan Yesung pun juga diam, tak tahu lagi harus mengatakan apa.

Bukankah memang benar apa yang dikatakan Hyukjae tadi, bahwa ia memang memiliki perasaan kepada Sojin. Dan tak akan ada satu katapun kali ini yang dapat ia katakan untuk menyanggah kebenaran tersebut.

Drrrt.. drrrttt…

Keheningan yang saat itu terjadi membuat suara deringan ponsel Hyukjae yang berada di dalam kamar seketika itu juga terdengar sampai di ruang tamu. Merasakan sedang daam mood yang benar-benar buruk, pria itu tak berniat untuk mengambil ponsel tersebut dan membiarkannya saja berdering disana. Hingga bunyi deringan tersebut pada akhirnya berhenti.

Drrrtt.. drrtt..

Tak lama kemudian ponsel tersebut kembali berdering, dengan terpaksa pria itu berbalik dan dengan segera berjalan meuju kamarnya mengambil ponsel tersebut dan mengangkatnya.

“Yesung-hyung?” tanya Hyukjae setelah mengangkat teleponnya, “Ne, dia ada disini,” jawab pria itu.

Yesung yang mendengarkan namanya dipanggil dalam percakapan tersebut segera berjalan mendekat ke kamar Hyukjae berniat untuk menengok siapa sosok yang sedang mencarinya dengan menghubungi lelaki itu.

Namun ketika langkah kakinya baru saja sampai di depan kamar Hyukjae, pria itu merasakan aura yang berbeda dan dengan cepat pria itu berbalik dan menemukan sosok Hyeonmi yang tengah berdiri sama di lorong menuju dapur dengan kondisi yang sama-sama terkejut sepertinya.

Skak. Seperti mendapatkan sebuah bukti nyata saat melakukan penyelidikan dalam pekerjaannya selama ini, kali ini pria itu seperti merasakan hal yang sama. Kedatangannya kali ini ke rumah Eunhyuk adalah hal yang benar-benar tepat karena disaat ini pula ia dapat menemukan keberadaan wanita ini. Wanita yang benar-benar ia yakini merupakan penyebab dari kesedihan Sojin kemarin.

“Apa kau wanita itu?” tanya Yesung pada Hyeonmi. Untuk beberapa saat pria itu memalingkan wajahnya dan tersenyum kecut kemudian kembali menatap Hyeonmi dengan tajam, “Selamat nona, keinginanmu sudah terwujud, kau sudah sukses membuat rencana pernikahan Hyukjae dan juga Sojin dibatalkan,”

“Hyung,” Hyukjae yang mdapat mendengarkan perkataan Yesung segera berlari keluar kamarnya dan menemukan kedua orang tersebut tengah saling berhadapan. Rasa bersalahnya kepada Hyeonmi kembali mengumpul setelah melihat bagaimana kali ini Yesung menatap gadis itu dengan tatapan tajam. Sementara Hyeonmi hanya menunduk dan ketika ia mengamati lebih dalam lagi, ia dapat melihat jari-jari Hyeonmi yang nampak gemetar. “Hyung, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” cegahnya dengan segera menghampiri Yesung.

“Wae? Lalu dimana anak kalian?” tanya Yesung lagi,

“HYUNG.” Lagi-lagi Hyukjae meninggikan suaranya setelah mendengarkan perkataan Yesung yang bisa saja akan menyakiti perasaan Hyeonmi, “Sojin meneleponku, dia ingin bicara padamu,” ucapnya.

Setelah memberikan ponselnya pada Yesung, Hyukjae dengan cepat meraih tangan Hyeonmi membawa gadis itu sedikit menjauh. Namun belum sempat ia mengatakan apapun, Hyeonmi menarik keras genggaman tangan Hyukjae dan segera berjalan mengambil tasnya dari dalam kamar Hyukjae dan meninggalkan rumah pria itu.

Sementara masih di dalam rumah Hyukjae, Yesung hanya diam mendengarkan setiap rentetan kalimat yang dikatakan Sojin padanya. Sejak tadi sebelum ia berangkat ia tahu bahwa Sojin sedang mencarinya, dan ia sengaja memang tidak mengangkat seluruh panggilan dari gadis itu karena ia tahu bahwa hal seperti ini akan terjadi.

Gadis itu akan berusaha menghentikannya, dan Yesung tak boleh begitu saja terlena karena permintaan Sojin. Bagaimanapun juga ini menyangkut kebahagiaan gadis yang ia cintai, dan ia tak akan sedikitpun membiarkan orang lain menyakiti gadis itu.

“Park Sojin, kau jangan gila.” Ucap Yesung.

Cepat ke rumahku sekarang, atau kau ingin aku bunuh diri.

Pada akhirnya pria itu menghembuskan nafasnya berat, ia tahu seorang Park Sojin tidak akan mungkin melakukan hal itu. Gadis itu hanya ingin ia segera pergi dari rumah Hyukjae dan tak pernah lagi mengganggu kehidupan pria itu, tapi bukankah itu sangat tidak adil.

“Baiklah,” katanya sebelum menutup teleponnya.

Yesung berbalik dan memberikan ponsel yang ia gunakan tadi pada pemiliknya. Sesaat pria itu menengok ke beberapa arah dan sempat melihat sosok wanita tadi tengah berjalan keluar dengan membawa tas jinjingnya.

Pada akhirnya wanita itu juga pergi dari rumah ini. Tapi meskipun gadis itu sudah pulang, semua yang dia lakukan telah berakibat jauh. Ia telah membuat rencana pernikahan Sojin dan Hyukjae batal, lalu untuk apa wanita itu seperti terkejut jika semua ini memanglah keinginannya?

“Aku pulang,” kata Yesung lagi dan segera meninggalkan Hyukjae.

**

Hyeonmi mematikan mesin mobilnya, segera menambil tas jinjingnya tak ia letakkan di kursi samping, dan segera keluar dari dalam mobil untuk masuk ke dalam rumah. Namun belum sampai ia masuk ke dalam pelataran rumahnya, dua orang pria berjas hitam menghentikan langkahnya. Sesaat gadis itu berhenti dan mengamati sekitar, menemukan sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tak begitu jauh dari rumahnya. Dari dalam mobil itu kemudian seorang pria yang sama-sama memakai jas hitam keluar, dan menatap Hyeonmi dengan senyuman yang sedikit terkesan membunuh.

Dihembuskannya nafasnya berat dan kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain sebelum kemudian kembali menatap dua orang pria di hadapannya yang menghentikan langkahnya tadi, “Ada coffe shop di depan jalan sana, kalian bisa menungguku disana,” kata Hyeonmi, “Aku akan menyusul kalian disana nanti, setelah menemui anakku di dalam,” lanjutnya sebelum kemudian kembali melangkah masuk ke dalam pelataran rumahnya.

Pria-pria berjas hitam itu kemudian berbalik dan menemui pria yang ada di samping mobil tadi, memberitahukan pesan yang baru saja dikatakan Hyeonmi pada mereka. Beberapa saat kemudian pria-pria itu segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil mereka menuju coffe shop yang dimaksud oleh Hyeonmi.

**

Yesung masih ragu untuk mengetuk pintu rumah Sojin dan berniat untuk kembali saja ke rumahnya. Bukankah tadi Sojin hanya ingin ia segera pergi dari rumah Hyukjae, bisa saja apa yang dikatakan Sojin tadi hanyalah cara agar Yesung segera pergi dari sana.

Pria itu berbalik, namun baru lima langkah ia berjalan, kembali pria itu berhenti. Haruskah ia benar-benar pulang jika saat ini ia sudah berada disini? Bukankah seharusnya ia tetap masuk untuk melihat bagaimana sekarang kondisi Sojin. Pada akhirnya, Yesung kembali berbalik namun belum sampai tiga langkah, pintu rumah yang tadinya hendak ia ketuk sudah terlebih dahulu di terbuka.

Yesung terperangah melihat sosok yang berdiri di balik pintu tersebut. Park Sojin. keterkejutan yang dirasakan oleh pria itu bukanlah karena saat ini Sojin berdiri disana seperti apa yang ia pikirkan. saat dalam perjalanan ke rumah ini tadi, ia bahkan sempat menebak jika pasti saat ini Sojin tengah dalam kondisi yang benar-benar buruk, mungkin saja gadis itu mengunci dirinya di dalam kamar dan dengan kondisi yang benar-benar awut-awutan. Tapi saat ini justru semua perkiraannya sangt berbanding terbalik.

Saat ini Sojin bahkan tampak begitu baik, meskipun kedua matanya tampak sedikit bengkak mungkin karena efek menangis kemarin. Ia bahkan sapat melihat saat ini Sojin tampak memakai make up yang penuh untuk menutupi kelopak matanya yang membengkak. Selain itu, gadis itu juga mengenakan sebuah baju dress selutut berwarna merah dan juga high heels yang membuatnya terlihat sangat cantik.

“Kenapa kau lama sekali, hah?” tanya Sojin sambil mulai melangkah melewati Yesung menuju mobil pria itu.

Yesung yang masih tampak terkejut dengan cepat berusaha mengembalikan kesadarannya, dan menatap Sojin dengan penuh tanya kembali. Namun pria itu tak berkata apapun, melainkan hanya mengikuti saja Sojin yang kini tengah berjalan ke mobilnya.

Ketika sampai tepat di depan pintu mobil Yesung, gadis itu berbalik dan menengadahkan telapak tangannya, meminta kunci mobil tersebut agar diberikan kepadanya. Namun pria itu tak begitu saja memberikan kunci mobilnya pada Sojin, ia hanya melihat lebih dalam ke arah kedua bola mata Sojin.

Tatapanya yang tampak tajam karena memang memiliki bentuk mata yang bulat dan lebar, ditambah dengan lipatan kelopak matanya yang natural, berbeda dengan ia yang tidak memiliki lipatan kelopak mata. Lagi-lagi, ia harus menyadari bahwa kedua mata inilah yang menjadi awal bagaimana perasaannya pada Park Sojin tumbuh hingga seperti ini.

“Berikan kunci mobilmu!” perintah Sojin yang seketika itu juga seolah membuyarkan lamunan Yesung.

Yesung mengulurkan tangannya dan memberikan kunci itu, namun belum sampai benda itu sampai dan di raih oleh Sojin, pria itu sudah lebih dahulu menariknya kembali hingga membuat gadis di hadapannya seketika itu juga memperlihatkan wajah cemberutnya, “Apa yang terjadi? Apa yang akan kau lakukan dengan mobilku?” tanyanya.

Sojin memutarkan pandangannya sejenak sebelum kemudian kembali menatap Yesung, kedua ujung bibirnya sedikit terangkat dan kemudian mulai tersenyum pada lelaki itu. Ditariknya nafasnya dalam, lalu kemudian mulai menjawab pertanyaan pria itu, “Diam, dan ikuti saja aku,” ucapnya lalu menarik paksa kunci mobil Yesung.

**

Seorang pria dengan mengenakan jas berwarna hitam berdiri dari duduknya ketika melihat Hyeonmi yang telah masuk ke dalam coffe shop dan berjalan mendekat ke arahnya. Pria itu tersenyum, dan ketika langkah Hyeonmi telah sampai di hadapannya, ia membungkukkan badannya sejenak memberikan hormat kepada wanita itu.

“Lama tidak bertemu,” sambut pria itu, “Bagaimana kabarmu, nona Shin?” tanyanya pada Hyeonmi.

Mendengar sapaan hangat tersebut, Hyeonmi hanya tetap diam dan tak sedikitpun memberikan jawabannya. Ia tahu ini hanyalah sebuah sapaan kecil, dan inti dari pertemuan ini pasti akan sangat berbeda dari sapaan ini.

Ia masih sangat hafal mengenai sosok ini, dan mungkin memorinya tentang sosok ini tidak akan pernah sekalipun ia hapus dalam ingatannya. Enam tahun yang lalu, pria itu juga datang menemuinya seperti ini.

Mungkin saat itu ia masih menjadi sosok Hyeonmi yang bodoh dan rapuh, yang hanya bisa diam dan menjawab dengan hormat setiap perkataan dari pria di hadapannya ini. Tapi hari ini ia berbeda. Hyeonmi yang saat ini berdiri di hadapan pria itu bukanlah Hyeonmi enam tahun lalu yang merupakan gadis lugu dan mungki bodoh karena hanya diam menerima seluruh perintah yang bahkan sedikit banyak mengorbankan perasaannya.

“Nyonya menitipkan perintah kepadaku, untuk menemuimu lagi,” kata pria itu.

Nyonya? Wanita itu lagi kah yang ia maksud?

Tentu saja, siapa lagi jika bukan wanita itu. Bukankah enam tahun yang lalu semunya sudah cukup jelas terjawab di depan matanya. Siapa yang berkuasa, dan siapa yang memiliki kekuasaan maka akan dapat berbuat semau hatinya dan sesuka hatinya. Dan mereka yang tidak memiliki kekuasaan sedikitpun hanya akan diam dan menuruti segala perintah mereka.

“Dia tidak bisa menemuimu seperti dulu lagi, jadi beliau menitipkan ini kepadaku untukmu,” kata pria itu sambil mulai menggeserkan sebuah amplop putih besar ke depan Hyeonmi.

Hyeonmi melirik amplop itu sejenak, dan kemudian mulai menggerakkan tangannya untuk membuka isi amplop tersebut. Perlahan ia melirik isi di dalam amplop tersebut sejenak dan sama sekali tidak merasa terkejut ketika mengetahui isi di dalamnya.

Dua buah tiket pesawat menuju amerika dan juga beberapa lembar uang yang entah berapa jumlahnya, tetapi ia yakin jumlah uang tersebut mungkin akan sama dengan jumlah gajinya selama tiga bulan, atau bahkan mungkin lebih.

Semuanya sama, dan tampak seperti kembali terulang. Enam tahun yang lalu, ia juga berada di posisi ini dan diperlakukan seperti ini, bedanya saat ini wanita itu sendiri yang datang menemuinya dan memberikan beberapa ancaman padanya untuk segera pergi menjauh dari pria itu.

Flashback

Hyeonmi segera menutup amplop di dalam genggamannya lagi, dan mulai menatap tak percaya pada wanita di depannya. Bibirnya yang sejak tadi berusaha diam, pada akhirnya mulai bergetar karena terlalu gugup dan lagi kedua matanya yang sejak tadi telah berusaha untuk tak sedikitpun menangis pada akhirnya mulai berkaca-kaca.

“A..apa.. maksudnya ini semua?” tanya gadis itu.

“Anggap saja ini seperti sebuah penukaran,” jawab wanita itu santai, “Kau ambil uang ini, tapi sebaliknya ku harap setelah mengambil uang ini kau akan segera melepaskan anakku,”

Hyeonmi menggeleng cepat, dan tak berniat untuk menuruti permintaan wanita itu. Bagaimana ia bisa melepaskan sosok yang selama ini benar-benar dicintainya? Bagaimana bisa ia melepaskannya ketika kini pria itu juga belum mengetahui bahwa kini di dalam rahimnya telah hidup sebuah janin yang merupakan darah daging mereka berdua.

“Wae kau tidak bisa?” tanya wanita itu yang kemudian hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Hyeonmi.

Wanita paruh baya tersebut kemudian menghembuskan nafasnya berat dan mulai menyandarkan punggungnya kepada sandaran kursi dan kembali menata Hyeonmi. Ini bukanlah hal yang mudah memang untuk memuluskan tujuannya. Lalu apakah ia harus mengeluarkan jurus terakhir yang ia miliki? Tetapi bukankah itu sangatlah tidak bijak menggunakan orang lain untuk melancarkan keinginannya. Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan jika semuanya tetap seperti ini?

“Kudengar ayahmu bekerja di kantor perusahaan Cho Corp sebagai seorang staff ahli?”

Mendengar ayahnya yang mulai disebut, Hyeonmi segera mengangkat wajahnya dan menatap tak percaya pada sosok tersebut. Mengapa ayahnya harus disebut dalam pertemuan mereka saat ini?

“Apa kau tidak tahu bahwa Haeshin Group memiliki saham yang cukup tinggi di perusahaan tersebut?” kata wanita itu lagi, sementara Hyeonmi hanya bisa menunduk kembali dan menyadari bahwa kini peluru tersebut akan seger diarahkan kepada ayahnya, “Jika kau menuruti permintaanku, mungkin aku bisa membantu ayahmu untuk mendapatkan kenaikan jabatan di perusahaan tersebut, tetapi jika kau melakukan hal yang berbeda aku tidak bisa menjamin kelangsungan kerja ayahmu di perusahaan tersebut,”

Flashback OFF

Enam tahun yang lalu, setelah di perlakukan seperti itu gadis itu segera pergi dan sama sekali tidak mengambil sedikitpun uang yang diberikan kepadanya. Saat itu ia berlari dan menemui Jongsuk, melaporkan segala hal yang baru saja ia terima kepada pria itu hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah dan pindah ke Amerika, tempat dimana kedua orang tua Jongsuk saat ini menetap.

Atas pilihannya itu, sampai saat ini ayahnyapun masih bekerja di Cho Corp dan bahkan ia kini telah naik posisi dan berada di posisi Manager level atas. Tapi itu adalah keputusannya enam tahun yang lalu, haruskah ia kembali mengulang keputusannya saat itu?

Tidak ada lagi Jongsuk yang dapat ia mintai pertolongan seperti enam tahun yang lalu, dan bukankah saat ini ayahnya telah cukup tua jika harus terus bekerja di perusahaan tersebut. Sesungguhnya bukan suatu masalah jika saat ini ayahnya akan mendapatkan pemecatan di perusahaan tempatnya bekerja jika melihat usia saat ini memang sudah saatnya bagi ayahnya untuk pensiun dari pekerjaan. Bukankah ia juga bisa bekerja menggantika peran ayahnya saat ini?

Tapi perlakuan seperti ini benar-benar telah merusak harga dirinya. Seburuk itukah nilai seorang karyawan rendahan sepertinya sehingga orang-orang dengan kuasa seperti ini hanya memperlakukan ia seperti ini?

Dengan cepat kemudian gadis itu menggeser kembali amplop yang ia terima pada lelaki di hadapannya, menunjukkan penolakannya atas permintaan lelaki itu.

“Jika mereka ingin aku menjauh dari pria itu aku akan melakukannya,” jawab Hyeonmi, “tapi aku tidak butuh uang ini, aku masih mampu membeli tiket penerbangan ke Amerika dengan uangku sendiri,” lanjutnya.

Hyeonmi segera bangkit dari kursi yang di dudukinya dan sedikit membungkukkan badannya memberikan hormat pada pria itu sebelum kemudian ia berbalik dan mulai melangkah menjauh dan keluar dari kawasan coffe shop tersebut.

**

Gabriel lagi-lagi memencet beberapa angka pada telepon di ruang tengah rumahnya, namun setelah menunggu beberapa lama jawabannya masih sama. Sudah berulang kali bocah itu mencoba untuk menghubungi Hyukjae-Ahjushi-nya tetapi tak sekalipun teleponnya diangkat.

Mungkin pria itu sedang tidak ada di dalam rumah, dan bodohnya kenapa ia hanya memiliki nomor telepon rumah pria itu, kenapa selama ini ia tidak pernah meminta nomor ponsel pria itu. Seandainya ia memiliki nomor ponsel pria itu maka mungkin dalam kondisi darurat seperti ini ia akan bisa menghubungi pria itu dengan cepat.

Setelah berangkat ke kantor tadi pagi, tiba-tiba saja Mom menelepon ke rumah dan meminta ijin pada haelmoni untuk kembali ke Amerika dan hidup disana lagi. Terang saja Gabriel ingin menolak semua itu, tapi apa yang bisa ia lakukan. Ia tidak memiliki sedikitpun daya untuk menolak permintaan Mom.

Sementara di balik dinding ruang tengah tersebut, haelmoni hanya dapat menatap Gabriel yang masih terus berusaha menelepon seseorang yang entah siapa itu ia sendiri juga tidak mengetahuinya. Selama ini, wanita tua itu hanya tau bahwa ada seseorang yang benar-benar membuat Gabriel merasa bahagia ketika bocah kecil itu meneleponnya. Selama ini haelmoni juga mengetahui aktivitas Gabriel yang seringkali sembunyi-sembunyi menghubungi orang tersebut.

Dibalik itu semua, haelmoni dapat mengira bahwa orang tersebut mungkin memiliki pengaruh dalam hubungan antara Hyeonmi dan juga Gabriel, sehingga ketika kini putrinya meminta ijin kepadanya untuk kembali ke Amerika ia hanya berharap orang yang sedang dihubungi oleh Gabriel itu segera mengangkat teleponnya dan dengan cepat menemui Hyeonmi agar gadis itu mengubah keputusannya.

**

PD Kang menatap amplop bertuliskan pengunduran diri yang ia terima dari Hyeonmi. Untuk beberapa saat pria itu diam dan hanya menatap surat itu dalam-dalam, kemudian tatapannya beralih menatap Hyeonmi di meja kerjanya yang saat ini sedang mengemasi barang-barang miliknya.

Pria itu bangkit dan mulai berjalan mendekat ke arah Hyeonmi dengan geram setelah melihat wanita itu yang bahkan hingga saat ini ketika surat pengunduran dirinya belum ia proses telah berkemas seolah-oleh pengunduran diri tersebut akan segera ia kabulkan.

“Berdiri dan ikut aku sekarang.” Kata pria itu setelah sampai di hadapan Hyeonmi dan segera berjalan membawa gadis itu keluar kantor untuk mengatakan beberapa hal.

Hyeonmi yang awalnya tak mengerti kemudian bangkit dan mengikuti langkah senionya tersebut menuju taman yang terletak di depan gedung stasiun tv. Taman yang sudah dua tahun ini selalu menjadi tempat pelariannya ketika merasa terbebani oleh pekerjaannya, taman yang juga bahkan menjadi tempat paling nyaman untuknya ketika seluruh stres melanda dirinya.

PD Kang kemudian duduk pada salah satu ujung kursi dan menatap Hyeonmi, meberikan isyarat pada gadis itu untuk segera duduk di sampingnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Program Director tersebut pada Hyeonmi.

“Tidak ada, aku hanya ingin kembali ke Amerika,” jawab Hyeonmi.

“Kudengar dari salah satu staff keamanan kemarin kau bertengkar dengan seorang pria saat hujan deras,”

“Sunbae,” jawab Hyeonmi terkejut, namun belum sempat gadis itu mengatakan keinginannya, PD Kang kembali mengatakan sesuatu yang tidak mungkin lagi bisa membuat Hyeonmi menyanggahnya.

“Wae? Apa karena pertengkaran kalian sehingga kau memutuskan untuk kabur?” tanya lelaki itu, tapi Hyeonmi hanya diam, tahu bahwa saat ini seniornya tersebut tidak menginginkan jawabannya, ia hanya ingin Hyeonmi diam dan mendengarkan seluruh kalimatnya,

Hyeonmi-ah, banyak orang di luar sana yang lebih baik dari pasanganmu, dan mungkin karena itulah kau menjadi ragu dan berfikir untuk meninggalkan pasanganmu demi mendapatkan seseorang yang jauh lebih sempurna darinya, tapi kau tidak sadar bahwa di luar sana ada cukup banyak pula orang yang jauh lebih sempurna darimu, tetapi bukankah dia memilihmu?”

Seketika itu juga Hyeonmi diam lagi, mencoba mencermati dan memahami apa yang dikatakan senior Kang tersebut padanya. Sekeras apapun ia berusaha menolak kalimat tersebut, tetapi bukankah semua itu benar.

Pria itu memilihnya, Lee Hyukjae memilih Shin Hyeonmi dan meninggalkan Park Sojin yang jauh lebih sempurna darinya. Lalu akankah dia hanya diam saja ketika semuanya ini telah begitu jelas olehnya?

Bukankah Jongsuk juga telah mengatakan dengan jelas melalui mimpinya tadi pagi, untuk tidak melepaskan kebahagiaannya jika itu memanglah kepemilikannya?

**

Jung Deokmin melemparkan amplop berisikan tiket penerbangan ke Amerika dan juga uang yang baru saja ia terima dari salah satu orang suruhannya ke meja kerja suaminya. Amarahnya memuncak atas semua perlakuan suaminya kali ini yang benar-benar telah berada diatas titik batas.

Ia tidak pernah menghubungi orang suruhannya untuk pergi menemui wanita itu, tetapi apa ini mengapa tiba-tiba saja mereka melaporkan pertemuan mereka dengan Hyeonmi kepadanya? Siap lagi yang melakukan hal ini jika bukan suaminya, Presiden Haeshin Group, Lee Kangheon.

Enam tahun yang lalu ia memang pergi sendiri menemui wanita bernama Shin Hyeonmi itu dan memintanya sendiri untuk menjauhi putranya, tetapi pertemuan hari ini ia sama sekali tidak ikut campur. Sejak semalam ia masih berpikir tetang hubungan yang dijalani wanita tersebut dengan putranya, bukankah hubungan tersebut sudah enam tahun lamanya terpisahkan namun selama waktu perpisahan yang cukup panjang terseut faktanya mereka masih dipertemukan lagi, bukankah itu merupakan sebuah takdir?

Selama ini ia hanya mengikuti seluruh permintaan suaminya yang membuatnya seakan-akan menjadi seorang istri yang sangat patuh kepada suaminya hingga sama sekali tidak pernah mempertimbangkan bagaimana perasaan anaknya. Selama ini tidakkah ia sudah cukup banyak mengorbankan perasaan Hyukjae anaknya, hingga bahkan ia tidak bisa memiliki kebahagiaan bersama dengan orang yang ia cintai hanya karena keegoisan suaminya.

“Kenapa kau menggunakan orang-orangku untuk menemui wanita itu?” tanya Jung Deokmin.

Lee Kangheon mengangkat pandangannya sejenak dan sedikit membenarkan letak kaca matanya ketika menatap wajah penuh amarah istrinya. Hanya untuk masalah kecil seperti ini pantaskah seorang istri membentak suaminya?

“Kenapa kau selalu membuatku menjadi orang jahat untuk anakku sendiri?” kata wanita itu lagi.

“Apa yang kau bicarakan?” tanya pria itu santai.

“Terserah apapun yang kau katakan saat ini, bagiku kebahagiaan putraku adalah segalanya, jika dia memilih wanita itu maka aku akan membiarkannya, tak peduli kau menentangnya.” Kata wanita itu lagi dengan keras dan segera keluar dari ruang kerja suaminya.

Cepat wanita itu berjalan , menaiki tangga rumahnya menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Setelah sampai di dalamnya, ia segera membuka ponselnya dan mencari kontak nama Hyukjae dengan cepat, dan menghubungi putranya.

Waeyo? Jawab Hyukjae ketika mengangkat panggilannya.

Dari pintu mobil yang tertutup dan suara berisik jalanan, sepertinya saat uni putranya tersebut baru saja sampai dan memarkirkan mobilnya di depan rumah pribadi miliknya.

“Segera temui wanita itu, Hyeonmi.” suruhnya.

Tapi Hyukjae masih diam ketika ia selesai bicara, seprti kurang mengetahui dengan pasti apa yang dimaksudkan ibunya dengan memintanya untuk segera menemui Hyeonmi.

“Ayahmu baru saja menyuruh orang untuk menemui wanita itu, sepertinya mereka mengancam wanita itu untuk menjauhimu.” Katanya lagi.

Tak sampai semenit setelah ia menyelesaika kalimat tersebut, tanpa mengucapkan sepatah katapun Hyukjae segera mematikan panggilannya. Wanita itu tersenyum, merasa berhasil telah memberitahukan hal ini dengan cepat kepada anaknya.

**

Hyukjae berlari cepat menaiki satu per satu anak tangga menuju halaman rumahnya berniat untuk megambil sebuah jaket dari dalam rumahnya dengan cepat sebelum kemudian menuju rumah Hyeonmi. Setidaknya ia sadar, kondisinya yang baru saja demam semalam belum sepenuhnya membaik, dan untuk itulah ia tidak ingin berbuat lebih gila lagi dengan tidak membawa satupun cadangan untuk melindungi tubuhnya yang saat ini hanya berbalutkan kaos tipis.

Namun setelah mengambil satu jaketnya, pria itu berhenti mendengarkan dering telepon rumahnya. Diliriknya sesaat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan menyadari ini masih cukup siang jika menganggap itu adalah telepon dari Gabriel. Dengan cepat ia kembali melangkahkan kakinya sambil mulai mengenakan jaketnya untuk melindungi tubuhnya.

Tapi pikirannya masih berkecamuk, jarang ada orang lain yang menelepon ke rumahnya. Seringkali mereka langsung menghubungi ke ponselnya daripada menelepon ke rumahnya, dan hanya ada dua kemungkinan siapa yang akan menelepon ke rumahnya, sekertarisnya dan juga Gabriel.

Merasa tak nyaman pada akhirnya pria itu kemudian memutuskan untuk mengangkat telepon tersebut, dan seketika itu juga ia tercengang ketika mengetahui siapa yang mengangkatnya.

“Gabriel?” tebaknya setelah mendengarkan suara Gabriel.

Ahjushi, tolong aku. Kata Gabriel cepat.

Mendengar suara Gabriel yang terdengar tergesa-gesa tersebut, seketika itu juga Hyukjae merasakan panik yang mlai mendera. Tolong aku? Apa yang sedang terjadi pada Gabriel saat ini sampai ia berteriak meminta tolong seperti itu padanya?

“Wae? Waeyo?” tanyaya panik.

Kau menyukai Mom kan? Katakan padanya, yakinkan Mom untuk tidak kembali ke Amerika,

Kembali ke Amerika? Wanita gila, apa ini adalah salah satu skenario yang sengaja dibuat oleh keluarganya tadi untuk memisahkan mereka lagi. Dan Hyeonmi benar-benar gila, mengapa ia hanya diam dan menuruti hal gila tersebut.

Tidakkah ia melihat sedikit saja usaha dan keseriusan yang telah ia lakukan sejak kemarin untuk mendapatkannya kembali. Wanita gila.

Ahjushi, jebal. Katakan pada Mom.

“Gabriel dengarkan aku, sekarang juga, Ahjushi akan datang ke rumahmu, dan apapun yang terjadi kau harus ikut ahjushi, arra?”

Arraseo.

**

Yesung kembali tak percaya pada semua hal yang saat ini ia lakukan dengan Sojin. Sungguh ia tidak mengerti sama sekali apa maksud dari semua hal yang coba dikerjakan wanita ini padanya. Saat ini mereka sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, dan dari apa yang dilihatnya pada wanita itu ia sama sekali tak nampak sedih maupun kecewa atas seluruh pembatalan persiapan pernikahan kemarin.

Berbelanja? Yang benar saja, selama ini ia sangat yakin Sojin bukanlah tipe gadis yang akan memilih untuk berbelanja ketika ia sedang mengalami stres atau dan sebagainya. Mungkin memang ada beberapa tipe orang yang akan memilih jalan seperti itu ketika mereka tengah di hadapakan pada suatu permasalahan hidup, tapi tidak untuk Sojin.

Ia sudah mengenal Sojin cukup lama, dan selama ini ia sudah sangat mengetahui luar dan dalam tentang gadis itu. Wanita ini akan memilih untuk diam dan mengunci dirinya di dalam kamar ketika benar-benar sedang mengalami stres, dan hal ini berbeda kan dengan apa yang saat ini terjadi.

“Bukankah Ulsan cukup dekat dengan pantai? Jadi kau harus menyiapkan lebih banyak pakaian dingin.” Kata wanita itu sambil kembali memilih-milih baju yang ada di hadapannya.

Yesung menguap dan kemudian mulai mengucek salah satu matanya beberapa kali. Meskipun Sojin bukanlah tipe wanita yang gila belanja, akan tetapi tetap saja ketika seorang wanita sedang memasuki pusat perbelanjaan maka sifat naluriah itu akan muncul. Dan ia benar-benar merasakan lelah yang luar biasa ketika harus menemani Sojin yang seperti ini.

“Apa kau sudah mendapatkan rumah juga disana?” tanya Sojin lagi sambil menepuk pundak Yesung, mencoba membangunkan pria itu yang sudah terlihat sangat mengantuk, “Kau harus segera mengecek pemanasnya, sebentar lagi musim dingin akan segera tiba.” Lanjut gadis itu.

Lagi, Sojin kembali melangkahkan kakinya menuju tumpukan baju yang lainnya. Sementara Yesung kembali hanya menuruti gadis itu melangkah sambil membawakan beberapa pakaian yang sengaja dipilih Sojin tadi untuk dibelinya.

Namun langkahnya terhenti ketika Sojin mengehentikan langkahnya tepat di depan sebuah pasangan patung manekin yang sedang memajang sua buah baju souple. Sejenak gadis itu menyentuh kain baju tersebut dan kemudian mulai mengamati bahan tersebut lebih dalam.

“Waeyo? Apa kau berniat membelinya?” tanya Yesung. “Ini baju couple?” tanyanya lagi.

“Apa salahnya?” giliran Sojin yang bertanya, “Bukankah kau bisa memakai pasangannya nanti?” kata gadis itu kemudian.

Seketika itu juga Yesung terhenti dan seperti orang linglung. Apakah yang baru saja ia dengarkan itu adalah benar-benar perkataan Sojin? tidak mungkin. Bukankah selama ini gadis itu hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat, dan sekali lagi ia segera menepis pikiran tersebut.

**

Hyeonmi turun dari mobilnya dan berjalan pelan sebelum memasuki pelataran kediaman orang tuanya yang saat ini juga merupakan rumah tujuannya. Sedetik kemudian langkahnya terhenti saat pandangannya menangkap sebuah mobil Audi berwarna hitam milik Hyukjae yang juga berhenti tak begitu jauh dari kediamannya.

Nafasnya mulai berhembus berat, dan kemudian langkahnya yang tadinya ingin segera masuk ke dalam rumah beralih mendekat pada mobil tersebut dan segera menemui sang empunya mobil.

“Apa yang membawamu datang?” tanya Hyeonmi.

Hyukjae mengeratkan jaketnya lagi, dan dibalik itu semua Hyeonmi dapat menangkap wajah pria itu yang masih nampak sedikit pucat meskipun ini sudah jauh lebih baik dari kemarin malam ketika pria itu sedang demam.

“Gadis bodoh,” kata Hyukjae kasar sambil menatap tajam kearah Hyeonmi, “Aku mengambil Gabriel dan membawanya ikut bersamaku,” lanjutnya.

“MWO?”

“Wae? Bukankah kau ingin kembali ke Amerika?” seketika itu juga Hyeonmi diam, bagaimana bisa pria itu tahu tentang rencananya untuk kembali ke Amerika, sangat tidak mungkin jika orang suruhan ibunya tadi memberi tahu pria itu, “Gabriel tidak akan ikut bersamamu, pergilah ke Amerika dan tinggalkan Gabriel bersamaku,” kata pria itu lagi.

“Kau gila?”

“Ani, aku punya hak untuk membawa Gabriel bersamaku karena dia adalah anakku.”

PLAAAKKK. Seketika itu juga Hyukjae diam ketika merasakan kembali sebuah tamparan yang sengaja di daratkan Hyeonmi pada salah satu bagian pipinya. Kemarin hal yang sama juga terjadi padanya, wanita itu menamparnya dibawah guyuran air hujan, dan kemudian dengan cepat setelah insiden tamparan tersebut ia meraih gadis itu dan menciumnya.

Tapi kali ini ia tak mungkin lagi melakukan hal itu. saat ii ia benar-benar sedang marah pada Hyeonmi hingga bahkan sedikit saja dari perasaan cintanya tak bisa mengendalikan kekuatan amarahnya saat ini. Sesaat pria itu mengedarkan pandangannya, dan mulai menyadari bahwa tempat mereka berada saat ini bukanlah tempat yang strategis jika mereka ingin beradu pendapat.

Sekarang ini mereka sedang berada di sebuah perkampungan yang cukup padat penduduk sehingga jika sedikit saja mereka membuat kegaduhan maka mungkin saja warga yang berada di sekitar mereka akan segera keluar dan memergoki mereka berdua.

Hyukjae memutuskan untuk menarik paksa lengan Hyeonmi pada akhirnya dan mendorong tubuh gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Dengan cepat setelah memastikan gadis itu duduk dalam mobilnya, ia berlari menuju sisi pintu lain mobilnya dan segera menjalankan mobil tersebut menuju sebuah tempat yang dapat mereka gunakan untuk beradu pendapat tanpa harus mengganggu kenyamanan orang lain.

Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka berdua dalam perjalanan. Hyukjae memilih diam begitu pula dengan Hyeonmi yang juga diam. Tak ada satupun yang berusaha untuk mulai membuka percakapan dan segera menyelesaikan perselisih pahaman yang terjadi diantara mereka.

Hingga akhirnya mobil yang mereka kendarai berhenti di samping pantai yang menghadap langsung ke arah jalanan yang nampak cukup sepi, Oido. Hyukjae keluar lebih dahulu dari mobilnya dan berjalan menuju pintu mobil lain, membukakan pintu tersebut kepada Hyeonmi yang nampaknya tidak akan pernah keluar dari mobil itu jika ia tak membukakan pintunya.

“Keluarlah, mari kita bicara di luar.” Perintah Hyukjae.

Hyeonmi pada akhirnya keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Hyukjae ke sisi mobil bagian depan milik pria itu. Sesungguhnya diam yang ia pertahankan sejak tadi dalam perjalanan adalah lebih karena ia merasakan kecewa atas apa yang dikatakan pria itu padanya. ia kecewa karena pada akhirnya kalimat yang sempat ia takuti tersebut benar-benar keluar dari bibir Hyukjae.

“Bodoh,” kata Hyukjae lagi, “Tidak bisakah kau melihat pengorbanan yang kulakukan untuk membatalkan pernikahan?” kata Hyukjae pada akhirnya dengan nada yang sedikit keras dan terkesan membentak Hyeonmi.

“Apa ini juga yang terjadi enam tahun yang lalu, hah?” bentak pria itu lagi, “Apa mereka juga alasan yang membuatmu menyembunyikan fakta bahwa kau mengandung anakku?”

Hyeonmi diam, dan mulai merasakan tenggorokannya yang begitu berat menahan setiap kalimat yang rasanya ingin ia ucapkan. Sekuat tenaga gadis itu mencoba untuk diam, namun semakin ia menahannya semakin berat rasanya di tenggorokannya.

Apakah kali ini pra itu mencoba menyalahkan keputusan yang ia buat enam tahun silam? Jika memang saat itu apa yang ia ambil adalah sebuah kesalahan lalu harus seperti apa kebenaran yang ia ambil? Tetap bertahan pada pria itu setelah menerima semua penghinaan atas apa yang dilakukan oleh keluarga pria itu?

Seburuh itukah harga dirinya untuk memilih jalan itu? dia bukan orang segila itu, setidaknya sampai saat ini ia memiliki harga diri yang tinggi untuk tidak pernah sepeserpun menerima uang yang diberikan orang tua Hyukjae. Tapi saat ini apa yang dikatakan Hyukjae padanya sepertinya telah benar-benar membuat harga dirinya kembali terinjak-injak.

“Bodoh? Apa kau tahu bagaiman beratnya hidup yang ku lalui selama ini? Apa kau tahu bagaimana perjuanganku saat aku mengandung Gabriel? Apa kau bisa melakukan hal yang lebih baik dari Jongsuk selama ini? Apa kau bisa bertahan denganku jkka kau tahu setelah ini aku tidak akan bisa mengandung lagi? Apa kau kau bisa, hah?”

Apa dia pikir selama ini hanya ia yang menjalani hidup begitu berat? Pria itu salah. Selama ini ia juga menjalani hidup dengan berat dan bahkan mungkin lebih berat dari apa yang pernah dibayangkan pria itu. Terlebih lagi ia juga telah melakukan sebuah kesalahan besar karena telah membawa seseorang yang tidak memilikihubungan apapun dalam masalahnya menjadi terbebani, pria itu Lee Jongsuk.

Hyukjae mungkin tak pernah mengira jika perpisahan yang mereka lalui dulu membuatnya begitu terpuruk, bahkan saat hamil Gabriel ia harus berkali-kali masuk rumah sakit karena depresi dan stres yang terus menerus melandanya. Siapa orang yang paling terluka saat ini jika bukan Jongsuk?

Tidakkah seorang suami akan merasa kecewa jika melihat istrinya dalam masa pernikahannya sakit karena lelaki lain? Tapi Jongsuk bahkan tidak pernah sekalipun menunjukkan kekecewaannya tersebut, ia malah tetap bertahan di samping Hyeonmi, mendampingi wanita tersebut sampai masa pemulihannya benar-benar tiba.

Setelah kelahiran Gabriel di dunia ini, Hyeonmi benar-benar membuka matanya saat itu, bahwa ia memiliki tanggung jawab yang lain. Hidupnya bukan untuk memikirkan perasaannya sendiri semenjak itu, setidaknya ia memiliki seorang anak yang hjarus ia rawat dengan baik dan juga seorang suami yang harus ia rawat pula dengan baik sebaik pria itu merawatnya selama ini.

Semenjak itu, Hyeonmi bahkan berjanji untuk membalas seluruh kebaikan Jongsuk dengan balas mencintai pria itu. Namun menumbuhkan perasaan cinta pada seseorang yang selama ini benar-benar ia anggap sebagai seorang sahabat dan juga kakak baginya bukanlah hal yang mudah. Semua itu membutuhkan waktu yang sangat lama, hingga pada akhirnya ia benar-benar berusaha untuk memberikan hal lain yang akan sangat berharga pada pria itu, yaitu seorang anak.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Usaha yang mereka berdua lakukan untuk memiliki anak pada akhirnya gagal, Hyeonmi mengalami keguguran saat mengandung anak Jongsuk. Entah bagaimana penyebab klinisnya, yang ia tahu obat-obatan depresi yang pernah ia minum ketika mengandung Gabriel telah benar-benar merusak struktur rahimnya sehingga sangat sulit baginya untuk hamil kembali.

Tidakkah kenyataan itu seharusnya benar-benar membuat Jongsuk kecewa padanya? Bagaimana bisa setelah semua kenyataan itu ia akan diam saja jika sedikit saja pria ini menjelek-jelekkan Jongsuk di hadapannya?

Hyeonmi mulai menunduk, merasakan air matanya yang mulai turun dan jatuh ke bawah. Ia tak pernah sedikitpun berusaha untuk melupakan seluruh kenangan pahit ini dan setiap kali ia mengingat hal ini rasanya masih selalu sama, rasanya masih selalu menyakitkan seolah-olah ada sebuah pisau yang dengan sengaja menggores permukaan kulitnya.

Sementara Hyukjae masih diam beberapa saat, mencoba mencerna kembali setiap kata yang baru saja diucapkan oleh Hyeonmi. Rasa terpukul itu kembali memenuhinya, lagi-lagi ia telah membuat wanita itu menangis. Apa hanya ini yang bisa ia lakukan untuk Hyeonmi? Tak adakah hal lain yang bisa ia berikan selain tangis pada wanita ini?

Pria itu beranjak, dan mulai merengkuh tubuh Hyeonmi, sepertinya telah begitu banyak hal yang ia lewatkan dalam hidup Hyeonmi selama ini hingga mungkin beratus kalipun kalimat maaf itu nantinya ia ucapkan tak akan ada satupun yang mampu untuk menebus semuanya.

“Mianhae, mianhae Hyeonmi-ah..” ucapnya sambil mendekap erat tubuh Hyeonmi, “Aku hanya tidak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya, mianhae.”

Hyukjae kemudian melepaskan pelukannya dan beralih mendekap wajah Hyeonmi dengan kedua tangannya. Ditatapnya dalam-dalam wajah gadis itu yang masih menangis dan meunduk seolah tak ingin sedikitpun balas menatapnya.

“Aku tidak peduli tentang apapun keadaanmu saat ini, aku hanya ingin kau kembali padaku,” pria itu tersenyum, berusaha menenangkan Hyeonmi yang masih terisak, “Maukah kau kembali padaku?” pintanya kemudian.

Hyeonmi tak segera menjawab permintaan tersebut, ia masih mempertimbangkan semuanya permintaan itu untuk saat ini. Mungkinkah ini yang dimaksud Jongsuk semalam dalam mimpinya? Haruskah ia menerima uluran tangan Hyukjae yang memintanya kembali?

Ia yakin jika sampai detik ini ia masih memiliki perasaan untuk pria ini, selain itu bukankah Gabriel juga tampak begitu menyayangi lelaki ini? Tapi bukankah tadi ia telah megatakan pada orang suruhan keluarga Hyukjae untuk menjauhi pria ini?

“Mari kita hadapi semua ini bersama, kau dan aku, dan juga Gabriel.” Kata Hyukjae lagi meyakinkan Hyeonmi.

Hyeonmi menangguk, menyetujui permintaan Hyukjae untuk kembali bersamanya dan menghadapi semuanya bersama-sama. Sementara Hyukjae yang tak dapat lagi membendung rasa bahagianya melihat jawaban tersebut kembali merengkuh tubuh Hyeonmi, memeluknya erat seolah tak ingin terpisahkan lagi.

**

Sojin mengaitkan tangannya pada salah satu lengan Yesung sambil berjalan menyusuri beberapa aoutlet pertokoan di tempat perbelanjaan yang mereka tuju saat ini. matanya masih melihat ke segala arah, mencoba mencari beberapa perlengkapan dapur yang belum sempat ia datangi tadi.

Gadis itu mengentikan sejenak langkahnya ketika mendengarkan ponselnya mulai berdering. Tangannya dengan sigap merogoh isi dalam tasnya, mencari letak ponselnya dan dengan segera mengangkat panggilan tersebut.

“Yoboseyo?” jawab Sojin saat mengangkat panggilan tersebut.

Gadis itu melepaskan kaitan tangannya pada Yesung sejenak dan bergera beberapa langkah menjauh dari Yesung sebentar sambil memberikan isyarat pada lelaki itu untuk menunggunya.

Yesung mengangguk dan membiarkan Sojin pergi untuk menyeleseian panggilannya tersebut, sembari kedua matanya tetap memperhatikan ke sekeliling dan kemudian berhenti pada barang belanjaannya dengan Sojin yang sampai berjumlah lima buah tas besar ini.

Semuanya berisi pakaian-pakaian musim dingin yang sengaja dipilihkan Sojin untuknya. Katanya ini untuk berjaga-jaga nanti ketika ia telah benar-benar pindah ke Ulsan, karena letak kota tersebut yang dekat dengan pantai maka angin musim dingin akan lebih besar mengarah ke daratan.

Rasa herannya pada gadis itu beum sepenuhnya terjawab, akan tetapi ketika ia meminta penjelasannya pada Sojin sama sekali tak ada jawaban dari gadis itu selain hanya permintaan untuk mengikuti saja semua yang ia katakan hari ini.

Pria itu menoleh lagi, melihat Sojin yang masih sibuk dengan percakapannya di telepon. Sepertinya itu adalah panggilan biasa dan tidak terkesan penting karena dari raut wajah Sojin saat ini ia nampak begitu tenang dan sesekali mengumbarkan senyum.

“Ne, jeongsohamnida sudah merepotkanmu,”

Sojin menutup panggilannya dan kembali memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas, lalu ia berjalan ke arah Yesung dengan memberikan senyuman yang sama seperti yang ia berikan tadi ketika berada dalam sambungan telepon.

“Nugu?” tanya Yesung.

“Wedding Organizer.” Jawab Sojin singkat lalu kemudian kembali berjalan ke depan.

Wedding Organizer? Apakah itu artinya Sojin masih berhubungan dengan mereka? Atau mungkin itu tadi adalah permintaan pembatalan rencana pernikahan yang sempat dirancang Sojin selama beberapa waktu terkahir ini.

Merasa tak ingin memikirkan hal itu lebih dalam lagi, Yesung mulai melangkahkan kakiny mengikuti Sojin yang sudah berjalan cukup jauh di depan. Namun ketika jarak mereka hanya tersisa lima langkah secara tiba-tiba gadis itu berhenti dan berbalik menatap Yesung.

Sontak saja Yesung yang seperti mendapatkan serangan secara tiba-tiba itu langsung berhenti dan menatap canggung ke arah Sojin. Beberapa kali kemudian pria itu memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba menghindari kontak mata secara langsung dengan gadis itu.

“Yesung-ah, aku belum membatalkan semua persiapa pernikahanku.”

“Mwo? Tapi bukankah?”

“Kau ingat kan? Menikah di musim gugur adalah salah satu keinginanku, jadi maukah kau menggantikan Hyukjae untuk menjadi pengantin priaku?” Sojin mulai mendekat kepada Yesung dan meraih satu tangan pria itu dan menggenggamnya.

“Sojin-ah, apa kau gila?”

“Ne, aku gila. Aku gila karena menganggapmu selama ini adalah sahabat baikku,” gadis itu berhenti sejenak dan mencoba mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan kalimatnya, “Saat kau bilang ingin pindah, saat itu aku menyadari bahwa aku membutuhkanmu lebih, bukan hanya peranmu sebagai seorang sahabat tapi lebih dari itu,”

Tanpa menunggu gadis itu melanjutkan kalimatnya lagi, Yesung segera meraih tubuh Sojin lagi dan mendekap erat dalam pelukannya.

**

END

**

Epilog

 

“Yak, apa kau gila? Jangan berjalan secepat itu. Ingat, saat ini kau sedang hamil.” Protes Hyukjae saat melihat Hyeonmi yang berjalan cepat setelah keluar dari mobil.

Sementara Gabriel yang juga keluar dari pintu mobil bagian belakang hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan berat ketika menyadari kedua orang tuanya ini lagi-lagi beradu pendapat karena masalah kehamilan.

Mereka selalu seperti itu, beradu pendapat dan tak pernah memperdulikan dimana tempat mereka berada, seperti saat ini ketika mereka telah sampai di depan gedung pernikihan yang hari ini digunakan oleh Yesung dan juga Sojin.

Pada akhirnya tanggal ini tetap digunakan Sojin untuk melangsungkan pernikahannya, bukan dengan Hyukjae tetapi dengan Yesung, orang yang selama ini hanya ia anggap sebagai sahabatnya tetapi kini telah benar-benar menjadi suaminya.

“Heish, jangan berhentilah mengomel, bukankah sejak tadi aku sudah menuruti semua perkataanmu untuk tidak mengenakan dress pendek, high heels dan lain sebagainya,” protes Hyeonmi yang tak terima lagi.

Dua bulan yang lalu, sepulangnya dari pantai Oido dan kembali bersama, Hyeonmi dan Hyukjae memutuskan untuk melakukan pemberkatan pernikahan pada hari itu juga dan segera melegalkan penikahan mereka di kantor administrasi.

Itu adalah jalan yang mereka ambil, karena tidak mungkin mereka akan bertahan dan menunggu sampai restu dari ayah Hyukjae turun. Satu-satunya cara agar mereka tetap bisa bersama adalah menikah dan setelah itu ayah Hyukjae tak akan bisa sedikitpun berkutik karena mereka telah benar-benar terikat secara sah baik agama maupun hukum negara.

“Appa, Mom, sampai kapan kalian akan ribut?” tanya Gabriel yang sejak tadi hanya mengamati kedua orang tuanya yang berselisih paham tersebut.

Gabriel tahu bahwa apa yang diributkan oleh orang tuanya saat ini adalah untuk kebaikan, dan selama ini ia juga sudah terbiasa mendengarkan hal semacam ini terjadi diantara kedua pasangan ini. Hanya saja, waktu dan tempat dimana mereka berada saat ini bukanlah yang terbaik. Ada begitu banyak tamu undangan yang bisa saja langsung menatap heran kearah mereka bertiga jika kedua orang ini terus saja beradu pendapat.

“Haelmoni.” Teriak Gabriel kemudian ketika tatapan matanya saat itu juga melihat ke arah Jung Deokmin yang berada di salah tengah-tengah tamu undangan lainnya.

Wanita tersebut menoleh seketika mendengar panggilan dari Gabriel dan kemudian tersenyum melihat bocah itu berlari ke arahnya. Kedua tangannya di kepakkan ke samping, menyambut cucu pertamanya tersebut dan segera ia memeluk tubuh Gabriel. Sementara Hyukjae dan Hyeonmi yang awalnya masih berdebat seketika itu juga berjalan mengikuti kemana Gabriel berlari.

“Anyyeonghaseo, aboji, eomoni.” Kata Hyeonmi kepada kedua mertuanya tersebut.

“Bagaimana kondisimu? Apa kau baik-baik saja?” tanya ibu Hyukjae kemudian.

Satu-satunya restu yang belum sempat di dapatkan oleh Hyukjae dan juga Hyeonmi hanya berasal dari ayah Hyukjae, Lee Kangheon. sementara ibu Hyukjae sejak hari ini telah memberikan restu kepada Hyeonmi dan bahkan ia sangat menerima kehadiran Gabriel. Begitu pula untuk calon bayi yang kini telah berada di dalam rahim Hyeonmi, wanita tersebut bahkan sangat memperhatikan seluruh hal untuk menjaga kesehatan janin tersebut.

Mengingat bagaimana kondisi Hyeonmi sebelumnya yang pernah divonis tdak akan bisa hamil lagi, tapi nyatanya saat ini wanita itu masih bisa hamil, wajar saja jika keluarga, suami, dan juga ibu mertuanya begitu memperhatikan kondisi Hyeonmi. Mereka bahkan tidak mengijinkan wanita itu untuk kembali bekerja di stasiun tv seperti dulu, dan hanya membiarkan Hyeonmi untuk menjadi seorang ibu rumah tangga.

“Kalian berdua ini,” Lee Kangheon seketika itu juga bersuara melihat pasangan Hyeonmi dan juga Hyukjae, “Apa kalian berencana mempermalukanku dengan datang ke acara ini bersama? Tidak ada satu orangpun kolega bisnisku yang mengetahui kalian telah menikah. Untuk itu, mulai besok segera persiapkan pesta perniakahan kalian.” Lanjut pria itu.

“Appa, apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?” tanya Hyukjae yang sedikit tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar.

Mempersiapkan pesta pernikahan itu artinya ayahnya telah memberikan restu kepada Hyukjae dan juga Hyeonmi.

“Kamsahamnida aboji, kamsahamnida.” Kata Hyeonmi kemudian.

 

FIN

1 Comment (+add yours?)

  1. Shin Ji Ki
    May 17, 2015 @ 09:42:30

    Ah gomawo-yo author ffnya happy ending

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: