I Find New Something

i find you

Title       : I Find  New Something

Author  : RestiHida

Cast       : Cho Kyuhyun

                  Shin Hee Young– OC

                  Kang Hyun Chan- OC

Rating   : PG-15, Oneshot

Genre   : Sad, friendship, ect.

Note : all story is mine, No Copas, No Plagiat. Cast (OC) is mine.TYPO flying everywhere! Take care

Happy reading—

 

Aku tersenyum getir  kala mengingat betapa menyakitkannya  kisah persahabatanku. Dia yang selalu baik dan diam di hadapanku, ternyata menilai ku jauh berbeda dari apa yang sering ia tunjukan. Nyeri sekali, dadaku seperti mendidih ketika mengetahui  kenyataan yang kudapati beberapa hari yang lalu. Sudah satu bulan, hubungan persahabatan kami semakin merenggang, bahkan aku pun sama sekali  tak menegurnya. Begitu juga dengan dia.  Hyun Chan, Kang Hyun Chan—dia adalah sahabatku. Ah lebih tepatnya mantan sahabatku.

Apa yang terjadi?

Hari itu aku hanya merasa risih dengan hubungan Hyun Chan dengan kekasihnya. Mereka mengaku sudah berakhir, tetapi secara terang-terangan begitu tampak mesra di depan ku. Aku, bukan lah cemburu. Karena pernah kulihat kekasihnya itu sedang bermesraan dengan gadis lain. Ingin sekali mengatakan fakta tentang itu. tapi aku tak bisa menyakiti hati sahabatku. Jadi Aku hanya mengingat bagaimana sakitnya pengalaman ku saat aku menjalin sebuah hubungan bersama seseorang yang tak jelas seperti apa hubungan kami. Itu sangat sakit. Aku hanya tidak ingin sahabatku, tidak—tapi Hyun Chan mengalami hal yang sama menyakitkan seperti ku. Aku hanya tidak ingin dia tersakiti saja. Tapi faktanya, dia mengaku tepat didepan ku. Bahwa dia sudah memulai hubungan  kembali dengan Pria ‘sialan’ itu.

Flashback

Malam yang kelam menemaniku saat aku sedang asyik menikmati udara. Lalu tak sengaja aku bertemu Hyun Chan. Melihatnya aku ingin menangis saja, aku memarahinya tak ingat tempat apa itu.

“Kau ini perempuan macam apa ha? Jangan memulai hubungan dengan seseorang tanpa tahu status kalian.  Berkedok dobalik kata teman? Hah, itu akan menyakiti mu Hyun!”

“Aku memulainya kembali. Tidak ada yang tahu hubungan kami.” Tuhan—kutukan apa ini. Seketika tenggorokan ku tercekat .  Aku tak tahu harus bicara apa padanya. Tapi, aku sadar telah  membuat percakapan kami seolah aku memancing Hyun Chan. Mungkin inilah titik kesalahannya.

“Ah,, jadi kau kembali padanya. Bagus Hyun Chan-ah, kau sama sekali tak bercerita padaku. Kau sengaja merahasiakan hal ini. Oh tuhan, menurutmu siapa aku? Ah benar—aku bukanlah apa-apa bagimu Hyun Chan.”

“Ya, haruskah aku bercerita semua tentang ku. Kau selalu saja ingin tahu semuanya, aku tidak ingin bercerita pada mu, kau aneh. Selalu melakukan hal aneh yang membuatku  sangat tak nyaman.”

“Apa? Aku aneh—kau bermuka dua Hyun Chan.”

“Sadarlah Youngie, kau selalu melakukan hal aneh yang membuat masalah ku bertambah rumit.”

“Hyun—Kau benar-benar.  Aku kira kau tulus menerimaku apa adanya sebagai sahabatmu. Tapi—“

“Terserah kau saja, aku lelah. Kau selalu ingin tahu semuanya.”

“Bahkan aku banyak tak peduli Hyun, tapi kau—baiklah, terserah. Aku memang bukan siapa-siapa.”

“Ouh bagus, terimakasih atas ucapan mu.”

“Ya! Terimakasih atas kemunafikan mu  juga!”

Flashback end-

Oh tuhan— apalah artinya aku untuk sahabatku itu. aku hanya ingin mendapat kepercayaan dari seseorang untuk berbagi rasa suka maupun duka. Aku ingin melewati semua itu bersamanya. Tapi dia berubah. Dia hanya menganggapku orang aneh yang berkeliaran seperti makhluk liar di hidupnya. Dia tak pernah sedikitpun untuk mau  mempercayaiku, bahkan aku membuat hidupnya tak nyaman.  Dan faktanya dia memilih orang lain sebagai pilihan atas rasa nyamannya. Aku—aku hanya merasa dia menjauh dan meninggalkan aku. Aku takut kelilangannya seperti itu. Dan sekarang, aku sudah kehilangan dia dalam hidup ku.

Kau tahu betapa sakitnya itu? setelahnya aku menangis. Mengapa begitu menyakitkan untuk ku. Dan lagi—apa dia merasakan hal yang sama dengan rasa sakit ku. Atau dia tetap menganggapku sebagai ‘Orang aneh’.  Aku sungguh  baru menyadari hal itu, kenyataan bahwa ia menganggapku lain di dalam dirinya.  Hyun Chan-ah—kau jahat.

Berat rasanya pergi kesekolah jika harus melihat dirinya lagi. Haruskah aku selalu mendiami mantan sahabatku, haruskah aku memasang wajah palsu itu untuk menutupi rasa kecewa ku. Tidak bisakah sekali saja dia mengerti aku, dia hanya melihat dari sudut pandangnya saja tanpa melihat dari sudut pandang ku. Selama ini aku berusaha mengeluarkan apa yang ingin aku katakan padanya, baik sikapnya ataupun cerita-cerita kecilku yang mampu kubagi padanya. Tapi tidak dengan dia, dia tak mempercayai aku. Mungkin bisa dihitung berapa kali ia akan bicara tentang pribadinya padaku. Mungkin dimana ia tak tahu harus  bicara pada siapa, dan akulah pelarian untuknya.  Miris bukan?

Terkadang aku menatapnya, tapi dia tak memperhatikan. Dia sama sekali tak peduli bagaimana perasaan ku.   Apa aku seburuk itu dimatanya? Aku adalah tipe gadis yang kasar. Bagaimana tidak, aku dididik dengan keras oleh orang tuaku. Aku hanya merasa aku punya benteng untuk membuat diriku sendiri merasa aman dengan cara seperti ini. Aku bukan lah gadis kuat, aku mengakui aku lebih lemah. Aku bisa menangis sesenggukan karena hal sepele. Hatiku tak sekuat itu. sungguh.

Terkadang aku berfikir, apakah teman-teman ku merasa tersakiti karena kata-kata dan tindakan kasar ku. Tapi bukankah itu lebih baik? Aku selalu mengucapkan apa yang ingin aku katakan, apa yang sedang aku pikirkan. Aku tak ingin membicarakan orang lain di belakangnya, karena aku tahu perasaan seperti itu sangat sakit.  Aku berusaha untuk tetap menjadi diriku sendiri, dan aku melakukannya bukan?  Apa yang kalian lihat bukan aku yang sesungguhnya. Aku hanya ingin satu orang saja memperhatikan aku. Menghangatkan dunia ku. Aku butuh orang seperti itu. Tapi sulit sekali aku mendapatkannya, bahkan setelah aku hampir berhasil, dia terlepas dari genggaman ku begitu saja. Ya, aku tidak bisa lagi mempertahankannya, karena dia tak menginginkan hal itu lagi.

Saat memasuki ruang kelas pun tidak ada yang menyambutku, satu orang saja. Aku merasa asing berada di kelas ku sendiri. Aku tidak tahu, yang manakah teman atau musuh ku yang sesungguhnya.

Hari ini cerah sekali, tapi bernding terbalik dengan suasana dalam hatiku. Teman-teman berbondong-bondong keluar kelas untuk makan siang. Tapi aku tak berselera untuk pergi memesan makanan di cafeteria. Jujur, walaupun perut ku terus meronta, tetapi aku enggan untuk bergerak. Sulit. Lagi- kata itu yang mewakili hari-hari ku.

Hanya ada beberapa orang yang tinggal di dalam kelas. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. tak menghiraukan satu sama lain. Ngeri, haruskah aku hidup di zaman yang kurang akan sosialisasi seperti ini.  Syukurlah tak ada tambahan masalah di rumah, jika sampai terjadi. Kemungkinan kau akan menemukanku di Rumah sakit.

Suasana atap gedung sekolah memang yang terbaik untuk ku. Angin lembut pun menggelitik di sekitar permukaan wajah ku, aku merentangkan tangan ku menikmati setiap sentuhannya. Tubuhku nyaris  dan tepat sekali di sisi pembatas atap setinggi pinggang orang dewasa.

“Jangan lakukan itu!”

Seseorang berteriak memeluk tubuh ku erat dan tiba-tiba. Ada apa, apa yang jangan kulakukan?

“Bi—sa—kau lepaskan? Perutku seperti tanpa oksigen.”

Dia berhenti, melepaskan pelukannya terkejut. Terlihat sekali wajahnya merona malu.

“Apa yang kau lakukan Cho Kyuhyun? Syukurlah kau tidak membuatku terjatuh, tadi.”  Ungkap ku sedikit kesal.

Dia tersenyum malu “Maaf, kukira kau ingin bunuh diri.” Ungkapnya “Yah—kau juga membuat ku salah paham—kau melakukan seperti ini.” Dia meniruku, merentangkan tangan panjangnya. Menggelikan.

“Ahaha,,,– aku tidak sebodoh itu. ya pabbo—kau mengikutiku? Bagaimana kau tahu aku disini?”

“Percaya diri sekali kau. Aku hanya ingin mencari suasana tenang  untuk membaca buku ku.” Dia mengarahkan buku tebal miliknya di depan wajahku  “Di bawah banyak pengganggu. Tapi di atas justru ada monster.”

Dia benar-benar jujur dan orang yang pertama membuatku selalu kewalahan untuk menjawabnya.

“MONSTER?—ya Pabbo, kemari kau!” Dia berlari menghindari ku, syukurlah. Aku benar-benar bersukur dia melarikan diri walau jaraknya tak begitu jauh di hadapan ku, jika tidak jangan harap dia akan pulang dengan wajah berseri. Pria itu akan mendapat jejak biru di wajahnya. Aku bersumpah untuk itu. Dia terus saja memancing di air keruh.

Kyuhyun selalu saja menggoda ku. “Ya—pabbo  kemari, tangkap aku! Gadis bodoh. Kemari kau penyihir!”

Betapa menyebalkannya pria itu.  Aku  berusaha mengejarnya berkali-kali, tapi gagal. Jelas saja ia lebih lincah dibandingkan gadis sok kuat seperti ku. Dia seorang atlet di sekolah kami.  Lari,  mungkin itu hidupnya.

“Ya—Ya—Aku menyerah Cho Kyuhyun. berhenti—ber—henti.” Aku benar-benar lelah, nafas pun seperti putus saat melewati kerongkongan.  Aku menopang tanganku di kedua lutut, membungkuk ingin menormalkan nafas ku kembali. Dia menatap ku, begitupun aku. Tertawa, kami tertawa bersama sama menyadari hal bodoh yang telah kami lakukan.

Ini sudah satu jam berlalu, bahkan jam pelajaran sudah di mulai setengah jam yang lalu. Dan kami, masih bergeming di atas atap sekolah. Duduk menyender di pembatasnya. Ya, kami membolos. Izinkan kami, sekali saja. Terkadang aku juga merasa bosan harus berhadapan dengan pelajaran-pelajaran itu. aku tak pernah mendapat waktu luang untuk sekedar berstirahat. Ah tidak—saat sakit. Itu waktu istirahat paling menyakitkan untuk ku. Hanya itu.

“Kau tidak apa membolos?”

Dia menatapku lalu tersenyum, “Kau sendiri?”

“Entahlah, tapi hanya ingin saja.”

“Kau suka apa?” Kyuhyun bertanya asal. Apa maksudnya bertanya seperti itu. aku tak mengerti arah pembicaraannya.

“Dalam hal?”

“Olah raga. Mungkin—“

“Lari—sama seperti mu. Kau?” Ucapku jujur. Tak ada niatan yang terbesit dalam benakku untuk mengikuinya.

“Tentu saja lari Pabbo!” Satu jitakan mendarat di kepalaku. Hei—kau tahu ini sakitkan. Bodoh.

“Yak– !!”

“Haha—kau ingin apa?” Tanyanya lagi. Aku menunduk mengingat mantan sahabatku. Haruskah aku menjawab pertanyaan Kyuhyun?

“Shin Hee Young, Kau baik?” Lanjutnya terdengar khawatir di telinga ku.

“Ya aku baik Kyuhyun, aku hanya—“ Aku menjeda kata-kataku yang masih syarat keraguan. Tapi Kyuhyun tetap setia menatapku, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut ku. “Hanya ingin seseorang tak lagi meninggalkan aku. Selamanya, aku ingin orang seperti itu tetap disampingku.” Jawabanku membungkam mulut Kyuhyun.

“Emm—bolehkah aku menjadi orang itu?” Dia bertanya ragu beberapa saat kemudian. Ia mungkin takut mengatakannya. Tapi aku mengerti jika ia sangat yakin dengan tawarannya. Benarkah, benarkah ia  ingin. Tapi aku takut hal itu terulang lagi.

“Aku—“

“Ayo lari bersama, terus melangkah kedepan dengan kekuatan yang kita miliki. Berlari, kita tidak akan melangkah kebelakang, karena berlari ada tujuan yang menunggu di depan. Bukan mengulang langkah yang sudah menjadi jejak.”

Aku tertegun  dengan kata-kata itu. dari mana ia mempelajari hal bijak seperti itu. Kyuhyun bukanlah penyuka hal –hal  seperti itu.

“Kadang kita juga perlu belajar dan membaca arti hidup.” Lanjutnya lagi. Dia benar-benar mengerti jalan pikiran ku. Ucapannya, sepenuhnya aku sangat setuju.

Terkadang  kita harus sedikit membaca, ya walaupun sedikit, asalkan itu cukup untuk membuat hidup kita lebih berarti.

“Jadi karena itu kau menyukai lari.” Aneh, aku faham dengan apa yang Kyuhyun bicarakan, tadi. Tapi aku berusaha untuk berpura-pura tidak mengerti.

“Ohhoo,, tentu saja. Bagaimana dengan mu?” Lihat, dia justru melayani apa yang aku tanyakan. Dia tidak marah, aku baru menyadari betapa memahaminya dia terhadap diriku.

“Lari, itu seperti aku meninggalkan beberapa luka dan meninggalkan jejak yang tak sempurna. Jejak yang tak tercetak dengan sempurna. Aku senang bisa meninggalkannya. Itu seperti berlari diatas angin.”

Kami bergeming setelah penjelasan ku. Saling menatap lurus kedepan. Saling memaknai hal yang terjadi hari ini dan kemarin. Mencoba untuk menatanya kembali esok pagi. Ku harap, aku bisa bangun dan mengihirup udara segar besok pagi. Kembali merasakan dinginnya air yang menyengat saat aku bangun tidur esok pagi.

“YAK SHIN HEE YOUNG, CHO KYUHYUN!!!”

“Oh matilah kita Kyuhyun, Jang Songsaengnim memergoki kita membolos.”

“Santai saja. Ayo pergi. Berpura-puralah kau menyesal didepannya. Arrasseo!

Ya—pabbo. Pria ini terkadang  lebih menyebalkan dari pada berurusan dengan bibi-bibi cerewet yang menjadi tetangga ku. Tapi itulah Kyuhyun, seseorang yang menawarkan diri  untuk menjadi orang yang ingin terus berada disampingku. Apa artinya? Aku tak tahu, tapi akan  Kita jalani saja dulu. Dan Aku menyukai caranya, ia membuatku hangat  dan nyaman dalam sekejab saja. Ah, seperti nya aku terlalu jauh memikirkan pria itu. Terimakasih, aku mendapatkan pengganti yang lebih baik sepertinya.

Aku tersenyum, mengangguk untuk saran Kyuhyun. Dia pun tersenyum, lalu membantuku berdiri.

“YAK! Dasar bocah nakal. Ikut aku dan terima hukuman kalian!” Tiba tiba Jang Saem berada diantara kami. Dia menarik telingaku dan juga Kyuhyun.  Ketempat terkutuk  itu, pasti kami dibawa keruang konsultasi. Menyebalkan!

Karena Hidup adalah tanggung jawab. Kita harus menerima konsekuensinya. Apapun itu.

End——

 

Hai—ini FF pertama yang kukirim ke sini. Gaje ya ceritanya? Ya! Tapi please, don’t bash ok. Seburuk apapun tolong komentarnya ya, berupa kritik dan saran pastinya.

Oya, kalau mau baca beberapa ff aku (Kyuhyun) kalian bisa ngunjungi blog aku Chochoblue.wordpress.com (Jangan lupa komentar)

 

6 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Apr 24, 2015 @ 18:42:05

    Endnya manis banget…..

    Reply

  2. shoffie monicca
    Apr 24, 2015 @ 19:36:29

    cari shbt meng sush tpi klo cri kwn itu gmpng…

    Reply

  3. esakodok
    Apr 24, 2015 @ 21:15:48

    benerr bgt…sahabat itu susah dicari ..dan q belum nemuin sahabat yg bener2 sahabat..dan q juga blm bisa jd sahabat…
    argh..endnya bikin adem

    Reply

  4. jung dong in
    Apr 25, 2015 @ 06:19:55

    maknanya dalem sih😀

    Reply

  5. sastianur407
    Apr 25, 2015 @ 08:47:13

    Hay… Aku readers baru. Ff nya bagus banget! Apa yang ia rasakan seperti yang ku rasakan saat ini. Ending nya bagus banget. Pada akhirnya Shin Hee Young mendapat seorang sahabat.

    Reply

  6. Yumi
    Apr 28, 2015 @ 18:12:30

    Ini bener² nyeritain kisah hidup aku (?) loh??
    Emg bener sih nyari sahabat yg bener² sahabat tuh susah banget.. aku suka banget kata² yg “Saat memasuki ruang kelas pun tidak ada yang menyambutku, satu orang saja. Aku merasa asing berada di kelas ku sendiri. Aku tidak tahu, yang manakah teman atau musuh ku yang sesungguhnya.”
    Terus berkaryaa~~ semangatt ^^)9

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: