[Season 4] Summer, I Love You So Much! [2/?]

Season 4

 

[Season 4] Summer, I Love You So Much! (Part 2)

By. Lauditta Marchia T

Main Cast : Choi Siwon & Song Hyori (OC)

Support Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Kang Min Kyung (OC), Song Hyena (OC) & Hyun Bi Hyul (OC)

Genre : Commedy, Romance

Note : Season sengaja dikemas dalam commedy romance yang ringan. Jadi serial Season dimulai dari Season 1 s.d. Season 4, kemungkinan kalian tidak akan menemukan konflik yg berat. Mohon untuk tidak melakukan tindakan PLAGIAT!

***

 

Chongdam High School.

Hyori melangkah sambil melompat-lompat kecil. Ia terus bersenandung, senyuman tak pernah surut dari wajah cantiknya. Terlihat sekali jika ia sedang berbahagia. Ya, beberapa waktu belakangan ini suasana hati Hyori sangat baik. Semua murid yang berpapasan terus menancapkan tatapan mereka pada Hyori yang tak peduli sekalipun mereka sedang membicarakannya.

Beberapa menit berlalu, giliran Siwon yang mendapat sorotan tajam. Berbeda dengan Hyori yang selalu cuek, Siwon harus menahan hatinya dan mempertebal wajahnya ketika ia terus menerima tatapan-tatapan itu, bahkan ketika ia harus menjadi bahan pembicaraan mereka. Pemuda itu mempercepat langkah kakinya. Hatinya sedikit melega ketika ia tiba di dalam kelas, namun kelegaan itu tak berlangsung lama.

“Siwon, my man!!”

Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam menerima sambutan yang sama disetiap hari selama hampir tiga tahun keberadaannya di SMA Chongdam. Ia lalu duduk sekenanya, menarik sebuah buku dari dalam laci mejanya dan mengarahkan konsentrasi penuh pada buku itu.

“Kepopuleranmu semakin bertambah,” ujar Hyukjae. “Seminggu belakangan ini, kau menyadari itukan?”

“Kau diam saja,” jawab Siwon malas-malasan.

Hyukjae merapatkan tubuhnya, “Choi Siwon, sebenarnya ada apa ini?” selidik Hyukjae. “Kau baik-baik saja?” ia terlihat mencemaskan sahabatnya itu.

“Perlukah aku menjawabmu?” balas Siwon.

“Tentu saja!” kepala Hyukjae mengangguk pasti.

“Tapi aku tak ingin menjawab itu,” senyum tipis tergambar di sudut bibir Siwon membuat Hyukjae menggerutu ringan.

“Kau memang selalu menyebalkan,” Hyukjae mendesis, ia lalu kembali menatapi Siwon dengan sangat serius. “Siwon, kau dengan jelas mengatakan bahwa kau membenci gadis itu dan aku tahu siapa kau. Lalu tiba-tiba kau justru…,”

Siwon melepaskan buku yang dipegangnya, ia menoleh pada Hyukjae, “Jangan berpikir keras. Sebaiknya kau tetap menjaga wanita silumanmu baik-baik. Kau tahu—segel kutukannya bisa terlepas kapan saja.”

“Argh, mengapa kau sangat menyebalkan?” Hyukjae menggeram.

Siwon hanya tersenyum dan kembali membuka buku. Ia mengangkat buku itu setinggi-tingginya untuk menghalangi wajahnya. Hyukjae tak bisa berbuat apa-apa selain terus menggerutu.

Masih di kelas yang sama. Min Kyung, Bi Hyul dan si kembar tengah asyik bercengkrama. Tampaknya Min Kyung dan Bi Hyul sedari tadi terus mencerca Hyori dengan berbagai macam pertanyaan.

“Sampai kapan kau akan bermain-main dengan kami?” Min Kyung menahan nafas—emosinya mulai terpancing.

“Permisi—tapi permainan apa yang sedang kita mainkan?” tanya Hyori polos.

Oh my gosh!!” Min Kyung menyeka keringat yang mulai membasahi dahinya.

“Song Hyori. Tolong pergunakan otakmu dengan sebaik-baiknya,” Bi Hyul mulai tidak sabaran. “Apa yang dikatakan Siwon padamu waktu itu?”

“Kalian ingin aku menjawabnya?” selidik Hyori.

Min Kyung tersenyum manis, “Tidak, kau hanya perlu buang angin,” ujar Min Kyung santai. Ia mengumpulkan tenaganya dan, “TENTU SAJA KAU HARUS MENJAWABNYA, BODOH!!” gadis itu berteriak tepat di telinga Hyori.

“Min Kyung, sebaiknya kau tidak bersuara keras. Bagaimana jika pupilku rusak?” dengan serius Hyori memegangi telinganya.

Ketiga gadis itu saling pandang, tak mengerti dengan ekspresi yang berkata ‘Apa hubungannya dengan pupil?’

“Jika itu terjadi….sangat mengerikan,” Hyori bergidik sendiri. “Aku akan menjadi gadis cantik yang tuli,” lanjutnya.

Jawaban yang diberikan Hyori sukses membuat kepala ketiga gadis itu terantuk di atas meja. Mereka hanya mendesah lemas, tak berniat untuk memperbaiki kesalahan fatal Hyori bahwa yang dimaksud olehnya bukan pupil melainkan gendang telinga.

Eonni, kau masih ingat apa cita-citamu dulu sebelum kau bertemu Siwon?” tanya Hyena pelan.

Hyori terlihat berpikir keras, ia mencoba menggali ingatannya yang sangat minim, “Ah, tentu saja. Dokter!” jawabnya antusias. Min Kyung dan Bi Hyul langsung mendelik hebat.

“Masihkah kau berpikir untuk menjadi dokter?” Hyena bertanya lagi.

“Hmm, meskipun aku sangat cantik tapi itu tak akan cukup—sangat tak imbang jika Siwon hanya memiliki istri yang cantik,” perkataan Hyori memporak-porandakan isi perut ketiga gadis itu. “Aku rasa, menjadi dokter bukan ide yang buruk,” ia tersenyum puas.

“TIDAK!” cegah Min Kyung dan Bi Hyul. Hyena hanya menarik nafas lesuh.

“Ada apa?” Hyori bertanya dengan sangat enteng, tak menyadari muatan otaknya yang benar-benar perlu diperbaiki.

“Lupakan itu!” desah Min Kyung.

“Tidak Hyori, untuk ukuran gadis sepertimu. Kau memang hanya perlu menjadi cantik lalu menikahi pria kaya dan tampan,” Bi Hyul akhirnya setuju dengan pernyataan Hyori beberapa waktu lalu. “Ingat, menjadi cantik dan menikahlah. Jangan berpikir selain itu,” Bi Hyul kembali meyakinkan Hyori.

Hyori terdiam, “Kalian benar-benar membuatku terharu,” katanya dengan mata yang berkaca-kaca. Tiga gadis lainnya ikut berkaca-kaca karena merasa prihatin dengan tingkat keluguan Hyori. “Tapi tidakkah kalian berpikir jika aku sangat cocok mengenakan seragam dokter? Lagi pula, kalian bisa berobat padaku—gratis,” tekan Hyori.

Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul menggeleng kasar.

Apa berobat padamu? Sekalipun kau satu-satu dokter yang tersisa di muka bumi ini—aku tak akan mau diobati olehmu, itu sama saja dengan hukuman mati,” batin Bi Hyul berkecamuk.

Kau bahkan tak bisa membedakan pupil dan gedang telinga lalu kau ingin menjadi dokter? Ayolah Song Hyori, kau hanya akan menjadi legenda malapraktik,” bisik Min Kyung dalam hati.

Tuhan tolong sadarkan Eonni,” giliran Hyena yang membatin.

“Hei, mengapa kalian diam? Apa yang kalian pikirkan?” Hyori heran melihat tingkah tiga gadis itu. “Aku tahu kalian akan setuju,” ia menyengir tajam.

“Hyori, jangan gegabah!” Min Kyung emosi, namun ia berusaha mengendalikan diri ketika melihat sorot mata tajam dari Hyena dan Bi Hyul. “Maksudku, kau harus fokus pada satu hal. Hyori, bukankah kau sangat menyukai Siwon? Yang perlu kau lakukan adalah fokus pada Siwon, kejarlah dia. Aku akan mendukungmu dengan sepenuh hati,” lanjut Min Kyung, ia menyimpan modus lain dari kalimat itu.

Bi Hyul mengangguk pasti. “Benar, lupakan keinginanmu yang lain. Ingat, jadilah cantik dan seret Choi Siwon ke depan altar,” Bi Hyul ikut memprovokasi.

Siwon memegangi tengkuknya, “Aneh sekali, mengapa aku jadi merinding?” ia bergumam heran, pemuda itu lalu kembali melanjutkan bacaannya meskipun segudang tanya sedang menggerogoti kepalanya karena suasana menyimpang yang terasa kental di permukaan kulit sampai menembus perasaannya yang terdalam.

Mata Hyori yang telah berkaca-kaca memandangi Min Kyung, Bi Hyul dan Hyena secara bergantian, “Terima kasih, aku akan ingat itu. Baiklah, mulai saat ini motto hidupku berubah; Siwon, my man—akan kuseret kau ke altar!” seringain lebar menghiasi wajah Hyori.

Ketiga gadis lainnya menarik nafas lega. Misi penyelamatan dunia berakhir sukses.

“Jadi, dimulai dengan mengatakan apa yang Siwon katakan padamu,” pancing Min Kyung.

“Mengapa dia tiba-tiba bersedia menjadi guru private-mu?” tambah Bi Hyul.

“Tanyakan pada Hyena,” ujar Hyori.

“Hyena?” gumam Min Kyung dan Bi Hyul “Kau—memantrai Siwon?” Bi Hyul mulai menduga jika segel kutukan Hyena mulai memudar.

“Tidak seperti itu,” Hyena kesal. “Bagaimana aku tahu? Eonni tak pernah mengatakan apapun.”

“Benarkah?” Hyori justru balik bertanya, “Kupikir aku sudah menceritakannya padamu?” gumam Hyori. Hyena menjawab dengan gelengan pelan.

“Hyori, apa yang Siwon katakan padamu?”

“Dia hanya mengatakan bahwa Kakek memintanya menjadi mengajariku, lalu ia meminta pendapatku—tapi aku tak bisa mengatakan apapun, berada begitu dekat dengannya membuatku lemas.”

“Kau tak menjawabnya?”

Hyori mengangguk, “Karena aku diam, dia menganggap jawabanku adalah iya.”

“Aneh,” gumam Min Kyung.

“Apa yang aneh?” tanya Bi Hyul.

“Untuk seorang Choi Siwon yang begitu membenci Hyori. Jika aku jadi dia, maka yang akan kukatakan adalah; karena kau diam maka aku menganggap jawabanmu adalah tidak.”

Kesadaran Bi Hyul dan Hyena seperti terkumpul. Mereka menganggap apa yang dikatakan oleh Min Kyung masuk akal.

“Kau benar. Jika aku menjadi Choi Siwon yang begitu tak menyukai Hyori, maka aku tak akan menjadi gurunya. Lalu, mengapa dia justru bersedia?” gumam Bi Hyul.

“Hei, bukankah itu artinya Siwon mulai menyukaiku?” Hyori kegirangan.

Bi Hyul dan dua gadis lainnya hanya tersenyum aneh, mereka tak ingin mengatakan apapun karena yang terpenting bagi mereka agar Hyori fokus pada Siwon dan melupakan cita-cita yang bisa berdampak pada malapetaka. Kecemasan mereka terlalu berlebihan.

“Aku rasa, dia tak bisa menolak permintaan kakekmu,” Bi Hyul berbisik pada Hyena.

“Aku sependapat denganmu,” Min Kyung ikut berbisik. Mereka berusaha agar apa yang mereka katakan tak sampai ke telinga Hyori.

Eonni, apa kau tahu?” Hyena teringat sesuatu. “Jika kau tak bisa memperbaiki nilaimu maka kakek akan mengirimmu ke Austria.”

“Austria??” Hyori, Min Kyung dan Bi Hyul terkejut.

“Austria? Bukankah itu artinya dia mengirimku pada Bibi Yeona? Argh, tidak! Aku tak bisa hidup bersama wanita iblis itu!” Hyori meremas rambutnya kasar.

Si kembar sama-sama tahu jika kakak dari ayah mereka itu sangatlah keras dan penuh dengan kedisiplinan. Bagi mereka, tinggal bersama Bibi Yeona sama halnya dengan tinggal di neraka.

“Hyena, mengapa kakekmu yang menyebalkan melakukan hal semengerikan itu padaku?” mata Hyori membulat.

Min Kyung menjitak kepala Hyori, “Dia kakekmu juga, idiot.”

Dahi Hyori berkerut, ia kemudian tertawa terpingkal-pingkal tanpa rasa bersalah, “Ah, aku lupa,” jawaban entengnya membuat ketiga gadis itu mendorong keras kepala bodohnya.

 

~.o0o.~

 

Kediaman keluarga Song.

Hyena terburu-buru menyusuri koridor rumahnya. Ia berhenti tepat di depan sebuah pintu. Hyena mengetuk keras pintu tersebut. Tak ada sahutan.

Eonni,” panggil Hyena. “Eonni, apa yang kau lakukan?”

Tak ada suara dari dalam kamar Hyori.

Hyena yang tak sabar, lalu membuka pintu itu, “Eonni, cepatlah! Siwon sudah…,” ia tak dapat melanjutkan kalimatnya. Hyena terpaku melihat Hyori “Eonni?”

“Bagaimana menurutmu?” tanya Hyori dengan wajah yang berseri-seri.

Hyena hanya memandangi Hyori dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Eonni, kau akan ke pesta?” selidik Hyena yang bingung melihat gaya berpakaian dan dandanan Hyori.

Hyori menggeleng, “Membiarkan Siwon my man seorang diri di sini? Tak mungkin!”

“Jadi, untuk apa kau berdandan?”

“Untuk calon kakak iparmu,” senyum tipis Hyori membuat Hyena hanya memandanginya, sangat miris.

“Jangan berlebihan. Cepat ganti pakaianmu—kau hanya akan membuat Siwon ketakutan.”

Hyori memandangi pantulan bayangannya di kaca. Ia kebingungan karena ucapan saudari kembarnya itu.

“Dia pasti akan menganggapmu aneh,” ujar Hyena. “Sekalipun kau memang sudah terlahir aneh,” Hyena membatin dengan sangat gamblang, sepertinya ia tak sadar akan dirinya sebelum berevolusi. “Cepatlah, sudah hampir sejam Siwon menunggumu,” Hyena berlalu dari dalam kamar tidur Hyori.

Hyori hanya membuang nafas lesuh.

Lima menit kemudian ia tampak keluar dari kamarnya, tentu saja dengan dandanan yang lebih normal. Ia segera berjalan menuju sebuah ruangan yang cukup luas di lantai satu rumahnya. Siwon telah menunggunya.

Pemuda itu duduk tenang, sebuah buku sedang dibacanya, ada kaca mata tipis membingkai matanya. Mata Hyori memicing, ia seperti melihat banyak bidadari yang berkeliaran di sekitar Siwon. Di matanya, Siwon benar-benar sangat memukau dan berpotensi membuatnya meleleh.

Siwon menyadari kehadiran Hyori, ia menoleh pada gadis yang masih mematung di ambang pintu.

“Setelah membuatku berjamur di sini, kau masih bisa berdiri santai seperti itu?” Siwon menatap Hyori dingin. “Cepatlah, kau membuang banyak waktuku!”

“Ma, maaf,” Hyori terlihat gugup.

Gadis itu dengan perlahan menghampiri Siwon. Debar jantungnya bekerja maksimal. Pesona seorang Choi Siwon memiliki pengaruh besar bagi kelangsungan hidup Hyori.

“Duduklah,” Siwon merasa kesal karena ia harus mendikte apa yang harus dilakukan oleh Hyori.

Seperti orang yang dihipnotis, Hyori hanya mengikuti semua arahan yang diberikan Siwon. Siwon mulai membuka buku-buku pelajaran di atas meja. Ia lalu mulai berbicara, menerangkan materi-materi itu dengan baik pada Hyori.

Siwon begitu baik dalam berbicara, terbukti bahwa dia memang adalah siswa unggulan di Chongdam. Hyori menopang dagunya, terkesima melihat Siwon yang telah menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan pelajaran pada Hyori.

“Song Hyori,” Siwon bergumam pelan. “Yang perlu kau perhatikan adalah buku yang terbentang di hadapanmu. Bukan wajahku!” katanya kesal.

Hyori hanya tertawa, “Entahlah, tapi aku melihat semua pengetahuan di wajahmu,” jawaban Hyori membuat Siwon menarik nafas dalam. Sangat dalam.

“Aku akan memberikanmu soal, cobalah kau kerjakan,” ujar Siwon, ia terlihat sibuk menulis di atas kertas, lalu menyodorkan kertas itu pada Hyori.

“Uhm, itu—kau tahukan, aku tak pandai dalam matematika,” gumam Hyori.

Kau memang tak pandai dalam segala hal,” bisik kejam Siwon dalam hati. “Berusahalah, kau sangat mudah menyerah. Kau harus bisa mengerjakan soal itu. Setiap manusia punya banyak kelebihan, kau harus ingat itu!” desah Siwon.

“Benarkah?” harapan Hyori mulai tumbuh. “Lalu, menurutmu—Apa kelebihanku?” Hyori mulai bertanya lagi, ia menatap harap-harap cemas pada Siwon, penasaran menanti jawaban yang keluar dari mulut Siwon.

Siwon kembali menarik nafas panjang, “Hanya satu kekuranganmu,” jawab Siwon. Hyori tersentak kaget, ia tersenyum puas. “Yaitu, tak punya kelebihan sama sekali,” Siwon kembali mendesah membuat senyuman di wajah Hyori luntur.

“Setidaknya, dia harus bisa mengatakan satu hal yang baik—meskipun itu hanyalah kebohongan,” Hyori bergumam kesal.

“Song Hyori, berhenti mengoceh dan cepat kerjakan soal itu. Mulutku hampir berbusa menjelaskan cara kerja soal itu padamu, jika kau memperhatikan seharusnya kau bisa mengerjakannya.”

Hyori hanya bersungut-sungut, ia mulai mencoret-coret di atas kertas. Siwon membiarkan Hyori, pemuda itu memilih melanjutkan bacaannya. Sepuluh menit berlalu.

“Coba kulihat!” Siwon menarik kertas Hyori dan ia terkesiap melihat tampilan visual kertas tersebut. “Apa ini?” bibir Siwon mulai bergetar.

“Otakku tak bisa berpikir. Aku melukis pemandangan itu untuk menemukan inspirasi,” jawab Hyori sekenanya.

Siwon memukul kepala Hyori dengan pena, “Inspirasi? Hyori, matematika adalah ilmu pasti!” Siwon tampak kesal. Ia lalu menarik kertas lain, “Perhatikan baik-baik,” katanya lagi. Siwon mulai menerangkan, tangannya dengan lincah mengerjakan rumus-rumus itu, ia memang sangat hebat “Selesai,” Siwon meletakkan kertas itu di hadapan Hyori.

Hyori memegangi kertas itu, “Daebak!” ia terkesima melihat hasil akhir dari soal tersebut. “Ini kebetulan yang sangat menakjubkan. Jawabannya adalah 3? Ah, aku sangat menyukai angka itu. Angka favoritku!”

Siwon tersenyum tipis membiarkan Hyori mengagumi kepintarannya. Pemuda itu menarik gelas yang berisi jus apel.

“Angka 3 adalah angka terseksi yang pernah diciptakan, selalu mengingatkanku pada bokongmu yang sangat seksi.”

Jus yang belum sampai di tenggorokan Siwon langsung tersembur paksa keluar dari dalam mulut pemuda itu. Ia terbatuk-batuk keras setelah mendengar ucapan Hyori.

“SONG HYORI!!” hardikan Siwon mendadak naik beberapa oktaf. Ia sangat marah tapi mulutnya seakan tak bisa berkata-kata. Siwon hanya menyisir frustasi rambutnya dengan kelima jari tangan kanannya. “Sudahlah, sebaiknya kita belajar yang lain saja,” katanya pasrah.

Siwon mulai berbicara panjang lebar, berharap bahwa penjelasannya masuk di otak Hyori meskipun itu hanya nol koma sekian persen. Kali ini Hyori tampaknya menyimak dengan baik apa yang dijelaskan oleh Siwon, sesekali ia bertanya dan Siwon menjawab.

“Sistem reproduksi manusia, argh—aku sangat membenci pelajaran seperti ini,” kilah Hyori. Siwon hanya tersenyum sinis, memang tak ada yang bisa diandalkan dari seorang Song Hyori. “Bagaimana jika kita menggambarnya? Kurasa akan lebih mudah untuk dipelajari,” usul Hyori.

Siwon terbatuk, “Kau gila?” ia mengelus dadanya, berusaha agar tekanan darahnya terjaga normal. “Jangan mengusulkan apapun!”

Pemuda itu kembali melanjut ke halaman berikutnya. Ia harus bekerja keras untuk mengisi otak kosong Hyori.

“Siwon,” Hyori merengut, ia memijit-mijit kepalanya. “Aku tak mengerti. Kau berbicara panjang lebar tentang sistem reproduksi, lalu cara hewan-hewan itu berkembang biak. Aku benci hewan. Aku rasa akan lebih baik jika yang kau bahas adalah bagaimana cara manusia berkembang biak.”

Kembali ucapan Hyori dengan sukses membuat Siwon terbatuk keras.

“Siwon, my man—kau baik-baik saja?” Hyori membantu menepuk-nepuk punggung Siwon.

Siwon menghalau tangan Hyori, “Song Hyori, kau tahu apa yang kau katakan?” terjang Siwon.

Hyori menggeleng.

“Sudah kuduga,” desah Siwon.

Hyori hanya terdiam. Tampaknya tak satu pun ucapan Siwon yang menyangkut di otaknya. Siwon hanya menggeleng prihatin. Sangat-sangat prihatin.

 

~.o0o.~

 

Baru lima menit yang lalu bel panjang meraung-raung diseantero sekolah. Siswa-siswi Chongdam langsung berhamburan keluar kelas, memadati koridor dan seluruh pelosok sekolah—terutama kantin.

Min Kyung, Bi Hyul dan si kembar telah mengambil tempat terlebih dahulu di dalam kantin, bahkan meja mereka telah dipadati oleh pesanan keempat gadis itu.

Hyori menyeruput dalam-dalam minuman dalam gelas yang sedang digenggamnya. Tatapannya lalu tertuju pada ketiga gadis lainnya yang hanya memandanginya—masih membiarkan makanan dan minuman mereka menganggur.

Alis Hyori sedikit naik, “Ada apa?” tanyanya bingung, tak menunggu jawaban dari mereka ketika Hyori mengangguk paham. “Ah—maafkan aku. Percayalah, tapi aku mengerti perasaan kalian yang terintimidasi karena kecantikanku,” katanya lagi. Hyena, Min Kyung dan Bi Hyul memutar bola mata mereka dan segera meneguk minuman dalam gelas di hadapan mereka, mencegah isi perut mereka yang rasanya akan keluar setelah mendengar kenarsisan Hyori yang terlalu berlebihan.

“Tak ada perubahan,” Min Kyung menggeleng prihatin.

“Siwon harus benar-benar bekerja keras,” sambung Bi Hyul.

Hyena hanya mengangkat bahu, ia tak ingin mengomentari apapun.

“Hyori, apa kau tahu jika yang Siwon lakukan itu seperti menulis di atas air?”

Hyori terdiam.

“Min Kyung—meskipun aku tak meragukan kemampuan otakmu tapi sangat tak bijak jika kau menggambarkan situasinya dengan peribahasa seperti itu—terutama saat kau berbicara dengan Hyori,” Bi Hyul menatap tenang pada Min Kyung, pandangan Bi Hyul lalu beralih pada Hyori yang masih terlihat berpikir hingga membuat dahinya berkerut tipis. “Gadis ini kehilangan sepuluh tahun kemudaannya hanya untuk mengartikan ‘menulis di atas air itu.”

Min Kyung menarik nafas dalam, “Sia-sia,” katanya. “Sudah sebulan Siwon menjadi gurumu—setidaknya kau menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Lalu apa ini? Tak ada yang berubah darimu. Bukankah itu artinya apa yang Siwon lakukan sangat sia-sia? Aku tak tahu apa yang dipikirkan kakekmu,” Min Kyung lalu menatap lirih pada Hyena yang kembali mengangkat kedua bahunya, tak mengerti. “Tugas yang diberikan kakekmu sama beratnya dengan membangun tembok china.”

“Aih~” Hyori menepis dengan gaya malu-malu khasnya yang mungkin hanya dimiliki oleh Hyori seorang, “Kalian terlalu terburu-buru. Untuk mendapatkan sesuatu yang sangat memuaskan, maka yang diperlukan adalah kerja keras dan kesabaran.”

Mereka tertegun mendengar kalimat bijak itu keluar dari mulut Hyori, namun hanya untuk beberapa saat kemudian ketika mereka menarik nafas panjang dengan ekspresi aneh.

“Aku tak melihat kerja keras gadis bodoh ini,” gumam Bi Hyul, ia menjejalkan makanan ke dalam mulutnya hingga penuh.

“Harapan tersisa adalah kesabaran. Mari kita lihat seberapa besar kesabaran Siwon,” Hyena menanggapi perkataan Bi Hyul. Perkataannya diiyakan dengan anggukan kepala Min Kyung.

“Kekhawatiran kalian berlebihan,” keluh Hyori. “Aku dan Siwon akan bekerja sama dengan baik.”

“Buktikan!” tantang Min Kyung. “Aku mencemaskanmu—terlebih Siwon, dia bisa kehilangan kepintarannya jika terlalu lama bergaul denganmu,” desis gadis itu, terdengar lebih mirip hinaan keji.

“Min Kyung, jika Kyuhyun mendengarmu mencemaskan pemuda lain, dia tak akan menyukai itu. Pangeran Anyang-mu itu sangat egois jika sudah menyangkut tentangmu,” ujar Bi Hyul. “Mengerikan!” ia bergidik. Min Kyung hanya menatap kesal padanya.

Siwon dan Hyukjae baru memasuki kantin. Kedatangan keduanya tentu saja membuat kehebohan Hyori. Gadis itu melipat kedua tangannya di bawah dagunya, memandang Siwon dengan sangat terpesona. Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul hanya menggeleng prihatin—mereka sudah tak bisa melakukan apapun terhadap Hyori.

“Dia tak memiliki reaksi lain,” ujar Hyukjae. Siwon hanya menatap tenang pada Hyukjae. Hyukjae lalu melipat kedua tangannya di bawah dagu, “Siwon, my man!” ia menirukan persis tingkah laku Hyori dan itu membuat ketenangan Siwon sirna. Siwon langsung menghadiahi Hyukjae dengan tinju pelan di lengannya.

“Pesan saja makananmu,” Siwon memperingatkan Hyukjae untuk tidak membuat gerakan menyimpang.

“Ah, pesananku sama dengannya,” Hyukjae tersenyum pada pelayan kantin yang telah mencatat semua pesanan mereka. Hyukjae tampaknya tak berniat merepotkan dirinya untuk memilih menu dari list menu. Pelayan itu segera bergegas. “Kau tak perlu semarah itu,” cengiran tajam menghiasi wajah Hyukjae.

“Aku sedang memperingatkanmu—jangan melakukan sesuatu yang sia-sia.”

“Sia-sia?” tanya Hyukjae. “Aku hanya menghiburmu. Siwon, bukankah pekerjaan yang kau lakukan itu yang pantas dikatakan sia-sia?”

Siwon menatap Hyukjae.

“Kau yakin upayamu akan membuahkan hasil? Aku tak melihat perkembangan Hyori—hmm, atau mungkinkah kau tak sepintar itu?”

Siwon mendorong kasar kepala Hyukjae, “Kau sebaiknya tutup mulutmu—habiskan saja makanan itu!” ia menatap pelayan yang telah meletakkan makanan yang mereka pesan di atas meja.

“Ok,” kerling Hyukjae, ia langsung menyantap makanannya.

Siwon hanya mendesah pelan melihat Hyukjae, pemuda itu lalu mulai menjejalkan makanan ke dalam mulutnya. Mereka tak bersuara lagi.

“Kau lihat dia?” Hyori menatap ceria ketiga gadis di dekatnya—ia kembali menoleh pada Siwon yang masih mengunyah makanannya. “Mengapa makin hari Siwon semakin tampan? Luar biasa!” ia berdecak.

“Hyori, kau tak melihat dengan jelas?” selidik Bi Hyul. “Aku tak sependapat denganmu.”

“Apa maksudmu?” tanya Hyena.

“Coba kalian perhatikan baik-baik. Wajah Siwon terlihat semakin lesuh, aku melihat keletihan besar dari sorot matanya.”

Min Kyung dan Hyena mengangguk pelan.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Hyori satu-satunya yang terlihat panik dengan kadar yang berlebihan. “Haruskah aku memberikan vitamin padanya?”

“Kau tak perlu melakukan hal-hal yang tak perlu,” desis Min Kyung. “Yang perlu kau lakukan adalah belajar—dia seperti itu karena merasa putus asa terhadapmu.”

“Hanya karena itu?”

“Hanya karena itu?” Min Kyung mengulangi pertanyaan Hyori, gadis itu tertawa pelan. “Song Hyori. Otak bodohmu membuat semua orang frustasi. Jika kau menyukainya, seharusnya kau memikirkan keselamatan mental Siwon—mengapa tak sedikit pun kau menunjukkan perkembangan? Siwon pasti lelah menghadapimu.”

“Sebaiknya kakek mencarikan guru private baru untukmu,” ujar Hyena.

“Apa?” Hyori terkejut “Tidak! Aku tak mau guru baru!” ia menggeleng kasar.

“Jadi—sebaiknya kau cobalah untuk sedikit lebih serius. Aku heran dengan isi kepalamu itu,” keluh Bi Hyul.

“Siwon tak akan mampu mengajarimu, dia akan menyerah jika kau tak memiliki kemauan untuk berubah!” ujar Min Kyung.

Hyori berdiri kasar, meninggalkan derik aneh kursi yang bergeser di atas lantai. Untuk sesaat, perhatian semua orang teralih padanya.

“Tidak. Kalian salah,” ujar Hyori, tatapannya terlihat sedikit berapi-api. “Siwon bukan orang seperti itu!”

“Kau menjadi topik pembicaraan mereka,” Hyukjae menatapi Siwon.

“Perasaanku tak enak—sesuatu yang buruk sepertinya akan terjadi,” gumam Siwon.

Hyukjae tertawa, “Sudahlah, sebaiknya kita makan saja. Kau selalu berburuk sangka. Gadis itu bukan penyihir yang mampu mengirim kutukan padamu,” ledek Hyukjae. Pemuda itu kembali menjejalkan makanan ke dalam mulutnya.

Siwon mendesah sambil tersenyum tipis, “Ya, setidaknya dia tak semengerikan pacar seseorang,” tatapannya tertuju pada Hyukjae.

“Choi Siwon, kau menyebalkan!” Hyukjae memukul kepala Siwon dengan sumpit, pemuda itu hanya tertawa pelan menanggapi kekesalan Hyukjae.

Min Kyung, Bi Hyul dan Hyena masih memandangi Hyori.

“Hyori, duduklah—kita bisa membicarakan dengan baik-baik,” Bi Hyul menyentuh tangan Hyori.

“Apa kalian tak begitu keterlaluan?” Hyori menepis tangan Bi Hyul. “Mengatakan Siwon seperti itu—jika kalian mengata-ngataiku, aku tak akan menyangkalinya tapi Siwon bukan orang seperti itu. Dia bukan seseorang yang mudah menyerah!”

“Untuk itulah, kau harus membantunya untuk tidak menyerah,” desah Min Kyung. “Manusia itu tak ada yang bodoh, yang membedakan mereka hanyalah keinginan dan kerja keras. Kau tak bodoh Hyori, kau hanya perlu sedikit kerja keras.”

Hyori terdiam, ia lalu menatapi ketiga gadis itu, “Aku tahu,” katanya pelan. Sangat pelan hingga nyaris terdengar seperti gumamam. “Kakek meminta Siwon karena kakek percaya padanya. Kakek tahu jika Siwon adalah orang yang impoten.”

UHUUKK!!

Ketiga gadis itu langsung tersedak hebat mendengar kata terakhir dari kalimat panjang Hyori.

“Hyori,” Min Kyung memukul-mukul dadanya yang sesak, ia segera meraih gelas dan meneguk isinya, membiarkan makanan yang tersumbat di tenggorokannya berjalan lancar hingga tiba di lambung.

Eonni, katamu itu…,” Hyena kembali terbatuk.

“Apa yang kalian lakukan?” Hyori memandangi Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul yang tampak kesusahan untuk menghirup oksigen.

“Kumohon, tolong berhati-hati dan perhatikan kata-katamu. Kau berkata seperti itu tentang Siwon, bukankah itu dapat menimbulkan kesalahpahaman?” Bi Hyul menarik nafas dalam-dalam.

“Kalian meragukan perkataanku?” nada Hyori semakin meninggi, ketiga gadis lainnya berusaha mencegahnya untuk tidak mengatakan apapun lagi. “SUDAH KUBILANG, SIWON ITU ORANG YANG SANGAT IMPOTEN!!”

Kantin hening. Min Kyung, Bi Hyul dan Hyena langsung terantuk di atas meja—mereka memilih membenamkan wajahnya di atas meja.

SROOOOOTT!!!!

Makanan yang ada di dalam mulut Siwon menyembur kencang keluar dari mulutnya. Sumpit dengan gulungan mie yang tadinya hendak masuk mulut Hyukjae tertahan begitu saja. Mereka mematung.

“SONG HYORI!!!!” Siwon berteriak kencang membuat Hyori tertegun.

Seisi kantin berubah menjadi gaduh. Siwon segera keluar dari tempat duduknya, ia menghampiri Hyori, memegang pergelangan tangan Hyori dan menarik kasar Hyori—Siwon bahkan tak peduli ketika Hyukjae tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul-mukul meja.

Siwon terus menyeret Hyori menjauh dari tempat itu. Siswa-siswi yang berpapasan hanya menaruh tatapan heran pada dua orang itu.

“Siwon~ kau menyakiti tanganku,” desis Hyori.

Siwon menghempas kasar tangan Hyori ketika mereka tiba di tempat yang lebih sepi. Ia lalu membalikkan tubuhnya, menatap marah pada Hyori yang langsung tertunduk.

“Kau tahu apa yang baru kau lakukan tadi?”

“Aku—aku hanya berusaha membelamu di hadapan tiga gadis menyebalkan itu,” elak Hyori.

Gosh! Hyori! Kau justru menghancurkanku,” mata Siwon terlihat ingin keluar tempatnya.

“Apa yang kulakukan? Rasanya—aku tak membuat sesuatu yang buruk?” Hyori bertanya takut-takut.

“Kau!!” Siwon menarik nafas panjang. “Kau tahu apa arti dari katamu tadi? Impoten?” Siwon tertawa pelan, mengasihani dirinya sendiri yang telah ternistakan oleh ketololan Hyori.

“Aku berkata yang sebenarnya—kakek memintamu untuk mengajariku, karena kakek tahu kau adalah orang yang seperti itu.”

“Tunggu dulu~” Siwon terdiam, ia memutar bola matanya. Pemuda itu lalu mendekati Hyori, gadis itu mundur selangkah. “Kau tak bisa membedakannya? Yang harusnya kau katakan adalah kompeten—bukan impoten!” ia menyapu kasar wajahnya.

Hyori terperanjat. “Ah! Pantas saja terasa sedikit janggal di lidahku,” ia terkekeh pelan. Rasa bersalahnya mendadak hilang. “Tapi kedua kata itu terdengar sama di telinga.”

“Mereka memiliki arti yang sangat jauh berbeda, Song Hyori bodoh,” dada Siwon kian sesak karena Hyori.

“Benarkah? Apa itu?” Hyori bertanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Oh God! Leherku!” Siwon memegangi belakang lehernya yang telah menegang, ia merasa tekanan darahnya sangat tinggi—ia menatap kesal pada Hyori “Haisshh!”

“Aaaww!” Hyori mendesis kesakitan ketika Siwon menyentil dahinya. “Kau menyakitiku~” rengek Hyori.

Siwon yang terlanjur kesal hanya berlalu meninggalkannya, namun langkahnya terhenti—ia berbalik dan menoleh pada Hyori, “Tanyakan pada ketiga sahabatmu itu apa arti kata impoten. Jika kau sudah tahu artinya, sebaiknya kau hapus kesalahpahaman yang mungkin telah menyebar di seluruh sekolah. Aku ingin namaku kembali bersih!” ucap tajam Siwon. Ia akhirnya benar-benar meninggalkan Hyori yang hanya termenung sambil berpikir.

 

~.o0o.~

 

Hyori mengacak-acak rambutnya, frustasi. “Apa yang harus aku lakukan?” ia menerjang Hyena, Bi Hyul dan Min Kyung dengan tatapan kasarnya—ia hendak marah tapi justru melampiaskan pada ketiga gadis itu.

“Itulah sebabnya kau harus berhati-hati dengan setiap perkataan yang keluar dari mulutmu,” ujar Min Kyung.

Eonni—aku tak mengerti, mengapa kau selalu seperti itu?” Hyena mempertanyakan Hyori yang selalu menyebutkan kata yang salah.

Hyori bersandar lemas di tempat duduknya. “Aku tak tahu,” gumamnya. “Jadi—apa yang harus kulakukan?” ia kembali melayangkan pertanyaan yang sama. “Siwon tak akan mengajariku sebelum namanya bebas dari rumor aneh,” desahnya lagi.

Ketiga gadis lainnya hanya diam, mereka tak tahu harus mengatakan apa lagi. Seminggu sejak kejadian naas di kantin, Siwon melakukan aksi protes dan memberikan ultimatum pada Hyori bahwa ia tak akan memberikan pelajaran sebelum Hyori meredakan kesalahpahaman yang beredar sangat cepat di sekolah.

“Aku sudah melakukan segalanya,” Hyori menatapi langit-langit kelas mereka.

Ya, gadis itu memang telah melakukan upaya keras karena kebodohannya itu. Ia melakukan klarifikasi dengan memasang permintaan maaf di setiap mading sekolah, bahkan meminta maaf secara terbuka melalui siaran radio sekolah—tak segan-segan Hyori mendatangi satu per satu murid-murid yang berada di kantin pada saat kejadian menggemparkan itu.

“Kau—bersabarlah,” ujar Bi Hyul. “Hanya itu yang dapat aku katakan.”

“Bagaimana jika Siwon tak akan datang ke rumahku lagi? Bagaimana jika dia memilih mundur? Bagaimana jika kakek kembali murka padaku?” Hyori melayangkan banyak pertanyaan. “Aish, rasanya aku akan gila!” ia menghentak-hentak kasar kakinya di permukaan ubin kelas.

 

~.o0o.~

 

Dengan lincah tangan Hyukjae membuka halaman demi halaman sebuah komik yang sedang dibacanya, ia berbaring santai di sebuah sofa—di dalam kamar. Tak berapa lama kemudian, Siwon keluar dari dalam kamar mandi, rambut hitamnya yang lembab membuatnya terlihat sangat segar.

“Kau tak akan pulang?” Siwon mengernyit melihat Hyukjae yang belum beranjak dari dalam kamarnya.

“Hidup seorang diri di apartemen sangat membosankan. Aku berencana akan pindah ke sini,” jawab Hyukjae santai, tak sedikitpun ia memalingkan wajahnya dari komik itu.

“Cihh!” Siwon mendengus pelan.

Hyukjae seperti teringat sesuatu. Ia segera merubah posisi tidurnya dengan duduk—menutup komik setelah sebelumnya menandai halaman terakhir yang dibacanya.

“Katakan saja,” Siwon melihat Hyukjae menatap aneh padanya.

“Sepertinya kau masih melanjutkan aksi mogok mengajarmu?” alis Hyukjae sedikit bertaut. “Bukankah kau telah mendapatkan nama baikmu, wahai pria impoten.”

Tanpa banyak bicara, Siwon langsung menendang keras kaki Hyukjae membuat pemuda itu meringis disela-sela tawa nyaringnya.

“Sekali lagi aku mendengar kau mengatakan itu—kau tak akan pernah aku ampuni,” Siwon mengancam Hyukjae yang hanya dibalas dengan kerlingan aneh Hyukjae.

“Kau tak akan kembali ke rumah itu?” tanya Hyukjae. “Kau memutuskan untuk tidak mengajarinya lagi? Ah, itu sangat bijak,” ia mengangguk-anggukan kepalanya.

“Mengapa aku harus menjawabmu?” Siwon mendesis pelan, ia lalu kembali ke dalam kamar mandi, meninggalkan Hyukjae seorang diri. Pemuda itu hanya mencibir tenang.

Krruuuuuukkk~

Hyukjae memegangi perutnya ketika bunyi mesra itu terdengar di seluruh ruang kamar Siwon yang senyap. Pemuda itu bergerak dari posisi duduknya, ia melangkah—meneliti setiap sudut kamar Siwon yang sebenarnya sudah sangat familiar baginya.

Siwon adalah orang yang perfectionis, terbukti dengan kerapian dalam kamar tidurnya. Hyukjae harus berdecak kagum karena tak sedikit pun debu menempel di atas meja ketika dengan sengaja Hyukjae meletakkan telunjuknya di sana, buku-buku di meja dan di rak bukunya tertata sangat rapi, tak ada benda-benda aneh yang berserakan tidak pada tempatnya—semuanya sangat berbanding terbalik apartemen kapal pecah milik Hyukjae.

Langkah kaki Hyukjae terhenti tepat di depan sebuah lemari buku, yang lagi-lagi isinya berbaris rapi. Ada beberapa foto dalam pigura di sana, juga robot-robot kecil yang dijadikan pemanis. Mata Hyukjae bergeser pada sebuah kotak berbentuk persegi, ukurannya tidak begitu besar sehingga dapat dipegang dengan mudah oleh Hyukjae.

Alis Hyukjae bertaut, “Coklat?” wajahnya berbinar senang. “Orang baik tak akan pernah mengalami kesusahan,” ia memuji dirinya sendiri. Tangannya dengan lincah membuka tutup kotak itu—matanya disambut oleh pemandangan segar coklat-coklat kecil berbentuk bulat. Mereka sangat menggiurkan.

Tak menunggu lama, Hyukjae segera menjejalkan sebuah bola coklat ke dalam mulutnya.

“Lee Hyukjae!!”

Pemuda itu menoleh pada Siwon yang mematung di depan pintu kamar mandi. Siwon memandangi mulut Hyukjae yang aktif mengunyah, lalu pandangannya turun pada benda yang masih berada dalam genggaman Hyukjae.

“Ah—terima kasih, meskipun rasanya tak begitu enak tapi mampu mengganjal perutku,” Hyukjae berkata sambil melempar coklat kedua dalam mulutnya.

“Hei!! Apa yang kau lakukan??” Siwon kembali berteriak histeris. Ia menghampiri Hyukjae dan langsung merampas coklat di tangan Hyukjae. “Kau memakannya?”

“Aku kelaparan karena menunggumu,” jawab Hyukjae santai.

“Kau memakannya?” ulang Siwon. Ia memandangi dua tempat dalam kotak itu telah kosong—ia terkejut. “Kau bahkan menghabiskan…,” tak sanggup berkata-kata, Siwon hanya menunjukkan dua jarinya dan dibalas dengan anggukan polos Hyukjae. “Kau gila?” Siwon menepuk punggung Hyukjae membuat pemuda itu terbatuk-batuk.

“Choi Siwon? Mengapa kau bertingkah berlebihan hanya karena dua butir coklat itu? Sungguh tak berperikemanusiaan,” Hyukjae berusaha menghindari amukan Siwon. “Kau pelit sekali pada sahabatmu ini—kau bahkan hampir membunuhku.”

Siwon tak mengatakan apapun. Ia lebih memilih menyimpan coklat itu di dalam lemari dan mengunci lemari tersebut.

“Sekarang aman,” katanya sambil memamerkan kunci.

Hyukjae mendesah tak percaya, “Gosh, are you kidding me?”

“Peraturan pertama. Jangan menyentuh apapun di dalam kamar ini tanpa persetujuanku,” ujar Siwon. “Kau hampir menghancurkan koleksiku!”

“Koleksi? Aku akan membelikan sekarung coklat untukmu,” Hyukjae berdecak kagum terhadap sikap Siwon. Ia sangat kesal sekaligus merasa heran dengan keanehan Siwon.

 

~.o0o.~

 

Tuk. Tuk. Tuk. Tuk.

Bunyi itu terdengar diseluruh penjuru ruangan yang terasa sangat sepi. Siwon mengetuk-ngetuk meja dengan pena yang dipegangnya. Tangan sebelahnya lagi memegang sebuah buku yang sedang dibacanya.

Wajah tampannya itu terlihat sangat tenang. Sorot matanya yang tajam hanya menghujani tulisan-tulisan dalam buku itu. Garis wajahnya sangat tegas. Kaca mata tipis yang membingkai matanya justru menambah pesonanya.

Siwon menarik nafas pelan, “Fokus saja pada pelajaranmu,” katanya tenang.

Hyori salah tingkah karena apa yang dilakukannya diketahui oleh Siwon. Gadis itu membuka matanya bulat-bulat memandangi buku yang terbentang di hadapannya.

Suasana kembali senyap. Hyori tak jera untuk mengintipi Siwon dari balik buku.

“Fokus Hyori—fokus!” ulang Siwon.

“Ah, tentu saja,” Hyori terkekeh pelan.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal karena tak diberi kesempatan untuk mengagumi ketampanan Siwon. Tak punya pilihan lain, Hyori menarik bukunya.

Sudah lima belas menit berlalu. Siwon sedikit menurunkan bukunya. Ekor matanya melirik pada Hyori. Gadis itu terlihat menopang jidatnya dengan tangannya. Tangan sebelahnya membolak-balik halaman buku, sambil terus mengerjakan soal yang diberikan oleh Siwon. Sesekali desahan panjang keluar dari bibir mungil Hyori. Gadis itu terlihat sedang berusaha keras. Siwon menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya melihat keseriusan Hyori.

Tiba-tiba saja ponsel Siwon berbunyi nyaring. Perhatian mereka teralih.

“Ah, maaf,” ujar Siwon, ia bangkit dan hendak berjalan meninggalkan ruangan itu agar konsentrasi Hyori tak terganggu. “Ingat, kau harus menyelesaikan soal-soal itu!” ia memberikan ultimatum sebelum benar-benar berlalu dari ruangan tersebut.

Hyori menggeram kesal. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Hyori sudah hampir kabur tapi ia teringat pada ucapan ketiga gadis itu bahwa tak hanya Siwon yang harus bekerja keras namun ia pun harus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas otaknya yang teramat sangat buruk itu. Hyori menarik nafas panjang, ia membulatkan tekad dan akhirnya kembali berusaha untuk memecahkan soal-soal itu.

“Baiklah—setelah ini, aku akan segera ke tempatmu,” Siwon menyudahi pembicaraan yang berlangsung cukup lama.

Setelah menyimpan ponselnya, ia bergegas kembali ke dalam ruangan, di mana ia meninggalkan Hyori seorang diri. Langkah Siwon terhenti setelah matanya tertuju pada Hyori yang telah terlelap di atas meja belajar itu.

“Gadis ini~” Siwon terlihat kesal. Ia menghampiri Hyori dan berdecak.

Siwon menarik kertas yang tertindih tangan Hyori. Ia cukup tertegun melihat ada coret-coret Hyori di sana, dibandingkan sebelumnya ketika Hyori justru menggambar pemandangan. Dari kelima soal yang diberikan Siwon, setidaknya ia menyelesaikan empat soal. Siwon kembali tertegun ketika tiga diantaranya diselesaikan Hyori dengan tepat.

Pemuda itu meletakkan kertas yang dipegangnya di atas meja. Ia memandangi wajah Hyori yang tengah terlelap. Siwon memajukan wajahnya, melihat lebih seksama wajah Hyori. Ia mengarahkan telunjuknya ke dahi gadis itu. Menyentuh dahi Hyori dengan telunjuknya.

“Song Hyori, kau tak sebodoh dugaanku,” katanya tenang.

Mereka dalam posisi itu cukup lama. Mata Siwon berkedip pelan memandangi wajah polos Hyori. Ia kembali berkedip pelan. Seperti tersadar dari lamunan panjangnya, Siwon tersentak. Ia menarik tangannya dan berdiri kasar. Akibatnya, kaki Siwon justru terantuk kasar pada pada kaki meja. Pemuda itu meringis kesakitan, membuat tubuhnya meringkuk. Disaat bersamaan tubuh Hyori bergerak, mungkin reaksi benturan di kaki meja. Ia mengangkat kepalanya—Siwon ikut menoleh. Tepat.

Bibir kedua orang itu saling bertemu.

Permainan jantung Siwon dibatas maksimal. Matanya membulat. Ia segera menjauhkan wajahnya yang telah memerah dari wajah Hyori. Dadanya terus berdegub kencang. Ia memandangi Hyori yang masih terdiam, sorot mata gadis itu tampak begitu sendu.

“Hyori..,” Siwon tak tahu harus berkata apa.

Hyori hanya diam. Sorot matanya yang sendu kian menyendu. Matanya mulai terpejam, Hyori kembali membaringkan kepalanya di atas meja. Tertidur.

 

~.o0o.~

 

Murid-murid antusias melihat kertas ujian yang dibagikan. Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul cukup terkesima melihat kenaikan nilai ujian harian Hyori.

“Bagaimana? Aku bisa melakukannya, benarkan?” senyum Hyori.

Good—kau cukup baik,” puji Min Kyung.

“Kakek pasti akan senang mengetahui perkembanganmu,” Hyena melega.

“Aku ikut senang,” lanjut Bi Hyul. “Setidaknya, Siwon mengajarimu dengan sangat baik, Hyori.”

“Tentu saja. Siwon, my man!” Hyori berkata dengan ekspresi familiarnya, ketiga gadis lainnya membuang nafas kasar. Hyori tiba-tiba terdiam. “Aku rasa, aku sudah gila”

“Syukurlah jika kau menyadari itu,” ledek Min Kyung.

“Kalian tahu cerita putri salju?”

“Aku tak begitu menyukai dongeng,” Bi Hyul menanggapi pertanyaan Hyori.

“Sama seperti putri salju yang hidup setelah diracuni oleh sang ratu—seperti aku yang mendapatkan nilai baik setelah selalu berada diurutan terakhir,” Hyori mulai merangkai benang kusut dalam otaknya. Rasanya benang-benang itu akan tetap kusut.

“Apa hubungannya denganmu—kau bukan putri salju. Kau Song Hyori!” gumam santai Min Kyung.

“Kekuatan ciuman cinta sejati,” ucapan Hyori sukses membuat ketiga gadis di sisinya saling pandang—heran.

Eonni, maksudmu—kau memperoleh nilai baik setelah mendapatkan sebuah ciuman?”

Hyori tersenyum.

“Siwon menciummu?” tanya Bi Hyul to the point.

“Antara Siwon yang sudah gila atau kau yang berhalusinasi hebat akibat tekanan pelajaran,” tebak Min Kyung tanpa mempedulikan perasaan Hyori.

Hyori menggeleng pelan, ia tersenyum, “Tidak. Aku merasakannya. Bibir Siwon yang hangat—terasa begitu lembut di sini,” ia memegangi bibirnya.

Min Kyung, Hyena dan Bi Hyul terpekik.

“Kalian benar-benar berciuman?” Hyena sedikit tak yakin.

“Bagaimana? Bagaimana itu terjadi?” Min Kyung sangat penasaran. Ia sulit mempercayai ucapan Hyori.

“Aku melihatnya—dalam mimpiku.”

Ketiga gadis itu melemas setelah mendengar penuturan polos Hyori.

“Haish,” Bi Hyul menjitak pelan kepala Hyori.

“Tapi tetap saja,” Hyori mengerang kesakitan. “Bermimpi dicium Siwon sudah membuat nilaiku meningkat—bagaimana jika Siwon benar-benar menciumku? Aku pasti akan mengalahkan Einstein,” ia tertawa terbahak-bahak.

Ketiga gadis itu menghadiahi Hyori dengan remasan kertas yang mendarat di tubuhnya. Di sudut lain, Siwon justru terbatuk-batuk. Pendengarannya cukup baik untuk menangkap percakapan mereka.

“Ada apa? Kau sakit?” Siwon menyingkirkan tangan Hyukjae dari dahinya. “Wajahmu terlihat memerah,” ujar Hyukjae.

“Aku, baik-baik saja,” jawab Siwon.

Perhatian seisi kelas teralih melihat seorang guru memasuki kelas. Semua langsung hening karena kedatangan wali kelas mereka.

“Bagaimana hari kalian? Baiklah, aku to the point saja,” ujar sang guru yang tak ingin berbasa-basi. “Musim panas ini, kelas kita akan mengadakan MT di sebuah daerah pegunungan,” Sorak-sorai riuh menggelegar di dalam kelas ketika mendengar kabar baik itu. “Tenang, kalian tenang dulu. MT akan dilaksanakan selama tiga hari, jadi kalian harus membawa persiapan secukupnya. Jangan membawa benda-benda yang tak perlu!”

Tatapan guru tertuju pada para gadis yang hanya tersenyum, tersipu-sipu malu.

“Baiklah, silahkan lanjutkan pelajaran kalian,” guru segera meninggalkan kelas.

Murid-murid tampak girang mengetahui musim panas mereka tak akan membosankan. Membership Training atau MT merupakan bagian khusus dari budaya Korea dimana teman sekolah atau karyawan kantor bersama-sama melakukan perjalanan akhir pekan ke tempat-tempat yang menarik dengan jarak yang bermil-mil jauhnya dari kota. MT bukan sekedar perjalanan bersenang-senang, tapi melatih kekompakan mereka.

 

~to be continue~

 

1 Comment (+add yours?)

  1. shoffie monicca
    Apr 25, 2015 @ 11:15:19

    author bknnya ini ff bru kmrn nya ptsaan ak dh prnh bc deh.. maapnya tya sj..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: