Call My Name [3/?]

1389163418898

 

Judul: Call My Name 1

Main Cast :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Choi Siwon (Super Junior)
  • Park Ji Rin (OC)
  • Lee Dong hae (Super Junior)
  • Kim Chae Rin (OC)
  • Kim Young Woon (Super Junior)

Author : OctciKyu

Genre : Married Life, Sad, Romance, Friendship

Length : Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Dong Hae, and Kim Young Woon as himself. OC belong to my imagination character.

 

Halooo Readers,

Happy Reading J

“Setidaknya ajari aku bagaimana untuk memiliki kekuatan ketika kehilangan itu datang”

 

Sepasang suami istri itu telah selesai bersiap-siap dan akan segera berangkat ke tempat kerja masing-masing.

“Jirin-ahh, ayo ku antar ke rumah sakit.”

O.o?????

****

Jirin terheran-heran mendengar perkataan lelaki yang berdiri tepat di sampingnya, sampai-sampai ekspresinya terlihat mematung begitu. Pasalnya kata-kata seperti itu tidak pernah keluar dari mulut Kyuhyun.

“Maaf aku tidak membutuhkan bantuan orang lain saat ini. Aku bisa melakukan sendiri, terimakasih.” Jirin berbicara datar dan kembalii melanjutkan langkah menuju mobilnya.

“Aku memang hanya orang lain bagimu dan aku juga akan mencoba untuk menganggap demikian. Aku pergi, selamat bekerja Jirin. Semoga harimu menyenangkan.” Kyuhyun menjawab dengan nada kecewa dan terselip rasa tulus di dalamnya, dan dengan segera melangkah cepat mendahului langkah Jirin.

Sementara Jirin terpaku dengan perkataan Kyuhyun, dan timbul rasa bersalah di hatinya. Tapi tetap berusaha untuk menghalau rasa itu dan menganggap sebagai angin lalu.

**

Sabtu pagi terasa begitu sepi melanda Jirin, sendiri di rumah besar seperti ini kadang-kadang membuatnya merasa horror. Ruangan kamar Jirin yang berada di lantai 2, membuatnya terasa semakin sendiri dan menyatu dengan ruangan kosong di sekitar kamarnya. Ditambah belum banyak perabotan yang tersedia di rumah itu, dan dia tidak begitu berminat untuk mengisi rumah itu dengan berbagai property mewah, karena dia masih merasa bahwa rumah ini bukan rumahnya juga. Ponselnya berdering menampilkan panggilan dari oemmanya, Jirin benar-benar merindukan oemmanya. Sudah 3 bulan berlalu Jirin belum bertemu langsung dengan keluarganya di Busan. Segera mengangkat telepon dengan semangat.

“Annyeong oemma, bogoshippo. Noemu-noemu bogoshippo, oemma aku ingin pulang.” Jirin berbicara menggebu-gebu.

“Aigoo putri oemma masih saja bertingkah seperti anak SMA, padahal putri oemma sudah menikah dan memiliki tanggun jawab di rumah tangga. Apa kabar saying?” Ledek oemma Jirin sambil tertawa keras

“Oemma jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Aku tidak baik-baik saja oemma, aku benar-benar merindukan oemma, merindukan rumah, merindukan Busan dan semua teman-temanku yang ada disana oemma. Aku baru saja 3 bulan di Seoul dan ini semua membuatku merasa asing oemma. Aku ingin pulang oemma.” Rengek Jirin lagi

“Sayang kau sudah menikah, kau memiliki suami, kau memiliki keluarga yang harus kau urus. Jadilah lebih dewasa sayang dan jalani kehidupanmu sekarang dengan penuh rasa syukur dan nikmati kehidupan rumah tanggamu.” Ucap oemmanya bijak.

“Aku sedang tidak ingin membahas itu oemma. Oemma bagaimana kelakuan Jiyoung selama ini? Apa dia masih melakukan hal gila? Hingga selalu membuat appa dan oemma sering ribut bahkan dia saling tidak berbicara dengan appa?” Jirin bertanya dengan rasa kesal dan amarahnya muncul.

“Masih belum ada perubahan, Jiyong masih tetap bertingkah semaunya. Oemma benar-benar tidak habis pikir ketika dia mengatakan kalau dia tidak ingin sekolah lagi, sementara dia sdah di tahun ketiga SMA dan hanya perlu menunggu untuk ujian akhir.” Oemma Jirin berucap dengan nada sedih dan terdengar helaan napas yang begitu berat.

“Oemma aku tahu bahwa sulit bagimu untuk menghadapinya, tapi aku mohon oemma tetap bersabar. Masih ada aku oemma, lebih baik oemma mengusir Jiyoung saja. Jiyoung bahkan membuat oemma dan appa merasa malu dihadapan banyak orang, selalu membuat kalian bertengkar sepanjang waktu.” Jirin berbicara begitu cepat dan amarahnya benar-benar sudah sampai puncak. Membuatnya menangis seketika mengingat bagaimana keadaan keluarganya selama ini, bahkan sedari Jirin kecil. Jirin begitu menyimpan begitu banyak kisah kelam. Dan sebenarnya timbul rasa benci di hatinya terhadap appanya.

**

Cho Kyu Hyun POV

Minggu pagi yang cerah, udara sejuk dan matahari bersinar indah pagi ini. Membuatku mengucap syukut atas kuasa Tuhan, dan pagi ini aku sedang duduk di ruang tamu menunggu Jirin bersiap-siap untuk berangkat ibadah. Memang kami tidak banyak bicara, bahkan tidak berbicara sedikitpun. Tapi kami berdua tetap pergi ibadah bersama, mengingat disana kami akan bertemu dengan appa dan oemma. Benar-benar sandiwara yang hebat. Aku melihatnya keluar menggunakan celana bahan hitam dan kemeja wanita dibalut dengan blazer. Aku bingung melihatnya, karena Jirin selalu menggunakan gaun ataupun rok ketika pergi Gereja.

“Maaf aku tidak pargi bersamamu hari ini. Aku akan pergi bersama temanku.” Lihat dia hanya mengatakan hal seperti itu, tidak menjelaskan kenapa dia pergi bersama temannya, tidak mengatakan Gereja mana yang dituju dan jangan lupakan tatapan datar yang bahkan hanya sepersekian detik.”

“Terserah kau sajalah.” Aku hanya menjawab malas, aku tidak ingin merusak moodku lebih buruk lagi pagi ini.

**

Di hari minggu berikutnya Jirin tetap melakukan hal yang sama, dan ini kali ketiga Jirin tidak pergi ke Gereja bersama denganku. Dan tetap dengan alasannya yang sama, dan sebenarnya membuatku sedikit curiga. Apa dia benar-benar mencari cara untuk menghindariku atau mencari perang atau bagaimana. Aku tidak mendebat perkataannya karena aku ingin melihat sampai kapan dia ingin melakukan hal itu. Setiap orang tuaku bertanya tentangnya di hari minggu, aku selalu menjawab

“Jirin pergi dengan temannya”

“Jirin sedang di luar kota, jadi dia pergi dengan temannya.”

“Jirin mengunjungi rekan kerja yang sakit, jadi dia pergi dengan temannya.”

Sungguh jawaban yang konyol dan membuatku harus membohongi orangtuaku, karena aku memang tidak tahu apa yang menjadi alasan Jirin yang sebenarnya.

**

Dan minggu kali ini membuatku pusing bukan kepalang, rasa penasaran ku yang membuncah, amarahku yang sudah memuncak, membuatku ingin segera menyemburnya ketika melihat penampilannya selalu sama dengan minggu-minggu yang lalu.

“Aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan. Pergilah.” Aku berucap langsung ketika Jirin datang menghampiriku dan aku berusaha menahan amarahku saat ini. Aku sudah memutuskan satu hal untuk mencari tahu ini semua. Aku melihatnya segera keluar dan aku mengikutinya menuju parkiran dan Jirin tidak menaruh kecurigaan padaku. Mobil Jirin segera meluncur, dan menunggu selang beberapa selang waktu. Aku keluar dengan Audi silver milik sahabatku, aku sengaja meminjam mobil ini. Untuk bisa mengelabui Jirin bahwa aku mengikutinya kali ini. Dia memang tidak tahu kalau ada mobil asing di garasi, karena aku sengaja menutup badan mobil ini. Aku segera menambah kecepatan untuk mengejar mobil Jirin, aku tidak ingin sampai kehilangan jejak.

***

Author POV

Kyuhyun tetap berusaha menjaga jarak dari mobil Jirin, agar tidak begitu terlihat kalau ada mobil yang mengikutinya.

“Damn. Sebenarnya Jirin mau pergi kemana huh? Kenapa sudah 2 jam berlalu dia belum berhenti juga.” Kyuhyun mengumpat sembari memukul setirnya. Kyuhyun tidak habis pikir dengan pikiran Jirin sebenarnya. Waktu terus bergulir, tidak terasa bahwa Kyuhyun menyetir selama 3.5 jam dan itu membuat Kyuhyun marah sambil mengumpat tidak jelas. Dan dengan begitu bodohnya Kyuhyun baru menyadari bahwa jalan ini menuju Busan.

“Apa dia ingin pulang ke rumahnya? Tapi kalau memang seperti itu kenapa dia tidak naik KTX (Korea Train eXpress) saja.” Kyuhyun menggumam sendiri, dan berpikir lagi. Jika menaiki KTX saja menuju Busan sudah hampir memakan waktu hampir 3 jam apalagi dengan mobil. Jarak Seoul-Busan lebih dari 300km.

“Arghh, Jirin kau membuatku gila.”

Other side

Jirin terlihat memasuki sebuah pelataran parkir sebuah Gereja, ia kebingungan untuk memarkirkan mobilnya. Pasalnya parkiran sudah terlihat penuh, dan ia memutar setir kembali dan segera memarkirkan mobil di dekat kedai kecil. Jirin segera berlari memasuki Gereja, karena jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.

**

Jirin melangkah menuju parkiran mobil, semua kelelahannya terasa terbayarkan setelah mengikuti ibadah karena seseorang itu. Tiba-tiba seorang pemuda berkacamata memanggilnya.

“Agassi, Pastor Choi Si Won sedang menunggu anda di taman belakang Gereja. Ia ingin bertemu anda. Silahkan ikut saya.” Kata pemuda itu dengan ramah. Rasa senang membuncah di hati Jirin dan dengan senyum sumringah dia berjalan di samping pemuda itu.

“Annyeong Park Jirin.” Siwon berdiri sambil membungkukkan badan di hadapan Jirin.

“Annyeong Pas…tor.” Jirin tersenyum kikuk dan terasa berat ketika menyapa kembali. Sementara pemuda itu mengambil duduk di samping Siwon dan Jirin duduk di hadapannnya.

“Bagaimana kabarmu Jirin? Aku dengar kalau kamu sudah menikah dengan seorang pria tampan bermarga Cho. Chukkae Jirin-ahh, aku turut mendoakan pernikahanmu.” Siwon memulai pembicaraan dengan senyum yang selalu membuat hati Jirin berdebar dan seakan lupa akan status pria itu.

“Aku memang terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya lebih buruk dari hal itu Pastor.” Jirin menjawab dengan senyum yang dipaksakan dan mengalihkan pertanyaan mengenai pernikahannya.

“Kau sendiri yang membuatnya, hehe. Ku dengar juga kalau suamimu itu seorang tentara, pasti terlihat sangat gagah dan tegap. Seorang tentara yang berwibawa, cukup kharismatik apa tidak cukup membuatmu merasa terpesona, ditambah dengan wajahnya yang tampan.” Siwon berusaha memancing Jirin untuk berbicara dan menyinggung terkait suami Jirin.

“Aku tidak tertarik dengan pria berseragam kaku seperti itu dan aku tidak menganggap kalau aku sudah menikah dengannya. Aku lebih suka pria dengan profesi Pendeta tapi bukan seorang Pendeta Katolik.” Jirin menjawab dengann mata yang berkaca-kaca dan Siwon hanya memandang Jirin tersenyum lembut.

“Kita memang tidak pernah tahu bagaimana jalan kehidupan setiap orang di masa depan, tapi ketika kehidupanmu sekarang tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan, kau hanya perlu mencoba untuk menerima. Ingat bahwa tidak selalu hal baik yang terjadi, hal buruk jugga terjadi dan kita harus menerima. Kau harus bisa menyikapi dengan lapang.” Siwon berucap lembut mencoba memberi pengertian terhadap Jirin yang sudah menangis.

“Tapi itu tidak mudah bagiku, semuanya hilang begitu saja. Aku tidak menyukai semua yang ada pada dirinya. Aku tidak suka terhadap pria yang tidak bisa bersikap hangat, kaku, mempunyai tatapan tajam, dan tidak bisa berkata lembut.” Jirin menangis terisak dan pemuda tadi memberikan saputangan untuk Jirin.

“Kau hanya terlalu menutup dirimu, kau terperangkap di masa lalu dan kau menikmati semua itu. Kau membenci Kyuhyun tanpa alasan yang jelas. Jika aku bertanya apakah kau sudah bersikap lembut dan hangat terhadap Kyuhyun?” Siwon bertanya dan membuat Jirin tertohok. Jirin hanya diam dan semakin menangis, entahlah dia merasa bersalah terhadap Kyuhyun atau malah menikmati tangisannya.

***

Cho Kyu Hyun POV

Hari semakin sore, angin berhembus kencang, dan matahari sore ini menerpa wajahku yang sedang berdiri kaku di balik pohon besar ini. Pohon besar ini melindungi diriku agar tidak terlihat oleh tiga orang manusia yang sedang barbicang disana. Aku begitu terkejut ketika melihat Siwon yang telah menjadi seorang Pastor. Ketika umur 5 tahun aku tinggal di Nowon selama tiga tahun dan Siwon adalah tetanggaku. Kami sering bermain bersama, tetapi ketika Siwon pindah sekolah ke Busan. Saat itulah kami kehilangan komunikasi hingga saat ini.

“Dan ternyata Siwon adalah seseorang dimasa lalu Jirin. Seseorang yang mampu mengalihkan perhatian Jirin. Bahkan setelah Jirin mengetahui tentang Siwon, dia tetap memiliki rasa itu dan mengejar kemanapun Siwon pergi.” Aku berbicara sendiri dan angina membawanya pergi.

Sekarang aku tahu kenapa Jirin begitu membenciku, sampai-sampai tidak ingin menatapku ketika aku mengenakan seragamku.

“Apakah aku begitu kaku, begitu dingin,?” aku bergumam frustasi.

Dengan segera aku pergi dari tempat ini dan aku ingin segera pulang. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan tinggi, emosiku memuncak, dan aku menggenggam setir dengan erat.

**

Author POV

Seorang pria berjas hitam rapi sedang berjalan memasuki kantor kepolisian. Menebar senyum pesona kepada setiap perwira yang memberi hormat padanya. Pria yang mempunyai senyum bocah itu, segera melangkah menuju ruangan sahabatnya. Tanpa perlu mengetuk terlebih dahulu, pria ini memasuki ruangan dan segera berteriak.

“Yakkkk,, Young Woon-ahh kau merindukanmu. Teriakannya menggema di seluruh ruangan dan membuat seseorang menatapnya tajam. Ternyata dia tidak menyadari ada perwira lain juga di ruangan itu.

“Jongsoehamnida.” Donghae membungkukkan badan berkali-kali, dan memberi hormat dengan senyuman kikuk. Ternyata sang perwira memilih acuh dan membuat Donghae merasa malu. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Donghae

“Woahhh uri Donghae ternyata sudah sampai.” Young Woon segera memeluk sahabatnya dan tidak menyadari bagaimana ekspresi merajuk arsitek terkenal itu.

“Aku merindukanmu. Oehh, ini rekan sekerjaku Cho Kyuhyun, dan Kyuhyun ini sahabatku Lee Dong Hae. Selamat bertemu, haha.” Young Woon memperkenalkan mereka berdua, tapi kedua orang itu hanya saling memberi pandangan cuek.

“Kau sudah lama tidak lama kembali. Apa kau kembali karena ingin segera menikahi gadis itu?” Young Woon selalu saja langsung ke inti dan membuat Donghae kesal. Young Woon mengajak Donghae untuk duduk di sofa ruangannya.

“Kau selalu saja to the point. Salah satunya iya, tapi tujuan utamaku untuk menemui orangtua ku. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya saat ini, kami kehilangan kontak setelah dia memutuskan hubungan denganku.” Donghae berbicara sambil sesekali memasukkan makanan kecil kedalam mulutnya.

“Segera saja temui dia, kau sama sekali tidak tahu apakah Rin Rin sudah menikah atau belum. Kau juga mengambil sekolah arsitek hanya karena dia kan? Kau ingin menunjukkan kalau dirimu layak untuknya.” Young Woon tersenyum mengejek tah habis pikir. Sementara pria lain yang sedang duduk menghadap jendela, terkesiap ketika mendengar nama Rin-Rin.

“Jangan meremehkanku seperti itu, aku juga menjadi arsitek karena keinginanku juga, walau pengaruhnya tetap saja begitu besar. Aku tahu kalau Rin Rin terutama menginginkan seorang pria yang berprofesi Pendeta, dan yang kedua seorang arsitek. Karena hal itu aku segera mengambil jurusan arsitek.” Donghae cerita panjang lebar dan tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Rin Rin dulu. Untuk kedua kalinya Kyuhyun yang hanya berdiam diri kembali terpaku setelah perkataan Donghae, segera Kyuhyun mengalihkan pandangannya kearah Donghae dan menatap lekat pria itu. donghae menyadari seseorang sedang memandanginya, segera menoleh dan menatap balik.

“Ada apa kau memandangiku? Kau terpesona dengan wajahku?” Donghae bertanya sambil terkikik dan di akhir memberikan senyum manisnya. Kyuhyun hanya diam saja, segera mengalihkan pandangannya kembali. Dalam hati dia memuji Donghae, karena memiliki senyum yang indah, dan Kyuhyun kalau banyak wanita yang menyukainya.

“Kenapa dia hanya diam saja sedari tadi? Dia kelihatan sombong sekali. Dingin, dan aku yakin setiap wanita yang melihatnya akan mundur teratur.” Donghae bertanya dengan volume suara yang cukup kuat, membuat Young Woon segera memukul paha Donghae.

“Jangan berbicara keras-keras, dia sedang ada masalah dengan istrinya.” Young Woon berbisik dan tetap saja Kyuhyun masih bisa mendengar. Kyuhyun semakin merasa terpojokkan mendengar perkataan Donghae, dan kekesalannya memuncak.

***

Park Ji Rin POV

Lelah. Aku lelah, bukan hanya tubuh dan fisikku, hati dan pikiranku terasa begitu lelah. Aku tidak mampu lagi untuk berpikir jernih saat ini, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku kembali menapakkan kakiku di rumah ini, rumah yang telah aku tinggali bersama seseorang selama 3 bulan ini. Aku memilih tinggal di Busan untuk 3 hari, dan banyak kejadian yang membuatku setengah hidup dan aku terpaksa mengambil cuti dari pekerjaanku. Aku tidak memberi kabar pada pria itu, karena aku tahu dia juga tidak akan peduli tentang itu.

Krekkkk… aku mendengar suara pintu dibuka dan aku tahu siapa orang itu, dengan hanya mendengar hentakan sepatu yang begitu kuat.

“Maaf aku tidak membuatkan makan malam hari ini, aku akan segera memesan makanan.” Aku berucap ketika dia sampai di ruang tv, dan dia hanya menoleh ku. Dia diam saja dan mengabaikanku, dan aku menganggap kalau itu tanda persetujuannya.

**

Makanan yang dipesan Jirin telah tertata rapi di meja makan, kimchi dan menu daging lainnya menjadi makan malam mereka hari ini. Jirin berjalan menuju kamar Kyuhyun dan ini kali pertama bagi Jirin untuk melakukan hal ini. Jirin begitu gugup dan terselip rasa bersalah di dalam hatinya karena tidak meninggalkan pria itu tanpa ada kabar.

Tokk….tokk….

“Ehmm,,bisakah kau keluar? Ayo makan malam.” Jirin berbicara sambil mengetok kembali pintu itu. Sementara pria penghuni kamar itu tepat berada di belakang pintu, dan sedikit tersenyum mendengar Jirin memanggilnya. Pria segera membuka pintu dan segera berjalan tanpa menghiraukan Jirin sedikitpun.

“Kau pergi kemana beberapa hari ini?” Kyuhyun membuka percakapan untuk malam ini.

“Oehh, aku pergi berlibur bersama teman-temanku.” Jirin menjawab dengan santai.

“Apakah teman-teman mu juga membolos di hari kerja seperti dirimu? Jika semua orang Korea mengikuti tingkah kalian, mau jadi apa negara ini.ck” Kyuhyun mengeluarkan nada dingin dan terselip rasa marah.

“Kau hanya bertanya kemana aku pergi, aku menjawab. Tapi aku tidak perlu memberikan alasan untuk mu.” Jirin tetap keras kepala

“Kau tidak menjawab, karena keburukanmu telah terbongkar.” Kyuhyun tetap saja menjawab dengan tajam dan Kyuhyun sudah merasa terbiasa akan keadaan mereka yang seperti ini.

Jirin terlihat seolah tak peduli dan itu semakin menunjukkan bahwa dia telah ‘skak mat’ di hadapan Kyuhyun. Kyuhyun menatap sesekali wajah Jirin yang selalu menunduk di hadapannya, dia hanya merindukan wajah itu. Kyuhyun hanya sudah terbiasa untuk tinggal bersama wanita itu, dan Kyuhyun semakin sakit ketika mengingat kembali percakapan Kyuhyun dengan Jirin. Kyuhyun ingin merasakan bagaimana memeluk wanita itu, membawanya dalam dekapan hangat. Tapi itu menjadi hal yang sangat mustahil untuknya saat ini, bahkan memegang tangan Jirin belum pernah semenjak hari pernikahan mereka. Jirin yang sadar bahwa Kyuhyun sedang menatanya, mencoba mengangkat kepala dan melihat Kyuhyun yang sedang menatap kosong ke arahnya. Seketika Kyuhyun mengarahkan matanya untuk menatap mata Jirin, dan di saat itu juga Jirin segera mengalihkan pandangan dengan menunduk kembali.

“Kenapa kau tidak pernah menatapku? Bahkan kau selalu mengalihkan pandanganmu disaat kita kontak mata sekilas???” Kyuhyun bertanya dengan suara yang penuh luka. Kyuhyun merasakan penolakan yang begitu hebat dari wanita itu, wanita yang tinggal bersamanya saat ini, wanita yang bahkan berstatus istrinya.

 

 

TBC……..

 

“Percaya bahwa suatu hari nanti, penolakan itu akan sirna. Kau akan melihat bahwa kau adalah seseorang yang sangat diharapkan”

Keep Reading, Comment, and like readers.
Thank you ^^
Maaf kalau ada typo ya…..

 

 

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Iffah Sc
    May 06, 2015 @ 15:58:43

    huhuhu, kasian si kyuhyun,
    tetap semangat y

    Reply

  2. Yulia
    May 06, 2015 @ 20:09:29

    thanks udah d post kelanjutannya thor… tapi kurang panjang…
    Ji rin bikin aku gregetan…

    Reply

  3. withwitri
    May 07, 2015 @ 21:00:10

    Nice,makin seru ceritanya jadi ga sabar nungguin part selanjutnya:)
    Post selanjutnya jangan kelamaan ya thor

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: