Triangle Story [1/?]

NAMA : heewah
JUDUL CERITA : triangle story
TAG (TOKOH/CAST) : cho kyuhyun, lee donghae, oc
GENRE : romance, drama

RATING : pg-13
LENGTH : chapter

CATATAN AUTHOR (BILA PERLU): cerita ini juga di publish di blog pribadiku.. dan semoga kalian suka, happy reading..

 

Triangle story

Part 1

Chae Kyeong’s Heart

*

 

Pria ini menghentikkan langkahku yang setengah berlari takut tertinggal kereta. Aku tidak mengerti mengapa ia ingin berkenalan denganku. Karena aku yakin saat ini tampilanku sangat buruk rupa. Lantas aku menduga ah, mungkin karena aku buruk rupa maka ia penasaran. Aku mendongak menatap memastikan jika wajahnya memang benar-benar tampan.

Ya, dia memang tampan.

“Namaku Cho Kyuhyun!” dia menyodorkan tangannya.

“Namaku Shin Chae Kyeong!” aku balas menjabatnya.

“Kau hendak kemana, Shin Chae Kyeong-shi?”

“Aku akan ke tempat yang banyak orang tahu, tapi tak semua orang punya ataupun merasakan.”

“Ada tempat seperti itu? apa namanya?”

“Rumah.”

Dia tertawa. Tawanya renyah.

“Rumahmu? Kau pulang kampung?” aku bahkan tak tahu jika aku pernah pulang kampung atau tidak seperti kebanyakan hal yang orang lakukan. Aku menggeleng pelan. Tak kunjung mendengar jawabanku, ia menaikkan satu alisnya. Membuat raut tanya.

“Rumah itu disini.” Kataku dengan menyentuh dadanya. Ia sedikit terkejut dengan perbuatanku, mungkin aku yang sedikit lancang. Orang asing yang kurang sopan santun pasti pikirnya demikian.

Ia dengan segera mengambil langkah mundur. Aku tersenyum dan berlalu dari hadapannya. Setidaknya pasti ia takkan lagi, merecokiku.

Aku kembali berlari.

*

Nyatanya tujuan kami sama, duduk kamipun berhadapan. Aku mengambil sepetak kain bergambar. Dan menaruhnya di atas kedua mataku. Belum lima detik, kain itu terangkat.

“Kau–?”

“Iya, aku. Tidak baik berpura-pura tidur saat ada seseorang di depanmu yang kau kenal. Lebih baik kita berbincang. Jadi kau hendak ke Mokpo mengunjungi siapa?”

“Bukan urusanmu.” Sinisku.

“Kau ini kenapa? aku akan hanya bertanya. Jika tak mau beritahu ya jangan marah. Aku hendak mengunjungi nenekku.”

Aku hanya mengangguk sebagai respon.

“Oh, iya tadi kau menyentuh dadaku. Jadi rumah itu hatikan maksudmu? Jadi hatimu tertinggal di Mokpo?”

“Tidak. Aku membawa hatiku kemana-mana. Tak ada yang tertinggal.”

“Jadi kau bisa jelaskan bukan maksudmu tadi? Rumah sama dengan hati. Tak semua orang memiliki atau merasakan itu semua.”

Aku menghirup napas dalam-dalam. Udara Seoul hari ini tidaklah sesegar biasanya.

“Begini, hati adalah rumah. Rumah adalah hati. Dimanapun kau berada akan sama saja. Maksudku mengatakan tadi, sebenarnya perjalananku ke Mokpo itu menyelesaikan sesuatu. Karena—“

Aku menggeleng pelan, mencari kata yang tepat, penjabaran sederhana untuk dirinya.

“Karena?” ia mengulang kataku.

“Karena jika di ibaratkan dengan satuan angka, maka aku ingin menyelesaikan ini menjadi atau membuatnya seratus persen. Saat ini aku merasa hanya sembilan puluh sembilan persen, kurang satu persen. Dan bisa di selesaikan jika aku datang ke Mokpo.”

“Pasti berurusan dengan pria, bukan?”

“Kau sendiri kampung halamanmu di Mokpo?”

Dia mengangguk mantap. “Besok sepupuku bertunangan. Kedua orang tuaku sudah pergi lebih dulu. Tinggal aku yang menyusul. Juga rasanya sudah lama, aku tidak ke Mokpo. Nenek pasti rindu denganku. Kota Mokpo juga.”

Aku memutar bola mataku. “Kota hanyalah kota mana mungkin merindukan manusia.”

“Ey, kau ini sinis sekali. Bagiku bumi itu juga bagian dari makhluk hidup, demikian juga dengan kota. mungkin sajakan suatu kota merindukanku.”

“Jika bumi makhluk hidup, maka ia sudah mati karena terlalu tua. Apalagi suatu kota yang kini hanya berisikan petani tua, juga nelayan tua. Petani tua yang sedang berpikir keras bagaimana caranya agar generasi penerus mau bertani, tanpa perlu berpikir untuk pergi ke kota dan menjadi manusia modern.”

“Maksudmu apa?”

“Maksudku, kota itu hanya untuk ditinggali saja. Tak ada istilah saling rindu, pulang kampung. Kau kira kota memiliki waktu untuk merindu, sedangkan ia selalu dalam keadaan sibuk melihat manusia yang hadir silih berganti. Sedangkan yang tua tinggal dan yang muda beranjak pergi. Jika ada perasaan menggambarkan yang tepat untuk suatu kota yang bukan ibukota maka itu adalah menyedihkan dan tua. Setiap detik kota itu semakin tua lebih tua dari usia kita. Sebenarnya aku tidak mengerti mengapa kita perlu membahas ini, jika kau tadi membiarkan aku tidur maka percakapan ini enggak akan ada.” Selesai berkata, aku dengan cepat meraih kainku yang berada dalam genggamannya.

“Aku kurang sepenuhnya setuju dengan itu. Kan di dunia ini ada yang kita sebut dengan kenangan. Aku juga yakin kedatanganmu ke Mokpo pasti menyangkut hal itu.” katanya kalem, tak seperti aku yang menggebu-gebu.

Kali ini aku yang menarik kain penutup mataku. Karena bagiku sangat tidak sopan jika berbicara tanpa memandang wajah orang yang kita ajak bicara.

“Kenangan itu bagai hantu di sudut pikir tidak perlu kita gubris. Kita hanya melihat ke depan, bukan ke sudut pikiran kita.”

“Kau tahu? kenangan terkadang suka sekali menyeruak tanpa sebab. Aku merasa kenangan itu bukan terletak di sudut pikir, tetapi di alam bawah sadar kita. Terkadang jika melihat landscape, atau pemandangan apapun yang indah atau menghirup aroma sesuatu tiba-tiba kenangan kita itu muncul. Pada saat itu aku merasa alam bawah sadar kita lebih menyadari hati kita dari pada kita yang setiap saat sibuk menata hati.”

Aku terdiam. Mencerna setiap kata yang ia ungkapkan. Bibirku terkatup rapat, tak punya kata-kata untuk membantah. Aku pernah mengalami apa yang ia katakan, tapi aku ragu jika itu hal yang berasal dari alam bawah sadar. Yang aku tahu alam bawah sadar itu hanya ada saat kita bermimpi saja.

Aku kembali menyandarkan tubuhku. Pria di depanku pun hanya memandangi jendela luar. Sepertinya ia juga tidak mengharapkan timpalan dariku. Jadi aku kembali menutup mata, dan menaruh kain di atas mataku. Aku diam menunggu pria itu tidak menggubrisku. Aku bersyukur dan kantuk segera mendatangiku.

*

Aku terbangun saat petugas itu menepuk bahuku kencang. Ternyata kereta sudah sampai di Mokpo sejak lima menit yang lalu. Aku melihat kursi di hadapanku kosong. Aku bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan kata selamat tinggal?

Aku meraih tas kecilku. Kedatanganku hanya berbekal air minum, satu credit card, uang cash dan selembar kertas berisi alamatnya.

Aku tidak tahu akan bereaksi bagaimana jika ia melihatku. Akankah marah, sedih, terganggu atau yang paling buruk membenci lalu mengusirku dengan warga satu kampungnya. Aku bergidik ngeri, lebih baik tak memikirkan apapun selain mencari kendaraan yang mampu mengantarkanku kesana dengan segera.

*

“Kau mengikutiku?” suara bariton yang terasa tepa di belakang leherku membuatku terlonjak kaget.

Aku baru saja membayar taksi, dan pria itu. aku tahu suara pria itu.

“Kau kira aku stalker-mu? Lagipula bagaimana bisa mengikuti jika saat aku bangun kau sudah tidak ada. Aku mencari alamat ini, kau tahu?”

Tanganku mengulurkan secarik kertas yang telah ku jaga baik-baik sejak sebulan lalu.

“Ini rumah nenekku, ada apa kau dengan nenekku?” dia menatapku curiga, aku juga memiliki curiga sesuatu. Rasanya ingin mati saja jika benar.

“Kalau begitu ayo kita kesana. Kau akan tahu nanti.”

“Ini rumahnya.” Dia menunjuk rumah dengan pagar kayu di depan kami.

Tanpa menunggu aba-aba darinya aku segera mendorong pintunya dan melangkah masuk ke dalam.

“Kau tidak pernah di ajari sopan santun yah.”

“Berisik!” kataku dan tetap melangkah masuk.

Aku mengetuk pintu rumahnya kencang. Membuat pria itu menarik tanganku dan menatapku tajam, “Kau mau tanggung jawab jika nenekku terkena serangan jantung.”

“Bukan urusanku.”

“Kau ini punya perasaan tidak sih?”

Aku mengalihkan pandanganku darinya. Mengetuk pintu dengan tanganku yang lain. Baru satu pukulan seseorang membuka pintunya.

“Lee Donghae!” “Hyung!” ujar kami bersamaan. Benar saja kecurigaanku dan rasa mual mendadak menyerangku.

 

“Chae-ah, apa yang kau lakukan disini? Dan kenapa kalian bersama?” aku menarik tanganku cepat dari Kyuhyun. Dan memandang penuh pada DongHae.

“Aku perlu bicara denganmu!” kataku tegas, dan ini bukanlah sebuah permintaan.

“Kau datang jauh-jauh mencariku?” tanya Donghae dengan menunjuk dirinya sendiri. Aku mengangguk mantap.

“Kau mencari pria yang besok akan menikah? kau berencana buruk yah?” aku diam tak menanggapinya.

Aku tahu Lee Donghae akan menikah dengan gadis impiannya. Gadis yang sangat bertolak belakang denganku.

“Hey, aku bertanya padamu.” Pria itu menepuk bahuku kencang. Membuatku meringis dan memandanginya tajam.

“Bukan urusanmu!”

“Kyuhyun-ah, kau masuklah ke dalam. Aku akan berbicara dengan Chae Kyeong di kedai depan.” Kyuhyun mengangguk dengan perkataan Donghae padanya. sebelum melangkah masuk bocah itu dengan sengaja menubrukan bahunya dengan bahuku. Membuatku mendesis.

“Ayo kita ke kedai ramyeon di depan.” Aku menepis uluran tangannya.

“Kenapa? Karena aku tamu asing? Karena besok kau akan menikah dan aku hanya akan membawa kesialan jika duduk di rumahmu? Aku sedang tidak ingin bertanya macam-maca. Ataupun berlama-lama denganmmu. Aku sibuk. Aku kemari hanya ingin kau jawab satu kata tanya kenapa?”

“Kenapa? Kenapa aku tidak menikahimu? Kenapa aku menikahi gadis yang baru aku kenal tiga bulan lalu? Sedangkan kau sudah aku kenal dan aku sukai sejak tahunan lalu?”

Aku mengangguk membenarkan. Aku tak punya suara untuk menanggapi bahkan untuk sekedar berkata ‘ya’ saja. Karena napasku tercekat saat ia mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Menyentuhkan hidung kami, aku menutup mataku. Saat aku kira, aku tahu apa yang akan ia lakukan. Nyatanya aku salah.

Spontan aku membuka mata saat dengan sengaja ia menghembuskan napas kasar di wajahku. Ia melakukannya secara sengaja, karena jika tidak sengaja takkan terasa sekeras dan sekasar itu. wajahnya kembali menjauhiku.

“Itulah jawabannya. Itulah bagaimana kau memperlakukanku selama ini.”

Tanganku melayang menyentuh pipinya kencang. Seseorang berteriak dari dalam. Dan aku berlalu dari hadapannya.

“Lari. Kau selalu lari dari hadapanku Shin Chae Kyeong. Maka dari itu, aku tak pernah mampu menjangkaumu. Kau selalu berlari tak pernah mau melihatku. Pergilah! Pergilah sejauh mungkin jangan muncul di hadapanku lagi.”

Aku berlari sesuai ungkapannya.

“Hyung, kau tidak apa-apa? Wanita itu siapa Hyung?” sayup-sayup ku dengar suara Kyuhyun. Dan aku semakin berlari kencang.

*

TBC

 

4 Comments (+add yours?)

  1. shoffie monicca
    May 06, 2015 @ 11:11:30

    omo sbnrnya ada apa donghae sm shin chae knpa donghae mlih mnikh sm cwe yng bru diknlnya dri pd shin chae..

    Reply

  2. lieyabunda
    May 06, 2015 @ 12:54:17

    Sepertinya seru,,,,
    Lanjut

    Reply

  3. songhyorin88
    May 06, 2015 @ 16:12:53

    donghae dan hamun eoh ??? hahahahha… semoga mereka bersama dan donghae melupakan sakir hatinya

    Reply

  4. inggarkichulsung
    May 09, 2015 @ 11:34:27

    Kasihan Chae Kyeong, sebetulnya kenapa Donghae oppa yg bertahun2 menyukainya susah u menjangkau Chae Kyeong sendiri dan skrg Chae Kyeong br th jawabannya knp Donghae oppa nya menikahi gadis lain dan rasanya sangat sakit, mgk jawabannya memang lari sejauh2nya tanpa melihat kebelakang.. Kyu oppa yg tdk th apa2 pasti bingung

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: