Mantel Biru

mantel biru

Author            : Putri indah s.

Title                : Mantel Biru.

Cast                : Lee Sungmin and his child.

Other cast       : paman penjaga stasiun.

Genre             : family, nostalgia, sad.

Length            : oneshoot

Rate                : General

Note                : Sungmin wamil pasca menikah dengan Saeun, dan inilah fanfiction yang sedikit tragis buatan saya… saya ingin tertawa terbahak(?), tapi takut ditimpukin ELF, oke baca dan nikmati ya…. eh ya jangan lupa ini JUST FOR FUN, jangan dianggap serius!!!

Malam ini ia akhiri lagi dengan Lullaby dan sonata yang false…..

*****

Malam ini Na datang lagi dengan mantel birunya, meskipun rintikan hujan mengguyur stasiun tua di selasa malam, Na tetap datang dengan senyum sendu yang selalu tersungging hangat di tengah dinginnya udara. Ia akan datang tepat pada pukul 10 malam, menunggu kereta tengah malam yang akan tiba 2 jam kemudian.

Lalu seorang pemuda akan selalu memandangi Na dari jauh, juga paman penjaga stasiun, mereka akan selalu mendapati Na duduk di bangku besi yang catnya sudah terkelupas dekat dengan rel dan mantel birunya ia sampirkan di gagang bangku sebelahnya. Sampai akhirnya kereta tengah malam, ya kereta terakhir yang datang pada setiap selasa malam itu datang dari arah utara dengan sinar lampu kuningnya.

Na berdiri.

Ia akan selalu tersenyum menanti pintu gerbong kereta terbuka, seolah menunggu seseorang keluar dari sana dengan secercah senyuman yang seperti ia sunggingkan. Namun nyatanya gerbong-gerbong tua itu hanya membawa kesenduan. Lalu Na akan tetap tersenyum tapi, saat ia mendapati tidak ada seorangpun yang muncul dari balik pintu gerbong itu, Na akan pergi dengan isakan yang terdengar menggema di tengah malam.

“ Tahukah kau? Aku di sini?” lagi, pemuda itu selalu berguman demikian. Seolah ialah yang selalu dinanti Na.

Dan tepat pada pukul 00.30, lullaby terdengar di sepanjang jalan setapak menuju sebuah rumah bercat biru muda, Na mengakhiri malam ini dengan lullaby dan sonata yang false lagi, karena ia menyanyi untuk dirinya sendiri.

Na gadis berlesung pipi dan maniknya yang sehitam malam, gadis itu selalu datang ke stasiun kereta setiap selasa malam, menanti kereta tengah malam yang akan tiba dengan suara decitan rem yang sudah tua.

Dalam satu minggu dan hari itu jatuh pada hari selasa, ia akan selalu membawa mantel birunya, meskipun ia membawa mantel itu tapi, tak pernah sekalipun ia memakainya. Ia hanya akan membawanya lalu menyampirkannya di gagang bangku panjang di stasiun dan berakhir lagi di tangannya.

Entah untuk apa.

Dalam rautnya ia selalu menunjukkan sepenggal frasa yang pilu, bukan sebuah klausa, bukan juga sebuah kalimat namun hanya sepenggal frasa yang kadang mampu mewakili berjuta kata.

Ada apa sebenarnya dengan gadis bernama Na ini? oh bahkan kita hanya mengetahui namanya adalah Na, dua huruf tidak lebih, atau barang kali Na juga tidak tahu. 16 tahun ia dipanggil Na, astaga! Ia juga tidak tahu apa makna dan nama panjangnya, sebab itu ia menunggu di stasiun ini.

“ Nak, boleh paman bertanya?” suatu ketika paman penjaga stasiun memberanikan diri mendekati Na dan duduk di sampingnya.

Na tersenyum.

“ selasa malam, adakah yang kau tunggu di setiap selasa malam?” tanya paman penjaga stasiun.

Paman penjaga stasiun ini seperti pernah melihat Na di TV, mungkin mirip seseorang.

Lama Na hanya diam.

Malam itu hujan turun dengan lebat dan dipastikan kereta terakhir –yang ditunggu Na- tidak akan datang, namun Na tetap datang duduk dan menunggu dengan mantel biru yang tersampir rapi di dekatnya.

“ maafkan aku jika aku menyinggungmu, nak?”

Paman itu hendak beranjak namun Na angkat bicara “ ya, aku sedang menunggu….”

Paman penjaga stasiun kembali duduk, sepertinya Na hendak bercerita. “ apa dia orang yang kau cintai?”

Cinta? Bicara tentang cinta mesti menjurus pada orang-orang terkasih. Namun, Na tidak pernah memiliki orang-orang yang terkasih. Cinta terasa pahit baginya yang masih muda. Dalam hidupnya, 22 tahun pasca milenium cinta tetaplah cinta, terdengar seperti itu.

“ ya, dia orang yang kucintai…” jawab Na, ia menatap lurus kearah rel yang tertimpa gemericik air hujan.

Dan lagi, seperti dejavu pemuda itu berguman “tidak tahukah kau,  aku di sini?” gurat-gurat kerinduan tergambar dalam wajah tampan pemuda itu.

Kemudian lullaby dan sonata yang false terdengar lagi.

Hingga akhir Nopember tiba, curah hujan semakin tinggi. Na, gadis dengan mantel biru di tangan kanannya itu jatuh kedalam pelukan tust-tust elektronis…. awal kisah dalam penantiannya yang berakhir sia-sia. Sebenarnya Na hanya berusaha merangkum remah-remah ingatannya tentang nama Na dan mantel biru di tangan kanannya.

Tentang stasiun dan kereta tengah malam di hari selasa itu, ia hanya mengingatnya sebagai cerita anonim….

Dan ketika ia tidak lagi mampu memijakkan kakinya lagi di stasiun pada selasa malam, Na menangis terseduh-seduh hingga tidak ada air mata lagi yang tersisa untuk ia teteskan.

Terkadang Na             mendapati dirinya ditatap aneh oleh orang-orang sekeliling, entah kenapa…

Kemudian lullaby dan sonata yang false kembali terdengar di penghujung malamnya..

Kalau bisa, ia ingin berhenti menunggu kereta terakhir pada selasa malam…. ia benci apa yang ia lakukan, kenapa ia mesti sebodoh ini…. kenapa ia mesti berakhir dengan semengenaskan ini….

Ia menyesal karena tak pernah bisa mendahului nasib, Na sadar bahwa ia hanyalah seorang manusia yang hina, yang selamanya hanya akan mengetahui namanya adalah Na.

Ia masih mengingat jelas ibunya berkata, “ tunggulah ayahmu ia akan memberi tahu namamu yang sebenarnya….” begitulah ibunya berkata sebelum ia kembali menyatu dengan tanah. Ibunya adalah sosok yang begitu cerlang baginya, dulu saat Na masih kecil banyak anak-anak sekolah menengah yang suka mengganggu Na, entah kenapa, sama, sampai sekarang mengenai tatapan aneh orang-orang sekitar, Na tidak pernah tahu alasan dunia memandangnya seperti itu.

Tentang mantel biru dan selasa malam. Jika selasa malam ternyata adalah malam dimana kematian ibunya, lantas bagaimana dengan mantel biru? Adakah sekelumit cerita di sana?

Anonimus.

Esensinya Na hanya ingin menemui ayahnya tapi, ia tidak tahu harus pergi kemana. Ia hidup sebatang kara, sebuah titik di mana manusia merasa dirinya terdiskriminasikan karena tidak ada orang-orang terkasih dalam hidupnya.

Tentang lullaby dan sonata yang false pada setiap penghujung malamnya, Na hanya mencoba mengobati rindunya terhadap ibu tercinta.

Dan pemuda yang selalu memperhatikan Na di sudut stasiun itu, terdapat satu jawaban dengan kemana perginya ayah Na.

Mungkin bisa dibilang ini adalah kali pertama Na datang lagi ke stasiun pada selasa malam, setelah ia berhasil memerangi tust-tust elektronis itu.

Paman penjaga stasiun tertegun, ia kembali mendapati Na duduk di bangku yang telah lama ia tinggalkan itu. Paman penjaga stasiun kira, Na sudah menyerah karena merasa lelah tapi, ternyata gadis belia itu tidak mudah menyerah pada keadaan.

Kemudian paman penjaga stasiun mendekati Na dan duduk di sebelahnya. Seperti biasa di penghujung tahun seperti ini, mesti malamnya akan gelap dan ditemani gemericik air hujan yang membasahi kota tua seperti ini.

“ Nak?” sapa paman penjaga stasiun.

Na menoleh dan seperti biasa tersenyum.

“ kukira kau sudah lelah menunggu….” lanjut paman penjaga stasiun sembari duduk di sebelah Na.

“ aku tidak akan pernah lelah, paman….” jawab Na singkat.

Paman penjaga stasiun semakin penasaran dengan gadis bernama Na ini. “ bolehkah paman mendengar cerita darimu? Tentang mengapa kau selalu menunggu orang itu, walau kau tahu betul ia tidak pernah datang…”

Lagi-lagi Na mengambil jeda.

“ selagi aku belum bertemu dengan pemilik mantel biru ini, aku tidak akan pernah bisa mengakhiri lullaby dan sonata yang false pada setiap penghujung malamku, paman…. aku ingin, jika saja suaraku yang menggema ditengah malam menjadi temanku dalam sepi, maka kisahku akan menjadi anomin. Paman, aku yakin kau juga punya ayah… aku menunggu ayahku….katanya dia sedang berjuang, dia pahlawan, paman….” detik terakhir saat Na mengakhiri ceritanya, suaranya mendadak menghilang.

“ dan dia yang membawa serta hatiku….” lanjut Na dengan suara lirih.

Paman itu sama sekali tidak menangkap cerita Na, ia malah semakin bingung, lantas kemana perginya ayah Na? Paman penjaga stasiun mengerutkan keningnya. Dan ketika ia meloneh, ia mendapati mantel biru yang selalu dibawa Na tersampir di sampingnya.

Paman penjaga stasiun itu terkejut bukan main.

“ mantel biru ini?” guman paman penjaga stasiun lirih sembari menyentuh mantel biru yang berada tepat di sampingnya.

Paman penjaga stasiun menatap iba kearah Na. Malang nian nasib gadis muda di hadapannya, pikir paman penjaga stasiun.

15 tentara gugur dalam misi rahasia di perbatasan.

            LEE SUNGMIN ANGGOTA BOYBAND SUPER JUNIOR SEDANG MELAKSANAKAN WAMIL, TERMASUK DALAM ROMBONGAN TERSEBUT, DUNIA BERDUKA…. ( amit” jangan sampek terjadi deh)

Haedline berita tersebutlah yang langsung terngiang-ngiang dalam benak paman penjaga stasiun, walaupun ia sudah cukup tua, ingatannya masih sangatlah bagus, ia ingat betul bahwa ia melihat mantel yang sama dalam gambar headline berita 14 tahun yang lalu, ditambah perkataan Na tadi, ayahnya adalah seorang pahlawan. Benar tidak salah lagi.

Berita itu tidak mereda hingga 6 bulan lamanya, Lee Sungmin siapa yang tidak mengenalnya, saat itu paman penjaga stasiun masih sangat muda, ia tahu benar, karena ia berada dalam keriuhan dalam era tersebut, di mana penggemar Super Junior benar-benar terguncang.

Paman itu benar-benar kasihan pada Na, ia tidaklah mengetahui bagaimana cerita panjang yang dilalui orang tuanya dulu. Mengenai berita perrnikahan Lee Sungminpun sudah banyak menghadirkan pro dan kontra, banyak kubu dari ELF –sebutan bagi penggemar suju- tidak sejutu dan menghujat pernikahan meraka, tetapi lelaki bermarga Lee itu bersikukuh.

“ aku tidak akan pernah bisa mengakhiri lullaby dan sonata yang false dalam setiap malamku, paman…. mantel ini sendiri tak pernah bisa menghangatkanku….”

Tentang pemuda di sudut stasiun itu, ia hanyalah seseorang yang tak akan pernah bisa Na lihat, orang itu adalah ayah Na yang telah berpulang. Yah Lee Sungmin, yang selalu menyambutnya di selasa malam. iyah… Lee Sungmin selalu datang, meskipun ia tidak lagi terlihat. Kini iapun berbalik bersiap meninggalkan mantel biru dan dunia birunya yang penuh dengan teriakan namanya, Lee Sungmin tidak pernah menyesal telah menikah, karena ia tahu perlahan orang-orang yang mencintainya – ELF – akan mengerti bagaimana kebahgiaan yang sesungguhnya itu.

Tentang sekelumit perasaan rindu terhadap sosok ayah. Begitulah Na, akhirnya bisa berjalan pulang dan mengakhiri selasa malamnya tanpa harus menunggu kereta tengah malam, tentang mantel biru itu, Na menemukan namanya di sana.

“ Nara”

Begitulah ia mendengar orang memanggilnya.

 

Tamat.

 

 

 

 

 

 

 

4 Comments (+add yours?)

  1. shinminra0307
    May 14, 2015 @ 10:32:50

    ya ampun ini feelnya dpt bgt. keren!

    Reply

  2. Lee Cheonjae
    May 14, 2015 @ 15:06:21

    Thor.. nyesek bacanya.. bagus banget thor!

    Reply

  3. Fatiha Dyahpuspa Ardianti
    May 17, 2015 @ 10:11:21

    gua suka banget sama bahasanya. Anak sastra, thor?

    Reply

  4. Mira_MM
    May 17, 2015 @ 20:10:55

    Ak ga pernah mersa d khianati ketika tau minnie akn nikah.. Ak justru bahagia..
    Wlpn ak agak syok awlny.. Ak Semuran sm minnie..dia cowo aj d umur segt dh nikah.. Ak malah beloomm 😭 *kok jd curhat*
    Btw.. Ak suka sm tata bahasamu.. Kesian sm Nara, msh muda sdh kehilangan kedua org tuany
    D tgg karya slnjtny

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: